Di dalam sebuah wawancara, salah satu pemikir favorit saya, Michel Foucault, pernah berpendapat begini: “banyak cara untuk diam, sebagaimana banyak cara untuk berbicara”. Begitu kira-kira terjemahan bebasnya. Komentar itu bisa diperluas lagi, tidak hanya diam dan berbicara, juga bermimpi, berbicara, dan menulis pun adalah beragam. Semua aktivitas manusia adalah tindakan, sekali pun itu dilakukan dengan diam dan hanya bermimpi.
Pemikiran Foucault inilah yang kemudian menjadi dasar bagi pemikirannya yang lain. Secara teknis dalam melihat fenomena, pemikirannya termaktub dalam istilah geneologi, arkeologi dan wacana. “Tindakan” yang melahirkan kekuasaan tidak hanya muncul dari aktivitas fisik, melainkan juga kata-kata (dan juga dalam diam). Dari sinilah muncul istilah efek diskursif dari kekuasaan dan tindakan.
Mendengarkan album ini saya jadi tertarik untuk menafsir-nafsir istilah mimpi dan aktivitasnya, bermimpi. Bermimpi bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, mimpi yang sedikit berkonotasi dengan hal positif. Mimpi dalam sisi ini ditafsirkan sebagai harapan walau kemungkinan kondisi riil atau kenyataan kurang atau belum mendukung pencapaian harapan tersebut. Bermimpi di sini juga diartikan sebagai aktivitas penuh kesadaran.
Pada sisi lainnya, mimpi memiliki konotasi yang agak negatif. Mimpi di sini diartikan sebagai lamunan dan khayalan yang tak mungkin terwujud. Pada titik ini bermimpi dianggap sebagai aktivitas tanpa kesadaran. Mimpi kala tidur ataupun melamun adalah mimpi pada varian ini.
Tetapi tunggu dulu, sebaiknya kita jangan memandang remeh mimpi terlebih dulu. Bermimpi bisa jadi menunjukkan kenyataan atau kebenaran seseorang yang sesungguhnya. Bila kita memandang mimpi, bermimpi, dan pemimpi, sebagai hal yang “serius”, kita pasti tidak bisa melupakan Sigmund Freud dan Jacques Lacan.
Freud sang perintis psikoanalisis, adalah orang yang pertama-kali melihat mimpi sebagai elemen yang penting bagi kondisi psikis seseorang. Hal-hal yang tidak disadari semisal mimpi, igauan, trauma, bahkan selip lidah, justru dapat menunjukkan kenyataan akan kondisi mental seseorang. Ia melihat bahwa apa pun yang tidak disadari, termasuk mimpi, ternyata justru dapat menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya dari seseorang.
Lacan kemudian memperluas konsepsi yang dirintis oleh Freud. Sebagai salah satu murid Freud, ia tetap bepijak pada psikoanalisis dan mengembangkannya lebih jauh sampai melampaui kajian psikologi. Pengaruh Lacan yang sangat kuat sampai pada bidang studi tanda dan linguistik. Lacan menunjukkan bahwa bahasa mampu mengungkapkan sesuatu yang lain dari yang terdengar, terlihat, dan tertulis. Aktivitas kebahasaan di sini juga merujuk pada aktivitas bermimpi.
Kalimat terkenal yang diucapkannya pada dekade 1950-an adalah: bahasa berbicara melalui manusia sama seperti manusia mengucapkannya. Dengan demikian, mimpi seharusnya dipisahkan dari sang pemimpi. Mimpi adalah perwujudan hasrat sehingga identitas subyek tidaklah diakui. Mimpi justru digunakan secara terus menerus untuk mempertanyakan subyek.
Begitulah, menurut saya, album ini tidak mengeksplorasi mimpi dengan mendalam. Mimpi masih ditafsirkan sebagai aktivitas yang baik-baik saja, bukan aktivitas yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi hal-hal lain. Bukan aktivitas yang potensial “subversif”. Bila dibandingkan dengan prekuel “Sang Pemimpi”, yaitu “Laskar Pelangi”, terlihat bahwa album ini kalah kaya dalam hal tafsir bila dibandingkan dengan pendahulunya itu. Terasa betul bagaimana “Laskar Pelangi” optimal dalam menafsirkan multikulturalime dan optimisme akan kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan.
Atau kemungkinan saya juga kurang fair dalam menakarnya? Sewaktu menakar OST “Laskar Pelangi”, saya mendapatkan efek “kombo” dari seluruh format pesannya; novel, film, dan OST-nya sendiri. Sewaktu menakar OST “Sang Pemimpi” ini saya belum menyelesaikan novelnya, apalagi filmnya pun belum bisa diiakses. Filmnya baru diputar pertengahan Desember ini. Walau demikian, “Laskar Pelangi” sebagai satuan pesan pun memang sudah bagus; novel bagus, film bagus, dan OST bagus, sehingga ketika dikombinasikan menjadi bagus bagus bagus….hehe…
Bukan hanya masalah tafsir yang tercermin dalam lirik lagu, pada keberagaman musik pun, album ini tidak sekaya album sebelumnya. Pada “Laskar Pelangi” kita mendapatkan beragam aliran musik dan nuansa, pada “Sang Pemimpi” keberagaman itu berkurang sedikit. Pada album sebelumnya, hampir semua lagu memiliki kualitas bagus untuk menjadi hit, terutama pada lagu “Laskar Pelangi” dari Nidji, yang termasuk 150 lagu terbaik Indonesia versi Rolling Stone Indonesia. Sementara di album “Sang Pemimpi”, lagu yang paling kuat adalah lagunya Gigi yang berjudul “Sang Pemimpi” walau keindahannya tidak langsung terasa saat pertama-kali mendengarkannnya.
Selain tidak bisa mengelak dari perbandingan dengan OST “Laskar Pelangi”, album ini juga bisa dibandingkan dengan OST “New Moon” yang sekarang ini sedang filmnya sedang merajai pemutaran di bioskop seluruh dunia. Dua OST dari film “Twilight” dan “New Moon” dinilai banyak pengamat memiliki kualitas yang setara. Bila “Twilight” berbicara tentang musik mainstream yang oke, “New Moon” berniat melambungkan kualitas musik indie yang keren. Kecuali lagu Muse yang menjadi keharusan di dalam semua OST serial karya Stephanie Meyer itu, semua lagu dalam kedua OST tersebut terlihat dirancang dengan baik dan dikaitkan dengan misi tertentu.
Sebenarnya, bila OST “Sang Pemimpi” berniat menyampaikan “sesuatu” dalam hal musik, sebenarnya ada kesempatan besar di sini. Katakanlah, OST ini berniat menampilkan band-band baru dengan visi musik yang bagus. Visi ini bisa dikaitkan dengan para tokoh filmnya yang memang ada dalam kehidupan remaja.
Mendengarkan album ini juga saya merasakan benar atmosfer musik Indonesia yang semakin dinamis. Di akhir tahun ini banyak album bagus bermunculan. Hal ini mirip dengan musik manca negara yang produknya bertambah banyak dari sisi kuantitas, juga kualitas, pada akhir tahun. Pada akhir tahun seperti ini biasanya banyak album “best of” dan album baru yang dirilis.
Kedinamisan itu juga bisa kita rasakan dari perancangan rilis yang terencana baik dalam konstelasi pesan media; novel, OST, film, juga dengan memperhatikan rilisan album musik dan film lain. Walau tidak sebagus OST prekuelnya, album ini tetap layak dinikmati. Akan lebih nikmat bila kita membaca novelnya lebih mendalam dan mencoba tafsir lain. Bukankah keberagaman tafsir akan membuat pencerahan lebih mungkin hadir?
OST - Laskar Pelangi (2009)
Daftar lagu:
1. Gigi – Sang Pemimpi
2. Ipang – Apatis
3. Ungu – Cinta Gila
4. Claudia Sinaga – Ini Mimpiku
5. Jay Wijayanto – Rentak 106 (Pak Ketipung)
6. Ipang – Teruslah Bermimpi
7. Rendy “Arai” Ahmad – Zakiah Nurmala
8. Silentium – Para Pemimpi
9. Bonita – Komidi Putar
10. Rendy “Arai” Ahmad – Fatwa Pujangga
11. Maudy, Rendy, Claudia – Mengejar Mimpi
12. NineBall – Tetaplah Berdiri
13. Ungu – Cinta Gila (Bonus Version)
Kamis, 31 Desember 2009
Don't Kill the Messenger
Sekitar dua minggu yang lalu kita dikagetkan dengan pemanggilan dua pimpinan redaksi media cetak, Kompas dan Seputar Indonesia, oleh Kepolisian RI berkaitan pemuatan hasil sadapan KPK di media mereka. Mengapa dipanggil dan untuk urusan apa? Begitulah yang dipikirkan oleh kita. Bila masalahnya adalah masalah pemuatan, berapa banyak surat kabar yang memuatnya, sejumlah situs berita juga memuatnya. Mengapa hanya dua surat kabar itu yang pengasuhnya dipanggil? Urusan itu menjadi lebih besar karena dinilai sebagai bentuk pengekangan kebebasan bermedia yang kita rasakan pada era reformasi ini. Polisi sampai membuat istilah BAI (Berita Acara Investigasi) yang sebelumnya tidak dikenal dalam bidang hukum.
Situasi kebebasan bermedia memang dipersoalkan lagi belakangan ini. Seorang penggiat kebebasan informasi, Agus Sudibyo mengistilahkan kebebasan bermedia yang ada dengan nama “kebebasan semu” karena masih tingginya kemungkinan intervensi dari negara (juga pemerintah), pasar, bahkan sekelompok masyarakat terhadap media. Metafor yang dapat menjadi contoh bagus adalah penggunaan istilah cicak versus buaya. Pers (media dalam fungsi menyampaikan informasi faktual) digambarkan sebagai pihak yang lemah, sementara kepolisian dipandang sebagai pihak yang sangat kuat. Metafor tersebut sempat memunculkan masalah karena kapolri meminta media tidak lagi menggunakan istilah cicak vs buaya, padahal metafora itu muncul dari polisi sendiri. Media masih rentan dikooptasi walau sebenarnya dalam kondisi Indonesia sekarang, media memiliki kemampuan pengaruh terbesar dalam pembentukan opini publik.
Walau begitu, wartawan dipanggil oleh institusi “kuasa” tetaplah hal yang berlebihan. Seharusnya kepolisian berdialog dan mengeluarkan informasi yang benar. Media, dan pekerjanya, terutama wartawan, adalah mata bagi masyarakat sehingga tidak boleh diintervensi dalam menjalankan profesinya. Mereka menjadi penghubung masyarakat dan penguasa, sekaligus menjalankan fungsi sebagai pengawas kekuasaan. Tetapi masalahnya, bagaimana bila media tidak “dipercaya” menyampaikan suara masyarakat? Bagaimana bila media hanya dipandang sebagai corong lawan politik, menyuarakan pihak yang berseberangan dengan penguasa?
Solusinya tetap saja penguasa tidak boleh memanggil wartawan. Bila ada keberatan berdialog-lah dan bersama-sama membenahi kebebasan berdemokrasi yang telah ada. Jangan mengorbankan kebebasan pers yang sudah kita rasakan sebagai amanat pasal 28 Undang Undang Dasar 1945. Kebebasan yang konstruktif dan tak bernilai yang sudah kita rasakan sejak 1998.
Ternyata peristiwa pemanggilan itu belumlah seberapa. Di negara tetangga, Filipina, seminggu lalu terjadi peristiwa yang lebih mengangetkan kita. 30 orang dibunuh dengan keji karena peristiwa politik. Para jurnalis itu dibunuh karena berada bersama-sama tokoh politik yang ingin mencalonkan diri sebagai walikota di sebuah propinsi di Filipina selatan. Kemungkinan para wartawan bukanlah pendukung tokoh politik tersebut. Mereka menjalankan profesi mereka. Kurang lebih 100 orang terbunuh di dalam peristiwa tersebut.
Peristiwa di Filipina itu adalah catatan terkelam dalam pemberangusan kebebasan pers dan kerja jurnalistik para wartawan pada tahun ini. Berdasarkan laporan Asosiasi Surat Kabar Dunia (WAN) dan Forum Editor Dunia (WEF) di dalam pertemuan Kongres Asosiasi Surat Kabar Dunia di Hyderabad, India, yang berlangsung mulai dua hari lalu, wartawan yang terbunuh di seluruh tahun 2009 ini adalah 88 wartawan. Sepanjang dekade ini sudah 750 terbunuh di seluruh dunia (Kompas, 2 Desember 2009).
Saya hanya berpikir, apa yang ada di pikiran para penguasa atau orang-orang yang mencari kuasa sehingga para wartawan dibunuh?
Ini adalah pertanyaan kuncinya. Apakah memang kekuasaan yang sebenarnya merupakan amanat rakyat itu sedemikian ”sakral” sehingga tidak ada keinginan penguasa untuk diawasi oleh media sebagai mata masyarakat? Saya kira permasalahannya adalah bagaimana secara etis maupun hukum, beserta penegakannya. Wartawan dilindungi dalam menjalankan profesinya. Jaman dulu saja, di era kerajaan, kurir pembawa pesan adalah orang yang tidak boleh dibunuh walaupun kedua kerajaan itu berkonflik.
Kalau pun wartawan dinilai keliru, pihak yang merasa dirugikan sebaiknya menggunakan aturan hukum yang ada dan jangan berniat melukai sedikit pun, apalagi membunuh. Membunuh sang pembawa pesan berarti membunuh mata masyarakat. Entahlah, mungkin saya hanya mencoba menggumamkan keresahan saya. Saya mencoba tidak bersedih. Tetapi rasa sedih itu tidak hilang jua karena ada lagu yang terdengar di sekitar saya. Lagu bagus yang dinyanyikan oleh Iwan Fals dan Kantata Samsara, berjudul “Lagu Buat Penyaksi (Udin)”, Matinya seorang penyaksi/bukan matinya kesaksian/tercatat direlung jiwa/menjadi bara membara.....
Jangankan ”merancang” keselamatan profesi wartawan, ”utang” bangsa ini untuk mengungkap pembunuhan Udin saja belum dituntaskan (juga pembunuhan Marsinah dan Munir). Coba teman-teman hitung sudah berapa lama kasus Udin menghilang atau ”dihilangkan”?
Situasi kebebasan bermedia memang dipersoalkan lagi belakangan ini. Seorang penggiat kebebasan informasi, Agus Sudibyo mengistilahkan kebebasan bermedia yang ada dengan nama “kebebasan semu” karena masih tingginya kemungkinan intervensi dari negara (juga pemerintah), pasar, bahkan sekelompok masyarakat terhadap media. Metafor yang dapat menjadi contoh bagus adalah penggunaan istilah cicak versus buaya. Pers (media dalam fungsi menyampaikan informasi faktual) digambarkan sebagai pihak yang lemah, sementara kepolisian dipandang sebagai pihak yang sangat kuat. Metafor tersebut sempat memunculkan masalah karena kapolri meminta media tidak lagi menggunakan istilah cicak vs buaya, padahal metafora itu muncul dari polisi sendiri. Media masih rentan dikooptasi walau sebenarnya dalam kondisi Indonesia sekarang, media memiliki kemampuan pengaruh terbesar dalam pembentukan opini publik.
Walau begitu, wartawan dipanggil oleh institusi “kuasa” tetaplah hal yang berlebihan. Seharusnya kepolisian berdialog dan mengeluarkan informasi yang benar. Media, dan pekerjanya, terutama wartawan, adalah mata bagi masyarakat sehingga tidak boleh diintervensi dalam menjalankan profesinya. Mereka menjadi penghubung masyarakat dan penguasa, sekaligus menjalankan fungsi sebagai pengawas kekuasaan. Tetapi masalahnya, bagaimana bila media tidak “dipercaya” menyampaikan suara masyarakat? Bagaimana bila media hanya dipandang sebagai corong lawan politik, menyuarakan pihak yang berseberangan dengan penguasa?
Solusinya tetap saja penguasa tidak boleh memanggil wartawan. Bila ada keberatan berdialog-lah dan bersama-sama membenahi kebebasan berdemokrasi yang telah ada. Jangan mengorbankan kebebasan pers yang sudah kita rasakan sebagai amanat pasal 28 Undang Undang Dasar 1945. Kebebasan yang konstruktif dan tak bernilai yang sudah kita rasakan sejak 1998.
Ternyata peristiwa pemanggilan itu belumlah seberapa. Di negara tetangga, Filipina, seminggu lalu terjadi peristiwa yang lebih mengangetkan kita. 30 orang dibunuh dengan keji karena peristiwa politik. Para jurnalis itu dibunuh karena berada bersama-sama tokoh politik yang ingin mencalonkan diri sebagai walikota di sebuah propinsi di Filipina selatan. Kemungkinan para wartawan bukanlah pendukung tokoh politik tersebut. Mereka menjalankan profesi mereka. Kurang lebih 100 orang terbunuh di dalam peristiwa tersebut.
Peristiwa di Filipina itu adalah catatan terkelam dalam pemberangusan kebebasan pers dan kerja jurnalistik para wartawan pada tahun ini. Berdasarkan laporan Asosiasi Surat Kabar Dunia (WAN) dan Forum Editor Dunia (WEF) di dalam pertemuan Kongres Asosiasi Surat Kabar Dunia di Hyderabad, India, yang berlangsung mulai dua hari lalu, wartawan yang terbunuh di seluruh tahun 2009 ini adalah 88 wartawan. Sepanjang dekade ini sudah 750 terbunuh di seluruh dunia (Kompas, 2 Desember 2009).
Saya hanya berpikir, apa yang ada di pikiran para penguasa atau orang-orang yang mencari kuasa sehingga para wartawan dibunuh?
Ini adalah pertanyaan kuncinya. Apakah memang kekuasaan yang sebenarnya merupakan amanat rakyat itu sedemikian ”sakral” sehingga tidak ada keinginan penguasa untuk diawasi oleh media sebagai mata masyarakat? Saya kira permasalahannya adalah bagaimana secara etis maupun hukum, beserta penegakannya. Wartawan dilindungi dalam menjalankan profesinya. Jaman dulu saja, di era kerajaan, kurir pembawa pesan adalah orang yang tidak boleh dibunuh walaupun kedua kerajaan itu berkonflik.
Kalau pun wartawan dinilai keliru, pihak yang merasa dirugikan sebaiknya menggunakan aturan hukum yang ada dan jangan berniat melukai sedikit pun, apalagi membunuh. Membunuh sang pembawa pesan berarti membunuh mata masyarakat. Entahlah, mungkin saya hanya mencoba menggumamkan keresahan saya. Saya mencoba tidak bersedih. Tetapi rasa sedih itu tidak hilang jua karena ada lagu yang terdengar di sekitar saya. Lagu bagus yang dinyanyikan oleh Iwan Fals dan Kantata Samsara, berjudul “Lagu Buat Penyaksi (Udin)”, Matinya seorang penyaksi/bukan matinya kesaksian/tercatat direlung jiwa/menjadi bara membara.....
Jangankan ”merancang” keselamatan profesi wartawan, ”utang” bangsa ini untuk mengungkap pembunuhan Udin saja belum dituntaskan (juga pembunuhan Marsinah dan Munir). Coba teman-teman hitung sudah berapa lama kasus Udin menghilang atau ”dihilangkan”?
Cinta Putih
Katon bersama grupnya, Kla Project, adalah salah satu band legendaris di Indonesia. Kekuatan utama mereka ada pada liriknya yang puitis. Merekalah band yang pertama, setelah jeda cukup lama pasca Eros Djarot dan Guruh Soekarno Putra, yang secara serius menulis lirik yang tidak hanya indah, melainkan juga sarat makna dan mengeksplorasi kekuatan kata-kata dalam bahasa Indonesia. Kata “terpuruk” dan “saujana” adalah contohnya. Entah mengapa sebelum mereka, kedua kata itu seolah hilang dalam kosa kata bahasa kita.
Saya tidak memiliki pengalaman personal dengan lagu ini. Hal yang saya tahu, lagu ini adalah lagu yang indah dan sering saya dengarkan ketika saya kuliah semester awal. Seingat saya, lagu ini versi aslinya muncul dalam sebuah album kompilasi tentang cinta. Kemudian baru muncul di dalam album solo Katon Bagaskara. Kemudian masuk ke dalam kompilasi lagu terbaik yang saya dengarkan ini.
Seperti biasa lagu yang dikemas kembali, saya lebih suka versi aslinya karena lebih akustik. Versi pertama dibuat yang telah indah, biasanya sulit untuk dituangkan lagi sekalipun formatnya tidak berubah banyak. Hal ini sama dengan lagu “Kosong” oleh Pure Saturday di mana versi originalnya, menurut saya lebih “nendang”. Walau begitu, bukan berarti lagu ini berkurang kualitasnya. Lagu ini tetap bagus secara musikal maupun lirik. Coba simak bagian lirik yang ini “cukup bagiku hadirmu membawa cinta selalu”. Kalimat sederhana namun mengena di hati.
Lagu cinta berlirik indah dan sederhana ini bisa menjadi ”asupan” hati agar jadi lebih romantis dan tentunya, agar kita bisa menyintai pasangan kita lebih baik lagi.
Untuk bernostalgia, ini lirik lengkap lagunya….
Cinta Putih
Oleh Katon Bagaskara
Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina
Sepenuhnya terjalin pengertian antara engkau dan aku
Masihlah panjang
Jalan hidup mesti ditempuh
Semoga tak lekang oleh waktu
Cukup bagiku hadirmu membawa cinta selalu
Lewat warna sikap kasih pun kau ungkap
Jika kau bertanya
Sejauh mana cinta membuat bahagia
Sepenuhnya terimalah apa adanya
Dua beda menyatu
Saling mengisi tanpa pernah mengekang diri
Jadikan percaya yang utama
Cukup bagiku hadirmu membawa cinta selalu
Lewat warna sikap kasih pun kau ungkap
T’lah terjawab
Saya tidak memiliki pengalaman personal dengan lagu ini. Hal yang saya tahu, lagu ini adalah lagu yang indah dan sering saya dengarkan ketika saya kuliah semester awal. Seingat saya, lagu ini versi aslinya muncul dalam sebuah album kompilasi tentang cinta. Kemudian baru muncul di dalam album solo Katon Bagaskara. Kemudian masuk ke dalam kompilasi lagu terbaik yang saya dengarkan ini.
Seperti biasa lagu yang dikemas kembali, saya lebih suka versi aslinya karena lebih akustik. Versi pertama dibuat yang telah indah, biasanya sulit untuk dituangkan lagi sekalipun formatnya tidak berubah banyak. Hal ini sama dengan lagu “Kosong” oleh Pure Saturday di mana versi originalnya, menurut saya lebih “nendang”. Walau begitu, bukan berarti lagu ini berkurang kualitasnya. Lagu ini tetap bagus secara musikal maupun lirik. Coba simak bagian lirik yang ini “cukup bagiku hadirmu membawa cinta selalu”. Kalimat sederhana namun mengena di hati.
Lagu cinta berlirik indah dan sederhana ini bisa menjadi ”asupan” hati agar jadi lebih romantis dan tentunya, agar kita bisa menyintai pasangan kita lebih baik lagi.
Untuk bernostalgia, ini lirik lengkap lagunya….
Cinta Putih
Oleh Katon Bagaskara
Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina
Sepenuhnya terjalin pengertian antara engkau dan aku
Masihlah panjang
Jalan hidup mesti ditempuh
Semoga tak lekang oleh waktu
Cukup bagiku hadirmu membawa cinta selalu
Lewat warna sikap kasih pun kau ungkap
Jika kau bertanya
Sejauh mana cinta membuat bahagia
Sepenuhnya terimalah apa adanya
Dua beda menyatu
Saling mengisi tanpa pernah mengekang diri
Jadikan percaya yang utama
Cukup bagiku hadirmu membawa cinta selalu
Lewat warna sikap kasih pun kau ungkap
T’lah terjawab
80-an Itu Indah
Ketika saya menulis status di FB “80-an Itu Indah” beberapa hari yang lalu, teman-teman seangkatan saya serta-merta memberikan komentar. Rata-rata komentarnya positif dan menunjukkan kebahagiaan berkaitan dengan dekade 1980-an. Manusia seusia saya, yang pada era 80-an masih duduk di bangku SD ataupun SMP, pasti punya kenangan indah pada masa itu.
Siapa yang tidak tahu dengan para penyanyi Indonesia pada jaman itu? Ada 2D, Fariz RM, Chrisye, dan masih banyak yang lain. Dari negeri manca ada Duran Duran, Pet Shop Boys, Wham, The Police, dan masih banyak pula yang lainnya. Musik yang indah walau sederhana, dan beragam pula. Pendeknya, era 80-an itu adalah masa indah yang patut dikenang, meskipun mungkin pada beberapa bagiannya tidaklah sebahagia lirik-lirik lagunya.
Bukan hanya media musik rekaman, kebanyakan isi media pada jaman itu akan selalu dikenang. Untuk film televisi misalnya, sebelum era sinetron, kita mengenal banyak seri televisi anak negri yang menarik, ada ACI, Aku Cinta Indonesia, Jendela Rumah Kita, Rumah Masa Depan, dan Losmen. Untuk film di kaset video, sebelum era VCD dan DVD, kita mengenal invasi animasi Jepang bagian pertama. Ada Voltus, God Sigma, Mazingga Z, Ikyu San, dan Candy Candy. Demikian juga media cetak yang masih dominan pada jaman itu. Majalah HAI masih mengulas filsafat Plato dan komik-komik keren semisal Storm, Trigan, Rahan, Roel Djikstra, Arad dan Maya. Juga serial novel Wiro Sableng dan Nick Carter.
Kembali pada album yang kita takar. Album Clubeighties terbaru ini adalah album kedua dari empat album musik Indonesia yang saya dengarkan akhir-akhir ini, selain Melancholic Bitch, Shaggydog, dan OST Sang Pemimpi. Album ini adalah kumpulan lagu yang bagus walau tidak sebagus album pertama dan setara dengan album kedua. Album ini sekaligus menjadi refleksi pribadi saya bagi masa lalu dan masa kini, dan mungkin juga masa depan.
Untuk masa lalu, ternyata saya sudah mengakses album-album Clubeighties sejak lama, tahun 2001, walau pada saat itu saya sama sekali tidak menyukai musik Indonesia. Saya membeli dan mendengarkannya, kemudian melupakannya. Kenyataan tersebut menjadi pelajaran bagi saya atas masa lalu. Saya mencoba melupakan masa lalu tetapi tidak sepenuhnya bisa. Ada bagian-bagian tertentu dari masa lalu yang ingin kita pendam, lalu lupakan. Ajaibnya, suatu saat tetap aja akan ada koneksi dengan masa kini, kita sukai ataupun tidak.
Dua album pertama Clubeighties, Self Title (2001) dan 1982 (2002) yang saya miliki dalam format kaset, dulu saya suka, terutama lagu “Gejolak Kawula Muda” dari album pertama. Lagu tersebut mendapat inspirasi dari film berjudul sama pada dekade 1980-an. Film yang sangat terkenal dibintangi Chica Koeswoyo dan Rico Tampaty. Film itu berbicara tentang wabah breakdance yang menjangkiti anak muda perkotaan Indonesia. “Gejolak Kawula Muda” juga dikenal karena video klip-nya yang bagus. Video klip yang sangat 80-an nuansanya, bulu tangkis, baju warna-warni, dan rambut bergaya Duran Duran.
Nah, album terkini Clubeighties ini sudah hampir sama dengan dua album awal mereka. Seluruh lagu mengingatkan kita pada suara dan atmosfer 80-an. Secara khusus saya jadi teringat dengan lagu bagus pada era 1980-an tetapi mungkin tidak dikenal sampai sekarang. Judul lagunya “Silent Morning”, dinyanyikan oleh Noel. Ada beberapa segmen lagu yang bernuansa “Silent Morning”. Saya sangat rindu dengan lagu-lagu Noel, selain “Silent Morning” itu, dua lagunya yang juga bagus adalah “City Street” dan “Child” dari album yang sama, ditambah lagunya pada tahun 1990-an, “Heart of Fire”.
Di album ini, kesepuluh lagunya adalah lagu-lagu yang enak didengar. Secara khusus, saya sangat menyukai tiga lagu yang muncul di awal, “Terus Berjalan”, “Pelabuhan Hati” dan “Sudah Berakhir”. Tiga lagu yang bila konsisten dipertahankan kualitasnya untuk semua lagu di album ini, akan menjadikan album ini album yang bagus, kemungkinan album terbaik dari mereka. Sayangnya belum mereka lakukan.
Dari sisi lirik mungkin ketiga lagu ini biasa saja, tetapi dari sisi musik lumayan berbeda. Pecinta musik 80-an pasti jatuh cinta. Departemen lirik adalah bagian yang mesti dibenahi bila band ini ingin lebih besar. Juga sebaiknya para personelnya lebih serius bermusik agar lebih kreatif dan produktif. Jangan terlalu banyak terlibat di acara televisi, terutama infotainment …hehe…
Bila sudah dikaitkan dengan masa lalu, setelah itu apa kaitannya dengan masa kini dan masa nanti? Pada masa kini, cukuplah saya nikmati nuansa 80-an ini…Bagaimana dengan masa depan? Nanti sajalah dipikirkan lagi masa depan itu. Toh, bila dijalani, masa depan akhirnya akan menjadi masa kini. Pada akhirnya juga akan menjadi masa lalu yang indah. Seperti era 80-an… slogan MTV untuk dekade 1980-an adalah jaman di mana “orang menari-nari dengan konyol dan potongan rambut buruk”, tetapi semua itu pada jamannya menjadikan kita bahagia, dan sampai sekarang pun ternyata masih membuat banyak orang bahagia.
Clubeighties - 80 Kembali (2009)
Daftar Lagu:
1. Terus Berjalan
2. Pelabuhan Hati
3. Sudah Berakhir
4. Malam Nakal
5. Tak Mungkin
6. Sejauh Bintang
7. Api Asmara
8. Maunya
9. Separuh Kita
10. Kamu
Siapa yang tidak tahu dengan para penyanyi Indonesia pada jaman itu? Ada 2D, Fariz RM, Chrisye, dan masih banyak yang lain. Dari negeri manca ada Duran Duran, Pet Shop Boys, Wham, The Police, dan masih banyak pula yang lainnya. Musik yang indah walau sederhana, dan beragam pula. Pendeknya, era 80-an itu adalah masa indah yang patut dikenang, meskipun mungkin pada beberapa bagiannya tidaklah sebahagia lirik-lirik lagunya.
Bukan hanya media musik rekaman, kebanyakan isi media pada jaman itu akan selalu dikenang. Untuk film televisi misalnya, sebelum era sinetron, kita mengenal banyak seri televisi anak negri yang menarik, ada ACI, Aku Cinta Indonesia, Jendela Rumah Kita, Rumah Masa Depan, dan Losmen. Untuk film di kaset video, sebelum era VCD dan DVD, kita mengenal invasi animasi Jepang bagian pertama. Ada Voltus, God Sigma, Mazingga Z, Ikyu San, dan Candy Candy. Demikian juga media cetak yang masih dominan pada jaman itu. Majalah HAI masih mengulas filsafat Plato dan komik-komik keren semisal Storm, Trigan, Rahan, Roel Djikstra, Arad dan Maya. Juga serial novel Wiro Sableng dan Nick Carter.
Kembali pada album yang kita takar. Album Clubeighties terbaru ini adalah album kedua dari empat album musik Indonesia yang saya dengarkan akhir-akhir ini, selain Melancholic Bitch, Shaggydog, dan OST Sang Pemimpi. Album ini adalah kumpulan lagu yang bagus walau tidak sebagus album pertama dan setara dengan album kedua. Album ini sekaligus menjadi refleksi pribadi saya bagi masa lalu dan masa kini, dan mungkin juga masa depan.
Untuk masa lalu, ternyata saya sudah mengakses album-album Clubeighties sejak lama, tahun 2001, walau pada saat itu saya sama sekali tidak menyukai musik Indonesia. Saya membeli dan mendengarkannya, kemudian melupakannya. Kenyataan tersebut menjadi pelajaran bagi saya atas masa lalu. Saya mencoba melupakan masa lalu tetapi tidak sepenuhnya bisa. Ada bagian-bagian tertentu dari masa lalu yang ingin kita pendam, lalu lupakan. Ajaibnya, suatu saat tetap aja akan ada koneksi dengan masa kini, kita sukai ataupun tidak.
Dua album pertama Clubeighties, Self Title (2001) dan 1982 (2002) yang saya miliki dalam format kaset, dulu saya suka, terutama lagu “Gejolak Kawula Muda” dari album pertama. Lagu tersebut mendapat inspirasi dari film berjudul sama pada dekade 1980-an. Film yang sangat terkenal dibintangi Chica Koeswoyo dan Rico Tampaty. Film itu berbicara tentang wabah breakdance yang menjangkiti anak muda perkotaan Indonesia. “Gejolak Kawula Muda” juga dikenal karena video klip-nya yang bagus. Video klip yang sangat 80-an nuansanya, bulu tangkis, baju warna-warni, dan rambut bergaya Duran Duran.
Nah, album terkini Clubeighties ini sudah hampir sama dengan dua album awal mereka. Seluruh lagu mengingatkan kita pada suara dan atmosfer 80-an. Secara khusus saya jadi teringat dengan lagu bagus pada era 1980-an tetapi mungkin tidak dikenal sampai sekarang. Judul lagunya “Silent Morning”, dinyanyikan oleh Noel. Ada beberapa segmen lagu yang bernuansa “Silent Morning”. Saya sangat rindu dengan lagu-lagu Noel, selain “Silent Morning” itu, dua lagunya yang juga bagus adalah “City Street” dan “Child” dari album yang sama, ditambah lagunya pada tahun 1990-an, “Heart of Fire”.
Di album ini, kesepuluh lagunya adalah lagu-lagu yang enak didengar. Secara khusus, saya sangat menyukai tiga lagu yang muncul di awal, “Terus Berjalan”, “Pelabuhan Hati” dan “Sudah Berakhir”. Tiga lagu yang bila konsisten dipertahankan kualitasnya untuk semua lagu di album ini, akan menjadikan album ini album yang bagus, kemungkinan album terbaik dari mereka. Sayangnya belum mereka lakukan.
Dari sisi lirik mungkin ketiga lagu ini biasa saja, tetapi dari sisi musik lumayan berbeda. Pecinta musik 80-an pasti jatuh cinta. Departemen lirik adalah bagian yang mesti dibenahi bila band ini ingin lebih besar. Juga sebaiknya para personelnya lebih serius bermusik agar lebih kreatif dan produktif. Jangan terlalu banyak terlibat di acara televisi, terutama infotainment …hehe…
Bila sudah dikaitkan dengan masa lalu, setelah itu apa kaitannya dengan masa kini dan masa nanti? Pada masa kini, cukuplah saya nikmati nuansa 80-an ini…Bagaimana dengan masa depan? Nanti sajalah dipikirkan lagi masa depan itu. Toh, bila dijalani, masa depan akhirnya akan menjadi masa kini. Pada akhirnya juga akan menjadi masa lalu yang indah. Seperti era 80-an… slogan MTV untuk dekade 1980-an adalah jaman di mana “orang menari-nari dengan konyol dan potongan rambut buruk”, tetapi semua itu pada jamannya menjadikan kita bahagia, dan sampai sekarang pun ternyata masih membuat banyak orang bahagia.
Clubeighties - 80 Kembali (2009)
Daftar Lagu:
1. Terus Berjalan
2. Pelabuhan Hati
3. Sudah Berakhir
4. Malam Nakal
5. Tak Mungkin
6. Sejauh Bintang
7. Api Asmara
8. Maunya
9. Separuh Kita
10. Kamu
Rangkaian Narasi untuk Kontemplasi
Suatu kali kita mungkin mendapatkan efek yang berbeda ketika mengakses media. Kita ingin mendapatkan hiburan, mencerah-cerahkan hati, dengan menonton sebuah film sederhana misalnya, kita malah mendapatkan “asupan” untuk pikiran. Begitu pula sebaliknya, kita ingin mendapatkan pengetahuan ketika membaca sebuah buku, kita malah mendapatkan penghiburan. Penghiburan yang membuat hati kita semakin kaya.
Begitulah yang saya dapatkan ketika mendengarkan album rilisan terkini dari Melancholic Bitch, “Balada Joni dan Susi” (rilis 19 November 2009). Maksud hati ingin lebih mendapatkan pengalaman musikal yang kaya, saya malah mendapatkan “penguatan” rasio untuk berkontemplasi mengenai kehidupan sosial masyarakat dan menganalisisnya.
Saya sebenarnya ingin sekali hadir pada saat peluncuran album ini. Sayang, kegiatan di luar kota memaksa saya tidak bisa menghadirinya. Padahal, peluncuran album ini berlokasi sangat dekat dengan rumah saya, di Padepokan pak Bagong. Hanya tinggal menyeberangi kali dari rumah mertua. Padahal, saya juga ingin sekali bertemu Ugo, vokalis Melbi, yang sedikit saya kenal. Sebagai sesama orang Lampung, entah bagaimana ada “kedekatan” yang saya rasakan dengan dia...kedekatan etnisitas ternyata tidak bisa hilang…hehe….
Selain itu, tentu saja saya ingin menghadiri acara launching album ini karena ingin mengenal lebih mendalam komunitas musik indie di Yogya. Sebagian sudah saya kenal, sebagian adalah teman-teman di kampus walau kebanyakan lebih muda. Lebih banyak lagi yang belum saya kenal. Peluncuran album itu adalah event yang bagus untuk berkumpul.
Sebenarnya, saya sudah lama suka dengan band indie Yogya legendaris ini. Sayang saya hanya punya satu EP-nya, “Live at Ndalem Joyokusuman”, yang dirilis pada tahun 2003. Empat tahun sebelum saya memutuskan untuk mendalami musik Indonesia tanpa pretensi pada tahun 2007 lalu.
Album ini menunjukkan pada kita, bahwa setiap pesan media, termasuk album musik, memiliki narasi. Cerita yang mengalir dan ditata dengan runtut dengan karakter dan setting tertentu. Dari majalah musik bagus yang saya baca, DAB edisi Oktober-November 2009, album yang bernarasi ini hadir karena dua peristiwa yang ditonton para personelnya di berita kriminal di televisi.
Berdasarkan wawancara dengan majalah DAB itu, kita mengetahui dua berita yang menjadi inspirasi album ini. Pertama, berita tentang seorang lelaki yang tewas dipukuli sekelompok orang setelah terpergok mencuri di sebuah supermarket. Kedua, berita tentang seorang perempuan yang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa, diduga karena pneumonia, di sebuah kamar penginapan murahan.
Dua berita itulah yang kemudian dijabarkan ke dalam dua belas lagu yang bercerita. Lagu-lagu yang memiliki cerita masing-masing seperti cerpen pada kumpulan cerpen. “Potongan cerita” itu kemudian menyatu menjadi sebuah cerita utuh dalam satu album. Narasi utama adalah kisah cinta dua anak manusia kelas pekerja. Kisah cinta yang tidak digambarkan dengan indah, tetapi dengan riil walau tetap saja mempersona. Kisah cinta yang tercermin lewat lagu “7 Hari Menuju Semesta”. Serangan rasa kasmaran yang ingin dituntaskan dalam waktu singkat, 7 hari, seperti Tuhan menciptakan alam semesta.
Perasaan cinta yang menggetarkan hadir di “Nasihat yang Baik”. Lagu ini adalah lagu favorit saya di album ini. Cinta bisa hadir dalam kondisi fisik yang sakit, dan kondisi sosial yang menghimpit. Cinta itu dibayangkan bisa mengatasi semuanya tetapi faktanya tidak akan mungkin bisa. Struktur bercerita, dan bila divisualkan dalam video klip, mungkin mirip dengan lagu Smashing Pumpkins, “Try Try Try”. Dua anak muda miskin yang berjuang keras untuk hidup walau yang mereka punya hanyalah eksistensi masing-masing.
Tentu saja ada narasi-narasi lain yang lebih kecil. Album ini tidak hanya berbicara mengenai kisah dua cinta anak manusia kelas pekerja, Joni dan Susi, tetapi juga membicarakan beragam topik sosial. Misalnya, kehadiran “negara” dan aparat keamanan (baca: polisi) yang justru menyulitkan kohesi sosial, bukan menjadi penegak peraturan dan pihak yang mewujudkan hak-hak warga.
Hal lain yang dibicarakan adalah kritik terhadap televisi (komersial) di Indonesia. Di dalam lagu “Akhirnya, Masup TV” sangat jelas dibicarakan hal itu. Manusia kelas pekerja akhirnya muncul tampil di televisi tetapi dalam keadaan yang menyedihkan, tewas dipukuli karena kedapatan mencuri. Topik ketimpangan sosial juga disampaikan. Ironi dari kemajuan disampaikan dengan gamblang di “Dinding Propaganda” dan “Apel Adam”. Keterpaksaan melakukan tindakan kriminal dan indahnya supermarket tercermin di dua lagu tersebut.
Narasi ini akhirnya ditutup oleh lagu “Noktah pada Kerumunan”, yang bicara tentang dilema antara kebebasan individu dan kolektivisme. Topik serupa muncul juga pada lagu sebelumnya, “Mars Penyembah Berhala” yang bicara tentang penonton televisi sebagai massa. Massa selalu dilihat sebagai sekumpulan manusia sangat banyak dan irrasional. Massa bisa merusak dan menghancurkan. Tetapi massa juga sebenarnya sebentuk kumpulan manusia yang hadir dalam keseharian manusia Indonesia; ketika mereka antri dalam pembagian daging kurban (pada Idul Adha kemarin), antri dalam membeli handphone murah, seratus ribu rupiah saja, dan secara atomistik “berkumpul” menonton tayangan televisi.
Pendeknya, narasi ini mengantarkan kita pada kontemplasi pada kondisi sosial kita, mengapa kita sebagai masyarakat seperti ini? Juga mendesakkan agar kita menganalisisnya secara kritis, apa yang bisa kita lakukan dengan kondisi sosial mengkhawatirkan seperti ini?
Narasi ini belumlah selesai…menunggu tindakan personal kita menuju pada kolektivitas yang konstruktif. Bagi Melbi, narasi ini tentunya belum juga selesai…kami, para penikmat musik, menunggu lanjutan narasi yang sama menginspirasi, atau bahkan lebih. Kami berharap kalian terus hadir dan sama-sama berkontemplasi…dan sama-sama terus kritis terhadap kondisi sosial masyarakat kita.
Melancholic Bitch - Balada Joni dan Susi (2009)
Daftar Lagu:
1. Intro
2. Bulan Madu
3. 7 Hari Menuju Semesta
4. Distopia (feat. Silir)
5. Mars Penyembah Berhala
6. Nasihat yang Baik
7. Dinding Propaganda
8. Apel Adam
9. Akhirnya Masup Tipi
10. Menara
11. Noktah pada Kerumunan (feat. Purwanto & Okky Gembuz)
12. Outro
Begitulah yang saya dapatkan ketika mendengarkan album rilisan terkini dari Melancholic Bitch, “Balada Joni dan Susi” (rilis 19 November 2009). Maksud hati ingin lebih mendapatkan pengalaman musikal yang kaya, saya malah mendapatkan “penguatan” rasio untuk berkontemplasi mengenai kehidupan sosial masyarakat dan menganalisisnya.
Saya sebenarnya ingin sekali hadir pada saat peluncuran album ini. Sayang, kegiatan di luar kota memaksa saya tidak bisa menghadirinya. Padahal, peluncuran album ini berlokasi sangat dekat dengan rumah saya, di Padepokan pak Bagong. Hanya tinggal menyeberangi kali dari rumah mertua. Padahal, saya juga ingin sekali bertemu Ugo, vokalis Melbi, yang sedikit saya kenal. Sebagai sesama orang Lampung, entah bagaimana ada “kedekatan” yang saya rasakan dengan dia...kedekatan etnisitas ternyata tidak bisa hilang…hehe….
Selain itu, tentu saja saya ingin menghadiri acara launching album ini karena ingin mengenal lebih mendalam komunitas musik indie di Yogya. Sebagian sudah saya kenal, sebagian adalah teman-teman di kampus walau kebanyakan lebih muda. Lebih banyak lagi yang belum saya kenal. Peluncuran album itu adalah event yang bagus untuk berkumpul.
Sebenarnya, saya sudah lama suka dengan band indie Yogya legendaris ini. Sayang saya hanya punya satu EP-nya, “Live at Ndalem Joyokusuman”, yang dirilis pada tahun 2003. Empat tahun sebelum saya memutuskan untuk mendalami musik Indonesia tanpa pretensi pada tahun 2007 lalu.
Album ini menunjukkan pada kita, bahwa setiap pesan media, termasuk album musik, memiliki narasi. Cerita yang mengalir dan ditata dengan runtut dengan karakter dan setting tertentu. Dari majalah musik bagus yang saya baca, DAB edisi Oktober-November 2009, album yang bernarasi ini hadir karena dua peristiwa yang ditonton para personelnya di berita kriminal di televisi.
Berdasarkan wawancara dengan majalah DAB itu, kita mengetahui dua berita yang menjadi inspirasi album ini. Pertama, berita tentang seorang lelaki yang tewas dipukuli sekelompok orang setelah terpergok mencuri di sebuah supermarket. Kedua, berita tentang seorang perempuan yang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa, diduga karena pneumonia, di sebuah kamar penginapan murahan.
Dua berita itulah yang kemudian dijabarkan ke dalam dua belas lagu yang bercerita. Lagu-lagu yang memiliki cerita masing-masing seperti cerpen pada kumpulan cerpen. “Potongan cerita” itu kemudian menyatu menjadi sebuah cerita utuh dalam satu album. Narasi utama adalah kisah cinta dua anak manusia kelas pekerja. Kisah cinta yang tidak digambarkan dengan indah, tetapi dengan riil walau tetap saja mempersona. Kisah cinta yang tercermin lewat lagu “7 Hari Menuju Semesta”. Serangan rasa kasmaran yang ingin dituntaskan dalam waktu singkat, 7 hari, seperti Tuhan menciptakan alam semesta.
Perasaan cinta yang menggetarkan hadir di “Nasihat yang Baik”. Lagu ini adalah lagu favorit saya di album ini. Cinta bisa hadir dalam kondisi fisik yang sakit, dan kondisi sosial yang menghimpit. Cinta itu dibayangkan bisa mengatasi semuanya tetapi faktanya tidak akan mungkin bisa. Struktur bercerita, dan bila divisualkan dalam video klip, mungkin mirip dengan lagu Smashing Pumpkins, “Try Try Try”. Dua anak muda miskin yang berjuang keras untuk hidup walau yang mereka punya hanyalah eksistensi masing-masing.
Tentu saja ada narasi-narasi lain yang lebih kecil. Album ini tidak hanya berbicara mengenai kisah dua cinta anak manusia kelas pekerja, Joni dan Susi, tetapi juga membicarakan beragam topik sosial. Misalnya, kehadiran “negara” dan aparat keamanan (baca: polisi) yang justru menyulitkan kohesi sosial, bukan menjadi penegak peraturan dan pihak yang mewujudkan hak-hak warga.
Hal lain yang dibicarakan adalah kritik terhadap televisi (komersial) di Indonesia. Di dalam lagu “Akhirnya, Masup TV” sangat jelas dibicarakan hal itu. Manusia kelas pekerja akhirnya muncul tampil di televisi tetapi dalam keadaan yang menyedihkan, tewas dipukuli karena kedapatan mencuri. Topik ketimpangan sosial juga disampaikan. Ironi dari kemajuan disampaikan dengan gamblang di “Dinding Propaganda” dan “Apel Adam”. Keterpaksaan melakukan tindakan kriminal dan indahnya supermarket tercermin di dua lagu tersebut.
Narasi ini akhirnya ditutup oleh lagu “Noktah pada Kerumunan”, yang bicara tentang dilema antara kebebasan individu dan kolektivisme. Topik serupa muncul juga pada lagu sebelumnya, “Mars Penyembah Berhala” yang bicara tentang penonton televisi sebagai massa. Massa selalu dilihat sebagai sekumpulan manusia sangat banyak dan irrasional. Massa bisa merusak dan menghancurkan. Tetapi massa juga sebenarnya sebentuk kumpulan manusia yang hadir dalam keseharian manusia Indonesia; ketika mereka antri dalam pembagian daging kurban (pada Idul Adha kemarin), antri dalam membeli handphone murah, seratus ribu rupiah saja, dan secara atomistik “berkumpul” menonton tayangan televisi.
Pendeknya, narasi ini mengantarkan kita pada kontemplasi pada kondisi sosial kita, mengapa kita sebagai masyarakat seperti ini? Juga mendesakkan agar kita menganalisisnya secara kritis, apa yang bisa kita lakukan dengan kondisi sosial mengkhawatirkan seperti ini?
Narasi ini belumlah selesai…menunggu tindakan personal kita menuju pada kolektivitas yang konstruktif. Bagi Melbi, narasi ini tentunya belum juga selesai…kami, para penikmat musik, menunggu lanjutan narasi yang sama menginspirasi, atau bahkan lebih. Kami berharap kalian terus hadir dan sama-sama berkontemplasi…dan sama-sama terus kritis terhadap kondisi sosial masyarakat kita.
Melancholic Bitch - Balada Joni dan Susi (2009)
Daftar Lagu:
1. Intro
2. Bulan Madu
3. 7 Hari Menuju Semesta
4. Distopia (feat. Silir)
5. Mars Penyembah Berhala
6. Nasihat yang Baik
7. Dinding Propaganda
8. Apel Adam
9. Akhirnya Masup Tipi
10. Menara
11. Noktah pada Kerumunan (feat. Purwanto & Okky Gembuz)
12. Outro
Light My Fire
Membicarakan “nyala api”, entah mengapa saya jadi ingat dengan lagu the Doors, “Light My Fire”. Mungkin makna lagu ini tidak ada hubungan langsung dengan hasrat hidup. Mungkin juga lagu ini bisa diterjemahkan sebagai hasrat yang mendasar. Tetapi saya lebih memaknainya sebagai hasrat yang umum, terutama antuasiasme terhadap sesuatu yang kita sukai.
Lagu ini paling tidak mengingatkan saya pada dua hal. Pertama, ingatan saya kembali pada masa lalu. Walau the Doors adalah band lama, saya mengenalnya pada dekade 1990-an. Ada keliaran dalam kreasi. Ada hasrat yang kuat menyampaikan suara hati melalui lagu. Karena itulah, setelah mengenal the Doors, saya menyukai lagu-lagu mereka. Lagu ini adalah yang paling saya sukai sekaligus lagu yang paling populer bagi telinga pendengar the Doors.
Hal kedua yang saya ingat adalah film the Doors (1991). Film ini adalah salah satu film bagus menurut saya. Di film ini Val Kilmer bermain bagus sebagai Jim Morrison. Begitu hebat akting Val Kilmer, majalah Rollingstone menyebut Val Kilmer lebih hebat ketika memerankan Morrison daripada menjadi dirinya sendiri. Saya tersenyum dengan komentar tersebut. Lucu sekali dan ada satire di situ karena setelah itu Val Kilmer jarang sekali berperan bagus di film-filmnya setelah film ini.
Begitulah yang saya ingat tentang lagu ini. Kini hasrat saya sangat kuat di tengah presentasi riset tentang RRI. Saya antusias dengan banyak hal yang bisa didiskusikan dan diperdebatkan; tentang penyiaran publik, tentang jurnalisme, dan tentang sejarah organisasi radio siaran yang luar biasa. Antusiasme itu tambah besar karena mitra diskusi yang juga terlalu “bersemangat”. Bersemangat untuk resisten dan “menyerang” balik…hehe….Diskusi yang keren dan menggairahkan !
Ini liriknya…semoga teman-teman juga ingat dengan lagunya. Juga selamat menonton (kembali) filmnya, karena menonton film sambil mendengarkan lagu (OST) – nya akan lebih memaksimalkan efek pada diri kita.
Light My Fire
By: The Doors
You know that it would be untrue
You know that I would be a liar
If I was to say to you
Girl, we couldn't get much higher
Come on baby, light my fire
Come on baby, light my fire
Try to set the night on fire
The time to hesitate is through
No time to wallow in the mire
Try now we can only lose
And our love become a funeral pyre
Come on baby, light my fire
Come on baby, light my fire
Try to set the night on fire, yeah
The time to hesitate is through
No time to wallow in the mire
Try now we can only lose
And our love become a funeral pyre
Come on baby, light my fire
Come on baby, light my fire
Try to set the night on fire, yeah
You know that it would be untrue
You know that I would be a liar
If I was to say to you
Girl, we couldn't get much higher
Come on baby, light my fire
Come on baby, light my fire
Try to set the night on fire
Try to set the night on fire
Try to set the night on fire
Try to set the night on fire
Lagu ini paling tidak mengingatkan saya pada dua hal. Pertama, ingatan saya kembali pada masa lalu. Walau the Doors adalah band lama, saya mengenalnya pada dekade 1990-an. Ada keliaran dalam kreasi. Ada hasrat yang kuat menyampaikan suara hati melalui lagu. Karena itulah, setelah mengenal the Doors, saya menyukai lagu-lagu mereka. Lagu ini adalah yang paling saya sukai sekaligus lagu yang paling populer bagi telinga pendengar the Doors.
Hal kedua yang saya ingat adalah film the Doors (1991). Film ini adalah salah satu film bagus menurut saya. Di film ini Val Kilmer bermain bagus sebagai Jim Morrison. Begitu hebat akting Val Kilmer, majalah Rollingstone menyebut Val Kilmer lebih hebat ketika memerankan Morrison daripada menjadi dirinya sendiri. Saya tersenyum dengan komentar tersebut. Lucu sekali dan ada satire di situ karena setelah itu Val Kilmer jarang sekali berperan bagus di film-filmnya setelah film ini.
Begitulah yang saya ingat tentang lagu ini. Kini hasrat saya sangat kuat di tengah presentasi riset tentang RRI. Saya antusias dengan banyak hal yang bisa didiskusikan dan diperdebatkan; tentang penyiaran publik, tentang jurnalisme, dan tentang sejarah organisasi radio siaran yang luar biasa. Antusiasme itu tambah besar karena mitra diskusi yang juga terlalu “bersemangat”. Bersemangat untuk resisten dan “menyerang” balik…hehe….Diskusi yang keren dan menggairahkan !
Ini liriknya…semoga teman-teman juga ingat dengan lagunya. Juga selamat menonton (kembali) filmnya, karena menonton film sambil mendengarkan lagu (OST) – nya akan lebih memaksimalkan efek pada diri kita.
Light My Fire
By: The Doors
You know that it would be untrue
You know that I would be a liar
If I was to say to you
Girl, we couldn't get much higher
Come on baby, light my fire
Come on baby, light my fire
Try to set the night on fire
The time to hesitate is through
No time to wallow in the mire
Try now we can only lose
And our love become a funeral pyre
Come on baby, light my fire
Come on baby, light my fire
Try to set the night on fire, yeah
The time to hesitate is through
No time to wallow in the mire
Try now we can only lose
And our love become a funeral pyre
Come on baby, light my fire
Come on baby, light my fire
Try to set the night on fire, yeah
You know that it would be untrue
You know that I would be a liar
If I was to say to you
Girl, we couldn't get much higher
Come on baby, light my fire
Come on baby, light my fire
Try to set the night on fire
Try to set the night on fire
Try to set the night on fire
Try to set the night on fire
Tentang "Nyala Api"
Sekitar semingguan tidak menulis di sini, kangen juga rasanya. Bukan hanya rindu tetapi juga ada banyak hal yang "menyiksa" dan membuat "gatal" untuk dituliskan. Ada tentang jurnalisme musik, literasi media, gerakan sosial, dan juga dua review album, Melancholic Bitch dan Club Eighties, dan beberapa tafsir dan kenangan atas lagu.
Selain itu, menulis adalah cara terbaik mengingat dan berkontemplasi agar apa-apa yang kita lewati, pikirkan, dan rasakan, tidak hilang begitu saja. Karena banyak hal yang ingin ditulis itulah, saya sampai bingung tulisan mana dulu yang mesti diselesaikan. Pilih punya pilih, akhirnya saya malah menulis sesuatu yang personal, tentang "nyala api" dalam hidup saya.
Istilah "nyala api" saya dengar dari Soleh Solihun, rekan wartawan Rolling Stone Indonesia ketika sama-sama menjadi pembicara dalam diskusi mengenai jurnalisme musik sekian bulan yang lalu. Dia pun mendengar dan mendapatkan istilah itu dari orang lain, kalau tidak salah dari mas Andreas Harsono, wartawan dan fasilitator dalam jurnalisme investigatif. Sejak saat itulah saya terinspirasi dengan istilah "nyala api".
Istilah “nyala api” juga menunjukkan pada saya bahwa hal-hal inspiratif itu menular dan bisa berasal dari
siapa saja. Saya tidak pernah bertemu dengan mas Andreas dan tidak tahu bagaimana Soleh yang hanya bertemu sekali, dapat memberi inspirasi melalui istilah tersebut. Mungkin di dalam hati setiap orang sudah disadari ada “nyala api” atau hasrat atau “sesuatu yang membuat antuasias” tersebut, tetapi kita memang memerlukan verbalisasi agar maknanya benar-benar terasa. Harus ada yang menyebutkan, menyampaikan, atau bahkan meneriakkannya pada kita.
Dulu ketika berdiskusi dengan Soleh Solihun itu, saya menyadari benar bahwa “nyala api” saya adalah musik populer. Saya menjadi sangat antusias dengan kehidupan jika mendengarkan musik, membicarakannya, dan menuliskannya. Profesi yang tepat bagi saya kemungkinan besar adalah wartawan musik. Tetapi, mimpi menjadi wartawan sudah kandas pada tahun 1998 ketika tahun kelulusan saya bersamaan dengan krisis multi dimensi di Indonesia.
Saya ingat waktu meneliti untuk skripsi dulu, saya berbincang iseng-iseng dengan pengasuh sebuah majalah remaja tempat saya meneliti, menyatakan niat saya untuk menjadi wartawan di sana. Jawaban pemimpin umumnya singkat saja: mempertahankan karyawannya saja sudah sulit, apalagi mengangkat yang baru. Dari situlah “nyala api” saya yang lain mengantarkan saya pada profesi sekarang ini, pendidik, peneliti, dan penulis, atau istilah lainnya disebut sebagai akademisi.
Akhir minggu dua pekan kemarin sampai sekarang ini, saya merasakan “nyala api” saya berkobar-kobar. Saya tidak pernah merasakan kobaran yang sebesar itu. Walau fisik lelah, saya merasakan antusiasme saya untuk hidup sangatlah tinggi. Setelah saya telisik, ternyata nyala api itu tidak tunggal. Ada empat “nyala api” yang ada di dalam dada saya. Keempatnya berkaitan dengan area tertentu dan orang-orang tertentu di mana saya berinteraksi. Keempat "nyala api" tersebut memiliki level yang setara dan tidak ada yang lebih “panas” dari yang lain.
Pertama, ketika kuliah dengan para pembelajar, saya semakin sadar bahwa dunia kerja saya adalah nyala api pertama. Ada perasaan bahagia ketika saya berdiskusi dengan rekan-rekan mahasiswa (pembelajar), menulis akademis, dan juga meneliti topik yang berkaitan dengan ketertarikan saya. Nyala api ini juga lebih terasa ketika saya “dikuliahi”, bukan hanya menguliahi. Ada rasa bahagia ketika saya mesti mendedah konsep, apalagi bersama-sama. Ada perasaan sangat bahagia ketika ada pembelajar yang berhasil di profesinya masing-masing setelah “keluar” dari kampus.
Kedua, nyala api itu muncul ketika berdiskusi dengan rekan-rekan di luar kampus dan memiliki antusiasme yang sama mengenai pemberdayaan masyarakat berkaitan dengan aktivitas bermedia. Bukannya saya tidak bangga dengan profesi saya sebagai dosen, saya justru berusaha mendekatkan profesi itu pada wilayah masyarakat. Api ini adalah aktivitas lain saya di sebuah lembaga riset, namanya Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP).
Beraktivitas di wilayah ini memberikan saya banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Bertemu dengan banyak orang dan konsep inspiratif adalah efek langsung yang saya dapatkan. Output kami yang paling mudah dilihat adalah kami sudah menghasilkan lima buah buku sebagai hasil karya kami selama lima tahun ini. Masih ada dua buku menanti untuk diterbitkan sampai akhir tahun ini.
Ketiga, berdiskusi tentang jurnalisme musik dengan rekan-rekan pencinta musik, adalah nyala api saya yang lain. Diskusi tentang musik itu bisa langsung atau pun online. Saya punya rekan-rekan yang asyik berdiskusi tentang musik sejak jaman kuliah dulu. Mungkin penyebab saya senang membicarakan musik karena saya tidak bisa bermain musik. Terserah saja deh, saya tidak ingin bermain musik. Saya hanya senang mendengarkan dan membicarakannya.
Musik selalu membuat saya antuasias. Saya ingin kajian media lebih memperdalam mengenai musik
populer. Toh, hampir semua buku pengantar komunikasi massa selalu membicarakan musik rekaman sebagai salah satu jenis media. Sesungguhnya masih banyak yang perlu dieksplorasi berkaitan dengan musik populer ini. Semoga nyala api ini membawa saya memahami dengan lebih baik lagi.
Keempat, berbagi pengalaman tentang literasi media, tepatnya cara sehat menonton tv, dengan ibu-ibu PKK di tempat tinggal saya. Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa ada api yang lain: merasa berguna bagi warga sekitar. Secara sosial sih saya tetap merasa harus dekat dengan kehidupan masyarakat sekitar, tetapi berguna bagi masyarakat sesuai dengan pengetahuan sendiri, adalah hal yang baru bagi saya. Mungkin saya pernah berdiskusi dengan banyak pihak mengenai literasi media tetapi berdiskusi dengan tetangga adalah hal yang lebih membahagiakan.
Saya hanya bisa berharap, ketika nyala api itu menyatu…maka jadilah sebuah api besar yang unik.
Saya hanya berusaha…
Selain itu, menulis adalah cara terbaik mengingat dan berkontemplasi agar apa-apa yang kita lewati, pikirkan, dan rasakan, tidak hilang begitu saja. Karena banyak hal yang ingin ditulis itulah, saya sampai bingung tulisan mana dulu yang mesti diselesaikan. Pilih punya pilih, akhirnya saya malah menulis sesuatu yang personal, tentang "nyala api" dalam hidup saya.
Istilah "nyala api" saya dengar dari Soleh Solihun, rekan wartawan Rolling Stone Indonesia ketika sama-sama menjadi pembicara dalam diskusi mengenai jurnalisme musik sekian bulan yang lalu. Dia pun mendengar dan mendapatkan istilah itu dari orang lain, kalau tidak salah dari mas Andreas Harsono, wartawan dan fasilitator dalam jurnalisme investigatif. Sejak saat itulah saya terinspirasi dengan istilah "nyala api".
Istilah “nyala api” juga menunjukkan pada saya bahwa hal-hal inspiratif itu menular dan bisa berasal dari
siapa saja. Saya tidak pernah bertemu dengan mas Andreas dan tidak tahu bagaimana Soleh yang hanya bertemu sekali, dapat memberi inspirasi melalui istilah tersebut. Mungkin di dalam hati setiap orang sudah disadari ada “nyala api” atau hasrat atau “sesuatu yang membuat antuasias” tersebut, tetapi kita memang memerlukan verbalisasi agar maknanya benar-benar terasa. Harus ada yang menyebutkan, menyampaikan, atau bahkan meneriakkannya pada kita.
Dulu ketika berdiskusi dengan Soleh Solihun itu, saya menyadari benar bahwa “nyala api” saya adalah musik populer. Saya menjadi sangat antusias dengan kehidupan jika mendengarkan musik, membicarakannya, dan menuliskannya. Profesi yang tepat bagi saya kemungkinan besar adalah wartawan musik. Tetapi, mimpi menjadi wartawan sudah kandas pada tahun 1998 ketika tahun kelulusan saya bersamaan dengan krisis multi dimensi di Indonesia.
Saya ingat waktu meneliti untuk skripsi dulu, saya berbincang iseng-iseng dengan pengasuh sebuah majalah remaja tempat saya meneliti, menyatakan niat saya untuk menjadi wartawan di sana. Jawaban pemimpin umumnya singkat saja: mempertahankan karyawannya saja sudah sulit, apalagi mengangkat yang baru. Dari situlah “nyala api” saya yang lain mengantarkan saya pada profesi sekarang ini, pendidik, peneliti, dan penulis, atau istilah lainnya disebut sebagai akademisi.
Akhir minggu dua pekan kemarin sampai sekarang ini, saya merasakan “nyala api” saya berkobar-kobar. Saya tidak pernah merasakan kobaran yang sebesar itu. Walau fisik lelah, saya merasakan antusiasme saya untuk hidup sangatlah tinggi. Setelah saya telisik, ternyata nyala api itu tidak tunggal. Ada empat “nyala api” yang ada di dalam dada saya. Keempatnya berkaitan dengan area tertentu dan orang-orang tertentu di mana saya berinteraksi. Keempat "nyala api" tersebut memiliki level yang setara dan tidak ada yang lebih “panas” dari yang lain.
Pertama, ketika kuliah dengan para pembelajar, saya semakin sadar bahwa dunia kerja saya adalah nyala api pertama. Ada perasaan bahagia ketika saya berdiskusi dengan rekan-rekan mahasiswa (pembelajar), menulis akademis, dan juga meneliti topik yang berkaitan dengan ketertarikan saya. Nyala api ini juga lebih terasa ketika saya “dikuliahi”, bukan hanya menguliahi. Ada rasa bahagia ketika saya mesti mendedah konsep, apalagi bersama-sama. Ada perasaan sangat bahagia ketika ada pembelajar yang berhasil di profesinya masing-masing setelah “keluar” dari kampus.
Kedua, nyala api itu muncul ketika berdiskusi dengan rekan-rekan di luar kampus dan memiliki antusiasme yang sama mengenai pemberdayaan masyarakat berkaitan dengan aktivitas bermedia. Bukannya saya tidak bangga dengan profesi saya sebagai dosen, saya justru berusaha mendekatkan profesi itu pada wilayah masyarakat. Api ini adalah aktivitas lain saya di sebuah lembaga riset, namanya Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP).
Beraktivitas di wilayah ini memberikan saya banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Bertemu dengan banyak orang dan konsep inspiratif adalah efek langsung yang saya dapatkan. Output kami yang paling mudah dilihat adalah kami sudah menghasilkan lima buah buku sebagai hasil karya kami selama lima tahun ini. Masih ada dua buku menanti untuk diterbitkan sampai akhir tahun ini.
Ketiga, berdiskusi tentang jurnalisme musik dengan rekan-rekan pencinta musik, adalah nyala api saya yang lain. Diskusi tentang musik itu bisa langsung atau pun online. Saya punya rekan-rekan yang asyik berdiskusi tentang musik sejak jaman kuliah dulu. Mungkin penyebab saya senang membicarakan musik karena saya tidak bisa bermain musik. Terserah saja deh, saya tidak ingin bermain musik. Saya hanya senang mendengarkan dan membicarakannya.
Musik selalu membuat saya antuasias. Saya ingin kajian media lebih memperdalam mengenai musik
populer. Toh, hampir semua buku pengantar komunikasi massa selalu membicarakan musik rekaman sebagai salah satu jenis media. Sesungguhnya masih banyak yang perlu dieksplorasi berkaitan dengan musik populer ini. Semoga nyala api ini membawa saya memahami dengan lebih baik lagi.
Keempat, berbagi pengalaman tentang literasi media, tepatnya cara sehat menonton tv, dengan ibu-ibu PKK di tempat tinggal saya. Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa ada api yang lain: merasa berguna bagi warga sekitar. Secara sosial sih saya tetap merasa harus dekat dengan kehidupan masyarakat sekitar, tetapi berguna bagi masyarakat sesuai dengan pengetahuan sendiri, adalah hal yang baru bagi saya. Mungkin saya pernah berdiskusi dengan banyak pihak mengenai literasi media tetapi berdiskusi dengan tetangga adalah hal yang lebih membahagiakan.
Saya hanya bisa berharap, ketika nyala api itu menyatu…maka jadilah sebuah api besar yang unik.
Saya hanya berusaha…
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis Lagi, Berjuang Lagi
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...
-
Liburan panjang seperti sekarang ini membuat saya memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplorasi koleksi musik dan buku saya. Senang juga ra...
-
Untuk seorang sahabat lama di hati dan bukan dalam kehidupan nyata.... Entah mengapa aku sangat merindukanmu sekarang. "Urgency of now...
-
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...