Kamis, 31 Desember 2009

Your Song

Sekarang hari sedang hujan. Walau sudah mulai reda, suasananya yang romantis masih sangat terasa. Dalam suasana begini, mendingan kita berbincang tentang lagu romantis, apalagi bila ditraktir makan siang gratis…hehe…

Banyak lagu yang romantis. Itu pasti, karena sebagian besar lagu yang ada adalah lagu cinta. Saya, dan juga teman-teman, kemungkinan besar menyukai “love song” era 80-an dan 90-an. Salah satu lagu yang paling romantis pada kurun waktu itu, menurut saya, adalah “Your Song” yang dinyanyikan oleh Elton John walau lagu ini versi aslinya muncul tahun 1969.

Lagu ini adalah salah satu dari dua lagu Elton John yang paling saya sukai. Lagu satunya lagi adalah “Tiny Dancer”. Mengapa saya menyukainya ? Jawabannya sederhana, keduanya pernah muncul dalam film-film yang bagus, “Almost Famous” dan “Moulin Rouge”. Lagu ini muncul dalam OST- Moulin Rouge. Dinyanyikan oleh Ewan McGregor dan penyanyi tenor kawakan, Alessandro Safina. Lagunya pun tetap bagus walau direinterpretasi. Lagu bagus kemungkinan besar akan tetap bagus dinyanyikan oleh penyanyi siapa pun.

Mengapa lagu ini termasuk yang paling romantis versi saya? Hal-hal yang paling romantis, menurut saya bukanlah kalimat “tinggi” yang tidak menyentuh bumi, melainkan kalimat sederhana sekaligus “menggedor” sukma. Karakter inilah yang muncul dalam lagu ini.

Kalimat romantis muncul di dalam lirik ketika penulis lagu mengajak orang yang kita sayangi “masuk” di dalam kehidupan kita dan sebaliknya, lewat kalimat “how wonderful life is while you're in the world”. Menghargai eksistensi pasangan kita, adalah hal utama dalam mencintai, seperti apa pun dia, kita menerimanya. Hanya kehadirannya di dunia tanpa atribut apa pun…itu sudah membuat kita bahagia.

Manifestasi cinta yang lain adalah mempersembahkan sesuatu yang paling kita kuasai dalam melakukannya, kemudian menjadikan sesuatu itu sebagai milik pasangan kita. Masalah kepemilikan akhirnya menjadi penting di dalam hubungan cinta tetapi kepemilikan yang tidak mengikat. Dalam konteks ini penulis lagu mempersembahkan hal yang paling dia kuasai pada pasangannya.

Sekadar untuk mengenang masa lalu, inilah lirik lagu “Your Song”. Lirik akan lebih terasa bila kita juga mendengarkan lagu ini:

Your Song
Performed by Elton John
Music: Elton John
Lyrics: Bernie Taupin

It's a little bit funny this feeling inside
I'm not one of those who can easily hide
I don't have much money but boy if I did
I'd buy a big house where we both could live
If I was a sculptor, but then again, no
Or a man who makes potions in a travelling show
I know it's not much but it's the best I can do
My gift is my song and this one's for you

And you can tell everybody this is your song
It may be quite simple but now that it's done
I hope you don't mind
I hope you don't mind that I put down in words
How wonderful life is while you're in the world

I sat on the roof and kicked off the moss
Well a few of the verses well they've got me quite cross
But the sun's been quite kind while I wrote this song
It's for people like you that keep it turned on

So excuse me forgetting but these things I do
You see I've forgotten if they're green or they're blue
Anyway the thing is what I really mean
Yours are the sweetest eyes I've ever seen

Stars

“Tentang-tentang”, salah satu judul serial “Anak-anak Mama Alin” masih mencengkeram benak saya. Entahlah, tiba-tiba saya kangen dengan bacaan-bacaan lama. Tidak hanya “Tentang-tentang” dari serial karya Bubin Lantang itu (di mana ia sekarang?), juga novel “Segitiga Patah Kaki” karya Gus Tf Sakai (sekarang ia menjadi sastrawan dari Riau yang cukup terkenal), saya juga rindu dengan bacaan-bacaan yang lebih awal, semisal serial “Deni Manusia Ikan” dan “Trigan”. Saya mungkin hanya bisa bermimpi membaca bacaan-bacaan masa lalu tersebut karena sudah sangat sulit didapat.

Berbeda dengan pesan media cetak (buku; novel dan komik) yang sulit didapat, pesan media musik rekaman lumayan mudah saya dapatkan dan simpan. Karena itulah, daripada lara memikirkan sesuatu yang sulit terwujud, lebih baik saya melampiaskan rindu pada lagu-lagu lama.

Salah satu lagu lama yang sangat bagus menurut saya adalah “Stars” dari Simply Red' Lagu ini berasal dari album bertajuk sama dan dirilis pada bulan Oktober 1991. Walau dirilis pada saat saya SMA, saya baru mengenal lagu ini dengan intens ketika saya kuliah. Simply Red banyak menghasilkan lagu bagus, antara lain “If You don’t Know Me by Now”, “Something Got Me Started”, lagu Simply Red pertama yang saya dengarkan, juga “Fairground”, “Never Never Love”, dan “Say You Love Me”. Walau lumayan banyak lagu yang terkenal, lagu “Star”-lah yang paling populer.

Tadinya saya ingin memberi judul tulisan ini “Tentang Mengejar Bintang”. Setiap kali kita mengejar “bintang” walau mungkin tidak akan pernah tergapai. Karena sibuk mengejarnya, kita jarang berpikir bahwa “bintang-bintang” mungkin telah kita genggam. Pengalaman saya minggu kemarin misalnya. Saya seperti mengejar “bintang-bintang” yang tidak tergapai ketika rencana pergi ke luar negeri, ke Seoul dan Melbourne, tidak jadi karena berbagai hal.

Tetapi di sisi lain, saya mendapatkan “bintang-bintang” dalam bentuk berbeda; saya ikut kuliah perdana doktoral, berdialog dengan teman-teman tentang UU Perfilman baru, berdiskusi di festival yang keren (jadi ingat “industry of the cool), Jogja Logstock Festival, berdiskusi tentang jurnalisme musik, dan minggu sorenya, berbagi kisah dengan ibu-ibu PKK sekitar rumah tentang literasi media. Khusus yang terakhir, saya sangat bahagia, karena pada kegiatan itulah, pertama kali saya dan istri tandem menjadi pembicara. Apalagi anak saya juga berkontribusi dengan membagi-bagikan makalah kami. Jadi seperti kolaborasi sekeluarga. Juga inilah saat yang penting karena saya merasa keahlian saya bisa bermanfaat langsung di masyarakat sekitar.

Walau secara fisik lelah, saya sangat bahagia minggu kemarin. Tentang “bintang-bintang”, tentu saja itu masalah tafsir, bintang yang terus kita kejar, atau bintang yang telah kita dapatkan, rasakan, dan miliki. Saya tidak sedih tidak jadi ke luar negeri. Masih banyak waktu dan kesempatan nanti. Saya justru bahagia karena saya mendapatkan banyak hal, dikemas dengan indah oleh Dia dan diberikan langsung ke tangan saya. Untuk itu saya sangat bersyukur.

Kembali pada teks lagu… Seperti lagu-lagu Simply Red yang lain, lagu ini pun multitafsir. Lagu ini bisa diartikan dengan banyak cara. Saya tidak punya makna khusus dengan lagu ini. Hal yang saya ingat adalah masa kuliah yang indah, terutama ketika berkumpul bersama teman-teman. Lagu ini juga jadi pengobat sepi bila di rumah tidak ada siapa-siapa waktu itu, terutama ketika adik-adik saya pergi dan teman-teman tidak bertandang ke rumah. Rasanya masa lalu itu benar-benar saya rasakan kembali karena mendengarkan lagu ini.

Bagi rekan-rekan yang juga suka dengan lagu ini, silakan benostalgia dengan kenangan masing-masing. Ini lirik lagunya…dan selamat menyanyikannya:

Stars
Performed by Simply Red

Anyone who ever held you
Would tell you the way I'm feeling
Anyone who ever wanted you
Would try to tell you what I feel inside
The only thing I ever wanted
Was the feeling that you ain't faking
The only one you ever thought about
Wait a minute can't you see that I

I wanna fall from the stars
Straight into your arms
I, I feel you
I hope you comprehend

For the man who tried to hurt you
He's explaining the way I'm feeling
For all the jealousy I caused you
States the reason why I'm trying to hide
As for all the things you taught me
It sends my future into clearer dimensions
You'll never know how much you hurt me
Stay a minute can't you see that I

I wanna fall from the stars
Straight into your arms
I, I feel you
I hope you comprehend

Too many hearts are broken
A lover’s promise never came with a maybe
So many words are left unspoken
The silent voices are driving me crazy
As for all the pain you caused me
Making up could never be your intention
You’ll never know how much you hurt me
Stay can’t you see that I

I wanna fall from the stars
Straight into your arms
I, I feel you
I hope you comprehend

Tentang-tentang

Judul ini saya ambil dari salah satu serial cerita kesukaan saya pada masa remaja, “Anak-anak Mama Alin”. Walau struktur utama ceritanya saya sudah lupa, judul tersebut selalu terpatri di benak saya. Bersama dengan “Balada si Roy”, serial “Anak-anak Mama Alin” adalah yang saya tunggu ketika membaca majalah HAI pada awal tahun 1990-an itu.

Tentang-tentang, begitulah yang ada di benak saya selama sekitar sepuluh hari tidak menulis ini. “Tentang” yang utama adalah tentang India. Saya ingat dengan salah satu negara berperadaban tertua itu karena dua hal. Ingatan akan India itu mengarah pada, pertama, cuaca panas yang melanda Yogya belakangan ini bahkan pada saat malam hari. Menurut suratkabar yang saya baca beberapa waktu yang lalu, panas kota Yogya yang mencapai 38,5 derajat Celcius adalah panas tertinggi yang pernah tercatat di kota ini.

Kemudian saya berpikir, apa sebenarnya penyebab cuaca yang demikian panas ini? Secara umum mungkin karena pemanasan global. Tetapi apa eksplanasinya yang saintifik? Apa penyebab sebenarnya panas ini? Mengapa media tidak menjelaskannya pada masyarakat dengan mendalam?
Saya jadi ingat dengan cuaca panas di India sewaktu saya ke Chennai tahun lalu. Panas di sana sekitar 40 derajat Celcius. Saya merasakan benar terik matahari yang seketika membuat pusing ketika wajah terpapar panasnya. Walau sangat panas, perjalanan ke India tersebut adalah salah satu perjalanan terbaik saya. Selain ke Chennai saya juga berkunjung ke beberapa kota di sekitarnya: Pondincherry, Khrisnagri, dan satu kota lagi yang saya lupa karena namanya begitu panjang.

Kedua, India juga saya ingat karena beberapa hari yang lalu saya menonton film “Slumdog Millionaire” . Film yang bagus, sangat bagus malah, walaupun belum termasuk dalam lima “top list” film yang paling saya sukai: “Magnolia”, “Adaptation”, “No Country for Old Men”, “Kill Bill”, dan “Broken Flowers”.
Film memang bukan media yang menjadi hasrat terbesar saya. Media yang membuat saya “tergerak” adalah musik populer. Saya cenderung menonton film karena OST-nya. Jarang sekali karena sebaliknya.

Lagipula saya kurang betah berlama-lama mengakses pesan media. Bila saya menonton film, saya lebih suka menontonnya dari komputer, karena saya bisa memutar dan menghentikannya sesuka hati sambil mengerjakan hal lain.

Tidak salah memang film ini memenangkan Oscar, karena bangunan ceritanya solid dan “pas”. Hal yang paling saya sukai adalah struktur berceritanya yang “berlapis”. Sepanjang setengah waktu film, kita harus menonton tiga cerita yang berlapis. Cerita tentang tokoh utama, Jamal Malik, yang ditahan polisi karena diduga berbuat curang dalam menjawab pertanyaan di acara terkenal “Who Wants to be A Millionaire?”, sebagai lapis pertama. Cerita lapis kedua adalah ketika Jamal Malik menjawab setiap pertanyaan di dalam kuis tersebut. Terakhir, cerita lapis ketiga, yang paling keren menurut saya, adalah bagaimana melalui setiap pertanyaan, kita dibawa pada masa lalu Jamal Malik sebagai bagian dari warga miskin di kota Mumbai.

Melalui flashback inilah makna tentang-tentang itu sangat kuat terlihat. Kita dapat melihat kehidupan antar agama di India yang problematik, kehidupan masyarakat miskin yang sangat keras, semisal anak miskin yang diambil kornea matanya dengan kejam untuk dijual. Juga permasalahan komunikasi lintas budaya, bagaimana “produk” budaya lain, katakanlah Barat, dimaknai secara berbeda di India, misalnya acara ““Who Wants to be A Millionaire?” sendiri, dan makna dari cerita “Three Musketeer”, yang secara cerdas menjadi inti dari cerita yang muncul di bagian awal dan menjadi “solusi” akhir cerita.

Begitulah kecerdasan dan keindahan film “Slumdog Millionaire”. Kekurangannya mungkin hanya ada di akhir film, kedua pemeran utama berjoget seperti halnya film India. Sepertinya adegan joget itu untuk menandai bahwa bagaimana pun juga “cara bertutur India” tidak hilang.

Walau demikian, ini memang film yang sangat bagus dan menjadi inspirasi saya untuk menulis dan berkarya, terutama bila menulis fiksi (prosa) yang belum juga terwujud. Juga menjadi sarana pengingat yang bagus bagi kenangan saya ke India tahun 2008 lalu. Terus terang saya merasa bersyukur tinggal di Indonesia ketika melihat sendiri suasana salah satu kota di India, Chennai. Suasana kota yang sangat ramai, penduduk miskin yang luar biasa banyak, lalu-lintas yang lebih tidak teratur. Bahkan ketika ke Singapura pun saya merasa bersyukur tinggal di negeri seribu pulau ini, bagi saya Singapura terlalu “teratur” dan dikontrol.

Mengutip adegan pembuka dan penutup pada film ini, apa yang harus kita percaya dalam menjalani hidup ini ? pilihan jawabannya: a. uang, b. kecerdasan, c. takdir, dan d. keberuntungan. Mana yang harus kita pilih? Kalau saya, saya akan berusaha mendalami tentang-tentang (kehidupan yang detail).

Konvergensi Itu Ada Di Mana-mana

Saya baru saja mendengarkan box set the Beatles terbaru, bertajuk resmi “Digitally Remastered”, yang dirilis pada tanggal 9 September 2009. Box set yang terdiri dari empat belas album yang paling lama dirilis dalam format mono dua puluh dua tahun yang lalu. Tentu saja ini luar biasa, sebagai band yang mungkin merupakan band terbesar di dunia, the Beatles memiliki potensi lebih besar untuk diingat oleh warga dunia generasi muda dan bagi generasi tua, “ingatan” mereka akan the Beatles dapat disegarkan kembali. Peran mereka dalam sejarah permusikan dunia, dan juga peradaban manusia terekam dengan lebih baik.

Teknologi informasi dan komunikasi yang baru telah menjadikan pesan media mudah diproduksi, didistribusi, ditampilkan, dan diakses oleh audiens. Isi media menjadi lebih “demokratis” untuk diproduksi. Orang-orang tidak harus memahami teknologi dengan sangat canggih untuk bisa memproduksi pesan media dan mendistribusikannya. Orang-orang tidak harus "bersekolah" dengan tinggi atau menggunakan teknologi yang sangat mahal. Dari sinilah hadir pembuat film ataupun jurnalis “amatir”, tanpa perlu bersekolah terlalu lama dan tanpa perlu ada dan bekerja di dalam institusi media mainstream. Mereka hadir dengan menggunakan teknologi informasi komunikasi yang sudah lebih murah dan mudah dipelajari.

Audiens juga lebih mudah mencari dan mengkonsumsi isi media. Bila dulu isi media relatif sedikit, dengan kehadiran teknologi baru, isi media sangat banyak, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Dengan format file mp3 misalnya, isi pesan musik rekaman jadi lebih mudah didistribusikan dan diakses. Konsekuensinya adalah isi pesan musik rekaman sangat mudah “dibajak” apalagi bila isi pesan itu berada dalam negara tanpa perlindungan hak cipta yang memadai.

Box set the Beatles ini hadir ke tengah kita dalam perkembangan teknologi yang demikian maju tersebut. Di sinilah hebatnya, the Beatles dan tim produksinya, mereka dapat memanfaatkan teknologi baru dengan sangat baik. Tanpa “penggunaan” teknologi baru pun, mereka sudah semakin dikenal oleh generasi muda sewaktu mereka merilis album “number 1” pada tahun 2000 yang memuat lagu-lagu hits nomor satu di tangga lagu.

Konvergensi itu ternyata tidak hanya hadir karena “penyatuan” format isi pesan, tetapi juga ide. Bersamaan dengan dirilisnya box set, juga dirilis “the Beatles: Rock band”. Rock Band adalah sebuah game komputer laris yang menampilkan band-band besar ke dalam game komputer dan konsol. Jelas, bidikannya adalah anak-anak muda, sebab pengemar asli the Beatles kemungkinan besar tidak memainkan game tersebut.

Fenomenalah inilah yang bisa kita sebut sebagai “konvergensi” ide dalam pesan. The Beatles yang memunculkan bersamaan pesan musik rekaman dan game komputer bukanlah yang pertama. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan komunikator pesan lebih memikirkan pesan yang akan diproduksi dan didistribusikannya. Kehebatan “pencipta” pesan tidak lagi hanya berasal dari kualitas pesannya sendiri, walau ini tetap yang utama, tetapi juga “memikirkan” bagaimana ide tadi muncul dalam berbagai pesan media.

Contoh lain adalah berapa banyak novel yang kemudian diproduksi menjadi film dan game komputer, Harry Potter dan tetralogi ‘Twilight” adalah dua contohnya. Juga pesan media game komputer yang kemudian diproduksi menjadi film dan novel, seperti “Warcraft”. Hal yang paling baru adalah bagaimana pesan media musik rekaman menjadi pementasan drama dan kemungkinan juga untuk film, contohnya adalah dua album terakhir “Green Day”, "American Idiot" (2004) dan "21st Century Breakdown" (2009).

Pertanyaannya, bagaimana dengan media di Indonesia dikaitkan dengan kedua “konvergensi” tersebut?

Media di Indonesia sepertinya belum memanfaatkan konvergensi tersebut, baik konvergensi dalam arti format pesan ataupun ide yang “menyebar” di dalam berbagai jenis pesan. Novel “Laskar Pelangi” misalnya, baru muncul ikutan pesannya ke dalam film dan Original Soundtrack (OST)-nya. Belum ada isi pesan media baru, semisal game ataupun website yang khusus berbicara tentang “Laskar Pelangi” dan perkembangan selanjutnya.

Tetapi memang permasalahannya, di negeri kita tercinta ini bukanlah pada teknologi dan kreativitas pelakunya, melainkan pada apresiasi dan penegakan hukum yang tidak memadai. Bila penegakan hukum untuk melindungi karya cipta anak bangsa belum memadai atau belum ditegakkan dengan baik, jangan harap daya kreativitas kolektif kita sebagai bangsa akan muncul. Kita tinggal memilih, kita menggunakan konsekuensi “konvergensi” itu untuk lebih kreatif atau untuk lebih “terkuasai” dan selamanya menjadi pengakses pesan.

Kok saya sendiri malah agak pusing ya….hehe….mungkin karena belum makan siang ….Mendingan kembali mendengarkan lagu-lagu (lama) the Beatles dalam kualitas lebih bagus ini aja deh…

Meningkatkan Koneksitas, Memberdayakan Masyarakat (Seri Belajar)

Mengamati pemberitaan tentang KTT ke-15 ASEAN di Cha-Am Hua Hin, Thailand yang diselenggarakan 23-25 Oktober 2009, di media massa, saya jadi teringat dengan pemberitaan internasional di masa lalu, pada era Orde Baru. Saya masih ingat betapa tahun 1980-an program berita “Dunia dalam Berita” di TVRI menjadi program yang begitu ditunggu oleh audiens. Saya ingat betapa ayah saya menunggu-nunggu acara ini. Sambil menunggu, beliau membaca-baca koran. Beliau juga tidak menonton tv untuk program acara lain.

Program “Dunia dalam Berita” sangat ditunggu pada waktu itu karena menjadi salah satu dari sedikit pintu untuk mendapatkan informasi tentang keadaan dunia, di luar Indonesia. Program berita ini menjadi “antitesa” dari acara berita dalam negeri yang isinya lebih banyak bersifat seremonial dan mengelu-elukan penguasa Orde Baru. Masih terbayang dahulu itu sulit sekali mendapatkan informasi tentang luar negeri. Kini keadaan memang jauh berubah, media untuk mendapatkan informasi tersebut sudah sangat banyak, terutama melalui Internet. Walaupun demikian, informasi mengenai bangsa-bangsa di luar negara kita itu pun sekarang ini masih kurang substantif.

Mengapa tidak substantif? Tentu saja karena kita semakin jauh dari representasi yang sebenarnya. Ketimpangan di dalam sistem media global menyebabkan peristiwa yang diambil oleh media dan perspektifnya cenderung menguntungkan negara-negara pemilik kuasa politik dan ekonomi (baca: negara Barat). Menurut Thomas McPhail di dalam bukunya, “Global Communication” (2002), pemberitaan mengenai dunia memang semakin menurun persentasenya di banyak media. Hal ini terjadi sejak 1990 ketika Perang Dingin berakhir. Penyebabnya antara lain jumlah koresponden yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan ketika Perang Dingin masih terjadi. Juga fokus banyak media pada peristiwa di dalam negerinya sendiri.

Peledakan World Trade Center pada tahun 2001 justru memperburuk komunikasi internasional melalui media. Media dianggap representasi dari negaranya, tidak lagi menjadi entitas yang dianggap netral. Pada Perang Teluk ke-2 misalnya, CNN tidak lagi bebas meliput seperti pada Perang Teluk ke-1. Bila ada wartawan CNN berani bergerak sendirian untuk meliput, kemungkinan dia akan diculik dan dijadikan alat tukar politis. Hal ini tidak hanya berlaku buat CNN tetapi juga media Barat yang lain. Inilah juga yang memicu munculnya istilah “embedded journalism” di mana jurnalis melakukan tugasnya di belakang tentara yang bertugas.

Kembali pada KTT ASEAN yang beranggotakan sepuluh negara tersebut. Dari acara tersebut kita ketahui tema tahun ini adalah “Meningkatkan Koneksitas, Memberdayakan Rakyat”. Secara lebih detail tema umum tadi menjadi beberapa pokok bahasan.

Pokok pembahasan tersebut antara lain:
• Mewujudkan visi masyarakat ASEAN 2015
• Merangkul para mitra yang terkait
• Meningkatkan koneksitas
• Memperkuat pendidikan
• Memperkuat stabilitas ekonomi dan finansial
• Menanggulangi perubahan iklim
• Jaminan ketersediaan pangan dan energi
• Penanggulangan bencana
• Penanggulangan wabah penyakit global (pandemi)
• Memperkecil kesenjangan pembangunan
• Masalah regional di Myanmar dan Semenanjung Korea

“Meningkatkan koneksitas” adalah istilah yang sangat luas. Pertanyaannya, apa yang dikoneksikan? untuk apa koneksi tersebut ada? Bagaimana caranya? Inilah yang dapat kita elaborasikan sebagai pembelajar komunikasi internasional. Koneksi mesti kita definisikan secara lebih luas, bukan saja permasalahan koneksi fisikal, seperti transportasi antar negara ASEAN, melainkan juga koneksi “virtual” melalui media, konvensional dan “baru”.

Untuk itu, kita perlu merujuk kembali definisi komunikasi internasional. Komunikasi internasional, menurut Everett M. Rogers dan William B. Hart di dalam pengantar buku “Handbook of International and Intercultural Communication”, adalah proses komunikasi pada level makro; tidak hanya antar aparatur negara, melainkan juga antar masyarakat secara luas. Proses komunikasi internasional juga berkaitan erat dengan nilai budaya dan konteks politik negara-bangsa yang bersangkutan.

Pertanyaannya, apakah ada program acara di televisi Indonesia misalnya, yang membicarakan informasi di seputar negara-negara ASEAN? Acara berita pun tidak ada yang segmen yang membicarakan ASEAN secara khusus. Segmen yang ada adalah segmen internasional yang membicarakan seluruh kejadian di dunia, kebanyakan di negara Barat. Jadi sebenarnya thesis awal kajian komunikasi internasional yang membicarakan ketimpangan informasi di dunia, belumlah sepenuhnya hilang.

Hal yang lain lagi adalah permasalahan detail koneksi tersebut. Negara anggota ASEAN terdiri dari sepuluh negara, yaitu : Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura, Brunei, Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Tetapi apakah kita, masyarakat Indonesia, “mengenal” semua negara ASEAN tersebut? Apakah kita mendapatkan informasi yang cukup mengenai bangsa-bangsa tersebut?

Paling-paling kita lebih banyak mengenal negara yang dianggap “serumpun”, Malaysia, itu pun sekarang ini lebih dalam konteks negatif. Walau Indonesia dan Malaysia pada dekade 1980-an dulu memiliki program acara kolaboratif berjudul “Titian Musibah”, acara itu dahulu pun belum mampu menghubungkan kedua negara ini. Apalagi pada masa sekarang di mana problem di dalam hubungan tersebut menjadi lebih kompleks dan sering dipelintir oleh media.
Bagaimana dengan kerjasama media dengan negara ASEAN lain selain Malaysia? Sepertinya tidak ada.

Bila ada pun, kerjasama itu bersifat sporadis dan tidak melibatkan banyak anggota masyarakat. Masyarakat kebanyakan lebih memahami "berita umum", semisal badai di Filipina. Berita dalam konteks memperkuat koneksitas tersebut belum diimplementasikan secara mendalam. Jika kita memandang bahwa proses komunikasi internasional itu bersifat sistematik, semua pihak harus memikirkan bagaimana koneksi tersebut direncanakan dan dilaksanakan serta melalui cara seperti apa.

Mungkin salah satu jawabannya adalah dengan melakukan komunikasi yang lebih intens antara masyarakat sipil kedua negara, yang dipicu dan diperkuat oleh media masing-masing negara. Bukankah definisi komunikasi internasional saat ini sudah diperluas, tidak hanya komunikasi antar negara atau pun komunikasi negara di dalam lembaga-lembaga internasional, melainkan juga proses komunikasi antar masyarakat antara bangsa? di mana proses komunikasi itu pun sudah sangat beragam dan strategis.

Every Kinda People

Lagu ini adalah salah satu lagu awal yang saya sukai ketika pindah ke Yogya tahun 1990 lalu. Sebenarnya lagu ini telah dirilis pada tahun 1978 dan banyak dinyanyikan penyanyi lain yang terkenal. Lagu ini kemudian dikemas kembali pada tahun 1989. Remake-nya inilah yang saya dengarkan. Selain lagunya yang bagus, lagu ini dianggap “menggerakkan” karena berbicara tentang multikulturalisme dan perjuangan hidup manusia.

Begitulah kira-kira yang saya rasakan pada tahun itu. Rasa “terasing” berada pada suasana budaya yang baru awalnya membuat saya bingung. Pada akhirnya, perbedaan suasana dan perbedaan kultur itu membawa gairah untuk hidup lebih baik lagi. Lagu inilah yang menjadi atmosfer ketika saya naik bus kota, berjalan dan bersepeda menyusuri jalan-jalan antara rumah dan sekolah sewaktu SMP dan SMA.
Terkadang saya rindu sekali dengan Yogyakarta pada masa belum terlalu ramai seperti sekarang.

Lagu ini terus saya sukai, bersama lagu Billy Joel yang berjudul "We didn’t Start the Fire" yang menyebut-nyebut Bandung sebagai kota bersejarah di dunia, serta lagunya Lisa Stensfield, “All Around the World”. Kebetulan lagunya bertema mirip dan populer pada era yang sama. Selain karena lagu ini, saya juga menyukai Robert Palmer karena menjadi vokalis dari grup Power Station yang merupakan band pecahan Duran Duran, salah satu band favorit saya di masa lalu.

Lagu ini semestinya lebih sering saya dengarkan untuk memompa semangat karena belakangan ini semangat itu sering meredup. Semoga hal yang sama berlaku juga untuk teman-teman lain. Ini lirik lengkap lagunya:

Every Kinda People

Performed by: Robert Palmer


Said the fight to make ends meet
Keeps a man upon his feet
Holding down his job
Trying to show he can't be bought

It takes every kind of people
To make what life's about
Every kind of people
To make the world go 'round

Someone's looking for a lead
In his duty to a King or creed
Protecting what he feels is right
Fights against wrong with his life

There's no profit in deceit
Honest men know that
Revenge do not taste sweet
Whether yellow, black or white
Each and every man's the same inside

It takes every kind of people
To make what life's about
Every kind of people
To make the world go 'round

You know that love's the only goal
That could bring a peace to any soul
Hey, and every man's the same
He wants the sunshine in his name

It takes every kind of people
To make what life's about
Every kind of people
To make the world go 'round

It takes every kind of people
To make what life's about
Every kind of people
To make the world go 'round...

Hati Tiga Hari Ini

Apakah begini rasanya?
Menjumputi bahagia menyiangi asa tiap pagi
Apakah segini bahagianya?
Rasa yang mungkin tidak kudapatkan di mana pun kecuali di hati ini

Realitas indah mayapada
Awalnya kutafsir hanya dengan mata
Semakin siang nantinya coba kupahami dengan hati
Tafsir-tafsir ilmiah tanpa terali ingin kusebarkan
Mungkin saja tidak interteks
Mungkin saja hanya kesunyian
Selain anai-anai yang merajuk, kita ini apa?

Aku tahu siapa yang akan membawaku kembali ke rumah
Menghablur bersamamu dari senja sampai pagi tiba
Bukan sekadar bercerita tentang kau yang bersemayam di hatiku
ataupun aku yang bertamasya di pikiranmu
Kita bukanlah anai-anai, kita adalah burung-burung manyar

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...