Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Juli 2010

Salt: “Menggarami” Hidup, Mendalami Teks


Rasanya sebulan terakhir ini ada sesuatu yang cukup akrab saya geluti. Ini sekaligus menguatkan pepatah: apa-apa yang kita pikirkan dan kita rasakan terus-menerus, nantinya apa-apa itu akan datang sendiri pada kita. Itulah yang terjadi dengan teks media film bagi saya. Sebulan ini saya begitu “dekat’ dengan film karena saya pikirkan terus, saya kemudian mulai mendapatkan film-film lumayan bagus berharga murah di sebuah toko buku besar, waktu yang agak senggang sehingga bisa menonton film di rumah, sampai kesempatan menonton di bioskop yang jadi lumayan sering. Padahal beberapa waktu yang lalu sulit sekali mencari waktu agak luang untuk menonton. Ternyata dalam waktu seminggu saya bisa menonton film dua kali, “Inception” dan “Salt”. Frekuensi yang lumayan tinggi, karena sebelumnya saya memerlukan penjadwalan waktu berbulan-bulan untuk menonton di bioskop.

Saya menonton “Salt” dengan seorang teman. Rasanya memang akan garing sekali bila menonton sendirian. Lagipula, teman saya itu berulang tahun, sekalian menghadiahi sesuatu untuknya walau agak terlambat. Dengan menonton film bersama, kami bersimbiosis mutualisme (interaksi yang sama-sama menguntungkan). Saya mendapatkan teman menonton, dia mendapatkan semangat untuk menyelesaikan "tugas" besarnya. Semoga.

Setelah menonton film “Salt”, sampai detik ini, ada satu kata kerja yang terus menerus tercetak di pikiran, “menggarami”. Jelas kata tersebut sangat berkaitan erat dengan judul film yang saya tonton di bioskop terakhir ini. Tetapi memang detailnya selalu tidak bisa diduga bahkan oleh yang memikirkannya. Telaah kita mungkin menyebar dan berkembang tidak terduga. Seperti kita ketahui, teks akan selalu berkait dengan teks lain. Juga ide, ide akan selalu berelasi dengan ide yang lain.

Paling tidak kata “menggarami” itu memiliki tiga makna bagi saya. Pertama, menggarami artinya memperkuat rasa. Apa yang “digarami” di dalam film ini? Bagi saya yang digarami adalah identitas. Identitas selalu cair dan merupakan relasi dari berbagai elemen. Identitas tokoh utama film ini, Evelyn Salt, memang problem utama sejak awal dan terus menerus menjadi pertanyaan pirsawan, bukan pirsawati, sampai akhir film. Hal ini sejalan dengan pertanyaan yang dimunculkan di poster film ini “Who is Salt?”. Identitas yang paling “digarami” adalah identitas sebagai spion (mata-mata).

Kita maklum bahwa penentu identitas seringkali institusi di luar diri; etnis, jenis kelamin, umur, kelas, agama, dan ideologi, adalah hal-hal "besar" itu. Walau begitu, identitas juga berarti apa yang kita upayakan, kita bentuk, kita rasakan, untuk diri sendiri. Identitas juga tidak pernah monolit. Karena itulah, walau Salt selalu digadang-gadang sebagai agen yang hebat, dia tetaplah seorang istri yang sangat menyintai suaminya.

Evelyn Salt (Angelina Jolie) adalah mata-mata yang ditanam Russia di Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Paling tidak identitas sebagai spionase inilah yang dikenalkan pada penonton sejak awal. Salt memiliki identitas sebagai agen ganda, yaitu agen CIA dan Russia. Identitas yang lain adalah sebagai istri seorang arachnologist, ahli laba-laba, berkewarganegaraan Jerman, Mike Krause (August Diehl). Pada akhirnya, identitas sebagai istri ini pula yang membuatnya berbalik membela Amerika Serikat karena suaminya dibunuh oleh KGB. Dia membela Amerika Serikat karena semua yang dimilikinya “dihabisi” oleh pihak Russia.

Bukan hanya identitas Salt yang dipertanyakan mestinya, karena semua karakter mungkin untuk dipertanyakan identitasnya, katakanlah identitas Ted Winter (Liev Schreiber), rekan dan kolega Salt, Peabody (Chiwetel Ejiofor), agen ONCIX yang mengejar Salt, dan Orlov (Daniel Olbrychski), agen Russia yang berpura-pura ingin membelot ke Amerika Serikat dan membuka identitas Salt. Penyampaian cerita yang cepat membuat penonton bertanya-tanya siapa protagonis dan antogis kisah ini, yang terus memberi kejutan sampai akhir.

Karakter Salt ini pada awalnya akan diperankan oleh Tom Cruise dengan nama Edwin A. Salt. Namun karena Tom Cruise sibuk dengan pekerjaan lain dan menganggap karakter Salt terlalu dekat dengan karakter Ethan Hawke di Mission Impossible, karakter ini kemudian diperankan oleh Angelina Jolie dengan mengubahnya menjadi agen perempuan bernama Evelyn Salt. Dari sisi bisnis langkah ini relatif tepat karena karakter agen rahasia perempuan masih jarang di film. Akhir cerita yang terbuka membuka kesempatan pada sekuel demi sekuel layaknya film Hollywood yang sukses. Pilihan pemeran utama pada Angelina Jolie menjadi Evelyn Salt, membuat cerita berubah, pun pada adegan-adegan di dalam film. Adegan Salt “menutup” kamera, tak bisa membayar taksi, dan luka di perut sepertinya memang “dipersiapkan” untuk Jolie.

Pemaknaan “menggarami” kedua adalah membuat lebih atas suatu keadaan, tetapi lebih perih, seperti pada kalimat menggarami luka. Saya pikir mengakses pesan atau teks media itu seperti menggarami luka. Mengakses teks berarti “perih” sekaligus membuat ketagihan. Kita jadi ingin mengobati perih itu dengan mencari informasi sebanyak mungkin dan memaknai sedalam mungkin. Ketika mengakses film ini misalnya, bagi penonton yang rasa ingin tahunya luar biasa akan mencoba menggali konsep spionase dan politik internasional dengan mendalam. Mengapa itu perlu dilakukan? Karena kesempatan penafsir terbuka untuk mendalaminya dan kedalaman dan keluasan pemaknaan itulah penentu posisi bagi penafsir.

“Menggarami” luka untuk mendalami teks lebih baik berpotensi membuat pengakses belajar banyak dan meningkatkan literasi pada individu. Bila “perih” itu terasa, pengakses itu berusaha menghilangkannya dengan membaca lebih mendalam lagi. Ini akan menjadi modus bagi pengakses dan pengkreasi pesan media yang baik.

Pemaknaan terakhir dari kata kerja “menggarami” adalah melakukan pekerjaan yang sia-sia dan tidak berpengaruh pada bagian yang lebih luas. Hal ini dekat dengan kalimat seperti “menggarami lautan”. Topik spionase adalah hampir seperti fiksi. Kita mengetahui aktivitas spionase internasional itu ada dan memainkan peran dalam perubahan politik. Katakanlah peristiwa di Indonesia pada tahun 1965, dan mungkin juga peran spionase dalam berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1989/90. Kita mengetahui keberadaan spionase tetapi tidak memahaminya dengan detail karena aktivitas spionase itu bersifat rahasia, termasuk proyek-proyek menciptakan “super-human” seperti Salt ini.

Satu bagian kecil ataupun bagian yang besar yang menjadi “garam” di dalam lautan fiksi, tidak akan berpengaruh besar karena ketika struktur fiksi sudah ada, elemen-elemen informasi di dalamnya adalah pendukung belaka. Hal ini hampir sama seperti dunia sihir dalam novel-novel Harry Potter, elemen tambahan yang berasal dari legenda di Barat, seperti karakter Medusa dan Banshee, menjadi penguat dan penambah baik keseluruhan kisah.

Begitulah tafsir saya akan film Salt ini. Paling tidak, film ini kembali membuat saya ingin “menggarami” hidup saya lebih baik lagi dengan terus memaknai teks dengan sebaik-baiknya. Di bagian akhir ini, saya cukup jenuh dengan istilah garam yang simbolis, saya hanya ingin menggarami, memberi garam sedikit dan memadai, semangkuk bakso di depan saya ini supaya menjadi lebih sedap untuk dimakan.

Silakan "menggarami" hidup. Selamat menghidupi diri dengan sebaik-baiknya....

Sabtu, 24 Juli 2010

Inception: Di dalam Mimpi pun Kita Perlu Bekerja Keras


Kalimat judul di ataslah yang saya ingat terus ketika selesai menonton film “Inception”. Biasanya kita mendikotomikan mimpi dengan terjaga dalam klasifikasi yang saling berlawanan. Terjaga dianggap sebagai keutamaan karena identik dengan sadar, rasional, dan mengarah pada aktivitas fisik. Sementara, bermimpi lebih dianggap sebagai aktivitas relatif sia-sia, irrasional, dan membuang-buang waktu saja. Film ini menunjukkan bahwa ketika bermimpi sekali pun kita masih perlu bekerja keras mewujudkan keinginan kita. Mimpi pun terbangun dari elemen yang detail dengan persiapan dan eksekusi yang bagus agar terlihat “nyata”, bahkan di dalam mimpi kita memerlukan kerja-kerja riil agar keinginan kita terwujud. Bila belum terwujud, kita perlu menggalinya lagi pada level mimpi yang lebih rendah.

Beberapa hari sebelumnya, rekan saya yang tinggal di Inggris, Ragil, bertanya apa saya telah menonton film itu. Saya bilang saya belum menontonnya. Kemudian saya bertanya, baguskah film itu. Dia hanya menjawab singkat: kemungkinan besar film “Inception” akan menjadi film terbaik tahun ini. Ketika akhirnya saya mengakses film ini, saya setuju dengan pendapat teman saya itu, bahkan saya memasukkannya ke dalam lima film terbaik yang saya pernah saya tonton sepanjang hidup. Kemarin pun, rekan-rekan sekantor saya yang lebih muda menggoda saya bila mereka berempat akan menonton “Inception”. Saya pura-pura “kena” dengan ledekan tersebut, padahal saya pun sedang berada di lobi bioskop dengan label sama di kota berbeda. Mereka menonton di Yogya, saya menonton film yang sama di Bandung.

Menurut saya, film ini memiliki beberapa hal yang mirip dengan film yang dibintangi DiCaprio sebelumnya, “Shutter Island”. Di kedua film ini, si karakter utama memiliki masalah dengan kesadarannya, dan juga dengan mimpinya. Persamaan yang lain adalah, sang tokoh utama memiliki paradoks hubungan dengan istrinya. Perbedaannya, istri si tokoh utama di “Inception” benar-benar bersemayam di pikiran terdalam dan menjadi penghalang “tugas-tugas” Cobbs, tokoh yang diperankan oleh DiCaprio, di dalam mimpi.

Film seperti ini adalah film yang saya nanti-nantikan agak lama. Film dengan topik dan cara bertutur cerdas sekaligus juga cukup mudah dicerna sehingga sangat potensial menjadi populer. Tak heran bila film ini menjadi film terlaris sekarang ini di Amerika Serikat. Mengenai detail informasi mengenai film bisa dilihat di situs lain. Reviewnya pun sudah cukup banyak. Salah satu “takaran” yang bagus dibuat oleh rekan saya, M. Sulhan. Saya hanya ingin memaknainya secara personal. Bila tafsir itu juga bermakna untuk teman-teman, saya akan senang sekali.

Film ini adalah caper film. Menurut wikipedia, genre film ini adalah film tentang “pencurian” oleh seseorang atau sekelompok orang, mulai dari perencanaan sampai dengan penyelesaiannya. Uniknya, Christopher Nolan, penulis skenariao dan sutradara film ini, awalnya ingin membuat film horor tentang orang-orang yang bisa memasuki mimpi orang lain. Genre itu pada akhirnya berubah karena menurutnya, mustahil berkisah tentang mimpi tanpa melibatkan hati. Itulah sebabnya ia mengembangkan naskah film ini cukup lama, sekitar sepuluh tahun. Selain itu, Nolan cukup lama berkecimpung dengan topik mimpi. Setidaknya sejak film Memento (2000). Selain itu, Nolan dan timnya kemudian juga memutuskan ketika membicarakan mimpi, gambar yang muncul di film bisa sangat “mewah” dan luar biasa. Itulah sebabnya budget film ini sangat besar.

Film ini bercerita tentang Dominic "Dom" Cobb (diperankan oleh Leonardo DiCaprio) dan timnya, yang bertugas mencuri ide dari mimpi-mimpi orang lain. Akhirnya tugas mencuri tersebut diubah menjadi “menanam” ide di dalam mimpi seseorang dan berfungsi di dunia nyata orang tersebut. Inilah yang disebut “insepsi”. Menanamkan ide jauh lebih sulit bila dibandingkan dengan mencuri ide karena menanam ide bisa berarti memasuki mimpi tingkat ketiga, sebelum masuk pada alam bawah sadar yang ada di lapisan keempat.

Cobb yang memiliki spesialisasi memasuki mimpi orang lain tidak bekerja sendirian. Dia dibantu oleh anggota tim yang lain, yaitu: Arthur (diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt), yang bertanggung jawab atas target yang mimpinya ingin dimasuki, Ariadne (diperankan oleh Ellen Page), yang bertugas menjadi arsitek dunia mimpi yang dibangun bersama Cobb, Eames (diperankan oleh Tom Hardy) yang bertugas menjadi orang lain di dalam mimpi, Yusuf si Ahli Kimia (diperankan oleh Dileep Rao) yang bertugas meramu “obat” yang memiliki dosis kuat sehingga mereka bisa memasuki mimpi lapisan terdalam, dan Saito (diperankan oleh Ken Watanabe), seorang pebisnis energi kaya yang pada awalnya menjadi target untuk disabot mimpinya tapi kemudian menjadi klien terakhir Cobb yang membiayai misi sekaligus menjadi anggota tim di dalam mimpi.

Permasalahannya, Cobb masih merasa bersalah dengan kematian istrinya, Mallorie “Mall” Cobb (diperankan oleh Marion Cotillard). Mal selalu berusaha menggagalkan misi Cobb di dalam mimpi karena ingin Cobb tinggal bersamanya di dalam alam mimpi selamanya. Hubungan cinta dan rasa bersalah antara Cobb dan Mal inilah yang menjadi salah satu kekuatan film: paradoks emosi. Inilah yang membuat film ini tidak menjadi film aksi biasa.

Kembali konsep dualitas yang saya pahami sedikit itu berguna untuk mendedah film ini. Daripada mendikotomikan mimpi dan terjaga di dalam film ini, di mana terjaga dan mimpi saling menegasikan, saya melihatnya justru keduanya saling melengkapi. Dualitas, dua elemen, dua level, ada untuk saling melengkapi satu sama lain. Bermimpi dan terjaga ternyata memiliki rasionalitasnya sendiri. Bermimpi ternyata memiliki banyak level dan elemennnya juga banyak. Di dalam mimpi ternyata ada arsitek dan “bangunan”-nya Sementara itu, untuk bermimpi dengan baik dan benar, serta menghasilkan sesuatu yang konstruktif, perlu dilakukan persiapan yang baik ketika sadar. Di sinilah saya kira, kelebihan Nolan dan timnya mengeksplorasi konsep mimpi, antara lain konsep lucid dream, yang artinya mimpi yang disadari. Ketika bermimpi kita sadar sedang bermimpi.

Kemudian saya sadari selama filmya, bagaimana cerita dikemas menarik tetapi tetap dengan menjaga kebenaran dan kedalaman ilmu pengetahuan, terutama ilmu eksakta. Saya mendapati bahwa, kerja-kerja riil bahkan diperlukan di dalam mimpi. Bila kita jeli menghitung waktu di tiap lapisan mimpi, waktu tersebut berkorelasi dengan perpangkatan angka yang lebih banyak di tiap level. Entah mengapa, rasanya pilihan yang agak saya sesali mempelajari ilmu eksakta, terutama fisika, sewaktu SMA, kali ini terasa menguntungkan dan menyejukkan, minimal membantu saya memahami teks media jenis begini dengan lebih baik.

Teks media apa pun, dalam tulisan ini teks film, dapat diamati dari dua sudut pandang. Kita melihat apa yang disampaikan di dalam teks dan bagaimana satuan ide atau informasi digelontorkan sepanjang teks. Dari sisi keduanya, film ini bagus sekali. Salah satu film terjenius yang saya tonton. Mimpi sebagai hal yang diperbincangkan, disampaikan dengan definisi baru dan relatif lebih kompleks. Sementara cara menyampaikan narasi juga relatif baru: dunia nyata, dunia mimpi dalam beberapa level, dan dunia bawah sadar. Ketiga “dunia” tersebut cukup baik dijelaskan dan dirangkai satu sama lain.

Di atas semuanya, cara-cara yang “populer” tetap ditampilkan, misalnya Arthur dan Aemes yang bertolak belakang. Arthur lebih kaku sementara Aemes mengklaim dirinya lebih imajinatif. Ternyata di mimpi pun tetap ada orang yang “kaku” dan “bebas”, tadinya argumen saya, di dalam mimpi itu orangnya bebas semua. Juga adegan Arthur dan Ariadne yang berciuman untuk mengalihkan perhatian, padahal tindakan itu tidak diperlukan. Juga adegan akhir film yang secara cerdas menunjukkan ending yang terbuka untuk membuka pada sekuel yang kedua. Kemungkinan profit yang besar ternyata tidak lepas dari Hollywood, bahkan untuk film “jenius” sekalipun. Untungnya, motif-motif tersebut bisa dipertanggungjawabkan dengan kualitas yang sangat bagus.

Hal ini cukup ironis bila kita lihat yang terjadi dalam film Indonesia sejauh ini. Ketika menonton film ini, saya mengamati film-film Indonesia yang diputar dalam waktu yang bersamaan dan yang akan diputar. Terlihat bagaimana tidak ada perubahan yang cukup signifikan untuk film Indonesia yang masih memperbincangkan hal-hal usang dengan cara lama, mistis dan cenderung porno. Dua film yang saya amati posternya adalah “Pocong Keling” dan “Selimut Berdarah”. Atau mungkin terlalu jauh ya membandingkan film kita dengan film Hollywood. Saya saja yang mungkin lancang membandingkannya

Sebagai penutup, film ini tetap menjaga adagium yang mempertanyakan “apa yang riil, apa yang disebut mimpi?” sekaligus memberikan tafsir terbuka bahwa hidup ini juga mimpi dan mimpi bisa sangat riil. Hal ini terlihat pada akhir film, totem Cobb, yang menjadi penanda keberadaan dirinya di dalam mimpi, tetap berputar. Tetap berputar berarti menunjukkan bahwa Cobb masih bermimpi. Bukankah pertanyaannya sama dengan kita: bagaimana kita mewujudkan mimpi dalam kehidupan nyata dan juga di dalam mimpi itu sendiri?

(Catatan: semua informasi penting di dalam tulisan ini didapatkan dari situs imdb dan wikipedia)

Selasa, 20 Juli 2010

Shutter Island: Kesadaran, Narasi Diri, dan Kegilaan



Sejak dimulai film ini sudah menunjukkan kita akan pentingnya kesadaran. Edward "Teddy" Daniels (diperankan oleh Leonardo DiCaprio) mengawali kisah dengan monolog "Kuatkan dirimu Teddy. Kuatkan dirimu". Itu adalah upayanya untuk tetap "sadar" agar tidak mabuk laut. Adegan ini bisa menjadi peringatan bagi yang menonton film ini untuk berhati-hati dengan apa yang dilihat sepanjang film dan mesti memperkuat kesadaran kita utuh penuh selama menonton.

Kesadaran adalah salah satu problem utama dari film ini, bahkan juga bagi kehidupan. Sadarkah kita selama kita hidup? atau kita justru sadar selama situasi tidak sadar (dalam tidur misalnya)? dua hal ini adalah pertanyaan esensial yang bisa kita pertanyakan pada diri sendiri. Kesadaran kita sebagai penonton juga diperlukan agar tidak "diperdaya" oleh teks film. Sejak awal saya sudah memprediksinya karena saya mendapatkan informasi bahwa film ini film "berat" dan susah ditafsir. Karena itulah saya bersiap-siap. Pengalaman menonton "The Sixth Sense" (1999) dan "The Others" (2001) dulu saya jadikan bekal. Dugaan saya betul. Sama seperti kedua film tersebut, film ini pun mutitafsir dan adegan di bagian akhir bisa mengubah pemaknaan kita pada film secara keseluruhan.

Walau begitu, film ini tidak memberikan tautan yang kuat atas tafsir yang berbeda di akhir. Tidak seperti "The Sixth Sense" yang kemudian menyadarkan kita betapa kita telah terperdaya sejak awal. Tidak seperti "The Others" yang sama sekali tidak memberikan petunjuk sampai adegan paling akhir. Fim ini memberikan banyak petunjuk yang tersebar di seluruh bagian film. Semua "petunjuk" itu pun bisa ditafsirkan beragam.

Film ini bercerita tentang Edward "Teddy" Daniels dan rekannya, Chuck Aule (diperankan oleh Mark Ruffalo), Marshall AS, yang menyelidiki hilangnya seorang pasien rumah sakit dan juga tahanan di sebuah pulau di lepas pantai Massachusetts bernama Rachel Solando. Rumah sakit tersebut menahan sekaligus merawat pasien-pasien yang pernah melakukan kejahatan brutal. Hal ini digambarkan dengan ucapan Dr. John Cawley (diperankan oleh Ben Kingsley), kepala rumah sakit, bahwa mereka melebur moral dan perawatan psikologis kepada "pasien". Tetapi film menjadi rumit karena informasi demikian banyak yang mesti dicerna, termasuk upaya Teddy mencari "pembunuh" istrinya, Dolores Chanal.

Sepanjang film kita disuguhi adegan yang berisi dialog dan gambar nan memusingkan. Kita mesti sesadar mungkin menerima semua informasi dari film ini. Ketika memasuki kamar Solando yang hilang misalnya, ada petunjuk "the law of 4, who is 67". Petunjuk ini penting sampai akhir film dan menentukan narasi lain di luar narasi yang diplotkan sejak awal di film. Narasi secara sederhana bisa kita artikan sebagai alur cerita linear, ada awal, tengahan (karena panjang), dan akhir. Narasi di dalam fiksi biasanya melibatkan protagonis dan antagonis, serta para pendukung keduanya.

Inilah yang menjadi poin penting kedua. Ternyata narasi yang disampaikan di film sejak awal bukanlah narasi tunggal. Ada dua narasi di sini walau keduanya sama rumit dan mesti "disatukan" bila ingin dicerna secara baik dan benar. Multi narasi ini yang menjadi persoalan utama di dalam film. Pencipta teks dan juga tokoh utama merasa bahwa narasi versi mereka adalah si Teddy berjuang untuk menemukan kembali tahanan yang hilang sekaligus membuka kebobrokan pengobatan mental di sana dan "pencucian otak" dilakukan demi kepentingan negara. Kita mesti ingat film ini bersetting tahun 1952 dan Nazi baru saja kalah.

Narasi yang dipegang teguh oleh Teddy ternyata salah. Narasi baru yang ditawarkan oleh Cawley dkk berbeda jauh, bahwa Teddy adalah pasien ke-67 itu. Selama dua tahun Teddy berusaha mengingkari kenyataan bahwa ketiga anaknya meninggal karena ditenggelamkan oleh istrinya dan semua orang di rumah sakit berperan dan bertindak sesuai dengan "keinginan" Teddy. Saya tidak akan bercerita lebih jauh karena kasihan teman-teman yang belum menonton film ini.... :)

Benturan dua narasi inilah yang menjadi poin penting sepanjang film. Munculnya kejelasan narasi kedua mengubah struktur pemahaman kita atas seluruh teks. Di dalam kehidupan nyata pun sesungguhnya kita melakukan "pertempuran" yang sama, bagaimana menguatkan narasi diri dan berjuang menghantam hempasan dari narasi-narasi luar yang mungkin tidak sesuai menurut kita. Bisa dikatakan, di sinilah problem utama kehidupan personal. Biasanya di dalam narasi diri, kita sendirilah protagonisnya. Sementara pihak-pihak antagonis adalah orang-orang yang tidak sesuai dengan kita. Orang-orang yang berusaha menawarkan atau bahkan memaksa narasi versi mereka. Permasalahannya, narasi mana yang benar? di dalam hidup yang sebenarnya, narasi hidup itu akan terus-menerus berkelindan sampai Pencipta Narasi menghentikannya.

Narasi diri ini selanjutnya berkaitan erat dengan kegilaan. Teddy misalnya dianggap gila karena mengembangkan narasi diri yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Tetapi apa itu sebenarnya kenyataan, dan juga kegilaan? siapa yang berhak menentukan kegilaan seseorang? di satu sisi, film ini berbicara ke arah sana. Ada kritik atas institusi bernama rumah sakit jiwa dan bidang ilmu bernama psikologi di film ini. Kegilaan ditentukan oleh satu pihak yang "berkuasa" atas ilmu dan perangkat institusnya. Salah satu adegan favorit saya di film ini adalah ketika Teddy bertemu dengan Solando yang sebenarnya, yang ternyata adalah perawat yang berusaha mengungkapkan kebobrokan rumah sakit Boston's Shutter Island Ashecliffe. Katanya kira-kira begini sekali kau dimasukkan dalam kategori gila, semua yang kau lakukan akan ada dalam kategori tersebut".

Permainan kata-kata atau anagram muncul di akhir film. Andrew Laeddis, yang dianggap oleh Teddy sebagai pembunuh istrinya, ternyata adalah dirinya sendiri. Andrew Laeddis adalah anagram dari Edward Daniels. Di dalam narasi yang ada di luar diri, dialah sebenarnya pembunuh istri dan secara tidak langsung, anak-anaknya.

Musuh terbesar kita adalah diri sendiri. Begitu kira-kira pesan lain yang kita dapat dari film ini. Saya jadi ingat dengan salah satu komik Superman yang saya baca sewaktu kanak-kanak. Superman bertanya kepada tokoh yang juga selamat dari planet Krypton. Siapa musuh terbesar saya? Orang "bijak itu menjawab: Marsepun. Kita tahu bahwa jawaban itu adalah permainan huruf pula. Sejak membaca sampai sekarang saya teringat dengan dialog itu.

Konsep kegilaan yang digunakan di film ini sedikit berbeda dengan film "A Beautiful Mind" (2001) di mana kegilaan dinyatakan secara tersamar mirip dengan kejeniusan. Di film Shutter Island ini, kegilaan dianggap mekanisme menolak kenyataan yang sangat pahit. Walau begitu, adegan terakhir di dalam film justru menguatkan saya pada pilihan pertama: narasi diri. Bahwa narasi dirilah yang penting. Di dalam film ini, bila narasi diri Teddy yang kita pegang, bisa dikatakan dia tak berhasil menentang dominasi dan hegemoni institusi kejiwaan yang menentukan kegilaan dan kewarasan.

Bila narasi di dalam hidup kita serahkan pada diri sendiri dan Pencipta, sementara narasi di dalam film diserahkan pada para penontonnya. Inilah yang paling penting dari tafsir atas teks, kelahiran polysemia, yaitu kondisi di mana keberagaman tafsir terjadi dan muncul di audiens. Hal lain yang juga penting dari film ini adalah: audiens yang sadar adalah audiens yang mampu menikmati pesan media dengan baik. Karena itu sadarlah ketika mengakses media, jangan terbius, dan terus berusaha membentur-benturkan narasi yang kita bangun di dalam diri dan narasi teks yang ada di luar diri.

Selasa, 13 Juli 2010

Hidup adalah Kumpulan Interaksi dan Paradoks-paradoksnya


Kehidupan ini adalah paradoks tak berujung. Kalimat inilah yang menjadi esensi dari film “Up in the Air” yang baru saya tonton. Menurut saya, film ini bagus dan tidak biasa. Film bagus itu bagi saya indikatornya sederhana saja. Pertama, suatu film bagus karena menyampaikan hal-hal biasa dengan cara yang “luar biasa”, atau paling tidak, menyampaikan isi pesannnya dengan cara berbeda. Atau kedua, film yang bagus bisa juga menyampaikan hal luar biasa dengan cara yang biasa atau normal. Sebagai tambahan, sebuah film akan bagus bagi saya bila Original Soundtrack-nya juga bagus. Saya tidak pernah salah dalam melihat film berdasarkan OST-nya ini. Semua film yang OST-nya saya sukai biasanya bagus. Sebut saja film-film Quentin Tarantino, mulai “Pulp Fiction” sampai “Kill Bill”. Untuk film “pop”, film yang melibatkan Drew Barrymore biasanya mempunyai OST yang bagus dan melibatkan lagu-lagu dari dekade 1980-an.

Banyak film yang saya “timbun” di rumah. Saya belum sempat menonton film-film tersebut karena beberapa penyebab, antara lain fokus saya lebih pada beberapa kerjaan yang belum selesai dan album-album musik yang belum saya takar. Hasrat terbesar saya pada pesan media adalah musik rekaman, yang lain menyusul di belakangnya. Tetapi beberapa malam itu berbeda. Tidak ada siaran Piala Dunia karena sedang istirahat menunggu partai perempat-final. Juga tidak ada album musik yang mesti saya akses. Bermain game FM juga tidak lagi mengasyikkan karena ada pertandingan yang asli di Piala Dunia. Sementara, salah satu tugas wajib sudah saya selesaikan sambil menunggu mengerjakan tugas selanjutnya.

Karena itulah saya menonton film ini. Awalnya, saya menganggap film ini biasa saja, tipikal film-film Hollywood yang bercerita tentang hal biasa dengan cara biasa pula. Ternyata saya salah. Banyak hal baru saya pahami dari satu adegan ke adegan yang lain. Selain itu cara menyampaikan beberapa topik yang relatif banyak dengan “mulus” dan enak diikuti, adalah hal lain yang saya pahami dari film ini. Film ini bercerita tentang Ryan Bingham (diperankan oleh George Clooney), seseorang yang tugasnya menyampaikan kabar pemecatan pada orang lain. Film ini sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat Amerika Serikat yang sedang menghadapi banyak pemutusan kerja sebagai akibat krisis ekonomi yang berat. Bagian awal film yang berkisah tentang komentar orang yang dipecat adalah salah satu bagian yang bagus dalam film ini.

Ryan melakukan pemecatan, seperti yang dinarasikan olehnya, karena orang yang seharusnya menyampaikan berita tersebut terlalu takut untuk menyampaikannya langsung. Menarik bagaimana melihat respon orang0-orang yang dipecat pada Ryan, mereka marah tetapi sadar tidak bisa berbuat apa-apa pada Bingham yang “hanya” menjalankan tugasnya.

Ryan juga memiliki pekerjaan “kedua”, sebagai motivator untuk orang-orang yang berprofesi mirip dengannya. Metafora kehidupan sebagai tas perjalanan yang dibawa ketika kita pergi realtif baru walau sebenarnya sudah pernah disampaikan U2 dalam lagu-lagunya di album “All You can’t Leave Behind”, yang dirilis pada tahun 2000. Ryan berfilosofi bahwa semakin sedikit hubungan kita dengan manusia lain, akan semakin mudah dan efisien kehidupan kita, terutama untuk mencapai sesuatu yang kita tuju.
Di dalam perjalanan itulah dia bertemu dengan Alex Goran (diperankan oleh Vera Farmiga), yang juga memiliki profesi yang mengharuskannya terbang mengitari Amerika tetapi jumlah jarak penerbangannya masih kalah dibandingkan Bingham. Bermula dari obrolan biasa dan berbagi tentang motif masing-masing menempuh perjalanan sering dan jauh dengan pesawat terbang, hubungan cinta mereka terus berkembang dengan cara mencari “titik singgung” di kota-kota pertemuan dalam perjalanan mereka masing-masing.

Interaksi lain yang juga penting adalah dengan Natalie Keener (diperankan oleh Anna Kendrick). Pekerja baru di tempat Bingham bekerja. Pekerja baru yang brilian tetapi membawa ide yang kemungkinan besar menghilangkan keharusan Bingham untuk “terbang” lagi. Natalie mengusulkan kabar pemecatan tersebut disampaikan secara online yang sejak awal ditentang oleh Bingham. Natalie-lah yang meminta Bingham untuk “membuka” dirinya pada Alex. Di dalam interaksi inilah keduanya belajar dari masing-masing. Bingham belajar bagaimana untuk tetap optimis dan membuka diri pada orang lain, sementara Natalie belajar untuk menerima realitas pahit dalam berinteraksi cinta dengan orang lain.

Interaksi ketiga yang digambarkan di film ini adalah interaksi di dalam keluarga. Bingham adalah orang yang jarang berinteraksi dengan keluarganya, tetapi sewaktu kakak perempuannya, Kara, memintanya untuk membantu Julie mengumpulkan foto dari kota-kota yang dia kunjungi, Ryan Bingham mulai “kembali” pada keluarganya. Dia menghadiri pernikahan adiknya Julie bersama Alex. Cara film berkisah tentang karakter Ryan melalui kunjungannya inilah yang menarik dan pas porsinya sehingga film ini terasa tidak mengulur-ngulur adegan seperti sinetron-sinetron di layar televisi kita.

Interaksi yang juga penting dengan manusia lain adalah interaksi Ryan dengan rekan sekaligus boss-nya, Craig Gregory (diperankan oleh Jason Bateman). Interaksi tersebut digambarkan egaliter, kemungkinan karena mereka berdua rekan kerja dan sudah lama bekerja sama. Rangkaian dialog antara Ryan dan Craig, terutama saat Craig mengenalkan inovasi yang dibawa oleh Natalie, adalah percakapan yang “tegang” antara rekan sekaligus boss.

Lalu di mana paradoksnya? Paradoks yang paling penting berasal dari keseluruhan film, yaitu bagaimana menyampaikan berita buruk pada para pekerja oleh orang yang tidak saling mengenal. Interaksi dengan orang lain yang baru dikenal dengan konsekuensi yang menakutkan ternyata lebih mungkin dilakukan. Sementara itu, paradoks terpenting dari film ini terletak pada interaksi cinta dan interaksi kerja Ryan. Interaksi cinta Ryan dan Alex menjadi sebuah paradoks ketika Ryan membuka dirinya lebih. Ketika dia ingin mengejar cinta Alex, ternyata dia keliru besar karena Alex sudah memiliki keluarga. Inilah paradoks terbesar di film yang jarang muncul di film-film Hollywood. Tadinya saya kira film ini tipikal penyelesaiannya. Ternyata tidak sama sekali.

Paradoks kedua terbesar adalah bagaimana Ryan belajar dari Natalie mengenai prinsip hidupnya yang absurd. Filosofi kehidupan bisa “dimasukkan” ke dalam tas perjalanan adalah konsep yang absurd. Itu yang disampaikan oleh Natalie pada Ryan walau pada akhirnya Natalie juga belajar dari Ryan tentang kenyataan pahit interaksi dengan manusia lain. Di dalam konteks kerja ternyata pada akhirnya pemahaman Ryan yang benar. Inovasi yang dibawa Natalie untuk menyampaikan pemecatan melalui internet ternyata salah. Pemahaman Ryan bahwa pemecatan mesti menunjukkan emosi secara langsung dengan elegan adalah pemahaman yang benar.

Interaksi dengan keluarga ternyata juga memiliki paradoks. Ryan jarang sekali berinteraksi dengan keluarganya, terutama karena sebagian besar hidupnya yang dihabiskan di perjalanan. Walau begitu Ryan mengangetkan keluarganya dengan datang ke pesta pernikahan Julie dan menjadi “pahlawan” dengan membujuk calon suami adiknya untuk tetap menjalankan upacara pernikahan. Kemampuan motivator Ryan justru muncul pada saat yang penting.

Tidak hanya itu, paradoks juga muncul di akhir film ketika jarak perjalanan Ryan sudah mencapai satu juta mil. Ryan adalah orang termuda yang mencapai jarak tersebut. Harapan inilah yang sejak awal dikejar olehnya, termasuk digunakannya untuk merayu Alex. Ironisnya, ketika Ryan mencapai jarak itu, dia justru tidak menyadarinya. Paradoks cantik terakhir!

Di luar filmnya, OST-nya juga bagus sekali. Album soundtrack film ini mampu menggambarkan filmnya: saat-saat penerbangan yang sepi, kepedihan dan keriaan dari interaksi dengan manusia lain, dan optimisme pada interaksi tersebut. Kehadiran Elliott Smith di OST film ini juga menyenangkan saya. Penyanyi paling sendu di dunia favorit saya ini mampu menggambarkan kepedihan dan kemustahilan mendapatkan cinta dalam hidup. Inilah pandangan hidup yang mungkin membuatnya mengakhiri hidup justru di tengah puncak karir bermusiknya. Paradoks kehidupan yang lain.

Film ini membuat saya ingin terus mencari dan mengakses film-film lain, tak hanya mendengarkan album musik. Film ternyata mengasyikkan juga untuk diakses dan ditakar-takar. Sesuatu yang agak telat saya ketahui. Saya ingin mencari paradoks-paradoks yang lain dalam teks media….walau mungkin bisa saja paradoks-paradoks itu mudah saya temukan di kehidupan sendiri.

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...