Senin, 16 Agustus 2010

Drop Dead Beautiful


Dekade 1990-an disesaki dengan banyak lagu bagus dari para penyanyi bagus. Beberapa penyanyi atau band tersebut tetap eksis sampai sekarang. Beberapa menjadi penyanyi atau band besar. Beberapa lagi hilang “ditelan” perubahan musik yang sangat cepat dan dinamis.

Salah satu penyanyi yang hilang dan sekarang tidak aktif adalah duo dari Jerman yang menamakan dirinya “Six Was Nine”. Pada tahun 1994 mereka merilis hit yang berjudul “Drop Dead Beautiful”. Satu lagu ini cukup membuat mereka dikenal di seluruh dunia. Duo ini terdiri dari Achim Degen yang berperan sebagai vokalis dan Markus Tiedemann sebagai gitaris.

Lagu “Drop Dead Beautiful” ada di dalam album “Let It Come Your Way”, album kedua Six Was Nine. Sepanjang karir mereka yang relatif singkat, mereka hanya menelurkan empat album. Album kedua ini adalah album yang paling mendapat perhatian dari para penikmat musik walau bisa dikatakan hanya satu lagu yang bagus.

Mendengarkan lagu ini membuat saya teringat dengan salah seorang teman masa SMA yang mengenalkan band ini ke saya. Kami sangat dekat ketika SMA dan pada masa awal kuliah kami masih dekat walau kami berbeda jurusan. Saya kuliah di Ilmu Komunikasi, sementara dia di Teknik Elektro UGM, dan kemudian pindah ke Teknik Komputer ITS. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan tetapi lama kelamaan saya jadi suka pula dengan lagu ini. Sejak SMA sampai sekarang saya mendapatkan partner yang bagus mengakses musik populer. Mungkin hanya pada masa kini saya tidak memiliki teman yang total mendengarkan dan mengapresiasi musik. Ada beberapa memang, tetapi jarak usia ternyata berpengaruh pada kesukaan dan preferensi musik.

Teman saya itulah yang mengenalkan banyak penyanyi dan lagu bagus karena dia memiliki uang saku lebih banyak untuk membeli kaset pada waktu itu. Kalau saya mesti menabung dulu untuk membeli kaset, dia tidak perlu menabung karena uang sakunya relatif cukup. Selera kami juga mirip, terutama pada genre slow rock yang waktu itu meraja.

Moment bersama dirinya dan beberapa teman lagi dalam mengakses dan mendengarkan musik, adalah masa-masa yang indah. Saya sering menginap di rumahnya. Alasannya belajar bersama mata pelajaran yang saya tidak jago, matematika, proyeksi, kimia, dan fisika. Sementara dia pintar sekali pelajaran-pelajaran eksak. Tipikal teman-teman saya waktu SMA. Sembari belajar dan mengerjakan tugas itulah, kami mendengarkan banyak album, mulai dari the Beatles sampai Pet Shop Boys, mulai dari INXS sampai Linear, dari White Lion sampai Skid Row.

Album Six Was Nine ini sudah lama saya cari tetapi ternyata kasetnya pun tidak ketemu juga. Mencoba menghubungi teman saya itu juga hampir tak mungkin. Karena pekerjaan dan berjalannya waktu, kami tidak lagi sering berkomunikasi. Beberapa hari yang lalu, secara tak sengaja saya menemukan album Six Was Nine ini di toko CD. Harganya lumayan mahal, tetapi karena langka sekali dan juga tidak saya temukan di situs peer to peer, album ini saya beli juga.

Untuk mengenang masa lalu dan teman akrab saya itu. Saya mendengarkan lagu ini berulang-ulang. Ternyata saya semakin paham alasan sebuah lagu bisa menjadi pemantik yang sangat baik bagi sebuah kenangan. Mendengarkan lagu ini serasa membawa saya pada saat-saat indah selepas SMA dan teman-teman masa “muda” yang asyik. Sekenang kedar-kedaran, saya menyanyikan dan berbagi lirik lagu yang bercerita tentang hubungan cinta dengan pacar sahabat karib, kira-kira maknanya mirip dengan lagu “Sobat”-nya Padi. Tetapi saya tidak terlalu risau dengan maknanya. Saya lebih mementingkan menikmati lagu ini dan mengingat kembali banyak kenangan indah dahulu.

Drop Dead Beautiful
Performed by: Six Was Nine

Oh, Come on, yeah..

Oh,
I don't wanna take my best friend's baby
But she's drop dead beautiful

Is it right,
Is it wrong?
What I'm feeling
I can't go
'Cause I know it's the real thing
I've been good all my life
I've been good, but baby tonight


We're gonna get arrested by the police of love
But I see in your eyes:
We're committing no crime

Oh,
I don't wanna take my best friend's baby
But she's drop dead beautiful
I wish, I was blind, then he wouldn't blame me
But she's drop dead beautiful

Yeah, yeah
Yeah, yeah.. mmm..

I don't care if they swear it's not legal
You want me,
So how could we be stealing?

No one wish this is true
No one wish, but I can't lose you

We're gonna get arrested by the police of love
But I see in your eyes:
We're committing no crime

Oh,
I don't want to take my best friend's baby
But she's drop dead beautiful
I wish I was blind, then he wouldn't blame me
But she's drop dead beautiful

Yeah, yeah
Yeah, yeah

Yeah, yeah
Yeah, yeah

Oh
I don't want to take my best friend's baby
But she's drop dead beautiful
I wish I was blind, then he wouldn't blame me
But she's drop dead beautiful

Yeah, yeah
oh, baby
Yeah, yeah
Yes, she's drop dead beautiful
Yeah, yeah
Yeah, yeah

She's drop dead beautiful

Oh
I don't wanna take my best friend's baby
But she's drop dead beautiful
I wish I was blind, then he wouldn't blame me
But she's drop dead beautiful

Jumat, 13 Agustus 2010

"Pemakaman" Diri di Daerah Pinggiran Kota


Tidak banyak hal bagus yang diawali oleh sesuatu yang negatif. Tidak banyak individu atau kumpulan individu yang bergerak progresif dengan diawali oleh hal-hal yang "buruk" atau "negatif". Namun tidak demikian dengan band asal Kanada ini. mereka memulai karir lewat debut album yang berjudul aneh, "Funeral". Sebuah judul yang rasanya tak enak dibaca apalagi dimaknai. Tetapi begitulah adanya, album pertama yang dirilis pada tahun 2005 itu hanya aneh dalam nama tetapi tidak dalam isinya. Album itu berisi lagu-lagu keren dan lirik-liriknya menafsir pun kehidupan juga oke sekali.


Album pertama itu memang berasal dari kedukaan sebagian anggota band. Di tahun tersuram kehidupan mereka itu, mereka seringkali menghadiri pemakaman orang-orang yang mereka cintai. Walau berasal dari suasana sedih nan mendalam, mereka bisa "membelokkannya" menjadi energi positif untuk salah satu karya debut terbaik dalam musik populer, mirip dengan Manic Street Preachers untuk "Terrorist Generation", dan Pearl Jam, "Ten". Hanya sedikit band yang bisa melakukannya.


Lalu di album kedua yang dirilis pada tahun 2007, "Neon Bible", mereka mencoba menafsir salah satu metanarasi terbesar dalam masyarakat modern, agama dan dinamika percepatan. Album kedua itu bukannya tak bagus. Menurut saya, album kedua Arcade Fire juga bagus namun tak sedalam album pertama. Mungkin mereka sedikit gagap ketika membicarakan hal-hal besar dan ciamik membicarakan hidup personal mereka yang kemudian ditafsir lebih luas.


Kemungkinan hal itu mereka sadari, pada album ketiga yang baru saja dirilis tahun 2010 ini, mereka kembali pada cara berkreasi seperti di album pertama: membicarakan hal-hal di sekitar hidup personal dengan mendalam. Kemudian "memakamkan" diri sendiri untuk menghablurkannya pada kehidupan yang lebih luas. Cara ini tidak hanya membebaskan untuk proses kreatif apa pun, bagi Arcade Fire cara ini membuat mereka menghasilkan karya yang bagus sekali seperti album pertama. Dalam pengemasan ide, album ketiga ini malah terasa lebih matang.


Saya agak terlambat mengetahui Arcade Fire mengeluarkan album. Saya tahu tepat ketika mereka merilisnya. Biasanya untuk band-band bagus yang saya suka, saya sudah mencandra waktu rilis album mereka jauh-jauh hari. Tak apalah, lebih baik tahu terlambat sesaat daripada tahu beberapa hari kemudian karena yang terpenting adalah kecepatan memaknai teks album ini. Saya hanya dapat mengutarakan satu kata untuk album ini: masterpiece!


Album ini bagus sekali dari sisi musik dan lirik. Salah satu review yang saya baca menyebutkan bila album Arcade Fire terkini ini adalah campuran ajaib dari Depeche Mode dan Neil Young. Bagaimana bisa? Depeche Mode mengusung musik elektronik. Setelah mendengarkannya relatif utuh saya akhirnya paham. Musiknya sangat kaya. Kemungkinan karena band ini terdiri dari banyak personel dan mereka tahu output seperti apa yang dihasilkan oleh instrumen yang dibawa. Kemudian mereka paham betul cara menyampur semua elemen tersebut. Selain dimotori oleh duo suami istri Win Butler dan Régine Chassagne, anggota band yang lain adalah Richard Reed Parry, William Butler, Tim Kingsbury, Sarah Neufeld dan Jeremy Gara. Belum lagi anggota tambahan ketika tour. Vokal yang berganti-ganti juga memberikan nuansa yang tidak menjemukan. Hal ini mirip dengan Sonic Youth yang divisi vokalnya juga diisi oleh suami istri yang bernyanyi bersama.


Dari sisi lirik, album ini sama "kaya" bila dibandingkan dengan musiknya. Tafsir brilian atas kehidupan pinggiran kota dan manusia penghuninya. Kota yang bergerak cepat dan berubah tanpa disadari oleh penghuninya, termasuk sang pencerita, kegundahan menjadi warga kota kelas dua, perjalanan cukup jauh menuju pusat kota, adalah beberapa topik pinggiran kota yang dibicarakan dengan fasih oleh band ini. Metafora yang sama tentang perjalanan sebenarnya sudah diupayakan oleh mereka di album kedua, tetapi tak jalan. Kemungkinan karena konsep penghubungnya adalah "hal-hal besar".


Di album ini kefasihan itu muncul karena mereka sepertinya biasa dengan kehidupan pinggiran kota, dari sisi negatif maupun positif. Dari sisi teks, penggambaran kota yang mendalam dilakukan oleh Haruki Murakami dalam "Kafka on the Shore" ketika menggambarkan kota-kota di Jepang yang menjadi setting perjalanan para tokohnya. Penggambaran itu bukan pada tafsiran fisikal melainkan pada "jiwa" kota dan tokoh-tokohnya.


Entah mengapa setelah mendengarkan album ini saya semakin bersyukur bahwa saya tinggal di pinggiran kota bagian selatan. Pinggiran kota yang tidak seperti pinggiran yang sebelah utara dan pusat kota yang maju. Perjalanan dari rumah saya ke "kota" cukup memberikan informasi dan pengetahuan atas "makhluk" kota yang berubah pelan-pelan namun signifikan. Karena album ini saya menjadi lebih ingin membuka mata dan hati untuk mengamati banyak hal di dalam perjalanan pulang pergi dari rumah saya di pinggiran kota ke kota yang sebenarnya seperti kata Win Butler: In the suburbs I/I learned to drive/And you told me we'd never survive....yang menjadi pembuka awal di album ini.


Penghuni pinggir kota digambarkan dengan penuh paradoks. Ada yang mengalami kebosanan akut, optimisme, ketidakpercayaan diri, kebebasan, dan ketidakmampuan sekaligus takjub dengan perubahan. Hal ini muncul di lagu "The Suburbs" dan "Modern Man". Kata modern banyak muncul di lirik lagu di album ini tetapi lebih dari sisi ambigu dan ketertinggalannya. Sementara "Empty Room" bicara tentang sulitnya berinteraksi dengan manusia lain walau tidak jelas apakah ada dalam ruang bernama "suburb" atau umum saja. Lagu favorit saya di album ini adalah "Suburban War" yang bercerita tentang perubahan sebuah tempat bernama pinggiran kota dan menjadi tempat yang lebih maju bernama kota. Betapa pun penghuninya berusaha sadar, kenyataanya hal tersebut sulit dilakukan. Perubahan itu dilakukan oleh aktor luar, besar sekali, dan tak tampak. Perubahan itu dilakukan oleh perubahan itu sendiri. Tidak kita ketahui awalnya, juga aktor pokoknya, kita hanya merasakan dampak darinya.


Penghuni-penghuni kemudian "terpisahkan" oleh atribut yang tercipta tanpa mereka sadari. Pembedaan ini dimetaforkan sebagai musik. Simak cuplikan lirik berikut:


This town's so strange/ They built it to change/ And while we're sleeping all the streets, they rearrange

And my old friends, we were so different then/ Before your war against the suburbs began/ Before it began

And now the music divides/ Us into tribes/ You grew your hair so I grew mine/ They said the past won't rest/ Until we jump the fence and leave it behind


Kebetulan juga tempat tinggal saya dekat sekali dengan pemakaman. Permasalahannya, apakah kita mesti "memakamkan" diri untuk menafsir teks yang berubah terus-menerus. Apakah kita bahagia dengan hidup, sekalipun "hidup" kita hanya tinggal di pinggiran kota? Bagi saya, walau kita bahagia dengan teks yang kita geluti, tidak ada teks yang membantu kita penuh, seperti halnya saya tidak akan menyelesaikan laporan riset saya walau membaca buku tentang Giddens sebanyak mungkin, walau sekalipun saya bertemu langsung dengan Giddens atau dengan siapa pun orang berotak jenius, tanpa menuliskannya sampai selesai. Teks hanya bisa kita tafsir dan mendukung. Selebihnya, semua serba tak pasti. Kita hanya bisa mengusahakan sesuatu dengan sebaik-baiknya, seperti halnya orang-orang pinggir kota menempuh perjalanan pulang pergi ke kota setiap kali.

Selasa, 10 Agustus 2010

Episto Ergo Sum


Dengan menulis kita dapat “memindahkan” gunung? Betulkah demikian? Jawabannya, benar sekali. Kita tidak hanya dapat “memindahkan” gunung tetapi juga mengubah dunia menjadi lebih baik. Tentu saja bukan berarti memindahkan gunung dalam pemaknaan kerja fisik tetapi lebih berarti pada perubahan besar yang abstrak dan tidak langsung, baik di level individual dan masyarakat.

Betapa banyak individu yang berubah karena tulisan. Banyak juga kelompok-kelompok masyarakat yang berkembang lebih baik karena tulisan. Tulisan adalah wahana kreativitas dan inspirasi yang mengalir dari satu pihak ke pihak yang lain. Bila hal yang positif, inspirasi dan kreativitas, itu bisa diterima, hal positif itu akan mengalir dengan mudah ke banyak orang.

Beberapa hari yang lalu saya mengenal komunitas yang unik dan bertemu salah satu wakilnya. Nama komunitas itu adalah Epistoholik Indonesia. Komunitas ini adalah kumpulan orang yang menulis dengan rutin di surat pembaca media cetak, terutama suratkabar. Mereka menulis tentang kegundahan hati yang terjadi di lingkungan sekitar. Kebanyakan kegundahan hati mereka adalah kegundahan masyarakat umum karena hampir semua kegundahan itu berkaitan dengan pelayanan publik. Perbedaannya, para “epistoholik” ini dengan sukarela dan bahagia menuliskannya ke media.

Berdasarkan pemaparan blog Epistoholik Indonesia, www.episto.blogspot.com, kita dapat mengetahui bahwa kaum epistoholik adalah orang-orang yang kecanduan menulis surat pembaca. Kata epistoholik berasal dari kata epistle yang berarti surat dan oholik yang berarti kecanduan. Bila imbuhan oholik pada alkoholik dan warkoholic bermakna negatif, tidak demikian halnya dengan epistoholik yang berarti positif.

Di dalam blog Epistoholik Indonesia sudah digambarkan dengan sangat bagus aktivitas mereka oleh pendirinya, Bambang Haryanto. Mereka menulis hal-hal yang tidak sesuai yang terjadi di sekitar mereka. Tidak jarang keluhan mereka yang dimuat di media massa membuat perubahan yang positif. Pihak-pihak yang tidak memberi pelayanan atau menjalankan kewajibannya dengan baik memang biasanya akan berbenah bila terpantau oleh publik yang lebih luas.

Bambang Haryanto sendiri sudah menulis surat pembaca sejak 1973 dan setelah itu dia kecanduan menulis surat pembaca di suratkabar. Dalam perkembangan selanjutnya, Bambang Haryanto bisa mengajak beberapa individu yang memiliki hobi sama untuk membentuk komunitas. Kini komunitas Epistoholik Indonesia memiliki keanggotaan yang bersifat cair di beberapa kota.

Lalu, bagaimana meninjau fenomena ini dari sudut pandang kajian media? Hal yang agak mudah diamati dari komunitas epistoholik ini adalah bahwa komunitas ini berada dalam wilayah kecakapan bermedia yang paling tidak. Aktivitas menulis di media massa memerlukan pemahaman yang tinggi atas media. Selain itu, keinginan untuk memberikan kontribusi sosial melalui media adalah indikator tertinggi dari kecakapan bermedia.

Kajian media bila diinteraksikan dengan demokrasi menunjukkan bahwa kaum epistoholik memperkuat demokrasi bermedia. Epistoholik atau audiens ini sedikit banyak juga berperan dalam produksi pesan media. Rubrik surat pembaca di sebuah suratkabar adalah salah satu rubrik yang paling diburu untuk dibaca. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh “keaslian” dari suratpembaca yang berasal dari masyarakat secara langsung. Kemungkinan rubrik surat pembaca adalah perwujudan yang paling riil dari ruang publik.

Suratkabar bisa dianggap sebagai jenis media yang paling demokratis karena suratkabar adalah media yang secara rutin menyediakan ruang bagi masyarakat. Hal ini berbeda dengan jenis media lain, terutama media penyiaran, atau media interaktif yang secara natural memang tertuju untuk masyarakat. Dengan demikian, media cetak merupakan kombinasi dari pihak media dan masyarakat.

Coba kita lihat ruang dan waktu yang diberikan media televisi sebagai contohnya. Hampir tidak ada ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi melalui media. Hanya ada sedikit ruang dan waktu bagi audiens untuk menyuarakan kepentingan masyarakat. Audiens juga tidak bisa memberikan masukan atau kritik untuk stasiun televisi.

Ini adalah contoh untuk menunjukkan betapa rubrik surat pembaca beserta “aktivis” pengisinya, komunitas epistoholik, adalah bagian yang penting bagi demokrasi media. Memang setelah internet berkembang pesat dan menjadi bagian dari masyarakat, demokrasi media semakin mungkin terjadi, tetapi pada kenyataannya internet belum sekuat media cetak aksesnya di masyarakat.

Sebagai penutup, komunitas ini memiliki slogan “episto ergo sum”, yaitu aku menulis (surat pembaca) maka aku ada. Manifesto yang cantik dan terus membuat komunitas ini untuk terus menulis di surat pembaca, untuk memerdekakan diri dan berkontribusi sosial.

Jumat, 06 Agustus 2010

Seperti Ketika Mengakses Pesan tentang Sepakbola


Gaung Piala Dunia 2010 masih terasa. Hal ini antara lain bisa kita lihat dari pemberitaan mengenai denda yang diberikan FIFA kepada kontestan partai final, Spanyol dan Belanda, karena bermain kasar. FIFA sebagai otoritas sepakbola tertinggi dan penyelenggara World Cup benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik Demikian juga negara-negara di bawah naungannnya. Sejauh ini saya belum mendengar ada protes, apalagi protes berlebihan, dari Belanda dan Spanyol, atas denda tersebut.

Sepakbola di negara lain, terutama negara-negara yang tergabung dalam UEFA juga, juga dikelola dengan sangat baik. Belum pudar kepuasan kita menonton Piala Dunia 2010, liga-liga Eropa siap diselenggarakan kembali tahun ini. Dua liga pertama yang diselenggakan adalah Liga Perancis dan Liga Belanda. Liga Inggris, sebagai liga yang dianggap terbesar lima tahun terakhir ini, akan dimulai minggu berikutnya. Tidak hanya itu, kesesuaian dengan liga Eropa antar negara juga patut diacungi jempol. Sekarang ini babak kualifikasi Piala Champions dan Piala Eropa, sedang berjalan. Walau sempat diprotes oleh beberapa klub karena jadwal yang sangat padat, secara umum roda kompetisi intra dan antar negara di Eropa berjalan dengan sangat bagus, juga keseuaian dengan jadwal pertandingan internasional untuk negara, tidak hanya untuk klub.

Lalu bagaimana dengan fenomena pengelolaan sepakbola di negara kita? sebenarnya sedih juga membicarakannya karena bila kita berbicara tentang sepakbola nasional, yang ada adalah kisah-kisah yang menyedihkan dan kurang bagus. PSSI sebagai otoritas tertinggi sepakbola di Indonesia tidak berfungsi dengan baik. Mulai dari penjadwalan yang amburadul sampai dengan profesionalisme pengurusnya terus dipertanyakan. Contoh paling dekat adalah jadwal tanding ulang antara Persik dan Persebaya yang terus saja tertunda. Masak liga telah selesai tetapi pertandingan tunda masih ada juga?

Atau contoh yang lebih memalukan adalah intervensi polisi dalam final Piala Indonesia dua hari yang lalu. Bisa kita saksikan dari tayangan langsung di sebuah stasiun televisi betapa Kapolda Jawa Tengah, Alex Bambang Riatmodjo, tidak memahami aturan permainan di dalam sepakbola bahwa tidak ada yang bisa mengganti wasit di dalam sebuah pertandingan sekalipun yang meminta adalah presiden. Terlepas ada pro kontra keputusan wasit Jimmy Napitupulu mengkartu merah pemain Arema Noh Alam Shah, yang begitu "tegang", permainan adalah permainan. Pertunjukan harus terus berjalan.

Kasus ini unik karena ternyata orang selevel Kapolda dan kemungkinan besar memahami peraturan dan informasi yang baik tentang sepakbola saja tidak tahu (atau tidak ingin tahu?), apalagi anggota masyarakat kebanyakan di Indonesia. Itulah sebabnya penonton sepakbola Indonesia lebih mengutaman kecintaan membabi-buta dalam menonton tim kesayangannya tanpa mengetahui dan memahami keindahan dan keutuhan permainan sepakbola. Tindakan pak polisi itu juga cermin bagi kita, masyarakat Indonesia, yang mengakses pesan tentang sepakbola.

Kita maklum sekali betapa masyarakat kita sangat menyukai sepakbola. Lihat saja ketika Piala Dunia kemarin dihelat. Tempat-tempat menonton bersama, "nobar" (nonton barenga) selalu penuh, mulai dari yang untuk kelas bawah, angkringan dan warung mie, sampai yang untuk kelas atas, kafe dan klub ekslusif. Penonton sepakbola rela mengeluarkan dana dan waktu untuk menonton sepakbola. Belum lagi "kerelaan" untuk mengisi bit di otak dan ruang di hati untuk sepakbola. Hal ini terlihat dalam pembicaraan sewaktu Piala Dunia dihelat. Di hampir semua tempat dan waktu, orang membicarakan sepakbola.

Saat ini pun demikian pula. Para penggemar sepakbola sudah mulai membicarakan persiapan liga-liga negara Eropa. Transfer pemain dan kemungkinan taktik pelatih baru adalah dua isu yang menarik untuk dibicarakan. Media jelas mengakomodirnya. Entah mulai kapan, persiapan sebuah klub menjadi topik yang ramai dibicarakan. Saya tidak tahu pasti. Hal yang jelas bagi saya adalah sekitar lima tahun yang lalu, persiapan sebuah klub bukanlah informasi yang diburu oleh penggila sepakbola.

Kini informasi tersebut tidak hanya diburu, pertandingan-pertandingan persahabat dan pemanasan pun mendapatkan perhatian luas dari masyarakat pentonton kita. Lihatlah Emirates Cup kemarin yang disiarkan oleh sebuah stasiun televisi swasta yang animo penontonnya cukup tinggi. Ini adalah fenomena yang sangat menguntungkan bagi media. Media juga semakin baik menginformasikan tentang sepakbola. Informasi tersebut tidak hanya informasi yang umum semisal skor pertandingan tetapi juga proses pertandingan dan "pergerakan" pemain selama pertandingan. Informasi semisal assist, clean sheet, dan tembakan ke gawang adalah informasi "baru" yang sudah mulai dicari oleh pengakses.

Andai saja antusiasme untuk mengelola sepakbola secara riil seperti antusiasme kita ketika mengakses pesan media tentang sepakbola, mungkin sepakbola kita akan lebih baik, tetapi tentu saja bila infrastruktur dan berbagai macam kepentingan di luar sepakbola tidak lagi meraja.

Senin, 02 Agustus 2010

Collective Soul: “Bersinar” Hampir Dua Dekade






Hari-hari belakangan ini ada empat nama pengkreasi pesan yang terus “menghajar” benak saya. Mereka adalah Murakami, Giddens, Nolan, dan Roland. Nama pertama, Haruki Murakami, adalah penulis paling favorit saya sekarang ini. Setiap kalimat yang dia tulis di dalam novel dan kumpulan cerpennya benar-benar mendalam dan mengasyikkan. Saya mengagumi cara dia membaca realitas dan menuangkannya di dalam tulisan. Rasanya ingin membaca semua karyanya, yang sudah ada di rak buku saya, secepat dan sebaik mungkin bila tidak ingat tugas-tugas yang lain.


Nama Anthony Giddens adalah nama yang selalu mengingatkan saya pada tugas-tugas tersebut, tugas terbesar malah. Nama ini semestinya melekat lebih dari ketiga nama yang lain. Namun entahlah, mungkin karena saya yang malas atau pemikiran doski terlalu “berat”, saya belum lagi mendedah pemikirannya lebih mendalam padahal inti dari pemikirannya saya perlukan benar bila ingin melangkah ke level selanjutnya. Kini saya berusaha “kembali” pada Giddens dengan segala daya upaya. Saya meyakinkan diri bahwa semua pemikiran manusia tentu bisa dimengerti walau manusia itu jenius. Gini-gini saya kan manusia juga…hehe…

Christopher Nolan adalah nama berikutnya. Menonton film “Inception” yang dia sutradarai adalah salah satu momen yang membuka indera visual saya. Saya semakin menyadari betapa mata kita bisa menyihir pikiran, betapa sebuah ide yang dipikirkan masak-masak dan mendalam akan menghasilkan karya pesan media yang sangat bagus. Godaan untuk menonton film-filmnya yang lain begitu kuat. Kebetulan sudah ada tiga filmnya selain “Inception” yang menunggu untuk diakses. Nanti dulu deh, godaan pesan media itu mudah dipenuhi bila tidak ada tugas-tugas lain menanti.

Nama terakhir yang belakangan ini saya ingat-ingat adalah Ed Roland. Dia adalah pendiri sekaligus motor dari band 1990-an, Collective Soul. Saya mengenal “kumpulan jiwa” itu sejak hits pertama mereka “Shine” populer di tahun 1993. Saya mendengarnya ketika masih berkuliah di semester-semester awal di sebuah program radio yang terkenal pada waktu itu, “Rick Dees Top 40”. Wah ada lagu bagus nih…begitu pikir saya waktu itu.

Namun, karena “kompetitor” mereka di telinga saya adalah band-band lain yang berkelas, semisal Nirvana, U2, Pearl Jam, Sonic Youth dan Nine Inch Nails, saya jadi agak mengabaikan band ini. Bukan itu saja penyebab saya tidak mendengarkan band ini dengan intens. Terus terang saya “termakan” dengan omongan salah seorang teman pada waktu itu bahwa Collective Soul itu band “sekolahan” dan terlalu “manis” untuk band rock. Apalagi memang awal 1990-an itu aliran musik yang bernama grunge dan alternatif membahana dan sangat menarik pendengar musik “baru” seperti saya.

Bila diandaikan seorang teman, band Collective Soul ini memang bukanlah jenis teman yang selalu memukau dengan kata-kata dan musiknya. Tidak ada kalimat negatif yang muncul di dalam lirik lagu mereka. Bila pun marah, mereka menyampaikan sekadarnya saja. Tidak ada substansi isi yang brilian di dalam lirik lagu mereka, seperti halnya U2 yang mengemas lirik dengan tautan konsep lain yang berat, seperti Sonic Youth yang musiknya selalu membuat berpikir dan berkarya dalam konteks konstruktif, atau seperti Nine Inch Nails yang kemarahannya pada dunia terus memberi inspirasi.

Collective Soul adalah seorang teman yang biasa saja, tertata, tidak berpretensi menggurui. Lirik dan musik yang mereka hasilkan mungkin bukan yang terkeren dan mendalam, tetapi mereka konsisten memberikan yang terbaik sesuai dengan ciri mereka sendiri. Ini kelebihan Collective Soul. Saya mendengarkan kembali Collective Soul dan aktivitas ini saya samakan dengan bertemu kembali dengan seorang teman lama. Memang kenapa bila teman kita “sekolahan”, tertata, atau mudah ditebak?

Mereka juga tidak terlalu menonjolkan diri tetapi mereka masuk “hall of fame” pada tahun 2009. Mereka lebih berbicara lewat karya bukan pada liputan media atau imaji yang mereka bentuk sendiri. Awalnya, saya mendengarkan kembali Collective Soul karena ingin mengamati band-band 1990-an yang “tenggelam”. Ada Live, Stone Temple Pilot, Soul Asylum,Third Eye Blind, bersama Collective Soul, yang saya anggap menghilang. Untuk Stone Temple Pilot, anggapan itu gugur karena mereka baru saja merilis album baru yang bagus setelah berhibernasi sangat lama. Third Eye Blind sudah merilis album tidak bagus, “Ursa Mayor” tahun kemarin. Live dan Soul Asylum tidak lagi terdengar.

Namun anggapan saya yang paling tidak tepat adalah ketika mendengarkan album terakhir Collective Soul, self titled, yang mereka sebut “Rabbit Album”.
Album terakhir tersebut masihlah bagus seperti Collective Soul yang dulu. Lagu-lagu bagus yang enak didengar khas mereka hadir di album ini. Lagu “Welcome All Again”, “Fuzzy”, “You”, dan “Staring Down” menunjukkan hal tersebut. Mendengarkan album terkini mereka ini membuat saya ingin mendengarkan semua album mereka, mulai dari album “Hints, Allegations and Things Leff Unsaid” (1993) sampai “Afterwords” (2007). Mari kita amati sedikit-sedikit tiap albumnya.

Album debut mereka “Hints, Allegations, and Things Left Unsaid” adalah pembuka bagi band ini menduduki popularitas cukup panjang. Lagu “Shine” membawa mereka ke festival ulang tahun Woodstock yang prestisius pada tahun 1994. “Sekolah” komposisi gitar Ed Roland serta pengalamannya di wilayah musik independen membuat album ini relatif matang bagi album debut. Selain “Shine”, “Wasting Time”, “Reach”, dan “Breathe”, adalah lagu-lagu bagus di album ini.

Album kedua mereka yang berjudul sama dengan nama band (self titled) diriis tahun 1995. Album ini adalah album yang paling mendatangkan uang sekaligus menempatkan mereka pada posisi popularitas yang lebih tinggi dari sebelumnya. Mungkin ini adalah puncak popularitas mereka. Menurut saya, lagu-lagu di album ini adalah lagu yang bagus dan paling mudah dicerna karena memang musiknya enak. Tentu saja lagu yang paling saya suka di album ini adalah “The World I Know”, walau lagu-lagu lain, “December”, “Gel”, “She Gathers Rain” dan “Bleed” adalah lagu-lagu yang bagus.

Pada tahun 1997 album ketiga yang berjudul “Disciplined Breakdown” dirilis. Album yang bagi kebanyakan fans terasa aneh karena terlalu keras dan relatif “tidak tertata” musiknya. Hal yang berbeda dari Collective Soul di dua album sebelumnya. Walau begitu “Precious Declaration” dan “Listen” tetap menjadi lagu-lagu hits dari band ini.

Walau bagi kebanyakan fans, album kedua adalah album yang paling bagus, album keempatlah yang dianggap oleh kritikus musik sebagai album terbaik dari seluruh album Collective Soul. Album keempat yang berjudul “Dosage” dianggap puncak kematangan band ini dalam bermusik. “Run” adalah lagu yang paling saya suka dari album ini. Selain bagus, tampilnya lagu ini sebagai salah satu lagu OST dalam film remaja “Varsity Blues”, adalah faktor yang membuat saya selalu teringat dengan lagu ini. “Varsity Blues” adalah salah satu film remaja Amerika yang tidak menempatkan tokoh utamanya sebagai sosok hero melainka sebagai manusia yang memiliki kekurangannya. Setelah film ini, film-film remaja Amerika mengambil genre yang berbeda, yaitu komedi seks, seperti “American Pie” dan “Loser”. Selain “Run”, lagu-lagu lain yang bagus adalah “Heavy”, Needs”, “Dandy Life”, dan “She Said”. Lagu yang menjadi lagu OST dari film “Scream” dan merupakan “track tersembunyi” dari album ini. Lagu lain yang kemudian muncul dalam OST film anak muda adalah “Tremble for My Beloved”, yang muncul dalam film “sejuta kaum muda”, Twilight. Paling tidak ini adalah upaya untuk mengenalkan Collective Soul pada pendengar yang lebih muda.

“Blender” adalah album kelima yang rilis pada tahun 2000. Album ini tidak sekuat album-album sebelumnya. Saya mengingat album ini karena sesuatu hal yang tidak bisa saya lupakan dan mengubah jalan hidup saya selanjutnya. Dari album ini ada tiga lagu yang menjadi hits, “Perfect Day” yang dinyanyikan bareng Elton John, “Why (Part 2)” yang enerjik itu, dan “Happiness”.

Setelah album kelima, mereka mengeluarkan album kompilasi lagu-lagu terbaik mereka dalam album yang berjudul “7even Year Itch” pada tahun 2001. Judul album yang bila tidak salah sama dengan judul salah satu film Marilyn Monroe. Judul ini sepertinya sindiran bagi diri mereka sendiri atau juga sindiran bagi kritikus musik. Album the best ini menurut saya adalah album yang bagus karena bisa mensarikan perjalan mereka selama tujuh tahun. Album ini juga album yang bagus bagi yang mendengarkan Collective Soul untuk pertama-kali. Ada dua lagu baru yang masuk di album ini, yaitu “Energy” dan “Next Homecoming”.

Sehabis album the best itulah, pendengar Collective Soul di Indonesia seperti kehilangan jejak mereka karena mereka tidak lagi dikontrak oleh label rekaman besar, Atlantic Record. Mereka kemudian bergerak melalui jalur independen, label mereka sendiri. Tiga tahun setelah berhibernasi, pada tahun 2004 Collective Soul merilis album keenam, “Youth”. Rupanya album ini dianggap sebagai pembuka kembali untuk memasuki dunia musik yang pernah memberikan popularitas luar biasa pada mereka. Visi album ini adalah mendapatkan “kemudaan” kembali. Album ini album yang bagus. Menurut saya, ketiga album pasca “7even Year Itch” adalah album-album terbaik Collective Soul. Album ini dibuka dengan manifesto mereka, “Better Now” yang bagus, disertai dua lagu lain yang kekuatannya sama, “How Do You Love” dan “Counting the Days”.
“Afterwords” adalah album ketujuh yang dirilis tahun 2007. Album ini lagi-lagi album yang bagus. Lagu-lagu seperti “What I Can Give You”, “Good Morning After All”, dan “Persuasion of You” adalah lagu-lagu yang paling keras dari Collective Soul namun tetap terdengar enak. Album ini seperti album “Disciplined Breakdown” dalam versi yang lebih matang.

Album yang bergambar kelinci adalah album terkini dari mereka, album yang sekali lagi menggunakan nama Collective Soul, self titled, sebagai judul album walau para personelnya sendiri menyebut album ini, “Rabbit”. Menurut saya, album ini memang dimaksudkan mencapai apa yang pernah dicapai oleh album kedua mereka: kedekatan dengan fans, output yang brilian, dan rasa percaya diri kolektif. Tidak ada asumsi lain, ini album yang bagus. Menurut saya album ini adalah album terbaik Collective Soul terbaik. Album ini juga menandai mereka bekerja sama dengan label besar, Road Runner. Walau tidak sebesar label mainstream sebelumnya, bekerja sama dengan label memberikan keuntungan bagi pendengar untuk mudah mengakses album ini.

Pada akhirnya nama Collective Soul yang bermakna negatif itu tidaklah negatif. Nama Collective Soul diambil dari novel Ayn Rand yang berjudul “Fountainhead”. Nama yang sebenarnya bermakna peyoratif untuk menunjukkan betapa kedirian akan hilang ketika manusia berkelompok. Formasi terakhir band ini Ed Roland, Dean Roland, Will Turpin, Joel Kosche, dan Cheney Brannon, paling tidak membuktikan bahwa mereka tetap menghasilkan karya yang bagus di album terkini setelah band ini hampir dua dekade aktif. Seperti hit pertama mereka, “Shine”, mereka terus berkarya hampir dua dekade.
Pelajaran dari Ed Roland yang lain adalah pertemanan. Sewaktu dia mewakili rekan-rekannya menjadi bagian dari “Georgia Music Hall of Fame”, kota asal mereka, pada September 2009, ia pun mengucapkan terima kasih pada mantan anggota Collective Soul, Ross Childress, Shane Evans, dan Ryan Hoyle, malah mengajar Shane Evans ke panggung untuk merayakan penghargaan tersebut. Teman-teman memang akan selalu “bersinar” di hati, di masa lalu, kini, dan mungkin nanti.

(informasi disarikan dari berbagai sumber)

Sabtu, 31 Juli 2010

Salt: “Menggarami” Hidup, Mendalami Teks


Rasanya sebulan terakhir ini ada sesuatu yang cukup akrab saya geluti. Ini sekaligus menguatkan pepatah: apa-apa yang kita pikirkan dan kita rasakan terus-menerus, nantinya apa-apa itu akan datang sendiri pada kita. Itulah yang terjadi dengan teks media film bagi saya. Sebulan ini saya begitu “dekat’ dengan film karena saya pikirkan terus, saya kemudian mulai mendapatkan film-film lumayan bagus berharga murah di sebuah toko buku besar, waktu yang agak senggang sehingga bisa menonton film di rumah, sampai kesempatan menonton di bioskop yang jadi lumayan sering. Padahal beberapa waktu yang lalu sulit sekali mencari waktu agak luang untuk menonton. Ternyata dalam waktu seminggu saya bisa menonton film dua kali, “Inception” dan “Salt”. Frekuensi yang lumayan tinggi, karena sebelumnya saya memerlukan penjadwalan waktu berbulan-bulan untuk menonton di bioskop.

Saya menonton “Salt” dengan seorang teman. Rasanya memang akan garing sekali bila menonton sendirian. Lagipula, teman saya itu berulang tahun, sekalian menghadiahi sesuatu untuknya walau agak terlambat. Dengan menonton film bersama, kami bersimbiosis mutualisme (interaksi yang sama-sama menguntungkan). Saya mendapatkan teman menonton, dia mendapatkan semangat untuk menyelesaikan "tugas" besarnya. Semoga.

Setelah menonton film “Salt”, sampai detik ini, ada satu kata kerja yang terus menerus tercetak di pikiran, “menggarami”. Jelas kata tersebut sangat berkaitan erat dengan judul film yang saya tonton di bioskop terakhir ini. Tetapi memang detailnya selalu tidak bisa diduga bahkan oleh yang memikirkannya. Telaah kita mungkin menyebar dan berkembang tidak terduga. Seperti kita ketahui, teks akan selalu berkait dengan teks lain. Juga ide, ide akan selalu berelasi dengan ide yang lain.

Paling tidak kata “menggarami” itu memiliki tiga makna bagi saya. Pertama, menggarami artinya memperkuat rasa. Apa yang “digarami” di dalam film ini? Bagi saya yang digarami adalah identitas. Identitas selalu cair dan merupakan relasi dari berbagai elemen. Identitas tokoh utama film ini, Evelyn Salt, memang problem utama sejak awal dan terus menerus menjadi pertanyaan pirsawan, bukan pirsawati, sampai akhir film. Hal ini sejalan dengan pertanyaan yang dimunculkan di poster film ini “Who is Salt?”. Identitas yang paling “digarami” adalah identitas sebagai spion (mata-mata).

Kita maklum bahwa penentu identitas seringkali institusi di luar diri; etnis, jenis kelamin, umur, kelas, agama, dan ideologi, adalah hal-hal "besar" itu. Walau begitu, identitas juga berarti apa yang kita upayakan, kita bentuk, kita rasakan, untuk diri sendiri. Identitas juga tidak pernah monolit. Karena itulah, walau Salt selalu digadang-gadang sebagai agen yang hebat, dia tetaplah seorang istri yang sangat menyintai suaminya.

Evelyn Salt (Angelina Jolie) adalah mata-mata yang ditanam Russia di Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Paling tidak identitas sebagai spionase inilah yang dikenalkan pada penonton sejak awal. Salt memiliki identitas sebagai agen ganda, yaitu agen CIA dan Russia. Identitas yang lain adalah sebagai istri seorang arachnologist, ahli laba-laba, berkewarganegaraan Jerman, Mike Krause (August Diehl). Pada akhirnya, identitas sebagai istri ini pula yang membuatnya berbalik membela Amerika Serikat karena suaminya dibunuh oleh KGB. Dia membela Amerika Serikat karena semua yang dimilikinya “dihabisi” oleh pihak Russia.

Bukan hanya identitas Salt yang dipertanyakan mestinya, karena semua karakter mungkin untuk dipertanyakan identitasnya, katakanlah identitas Ted Winter (Liev Schreiber), rekan dan kolega Salt, Peabody (Chiwetel Ejiofor), agen ONCIX yang mengejar Salt, dan Orlov (Daniel Olbrychski), agen Russia yang berpura-pura ingin membelot ke Amerika Serikat dan membuka identitas Salt. Penyampaian cerita yang cepat membuat penonton bertanya-tanya siapa protagonis dan antogis kisah ini, yang terus memberi kejutan sampai akhir.

Karakter Salt ini pada awalnya akan diperankan oleh Tom Cruise dengan nama Edwin A. Salt. Namun karena Tom Cruise sibuk dengan pekerjaan lain dan menganggap karakter Salt terlalu dekat dengan karakter Ethan Hawke di Mission Impossible, karakter ini kemudian diperankan oleh Angelina Jolie dengan mengubahnya menjadi agen perempuan bernama Evelyn Salt. Dari sisi bisnis langkah ini relatif tepat karena karakter agen rahasia perempuan masih jarang di film. Akhir cerita yang terbuka membuka kesempatan pada sekuel demi sekuel layaknya film Hollywood yang sukses. Pilihan pemeran utama pada Angelina Jolie menjadi Evelyn Salt, membuat cerita berubah, pun pada adegan-adegan di dalam film. Adegan Salt “menutup” kamera, tak bisa membayar taksi, dan luka di perut sepertinya memang “dipersiapkan” untuk Jolie.

Pemaknaan “menggarami” kedua adalah membuat lebih atas suatu keadaan, tetapi lebih perih, seperti pada kalimat menggarami luka. Saya pikir mengakses pesan atau teks media itu seperti menggarami luka. Mengakses teks berarti “perih” sekaligus membuat ketagihan. Kita jadi ingin mengobati perih itu dengan mencari informasi sebanyak mungkin dan memaknai sedalam mungkin. Ketika mengakses film ini misalnya, bagi penonton yang rasa ingin tahunya luar biasa akan mencoba menggali konsep spionase dan politik internasional dengan mendalam. Mengapa itu perlu dilakukan? Karena kesempatan penafsir terbuka untuk mendalaminya dan kedalaman dan keluasan pemaknaan itulah penentu posisi bagi penafsir.

“Menggarami” luka untuk mendalami teks lebih baik berpotensi membuat pengakses belajar banyak dan meningkatkan literasi pada individu. Bila “perih” itu terasa, pengakses itu berusaha menghilangkannya dengan membaca lebih mendalam lagi. Ini akan menjadi modus bagi pengakses dan pengkreasi pesan media yang baik.

Pemaknaan terakhir dari kata kerja “menggarami” adalah melakukan pekerjaan yang sia-sia dan tidak berpengaruh pada bagian yang lebih luas. Hal ini dekat dengan kalimat seperti “menggarami lautan”. Topik spionase adalah hampir seperti fiksi. Kita mengetahui aktivitas spionase internasional itu ada dan memainkan peran dalam perubahan politik. Katakanlah peristiwa di Indonesia pada tahun 1965, dan mungkin juga peran spionase dalam berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1989/90. Kita mengetahui keberadaan spionase tetapi tidak memahaminya dengan detail karena aktivitas spionase itu bersifat rahasia, termasuk proyek-proyek menciptakan “super-human” seperti Salt ini.

Satu bagian kecil ataupun bagian yang besar yang menjadi “garam” di dalam lautan fiksi, tidak akan berpengaruh besar karena ketika struktur fiksi sudah ada, elemen-elemen informasi di dalamnya adalah pendukung belaka. Hal ini hampir sama seperti dunia sihir dalam novel-novel Harry Potter, elemen tambahan yang berasal dari legenda di Barat, seperti karakter Medusa dan Banshee, menjadi penguat dan penambah baik keseluruhan kisah.

Begitulah tafsir saya akan film Salt ini. Paling tidak, film ini kembali membuat saya ingin “menggarami” hidup saya lebih baik lagi dengan terus memaknai teks dengan sebaik-baiknya. Di bagian akhir ini, saya cukup jenuh dengan istilah garam yang simbolis, saya hanya ingin menggarami, memberi garam sedikit dan memadai, semangkuk bakso di depan saya ini supaya menjadi lebih sedap untuk dimakan.

Silakan "menggarami" hidup. Selamat menghidupi diri dengan sebaik-baiknya....

Jumat, 30 Juli 2010

Musik Indah untuk Keluarga


Setiap saya mampir ke dua tempat, toko CD dan toko buku, saya selalu berpikir, CD audio, film, atau buku apa yang bisa saya belikan untuk anak saya? Saya tidak ingin terlalu egois dengan mengakses konten media untuk saya sendiri. Saya juga ingin tetap mengingat konten media untuk anak walau pada prakteknya, kunatitas konten media yang saya akses kira-kira tiga kali lebih banyak dari konten media untuk anak saya.

Permasalahannya, untuk konten musik anak bukan hanya kuantitas yang sangat kurang, kualitasnya juga sedikit yang bagus. Beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca betapa musik untuk anak-anak sungguh terbatas. Bila pun ada, kebanyakan mendaur-ulang lagu jaman dulu dengan aransemen yang relatif sama. Ada juga album lagu anak-anak tetapi berasal dari sebuah acara kompetisi menyanyi untuk anak-anak yang menyanyikan lagu orang dewasa. Bagi saya, filosofi acara itu sudah salah sehingga outputnya pun lebih merupakan imitasi untuk anak-anak. Anak-anak di acara itu "dipaksa" menjadi bukan anak-anak bukan hanya karena lagu-lagu yang mereka nyanyikan tetapi sikap dan gaya mereka yang diarahkan seperti orang dewasa atau selebriti tidak bermutu.

Ada juga jenis musik anak-anak yang lain, yaitu lagu anak-anak dari "jaman dulu". Masih ada album-album dari Sherina dan Tasya walau itu akan berpotensi membingungkan anak-anak yang mengaksesnya karena keduanya telah dewasa. Beberapa album bahkan lebih lama lagi. Saya masih mendapatkan album kompilasi Trio Kwek Kwek dan Melisa, yang rupanya masih diproduksi karena musik untuk anak-anak memang langka.

Waktu saya berkunjung ke toko CD dan toko buku beberapa hari yang lalu itu, ada dua konten media yang agak mengagetkan sekaligus menyenangkan saya, yaitu buku komik tentang perjalanan musik Bono dan U2, dan album CD "Jazz for Family". Konten media pertama akhirnya saya coret karena walaupun berkisah tentang Bono dan supergrup U2 dengan menggunakan komik yang dituliskan di judulnya untuk anak-anak, komik ini bukan untuk anak-anak. Informasi yang diberikannnya lebih ditujukan untuk pembaca yang paham informasi lanjutan.

Konten media kedua benar-benar membahagiakan saya. Sebenarnya saya sudah membaca review-nya di sebuah suratkabar ibukota tetapi entah mengapa saya lupa dengan album ini dan baru saya teringat ketika melihatnya di toko CD secara tak sengaja. Walau untuk ukuran album Indonesia album ini agak mahal tetapi materinya sepadan. Album ini berisi interpretasi ulang lagu anak-anak dalam musik jazz yang disajikan dengan indah.

Begitu sampai di rumah, album ini langsung saya putar. Kami bertiga, saya, istri, dan anak, mendengarkannya dengan rasa bahagia atau mungkin juga rasa bahagia itu hadir setelah mendengarkan musiknya yang memang menenangkan. Dan yang paling membahagiakan saya adalah anak saya menikmati lagu-lagu yang telah dikenalnya dalam alunan jazz. Awalnya terlihat dia merasa aneh dengan lagu-lagu yang ada di CD karena dimainkan dengan cara berbeda. Kemudian, dia terlihat senang dengan semua lagu yang diputar. Setelah mendengarkan album ini anak saya menjadi terbiasa dengan improvisasi lagu. Sebelumnya, dia akan protes bila saya menyanyikan lagu dengan gaya berbeda seperti yang dia kenal.

Upaya semacam ini layak diapresiasi. Anthony S. dan kawan-kawan melakukan langkah yang bagus. Walau baru sedikit, menyediakan pilihan yang lebih beragam untuk musik anak-anak adalah upaya luar biasa. Mengenalkan improvisasi yang termaktub dalam musik jazz untuk anak-anak adalah misi berikutnya. Hal ini sejalan dengan beberapa album lagu daerah untuk anak-anak yang saya akses pula. Pelakunya pun sama "Gema Nada Pertiwi". Dari sisi bisnis, ini upaya bagus karena jarang produsen pesan yang "bermain" di wilayah musik anak. Ini juga kasus yang bagus diteliti oleh pembelajar kajian media. Dari sisi sosiokultural, upaya ini juga "mulia" karena mengenalkan keberagaman musik pada anak-anak Indonesia.

Berkat album ini saya juga mendapatkan moment indah mengakses pesan media. Kami sekeluarga mendengarkan album ini dengan bahagia, membagi kebersamaan di suatu sore yang indah.

Album: Jazz for Family, “Children Sngs with Jazz Flavour”
Artis: Anthony S, Imam Pras, Arief Setiadi, Galeri Anak
Produksi : Cakrawala Musik Nusantara/GNP, 2009
Harga: Rp. 50.000,-

Daftar lagu:
1. Burung Kakatua
2. Oe Oe, Oa Oa
3. Aku Anak Pintar
4. Desaku
5. Bermain Layang-Layang
6. Pepaya Mangga Pisang Jambu
7. Burung Ketilang
8. Kupu-Kupu
9. Burung Hantu
10. Kapal Api
11. Kapal Api (instrumental)
12. Aku Anak Pintar (instrumental)

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...