Selasa, 17 April 2012

VA - Bebi Romeo Mega Hits (2012)



*Belajar Ekonomi Politik Media - Kasus 3*

Ekonomi politik media dalam pengertiannya yang paling luas adalah kajian cara institusi media mengontrol sumberdaya dan bertahan hidup dan menjalankan aktivitas komunikatifnya. Melalui definisi ini bisa kita lihat cara industri musik populer di Indonesia bertahan hidup di tengah kondisi yang terus menekan. Kondisi yang paling menekan itu adalah diabaikannya penegakan hak cipta dan hak intelektual dengan maraknya pembajakan di mana-mana di seluruh pelosok Indonesia. Mungkin hanya di Indonesia yang pemerintahnya mencanangkan ekonomi kreatif tetapi membiarkan album-album musik bajakan, juga film, game, dan program komputer, dijual di mana-mana, bahkan di mal-mal besar dan pameran pembangunan yang diselenggarakan pemerintah sendiri.

Insan musik populer di Indonesia sesaat menemukan cara yang dianggap sebagai jalan keluar untuk keluar dari kondisi yang karut marut, yaitu dengan penjualan RBT melalui industri telekomunikasi. Sayangnya, cara inipun kemudian terpaksa ditinggalkan karena maraknya pencurian pulsa melalui layanan premium seluler. Penjualan RBT kemudian bukan lagi dilihat sebagai cara untuk terus "bertahan hidup" walau sejak awal penjualan RBT sendiri telah menimbulkan polemik. Akhirnya cara lain yang ditempuh, pendapatan pelaku musi populer melalui performance terus digeber dan satu cara lain "ditemukan", bekerja sama dengan distributor yang bukan berasal dari industri musik rekaman. Dua jalur distribusi yang kini dikenal adalah melalui gerai makanan cepat saji dan jaringan minimarket.

Dua jalur distribusi inilah yang persis digunakan oleh Bebi Romeo dan timnya. Dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, muncul dua album yang berjudul Bebi Romeo Mega Hits yang didistribusikan oleh Alfamart dan Bebi Romeo mengggunakan jalur distribusi KFC (Kentucky Fried Chicken). Sebelumnya album tribute KLa Project bisa dinyatakan berhasil ketika menggunakan jalur distribusi Indomaret, juga dengan beberapa penyanyi yang menggunakan jalur KFC, semisal Agnes Monica dan Opick, sehingga lahirlah apa yang dikenal sebagai "penyanyi ayam goreng".

Dari sudut pandang ekonomi politik media, hal ini sah-sah saja asalkan kepentingan publik atau masyarakat tetap didahulukan dan pemerintah tidak abai terhadap kondisi kemediaan yang ada. Kenyataannya, industri musik populer masih tetap tidak ditopang oleh regulasi dan implementasinya yang masih jauh dari kata memadai. Pada titik ini bisa dikatakan aktivitas ekonomi politik ketiga, strukturasi, termanifestasi dengan baik. "Agen-agen" di dalam industri musik rekaman mendapatkan strategi untuk mengelola sumberdaya dengan lebih baik sekaligus bisa bertahan untuk hidup lebih lama. "Struktur" produksi, distribusi, dan konsumsi yang baru sudah muncul dan dimanfaatkan dengan lebih baik. Tinggal filsafat moral  dari aktivitas di bidang musik populer yang mestinya semakin diwujudkan. Karena cara baru sudah ditemukan dan penjualan album secara nyata dan potensil meningkat lagi, para pelakunya kemudian menggunakan formula yang relatif sama, menyanyikan lagu-lagu lama yang sudah dikenal masyarakat pendengar sekaligus menghemat biaya produksi. Bila cara semacam ini terus berlangsung, kemungkinan besar musik Indonesia tidak menjadi lebih baik atau malah mundur kembali ke belakang: produk musik rekaman semata-mata hanya komoditas yang tidak berkualitas.

Daftar Lagu album VA - Bebi Romeo Mega Hits (2012)
1. Krisdayanti - Pernah Denganmu
2. Faby feat. Alfred Wa - Belum Waktunya
3. Yasmine Wildblood - Patah Hati
4. 7 Icons - Cinta Cuma Satu
5. Hercules - Lelaki Untukmu
6. Marshanda - Beri Aku Cinta
7. Afgan - Bunga Terakhir
8. Fantastica - Sendiri
9. Indah Dewi Pertiwi - Jangan Sedih
10. Andi Rianto Magenta Orchestra - Bunga Terakhir (Orchestra)



Daftar lagu album VA - Bebi Romeo (2011)
1. Ahmad Dhani - Sadis
2. The Virgin - Selamat Jalan Kekasih
3. Antik - Cinta Sejati
4. Mulan Jameela - Mencintaimu
5. Smash - Cinta Kau dan Dia
6. Elven - Selama Kau Mau
7. Juliette - Perbedaan
8. Hercules - Lelaki Untukmu
9. Donita - Hambar
10. Adha Rezza feat. Ahmad Dhani - Selingkuh Lagi
11. Marshanda - Taubat

Dea Mirella - My Melody (2011)


*Belajar Ekonomi Politik Media - Kasus 2*

Aktivitas spasialisasi dari ekonomi politik media atau tindakan komunikatif untuk mengatasi ruang dan waktu sangat terlihat di album ini. Semua lagu di album ini adalah lagu yang pernah populer sebelumnya. Dengan demikian, secara eksplisit tujuan konsumen pesan media yang menjadi komoditas ini adalah para pendengar yang mengenal dan suka dengan lagu-lagu tersebut. Kenangan adalah komoditas yang memiliki nilai tukar tinggi bagi penggemar musik rekaman di Indonesia. Karena itulah, album kompilasi lagu-lagu, berbahasa Indonesia dan Inggris, tak pernah berhenti diproduksi dan selalu habis pula di pasaran. Apalagi biaya produksi untuk album berisi lagu-lagu lama kemungkinan besar tidak semahal album yang berisi lagu-lagu lama sebab produser album tidak lagi mesti mencari pencipta lagu yang handal dan mampu menghasilkan hit. Produser hanya perlu mencari lagu-lagu lama, membayar royalti, dan album siap diproduksi. Pada titik inilah, pemerintah sebagai regulator memegang peranan penting. Pertanyaannya, apakah pemerintah menjalankan regulasi dengan baik, regulasi yang melindungi masyarakat pendengar dan juga insan musik sendiri?

Karakter keempat dari ekonomi politik media, filsafat moral, yang nama lainnya adalah kepentingan publik belum sepenuhnya diterapkan dengan baik dalam konteks musik populer Indonesia. Dokumentasi album-album lama demi kepentingan pembelajaran masyarakat, penegakan hak cipta dan intelektual, dan dana pensiun bagi seniman musik, belum sepenuhnya terwujud dengan baik.

Album ini menyenangkan untuk didengarkan, terutama bagi pendengar yang memandang lagu sebagai wahana pemberkas kenangan yang paling baik dibandingkan dengan pesan media yang lain. Lagu-lagu yang merupakan lagu kelas satu, semisal Merpati Putih dan Satu Jam Saja, tetap saja enak didengarkan ketika dinyanyikan Dea Mirella. Lagu-lagu bukan kelas satu pun tetap enak, seperti Seberkas Sinar yang dipopulerkan oleh Nike Ardilla, dan Nostalgia SMA, yang dipopulerkan oleh Paramitha Rusady.

Daftar lagu:
1. Seberkas Sinar
2. Biarlah Sendiri
3. Rela
4. Merpati Putih
5. Kembali
6. Satu Jam Saja
7. Aku yang Mengalah
8. Januari yang Biru
9. Tirai
10. Nostalgia SMA

Judika - Setengah Mati Merindu (2011)


*Belajar Ekonomi Politik Media - Kasus 1*


Pesan musik populer adalah sebentuk produk media yang paling "cair". Suatu lagu yang termaktub di dalam suatu album, dapat dimasukkan ke dalam satuan pesan musik populer yang lain. Juga dapat dinyanyikan dan diinterpretasi kembali. Inilah yang bisa kita lihat di album Judika ini. Salah satu penarik utama dari album ini menurut saya adalah hadirnya lagu Satu Kata yang dulu dinyanyikan oleh Adegan. Bila saja album Adegan yang memuat lagu Satu Kata yang asli masih diproduksi dan dijual kemungkinan saya akan membelinya, sebab, sekalipun lagu ini dinyanyikan dengan apik oleh Judika, tetap saja tidak seciamik ketiga dinyanyikan oleh Hari Moekti, vokalis Adegan, yang suaranya melengking indah itu.


Dinyanyikannya lagu lama sebagai materi di dalam album ini adalah bentuk spasialisasi di mana melalui pesan media, waktu coba ditaklukkan. Tidak sedikit sebenarnya, pendengar musik populer berusaha mencari lagu-lagu yang didengarkannya pada masa lalu sekadar ingin mengulang masa lalu. Pada titik ini kenangan menjadi memiliki nilai tukarnya sendiri sebagai pesan media. Bentuk ini juga menunjukkan aktivitas ekonomi politik yang lain, yaitu komodifikasi.


Bukan berarti lagu-lagu lain tak bagus. Ada beberapa lagu bagus di album ini, antara lain Setengah Mati Merindu dan Aku yang Tersakiti, yang kini menghiasi airtime radio dan televisi. Kedua lagu ini bahkan terlalu sering diputar sehingga jadi agak membosankan. Lagu-lagu lain tidaklah sebagus Setengah Mati Merindu, Aku yang Tersakiti dan Satu Kata, namun karena kualitas suara Judika yang bagus, lagu-lagu tersebut terangkat. Walau begitu, album ini termasuk album yang cepat dilupakan, bukan album yang berisi lagu-lagu yang lama dikenang dan mungkin tak lekang oleh waktu karena tidak adanya soliditas ide yang terlihat jelas dan ditata dengan baik sebagai rangkaian pesan.


Daftar lagu:
1. Aku Cinta Indonesia
2. Setengah Mati Merindu
3. Andai
4. Bukan Dia Tapi Aku
5. Aku yang Tersakiti
6. Darah Tinggi
7. Ku Tak Mampu
8. Satu Kata
9. Aku Tak Begitu
10. Ye...Ye...Ye...

Belajar Ekonomi Politik Media

Di dalam mempelajari sesuatu secara langsung ataupun tidak, diakui ataupun tidak, kita akan menerapkan epistemologi. Secara sederhana epistemologi didefinisikan sebagai cara untuk mengetahui sesuatu atau mendapatkan pengetahuan. Untuk menerapkan epistemologi kita juga mengimplementasikan tiga hal, yaitu apa yang ingin diketahui, cara memandang suatu hal untuk kita ketahui tersebut, dan terakhir, posisi yang kita ambil berkaitan dengan obyek pengetahuan tersebut.

Belakangan ini saya agak mandek menulis, mungkin karena banyaknya yang dipikirkan sehingga malah tidak ada yang keluar sama sekali untuk dituliskan. Kemungkinan yang lain adalah niat atau tekad yang kurang kuat dari dalam diri sendiri untuk menulis. Saya kira keduanya berperan sama kuatnya. Namun ada satu hal yang menyelamatkan saya untuk menumbuhkan kembali hasrat untuk menulis. Sesuatu itu adalah konsep ekonomi politik media, terutama yang bersumber dari buku "The Political Economy of Communication" karya Vincent Mosco. Buku ini menurut saya adalah salah satu buku terbaik di bidang ilmu saya. Bukunya tidak terlalu tebal namun menjabarkan konsep yang mendalam dan penuh "petualangan" pikiran yang menarik.

Dalam waktu yang cukup lama saya memaknai dan coba menganalisis teks media dan kegiatan tersebut sungguh mengasyikkan. Namun kemudian saya berpikir, setelah memaknai terus apa? saya kira salah satu jawabannya adalah mencari kepentingan dan kuasa yang bermain di balik teks tersebut. Karena itulah, ekonomi politik media menarik untuk dipelajari dan didalami karena pada akhirnya antusiasme saya untuk mengamati realitas bermedia muncul kembali. Menurut Mosco, ekonomi politik komunikasi atau media memiliki dua definisi, yaitu definisi sempit dan definisi luas.

Dalam definisinya yang sempit, ekonomi politik komunikasi adalah suatu kajian relasi sosial, terutama relasi kekuasaan, yang secara seimbang berkontribusi dalam produksi, distribusi, dan konsumsi dari sumber daya, termasuk sumber daya komunikasi. Sementara dalam definisinya yang luas, ekonomi politik diartikan sebagai kajian untuk mengontrol dan bertahan kehidupan sosial. Dengan demikian, beragam fenomena kemediaan atau komunikasi yang ada di antara definisi luas dan sempit bisa dikaji melalui "pisau analisis" ekonomi politik.

Kajian ekonomi politik muncul didasari oleh empat jenis epistemologi, yaitu realis, inklusif, konstitutif, dan kritis. Realis berarti ekonomi politik mengenal dua jenis realitas, yaitu realitas sebagai konsep dan sebagai praktek sosial. Epistemologi realis mesti dibedakan dari pendekatan idiografis bahwa realitas hanya ada realitas ide, juga berbeda dengan pendekatan nomotetik yang mengklaim bahwa ide hanyalah label bagi realitas tindakan manusia.
Ekonomi politik memiliki epistemologi yang inklusif yang berarti ekonomi politik menolak esensialisme, yang akan mereduksi banyak praktek sosial dalam suatu eksplanasi tunggal. Tambahannya, ekonomi politik memiliki epistemologi yang konstitutif, yaitu ekonomi politik mengenal batas-batas sebab-akibat dan berusaha menjelaskan relasi sebab-akibat yang kompleks tersebut pada tiap tahapannya. Terakhir, ekonomi politik melihat pengetahuan sebagai sebuah produk aktivitas yang lekat pada nilai-nilai sosial.   
Sampai di sini kemungkinan besar definisi tersebut tidak dapat diaplikasikan dengan baik sebelum kita membicarakan "pintu masuk" untuk memahami ekonomi politik.

Menurut Mosco, terdapat tiga aktivitas utama untuk memahami ekonomi politik. Ketiga aktivitas tersebut adalah komodifikasi, spasialisasi, dan strukturasi. Komodifikasi adalah tindakan mengubah nilai fungsi menjadi nilai guna, terutama berkaitan dengan pesan atau produk media. Sementara itu spasialisasi adalah aktivitas komunikasi untuk menaklukkan ruang (dan juga waktu). Dengan demikian, isu teknologi informasi dan komunikasi, serta globalisasi dan konglomerasi, sangat dekat dengan spasialisasi. Sementara itu, strukturasi adalah aktivitas komunikasi atau media yang dikaitkan dengan struktur sosial. Isu "struktur" dan "agen" yang membentuk pemahaman dan kepercayaan pada aktivitas bermedia adalah bagian utama dari aktivitas ekonomi politik terakhir ini.

Agar kajian ekonomi politik media ini tidak semata-mata menjadi konsep yang berada di "kejauhan" saya akan berusaha menerapkannya dalam menganalisis teks musik populer yang memang merupakan bentuk pesan media yang paling membuat saya antusias. Bukan berarti pesan atau produk media yang lain tidak menarik bagi saya, fokus ini semata-mata berkaitan dengan kesukaan saya. Lagipula di era sekarang ini, seringkali beragam pesan media saling berkaitan erat dan sulit dipilah dan dipilih.

Senin, 16 April 2012

Penghabisan Diskursif

(1)
Setelah pelajaran utama: membaca, lalu apa?
Selain menceritakan dan memberitakan hidup dalam kata-kata kita sendiri
Teks bisa jadi tertutup dan dipaksakan, namun hati dan pikiran kita selalu terbuka

(2)
Spasialisasi antara teks dan konteks serta sebaliknya, sangat mungkin jadi tulus
Atas nama pagi
Atas nama tekad dan tindakan kita sendiri
Atas nama kata-kata yang menggedor dan membangunkan sukma...
baca dan menulislah!

(3)
Strukturasi coba melampaui ruang dan waktu
Bagaimanapun makna hadir independen dan kita tetap sendirian pada akhirnya
Bagaimanapun teks selalu hadir tanpa menunggu dicerna
dan kita selalu saja berkasih dan berkisah pada dunia
Bagaimanapun kita adalah penerjemah hidup kita sendiri

Kamis, 05 April 2012

Lolong Diskursif

dihampai dan dicerahkan oleh teks
tanpa bisa bertahan lagi

tiap-tiap keluhan menemui bencananya
tiap-tiap pujian dicuri dari hati pengucapnya

menjadi manusia yang utuh penuh
seperti ingin mengakses informasi sehabis-habisnya

siapa yang melakukan bunuh diri kelas, kemudian mengabaikannya?

Senin, 02 April 2012

Tatap Diskursif

demi hari-hari yang berlalu dan tak meruang di hati
demi teks yang tak pernah selesai dimaknai

siapa yang menunggu dan kemudian diabaikan?
mengapa satu pandang saja begitu membuat duka?

demi semua detik yang pernah terjadi
demi kesadaran atas konteks yang tak pernah dilibatkan

siapa yang menang dan kalah tak lagi penting
siapa yang menang kecuali kesadaran tak terpemanai?

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...