Tampilkan postingan dengan label musik populer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik populer. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Maret 2013

Dari Smash sampai Iwan Fals: Memahami Musik Populer sebagai Kajian Ilmu Komunikasi


Belakangan ini bila kita ingin mencari album musik Indonesia terbaru, kita tidak lagi hanya mendatangi toko CD tetapi juga salah satu jaringan makanan cepat saji, jaringan toko buku besar, bahkan jaringan minimarket yang menjual album tersebut bersama sembilan bahan kebutuhan pokok; beras, minyak goreng, dan gula pasir. Toko CD sendiri, perlahan namun pasti berkurang satu persatu. Bulletin, salah satu jaringan distribusi terbesar, menutup tokonya satu persatu. Dua tahun lalu masih ada enam toko CD Bulletin di Yogya, kini hanya satu yang tersisa. Sebagai sebuah label, Bulletin juga mati suri dengan tidak merilis album baru kecuali dua album the best yang sejatinya sudah dirilis awal dekade 2000-an, band Netral dan Plastik. Dirilisnya dua album the best tersebut kemungkinan upaya terakhir untuk mendapatkan profit.
Distribusi album adalah salah satu aspek untuk memahami musik populer atau musik rekaman sebagai kajian ilmu komunikasi. Distribusi album yang bisa dilihat sebagai konten atau pesan media tersebut bisa dieksplorasi melalui perspektif manajemen ataupun ekonomi politik media. Tulisan ini coba mendiskusikan musik populer sebagai bagian dari kajian ilmu komunikasi, terutama dalam lokus kajian media. Posisi musik populer dalam kajian media di Indonesia memang unik, walaupun musik populer dibahas di banyak buku pengantar kajian media, setahu saya kajian musik populer sebagai media tidak hadir sebagai kajian khusus, berbeda dengan media cetak, media penyiaran, dan juga media baru.
Sebagai fenomena soial pun musik populer hadir dengan intens dalam kehidupan sehari-hari kita, tetapi musik populer jarang dikaji dengan serius secara akademis sebagai bagian dari jenis media. Walau begitu, kini sudah mulai muncul penyuka dan pengamat musik populer dari sudut pandang kajian media. Kemungkinan lahirnya para pengamat musik populer sebagai media tersebut karena cara pandang yang lebih mendalam, berbeda, dan kritis sudah harus hadir untuk mengkaji musik populer.
Sama seperti halnya bidang kajian media ataupun bidang kajian komunikasi yang lain, untuk mengamati secara komprehensif namun singkat, kita dapat mendedah musik populer dalam rangkaian proses komunikasi yang terjadi. Siapa yang memproduksi pesan musik rekaman, bagaimana pesan diproduksi, dikemas, didistribusikan, dan dimaknai, siapa yang mengakses atau mendengarkan musik populer, dan efek apa yang muncul dari proses terdistribusinya musik populer tersebut.
Pesan musik populer tidak hanya diproduksi dan didistribusikan oleh para penyanyi dan penciptanya, namun meliputi berbagai pihak yang terjalin dalam relasi kompleks, antara lain publisis dan kompetisi musik. Di Indonesia misalnya, kini terdapat lumayan banyak kompetisi musik, terutama yang diselenggarakan oleh stasiun televisi, namun kontribusinya pada produksi pesan yang berkualitas masih belum memadai. Hal ini terlihat dari musik dengan genre arus utama saja yang muncul dan lagu itu itu saja yang dinyanyikan. Secara keseluruhan semesta pesan musik populer kurang banyak secara kuantitas dan kualitas.
Penyanyi, sebagai produsen konten utama, juga masih kurang beragam. Kemunculan penyanyi Indonesia terlalu didominasi oleh kepentingan pasar, sehingga yang hadir pada suatu waktu adalah genre tertentu saja. Katakanlah ketika musik menye-menye yang laris manis, musik jenis itu juga yang diproduksi, penyanyi dengan langgam yang sama juga yang muncul. Pun dengan fenomena boys dan girls band, karena dianggap sedang disukai oleh pendengar, sepertinya banyak sekali band semacam itu yang muncul. Smash misalnya, mendorong banyak boys band serupa hadir. Semua dengan modus yang sama, bergaya Korea dan bernyanyi dengan meriah, bahkan ketika persedian pemuda Indonesia sudah habis, diimpor pemuda Korea untuk menjadi anggota salah satu boys band Indonesia.

Audiens konten musik populer Indonesia juga berkembang dengan cepat belakangan ini. Secara umum industri musik populer Indonesia dianggap belum besar karena maraknya pembajakan yang tak kunjung usai dibenahi, namun dari sisi jumlah audiens atau pendengar musik populer, pasar musik populer Indonesia sangatlah besar. Masyarakat Indonesia adalah konsumen media yang sangat besar dan secara umum relatif royal dalam mengakses, karena untuk konten yang dinilai bagus mereka tidak ragu-ragu mengeluarkan dana untuk mengaksesnya. Lihat saja album-album Cherybelle yang cepat sekali habis dan konser-konser Coboy Junior yang selalu penuh. Sebenarnya bila masyarakat Indonesia tidak hanya diperlukan sebagai konsumen, tetapi juga dipandang sebagai warga oleh negara yang diutamakan hak-haknya dalam mengakses musik populer, musik populer Indonesia bisa lebih besar.

(tulisan ini dimuat di Kepel News Music Edition, dirilis oleh KOMAKO UGM)

Jumat, 02 November 2012

INXS - Kick (25 Anniversary Deluxe Edition) (2012)

INXS - Kick (25 Anniversary Deluxe Edition) (2012)



Teks media musik rekaman memiliki karakter yang berbeda dengan teks media yang lain. Sejak awal teks musik rekaman tidak harus diakses secara keseluruhan dalam bentuk album, melainkan sangat bisa diakses secara “ketengan”, lagu per lagu. Malah sebenarnya, industri musik rekaman digerakkan oleh satuan teks dalam bentuk lagu. Lagu unggulan dan dua atau tiga lagu tambahan kemudian didistribusikan sebagai single. Satuan teks musik rekaman sebagai single memang tidak umum di Indonesia. Biasanya di Indonesia teks musik rekaman langsung hadir dalam bentuk album yang terdiri dari sekitar 14 lagu. Biasanya di Indonesia pendengar mengakses album dari seorang penyanyi atau band atau mendengarkan album kompilasi berisi kumpulan cukup  banyak lagu hit dari banyak penyanyi.

Satu lagi fenomena yang tidak umum dalam industri musik rekaman Indonesia adalah merayakan pencapaian suatu album yang merupakan karya bagus dan mendapatkan posisi yang baik di hati pendengar. Walau tidak lumrah, belakangan ini ada beberapa album lama yang terhitung legendaris dirilis kembali, misalnya saja album-album Koes Plus dan OST Badai Pasti Berlalu, yang kemudian ditarik kembali dari peredaran karena permasalahan hak cipta. Sebagai pengakses musik Indonesia yang mendengarkan album-album Indonesia sejak dekade 1980-an tentu saja banyak album jaman dulu yang ingin saya dengarkan lagi dengan kualitas yang jauh lebih bagus lagi. Misalnya saja saya sangat ingin mendengarkan album-album Ebiet G. Ade yang awal, terutama album Camelia I sampai dengan Camelia IV. Walaupun beberapa lagu dari album awal tersebut sering muncul dalam album kompilasi Ebiet G. Ade, namun mendengarkan lagu dari albumnya yang asli memang berbeda. Lagu dan urutannya di dalam sebuah teks album itu seperti bab dalam buku atau scene dan sekuens dalam album. Semua satuan teks bermakna. Inilah karakter utama paradigma konstruksionis dalam kajian media bahwa teks utuh dibangun dari satuan-satuannya, dan bahwa posisi satuan teks bermakna pula dalam sebuah teks yang utuh.

Di negara-negara yang industri musik rekamannya telah maju dan hak kekayaan intelektual, termasuk hak cipta, dihargai dengan memadai, fenomena merilis kembali album lama yang berkelas seringkali dilakukan. Tahun lalu album Achtung Baby dari U2 dan Nevermind karya Nirvana dirilis versi ulang tahun keduapuluh. Pada tahun ini juga muncul fenomena serupa, misalnya saja Manic Street Preachers yang merilis kembali debut album mereka, Generation Terorrist versi ulang tahun keduapuluh, dan juga INXS yang merilis edisi ulang tahun ke-25 album fenomenal mereka, Kick. Album terakhir inilah yang saya dengarkan sekarang ini.

Album INXS ini memiliki kesan yang mendalam bagi saya karena musik mereka yang unik, new wave, ska, dan pop. Penarik minat yang lain adalah kombinasi petikan gitar cepat dan saksofone, plus suara bagus milik vokalis yang kemudian bunuh diri, Michael Hutchence. Bisa dikatakan album Kick ini adalah album terbaik INXS. Album ini bukan album INXS pertama yang saya dengarkan. Saya mendengarkan album mereka, X (1990) dan Welcome to Wherever You are (1992) secara relatif bersamaan, baru kemudian mendengarkan Kick. Walau begitu, saya langsung memahami mengapa Kick dianggap sebagai pencapaian terbaik INXS. Ketika Kick dirilis, INXS mendapatkan apresiasi yang bagus dan dianggap sebagai penerus Rolling Stones walau kemudian kita tahu bahwa INXS tidak sebesar Rolling Stones namun band dari Asutralia ini cukup fenomenal terutama bagi penyuka musik 1980-an dan 1990-an. Bagi saya INXS sangat berperan membentuk kesukaan saya terhadap musik populer sampai sekarang.

Perilisan kembali album ini menurut saya sungguh menyenangkan. Selain bisa kembali mendengarkan album berkelas dalam konteks kekinian, tambahan satu cakram padat untuk merayakan ultah album pasti merupakan nilai tambah tersendiri. Siapa penggemar yang bisa melupakan Sweet Sensation, Need You Tonight, dan Never Tear Us Apart, ditambah dengan beberapa lagu baru yang belum dirilis dan versi berbeda dari lagu-lagu terdahulu?

Dirilisnya kembali sebuah album berkelas tentu saja bermotif ekonomi. Penggemar lama hampir pasti mengakses album rilis ulang semacam ini. Namun lebih luas dari pada motif ekonomi langsung, dirilisnya kembali sebuah karya bagus juga merupakan wujud apresiasi industri. Karya yang bagus mesti selalu dirayakan. Tetap saja, industri penghasil teks media sesungguhnya dibangun dari karya yang bagus, kurang bagus, dan tak bagus. Namun sebuah industri teks media bisa berkembang bila semua pihak selalu diingatkan bahwa karya-karya terbaik telah lahir dan dirayakan serta disyukuri secara periodik.

Daftar lagu:
CD 1 – Original Album
1.    Guns in the Sky
2.    New Sensation
3.   Devil Inside
4.    Need You Tonight
5.    Mediate
6.    The Loved One
7.   Wild Life
8.    Never Tear Us Apart
9.    Mystify
10. Kick
11.  Calling All Nations
12. Tiny Daggers

CD 2 – Bonus CD
1.    Never Tear Us Apart (Soul Version)
2.    Move on (Guitar Version)
3.   I’m Coming (Home)
4.    On the Rocks
5.    Mystify (Chicago Demo)
6.    Jesus was A Man (Demo Outtakes)
7.    The Trap (Demo)
8.    Never Tear Us Apart (Live from America)
9.    Do What You Do
10.  Guns in the Sky (Kick Ass Remix)
11.  New Sensation (Nicky 7’)
12.  Different World
13. Calling All Nations (Kids on Bridges Remix)



Senin, 25 Juni 2012

Various Artist - Indonesian Sweet Jazzy Volume 1, 2, dan 3

Konten musik populer menurut saya adalah pemberkas kenangan yang paling baik. Melalui lagu kita bisa mengenang berbagai peristiwa pada masa lalu. Sebuah lagu yang dahulu kita dengarkan adalah mampu memutar kembali kenangan pada masa itu beserta emosi yang menyertainya. Oleh karena itulah, saya senang sekali mengumpulkan lagu-lagu lama, terutama dalam format cakram, sehingga bisa didokumentasi atau diberkas dengan baik-baik. Selain itu, saya termasuk terlambat menyukai musik Indonesia dengan mendalam sehingga sangat banyak yang terlewat, apalagi industri musik Indonesia lebih mengutamakan kebaruan dibandingkan merilis ulang album-album lama.

Bilapun dirilis kembali, lagu-lagu lama tersebut tidak hadir dalam kesatuan album semula melainkan dalam album kompilasi baru. Dalam konteks pemberkasan sebenarnya sudah cukup, tetapi mood dan situasi lagu tidak akan bisa bila lagu tersebut tidak muncul dalam album awalnya. Walau begitu, lagu-lagu lama yang hadir dalam format kompilasipun, bolehlah diapresiasi. Paling tidak, melalui album kompilasi lagu-lagu lama tersebut, kita bisa mengenang masa lalu dengan lebih baik. Album kompilasi lama lumayan sering hadir dan sering juga cepat diserap oleh konsumen atau pendengar. Mungkin orang yang berusia di atas tiga puluh tahun memang memerlukan "media" untuk membantu mereka mengenang masa lalu dengan sebaik-baik dan sehangat-hangatnya.


Salah satu album kompilasi lagu lama yang dirilis dan saya akses adalah kompilasi berjudul Indonesian Sweet Jazzy Volume 1 sampai dengan volume 3. Kita tak perlu mempertanyakan alasan penamaan album kompilasi dengan judul jazzy, mungkin istilah jazz dan pop kreatif adalah istilah yang terdengar keren pada masa itu. Empat puluh lima lagu yang terdapat dalam ketiga volume album kompilasi ini merepresentasikan dekade 1980-an, terutama "kelompok" penyanyi yang berada dalam naungan genre pop kreatif. Nama-nama seperti Fariz RM, Deddy Dhukun, Dian Pramana Poetra, dan Vina Panduwinata hadir berulang di ketiga volume.


Melalui album kompilasi ini kita juga bisa mengenang para penyanyi dekade 1980-an bertutur dan menyampaikan pesan. Cinta dan detail kisah-kasihnya adalah topik yang mendominasi. Walau begitu cinta disampaikan dengan tidak terlalu cengeng dan banal seperti kebanyakan lagu jaman sekarang. Cara menyanyi "keroyokan" ala USA for Africa di lagu We are the World muncul dalam lagu Jalan Masih Panjang oleh 7 Bintang, yang muncul di volume 3. Penyanyi lain yang juga menarik perhatian adalah Vina Panduwinata yang lagu-lagunya begitu membekas pada era 1980-an. Sayangnya, lagu sang diva yang berjudul Burung Camar tidak ada. Di luar beberapa kekurangan, seperti representasi penyanyi dan lagu yang muncul, ketiga volume album kompilasi ini menarik didengarkan dan juga disimpan. Benar adanya, musik adalah pemberkas kenangan paling baik dibandingkan dengan teks media lain karena musik tidak hanya memberkas suatu kenangan, tetapi juga emosi atau segenap perasaan yang melekat pada kenangan tersebut.

Daftar lagu:
Volume 1
1. Oddie Agam - Aku Cinta Padamu
2. Dian PP - Biru
3. Tito Soemarsono - Kisah Cintaku
4. Trie Utami & Deddy Dhukun - Entah Apanya
5. 2D - Masih Ada
6. Tito Soemarsono - Pergilah Kasih
7. Nunung Wardiman - Pasrah
8. Fariz RM - Sakura
9. Vina Panduwinata - Cium Pipiku
10. Trie Utami & Yopie Latul - Bila
11. Malyda Fariz RM Deddy Dhukun - Sekisah Kasih
12. Deddy Dhukun - Aku Ini Punya Siapa
13. 2D - Melayang
14. Fariz RM - Berani Tampil Beda
15. 2D - Bohong
16. Mus Mujiono - Keraguan


Volume 2
1. Ika - Tersiksa Lagi
2. Oddie Agam - Antara Anyer dan Jakarta
3. Fariz RM - Nada Kasih
4. Vina Panduwinata - Surat Cinta
5. Tito Soemarsono - Untukmu
6. Deddy - Dara
7. Malyda - Dia, Aku dan Cinta
8. Fariz RM - Di Antara Kata
9. Mus Mujiono - Kita
10. Herty Sitorus - Kasih
11. Fariz RM - Barcelona
12. Ika - Kaulah Segalanya
13. Vina Panduwinata & Broery Pesolima - Kasih
14. Trie Utami - Kuingin Kau Ada


Volume 3
1. Oddie Agam - Puncak Asmara
2. Vina Panduwinata - Biru
3. Rumpies - Nurleila
4. Tito Sumarsono - Kamu
5. Mus Mujiono - Masih Bau Kencur
6. Malyda & 2D - Semua Jadi Satu
7. Vina Panduwinata - Logika
8. Oddie Agam - Tanda-Tandanya
9. Katigas - Daripada Daripada
10. 7 Bintang - Jalan Masih Panjang
11. Fariez RM - Penari
12. Atiek CB - Risau
13. Tito Sumarsono - 13 - Jangan Pisahkan
14. Fariez RM, Deddy D, Younky S. - Hanya Satu Kamu
15. Fariez RM - Hasrat dan Cinta

Selasa, 28 Februari 2012

Dewa Budjana - Dawai in Paradise


Mengakses atau mendengarkan musik populer tanpa lirik adalah hal yang paling sulit dalam menakar album. Namun, bukan berarti hal tersebut tidak berharga untuk dilakukan. Justru itu, pemakna bisa menggunakan lapis ketiga dalam memaknai, yaitu impresi atau kesan apa yang muncul di pemikiran dan perasaan ketika mendengarkannya. Inilah yang saya dapatkan ketika memaknai album "Dawai in Paradise" karya Dewa Budjana. Pemakna akan mendapatkan musik yang bagus sekaligus kaya nuansa ketika mendengarkan album ini utuh penuh. Musik yang kaya, mulai dari "berbau" jazz sampai yang menggunakan musik tradisional.

Kesebelas lagu di album ini enak didengarkan dan menggugah indera pendengaran kita. Hal ini wajar karena album ini merupakan akumulasi karya selama kurang lebih dua dekade (lagu yang paling lama berasal dari tahun 1988). Dua dekade adalah rentang waktu yang panjang apalagi bila produsen teksnya adalah seseorang yang produktif. Rentang waktu yang panjang tersebut juga memudahkan produsen teks untuk memilih karya yang akan digabungkan dalam komplikasi. Walau ada produsen teks utama, pertama-tama, prinsip teks yang bagus adalah bila didukung oleh banyak rekan. Hal ini bisa diamati dari rekan musisi yang berkontribusi pada album. Pada tiap lagu relatif muncul musisi yang berbeda. Keberagaman musisi pendukung ini menunjukkan keluasan relasi sosial Dewa Budjana. Belakangan, yang saya baca dari beberapa media cetak, relasi sosial itu juga meluas tidak hanya pada sesama musisi, melainkan juga relasi dengan pelukis, yaitu para pelukis yang membubuhkan karyanya pada gitar-gitar Dewa Budjana.

Daftar lagu:
1. Gangga
2. Masa Kecil
3. Dawaiku
4. Kromatik Lagi
5. Backhome
6. Malacca Bay
7. Kunang-Kunang
8. Lalu Lintas
9. Caka 1922
10. Rerad Rerod
11. On the Way Home

Stereocase - Bicara


Mengakses album debut ini hampir secara langsung saya memaknainya pada lapis kedua dari makna teks. Bagaimana teks seluruh lirik lagu di album ini dihubungkan dengan "Bicara"? itulah pertanyaan yang langsung muncul. Kemudian diikuti dengan pertanyaan lain: bisakah produsen teks bebas sepenuhnya berbicara dan muncul sepenuhnya pada teks? bebaskan kita untuk bicara, karena terlalu lama kami terluka. Bebaskan kita untuk bicara, karena terlalu lama kami terluka...Begitulah ujaran langsung yang muncul dari lagu "Bicara" walau tidak jelas juga terluka dari apa, dari pihak-pihak lain di luar diri atau diri kita sendiri.

Lagipula, agak sulit teks musik populer yang terlalu bebas. Musik populer, seperti halnya teks media yang lain, tak luput dari kuasa-kuasa lain, politik, ekonomi, dan sosiokultural. Apalagi berdasarkan karakternya secara kelembagaan, musik rekaman itu cenderung merujuk pada budaya mainstream dan kaum muda secara umum. Karakter-karakter yang lain dari musik populer secara institusional adalah regulasi dalam kadar yang rendah, kadar yang tinggi untuk internasionalisasi, beragam platform dan teknologinya, organisasi media yang secara umum terfragmentasi, dan dihubungkan dengan industri utama media.

Lagu "Bicara" yang juga menjadi tajuk dari album ini menurut saya adalah lagu terbaik dari sisi lirik dan juga musik. Lagu-lagu lain juga lumayan bagus untuk album debut walaupun lirik hampir semua lagunya tidak beranjak dari hal yang biasa. Secara keseluruhan album ini enak untuk didengarkan dan agak mengingatkan dengan formula biasa untuk album yang digawangi anak muda pria, ada indikasi kuat untuk terlihat asyik dan keren dengan sedikit melupakan substansi. Walau begitu, album ini tetaplah album yang bagus untuk album pertama. Patut kita tunggu album kedua dan seterusnya. Semoga lebih ciamik lagi. 

Daftar lagu:
1. Just Called Life
2. Bayangkan
3. Bicara
4. Begitu Sempurna
5. Bebas (feat. Sara Un Soiree)
6. Alihkan
7. From Satellite
8. Bersiaplah tuk Lebih
9. Kill
10. All We Need is Love

Drew - Sing with Drew

Seperti halnya teks media yang lain, teks musik rekaman atau musik populer dapat dikaji melalui tiga lapis pemaknaan. Lapis pertama adalah pemakna atau penakar merujuk langsung pada isi teks. Pada lapis ini kita juga mesti memahami bahwa teks media adalah apapun isi media yang bisa kita "tangkap" dan maknai, mulai dari teks tertulis, gambar diam, ataupun gambar bergerak. Pada lapis kedua, kita memaknai teks melalui "pisau analisis" lain, misalnya memahami lagu-lagu cinta melalui konsep "identitas" yang cair. Lapis terdalam, lapisan makna ketiga adalah aktivitas memaknai yang tidak lagi merujuk langsung pada teks, melainkan isi teks tersebut memberikan impresi yang bisa jadi tidak berhubungan langsung dengan teks. Impresi biasanya berkaitan dengan kenangan, pengetahuan, dan pengalaman si pemakna.

Teks musik rekaman adalah teks yang paling "cair" karena basis utama struktur teks ini adalah suara, aksesnya individual, dan mengutamakan pada kepuasan personal dan emosional. Apalagi, biasanya pemakna teks musik populer yang tidak memiliki pengetahuan tentang musik ataupun kecakapan bermusik, sehingga biasanya lapis ketiga ini yang diutamakan. Atau bila merujuk pada lapis pertama dan kedua, biasanya yang dimaknai terutama adalah aspek lirik bukan musiknya.

Inilah yang saya lakukan untuk album Drew yang berjudul "Sing with Drew". Ketika kita merujuk langsung pada lirik, akan langsung terbaca dan terjelaskan bahwa band ini berbicara tentang cinta dalam formatnya yang paling biasa. Musik yang hadir juga musik yang biasa kita dengar walau tidak sekacangan lagu menye-menye yang berbeda. Justru di sinilah letak kelebihan dari band ini, mengangkat lagi hal biasa sehari-hari dengan cara-cara sederhana yang sudah dikenal, sekaligus enak didengar.

Relasi dua orang dalam konteks cinta ditinjau secara biasa. Kegundahan eksistensial ketika menyintai, rasa cinta yang dalam sampai takut pada kehilangan, juga idealitas dalam memandang mitra cinta. Hal-hal semacam itulah yang muncul. Hal yang biasa, normal, dan tafsir yang umum atas relasi cinta, entah dengan cara bagaimana tetap menarik untuk didengarkan. Membuat kita menyadari hidup ini terbangun dari banyak hal biasa dan tetap menarik untuk dimaknai.

Daftar lagu:
1. Stay with Me
2. Radio
3. Yang Ini untuk Kamu
4. High
5. Dia
6. Siapa Bilang
7. One More Time
8. Terlalu Berharap
9. I Love You Too
10. Aku Takut Jatuh Cinta Lagi
11. Lagu No 11

Sabtu, 18 Februari 2012

Burgerkill - Venomous

Album bagus kedua di tahun 2011 kemarin selain album milik Luky Annash, 180 Derajat, adalah album Venomous karya Burgerkill. Album ini terlewati ketika saya mencoba menyusun daftar 15 album terbaik tahun 2011. Hal tersebut saya sesali karena memang ketiga album bagus ini saya dapatkan belakangan setelah saya menyusun tadi. Tetapi album bagus tetaplah album bagus, masuk daftar atau tidak, tepat waktu atau “terlambat” didengar.

Saya bukanlah penyuka musik metal dengan semua variannya walau saya agak akrab dengan musik keras semisal Nine Inch Nails. Bagi saya musik “keras” atau “lembut” sama saja karena keduanya termanifetasi dalam teks musik rekaman. Dalam konteks tertentu, menurut saya, musik metal juga “lembut” karena bagaimanapun juga merupakan sarana penyampaian ekspresi dan opini.

Saya juga berusaha menakar album ini dengan semata-mata terfokus pada teks medianya bukan pada pembuat teks. Pada titik ini album Venomous berbicara tentang kegundahan personal sebagai akibat kondisi hidup bersama yang karut marut di Indonesia. Karut marut karena orang-orang yang semestinya mengurusi negeri malah mengorbankan rakyatnya sendiri, orang-orang yang memanipulasi imaji dengan berpura-pura baik tetapi ternyata penghancur yang luar biasa. Juga karena kondisi hidup yang kian brutal dan menghancurkan kemanusiaan.

Simak lirik dari lagu pertama “Into the Tunnel” dengan musik yang sangat bagus, dengan suara gitar bagai rentetan senapan mesin. Lagu yang begitu mengundang pada semua lagu di album ini...when no one can be trusted...and all insanities are threatening. Juga lirik lagu kedua, “Age of Versus”, ...how many lives you need? Nothing has changed...how many victims you need? How many lives you need? There’s never enough...never enough...I wasn’t rised to shut my mouth...In the age of versus. Pun dengan lagu berikutnya, “Under the Scars”, berbicara tentang kejumuhan itu...sometimes there’s no words...to explain whay you’ve done...acting like a God and smell like an animal...you keep serving me with your trick and hiding behind highest brick....Makna yang mirip masih muncul di lagu kelima, “House of Greed”.

Walau begitu, sedikit banyak kita bisa menebak dengan sedikit jelas kelompok mana yang disasar oleh Burgerkill lewat lagu “My Worst Enemy”. Jenis kelompok yang ramai dibicarakan saat ini, kelompok yang ditolak di bumi Kalimantan Tengah.... There’s too much cracked white frames these days...in the name of religion with disgusting ways...violence in your best part to destroy the opponent...determining who’s good or bad, like the holy man...and deciding who’s gonna live or die....

Kondisi sosial atau hidup bersama tak hanya memunculkan kegundahan dan amarah, di album ini muncul juga semacam kondisi eksistensialis dan solidaritas. Pada lagu “Through the Shine” misalnya muncul kondisi memilih antara hidup dan mati yang sepenuhnya merupakan kondisi rasional dan riil. Sementara itu, solidaritas muncul di lagu “For Victory”. Lagu yang optimisi mengajak “bertarung” bersama melawan musuh yang terlihat dan tak terlihat. Solidaritas yang lebih murni dan syahdu muncul pada lagu “This Coldest Heart”, instrumental yang ditujukan untuk para korban perang dan bencana di seluruh dunia. Solidaritas syahdu dalam lingkup yang lebih kecil juga muncul pada lagu penutup yang merupakan “lagu tersembunyi”, yaitu “An Elegy”. Lagu penutup yang bagus yang dipersembahkan untuk dua rekan mereka yang telah tiada...there’s something I’ve been mising...I can’t hold my head up high...It’s getting really hard to laugh and realize that you’re already gone....start a new beginning...back to track and learning until we meet again....

Daftar lagu:
1. Into the Tunnel
2. Age of Versus
3. Under the Scars
4. Through the Shine
5. House of Greed
6. The Coldest Heart
7. For Victory
8. My Worst Enemy
9. Only the Strong 
10. An Elegy (hidden track)

Selasa, 14 Februari 2012

Luky Annash - 180 Derajat

Tahun lalu terdapat tiga album bagus yaitu "180 Derajat" karya Luky Annash, "Venomous" karya Burgerkill, dan "Love Life Wisdom" hasil karya LLW. Ketiga album tersebut masuk dalam jajaran album terbaik Indonesia karena musiknya yang bagus dan liriknya yang "menggedor" jiwa. Bahagia rasanya merasakan ketiga album ini hadir menghiasi indera pendengaran kita. Saya sendiri tidak memasukkan ketiga album ini dalam daftar 15 album Indonesia terbaik tahun 2011 karena terlambat mendengarkan ketiganya dengan intens.



Kali ini saya coba menakar album Luky Annash yang memang bagus dan solid dalam hal pemaparan perasaan dan pemikirannya melalui lirik. Rasanya belum lama kita "dihadiahi" Frau, penyanyi perempuan yang menghasilkan musik bagus yang didominasi piano, kini kita mendapatkan suguhan musik berkelas dari Luky Annash. Sejak lagu pertama kita dibuat kagum oleh kelincahan jari Luky melalui lagu tanpa lirik "Kaki Langit".

Lagu kedua berbincang tentang hal yang familiar bagi kita semua dalam hidup bermasyarakat dan berpolitik, "Kritik Tanpa Solusi". Dengan kalimat yang terus diucapkan dengan lantang pada bagian reffrain menjadikan kita "terwakili" atas rasa sebal yang kita rasakan belakangan ini. Lagu ketiga, "Musik", sepertinya merupakan manifesto diri memilih musik sebagai jalan hidup. Musik bagaimana pun bisa menjadi cara untuk lepas dari masa lalu yang mungkin kelam. Uniknya lirik lagu ini berbicara dengan cara sebaliknya dengan menceritakan bahwa musik adalah bukan dunia nyata.

Lagu berikutnya adalah lagu favorit saya. Selain musiknya yang bagus, lagu ini berkisah hal yang unik dan jarang diangkat dalam sebuah lagu. "Bahasa" adalah elemen penting dalam kontestasi kekuasaan. Simak petikan lirik berikut...aku dan kau berjuang dengan bahasa/...buat tinta membuka semua rahasia. Bongkahan bahasa lewat lirik lagu sekalipun adalah wilayah "pertarungan" seperti yang kita kenal dalam konsepsi wacana. Bahasa juga merupakan ujaran yang bisa dikemas dan "dialirkan" dalam pengertian "pembingkaian".

Walau tidak dengan mudah dipahami, lagu-lagu lain juga berbicara tentang kondisi kekinian kita hidup di perkotaan, orang urban yang "mengada" dalam menghadapi hidup sehari-hari, mulai dari "Pertunjukan Malam" yang berkisah sulitnya memilah dan memilih realita dan "pertunjukan" yang ada di kehidupan bermasyarakat, orang-orang yang tidak menyenangkan dalam "Disturbia" dan "Bajingan Ibukota", dan permintaan pada generasi yang terdahulu dan semacam doa dalam lagu "Dewasa". Sebuah permintaan tulus walau sulit diwujudkan di Indonesia saat ini...ajari aku cara lain untuk berdoa..., mungkin tidak melalui jalan kekerasan dan cara "mendaku" yang berlainan.


Kita pun sebagai pendengar oleh Luky Annash diberikan "cara lain" untuk mendengarkan melalui musik yang bagus dan lirik yang ringkas namun kuat bertenaga.

Daftar lagu:
  1. Kaki Langit
  2. Kritik Tanpa Solusi
  3. Musik
  4. Bahasa
  5. Pertunjukan Malam
  6. Bajingan Ibukota
  7. Dewasa
  8. Disturbia
  9. Jakarta
  10. Siksa
  11. Kaki Langit (Reprise)

Rabu, 25 Januari 2012

15 Album Indonesia Terbaik 2011

Sudah hampir sebulan kita meninggalkan tahun 2011. Tahun 2011 kemarin itu tahun yang cukup menggembirakan bagi penggemar musik Indonesia seperti saya. Walau tidak ada banyak album yang luar biasa, album-album yang hadir dari para musisi dan penyanyi Indonesia tetaplah bagus terutama menginjak akhir tahun. Keberagaman musik dan juga topik lagu dalam album tetap beragam. Kita juga menyaksikan semakin kuatnya distribusi melalui jaringan retail tertentu, antara lain melalui jaringan rumah makan cepat saji dan minimarket, bahkan pom bensin juga dimanfaatkan sebagai jejaring distribusi.

Hal lain yang menarik adalah dengan semakin terkaitnya teks (media) musik rekaman dengan teks lain, semisal karya sastra. Album musik juga semakin dirayakan dalam konteks komunitas. Dengan demikian, musik semakin melampaui batas-batas konvensionalnya. Cara bertutur album juga semakin bercerita dengan utuh, tidak lagi parsial pada tiap lagu, melainkan menjadi satu kesatuan topik. Pada titik ini album bisa dianggap sebagai sebuah novel, bukan lagi kumpulan cerita pendek. Walau begitu, kecenderungan ini bisa saja tak bagus bagi sebagian penyuka musik karena memupus fantasi satu lagi yang mudah dicerna dan diresapi.

Hal lain yang juga perlu disampaikan adalah tidak adanya pretensi dari penulis untuk kelihatan pintar dan menguasai pengetahuan mengenai musik Indonesia. Saya hanyalah satu dari jutaan penggemar musik Indonesia yang berharap musik Indonesia lebih baik lagi; karya-karya yang muncul akan semakin bagus nantinya, tidak memplagiat musik luar negeri atau musik dari mana pun, dan masyarakat semakin menghargainya.

Berikut ini 15 album Indonesia terbaik 2011 menurut saya:



Pertama, album "Komposisi Delapan Cinta" oleh Ubiet & Dian HP. Album ini merupakan kolaborasi penyanyi dan penata musik yang ciamik. Lagu juga dikaitkan dengan teks puisi yang sungguh indah. Maklum saja, lirik delapan lagu pada album ini berasal dari puisi-puisi Nirwan Dewanto dan Sitok Srengenge.



Kedua, album kolaboratif berjudul "Ngayogjazz - Mangan Ora Mangan Ngejazz". Album ini berasal dari komunitas pecinta jazz di kota sejuta kreativitas bernama Yogyakarta. Enam lagu pada album ini merupakan cerminan dari lokalitas Yogya dengan jazz yang global. Album yang ditunda rilisnya karena erupsi Merapi ini merupakan perayaan berkomunitas dan bermusik. Saya ingat indah dan meriahnya suasana Ngayogjazz di padepokan Djoko Pekik pada awal tahun kemarin yang menunjukkan keistimewaan Yogya terletak pada orang-orangnya.





Album Tohpati Bertiga yang berjudul "Riot" ada di urutan ketiga. Rangkaian lagu yang agak menghentak dan direkam secara langsung ini justru menguatkan substansi album. Sesuai dengan judul albumnya, musik yang hadir sepintas tidak ditata dengan baik namun tetap enak didengar. Urutan berikutnya adalah album "Satu untuk Berbagi" dari band yang begitu produktif di tahun 2011, Gugun Blues Shelter. Album yang menunjukkan bahwa aliran blues juga bisa mudah didengar dan merepresentasikan sekelompok musisi Indonesia dengan talenta luar biasa.





Kelima, album yang sama dengan nama penyanyinya, "Jemima". Debut yang bagus dari penyanyi yang menyanyi dari "hati". Penyanyi yang diharapkan berkarir panjang dan terus merilis album cemerlang. Berikutnya adalah album "Indonesia" dari Morfem. Album yang berkisah tentang ke-Indonesia-an kita sehari-hari. Musik yang bagus dan lirik "nyleneh" ala vokalis the Upstairs membuat kita tak henti mendengarkan (mini) album ini.





Ketujuh adalah album Trisum yang berjudul "Five i One". Satu lagi band dan album dari para musisi kugiran Indonesia. Musik yang dimainkan di sini membuat kita melupakan sejenak bahwa negeri ini penuh dengan album "menye-menye". Urutan berikutnya adalah album "Cinta dan Nafsu" dari Superglad. Sebenarnya cinta kalah oleh nafsu di album ini karena lirik-lirik lagunya begitu "nakal". Lelaki Indonesia yang besar di tahun 1980-an dan menjadikan stensilan "Enny Arrow" sebagai bacaan wajib pasti tertawa, atau minimal tersenyum, mendengarkan album ini.





Urutan kesembilan adalah album "Generasi Synergy" oleh Barry Likuwahuwa Project. Album berisi musik jazz "modern" dan diiringi lirik yang mudah dicerna anak muda menjadikan album ini memiliki dua misi: mengapresiasi jazz dan ke-Indonesia-an versi anak muda. Berikutnya adalah album Polyester Embassy yang bertajuk Fake/Faker. Musik yang ditampilkan di album ini begitu membius dan menunjukkan tidak ada musik yang benar-benar "asli".





Kesebelas, adalah album "DGNR8" dari BRNDLS (Brandals). Band ini mengubah aliran musiknya di album ini. Walau begitu, album ini tetap enak didengarkan dan menarik dicermati liriknya, terutama lagu "Awas Polizei!". Perasaan yang sama dimiliki oleh banyak orang Indonesia. Berikutnya adalah album "Find the Way" oleh Sandhy Sondoro. Menurut saya, album ini lebih bagus dari album pertamanya yang rilis di Indonesia, terutama tafsir ulang lagu "Anak Jalanan" dan "Tak Pernah Padam".





Ketigabelas, album karya Sheila on 7 yang berjudul "Berlayar". Musik yang kembali ke akar mereka dulu, juga liriknya yang mudah dicerna dan berakar dari kehidupan anak muda, menjadikan album ini salah satu dari tiga album terbaik Sheila on 7. Urutan berikutnya adalah album "Photograph" dari The Milo. Album yang "ambisius" karena berupaya untuk mendapatkan dimensi ruang dari musiknya. Dan kita yang mendengarkan album ini dengan intens bisa merasakan efek "meruang" dan "meraung".



Terakhir, adalah album dari Naif, "Planet Cinta". Album yang seluruh lagunya enak didengar dan tetap dengan lirik yang khas Naif. Tema cinta dibabat habis dari banyak sisi, terutama cinta yang dibanyolkan. Album yang bisa membuat tersenyum ketika didengarkan.

Semoga tahun ini musik Indonesia menghasilkan banyak album bagus. Selamat mendengarkan dan mengamati musik kita yang beragam dan semoga semakin bagus. Sebagai penutup, bagaimana dengan daftar album terbaik versi teman-teman pendengar musik Indonesia?

Kamis, 17 November 2011

Musik Rekaman sebagai Media

Sampai sekarang masih terdapat perbedaan dalam memandang musik rekaman atau musik populer apakah termasuk dalam bentuk media atau tidak. Pihak yang berpendapat bahwa musik rekaman bukanlah media, berargumen bahwa musik rekaman "hanyalah pendukung" media. Musik populer menjadi isi pesan media untuk radio siaran dalam bentuk lagu dan televisi dalam bentuk video klip, namun bukan media itu sendiri. Tentu saja pihak yang berpendapat bahwa musik populer sebagai pendukung media ini memiliki pijakan argumen. Biasanya posisi ini diambil oleh para pembelajar ilmu komunikasi dan kajian media yang menggunakan referensi lama. Buku-buku pengantar media yang diterbitkan sampai pada pertengahan 1990-an memang tidak menyebut musik rekaman sebagai media melainkan hanya bagian dari radio siaran.

Pendapat kedua, yang menurut saya lebih sesuai, menempatkan musik populer sebagai salah satu bentuk media. Berdasarkan telaah formula Lasswell, who says what in which channel to whom with what effect, jelas sekali menempatkan musik populer sebagai bagian dari media, terutama media massa, walau ketika berformat digital musik rekaman menjadi isi pesan bagi media baru. Buku-buku referensi tentang pengantar media juga menempatkan musik populer sebagai bagian dari media.

Salah satu pemikir media yang memberikan penjelasan paling baik mengenai musik rekaman sebagai salah satu bentuk media adalah Denis McQuail di dalam buku komprehensifnya, Mass Communication Theory. McQuail melihat dua aspek dari musik populer sebagai media, yaitu aspek medium dan aspek institusional. Aspek medium memiliki karakter sebagai berikut: pertama, musik rekaman terutama memberikan pengalaman pada audio. Walau pada akhirnya musik rekaman berbentuk audio-visual menjadi videoklip yang disiarkan di televisi dan internet, "pengalaman audio" adalah hal yang utama bagi pendengar musik rekaman.

Kedua, musik rekaman memberi kepuasan personal dan emosional kepada audiensnya, bukan pada kepuasan kelompok ataupun intelektual walau sebenarnya bisa saja pengalaman kelompok dalam mendengarkan musik sangat mungkin muncul. Pun pengalaman intelektual bisa muncul terutama dari lagu yang diramu dengan lirik yang mengutamakan pemikiran. Namun pengalaman akses yang bertujuan pada kepuasan personal dan emosional memang yang utama.

Ketika, musik rekaman memiliki daya tarik utama pada kaum muda. Walau pendengar secara umum meliputi seluruh usia, sejatinya audiens musik rekaman adalah kaum muda. Kaum mudalah yang menggerakkan industri musik rekaman. Mereka yang menjadi produsen, konsumen, dan distributor dari pesan media musik rekaman.

Pesan musik rekaman mudah didapat dan fleksibel untuk diakses oleh audiens adalah karakter yang terakhir. Audiens bisa mengakses dari perangkat yang sangat sederhana, misalnya mp3 player, atau yang paling kompleks. Intinya pendengar kini dengan sangat mudah mendapatkan bentuk musik rekaman yang mereka inginkan.

Untuk aspek institusional, musik rekaman sebagai media memiliki karakter sebagai berikut: pertama, musik rekaman berada dalam situasi di mana regulasinya tidak terlalu ketat. Regulasi yang paling berkaitan adalah regulasi atas hak cipta yang juga sulit diterapkan dalam realitas.

Kedua, musik rekaman memiliki keterkaitan yang tinggi dengan internasionalisasi. Trend yang terjadi di Barat atau Korea misalnya, dengan sangat mudah menyebar ke seluruh dunia. Musik barat secara umum memang masih menjadi rujukan namun dalam perjalanannya musik yang berasal dari belakan dunia lain, bahkan dari Timur, juga bisa menjadi trend yang melanda dunia.

Ketiga, musik rekaman terdiri dari beragam teknologi dan platform. Dengan demikian, pesan musik rekaman mudah diproduksi, didistribusikan, dan diakses karena beragamnya perangkat dan platform tadi. Internet misalnya, melalui dua situs terkenal Youtube dan Myspace, dengan cepat menyebarkan karya musik rekaman ke mana pun dan dengan cepat.

Secara organisasi, musik rekaman terfragmentasi dan cenderung tidak tersentralisasi seperti halnya media lain. Produsen musik rekaman misalnya, bisa sangat beragam, bukan hanya label dan penyanyi, namun juga penulis lirik, pencipta lagu dan sutradara video klip, walau penyanyi adalah yang paling utama dalam konteks produsen pesan musik rekaman.

Karakter berikutnya adalah musik rekaman biasanya dikaitkan dengan industri media utama dan juga budaya dominan dari kaum muda yang sedang berkembang. Walau begitu, karakter ini bisa jadi tidak terlalu tepat karena dalam kenyataannya masih ada musik rekaman "alternatif" yang bertujuan tidak menjadi bagian dari industri media dominan atau pun tidak menyasar pada budaya dominan kaum muda.

Bila didiskusikan lebih jauh musik rekaman sungguh menarik dan menggugah. Masih banyak wilayah musik rekaman yang bisa dieksplorasi dan diperbincangkan. Saya mengundang rekan-rekan untuk mendiskusikannya lebih detail dan mendalam.

Senin, 26 September 2011

1991

Tahun 1991 adalah tahun yang mengesankan bagi saya dalam mengakses media musik populer. Bagaimana tidak mengesankan, pada tahun 1991 itu dirilis lima album adikarya yang gaungnya masih terasa sampai kini dan pada tahun 2011 ini kelimanya telah berusia dua dekade. Usia yang terbilang lumayan panjang untuk sebuah album yang terus dibicarakan dan dirujuk. Bukannya meredup, kelima album tersebut menemukan relevansinya kembali bahwa untuk mengkreasi album, atau konten media pada umumnya, perlu membaca tanda-tanda jaman. Kita tahu secara global pada tahun 1991 itu, euforia kondisi dunia yang lebih baik merebak karena runtuhnya polarisasi politik internasional dan juga mulai didengarnya suara-suara kaum “pinggiran”. Kualitas kelima album tersebut akan lebih terasa apabila kelimanya dibandingkan dengan album-album yang dirilis beberapa tahun belakangan. Saya rindu dengan satu tahun dengan banyak album bagus seperti tahun 1991. Saya juga baru menyadari kelima album ini sudah "dewasa", berusia dua puluh tahun, ketika beberapa rekan memasang status atau menulis di situs jejaring sosial tentang usia dua album adikarya tersebut, double album “Use Your Illusion” dari Gun N Roses dan “Nevermind” dari Nirvana. Tiga album adikarya lain yang dirilis pada tahun 1991 tersebut adalah “Ten” oleh Pearl Jam, “Achtung Baby” dari U2, dan “Out of Time” dari REM.

Selain memang sangat bagus, bukan kebetulan juga bila kelima album tersebut mempengaruhi aktivitas saya dalam mengakses media musik populer setelahnya, dan pesan media pada umumnya, bahwa untuk mengakses pesan media kita mesti memilih dan memilah terlebih dahulu, terutama mendahulukan para adikarya. Tulisan ini tidak berusaha mereview kembali lima album tersebut melainkan hanya sekadar refleksi sederhana saya dalam memenyenangi musik populer sebagai teks media. Kelima album ini sangat bagus dan memberikan pengaruh kepada saya dengan caranya masing-masing. "Use Your Illusion" sudah saya dengarkan sama dengan ketika album ini dirilis ketika saya kelas dua di sekolah menengah atas. Saya menyukai album walau tidak pernah menjadikannya sebagai album favorit, juga band favorit untuk penyanyinya. Hal yang saya tahu album ini bagus dan banyak rekan di sekolah menyukainya. Pada tahun itu dan beberapa tahun sesudahnya, lagu "Don't Cry", "November Rain", dan "So Fine" tak henti memenuhi udara siaran radio, apalagi pada masa itu media radio siaran memang masih sangat populer bila dibandingkan dengan media lain, termasuk televisi pada saat itu yang membosankan acaranya. Bila diibaratkan manusia lain, album ini bukanlah teman baik tetapi kita bisa tetap menghormati kualitas karakter manusia itu tanpa harus menjadikannya teman baik.




Album "Nevermind" dari Nirvana sedikit berbeda kisahnya. Album ini juga saya dengarkan pada tahun yang sama dengan tahun dirilisnya, namun awalnya saya tidak begitu menyadari kehadirannya walau lagu "Smell like Teen's Spirit" memukau saya karena musik dan video klipnya. Saya baru mengakses penuh album ini ketika mendengar album Nirvana setelahnya, "In Utero" (1993), setelah Kurt Cobain bunuh diri dan Duran Duran mengkover lagu Lithium dengan sangat bagus untuk mengenang Cobain. Setelah itu, album Nevermind ini selalu relavan bagi saya. Album ini tidak pernah usang dengan semangat perlawanan dan musiknya yang merata bagus pada tiap lagu, selalu membuat hidup layak diperjuangkan. Bila diibaratkan teman, album ini adalah teman yang menggugah dan mengubah hidup saya menjadi lebih mengasyikkan.




Album "Ten" dari Pearl Jam seringkali dibandingkan dengan album "Nevermind" dari Nirvana. Untungnya "Ten" tidak saya dengarkan dengan intens pada saat yang bersamaan dengan mendengarkan "Nevermind" jadi saya tidak terjebak dalam hiruk-pikuk membanding-bandingkan. Lagipula, mengapa dibandingkan, keduanya berbeda dan bagus dengan caranya masing-masing. Saya mendengarkan album ini dengan intens lima tahun kemudian, pada tahun 1996, walau "Jeremy" sudah sejak awal rilis saya dengarkan. Saya terkesima dengan semua lagu di album ini, terutama lagu "Black". Pada saat itu kemungkinan besar saya mulai menyadari ada sesuatu yang indah bisa kita rasakan dari sebuah album utuh bila kita mendengarkannya dengan intens. Selalu ada yang baru ketika saya mendengarkan album ini. Bila diibaratkan manusia lain, album ini seperti teman yang perlahan kita kenali dengan baik dan pada akhirnya menjadi sohib kental.




Album keempat yang merupakan adikarya yang dirilis pada tahun 1991, yang juga mempengaruhi aktivitas saya dalam mengakses musik rekaman adalah "Achtung Baby" dari U2. Inilah album U2 pertama, bersama "Zooropa" (1993), yang saya dengarkan, barulah "Rattle and Hum" (1988) ke belakang. Bisa dikatakan di antara kelimanya, album inilah yang berpengaruh besar bagi saya dalam mendengarkan musik rekaman juga panduan saya mengakses album-album setelahnya. U2 pun menjadi band terfavorit saya sampai sekarang bersama Sonic Youth, REM, dan Radiohead, walau belakangan ini agak menurun mengingat U2 sibuk dengan liputan media tanpa karya yang benar-benar bagus seperti dulu. Album ini menunjukkan pada saya bahwa aktivitas mengakses musik rekaman bukan hanya mendengar, melainkan juga aktivitas berpikir. Saya merasa lebih memahami postmodernisme setelah mendengarkan album ini dengan intens, terutama dari lagu “The Fly”, "Even Better Than Real Thing" dan " Tryin' To Throw Your Arms Around The World".
Di dalam klip lagu “The Fly” misalnya, sang vokalis, Bono, berperan menjadi lalat yang “menempel” ke sana ke mari. Postmodernisme bisa diibaratkan demikian karena dia bisa menempel dan coba menjelaskan banyak hal pada banyak bidang ilmu. Tetapi apa yang terjadi pada posmo bila pada akhirnya dia sendiri telah menjadi metanarasi? Namun lagu ini menjadi agak menurun kadar bagusnya ketika ada band Indonesia yang menjadi epigon U2 yang jauh lebih banal memilih nama “The Fly” sebagai nama bandnya. Kalimat …“and a woman needs a man like a fish needs a bicycle” dalam lagu “Tryin' To Throw Your Arms Around The World” sejak awal sudah membuat saya tersenyum dan menyadari sulitnya berelasi dalam artian positif, terutama relasi antar gender. Bila diibaratkan manusia lain, album ini bagi saya adalah teman akrab yang bisa menjadi mitra untuk pikiran dan hati. Sahabat yang berdualitas dengan kita tanpa berhenti.




Terakhir, album adikarya yang dirilis pada tahun 1991, yang berperan dalam aktivitas mengakses pesan media musik rekaman bagi saya adalah “Out of Time” dari REM. Awalnya, album ini terlewati oleh saya karena rekan-rekan tidak membicarakan sebelumnya. Namun ketika beberapa hari yang lalu REM mengumumkan pembubaran dirinya, album ini langsung teringat. Apalagi, beberapa teman penggemar REM berduka karena pembubaran band legendaris ini. Saya pun bersedih, namun apa yang abadi di dunia ini? Yang fana selalu tak kekal. Kita hanya bersyukur karena pernah mendapat lagu-lagu dan banyak album yang bagus dari REM. Secara tak langsung album “Nevermind” berperan pada teraksesnya album ini karena saya mendapatkan album ini dari barter dengan album “Nevermind”. Saya memiliki dua album “Nevermind” karena secara tak sengaja membelinya kembali ketika tak ada pilihan kaset untuk dibeli. Walau kaset populasinya lebih banyak dibandingkan sekarang di toko-toko, tetap saja kita mesti menunggu lama bila satu rilisan telah habis. Karena itulah, tawaran rekan saya untuk bertukar dengan kaset “Out of Time” langsung saya terima. Siapa yang bisa melupakan lagu “Losing My Religion”, “Near Wild Heaven”, dan “Shiny Happy People”? bukan hanya ketiga lagu ini saja sebenarnya yang bagus, secara keseluruhan album ini berisi lagu-lagu yang solid. Album ini membicarakan banyak hal, namun tafsir atas religiusitas adalah salah satu hal utama. Bila diibaratkan teman, album ini mirip dengan album “Achtung Baby” bagi saya: Sahabat yang berdualitas dengan kita tak henti.




Begitulah, untuk merayakan dua dekade kelima album ini saya memutar lagi kelimanya seharian penuh. Ajaibnya, waktu seperti berputar dan membuat saya merasakan keindahan kenangan dua puluh tahun terakhir. Masa yang lumayan panjang, dan saya masih ingin yang Maha Ada mengijinkan saya terpukau lagi dengan album-album bagus yang bertahan dalam waktu yang lama, terpukau lagi dengan seluruh kehidupan dan karya-karya luar biasa yang ada di dalamnya. Bukan hanya musik populer tetapi semua jenis pesan media.

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...