Tampilkan postingan dengan label literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2012

“Membentengi” Anak dari Tayangan Televisi

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional setiap tanggal 23 Juli, beberapa lembaga masyarakat sipil membuat program Hari Anak Tanpa Televisi. Kampanye yang diselenggarakan di banyak kota tersebut cukup menarik perhatian kita. Kampanye tersebut adalah sesuatu yang positif dan wajib kita dukung untuk sedikit “memperlambat” efek negatif televisi. Tetapi kampanye tersebut beberapa tahun yang lalu sempat disalahmaknai sebagai upaya menghalangi hak anak untuk menonton televisi. Intinya, berkaitan dengan televisi dan anak-anak, kita seringkali ambigu dalam bersikap. Kadangkala kita menyalahkan televisi. Di waktu yang lain kita memuji televisi bahwa televisi berkontribusi bagi pemenuhan hak anak atas informasi dan pengetahuan.

Ingatan kita juga tidak akan lekang atas tayangan program Smackdown yang beberapa tahun lalu memberi efek negatif yang luar biasa, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa anak-anak. Waktu itu barulah banyak elemen masyarakat bergerak dengan menuntut penghentian tayangan Smackdown padahal Komisi Penyiaran Indonesia sudah memberi peringatan sejak awal. Tuntutan tersebut akhirnya berhasil dan juga memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kita untuk tidak terlambat dalam bertindak bila ada tayangan televisi yang buruk untuk anak-anak.

Selain itu, masih terdapat efek negatif lain dari menonton televisi bagi anak-anak, antara lain (Gavin, 2008: http://kidshealth.org/parent/positive/ family/tv_affects_child.html# diakses tanggal 29 Juli 2009):
• Anak-anak yang dalam waktu yang lama menghabiskan waktu menonton televisi lebih dari empat jam per hari cenderung mengalami kelebihan berat badan.
• Anak-anak yang melihat tindak kekerasan di televisi cenderung menunjukkan perilaku agresif, juga khawatir bahwa dunia itu menakutkan dan sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka.
• Karakter dalam TV seringkali menunjukkan perilaku “beresiko”, seperti merokok dan minum, juga memperkuat bias gender dan stereotype rasial.

Walau demikian, kita juga tahu bagaimana anak-anak kita belajar banyak hal melalui televisi, antara lain mengenal ke-Indonesia-an dan alam lewat acara Si Bolang, pengetahuan umum melalui Laptop Si Unyil, dan nilai-nilai kebersamaan dalam keluarga dari sinetron yang pernah populer, Keluarga Cemara. Tayangan untuk anak-anak yang baik dan buruk selalu ada di sekitar kita walau tayangan yang negatif secara faktual masih lebih banyak.

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa interaksi anak dan televisi memang problematik. Kita seringkali menyalahkan atas banyak tayangan negatif di televisi tetapi juga mengajak anak kita menonton karena televisi merupakan sumber informasi yang luar biasa untuk anak-anak kita. Sejak awal riset atas televisi dan anak-anak, kita selalu mempertanyakan dua hal dalam menonton televisi. Pertama, mengapa kita, dan juga anak-anak, tertarik pada televisi. Kedua, apa efek dari menonton televisi bagi anak-anak (Brown (ed), 1976).

Lalu, bagaimana kita menyikapi interaksi anak-anak dengan televisi? Hal terpenting cara kita bersikap terhadap tayangan televisi terhadap anak-anak adalah mencari sinergi sebaik mungkin. Televisi bisa bermakna positif, bisa pula negatif, tergantung cara kita memanfaatkannya. Anak-anak juga bisa menonton televisi dengan tanpa pengawasan kita sebagai orang-tua, atau kita dapat mengawasinya secara ketat.

Televisi sebagai Agen Sosialisasi Nilai

Televisi, seperti kita ketahui bersama, adalah salah satu agen dalam sosialisasi nilai bagi masyarakat. Melalui agen sosialisasi nilai inilah anak-anak belajar untuk hidup bersama di dalam masyarakat. Televisi kemungkinan besar menjadi salah satu agen penyampai nilai terpenting karena karakternya yang menarik; audio-visual dan memberikan banyak hiburan. Televisi adalah salah satu elemen terpenting bagi umat manusia sejak pertengahan abad ke-20 (Singer & Singer (ed), 2001: xiii). Televisi sangat penting bagi masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir ini, terutama dengan munculnya banyak stasiun televisi lokal.

Walau demikian, kita mesti mengingat bahwa televisi, dan juga media, adalah hanya salah satu agen dalam sosialisasi nilai pada anak. Masih ada agen yang lain, yaitu keluarga, sekolah, kelompok sebaya (peer group), dan masyarakat. Sayangnya, agen-agen tersebut seringkali dianggap bertentangan satu sama lain. Televisi dan peer group biasanya bertentangan dengan keluarga dan sekolah.

Keluarga dan televisi misalnya, seringkali dipertentangkan. Tayangan televisi dianggap “menjauhkan” kebersamaan anggota keluarga. Televisi juga dianggap sebagai pengganti orang tua dalam mendidik anak. Interaksi sekolah dan televisi juga demikian adanya. Televisi dianggap menjauhkan anak-anak dari tugas pembelajaran sekolah. Sementara masyarakat juga menyalahkan televisi karena memberikan nilai-nilai negatif, misalnya saja televisi dianggap membawa nilai-nilai kekerasan dan hedonis.

Televisi dan Keluarga

Ketika dihubungkan dengan keluarga, televisi seringkali dianggap mengganggu hubungan antar anggota keluarga. Gangguan televisi terhadap keluarga mulai dari merenggangkan keakraban sampai dengan “menggantikan” peran orang tua sebagai pendidik. Gangguan televisi yang lain adalah kemampuan televisi menarik minat anak-anak untuk meninggalkan aktivitas fisik (lihat Alexander, http://www.museum.tv/ archives/etv/C/htmlC/childrenand/childrenand.htm diakses tanggal 29 Juli 2009). Singkatmya, televisi lebih sering dipandang secara negatif ketika dikaitkan dengan keluarga.

Menurut penulis, sebaiknya mulai sekarang kita berusaha menyinergikan para agen sosialisasi agar anak-anak dapat mengambil manfaat sebaik-baiknya dari televisi. Keluarga dan televisi misalnya, bisa saling melengkapi dengan aktivitas menonton bersama anak-anak dan orang tua untuk tayangan yang baik. Orang-tua wajib menemani anak-anaknya untuk menonton televisi. Orang-tua tidak hanya berfungsi untuk menjelaskan isi tayangan yang tidak dimengerti anak tetapi kebersamaan itu sendiri akan menjadi sesuatu yang bermakna bagi keluarga.

Orang tua berdalih bahwa keharusan bekerja membuat mereka tidak bisa mengawasi anak-anaknya menonton televisi sepanjang waktu, terutama pada jam kerja. Orang tua mesti juga memastikan bahwa anak-anak ditemani oleh orang dewasa lain ketika di rumah. Melalui orang dewasa tersebut orang tua bisa mengatur aktivitas menonton televisi bagi anak. Problemnya, kemungkinan tingkat literasi media orang dewasa tersebut tidak lebih tinggi dari anak-anak.

Televisi dan Sekolah

Gangguan televisi terhadap sekolah terutama berkaitan dengan aktivitas pengajaran. Seringkali televisi dianggap mengganggu proses pembelajaran anak. Materi belajar yang telah didapat di sekolah dianggap tidak sesuai dengan informasi yang di dapat anak-anak dari televisi. Walau demikian, pada dasarnya televisi memiliki kontribusi positif bagi proses pembelajaran di sekolah. Orang tua bisa memilihkan tayangan yang bisa membantu pembelajaran di sekolah.

Sinergi televisi dan sekolah bisa dilakukan dengan menggunakan tayangan televisi sebagai sarana belajar anak-anak. Sejak pertengahan dekade 1980-an misalnya, pemerintah Kanada telah menerapkan kurikulum pendidikan nasional yang mensinergikan sekolah dengan industri televisi dan media pada umumnya. Pengalaman Kanada tersebut bisa menjadi pelajaran bagi kita. Selama ini, televisi dan juga media yang lain, secara umum belum dianggap sebagai partner pendidikan sekolah (antara lain dalam buku Harjaningrum, 2007).

Pada dasarnya, tayangan televisi, terutama berita, selalu berkaitan dengan kondisi kekinian. Hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh guru bidang studi tertentu untuk menjadikan program televisi sebagai contoh-contoh aktual. Sementara prinsip-prinsip pengetahuan telah diberikan sebelumnya melalui proses pembelajaran di kelas. Walau berita adalah pesan yang terlalu kompleks bagi anak-anak, berita yang berkualitas dapat membantu anak-anak belajar tentang kehidupan sekitarnya. Berita dapat membantu kita memahami kejadian pada satu hari berdasarkan isu yang dianggap penting dan menarik oleh media. Tentu saja dengan dibarengi sikap kritis (Postman & Powers, 1992: 12).

Televisi dan Kelompok Sebaya

Televisi dan kelompok sebaya adalah interaksi yang paling “akrab” yang dimiliki oleh anak-anak. Anak-anak mengimitasi cara bergaul dengan rekan sebayanya melalui tayangan televisi. Sementara televisi mendapatkan informasi dari realitas peer group sebagai bahan bagi tayangannya, terutama tayangan untuk anak-anak.

Inilah yang seringkali dikhawatirkan oleh orang tua dan sekolah. Televisi dan peer group dianggap membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan dua agen yang lain, terutama usia anak-anak menjelang remaja. Padahal situasinya bisa tidak seperti itu. Nilai-nilai yang dibawa oleh kelompok sebaya dan televisi tidak harus dipertentangkan dengan nilai-nilai yang ada di dalam keluarga.

Orang tua misalnya, dapat memahami kehidupan anak-anaknya melalui tayangan anak-anak di televisi dan mempergunakannya berinteraksi dengan anak-anaknya. Orang tua seharusnya berterima kasih pada televisi karena memberikan informasi mengenai kehidupan anak-anaknya. Seburuk apa pun kualitas tayangan televisi untuk anak, tetap ada hal yang dapat kita pelajari.

Televisi dan Masyarakat

Terakhir, interaksi masyarakat dan televisi bisa pula bersinergi. Masyarakat sebaiknya tidak hanya menyalahkan televisi tetapi juga memberikan solusi mengatasi kelemahan tersebut. Seperti kita ketahui, anak-anak tidak hanya belajar dari televisi tetapi mereka juga belajar dari pengamatan dan pengalamannya berinteraksi dengan masyarakat secara langsung. Rasanya tidak adil kita menyalahkan televisi atas kekerasan sementara ketika mereka keluar rumah, kekerasan tersebut terlihat di depan mata.

Masyarakat sebaiknya terus mengawasi tayangan televisi dan mengetahui cara yang baik dan benar untuk melakukan protes apabila tayangan televisi tidak sesuai. Masyarakat juga diharapkan kontinyu memahami literasi media sebagai prasyarat bagi masyarakat yang beradab. Kini sudah cukup banyak kelompok di masyarakat yang berkecimpung dan beradvokasi mengenai dampak tayangan televisi pada anak-anak. Beberapa kelompok tersebut bahkan sangat aktif melakukan kegiatannya.

Cara lain yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah menguatkan kapasitas televisi publik yang telah kita miliki yaitu TVRI. Setelah lepas dari “pemilik”-nya, negara Orde Baru, TVRI belum didukung sepenuhnya untuk menjadi televisi publik yang sesungguhnya. Kita mungkin tidak bisa berharap terlalu banyak atas televisi komersial yang tujuan utamanya adalah untuk mencari profit.

Elemen masyarakat sipil, dan negara, juga wajib menumbuhkan kondisi lingkungan sosial yang ramah terhadap anak-anak. Seperti kita ketahui, tempat bermain publik yang bisa diakses oleh anak-anak sekarang ini jauh berkurang. Wajar bila anak-anak akhirnya memilih untuk menonton televisi karena ketiadaan tempat bermain.

Anak dan Literasi Media: Analogi Makan dan Berenang

Di dalam wilayah akademis, “perlindungan” atau kesadaran individu dalam mengakses pesan media, berada dalam wilayah konsep literasi media. Beberapa ilmuwan Inggris menyebutnya tele-literacy (lihat Holland, 1997: 5). Seringkali literasi media diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai melek media. Penulis tidak setuju dengan padanan tersebut karena konsep melek media menghilangkan nuansa individu yang proaktif ketika berinteraksi dengan media.

Untuk memudahkan kita, terutama dikaitkan dengan tayangan anak, konsep literasi media itu bisa kita analogikan dengan aktivitas diet dan berenang. Tayangan televisi ataupun pesan media secara umum dapat kita metaforkan sebagai makanan. Ia mesti dipilah dan dipilih agar kita mengkonsumsi “makanan” itu dengan baik. Selain itu, sebagaimana halnya makanan empat sehat lima sempurna di mana makanan itu memiliki banyak jenis dan kegunaan yang berbeda, demikian juga dengan pesan media.

Pesan media itu terdiri dari beragam jenis. Secara mudah, seperti yang dikatakan James Potter, pesan media terdiri dari tiga jenis; berita, hiburan, dan iklan. Ketiga jenis pesan itu memerlukan perhatian yang berbeda dan “dicerna” secara berbeda pula.

Melalui analogi tersebut, kita sering mendengar istilah diet media. Diet media memperhatikan apa dan bagaimana kita mengkonsumsi “makanan” yang ditawarkan media. Pesan media itu, untuk anak-anak, ada yang tidak boleh “dimakan”, ada yang boleh “dimakan” tetapi tidak boleh berlebihan, dan ada juga pesan media yang harus “dimakan”.

Pesan media yang tidak boleh “dimakan” oleh anak-anak misalnya sinetron untuk remaja dan berita. Pesan media yang boleh diakses oleh anak-anak tetapi dengan terbatas adalah semua film anak di mana orang tua mesti mengawasi. Ada yang pesan media yang sebaiknya, bahkan harus, diakses oleh anak-anak.

Analogi lain untuk aktivitas mencerna media adalah literasi media itu seperti berenang. Informasi dan pesan media bisa kita anggap sebagai “lautan” di mana audiens, terutama anak-anak, mesti memiliki kecakapan atau kemampun tertentu untuk menempuh “lautan” itu. Literasi media adalah kecakapan tersebut. Kecakapan yang membantu individu merasakan manfaat yang positif dari media, terutama televisi.

Literasi media sendiri terdiri dari tiga tingkat. Tingkatan tersebut adalah tingkat rendah, menengah, dan tinggi. Literasi media tingkat tinggi diperlukan oleh orang-orang yang mempelajari media atau yang memiliki profesi berkaitan dengan dunia media dan komunikasi, semisal wartawan dan praktisi humas.

Sementara, masyarakat umum sebaiknya memiliki literasi media pada tingkat menengah, yaitu pada jenis-jenis pesan dan konsekuensinya. Literasi media tingkat dasar sebaiknya dimiliki oleh seluruh anggota masyarakat karena ini adalah pondasi bagi masyarakat informasi. Peran pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat besar dalam menyosialisasikan literasi media.

Bila dikaitkan dengan anak, tayangan televisi memiliki problematikanya sendiri. Problem yang utama tentu saja dualitas konsep tersebut: anak sebagai penonton atau anak sebagai tontonan. Aspek pertama berkaitan dengan audiens, sementara yang kedua berkaitan dengan pesan atau tayangan. Problemnya adalah bagaimana anak-anak sebagai audiens memiliki kecakapan yang memadai ketika “berhadapan” dengan televisi, dan bagaimana tayangan televisi sesuai untuk usia anak-anak pada waktu mereka menontonnya. Peran regulator dan stasiun televisi fundamental dalam konteks ini.

Problem yang kedua adalah: anak-anak dalam usia apa? Anak-anak sebelum usia dua tahun, anak-anak usia 3 – 5 tahun, anak-anak pendidikan dasar, dan anak-anak pra-remaja. Semua jenjang usia anak-anak tersebut memiliki perbedaan besar dalam mengakses pesan media. Perlu dipelajari lebih mendalam efek televisi pada anak-anak dengan jenjang usia yang berbeda tersebut.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai orang-tua agar anak-anak kita tidak mengkonsumsi tayangan tidak sehat? Untuk anak usia dua tahun ke bawah direkomendasikan tidak menonton televisi sama sekali. Tidak hanya televisi sebenarnya, tetapi juga layar, termasuk layar monitor dan pesawat televisi untuk memainkan konsol game. Anak-anak pada usia ini diutamakan melakukan aktivitas fisik dan mengakses informasi dari orang tua yang menyederhanakannya setelah diambil dari media.

Anak-anak usia dua sampai lima tahun sebaiknya ditemani ketika menonton. Anak-anak usia ini benar-benar tidak diperbolehkan menonton acara yang bukan untuk usianya. Bila pun harus menonton, sebaiknya orang tua mengawasi aktivitas menonton tersebut. Orang tua sebaiknya ada di sisi anak untuk menjelaskan informasi di tayangan yang tidak ia pahami. Konsep coviewing bersama anak-anak adalah penting dalam aktivitas menonton televisi.

Bagaimana bila sang orang tua bekerja? Ini juga tidak masalah. Pengawasan tidak harus berarti kehadiran fisik. Pengawasan di sini adalah bagaimana orang tua mengatur dan merencanakan tontonan untuk anak. Bila tidak bisa betul-betul hadir mengawasi, orang tua dapat menitipkan diet menonton televisi tersebut pada orang-orang dewasa di rumah.

Anak-anak usia enam sampai dua belas tahun disarankan menonton televisi ataupun mengakses media yang lain asalkan isinya sesuai dengan usianya. Bagaimana pun juga, media adalah sumber informasi utama pada masa sekarang ini. Televisi adalah media yang penting untuk mendapatkan informasi dan memahami dunia sekitarnya. Walau demikian, hal yang juga mesti diingat oleh orang tua adalah keseimbangan antara aktivitas menonton tv dan mengakses media, dengan aktivitas fisik. Jangan sampai aktivitas menonton menjadikan aktivitas fisik, seperti bermain di lapangan dan berolahraga terlupakan. Jangan sampai aktivitas menonton tv menjadi saran eskapisme dari aktivitas fisik.

Akhirnya, jangan takut dengan tayangan televisi. Dengan analogi diet dan berenang kita bisa “menaklukkan” televisi dan mempergunakannya sebesar mungkin untuk kepentingan anak-anak. Media adalah konstruksi manusia sehingga dapat kita kelola dengan sebaik-baiknya demi kepentingan manusia sendiri. Selain itu, sinergi antara agen sosialisasi nilai perlu dikembangkan agar televisi berguna secara optimal bagi anak-anak kita.

#######

Referensi

Alexander, Allison. Children and Television. http://www.museum.tv/ archives/etv/C/htmlC/childrenand/childrenand.htm diakses tanggal 29 Juli 2009.

Brown, Ray (ed)(1976). Children and Television. California: Sage.

Gavin, Mary L. (2008). How TV Affects Your Child. http://kidshealth.org/parent/positive/ family/tv_affects_child.html# diakses tanggal 29 Juli 2009

Harjaningrum, Agnes Tri (ed) (2007). Peranan Orang Tua dan Praktisi dalam Membantu Tumbuh Kembang Anak Berbakat Melalui Pemahaman Teori dan Tren Pendidikan.

Holland, Patricia (1997). The Television Handbook. London: Routledge.

Postman, Neil & Steve Powers (1992). How To Watch TV News. New York: Penguin Books.

Singer, Dorothy G. & Jerome L. Singer (eds) (2001). Handbook of Children and the Media. London: Sage.

Senin, 16 Januari 2012

Menulis Itu Mudah (Sekaligus Sulit)



Sebenarnya saya agak tidak menduga bisa lama tidak bisa menulis apa-apa. Saya lupa kapan terakhir menulis dengan intens dan menghasilkan tulisan yang memuaskan diri saya sendiri. Banyak ide berseliweran di kepala (pikiran) dan hati (perasaan). Sepertinya banyak untaian kata bisa ditulis. Namun tidak ada apa-apa yang muncul dengan utuh. Saya juga berjanji dalam hati untuk lebih produktif dan kreatif dalam menulis pada awal tahun kemarin. Kenyataannya, sampai saat ini rencana tinggal rencana, sangat sulit merealisasikan rencana untuk menulis minimal sekian jam per hari dan sekian tulisan per bulan.



Saya agak tidak menduga kini mengalami kesulitan dalam menulis, bahkan untuk menghasilkan tulisan pendek. Kondisi ini sebenarnya tidak terbayangkan sebelumnya tahun kemarin di mana saya merasa cukup produktif dalam menulis, dan cukup kreatif menghasilkan ragam jenis tulisan. Harapan personal untuk memiliki kecakapan literasi yang komplet sepertinya bakal terwujud. Namun, Dia akan selalu mengingatkan, bila kita merasa sudah baik atau sudah cukup memadai dalam hal apa pun, tidak hanya menulis, kita ternyata belumlah apa-apa. Ini adalah kondisi eksistensial di mana kita mesti merasakan kemandekan beberapa kali dalam hidup.



Dia juga "mengirimkan" orang-orang yang ada di sekitar saya untuk selalu mengingatkan. Pertama, orang yang paling saya cintai, istri saya mengingatkan situs personal saya ini yang belum juga terisi tulisan. "Masak sudah punya situs tapi belum ada tulisannya. Katanya pengamat media baru, kok situsnya belum ada isinya". Begitu kata ibu malaikat kecil saya. Saya hanya tersenyum kecut. Di dalam hati saya hanya bisa membenarkan pendapatnya.


Kedua, seorang rekan yang lebih muda yang pemikiran dan tulisannya saya kagumi, mengatakan saya secara tak langsung sewaktu kami mengobrol bebas tentang tulis-menulis. "Menurut saya mas, kita mesti menyelesaikan satu tulisan sebelum mengerjakan tulisan yang lain. Kalau tidak, tidak akan ada tulisan yang hadir". Mungkin dia tidak sengaja menyampaikan perkataan itu namun betul-betul "menusuk" hati saya karena saya selalu menunda satu tulisan dan merasa bisa mengerjakan beberapa tulisan dalam satu waktu.


Orang terakhir yang dikirimkan Dia untuk mengingatkan tentang tulis-menulis adalah seorang rekan di Facebook. Rekan ini tidak saya kenal secara personal namun dia adalah kakak kelas saya sewaktu kuliah. Dia saya kenal dari dua rekan di kantor yang sangat dekat dengannya. Saya lebih mengenalnya melalui status dan komentarnya di FB yang positif tentang menulis. Dia ini adalah seorang penulis yang sangat produktif dan bagus jua tulisan-tulisannya, terutama untuk cerpen-cerpen yang dia hasilkan. Lewat wall FB-nya dia mengatakan bila kita menyediakan waktu lima menit saja per hari pasti dalam waktu setahun kita bisa menyelesaikan sebuah buku. Nasihat yang bagus dan mengena dari pakarnya saya kira dan benar-benar menggugah saya untuk berusaha dengan antusias menulis lagi.

Yup, inilah pembaruan janji saya. Berjanji kembali pada diri untuk menulis antara lain di situs personal saya ini. Blog lama saya ini akan saya tinggalkan. Selanjutnya saya juga akan menulis di blog atau situs personal saya di alamat http://www.wisnumartha.com/ selain di sini. Setelah ini saya akan berusaha menulis lebih baik lagi. Mudah dan sulit itu dualitas dan bersifat eksistensial, hal yang paling penting adalah MENULISLAH! selagi kita dikaruniai waktu, perasaan, dan pikiran.


(gambar dipinjam dari theportableblender.info)

Senin, 02 Januari 2012

Perasaan dan Pengetahuan yang Dikemas “Kecil-Kecil”

Ada untungnya juga keadaan di mana program acara di televisi yang cukup bagus dan layak tonton jarang ada. Ketika suatu malam di akhir tahun kemarin tak ada acara televisi yang lumayan, saya bisa menonton film-film dalam format VCD dan DVD yang sebenarnya sudah cukup lama ada di koleksi saya. Koleksi film yang belum saya tonton lumayan banyak dan akhirnya pilihan jatuh pada film Paris, je t'aime (2006). Sungguh pilihan yang tepat karena film ini  bagus sekali. Seorang rekan saya yang memang merupakan penggila film sepintas pernah menyebut-nyebut film ini bagus sekali bertahun-tahun yang lalu sebelum dia menempuh pendidikan doktoral di Australia sana. Namun karena saya pada dasarnya lebih memilih musik rekaman sebagai teks media utama yang saya akses, saran sepintas rekan saya itu menghilang begitu saja.

Tentu saja review atas film ini sudah banyak sekali dan saya tidak ingin menambahkan review lagi. Saya hanya ingin mengomentari bagaimana kisah-kisah menarik bisa dikemas dalam pesan media yang sangat pendek, dalam film ini, film-film pendek tersebut berdurasi sekitar lima menit. Ada dua puluh fragmen 5 menitan yang hadir di film ini. Semua film sangat pendek tersebut rata-rata menarik dan “berbicara” secara spesifik. Fragmen karya Coen bersaudara merupakan salah satu bagian favorit saya, juga karya Gus van Sant. Intinya, semua sutradara mampu menyampaikan sisi romantis dari kota Paris dengan baik, terbagi dalam dua puluh “wilayah” kota (mungkin kecamatan dalam kota-kota di Indonesia).

Sebagai akibat dari menonton film ini saya jadi tertarik (kembali) dengan pesan-pesan yang dikemas singat dan pendek. Entah itu, cerita pendek untuk fiksi, puisi yang padat, film-film pendek, fiksi maupun dokumenter, juga tulisan pendedahan ide yang pendek sekitar 500 – 700 kata. Mengapa pesan yang dikemas “kecil-kecil” itu menarik? Saya sendiri tidak punya jawaban pasti, tetapi bagi saya pesan yang dikemas pendek tersebut lebih “menantang” pengaksesnya untuk lebih berusaha serius pada teks. Selain itu, teks yang dikemas “kecil-kecil” tadi mampu memicu pemaknaan intens untuk mendorong kita menghasilkan teks baru.
     
Mungkin itulah sebabnya saya lebih menyukai pesan media musik populer karena bila kita mengakses album misalnya, kita bisa memaknainya dari dua sisi, teks keseluruhan dalam satu kesatuan album, atau pada pesan yang dikemas “kecil-kecil” dalam bentuk lagu, yang rata-rata berjumlah dua belas lagu untuk satu album. Pesan yang dikemas “kecil-kecil” tersebut mampu menjadi pintu masuk untuk membahas teks yang lebih besar, luas, dan mendalam.

Semua contoh yang coba saya tampilkan di atas lebih merupakan perasaan yang dikemas “kecil-kecil” dalam bentuk pesan media, yang kemudian dimaknai oleh audiens atau pengakses menjadi teks, namun bukan berarti pengetahuan tidak bisa dikemas “kecil-kecil” di dalam pesan media. Opini di suratkabar adalah contoh yang bagus untuk menunjukkan pesan media yang dikemas “kecil-kecil”. Saya sungguh kagum dengan beberapa rekan yang mampu menulis pemikiran dan pengetahuan dalam format yang ringkas namun mengena. Dibutuhkan upaya lebih untuk memformulasi pemikiran dalam maksimal 700 kata tanpa kehilangan fokus dan tekanan. Diam-diam saya telaah tulisan rekan-rekan saya itu, terutama yang muncul di media massa, dan coba saya resapi benar karena kecakapan mereka memang layak dipelajari, apalagi mereka selalu berpendapat bahwa kami belajar bersama dalam menulis singkat dan padat.

Belajar Bermedia Bersama: Catatan untuk Awal yang Baru

Sedianya saya menulis sesuatu kemarin. Harapannya tulisan tersebut menjadi pembuka untuk awal yang baru di tahun 2012 ini, sekaligus untuk pertama-kali mempublikasi tulisan perdana di alamat blog saya yang baru. Namun apa daya, di hari pertama tahun ini kemarin, saya harus bekerja bersama teman-teman seperjuangan untuk membantu mewujudkan dunia penyiaran Indonesia yang lebih baik. Setidaknya kami ingin berkontribusi pada sistem dan pada sesama walau mungkin setitik :D

Saya tidak ingin menyebut apa pun yang ditulis di dalam tulisan ini sebagai resolusi apalagi klaim. Saya hanya ingin memperbarui janji setahun ke depan. Sebuah janji yang tentu saja personal. Tidak ada maksud untuk menyombongkan diri sedikit pun karena saya belumlah apa-apa, terutama dalam dunia tulis menulis. Saya hanya ingin di tahun ini bersikap dan berposisi lebih serius pada teks. Teks di sini ada dalam dua aspek, yaitu aspek produksi atau kreasi teks dan aspek memaknai teks yang ada. Keduanya sirkular dan saling melengkapi satu sama lain. Di tahun ini saya mesti menghasilkan 50 tulisan yang selesai dalam waktu sebulan. Walau tiga tahun ini saya berjanji mem-posting satu tulisan setiap hari saja tidak terpenuhi, saya tetap optimis rencana itu akan terwujud. Kini saya mesti menaikkan output agar kecakapan saya pada literasi semakin meningkat. 50 tulisan per bulan itu berarti hampir dua kali lebih banyak dari janji sebelumnya, namun kali ini saya hampir yakin saya akan memenuhi janji tersebut. Kita akan lihat sebulan pertama ini.

Semoga berhasil...

Saya sendiri merasa di tahun 2011 yang baru saja berlalu, saya justru mengalami penurunan dalam mengkreasi teks. Saya mencoba melihat semua tulisan saya di tahun 2011 yang muncul di blog ini. Ternyata lebih banyak lirik lagu yang saya publikasi kembali dari laman situs lain daripada pemaknaan saya sendiri pada lirik lagu tersebut. Juga takaran atau review saya atas album musik. Di tahun ini tidak sampai sepuluh album Indonesia yang saya takar. Akibatnya, di awal tahun ini saya tidak bisa membuat daftar album terbaik, bahkan untuk daftar 5 album terbaik sekalipun. Satu topik tulisan lain yang tidak saya selesaikan adalah "Belajar Bermedia Bersama", tagline yang saya ambil dari newsletter saya dan teman-teman, "Polysemia", yang rencananya berusaha menelaah ragam fenomena kemediaan dan komunikasi dalam kurun waktu seminggu. Nyatanya, tulisan tersebut tidak lengkap mengisi tiap minggu dalam setahun. Namun adakalanya sedikit kegagalan semacam ini mestinya jadi penyemangat untuk menulis kembali dengan sebaik-baiknya. Sederhana saja: saya mesti bersikap dan berposisi lebih serius dan sungguh-sungguh pada teks! tak ada cara lain untuk rajin menulis selain rajin pula membaca, mengkreasi teks dengan rutin mesti memaknai teks dengan rutin pula. Menulis dengan rutin dan baik artinya kita mencerna dan memaknai teks dengan baik pula. Sirkularisme ini berjalan terus-menerus.

Kebetulan pula, fenomena media dan komunikasi sungguh banyak terjadi tiap hari. Sungguh banyak yang bisa dikomentari, ditelaah, dan dihadirkan teks atas fenomena tersebut. Kebetulan lagi, di sekitar saya banyak teman-teman yang jago menulis dan menelaah realitas (kemediaan). Ada yang lebih senior dari saya, ada pula yang lebih muda. Mereka semua menghasilkan tulisan-tulisan yang sungguh-sungguh bagus. Kebetulan yang terakhir, atau bukan kebetulan melainkan keadaan yang riil, adalah saya memang bereksistensi di dunia profesi yang menuntut kemampuan menulis dan membaca, serta meneliti, dengan baik. Dengan demikian, kebetulan-kebetulan tersebut semestinya menjadikan saya lebih antusias dan optimis memasuki tahun 2012 ini.

Semoga berhasil, lima puluh tulisan bermakna setiap bulan :)

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...