Rabu, 31 Maret 2010

Hanya Karena Sebuah Album


Saya mencoba mengingat, kapan terakhir kali saya tercerahkan oleh konten media tertentu? Menonton lagi “Adaptation” tentu saja mencerahkan, begitu juga membaca lagi buku Bill Kovach & Tom Rosenstiel, “The Elements of Journalism”. Tetapi saya mencoba mengingat, kapan saya mendengar sebuah album yang benar-benar mencerahkan. Bagi penggemar musik seperti saya, waktu terakhir kali tercerahkan oleh sebuah album adalah saat yang penting.

Album yang mencerahkan adalah album yang mampu “mengikat” waktu dan kejadian. Lampau dan kini, demikian juga kejadian kiri dan kanan. Artinya ada momen yang menjadikan kita ingin lebih mereguk keindahan hidup. Album yang mampu melakukan hal-hal begitu sudah agak jarang saya rasakan. Tentunya dengan mengeluarkan dari daftar, band-band favorit saya, Sonic Youth, U2, Depeche Mode, Pearl Jam, Pet Shop Boys, Radiohead, Nine Inch Nails, Manic Street Preachers, dan REM, mereka semua tidak pernah mengecewakan ketika merilis album. Tetapi bagaimana dengan penyanyi atau band lain? Tentunya ada banyak, salah satunya adalah album ini, “Only by the Night” oleh Kings of Leon.

Album ini sebagai sebuah kesatuan lagu, maupun per lagu, adalah materi yang sangat bagus. Album ini, kita putar dengan cara bagaimana pun dari lagu mana pun, album ini tetap bagus karena materinya memang bagus, tidak membosankan, dan beragam. Dan yang terpenting adalah saya merasakan semangat kuat untuk hidup lebih baik lagi. Efek seperti ini mirip ketika saya mendengarkan “Murray Street” dan “Achtung Baby”, atau paling tidak mirip dengan “Ga Ga Ga Ga Ga” oleh Spoon. Untuk itu sudah merindukan banyak hal pada masa lalu saya.

Lagu pembuka “Closer” sudah mengajak kita memasuki atmosfer aneh dari sebuah tempat yang baru kita datangi. Aneh, indah, dan memberikan kita optimisme bahwa kita bisa menaklukkan apa saja. Begitu juga pada lagu kedua dan ketiga.

Album dari band yang mungkin bila ditujukan untuk remaja bernama Followill Brothers ini, membuat saya ingin kembali mengulik album-album lama mereka. Ya, mereka bisa disebut dengan nama “Followill Brothers” karena sejatinya mereka bersaudara, tiga saudara kandung dan satu saudara sepupu. Ternyata ketiga album awal mereka sebelum album ini juga cukup bagus. Aha Shake Heartbreak (2003), Youth & Young Manhood (2004), dan Because Of The Times (2007), menunjukkan perjalanan mereka mencari bentuk. Walau begitu, album “Only by the Night” (2008) inilah mereka menemukan format ideal musik mereka.

Pantas saja mereka dinominasikan mendapatkan Grammy. Album yang keren sekali. Menurut saya seharusnya album ini mendapatkan penghargaan lebih atau paling tidak sama dengan Taylor Swift. Si gadis remaja itu saja mendapatkan banyak sekali Grammy, tujuh bila tidak salah. Semestinya band ini juga.

Selain yang sudah saya kisahkan di awal, album ini berefek positif bagi saya. Hanya karena sebuah album saya memikirkan hal-hal yang saya kangeni. Saya jadi merindukan suasana dan teman-teman dekade 1990-an. Saya juga kangen dengan suasana hati penuh optimisme sekaligus “lembut” seperti ini, katakanlah optimisme yang tidak garang dan meluap-luap, hanya muncul di hati tetapi kita yakin mencapai banyak hal. Sudah cukup lama perasaan semacam ini tak muncul.

Hanya karena sebuah album, album ini, saya jadi ingin mencoba mengulik lagi konsep identitas. Saya pernah meneliti konsep identitas di majalah HAI dengan menggunakan perspektif Foucauldian pada tahun 2000. Dan album ini membuat saya memikirkan riset itu lagi. Ada dua lagu tentang identitas di album ini, kebetulan keduanya menggunakan kata “somebody”, “Use Somebody” dan “Be Somebody”. Pertanyaannya, siapa seseorang itu, siapa kita, dan bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, juga apa ancangan kita pada identitas yang dibayangkan? Kembara intelektualitas sepertinya menanti lagi dalam topik identitas dan media.

Album ini menunjukkan (kembali) pada saya bahwa inspirasi itu datangnya tidak terduga. Dia datang dari depan atau belakang, kiri atau kanan, dari sebuah album atau mungkin dari sebuah buku suci. Inspirasi bisa datang dari mana saja. Semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah, kata seorang cendekia pendidikan, dan kita bisa menambahkan, semua pesan media adalah sumber inspirasi.

Apakah mendengarkan album bisa begitu penting? Jawabannya bagi saya, ya. Hanya karena sebuah album, saya merasa dapat menghidupi hidup dengan lebih berani dan ingin lebih berusaha menjadikan hidup saya sendiri kontemplatif. Hanya karena sebuah album hidup pada suatu hari bermula kembali…sebermula adalah kata, sebermula adalah bunyi (yang indah)

Penyanyi : Kings of Leon
Judul : Only by the Night
Tahun : 2008

Daftar lagu:
1. Closer
2. Crawl
3. Sex on Fire
4. Use Somebody
5. Manhattan
6. Revelry
7. 17
8. Notion
9. I Want You
10. Be Somebody
11. Cold Desert

Sistem Media


Apa itu sistem media? Sistem media adalah cara memandang media melampaui institusinya, dari kejauhan, dan meliputi keseluruhannya (holistik). Cara pandang ini adalah cara pandang yang umum sejak kelahiran studi media sampai dengan dekade 1980-an, walau di Indonesia masih marak sampai dengan 1990-an. Cara pandang ini dianggap sudah ketinggalan jaman walaupun sampai sekarang masih tetap digunakan, terutama untuk membandingkan fenomena media di berbagai negara.

Cara pandang seperti ini disebut dengan cara pandang sistemik atau makro. Sistem dilihat sebagai interaksi berbagai elemen yang berfungsi secara spesifik tetapi ketika berinteraksi, kemudian muncul fungsi-fungsi baru. Sistem sosial, termasuk sistem media, adalah sistem yang terbuka. Terbuka terhadap perubahan yang terjadi di luar sistem, yang dikenal sebagai lingkungan eksternal.

Sistem media biasanya digunakan untuk mengkomparasikan. Dengan demikian kita tidak bisa menjelaskan suatu sistem media tanpa membandingkannya dengan sistem yang lain. Komparasi sistem media pun bisa melalui dua cara. Pertama, membandingkan dua atau beberapa sistem media dalam konteks waktu yang sama, misalnya membandingkan sistem media di Indonesia dengan sistem media Malaysia masa sekarang. Kedua, membandingkan satu sistem media dalam konteks waktu yang berbeda. Misalnya membandingkan sistem media Indonesia masa sekarang dengan sistem media Indonesia pada masa Orde Baru.

Berbicara tentang sistem media, tentu saja kita tidak bisa melepaskan diri dari tipologi sistem media pertama yang dirilis oleh Fred S. Siebert, Theodore Peterson, dan Wilbur Schramm (1956). Mereka bertiga menulis buku yang mengharu-biru dunia akademis ilmu komunikasi. Buku mereka adalah “Four Theories of the Press”. Selanjutnya, kita juga mengenal beberapa tipologi sistem media yang dikenalkan oleh Robert G. Picard (1985), Whitney R. Mundt (1991), J. Herbert Altschull (1995), dan William A. Hachten (1996).

Sistem media, atau dahulu lebih dikenal sebagai sistem pers, adalah cara menganalisis dengan melihat relasi media dengan tiga institusi yang lain, negara, masyarakat dan pasar. Sistem pers kemudian digantikan dengan istilah sistem media karena dua alasan. Pertama, pers dianggap hanya mengakomodir telaah untuk pesan faktual. Sementara pesan fiksional pun sebenarnya penting bagi sebuah “sistem”. Kita tahu bagaimana di sistem politik yang otoriter, ketika warga masyarakat sulit mendapatkan informasi, mereka lebih mengandalkan pesan fiksional yang relatif masih bisa diakses.

Selain itu, sistem media lebih dapat mengakomodir perkembangan media lebih jauh. Sebagaimana kita ketahui, pers diartikan secara sempit hanya pada media cetak, sementara perkembangan media sekarang ini sudah sedemikian maju. Kini kita mengenal ragam media baru yang lahir dan intens digunakan masyarakat pada tahun 1990-an sampai dengan sekarang.

Setelah Siebert, Petterson, dan Scramm, banyak ahli yang berusaha menyusun dan menunjukkan model lain dari sistem media. Salah satunya adalah Daniel C. Hallin dan Paolo Mancini. Sistem media yang mereka lansir terdapat dalam buku Comparing Media Systems: Three Models of Media and Politics. Cambridge: Cambridge University Press, yang diterbitkan tahun 2004.

Mereka membuat tiga model sistem media, yaitu (hal.67):
• Mediterranean or polarized pluralist model (Perancis, Yunani, Italia, Portugal, Spanyol)
• Northen European or Democratic Corporatist Model (Austria, Belgium, Denmark, Finlandia, Jerman, Belanda, Norwegia, Swedia, Swiss)
• North Atlantic or Liberal Model (Inggris, AS, Kanada, Irlandia)

Ketiga sistem tersebut disusun setelah mereka menelusuri data “empiris” dari negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara. Tujuan keduanya antara lain adalah untuk memberikan alternatif telaah sistem yang lebih empiris bila dibandingkan dengan sistem media terdahulu.

Dasar argumen bagi komparasi sistem media menurut Hallin dan Mancini dibagi berdasarkan aspek berikut ini (hal. 21):
• The development of media markets, with particular emphasis on the strong or weak development of a mass circulation press
• Political parallelism; the degree and nature off the links between the media and political parties or, more broadly, the extent to which the media system reflects the major political divisions in society
• The development of journalistic profesionalism
• The degree and nature of state intervention in the media system

Upaya yang dilakukan oleh Hallin dan Mancini sudah cukup bagus karena mereka memberikan alternatif dari tipologi sistem media yang meraja selama beberapa dekade. Walau begitu, ada beberapa catatan ataupun kritik atas tipologi yang dijelaskan oleh Hallin dan Mancini.

Pertama, mereka menyarankan untuk “melepaskan diri” dalam menganalisis sistem media. Mereka beranggapan bahwa tipologi Siebert, Petterson, dan Schramm, cenderung menempatkan media sebagai pihak yang selalu sangat terintervensi oleh pihak lain, katakanlah negara. Justru telaah mereka menunjukkan hal yang sama, intervensi oleh kekuatan politik, padahal pada awalnya mereka ingin memberikan pemahaman sistem media yang berbeda dari para pendahulunya.

Kedua, argumen Hallin dan Mancini atas pembagian atau dasar mengkomparasi sistem, hampir tidak memasukkan konten media fiksional dan media baru. Padahal seperti kita ketahui bersama, fenomena bermedia sejak dekade, katakanlah, 2000-an awal, adalah dekade yang marak dengan kedua fenomena tersebut.

Ketiga, tipologi sistem media yang dianggap salah satu yang paling baru ini juga tidak memasukkan perkembangan media baru. Seperti kita pahami bersama, perkembangan media baru berpotensi besar mengubah cara kita mengkomparasikan sistem. Media baru memiliki karakter berbeda dengan media konvensional dalam hal produksi, penyimpanan, tampilan, dan distribusi pesan.

Di atas semua itu, upaya untuk memberikan “jalan keluar” dari konsepsi yang mengurat mengakar tetap patut diapresiasi. Paling tidak, perbandingan sistem media versi Hallin dan Mancini menunjukkan pada kita semua bahwa telaah makro masih cukup penting dan berguna untuk melihat fenomena yang semakin dinamis seperti sekarang. Sumbangan lain yang juga penting adalah memberikan input bahwa mengolah berbagai informasi yang empiris penting bagi telaah yang makro. Konsepsi mengenai sistem media adalah gambar besar di pikiran kita. Hal terpenting adalah cara gambaran tersebut membantu kita memahami berbagai fenomena.

Siksa Neraka


Bila mendengar kata “neraka”, apa yang ada di benak teman-teman? Apakah neraka itu sebuah tempat imajiner di kepala kita, yang akan ditempati oleh sebagian dari umat manusia? Atau neraka itu sudah ada di tempat kita hidup sekarang ini? Silakan dijawab sendiri dan kemungkinan tafsirnya bisa beragam sekali.

Hal yang saya tahu, neraka adalah tempat yang sangat sangat mengerikan, sesuai dengan cerita-cerita guru mengaji saya dulu. Neraka kemudian beroposisi biner dengan surga. Surga dan neraka digambarkan begitu berbeda dan tentu saja, surga adalah harapan banyak orang sementara neraka adalah sesuatu yang harus dihindari.

Apa gambaran neraka bagi anak muda sekarang? Gambaran ini mesti dicek melalui telaah yang berhati-hati. Hal yang jelas, penggambaran neraka dalam film-film terbaru, terutama yang dari Barat, memberikan gambaran yang berbeda. Coba kita tengok film “Constantine” dan “Hell Boy” di mana para “penghuni” neraka memberontak dan malah menjadi penyelamat dunia.

Entahlah. Mengeksplorasi “neraka” dalam konteks kekinian mungkin cukup sulit bagi saya bila hanya mengandalkan bacaan yang sedikit. Hal yang jelas bagi saya adalah neraka itu mengerikan. Salah satunya bersumber dari bacaan-bacaan jaman dulu. Ada sebuah buku kecil yang benar-benar saya “takuti” isinya. Saya lupa judulnya pada awalnya. Saya hanya bisa mengingat bahwa saya takut dengan buku itu. Setiap membacanya membuat saya takut setengah mati.

Beberapa waktu yang lalu secara ajaib saya mendapatkan buku tersebut dari seorang teman yang baru pulang berdinas dari Gorontalo. Ternyata buku itu berjudul “Siksa Neraka” dan setelah saya baca-baca lagi, buku tersebutlah yang pernah saya baca tentang neraka, yang kemudian menjadi sumber utama pengetahuan saya selama bertahun-tahun.

Tadinya saya ingin mengunggah sampul buku dan beberapa halaman yang ada di dalam buku ini tetapi saya urungkan. Gambar-gambar tersebut terlalu ofensif dan saya khawatir akun facebook saya diblokir. Intinya, penggambaran buku kecil ini begitu mengerikan. Saya kutipkan saja tulisan di sampul belakangnya: adik-adik pembaca, inilah selintas gambaran tentang neraka….Apabila kita telanjur berbuat dosa maka segeralah bertaubat, agar mendapat ampunan Allah dan terhindar dari siksa neraka…Adik-adik? Penulis buku ini bilang seperti itu, berarti secara eksplisit buku ini ditujukan pada anak-anak.

Coba kita tengok salah satu halamannya, tepatnya di halaman 30, …sesaat kemudian benda-benda itu datang dengan berbentuk “rokok daun ganja”, suntikan yang berisi cairan “morphin”, “heroin” dan lain sebagainya! Mereka segera menggunakan benda-benda itu dan seketika itu pula daging dan kulit mereka yang melekat di tubuh menjadi rontok hancur luluh. Kalimat tersebut disertai gambar yang vulgar. Ini baru satu halaman. Hampir semua halaman berisi gambar yang tidak pantas untuk anak-anak. Hal yang sama sudah dapat dilihat dari sampul depan buku kecil atau komik ini. Gambarnya sudah kelewat sadis. Uniknya, ada lingkaran kecil bertuliskan “cergam tauladan”.

Saya bertanya pada teman-teman yang lebih tua dan yang lebih muda dari saya. Teman yang lebih tua, umurnya di pertengahan 40-an, bilang dia dulu juga membaca buku ini. Begitu pula teman saya yang jauh lebih muda, usianya pertengahan 20-an. Dia juga “hidup” dalam kurun waktu yang begitu lama. Walau harganya murah, sekitar dua ribu lima ratus rupiah, buku ini pastinya sudah sangat menguntungkan bagi kreatornya. Ini dengan catatan bila penulisnya masih orang atau organisasi yang sama.

Tertera di sampul buku penerbit buku ini adalah CV. Pustaka Agung Harapan Surabaya dan juga penulisnya, MB. Rahimsyah AR dan Irsyadul Anam. Tetapi tidak ada sama sekali keterangan alamat dan juga klasifikasi umur pembaca buku ini. Jelas buku ini akan merugikan bila dibaca oleh anak-anak yang belum memiliki pemahaman agama yang memadai. Walau begitu, buku semacam ini adalah fenomena lain “media cetak” atau barang cetakan yang hadir di wilayah tak terperhatikan, murah, dan ditujukan biasanya untuk kelas bawah. Buku semacam ini mirip dengan barang cetakan berisi teka-teki silang dan notasi lagu yang berharga murah, dicetak seadanya, namun laris luar biasa.

Kembali pada pertanyaan awal, apa makna “neraka” bagi teman-teman?
apakah seperti kebanyakan tafsir yang bersumber dari agama, atau laksana tafsir seorang tokoh eksistensialis, bahwa neraka adalah orang lain (dan juga di dalam hati kita sendiri)?

Info buku
Judul : Siksa Neraka, Cergam Tauladan
Pelukis : MB Rahimsyah AR
Cerita : Irsyadul Anam
Tahun : tanpa keterangan
Penerbit : CV Pustaka Agung Harapan Surabaya
Harga : Rp. 2500,-
Jumlah halaman : 32 hal. Gambar hitam putih

Rabu, 24 Maret 2010

Manajemen Media dan Majalah Supranatural



Manajemen media adalah sub kajian di dalam ilmu komunikasi yang memiliki paling tidak empat karakter. Karakter-karakter tersebut adalah multidisplin, multi level, peka dengan situasi kontekstual, dan dekat dengan perkembangan teknologi. Kajian manajemen media menggabungkan dan mengombinasikan konsep-konsep dari ilmu lain, semisal ekonomi, politik, hukum, psikologi, bahkan juga budaya. Untuk mendedah pasar media misalnya, kita memerlukan kajian ekonomi (media). Sementara itu, untuk melihat sumber daya manusia dalam fungsi kreasi atau produksi pesan, kita memerlukan beberapa pengetahuan dari disiplin ilmu psikologi.

Karakter multilevel ditunjukkan melalui level telaah untuk meninjau kasus-kasus manajemen media. Kajian ini utamanya melihat level organisasi (atau bolehlah dianggap pula institusi) tetapi juga memerlukan pemahaman komunikasi interpersonal dan sistemik. Untuk menjalankan fungsi manajemen yang bagus dan tepat, diperlukan pemahaman kepemimpinan dan kepengikutan dengan baik dan bagus pula. Dengan demikian, manajemen media memerlukan telaah komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok.

Demikian juga dengan pemahaman atas konteks yang lebih luas, pengelola media mesti memahami situasi eksternal yang terjadi di luar organisasinya agar dapat merumuskan strategi yang tepat dan tindakan yang etis dan tidak melanggar hukum. Menerbitkan Playboy adalah pilihan yang tepat sebagai sebuah strategi dan waktu itu tidak melanggar hukum walau secara norma sosial belumlah cukup diterima oleh kelompok tertentu.

Karakter kedua ini secara langsung membawa konsekuensi pada karakter ketiga dan keempat. Dengan demikian, studi manajemen media sangatlah peka konteks. Artinya, merilis media sekarang ini mesti sangat memperhatikan kondisi eksternal yang terjadi, bukan hanya pada level nasional, melainkan juga global. Perilisan film “Sang Pemimpi” misalnya, sudah tepat bila memperhatikan kompetitor dari film nasional. Ternyata konstelasi di audiens berbeda, film “Avatar” yang dirilis bersamaan menjadikan fokus penonton lebih tertuju bukan pada film “Sang Pemimpi”.

Karakter yang terakhir adalah sangat peka dengan perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terkini berpengaruh pada produksi, tampilan, penyimpanan, dan distribusi pesan, sehingga sungguh besar pengaruhnya. Perkembangan teknologi pada level individu pekerja media juga memberikan kontribusi yang besar pada institusi media. Walau begitu ada pula pengaruh negatif teknologi pada pekerja dan institusi media.

Apa yang diharapkan setelah kita mempelajari manajemen media? Tentu saja agar kita lebih memahami kajian tersebut dan pada akhirnya, ketika kita telah bekerja nantinya, harapannya di media atau bahkan “mendirikan” media, kita dapat membuat keputusan manajerial dengan tepat pula.

Untuk memahami manajemen media, paling tidak para pembelajar mesti memahami tiga aspek. Hal ini terutama sangat dekat karakter manajemen media yang multi disiplin. Pertama, kita mesti memahami konteks di mana media tersebut beroperasi, terutama dinamika hubungan empat entitas; masyarakat, negara, pasar, dan teknologi media. Kedua, kita mengetahui pesan dengan mendalam. Klasifikasi jenis dan format pesan perlu kita kenal dengan baik. Pemahaman inilah yang menjadi pembeda utama dengan telaah manajemen bidang yang lain. Istilah rubrikasi di dalam media cetak misalnya, perlu diketahui dengan mendalam, karena dari sinilah kita mengenal output manajemen.

Terakhir, kita mesti memahami fungsi manajemen karena dari sinilah kebijakan manajerial terimplementasi. Apa saja fungsi manajemen? Fungsi-fungsi manajemen adalah sebagai berikut: perencanaan, pengorganisasian, penyusunan personel kerja, pengordinasian, dan pengawasan. Obyek dari fungsi manajemen adalah sumber daya yang dikelola oleh organisasi media. Fungsi manajemen bertujuan mewujudkan tercapainya efisiensi sumber daya dan efektivitas pesan. Seperti kita ketahui bersama, efisiensi dan efektivitas adalah dua tujuan utama dari implementasi fungsi manajemen.

Kita akan mencoba menerapkan pengetahuan dasar tentang manajemen media di atas melalui kasus yang ada. Salah satu jenis media yang cukup diakses pasar namun kurang kita perhatikan, dapat menjadi kasus di mana pengetahuan mendasar yang telah didiskusikan sebelumnya dapat digunakan untuk menganalisis. Kasus tersebut adalah implementasi manajemen media pada majalah supranatural.
Ada dua majalah yang saya amati dengan singkat, yaitu Victory dan Misteri. Mungkin ada majalah lain yang bicara tentang fenomena supranatural, tetapi kedua majalah inilah yang saya akses.

Majalah “hantu-hantuan” ini bisa muncul karena pasarnya memang ada. Selama masyarakat kita masih percaya penuh dengan hal-hal berbau supranatural, majalah seperti ini akan terus ada. Permintaan terus menerus ada sehingga produk akan selalu coba disediakan oleh produsen.

Hal yang bersifat supranatural kemungkinan besar sulit hilang dalam waktu dekat di masyarakat kita. Hal ini misalnya ditunjukkan dengan bersimbiosisnya penggunaan media baru dengan fenomena supranatural misalnya. Kita tentunya masih ingat dengan kejadian beberapa waktu lalu yang menghebohkan masyarakat, di mana handphone menjadi wahana bagi santet. Mungkin memang para hantu sudah bisa mengakses media baru sehingga mereka pun dapat memodernisasi “kesaktiannya” :D

Karena kasus yang kita amati ada pada level output media, yang dapat kita amati adalah semua yang muncul di dalam kedua majalah tersebut. Pertama, rubrikasi kedua majalah. Victory mengutamakan reportase dari berbagai tempat di tanah air. Selain itu, majalah ini mengangkat topik yang sedang populer. Pada edisi 4 tahun 2010 ini diangkat artikel utama “Sumpah Maut atas nama Pocong”. Liputan ini mengambil beberapa kasus di Indonesia dengan menggunakan tokoh agama dan tokoh supranatural sebagai sumbernya. Walau sepintas ada dua sumber, tokoh supranatural memberikan opini yang senada dengan tokoh agama.

Sementara itu, majalah Misteri lebih mengutamakan artikel opini untuk mendedah fenomena supranatural. Hal ini misalnya terlihat dalam edisi 5 – 19 Maret 2010 pada rubrik Misteri Sejati yang berjudul “ Akibat Bersekutu dengan Susuk Intan”. Tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa tulisan ini adalah produk jurnalistik. Lebih banyak opini dan mengutip berbagai sumber.

Hal yang menarik dari sisi pasar adalah iklan yang muncul di dalam kedua majalah ini. Keduanya dipenuhi dengan iklan jimat dan sebagainya, juga iklan-iklan perseorangan dari para “orang sakti”, baik yang melekatkan dirinya dengan simbol agama dan yang tidak. Iklan benar-benar sangat dominan di dalam kedua majalah ini. Dari sisi pendanaan, mudah dilihat kedua majalah ini beroperasi dengan dana memadai, bahkan mungkin sangat menguntungkan.

Sumber daya pekerja media juga digunakan dengan optimal karena keduanya memiliki sumber daya manusia yang sedikit. Sumber daya informasi yang akan diolah menjadi konten media juga sungguh optimal, terutama pada Misteri. Informasi yang didapat tentang fenomena supranatural dapat dicari dengan cukup mudah pada sumber-sumber lain, terutama dari internet. Apalagi semua sumber tersebut tidak disertai rujukan yang memadai. Tidak hanya tulisan, gambar dan foto yang digunakan pun tidak menunjukkan sumbernya. Kedua majalah ini mengeluarkan biaya yang sedikit dalam memproduksi pesannya dengan keuntungan yang lumayan besar.

Walau kepentingan publik bukanlah hal utama yang digunakan untuk melihat manajemen media, tetapi tetap kita pertanyakan pula, apa makna kehadiran majalah jenis ini di masyarakat. Kemungkinan besar secara manajerial, kedua majalah ini efektif dan efisien dalam mengelola sumber daya. Pasar juga menyerapnya dengan baik. Tetapi apa peran kehadiran kedua majalah ini dalam kehidupan publik? Hal yang paling penting saja, menunjukkan akuntabilitas produksi pesan, kedua majalah ini sulit. Kedua majalah ini mengangkat fenomena yang memang sulit diverifikasi dan ada di luar wilayah “kepublikan” yang digadang-gadang oleh para pembelajar.

Bagaimana mungkin para “makhluk halus” disesuaikan dengan prinsip-pirnsip jurnalistik? Atau pendekatan kita, para pembelajar, yang kurang tepat untuk mengamati fenomena ini. Toh, pembacanya juga baik-baik saja dan tidak mempertanyakan. Sekali lagi, selama sebagian masyarakat kita masih percaya dengan fenomena supranatural, selama itu pula media jenis ini akan terus hadir.

Ngomong-ngomong, apa para hantu juga memerlukan media tentang manusia, atau apakah mereka juga mempelajari media ya? :D

Selasa, 23 Maret 2010

Musik Kamar dan Pikiran yang Mengembara


Mendengar dua atau lebih album yang mirip, kemungkinan kita akan tergerak untuk mengkomparasinya. Begitu pun ketika saya mendengarkan album ini. Dengan segera saya membandingkannya dengan album Endah dan Ressa dan juga dengan album Andre Harihandoyo and Sonic People.album-album yang mirip secara musikal. Album ini berada sedikit di bawah keduanya ketika dibandingkan. Tidak seperti kedua album yang lain itu, yang juga menggunakan gitar gitar sebagi elemen utama dan aransemen sederhana, yang begitu solid kumpulan lagunya.

Album ini tidak berbicara dalam topik yang khusus. Album ini didefinisikan oleh penyanyinya sebagai “rekaman kamar”. Kemudian album ini benar-benar sekadar “musik kamar”. Album yang diproduksi dan dihayati di kamar tanpa menerobos ke luar. Album ini memberikan rasa tenang tetapi hanya itu saja. Musik yang diangkat kurang mengajak kita pada pengembaraan pikiran.

Jangan sepelekan pikiran yang mengembara. Pikiran adalah kekuatan terbesar manusia. Pikiran yang mengembara tersebut bisa dimunculkan melalui musik yang sederhana dan hanya sekadar dinikmati di dalam kamar, sendirian dan memanjakan diri sendiri. Stephen King misalnya, dia menulis karya-karyanya di sebuah kamar yang menghadap dinding. Walau begitu kita tahu bahwa novel-novelnya penuh dengan imajinasi dan menunjukkan kembara pikiran.

Album ini sebenarnya bisa diarahkan pada pikiran yang mengembara. Antara lain melalui lagu “Memilihmu”, yang menganalogikan memilih kekasih itu seperti memasuki dan belajar di sekolah unggulan. Coba bila situasi sekolah unggulan dimunculkan, pasti makna kembara pikiran itu akan lebih terasa. Lagu-lagu lain muncul dengan suasana yang mirip. Walau enak didengar, tidak ada hal baru yang disampaikan. Suasana yang dibangun adalah suasana yang tenang dan damai di kamar ataupun di rumah.

Album ini juga potret dari kondisi musik Indonesia sekarang ini. Di wilayah musik indie juga bisa terdengar musik yang relatif mirip. Tidak apa sebenarnya. Tetapi memunculkan musik yang relatif mirip dengan yang sebelumnya apalagi bila album-album sebelumnya itu lebih sukses, adalah sesuatu yang beresiko dianggap sebagai epigon.
Walau begitu pilihannya sama. Bila kita ingin mendengarkannya di kamar, musik yang dibawa adalah musik yang enak. Bila kita ingin mengembarakan pikiran, album ini belum ada di sana. Tidak lebih dan tidak kurang.

Penyanyi : Adhitia Sofyan
Album : Quiet Down
Tahun : 2009

Daftar Lagu:
1. Adelaide Sky
2. Memilihmu
3. Blue Sky Collapse
4. Invisible
5. Greatest Cure
6. In to You
7. Reality
8. Deadly Storm Lightning Thunder
9. W.Y.L.
10. City of Flowers
11. Number One

Pengulangan dan “Tipu-tipu”….eh, Strategi Industri


Dirilisnya album ini dapat memberikan semacam pandangan tentang kondisi musik Indonesia terkini. Kondisi di mana industri benar-benar mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya sekaligus abai terhadap kualitas secara umum. Dengan mengatasnamakan strategi, industri rekaman membolak-balik dan mendaur-ulang materi yang telah ada. Sebenarnya dari sisi pendengar, tidak banyak hal yang terlalu baru bila demikian. Kumpulan lagu atau album atau kompilasi, adalah cara terbaik untuk melihat tipu-tipu, eh...strategi industri musik populer tersebut.

Kita mengamati sisi "dalam" albumnya dulu. Dari sisi pesannnya, album ini tidak ada yang baru. Topik yang diangkat adalah hal-hal umum seputar cinta. Musiknya sih emang terasa lebih keras, terutama pada lagu-lagunya yang baru. Ada lima lagu baru yang lumayan untuk didengar-dengar.

Walau bagi saya cukup susah juga karena saya menganggap band ini agak kocak karena pernah muncul di dalam iklan produk seluler dengan jenaka. Sejak itu, imaji di kepala saya tidak pernah berubah: band ini tetap “lucu” sekali pun menyanyikan lagu dengan “serius”.

Lima lagu yang lain adalah lagu lama yang dibawakan dalam versi akustik. Beberapa bagus karena lagu-lagu itu menjelma menjadi “lagu baru”, lagu lama tetapi dengan tafsir berbeda. Tetapi tidak lebih dari itu. Selebihnya, album ini setengahnya adalah pengulangan dan tipu-tipu industri untuk merilis materi setengah baru dengan lebih mudah.

Kita bisa bertanya pada industri musik Indonesia secara umum yang belum berkembang, atau sengaja tidak dikembangkan lebih maju? Entahlah, menurut saya, bila memang tidak ada materi lagu yang baru, kenapa tidak merilis mini album saja? Atau album yang khusus ber-akustik ria?

Sebagai sebuah konten, album ini tidak solid dan tidak memberikan hal baru pada pendengar. Apakah ini efek dari kemajuan teknologi media dan perkembangan pasar yang justru tidak membuat kondisi musik Indonesia secara keseluruhan lebih baik? Kita akan memerlukan obrolan panjang untuk mendiskusikannya.

Sementara ini kita nikmati saja musik dari band yang pada album debutnya dianggap akan besar, proyek sampingan dari Andra yang akan mengatasi “proyek utamanya”.
Sepertinya kita perlu merevisi pandangan tersebut.

Penyanyi : Andra and the Backbone
Album : Love, Faith & Hope
Tahun : 2010

Daftar Lagu:
1. Pagi Jangan Cepat Datang
2. Tunggu Aku
3. Jalanmu Bukan Jalanku
4. Mimpi Burukku
5. Love, Faith & Hope
6. Muak (versi akustik)
7. Lagi dan Lagi (versi akustik)
8. Pujaan Hati (versi akustik)
9. Terdalam (versi akustik)
10. Seperti Hidup Kembali (versi akustik)

Potret Musik Indonesia Terkini


Tindakan profesional, apa pun bidangnya, dapat ditakar melalui dua hal, yaitu aktivitas profesional itu sendiri dan output kerjanya. Keduanya berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain walau dapat pula dilihat secara terpisah.

Di dalam bermusik, aktivitas profesional termanifestasi melalui penciptaan, penampilan, dan pendistribusian yang oke. Penciptaan musik profesional merujuk pada karya yang tidak meniru, apalagi mengkopi persis, karya orang lain. Penampilan musik yang bagus merujuk pada kesungguhannya terutama dalam pentas langsung. Jadi, sebenarnya musik yang dimainkan dengan bohong-bohongan dan penonton yang juga pura-pura menikmati, adalah tindakan pementasan musik yang tidak profesional. Bahkan lebih jauh daripada itu, kegiatan tipu-tipu saja. Tidak otentik dan tidak riil.

Begitu juga pendistribusian musik. Pendistribusian hasil karya musik dimulai dari pendokumentasian, pengemasan, dan penghantaran musik pada pendengar dengan baik untuk menunjukkan tindakan yang profesional. Pendokumentasian musik asal-asalan sebelum dikemas menunjukkan bahwa musisi dan pekerja pendukungnya belumlah serius bekerja.

Begitu juga dengan pengemasan. Pengemasan yang serius ditunjukkan melalui pengemasan output, misalnya memikirkan tampilan di album dan lain sebagainya. “Pengemasan” musisi juga memiliki pengertian lain, yaitu imaji yang berusaha ditumbuhkan dan ditanamkan pada si pencipta musik. Bila pengemasan itu hanya epigon dari musisi yang sudah ada, atau bahkan sama persis dengan imaji yang sedang populer, tentulah pengemasan itu kurang profesional.

Setelah aktivitas, tindakan profesional tersebut dapat dilihat dengan sangat mudah dan terverifikasi pada outputnya. Aktivitas yang bagus cenderung akan menghasilkan output yang bagus. Dengan demikian, mudah sebenarnya untuk menakar musisi. Pertama, ada tidak karyanya? Bila tidak pernah berkarya, apa yang bisa dinilai? Sekali pun misalnya, musisi tersebut dan para pendukungnya berkoar-koar bahwa si musisi hebat. Kedua, bila sudah ada output karya, dan ini jauh lebih bagus daripada tidak berkarya sama sekali, setidaknya musisi tersebut menjadi lebih mudah dirujuk dan diverifikasi oleh beragam pihak.

Akumulasi dari output bagus tiap musisi akan membentuk kondisi yang bagus pula secara umum. Di dalam “industri” musik sudah lumrah diketahui bahwa ada dua aras musik, yaitu musik major dan musik independen. Di banyak negara, perkembangan musik indie semakin tinggi persentasenya bila dibandingkan dengan musik yang beredar secara keseluruhan. Di Amerika Serikat misalnya, persentase musik indie sudah mencapai sekitar 15 persen. Sayang, kita tidak punya data yang sahih untuk musik indie Indonesia. Walau begitu kita bisa merasakan bahwa kehadiran musi indie sudah mulai semakin terasa dan tertangkap oleh radar pendengaran kita.

Di dalam kasus Indonesia, musik major atau seringkali juga disebut mainstream memang mengarah dalam kondisi yang kurang bagus. Perkembangan pasar dengan mengeksploitasi penggemar musik hanya sebagai konsumen, perkembangan teknologi media yang tidak diikuti oleh kemantapan penerapan hukum, dan regulator yang tidak paham, adalah tiga faktor yang saling bertali-temali dan pada akhirnya membuat musik Indonesia semakin terpuruk.

Musik menjadi semacam komoditas yang diperdagangkan tanpa mempedulikan kualitas. Musik mainstream kemudian menjadi senada, membosankan, dan penuh tindakan tidak profesional dan tidak otentik. Wajar bila kemudian para penikmat musik sering memandang musisi mainstream sebagai musisi tidak serius dan hanya mementingkan keuntungan semata. Tidak semua musisi mainstream seperti yang saya gambarkan di atas. Tetap ada juga musisi mainstream yang bagus dan menghasilkan output yang keren.

Kritik dari penikmat musik tersebut dianggap oleh seorang musisi sebagai “salah tempat”, menurutnya band mainstream tidak ada hubungannya dengan keberadaan mereka di major label maupun indie. Musisi itu adalah Anji, vokalis Drive. Ia mengutarakan isi hatinya di dalam majalah Rolling Stone Indonesia edisi Maret 2010. Menurut saya, pendapat Anji juga salah alamat karena wajar orang berkesimpulan musisi mainstream adalah musisi major label karena bila mereka “tidak mainstream”, mana lah bisa dikontrak label major? Kebanyakan musisi mainstream juga menghasilkan karya yang senada seirama tanpa keberagaman. Satu band sukses merilis irama melayu, band-band lain kemudian mengikuti. Di mana fenomena seperti ini terjadi bila bukan di musik mainstream?

Pemutaran lagu-lagu dan penampilan musisi di banyak acara musik pagi hari di televisi semakin memperparah kualitas mereka tersebut. Seingat saya Drive pun pernah tampil di program musik bohongan tersebut. Bagaimana bisa disebut berkualitas bila bernyanyi saja lipsinc, dengan iringan minus one. Apa bedanya dengan kita para pendengar, yang menyanyikannya secara karaoke di rumah? Juga dengan penonton bayaran yang bohong-bohongan menikmati musik? Memang ada pula penggemar musik sungguhan yang hadir tetapi “kepalsuan” dan “ketidakotentikan” tetaplah yang meraja.

Jadi pembelaan seorang praktisi televisi di majalah Trax edisi Maret 2010 juga tidak dapat dibenarkan. Febry Meuthia, Manager Music & Variety Program SCTV, yang melahirkan acara Inbox, menulis opininya yang berjudul “Televisi Itu Etalase”. Pembelaan habis-habisan darinya untuk menunjukkan bahwa musik dan televisi bisa bersinergi ke arah yang lebih baik. Kenyataannya, minimal saya, melihat acara tersebut di pagi hari, sama saja dengan mengorbankan sepanjang hari saya menjadi kelabu.

Televisi memang etalase. Siapa bilang televisi itu hanya lembaga pendidikan atau lembaga sosial? Permasalahannya adalah apakah etalase itu memajang “komoditi” yang oke atau tidak. Apakah komoditi itu bisa merujuk pada keinginan publik yang elegan.

Walau demikian, kita juga beruntung sekarang ini karena musik Indonesia relatif sudah bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sama halnya dengan pesan media yang lain; film, buku, dan majalah. Tetapi apa gunanya posisi tuan rumah tersebut bila secara kualitas outputnya tidak meningkat dan tindakan profesional tidak muncul dalam kredo kerja atau tindakan profesional?

Atau apakah kita bisa membiarkan kondisi ini tetap di tangan regulator yang membiarkan 94% output musik yang beredar adalah bajakan? Pemerintah yang katanya menggalakkan industri kreatif tetapi sekaligus menyediakan gerai penjualan musik bajakan di pameran pembangunan di semua daerah. Pameran pembangunan adalah cara formal pemerintah menunjukkan kemajuan di tiap daerah.

Apakah menjual konten media bajakan bisa disebut sebagai kemajuan?

(keterangan gambar: Salah satu "pengawal" menuju musik Indonesia lebih berkualitas)

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...