Tampilkan postingan dengan label sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepakbola. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

Membaca Sepakbola, Menonton Drama

Kesedihan para Pemain Muenchen
dalam Final Champions League 2012
(gambar dari bloggers.com)

Sebagai seorang Presiden tentunya dia menyadari bahwa Bastian Schweinsteiger masih larut dalam kesedihan sehingga tidak merespon ajakannya untuk bersalaman. Mungkin itu yang ada di pikiran Joachim Gauck, Presiden Jerman, ketika pemain Bayern Muenchen tersebut tidak menyalami presidennya. Siapa yang tidak sedih ketika harapan yang membuncah musnah di depan mata. Bayern Muenchen memiliki kans besar untuk menjadi juara karena menjadi tuan rumah final Champions League 2012. Fakta di lapangan juga menunjukkan hal serupa. Pasukan merah mengurung pasukan biru sepanjang 120 menit. Tetapi itulah kenyataan. Seringkali harapan yang sepertinya dengan mudah terwujud, malah hilang dan mewujud sebaliknya.

Drama sepakbola liga-liga di Eropa, baik yang domestik ataupun antar negara, tidak berhenti di situ. Berikutnya, Monpellier membuat sejarah untuk pertama kalinya menjuarai liga Perancis dan mengalahkan klub kaya Paris Saint Germain. Sehari setelahnya Napoli mengalahkan kesebelasan "tak terkalahkan" Juventus pada final Copa Italia. Dramatis bagi Juve, karena justru di pertandingan terakhir di musim ini mereka kalah dan tidak bisa mengawinkan juara Liga yang baru saja mereka dapatkan. "Drama" juga terjadi di liga Inggris yang juaranya ditentukan pada dua menit terakhir masa injury time antara Manchester City versus Queen Park Rangers. "Drama" lain berwujud pemecahan rekor point terjadi di liga Spanyol di mana Real Madrid mendapatkan poin 100 dan mengalahkan Barcelona yang selama tiga tahun begitu digdaya.

Walau tahun ini banyak kejadian dramatis, namun bagi saya lebih dramatis liga-liga tersebut setahun lalu, di mana Monaco, Deportivo La Coruna, dan River Plate, klub-klub mapan dan berprestasi, harus terdegradasi. Kabarnya ketiganya sangat mungkin kembali pada liga utama musim depan. Darimana semua drama tersebut kita peroleh? jawabnya singkat saja, dari media. Media mengharu-biru kita dengan ragam informasi dan emosi melalui tayangan tentang sepakbola. Asalkan tidak mendramatisasi, sah-sah saja media mengedepankan drama, seperti saat Pep Guardiola memutuskan mundur, seperti ketika Muamba terjatuh pingsan, dan banyak kejadian yang lain. Hal yang paling penting adalah bagaimana media juga bisa mendorong tindakan yang diperlukan untuk memperbaiki kondisi riil sepakbola. Kita semua, masyarakat Indonesia penyuka sepakbola, dimanjakan oleh tayangan sepakbola dari Eropa dan mengakses, memaknai, dan terharu-biru oleh drama drimi kejadian di luar lapangan di Eropa dan seluruh penjuru dunia, tetapi kita, mungkin sebagian besar, tidak tertarik menonton sepakbola negeri sendiri apalagi mengakses informasi di luar lapangan karena pasti tentang konflik melulu. Sungguh ironis! media kita juga sepertinya tidak antuasias memberitakan sepakbola Indonesia kecuali tentu saja stasiun-stasiun televisi yang menjadi antek dari masing-masing pihak yang bertikai.

Semoga cepat membaik kondisi sepakbola Indonesia.
Sekarang kita bisa beristirahat sejenak untuk menyiapkan fisik dan psikis untuk Piala Eropa bulan depan (kecuali final Copa Del Rey akhir minggu ini).

Selasa, 03 Mei 2011

Membincangkan Sepakbola Menjelang Akhir Musim


Sungguh mengasyikkan membicarakan sepakbola Eropa akhir-akhir ini. Sejumlah laga di akhir musim menunjukkan ketatnya liga. Tim yang memastikan gelar juara dalam minggu kemarin adalah Borussia Dortmund untuk liga Jerman. Dortmund adalah tim kedua yang merengkuh gelar juara di Eropa setelah Porto di liga Portugal. Dortmund yang merupakan kesebelasan muda ini mematahkan prediksi para pengamat yang tidak menempatkannya sebagai favorit juara. Mereka mematahkan prediksi dengan indah, menjadi juara dengan dua pertandingan sisa di liga. Pekan depan kita menunggu juara untuk liga Belanda. Juara akan diperebutkan oleh dua tim perangkat pertama, Twente dan Ajax, pada pekan terakhir! Dua liga menengah Eropa ini memberikan tontonan menarik sepanjang liga meskipun para pengamat sepakbola di Indonesia hanya bisa menyaksikan sedikit pertandingannya melalui cuplikan di berbagai program berita dan berita di media cetak.



Liga menengah yang juga akan menentukan juara pada pekan-pekan terakhir liga adalah liga Perancis, yang secara matematis bahkan masih diperebutkan oleh lima tim. Dominasi Lyon pada satu dekade terakhir sudah lama berakhir di liga yang menghasilkan banyak pemain hebat bila pindah ke liga-liga kelas atas Eropa ini. Setelah itu, barulah para penggila menatap liga-liga atas Eropa. Di Spanyol, perseteruan dua rival hebat, Barcelona dan Real Madrid, tidak hanya terjadi di liga negerinya sendiri, tetapi juga di liga Champion. Walau berselisih delapan poin, pertarungan keduanya masih bisa sampai di pekan depan sebelum juara ditentukan. Sementara itu, di liga Italia, AC Milan tinggal memerlukan satu nilai untuk menjadi juara dan sepertinya bisa direngkuh minggu ini. Terakhir, liga atas Eropa yang paling seru adalah liga Inggris. Manchester United, Chelsea, dan Arsenal masih berpeluang menjadi juara. Pertandingan pekan ke-36 antara Manchester United melawan Chelsea adalah puncak laga penentu gelar juara yang kemungkinan besar bakal sangat seru.



Demikianlah, liga-liga Eropa sangat menarik untuk diikuti. Kita tidak hanya menonton pertandingannya, langsung maupun tunda, melainkan juga mengakses hasil-hasil pertandingan dari semua media, membincangkan semua aspek sepakbola, di dalam dan luar lapangan. Animo masyarakat kita atas sepakbola memang luar biasa. Lihatlah pertandingan di liga-liga nasional yang selalu dipenuhi penonton. Terlepas dari seringnya terjadi bentrok antar suporter, animo yang besar tersebut menunjukkan minat yang sangat tinggi terhadap sepakbola. Jangankan pertandingan-pertandingan profesional, pertandingan antar kampung saja, animo masyarakat kita sangatlah tinggi. Animo tersebut juga diakomodir oleh media. Lihatlah pemberitaan sepakbola di berbagai program atau pun artikel berita olahraga di media cetak dan penyiaran. Berita tentang sepakbola mendominasi sekitar delapan puluh persen dari keseluruhan pemberitaan. Hal yang sama pun terjadi untuk media baru, antara lain game. Tengoklah persewaan konsol game di kampung-kampung sekitar kita, permainan yang paling digemari adalah sepakbola.



Melalui pemberitaan sepakbola kita pun bisa melihat cukup banyak hal, antara lain penerapan istilah yang seringkali digunakan, dan percobaan memaknainya dalam konten media. Misalnya saja istilah “bus”. Di dalam pemberitaan sepakbola di Eropa, istilah “memarkir bus” digunakan untuk tim yang bermain bertahan. Hal ini minggu kemarin disematkan untuk tim Jose Mourinho, Real Madrid, yang bermain defensif melawan Barcelona dalam final Copa del Rey. Walau pada akhirnya Madrid menang, istilah bermain dengan “memarkir bus” terus dilabelkan padahal Madrid adalah tim besar. Madrid juga dikaitkan dengan “bus” ketika piala Copa del Rey remuk terlindas bus karena keteledoran Sergio Ramos. Banyak juga kisah unik yang muncul dalam pemberitaan sepakbola. Terkadang kisah itu cukup membuat kita tersenyum karena terharu atau jenaka. Misalnya saja kisah Tamir Cohen, pemain Bolton Wanderers, yang memasang kaus dalam penghormatan untuk ayahnya yang meninggal dalam kecelakaan sepeda motor pada bulan Desember 2010 lalu. Kemenangan Bolton atas Arsenal, 2-1, pada pekan ke-34 tersebut punya arti khusus bagi Cohen karena ia mencetak gol. Pada akhirnya dia bisa mengangkat kausnya untuk mengapresiasi sang ayah. Saya memasang kaus dalam bergambar wajah ayah sejak Januari lalu. Sungguh suatu “perjuangan” memakai kaus dalam tersebut selama empat bulan sebelum terlihat. Bila Cohen berada di tim besar yang sangat mungkin sering mencetak gol membuka kaus untuk memperlihatkan “pesan” bukanlah masalah.



Saya juga hanya bertanya-tanya di dalam hati. Kira-kira masyarakat di negara-negara Eropa itu memperhatikan betul tidak pengurus asosiasi persepakbolaannya seperti kita di sini. Kita, sebagai masyarakat Indonesia dan pecinta sepakbola, dihadapkan pada “tontonan” tak menarik dan tak lucu dari orang-orang yang berkuasa dalam asosiasi sepakbola, PSSI. Setelah Nurdin Halid tidak diakui kepengurusannya di PSSI, kisruh bukannya berhenti atau berkurang tetapi malah bertambah. Saya pribadi sudah kurang berminat memantau atau mengamati siapa pengurus PSSI nantinya. Hal yang terpenting adalah cara pengurus menciptakan sistem pertandingan yang baik dan membuat masyarakat antusias menontonnya. Kemungkinan juga perhatian kita melalui media yang besar pada para “pejabat” adalah potret kepercayaan kita yang masih besar pada elit walau sebenarnya mereka tidak kunjung memenuhi kepercayaan tersebut.



Ah, cukup sudah membincangkan sepakbola nasional. Mari kita kembali mengamati liga Eropa, terutama dua laga semifinal liga Champion dua malam ini. Semoga tim yang berlaga di final adalah dua tim yang memperagakan sepakbola terbaik, seperti juga siapa pun yang memimpin PSSI nantinya, adalah insan pemimpin, manager, dan pecinta sepakbola yang tulus. Berfokus pada sepakbola tanpa mencoba mengait-ngaitkannya dengan politik terlalu jauh.

Minggu, 29 Agustus 2010

Pertunjukan Sesungguhnya telah Dimulai


Dua hari ini pembagian grup dua kejuaran antarklub Eropa telah selesai diundi. Memang pertandingan-pertandingan kualifikasi keduanya telah dimulai sekitar sebulan yang lalu. Tak lama setelah Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan berakhir pertandingan sepakbola di Eropa, yaitu kualifikasi antarklub dimulai kembali. Tak lama kemudian pertandingan internasional antar negara juga dimulai. Walau ada keluhan dari beberapa manajer mengenai bentroknya jadwal antara jadwal pra-musim dan internasional, secara umum penjadwalan sepakbola untuk Eropa telah tertata sangat baik.



Secara umum peliputan sepakbola klub Eropa oleh media kita juga gegap gempita. Sayangnya, prinsip jurnalistik terkadang tidak terimplemenatsi sepenuhnya, misalnya saga transfer pemain lebih menyoroti masalah harganya, bukan aspek karakter permainan si pemain. Beberapa informasi penting, misalnya kebijakan implementasi home-grown player di liga Inggris yang sebenarnya sudah ditetapkan tahun lalu, bukan karena penampilan Inggris yang jemblok di Piala Dunia. Orang yang memainkan game komputer Football Manager pasti sudah tahu tentang kebijakan tersebut. Begitu juga dengan kebijakan di liga-liga Eropa yang lain, misalnya pembatasan pemain non-Eropa di Spanyol dan Italia yang berbeda.



Di luar itu semua, secara umum peliputan sepakbola musim terbaru ini ramai sekali. Mungkin karena sisa euforia Piala Dunia yang belum hilang. Pertandingan-pertandingan pra-musim yang cukup banyak disiarkan televisi. Penikmat sepakbola juga disuguhi saga transfer dengan lebih lengkap. Informasi mengenai transfer menjadi begitu penting beberapa tahun terakhir karena ternyata strategi transfer termasuk strategi "emas" untuk mendapatkan trofi, kecuali pada Real Madrid pra-Mourinho.



Agar saya sendiri tidak lupa dengan informasi pembagian grup untuk kompetisi antarklub Eropa, saya akan mendokumentasikannya di sini. Bila suatu saat memerlukannya nanti, tinggal membuka saja akun Facebook. Analisis kekuatan dan tindakan media atas informasi tentang kedua kompetisi ini nantinya akan dibahas pula pada tulisan-tulisan berikutnya.



Selamat menikmati liga Champions (Champions League) dan liga Europa (Europa League) bagi para penggemar sepakbola!



Liga Champions

Grup A: Inter Milan, Werder Bremen, Tottenham Hotspur, Twente

Grup B: Lyon, Benfica, Schalke, Hapoel Tel Aviv

Grup C: Manchester United, Valencia, Glasgow Rangers, Bursaspor

Grup D: Barcelona, Panathinaikos, Copenhagen, Rubin Kazan

Grup E: Bayern Muenchen, AS Roma, Basel, Cluj

Grup F: Chelsea, Marseille, Spartak Moscow, MSK Zilina

Grup G: AC Milan, Real Madrid, Ajax, Auxerre

Grup H: Arsenal, Shakhtar Donetsk, Braga, Partizan Belgrade



Liga Europa

Grup A: Juventus, Manchester City, Salzburg, Lech Poznan

Grup B: Atletico Madrid, Bayer Leverkusen, Rosenborg, Aris Thessaloniki

Grup C: Sporting, Lille, Levski Sofia, Gent

Grup D: Villarreal, Club Brugge, Dinamo Zagreb, PAOK

Grup E: AZ Alkmaar, Dynamo Kiev, BATE Borisov, FC Sheriff

Grup F: CSKA Moscow, Palermo, Sparta Prague, Lausanne Sports

Grup G: Zenit St Petersburg, Anderlecht, AEK Athens, Hadjuk Split

Grup H: Stuttgart, Getafe, Odense, Young Boys

Grup I: PSV Eindhoven, Sampdoria, Metalist Kharkiv, Debreceni

Grup J: Sevilla, Paris Saint Germain, Borussia Dortmund, Karpaty

Grup K: Liverpool, Steaua Bucharest, Napoli, Utrecht

Grup L: Porto, Besiktas, CSKA Sofia, Rapid Vienna

Jumat, 06 Agustus 2010

Seperti Ketika Mengakses Pesan tentang Sepakbola


Gaung Piala Dunia 2010 masih terasa. Hal ini antara lain bisa kita lihat dari pemberitaan mengenai denda yang diberikan FIFA kepada kontestan partai final, Spanyol dan Belanda, karena bermain kasar. FIFA sebagai otoritas sepakbola tertinggi dan penyelenggara World Cup benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik Demikian juga negara-negara di bawah naungannnya. Sejauh ini saya belum mendengar ada protes, apalagi protes berlebihan, dari Belanda dan Spanyol, atas denda tersebut.

Sepakbola di negara lain, terutama negara-negara yang tergabung dalam UEFA juga, juga dikelola dengan sangat baik. Belum pudar kepuasan kita menonton Piala Dunia 2010, liga-liga Eropa siap diselenggarakan kembali tahun ini. Dua liga pertama yang diselenggakan adalah Liga Perancis dan Liga Belanda. Liga Inggris, sebagai liga yang dianggap terbesar lima tahun terakhir ini, akan dimulai minggu berikutnya. Tidak hanya itu, kesesuaian dengan liga Eropa antar negara juga patut diacungi jempol. Sekarang ini babak kualifikasi Piala Champions dan Piala Eropa, sedang berjalan. Walau sempat diprotes oleh beberapa klub karena jadwal yang sangat padat, secara umum roda kompetisi intra dan antar negara di Eropa berjalan dengan sangat bagus, juga keseuaian dengan jadwal pertandingan internasional untuk negara, tidak hanya untuk klub.

Lalu bagaimana dengan fenomena pengelolaan sepakbola di negara kita? sebenarnya sedih juga membicarakannya karena bila kita berbicara tentang sepakbola nasional, yang ada adalah kisah-kisah yang menyedihkan dan kurang bagus. PSSI sebagai otoritas tertinggi sepakbola di Indonesia tidak berfungsi dengan baik. Mulai dari penjadwalan yang amburadul sampai dengan profesionalisme pengurusnya terus dipertanyakan. Contoh paling dekat adalah jadwal tanding ulang antara Persik dan Persebaya yang terus saja tertunda. Masak liga telah selesai tetapi pertandingan tunda masih ada juga?

Atau contoh yang lebih memalukan adalah intervensi polisi dalam final Piala Indonesia dua hari yang lalu. Bisa kita saksikan dari tayangan langsung di sebuah stasiun televisi betapa Kapolda Jawa Tengah, Alex Bambang Riatmodjo, tidak memahami aturan permainan di dalam sepakbola bahwa tidak ada yang bisa mengganti wasit di dalam sebuah pertandingan sekalipun yang meminta adalah presiden. Terlepas ada pro kontra keputusan wasit Jimmy Napitupulu mengkartu merah pemain Arema Noh Alam Shah, yang begitu "tegang", permainan adalah permainan. Pertunjukan harus terus berjalan.

Kasus ini unik karena ternyata orang selevel Kapolda dan kemungkinan besar memahami peraturan dan informasi yang baik tentang sepakbola saja tidak tahu (atau tidak ingin tahu?), apalagi anggota masyarakat kebanyakan di Indonesia. Itulah sebabnya penonton sepakbola Indonesia lebih mengutaman kecintaan membabi-buta dalam menonton tim kesayangannya tanpa mengetahui dan memahami keindahan dan keutuhan permainan sepakbola. Tindakan pak polisi itu juga cermin bagi kita, masyarakat Indonesia, yang mengakses pesan tentang sepakbola.

Kita maklum sekali betapa masyarakat kita sangat menyukai sepakbola. Lihat saja ketika Piala Dunia kemarin dihelat. Tempat-tempat menonton bersama, "nobar" (nonton barenga) selalu penuh, mulai dari yang untuk kelas bawah, angkringan dan warung mie, sampai yang untuk kelas atas, kafe dan klub ekslusif. Penonton sepakbola rela mengeluarkan dana dan waktu untuk menonton sepakbola. Belum lagi "kerelaan" untuk mengisi bit di otak dan ruang di hati untuk sepakbola. Hal ini terlihat dalam pembicaraan sewaktu Piala Dunia dihelat. Di hampir semua tempat dan waktu, orang membicarakan sepakbola.

Saat ini pun demikian pula. Para penggemar sepakbola sudah mulai membicarakan persiapan liga-liga negara Eropa. Transfer pemain dan kemungkinan taktik pelatih baru adalah dua isu yang menarik untuk dibicarakan. Media jelas mengakomodirnya. Entah mulai kapan, persiapan sebuah klub menjadi topik yang ramai dibicarakan. Saya tidak tahu pasti. Hal yang jelas bagi saya adalah sekitar lima tahun yang lalu, persiapan sebuah klub bukanlah informasi yang diburu oleh penggila sepakbola.

Kini informasi tersebut tidak hanya diburu, pertandingan-pertandingan persahabat dan pemanasan pun mendapatkan perhatian luas dari masyarakat pentonton kita. Lihatlah Emirates Cup kemarin yang disiarkan oleh sebuah stasiun televisi swasta yang animo penontonnya cukup tinggi. Ini adalah fenomena yang sangat menguntungkan bagi media. Media juga semakin baik menginformasikan tentang sepakbola. Informasi tersebut tidak hanya informasi yang umum semisal skor pertandingan tetapi juga proses pertandingan dan "pergerakan" pemain selama pertandingan. Informasi semisal assist, clean sheet, dan tembakan ke gawang adalah informasi "baru" yang sudah mulai dicari oleh pengakses.

Andai saja antusiasme untuk mengelola sepakbola secara riil seperti antusiasme kita ketika mengakses pesan media tentang sepakbola, mungkin sepakbola kita akan lebih baik, tetapi tentu saja bila infrastruktur dan berbagai macam kepentingan di luar sepakbola tidak lagi meraja.

Selasa, 13 Juli 2010

Akhir Pertunjukan Terakbar


Sebenarnya malas juga menulis tentang dua pertandingan terakhir Piala Dunia 2010. Dua pertandingan terakhir itu adalah perebutan juara ketiga-keempat dan pertandingan memperebutkan juara pertama atau gelar kampiun. Bukan apa-apa, misi saya atas Piala Dunia kali ini telah terwujud yaitu munculnya juara baru menjadi negara ke-9 yang merebut gelar juara. Namun, karena tetap diperlukan tulisan terakhir untuk perhelatan terbesar umat manusia kontemporer ini, saya tetap menulis juga. Keperluan itu minimal bagi saya bisa menata-nata informasi di pikiran. Mengakhiri yang pernah diawali dan menutup yang pernah dibuka adalah tujuan utama tulisan ini. Ada beberapa hal yang bisa dituliskan berkaitan dengan dua pertandingan terakhir itu.

Pertama, kemenangan zona Eropa di dalam Piala Dunia kali ini. Walau negara-negara Eropa yang secara tradisi kuat gugur terlalu awal, Perancis, Italia, dan Inggris, dan mereka hanya mengirimkan wakil paling sedikit persentasenya di babak gugur pertama, zona Eropa mendekati "sempurna" dengan mengambil gelar juara pertama, kedua, dan ketiga. Zona Amerika Selatan, yang semula mengirim wakil dengan persentase terbanyak di babak gugur pertama, ternyata tidak sukses. Kedua wakil zona Conmebol yang paling moncer, Brasil dan Argentina, dihempaskan oleh dua wakil Eropa, Belanda dan Jerman, dan "hanya" diwakili oleh Uruguay.

Uruguay pun akhirnya hanya mendapatkan gelar juara keempat karena kalah dari pasukan muda Jerman, 2-3, walau Forlan sekali lagi menunjukkan kelasnya sebagai striker hebat. Pemain muda Jerman, Muller, Khedira, dan Jansen, menunjukkan Jerman berhasil dalam regenerasi dan dapat lebih berbahaya di masa mendatang. Italia, Perancis, dan Inggris bisa belajar meregenerasi pemainnya dari Jerman, dan juga Spanyol.

Pertandingan final sendiri, seperti diduga oleh banyak pakar sepakbola, didominasi dan dimenangkan oleh Spanyol walau mesti menunggu sampai babak perpanjangan waktu. Dari sisi penguasaan bola pun, Spanyol lebih dominan. Walau Belanda sedikit lebih baik dari Jerman dalam menghadapi Spanyol karena bisa bertahan dua babak reguler, kemenangan Spanyol tinggal menunggu waktu. Robben terlihat begitu frustasi di waktu akhir dan cenderung emosial. Hal ini unik karena sewaktu melawan Brasil, para pemain Belanda-lah yang mampu memancing emosi para pemain Brasil. Diusirnya De Jong di babak perpanjangan waktu adalah puncak dari respons pemain Belanda yang "mati kutu" atas permainan Spanyol.

Spanyol sendiri menunjukkan bahwa permainan indah adalah pemenangnya. Mereka memainkan permainan kolektif dari para individu bertalenta. Menurut saya, Spanyol secara umum menunjukkan pada kerja tim di berbagai bidang bahwa kombinasi individu yang hebat, manajer yang paham, dan peran yang jelas, adalah kinerja puncak bagi sebuah organisasi atau kelompok. Jadi, keberhasilan Spanyol bukan hanya karena kerja tim atau kumpulan individu yang hebat, tetapi keduanya.

Selamat untuk Spanyol sang juara baru!

Kedua, Piala Dunia kali ini berbeda sekali dengan Piala Dunia empat tahun sebelumnya. Tahun 2006 lalu nuansa menonton Piala Dunia adalah kesenduan karena berdekatan sekali dengan gempa. Sementara kali ini, suka cita menonton tersebut merebak kemana-mana. Baru kali ini saya mengamati pertandingan sepakbola di televisi begitu ramai ditonton, lelaki-perempuan, tua-muda, terutama pertandingan Brasil versus Belanda yang waktu tayangnya relatif belum terlalu larut malam. Secara umum, warga masyarakat antusias menonton dan menikmati semua hal informasi dan pesan dari Piala Dunia.

Pesan media paling utama dalam Piala Dunia 2010 ini tentu saja siaran pertandingannya. Siaran pertandingan secara langsung adalah hal terpenting. Berikutnya siaran tunda pertandingan. Bagaimana pun mengikuti jalannya pertandingan secara langsung sungguh berbeda dengan menonton tayangan ulang atau cuplikan golnya saja. Pesan jenis ini yang semestinya dieksplorasi secara mendalam oleh media. Saya mendapatkan kepuasan itu dari pertandingan final semalam karena ada wawancara dengan pelatih Spanyol dan Iniesta, serta suasana pasca pertandingan. Semua itu disiarkan karena kita semua menunggu seremoni penyerahan piala bagi sang juara.

Alasan televisi yang sudah membayar mahal relatif bisa dimengerti walau sebenarnya keuntungan yang mereka dapat juga besar. Ada dua keuntungan stasiun televisi yang mendapat hak tayang Piala Dunia. Keuntungan finansial berasal dari iklan bejibun yang masuk ke televisi. Keuntungan lainnya adalah ketersediaan program yang cukup untuk menggantikan produksi dan akuisisi program yang lain. Rekaman pertandingan, analisis, dan cuplikannnya mendapatkan porsi yang dominan selama sebulan ini.

Pesan media yang berkaitan dengan Piala Dunia yang lain selain pertandingannya, yaitu analisis, kuis, cuplikan, dan pemberitaan yang berkaitan secara langsung atau pun tidak, bahkan tayangan fiksi dan iklan yang berhubungan dengan sepakbola dan Piala Dunia, menempati arti penting berikutnya. Semua jenis pesan tersebut terletak di bawah pesan media pertandingan. Pesan dan informasi yang paling ekstrem misalnya pemberitaan "klenik" tentang Paul si gurita yang hampir selalu benar meramal. Berita semacam ini penting dan berguna untuk bersenang-senang belaka asalkan fungsi kepublikan dari berita tidak ditinggalkan oleh media.

Terakhir, sebagai penutup, kita bisa belajar bagaimana pesan media bisa "menghipnotis" banyak orang. Orang-orang yang tidak menyukai sepakbola pun menjadi terpaksa tahu tentang sepakbola dan Piala Dunia sebulan ini. Hampir tidak ada ruang untuk "melarikan diri". Sebagian besar dari kita juga sedikit melupakan banyak hal penting bagi negara dan masyarakat kita, ada isu tentang meledaknya tabung gas, efek negatif dari media baru terutama berkaitan dengan pornografi, dan upaya pembungkaman kembali demokrasi seperti yang disinyalir terjadi pad sebuah media berita dan seorang aktivis anti kuripsi.

Seperti kata seorang pakar komunikasi politik tadi pagi di televisi, kini saatnya kita kembali pada kehidupan "sebenarnya".....

Jumat, 09 Juli 2010

Selamat Datang Juara Baru!


Kemenangan Spanyol atas Jerman, 1-0, benar-benar memuaskan saya. Seratus persen harapan saya terwujud karena semifinal pertama antara Belanda versus uruguay dimenangkan oleh Belanda, 3-2. Keduanya belum pernah menjadi juara dunia dan kepedulian utama saya adalah hadirnya juara baru. Dan hari Minggu besok impian saya terwujud di partai final.

Kemenangan Belanda sesuai dengan prediksi dan ramalan banyak pihak, terutama para pakar komentar bola. Simpati penggila bola pada Uruguay juga menurun karena kecurangan Suarez yang menahan bola di perempatfinal ketika melawan Ghana. Kemenangan Belanda bahkan bisa lebih besar bila mereka “berdarah dingin” dan tanpa belas kasihan seperti tim Jerman ketika Jerman membantai Argentina.

Kemenangan Spanyol lebih spesial karena dukungan terbagi dua dan 50:50 kemungkinannya. Jeman bermain sangat bagus melawan Argentina, sementara Spanyol “hanya” menang tipis atas Paraguay. Tetapi mungkin ada yang dilupakan oleh para pengamat bahwa Paraguay memberikan perlawanan “berdarah-darah” atas Spanyol, tidak seperti Argentina yang seperti diajari bermain bola oleh Jerman.

Walau begitu, Jerman dan Spanyol patut berbangga karena keberhasilan mereka bukan hanya berpenampilan bagus di Piala Dunia, mereka juga menemukan bakat-bakat muda untuk masa depan, terutama dua penyerang mereka, Muller dan Pedro.

Hal yang unik lainnya dari dua partai semifinal adalah berita-berita di media yang bukan mengutamakan rasionalitas dan faktualitas, melainkan pada klenik dan opini tak jelas. Berita pertama adalah tuah buruk Mick Jagger bila menonton langsung di pertandingan. Bila dia menonton, tim yang dibelanya kalah. Berita kedua adalah sweater biru Loew, pelatih Jerman, yang memiliki tuah bagus bila digunakan. Saya melihat Loew dan juga asistennya menggunakan sweater dengan warna yang sama. Dan, mereka kalah dari Spanyol.

Berita terakhir yang paling “klenik” adalah pemberitaan tentang si Paul gurita yang selalu meramal benar untuk hasil pertandingan. Ramalan si Paul selalu tepat untuk Jerman karena dia memang ada di sebuah kebun binatang di Jerman. Sayangnya, dia meramal Jerman kalah melawan Spanyol. Ramalan ini pun benar. Sangking gusarnya rekan saya yang mendukung Jerman, sampai-sampai dia menulis di status FB yang menyarankan gurita “pintar” itu digoreng saja.

Pemberitaan media untuk topik apa pun semestinya mengutamakan rasio dan fakta. Tetapi inilah realitas sekarang ini. Media yang ada dalam koridor komersial akan cenderung seperti ini. Rasio yang relatif disingkirkan di dalam pesan media juga karena literasi media yang belum bagus sehingga tidak ada tekanan yang kuat dan konsisten pada media dari masyarakat sipil.

Partai-partai seru Piala Dunia juga memancing presiden berkomentar atas prestasi sepakbola nasional yang terpuruk sekali. Mungkin doski iri melihat bagaimana para kepala pemerintahan negara lain bersuka-cita mendukung negaranya. Selama ini kemana saja, Pak! Bila berkaitan dengan tampil di media dan citra saja, Anda sepertinya bersemangat sekali.

Pagi ini rasanya riang sekali. Saya bisa menulis dan mengerjakan tugas-tugas lain dengan hati bahagia karena harapan dan keriaan atas Piala Dunia kali ini terwujud. Selain itu, banyak yang bisa dipelajari dari dua semifinal kali ini, terutama bila melihat perjalanan keempat semifinalis sepanjang turnamen.

Bila kita mengaitkan dengan klub. Kita bisa menyimpulkan bahwa dua klub Spanyol berperan besar bagi kesuksesan kedua negara finalis. Madrid setahun lalu melepas kedua pemain utama Belanda, Robben ke Muenchen dan Sneijder ke Inter Milan. Kita tahu bagaimana kedua pemain itu membawa klubnya masing-masing ke final Champions Cup. Untung Madrid tidak jadi melepas van der Vaart. Bila dilepas dia pasti akan lebih baik lagi dan Belanda akan lebih berbahaya. Klub besar Spanyol yang lain yang berkontribusi bagi negara finalis adalah Barcelona. Klub ini menyumbang roh bagi tim Spanyol, Xavi dan Iniesta. Kita mungkin tidak akan melihat Spanyol yang hebat dan bermain cantik tanpa kedua pemain ini. Itu pun ditambah oleh Puyol yang selalu bermain bagus dan lugas dalam bertahan, juga Villa yang baru saja pindah ke Barca.

Bagaimana pun juga, kedua negara memang memiliki generasi emas, Spanyol dengan poros Barcelona – Madrid, sementara Belanda dengan para pemain “bekas” atau yang disia-siakan Madrid. Final nanti adalah penampilan pertama Spanyol dan penampilan ketiga Belanda. Kita tinggal menunggu pertandingan final nanti, apakah naiknya penampilan Barcelona dua tahun terakhir akan membawa Spanyol juara, atau Belanda bisa menasbihkan dirinya sebagai juara, untuk menghilangkan stigma sebagai tim yang bermain cantik tanpa gelar juara.

Bagaimana pun juga juara Piala Dunia nantinya adalah negara yang belum pernah menjadi juara sebelumnya. Belanda ataupun Spanyol akan menjadi negara kedelapan yang menjadi juara dunia.

Untuk itulah Piala Dunia kali ini patut disyukuri karena mendistribusikan kekuatan sepakbola dengan lebih merata.

(keterangan gambar: majalah resmi World Cup 2010 rilisan FIFA)

Selasa, 06 Juli 2010

Harapan Munculnya Juara Baru


Bila di babak penyisihan grup kita tidak diberi kesempatan untuk "bernapas" karena beruntunnya pertandingan, tidak demikian halnya dengan babak perempatfinal ke semifinal ini. Jeda antar pertandingan terasa lama karena kita terbiasa setiap malam menonton tiga pertandingan. Tetapi "penantian" itu akan tuntas Rabu dini hari nanti.

Apa yang menarik dari babak perempatfinal kemarin?
Jawabannya singkat, mengembalikan tim-tim besar Amerika Latin kembali menjejak kakinya di bumi. Brasil dan Argentina yang digadang-gadang sebelumnya sebagai tim dengan permainan dan hasil paling menawan, ternyata takluk oleh dua "raksasa" lain. Raksasa dari Eropa. Walaupun secara persentase, Eropa meloloskan lebih sedikit tim ke perdelapan-final, ternyata memang mereka adalah tim-tim yang tangguh.

Dua kemenangan raksasa Eropa atas raksasa Amerika Latin berbeda. Belanda bermain gemilang dan menang tipis atas Brasil, 2-1. Sementara, Jerman seperti mengajari Argentina bermai sepakbola. Jerman menang 4-0. Setelah dua kekalahan tersebut, Dunga dan Maradona kembali mendapatkan kritik dari para pengritik mereka yang tadinya mulai diam. Melo, pemain Brasil yang memberi asis, gol bunuh diri, dan kartu merah, sampai-sampai disarankan untuk tidak pulang dulu ke Brasil.

Sementara itu, dua tim lain, Uruguay dan Spanyol, bersusah-payah lolos dari "lubang jarum". Uruguay sampai-sampai harus bermain "kotor" untuk mengalahkan Ghana. Bola yang dihadang dengan tangan oleh Suarez mungkin setara dengan kekotoran Henry yang juga menggunakan tangan untuk meloloskan timnya dari playoff dari Irlandia. Sementara Spanyol sudah mulai menemukan form terbaiknya seperti ketika mereka mengalahkan Jerman di final Piala Eropa 2008 sebelum dikalahkan Amerika Serikat di Piala Konfederasi. Spanyol memerlukan kecermerlangan Villa dan Casillas kembali di semifinal.

Pertandingan semifinal akan sangat seru. Pertandingan pertama, Belanda versus Uruguay, adalah pertarungan dua zona. Kita akan melihat Belanda memiliki kans sedikit lebih baik daripada Uruguay. Apalagi Uruguay akan bermain tanpa Suarez. Pertandingan kedua adalah Jerman versus Spanyol. Jerman yang sekarang tentu saja berbeda dengan Jerman di tahun 2008. Kehadiran Oezil, Muller, Khadiera, dan Boateng, yang menjadi Juara Eropa U-21, menjadikan Jerman lebih kuat. Sayang, Muller tidak hadir di semifinal karena akumulasi kartu. Jerman menjadi lebih kuat karena skuad multikulturnya. Kira-kira seperti Perancis ketika menjuarai Piala Dunia 1998. Bagaimana pun beragam lebih baik daripada seragam.

Walau begitu, saya memegang Spanyol untuk lolos ke final melawan Belanda. Bukan apa-apa, biar ada juara baru yang lahir. Tidak hanya negara-negara yang secara tradisional sering juara. Jerman semoga tidak sampai ke final. Walau juara terakhir mereka raih pada tahun 1990, dua puluh tahun yang lalu, namun Jerman pernah juara. Begitu pula dengan Uruguay. Walaupun mereka juara terakhir kali tahun 1950, mereka kan pernah juara juga.

Sebaiknya ada juara baru. Untuk itu saya memegang Belanda dan Spanyol. Biar rata gelar juaranya :)... selain itu, karena sejauh ini Belanda dan Spanyol bermain lumayan apik. Apa tim pilihan teman-teman?

(keterangan gambar: Bolavaganza, salah satu majalah paling lengkap untuk Piala Dunia 2010)

Sabtu, 26 Juni 2010

Jatuhnya para "Raksasa": Putaran Grup telah Selesai


Para penggemar sepakbola sepertinya tidak diberi kesempatan untuk "menarik napas" karena begitu putaran grup selesai, ditandai pertandingan terakhir di grup H, putaran knock-out telah dimulai. Nanti malam kita bakal menyaksikan pertandingan pertama babak saling menggugurkan antara Uruguay versus Korea Selatan. Kita juga tidak akan dipaksa untuk pindah-pindah saluran siaran karena tidak ada lagi dua pertandingan yang dilaksanakan berbarengan.

Banyak drama terjadi di putaran akhir grup, kita bisa melabelinya tumbangnya para "raksasa". Dua raksasa sepakbola dunia mesti pulang lebih awal, dan yang lebih mengenaskan, mereka menjadi juru kunci di grup masing-masing. Kedua negara tersebut adalah Perancis dan Italia. Sementara satu dari dua raksasa sepakbola yang lain mesti berhadapan di babak awal knock-out, Jerman dan Inggris. Salah satu mesti hilang dari Piala Dunianya dua hari lagi.

Kekalahan Perancis dan Italia menjadi puncak dari tidak meyakinkannya dua negara besar itu sepanjang kualifikasi dan pemanasan menjelang Piala Dunia. Apalagi Perancis, setelah menang dengan bantuan tangan Henry, mereka tidak kunjung membaik. Permainan yang tidak bagus dan konflik internal membuat mereka disebut-sebut menerima "kutukan", tetapi dari telaah lain, hal ini menunjukkan komunikasi Domenech yang tidak bagus secara internal di dalam tim dan dengan media.

Pasca tumbangnya Perancis dan Italia ini, para manajer-pelatih pasti mulai memperhatikan media di negaranya masing-masing. Kita tahu bahwa media di Perancis dan Italia mengritik dengan keras pelatih kedua negara tersebut, mulai dari pilihan pemain-pemain tua dan dinilai tidak tepat, sampai pilihan taktik yang tidak pas. Toh Lippi dan Domenech terlihat tidak ambil pusing, dan ternyata masukan dari media terjawab sudah. Cara berkomunikasi Domenech yang kaku dan pilihan pemain tua oleh Lippi membuat keduanya pulang lebih awal.

Sebenarnya Maradona dan Dunga juga mendapatkan perlakuan yang sama dari media di negara masing-masing. Maradona dikritik keras karena tidak mengoptimalkan skuad yang dimiliki, hasil buruk di babak kualifikasi, dan pemanggilan pemain tua. Sementara Dunga dikritik oleh sebab yang mirip tetapi dalam tensi lebih kecil sebab Brasil tetap berposisi bagus di babak kualifikasi.

Namun, walau tidak diakui, Maradona sepertinya mendengarkan media. Messi di Piala Dunia menempati posisi yang bebas, bisa di depan dan bisa di tengah. Peran Messi berbeda dengan ketika di babak kualifikasi. Sementara hasil yang diperoleh Dunga dan anak buahnya tetap bagus sehingga tidak terpilihnya Ronaldinho dan Pato tidak lagi dibicarakan oleh media.

Seiring dengan tenggelamnya para raksasa, muncul juga para penakluk raksasa. Paling ada dua negara Asia yang mendapatkan status itu, Korea Selatan dan Jepang. Duo tuan rumah PD 2002 yang waktu itu juga membuat kejutan, terutama Korea Selatan. Para penakluk para raksasa yang lain adalah tiga negara dari Amerika Latin, Uruguay, Paraguay dan Cili. Ketatnya kompetisi di babak kualifikasi di zona Conmebol dianggap sebagai penyebab yang membuat tim-tim di wilayah ini sangat "liat". Di luar raksasa di sana, Brasil dan Argentina, tiga negara Amerika Latin ini patut diperhitungkan, apalagi Uruguay dan Paraguay yang menjadi juara grup.

Lalu, apa telaah kita untuk dua negara zona Concacaf yang juga lolos ke babak knock-out, Meksiko dan Amerika Serikat? menurut saya, zona Concacaf tidaklah sekompetitif Conmebol, Meksiki dan Amerika Serikat adalah dua penguasa di zona tersebut, tetapi karena mereka serius mempersiapkan diri dan ngotot ketika bertanding, mereka lolos. Kemenangan Amerika Serikat atas Aljazair di injury time adalah contoh nyatanya.

Enam tim Eropa yang lolos ke babak selanjutnya tetap wajib diperhitungkan, terutama Belanda dan Spanyol. Kita tunggu saja apakah dua tim hebat tanpa gelar juara dunia ini bisa mendapatkannya pada perhelatan kali ini. Di antara tim Eropa "baru" yang layak diperhitungkan adalah Slovakia. Penampilan mereka melawan tim manja dan tua, Italia, menunjukkan mereka tidak mudah takut dengan nama besar. Sementara satu-satunya tim Afrika yang lolos, Ghana, tetap punya peluang, asalkan mereka bermain spartan seperti kala mereka bertanding melawan Serbia. Tuah vuvuzela mungkin akan lebih kuat pada negara yang secara geografis dekat dengan Afrika Selatan :)

Berikut ini jadwal babak knock-out 16 besar secara berurutan, mulai nanti malam waktu Indonesia bagian barat pukul 21.00:

1. Uruguay vs Korea Selatan
2. Amerika Serikat vs Ghana
3. Jerman vs Inggris
4. Argentina vs Meksiko
5. Belanda vs Slovakia
6. Brasil vs Cili
7. Paraguay vs Jepang
8. Spanyol vs Portugal

bila babak pertama knock-out ini hanya ada satu "big match", Jerman vs Inggris, sangat mungkin babak berikutnya kita akan menikmati dua big match, Argentina vs Jerman dan Belanda vs Brasil. Wah, saya telah terlalu banyak menulis... :) Nanti dilanjutkan deh...

Sementara ini mari menunggu sambil menganalisis babak knock-out.
Delapan negara mana yang menurut teman-teman bakal lolos ke perempatfinal?

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...