Jumat, 14 Januari 2011

Kelenjar Alibi


Mengerjap

Bau tanah menelungkup resah

Merona

Wangi tubuhnya terus menyergap khidmat

Untaian hujan yang menghiasi langit

Kalungan warna memoles matahari

dan dia pelan-pelan beranjak tinggalkan luka



Namun luka tak pernah meninggalkannya sedikit saja

Dari mana asalnya daya tahan ini?

Bertahan dari kepedihan yang terus menerus datang

Menjinakkan gundah yang akan selalu terlontar dari tiap sudut hari



Menyesap

Detik-detik terasa purba dan bersahaja

Mengalir terus begitu saja

Alibi Dini


Menggenggam

hari-hari di awal tahun

Menggendam

impian sendiri agar jinak pada rasa mengada

Mendendam

pada kemarin hanya sia-sia

Memendam

kesombongan, narsisme, antuasisme berlebih, dan hampa-hampa

Menajam

visi dalam praksis, ruang kreasi dinamis, dan strukturasi personal

Menggaram

detail dan substansi tiap buliran waktu



Dunia tak lagi miliki alibi

Tergodam!

Jumat, 07 Januari 2011

Album Musikal Laskar Pelangi: Kembali pada yang Asali


Ketika mendengarkan album “Musikal Laskar Pelangi” ini saya teringat dengan tim nasional sepakbola Indonesia yang tampil di piala AFF akhir tahun 2010 kemarin. Apa persamaan dan perbedaan Laskar Pelangi dengan timnas Indonesia? Perbedaan utamanya adalah Laskar Pelangi adalah hasil kreasi fiksi oleh Andrea Hirata yang berwujud novel dan terbit pada tahun 2005. Kisah ini memang sebagian berasal dari masa lalu penulisnya dan bersifat tak nyata, sementara timnas adalah sekumpulan pesepakbola berjumlah dua puluh tiga orang yang tampil mewakili Indonesia memainkan olahraga paling populer di negeri indah ini. Timnas adalah realitas. Fakta empiris yang ada dalam kehidupan. Mudah sekali mencari perbedaan keduanya. Kita akan menengok perbedaan yang lain nanti.

Lalu apa persamaannya? Persamaannya, Laskar Pelangi sebagai sebuah karya dan timnas sepakbola Indonesia adalah keduanya mengembalikan pada hal-hal yang asali. Hal-hal positif yang kita ingin rasakan secara kolektif. Hal asali pertama adalah keindahan berusaha dengan keras dari para tokohnya. Laskar Pelangi yang awalnya merupakan sebuah pesan media cetak, buku, kemudian juga merambah film dan musik rekaman. Kita semua ingat bahwa film dan OST dari film tersebut, media musik rekaman, yang muncul pada tahun 2008, juga sukses mengikuti novelnya. Kita disuguhkan kisah anak-anak yang berusaha dengan keras untuk menempuh pendidikan. Hanya satu anak yang kemudian bersekolah sangat tinggi tetapi kita semua pembaca bahagia dengan usaha yang mereka lakukan. Tak peduli pada akhir kisahnya, kita bahagia menyaksikan para tokoh Laskar Pelangi berusaha keras untuk belajar di tengah keterbatasan.

Hal yang sama terjadi pada timnas sepakbola kita. Kapan terakhir kali kita, masyarakat Indonesia, bergembira dengan sepakbola timnas sendiri? Kita mungkin sudah lupa karena sudah begitu lama. Saya pribadi antusias mengikuti timnas kita ketika jaman Bima Sakti cs bermain. Hal yang kita ingat baru saja di akhir tahun kemarin itu adalah kegembiraan mendukung timnas. Kita bangga dengan Firman Utina dan kawan-kawan tampil di lapangan. Walau kita tidak merengkuh gelar juara, kita bahagia melihat perjuangan berkelas timnas di leg kedua final AFF. Ada usaha yang luar biasa. Melalui sepakbola kemarin itu, rasa bangga kita atas nasionalisme Indonesia menguat kembali. Kita tahu bahwa masalahnya bukan di para pemain. Di tengah ketidakbecusan para pengurus PSSI, penampilan timnas adalah pelangi di hari-hari tak indah bersama PSSI yang mengurus sepakbola kita.

Hal yang asali tersebut juga mengalir dengan lancar dan hangat pada kita semua. Ide cerita yang sebenarnya biasa namun dikemas dengan luar biasa dari Laskar Pelangi mengalir pada pesan media yang lain. Perhatian masyarakat Indonesia juga kemudian membesar pada situasi pendidikan dasar di berbagai wilayah Indonesia, apalagi ketika novel Laskar Pelangi dibicakan dalam Kick Andy di sebuah stasiun televisi, salah satu dari sedikit program bagus di layar televisi kita.

Timnas sepakbola pun demikian juga. Antuasiasme masyarakat Indonesia menonton sepakbola negerinya sendiri meningkat. Keinginan besar untuk menjadi penonton yang baik juga meningkat. Hal ini terlihat dari dukungan yang tetap sangat besar pada timnas kita. Saya kira penyebabnya bukan ketampanan Irfan Bachdim keterampilan Christian Gonzales mengocek bola belaka, yang membuat fans timnas bertambah. Juga bukan hanya karena ekspos media yang besar sekali, namun sekali lagi, antusiasme itu berasal pada yang asali dari sepakbola. Baru kali ini kita begitu optimis memperbaiki kondisi persepakbola Indonesia. Baru kali ini kita sebagai masyarakat merasa terlibat intens karena pada hakekatnya sepakbola adalah punya kita bersama.

Bila kita sudah mengulik persamaan Laskar Pelangi dan timnas, kini saatnya kita melihat perbedaannya. Perbedaan lainnya, selain sifat fakta dan pesan media yang mungkin ditampilkan: faktual dan fiksional, adalah kehadiran di dalam pesan media yang lain. Dunia imajiner yang diciptakan Laskar Pelangi berkembang tidak hanya di novelnya, melainkan juga berkembang menjadi beragam isi pesan media lain sampai pada drama musikal ini. Drama musikal yang kembali meneguhkan bahwa sebagai seperangkat ide, Laskar Pelangi memang luar biasa. Pesan media yang belum muncul dari Laskar Pelangi hanyalah pesan media baru, misalnya Laskar Pelangi belum hadir di dalam game komputer. Padahal, bila kita melihat isinya potensi Laskar Pelangi untuk ditampilkan dalam game sangatlah besar. Laskar Pelangi bisa menjadi game yang bagus dan mendidik. Juga tak ada situs yang terus mengumpulkan informasi terbaru tentang Laskar Pelangi, misalnya tentang sekolah-sekolah dasar dan menengah di seluruh wilayah Indonesia yang bagus namun terkendala dengan fasilitas yang ada.

Hal ini yang berbeda dengan timnas sepakbola Indonesia. Timnas sebagai sebuah konsep dalam pesan media belumlah dikelola dengan baik. Timnas beserta sampirannya, terutama para istri pemainnya, memang muncul dalam infotainment. Tetapi bukan itu intinya dan dalam beberapa hal malah merugikan muncul dalam “berita” infotainment. Hal yang belum diupayakan adalah pesan mengenai timnas yang tertata dengan baik dalam beragam pesan media “formal” dari timnas sendiri. Misalnya saja timnas dibuatkan film dokumenter yang bagus, atau album kompilasi tentang timnas sehingga memiliki lagu sendiri. Bukan lagu dari film “Garuda di Dadaku” walau lagu tersebut bagus. Atau bahkan bekerja sama dengan pengembang game untuk ditampilkan dalam game sepakbola tentang timnas Indonesia. Bukankah anak bangsa kita banyak yang jago membuat game?

Album musik dari drama musikal Laskar Pelangi besutan Riri Riza ini sangat layak diapresiasi. Kesebelas lagu yang dihadirkan enak didengar dan bergenre langka dalam lanskap musik Indonesia. Erwin Gutawa dan Mira Lesmana piawai menghadirkan musik dan lirik yang pas. Mungkin karena Riri Riza dan Mira Lesmana jualah yang menghadirkan film Laskar Pelangi sekitar tiga tahun yang lalu. Penyanyi yang berkontribusi di album ini juga bagus, terutama Dira Sugandi dan Eka Deli. Belum lagi para penyanyi belia yang mengisi drama ini juga bersuara sangat bagus.

Lirik yang hadir di dalam semua lagu album ini juga termasuk kategori indah. Saya terkesan dengan upaya merelasikan konsep Laskar Pelangi dengan jembatan keledai untuk mengetahui ketujuh warna pelangi, mejikuhibiniu. Terobosan makna yang menarik setelah judul Laskar Pelangi di mana sebelumnya kata laskar identik dengan makna yang negatif; kekerasan dan intoleransi. Kini makna laskar berubah menjadi positif, kolaborasi dan keberagaman.

Walau begitu, masih ada sedikit kekurangan, yaitu tiadanya terobosan tafsir baru atas teks awal. Padahal ide awal yang berasal dari novel misalnya, sedikit memunculkan ketimpangan kelas dan relasi cinta antar etnis. Kedua topik “sensitif” itu bisa saja diperlebar tafsirnya. Ketimpangan kelas muncul dalam lagu “Nasib Tak akan Berubah” dengan kata kuli yang disebut berulang-ulang. Istilah ini bisa dieksplorasi lebih mendalam. Jangan-jangan kita semua adalah kuli dan ada di banyak bidang lain selain pendidikan? Pun dengan relasi cinta antar etnis di lagu “Jari-jari Cantik”, yang berkisah bagaimana Ikal jatuh cinta pada Aling. Fenomena jatuh cinta kultural yang hanya melalui jari-jari Aling. Menarik bila problematika hubungan dua anak manusia antar etnis di lagu tersebut, juga di kisah aslinya, dilebarkan lagi. Mungkin dalam kisah yang nantinya muncul dalam pesan media yang lain. Di dalam pesan media yang bukan untuk anak-anak atau semua umur.

Kekurangan yang lain adalah kesempatan audiens untuk mengakses pesan media ini. Sama seperti drama musikalnya yang hanya dimainkan di Jakarta dalam waktu hanya beberapa hari, album ini hanya bisa diakses atau dibeli di toko-toko buku Gramedia sehingga kesempatan masyarakat menikmati karya yang bagus ini terlimitasi. Di luar itu semua, album ini sangat layak didengarkan oleh semua usia dan dalam semua waktu, siang atau pun malam, karena yang asali selalu cocok untuk semua umur dan semua keadaan. Karena yang asali selalu membuat kita bahagia dan tercerahkan.

Judul Album : Musikal Laskar Pelangi
Penyanyi : Various Artist
Komposer : Erwin Gutawa & Mira Lesmana
Produser dan Arranger : Erwin Gutawa
Tahun : 2010

Daftar lagu:
1.Ensemble Theater Company Musikal Laskar Pelangi & Lea Simanjuntak - Nasib Tak Akan Berubah
2.Anak-anak Laskar Pelangi - Anak Pelangi
3.Christoffer Nelwan - Jari-jari Cantik
4.Gabriel B. Harvianto, Lea Simanjuntak & Iyoq Kusdini - Sekolah Miring
5.Eka Deli & Ensemble Anak-anak Laskar Pelangi - Sahabat Alam
6.Teuku Rizki & Ensemble Musikal Laskar Pelangi - Mahar & Alam
7.Ensemble Theater Company Musikal Laskar Pelangi - Blues Nasib Tak Akan Berubah
8.Dira Sugandi - Hilangnya Harapan
9.Hilmi Faturrahman & Ivant Septiawarman - Menanti Ayah, Menanti Lintang
10.Hilmi Faturrahman - Salam Perpisahan
11.Ensemble Theater Company Musikal Laskar Pelangi - Nasib Telah Berubah

Selasa, 04 Januari 2011

The 15 Best Indonesian Albums of 2010
















Tahun 2010 musik Indonesia masih disemarakkan dengan album-album bagus walau dipandang dari sisi industri, dominasi yang ada bukanlah dari album-album yang berkelas, minimal dari yang kita dengar dan lihat di televisi. Juga dari media cetak, pembicaraan tentang lebih banyak didominasi oleh mainstream. Pertemuan antar “arus utama” itu galib terjadi di tengah media yang didominasi profit semata. Hanya sedikit media arus utama dan sedikit lebih banyak media alternatif yang mengulas album-album berkelas.

Secara sepintas saya merasakan album yang berkelas menurun jumlahnya dibandingkan dengan tahun lalu. Kalau album tak berkelas sih, masih sangat banyak diproduksi dan dengan mudah didapatkan di toko-toko cakram padat. Dengan begitu, akses saya di tahun ini atas musik Indonesia juga terbatas dari sisi jumlah album yang didengar. Kelangkaaan itu kemudian juga menular pada musisi atau penyanyi baru yang muncul. Tidak ada nama yang benar-benar baru dari kelimabelas nama yang saya pilih ini.

Kebanyakan adalah penyanyi kugiran walau beberapa sudah sangat lama tidak menelurkan album. Ada juga dua penyanyi yang baru pertama-kali mengeluarkan album tetapi “sepak-terjang” karir bermusiknya sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Reputasi yang telah mereka bangun pun sudah lumayan mumpuni.

Hal lain yang unik adalah hanya ada satu album yang merupakan kolaborasi dari banyak penyanyi atau musisi. Sisanya adalah album yang dibawakan satu band atau satu penyanyi. Walau begitu, satu album kolaborasi tersebut mempunyai daya tarik dan daya gedor luar biasa. Album itu adalah kolaborasi “Jogja Istimewa 2010” yang awalnya untuk memperingati ulang tahun kota Yogyakarta, kemudian juga untuk membuat kita ingat dengan erupsi Merapi. Walau kemudian, album ini melenting dalam pusaran gonjang-ganjing keistimewaan Yogyakarta antara masyarakat Yogyakarta dan pemerintah pusat. Album ini segera mendapatkan perhatian lebih.

Ada tiga argumen yang saya gunakan untuk menakar dan menentukan kelimabelas album Indonesia terbaik versi saya. Pertama, saya bukan musisi dan saya pun awam dengan musik. Perangkat pemikiran yang saya pahami adalah kajian media sehingga saya akan menelaah musik populer dari sudut pandang ilmu yang saya pelajari tersebut. Dengan demikian, kohesivitas “pesan” yang dibawa oleh album merupakan alasan utama penentu. Kedua, walau begitu, musik yang enak didengar juga adalah hal yang sangat penting.

Inilah dualitas album, meminjam istilah dari Giddens, bahwa musik dan isi album adalah dua elemen yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, bahkan saling mendukung dan menguatkan. Kira-kira maknanya seperti di film populer, “Music and Lyric” yang diperankan oleh Hugh Grant dan Drew Barrymore, bahwa musik dan lirik saling melengkapi dan menyatukan. Lagu, dan juga kumpulannya, album, terdiri dari dua elemen tersebut.

Terakhir, arti penting album tersebut dalam lanskap atau hamparan musik Indonesia selama ini. Apakah ada unsur kebaruan dan keunikan dari semesta album yang pernah ada adalah isu kuncinya. Walau begitu, saya sangat menyadari bahwa pengamatan saya atas musik populer Indonesia belumlah maksimal. Semua tergantung dari sumber daya saya yang terbatas, waktu, dana, dan pengalaman.

Anggap saja daftar ini sekadar memberikan tambahan catatan kaki atas banyak daftar album Indonesia terbaik tahun ini yang bermunculan di berbagai media, terutama media utama seperti Rollingstone Indonesia. Juga daftar yang dilansir oleh rekan-rekan sesama pecinta musik Indonesia. Bukankah beragam tafsir atas sesuatu diperlukan untuk memperdalam keindahan?

Berikut ini lima belas album Indonesia terbaik tahun 2010 kemarin:
Peringkat kelimabelas, album Exellentia oleh KLa Project. Album comeback yang lumayan bagus bagi sebuah band senior yang sudah lama tidak mengeluarkan album penuh. Album ini juga berperan sebagai pengobat rindu bagi Klanis yang dirilis di akhir tahun. Album ini bagus walau bisa lebih bagus lagi di album berikutnya. Lagu “Hidup adalah Pilihan” adalah lagu yang enak didengar sekaligus mengingatkan kita pada kemampuan Kla membuat lagu yang enak didengar sekaligus dengan lirik puitis nan sederhana.

Keempatbelas, adalah debut album dari Lala Suwages yang berjudul “Langkah Baruku”. Album ini sesuai dengan judulnya adalah langkah yang bagus. Adonan khas album penyanyi baru dengan memberikan beberapa lagu bagu diaduk dengan satu atau dua lagu lama terlihat berhasil. Kita akan mendengar dua lagu legendaris dalam tafsir baru yang baik dan segar. Silakan dengarkan “Nada Kasih” dan “Semua Jadi Satu” versi Lala.
Album miliki Maliq & D'essentials yang berjudul “The Beginning of A Beautiful Life” ada di peringkat ketigabelas. Musik yang enak jadi teman bergoyang yang santun seperti biasa jadi andalan album-album mereka. Selain itu keterampilan Maliq & D'essentials dalam membuat kemasan album patut menjadi inspirasi walau jangan sampai kita melupakan isi atau substansi dengan terlalu berlebihan memperhatian pengemasan pesan.

Keduabelas, adalah album dari Indro Hardjodikoro yang berjudul “Feels Free”. Mendengarkan album ini kita benar-benar merasa “bebas” dan juga takluk pada “kesederhanaan” musisinya yang menghablur dalam semua lagu. Lagu “My Angels” membuat saya benar-benar merasa bersyukur memiliki orang-orang yang dicintai dengan tulus di dalam hidup yang hanya satu kali ini.

Album Sajama Cut yang berjudul “Manimal” hadir di hirarki kesebelas. Ide yang berasal dari sebuah judul film televisi dekade 1980-an bermetamorfosis menjadi “teks” baru yang lumayan ciamik. Walau belum sebagus album “Osaka Journals”, album ini enak diakses dan dihayati terutama lagu yang berjudul “Twice (Rung the Ladder)”.

Kesepuluh, album “Dream, Hope, and Faith” dari Monita Tahalea. Penyanyi jebolan Indonesian Idols ini menunjukkan bahwa di tangan yang tepat, album yang bagus dan sesuai dengan tipe suara penyanyi bisa dihasilkan. Beberapa lagu sangat bagus, terutama interpretasi ulang atas lagu “Over the Rainbow” dan “Di Batas Mimpi”.

Peringkat kesembilan adalah Andien dengan album “Kirana”. Selain tafsir baru dua lagu milik Krakatau, yaitu “Gemilang” dan “Keraguan”, lagu-lagu lain juga enak didengar. Mendengarkan album ini membuat saya benar-benar rindu dengan lagu-lagu yang pernah dipopulerkan oleh Krakatau jaman dulu seperti “Sekitar Kita” dan “Kau Datang”.
Album untuk khalayak pendengar Indonesia oleh Sandhy Sondoro dengan judul yang sama dengan penyanyinya ada di peringkat kedelapan. Album yang menunjukkan kemampuan penyanyinya yang ciamik, yang telah besar sebelumnya di manca negara. Album ini berisi pesan yang sarat dengan kebaikan, sementara lagu cinta yang berjudul “End of the Rainbow” adalah lagu yang paling menggedor sukma bila didengarkan dengan khidmat.

Peringkat ketujuh adalah album kedua dari Endah N Rhesa yang berjudul “Look What We've Found”. Album yang berkonsep bertualang di sebuah pulau tropis yang eksotis ini memang berbeda dengan debut album yang memukau itu, namun album ini juga memiliki keindahannya sendiri, terutama untuk lagu “Midnight Sun”. Lagu yang lebih cepat dari lagu mereka umumnya dan tetap terasa karakter penyanyinya.

Album “Laju” yang dihantarkan oleh Bonita adalah album di peringkat keenam. Album yang padat berisi beragam jenis musik yang enak didengar dan tafsir kehidupan perempuan yang menarik. Keberagaman musik yang indah membuat kita tak bosan mendengarkan penuh album ini berkali-kali. Tidak hanya lagu “Komidi Putar”, yang menjadi lagu terbaik di OST Sang Pemimpi, yang bagus, lagu-lagu lain semisal “Telur” dan “Mellow” juga bagus sekali.

Kelima adalah album milik White Shoes & the Couples Company, yang berjudul “Album Vakansi”. Album penuh kedua milik mereka ini membuat kita terkenang-kenang pada musik Indonesia masa lalu dengan penuh. Nuansa perjalanan yang dimunculkan juga membuat kita merasa lebih dekat dengan Indonesia yang indah. Mendengarkan album ini serasa mengantarkan saya pada masa lalu, mendengarkan lagu-lagu Indonesia lama, membaca komik karya Djair, dan menonton film-film Barry Prima. Hampir semua lagu di album ini bagus, terutama “Selangkah ke Seberang” yang merupakan lagu lama Fariz RM sekaligus memunculkan pencipta dan penyanyi aslinya.

Album kerja bersama yang berjudul “Jogja Istimewa 2010” hadir di peringkat keempat. Album yang kontekstual dengan tiga hal, yaitu pertama, alasan awal kompilasi ini dimunculkan, HUT kota Yogyakarta. Kedua, alasan selanjutnya, yang juga menunda perilisannya, yaitu erupsi Merapi yang melanda kota berkah ini. Terakhir, alasan yang terkuat, keistimewaan masyarakat Yogyakarta, polemik yang muncul tak lama setelah album ini dirilis. Semua lagu yang ada di album ini bagus, terutama lagu dari dua band yang saya suka, yaitu “The Joker” oleh Cranial Incisored dan “The Song Finished” oleh Armada Racun. Musisi Yogyakarta memang banyak yang bagus dan unik walau paling tidak dua nama besar tidak muncul di album ini. Lagu “Jogja Istimewa” oleh Ki Jarot (Jogja Hip Hop Foundation) sampai detik ini masih memenuhi atmosfer Yogyakarta, bukan hanya karena isu keistimewaan kota multikultur ini, namun juga karena lagu ini memang sangat enak didengarkan.

Di peringkat ketiga adalah album “La Peste” dari Armada Racun. Entah mengapa album bagus ini tidak tertangkap radar media arus utama untuk dilaporkan, diresensi, dan ditafsir, padahal isi pesan dan musik di album ini sangat oke. Ada lagu yang bercerita tentang kondisi yang paradoksal dalam kehidupan masyarakat kita, “Sad People Dance”, dan ada pula lagu yang berbincang politik dengan tajam, “Tuan Rumah tanpa Tanah”. Semua lagu itu juga bagus didengarkan dengan tulus.

Album “Starlit Carousel” dari Frau ada di peringkat kedua. Album yang hanya berisi enam lagu, namun gaungnya, daya dobraknya, seperti berasal dari album dengan banyak lagu. Denting piano dan vokal ciamik membuat pendengar terlena dan terpukau. Lagu “Mesin Penenun Hujan” membuat kita terbahagiakan dengan maknanya yang mistis sekaligus membawa kita berani memasuki hidup.

Terakhir, untuk album peringkat pertama saya memilih “Ode Buat Kota” oleh Bangkutaman. Berarti saya memilih empat album terbaik sesuai dengan kota Yogyakarta. Tiga album sebelumnya sangat Jogja, sementara album terbaik Indonesia ini pun “berasal” dari Yogyakarta walau kini semua personelnya sudah meninggalkan kota inspiratif ini. Mereka kemudian menafsir kehidupan kota metropolitan tempat mereka hidup sekarang dengan kritis, detail, sekaligus indah. Semua lagu di album ini bagus layaknya album the best namun dengan kohesivitas sebuah album konvensional. Lagu yang paling bagus tentu saja “Ode Buat Kota” adalah penggambaran kota Jakarta terbaik sejauh ini melalui lagu, bersanding dengan “Matraman” dari the Upstairs.

Bagaimana dengan daftar album terbaik Indonesia tahun 2010 versi teman-teman?

Jumat, 31 Desember 2010

Pucuk Alibi


(1)

Kisah di titian hati

Melanggengkan sepi terus melekat

Membuka pintu pada ribuan kemungkinan

Kita tak henti menafsir-Nya



Narasi di pinggiran siang

Membuncahkan semangat ke semua penjuru

Merongga isi hati dengan liris

Kita terus menghukum sesama atas nama-Nya



Sayang di pertengahan argumen

Mematahkan niat tak lagi suci

Meratapi terus hidup orang lain

Kita tak pernah berlari menggunakan rasio yang diberi-Nya



Kasih di titian bumi

Menghampiri tak hendak pergi

Kembali hanya pada titian hati

Kita terus mengeja nama-Nya



(2)

Hari yang linear

Terobati sedikit dengan tafsir merujuk pada oposisi biner

Menawari narasi pamungkas hari ini

Hati yang terisi detik-detik penghabisan



Mu menggugu tak pernah bisu

Mu meramu tiap fajar

Mu menunggu untuk dicercap sedikit dulu

esok dan seterusnya



(Hari terakhir 2010)

Rabu, 29 Desember 2010

Alibi Embun

Satu-satu ku berderai

Saksikan pergantian waktu

Pelan-pelan beralih menuju keabadian

Apa yang lebih menyedihkan selain tak bisa menemani yang tersayang dalam bahagia maupun hampa?



Aku tak ingin menghilang

Bila itu berarti tak melihatmu berkembang

Menjadi ilalang ataupun bebungaan

Menjadi terang atau mendung hari



Satu demi satu ku terbongkar

Terdiam saja di sudut-sudut harapan

Berjatuhan dengan lambat terhempas cahaya pertama

Apa yang lebih membahagiakan selain melihatnya bahagia dengan bangga memasuki hari?



Aku hanya ingin menghablur dalam dirinya utuh penuh

Menginsepsi pagi ini dengan ide satu demi satu

tentang senyum sampai kemanusiaan

tentang maaf, kesempatan kedua dan menikmati perjalanan



Sementara detik demi detik hari mulai mengutuhkan hidup sekali lagi

Apa adanya namun sangat bahagia



## untuk putriku dan ibunya

Selasa, 28 Desember 2010

Kesempatan, bukan Alibi

terima kasih Pencipta pagi,

hampa ini membuatku lumat sepi

coba menggapai-Mu berkali lagi



bersyukur pada Pemberi malam

rindu ini jadikanku dendam pada lara kemarin

coba memahami-Mu lebih utuh



mengurai asa untuk Perangkai fajar dan senja

apakah yang abadi hanya ketiadaan?

menyusun pelan-pelan keping eksistensi tanpa jeda

berbentuk kediaman indah tempat bulir hasrat bersemayam

dan rasa sayang membahagiakan relasi kita

cukup sekali merasakan makna yang sesungguhnya

atau aku saja yang belum menuntaskan apa pun jua?

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...