Selasa, 13 Juli 2010

Hidup adalah Kumpulan Interaksi dan Paradoks-paradoksnya


Kehidupan ini adalah paradoks tak berujung. Kalimat inilah yang menjadi esensi dari film “Up in the Air” yang baru saya tonton. Menurut saya, film ini bagus dan tidak biasa. Film bagus itu bagi saya indikatornya sederhana saja. Pertama, suatu film bagus karena menyampaikan hal-hal biasa dengan cara yang “luar biasa”, atau paling tidak, menyampaikan isi pesannnya dengan cara berbeda. Atau kedua, film yang bagus bisa juga menyampaikan hal luar biasa dengan cara yang biasa atau normal. Sebagai tambahan, sebuah film akan bagus bagi saya bila Original Soundtrack-nya juga bagus. Saya tidak pernah salah dalam melihat film berdasarkan OST-nya ini. Semua film yang OST-nya saya sukai biasanya bagus. Sebut saja film-film Quentin Tarantino, mulai “Pulp Fiction” sampai “Kill Bill”. Untuk film “pop”, film yang melibatkan Drew Barrymore biasanya mempunyai OST yang bagus dan melibatkan lagu-lagu dari dekade 1980-an.

Banyak film yang saya “timbun” di rumah. Saya belum sempat menonton film-film tersebut karena beberapa penyebab, antara lain fokus saya lebih pada beberapa kerjaan yang belum selesai dan album-album musik yang belum saya takar. Hasrat terbesar saya pada pesan media adalah musik rekaman, yang lain menyusul di belakangnya. Tetapi beberapa malam itu berbeda. Tidak ada siaran Piala Dunia karena sedang istirahat menunggu partai perempat-final. Juga tidak ada album musik yang mesti saya akses. Bermain game FM juga tidak lagi mengasyikkan karena ada pertandingan yang asli di Piala Dunia. Sementara, salah satu tugas wajib sudah saya selesaikan sambil menunggu mengerjakan tugas selanjutnya.

Karena itulah saya menonton film ini. Awalnya, saya menganggap film ini biasa saja, tipikal film-film Hollywood yang bercerita tentang hal biasa dengan cara biasa pula. Ternyata saya salah. Banyak hal baru saya pahami dari satu adegan ke adegan yang lain. Selain itu cara menyampaikan beberapa topik yang relatif banyak dengan “mulus” dan enak diikuti, adalah hal lain yang saya pahami dari film ini. Film ini bercerita tentang Ryan Bingham (diperankan oleh George Clooney), seseorang yang tugasnya menyampaikan kabar pemecatan pada orang lain. Film ini sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat Amerika Serikat yang sedang menghadapi banyak pemutusan kerja sebagai akibat krisis ekonomi yang berat. Bagian awal film yang berkisah tentang komentar orang yang dipecat adalah salah satu bagian yang bagus dalam film ini.

Ryan melakukan pemecatan, seperti yang dinarasikan olehnya, karena orang yang seharusnya menyampaikan berita tersebut terlalu takut untuk menyampaikannya langsung. Menarik bagaimana melihat respon orang0-orang yang dipecat pada Ryan, mereka marah tetapi sadar tidak bisa berbuat apa-apa pada Bingham yang “hanya” menjalankan tugasnya.

Ryan juga memiliki pekerjaan “kedua”, sebagai motivator untuk orang-orang yang berprofesi mirip dengannya. Metafora kehidupan sebagai tas perjalanan yang dibawa ketika kita pergi realtif baru walau sebenarnya sudah pernah disampaikan U2 dalam lagu-lagunya di album “All You can’t Leave Behind”, yang dirilis pada tahun 2000. Ryan berfilosofi bahwa semakin sedikit hubungan kita dengan manusia lain, akan semakin mudah dan efisien kehidupan kita, terutama untuk mencapai sesuatu yang kita tuju.
Di dalam perjalanan itulah dia bertemu dengan Alex Goran (diperankan oleh Vera Farmiga), yang juga memiliki profesi yang mengharuskannya terbang mengitari Amerika tetapi jumlah jarak penerbangannya masih kalah dibandingkan Bingham. Bermula dari obrolan biasa dan berbagi tentang motif masing-masing menempuh perjalanan sering dan jauh dengan pesawat terbang, hubungan cinta mereka terus berkembang dengan cara mencari “titik singgung” di kota-kota pertemuan dalam perjalanan mereka masing-masing.

Interaksi lain yang juga penting adalah dengan Natalie Keener (diperankan oleh Anna Kendrick). Pekerja baru di tempat Bingham bekerja. Pekerja baru yang brilian tetapi membawa ide yang kemungkinan besar menghilangkan keharusan Bingham untuk “terbang” lagi. Natalie mengusulkan kabar pemecatan tersebut disampaikan secara online yang sejak awal ditentang oleh Bingham. Natalie-lah yang meminta Bingham untuk “membuka” dirinya pada Alex. Di dalam interaksi inilah keduanya belajar dari masing-masing. Bingham belajar bagaimana untuk tetap optimis dan membuka diri pada orang lain, sementara Natalie belajar untuk menerima realitas pahit dalam berinteraksi cinta dengan orang lain.

Interaksi ketiga yang digambarkan di film ini adalah interaksi di dalam keluarga. Bingham adalah orang yang jarang berinteraksi dengan keluarganya, tetapi sewaktu kakak perempuannya, Kara, memintanya untuk membantu Julie mengumpulkan foto dari kota-kota yang dia kunjungi, Ryan Bingham mulai “kembali” pada keluarganya. Dia menghadiri pernikahan adiknya Julie bersama Alex. Cara film berkisah tentang karakter Ryan melalui kunjungannya inilah yang menarik dan pas porsinya sehingga film ini terasa tidak mengulur-ngulur adegan seperti sinetron-sinetron di layar televisi kita.

Interaksi yang juga penting dengan manusia lain adalah interaksi Ryan dengan rekan sekaligus boss-nya, Craig Gregory (diperankan oleh Jason Bateman). Interaksi tersebut digambarkan egaliter, kemungkinan karena mereka berdua rekan kerja dan sudah lama bekerja sama. Rangkaian dialog antara Ryan dan Craig, terutama saat Craig mengenalkan inovasi yang dibawa oleh Natalie, adalah percakapan yang “tegang” antara rekan sekaligus boss.

Lalu di mana paradoksnya? Paradoks yang paling penting berasal dari keseluruhan film, yaitu bagaimana menyampaikan berita buruk pada para pekerja oleh orang yang tidak saling mengenal. Interaksi dengan orang lain yang baru dikenal dengan konsekuensi yang menakutkan ternyata lebih mungkin dilakukan. Sementara itu, paradoks terpenting dari film ini terletak pada interaksi cinta dan interaksi kerja Ryan. Interaksi cinta Ryan dan Alex menjadi sebuah paradoks ketika Ryan membuka dirinya lebih. Ketika dia ingin mengejar cinta Alex, ternyata dia keliru besar karena Alex sudah memiliki keluarga. Inilah paradoks terbesar di film yang jarang muncul di film-film Hollywood. Tadinya saya kira film ini tipikal penyelesaiannya. Ternyata tidak sama sekali.

Paradoks kedua terbesar adalah bagaimana Ryan belajar dari Natalie mengenai prinsip hidupnya yang absurd. Filosofi kehidupan bisa “dimasukkan” ke dalam tas perjalanan adalah konsep yang absurd. Itu yang disampaikan oleh Natalie pada Ryan walau pada akhirnya Natalie juga belajar dari Ryan tentang kenyataan pahit interaksi dengan manusia lain. Di dalam konteks kerja ternyata pada akhirnya pemahaman Ryan yang benar. Inovasi yang dibawa Natalie untuk menyampaikan pemecatan melalui internet ternyata salah. Pemahaman Ryan bahwa pemecatan mesti menunjukkan emosi secara langsung dengan elegan adalah pemahaman yang benar.

Interaksi dengan keluarga ternyata juga memiliki paradoks. Ryan jarang sekali berinteraksi dengan keluarganya, terutama karena sebagian besar hidupnya yang dihabiskan di perjalanan. Walau begitu Ryan mengangetkan keluarganya dengan datang ke pesta pernikahan Julie dan menjadi “pahlawan” dengan membujuk calon suami adiknya untuk tetap menjalankan upacara pernikahan. Kemampuan motivator Ryan justru muncul pada saat yang penting.

Tidak hanya itu, paradoks juga muncul di akhir film ketika jarak perjalanan Ryan sudah mencapai satu juta mil. Ryan adalah orang termuda yang mencapai jarak tersebut. Harapan inilah yang sejak awal dikejar olehnya, termasuk digunakannya untuk merayu Alex. Ironisnya, ketika Ryan mencapai jarak itu, dia justru tidak menyadarinya. Paradoks cantik terakhir!

Di luar filmnya, OST-nya juga bagus sekali. Album soundtrack film ini mampu menggambarkan filmnya: saat-saat penerbangan yang sepi, kepedihan dan keriaan dari interaksi dengan manusia lain, dan optimisme pada interaksi tersebut. Kehadiran Elliott Smith di OST film ini juga menyenangkan saya. Penyanyi paling sendu di dunia favorit saya ini mampu menggambarkan kepedihan dan kemustahilan mendapatkan cinta dalam hidup. Inilah pandangan hidup yang mungkin membuatnya mengakhiri hidup justru di tengah puncak karir bermusiknya. Paradoks kehidupan yang lain.

Film ini membuat saya ingin terus mencari dan mengakses film-film lain, tak hanya mendengarkan album musik. Film ternyata mengasyikkan juga untuk diakses dan ditakar-takar. Sesuatu yang agak telat saya ketahui. Saya ingin mencari paradoks-paradoks yang lain dalam teks media….walau mungkin bisa saja paradoks-paradoks itu mudah saya temukan di kehidupan sendiri.

Akhir Pertunjukan Terakbar


Sebenarnya malas juga menulis tentang dua pertandingan terakhir Piala Dunia 2010. Dua pertandingan terakhir itu adalah perebutan juara ketiga-keempat dan pertandingan memperebutkan juara pertama atau gelar kampiun. Bukan apa-apa, misi saya atas Piala Dunia kali ini telah terwujud yaitu munculnya juara baru menjadi negara ke-9 yang merebut gelar juara. Namun, karena tetap diperlukan tulisan terakhir untuk perhelatan terbesar umat manusia kontemporer ini, saya tetap menulis juga. Keperluan itu minimal bagi saya bisa menata-nata informasi di pikiran. Mengakhiri yang pernah diawali dan menutup yang pernah dibuka adalah tujuan utama tulisan ini. Ada beberapa hal yang bisa dituliskan berkaitan dengan dua pertandingan terakhir itu.

Pertama, kemenangan zona Eropa di dalam Piala Dunia kali ini. Walau negara-negara Eropa yang secara tradisi kuat gugur terlalu awal, Perancis, Italia, dan Inggris, dan mereka hanya mengirimkan wakil paling sedikit persentasenya di babak gugur pertama, zona Eropa mendekati "sempurna" dengan mengambil gelar juara pertama, kedua, dan ketiga. Zona Amerika Selatan, yang semula mengirim wakil dengan persentase terbanyak di babak gugur pertama, ternyata tidak sukses. Kedua wakil zona Conmebol yang paling moncer, Brasil dan Argentina, dihempaskan oleh dua wakil Eropa, Belanda dan Jerman, dan "hanya" diwakili oleh Uruguay.

Uruguay pun akhirnya hanya mendapatkan gelar juara keempat karena kalah dari pasukan muda Jerman, 2-3, walau Forlan sekali lagi menunjukkan kelasnya sebagai striker hebat. Pemain muda Jerman, Muller, Khedira, dan Jansen, menunjukkan Jerman berhasil dalam regenerasi dan dapat lebih berbahaya di masa mendatang. Italia, Perancis, dan Inggris bisa belajar meregenerasi pemainnya dari Jerman, dan juga Spanyol.

Pertandingan final sendiri, seperti diduga oleh banyak pakar sepakbola, didominasi dan dimenangkan oleh Spanyol walau mesti menunggu sampai babak perpanjangan waktu. Dari sisi penguasaan bola pun, Spanyol lebih dominan. Walau Belanda sedikit lebih baik dari Jerman dalam menghadapi Spanyol karena bisa bertahan dua babak reguler, kemenangan Spanyol tinggal menunggu waktu. Robben terlihat begitu frustasi di waktu akhir dan cenderung emosial. Hal ini unik karena sewaktu melawan Brasil, para pemain Belanda-lah yang mampu memancing emosi para pemain Brasil. Diusirnya De Jong di babak perpanjangan waktu adalah puncak dari respons pemain Belanda yang "mati kutu" atas permainan Spanyol.

Spanyol sendiri menunjukkan bahwa permainan indah adalah pemenangnya. Mereka memainkan permainan kolektif dari para individu bertalenta. Menurut saya, Spanyol secara umum menunjukkan pada kerja tim di berbagai bidang bahwa kombinasi individu yang hebat, manajer yang paham, dan peran yang jelas, adalah kinerja puncak bagi sebuah organisasi atau kelompok. Jadi, keberhasilan Spanyol bukan hanya karena kerja tim atau kumpulan individu yang hebat, tetapi keduanya.

Selamat untuk Spanyol sang juara baru!

Kedua, Piala Dunia kali ini berbeda sekali dengan Piala Dunia empat tahun sebelumnya. Tahun 2006 lalu nuansa menonton Piala Dunia adalah kesenduan karena berdekatan sekali dengan gempa. Sementara kali ini, suka cita menonton tersebut merebak kemana-mana. Baru kali ini saya mengamati pertandingan sepakbola di televisi begitu ramai ditonton, lelaki-perempuan, tua-muda, terutama pertandingan Brasil versus Belanda yang waktu tayangnya relatif belum terlalu larut malam. Secara umum, warga masyarakat antusias menonton dan menikmati semua hal informasi dan pesan dari Piala Dunia.

Pesan media paling utama dalam Piala Dunia 2010 ini tentu saja siaran pertandingannya. Siaran pertandingan secara langsung adalah hal terpenting. Berikutnya siaran tunda pertandingan. Bagaimana pun mengikuti jalannya pertandingan secara langsung sungguh berbeda dengan menonton tayangan ulang atau cuplikan golnya saja. Pesan jenis ini yang semestinya dieksplorasi secara mendalam oleh media. Saya mendapatkan kepuasan itu dari pertandingan final semalam karena ada wawancara dengan pelatih Spanyol dan Iniesta, serta suasana pasca pertandingan. Semua itu disiarkan karena kita semua menunggu seremoni penyerahan piala bagi sang juara.

Alasan televisi yang sudah membayar mahal relatif bisa dimengerti walau sebenarnya keuntungan yang mereka dapat juga besar. Ada dua keuntungan stasiun televisi yang mendapat hak tayang Piala Dunia. Keuntungan finansial berasal dari iklan bejibun yang masuk ke televisi. Keuntungan lainnya adalah ketersediaan program yang cukup untuk menggantikan produksi dan akuisisi program yang lain. Rekaman pertandingan, analisis, dan cuplikannnya mendapatkan porsi yang dominan selama sebulan ini.

Pesan media yang berkaitan dengan Piala Dunia yang lain selain pertandingannya, yaitu analisis, kuis, cuplikan, dan pemberitaan yang berkaitan secara langsung atau pun tidak, bahkan tayangan fiksi dan iklan yang berhubungan dengan sepakbola dan Piala Dunia, menempati arti penting berikutnya. Semua jenis pesan tersebut terletak di bawah pesan media pertandingan. Pesan dan informasi yang paling ekstrem misalnya pemberitaan "klenik" tentang Paul si gurita yang hampir selalu benar meramal. Berita semacam ini penting dan berguna untuk bersenang-senang belaka asalkan fungsi kepublikan dari berita tidak ditinggalkan oleh media.

Terakhir, sebagai penutup, kita bisa belajar bagaimana pesan media bisa "menghipnotis" banyak orang. Orang-orang yang tidak menyukai sepakbola pun menjadi terpaksa tahu tentang sepakbola dan Piala Dunia sebulan ini. Hampir tidak ada ruang untuk "melarikan diri". Sebagian besar dari kita juga sedikit melupakan banyak hal penting bagi negara dan masyarakat kita, ada isu tentang meledaknya tabung gas, efek negatif dari media baru terutama berkaitan dengan pornografi, dan upaya pembungkaman kembali demokrasi seperti yang disinyalir terjadi pad sebuah media berita dan seorang aktivis anti kuripsi.

Seperti kata seorang pakar komunikasi politik tadi pagi di televisi, kini saatnya kita kembali pada kehidupan "sebenarnya".....

Sabtu, 10 Juli 2010

Musik untuk Mencintai (dan Mungkin Untuk Memusuhi)


Teman, kapan terakhir kali kau menangis? benar-benar menangis yang berasal dari dalam diri, bukan menangis karena orang-orang lain lebih dulu menangis. Aku baru-baru ini menagis. Ya, benar-benar menangis. Tidak keras memang, dan juga tanpa air mata yang menetes. Hanya tangis bisu untuk hati yang sendu. Aku kira, kau yang mengenalku cukup lama, sudah paham bahwa aku tidak pernah menangis. Bagiku hidup ini memang sudah tragedi dari sananya. Jadi tak ada gunanya menangis.

Teman, kau pun mungkin akan tertawa, atau paling tidak tersenyum, bila kau tahu penyebab yang membuatku menangis. Aku menangis karena mendengarkan sebuah lagu. Judul lagu itu "My Angels". Aku jadi teringat dengan orang-orang yang kucintai. Betapa lama waktu aku melupakan mereka. Betapa banyak kesempatan aku tidak memperhatikan mereka dengan tulus dan memadai. Lagu tanpa lirik itu betul-betul menghunjam sukmaku. Rasa sendu dan penyesalan mengalir terus semenjak aku mendengar lagu itu.

.......

Aku membaca email dari rekanku itu berulang-kali. Tidak percaya dia menuliskan hal yang melankolis seperti itu. Adalagi hal yang membuatku kaget, dia menyebut diriku teman. Apa yang menjangkiti hatinya sehingga "permusuhan" kami bertahun-tahun ini seperti menguap begitu saja. Dia menyebutku teman dengan indah lagi. Aku tak habis pikir dengan ucapannya. Aku tahu dia memang seringkali mengungkap isi hati penuh melankolia. Dia pernah menulis puisi dengan rajin walau belakangan ini tidak lagi menulis puisi di FB-nya. Tetapi menjadikan aku tujuan surat elektronik dengan menyebutku teman. Sakit apa pula "mantan temanku" ini?

Bukan aku sebenarnya yang menyebut "mantan teman" lebih dulu. Dia lah yang melakukannya pertama-kali. Aku sadar aku sudah lama tidak berinteraksi dengannnya dengan dekat akhir-akhir ini, karena itulah aku menggunggah foto kami di akun FB-ku. Bukan hanya foto kami berdua, tetapi bertiga. Dulu sekitar satu setengah dekade lalu kami begitu dekat. Aku tidak berharap apa-apa. Hanya ingin mengupload "kenangan" kami dulu. Dia mau berkomentar atau tidak, itu pilihannya.

Lalu, muncul komentar yang menyakitkan di foto yang aku unggah itu. Dia berkomentar begini: itu kan dulu, waktu kita berteman dekat. Satu teman sudah "kumatikan" sejak tahun 2000. Satunya lagi, dirimu, aku "matikan" sebagai teman dekat pada tahun 2007, bersama lima orang mantan teman yang lain". Aku tidak kaget sebenarnya karena toh beberapa tahun terakhir kami memang tidak dekat. Aku hanya kaget dengan keterus-terangannya. Ibarat menggaris-bawahi sesuatu yang sudah terlihat jelas. Aku agak menyesal mengunggah foto kami itu. Permainan sakit menyakiti ini sepertinya jadi tidak pernah berakhir. Sepertinya dia juga tidak ingin mengakhirinya.

Aku tetap bertanya-tanya, apa yang membuatnya merubah persepsinya mengenai aku sebagai teman-mantan teman? aku tak tahu, tetapi aku mencoba memahaminya dengan mendengarkan lagu yang dia katakan membuatnya menangis. Lagu tersebut dibawakan oleh Indro Hardjodikoro dan termaktub di dalam album "Feels Free" yang baru saja dirilis. Mudah saja mencarinya karena album ini sudah ada di beberapa toko CD yang mulai langka di Yogyakartaa. Segera aku putar lagu "My Angels" dan kemudian aku merasakan emosi yang relatif sama dengan temanku tadi. Perasaan sendu dan ingin memaafkan segalanya.

"My Angels" aku baca sebagai metafor atas orang-orang yang kita cintai atau pernah kita cintai. Orang yang dekat dan yang pernah dekat dengan kita. Terus terang, perasaannya yang terkuat adalah munculnya keinginan untuk berbuat hal terbaik untuk istri dan anak semata wayangku. "My Angels" yang dekat dengan diriku. Bahkan aku rela mati untuk dua orang yang paling kucintai ini. Lalu kemudian terbayang teman-teman dekat dan mantan teman-temanku, apakah aku sudah melakukan hal-hal terbaik untuk mereka? apakah aku tidak membuat luka permanen di dalam hati mereka seperti yang diasumsikan kulakukan pada temanku si pengirim email? apakah konflik masa lalu, langsung ataupun tidak langsung, mengubah personalitas dan interaksinya? beberapa tanya terus saja bergelayut.

Aku terus mendengarkan album ini. Sudah terlanjur membelinya dan berarti aku mesti mendengarkannya sampai selesai. Semua lagu bagus. Aku jadi ingin bercerita banyak karena album ini, musik tanpa lirik memang cenderung mengundang kita untuk berkontemplasi dan memaknainya secara personal di dalam hati. Ada hasrat kuat untuk mengisi lirik versi kita sendiri ketika mendengarkan lagu instrumental. Lagu "My Angels" yang merupakan duet Indro, dan sohibnya, Tohpati, memang lagu dengan komposisi paling kuat dan paling potensial melumerkan kekerasan hati. Bukan berarti lagu-lagu lain tidak bagus. Lagu-lagu lain lumayan bagus, terutama bagi dirinya yang tidak dekat dengan nuansa jazz.

Album yang dirilis oleh "Indro Hardjodikoro" ini berjudul "Feels Free" dan relatif baru dirilis. Total ada sepuluh lagu di sini yang semuanya instrumental dengan bass, instrumen yang dimainkan Indro sebagai fokus, yaitu:

1. Titik Awal
2. I Like Surprises
3. My Angels
4. Greenland
5. Feels Free
6. Psychopath
7. Drum & Bass
8. Menyapa Pagiku
9. Lost City
10. Senja

Aku ingin berterima kasih pada temanku yang telah memperkenalkan album ini. Paling tidak, pengetahuan musikku sedikit bertambah. Sebelumnya, aku tidak tahu bassis Indonesia yang keren seperti Indro Hardjodikoro. Aku hanya tahu Mark King, bassis Level 42, dan John Taylor, bassis Duran Duran, yang menjadi model bagi karakter fiksi terkenal 1980-an, Lupus. Pengetahuanku kebanyakan merujuk pada musik Barat dan hanya yang berasal dari dekade 1980-an.

Aku juga ingin berterima kasih pada temanku yang telah mengakhiri permusuhan kami selama kurang lebih tiga tahun ini. Paling tidak aku lebih baik, temanku yang satu lagi sudah dimusuhinya sekitar sepuluh tahun. Dia memusuhi lebih baik dibandingkan dengan menyintai orang lain. Aku ingin dekat kembali dengannya dan berteman seperti dulu. Aku ingin menemuinya besok hari. Ingin rasanya memeluknya esok. Bah, mengapa aku juga jadi melankolis seperti dirinya? terus terang aku adalah orang yang rasional dan cenderung menggangap menulis puisi itu aktivitas yang memalukan, tidak seperti dirinya.

Ternyata sebelum tengah malam dia mengirim SMS, "Hei, anggap saja emailku padamu itu tidak pernah ada. Aku tidak akan pernah lagi menganggapmu sebagai teman sebelum kau minta maaf karena turut membantu orang-orang itu menstigma diriku tidak loyal, tidak kompeten, dan stigma-stigma lainnya di tahun 2007 lalu. Kita akan tetap menjadi musuh yang baik bagi masing-masing 'kan?"

Ah, ternyata email darinya itu hanya fiksi. Begitu juga tulisan ini, kecuali album yang direview.

Jangan-jangan dari sisi Penulis Hidup, semua karakter, kita ini pun hanya fiksi.

Aku hanya ingin mendengarkan album ini sekali lagi....

Mesin Penenun Hujan: Absurd, Indah, dan Cerdas


Kemarin adalah hari yang menjemukan. Bukan apa-apa, bagi saya secara personal, kemarin itu saya menemukan banyak paradoks dalam pesan media yang saya akses. Pesan faktual atau berita yang semestinya menyampaikan fakta-fakta, justru menyampaikan hal-hal tidak rasional, yang menjauhkan dari kesadaran, juga lebih banyak pada tafsir orang-orang. Kami butuh yang riil, kami butuh yang menyampaikan realitas sedekat mungkin. Juga sebuah tulisan yang semestinya ditujukan untuk orang tertentu, ternyata setelah dibaca lebih tulisan itu adalah sarana narsisme dari penulisnya. Mungkin saya saja yang bodoh karena tetap membaca tulisan itu walau diri telah mengingatkan. Atau memang dunia akhir-akhir ini adalah tempat paradoks dan absurditas meraja.

Daripada memikirkan rangkaian paradoks itu ada baiknya kita membicarakan hal yang absurd sekalian: mesin penenun hujan! Mesin ini adalah metafor yang dinyanyikan oleh Frau di mini-albumnya: Starlit Carousel. Siapa Frau? saya tidak akan membahasnya. Hal yang jelas adalah penyanyi ini sudah dibicarakan berbulan-bulan di Yogyakarta. Banyak rekan saya membicarakannya, memujinya, dan membagi lagu-lagu Frau sebelum dia merilis mini album ini. Sayangnya, lagu-lagu berformat mp3 itu saya biarkan cukup lama di komputer personal saya dan saya hanya mendengar apreasiasi yang bagus dari berbagai pihak. Ari Lasso dan Piyu adalah dua penyanyi yang mengidolakan penyanyi muda ini. Siapa yang tidak mengidolai penyanyi muda ini? Penyanyi yang cara bernyanyinya mirip dengan Tori Amos, orang cerdas yang mungkin akan seperti Bjork, dan penulis lirik dengan sense keperempuanan seperti Suzanne Vega.

Akhirnya, saya mendapatkan kesempatan mengaksesnya secara langsung. Saya dengarkan berkali-kali tetapi tetap sulit menuliskan "takaran" dari kumpulan lagu ini. Baru kemarinlah hasrat itu muncul karena kekecewaan melihat realitas pesan media di depan mata. "Mesin Penenun Hujan" adalah metafor yang bagus untuk mempertanyakan bagaimana bila hidup kita berkebalikan dengan realitas sekarang? sesuatu yang tak mungkin, absurd, tetapi cukup layak ditanyakan sesekali. Walau sejatinya lagu ini bicara kisah cinta, sebenarnya bisa dikaitkan dengan wilayah kehidupan yang lain,...merakit mesin penenun hujan/ketika engkau telah tunjukkan/ semua tentang kebalikan/kebalikan di antara kita.

Kelima lagu lain juga sangat bagus dari sisi musik dan lirik. Lirik di kelima lagu itu juga berbicara hal "luar biasa" dengan cara tak biasa. Di dalam "Glow" misalnya, dibicarakan paradoks kata-kata cinta untuk pasangan yang diakhiri selamat tinggal. Topik ini mirip dengan "I'm A Sir" yang bicara paradoks identitas: kepuasan sekaligus kekecewaan sebagai perempuan muncul secara tersirat di lagu ini. Membicarakan hal sehari-hari dengan santai sekaligus tetap kontemplatif muncul pada lagu "Rat and Cat".

Lagu "Salahku Sahabatku" berbicara tentang paradoks pertemanan. Bagaimana kita sibuk menjaga hati sang sahabat tetapi kita juga rentan dengan rasa perih yang diakibatkan oleh tindakan dan wicara sahabat kita. Begitu pun sebaliknya, kita juga bisa "berbahaya" bagi sahabat kita. Saya mengalaminya tiga tahun yang lalu dan problem jaga hati-perih itu masih saja menghunjam sampai sekarang.

Kemudian salah satu lagu cinta berbahasa Indonesia favorit saya, "Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa, muncul pada akhir album. Lagu ini adalah lagu milik Melancholic Bitch, Frau sekaligus "meminjam" vokalisnya, Ugoran Prasad, untuk berduet di lagu ini. "Kau membias di udara dan terhempaskan cahaya" adalah kalimat romantis puitis non-narsis yang selalu saya ingat belakangan ini.

Saya mesti mengakhiri tulisan ini sebelum kenikmatan mendengarkan album ini lamat-lamat menghilang. Dari semua sisi, mini-album ini sangat bagus. Salah satu album terbaik penyanyi Indonesia tahun ini. Semoga karya bagus terus lahir dari penyanyi ini. Kombinasi suara indah, musik bagus, dan lirik cerdas, adalah pengobat bagi saya pribadi untuk akhir minggu yang sendu ini.

Jumat, 09 Juli 2010

Kehidupan Berjalan, Kehidupan Berhenti Suatu Saat


Seperti biasa, bila berada di Jakarta dia akan menyempatkan diri mencari CD album audio kesukaannya. Sepertinya hampir mustahil tidak membeli album baru bila berada di Jakarta. Tiga tempat yang biasanya dia kunjungi untuk melengkapi koleksi albumnya adalah Sarinah, jalan Sabang, dan Blok M. Dahulu kunjungan tersebut pasti dilengkapi dengan kunjungan ke toko buku QB yang dekat dengan Sarinah.

Kini kunjungan ke toko buku diambil alih oleh Kinokuniya. Sudah dua kali ke Jakarta dia ke toko buku tersebut, terutama untuk melengkapi koleksi novel Haruki Murakami. Koleksi Murakami sudah lengkap kini. Jadi dia hampir tidak punya alasan ke toko buku itu, kecuali bila masih ada novel yang ingin dicari. Kini dia berpikir untuk mulai mengoleksi novel-novel Umberto Eco. Dia menyadari bahwa keinginan untuk mengakses pesan media bisa sangat besar dan harus dihentikan. Ada baiknya menyadari bahwa kinilah saatnya untuk duduk dan berdiam diri menikmati semua koleksi pesan media yang dia punya, album musik, film, dan buku. Sayang bila semua pesan media tersebut tidak terakses.

Bagian dari koleksi pesan media miliknya masih banyak yang belum diakses, dipahami, dan ditafsir kembali. Dia merasa belum punya waktu yang cukup saja walau sangat mungkin secara empiris waktu cerna itu ada. Entahlah, dia malah mengakses kembali pesan media, terutama album musik yang dia suka. Banyak album musik yang dia miliki walau hanya sebagian kecil yang membuatnya terkesan dan teringat masa lalu.

Salah satu album tersebut adalah Live, yang berjudul “Throwing Copper”. Album ini dirilis pada tahun 1994. Walau dirilis tahun 1994, album ini memiliki masa edar di benak dan hati sangat lama, sekitar tiga tahun. Dahulu memang begitu, format digital belum terlalu dikenal dan akses juga belum secepat. Sebuah album bisa diputar berminggu-minggu. Tidak seperti sekarang yang masa putarnya hanya dalam hitungan hari, kecuali album yang sangat bagus. Selain itu, dahulu mengakses dan mencerna album musik dilakukan bersama-sama dengan teman-temannya sehingga masa menikmatinya bisa lebih lama. Pada masa sekarang ini, menikmati musik lebih pada aktivitas personal. Sendirian. Masih tetap mengasyikkan walau tidak seasyik mengakses bersama-sama. Itulah sebabnya mengapa para penggemar sepakbola lebih memilih menonton bersama daripada sendirian.

Album ini adalah album yang paling sering dia beli. Dia membeli album ini empat kali, tiga dalam format kaset dan satu dalam format CD. Dua kali kasetnya hilang. Satu dicuri dan satu hilang entah kemana. Satu kaset sampai sekarang masih ada. Dia kemudian membeli album yang berformat CD setelah mampu membelinya. Album ini masih relatif sering bersama seluruh album U2, Manic Street Preachers, dan REM, karena memang album ini mengingatkan pada banyak hal.

Pertama, teman-teman di masa lalu dan di masa sekarang. Ada teman masa lalu yang tidak bertahan pada masa kini. Ada yang bertahan dan masih berteman dekat sampai sekarang. Inilah cara kehidupan berjalan. Album ini benar-benar mengingatkan dirinya pada teman-teman yang dulu sangat dekat dan kini telah dia “matikan”. Artinya, mereka bukan teman lagi, orang-orang tempat berbagi informasi dan emosi personal. Dulu mereka memang ada di hati dan kini, bila bisa, dia ingin tidak berkaitan lagi, walau hal itu sangatlah sulit. Bila pun berinterkasi, itu hanya untuk formalitas atau kesopanan saja.

Kehidupan dengan caranya sendiri bisa mengakhiri dirinya, seperti juga Dia bisa memulainya. Topik yang sama muncul di lagu “Lightning Crashes” di album ini. Seperti juga pertemanan, dia bisa dimulai, berhenti, berhenti untuk selamanya, atau dimulai kembali. Kehidupan memang seperti ini adanya.

Hal kedua yang dia maknai dari album ini adalah kebangkitan dan “kematian”. Itulah yang terjadi pada Live, band produsen pesan di album ini. Mereka muncul begitu saja dan kemudian “hilang” sampai sekarang. Waktu itu di awal 1990-an Live begitu populer, terutama karena album ini. Lagu-lagu di album ini, “Selling the Drama”, “Lightning Crashes”, “Iris”, “All Over You”, dan “I Alone”, bergiliran masuk di chart dan videoklip-nya sangat populer di MTV, juga sangat sering dinyanyikan di pentas-pentas musik kampus.

Setelah album ketiga, “Secret Samadhi”, Live tidak pernah lagi mencapai popularitas yang sama seperti sebelumnya. Mereka masih memproduksi album tetapi memang tidak ada album yang membuat terkesan seperti album “Throwing Copper” ini, album pertama “Mental Jewelry”, dan album ketiga “Secret Samadhi”. Menyaksikan videoklip mereka, terlihat sekali bahwa mereka mencapai puncaknya justru pada masa awal karir mereka. Mungkin mereka tidak bisa mempertahankan performa yang sama, mungkin mereka tidak lagi mengeksplorasi dengan cukup mendalam, mungkin mereka tidak utuh lagi sebagai tim. Entahlah, yang jelas mereka tidak sehebat dulu.

Pelajaran ini penting, bagaimana menjaga performa agar tidak “menghilang” begitu saja. Grup-grup 1980-an banyak yang bertahan sampai sekarang, antara lain A-Ha, Duran Duran, Depeche Mode, Pet Shop Boys, U2. Sebagian tetap mengeksplorasi hal yang menjadi esensi musik mereka sejak awal. Sebagian lagi mengeksplorasi hal-hal baru. Pilihan itu ada untuk membuat “kehidupan” yang baik itu terus berjalan.

Tafsir ketiga atau terakhir yang dia ingat adalah album ini yang kembali membawanya “pulang”. Album ini adalah album yang menemaninya pulang ke tanah kelahirannya pada tahun 1994. Dia belum pernah pulang sejak ikut orang-tuanya pindah ke Yogya pada tahun 1990. Album inilah sejak lagu pertama sampai hidden track-nya membahana di telinga atas penemuan kembali hidupnya dengan pulang. Pulang memang selalu menjadi sarana terbaik untuk menemukan diri kembali. Mengisi kembali diri dengan semangat baru di tempat asali diri berada.

Bila dia bertanya pada diri sendiri, apakah album dari masa lalu seperti ini akan membuatnya “memaafkan” masa lalu, atau membantu dirinya menemukan kembali hubungan-hubungan yang telah rusak. Dia hanya menjawab: dia tak tahu, dia sungguh tak tahu”...biarkan saja kehidupan dan semua isinya hadir, berjalan dan hilang, kemudian hadir lagi, seperti lagu “Lightning Crashes” berikut ini:

"Lightning Crashes"

lightning crashes, a new mother cries
her placenta falls to the floor
the angel opens her eyes
the confusion sets in
before the doctor can even close the door

lightning crashes, an old mother dies
her intentions fall to the floor
the angel closes her eyes
the confusion that was hers
belongs now, to the baby down the hall

oh now feel it comin' back again
like a rollin' thunder chasing the wind
forces pullin' from the center of the earth again
I can feel it.

lightning crashes, a new mother cries
this moment she's been waiting for
the angel opens her eyes
pale blue colored iris,
presents the circle
and puts the glory out to hide, hide

Selamat Datang Juara Baru!


Kemenangan Spanyol atas Jerman, 1-0, benar-benar memuaskan saya. Seratus persen harapan saya terwujud karena semifinal pertama antara Belanda versus uruguay dimenangkan oleh Belanda, 3-2. Keduanya belum pernah menjadi juara dunia dan kepedulian utama saya adalah hadirnya juara baru. Dan hari Minggu besok impian saya terwujud di partai final.

Kemenangan Belanda sesuai dengan prediksi dan ramalan banyak pihak, terutama para pakar komentar bola. Simpati penggila bola pada Uruguay juga menurun karena kecurangan Suarez yang menahan bola di perempatfinal ketika melawan Ghana. Kemenangan Belanda bahkan bisa lebih besar bila mereka “berdarah dingin” dan tanpa belas kasihan seperti tim Jerman ketika Jerman membantai Argentina.

Kemenangan Spanyol lebih spesial karena dukungan terbagi dua dan 50:50 kemungkinannya. Jeman bermain sangat bagus melawan Argentina, sementara Spanyol “hanya” menang tipis atas Paraguay. Tetapi mungkin ada yang dilupakan oleh para pengamat bahwa Paraguay memberikan perlawanan “berdarah-darah” atas Spanyol, tidak seperti Argentina yang seperti diajari bermain bola oleh Jerman.

Walau begitu, Jerman dan Spanyol patut berbangga karena keberhasilan mereka bukan hanya berpenampilan bagus di Piala Dunia, mereka juga menemukan bakat-bakat muda untuk masa depan, terutama dua penyerang mereka, Muller dan Pedro.

Hal yang unik lainnya dari dua partai semifinal adalah berita-berita di media yang bukan mengutamakan rasionalitas dan faktualitas, melainkan pada klenik dan opini tak jelas. Berita pertama adalah tuah buruk Mick Jagger bila menonton langsung di pertandingan. Bila dia menonton, tim yang dibelanya kalah. Berita kedua adalah sweater biru Loew, pelatih Jerman, yang memiliki tuah bagus bila digunakan. Saya melihat Loew dan juga asistennya menggunakan sweater dengan warna yang sama. Dan, mereka kalah dari Spanyol.

Berita terakhir yang paling “klenik” adalah pemberitaan tentang si Paul gurita yang selalu meramal benar untuk hasil pertandingan. Ramalan si Paul selalu tepat untuk Jerman karena dia memang ada di sebuah kebun binatang di Jerman. Sayangnya, dia meramal Jerman kalah melawan Spanyol. Ramalan ini pun benar. Sangking gusarnya rekan saya yang mendukung Jerman, sampai-sampai dia menulis di status FB yang menyarankan gurita “pintar” itu digoreng saja.

Pemberitaan media untuk topik apa pun semestinya mengutamakan rasio dan fakta. Tetapi inilah realitas sekarang ini. Media yang ada dalam koridor komersial akan cenderung seperti ini. Rasio yang relatif disingkirkan di dalam pesan media juga karena literasi media yang belum bagus sehingga tidak ada tekanan yang kuat dan konsisten pada media dari masyarakat sipil.

Partai-partai seru Piala Dunia juga memancing presiden berkomentar atas prestasi sepakbola nasional yang terpuruk sekali. Mungkin doski iri melihat bagaimana para kepala pemerintahan negara lain bersuka-cita mendukung negaranya. Selama ini kemana saja, Pak! Bila berkaitan dengan tampil di media dan citra saja, Anda sepertinya bersemangat sekali.

Pagi ini rasanya riang sekali. Saya bisa menulis dan mengerjakan tugas-tugas lain dengan hati bahagia karena harapan dan keriaan atas Piala Dunia kali ini terwujud. Selain itu, banyak yang bisa dipelajari dari dua semifinal kali ini, terutama bila melihat perjalanan keempat semifinalis sepanjang turnamen.

Bila kita mengaitkan dengan klub. Kita bisa menyimpulkan bahwa dua klub Spanyol berperan besar bagi kesuksesan kedua negara finalis. Madrid setahun lalu melepas kedua pemain utama Belanda, Robben ke Muenchen dan Sneijder ke Inter Milan. Kita tahu bagaimana kedua pemain itu membawa klubnya masing-masing ke final Champions Cup. Untung Madrid tidak jadi melepas van der Vaart. Bila dilepas dia pasti akan lebih baik lagi dan Belanda akan lebih berbahaya. Klub besar Spanyol yang lain yang berkontribusi bagi negara finalis adalah Barcelona. Klub ini menyumbang roh bagi tim Spanyol, Xavi dan Iniesta. Kita mungkin tidak akan melihat Spanyol yang hebat dan bermain cantik tanpa kedua pemain ini. Itu pun ditambah oleh Puyol yang selalu bermain bagus dan lugas dalam bertahan, juga Villa yang baru saja pindah ke Barca.

Bagaimana pun juga, kedua negara memang memiliki generasi emas, Spanyol dengan poros Barcelona – Madrid, sementara Belanda dengan para pemain “bekas” atau yang disia-siakan Madrid. Final nanti adalah penampilan pertama Spanyol dan penampilan ketiga Belanda. Kita tinggal menunggu pertandingan final nanti, apakah naiknya penampilan Barcelona dua tahun terakhir akan membawa Spanyol juara, atau Belanda bisa menasbihkan dirinya sebagai juara, untuk menghilangkan stigma sebagai tim yang bermain cantik tanpa gelar juara.

Bagaimana pun juga juara Piala Dunia nantinya adalah negara yang belum pernah menjadi juara sebelumnya. Belanda ataupun Spanyol akan menjadi negara kedelapan yang menjadi juara dunia.

Untuk itulah Piala Dunia kali ini patut disyukuri karena mendistribusikan kekuatan sepakbola dengan lebih merata.

(keterangan gambar: majalah resmi World Cup 2010 rilisan FIFA)

Selasa, 06 Juli 2010

Harapan Munculnya Juara Baru


Bila di babak penyisihan grup kita tidak diberi kesempatan untuk "bernapas" karena beruntunnya pertandingan, tidak demikian halnya dengan babak perempatfinal ke semifinal ini. Jeda antar pertandingan terasa lama karena kita terbiasa setiap malam menonton tiga pertandingan. Tetapi "penantian" itu akan tuntas Rabu dini hari nanti.

Apa yang menarik dari babak perempatfinal kemarin?
Jawabannya singkat, mengembalikan tim-tim besar Amerika Latin kembali menjejak kakinya di bumi. Brasil dan Argentina yang digadang-gadang sebelumnya sebagai tim dengan permainan dan hasil paling menawan, ternyata takluk oleh dua "raksasa" lain. Raksasa dari Eropa. Walaupun secara persentase, Eropa meloloskan lebih sedikit tim ke perdelapan-final, ternyata memang mereka adalah tim-tim yang tangguh.

Dua kemenangan raksasa Eropa atas raksasa Amerika Latin berbeda. Belanda bermain gemilang dan menang tipis atas Brasil, 2-1. Sementara, Jerman seperti mengajari Argentina bermai sepakbola. Jerman menang 4-0. Setelah dua kekalahan tersebut, Dunga dan Maradona kembali mendapatkan kritik dari para pengritik mereka yang tadinya mulai diam. Melo, pemain Brasil yang memberi asis, gol bunuh diri, dan kartu merah, sampai-sampai disarankan untuk tidak pulang dulu ke Brasil.

Sementara itu, dua tim lain, Uruguay dan Spanyol, bersusah-payah lolos dari "lubang jarum". Uruguay sampai-sampai harus bermain "kotor" untuk mengalahkan Ghana. Bola yang dihadang dengan tangan oleh Suarez mungkin setara dengan kekotoran Henry yang juga menggunakan tangan untuk meloloskan timnya dari playoff dari Irlandia. Sementara Spanyol sudah mulai menemukan form terbaiknya seperti ketika mereka mengalahkan Jerman di final Piala Eropa 2008 sebelum dikalahkan Amerika Serikat di Piala Konfederasi. Spanyol memerlukan kecermerlangan Villa dan Casillas kembali di semifinal.

Pertandingan semifinal akan sangat seru. Pertandingan pertama, Belanda versus Uruguay, adalah pertarungan dua zona. Kita akan melihat Belanda memiliki kans sedikit lebih baik daripada Uruguay. Apalagi Uruguay akan bermain tanpa Suarez. Pertandingan kedua adalah Jerman versus Spanyol. Jerman yang sekarang tentu saja berbeda dengan Jerman di tahun 2008. Kehadiran Oezil, Muller, Khadiera, dan Boateng, yang menjadi Juara Eropa U-21, menjadikan Jerman lebih kuat. Sayang, Muller tidak hadir di semifinal karena akumulasi kartu. Jerman menjadi lebih kuat karena skuad multikulturnya. Kira-kira seperti Perancis ketika menjuarai Piala Dunia 1998. Bagaimana pun beragam lebih baik daripada seragam.

Walau begitu, saya memegang Spanyol untuk lolos ke final melawan Belanda. Bukan apa-apa, biar ada juara baru yang lahir. Tidak hanya negara-negara yang secara tradisional sering juara. Jerman semoga tidak sampai ke final. Walau juara terakhir mereka raih pada tahun 1990, dua puluh tahun yang lalu, namun Jerman pernah juara. Begitu pula dengan Uruguay. Walaupun mereka juara terakhir kali tahun 1950, mereka kan pernah juara juga.

Sebaiknya ada juara baru. Untuk itu saya memegang Belanda dan Spanyol. Biar rata gelar juaranya :)... selain itu, karena sejauh ini Belanda dan Spanyol bermain lumayan apik. Apa tim pilihan teman-teman?

(keterangan gambar: Bolavaganza, salah satu majalah paling lengkap untuk Piala Dunia 2010)

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...