Tampilkan postingan dengan label new media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label new media. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2012

Memahami Media Baru (Bagian 5 - Selesai)

Komunikasi Publik: Memperkuat Komunikasi di dalam dan untuk Masyarakat


Media baru dipandang dengan optimisme tinggi, yaitu menempatkan kembali publik, atau dalam pengertian luas masyarakat, di dalam proses komunikasi. Komunikasi publik sendiri memiliki dua definisi. Pertama, komunikasi dalam publik, yaitu proses komunikasi yang berlangsung di dalam institusi masyarakat sipil. Berkomunikasi dalam wilayah masyarakat sipil menjadikan relasi antar individu lebih dekat dalam fungsi relasi untuk integrasi dan saling memahami, bukan untuk mencari profit atau “menguasai” individu lain. Artinya proses komunikasi yang terjadi di dalam ranah masyarakat dan dilakukan oleh individu dalam masyarakat. Motif utamanya adalah sosiokultural, yaitu mengutamakan terciptanya relasi, mengelola konflik, dan saling memahami antar kelompok dengan baik.

Kedua, komunikasi publik dapat bermakna proses komunikasi untuk publik atau bervisi kepublikan, untuk institusi masyarakat sipil. Publik adalah bagian dari masyarakat yang rasional, terbuka, dan bergerak untuk banyak orang, pelibatan dan berguna. Proses komunikasi macam ini bisa terjadi di dua wilayah yang lain, negara dan pasar, tidak hanya ranah masyarakat. Negara mesti berperan di sini, antara lain menyediakan media dan sarana pendukung yang digunakan untuk masyarakat. Untuk media penyiaran, apa yang sudah berusaha kita bentuk, lembaga penyiaran publik, adalah contoh terbaik. Untuk media baru, kita masih menunggu strategi yang bagus dari pemerintah, bagian dari negara, untuk membuat masyarakat mendapatkan haknya atas informasi melalui ketersediaan “kanal” yang memadai.

Untuk meningkatkan kualitas pada isi media baru, paling tidak ada dua hal yang mesti diperhatikan. Pertama, produser atau kreator menyadari sepenuhnya makna remediasi yang menjamin dua esensi komunikasi tercapat, keterbukaan dan otonomi individu, sekaligus relasi yang memadai dengan individu lain. Isi media internet jangan sampai hanya “membicarakan” diri sendiri atau lebur dalam kepentingan pihak lain. Relasi yang memberdayakanlah yang berusaha diwujudkan melalui isi media internet.

Kedua, semua jenis media baru, terutama internet, berpotensi untuk memperkuat publik asalkan kita mengetahuinya. Dengan demikian, isi media baru diarahkan pada pelibatan individu untuk saling berkolaborasi satu sama lain sesuai dengan premis awal bahwa internet adalah media terbuka. Bila isi media internet ternyata bermotif politis atau pun ekonomi, fungsi sosiokulturalnya tetaplah dimasukkan. Bila sudah lebih mengutamakan komunikasi publik, maka “teman” yang tercipta akan lebih banyak. Kembali pada kutipan dari film the social network di awal tulisan, apalah artinya mempunyai sedikit musuh bila kita punya begitu banyak teman? dan teman yang banyak akan berarti lebih bila semua kolaboratif mencapai tujuan bersama dengan bantuan media baru yang telah “terbuka” dari awal kehadirannya.

Walau optimisme sangatlah kuat terhadap media baru, bukan berarti media baru tidak memiliki persoalan bagi kita sebagai individu dan bagian dari publik. Apa sesungguhnya persoalan di dalam media baru? Paling tidak ada dua persoalan penting yang penulis sebut sebagai “tegangan”. Bisa jadi memang tegangan tersebut memang persoalan, namun bisa jadi juga tegangan tersebut adalah potensi atau kesempatan baru yang diberikan oleh media baru.

Internet dan semua jenis media baru, memang potensial memberikan kontribusi positif pada kehidupan bersama. Walau memiliki efek negatif, kita harus tetap optimis pada media baru. Memilih bersikap optimis atas peran media baru dalam kehidupan bersama bukan berarti media baru tidak memiliki efek negatif. Paling tidak ada dua hal penting yang mesti diperhatikan, yaitu “tegangan realitas” dan “tegangan identitas” dari penggunaan media baru.

Pertama, tegangan realitas, di mana pengguna media baru memiliki kemungkinan tidak dapat memadukan realitas sosial sesungguhnya dengan realitas media, baik lama dan baru. Hal ini bisa terjadi bila seorang individu yang mengakses media baru merasa menemukan hal-hal baru yang mengasyikan di dunia barunya tersebut dan menganggap bahwa kehidupan yang sesungguhnya kurang mengasyikkan. Agar tegangan realitas ini tidak terjadi, sepertinya para pengguna media baru, beberapa komunitasnya, sudah menemukan cara mengatasinya walau pada kasus lain realitas maya di media baru justru menjadi lebih penting dari realitas sesungguhnya. Berkomunikasi di dunia maya sebaiknya dipadankan dengan berkumpul secara rutin, misalnya melalui “temu blogger” atau melalui “kopdar” sesama anggota komunitas maya tersebut. Seperti halnya media lama, media baru hadir untuk menjadi “perluasan” manusia. Bila pada media lama menjadi perluasan pikiran manusia seperti kata Marshall McLuhan, pada media baru, perluasan manusia itu bahkan menjadi perluasan atas eksistensinya pada dunia maya.

Kedua, tegangan yang terjadi adalah tegangan identitas. Tegangan kedua ini bisa terjadi ketika individu tidak cukup kuat meleburkan diri sekaligus berposisi ketika berinteraksi dengan komunitasnya. Idealnya, individualitas tidak “dihilangkan” oleh kolektivisme, begitu pula sebaliknya. Seringkali ada yang beranggapan bahwa individualitas mesti dileburkan sepenuhnya di dalam komunitas. Atau hal yang negatif lainnya, memaksakan kedirian personal terlalu masuk ke dalam komunitas. Idealnya, media semestinya menjembatani diri dan kelompok dalam berkomunikasi. Media baru memperluas eksistensi seseorang individu bukannya malah “mengamputasinya”. Pada titik inilah menurut penulis media baru berperan lebih baik dibandingkan media massa atau media lama, sebab tanpa perluasan eksistensi ini, tidak akan muncul partisipasi sosial kolektif.

Tegangan identitas dan tegangan realitas pun saling mempengaruhi satu sama lain. Kemudian ada semacam kekhawatiran bagaimana media baru justru menghilangkan relasi dalam dunia sesungguhnya. Banyak pihak melihat bahwa anak muda Indonesia sangat aktif di dunia maya, namun tidak demikian halnya untuk keaktivan di dunia nyata. Menurut penulis, bukan berarti mereka tidak menghargai dunia nyata dan relasinya, tetapi dalam kasus kita di Indonesia, kita memang lebih nyaman berinteraksi dalam dunia maya di mana perbedaan dan keberagaman dihargai dan dianggap sebagai rahmat. Sementara di dalam dunia nyata kita, perbedaan justru melahirkan konflik yang terkadang membahayakan inidvidu. Apresiasi terhadap perbedaan di dalam dunia nyata tidaklah sebaik di dunia maya. Inilah hal-hal yang belum selesai dan masih berkembang berkaitan dengan perkembangan media baru dan implikasinya bagi interaksi sosial. Kita perlu memperbaiki kondisi kehidupan, tidak hanya di dunia maya, namun di dunia nyata kita, yang selama ini cenderung kita terima apa adanya.

*****




Memahami Media Baru (Bagian 4)

Jaringan komunikasi yang muncul sebagai akibat isi pesan yang interaktif dan teknologi informasi yang memungkinkannya bisa merangkai tiap pengakses. Bisa dikatakan karakter ketiga inilah yang terpenting yang tidak dimiliki jenis media konvensional. Karakter jaringan komunikasi yang tumbuh di sini sangat dekat dengan sebuah konsep yang baru, yaitu partisipasi yang semakin diharapkan dari media baru. Partisipasi tersebut tidak hanya berupa kesukarelaan namun bisa bermotif. Hal inilah yang disebut oleh Henry Jenkins sebagai budaya partisipasi. Bersifat sukarela atau bermotif tertentu, media baru membawa kita pada partisipasi yang lebih kentara. Kita mencari komunitas melalui media baru, kemudian bersama-sama dengan anggota komunitas berbuat sesuatu.

Lebih jauh lagi, partisipasi tersebut membawa sesuatu yang “menular”, terutama hal-hal positif. Media baru membentuk semua sisi kehidupan kita dan kita bisa menularkan kebahagiaan, dan hal-hal positif lainnya melalui media baru. Hal inilah yang ditangkap oleh Christakis dan Flower di dalam buku mereka yang berjudul Connected (2010). Banyak contoh bagaimana seseorang berkembang karena pengaruh positif yang didapatkan oleh media baru. Bahkan media baru berbentuk game pun memberikan karakter partisipasi yang luar biasa. Partisipasi di dalam game merupakan aktivitas utama dari pengaksesnya walaupun motif utamanya adalah mencari hiburan.

Budaya partisipasi yang paling kuat muncul di dalam media game. Game tidak hanya menjadikan produsen atau kreator semakin dekat dengan pengguna dan pengakses. Game juga meruntuhkan apa yang telah lama berkembang di dalam telaah media, yaitu pembedaan tegas antara pesan faktual dan fiksional. Di dalam game terjadi relasi erat antara fiksi yang terkomputerisasi dan dunia nyata yang dikenalkan terus menerus. Walaupun pada akhirnya bentuk pesan fiksional adalah isi pesan utama di dalam game, aktivitas dan pembentukan identitas pemain adalah isu yang penting di dalam game. Di dalam game kita bisa membentuk identitas tertentu yang bebas berinteraksi dengan sesama pengaksesnya. Kita bisa bekerja sama dengan pihak lain dalam “menciptakan” pesan media. Pesan media game adalah pesan yang hidup dan berkembang terus-menerus. Uniknya, di luar media “permainan” ini, terutama di Indonesia, komunitas nyata juga seringkali terbentuk dan mengadakan aktivitas bertemu dengan rutin.

Kemudian internet melalui fungsi blog dan jejaring sosial menjadi sarana yang sangat baik untuk beraktivitas bersama. Untuk kota Yogyakarta, komunitas yang menggunakan media baru, terutama internet cukup banyak, mulai komunitas atas dasar ketertarikan yang sama, misalnya sama-sama senang melukis dengan visi melepaskan kepentingan pasar semisal komunitas “daging tumbuh”, sampai dengan komunitas yang sejak awal memang bermotif sosial, seperti “coin a chance”, yang bertujuan membantu anak-anak kurang mampu dalam menempuh pendidikannya, serta komunitas blog “Cah Andong” yang seringkali berkumpul dan melakukan berbagai aktivitas sosial bersama. Berbagai komunitas ini tidak hanya berasosiasi demi kepentingan personal tetapi juga melakukan berbagai aktivitas sosial yang berguna bagi masyarakat luas.


Ciri relasi pada jaringan komunikasi fase awal ini terbentuk karena individu direlasikan oleh media. Relasi yang juga membuat individu “berjarak” dengan individu yang lain. Media melakukan fungsi mediasi bagi kita. Fungsi mediasi tersebut juga beragam, yang kita kenal sebagai metafor mediasi. Metafor mediasi secara lengkap adalah sebagai berikut: jendela (window); cermin (mirror); filter or gatekeeper; penanda (signpost), pembimbing (guide), penerjemah (interpreter); forum or platform; disseminator; interlucator. Media berperan berbeda bagi individu dalam berelasi dengan individu lain dan juga terhadap realitas yang coba disampaikannya. Media bisa menjadi “jendela” bagi seorang individu dalam melihat realitas. Jendela adalah metafor di mana media membuka realitas pada individu namun apa yang diketahui dan dipahami oleh individu sangat dipengaruhi oleh bentuk “jendela” yang disiapkan oleh media.

Begitu juga dengan metafor mediasi yang lain. Dalam konteks tulisan ini, hal yang lebih penting adalah metafor mediasi diseminasi dan forum. Metafor diseminasi mengandung arti bahwa media mendistribusikan dan membantu mendefinisikan informasi kepada individu yang mengaksesnya. Sementara metafor forum menunjukkan bahwa media menjadi arena bagi bertemunya berbagai pemikiran dan perspektifnya di mana individu dapat memilih informasi yang individu perlukan dan butuhkan dari isi media.

Metafor mediasi terutama berlaku bagi media massa. Hal yang berbeda muncul dalam media baru. Media baru memperluas mediasi, bahkan juga mengubah makna mediasi secara radikal. Mediasi karena perkembangan media baru diperluas menjadi konsep (re)mediasi. Bila pada media lama, individu menjadi pihak yang berbeda atau berjarak, pada media baru, individu “melebur” menyatu dengan media. Individu ketika mengakses media massa menjadi orang kedua dan ketiga, sementara ketika mengakses media baru menjadi orang pertama.

Konsepsi mediasi oleh komputer bagi proses komunikasi sedikit dikritik oleh Bolter dan Grusin, bahwa media lama atau media massa memang memberikan fungsi mediasi, namun media baru memberikan fungsi yang lebih luas, yaitu remediasi. Bila mediasi memunculkan apa yang disebut sebagai realitas media, media baru memunculkan realitas virtual. Walau pada awalnya realitas virtual dianggap sebagai realitas semu, pada akhirnya kini sebagai akibat perkembangan teknologi, realitas virtual pun bisa membentuk realitas yang riil melalui jaringan komunikasi yang terkait erat. Interaksi antar individu pada game online misalnya, bukanlah relasi semua, melainkan nyata dengan identitas yang berbeda dari identitas nyata.

Remediasi (remediation) sendiri tidaklah monolit pemaknaannya. Remediasi terdiri dari dua jenis, yaitu imediasi (immediacy) dan hypermediasi (hypermediacy). Imediasi secara harafiah bisa diartikan sebagai “tanpa mediasi” walau sebenarnya mediasi tetap terjadi. Imediasi meleburkan diri individu di mana interaksi bisa lebih bebas dilakukan. Contoh yang paling terlihat adalah dalam isi pesan game sebagai media baru. Ketika individu memainkan game komputer, individu tersebut tidak lagi mengakses informasi ataupun pesan, namun “tampil” di dalam pesan media tersebut. Sementara hypermediasi memiliki pengertian mediasi yang berlebih. Melalui media baru kita bisa mengakses pesan dengan beragam cara, dan dalam beberapa hal, kita bahkan bisa memilih tipe interaksi yang akan kita lakukan melalui media baru. Sekali lagi, media game dapat menjadi ilustrasi yang bagus. Ketika individu memainkan game komputer, dia dapat memilih informasi utama dan informasi pendukung dalam perspektif yang dia inginkan.

Remediasi inilah yang kemudian ikut membentuk jaringan komunikasi sosial seperti yang kita kenal sekarang. Jejaring komunikasi sosial tersebut kemudian berkaitan erat dengan tipe media baru yang kini kita kenal walau kemudian kita lebih terfokus pada tipe yang keempat. Empat tipe dari media baru adalah sebagai berikut: interpersonal communication media, interactive play media, information search media, dan collective participatory media. Individu kemudian dilihat dari motifnya “berada” di dalam media baru, untuk berinterkasi dengan individu lain secara intens dan langsung dalam “media komunikasi interpersonal”, ingin bermain secara interaktif dan langsung dalam “media permainan interaktif”, ingin mencari informasi apa pun dalam kuantitas tertentu dalam “media pencari informasi”, atau individu ingin merangkaikan aktivitas sosialnya dengan individu lain dalam tindakan nyata seperti motif utama dalam “media partisipasi kolektif”.

Dengan demikian, ketika kita berusaha menghasilkan isi media internet, jenis remediasi berkaitan dengan tipe media baru tersebut harus kita perhatikan dengan detail. Kita bisa mengklasifikasikan terlebih dahulu tipe informasi seperti apa yang ditawarkan, juga tipe individu yang mungkin mengakses isi media kita. Walau begitu, secara alamiah sebenarnya distribusi informasi di dalam internet sangat mungkin bersifat kepublikan. Artinya, proses komunikasi yang terjadi berpotensi besar untuk mewujudkan komunikasi publik.

bersambung...

Jumat, 17 Februari 2012

Memahami Media Baru (Bagian 3)

Jaringan Komunikasi Sosial, Konsekuensi Utama Media Baru

Proses komunikasi dapat diamati dalam dua perspektif. Pertama, cara pandang esensial yang melihat tujuan utama proses tersebut. Pilihan dari motif proses komunikasi bisa meliputi kedua alasan esensial atau salah satunya saja. Di dalam proses komunikasi kita ingin membuat individu lain mengetahui dan memahami kita. Ini adalah motif esensial pertama. Kedua, motifnya adalah kita ingin mengetahui dan memahami individu lain. Proses yang ideal adalah tujuan esensial tersebut tercapai pada keduanya, namun biasanya berjalan pada satu motif saja.

Kedua, proses komunikasi dapat diamati berdasarkan arah dan dinamika prosesnya. Dari sisi dinamika prosesnya, komunikasi dapat diklasifikasikan dalam tiga model, yaitu proses komunikasi satu arah atau linear, dua arah atau timbal-balik, dan banyak arah atau seringkali disebut sebagai proses komunikasi yang dinamis. Tidak harus proses yang satu arah tidak baik. Dalam beberapa kasus, proses komunikasi satu arah terkadang diperlukan oleh kita. Proses komunikasi banyak arah atau dinamis adalah proses komunikasi yang menjadi pondasi bagi terwujudnya jaringan komunikasi sosial yang kita kenal sekarang, terutama melalui media baru.

Jaringan komunikasi sosial yang kita kenal sekarang ini lebih rumit dari terma pendahulunya. Intinya, jaringan komunikasi sosial tercipta karena media. Media menjadikan tiap individu berelasi secara tak langsung melalui media massa, ataupun secara “langsung”, melalui media baru. Jaringan komunikasi sosial dalam kemasannya yang lama didedah pertama kali dalam konsep lain, yaitu difusi inovasi. Fokus utama dari terma tersebut adalah bagaimana sebuah informasi terdistribusi dan menjadi pendorong bagi perubahan sosial. Jaringan komunikasi sosial terbentuk dari banyak individu yang memerlukan informasi untuk menghasilkan pengetahuan, pemahaman, dan sikap yang “baru”. Jaringan komunikasi awal ini merangkaikan berbagai individu melalui media massa. Awalnya, difusi inovasi dipergunakan untuk memahami lebih jauh sebuah program komunikasi pembangunan di suatu lokasi di mana masyarakatnya dianggap belum maju. Namun pada akhirnya, konsep difusi inovasi digunakan lebih luas dalam bidang komunikasi yang lain, misalnya komunikasi politik dan komunikasi pemasaran.

Jaringan komunikasi sosial fase awal terbentuk karena penggunaan media massa yang menghasilkan relasi tak langsung antar individu. Relasi tersebut menciptakan jenis individu yang berbeda, mulai dari pemuka pendapat (opinion leader), individu yang menjadi rujukan bagi individu lain yang termasuk dalam jaringan, sampai dengan pemencil, individu yang relatif terasing atau mengasingkan diri dari distribusi informasi walau individu juga merupakan bagian dari jaringan komunikasi yang terbentuk. Konsep jaringan komunikasi ini memunculkan istilah realitas sosial dan realitas media yang merangkaikan “kesadaran” personal secara tak langsung.

Perkembangan media baru juga menunjukkan “struktur” pemahaman kita atas akses informasi dan pesan dalam media baru semakin berkembang lebih baik belakangan ini. Walau begitu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan semua jenis media, lama dan baru, konvensional dan interaktif, menjadi konvergen. Pada akhirnya, kini kita bisa menggunakan berbagai media, mengakses dan mendistribusikan informasi dengan lebih mudah, murah, dan cepat. Tidak hanya itu, teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju menjadikan media baru semakin canggih dari tahun ke tahun. Media baru semakin mudah dioperasikan dan dengan biaya relatif lebih murah dari waktu ke waktu. Hal ini berimplikasi pada penggunaan media baru yang semakin akrab di masyarakat. Internet terutama, kini bisa diakses lebih murah dan bisa melalui “gadget” yang beragam. Perkembangan inilah yang kemudian memunculkan jaringan komunikasi jenis baru.

Lalu, pada akhirnya media baru memberikan implikasi sosial yang positif. Media baru memberikan keleluasaan berinteraksi dengan lebih baik antar individu. Hal inilah yang disebut oleh Denis McQuail sebagai teknologi komunikasi interpersonal. Hal ini ditunjukkan pada awal dekade 2000-an di mana kita baru bisa mendapatkan media baru yang mirip dengan media lama, hanya berbeda format medianya saja. Interaksi antar pengguna sedikit sekali, bahkan tidak ada. Tak lama kemudian, sekitar dua tahun, muncullah blog untuk pertama-kali. Situs yang menyediakan pembuatan blog gratis pun menjadikan blog cepat sekali marak. Belum habis kekaguman kita pada perkembangan blog, situs jejaring sosial muncul di Indonesia. Awalnya situs jejaring sosial tidaklah sebaik sekarang dalam memberikan kesempatan untuk berpartisipasi secara sosial, namun kini semua fungsi dari internet, blog, chatting, berkirim pesan, mengunggah gambar dan video, serta games, bisa tersatukan dalam satu situs jejaring sosial. Inilah lembaran baru bagi “teknologi partisipasi kolektif” yang muncul kemudian. Blog dan situs jejaring sosial pada gilirannya mengubah pemahaman kita atas interaksi di dunia maya. Sebelumnya, relasi tersebut bisa dengan identitas semu yang dipilih namun kini identitas di dalam relasi tersebut lebih merujuk pada identitas nyata. Identitas semu kini lebih dekat dengan relasi di media game.

Partisipasi sosial kemudian dianggap sebagai perluasan dari identitas personal. Tidak terlalu penting siapa kita di dunia maya, hal yang terpenting adalah dengan siapa kita berasosiasi di dunia maya. Pemahaman ini kemudian memperluas peran teknologi dari pengakses dan pendistribusian informasi menjadi merayakan informasi dan membuatnya implementatif dalam kehidupan bersama. Secara umum, media baru kemudian diperluas menjadi memiliki efek sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang jauh melampaui fungsi awalnya. Partisipasi sosial ini membentuk jaringan komunikasi bentuk baru, yang menempatkan relasi dan tindakan sosial sebagai salah satu fungsinya.
Walau begitu, bisa dikatakan perkembangan ini pun sebenarnya masih merupakan awal karena pada perkembangan selanjutnya, media baru semakin konvergen satu sama lain. Kini kita semakin mudah memainkan game dan berinternet lewat handphone. Belum lagi perkembangan hardware yang lain semisal Blackberry dan Ipad. Singkatnya, kita akan semakin “dikejutkan” dengan berbagai perkembangan terbaru media, media lama yang semakin canggih dan media baru yang semakin membantu kita. Perkembangan ini pun sepertinya jauh dari selesai. Masih banyak “kejutan” lain yang akan diberikan oleh media baru pada kita.

Permasalahanya kemudian adalah bagaimana cara kita mengoptimalkan fungsi media baru bagi kehidupan bersama? Hal inilah yang bisa diamati dalam konsep aktivisme sosial. Ketika masa awal internet muncul, para pengguna internet seringkali digambarkan sebagai orang-orang yang “menolak” realitas sesungguhnya. Kini hal tersebut malah berbalik, walau perlu diteliti secara lebih mendalam, pengguna internet yang aktif biasanya juga aktif secara sosial. Mereka intens menggunakan internet, dan semua jenis media baru yang lain, sekaligus aktif di dalam komunitas sosial. Komunitas tersebut bisa berdasarkan kesamaan dan ketertarikan atas sesuatu, bisa juga karena mereka ingin melakukan tindakan sosial bersama.
 
Perkembangan semua jenis media baru menunjukkan gejala ini. Internet dengan fungsi jejaring sosial adalah hal yang paling mudah diamati. Interaksi antar individu semakin intens muncul di internet. Individu juga semakin terbuka dalam mengenalkan dirinya dibandingkan dengan perkembangan internet di Indonesia pada masa awal. Hal yang sama terjadi di media handphone, perbincangan berkelompok dan beragam fungsinya yang mengarahkan pada komunikasi semakin terlihat walau media handphone tetap mengutamakan komunikasi interpersonal. Terakhir, hal yang serupa terjadi di media game, game kini semakin mengutamakan kebersamaan dan gerakan fisik. Perkembangan di dalam game ini jelas merupakan antitesa dari pemahaman awal tentang game yang cenderung merupakan aktivitas personal dan non-fisikal, atau hanya berpikir.

bersambung.... 

(rujukan sengaja tidak dicantumkan)

Kamis, 16 Februari 2012

Memahami Media Baru (Bagian 2)

Banyak cara untuk mendefisikan media baru. Cara tersebut dimulai dengan memberikan nama yang beragam. Keberagaman ini muncul karena masing-masing definisi merujuk pada karakter yang berbeda sebagai pondasi bagi sebuah definisi. Selain media baru, nama lain yang diberikan oleh para ahli untuk media baru antara lain: media interaktif, media digital, dan media konvergen. Terry Flew, salah seorang penulis media baru yang menyebutnya sebagai media konvergen, menjelaskan bahwa terdapat tiga karakter dari media konvergen. Ketiga karakter itu disebut tiga C, yaitu: Communications networks, Computing/information technology, Content (media).

Karakter-karakter tersebut menunjukkan bahwa media baru akan selalu melibatkan teknologi pengolah dan pendistribusi informasi sehingga komputer dan perangkatnya berperan penting dalam semua bentuk media baru. Makna kedua dari tiga karakter tersebut adalah media baru membawa isi pesan tertentu. Isi pesan di dalam media baru adalah isi pesan yang bisa komplet meliputi keseluruhan bentuk pesan media, tertulis, audio, gambar, dan visual. Di dalam studi media, bentuk komunikasi dengan menggunakan media baru seringkali juga disebut dengan computer mediated communication (CMC). Komunikasi yang dimediasi komputer ini memiliki ciri sebagai berikut: terdapat teknologi yang bertujuan untuk berkomunikasi, bukan hanya mengolah informasi, melalui teknologi terjadi interaksi sosial yang membuat hubungan interpersonal dan kelompok menjadi lebih dinamis. Inilah efek fungsi “baru” bagi media baru setelah media lama yang “hanya” memperluas pada proses produksi/kreasi, distribusi, penyimpanan, dan tampilan atas informasi dan pesan. Ide utama untuk menghasilkan isi media internet yang baik adalah dengan memperkuat 3C di dalamnya. Bagaimana menciptakan jaringan komunikasi yang dinamis, bagaimana mengelola teknologi dengan efisien, yang berkonsekuensi langsung agar isi media efektif, dan bagaimana menghasilkan isi media yang baik sekaligus kontinyu, adalah tiga pertanyaan yang menjadi “pintu masuk” untuk menilai sebuah isi media.

Karakter dari media baru yang paling penting adalah munculnya jaringan komunikasi sosial yang terbentuk ketika kita mengelola isi media baru, sebuah situs dan jejaring sosial misalnya. Jaringan komunikasi adalah jaringan non-fisik yang muncul ketika banyak individu mengakses media dan memanfaatkan informasi. Media menghubungkan banyak individu dan juga menghubungkan individu dengan realitas secara langsung maupun tak langsung. Media jejaring sosial atau teknologi jaringan sosial adalah hal yang banyak dibicarakan belakangan ini, namun sebenarnya ilmu komunikasi telah lama membahasnya. Diskusi mengenai jaringan (komunikasi) sosial akan dibicarakan pada  bagian berikutnya.

bersambung....

(sitasi sengaja tidak dicantumkan) 

Memahami Media Baru (Bagian 1)

Tidak seperti halnya media massa yang cenderung lebih banyak menyampaikan informasi dan pengetahuan secara satu arah, isi media baru, terutama internet, cenderung lebih menciptakan relasi di antara penyedia dan pengakses informasi dan pengetahuan, serta bersifat dua arah, bahkan bisa dari banyak arah. Fenomena tersebut antara lain dapat dilihat dari situs jejaring sosial dan blog melalui blogosphere yang diciptakannya. Secara inheren, teknologi yang ada pada internet menjadikan relasi antara penyedia dan pengguna informasi sangat mungkin terjadi dalam posisi yang relatif setara. Sayangnya, konten media baru, terutama internet, seringkali masih dianggap sama persis dengan konten media massa yang tidak interaktif dan lebih mementingkan distribusi informasi satu arah. Informasi tersebut juga tidak diperbaharui dan ditambah dalam waktu yang cukup lama. Hal ini antara lain bisa diamati dari banyaknya situs yang belum memberikan fungsi untuk memberikan komentar ataupun berinteraksi atas isinya antar pengakses.

Tulisan ini coba mendiskusikan salah satu cara dalam memahami media baru dan mengamati kualitas konten media baru. Terdapat tiga langkah yang difungsikan untuk itu, yaitu memahami isi media baru, kemudian akan coba diuraikan konsep jaringan komunikasi sosial sebagai varian utama dari fungsi media baru terkini, proses komunikasi publik dari media baru yang sebaiknya dikedepankan, dan tulisan ini akan ditutup oleh saran untuk memahami media baru dengan lebih memadai.

Langkah Awal: Apa Itu Media Baru?

Sekitar satu dekade terakhir ini kita sebagai bagian dari warga negara Indonesia diberikan kesempatan menggunakan media baru secara lengkap. Setelah internet memasyarakat pada pertengahan dekade 1990-an, handphone dan game dalam bentuknya yang mirip dengan yang sekarang, ragam konsol atau perangkat permainan, menyusul tak lama kemudian pada akhir dekade 1990-an. Handphone yang berkembang dengan cepat kemudia "menyapu" teknologi pager pada awal dekade 2000-an yang sebenarnya waktu itu belum lama muncul, apalagi kemudian handphone dilengkapi dengan fungsi SMS (Short Message Service).

Kini kita merasakan ketiga jenis media baru tersebut, internet, handphone, dan game, seolah-olah sebagai jenis media yang dominan, padahal kita mengetahui dan merasakan benar bahwa media konvensional atau media massa masihlah mendominasi dalam kehidupan sehari-hari. Buku, suratkabar, majalah, film, dan terutama televisi, masih menjadi sumber informasi dan rujukan yang mendominasi bila dibandingkan dengan media baru. Untuk internet misalnya, maksimal baru 14 persen penduduk Indonesia yang mengaksesnya walau jumlah tersebut secara kuantitas masih lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah beberapa negara tetangga. Pengakses internet aktif bisa jadi jauh lebih kecil namun karena secara total jumlah penduduk Indonesia sangat besar, persentase tersebut sangat berpengaruh, apalagi pengakses media baru di Indonesia adalah kelas menengah yang memiliki akses politik dan sosial lebih besar dibandingkan masyarakat kebanyakan. Secara ekonomi jumlah yang besar ini juga menarik minat produsen perangkat teknologi informasi dan komunikasi sebagai pasar yang sangat potensial.


Kita juga merasakan seolah-olah kondisi bermedia seperti sekarang ini adalah keadaan yang hadir begitu saja. Kenyataannya, minimal bagi inidividu yang pernah merasakan dua era bermedia, perkembangan media baru tersebut terjadi secara bertahap dan seringkali tidak berjalan dengan linear. Hal ini berimplikasi besar atas pemaknaan individu atas pencarian, pendistribusian, dan pemanfaatan informasi. Isu-isu privasi juga berperan di sini. Kemungkinan individu yang tidak pernah merasakan sulitnya mendapatkan informasi seperti pada rezim penguasa terdahulu, sulit menghargai kepentingan personal atas informasi.


bersambung....


(sitasi sengaja tidak dicantumkan untuk menghindari pemanfaatan tulisan secara tak etis)

Jumat, 27 Januari 2012

Apa Itu Media Baru? (3)

Media dalam semua jenisnya, media sosial, media massa, dan media interaktif, bagaimanapun adalah "penengah" dari para pengaksesnya dengan realitas. Media adalah perantara bagi suatu pihak berelasi dengan pihak lain, juga mengubungkan suatu pihak dengan realitas. Peran semacam ini dinamakan mediasi. Denis McQuail menyampaikan  setidaknya terdapat delapan metafor mediasi yang menjadi perumpamaan untuk menggambarkan relasi antara produsen, pemakna pesan atau teks, dan realitas. Kedelapan metafor mediasi tersebut adalah jendela, cermin, gatekeeper, penanda, pembimbing, penerjemah, forum, diseminator, dan interlukator. 

Metafor jendela mengandaikan media berfungsi sebagai sarana untuk "melihat" dunia. Media menjadi sarana untuk membuka realitas seluas-luasnya. Cermin mengumpamakan media sebagai sarana untuk melihat realitas dengan merefleksikannya. Refleksi tersebut tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Metafor gatekeeper menunjukkan bahwa media menyeleksi realitas yang mereka terima. Seleksi ini bisa bersifat teknis maupun ideologis. Penanda mengindikasikan media menunjukkan kepingan-kepingan realitas yang penting menurut mereka. Metafor pembimbing menjelaskan media dapat berperan sebagai penunjuk arah agar berbagai pihak yang menggunakan media tidak bingung dengan realitas yang dihadapi. Media sebagai penerjemah menunjukkan media berusaha menjelaskan realitas menurut versi mereka sendiri. Metafor forum menunjukkan bahwa media bisa menjadi wahana pertemuan dari banyak pihak yang berbeda sudut pandang. Diharapkan media dapat menghasilkan semacam platform yang membimbing pengakses media "menaklukkan" realitas. Diseminator menunjukkan bahwa media dapat menyebarkan ide-ide baru dalam membaca realitas. Media mengenalkan nilai-nilai baru kepada masyarakat secara luas. Terakhir, interlukator, adalah metafor mediasi yang menggambarkan media sebagai mitra pengakses untuk mengetahui berbagai hal.


Metafor mediasi sangatlah tepat untuk media massa, sementara media sosial tidak mengenal mediasi secara mendetail. Di dalam media sosial dikenal immediasi (tanpa mediasi). Pada media baru dikenal konsep remediasi. Bolter dan Grusin menyebutkan ada dua jenis remediasi, yaitu immediasi dan hipermediasi. Media baru dalam bentuk immediasi relatif mirip dengan media sosial, di mana media tidak melakukan mediasi dalam merekonstruksi realitas menjadi pesan. Dua pihak atau lebih langsung direlasikan oleh media baru, seperti halnya dalam media sosial. Inilah sebabnya media baru dalam salah satu bentuknya disebut juga media (jejaring) sosial.


Bentuk remediasi yang kedua, yang hanya dipunyai oleh media baru, adalah hipermediasi atau mediasi berlebih-lebihan. Hal ini sangat mudah diamati pada dua bentuk media bagu, internet dan game. Pada game misalnya, seorang pengakses teks game bisa mendapatkan informasi seluas-luasnya, apalagi dalam media online. Hipermediasi juga sangat mudah dilihat pada situs yang lengkap yang bisa memudahkan pengakses mendapatkan informasi seluas mungkin dan bentuk pesan yang sangat beragam. Hipermediasi bisa dimaknai secara positif maupun negatif, secara positif hipermediasi berpotensi memberikan informasi yang secara kuantitas tinggi. Negatifnya, hipermediasi mengakibatkan banyak informasi "sampah" yang diakses namun tidak dibutuhkan.



Sabtu, 21 Januari 2012

Apa Itu Media Baru? (2)

Banyak ahli telah menjelaskan definisi media baru, salah satu ahli yang menjelaskan media baru dengan lumayan sederhana dan baik adalah Terry Flew. Flew menjelaskan bahwa hal baru yang dibawa oleh media baru adalah computing and information technology, communication networks, digitalised media and information content, convergent atau disingkat dengan 4C (Computing, Communication, Content, Convergent). Dengan demikian, media baru akan selalu melibatkan empat karakter, yaitu: pertama, teknologi informasi yang terkomputasi. Walau hanya diolah oleh "alat" yang ukurannya kecil namun bila sudah melibatkan komputer, informasi akan lebih mudah untuk diolah. Kedua, media baru akan selalu berkaitan dengan jaringan komunikasi. Banyak orang terangkai dengan media baru. Bila dalam konsep awal jaringan komunikasi, orang terangkai dalam garis imajiner dengan melibatkan pemuka pendapat dan pemuka informasi, di dalam penggunaan media baru, jaringan tersebut sudah merangkaikan antar inidivu secara langsung.

Ketiga, media baru selalu memiliki konten yang berupa informasi atau pesan yang bersifat digital. Digital artinya  satu pesan bisa muncul dan diakses dalam beragam media. Digital selalu dioposisibinerkan dengan analog yang berarti satu pesan hanya bisa diakses dalam satu media. Dengan sifatnya yang digital ini dengan sendirinya pesan akan bersifat konvergen, sebagai karakter yang keempat, di mana satu jenis konten bisa berasal dari banyak jenis pesan atau bila prosesnya dibalik, banyak konten yang berasal dari satu pesan, bisa disebut dengan divergen.

Apa Itu Media Baru? (1)

Mencoba menjawab pertanyaan atau menjabarkan apa itu media baru sepintas seperti sebuah pekerjaan yang gampang karena hampir semua orang berusaha menjelaskannya, mulai dari penjelasan yang populer sampai yang mendalam di forum akademis. Namun sebelum masuk lebih dalam pada definisi media baru, kita bisa terlebih dahulu menjelaskan pengertian proses komunikasi, media, dan teknologi informasi dan komunikasi. Proses komunikasi adalah "transaksi" timbal-balik informasi dari suatu pihak kepada pihak lain, yang biasanya kita kenal sebagai komunikator dan komunikan. Informasi yang diberi konteks pengalaman dan pengetahuan disebut pesan komunikasi. Pesan inilah yang bisa dikatakan juga sebagai substansi dalam proses komunikasi. Kita juga pasti ingat bahwa selain komunikator, pesan, dan komunikan, di dalam proses komunikasi masih terdapat beberapa elemen yang lain, yaitu media, efek, feedback, dan noise. Penjabaran ini adalah cara pandang fungsional dalam melihat proses komunikasi. Walau sepintas sederhana, cara pandang ini sangat mudah diterapkan dan berguna sekali untuk mejelaskan banyak karakter dalam proses komunikasi. Selain substansi, di dalam proses komunikasi terdapat "alat" yang kita gunakan agar proses tersebut berjalan. Pada level individual "alat" ini disebut juga dengan teknologi. Teknologi di dalam proses komunikasi adalah buku, majalah, dan suratkabar (media cetak), radio dan televisi (media penyiaran), film, dan internet, handphone, dan game (media interaktif).

Walau begitu, "alat" bukanlah sekadar yang teknologi yang kita gunakan dalam level personal. Alat juga melingkupi prosedur dan format pesan, katakanlah mekanisme dalam produksi film dan format berita bisa dimasukkan dalam kategori "alat" dalam proses komunikasi yang karakternya tidak berwujud "hardware". Di dalam perkembangannya "alat" di dalam proses komunikasi dinamakan teknologi informasi dan komunikasi.
Teknologi informasi dan komunikasi adalah alat yang digunakan untuk mengolah informasi dan kemudian informasi tersebut didistribusikan serta dimaknai dalam sebuah proses linear maupun sirkular. Dengan demikian, teknologi informasi dan komunikasi tidak bisa disinonimkan secara langsung sebagai media baru. Teknologi informasi dan komunikasi adalah semua alat dan prosedur yang digunakan di dalam proses komunikasi, terutama alat yang berwujud riil. Teknologi informasi dan komunikasi pada satu sisi memperkuat kapasitas media konvensional yang telah ada sebelumnya, dalam  hal produksi, penyimpanan, distribusi, dan tampilan pesan. Pada sisi yang lain, teknologi informasi dan komunikasi melahirkan apa yang kita kenal sebagai media baru yang kita kenal sekarang ini, internet, game, dan handphone. Media baru seringkali juga disebut sebagai media interaktif atau media digital merujuk pada karakter-karakternya yang spesifik, yang berbeda dengan media lama atau seringkali dikenal dengan nama media massa dan media konvensional.

Kamis, 03 September 2009

Sharism Versus Journalism?

Dalam upaya memahami proses kreatif, terutama melalui kemungkinan “jalan baru” via blog, saya mengakses buku yang berjudul “Cat Rambut Orang Yahudi: Catatan Blog Chappy Hakim”. Saya belum bisa menakar apakah buku tersebut bagus atau tidak karena memang buku tersebut belum selesai saya baca.

Tetapi ada sesuatu yang menarik di pengantar editor buku itu. Pepih Nugraha, si editor, melansir istilah “sharism” sebagai oposisi biner “journalism”. Menurutnya, semangat “berbagi” tersebut melahirkan arus informasi indie (independen) yang meruntuhkan hegemoni media utama. Media utama menyelenggarakan jurnalisme, sementara media indie (warga biasa) menyelenggarakan “sharisme”.

Menurut saya, kedua istilah tersebut tidak dapat dibandingkan. Keduanya berada dalam ranah yang berbeda. Jurnalisme adalah proses bagaimana peristiwa atau fakta dilaporkan. Sementara sharisme adalah prinsip berbagi yang muncul sebagai akibat kemajuan teknologi media.

Keduanya tidak saling bertentangan, malah bisa saling mendukung. Kita bisa melihat bagaimana media “konvensional” semacam Kompas bisa memanfaatkan blogger yang ada di media lanjutannya, Kompasiana, sebagai penulis opini atas peristiwa atau fakta.

Walaupun demikian, penulis opini melalui blog utamanya tetap sebagai seorang yang tugasnya bukan mencari fakta. Walau juga ada beberapa blogger yang melaporkan sebuah peristiwa dan laporan atau reportase tersebut baik, bahkan terkadang lebih cepat dan lebih faktual daripada reportase jurnalis media “konvensional”, tetap saja narablog dan jurnalis ada di wilayah yang berbeda. Dengan demikian, menyamakan blogger atau narablog dengan jurnalis adalah kurang tepat.

Sharisme sendiri berkembang sebagai sebuah prinsip bermedia belum terlalu lama. Kira-kira baru berlangsung satu dekade. Sharisme dimungkinkan hadir karena teknologi media terbaru. Teknologi tersebut menjadikan “berbagi” melalui media baru, terutama Internet, menjadi lebih mudah dan lebih murah. Secara umum teknologi ini disebut dengan nama web 2.0, bahkan ada ahli yang menganggapnya lebih dari versi 2.

Bila pada web 1.0 informasi yang ditampilkan mirip dengan media konvensional. Perbedaannya hanya pada media yang ditampilkan. Web 1.0, karena teknologinya belum memadai, informasi yang disampaikan melalui Internet tidak kompleks, hanya tulisan, dan tidak dimungkinkan untuk saling berkirim komentar.

Web 2.0 mengubah semuanya. Melalui teknologi ini informasi yang diberikan bisa lebih kompleks, semisal audio visual, dan yang lebih penting, karakter “berbagi” tersebut muncul pada era teknologi web 2.0. Berbagi di sini bisa berbagi informasi dan berbagai pesan digital. Web 2.0 inilah yang memungkinkan situs blog dan situs jaringan sosial muncul di mana-mana. Teknologi ini memberikan perubahan cara bermedia yang besar, bahkan mengubah peradaban manusia. Banyak kesempatan dan potensi baru yang dimunculkan oleh web 2.0 ini, yang membuka ruang-ruang baru. Ruang-ruang itu terkadang benar-benar merdeka dari kuasa negara dan pasar. Inilah yang mungkin dinamakan oleh Gunawan Muhamad sebagai “gotong-royong postmodernisme”.

Sharisme sendiri bukannya bebas dari penilaian negatif. Kecenderungan untuk “berbagi” tersebut membuat apa saja diunggah di internet, termasuk karya film, musik, buku, dan foto. Karya kreatif tersebut kemudian “dibagi” dengan gratis padahal sebenarnya setiap orang harus membayar untuk mengakses pesan media tersebut.

Fenomena ini tentu saja “mematikan” industri media. Ada anggapan kemunduran habis-habisan industri musik di Amerika Serikat disebabkan oleh fenomena sharisme ini. Kasus Napster adalah contoh utama bagaimana isu-isu legalitas dan hak cipta dari industri musik diuji dengan mendalam. Walau demikian, ada juga kasus di mana industri musik dan fenomena sharisme media baru ternyata saling mendukung dan saling mendukung. Kasus Radiohead adalah contoh utamanya.

Polemik tentang sharisme dan jurnalisme tentu saja masih perlu dieksplorasi lebih mendalam. Masih banyak hal menarik yang bisa didiskusikan, didebat, dan “digunakan” untuk kepentingan publik. Sebagaimana diskusi kita selama ini mengenai media baru, yang cenderung meninggalkan kepentingan publik. Semoga setelah ini fenomena sharisme menjadi pintu bagi kita untuk mendudukkan kembali publik sebagai “pemilik sah” media.

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...