Senin, 18 Oktober 2010

Life is Free


Sedikit sesal itu masih dipertahankannya beberapa hari. Tidak jadi menonton event Java Rockin' Land bisa saja membuatnya gundah gulana berkepanjangan. Namun hidup itu bebas memilih, termasuk perasaan di hati, gundah gulana, riang gembira, biasa saja, atau ribuan gradasi rasa di antaranya. Hidup bila menyangkut personal kita sendiri, tiadalah urusan dengan orang lain. Hidup kita adalah hidup kita sendiri. Hidup orang lain adalah hidupnya sendiri pula.



Hadirnya tiga band kugiran dari dekade 1990-an, Stereophonics, Smashing Pumpkins, dan Arkarna, di acara Java Rockin' Land sudah membuatnya "merinding" pada awalnya. Wah, seru dan keren sekali, begitu kata hatinya pertama-kali mengetahui informasi tersebut. Walau dia juga tersenyum. Ah, ini komodifikasi juga. Dia tahu pilihan tiga band "lama" itu karena para penyukanya kini berusia pertengahan 30-an, berarti sudah cukup untuk memiliki kapital. Namun ada yang dilupakan oleh penyelenggara, bahwa perlu pengorbanan waktu dan upaya menuju Ancol bagi usia "emas" itu. Walau sudah cukup memiliki uang (dalam kasus dirinya sih tidak ada uang juga :)), belum tentu mereka mau dan bisa meluangkan waktu menuju tempat pentas nun di ujung dunia sono.



Dia sedikit gundah dan terhibur juga. Hidup ini bebas untuk memikirkan dan merasakan emosi seluas mungkin. Dengan melakukan percobaan merasakan, hidup jadi lebih kaya dan indah, serta menghibur diri sendiri pula. Asalkan tidak menghibur diri sendiri sampai mati seperti kata Neil Postman. Dia mencoba memahami mengapa hanya Smashing Pumpkins yang lumayan diliput ketika pentas. Liputan di beberapa media cetak yang dia baca pun payah sekali. Untuk berita-berita umum saja mereka sudah parah, ternyata untuk sekadar berita "hiburan" pun parah pula. Laporan tentang Smashing Pumpinks di dua media cetak yang dia baca tidak memberikan informasi dan kedalaman emosi. Dia tinggal bergantung pada majalah musik bulan depan. Semoga bisa memberikan laporan yang oke.



Namun hanya Smashing Pumpins yang ada liputannya. Kemana Stereophonics dan Arkarna? Untunglah, dia memiliki koleksi album Stereoponics yang lengkap, serta "temuan" brilian cover version yang dilakukan Stereophonics atas lagu "Nothing Compares 2 U" dan "First Time I Ever Saw Your Face". Jadi tidak menimbulkan efek rindu yang luar biasa bila tak menontonnya langsung. Namun, bagaimana dengan Arkarna? dia tidak memiliki dokumen lagu dan album Arkarna. Hanya ingatan lamat-lamat lagu "So Little Time" dan "Life is Free" yang terkenal ketika dia berkuliah dan baru menyelesaikannya. Seperti halnya lagu-lagu di era 1990-an dan awal 2000-an, semuanya memberikan efek optimisme pada hidup (sebelum dia sadar optimisme itu bisa terenggut darinya).



Tidak adanya liputan yang memadai atas Java Rockin' Land, terutama penampilan Smashing Pumpkins, Stereophonics, dan Arkarna, kemungkinan juga disebabkan fokus media yang berlebihan pada pertandingan "aneh" antara Indonesia versus Uruguay. Kelihatannya PSSI berhasil untuk memberikan euforia sesaat menonton pertandingan yang katanya berkualitas. Nyatanya? Banyak orang sesaat lupa bahwa hal terpenting adalah membenahi sepakbola Indonesia dari hulu ke hilir, dari "babak belur" ke babak baru. Namun itulah, kita cenderung bisa disogok dengan "permen" kecil dan melupakan hidangan lengkap perbaikan menyeluruh, bukannya proyek mercusuar semacam itu. Walau begitu, hidup memang bebas memilih, terutama memilih tidak terpengaruh atas rayuan PSSI dan menonton pertandingan tak seimbang itu.



Lalu, secara tak terduga. Di tengah kunjungan biasanya di toko CD, dia menemukan album Arkarna, Family Album (2000). Memang bukan hit terbesar mereka yang ada di album itu, "So Little Time" ada di album Fresh Meat (1997). Namun, album ini telah cukup. Band yang dimotori oleh programmer Ollie Jacobs ini bisa menuntaskan rindu dirinya pada akhirnya. Album yang biasa tetapi bisa membuatnya teringat pada kehidupan relatif lebih bebas satu dekade yang lalu. Di hidup kita sendiri seperti ini, bebas itu ada di pikiran dan hati, kita bebas untuk merasa bahagia, dan kita bebas untuk menjadi cerdas. Untuk yang keseribu kali, dan kali ini semakin tajam, dia menyadari bahwa menjadi berbahagia dan menjadi cerdas itu hanyalah pilihan. Hidup itu bebas (memilih). Life is free!



######



"Life Is Free"



You could be popular

You could be wanting more

It doesn't have to be that way

This could be beautiful

Are you really gonna make it happen

Seems a whispers sometimes louder than a scream

Are you really gonna make it happen

Life is free



You could be a checkout girl

You could be beautiful

You give your all but it's not enough

Is that the way it is?

Are you really gonna make it happen

Seems a whispers sometimes louder than a scream

Are you really gonna make it happen

Life is free



Keep the dream alive

Don't be affraid

I'm suffering my life away

That's all I've got to say

Are you really gonna make it happen

Seems a whispers sometimes louder than a scream

Are you really gonna make it happen Life is free

Sabtu Ini

Seperti apa kecerdasan dia kemas siang nanti, aku ingin lihat

Seperti apa cerita kau jernihkan, aku mau paham

Seperti apa hidup selalu dia buramkan, aku sudah tahu sejak lama

dan laksana apa cinta kita tabalkan pada ujaran dan tindakan, aku hanya ingin bergerak maju....



(Klebengan, kini dan dulu bersama rekan-rekan sepanjang jalan)

5 Album Berisi Lagu "Daur Ulang" Termaut






Seluruh semesta musik itu menyatu. Artinya, kita bisa menyukai satu dua penyanyi atau band tertentu, tetapi bagi penyuka musik sesungguhnya, "kompilasi" dari semua karya penyanyi juga penting. Hal yang sama terjadi pada para penyaji, bukan hanya para penikmat, para penyanyi pun saling menyukai. Diakui atau pun tidak, setiap penyanyi pada beberapa bagiannya merupakan hasil dari pengaruh penyanyi sebelumnya. Apa yang paling mempengaruhi penyanyi lain selain lagu-lagu dari penyanyi lain? dua orang penyanyi atau band yang berbeda, sejaman atau pun tidak, satu aliran atau pun tidak, bisa saling mempengaruhi satu sama lain dalam hal musiknya.



Itulah sebabnya sungguh mengasyikkan mendengarkan seorang penyanyi membawakan lagu dari penyanyi lain. Ada "rasa" berbeda dari lagu aslinya. Seringkali kita bisa menilai sebuah lagu dibawakan lebih baik atau tidak lebih baik oleh penyanyi lainnya. Ada lagu yang sebelumnya tidak begitu terkenal tetapi setelah dinyanyikan oleh penyanyi lain lagu itu menjadi jauh lebih terkenal. Contoh yang sering digunakan untuk dekade 1990-an adalah lagu lama Prince "Nothing Compares 2 U" yang sangat populer ketika dinyanyikan Sinead O'Connor. Sementara untuk dekade 1980-an, lagu "Everytime You Go Away" menjadi lebih populer ketika dinyanyikan oleh Paul Young setelah sebelumnya kurang populer ketika dinyanyikan oleh Darryl Hall and John Oates.



Walau begitu, banyak pula contoh lagu yang justru ketika dinyanyikan kembali menjadi kurang populer, atau paling tidak sama populernya. Di luar lebih baik atau tidak, lebih populer atau tidak, lagu yang dinyanyikan kembali memberikan aura yang berbeda. Bila kita berbicara tentang menyanyikan lagu lama atau mendaur-ulang lagu, berarti kita berbicara menafsir kembali. Persoalan tafsir menafsir ini mengasyikkan karena aktivitas ini berada "di tengah", yaitu teks awal dan penafsir yang akan menafsirkan teks baru. Bisa jadi akan muncul teks baru sebagai buah upaya menafsir tersebut, bisa jadi juga tidak muncul buah yang baru, hanya mengulang lagi teks yang telah dihasilkan sebelumnya.



Banyak lagu daur-ulang yang muncul, juga banyak album yang mengompilasinya. Saya mencoba mengurutkan lima album "daur ulang" paling maut yang bisa saya amati. Tidak ada prosedur pemetaan seleksi album-album tersebut. Pemilihan ini lebih karena album-album tersebut sudah saya miliki dan sudah saya dengarkan lumayan intens. Berikut ini lima album daur ulang paling "maut":



Kelima, album kompilasi dari beragam penyanyi. Album ini berjudul "Re-Discovery" dan dilansir pada tahun 2010 ini. Album ini memuat 36 lagu dari beragam genre dan beragam generasi penyanyi. Album ini terdiri dari dua CD dan harganya termasuk murah untuk double CD. Lagu milik Beatles dan Michael Jackson menjadi lagu yang paling banyak didaur-ulang, yaitu sebanyak tiga lagu, oleh berbagai penyanyi. Lagu tafsir ulang "With or Without You" milik U2 yang dinyanyikan oleh Keane, "Romeo and Juliet", lagu lama miliki Dire Straits yang dinyanyikan oleh The Killers, dan lagu "First Time I Ever Saw Your Face" yang dinyanyikan oleh Stereophonics, adalah track yang menarik untuk diperhatikan.

Album di peringkat keempat adalah kompilasi "1 Love" yang dirilis pada tahun 2002. Di album ini para kontributornya menyanyikan lagu lama yang pernah menduduki puncak pertama di tangga lagu Inggris. Album ini disponsori oleh "War Child" sebuah lembaga nirlaba untuk anak-anak korban perang. Tiga track menarik di album ini adalah lagu Prodigy "Firestarter" yang diintepretasi ulang oleh Jimmy Eat World. Lagu ini menjadi sangat berbeda dari aslinya namun tetap bagus. Lagu lain adalah Muse yang menyanyikan lagu milik the Animals, "House of the Rising Sun" yang menjadi sangat keras. Lagu terkeras Muse yang saya dengarkan. Track terakhir yang menarik adalah lagu "Nothing Compares 2 U" oleh Stereophonics, yang kuat mengadopsi kesenduan dari versi Sinead O'Connor.

Album berisi lagu daur ulang terbaik ketiga menurut saya adalah OST dari film "I am Sam" yang dirilis pada tahun 2001. Para penyanyi yang mengisi album ini menafsir ulang lagu-lagu the Beatles. Pendaur-ulangan tersebut sejalan dengan isi film yang memang merujuk pada isi filmnya di mana the Beatles menjadi "pengikat" di keseluruhan film. Film yang sangat bagus di mana akting Sean Penn sebenarnya layak diganjar Oscar. OST-nya juga bagus kerena melibatkan penyanyi dengan kemampuan menafsir sangat kuat. Sebut saja Eddie Vedder untuk lagu " You've Got to Hide Your Love Away", Rufus Wainwright pada lagu "Across the Universe", dan Nick Cave untuk lagu "Let It Be"

Di peringkat kedua saya memilih album milik Manic Street Preachers yang berjudul "Lipstick Traces A Secret History of MSP" khusus CD 2 yang berisi lagu-lagu lama yang dinyanyikan oleh Manic. CD 1 berisi lagu-lagu b-side yang tidak termaktub di album-album sebelumnya. Banyak pengamat menilai lagu-lagu b-side di album ini sangat layak menjadi lagu-lagu di album "asli" mereka. Manic sangat bagus dalam menyanyikan lagu-lagu lama, antara lain mereka menyanyikan kembali lagu "Umbrella" milik Rihanna yang sayangnya tidak seera dengan album ini sehingga tidak ada di albumnya. Di CD 2 album ini semua lagunya bagus, tiga lagu yang bisa didengarkan berulang-kali dengan enak karena tafsir ulang yang oke adalah "We are All Bourgeois Now", "Raindrops Keep Falling on My Head", dan "Last Christmas".

Album yang berada di puncak adalah album tirbute untuk band lama Carpenter yang berjudul " If I were A Carpenter" yang dirilis pada tahun 1994. Banyak musisi yang besar di era awal 1990-an mengisi album ini, beberapa sudah tidak terdengar lagi. Banyak album tribute pada era itu namun inilah album tribute terbaik menurut saya. Lagu-lagu yang lambat milik Carpenters ditafsir ulang dengan pas oleh para penyanyinya dan menurut saya, menghasilkan teks baru yang bisa dikenang selamanya. Dengar saja lagu yang dinyanyikan oleh American Music Club, "Goodbye to Love", atau perih yang dibawa oleh Sonic Youth dalam lagu "Superstar", serta dinamisnya Redd Kross dalam menyanyikan "Yesterday Once More". Di ingatan saya bila mendengarkan Carpenters adalah lagu versi Sonic Youth dan Redd Kross ini. Album termasuk kompilasi yang masih terus saya dengarkan sampai sekarang.

Masih banyak sebenarnya album berisi lagu-lagu "daur ulang" yang bagus, baik Barat maupun Indonesia.

Bagaimana dengan daftar album "daur ulang" termaut milik teman-teman?

Apa yang Baru dari "Media Baru"?

Tulisan singkat ini diniatkan sebagai review atas buku "New Media: An Introduction" edisi kedua. Buku ini karya Terry Flew dan diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 2004. Buku ini merupakan salah satu buku tentang media baru yang paling mudah dicerna, juga memberikan banyak kasus aktual untuk jadi pelajaran dan inspirasi bagi kita di Indonesia walau mungkin untuk masyarakat Barat bisa jadi agak out of date. Saya mengambil judul chapter satu buku ini sebagai judul tulisan karena judul chapter satu ini menggambarkan keseluruhan buku.



Buku ini, di luar pengantar dan kesimpulan, terdiri sebelas chapter yang berbincang banyak tentang media baru dalam segala aspeknya. Kita mulai dari chapter pertama. Bagian ini berjudul "What's New about 'New Media'?" dan berusaha menjelaskan apa kebaruan dari media baru. Flew berpendapat bahwa media baru merujuk pada interaksi isi media yang digital, bentuk media yang konvergen, dan jaringan komunikasi global.



Bagian kedua mengambil judul "New Media as Cultural Technologies". Chapter ini berbincang tentang dua posisi dalam melihat media baru, media baru itu baik atau buruk? Selain itu, bagian ini juga berupaya mendiskusikan bahwa media baru bukanlah sekadar hardware, melainkan juga software, serta sebagai sistem yang kompleks dari pengetahuan dan pemaknaan sosial.



Pemaparan buku dalam chapter ketiga berjudul "New Media, New Economy?: Technology, Political Economy, and the Network Society". Tulisan ini mempertanyakan adakah "ekonomi baru" sebagai akibat perkembangan media baru? Flew di dalam bagian ini berusaha kritis melihat sejarah media baru melalui perspektif ekonomi politik.



Diskusi pada bab empat berjudul "Virtual Cultures". Chapter ini berargumen bahwa komunitas virtual mengarah pada bentuk baru komunitas dan membangkitkan kembali prinsip-prinsip kewargaan yang demokratis. Di dalam bagian ini juga diperbincangkan tiga tahap debat komunitas virtual, termasuk fase pesimistik ketika isu gap digital mengemuka.



"Digital Media" adalah topik di dalam chapter lima. Pada bagian ini dijelaskan media digital yang berarti umum, tidak hanya internet melainkan meliputi semua bentuk media yang mengombinasikan dan mengintegrasikan data, teks, suara, dan imaji. Semuanya tersimpan dan didistribusikan dalam format digital di jaringan. Motif lain dari tulisan ini adalah menunjukkan konsekuensi dari format digital pada media lama, juga implikasi langsung pada bentuk pesan seperti "narasi" dan hyperteks.



Chapter enam membahas tentang "Games: Technology, Industry, Culture". Perkembangan dan dinamika game sebagai bentuk media baru didiskusikan di sini. Sebagai bagian dari industri game merupakan salah satu industri dengan perkembangan tercepat. Perubahannya juga luar biasa, terjadi migrasi dan penggabungan dari bentuk lama, konsol, ke arah yang lebih baru, online. Games juga merujuk pada tiga konsep lain yang lebih besar, yaitu perkembangan produk game berbasis pengakses, kecerdasan kolektif, dan budaya partisipasi.



Berbasis pada individualitas, mobilitas, keberagaman, dan toleransi, maka lahirlah apa yang didiskusikan dalam chapter tujuh, yaitu "Creative Industries". Industri yang berbasis ide dan inspirasi ini menjadi semakin dominan belakangan ini. Topik-topik yang berkaitan dengan "industri" dominan di sini, antara lain paten, hak cipta, merek dagang, dan desain, marak dibicarakan pada bagian ini.



Kedelapan, didedah topik berjudul "Electronic Commerce and the Global Knowledge Economy". Pada bagian ini isu-isu ekonomi menjadi semakin penting. Perbincangan mengenai koneksi B2B atau business-to-business dan B2C atau business-to-consumer menjadi penting. Transaksi ekonomi melalui bisnis online semakin besar, sementara tidak semua kelompok masyarakat dan industri siap dengan perkembangan terbaru bisnis online.



Pada bab sembilan dijabarkan "Online Media and the Future of Higher Education". Isu-isu pendidikan dan media baru didiskusikan di bagian ini. Ada beberapa isu turunan yang dibicarakan, yaitu pemahaman atas literasi media digital dan lingkungan media yang konvergen. Bukan berarti semua masalah pendidikan terselesaikan dengan adanya media baru, namun setidaknya topik ini bisa dibicarakan dari lima sudut pandang, yaitu: isu pragmatis, pedagogi, kebijakan, personal, dan filosofis.



"Globalisation and New Media" adalah topik yang dibicarakan dalam bab sepuluh. Seperti kita ketahui bersama, media adalah elemen sentral dalam proses globalissasi. Bagaimana sebuah isi pesan media bisa didistribusikan secara global adalah isu terpenting dari chapter ini. Media baru juga digunakan memperkuat aktivitas sosial global, dan juga mengubah cara dalam partisipasi politik.



Pada bagian kesebelas, chapter terakhir sebelum kesimpulan, dibahas "Internet Law and Policy". Bab ini mempertanyakan hukum, kebijakan, dan pengaturan berkaitan dengan media baru. Isu-isu penting berkaitan dengan keamanan dan privasi, juga hukum hak cipta dan kekayaan intelektual dibicarakan di sini. Seperti kita ketahui bahwa media baru membuat reproduksi, diseminasi, dan modifikasi dari isi pesan digital semakin mudah dilakukan. Intinya, isu terakhir dari buku ini adalah sekaligus isu paling awal dari perkembangan media baru, yaitu apakah perkembangan media baru membawa pada informasi yang lebih bebas atau semakin terbatas?



Demikianlah, tulisan ini lebih berupaya memberi lebih banyak pada aspek resume. Sisi mereviewnya, dengan menunjukkan posisi penulis, bukan menjadi yang utama. Pertanyaan intinya adalah bagaimana kita mendapatkan pengetahuan optimal dari sebuah buku dan mengkreasi pengetahuan darinya seotentik mungkin?

Senarai Pemikiran: Vincent Mosco (Bagian 1: Mengurai Komodifikasi)

Baru-baru ini kita agak dikagetkan oleh dua peristiwa yang sepintas tidak berhubungan langsung dengan media. Pertama, Tera Patrick yang berperan dalam film "Rintihan Kuntilanak Perawan" dan peristiwa yang kedua, hadirnya para pejabat tinggi pemerintahan dalam premier film "Eat Pray Love". Bagaimana kita melihat dua kejadian baru-baru ini dalam konteks kajian media? Banyak jalan untuk mengkajinya untuk studi media, namun yang paling sesuai adalah mendedah kedua kejadian tersebut dalam cara dan sudut pandang ekonomi politik media.



Membicarakan ekonomi politik media, atau terkadang istilah ini saling menggantikan dengan istilah ekonomi politik komunikasi, kita pasti tidak bisa melepaskan diri dari Vincent Mosco. Lewat bukunya yang menjadi "klasik" di kajian ini,"The Political Economy of Communication: Rethinking and Renewal" (Sage Publications, 1996), Mosco bisa dianggap memberikan telaah konseptual paling komprehensif dan terklasifikasi baik untuk menjelaskan ekonomi politik media. Lewat tiga "pintu masuk" memahami ekonomi politik media, yaitu komodifikasi, spasialisasi, dan strukturasi, Mosco memberikan peta pemahaman yang berguna pada kita para pembelajar ilmu komunikasi. Aslinya, ketiga konsep tersebut bukan berasal dari Mosco, namun dialah yang mendudukkannya dalam taksonomi yang pas nan memadai. Mosco meminjam ide-ide dasar komodifikasi dari Marx dan kemudian para pengikutnya, kaum Marxian, spasialisasi berasal dari pemikiran Henri Lafebvre, dan strukturasi, tentu saja dari Anthony Giddens. Walau meminjam banyak ide dasar dari pemikir lain, Mosco meminjamnya dengan cantik dan menempatkan ide-ide tersebut sesuai dengan kajian media dan komunikasi.



Kali ini kita mendedah terlebih dahulu mengenai konsepsi komodifikasi. Dua "pintu masuk" lain akan didiskusikan dalam bagian-bagian berikutnya (bila sempat), sementara pengantar awal memahami ekonomi politik media, yang juga berasal dari Mosco, telah saya tulis dahulu sekali dan terarsip di dalam akun Facebook saya ini. Komodifikasi bukan hanya pintu masuk paling awal, ia juga merupakan pintu masuk utama karena hampir tak mungkin menjelaskan spasialisasi dan strukturasi tanpa konsep komodifikasi ini. Komodifikasi seringkali disamakan dengan komersialisasi walau sebenarnya pengertiannya beda tipis. Komodifikasi menurut Mosco adalah: "the process of transforming use values into exchange values" (hal. 141). Bila komodifikasi merujuk pada semua nilai tukar, komersialisasi lebih merujuk pada nilai tukar ekonomi.



Lebih jauh Mosco menjelaskan bahwa bentuk komoditas di dalam komunikasi ada dua, yaitu komodifikasi isi media dan komodifikasi audiens. Isi pesan atau produk atau kreasi media adalah bentuk komodifikasi yang utama. Kumpulan informasi dan data yang tidak bermakna pada awalnya kemudian diolah sedemikian rupa oleh media untuk mendapatkan "nilai tukar". Ada media yang mentransaksikan isi media tersebut langsung dengan audiens atau pengakses pesan, ada media yang "menjualnya" melalui pengiklan baru ke audiens. Tindakan media yang terakhir inilah yang disebut oleh Mosco sebagai komodifikasi audiens. Pengelola media (komersial) menjual kuantitas audiens pada pengiklan, semakin besar jumlah audiens yang mengakses isi media akan memiliki semakin tinggi nilai di mata pengiklan. Tak heran ada seorang ahli ekonomi politik media Indonesia yang menyebut audiens sebagai "buruh"-nya media.



Komodifikasi isi pesan media dan audiens ini termaktub dalam komodifikasi intrinsik, di mana nilai tukar yang berusaha didapatkan oleh media semata-mata berasal dari interaksi antara isi dan audiens. Misalkan audiens dianggap senang dengan isi media film yang menyerempet pornografi sambil membicarakan mistis, isi pesan yang mistis cenderung porno ini akan selalu diproduksi dan dirilis, katakanlah mulai film "Jelangkung" sampai yang terakhir "Rintihan Kuntilanak Perawan". Kemungkinan karena topik hantu saja kurang bisa "menjual", semakin lama film hantu semakin dibumbui oleh adegan yang "menyerempet" pornografi, sementara bila produsen film hanya membesut "film panas" tanpa dibumbui mistis, hal itu akan terasa terlalu jelas melanggar norma sosial.



Selain hal-hal yang langsung berkaitan dengan isi media dan audiens, tindakan lain yang termasuk di dalam komodifikasi adalah komodifikasi ekstensif. Komodifikasi jenis ini adalah sebentuk proses ekspansi komodifikasi ke luar dari isi media. Komodifikasi ekstensif bisa berasal dari bidang apa saja. Bisa semua bidang dalam jangkauan sosial, politik, dan ekonomi. Intinya adalah melakukan tindakan-tindakan yang secara tidak langsung berhubungan dengan media dan segala elemennya. Kehadiran tiga menteri dalam premier "Eat Pray Love" memberikan promosi tambahan untuk film tersebut. Hanya karena film tersebut melakukan syuting di Bali, tiga menteri, yaitu Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Kesehatan Endang Rahayu, dan tentunya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, serta istri Wakil Presiden Boediono, Herawati Boediono, sampai harus datang menontonnya pertama-kali di Indonesia. Semua tindakan yang dilakukan oleh produsen pesan media atau pihak-pihak tertentu yang berkaitan dengan isi kreasi media adalah salah satu bentuk "komodifikasi ekstensif"



Bentuk komodifikasi lain yang termasuk di dalam komodifikasi ekstensif adalah komodifikasi pekerja (media). Mosco menjelaskan bahwa komodifikasi pekerja dapat melalui dua jalan, yaitu mengatur fleksibilitas dan kontrol atas pekerja dan "menjual" pekerja tersebut untuk meningkatkan nilai tukar dari isi pesan media (hal.157). "Jalan" pertama terutama semakin mudah dilakukan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju dan konglomerasi media yang semakin meraja. Misalkan saja seorang jurnalis yang bekerja untuk satu perusahaan media padahal media tersebut memiliki "output" yang beragam, mulai dari cetak sampai online. "Jalan" kedua juga galib dilakukan. Contohnya adalah dikontraknya Tera Patrick untuk bermain film di Indonesia. Dia yang merupakan bintang film porno di Amerika jelas menjadi bagian yang ampuh untuk menarik penonton. Cara serupa sebelumnya juga dilakukan dengan mengontrak Miyabi alias Maria Ozawa. Selain terjadi untuk pekerja media yang "tampil", hal serupa juga dilakukan untuk pekerja media di balik layar, misalnya produser dan camera person, bahkan penyanyi untuk OST di dalam film dan game. Intinya, pekerja media pun merupakan elemen yang penting bagi komodifikasi.



Istilah komodifikasi bukannya tanpa kritik. Ilmu tentu saja akan mati dan berhenti berkembang tanpa kritik. Kritik yang utama atas komodifikasi adalah hilangnya esensialisme di dalam konsumsi isi media. Bahwa tindakan atas isi media bisa dilakukan, namun konsumsi isi media adalah otonomi tak terbatas milik audiens atau pengakses. Salah satu pemikir yang mengritik komodifikasi adalah Claus Offe (1984) yang melansir istilah "rekomodifikasi administratif". Inti dari kritik Offe adalah di dalam budaya konsumsi seperti era postmodernisme, mekanisme pasar telah gagal untuk "melawan" kuasa audiens. Dekomodifikasi kemudian melibatkan juga program dan regulasi yang mematahkan kepentingan produsen terlalu banyak. Pemikiran Offe tentang rekomodifikasi ini juga sejalan dengan pemikiran Max Weber ketika mengritik birokratisasi di mana kondisi yang tercipta seringkali berasal dari mekanisme non-pasar.



Kritik lain untuk komodifikasi adalah keragaman cara pandang. Sekalipun komodifikasi itu pervasif dan berpengaruh kuat, prosesnya tidaklah singular. Proses komodifikasi terjadi timbal-balik di dalam kehidupan publik dan privat. Tiga orang tokoh yang berada dalam klasifikasi kritik ini, yaitu Jurgen Habermas, Stuart Hall, dan Anthony Giddens. Menurut Habermas, kehidupan publik dan privat tidak dapat dipisahkan. Inilah yang disebutnya dunia-kehidupan (Lebenswelt) atau bisa disebut juga intersubyektivitas. Inilah yang kemudian membentuk identitas dan terbawa dalam kehidupan publik. Stuart Hall menyampaikan kritiknya lebih jelas lagi. Menurutnya, kapitalisme selalu membawa ketakstabilan dalam identitas, termasuk narsisme identitas personal. Hal ini berkaitan erat dengan otonomi personal yang tidak bisa dipengaruhi oleh tindakan eksternal secara mudah. Kritisi terakhir dalam domain ini adalah Giddens. Ia melihat bahwa kehidupan privat dan publik merupakan "proyek eksistensial" individu, di mana dualitas selalu menampilkan diri. Di dalam proyek eksistensial tadi sangatlah penting untuk kondisi seseorang menghidupi personalnya dan upayanya untuk "menyediakan" sumber daya moral untuk hidup dan memuaskan eksistensinya (hal. 166).



Sebagai akhiran dari senarai, disarankan bagi pembelajar untuk mendalami teks asli dari buku Vincent Mosco ini, bahkan bila ingin lebih mendalam cobalah untuk mendalami pemikiran para tokoh yang ditampilkan oleh Mosco di dalam tulisannya. Komodifikasi, seperti halnya konsepsi akademis yang lain, akan bermakna penuh bila dicerna, didiskusikan, dan dieksplorasi secara mendalam. Bukankah suatu konsep, atau bahkan suatu kajian, akan terus berkembang bila "dipertemukan" dengan intens dan antusias?



Selamat belajar dan berpikir merdeka!

Rindu, Hati, dan Hal-hal yang Tak Pernah Selesai

Kita tersenyum dalam diam

Bahagia melindap pelan namun mengasyikkan

Sulit hidup tanpa dendam selama kau tidak bisa melupakan



Mimpi yang gundah meminta diunggah

Bertemu sambil membawa sembilu katamu

Namun jangan lupakan kawan, seringkali bahagia memata-mataimu dan memelukmu kukuh

Tanpa kau sadari

Tanpa menunggu semuanya usai terjelaskan

Hidup akan selalu berjalan tanpa menunggu kita



Untuk semua tentang hidup

Kita hanya bisa saling memberi senyum

Senin, 11 Oktober 2010

Komunitas Kaskus: “Kasak-kusuk” atas Informasi, Membagi, dan Merayakannya


Seberapa banyak kita bersyukur atas apa yang dibawa media baru, terutama bagi yang pernah merasakan kehidupan tanpanya? Dahulu kita tidak akan bisa dengan cepat mengetahui apa yang dilakukan oleh rekan kita sebelum ada media baru. Juga jauh lebih sulit dan menghabiskan waktu untuk mencari sebuah informasi dibandingkan dengan sekarang. Kita tinggal membuka “search engine” di internet dan kita dapat menemukan banyak definisi suatu informasi di sana. Kita bisa mendapatkan informasi yang mungkin tidak ada di media massa atau paling tidak sukar didapatkan pada masa sekarang.

Salah satu fungsi yang luar biasa dari media baru, terutama via internet, adalah fungsi berbagi dan merayakan informasi. Informasi di era sekarang ini sangat cepat berkembang. Perkembangannya pun tidak harus mengikuti otoritas yang ada. Katakanlah informasi mengenai kesehatan, kita tidak lagi perlu bergantung sepenuhnya pada profesi medis, terutama dokter. Kini informasi mengenai kesehatan dan obat dengan mudah didapat, bahkan terkadang informasi kesehatan yang didapat lebih baik, tidak bias, dan mendalam.

Pada titik inilah informasi tidak hanya dibagi di antara pengaksesnya, melainkan juga dirayakan. Katakanlah seorang narablog (blogger) yang awalnya bertujuan “hanya” ingin menulis. Lama kelamaan ia akan terkoneksi dengan narablog yang lain, terutama yang memiliki ketertarikan yang sama. Narablog dan teman-temannya kemudian mendiskusikan topik yang menjadi ketertarikan bersama tadi. Mereka kemudian berbagi informasi spesifik yang pada akhirnya akan memperdalam informasi tadi. Seorang narablog akan berbahagia bukan hanya karena dia berhasil menulis tentang sesuatu, melainkan dengan obrolan yang terjadi melalui berbagai komentar yang muncul. Isu-isu da informasi yang menarik biasanya akan mendatangkan komentar yang banyak dan pada gilirannya akan mengkreasikan berbagai informasi baru.

Aktivitas ini tidak hanya muncul dalam fenomena blog tetapi juga muncul di dalam berbagai komunitas maya. Pada komunitas maya tersebut lahir berbagai aktivitas di seputar informasi yang terbagi menjadi dua, yaitu membagi dan merayakannya. Komunitas terbesar bagi orang-orang Indonesia di dunia maya adalah Kaskus. Komunitas Kaskus sampai tulisan ini dibuat sekitar 2,2 juta dan sudah memuat sekitar 235 juta posting. Bisa kita bayangkan berapa banyak informasi yang telah dibagi di dalam komunitas ini.

Berdasarkan informasi dari wikipedia Indonesia, Kaskus ini sudah berdiri sejak 1999 oleh Andrew Darwis dan kawan-kawan yang sedang bersekolah di Amerika Serikat. Nama Kaskus sendiri berasal dari kata kasak-kusuk yang arti awalnya mungkin negatif. Namun kasak-kusuk sendiri bisa diartikan positif juga karena bisa membicarakan dan “bertindak” atas informasi sedalam mungkin. Kasak-kusuk di sini kemudian menjadi mengurusi informasi secara berlebihan namun tetap dalam koridor yang positif.

Saya bertemu dengan komunitas Kaskus regional Yogya dua minggu yang lalu, 27 September 2010 di acara “Angkringan Gayam” yang disiarkan secara live oleh radio Geronimo pukul 21.00 – 22.00. Diskusi atau ngobrol-ngobrol yang luar biasa dengan komunitas terbesar di Indonesia. Banyak hal yang bisa diobrolkan dengan mereka, mulai dari aktivitas online mereka sampai dengan aktivitas offline. Mulai dari pembicaraan umum mengenai Kaskus sampai dengan kegiatan mereka secara spesifik berkaitan dengan komunitas maya tersebut. Mereka berkumpul tiap Rabu malam di dekat kantor Kedaulatan Rakyat dan sepertinya, berkumpulnya mereka adalah awal sekaligus muara dari berbagai aktivitas riil yang positif, antara lain bakti sosial dan berbisnis yang sehat.

Kaskus memang luar biasa sejak dulu. Ada dua forum yang “legendaris”, yaitu bb17 dan Fight Club. Di dalam “fight club” misalnya, didiskusikan berbagai isu dan informasi dengan bebas. Namun karena penerapan dua Undang-undang, yaitu UU Informasi dan Transaksi Elektronik dan UU Pornografi, kedua forum ini kemudian “dilepas”. Untuk Fight Club kini sudah diganti dengan DC, Debat Club, namun derajat kebebasan diskusinya sudah menurun dibandingkan dengan Fight Club. Dilepasnya dua forum ini juga kemungkinan dikarenakan semakin banyaknya dana yang diputar dalam forum jual-beli. Bisa dikatakan forum jual beli di kaskus adalah praktek bisnis online paling ramai di Indonesia. Kemudian Kaskus dikelola oleh perusahaan bernama PT Darta Media Indonesia.

Tentu saja terdapat forum yang paling ramai dikunjungi di Kaskus sekarang ini. Forum lounge adalah yang paling ramai karena disinilah kaskuser berkumpul dan forum ini merupakan “jalan masuk” untuk menelisik informasi di dalam forum yang lain. Di dalam forum “Berita dan Politik” misalnya, kita bisa mendapatkan informasi yang berbeda atau lebih dahulu dibandingkan dengan media umum. Informasi yang diberikan oleh berbagai forum yang lain pun tak jarang memberikan informasi yang lebih cepat. Hal lain yang juga menarik untuk diperbincangkan adalah mekanisme dan istilah yang digunakan Kaskus untuk mengatur informasi yang dibagi dan dirayakan tersebut. Untuk istilah misalnya, siapa yang tidak kenal dengan istilah “pertamax” untuk menunjukkan komentar pertama atas suatu posting atau thread? Istilah ini malah lebih populer dibandingkan dengan istilah aslinya yang merupakan salah satu produk dari Pertamina. Mekanisme posting misalnya memunculkan istilah “cendol” dan “bata merah” yang menunjukkan thread itu disenangi atau tidak disenangi.

Banyak kisah yang unik dan “lucu” dari aktivitas kaskuser (anggota komunitas Kaskus) yang bisa dilacak sendiri di situsnya. Namun ada satu yang luar biasa, ada seseorang yang menjual kapal tanker melalui forum jual beli. Setelah diverifikasi, ternyata penjualan itu serius. Posting bagus dan unik juga muncul tiap hari walau ada juga posting aneh dan merupakan “klon” dari posting lain. Kloning ini adalah sisi lain dari Kaskus karena kaskuser yang bisa memberi “nilai”, cendol atau bata merah, adalah kaskuser yang sudah memiliki 2000 postingan.

Walau banyak kelebihan atau kebaikan yang diberikan oleh Kaskus, atau juga berbagai fungsi dari Internet lainnya, tentu saja ada hal yang negatif. Leburnya diri dalam komunitas adalah salah satunya. Internet adalah media terkuat dalam mewujudkan apa yang disebut oleh Marshall McLuhan, “extension of human”. Makna aslinya memang digunakan untuk media massa di mana manusia “meluaskan” dirinya, yaitu pemikirannya. Namun untuk media baru, komunitas maya, media bisa menjadi perluasan dari tindakan, atau paling tidak mengawali sebuah tindakan. Bila pada akhirnya, komunitas maya itu meleburkan individu sepenuhnya, berarti media justru mematikan eksistensi kedirian yang bertolak belakang dengan visi awal media baru.

Banyak contoh yang menunjukkan bagaimana individu malah kehilangan dirinya ketika berkumpul dengan banyak individu lain. Individu tersebut menjadi kurang memperhatikan dirinya sendiri, melainkan bagaimana bertindak sesuai dan sejalan dengan kumpulan individu lainnya. Individu akhirnya tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan dan berkontemplasi tentang dirinya sendiri. Pada titik ini kedirian dilepas untuk mengkonfirmasi kolektivitas.

Hal lain yang juga mengemuka di Kaskus adalah semakin tingginya kesenjangan antara yang memahami dan individu yang kurang memahami konsekuensi informasi di dunia maya. Bukan hanya pada arti penting sebuah informasi, melainkan juga teknis mendistribusikan dan mencari keuntungan dari informasi tadi. Pihak-pihak yang mampu memanipulasi informasi dan mencari keuntungan darinya bisa jadi masuk ke dalam berbagai komunitas maya, termasuk di Kaskus dalam forum jual beli. Walau Kaskus sudah menerapkan mekanisme yang berusaha meminimalisir “penipuan” dengan KasPay dan tim khusus yang dinamakan “satpam”, tetap saja pihak-pihak yang paham namun tidak bertanggung-jawab ini hadir terus bila pemahaman di level individu tidak muncul dengan baik.

Di atas semuanya, Kaskus memang fenomenal. Tidak ada yang menyangsikan hal tersebut. Tetapi membuat yang fenomenal itu bermakna secara lebih luas dan positif pada masyarakat Indonesia dan memperkuat pemahaman media baru pada kita semua adalah tantangan ke depan. Media baru, terutama Internet, adalah jembatan emas bagi diri dan kumpulan orang yang tidak saling meleburkan, juga jembatan bagi kita untuk menuju kondisi-kondisi yang lebih baik, indivual maupun kolektif.

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...