Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juni 2012

U2 - Achtung Baby (1991)

Bila pikiran sulit berderak kencang di pagi hari. Album U2 tahun 1991, Achtung Baby, bisa membantu. Album ini selalu berteriak nyaring: berpikirlah dalam dalam, berargumenlah terang terang!

Begitulah kira-kira satu paragraf awal bagi saya untuk mendeskripsikan album ini. Album ini tidak pernah gagal untuk menggerakkan otak saya yang seringkali malas untuk berhasrat penuh atas konsep. Album ini seperti sebuah paradoks karena saya merasa saya memahami postmodernisme lebih baik melalui album ini daripada dari buku-buku. Album ini berkisah banyak tentang ketiadaan metanarasi, arti penting citra, dan diperluas dengan peran media yang semakin merajai kehidupan.

Album ini saya dengarkan sekira tahun 1993 atau 1994 tetapi pengaruhnya sangat terasa dalam satu dekade, bahkan sampai kini. Album ini adalah album paling berpengaruh dalam hidup saya, termasuk menjadi faktor penting bagi ketertarikan saya atas musik rekaman sebagai bagian dari kajian komunikasi dan media. Secara personal lagu ini juga membantu saya merefleksikan pengalaman di masa lalu, terutama untuk lagu One, Until the End of World, dan Who's Gonna Ride Your Wild Horses.

Saya berharap suatu kali bisa mendapatkan album bagus lagi dan menjadi pemicu yang bagus untuk berpikir mendalam dan antusias terhadap hidup yang kadangkala tidak terlalu mendalam. Hidup bisa biasa saja, mungkin juga serba permukaan, namun dengan teks media semacam ini hidup bisa jadi tambah bermakna.
U2 - Achtung Baby (1991)

Selasa, 27 Maret 2012

Manifesto Menulis: Mencoba Sekali Lagi Rutin Menulis dengan utuh Penuh

Sudah lama saya tidak menulis dengan tertib sesuai dengan janji saya sendiri. Suatu ketika saya pernah berjanji pada diri untuk menulis dan mempublikasikannya setiap hari. Suatu kali usaha mewujudkan janji tersebut terlihat berhasil karena dalam jangka waktu tertentu saya berhasil menulis dengan teratur. Suatu kali juga saya tidak berhasil memenuhinya. Berhari-hari saya tidak menulis dengan tertib bahkan tidak menulis sama sekali. Alasan saya tentu saja banyak untuk membenarkan diri sendiri, alasan selalu bisa diajukan untuk “menipu” diri sendiri, mulai dari kesibukan yang menurut saya sangat tidak rasional sampai dengan alasan-alasan lain yang seringkali menurut saya sendiri sangat aneh, semisal sedang asyik mengakses pesan tertentu, antara lain menonton film atau mendengarkan sebuah album musik. Walau begitu semuanya sama saja: tidak ada tulisan yang lahir pada hari-hari itu. Kini saya berprinsip dan memperbarui janji lagi untuk menulis minimal seribu kata sehari terlepas dari sesibuk, seteruk atau sekompleks apapun hidup. Saya mesti menulis lengkap per hari satu tulisan karena tulisan pendek sudah cukup dan tulisan-tulisan panjang terwujud dari tulisan-tulisan pendek.



Saya pernah membaca bahwa menulis adalah salah satu sarana terbaik dalam melunturkan hal-hal negatif dalam pikiran dan hati. Pada prinsipnya, menulis itu sangat dekat dengan pikiran dan hati yang baik. Misalnya saja, sebuah konsep yang sedang dipikirkan dapat tereksplorasi dengan baik bila dituliskan. Dengan menulis secara perlahan dan terencana kompleksitas sebuah konsep dapat terurai pelan-pelan. Seringkali saya sendiri merasakan manfaat dari menulis ketika menulis tentang suatu konsep. Detail dari konsep tersebut malah terjelaskan dengan menulis, padahal sebelumnya saya seperti belum bisa menjelaskannya lebih mendalam. Saya baru menyadari berbagai aspek dari sebuah konsep ketika menuliskannya, bukan sekadar membaca dan memikir-mikirkannya.


Hal yang sama terjadi dengan segala problem di hati, suasana hati yang tak enak ataupun sedang gundah dapat dicairkan pelan-pelan dengan menuliskannya. Emosi bisa pelan-pelan menguap dan akhirnya menghilang ketika dituliskan. Beberapa kali bila ada permasalahan saya menuliskannya dan entah bagaimana perasaan gundah tersebut menguap. Mungkin karena dengan menuliskannya kita berpikir mendalam dan bisa memahami suatu masalah dengan lebih baik. Kedua fungsi tersebut sebenarnya sudah saya pahami betul namun entah mengapa menulis dengan teratur untuk menghasilkan satu tulisan lengkap itu sungguh sulit. Berkali-kali saya mencoba, berkali-kali juga belum begitu berhasil. Namun saya tidak akan pernah menyerah dan mencoba kembali dengan sungguh-sungguh sampai kebiasaan menulis dengan teratur dan selesai satu tulisan per hari benar-benar terinternalisasi dalam diri.


Saya kira ada satu lagi faktor penting yang mesti dijalankan, menguatkan niat untuk menghadap “papan huruf” (keyboard) dan layar monitor, kemudian membuka program pengolah kata, dan kemudian merangkaikan untaian huruf menjadi tulisan. Pemahaman yang sangat kuat sekalipun tentang arti penting menulis tidak akan bermakna jika kita tidak mau membuka program pengolah kata dan mulai mengetik. Memiliki kemampuan yang baik dalam menulis pasti harus berlatih dengan menulis, bukan hanya sekadar membaca dan memahami dengan menulis. Saya masih heran dengan diri sendiri mengapa kesadaran ini tidak bisa muncul setiap waktu sehingga mestinya bisa menulis dengan lebih teratur dan baik.


Untuk memperkuat “tekanan” agar saya menulis kembali dengan rajin adalah meyakinkan bahwa aktivitas terpenting dan terbesar di dalam hidup saya adalah menulis. Menulis bagaimana pun sangat penting bagi saya. Melalui tulisan yang muncul kinerja saya dinilai, minimal oleh diri sendiri, bahkan prestasi diri juga dinilai melalui tulisan. Oleh karena itulah saya sangat “iri” dengan akademisi yang menghasilkan tulisan dengan rutin dan bagus, apalagi bila itu berbentuk buku. Saya sendiri baru sekali menerbitkan buku dengan nama sendiri. Itu pun sudah sangat lama, sekitar lima tahun yang lalu walau saya saya agak sering menulis bersama-sama tiga tahun terakhir ini. Sekali lagi, problem terbesar dari menulis adalah melakukannya, bukan hanya memikirkan atau bahkan menuliskan tentang menulis. Kini saya berjanji di dalam hati (lagi) untuk menulis dengan tertib dan menghasilkan satu tulisan yang selesai per hari.


Hal lain yang juga tidak kalah penting adalah dualitas antara menulis dan membaca. Dengan menulis kita akan perlu membaca untuk memperdalam detail, begitu juga ketika membaca, atau mengakses teks media secara umum, mestinya akan mendorong kita untuk menulis dengan rutin. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak membaca dengan baik dapat menulis dengan baik pula? Saya pernah mendualismekan aktivitas membaca dan menulis dan ternyata itu kenaifan utama saya dalam mengoptimalkan menulis. Dulu saya selalu memisahkan kedua aktivitas tersebut dalam suatu waktu, kalau sedang membaca berarti hanya membaca saja dalam kurun waktu tertentu, juga ketika menulis. Seolah-olah keduanya tidak saling mendukung, padahal jelas, keduanya adalah aktivitas yang berdualitas: satu ada untuk saling melengkapi dan menjalankan fungsi yang lain.


Menulis dengan cepat dan sesuai dengan konteks waktu juga adalah aspek yang penting. Beberapa hari yang lalu saya melewatkan moment penting dalam menulis padahal saya yakin bisa menuliskan topik tersebut dengan relatif baik tetapi saya melewatkannya. Saya juga seringkali mengakses media seperti game, film dan musik rekaman, dan ada hasrat kuat untuk menulis, tetapi saya menundanya. Pada akhirnya hasrat tersebut tinggal berwujud hasrat tanpa menjadi sebuah tulisan. Seseorang yang rajin menulis dan tulisannya sangat bagus memberi nasihat pada saya semestinya begitu sebuah isu menyeruak, kita langsung menuliskannya tanpa menunggu lagi bahkan untuk sehari saja. Momentum yang tepat sangat berharga dan tidak ternilai oleh uang berapapun. Hal ini berlaku secara umum tidak hanya dalam tulis-menulis.


Terakhir, hal yang tak kalah penting adalah “berinteraksi” dengan tulisan dan penulis yang bagus dengan intens. Hal ini berdekatan dengan prinsip dualitas menulis dan membaca (mengakses isi media). Untuk menulis dengan baik semestinya kita juga membaca tulisan-tulisan yang bagus sehingga membuat kita antusias untuk menulis pula. Inspirasi mesti muncul dari hal-hal yang bagus. Selain itu, bila mungkin kita juga berinteraksi dengan penulis yang bagus, yang tulisan-tulisannya diakui banyak orang. Saya sendiri mengenal secara langsung beberapa penulis bagus, bukan hanya sekadar dari karya-karyanya. Secara umum, minimal penulis yang saya kenal langsung, penulis yang bagus biasanya memiliki kepribadian yang bagus pula dan senang berdiskusi dan ini berlaku sebaliknya, penulis yang biasa saja atau jelek biasanya kepribadiannya menyebalkan dan tidak enak diajak berdiskusi. Basis kualitas tulisan-tulisannya juga bukan pada pengakuan banyak orang melainkan klaim oleh diri sendiri.


Walau begitu, problemnya tetap sama, apakah membaca atau berinteraksi dengan tulisan-tulisan bagus dan juga berteman langsung dengan penulis-penulis bagus dengan sendirinya membuat kita dapat menulis dengan baik dan teratur? Jawabannya langsung dan singkat, tentu saja tidak, interaksi tersebut harus memberikan inspirasi pada hasrat menulis, kemudian kita sendiri mesti menulis dan menggerakkan jari dengan sebaik-baiknya. Bukankah selalu sama pada akhirnya, apakah saya mau menulis dengan teratur dan mewujudkannya sampai selesai pada tiap hari? Dengan ini, manifesto menulis saya perbarui kembali. Saya mesti menulis dengan antusias!

--13 Maret 2012--

Senin, 06 Februari 2012

Eksistensialisme dan Menulis

Dia masih menatap kosong monitor di depannya. Sudah sekitar seperempat jam tidak ada tulisan yang bisa diketikkan di keyboard dan muncul di layar monitor. Semua yang dia pikirkan dan rasakan hanya ada di dalam diri dan kelihatannya terlalu kacau dan kompleks untuk menjadi sebuah tulisan bahkan untuk satu kalimat pun tidak muncul juga. Janjinya pada diri sendiri belum jua ditepati. Tahun ini dia berjanji untuk menulis paling tidak dua tulisan per hari setelah tahun-tahun sebelumnya hanya satu tulisan per hari. Ternyata menulis itu seperti ombak, kadang bisa berdebur kencang, kadang kecil saja, kadang juga tidak ada sama sekali bila tak ada angin. Tetapi dia berusaha tidak panik. Keadaan seperti ini datang terus. Menulis juga mengalami pasang surut walau kini surutnya semakin lebih kerap datang.

Menulis baginya kini adalah sebuah kondisi eksistensial. Menulis, bahkan bila tidak menulis, ada rasa perih yang tak lepas dari kondisi "mengada". Bila menulis tetapi dia merasa tak puas dengan tulisannya, ada rasa "perih" di dada. Mengapa aku tak bisa menulis dengan bagus? tanyanya pada diri sendiri. Apalagi bila cukup lama, sekian hari, tak menulis. Ada luka menganga sepertinya. Ada kondisi dan keadaan yang "bolong" di dalam dirinya. Dia mengingat salah satu pengalaman anehnya. Dia dengan antusias menyampaikan pada istrinya bahwa tulisan-tulisannya yang sempat hilang di FB muncul lagi dan itu membuatnya semangat menulis lagi. Sementara istrinya menyampaikan thesis sudah selesai ditulis dan akan ujian pendadaran beberapa hari lagi. Dia ingat sekali lagi betapa rasanya hatinya mencelos. Dia hanya sekadar menyampaikan antusiasmenya yang kembali lagi dalam menulis sementara istrinya menyampaikan pencapaian yang jauh lebih besar: menulis satu karya yang sekaligus merupakan suatu kewajiban. Dia sendiri sampai sekarang belum menyelesaikan kewajiban menulis akademiknya yang telah tertunda tiga tahun. Semestinya sudah mewujud sekarang, begitu sesalnya.

Dia agak menyesali mengetahui konsep eksistensialisme. Sungguh sebuah konsep yang "mewah" untuk dipahami namun ketika dirasakan sendiri, rasanya sungguh tak enak. Ternyata penderitaan batin dan kekosongan dalam diri bisa hadir karena dia belum atau tidak melakukan aktivitas yang dia pikir, dan semestinya, menjadi aktivitas utama hidupnya, selain meneliti dan menyampaikannya di diskusi. Eksistensialisme bukan sekadar mendalami keadaan "mengada" namun menunjukkan dengan jelas bahwa manusia tidak mungkin tidak menderita dalam proses "mengada" itu.

Dia merasa kosong. Namun perlahan optimisme dan antusiasme itu muncul lagi. Muncul sedikit demi sedikit dan perlahan tetapi tetap hadir. Eksistensialisme tidak melulu berbincang tentang "penderitaan". Walau sepintas tak ada jalan keluar dalam kondisi "mengada", manusia adalah makhluk yang cerdas pikiran dan hatinya, dan akan selalu menemukan jalan keluar dari kondisi yang dihadapinya, sesulit apa pun kondisi tersebut. Karena itulah, dia mencoba "mengada" sekali lagi, terutama dalam aktivitas menulis karena menulis adalah kondisi eksistensial dirinya, karena menulis adalah pekerjaan utamanya. Dia harus tetap antusias dan optimis dalam menulis. Dimulai kembali dengan tulisan cepat ini. Dia ingin keadaan mengadanya benar-benar bisa dinikmati dan menghasilkan tulisan demi tulisan.

Tiba-tiba keyboard menjadi sahabat jejarinya lagi....
Pelan-pelan dia menulis lagi....

Senin, 16 Januari 2012

Menulis Itu Mudah (Sekaligus Sulit)



Sebenarnya saya agak tidak menduga bisa lama tidak bisa menulis apa-apa. Saya lupa kapan terakhir menulis dengan intens dan menghasilkan tulisan yang memuaskan diri saya sendiri. Banyak ide berseliweran di kepala (pikiran) dan hati (perasaan). Sepertinya banyak untaian kata bisa ditulis. Namun tidak ada apa-apa yang muncul dengan utuh. Saya juga berjanji dalam hati untuk lebih produktif dan kreatif dalam menulis pada awal tahun kemarin. Kenyataannya, sampai saat ini rencana tinggal rencana, sangat sulit merealisasikan rencana untuk menulis minimal sekian jam per hari dan sekian tulisan per bulan.



Saya agak tidak menduga kini mengalami kesulitan dalam menulis, bahkan untuk menghasilkan tulisan pendek. Kondisi ini sebenarnya tidak terbayangkan sebelumnya tahun kemarin di mana saya merasa cukup produktif dalam menulis, dan cukup kreatif menghasilkan ragam jenis tulisan. Harapan personal untuk memiliki kecakapan literasi yang komplet sepertinya bakal terwujud. Namun, Dia akan selalu mengingatkan, bila kita merasa sudah baik atau sudah cukup memadai dalam hal apa pun, tidak hanya menulis, kita ternyata belumlah apa-apa. Ini adalah kondisi eksistensial di mana kita mesti merasakan kemandekan beberapa kali dalam hidup.



Dia juga "mengirimkan" orang-orang yang ada di sekitar saya untuk selalu mengingatkan. Pertama, orang yang paling saya cintai, istri saya mengingatkan situs personal saya ini yang belum juga terisi tulisan. "Masak sudah punya situs tapi belum ada tulisannya. Katanya pengamat media baru, kok situsnya belum ada isinya". Begitu kata ibu malaikat kecil saya. Saya hanya tersenyum kecut. Di dalam hati saya hanya bisa membenarkan pendapatnya.


Kedua, seorang rekan yang lebih muda yang pemikiran dan tulisannya saya kagumi, mengatakan saya secara tak langsung sewaktu kami mengobrol bebas tentang tulis-menulis. "Menurut saya mas, kita mesti menyelesaikan satu tulisan sebelum mengerjakan tulisan yang lain. Kalau tidak, tidak akan ada tulisan yang hadir". Mungkin dia tidak sengaja menyampaikan perkataan itu namun betul-betul "menusuk" hati saya karena saya selalu menunda satu tulisan dan merasa bisa mengerjakan beberapa tulisan dalam satu waktu.


Orang terakhir yang dikirimkan Dia untuk mengingatkan tentang tulis-menulis adalah seorang rekan di Facebook. Rekan ini tidak saya kenal secara personal namun dia adalah kakak kelas saya sewaktu kuliah. Dia saya kenal dari dua rekan di kantor yang sangat dekat dengannya. Saya lebih mengenalnya melalui status dan komentarnya di FB yang positif tentang menulis. Dia ini adalah seorang penulis yang sangat produktif dan bagus jua tulisan-tulisannya, terutama untuk cerpen-cerpen yang dia hasilkan. Lewat wall FB-nya dia mengatakan bila kita menyediakan waktu lima menit saja per hari pasti dalam waktu setahun kita bisa menyelesaikan sebuah buku. Nasihat yang bagus dan mengena dari pakarnya saya kira dan benar-benar menggugah saya untuk berusaha dengan antusias menulis lagi.

Yup, inilah pembaruan janji saya. Berjanji kembali pada diri untuk menulis antara lain di situs personal saya ini. Blog lama saya ini akan saya tinggalkan. Selanjutnya saya juga akan menulis di blog atau situs personal saya di alamat http://www.wisnumartha.com/ selain di sini. Setelah ini saya akan berusaha menulis lebih baik lagi. Mudah dan sulit itu dualitas dan bersifat eksistensial, hal yang paling penting adalah MENULISLAH! selagi kita dikaruniai waktu, perasaan, dan pikiran.


(gambar dipinjam dari theportableblender.info)

Rabu, 04 Januari 2012

Pergi

Aku memandangi tas perjalanan yang ada di sampingku. Di bandara yang sibuk dan riuh bernama Cengkareng. Rasanya belum terlalu lama tas ini kubawa ke Nganjuk untuk menengok pakdhe yang waktu itu sakit. Tas ini pada akhirnya ikut "melayat" pakdhe karena sehari setelah aku datang menengok pakdhe pergi untuk selamanya. Duka di dalam hati belum selesai. Kini tas yang kubeli di Chennai, India, ini kubawa untuk perjalanan duka lagi. Kali ini ia kubawa ke Bandar Lampung lagi untuk melayat nyai yang tadi pagi pukul 09.00 tanggal 3 Januari 2012 pergi meninggalkan dunia ini selamanya. Nyai adalah nama lain untuk nenek, ibunya ayah. Aku tak tahu pasti seperti apa menuliskannya. Aku tidak begitu paham bahasa Lampung, terutama sub etnis Lampung keluargaku.

Benar, kedukaan membuat aku tak kritis. Biasanya aku mudah menemukan "ketidaksesuaian" di sekitarku dengan hanya melihat keadaan. Bila ada yang tak pas, hatiku akan gundah dan mencoba mencari penyebab ketidaksesuaian itu. Misalnya, maskapai penerbangan yang pesawatnya membawaku ke bandara Raden Intan masih menyebut Tanjung Karang dengan Bandar Lampung atau sebaliknya Tanjung Karang atau Bandar Lampung. Mungkin mereka yang tidak berasal dari Bandar Lampung tak tahu bahwa Bandar Lampung itu terdiri dari dua kota di masa lalu: Tanjung Karang dan Teluk Betung. Rasa gundah bisa kulewatkan juga ketika masih banyak penumpang yang mengaktifkan handphone bahkan beberapa menit sebelum pesawat lepas landas. Biasanya aku akan marah walau hanya di dalam hati.

Ini perjalanan pulang tersedih kedua setelah pulang tahun 2003 di mana ayah pada tahun itu ayahku meninggal. Ayah meninggal kurang dari dua bulan sebelum aku menikah. Rasanya, waktu itu bumi berhenti berputar. Sedih karena aku belum banyak membahagiakan ayah setelah bertahun-tahun berjuang keras menyekolahkan kami, aku dan ketiga adikku. Waktu itu perjalanan serasa begitu panjang dari Yogya ke Bandar Lampung. Hal yang sama terjadi pada perjalanan kali ini. Masih teringat sebuah kenangan delapan tahun itu wajah nyai yang sedih karena anak lelaki pertamanya meninggal. Waktu itu nyai masih segar bugar untuk seusianya.

Perjalanan dari bandara yang berasal dari nama pahlawan nasional ini juga terasa lama sekali menuju rumah duka. Aku tak tahu pasti yang kurasakan. Bukan rasa sedih yang mendalam karena mungkin ini jalan-Nya yang terbaik mengingat usia nyai yang 87 tahun. Mungkin rasa kehilangan, mungkin penyesalan karena pada pertemuan terakhir tak bisa bercakap-cakap dengan nyai karena waktu itu beliau sedang tidur. Rasa kehilangan dalam hati yang lumayan dalam karena pada usia 5 - 14 tahun nyai ikut membesarkanku selain kedua orang tuaku tentunya. Aku dan adik perempuanku tinggal di rumah nyai sampai menjelang kepindahan kami ke Yogyakarta. Aku dengar dari adik-adikku kedatanganku ditunggu sebelum nyai dimakamkan padahal waktu sudah menunjukkan pukul 21.20. Waktu yang larut untuk memakamkan.

Di rumah duka banyak keluarga yang memelukku. Kesedihan merebak. Dalam kesedihan dan kehilangan manusia memiliki mekanisme untuk menguranginya bersama-sama, begitu juga untuk memperkuatnya. Suasana begitu  mengharukan apalagi banyak anggota keluarga yang kemudian menangis lebih keras karena kata mereka aku begitu mirip ayah. Mungkin kepergian ayah yang mendadak delapan tahun itu belum mereka terima sepenuhnya. Mungkin juga semua orang yang kucintai ini memang merindukan ayah. Ayah tak pernah pergi dari hati dan pikiran mereka. Konsep "pergi" kemudian melayang-layang di benakku. Siapa yang pergi? kita memang bisa pergi kemana selain hidup dan meninggal? tidak ada individu yang benar-benar pergi bila bekasnya sudah ada di hati dan sosoknya tercetak dalam perjalanan hidup kita.

Selamat jalan nyai....nyai tak pernah pergi sepenuhnya dariku....

Senin, 02 Januari 2012

Perasaan dan Pengetahuan yang Dikemas “Kecil-Kecil”

Ada untungnya juga keadaan di mana program acara di televisi yang cukup bagus dan layak tonton jarang ada. Ketika suatu malam di akhir tahun kemarin tak ada acara televisi yang lumayan, saya bisa menonton film-film dalam format VCD dan DVD yang sebenarnya sudah cukup lama ada di koleksi saya. Koleksi film yang belum saya tonton lumayan banyak dan akhirnya pilihan jatuh pada film Paris, je t'aime (2006). Sungguh pilihan yang tepat karena film ini  bagus sekali. Seorang rekan saya yang memang merupakan penggila film sepintas pernah menyebut-nyebut film ini bagus sekali bertahun-tahun yang lalu sebelum dia menempuh pendidikan doktoral di Australia sana. Namun karena saya pada dasarnya lebih memilih musik rekaman sebagai teks media utama yang saya akses, saran sepintas rekan saya itu menghilang begitu saja.

Tentu saja review atas film ini sudah banyak sekali dan saya tidak ingin menambahkan review lagi. Saya hanya ingin mengomentari bagaimana kisah-kisah menarik bisa dikemas dalam pesan media yang sangat pendek, dalam film ini, film-film pendek tersebut berdurasi sekitar lima menit. Ada dua puluh fragmen 5 menitan yang hadir di film ini. Semua film sangat pendek tersebut rata-rata menarik dan “berbicara” secara spesifik. Fragmen karya Coen bersaudara merupakan salah satu bagian favorit saya, juga karya Gus van Sant. Intinya, semua sutradara mampu menyampaikan sisi romantis dari kota Paris dengan baik, terbagi dalam dua puluh “wilayah” kota (mungkin kecamatan dalam kota-kota di Indonesia).

Sebagai akibat dari menonton film ini saya jadi tertarik (kembali) dengan pesan-pesan yang dikemas singat dan pendek. Entah itu, cerita pendek untuk fiksi, puisi yang padat, film-film pendek, fiksi maupun dokumenter, juga tulisan pendedahan ide yang pendek sekitar 500 – 700 kata. Mengapa pesan yang dikemas “kecil-kecil” itu menarik? Saya sendiri tidak punya jawaban pasti, tetapi bagi saya pesan yang dikemas pendek tersebut lebih “menantang” pengaksesnya untuk lebih berusaha serius pada teks. Selain itu, teks yang dikemas “kecil-kecil” tadi mampu memicu pemaknaan intens untuk mendorong kita menghasilkan teks baru.
     
Mungkin itulah sebabnya saya lebih menyukai pesan media musik populer karena bila kita mengakses album misalnya, kita bisa memaknainya dari dua sisi, teks keseluruhan dalam satu kesatuan album, atau pada pesan yang dikemas “kecil-kecil” dalam bentuk lagu, yang rata-rata berjumlah dua belas lagu untuk satu album. Pesan yang dikemas “kecil-kecil” tersebut mampu menjadi pintu masuk untuk membahas teks yang lebih besar, luas, dan mendalam.

Semua contoh yang coba saya tampilkan di atas lebih merupakan perasaan yang dikemas “kecil-kecil” dalam bentuk pesan media, yang kemudian dimaknai oleh audiens atau pengakses menjadi teks, namun bukan berarti pengetahuan tidak bisa dikemas “kecil-kecil” di dalam pesan media. Opini di suratkabar adalah contoh yang bagus untuk menunjukkan pesan media yang dikemas “kecil-kecil”. Saya sungguh kagum dengan beberapa rekan yang mampu menulis pemikiran dan pengetahuan dalam format yang ringkas namun mengena. Dibutuhkan upaya lebih untuk memformulasi pemikiran dalam maksimal 700 kata tanpa kehilangan fokus dan tekanan. Diam-diam saya telaah tulisan rekan-rekan saya itu, terutama yang muncul di media massa, dan coba saya resapi benar karena kecakapan mereka memang layak dipelajari, apalagi mereka selalu berpendapat bahwa kami belajar bersama dalam menulis singkat dan padat.

Belajar Bermedia Bersama: Catatan untuk Awal yang Baru

Sedianya saya menulis sesuatu kemarin. Harapannya tulisan tersebut menjadi pembuka untuk awal yang baru di tahun 2012 ini, sekaligus untuk pertama-kali mempublikasi tulisan perdana di alamat blog saya yang baru. Namun apa daya, di hari pertama tahun ini kemarin, saya harus bekerja bersama teman-teman seperjuangan untuk membantu mewujudkan dunia penyiaran Indonesia yang lebih baik. Setidaknya kami ingin berkontribusi pada sistem dan pada sesama walau mungkin setitik :D

Saya tidak ingin menyebut apa pun yang ditulis di dalam tulisan ini sebagai resolusi apalagi klaim. Saya hanya ingin memperbarui janji setahun ke depan. Sebuah janji yang tentu saja personal. Tidak ada maksud untuk menyombongkan diri sedikit pun karena saya belumlah apa-apa, terutama dalam dunia tulis menulis. Saya hanya ingin di tahun ini bersikap dan berposisi lebih serius pada teks. Teks di sini ada dalam dua aspek, yaitu aspek produksi atau kreasi teks dan aspek memaknai teks yang ada. Keduanya sirkular dan saling melengkapi satu sama lain. Di tahun ini saya mesti menghasilkan 50 tulisan yang selesai dalam waktu sebulan. Walau tiga tahun ini saya berjanji mem-posting satu tulisan setiap hari saja tidak terpenuhi, saya tetap optimis rencana itu akan terwujud. Kini saya mesti menaikkan output agar kecakapan saya pada literasi semakin meningkat. 50 tulisan per bulan itu berarti hampir dua kali lebih banyak dari janji sebelumnya, namun kali ini saya hampir yakin saya akan memenuhi janji tersebut. Kita akan lihat sebulan pertama ini.

Semoga berhasil...

Saya sendiri merasa di tahun 2011 yang baru saja berlalu, saya justru mengalami penurunan dalam mengkreasi teks. Saya mencoba melihat semua tulisan saya di tahun 2011 yang muncul di blog ini. Ternyata lebih banyak lirik lagu yang saya publikasi kembali dari laman situs lain daripada pemaknaan saya sendiri pada lirik lagu tersebut. Juga takaran atau review saya atas album musik. Di tahun ini tidak sampai sepuluh album Indonesia yang saya takar. Akibatnya, di awal tahun ini saya tidak bisa membuat daftar album terbaik, bahkan untuk daftar 5 album terbaik sekalipun. Satu topik tulisan lain yang tidak saya selesaikan adalah "Belajar Bermedia Bersama", tagline yang saya ambil dari newsletter saya dan teman-teman, "Polysemia", yang rencananya berusaha menelaah ragam fenomena kemediaan dan komunikasi dalam kurun waktu seminggu. Nyatanya, tulisan tersebut tidak lengkap mengisi tiap minggu dalam setahun. Namun adakalanya sedikit kegagalan semacam ini mestinya jadi penyemangat untuk menulis kembali dengan sebaik-baiknya. Sederhana saja: saya mesti bersikap dan berposisi lebih serius dan sungguh-sungguh pada teks! tak ada cara lain untuk rajin menulis selain rajin pula membaca, mengkreasi teks dengan rutin mesti memaknai teks dengan rutin pula. Menulis dengan rutin dan baik artinya kita mencerna dan memaknai teks dengan baik pula. Sirkularisme ini berjalan terus-menerus.

Kebetulan pula, fenomena media dan komunikasi sungguh banyak terjadi tiap hari. Sungguh banyak yang bisa dikomentari, ditelaah, dan dihadirkan teks atas fenomena tersebut. Kebetulan lagi, di sekitar saya banyak teman-teman yang jago menulis dan menelaah realitas (kemediaan). Ada yang lebih senior dari saya, ada pula yang lebih muda. Mereka semua menghasilkan tulisan-tulisan yang sungguh-sungguh bagus. Kebetulan yang terakhir, atau bukan kebetulan melainkan keadaan yang riil, adalah saya memang bereksistensi di dunia profesi yang menuntut kemampuan menulis dan membaca, serta meneliti, dengan baik. Dengan demikian, kebetulan-kebetulan tersebut semestinya menjadikan saya lebih antusias dan optimis memasuki tahun 2012 ini.

Semoga berhasil, lima puluh tulisan bermakna setiap bulan :)

Minggu, 22 Mei 2011

Vari dan Literasi (Celoteh Vari)

Dalam hidup yang fana ini kita bisa mendapatkan banyak kebahagiaan, salah satu kebahagiaan terbesar adalah dititipi Yang Maha Ada seorang anak. Bagi ayah dan ibunya, Vari adalah anak yang luar biasa. Vari adalah permata yang tiap hari menunjukkan kecemerlangannya. Vari adalah oase yang sangat menyejukkan setelah menghadapi hari kerja yang berat. Bukan karena anak sendiri, namun pastinya setiap anak akan membawa kebahagiaan dan kebanggaan tertentu pada orangtuanya. Kebahagiaan bersama orang yang kita cintai, terutama anak, yang paling utama adalah melihatnya berkembang lebih baik, mengamatinya sang anak belajar kehidupan, mulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal “besar” dan abstrak. Karena ayah sedikit tahu mengenai literasi media atau kecakapan bermedia, ayah jadi mengamati proses belajar membaca dan menulis dengan detail.

Literasi adalah kemampuan individu dalam memahami pesan media cetak dan dalam level tertentu juga memproduksi pesannya. Literasi berkaitan erat dengan tujuh kecakapan bermedia yaitu menganalisis, mengevaluasi, mengelompokkan, menginduksi, mendeduksi, menggabungkan, dan mengabstraksi. Ketujuh kecakapan bermedia tersebut disampaikan oleh James Potter. Bila dikaitkan dengan dua kecakapan utama yang lain, membaca dan menulis, Vari sudah cukup bagus memahami bacaan-bacaannya, juga secara umum aspek keberaksaraan, lisan maupun tulisan. Ayah dan ibu sungguh bahagia melihat Vari tumbuh menjadi individu yang baik dalam hal literasi. Untuk kisah Vari “berhadapan” dengan dua jenis literasi yang lain, antara lain literasi digital atau media baru, semoga juga bisa dikisahkan lain waktu.

Berikut ini ada empat pengalaman yang sempat dicatat oleh ayah berkaitan dengan literasi yang semakin dipahami oleh Vari:

Membacakan Cerita untuk Ayah

Pada suatu pagi yang terburu-buru seperti biasa, Vari berkata pada ayah “ayah, sudah baca buku ini belum?” Vari menunjukkan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah.
“ceritanya bagus lho Yah.” Vari membuka buku yang berjudul Hadiah Terbaik.
Sepintas ayah melihat buku itu namun karena terburu-buru ayah tidak bisa membacanya “Nanti ya sayang, ayah buru-buru karena ada kuliah pagi.”
“Kalau begitu Vari bacain untuk ayah ya…”
Ayah mengangguk mengiyakan dan tak lama kemudian Vari membaca. Vari membaca dengan lancar dan itu membuat ayah takjub. Untuk anak seusianya, kelas nol besar, kemampuan membaca Vari sangat baik. Ayah terus mendengarkan cerita yang dibacakan Vari. Benar, ceritanya sungguh bagus.
Sembari memakai sepatu ayah mengucapkan terima kasih, “makasih ya sayang ayah sudah dibacain. Ceritanya bagus sekali, apalagi Vari bacanya pas.” Ayah tersenyum kemudian memeluknya. Hal yang mengagetkan sekaligus membuat hati ayah berbunga-bunga adalah ucapan balasan dari Vari.
“Sama-sama ayah. Vari juga berterima-kasih karena ayah selalu membacakan buku sebelum Vari tidur.”

Sudah Nggak Ada

Tadi malam ayah berbincang dengan ibu. Ibu baru saja mendapat kabar bahwa anak temannya yang masih bayi, sekitar lima setengah bulan usianya, meninggal. Sedihnya, ini adalah anak keempat yang meninggal rata-rata dalam usia yang sama. Sambil mengobrol ayah juga bercerita bahwa ada kisah di suatu daerah di mana sebuah keluarga selalu kehilangan anak lelakinya ketika disunat. Kisah ini sepertinya berasal dari cerpen realis yang ditulis Hamsad Rangkuti yang pernah ayah baca.
“Sedih sekali ya bu. Baru sehari dirayakan, esoknya anaknya sudah nggak ada,” ayah meneruskan cerita ayah. Sungguh kami merasa berempati dengan para orangtua yang kehilangan anaknya dengan cara seperti itu. Tidak kami duga, rupanya Vari mendengarkan percakapan ayah dan ibunya.
“Ayah, kenapa sih ayah mengatakan meninggal itu dengan nggak ada?” protes Vari.
Ayah hanya diam tak tahu mesti menjelaskan apa. Ayah hanya berpikir untuk menghaluskan kata supaya tidak membuat sedih.
“Kan nggak ada itu belum tentu sudah meninggal yah…” Vari menjelaskan bak seorang guru.
Ayah masih diam dan berpikir bagaimana percakapan malam dengan ibu dan Vari bisa memberikan pengalaman luar biasa seperti ini. Ayah mencoba menebak bacaan apa yang Vari akses sehingga bisa berdebat mengenai makna kata seperti itu.

Berkreasi

Vari berpura-pura sedang membaca sebuah pengumuman dalam permainan peran yang dilakukannya sendirian.
“Semua anak negeri Calicoc diperbolehkan menyumbang tarian, lagu, atau boleh berkreasi yang lain” Vari berkata sambil berdiri di kursi seolah-olah ada banyak anak lain yang sedang mendengarkan pengumumannya.
Ayah yang sedang membaca-baca buku agak kaget juga. Dari mana Vari mendapatkan kosa kata “berkreasi” itu? Apakah dia tahu arti kata berkreasi? Ayah penasaran dan bertanya: “Sayang, berkreasi itu apa sih?”
Sambil menunjukkan ketidaksukaannya karena permainannya dijeda, Vari berpendapat, “Ayah ini gimana sih masak gak tahu berkreasi? Kan kata itu ada dalam buku-buku Vari. Vari nggak ada waktu menjelaskannya! Perlu waktu lama menjelaskannya...” Vari agak merengut kemudian meneruskan permainannya kembali.
Ayah hanya tersenyum dan masih berpikir dan takjub dengan cara Pemilik Hidup memberikan ilmu membaca dan memahami kata pada seorang anak kecil.

Vari Menulis Puisi

Kemampuan menulis dalam literasi biasanya merujuk pada kemampuan menulis sesuatu yang berbasis kenyataan, katakanlah melaporkan suatu kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada perkembangannya, kemampuan menulis fiksi di dalam literasi menjadi penting. Salah satu penggiat literasi yang penting dan konsisten di Indonesia adalah majalah sastra Horison yang berupaya mengenalkan kemampuan membaca dan menulis fiksi sastra dengan lebih baik lagi pada anak muda Indonesia, terutama siswa SMA. Uniknya, Vari sudah bisa menulis puisi. Kalau menulis cerita faktual maupun fiksional sih Vari sudah sering melakukannya. Cara menulis puisi Vari juga unik. Vari tidak langsung menuliskannya tetapi hanya mengucapkannya, terutama dengan menguji rima pada akhir larik. Seteleh dilisankan itu barulah Vari meminta ibu atau ayah untuk menuliskannya, entah di handphone maupun di kertas. Sudah ada sekitar tujuh puisi yang ditulis oleh Vari. Berikut ini adalah puisi terbaru yang ditulis Vari tanggal 12 Mei 2011 kemarin:

Puisi Matahari

Matahari, sinarmu panas sekali
Cahayamu menerangi bumi
Bersinar sepanjang hari

Matahari pun tenggelam
Lalu gelap, datanglah malam
Bumi menjadi kelam

Oh Tuhan Maha Kuasa
Pencipta alam semesta dan isinya
Akan kusembah selama-lamanya

######

Selasa, 03 Mei 2011

Membincangkan Sepakbola Menjelang Akhir Musim


Sungguh mengasyikkan membicarakan sepakbola Eropa akhir-akhir ini. Sejumlah laga di akhir musim menunjukkan ketatnya liga. Tim yang memastikan gelar juara dalam minggu kemarin adalah Borussia Dortmund untuk liga Jerman. Dortmund adalah tim kedua yang merengkuh gelar juara di Eropa setelah Porto di liga Portugal. Dortmund yang merupakan kesebelasan muda ini mematahkan prediksi para pengamat yang tidak menempatkannya sebagai favorit juara. Mereka mematahkan prediksi dengan indah, menjadi juara dengan dua pertandingan sisa di liga. Pekan depan kita menunggu juara untuk liga Belanda. Juara akan diperebutkan oleh dua tim perangkat pertama, Twente dan Ajax, pada pekan terakhir! Dua liga menengah Eropa ini memberikan tontonan menarik sepanjang liga meskipun para pengamat sepakbola di Indonesia hanya bisa menyaksikan sedikit pertandingannya melalui cuplikan di berbagai program berita dan berita di media cetak.



Liga menengah yang juga akan menentukan juara pada pekan-pekan terakhir liga adalah liga Perancis, yang secara matematis bahkan masih diperebutkan oleh lima tim. Dominasi Lyon pada satu dekade terakhir sudah lama berakhir di liga yang menghasilkan banyak pemain hebat bila pindah ke liga-liga kelas atas Eropa ini. Setelah itu, barulah para penggila menatap liga-liga atas Eropa. Di Spanyol, perseteruan dua rival hebat, Barcelona dan Real Madrid, tidak hanya terjadi di liga negerinya sendiri, tetapi juga di liga Champion. Walau berselisih delapan poin, pertarungan keduanya masih bisa sampai di pekan depan sebelum juara ditentukan. Sementara itu, di liga Italia, AC Milan tinggal memerlukan satu nilai untuk menjadi juara dan sepertinya bisa direngkuh minggu ini. Terakhir, liga atas Eropa yang paling seru adalah liga Inggris. Manchester United, Chelsea, dan Arsenal masih berpeluang menjadi juara. Pertandingan pekan ke-36 antara Manchester United melawan Chelsea adalah puncak laga penentu gelar juara yang kemungkinan besar bakal sangat seru.



Demikianlah, liga-liga Eropa sangat menarik untuk diikuti. Kita tidak hanya menonton pertandingannya, langsung maupun tunda, melainkan juga mengakses hasil-hasil pertandingan dari semua media, membincangkan semua aspek sepakbola, di dalam dan luar lapangan. Animo masyarakat kita atas sepakbola memang luar biasa. Lihatlah pertandingan di liga-liga nasional yang selalu dipenuhi penonton. Terlepas dari seringnya terjadi bentrok antar suporter, animo yang besar tersebut menunjukkan minat yang sangat tinggi terhadap sepakbola. Jangankan pertandingan-pertandingan profesional, pertandingan antar kampung saja, animo masyarakat kita sangatlah tinggi. Animo tersebut juga diakomodir oleh media. Lihatlah pemberitaan sepakbola di berbagai program atau pun artikel berita olahraga di media cetak dan penyiaran. Berita tentang sepakbola mendominasi sekitar delapan puluh persen dari keseluruhan pemberitaan. Hal yang sama pun terjadi untuk media baru, antara lain game. Tengoklah persewaan konsol game di kampung-kampung sekitar kita, permainan yang paling digemari adalah sepakbola.



Melalui pemberitaan sepakbola kita pun bisa melihat cukup banyak hal, antara lain penerapan istilah yang seringkali digunakan, dan percobaan memaknainya dalam konten media. Misalnya saja istilah “bus”. Di dalam pemberitaan sepakbola di Eropa, istilah “memarkir bus” digunakan untuk tim yang bermain bertahan. Hal ini minggu kemarin disematkan untuk tim Jose Mourinho, Real Madrid, yang bermain defensif melawan Barcelona dalam final Copa del Rey. Walau pada akhirnya Madrid menang, istilah bermain dengan “memarkir bus” terus dilabelkan padahal Madrid adalah tim besar. Madrid juga dikaitkan dengan “bus” ketika piala Copa del Rey remuk terlindas bus karena keteledoran Sergio Ramos. Banyak juga kisah unik yang muncul dalam pemberitaan sepakbola. Terkadang kisah itu cukup membuat kita tersenyum karena terharu atau jenaka. Misalnya saja kisah Tamir Cohen, pemain Bolton Wanderers, yang memasang kaus dalam penghormatan untuk ayahnya yang meninggal dalam kecelakaan sepeda motor pada bulan Desember 2010 lalu. Kemenangan Bolton atas Arsenal, 2-1, pada pekan ke-34 tersebut punya arti khusus bagi Cohen karena ia mencetak gol. Pada akhirnya dia bisa mengangkat kausnya untuk mengapresiasi sang ayah. Saya memasang kaus dalam bergambar wajah ayah sejak Januari lalu. Sungguh suatu “perjuangan” memakai kaus dalam tersebut selama empat bulan sebelum terlihat. Bila Cohen berada di tim besar yang sangat mungkin sering mencetak gol membuka kaus untuk memperlihatkan “pesan” bukanlah masalah.



Saya juga hanya bertanya-tanya di dalam hati. Kira-kira masyarakat di negara-negara Eropa itu memperhatikan betul tidak pengurus asosiasi persepakbolaannya seperti kita di sini. Kita, sebagai masyarakat Indonesia dan pecinta sepakbola, dihadapkan pada “tontonan” tak menarik dan tak lucu dari orang-orang yang berkuasa dalam asosiasi sepakbola, PSSI. Setelah Nurdin Halid tidak diakui kepengurusannya di PSSI, kisruh bukannya berhenti atau berkurang tetapi malah bertambah. Saya pribadi sudah kurang berminat memantau atau mengamati siapa pengurus PSSI nantinya. Hal yang terpenting adalah cara pengurus menciptakan sistem pertandingan yang baik dan membuat masyarakat antusias menontonnya. Kemungkinan juga perhatian kita melalui media yang besar pada para “pejabat” adalah potret kepercayaan kita yang masih besar pada elit walau sebenarnya mereka tidak kunjung memenuhi kepercayaan tersebut.



Ah, cukup sudah membincangkan sepakbola nasional. Mari kita kembali mengamati liga Eropa, terutama dua laga semifinal liga Champion dua malam ini. Semoga tim yang berlaga di final adalah dua tim yang memperagakan sepakbola terbaik, seperti juga siapa pun yang memimpin PSSI nantinya, adalah insan pemimpin, manager, dan pecinta sepakbola yang tulus. Berfokus pada sepakbola tanpa mencoba mengait-ngaitkannya dengan politik terlalu jauh.

Kamis, 14 April 2011

Berkarya dan Berleha-leha



Berkarya dan berleha-leha itu tipis saja. Seringkali kita merasa sudah berkarya atau bekerja, namun pada kenyataannya kita berleha-leha. Begitu pula sebaliknya, kita melihat orang lain berleha-leha padahal sebenarnya dia berkarya. Pendeknya, persoalan berkarya versus berleha-leha itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Dua kata ini mudah dipertukarkan dan salah dimaknai satu sama lain. Belakangan ini saya mendengarkan kembali lagu-lagu Billy Joel, terutama lagu “Just the Way You are”. Lagu itu sudah lama sekali namun masih enak untuk didengar-dengarkan. Kalau kata orang banyak, everlasting lah….kemudian saya menghitung jumlah lagu hits Billy Joel. Ternyata jumlahnya tidak banyak. Pun dengan jumlah albumnya. Untuk rentang karir yang demikian panjang, Billy Joel “cuma” menghasilkan sebelas album walau sedikit hit yang dibuat Billy Joel memang lagu-lagu sepanjang masa.

Coba kita tengok penyanyi kugiran atau senior yang lain, Elton John. Bukan kebetulan bila Elton John dan Billy Joel bersahabat karib. Dalam rentang karir yang sama, Elton John menghasilkan tiga puluh karya yang berbentuk album. Lebih banyak dua kali lipat bila dibandingkan dengan Billy Joel. Elton John bahkan dengan berseloroh bahwa sahabatnya, Billy Joel, terlalu berleha-leha. Pernyataan tersebut termuat dalam laporan wawancara Elton John di Rollingstone Indonesia edisi Maret 2011. Billy Joel bukannya tidak menyadari bahwa dirinya kurang produktif dalam berkarya. Pada sebuah edisi Rollingstone beberapa tahun yang lalu, ketika dia diminta menulis tentang Elton John sebagai penyanyi legendaris, Joel juga bercanda dengan meminta Elton John jangan terlalu kreatif, jangan terlalu produktif. Biasa sajalah. Bila orang berkomentar betapa penikmat musik terus menerus kanget tiap tahun karena Elton John mengeluarkan album hampir tiap tahun, pertanyaan penikmat musik pada Billy Joel hanya satu: kapan album baru darinya keluar?

Entahlah, membaca-baca kedua penyanyi itu saya terinspirasi dan terhibur. Itulah sebabnya saya bahagia sekali mengakses musik populer dan informasi di seputarnya. Kita bisa mendapatkan satu paket dalam mendengarkan musik populer, terhibur dan tercerahkan. Bisa keduanya sekaligus. Bisa salah satu terlebih dahulu dan pada prosesnya keduanya akan didapatkan pula. Kita mendapatkan satu paket dan seringkali mengejutkan. Ketika berharap terhibur dan terpicu rasa romantis dengan mendengarkan lagu “I Want Love”-nya Elton John dan “The River of Dreams” karya Billy Joel, kita malah mendapatkan secuil makna atas cinta yang terkadang sepele dan mimpi yang seringkali mengalir. Ketika kita mencoba sok mendalami lagu-lagu “liat” milik Radiohead, misalnya saja “Lotus Flower”, dan karya Sonic Youth, katakan saja “Sympathy For The Strawberry”, kita malah mendapatkan “hiburan” jenaka tentang pembolak-balikkan makna dan tersenyum melihat realitas yang dipaksa untuk kompleks, padahal sejatinya realitas itu sederhana saja. Kita saja yag membuatnya kompleks dan tak terpermanai.

Kembali pada berkarya dan berleha-leha. Bila kita merujuk pada kedua aktivitas tersebut, kita bisa memberinya relasi atau tidak memberikannya. Ketika direlasikan, berkarya dan berleha-leha itu saling mendukung. Kita tak mungkin berkarya atau berleha-leha terus. Terkadang keduanya mesti dikombinasikan. Walau begitu, berkarya terus masih lebih baik dibandingkan dengan berleha-leha terus-menerus, karena itulah bila sudah on fire untuk berkarya sebaiknya jangan pernah berhenti. Saya coba menghilangkan relasi yang menisbikan salah satu atau yang mementingkan dirinya sendiri, namun hal terpenting adalah tak mencoba membeda-bedakannya. Keduanya dihayati dan dijalankan dengan murni dan konsekuen.

Berleha-leha dan berkarya itu sebenarnya lebih merujuk pada aktivitas. Proses berkarya misalnya, sebaiknya kita rasakan sesuai dengan karakter “fenomenologi” di mana kita sangat dekat dengan realitas yang kita jalani. Setelah kita menyelesaikan sebuah karya sebaiknya kita lihat berdasarkan perspektif post-positivis karena karya itu sebenarnya bisa diverifikasi sudah ada berapa karya, jenisnya apa, dan seterusnya. Pada akhirnya karya tadi dievaluasi lebih mendalam dengan pandangan kritis. Sudahkah secara kualitas karya itu bermakna dan etis? Itu pertanyaan yang bisa dijabarkan bila kita memperhitungkan karya. Karya sendiri adalah output kreatif dari produsen. Bila kita berperan sebagai pembelajar, karya tadi kita sebut sebagai teks. Pada dasarnya pencipta karya sudah “mati” ketika karya tersebut bisa diuji dan dimaknai sebagai teks.

Lalu, bagaimana dengan berleha-leha? Karena tidak ada outputnya, berleha-leha tidak terlalu penting untuk dibicarakan. Walau begitu berleha-leha termasuk penting karena biasanya fase berkarya yang bagus tidak akan didapat tanpa fase berleha-leha yang memadai. Dalam kasus Billy Joel yang sudah didedah sebelumnya, tidak apa terlalu lama berleha-leha asalkan pada fase berkarya dia bisa menghasilkan karya-karya yang legendaris. Permasalahannya, bagaimana bila saya tidak pernah terlalu intens berada dalam fase berkarya? Atau apakah saya berleha-leha dengan menulis hal tak jelas semacam ini?

Song to Sing When I'm Lonely


Salah satu hal yang paling tidak mengenakkan adalah terbangun saat dini hari. Terbangun dengan kaget, mendadak sekali, dan tak tahu persis apa penyebabnya. Dini hari ini dia terbangun lagi. Bila diingat-ingat ini adalah kali kelima dia terbangun seperti ini. Biasanya dia akan terbangun dini hari karena pertandingan Liga Champions. Jam berapa pun dia tidur, bila ada pertandingan klub sepakbola se-Eropa itu dia pasti terbangun. Tetapi belakangan ini “alarm” liga Champions di dalam dirinya sudah dia matikan sejak Manchester United menang melulu dan AC Milan sudah tersingkir. Dia sudah tak ingin dan tak mau menonton lagi liga Champions musim ini. Dia semakin bertanya penyebabnya terbangun. Apakah ada yang dia khawatirkan? Apa sebenarnya yang ku khawatirkan? Batinnya. Terlalu banyak hal yang dikhawatirkan. Mulai dari terbunuhnya warga sipil di Timur Tengah yang jadi sasaran tembak para pemimpin brutal, efek radiasi dari reaktor di Fukushima yang mungkin saja menjangkau kampungnya, juga hilangnya dana para nasabah “privat”, korban wanita seksi, seperti yang dia baca di koran-koran.

Tentu saja bukan hal-hal “jauh” itu yang menjadi sumber kekhawatirannya, sehingga membuatnya tidur tak enak makan tak nyenyak. Sederhana saja sebenarnya, yang membuatnya khawatir adalah tugas-tugasnya yang urung selesai dituntaskan. Ada tiga jenis tugas, tugas kecil, tugas sedang, dan tugas sangat besar. Tugas kecil sudah selesai dan sebentar lagi akan menjadi buku kolaboratif keempatnya bersama rekan-rekan dalam topik yang sama. Tugas sedang lagi diselesaikan dan paling hanya memerlukan satu hari satu malam lagi bila dikerjakan dengan intens. Tugas yang paling dia risaukan adalah tugas sangat besar yang dua tahun ini boleh dikatakan terbengkalai seperti banyak Taman Budaya di banyak kota di Indonesia. Dia merasa belum melakukan apa-apa dan kurang serius pula. Dia terlalu lama berleha-leha.

Selain rasa khawatir yang tak jelas, merasa terlalu lama membuang waktu, ekspektasi yang tak sampai, impian menghasilkan masterpiece yang kian pudar, dan hal-hal lain yang pernah tuntas, dia juga merasa kesepian. Mengapa selalu merasa kesepian ketika berkaitan dengan tugas? Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa tugas itu bukan sebagai beban melainkan sebagai cara untuk meningkatkan kualitas diri? Kini untaian kata itu berbalik arah padanya. Dan dia kini semakin memahami banyak yang mesti dilakukan…kenyataan ini menyenangkan. Apa yang lebih menyenangkan selain sadar bahwa masih banyak yang bisa dikerjakan dan dikejar? Bahwa hidup ini bukan soal berleha-leha atau berkarya belaka?

Dia sendiri dalam hal berhadapan dengan sebuah karya atau tugas. Dia tahu dia sendirian, namun sendiri itu sungguh bermakna. Persoalannya diri sendiri pulalah yang bisa menjadi musuh terbesar, seperti kata Yngwie Malmsteen, “I’m My Own Enemy”. Lalu bagaimana cara memilah diri yang menjadi teman atau musuh, sedangkan membedakannnya pada manusia-manusia lain saja sulit apalagi pada diri sendiri? Ada manusia lain yang berpura-pura sebagai teman tetapi sesungguhnya dia “menggunting dalam lipatan”. Ada pula yang berperan sebagai musuh namun tak kompeten, menstigma orang lain hanya menggunakan otaknya sedikit atau sisanya saja namun dia sendirilah yang otak dan hatinya beku. Sungguh, yang dia inginkan hanya musuh yang kapasitasnya mumpuni, yang bisa menjadi musuh abadi adalah kawan berpikir.

Ah, dia sudah melantur terlalu jauh. Dia harus kembali memfokuskan diri pada tugas-tugasnya dan memilih benar dirinya yang berperan sebagai teman dalam hal berkarya. Tugas sangat besar itu sudah menanti untuk dikerjakan, sebab bila tak serius dikerjakan sampai kapan pun taka akan selesai, sampai akhir jaman sekali pun. Bagaimana mau selesai bila tak dituntaskan tahap di tengahnya? Merencanakan, menginginkan,….., selesai. Titik-titik itu tidak bisa diisi kata lain selain kerjakan!

Oh, dia tahu sudah meracau amat jauh. Kemudian dia menyiapkan ragam hal agar tugas sangat besarnya terkerjakan dengan serius. Buku-buku, jurnal-jurnal, pikiran yang sudah disiapkan, hati yang sepi dan penuh rasa bahagia, diri yang sudah dipilah: mana peran kawan mana peran musuh, manusia-manusia lain yang sementara dia lupakan sekian waktu kecuali orang-orang yang dicintainya dan sahabat-sahabatnya sepanjang jalan, serta sesuatu yang tak mungkin dilupakannya. Tak lain dan tak bukan, lagu-lagu penyemangat kala berkarya atau menulis, antara lain lagu ini:….



Song To Sing When I'm Lonely

By John Frusciante



A song to play when I'm lonely

Win and never play a game again

No one to face when I'm falling

Holding tight to dreams that never end

I'll be you

I do

I'll be you

No one's afraid to be called by another name

No one dares to be put down where they don't belong

Nowhere's anyone reason

Everything dying and leaving



Out with these faults and you make me a baby

Faking an movement by no ones seeing it

No one always find peace flung

No one chooses to beat my pride down

Symbols pierce right through me

People fail to be drawn up

Sunlight to fate accumalates

Loving pain to be clung to

By lumimous bodies

Only waiting for long signs to be wrong

And true to us

Out of place in my own time

Drowning thinking that I'm dry

Holding on to facts that'll never be proven

Faking an action cause no one's looking

Hello when I'm crashing

Feeling nothing when my life's flashing before my eyes

You should've threw me down

Is the content so much

Kamis, 31 Maret 2011

Daysleeper

Antara hampa dan mimpi kau datang. Apakah ada kebebasan memilih dalam hidup ini? Apakah kau yang di sana tak berniat menyakitiku lagi? Siapakah yang datang menggedor pintu demikian keras namun setelah dipersilakan masuk, pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali? Kau selalu berdalih tidak berniat menyakiti namun mengapa kini relasi sekarang biru dengan bilur panjang bernama kedukaan dan kehampaan?
Di saat sedikit saja aku mempertanyakan luka dan hampa yang telah kau buat, kau bilang aku pendendam. Katamu, apa pun yang sudah berlalu anggap saja berlalu. Janganlah mengingat masa lalu kita. Bagaimana pun juga kita ini saling menyayangi mesti saling menyakiti. Bila kau terlukai anggap saja itu semua untuk kebaikan dirimu sendiri. Bukankah dunia ini memang berisi luka dan duka, aku hanya mengingatkannya kembali. Aku tak bisa berbicara apa-apa lagi. Semua sudah digariskan. Kita tinggal menjalani. Aku tak ingin mengingatnya walau beratus bayang datang silih berganti. Apa lagi yang tersisa bila aku letih dan menyerah?
Pergerakan waktu tak bisa kuikuti lagi. Entah siang atau malam. Fajar atau pagi. Cinta atau benci, atau ribuan gradasi rasa di antaranya. Ah, bahkan dirimu pun tak bisa kukenali lagi. Terkadang kau menjadi dementor, manusia kaca, buta cakil, Irfan Bachdim, Selly si “Penipu Cantik”, Brad Pitt, beruang, Barbie, ikan mas koki, Natalie Portman, Nurdin Halid. Entahlah, semua menghablur dan menyatu. Semua bergantian datang dan pergi. Muncul dan menghilang. Adakah sesuatu yang konstan dan tak bergerak?
Antara sebuan tentara koalisi ke Libya dan kekalahan Jerman dalam laga persahabatan, kau datang mengenalkan nihilisme dalam hidup. Semua tak bermakna, semua bisa menghilang dengan cepat, tanggalkan semua prinsip, visi kepublikan yang kau anut hanyalah ilusi dan utopia. Kau selalu berkata jangan takut dengan kegelapan yang kau bawa. Mengapa takut? Toh hidup telah gelap dengan sendirinya. Cahaya pelan-pelan meredup. Tak ada konsep ideal. Semuanya meredup dalam ruang hampa.
Di saat sedikit saja aku mendebatmu, kau berargumen hanya menjalankan fenomenologi terhadapku. “Kembali pada benda-benda” katamu. “Kembali pada hampa-hampa” batinku. Aku tetap menganut konsepsi ideal itu seredup apa pun, sebesar apa pun resikonya. Untuk apa hidup bila tak ada sesuatu yang diperjuangkan. “Kembali pada kata-kata” hasratku menggedor sukma pelan-pelan, tak hampa-hampa. Memenuhi otak dan hati segera.
Pergerakan hidup tak bisa kukenali lagi. Tak ada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Semua menyatu. Siap-siap menerkam keragaman identitas. Kau bilang hidup harus satu komando dan semua mesti sama dengan dirimu. Bila tak mengikutimu, aku bukan hanya dibenci namun distigma semua hal negatif yang mungkin dimiliki seorang manusia. Di mana harapan? Siapa yang bertanggung-jawab kecuali diri sendiri? Orang-orang lain tak penting. Dunia tak penting. Hal yang penting hanya kesadaran. Namun aku tak tahu di mana kesadaran itu. Apa rasanya? Seperti bergelas kopi yang kuminum sejak kemarin? Bagaimana memesannya pada pemilik hidup? Secara digital atau analog? Semua yang hitam dan putih menyatu perlahan dan pasti. Semua ini, terutama dirimu, terlalu manis, terlalu jelas, dan tak terlalu pintar. Semua berwarna abu-abu dalam bidang datar tiga dimensi yang menutupi segalanya. Kini, kau ada di mana? Datang sajalah, selamatkan aku walau eksistensimu selalu membawa sembilu.
Warna abu-abu memenuhiku. Semuanya menghilang. Ada rasa damai perlahan mengalir…Harus tetap sadar! Harus tetap terjaga apa pun resikonya, aku berteriak sekuat tenaga walau mungkin hatiku sendiri saja hampir tak mendengar apa pun lagi.

######

Terinspirasi oleh lagu REM dari album “Up” (1998):
"Daysleeper"

Receiving department, 3 a.m.
Staff cuts have socked up the overage
Directives are posted.
No callbacks, complaints.
Everywhere is calm.

Hong Kong is present
Taipei awakes
All talk of circadian rhythm

I see today with a newsprint fray
My night is colored headache grey
Daysleeper

The bull and the bear are marking their territories
They're leading the blind with their international glories

I'm the screen, the blinding light
I'm the screen, I work at night.

I see today with a newsprint fray
My night is colored headache grey
Don't wake me with so much.
Daysleeper.

I cried the other night
I can't even say why
Fluorescent flat caffeine lights
Its furious balancing

I'm the screen, the blinding light
I'm the screen, I work at night

I see today with a newsprint fray
My night is colored headache grey
Don't wake me with so much.
The ocean machine is set to nine
I'll squeeze into heaven and valentine
My bed is pulling me,
Gravity
Daysleeper. Daysleeper.
Daysleeper. Daysleeper. Daysleeper.

Sabtu, 12 Maret 2011

BBB (Belajar Bermedia Bersama) 9

Lumayan banyak peristiwa yang berkaitan dengan media yang terjadi di minggu kesembilan di tahun 2011 yang baru saja berakhir. Sebagian berasal dari peristiwa yang berlangsung minggu-minggu sebelumnya. Sebagian peristiwa yang lain berasal dari minggu kesebelas sendiri. Peristiwa pertama adalah kisruh di PSSI. Sayangnya media sering memberitakan tentang PSSI versus pemerintah, dan juga FIFA, dengan tidak lengkap. Sejak awal sebenarnya, bila media sudah langsung mencari sumber informasi statuta FIFA yang digunakan PSSI rejim Nurdin Halid untuk berlingdung, sudah bisa terlihat bahwa ada pelintiran makna oleh pihak PSSI. Sebenarnya media bisa mencari jejak historis alasan FIFA membekukan federasi sepakbola di beberapa negara yang menunjukkan bagaimana pemerintah otoriter negara tertentu terhadap federasi sepakbola. Untuk kasus PSSI, yang otoriter bukanlah pemerintah melainkan federasi sepakbolanya sendiri. Melacak informasi berdasarkan bukti historis adalah tugas media yang memiliki sumber daya. Media sebenarnya memiliki kemampuan untuk menjelaskan sebuah peristiwa sesuai dengan duduk masalahnya, bukan malah ikut riuh dan terbawa dalam polemik pendapat tak berujung.



Peristiwa kedua adalah juga peristiwa yang berasal dari minggu sebelumnya, yaitu rencana boikot asosiasi pengimpor film Amerika. Ternyata, boikot tersebut tak terbukti. Film-film dari Hollywood masih saja diputar. Memang media telah memberitakan pihak pengimpor film tersebut akan duduk bersama dengan pemerintah untuk menyelesaikan bea masuk film yang merupakan pangkal permasalahan dari rencana boikot tersebut. Sayangnya, tidak ada pemberitaan bagaimana proses pertemuan tersebut, apa yang dibicarakan dan di mana pertemuan dilakukan. Bila rencana boikot tersebut juga dianggap sebagai momentum perbaikan perfilman Indonesia, apakah ada insan perfilman nasional yang dilibatkan. Media semestinya tidak “menghentikan” pemberitaan tentang rencana boikot tersebut. Perlu juga diberitakan proses diskusi pemerintah dengan asosiasi pengimpor film itu karena publik berhak tahu, karena semua kegiatan pemerintah adalah tindakan kepublikan yang bisa dan boleh diketahui publik sesuai dengan amanat UU Keterbukaan Informasi Publik.



Tiga peristiwa yang lain adalah berbagai peristiwa yang terjadi pada minggu kesebelas, tidak berasal dari minggu sebelumnya. Peristiwa pertama adalah pelarangan game Mortal Combat terbaru di Australia karena dianggap fitur yang dimunculkan di dalam game tersebut terlalu sadis, terutama pada bagian brutality ketika mengalahkan lawan dalam permainan. Walau terjadi di negara lain, semestinya hal ini jadi pelajaran bagi kita bahwa game juga jenis pesan media yang mesti diamati dan diawasi demi melindungi kepentingan publik. Seperti kita ketahui, game di negeri ini dianggap tidak berbahaya karena hanya merupakan “permainan” dan tidak berbahaya. Selain itu, game lebih dianggap sebagai pesan media untuk anak-anak, padahal banyak game yang sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa, baik game tersebut hadir di konsol, komputer, maupun handphone. Baik game tersebut dimainkan offline atau pun online. Beragam jenis game online yang sekarang ini marak dan menumbuhkan banyak game centre relatif berkembang tanpa pengawasan oleh siapa pun.



Berdasarkan urutan waktu, kasus yang kedua adalah peristiwa yang menunjukkan visi kepublikan yang kuat dari media. Sebuah suratkabar terkemuka di tengah minggu kemarin memberitakan tentang dua orang pasien yang berasal dari masyarakat miskin yang mesti menginap dan dirawat di lorong RSCM. Hal tersebut terjadi karena rumah sakit tersebut tidak memiliki kamar lagi sehingga pasien pemegang Jamkesmas tersebut tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dengan layak. Akibat pemberitaan tersebut keesokan harinya kedua pasien tadi sudah dipindahkan ke bangsal. Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa fasilitas yang tidak memadai adalah penyebab pasien miskin tidak segera dirawat. Peristiwa ini menunjukkan bahwa media masih memiliki peran penting untuk mengawasi pemerintah. Pemerintah mesti diingatkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sebagai kewajiban mereka. Media komersial sangat mungkin mewujudkan visi kepublikan tidak hanya pada media publik atau media komunitas. Pada dasarnya semua jenis media beroperasi untuk memenuhi kepentingan publik.



Kasus terakhir peristiwa kemediaan yang terjadi adalah kasus, lagi-lagi, pemecatan siswa gara-gara berkomentar tidak pantas tentang sekolahnya di situs jejaring sosial. Tiga orang siswa sebuah SMK di Bogor sempat dikeluarkan oleh pihak sekolahnya “hanya” karena berkomentar di status Facebook. Salah satu berkomentar “sekolah gue korupsi lho….”. Dua yang lain juga ikut dikeluarkan karena me-like status tersebut. Kejadian ini menunjukkan literasi media baru yang tidak dipahami dengan memadai pada siswa. Mereka tidak sadar bahwa apa pun pernyataan lewat status FB berpotensi dibaca oleh berbagai pihak, termasuk sekolah mereka, bukan hanya rekan-rekan mereka saja. Respon pihak sekolah tersebut juga berlebihan. Bila memang tidak ada korupsi mengapa mesti mengeluarkan siswa? Pihak sekolah memang berhak memberikan hukuman karena kejadian tersebut namun berlebihan bila langsung mengeluarkan siswa karena siswa juga memiliki hak untuk mendapatkan fasilitas pendidikan. Pada akhirnya memang ketiga siswa tersebut memang diterima kembali di sekolahnya. Walau kasus ini jelas merupakan pekerjaan rumah kita bersama untuk terus menumbuhkan literasi media baru di masyarakat dan mengingatkan terus pemerintah untuk menyusun regulasi yang benar-benar berpihak pada kepentingan publik.



Menjadi pembelajar ilmu tentang media memang mengasyikkan dan mencerahkan. Secara personal, menjadi pembelajar ilmu komunikasi menjadikan saya terus kasmaran pada hidup yang fana, dan pada keadaan melampaui hidup yang tak fana (semoga paragraf terakhir ini tak dianggap berlebihan :D )



#####

Mati Satu Lagi

Seperti biasa bila ada waktu dan keperluan lain, misalnya belanja kebutuhan harian, saya menyambangi pusat perbelanjaan. Kemarin saya mendatangi sebuah pusat perbelanjaan di Maliboro. Ada dua situs atau tempat yang pasti saya datangi bila ke mal, yaitu ke toko CD dan toko buku. Setelah belanja sebentar kemudian saya ke lantai dua untuk melihat-lihat CD new release di toko CD Bulletin. Saya cukup terkejut ketika mendapati toko CD di mal tersebut sudah tak ada. Seminggu tidak ke mal ini, ternyata toko CD ini sudah mati. Penyebabnya jelas, toko CD sudah tidak lagi menguntungkan secara ekonomi. Ditutupnya toko CD ini, Bulletin, bukan yang pertama. Di Yogya sudah ada tiga Bulletin yang ditutup, yang saya tahu, walau mereka juga membuka dua toko baru yang tetap sepi pengunjung. Toko CD Aquarius juga ditutup di beberapa kota besar, yang saya tahu di Bandung dan Jakarta, Aquarius Pondok Indah.



Ditutupnya toko CD Bulletin di Malioboro Mall agak mengejutkan dan menyedihkan bagi saya karena sejak dulu saya mengakses banyak CD dan kaset di toko ini. Namun yang lebih menyedihkan adalah ditutupnya toko CD Kotamas bertahun-tahun lalu, sekitar tahun 2007. Kotamas adalah tempat saya membeli kaset pertama-kali dengan uang sendiri. Toko itu juga menjadi tempat yang paling sering saya kunjungi sepulang sekolah sewaktu SMA dulu. Jalurnya begini, sepulang sekolah saya naik bus kota jalur 12. Berhenti di perpustakaan Daerah di sekitar Samsat dan bila ada waktu membaca dan meminjam buku di sana. Setelah itu, melintasi stasiun Tugu dan mampir di radio Unisi untuk memesan lagu. Biasanya saya memesan lagu untuk diputar pada malam hari ketika siaran radio masih menemani belajar. Kunjungan-kunjungan mengasyikkan tersebut kemudian berakhir di Kotamas yang berada di ujung jalan Malioboro.



Bisa dikatakan toko kaset tersebut adalah toko yang legendaris bagi penggemar musik seperti saya karena ternyata banyak koleksi langka dan bagus di sana. Para pemburu pesan media musik rekaman dari kota-kota lain berdatangan mencari kaset-kaset langka itu, antara lain dari Bandung dan Jakarta. Saya juga sempat melihat sendiri begitu banyak kaset, terutama kaset album musisi Barat, unik yang beredar seperti album-album Sonic Youth dan berbagai kompilasi “ajaib”, antara lain kompilasi “Earthrise” 1 dan 2, “Pop is Dead” 1 sampai 3, dan “Help”, kompilasi pertama yang dirilis lembaga “War Child”. Namun sejak krisis 1998 kaset-kaset yang beredar hanyalah kaset-kaset yang dianggap menguntungkan secara ekonomis. Dua kaset yang saya beli di toko ini yang sangat berkesan adalah U2 “Zooropa” karena walau harganya hanya Rp. 12.000,- waktu itu tetapi berdampak “sistemik” pada uang makan sebulan sebagai anak kost. Juga kaset the Best-nya Simpe Mind yang saya beli menjelang toko tutup. Saya memaksa untuk masuk padahal para karyawannya hampir menutup toko. Waktu itu saya benar-benar ingin mendengarkan “Don’t You (Forget about Me)” yang baru saja dengar di sebuah film.



Satu lagi toko kaset atau toko CD yang berkesan bagi saya adalah M Studio. Toko ini dahulu berada di Galleria Mall. Toko ini ditutup karena alasan yang sama dengan toko sejenisnya: tidak ada lagi yang datang membeli kaset atau CD. Musik populer masih didengar oleh masyarakat namun kebanyakan mendengarkannya dari CD ilegal atau mendengarkan satu dua lagu melalui berlangganan RBT. Kebanyakan masyarakat Indonesia menyukai musik namun kebanyakan tidak mau membeli CD yang dinilai lebih mahal. Kita bisa menyalahkan pemerintah atas regulasi yang tidak mendukung media musik rekaman padahal pemerintah sudah mencanangkan industri kreatif sebagai salah satu industri unggulan. Kita juga bisa menyalahkan aparat hukum yang tidak tegas dalam menjalankan UU Hak Cipta di mana karya anak bangsa sendiri marak dibajak dan hasil bajakannya sangat mudah didapat, bahkan dijual di toko-toko resmi dan pada pameran pembangunan.

Ironi yang paling tragis adalah ketika pemerintah pusat mengumumkan industri kreatif sebagai unggulan namun di sisi lain membolehkan penjualan barang-barang bajakan kebanyakan di pameran pembangunan yang diselenggarakan pemerintah daerah.



Tutupnya sebuah toko CD tidak hanya berarti berkurangnya tempat mendapatkan pesan media musik rekaman, namun juga hilangnya kesempatan pengakses musik populer untuk memahami media tersebut di luar konteks mengkonsumsi, misalnya bertemu dengan sesama pengakses atau mengamati ragam jenis CD yang beredar. Itulah sebabnya di Jakarta, beberapa toko CD digabung dengan toko buku dan kafe agar pengalaman mengakses CD bukan sekadar tindakan personal namun juga sarana berbagi pengalaman mengakses dan memaknai pesan. Sayangnya, belum ada toko CD yang bukan hanya sekadar menjual pesan media audio dan audio-visual di Yogyakarta.



Selain itu, pengakses musik rekaman juga sebaiknya diberi pemahaman bahwa mengakses pesan media bajakan itu tidak etis, bahkan melanggar hukum. Bila memang pemerintah menabalkan industri kreatif sebagai salah satu industri unggulan, pembajakan mesti ditindak tegas oleh pemerintah dan aparat hukum. Selain itu, pemerintah sebaiknya menyusun regulasi yang membuat pesan media musik rekaman, juga seluruh pesan media, murah dan mudah untuk diakses oleh masyarakat. Terakhir, pemerintah, secara langsung atau dengan memberi dukungan yang kuat dan intens, membangun semacam pusat dokumentasi audio untuk musik rekaman Indonesia. Semacam perpustakaan di setiap daerah atau seperti pusat dokumentasi film, Sinematek, agar apreasiasi dan telaah musik populer sebagai media bisa lebih bagus lagi.



Semoga tak lagi ada toko CD yang mati walau mati adalah keadaan kodrati. Semoga kita bisa terus berbenah. Begitu kata saya dalam hati sambil berjalan melewati toko yang kosong. Rasanya sungguh aneh ke Malioboro Mall tanpa toko ini. Rasanya sedih juga tempat yang saya kunjungi agak rutin dalam bertahun-tahun ini sudah tak ada lagi. Semoga saja rasa kehilangan ini terus memacu kita, paling tidak saya sendiri, untuk memahami kondisi bermedia lebih tajam dan mendalam. Apa pun yang saya sampaikan pada sanubari, masih ada ruang kosong di sana walau ruang kosong itu perlahan terisi lagi.



*****

Rabu, 16 Februari 2011

BBB (Belajar Bermedia Bersama) 2 – 5

Pada kuliah terakhir di salah satu mata kuliah yang saya ampu pada semester kemarin, seorang pembelajar bertanya, “Apa harapan mas tiga empat tahun ke depan?” Awalnya saya tidak tahu mesti menjawab apa karena begitu banyaknya harapan yang bisa disebutkan. Sesaat kemudian saya sudah menemukan jawaban yang saya yakini. “Tentu saja menjadi akademisi yang lebih baik lagi; mengampu pembelajar lebih baik lagi, meneliti lebih baik lagi, menulis lebih baik lagi. Ini adalah harapan yang sederhana namun pasti lumayan berat menggapainya bila tidak direncanakan dan dijalankan dengan sungguh-sungguh.



Salah satu yang membuat saya cukup yakin bisa mewujudkannya adalah kehadiran banyak orang yang ada di sekitar saya. Tidak hanya di kantor tempat saya bekerja secara formal, tetapi di dua “kantor” saya yang lain, tempat saya beraktivitas dengan banyak teman dari beragam institusi, selain itu sebagai pembelajar tentu saja saya tidak kehabisan teman yang menginspirasi, bahkan kehadiran mereka melalui berbagai situs pertemanan pun sangatlah bermakna. Di antara rekan tersebut ada yang memang kemampuan intelektualitasnya luar biasa sehingga saya bisa belajar memahami sesuatu dengan baik dan mendalam. Ada yang keluasan hatinya selalu mencerahkan, yang secara konsisten memperjuangkan visi kepublikannya. Ada yang jago sekali menuntaskan hal-hal praksis yang mendetail dan seringkali merepotkan. Pendek kalimat, saya belajar banyak dari mereka.



Di antara orang-orang itu, yang teman dan bukan teman, ada juga yang tidak jelas visinya. Ada yang kehadirannya selalu “menyerap” energi orang lain. Orang yang berbicara lebih banyak hal-hal negatif dan “hitam’-nya orang lain dan dunia. Orang yang koarannya setinggi langit namun tidak terbukti dalam kenyataan empirisnya. Orang yang menetapkan standar sangat tinggi untuk orang lain namun tidak untuk dirinya sendiri. Namun, saya tetap bersyukur tahu dan mengenal manusia-manusia ini. Bukankah dalam hidup kita tidak hanya belajar dari yang baik belaka?

Banyak kejadian yang saya alami bersama manusia lain itu. Juga yang saya alami sendiri secara langsung. Banyak hal yang saya candra walau pastinya lebih banyak lagi yang terlepas dan tak terpantau. Banyak informasi dan pengetahuan yang dirasakan secara langsung dan juga melalui media. Keuntungan bagi pembelajar media adalah relatif lebih awas pada informasi yang ada di media maupun yang didapatkan secara langsung. Di atas semua ini, saya hanyalah ingin lebih banyak belajar, terutama belajar bersama dengan teman-teman.



Tadinya saya ingin setiap minggu menuliskan pengamatan saya atas tingkah-polah media dan informasi yang disampaikannya. Kenyataannya, sulit sekali menulis secara teratur dan relatif mendalam atas kejadian yang berkaitan dengan media karena saya terlalu asyik mengamati kejadiannya, bukannya mencatat. Di dalam diri sendiri saya berusaha belajar mengamati dan mengomentari lebih baik lagi. Lagipula kejadian yang berkaitan dengan ilmu yang saya pelajari terjadi begitu banyak dan hampir semuanya menarik. Saya sudah menginjak minggu ke-6 di tahun 2011 ini dan saya paling tidak mesti mengomentari berbagai kejadian dalam lima minggu. Karena itulah, saya memilih merangkumnya dalam satu tulisan karena tidak banyak ruang dan waktu untuk menuliskannya. Juga agar “tunggakan” menuliskan berbagai dan beragam kejadian tersebut tidak semakin banyak karena minggu depan proses pembelajaran formal di kelas telah dimulai lagi, karena beberapa hari ke depan tiga riset lumayan besar telah menanti.



Selain itu, saya menulis tidak bermotif untuk menunjukkan sesuatu pada orang lain, apalagi menyombongkannya. Saya tidak ingin seperti seseorang yang saya kenal, yang koarannya begitu hebat tentang aktivitas menulis dirinya sendiri padahal menurut banyak orang karyanya biasa saja, bahkan menunjukkan penyakit narsisme yang paling akut. Saya lebih mencoba terinspirasi pada beberapa orang lain yang saya kenal yang tidak pernah menyombongkan diri berkaitan dengan kepenulisannya, namun buah pikirannya itu dibaca oleh banyak orang dan ia pun dikenal paling tidak di level nasiobal. Tujuan saya menulis ini sederhana saja: dengan menulis banyak hal akan terbuka. Awalnya mungkin menulis adalah persoalan dokumentasi informasi yang dicandra secara personal. Setelah itu, informasi dan pengetahuan yang terdokumentasi dengan baik dan intens tersebut akan mengantarkan pada informasi dan pengetahuan lain yang lebih luas, mendalam, dan beragam.



Tulisan personal ini akan terbagi menjadi tiga, yaitu belajar, bermedia, dan bersama, sesuai dengan slogan “Belajar Bermedia Bersama” milik Polysemia, sebuah newsletter yang saya kelola bersama rekan-rekan. Pertama, belajar. Banyak hal yang telah dan sedang saya pelajari dengan mendalam sekitar sebulan ini, yaitu memperdalam buku Vincent Mosco, Political Economy of Communication. Entahlah, saya tidak bisa berhenti mengagumi buah pikiran yang satu ini. Tiap kali membaca, saya menemukan hal baru dan terinspirasi pada banyak hal yang lainnya. Satu aspek, komodifikasi, sudah lumayan saya dedahkan, namun ternyata masih banyak yang bisa diulas dan dielus. Masih ada lima chapter di buku tersebut yang menunggu untuk dielaborasi.



Hal lain yang coba pahami selama sebulan lebih seminggu ini adalah fenomena kebertubuhan. Foucault misalnya, membuat saya paham sedikit dengan fenomena itu, namun antusiasme saya membuncah atas konsep kebertubuhan pada awal bulan kemarin ketika membaca kumpulan cerpen karya Djenar Maesa Ayu dan kawan-kawan yang berjudul “1 Perempuan 14 Laki-Laki”. Buku ini adalah telaah populer dan personal atas tautan tubuh. Kita juga pada akhirnya mafhum bahwa anarki pada tubuh pemilik keyakinan yang berbeda di Cikeusik dan Temanggung beberapa hari yang lalu sebenarnya bersumber pada pemahaman tak tuntas atas kebertubuhan.



Klasifikasi kedua adalah bermedia. Tentu saja aktivitas ini juga mengandung makna belajar karena bagaimana pun juga, melalui media kita bisa mengetahui dan belajar banyak hal. “Bermedia” ini adalah upaya kecil saya untuk menangkap fenomena kemediaan, tindakan mereka dan apa yang mereka angkat di dalam isi pesannya. Sekitar sebulan lebih seminggu ini paling tidak ada enam kejadian yang bisa diamati dari media kita yang bertebaran. Kasus pertama adalah kasus Menkominfo versus RIM yang berkaitan awalnya dengan isu pornografi. Pak Menteri beranggapan bahwa Blackberry mesti mengikuti aturan hukum mengenai pornografi yang berlaku di negara plural ini. Namun karena dikritik keras, isu kemudian dibelokkan pada nasionalisme di mana RIM tidaklah membayar pajak yang memadai pada negeri ini. Persoalan apakah uang pajak tersebut, dan juga pajak-pajak lainnya, benar-benar digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, tidaklah dibicarakan benar.



Kasus kedua adalah, kasus keistimewaan Yogya. Sebenarnya masalah pro kontra atas sesuatu adalah hal biasa dalam politik. Permasalahannya adalah ketidakberimbangan berita. Media cenderung memberikan porsi yang tidak seimbang dengan jauh lebih banyak memberikan ruang untuk pihak yang pro penetapan bukan yang pro pemilihan. Media tidak berusaha lebih dalam dan menunjukkan bahwa masalah keistimewaan Yogyakarta itu bukan hanya masalah memilih atau menetapkan gubernur. Sedihnya, kita sebagai audiens media sekarang ini jangan-jangan semakin terbiasa disuguhkan informasi yang tak berimbang. Informasi mengenai sepakbola saja sudah tak berimbang, apalagi informasi tentang dunia politik. Terlihat sekali faktor kepemilikan media dan sepak-terjang para pemiliknya dalam politik praktis berkaitan erat dengan fenomena ketidakberpihakan ini.



Pelarangan acara Opera Tan Malaka di beberapa stasiun televisi lokal di Jawa Timur adalah kasus ketiga yang menarik untuk didedah. Pihak militer yang meminta acara tersebut terlihat masih menggunakan pemikiran cara lama, sangat takut dengan paham yang berbau kiri. Hal ini aneh karena acara tersebut tidak membicarakan sosok Tan Malaka. Bila pun membicarakan, tidak sepantasnya takut dengan pemikiran beliau karena Tan Malaka adalah salah satu bapak bangsa dan pahlawan nasional. Pelarangan semodel ini pun menyalahi aturan karena semestinya tidak ada lagi pelarangan pra penyiaran. Ketika atau setelah disiarkan pun, sebuah acara hanya bisa diperingatkan oleh KPI/KPID, bukan institusi yang lain.



Kasus keempat adalah kasus bocornya informasi personal kepada publik. Informasi mengenai kesehatan inidivud adalah milik personal dan tidak boleh disebarkan ke publik. Hal ini ironisnya terjadi pada pejabat pemerintah, Menteri Kesehatan. Dia mengeluhkan rekam medisnya bisa bocor ke media bila sang menteri terkena kanker paru-paru. Bagaimana dengan kode etik kedokteran yang melarang membocorkan informasi milik pasien sekalipun dia adalah figur publik? Hal yang kita takutkan adalah bagaimana dengan potensi bocornya informasi personal milik anggota masyarakat biasa seperti kita? Sangat besar. Hal ini bisa kita lihat dari penawaran sebuah perusahaan kepada berbagai pihak atas ribuan nomor handphone masyarakat Indonesia. sayangnya, Menteri yang mengurusi informasi lebih sibuk dengan masalah pornografi, bukannya pada pembocoran informasi personal seperti ini.



Namun belakangan kita patut kecewa dengan menteri yang satu ini. Dia atas nama Departemen Kesehatan yang dipimpinnya tidak mau melansir produk susu formula yang terkontaminasi bakteri. Informasi tersebut merupakan hasil temuan tim peneliti IPB. Di dalam kasus ini dia tak berpihak pada masyarakat atas keterbukaan informasi milik publik karena bagaimana pun publik pulalah yang terkena dampaknya bila informasi tentang susu formula berbakteri tersebut tak dibuka. Hal yang sama terjadi pada informasi mengenai rekening “gendut” milik beberapa petinggi Kepolisian Republik Indonesia yang tetap tidak mau dibuka oleh institusi yang mestinya menjaga keterbukaan pada publik. Sekali lagi, kedua kasus tersebut menunjukkan bahwa informasi yang tertutup adalah titik awal dari penyalahgunaan kekuasaan.



Pembagian buku tentang presiden SBY, si pemilik kantung mata “indah” kata rekan saya, adalah kasus kelima yang menarik untuk dibahas. Bila buku yang dibagikan ke sekolah tidak menggunakan dana masyarakat dan memberikan pengetahuan tentang manusia-manusia hebat Indonesia, tentu tidak akan menjadi soal. Persoalannya adalah buku tersebut menggunakan uang rakyat untuk memproduksi dan mendistribusikannya sementara presiden SBY masih berkuasa. Dengan mudah, kita bisa melihat bahwa tindakan tersebut tidaklah etis. Walau begitu, kasus ini juga menunjukkan bahwa dalam aspek kekuasaan di Indonesia ini, penguasa bisa melakukan banyak hal sementara banyak pula yang “mencari muka” yang bertebaran untuk menjilat pada penguasa dengan sangat jelas.



Kasus terakhir adalah kasus pembantaian jemaah Ahmadiyah di Pandeglang dan penyerbuan gereja di Temanggung. Pertanyaannya adalah bagaimana media memberitakan kedua peristiwa tersebut? Ada pihak media sudah tepat memberitakannya. Ada juga yang berpendapat media belum memberitakannya secara memadai. Masih banyak informasi yang tidak diungkap dan diperdalam. Namun marilah kita menunggu sesaat lagi untuk perkembangan kasus ini. Hal yang jelas, media dan isu konflik, terutama konflik agama, selalu berkaitan erat. Media di Indonesia sudah cukup “berpengalaman” melaporkan konflik agama pada masa lalu, misalnya kasus di Ambon dan Poso. Pertanyaan lanjutannya adalah apakah yang dilakukan media telah cukup? Apakah diperlukan semacam “intervensi” atas fakta agar berita lebih baik atau lebih bisa mengajak masyarakat menujur arah perubahan yang lebih baik?



Klasifikasi ketiga dari “Belajar Bermedia Bersama” adalah bersama. “Bersama” mengandung makna saya melakukan sebuah aktivitas bersama rekan-rekan lain. Aktivitas bersama di sini berarti juga saya belajar banyak dari orang lain, juga tentu saja menyoal ragam tindakan dan pemikiran yang berkaitan dengan media. Aktivitas “bersama” ini adalah aktivitas yang saling mendukung dengan aktivitas yang lain. Hal yang lebih penting dari “bersama” ini adalah saya bisa bertemu dengan banyak orang mencerahkan bukan orang yang memendungkan hati dan pikiran. Bersama mereka saya semakin merasa bahwa akumulasi pikiran dan tindakan personal itu sangat penting untuk menghadirkan “kekuatan” baru.



Aktivitas pertama yang saya lakukan bersama rekan-rekan adalah menghadiri ulang tahun sebuah organisasi masyarakat sipil yang coba mewujudkan demokrasi bermedia di Indonesia pada bulan Desember tahun lalu. Melalui kejadian ini saya semakin sadar akan arti penting masyarakat terbuka dan potensi Indonesia ke arah sana sungguh besar. Hal lain yang membuat saya teringat akan peristiwa ini adalah kemampuan sebuah orasi budaya menggugah hati dan pikiran kita. Menurut saya, orasi budaya yang disampaikan oleh Karlina Supelli sungguh luar biasa, kombinasi buah pikir, hati, dan penyampain ala berpuisi.



Pelatihan riset audiens untuk lembaga penyiaran publik adalah aktivitas kedua yang saya ikuti di bulan Desember masih di tahun yang lalu. Berkumpul bersama dengan rekan-rekan RRI yang antusias mewujudkan visi kepublikan di medianya sungguh mencerahkan. Ada harapan besar untuk mewujudkan RRI menjadi lembaga penyiaran publik yang lebih bagus walaupun jalannya masih cukup panjang. Pertanyaannya adalah bagaimana mengimplementasi makna kepublikan sampai pada lebel produksi program dan programming? Ini adalah soal yang mesti dijawab bersama.

Aktivitas bersama rekan-rekan RRI berlanjut kemudian. Saya diundang untuk mengikuti semiloka tentang redesain dua programa RRI, yaitu Pro 1 dan Pro 2. Saya semakin paham bahwa potensi RRI sangatlah besar dan perlu diupayakan benar untuk berbenah. Saya bangga dan ingin terlibat dalam proses bangkitnya RRI kembali.



Aktivitas ketiga yang saya jalani secara langsung adalah mengikuti pelatihan kompetensi wartawan di Jakarta. Acara ini membuat saya lebih tersadarkan bahwa profesi jurnalis itu rumit dan memerlukan kerja keras bersama. Jurnalis yang kompeten akan memberikan informasi faktual yang bagus kepada masyarakat. Informasi yang bagus akan memandu masyarakat melakukan tindakan personal dan publik yang memadai. Sayangnya, melalui kegiatan ini saya jadi mengetahui bahwa uji kompetensi hanya bisa dilakukan oleh sesama jurnalis padahal saya rasa para akademisi yang mendalami jurnalisme akan dengan mudah melihat produk berita yang memadai, kurang memadai, dan tidak memadai, dengan relatif cepat.



Aktivitas saya menjadi co-host di acara “Angkringan Gayam” di Geronimo FM aktivitas keempat yang saya jalani setahun terakhir ini. Di acara ini saya bertemu dengan banyak orang yang mencerahkan, baik itu host utamanya Sondy Garcia dan, apalagi, para narasumber yang hadir. Melalui pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki, saya mendapatkan banyak hal berguna. Biasanya saya menuliskan pokok diskusi kami di acara “Angkringan Gayam”, namun sudah empat kali saya tidak menuliskannya. Keempatnya adalah sebagai berikut, tentang kilas-balik peristiwa mengenai media baru dan kaum muda di tahun 2010, tentang aktivitas merajut dan berwirausaha melalui media baru, tentang aktivitas dan berita seni di media baru, dan tentang gerakan 1001 buku tulis yang lahir ketika erupsi Merapi dan sampai kini terus berkembang pada misi yang lebih luas.



Diskusi dan “pencerahan” kelima atau terakhir dari acara Angkringan Gayam saya dapatkan hari Senin kemarin (14 Februari 2011), yaitu bertemu dengan para penggiat “Kampoeng Cyber” di RT 36 Taman Patehan yang sudah dikenal secara nasional. Melalui mereka saya semakin paham bahwa media baru bisa digunakan untuk mengembangkan berbagai hal positif dalam suatu komunitas. “Kampoeng Cyber” menyadarkan kita bahwa pendekatan bottom-up dalam pengembangan media baru, terutama internet, lebih penting dibandingkan pendekatan top-down karena biasanya rasa memiliki, kedekatan dan kohesi sosial masyarakat akan tetap tumbuh, bahkan semakin membesar.



Kelima, adalah aktivitas saya dan rekan-rekan dalam sebuah kelompok riset, PR2Media yang baru saja berulang-tahun pertama tanggal 12 Februari kemarin. Kami meneliti lima regulator media dan perannya dalam era demokrasi. Ironisnya, peran para regulator tersebut belum memadai dalam demokrasi media dan keberpihakannya pada publik pun belumlah terlihat jelas. Melalui kegiatan ini, untuk pertama kalinya saya mengikuti RDPU (Rapat Dengar Pendapat Umum) dengan Komisi I DPR dan mengetahui betapa wakil rakyat belum memiliki pengetahuan tentang media yang memadai. Misalnya muncul pernyataan bahwa fenomena monopoli media adalah hal biasa. Hal lain yang membuat saya antusias adalah kunjungan pertama saya ke media Tempo setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan rekan-rekan di sana. Ternyata diskusi tersebut berjalan baik-baik saja dan semoga begitu untuk seterusnya.



Aktivitas terakhir saya belakangan ini adalah kembalinya saya mendalami dan mengulik konsep literasi media. Bersama beberapa rekan di Yogyakarta dan satu dari Jakarta, kami berkomitmen lebih mendalam lagi. Bagi saya pribadi, hal ini adalah panggilan kembali karena sudah cukup lama tidak mendalami konsep ini dan perlu sekali mengembangkannya kembali di masyarakat. Kegiatan ini sekaligus untuk menyambut seminar nasional mengenai literasi media di jakarta bulan April mendatang. Saya dan teman-teman sudah melakukan kampanye literasi media sejak tahun 2005 dan sudah mendapatkan model yang tinggal coba diimplementasikan saja. Pertanyaannya, kapan dan bagaimana? Jawabannya singkat saja, sekarang langsung dijalankan semuanya. Caranya dengan melangkah bersama teman-teman. Saya kira saya sudah menemukan jawaban untuk menjadi lebih baik, beraktivitas bersama rekan-rekan yang tepat, membuka mata, hati, pikiran dan telinga lebar-lebar, dan konsisten berusaha mewujudkan apa yang diinginkan. Semoga saya benar, namun hal terpenting adalah bagaimana terus bergerak dan bertindak mewujudkan semua asa.



Jika dipikir kembali apa harapan saya beberapa tahun ke depan, saya tidak dapat memikirkan alternatif lain kecuali berusaha menjadi akademisi atau pembelajar yang lebih baik lagi. Tentunya, semua itu tak akan terwujud tanpa kehadiran banyak rekan. Tanpa pencerahan mereka, apalah artinya saya. Terima kasih untuk teman-teman sepanjang jalan yang selalu menginspirasi (saya taut mereka).

Selasa, 08 Februari 2011

If You Tolerate This Your Children will be Next


Berita itu sungguh menyedihkan dirinya. Indonesia yang katanya negara berdasar Pancasila yang mengedepankan keberagaman dan perbedaan keyakinan ternyata hanya ada di dalam buku-buku masa lalu. Para pendiri negara ini sudah tahu bahwa keberagaman itu adalah keutamaan negeri ini. Kenyataannya, kini kita diuji terus atas jalan yang kita pilih bersama. Ternyata berbeda keyakinan itu mematikan seperti yang terlihat dalam kasus pembantaian kelompok Ahmadiyah di desa Ciumbulan, Cikeusik, Pandeglang kemarin. Dia hanya memandang kosong pada kehidupan bersama bernama Indonesia yang semakin jauh dari harapan.



Sedihnya lagi, aparat keamanan seperti tidak bertindak ketika pembantaian terjadi seperti yang terlihat di video yang tersebar luas di internet. Apalagi kemarin, sang Raja Menye hanya mengatakan prihatin, tidak mengutuk keras dan kemudian bertindak cepat menangkap para pelaku pembunuhan yang sebenarnya sudah ada “di depan mata”. Negara, terutama pemerintah, telah gagal melindungi dan memenuhi hak-hak warga negara yang paling mendasar, hak untuk bebas berkeyakinan dan hak atas rasa aman. Kita akan menghadapi kekerasan yang terus meningkat bila penanganan negara seperti ini. Tidak hanya pemerintah, legislatif juga mesti dikritik karena tidak dengan segera bertindak dengan mengeluarkan pernyataan keras atas kejahatan kemanusiaan seperti ini.



Para tokoh juga memberikan andil terjadinya peristiwa ini karena seringkali tidak mengedepankan filosofi hidup secara damai dan berdampingan. Pada kenyataannya, tidak mungkin di dalam masyarakat Indonesia yang plural ini kita tidak berdampingan dengan kelompok agama, etnis, ataupun kelompok ideologi lain. Pagi tadi dia masih mendengar tokoh agama yang masih “membenarkan” pembunuhan yang terjadi di Cikeusik di televisi. Tiba-tiba saja dia sangat rindu dengan para tokoh agama yang mengedepankan kehidupan bersama tanpa kekerasan dan menghargai pluralisme seperti Gus Dur. Mestinya yang dipentingkan adalah bukan keselamatan hidup kelompok sendiri melainkan seluruh warga Indonesia. Bukankah tujuan hidup kita berbangsa dan bernegara adalah meningkatkan harkat dan bermartabat manusia Indonesia?



Media juga mesti bijak dalam memberitakan peristiwa ini. Pertama, media seharusnya tidak menggunakan kalimat-kalimat yang provokatif atau pun “menutupi” kejadian ini. Penggunaan judul “bentrok” adalah tidak tepat karena ini bukan bentrok melainkan pembantaian karena bentrok menggambarkan posisi dua pihak berkonflik terbuka yang relatif setara. Mana bisa serangan sekitar 1.500 atas 21 orang disebut bentrok? Juga dengan kata “penyerangan Ahmadiyah”. Kata penyerangan Ahmadiyah juga tidak tepat karena bukan Ahmadiyah yang menyerang. Mereka malah yang diserang.

Ada juga berita tentang pemuda Ahmadiyah yang menyerang dan membacok duluan, terutama berita di situs berita pada saat awal pemberitaan media. Tetapi berita itu hanya bersumber dari satu pihak. Ada juga berita yang cenderung menyalahkan Ahmadiyah, antara lain berita tentang “penginsyafan” di Banten oleh gubernurnya. Tetapi korbannya adalah pihak Ahmadiyah dan seharusnya aparat pemerintah terus mendorong polisi menangkap para pembantai itu, bukannya malah “menyalahkan” pihak korban. Di negara ini memang semua tindakan aparat pemerintah serba berkebalikan.



Sebagai bagian dari warga negara Indonesia kita patut khawatir kejadian seperti ini akan terus berulang bila negara tidak bertindak cepat, masyarakat juga mesti bertindak dengan mengedepankan dialog, namun negaralah yang memegang tanggung-jawab terbesar karena memiliki kemampuan untuk menegakkan hukum. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang. Pelakunya mesti dihukum dan dicari model yang tepat agar kejadian serupa tidak terulang. Aparat keamanan juga mesti melindungi tiap warga negara. Apa jadinya bila tiap kelompok, terutama kelompok agama, “menyiapkan diri” untuk berkonflik terbuka dengan kelompok lain karena tidak percaya aparat tidak dapat melindungi mereka?



Aparat negara mesti menjalankan Konstitusi. Jangan sampai negeri indah yang plural ini hanya diketahui oleh anak cucu kita sebagai negara yang gagal di mana kekerasan yang dikedepankan, seperti yang terjadi di beberapa negara Afrika dan Amerika Latin. Jangan sampai kita menoleransi kejadian ini sedikit pun karena bisa jadi nantinya anak-anak kita sendiri yang menjadi korban.



*****



If You Tolerate This Your Children will be Next



The future teaches you to be alone

The present to be afraid and cold

So if I can shoot rabbits

Then I can shoot fascists



Bullets for your brain today

But we'll forget it all again

Monuments put from pen to paper

Turns me into a gutless wonder



And if you tolerate this

Then your children will be next

And if you tolerate this

Then your children will be next

Will be next

Will be next

Will be next



Gravity keeps my head down

Or is it maybe shame

At being so young and being so vain



Holes in your head today

But I'm a pacifist

I've walked La Ramblas

But not with real intent



And if you tolerate this

Then your children will be next

And if you tolerate this

Then your children will be next

Will be next

Will be next

Will be next

Will be next



And on the street tonight an old man plays

With newspaper cuttings of his glory days



And if you tolerate this

Then your children will be next

And if you tolerate this

Then your children will be next

Will be next

Will be next

Will be next



(Terima kasih untuk Bucek yang mengingatkan saya pada lagu ini. Lagu bagus dari Manic Street Preachers ini berbincang tentang perang sipil di Spanyol dan bahaya kekerasan bila dikedepankan dalam kehidupan bersama. Lagu ini berasal dari album Manic Street Preachers “This is My Truth Tell Me Yours” yang dirilis tahun 1998)

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...