Rabu, 29 Juni 2011

Memahami Khalayak Lembaga Penyiaran Publik (Bagian 1)


Dengan berakhirnya Orde Baru yang juga berakhirnya sistem media yang otoriter masyarakat Indonesia dapat dikatakan memperoleh keberlimpahan informasi melalui beragamnya media dan teknologi informasi dan komunikasi. Sejak era keterbukaan dan demokrasi dirasakan oleh masyarakat Indonesia, yang menjadi penanda dari munculnya rejim baru, hampir semua jenis informasi dari semua jenis media bisa kita peroleh. Keadaan ini sesunguhnya adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, keberlimpahan informasi tersebut dapat membawa hal positif karena memberikan informasi yang berjumlah banyak dan beragam kepada kita. Namun, di sisi yang lain, keberlimpahan tersebut dapat membawa hal negatif di mana anggota masyarakat justru tenggelam di dalam lautan informasi tanpa bisa memanfaatkannya. Informasi tidak digunakan dengan baik sehingga menimbulkan kecemasan dan kebingungan untuk memilih dan memilah informasi yang tepat. Hal ini semakin diperparah dengan ketiadaan visi pengambil kebijakan yang bagus di dalam peraturan perundangan penyiaran untuk televisi dan radio. Sebaliknya, media yang bermotif komersial dan membawa kepentingan politik yang kental justru lebih terlihat dibandingkan dengan lembaga penyiaran publik.

Kedua jenis media tersebut, media yang bermotif terlalu komersial dan politis, memang masih berusaha diredam dan diawasi perkembangannya, tetapi dengan penegakan peraturan perundangan yang lemah dan regulasi yang tidak implementatif menjadikan sistem media yang berpihak pada publik sulit diwujudkan dalam waktu dekat ini. Oleh karena itu, kita memerlukan cara lain untuk memperbaiki kondisi bermedia masyarakat Indonesia. Salah satu cara untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah memperkuat kapasitas lembaga penyiaran publik. Pemahaman khalayak oleh lembaga penyiaran publik yang baik adalah salah satu cara untuk memperkuat kapasitas kelembagaan media penyiaran. Khalayak adalah elemen yang utama cara melihatnya sebagai bagian dari warga masyarakat bukan sebagai konsumen seperti pada media penyiaran komersial.

Khalayak adalah “wilayah” di mana kita dapat memperbaiki kondisi media penyiaran di Indonesia. Selain itu, bagi pengelola media, pemahaman yang baik atas khalayak akan menjadikan operasionalisasi atau eksistensi media juga baik. Singkatnya, khalayak adalah elemen yang penting bagi media. Posisi ini bahkan semakin penting setidaknya karena dua alasan. Pertama, kondisi demokrasi yang semakin menguat di masyarakat yang diikuti oleh kesadaran hak-hak politik mereka, termasuk hak atas informasi sesuai dengan konstitusi Indonesia. Kedua, tuntutan akan posisi media penyiaran publik yang netral dan independen, serta memenuhi keterbukaan informasi publik.

Khalayak yang semakin aktif mengakses media juga menjadi alasan yang penting mengapa khalayak perlu dipahami dengan lebih baik lagi. Teknologi informasi dan komunikasi yang ada sekarang ini menjadikan aktivitas mengakses media semakin personal sekaligus aktivitas bersama. Teknologi juga menjadikan penggabungan individu dengan kepentingan bersama menjadi lebih mudah sehingga kritik dan masukan kepada pihak pengambil kebijakan juga lebih mudah diartikulasikan. Berkat kemajuan teknologi, pihak pengambil dan pelaksana kebijakan tak lagi bisa semena-mena dan tertutup.

Faktor terakhir pentingnya pemahaman terhadap khalayak adalah semakin meningkatnya pengetahuan mereka yang semakin tinggi. Kini, sebagian anggota masyarakat memiliki tiga kecakapan bermedia, yaitu literasi untuk media cetak, literasi media untuk media audio visual, dan literasi digital atau literasi media baru. Khalayak relatif tidak lagi mudah diperdaya oleh media. Pemantauan media kini tidak hanya dilakukan oleh pihak berwenang, regulator media, tetapi juga dilakukan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat sipil. Walau masih memiliki kekurangan di sana-sini, kecakapan bermedia tersebut sudah berkontribusi positif atas pemahaman masyarakat terhadap media. Jika media menyediakan sesuatu yang kurang tepat atau kurang etis maka masyarakat akan cenderung mengajukan kritik saat sekarang ini.

Begitu pentingnya memahami khalayak, terutama bagi lembaga penyiaran publik, sehingga semacam pengantar yang membahas pengertian dasar dan aspek-aspek riset khalayak perlu untuk didiskusikan di dalam tulisan. Tulisan ini berusaha menjabarkan konsepsi khalayak bagi lembaga penyiaran publik. Pada bagian awal akan dijelaskan siapa sebenarnya khalayak tersebut. Berikutnya, akan coba didedahkan kedudukan riset khalayak dalam proses komunikasi. Uraian akan ditutup dengan menjelaskan klasifikasi khalayak melalui pemahaman tipologi riset yang digunakan oleh peneliti sampai masa sekarang ini.

Mendefinisikan Khalayak

Secara sederhana khalayak dapat diartikan sebagai siapa pun yang mengakses isi media. Khalayak juga seringkali disebut sebagai audiens walaupun pengertiannya sedikit berbeda. Bila audiens dipandang lebih netral, khalayak cenderung dimaknai lebih dekat dengan karakter massa, yang cenderung sangat luas, irasional, dan peyoratif. Setiap individu yang mengakses media disengaja atau pun tidak disebut khalayak. Khalayak sendiri akan memiliki nama yang berbeda bila dikaitkan dengan media yang diaksesnya, yaitu pembaca untuk media cetak. Ragam media cetak adalah buku, suratkabar, dan majalah. Khalayak disebut pemirsa atau pendengar untuk emdia audio, yaitu radio siaran dan musik rekaman. Khalayak bernama pemirsa atau penonton untuk media audio visual, yaitu film dan televisi. Terakhir, khalayak disebut pengakses atau pengguna bila berkaitan dengan media baru, yaitu bila individu menggunakan internet, game, dan handphone. Walau begitu, pengakses jarang sekali disebut khalayak karena mereka melakukan aktivitas yang aktif dan cenderung lebih personal.

Selain itu, khalayak juga bisa langsung mengakses informasi atau pesan tanpa termediasi atau tanpa menggunakan media. Contoh kegiatan mengakses informasi tanpa termediasi misalnya menonton langsung sebuah pentas musik, pertandingan olahraga, bahkan menyaksikan sebuah program acara langsung di sebuah stasiun televisi. Komunikasi di dalam sebuah kelompok sosial juga termasuk jenis komunikasi tanpa termediasi tersebut. Namun, khalayak yang menyaksikan sebuah pertunjukan secara langsung jauh lebih terbatas dan sedikit saja jumlahnya bila dibandingkan dengan khalayak yang mengakses pertunjukan tersebut melalui media. Khalayak jauh lebih sering mendapatkan informasi secara tak langsung atau termediasi melalui berbagai media, termasuk media baru. Media baru secara umum juga mengubah cara khalayak mengakses pesan media, dari sifatnya yang bersama-sama menjadi lebih personal. Selain itu, media baru melalui perkembangan teknologi terkini juga memperkuat relasi sosial. Khalayak media baru tidak lagi bersifat atomistik, yaitu karakter yang saling tidak mengetahui dan tak terangkai antar individu khalayak seperti dalam konsep khalayak sebagai massa.

Berdasarkan aktivitas bermedia yang dilakukan oleh khalayak, khalayak sendiri bisa diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yaitu khalayak pasif, khalayak aktif, dan khalayak partisipatif. Khalayak pasif adalah para individu yang mengakses pesan media secara “tidak sengaja” dan cenderung tak direncanakan dengan baik. Khalayak jenis ini juga menerima isi pesan media begitu saja seperti yang dibawa oleh media. Sebaliknya, khalayak aktif adalah jenis khalayak yang cenderung lebih mengakses isi pesan media dengan sengaja dan terencana. Khalayak jenis ini juga tidak dengan mudah “terintimidasi” oleh media. Khalayak aktif akan menciptakan realitas media yang kuat dan merupakan miliknya sendiri, yang bisa jadi berbeda atau bahkan merupakan kritik atas pesan media yang diterimanya. Bila pemahaman atas khalayak pasif secara implisit menunjukkan posisi media yang lebih kuat dibandingkan dengan khalayak, maka pemahaman atas khalayak aktif sebaliknya, khalayak aktif memiliki makna bahwa posisi khalayak lebih kuat bila dibandingkan dengan media. Khalayak aktif memiliki karakter yang kuat dan mampu “berhadapan” dengan isi pesan media.

Tipologi khalayak terakhir berdasarkan aktivitas bermedia adalah khalayak partisipatif. Khalayak jenis ini terutama dekat sekali degan media penyiaran publik di mana mereka tidak hanya memiliki pemaknaan yang berbeda atas pesan media yang diterima tetapi juga “bertindak” untuk berkontribusi dan mempengaruhi pesan media yang ada. Khalayak jenis ini bisa hadir secara aktif bila sebuah pesan media dihadiri oleh mereka secara langsung, misalnya program bincang-bincang di studio penyiaran. Bila pun tidak menghadiri secara langsung, mereka juga akan memberikan komentar atau masukan secara sukarela terhadap pesan media. Mereka juga bisa memproduksi dan mengkreasi pesan media yang baru yang merupakan respon atas pesan media yang mereka terima sebelumnya. Perbedaan khalayak partisipatif dengan khalayak aktif adalah pada tindakan. Pada khalayak partisipatif, tindakan mereka atas pesan media berusaha diwujudkan, sedangkan pada khalayak aktif “tindakan” tersebut lebih pada tataran pemaknaan yang berbeda dan berlangsung dalam pemikiran khalayak. Khalayak partisipatif terkadang pula berkumpul dengan sesamanya dan melakukan aktivitas bersama di luar aktivitas mengakses media, misalnya aktivitas off air pendengar untuk media radio, dan mereka juga sangat kritis memberikan masukan untuk program acara yang mereka gemari.

Selain dibedakan berdasarkan media dan apa yang dilakukannya, khalayak juga bisa diklasifikasikan dengan banyak cara. Ada empat tipologi khalayak sebagaimana dikemukakan oleh McQuail (1997:2). Pertama, khalayak berdasarkan tempat atau lokasi. Khalayak jenis ini terbagi menjadi dua, yaitu khalayak lokal dan khalayak nasional. Khalayak lokal sangat dekat dengan penguatan lokalisme yang positif walaupun persamaan bersama yang kuat tersebut relatif terbatas. Sementara khalayak nasional kemungkinan merupakan khalayak yang dibidik negara untuk memunculkan nasionalisme (lihat Dickinson, Harindranath, and Linne (ed), 1998: xiii). Di sini, terdapat relasi positif antara perkembangan media massa dengan nasionalisme di banyak negara pada awal abad keduapuluh dahulu. Pemerintah Orde Baru juga memanfaatkan media untuk memperkuat nasionalisme ketika berkuasa, terutarama media milik pemerintah, yang berada di bawah naungan sistem pers Pancasila dan Pembangunan.

Kedua, khalayak berdasarkan akumulasi personal, yang terdiri atas kelompok, berdasarkan gender, usia, pendapatan, dan sebagainya. Biasanya tipologi khalayak jenis ini berkaitan dengan kepentingan iklan bagi media komersial dan kepentingan pemberdayaan bagi media publik. Ketiga, khalayak berdasarkan isi pesan media. Khalayak jenis ini adalah khalayak untuk berita, hiburan, bahkan juga khalayak untuk iklan. Secara spesifik, khalayak memiliki keterkaitan tertentu atas jenis dan tipe pesan media disadari ataupun tidak. Keempat, khalayak berdasarkan waktu aksesnya pada pesan media, yaitu khalayak pada waktu utama (prime-time) atau khalayak pada siang hari (day-time) walaupun kini pemahaman tentang waktu utama sudah berubah, waktu utama juga tidak sama untuk tiap jenis media, misalnya untuk radio dan televisi. Kecenderungan khalayak juga banyak berubah sekarang ini, khalayak cenderung mengakses media sepanjang waktu, terutama untuk media baru.

Kita juga perlu memahami dua faktor besar dalam memahami khalayak, yaitu berbagai faktor yang ada di sisi khalayak dan berbagai faktor yang ada di sisi media (McQuail, 2005: 429 – 430). Kedua sisi tersebut, sisi khalayak dan sisi media, ibarat kedua sisi mata uang yang saling melengkapi. Tiap sisi hadir untuk melengkapi sisi yang lain. Terdapat delapan faktor yang harus kita ketahui berkenaan dengan sisi khalayak, yaitu: pertama, atribut personal seperti usia, gender, posisi dalam keluarga, situasi pendidikan dan kerja, tingkat pendapatan, juga gaya hidup (lifestyle), bila relevan. Terdapat beberapa indikasi perbedaan personalitas yang memainkan peran penting dalam telaah pesan media. Informasi pertama ini adalah informasi terpenting yang harus dimiliki atau diketahui oleh media sebelum memproduksi pesan.

Kedua, latar belakang sosial dan milieu, terutama direfleksikan sebagai kelas sosial, edukasi, agama, pandangan politik, budaya lingkungan kerja, dan budaya lokalitas tempat khalayak berdomisili. Di dalam konsep ini kita juga dapat merujuk pada konsep cultural capital, yaitu cita rasa dan kecakapan kultural yang dipelajari, yang seringkali ditransmisikan antargenerasi di dalam keluarga, sistem pendidikan, dan kelas sosial. Informasi jenis kedua ini sifatnya lebih cair, mikro, dan abstrak serta bisa didapatkan melalui riset etnografi. Ketiga, kebutuhan yang berkaitan dengan media (media-related needs), berbagai hal yang mirip dengan yang telah dijelaskan sebelumnya. Kebutuhan khalayak atas media bisa bersifat personal ataupun juga ditujukan untuk kelompok. Selain itu kebutuhan khalayak atas media bisa berkaitan erat dengan pihak pemberi informasi dan dapat berfungsi untuk mengalihkan perhatian masyarakat secara luas. Kebutuhan khalayak atas media ini dipahami secara luas sebagai keseimbangan antara kepentingan personal dengan latar belakang personal dan lingkungan sosial khalayak.

Keempat, cita rasa dan preferensi personal atas genre, format atau isi pesan media secara spesifik. Informasi keempat ini juga bisa didapatkan melalui riset khalayak yang sifatnya kultural. Belakangan ini, informasi mengenai cita rasa dan preferensi personal semakin diperlukan oleh media, terutama bagi media yang memfokuskan diri pada target khalayak yang spesifik. Kelima, kebiasaan umum dalam menghabiskan waktu luang dengan menggunakan media dan ketersediaan menjadi khalayak dalam waktu yang spesifik. Seiring dengan meningkatnya penggunaan media sepanjang waktu, kesediaan untuk menjadi khalayak juga berkaitan erat dengan lokasi untuk mengakses pesan. “Ketersediaan” khalayak juga berkaitan dengan potensi ekonomi, contohnya adalah kemampuan khalayak untuk membeli tiket menonton di bioskop dan biaya berlangganan saluran televisi kabel.

Keenam, apresiasi atas berbagai pilihan yang tersedia dan jenis informasi yang dimiliki juga memainkan peran penting dalam pembentukan khalayak. Anggota khalayak yang semakin aktif dan partisipatif dapat dimanfaatkan media untuk mengajak khalayak yang lain. Dengan demikian, khalayak jenis ini sebaiknya mendapatkan penghargaan yang lebih baik dari media. ketujuh, konteks penggunaan media yang spesifik. Keragaman ini terjadi berdasarkan media namun secara umum merujuk pada pada sosiabilitas dan lokasi penggunaan media. Hal yang paling relevan dalam dalam informasi ini adalah jawaban apakah seorang khalayak mengakses pesan media sendirian atau bersama-sama, entah bersama rekan sebaya, anggota keluarga yang lain, pasangan, dan sebagainya. Informasi tentang lokasi tempat media diakses juga penting, apakah media diakses di rumah, di tempat kerja, dalam perjalanan, ataupun di dalam bioskop. Untuk mendengarkan siaran radio misalnya, kebanyakan khalayak mendengarkannya sambil berkendaraan sehingga akses radio siaran di kota besar sangat mungkin lebih tinggi dibandingkan dengan kota kecil. Kedua informasi ini dapat menunjukkan bahwa penggunaan media yang spesifik dapat digunakan untuk memahami pemilihan pesan media oleh khalayak.

Kedelapan, kesempatan seringkali berperan penting dalam terpaan media. Informasi mengenai intervensi media mengurangi kemampuan untuk menjelaskan berbagai pilihan atau komposisi khalayak. Informasi tentang kesempatan khalayak dalam mengakses media mirip dengan informasi mengenai kondisi situasi spesifik khalayak mengakses media tapi sifatnya lebih cair. Siaran radio yang bagus tidak mungkin didengarkan oleh seorang khalayak yang sedang menghadapi ujian misalnya. Kesempatan bagi khalayak untuk mengakses isi pesan media bergantung pada aktivitas khalayak. Informasi semacam ini sangat penting dipahami oleh media.

Sementara itu, sisi yang kedua atau sisi yang melekat pada audiens, terdapat lima faktor yang harus kita perhatikan. Pertama, sistem media, yaitu tinjauan umum atas preferensi dan pilihan yang dipengaruhi oleh penataan dalam level nasional. Sistem media berkaitan dengan jumlah jangkauan dan tipe media yang tersedia bagi masyarakat. Kemampuan masyarakat juga dipengaruhi oleh karakteristik berbagai media yang ada. Sistem adalah setting paling makro di mana suatu media beroperasi. Untuk kasus Indonesia yang sistem medianya lebih terpaku pada media komersial, konsepsi mengenai khalayak lebih diarahkan sebagai konsumen daripada sebagai warga.

Kedua, struktur dari penataan media. Bila sistem merujuk pada penataan relasi dan hadir pada level konseptual, struktur lebih merujuk pada penataan prosedur dan ada pada level praksis. Struktur berkaitan erat dengan pola umum apa saja yang disediakan oleh media untuk masyarakat. Struktur juga mempengaruhi dan dipengaruhi oleh ekspektasi khalayak. Struktur baru juga dapat terbentuk dalam jangka menengah atau jangka panjang. Faktor struktur media ini berbentuk informasi yang lebih riil dibandingkan dengan faktor sebelumnya. Contoh paling terlihat adalah penataan media bervisi kepublikan. Media dalam visi kepublikan yang tidak serius diwujudkan membuat media publik rentan sekali diintervensi oleh pemerintah.

Ketiga, pilihan isi pesan yang tersedia. Informasi ini meliputi format dan genre pesan media yang spesifik, yang ditawarkan pada khalayak pada waktu dan tempat yang spesifik. Semakin banyak pilihan pesan media yang tersedia bagi khalayak akan semakin baik, terutama menyangkut keberagaman isi. Jumlah pesan media pada kondisi tertentu tidak relevan dalam konteks keberagaman karena bisa saja secara kuantitas jumlah program acara media penyiaran berjumlah banyak namun ragamnya tidak terlalu banyak. Keempat, publisitas media. Informasi dalam aspek ini meliputi periklanan dan penciptaan imaji oleh media, sekaligus berarti juga kemampuan media untuk menciptakan pemasaran intensif dari berbagai produk media yang tersedia. Seringkali, khalayak lebih terpengaruh pada citra media yang bersangkutan bukan pada isi pesan media. Hal ini sebenarnya tidak selalu sejalan karena bisa jadi pesan yang berkualitas baik bisa muncul dari organisasi media yang tidak terlalu populer.

Kelima, waktu dan presentasi pesan. Seleksi dan penggunaan media dipengaruhi oleh strategi yang spesifik berkaitan dengan waktu penyampaian pesan, penjadwalan, penempatan, juga desain isi pesan. Semua itu berkaitan dengan jenis dan jumlah khalayak yang diharapkan terjangkau. Faktor terakhir ini berkaitan dengan strategi penyampaian pesan oleh media yang bersangkutan. Strategi media pada penataan dan penajdwalan pesan bisa berbeda untuk beberapa jenis media. Untuk media penyiaran penataan penyampaian pesan disebut programming, untuk media game diberi nama gameplay, sementara untuk media cetak dinamakan rubrikasi.

(lebih lengkapnya lihat buku "Panduan Riset Khalayak: Desain dan Metode untuk Lembaga Penyiaran Publik" (2011) karya Puji Rianto, Iwan Awalludin, Anna Susilaningtyas, dan Wisnu Martha)

Menulis Itu....


Ternyata memang tidak mudah menulis dengan baik secara teratur dan terus-menerus. Ada saja "gangguan" yang hadir yang membuat kita malas menulis atau bahkan tidak menulis sama sekali pada akhirnya. Saya pribadi berusaha semaksimal mungkin mencari resep menulis yang jitu walau harus saya akui dengan jujur sampai sekarang ini pun saya belum menemukannya kecuali saya berusaha menulis apa pun dengan kualitas seperti apa pun, yang penting menulis dan menulis saja, mana tahu suatu saat saya bisa menulis dengan relatif baik.

Banyak penulis di banyak buku memberikan cara menulis dengan baik, namun sedikit saja yang benar-benar berguna. Di antara yang sedikit itu, saya mencatat yang ditulis oleh Haruki Murakami sungguh memadai. Murakami menuliskan di buku memoar singkatnya "What I Talk about When I Talk about Running" bahwa menulis dengan baik itu memerlukan tiga hal, yaitu bakat, fokus, dan daya tahan. Tentu saja yang dia maksud adalah menulis dalam waktu yang relatif lama untuk menghasilkan novel atau tulisan panjang.

Aspek pertama, secara mengejutkan Murakami mengatakannya: bakat, sesuatu yang tidak saya percayai sebagai yang pertama. Namun setelah membacanya lebih mendalam barulah saya sadari bahwa bakat yang dia maksud bukanlah sesuatu yang sudah ada dari "sono"-nya di dalam diri kita. Bajat menurut Murakami adalah sesuatu yang kita perjuangkan terus di dalam diri. Bakat itu hadir bila kita memiliki kemampuan literer yang memadai, membaca dan menulis, menulis dan membaca, begitu seterusnya. Sebab orang yang tidak pernah membaca dengan baik tidak akan menghasilkan tulisan yang baik, begitu pula sebaliknya. Kemampuan menulis akan berkembang dengan baik bila kita bergelut dan bergulat dengan menulis. Ketika kita bergelut, kita akan menyadari bahwa menulis itu membahagiakan dan tidaklah menjemukan. Ketika kita bergulat, lama kelamaan kita akan tahu bahwa menulis itu ada "teman" dan "musuh"-nya. Bila kita terus menerus bergelut dan bergulat pada akhirnya kita akan mengetahui kelebihan dan kelemahan kita dalam menulis.

Kemampuan memfokuskan diri pada menulis adalah aspek yang kedua menurut Murakami. Bila kita sudah memiliki kemampuan beraksara atau literasi yang bagus namun kita tidak mampu fokus pada aktivitas menulis dan selalu terganggu dengan kesibukan lain, mungkin kita tidak akan menghasilkan tulisan yang baik kualitasnya. Aspek terakhir adalah daya tahan. Daya tahan menulis dalam waktu yang relatif lama diperlukan untuk menulis panjang. Daya tahan ini mesti hadir sampai tulisan benar-benar selesai. Bila kita berhenti sekali saja, kita tidak meneruskan tulisan itu di titik di mana kita berhenti. Katakanlah kita sudah menyelesaikan 75% tulisan. Bila kita berhenti dan kemudian suatu waktu melanjutkannya lagi. kita tidak berangkat mulai dari 76% dan seterusnya, melainkan mulai dari awal lagi. Dengan alasan inilah memiliki daya tahan sampai tulisan benar-benar selesai adalah keuntungan yang luar biasa. Hal yang menggembirakan adalah daya tahan ini bisa dipelajari dan dilatih seperti halnya dua aspek sebelumnya.

Bagaimana, apakah resep Murakami ini "manjur"? sungguh layak untuk kita coba. Ayo terus menulis. Belajar dan bergembiralah dengan aktivitas menulis yang kita lakukan....

Minggu, 26 Juni 2011

Grow Old with You

Tidak ada yang lebih indah selain menghadapi hidup ini berdua. Untuk hidup yang baik dan buruk, kita akan menghadapi bersama. Kita bisa saling belajar dan mengisi hidup bersama, bukan hanya memenuhi hidup sendiri. Aku hanya ingin bertambah tua bersamamu dengan pengalaman dan pengetahuan yang berpusat padamu. Menuju hidup yang penuh dan bukannya hidup yang hampa. Mari saling menjaga untuk menjadi tua bersama....

Grow Old with You
oleh Adam Sandler



Billy idol (speaking): good afternoon everyone. we’re flying at 26,000 feet,
Moving
Up to thirty thousand feet, and then we’ve got clear skies
All the way to las vegas, and right now we’re bringin you some in-flight
Entertainment. one of our first-class passengers would like to sing you a song
Inspired by one of our coach passenger, and since we let our first-class
Passengers do pretty much whatever they want, here he is.

Robbie hart (singing):
I wanna make you smile whenever you’re sad
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you

I’ll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growing old with you

I’ll miss you
I’ll kiss you
Give you my coat when you are cold

I’ll need you
I’ll feed you
Even let ya hold the remote control

So let me do the dishes in our kitchen sink
Put you to bed if you’ve had too much to drink
I could be the man who grows old with you
I wanna grow old with you

Twice if You're Lucky

Sungguh, tidak ada yang lebih kusyukuri selain adanya kesempatan kedua untuk merevisi hubungan kita. Mungkin bila tak ada kesempatan kedua waktu itu, hidupku akan sangat kesepian dan tak indah seperti sekarang. Sungguh, aku merasa beruntung dan berterima-kasih pada Pemberi Hidup, kesempatan kedua dihadirkan dan kita akan terus memulas lukisan hidup kita ke depan seindah-indahnya.

Terinsprasi oleh lagu ini:

Twice if You're Lucky
oleh Crowded House



Breathe it out, I can hear you now
You think reality's shut you down
And you're locked away where you can't get out
Spent awhile on your back

But you know what it means to me, babe
In the course of a history, hey
It all makes sense to me somehow

And it's not what it used to be, no
We're suddenly free to let go
Look what's happening now

You will love this one
You will love this one
'Cause if we create
Something magical, honey

There are times that come
These are times that come
Only once in your life
Or twice like mine

Do you wish to love? Can you give enough?
Use your saving graces
In the heavy light, till the sky falls down
He can pray all he likes

But you know what it means to me, babe
In the course of a history, hey
It all makes sense to me somehow

It's a course in philosophy, yeah
What is life is it just a dream, no
A perfect mystery but somehow I know

You will love this one
You will love this one
'Cause if we create
Something magical, honey

There are times that come
These are times that come
Only once in your life
Or twice if you're lucky

If the chance it comes around
Another time
You risk it all, you take the fall
For what you like

And sure enough before your love
Has taken flight
You make the revelation

You will love this one
Love this one

You will love this one
You will love this one
Dream in my head
Something magical, honey

There are times that come
These are times that come
Only once in your life
Or twice if you're lucky

All I Want is You

Bukan, bukan pada apa yang kau punya ataupun tingginya posisi sosialmu
Aku hanya menginginkan dirimu apa adanya. Eksistensimu. Tak kurang tak lebih.
Bukan, bukan pada apa yang kau lisankan ataupun tindakanmu.
Kau diam atau berbicara. Kau bersantai saja atau bergerak dinamis. Tidak masalah bagiku

Aku hanya menginginkan dirimu. Seutuhnya atau bahkan hanya konsepsi tentangmu
Tidak perlu berjanji, tidak perlu mengritik apalagi memuji.

Datang saja dengan keberadaanmu yang asali. Itu sudah cukup untuk kehidupan yang tak sempurna ini.

All I Want is You
oleh U2

You say you want
Diamonds on a ring of gold
You say you want
Your story to remain untold

But all the promises we make
From the cradle to the grave
When all I want is you

You say you'll give me
A highway with no one on it
Treasure just to look upon it
All the riches in the night

You say you'll give me
Eyes in a moon of blindness
A river in a time of dryness
A harbour in the tempest
But all the promises we make
From the cradle to the grave
When all I want is you

You say you want
Your love to work out right
To last with me through the night

You say you want
Diamonds on a ring of gold
Your story to remain untold
Your love not to grow cold

All the promises we break
From the cradle to the grave
When all I want is you

You...all I want is...
You...all I want is...
You...all I want is...
You...


Ocean Deep

Sedalam apa palung hati itu?

Kau tak akan pernah mengetahui kecuali ketika kau terjebak di dalamnya

Ketika kau terjebak mencintainya, kau akan kesepian
Kau pastinya tahu, cinta adalah kesepian, kesepian adalah cinta

Kau bisa mengulang lagi sedari awalnnya


Ocean Deep
oleh Cliff Richard



Love , can't you see I'm alone
Can't you give this fool a chance
A little love is all I ask
A little kindness in the night
Please don't leave me behind
No , don't tell me love is blind
A little love is all I ask
And that is all
Ooh love , I've been searchin' so long
I've been searchin' high and low
And little love is all I ask
A little sadness when you go
Maybe you'll need a friend
Only please don't let's pretend
A little love is all I ask
And that is all


-I-
I wanna spread my wings
But I just can't fly
As a string of pearls
The pretty girls go sailin' by


-II-
Ocean deep
I'm so afraid to show my feelings
I have sailed a million ceilings
Solitary room

Ocean deep


Will I ever find a lover
Maybe she has found another
And as I cry myself to sleep
I know this love of mine I'll keep
Ocean deep


Now , can't you hear when I call
Can't you hear the word I say
A little love is all I ask
A little feelin' when we touch


Why am I still alone
I've got a heart without a home
A little love is all I ask
And that is all


Repeat -I-
Repeat -II-
I'm so lonely , lonely , lonely (Ocean deep)
On my own in my room
I'm so lonely
(Ocean deep)
I'm so lonely , I'm so lonely ...

Fix You

Siapa kau yang merasa berhak dan mampu memperbaikiku?
Terimalah aku apa adanya atau tinggalkan saja aku
Semudah itu, sehampa ini...


Fix You
oleh Coldplay



When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

And high up above or down below
When you're too in love to let it go
But if you never try you'll never know
Just what you're worth

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down your face
And I

Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down your face
And I

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...