Selasa, 28 Februari 2012

Drew - Sing with Drew

Seperti halnya teks media yang lain, teks musik rekaman atau musik populer dapat dikaji melalui tiga lapis pemaknaan. Lapis pertama adalah pemakna atau penakar merujuk langsung pada isi teks. Pada lapis ini kita juga mesti memahami bahwa teks media adalah apapun isi media yang bisa kita "tangkap" dan maknai, mulai dari teks tertulis, gambar diam, ataupun gambar bergerak. Pada lapis kedua, kita memaknai teks melalui "pisau analisis" lain, misalnya memahami lagu-lagu cinta melalui konsep "identitas" yang cair. Lapis terdalam, lapisan makna ketiga adalah aktivitas memaknai yang tidak lagi merujuk langsung pada teks, melainkan isi teks tersebut memberikan impresi yang bisa jadi tidak berhubungan langsung dengan teks. Impresi biasanya berkaitan dengan kenangan, pengetahuan, dan pengalaman si pemakna.

Teks musik rekaman adalah teks yang paling "cair" karena basis utama struktur teks ini adalah suara, aksesnya individual, dan mengutamakan pada kepuasan personal dan emosional. Apalagi, biasanya pemakna teks musik populer yang tidak memiliki pengetahuan tentang musik ataupun kecakapan bermusik, sehingga biasanya lapis ketiga ini yang diutamakan. Atau bila merujuk pada lapis pertama dan kedua, biasanya yang dimaknai terutama adalah aspek lirik bukan musiknya.

Inilah yang saya lakukan untuk album Drew yang berjudul "Sing with Drew". Ketika kita merujuk langsung pada lirik, akan langsung terbaca dan terjelaskan bahwa band ini berbicara tentang cinta dalam formatnya yang paling biasa. Musik yang hadir juga musik yang biasa kita dengar walau tidak sekacangan lagu menye-menye yang berbeda. Justru di sinilah letak kelebihan dari band ini, mengangkat lagi hal biasa sehari-hari dengan cara-cara sederhana yang sudah dikenal, sekaligus enak didengar.

Relasi dua orang dalam konteks cinta ditinjau secara biasa. Kegundahan eksistensial ketika menyintai, rasa cinta yang dalam sampai takut pada kehilangan, juga idealitas dalam memandang mitra cinta. Hal-hal semacam itulah yang muncul. Hal yang biasa, normal, dan tafsir yang umum atas relasi cinta, entah dengan cara bagaimana tetap menarik untuk didengarkan. Membuat kita menyadari hidup ini terbangun dari banyak hal biasa dan tetap menarik untuk dimaknai.

Daftar lagu:
1. Stay with Me
2. Radio
3. Yang Ini untuk Kamu
4. High
5. Dia
6. Siapa Bilang
7. One More Time
8. Terlalu Berharap
9. I Love You Too
10. Aku Takut Jatuh Cinta Lagi
11. Lagu No 11

Sabtu, 25 Februari 2012

Apa Itu Filsafat?

Sebelum kita mendiskusikan filsafat (ilmu) komunikasi sebaiknya kita mendiskusikan terlebih dahulu definisi filsafat dan filsafat ilmu. Pada tulisan kali ini akan kita diskusikan dulu definisi filsafat. Apa itu filsafat? itulah pertanyaan awal yang bisa kita ajukan. Banyak definisi mengenai filsafat tetapi yang terpenting adalah kita mengajukan pertanyaan. Kita bertanya: apa itu filsafat? berarti kita sudah mulai berfilsafat.

Definisi filsafat lumayan banyak, paling tidak kita bisa mendefinisikan filsafat dalam tiga pengertian. Pertama, filsafat adalah sikap bertanya. Bertanya atas segala sesuatu. Karena  itulah filsafat selalu dimulai dengan pertanyaan dan seringkali diakhiri dengan pertanyaan kembali. Filsafat adalah pertanyaan, bukan pernyataan. Filsafat karena mengutamakan pertanyaan dapat disimpulkan sebagai sebuah pemikiran yang terbuka. Dengan begitu, filsafat berbeda dengan ideologi dan dogma yang cenderung tertutup. Ideologi dan dogma cenderung tertutup dan menganggap kebenaran yang telah dicapai sebagai sesuatu yang telah "selesai" dan diterima dengan utuh penuh. Hal yang berbeda terjadi dengan filsafat, dan ilmu pengetahuan pada umumnya, bahwa kebenaran tidak pernah selesai dan mesti diupayakan terus menerus.

Kedua, filsafat dapat didefinisikan sebagai rasa cinta pada kebenaran. Namun cinta di sini bukanlah sesuatu yang statis melainkan dinamis, yaitu suatu upaya dan dorongan terus menerus untuk menemukan kebenaran. Dengan demikian, filsafat dapat dimengerti sebagai upaya, proses, metode, cara, dambaan untuk terus menerus secara konsisten mengejar kebenaran. Hal ini kemudian memunculkan sikap yang kritis atas realitas bila tidak lagi dianggap benar.

Definisi yang terakhir adalah filsafat juga berarti pemikiran tentang pemikiran atau berpikir tentang berpikir. Ketika seseorang berpikir maka dia berdialog intens dengan dirinya sendiri. Dialog tersebut dinamis dan berwujud pertanyaan terus menerus mengenai berbagai ide dan konsep, terutama ide dan konsep tentang ilmu yang dia pilih untuk dipelajari. Dengan demikian, seorang filsuf adalah orang yang selalu bertanya untuk mendapatkan kebenaran. Hal ini sama dengan anak kecil yang terus menerus bertanya tentang berbagai hal. Filsuf dan anak kecil adalah orang-orang yang antusias dengan kehidupan dan memikirkan hidup dengan sebaik-baiknya. Cara untuk terus bertanya dengan antusias inilah yang menjadikan filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan, bukan hanya karena filsafat merupakan ilmu pengetahuan tertua, namun karena filsafat selalu bertanya, sebab ilmu pengetahuan apa pun pasti dimulai dengan pertanyaan.

Pada akhirnya filsafat mengajak kita untuk mempertanyakan, menyoal, mengkaji dan mendalami hidup ini  dalam semua aspeknya dengan sebaik-baiknya. Seperti yang dikatakan oleh Socrates bahwa hidup yang tidak dikaji adalah hidup yang tidak layak dihidupi, juga seperti apa yang dikatakan oleh Descartes bahwa kita berpikir maka kita ada. Bagaimanapun juga, selama kita hidup filsafat akan selalu diperlukan karena kita berpikir dan merefleksikan kehidupan ketika menjalani hidup.

 

Selasa, 21 Februari 2012

LLW - Love Life Wisdom

Album ketiga yang agak terlambat saya dengarkan dan ternyata bagus dari tahun 2011 kemarin adalah album LLW, "Love Life Wisdom". Album ini berjudul sejalan dengan singkatan nama belakang tiga pemusik yang menciptakan album ini, (Indra) Lesmana, (Barry) Likumahuwa, dan (Sandy) Winarta. Saya bukanlah pecinta jazz sejati namun setelah mendengarkan album ini ada semacam optimisme, bukan karena pada teks yang ditawarkan lewat ketujuh lagu, namun lebih pada kolaborasi penghasil teks dan output yang dihasilkan.

Mengenai kolaborasi penghasil teks, musik rekaman atau musik populer adalah yang paling cair dan dinamis dibandingkan dengan teks media yang lain, semisal film dan game. Para penghasil teks dapat berkolaborasi dengan relatif bebas dan menghasilkan "line-up" yang variatif. Indra Lesmana misalnya, bisa hadir pada beberapa tim penghasil teks atau band dengan output karya yang berbeda-beda.

Ketujuh lagu yang muncul di album ini juga tidak ada yang membosankan, kecuali lagu "Love Life Wisdom" yang muncul sampai dua kali, yang sedikit membosankan karena tidak ada perbedaan yang signifikan antara "Love Life Wisdom" versi pendek dengan versi panjang. Lima lagu yang lain adalah lagu-lagu bagus yang enak didengarkan sembari menjalani hari yang berat. Kehadiran vokal Dira Sugandi di lagu "Love Life Wisdom" adalah hal yang paling mengasyikkan di album ini, juga untaian nama para maestro jazz Indonesia di lagu "Strecth N Pause" dalam format rap yang enak didengar sekaligus memberikan informasi, apalagi kita baru saja kehilangan maestro piano, Bubi Chen. Lagu ini bisa menjadi sarana untuk mengenang beliau.

Daftar lagu:
1. Back Into Sumthin
2. Stretch N Pause (feat. Kyriz Boogimen, DJ Cream, Indra Aziz)
3. Morning Spirit
4. Smooth Over the Rough
5. Friday Call
6. Love Life Wisdom (feat. Dira Sugandi)
7. Love Life Wisdom (Extended Version) (feat. Dira Sugandi

Memahami Media Baru (Bagian 5 - Selesai)

Komunikasi Publik: Memperkuat Komunikasi di dalam dan untuk Masyarakat


Media baru dipandang dengan optimisme tinggi, yaitu menempatkan kembali publik, atau dalam pengertian luas masyarakat, di dalam proses komunikasi. Komunikasi publik sendiri memiliki dua definisi. Pertama, komunikasi dalam publik, yaitu proses komunikasi yang berlangsung di dalam institusi masyarakat sipil. Berkomunikasi dalam wilayah masyarakat sipil menjadikan relasi antar individu lebih dekat dalam fungsi relasi untuk integrasi dan saling memahami, bukan untuk mencari profit atau “menguasai” individu lain. Artinya proses komunikasi yang terjadi di dalam ranah masyarakat dan dilakukan oleh individu dalam masyarakat. Motif utamanya adalah sosiokultural, yaitu mengutamakan terciptanya relasi, mengelola konflik, dan saling memahami antar kelompok dengan baik.

Kedua, komunikasi publik dapat bermakna proses komunikasi untuk publik atau bervisi kepublikan, untuk institusi masyarakat sipil. Publik adalah bagian dari masyarakat yang rasional, terbuka, dan bergerak untuk banyak orang, pelibatan dan berguna. Proses komunikasi macam ini bisa terjadi di dua wilayah yang lain, negara dan pasar, tidak hanya ranah masyarakat. Negara mesti berperan di sini, antara lain menyediakan media dan sarana pendukung yang digunakan untuk masyarakat. Untuk media penyiaran, apa yang sudah berusaha kita bentuk, lembaga penyiaran publik, adalah contoh terbaik. Untuk media baru, kita masih menunggu strategi yang bagus dari pemerintah, bagian dari negara, untuk membuat masyarakat mendapatkan haknya atas informasi melalui ketersediaan “kanal” yang memadai.

Untuk meningkatkan kualitas pada isi media baru, paling tidak ada dua hal yang mesti diperhatikan. Pertama, produser atau kreator menyadari sepenuhnya makna remediasi yang menjamin dua esensi komunikasi tercapat, keterbukaan dan otonomi individu, sekaligus relasi yang memadai dengan individu lain. Isi media internet jangan sampai hanya “membicarakan” diri sendiri atau lebur dalam kepentingan pihak lain. Relasi yang memberdayakanlah yang berusaha diwujudkan melalui isi media internet.

Kedua, semua jenis media baru, terutama internet, berpotensi untuk memperkuat publik asalkan kita mengetahuinya. Dengan demikian, isi media baru diarahkan pada pelibatan individu untuk saling berkolaborasi satu sama lain sesuai dengan premis awal bahwa internet adalah media terbuka. Bila isi media internet ternyata bermotif politis atau pun ekonomi, fungsi sosiokulturalnya tetaplah dimasukkan. Bila sudah lebih mengutamakan komunikasi publik, maka “teman” yang tercipta akan lebih banyak. Kembali pada kutipan dari film the social network di awal tulisan, apalah artinya mempunyai sedikit musuh bila kita punya begitu banyak teman? dan teman yang banyak akan berarti lebih bila semua kolaboratif mencapai tujuan bersama dengan bantuan media baru yang telah “terbuka” dari awal kehadirannya.

Walau optimisme sangatlah kuat terhadap media baru, bukan berarti media baru tidak memiliki persoalan bagi kita sebagai individu dan bagian dari publik. Apa sesungguhnya persoalan di dalam media baru? Paling tidak ada dua persoalan penting yang penulis sebut sebagai “tegangan”. Bisa jadi memang tegangan tersebut memang persoalan, namun bisa jadi juga tegangan tersebut adalah potensi atau kesempatan baru yang diberikan oleh media baru.

Internet dan semua jenis media baru, memang potensial memberikan kontribusi positif pada kehidupan bersama. Walau memiliki efek negatif, kita harus tetap optimis pada media baru. Memilih bersikap optimis atas peran media baru dalam kehidupan bersama bukan berarti media baru tidak memiliki efek negatif. Paling tidak ada dua hal penting yang mesti diperhatikan, yaitu “tegangan realitas” dan “tegangan identitas” dari penggunaan media baru.

Pertama, tegangan realitas, di mana pengguna media baru memiliki kemungkinan tidak dapat memadukan realitas sosial sesungguhnya dengan realitas media, baik lama dan baru. Hal ini bisa terjadi bila seorang individu yang mengakses media baru merasa menemukan hal-hal baru yang mengasyikan di dunia barunya tersebut dan menganggap bahwa kehidupan yang sesungguhnya kurang mengasyikkan. Agar tegangan realitas ini tidak terjadi, sepertinya para pengguna media baru, beberapa komunitasnya, sudah menemukan cara mengatasinya walau pada kasus lain realitas maya di media baru justru menjadi lebih penting dari realitas sesungguhnya. Berkomunikasi di dunia maya sebaiknya dipadankan dengan berkumpul secara rutin, misalnya melalui “temu blogger” atau melalui “kopdar” sesama anggota komunitas maya tersebut. Seperti halnya media lama, media baru hadir untuk menjadi “perluasan” manusia. Bila pada media lama menjadi perluasan pikiran manusia seperti kata Marshall McLuhan, pada media baru, perluasan manusia itu bahkan menjadi perluasan atas eksistensinya pada dunia maya.

Kedua, tegangan yang terjadi adalah tegangan identitas. Tegangan kedua ini bisa terjadi ketika individu tidak cukup kuat meleburkan diri sekaligus berposisi ketika berinteraksi dengan komunitasnya. Idealnya, individualitas tidak “dihilangkan” oleh kolektivisme, begitu pula sebaliknya. Seringkali ada yang beranggapan bahwa individualitas mesti dileburkan sepenuhnya di dalam komunitas. Atau hal yang negatif lainnya, memaksakan kedirian personal terlalu masuk ke dalam komunitas. Idealnya, media semestinya menjembatani diri dan kelompok dalam berkomunikasi. Media baru memperluas eksistensi seseorang individu bukannya malah “mengamputasinya”. Pada titik inilah menurut penulis media baru berperan lebih baik dibandingkan media massa atau media lama, sebab tanpa perluasan eksistensi ini, tidak akan muncul partisipasi sosial kolektif.

Tegangan identitas dan tegangan realitas pun saling mempengaruhi satu sama lain. Kemudian ada semacam kekhawatiran bagaimana media baru justru menghilangkan relasi dalam dunia sesungguhnya. Banyak pihak melihat bahwa anak muda Indonesia sangat aktif di dunia maya, namun tidak demikian halnya untuk keaktivan di dunia nyata. Menurut penulis, bukan berarti mereka tidak menghargai dunia nyata dan relasinya, tetapi dalam kasus kita di Indonesia, kita memang lebih nyaman berinteraksi dalam dunia maya di mana perbedaan dan keberagaman dihargai dan dianggap sebagai rahmat. Sementara di dalam dunia nyata kita, perbedaan justru melahirkan konflik yang terkadang membahayakan inidvidu. Apresiasi terhadap perbedaan di dalam dunia nyata tidaklah sebaik di dunia maya. Inilah hal-hal yang belum selesai dan masih berkembang berkaitan dengan perkembangan media baru dan implikasinya bagi interaksi sosial. Kita perlu memperbaiki kondisi kehidupan, tidak hanya di dunia maya, namun di dunia nyata kita, yang selama ini cenderung kita terima apa adanya.

*****




Memahami Media Baru (Bagian 4)

Jaringan komunikasi yang muncul sebagai akibat isi pesan yang interaktif dan teknologi informasi yang memungkinkannya bisa merangkai tiap pengakses. Bisa dikatakan karakter ketiga inilah yang terpenting yang tidak dimiliki jenis media konvensional. Karakter jaringan komunikasi yang tumbuh di sini sangat dekat dengan sebuah konsep yang baru, yaitu partisipasi yang semakin diharapkan dari media baru. Partisipasi tersebut tidak hanya berupa kesukarelaan namun bisa bermotif. Hal inilah yang disebut oleh Henry Jenkins sebagai budaya partisipasi. Bersifat sukarela atau bermotif tertentu, media baru membawa kita pada partisipasi yang lebih kentara. Kita mencari komunitas melalui media baru, kemudian bersama-sama dengan anggota komunitas berbuat sesuatu.

Lebih jauh lagi, partisipasi tersebut membawa sesuatu yang “menular”, terutama hal-hal positif. Media baru membentuk semua sisi kehidupan kita dan kita bisa menularkan kebahagiaan, dan hal-hal positif lainnya melalui media baru. Hal inilah yang ditangkap oleh Christakis dan Flower di dalam buku mereka yang berjudul Connected (2010). Banyak contoh bagaimana seseorang berkembang karena pengaruh positif yang didapatkan oleh media baru. Bahkan media baru berbentuk game pun memberikan karakter partisipasi yang luar biasa. Partisipasi di dalam game merupakan aktivitas utama dari pengaksesnya walaupun motif utamanya adalah mencari hiburan.

Budaya partisipasi yang paling kuat muncul di dalam media game. Game tidak hanya menjadikan produsen atau kreator semakin dekat dengan pengguna dan pengakses. Game juga meruntuhkan apa yang telah lama berkembang di dalam telaah media, yaitu pembedaan tegas antara pesan faktual dan fiksional. Di dalam game terjadi relasi erat antara fiksi yang terkomputerisasi dan dunia nyata yang dikenalkan terus menerus. Walaupun pada akhirnya bentuk pesan fiksional adalah isi pesan utama di dalam game, aktivitas dan pembentukan identitas pemain adalah isu yang penting di dalam game. Di dalam game kita bisa membentuk identitas tertentu yang bebas berinteraksi dengan sesama pengaksesnya. Kita bisa bekerja sama dengan pihak lain dalam “menciptakan” pesan media. Pesan media game adalah pesan yang hidup dan berkembang terus-menerus. Uniknya, di luar media “permainan” ini, terutama di Indonesia, komunitas nyata juga seringkali terbentuk dan mengadakan aktivitas bertemu dengan rutin.

Kemudian internet melalui fungsi blog dan jejaring sosial menjadi sarana yang sangat baik untuk beraktivitas bersama. Untuk kota Yogyakarta, komunitas yang menggunakan media baru, terutama internet cukup banyak, mulai komunitas atas dasar ketertarikan yang sama, misalnya sama-sama senang melukis dengan visi melepaskan kepentingan pasar semisal komunitas “daging tumbuh”, sampai dengan komunitas yang sejak awal memang bermotif sosial, seperti “coin a chance”, yang bertujuan membantu anak-anak kurang mampu dalam menempuh pendidikannya, serta komunitas blog “Cah Andong” yang seringkali berkumpul dan melakukan berbagai aktivitas sosial bersama. Berbagai komunitas ini tidak hanya berasosiasi demi kepentingan personal tetapi juga melakukan berbagai aktivitas sosial yang berguna bagi masyarakat luas.


Ciri relasi pada jaringan komunikasi fase awal ini terbentuk karena individu direlasikan oleh media. Relasi yang juga membuat individu “berjarak” dengan individu yang lain. Media melakukan fungsi mediasi bagi kita. Fungsi mediasi tersebut juga beragam, yang kita kenal sebagai metafor mediasi. Metafor mediasi secara lengkap adalah sebagai berikut: jendela (window); cermin (mirror); filter or gatekeeper; penanda (signpost), pembimbing (guide), penerjemah (interpreter); forum or platform; disseminator; interlucator. Media berperan berbeda bagi individu dalam berelasi dengan individu lain dan juga terhadap realitas yang coba disampaikannya. Media bisa menjadi “jendela” bagi seorang individu dalam melihat realitas. Jendela adalah metafor di mana media membuka realitas pada individu namun apa yang diketahui dan dipahami oleh individu sangat dipengaruhi oleh bentuk “jendela” yang disiapkan oleh media.

Begitu juga dengan metafor mediasi yang lain. Dalam konteks tulisan ini, hal yang lebih penting adalah metafor mediasi diseminasi dan forum. Metafor diseminasi mengandung arti bahwa media mendistribusikan dan membantu mendefinisikan informasi kepada individu yang mengaksesnya. Sementara metafor forum menunjukkan bahwa media menjadi arena bagi bertemunya berbagai pemikiran dan perspektifnya di mana individu dapat memilih informasi yang individu perlukan dan butuhkan dari isi media.

Metafor mediasi terutama berlaku bagi media massa. Hal yang berbeda muncul dalam media baru. Media baru memperluas mediasi, bahkan juga mengubah makna mediasi secara radikal. Mediasi karena perkembangan media baru diperluas menjadi konsep (re)mediasi. Bila pada media lama, individu menjadi pihak yang berbeda atau berjarak, pada media baru, individu “melebur” menyatu dengan media. Individu ketika mengakses media massa menjadi orang kedua dan ketiga, sementara ketika mengakses media baru menjadi orang pertama.

Konsepsi mediasi oleh komputer bagi proses komunikasi sedikit dikritik oleh Bolter dan Grusin, bahwa media lama atau media massa memang memberikan fungsi mediasi, namun media baru memberikan fungsi yang lebih luas, yaitu remediasi. Bila mediasi memunculkan apa yang disebut sebagai realitas media, media baru memunculkan realitas virtual. Walau pada awalnya realitas virtual dianggap sebagai realitas semu, pada akhirnya kini sebagai akibat perkembangan teknologi, realitas virtual pun bisa membentuk realitas yang riil melalui jaringan komunikasi yang terkait erat. Interaksi antar individu pada game online misalnya, bukanlah relasi semua, melainkan nyata dengan identitas yang berbeda dari identitas nyata.

Remediasi (remediation) sendiri tidaklah monolit pemaknaannya. Remediasi terdiri dari dua jenis, yaitu imediasi (immediacy) dan hypermediasi (hypermediacy). Imediasi secara harafiah bisa diartikan sebagai “tanpa mediasi” walau sebenarnya mediasi tetap terjadi. Imediasi meleburkan diri individu di mana interaksi bisa lebih bebas dilakukan. Contoh yang paling terlihat adalah dalam isi pesan game sebagai media baru. Ketika individu memainkan game komputer, individu tersebut tidak lagi mengakses informasi ataupun pesan, namun “tampil” di dalam pesan media tersebut. Sementara hypermediasi memiliki pengertian mediasi yang berlebih. Melalui media baru kita bisa mengakses pesan dengan beragam cara, dan dalam beberapa hal, kita bahkan bisa memilih tipe interaksi yang akan kita lakukan melalui media baru. Sekali lagi, media game dapat menjadi ilustrasi yang bagus. Ketika individu memainkan game komputer, dia dapat memilih informasi utama dan informasi pendukung dalam perspektif yang dia inginkan.

Remediasi inilah yang kemudian ikut membentuk jaringan komunikasi sosial seperti yang kita kenal sekarang. Jejaring komunikasi sosial tersebut kemudian berkaitan erat dengan tipe media baru yang kini kita kenal walau kemudian kita lebih terfokus pada tipe yang keempat. Empat tipe dari media baru adalah sebagai berikut: interpersonal communication media, interactive play media, information search media, dan collective participatory media. Individu kemudian dilihat dari motifnya “berada” di dalam media baru, untuk berinterkasi dengan individu lain secara intens dan langsung dalam “media komunikasi interpersonal”, ingin bermain secara interaktif dan langsung dalam “media permainan interaktif”, ingin mencari informasi apa pun dalam kuantitas tertentu dalam “media pencari informasi”, atau individu ingin merangkaikan aktivitas sosialnya dengan individu lain dalam tindakan nyata seperti motif utama dalam “media partisipasi kolektif”.

Dengan demikian, ketika kita berusaha menghasilkan isi media internet, jenis remediasi berkaitan dengan tipe media baru tersebut harus kita perhatikan dengan detail. Kita bisa mengklasifikasikan terlebih dahulu tipe informasi seperti apa yang ditawarkan, juga tipe individu yang mungkin mengakses isi media kita. Walau begitu, secara alamiah sebenarnya distribusi informasi di dalam internet sangat mungkin bersifat kepublikan. Artinya, proses komunikasi yang terjadi berpotensi besar untuk mewujudkan komunikasi publik.

bersambung...

Sabtu, 18 Februari 2012

Burgerkill - Venomous

Album bagus kedua di tahun 2011 kemarin selain album milik Luky Annash, 180 Derajat, adalah album Venomous karya Burgerkill. Album ini terlewati ketika saya mencoba menyusun daftar 15 album terbaik tahun 2011. Hal tersebut saya sesali karena memang ketiga album bagus ini saya dapatkan belakangan setelah saya menyusun tadi. Tetapi album bagus tetaplah album bagus, masuk daftar atau tidak, tepat waktu atau “terlambat” didengar.

Saya bukanlah penyuka musik metal dengan semua variannya walau saya agak akrab dengan musik keras semisal Nine Inch Nails. Bagi saya musik “keras” atau “lembut” sama saja karena keduanya termanifetasi dalam teks musik rekaman. Dalam konteks tertentu, menurut saya, musik metal juga “lembut” karena bagaimanapun juga merupakan sarana penyampaian ekspresi dan opini.

Saya juga berusaha menakar album ini dengan semata-mata terfokus pada teks medianya bukan pada pembuat teks. Pada titik ini album Venomous berbicara tentang kegundahan personal sebagai akibat kondisi hidup bersama yang karut marut di Indonesia. Karut marut karena orang-orang yang semestinya mengurusi negeri malah mengorbankan rakyatnya sendiri, orang-orang yang memanipulasi imaji dengan berpura-pura baik tetapi ternyata penghancur yang luar biasa. Juga karena kondisi hidup yang kian brutal dan menghancurkan kemanusiaan.

Simak lirik dari lagu pertama “Into the Tunnel” dengan musik yang sangat bagus, dengan suara gitar bagai rentetan senapan mesin. Lagu yang begitu mengundang pada semua lagu di album ini...when no one can be trusted...and all insanities are threatening. Juga lirik lagu kedua, “Age of Versus”, ...how many lives you need? Nothing has changed...how many victims you need? How many lives you need? There’s never enough...never enough...I wasn’t rised to shut my mouth...In the age of versus. Pun dengan lagu berikutnya, “Under the Scars”, berbicara tentang kejumuhan itu...sometimes there’s no words...to explain whay you’ve done...acting like a God and smell like an animal...you keep serving me with your trick and hiding behind highest brick....Makna yang mirip masih muncul di lagu kelima, “House of Greed”.

Walau begitu, sedikit banyak kita bisa menebak dengan sedikit jelas kelompok mana yang disasar oleh Burgerkill lewat lagu “My Worst Enemy”. Jenis kelompok yang ramai dibicarakan saat ini, kelompok yang ditolak di bumi Kalimantan Tengah.... There’s too much cracked white frames these days...in the name of religion with disgusting ways...violence in your best part to destroy the opponent...determining who’s good or bad, like the holy man...and deciding who’s gonna live or die....

Kondisi sosial atau hidup bersama tak hanya memunculkan kegundahan dan amarah, di album ini muncul juga semacam kondisi eksistensialis dan solidaritas. Pada lagu “Through the Shine” misalnya muncul kondisi memilih antara hidup dan mati yang sepenuhnya merupakan kondisi rasional dan riil. Sementara itu, solidaritas muncul di lagu “For Victory”. Lagu yang optimisi mengajak “bertarung” bersama melawan musuh yang terlihat dan tak terlihat. Solidaritas yang lebih murni dan syahdu muncul pada lagu “This Coldest Heart”, instrumental yang ditujukan untuk para korban perang dan bencana di seluruh dunia. Solidaritas syahdu dalam lingkup yang lebih kecil juga muncul pada lagu penutup yang merupakan “lagu tersembunyi”, yaitu “An Elegy”. Lagu penutup yang bagus yang dipersembahkan untuk dua rekan mereka yang telah tiada...there’s something I’ve been mising...I can’t hold my head up high...It’s getting really hard to laugh and realize that you’re already gone....start a new beginning...back to track and learning until we meet again....

Daftar lagu:
1. Into the Tunnel
2. Age of Versus
3. Under the Scars
4. Through the Shine
5. House of Greed
6. The Coldest Heart
7. For Victory
8. My Worst Enemy
9. Only the Strong 
10. An Elegy (hidden track)

Jumat, 17 Februari 2012

Memahami Media Baru (Bagian 3)

Jaringan Komunikasi Sosial, Konsekuensi Utama Media Baru

Proses komunikasi dapat diamati dalam dua perspektif. Pertama, cara pandang esensial yang melihat tujuan utama proses tersebut. Pilihan dari motif proses komunikasi bisa meliputi kedua alasan esensial atau salah satunya saja. Di dalam proses komunikasi kita ingin membuat individu lain mengetahui dan memahami kita. Ini adalah motif esensial pertama. Kedua, motifnya adalah kita ingin mengetahui dan memahami individu lain. Proses yang ideal adalah tujuan esensial tersebut tercapai pada keduanya, namun biasanya berjalan pada satu motif saja.

Kedua, proses komunikasi dapat diamati berdasarkan arah dan dinamika prosesnya. Dari sisi dinamika prosesnya, komunikasi dapat diklasifikasikan dalam tiga model, yaitu proses komunikasi satu arah atau linear, dua arah atau timbal-balik, dan banyak arah atau seringkali disebut sebagai proses komunikasi yang dinamis. Tidak harus proses yang satu arah tidak baik. Dalam beberapa kasus, proses komunikasi satu arah terkadang diperlukan oleh kita. Proses komunikasi banyak arah atau dinamis adalah proses komunikasi yang menjadi pondasi bagi terwujudnya jaringan komunikasi sosial yang kita kenal sekarang, terutama melalui media baru.

Jaringan komunikasi sosial yang kita kenal sekarang ini lebih rumit dari terma pendahulunya. Intinya, jaringan komunikasi sosial tercipta karena media. Media menjadikan tiap individu berelasi secara tak langsung melalui media massa, ataupun secara “langsung”, melalui media baru. Jaringan komunikasi sosial dalam kemasannya yang lama didedah pertama kali dalam konsep lain, yaitu difusi inovasi. Fokus utama dari terma tersebut adalah bagaimana sebuah informasi terdistribusi dan menjadi pendorong bagi perubahan sosial. Jaringan komunikasi sosial terbentuk dari banyak individu yang memerlukan informasi untuk menghasilkan pengetahuan, pemahaman, dan sikap yang “baru”. Jaringan komunikasi awal ini merangkaikan berbagai individu melalui media massa. Awalnya, difusi inovasi dipergunakan untuk memahami lebih jauh sebuah program komunikasi pembangunan di suatu lokasi di mana masyarakatnya dianggap belum maju. Namun pada akhirnya, konsep difusi inovasi digunakan lebih luas dalam bidang komunikasi yang lain, misalnya komunikasi politik dan komunikasi pemasaran.

Jaringan komunikasi sosial fase awal terbentuk karena penggunaan media massa yang menghasilkan relasi tak langsung antar individu. Relasi tersebut menciptakan jenis individu yang berbeda, mulai dari pemuka pendapat (opinion leader), individu yang menjadi rujukan bagi individu lain yang termasuk dalam jaringan, sampai dengan pemencil, individu yang relatif terasing atau mengasingkan diri dari distribusi informasi walau individu juga merupakan bagian dari jaringan komunikasi yang terbentuk. Konsep jaringan komunikasi ini memunculkan istilah realitas sosial dan realitas media yang merangkaikan “kesadaran” personal secara tak langsung.

Perkembangan media baru juga menunjukkan “struktur” pemahaman kita atas akses informasi dan pesan dalam media baru semakin berkembang lebih baik belakangan ini. Walau begitu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan semua jenis media, lama dan baru, konvensional dan interaktif, menjadi konvergen. Pada akhirnya, kini kita bisa menggunakan berbagai media, mengakses dan mendistribusikan informasi dengan lebih mudah, murah, dan cepat. Tidak hanya itu, teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju menjadikan media baru semakin canggih dari tahun ke tahun. Media baru semakin mudah dioperasikan dan dengan biaya relatif lebih murah dari waktu ke waktu. Hal ini berimplikasi pada penggunaan media baru yang semakin akrab di masyarakat. Internet terutama, kini bisa diakses lebih murah dan bisa melalui “gadget” yang beragam. Perkembangan inilah yang kemudian memunculkan jaringan komunikasi jenis baru.

Lalu, pada akhirnya media baru memberikan implikasi sosial yang positif. Media baru memberikan keleluasaan berinteraksi dengan lebih baik antar individu. Hal inilah yang disebut oleh Denis McQuail sebagai teknologi komunikasi interpersonal. Hal ini ditunjukkan pada awal dekade 2000-an di mana kita baru bisa mendapatkan media baru yang mirip dengan media lama, hanya berbeda format medianya saja. Interaksi antar pengguna sedikit sekali, bahkan tidak ada. Tak lama kemudian, sekitar dua tahun, muncullah blog untuk pertama-kali. Situs yang menyediakan pembuatan blog gratis pun menjadikan blog cepat sekali marak. Belum habis kekaguman kita pada perkembangan blog, situs jejaring sosial muncul di Indonesia. Awalnya situs jejaring sosial tidaklah sebaik sekarang dalam memberikan kesempatan untuk berpartisipasi secara sosial, namun kini semua fungsi dari internet, blog, chatting, berkirim pesan, mengunggah gambar dan video, serta games, bisa tersatukan dalam satu situs jejaring sosial. Inilah lembaran baru bagi “teknologi partisipasi kolektif” yang muncul kemudian. Blog dan situs jejaring sosial pada gilirannya mengubah pemahaman kita atas interaksi di dunia maya. Sebelumnya, relasi tersebut bisa dengan identitas semu yang dipilih namun kini identitas di dalam relasi tersebut lebih merujuk pada identitas nyata. Identitas semu kini lebih dekat dengan relasi di media game.

Partisipasi sosial kemudian dianggap sebagai perluasan dari identitas personal. Tidak terlalu penting siapa kita di dunia maya, hal yang terpenting adalah dengan siapa kita berasosiasi di dunia maya. Pemahaman ini kemudian memperluas peran teknologi dari pengakses dan pendistribusian informasi menjadi merayakan informasi dan membuatnya implementatif dalam kehidupan bersama. Secara umum, media baru kemudian diperluas menjadi memiliki efek sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang jauh melampaui fungsi awalnya. Partisipasi sosial ini membentuk jaringan komunikasi bentuk baru, yang menempatkan relasi dan tindakan sosial sebagai salah satu fungsinya.
Walau begitu, bisa dikatakan perkembangan ini pun sebenarnya masih merupakan awal karena pada perkembangan selanjutnya, media baru semakin konvergen satu sama lain. Kini kita semakin mudah memainkan game dan berinternet lewat handphone. Belum lagi perkembangan hardware yang lain semisal Blackberry dan Ipad. Singkatnya, kita akan semakin “dikejutkan” dengan berbagai perkembangan terbaru media, media lama yang semakin canggih dan media baru yang semakin membantu kita. Perkembangan ini pun sepertinya jauh dari selesai. Masih banyak “kejutan” lain yang akan diberikan oleh media baru pada kita.

Permasalahanya kemudian adalah bagaimana cara kita mengoptimalkan fungsi media baru bagi kehidupan bersama? Hal inilah yang bisa diamati dalam konsep aktivisme sosial. Ketika masa awal internet muncul, para pengguna internet seringkali digambarkan sebagai orang-orang yang “menolak” realitas sesungguhnya. Kini hal tersebut malah berbalik, walau perlu diteliti secara lebih mendalam, pengguna internet yang aktif biasanya juga aktif secara sosial. Mereka intens menggunakan internet, dan semua jenis media baru yang lain, sekaligus aktif di dalam komunitas sosial. Komunitas tersebut bisa berdasarkan kesamaan dan ketertarikan atas sesuatu, bisa juga karena mereka ingin melakukan tindakan sosial bersama.
 
Perkembangan semua jenis media baru menunjukkan gejala ini. Internet dengan fungsi jejaring sosial adalah hal yang paling mudah diamati. Interaksi antar individu semakin intens muncul di internet. Individu juga semakin terbuka dalam mengenalkan dirinya dibandingkan dengan perkembangan internet di Indonesia pada masa awal. Hal yang sama terjadi di media handphone, perbincangan berkelompok dan beragam fungsinya yang mengarahkan pada komunikasi semakin terlihat walau media handphone tetap mengutamakan komunikasi interpersonal. Terakhir, hal yang serupa terjadi di media game, game kini semakin mengutamakan kebersamaan dan gerakan fisik. Perkembangan di dalam game ini jelas merupakan antitesa dari pemahaman awal tentang game yang cenderung merupakan aktivitas personal dan non-fisikal, atau hanya berpikir.

bersambung.... 

(rujukan sengaja tidak dicantumkan)

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...