Sabtu, 22 Februari 2014

Prince - The Beautiful Experience (Maxi-Single) (1994)



Prince - The Beautiful Experience (1994)
Suatu sore di awal bulan Februari secara tak sengaja saya mendengarkan lagu "The Most Beautiful Girl in the World" di taksi yang membawa saya ke bandara untuk kembali ke Yogyakarta. Entah sudah berapa tahun saya tidak mendengarkan lagu ini, mungkin lima tahun, dan entah mengapa mendengarkan lagu ini ketika itu terasa lebih indah.

Mendengarkan lagu "The Most Beautiful Girl in the World" ini saya jadi teringat dengan masa lalu sesuai dengan konteks waktu ketika pertama kali mendengarkan. Lagu ini juga unik karena, walaupun menurut saya ini lagu terbaik dari Prince, tidak ada dalam album the best Prince yang manapun. Entah mengapa, sepertinya lagu ini ingin ditinggalkan.

Karena itulah setelah mendengarkan lagu tersebut saya kemudian tertarik mendengarkannya dalam satu album utuh. Ini adalah karakter unik dari konten media musik rekaman di mana pecahan teks kecil pada lagu akan diperluas sampai pada album, dan sekaligus bisa berdiri pada pecahan-pecahan tersebut. Setelah saya mendengarkan secara utuh satu album, atau yang disebut sebagai maxi-single, memang lagu terakhirya adalah lagu terkuat, dan dilengkapi dengan lagu pertama, Beautiful, adalah kombinasi yang menarik.

Daftar lagu:

1. Beautiful 5:56 
2. Staxowax 5:14 
3. Mustang Mix 6:20 
4. Flutestramental 3:36 
5. Sexy Staxaphone and Guitar 3:54 
6. Mustang Instrumental 3:26  
7. The Most Beautiful Girl in the World 4:42



Jumat, 21 Februari 2014

Hal-hal yang Hilang

Sudah lama sekali tidak menulis. Tahun 2014 menginjak bulan kedua, saya baru tergerak untuk menulis lagi di blog tercinta ini. Tentu saja banyak hal-hal yang hilang ketika tak menulis sesuatu yang biasa secara rutin, antara lain menulis yang "tidak biasa" jadi tidak produktif juga. Selain itu, ada hal-hal lain yang hilang selama ini, yaitu fungsi-fungsi dari menulis pada diri. Pertama dan yang utama, menulis itu selalu berkaitan dengan diri sendiri, bukan dengan orang lain, bukan dengan publik yang lebih luas, apalagi deng Sang Pencipta. Menulis, tak kurang dan tak lebih, adalah dinamika melawan diri sendiri, terutama kemalasan dan keengganan. Baru kemudian yang lain-lain, berbagi dengan orang lain, menyebarkan pengetahuan, mencerdaskan bangsa. Hehehe....

Bagi saya pribadi, menulis memiliki tiga fungsi utama nan penting bagi diri sendiri, terutama kita sebagai pembelajar. Ketiga fungsi tersebut adalah fungsi "kliping", pengingat, dan taksonomi. Menulis adalah "mengkliping" kejadian-kejadian di sekitar kita, yang menarik perhatian kita. Menulis akan membuatnya terdokumentasikan. Pada fungsi ini kita belum memberikannya komentar atau perasaan atas kejadian tersebut, namun sebagai pencatat sahaja.

Pada fungsi kedua, yang bolehlah dianggap sebagai lanjutan dari fungsi yang pertama, menulis adalah pengingat pemikiran dan perasaan kita sendiri atas sebuah peristiwa, konsep, atau sesuatu yang lain. Melalui tulisan kita sendiri, kita bisa mengingat pemikiran dan perasaan kita atas sesuatu yang telah terjadi. Mesti diingat baik-baik, apapun yang dituliskan sampai selesai pasti suatu saat dapat digunakan kembali. Tentu saja dengan pengutipan yang etis. Jangan sampai kita dilabeli melakukan plagiarisme pada tulisan sendiri.

Terakhir, menulis memiliki fungsi yang luar biasa dalam mengkonstuksi pelan-pelan pemikiran kita sendiri. Menulis, membaca, dan membangun taksonomi atas pengetahuan dan realitas, selalu berjalan beriringan. Penulis yang bagus adalah pembaca yang intens. Menulis dengan baik adalah upaya membangun dengan cermat dan sistematis apapun yang kita pikirkan dan kita rasakan. Nah, saya sepertinya sudah agak lama kehilangan tiga fungsi tersebut. Semoga setelah menulis ini, saya mulai menulis lagi dengan kontinyu.

Semoga tak ada problematika dalam diri yang menjadikan kita tak menulis secara teratur dan selesai.


Senin, 02 Desember 2013

Nudia Suipi 6

Semacam teks sejenis kasih sayang
Menelusuri Mu tak jua bertemu
Usai sesal bertanya pada konteks: tiada yang berdiri sendiri dengan independen
Laju gugat berkontemplasi untuk ruang: jarak usang memilah kita

Memindai masa yang baru saja berlalu, Mu apakah suatu pilihan antara hujan sepanjang waktu atau hati kering tak tentu?
Jawabannya bisa saja pada jutaan pesan namun nir makna
Semacam benih terus mencari Mu yang tak bersemayam pada teks dalam-dalam


Jumat, 22 November 2013

Nudia Suipi 5

Siapa sang pembawa pesan bila yang ada hanya sadap dan suap?
Satu hari berlalu lagi dan hanya senja yang biasa
Penuh banalitas dan nihil substansi
Siapa sang pemakna teks hingga hidup jadi tak berjiwa?
Tak mungkin hanya salah satunya: narasi, komoditas, atau daftar keinginan
Hampir pasti semuanya, biasa saja

Senin, 14 Oktober 2013

Nine Inch Nails – Hesitation Marks (Deluxe Edition) (2013)

Nine Inch Nails - Hesitation Marks (2013)
Album terkini dari Nine Inch Nails ini adalah album terbaik yang sedang saya dengarkan belakangan ini. Sederhana saja indikatornya, saya tidak bisa melepaskan pemutar mp3 dan player CD dengan memutarkan album ini terus menerus. Hampir tanpa henti. Mungkin sudah lebih dari tiga puluh kali saya mendengarkan album ini dalam waktu semingggu. Indikator kedua adalah saya jadi tertarik kembali mendengarkan semua album mereka. Album ini mirip dengan album mereka pada tahun 1999, The Fragile. Double album yang penuh tekstur dan bikin merinding. Pada tahun 1999 itu saya tak bisa membeli albumnya karena tak memiliki uang yang cukup. Jadi saya tak bisa mengaksesnya pada kesempatan pertama dan saya baru mendengarkannya utuh penuh bertahun-tahun kemudian, yang tentu saja memberikan impresi yang berbeda bila kita mendengarkan album tak lama setelah dirilis.

Pemuka Nine Inch Nails adalah Trent Reznor, yang oleh majalah Time pada tahun 2000 dianggap sebagai pemusik paling berpengaruh di dekade 1990-an. Artikel itu juga menuliskan bila film The X-Files adalah film seri paling berpengaruh pada dekade yang sama. Sejak itu nama Trent Reznor selalu saya ikuti, namun hanya lagu Perfect Drug dan Deep yang saya ikuti intensi karena hadir sebagai pengisi OST dua film. Seluruh album Nine Inch Nails baru saya dengarkan ketika sudah memiliki dana cukup sekitar pertengahan dekade 2000-an.

Album ini masih ada pada tingkat kemarahan yang saya dengan album-album Nine Inch Nails sebelumnya, kecuali album yang  agak "manis", With Teeth, yang dirilis pada tahun 2005. Walau begitu, semua lagu di album ini tak terlalu bising dan segera bisa dinikmati padahal memang "kebisingan" adalah inti dari musik Nine Inch Nail sejak awal. Setelah dibuka dengan instrumental pendek, The Eater of Dreams, album ini menghentak dengan Copy of A yang mempertanyakan originalitas, termasuk originalitas diri sendiri. Sesungguhnya di bawah sinar matahari tak ada lagi yang benar-benar baru, semuanya salinan dari salinan yang lain.

Alienasi dan rupa-rupa kontrol rupanya menjadi perhatian di album ini, seperti biasanya, hal ini terlihat pada lagu Came Back Haunted. Isu yang mirip muncul di lagu Disappointed di mana muncul pesan kita tak perlu berharap apa-apa karena kekecewaan past datang. Namun tentu saja tidak untul album ini. Pendengar tak akan kecewa sama sekali, malah berpikir mendalam mengapa musik yang keras bisa begitu indah, mengapa lirik yang kelam bisa begitu mengundang optimisme bahwa hidup selalu layak untuk diperjuangkan.

Daftar lagu:
CD 1
1. The Eater of Dreams
2. Copy of A
3. Came Back Haunted
4. Find My Way
5. All Time Low
6. Disappointed
7. Everything
8. Satellite
9. Various Methods of Escape
10.  Running
11.  I Would for You
12.  In Two
13.  While I'm Still Here
14.  Black Noise

CD 2
1. Find My Way (Oneohtrix Point Never Remix)
2. All Time Low (Todd Rundgren Remix)
3. While I'm Still Here (Breyer P-Orridge 'Howler' Remix)

Manic Street Preachers – Rewind the Film (Deluxe Edition) (2013)

Manic Street Preachers - Rewind the Film (2013)
Hanya ada tiga produsen teks media musik populer yang menurut saya konsisten menelurkan karya berbentuk album yang selalu bagus. Ketiganya adalah Manic Street Preachers, Nine Inch Nails, dan Sonic Youth. Dua produsen teks pertama baru saja merilis album, sementara Sonic Youth dalam jangka waktu dekat ini belum beraktivitas setelah mereka "memisahkan" diri pada tahun 2011. Sebagai sebuah unit produsen teks mereka saling melengkapi. Bagaimana pun juga sebuah band adalah kumpulan orang yang berkarya bersama.

Hal yang unik pada album ini adalah sepertinya mereka tak terlalu "percaya diri" menyanyikan berbagai lagu sendiri. Mereka mengundang beberapa musisi lain untuk berduet, yang paling mengasyikkan tentu saja dalam lagu "Rewind the Film" yang berkolaborasi dengan mantan personel band 1990-an besar lainnya, Pulp, Richard Hawley. Hal yang mengejutkan adalah mereka tak jadi mengajak Morrissey untuk berduet dalam lagu "3 Ways to See Despair". Sayang sekali, karena bila terwujud, kemungkinan lagu ini menjadi lagu yang membahana para pecinta musik. Nicky Wire menyatakan bahwa mereka tidak jadi mengajak Morrissey karena takut ditolak.

Saya juga setuju dengan beberapa pengamat yang mengatakan bahwa album ini termasuk album yang bagus karena isinya variatif dan seperti Manic yang sesungguhnya, enak didengar sekaligus mengajak berpikir. Walau begitu, album ini bukanlah standar album terbaik mereka, seperti misalnya album "This is My Truth Tell Me Yours" dan "Know Your Enemy". Sisi politis dari lirik lagu masih terlihat di lagu "30-Year War" yang mengritik masa pemerintahan Margareth Thatcher karena menyingkirkan kaum pekerja. Sisi reflektif teramati pada lagu "(I Miss the) Tokyo Skyline" di mana si diri dalam lagu selalu merasa ada yang tak terlengkapi secara eksistensial. Lagu ini benar-benar mengingatkan saya pada film "Lost in Translation" yang juga bersetting dan mengangkat isu yang mirip.

Daftar lagu:
1. This Sullen Welsh Heart (feat. Lucy Rose)
2. Show Me the Wonder
3. Rewind the Film (feat. Richard Hawley)
4. Builder of Routines
5. 4 Lonely Roads (feat. Cate Le Bon)
6. (I Miss the) Tokyo Skyline
7. Anthem for A Lost Cause
8. As Holy As the Soil (That Buries Your Skin)
9. 3 Ways to See Despair
10.  Running Out of Fantasy
11.  Manorbier
12.  30-Year War
13.  This Sullen Welsh Heart (Demo)
14.  Show Me the Wonder (Demo)
15.  Rewind the Film (Demo)
16.  Builder of Routines (Demo)
17.  4 Lonely Roads (Demo)
18.  (I Miss the) Tokyo Skyline (Demo)
19.  Anthem for A Lost Cause (Demo)
20.  As Holy As the Soil (That Buries Your Skin) (Demo)
21.  3 Ways to See Despair (Demo)
22.  Running Out of Fantasy (Demo)
23.  Manorbier (Demo)
24.  30-Year War (Demo)
25.  A Design for Life (Live at the O2)
26.  Empty Souls (Live at the O2)
27.  (It’s Not War) Just the End of Love (Live at the O2)
28. From Despair to Where (Live at the O2)

OST – In the Name of the Father (1993)

OST - In the Name of the Father (1993)
Satu album lagi yang saya dapatkan dari itunes. Album ini mengingatkan betapa berjayanya kloter penyanyi Irlandia pada dekade 1990, terutama U2 dan Sinead O'Connor. U2 tidak hanya merilis album terbaiknya sejauh ini pada dekade tersebut, namun sebagai sebuah unit produsen teks, mereka begitu produktif. Pada dekade 1990-an, selain merilis album-album berkelas, para personel U2 juga aktif merilis berbagai proyek kekaryaan. Misalnya saja OST Pasengers, soundtrack untuk film-film imajiner dan juga mengisi OST Batman Forever dan Mission Imposible. Di album ini Bono berkolaborasi dengan Gavin Friday, musikus sekaligus "anggota" bayangan U2 sejak lama. Mereka juga menciptakan lagu "Goldeneye" yang dinyanyikan oleh Tina Turner untuk franchise film James Bond tersebut.

Sebagai teks yang berelasi dengan teks utamanya, interteks, album ini sangat mengambarkan apa yang terjadi di filmnya. Pilihan lagu yang disesuaikan dengan kondisi pada jaman yang tertuang di fim menunjukkan bentuk spasialisasi yang kuat. Score yang diproduksi oleh Trevor Jones juga dengan kuat mendeskripsikan berbagai adegan di filmnya.

Daftar lagu
1. Bono and Gavin Friday – In the Name of the Father
2. The Jimi Hendrix Experience –Voodoo Child (Slight Return)
3. Bono and Gavin Friday – Billy Boola
4. The Kinks - Dedicated Follower of Fashion
5. Trevor Jones – Interrogation
6. Bob Marley and the Wailers – Is This Love (Horns Mix)
7. Trevor Jones – Walking the Circle
8. Thin Lizzy – Whisky in the Jar (Full Length Version)
9. Trevor Jones – Passage of Time
10. SinĂ©ad O'Connor – You Made Me the Thief of Your Heart

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...