Tampilkan postingan dengan label Manifesto Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manifesto Menulis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Juni 2013

Mencari Inspirasi Menulis, Mengulik 1Q84 dan Gentlemen Broncos

Gentleman Broncos (2009)

Sedianya saya diminta untuk menghasilkan sebuah tulisan sebagai pendamping dan juga merayakan suatu aktivitas keren bernama “31 Hari Menulis” sejak kompetisi ini belum dimulai. Karena berbagai hal, barulah janji saya untuk menyumbang tulisan terpenuhi pada hari ke-28, saat “31 Hari Menulis” hampir selesai. Walau begitu, saya tetap antusias untuk merayakan kegiatan tahunan ini dan berharap kegiatan ini diridhoi agar menjadi aktivitas yang berjalan sangat lama, paling tidak selama sir Alex Ferguson menukangi Manchester United.
Terus terang, tidak ada cara untuk menulis bagus dan cepat, bila tak ada hal yang benar-benar mendorong untuk kita menulis. Mau sampai jungkir balik sekalipun, bila kita tidak memiliki ide yang kita ketahui dan membuat kita antusias, kita tetap akan sulit untuk menulis, apalagi menghasilkan tulisan yang bagus dengan relatif cepat. Bisa sih kita menghasilkan tulisan, namun biasanya tulisan yang dihasilkan akan biasa-biasa saja. Saya kira hal inilah yang sering terjadi pada orang-orang yang ingin menulis.
Menulis memang gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang ya?) karena terkadang kita bisa menulis dengan cepat pada suatu kurun waktu namun seringkali kita tidak menulis apa pun dalam waktu yang lama, menulis sesuatu unyu-unyu sekalipun. Karena itu kita bisa jadi sangat kagum dengan beberapa penulis yang bisa terus menulis dengan rutin dan terus menghasilkan tulisan yang bagus, dalam waktu yang cepat pula! Kita kemudian bertanya-tanya, bisakah kita seperti dirinya?
Tiap penulis punya cara agar keadaan tanpa menulis bisa dilewati, ada yang tetap menulis walau jiwanya tidak terlibat sehingga tetap tak ada tulisan yang dihasilkan, ada yang membiarkan saja dirinya sampai hasrat untuk menulis hadir lagi. Antisipasi yang terakhir ini  bisa jadi berbahaya, misalnya saja dalam hal menulis skripsi, bisa berbahaya bila kita membiarkan diri tak menulis dan membiarkan hasrat tersebut hadir bersama waktu karena bisa jadi hasrat menulis tersebut baru muncul setelah tiga tahun dan teman-teman seangkatan sudah pada lulus semua.
Sebagai seorang penulis biasa-biasa saja, saya juga memiliki cara tersendiri agar agar bisa melewati keadaan tanpa menulis yaitu mengakses konten media yang kita sukai. Konten media tersebut tidak harus media cetak, misalnya buku, di mana kita bisa belajar dari penulisnya, tetapi juga seluruh jenis konten media, misalnya saja film, karena isi film yang bagus akan mendorong kita untuk mengomentarinya melalui tulisan.
Biasanya, bila membaca-baca karya Haruki Murakami, penulis yang paling saya sukai, keadaan tak menulis bisa perlahan terlewati. Bagi saya selalu ada yang bisa didapat dengan membaca karya Murakami. Entah itu, salah satu novel atau salah satu cerita pendeknya, bahkan tiap paragraf yang dipilih dari tiap tulisannya bisa memberikan sugesti yang kuat untuk menulis lagi. Kok bisa ya? Begitu yang saya rasakan setelah membaca sedikit saja dari karya Murakami. Karya terkininya, 1Q84 misalnya, membuat saya kagum karena deskripsi kehadiran dua bulan di dalam hidup terasa begitu dekat dan nyata. Lalu bagaimana relasi cinta Tengo dan Aomame digambarkan dengan begitu liris? Dua karakter di dalam 1Q84 tak bertemu sampai akhir novel namun sepanjang kisahnya terpisah satu sama lain. Keterpisahan tersebut justru terasa sangat intens. Bagaimana bisa novel asrama...eh asmara antara dua anak manusia diceritakan dengan cara tak biasa namun tetap romantis? Silakan baca novelnya dengan lengkap karena tulisan ini bukan resensinya. Novel ini mungkin karya tertebal Murakami, terjemahan Indonesia-nya yang baru saja diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia terdiri dari tiga buku.



1Q84 (2012)

Intinya, kita bisa tercerahkan untuk menulis lagi antara lain dengan membaca karya bagus atau penulis keren menurut kita atau menurut dunia kepenulisan secara umum. Kita juga bisa mengakses dan memaknai konten media lain selain buku, misalnya saja film. Salah satu film yang menurut saya bisa menginspirasi untuk menulis atau berpotensi membawa kita melewati masa-masa tak menulis adalah film ”Gentlemen Broncos”. Film yang dirilis tahun 2009 ini oleh banyak penikmat film dikategorikan gagal, namun bagi saya film ini adalah salah satu film terlucu yang saya tonton.
“Gentlemen Broncos” bercerita tentang seorang penulis pemula bernama Benjamin Purvis yang karya fiksi sains-nya dijiblak oleh penulis terkenal yang juga menjadi idolanya. Hal yang menarik adalah Benjamin Purvis tak mundur dari dunia tulis-menulis dan berusaha membuktikan bahwa penulis tersebut, Ronald Chevalier, memplagiasinya. Pada akhirnya Benjamin Purvis bisa membuktikan bahwa karyanya dijiplak oleh penulis terkenal. Selain bicara tentang menulis, film ini memang dipenuhi hal-hal absurd yang menerpa indera penglihatan kita, namun itu hal yang menyenangkan dan unik. Di dalam salah satu adegan, Purvis ditanya oleh rekannya, mengapa tidak menulis di blog daripada menulis di kertas dan tak ada yang bisa membuktikan bahwa karya kita dijiplak? Dengan enteng Purvis menjawab bahwa alasannya tidak menulis di blog adalah karena semua orang melakukannya. Saya sampai tertawa terpingkal-pingkal apalagi adegan tersebut digambarkan dengan aneh dan ekspresi kaku si Purvis.
Tentu saja, orang lain akan memaknai film tersebut dengan berbeda, namun menurut saya film itu memberikan pelajaran bahwa menulis ya menulis saja, jangan pernah putus asa sekalipun tulisan kita dicuri atau dijiplak. Purvis juga bisa saja salah, karena dia tak menulis di blog. Menulis di blog menurut saya adalah cara yang baik untuk melatih kemampuan kita menulis, terutama yang sedang belajar pada tahap awal atau merasa bahwa menulis pada tahap apa pun adalah menyenangkan dan tak berelasi langsung dengan uang. Menulis di blog membuat kita memiliki teman-teman pembaca, itulah sebabnya di dalam dunia blog, tak pernah penting blogger sebagai perseorangan, yang terpenting adalah blogosphere, atau ruang maya di mana kita saling berbagi dan belajar via blog. Saya kira aktivitas “31 Hari Menulis” ada dalam posisi tersebut, yaitu belajar menulis bersama dengan menyenangkan, walau tak menyenangkan juga bila didenda…hehe…Makanya menulis biar tak didenda.

Tunggu apa lagi, ayo menulis dengan bersenang-senang bersama teman-teman….

Selasa, 30 April 2013

Menulis (Mestinya) Sebagai Sebuah Kebutuhan



Dengan malas sama amati blog saya yang sudah sebulan lebih tidak terisi dengan tulisan baru. Tadinya tulisan ini bakal menjadi tulisan penyesalan atau penggalauan atau apalah yang tidak konstruktif bagi diri sendiri, namun langsung saya batalkan karena saya sudah terlalu sering menghasilkan tulisan semacam itu.

Beratus kalimat dan paragraf saya baca untuk mengaktifkan kembali hasrat menulis namun belum jua didapatkan kembali. Salah satu masukan yang bagus adalah “jadikanlah menulis sebagai sebuah kebutuhan”. Tulisan motivasional terbaik dalam sebulan ini pun tidak meletupkan penutup sumbat hasrat menulis saya. Saya tahu pasti bahwa menulis bukan lagi sekadar hobi bagi saya. Menulis mestinya sudah menjadi kebutuhan, atau bahkan sebenarnya bagi profesi saya, menulis adalah alasan untuk bertahan hidup, “survival”. Namun ternyata masukan yang bagus ini pun belum mengena dengan tepat.

Bermacam cara telah saya tempuh untuk melepas sumbat itu, dua di antaranya adalah dengan mendengarkan kembali musik 90-an dan membaca fiksi. Di perangkat pemutar musik sudah tersimpan U2, REM, Manic Street Preachers, Travis, Third Eye Blind, Suide, dan beberapa lagi, namun sama saja, tidak berpengaruh pada hasrat yang kuat untuk menulis lagi. Biasanya bila mendengarkan lagu dari era 90-an antusiasme menulis itu bisa terpantik. Ternyata tidak.

Membaca fiksi biasanya bisa membantu saya menulis. Banyak fiksi yang saya baca, terutama novel-novel detektif, antara lain seri Hannibal yang memang sangat memukau itu, juga The Day of The Jackal yang super keren. Namun saya hanya berhenti pada membaca dan membaca, tidak pada aktivitas menulis. Saya sudah bosan menjadi audiens yang pasif, yang hanya mengakses dan memaknai pesan media tanpa memproduksi teks baru. Namun memang beberapa minggu tidak ada efek yang signifikan.

Sampai pada hari ini, di tanggal terakhir di bulan Mei. Saya hanya kesal dengan diri sendiri, masak bulan ini sama sekali tak ada tulisan apa pun? Saya bertanya dan memarahi diri sendiri.
Bila tulisan saya sampai di baris  ini, berarti saya memang kembali memproduksi tulisan “galau” yang tak jelas dan tak konstruktif. Saya mesti mengkisi apa penyebab dalam waktu selama ini tidak menulis dengan antusias dan rutin, tulisan hanya hadir seukuran mini, status-status Facebook tanpa didedahkan lagi.

Menelisik diri sendiri, paling tidak ada tiga penyebab saya tidak menulis belakangan ini. Pertama, terlalu banyak yang dipikirkan dan tidak bisa memfokuskan pada satu topik yang kemudian mengerucut pelan-pelan menjadi tulisan. Karena itulah saya sangat kagum dengan seorang rekan yang berpikir satu topik dan sangat fokus, dan pada akhirnya muncul sebagai opini di harian ternama nasional.

Kedua, merasa kurang bermakna dengan hal yang ditulis. Perasaan semacam ini tidak sering muncul sebenarnya, namun bila sudah hadir di hati, rasanya berat sekali. Apalagi bila ditambah dengan pelemahan oleh orang-orang yang ada di sekitar saya, untuk apa menulis tentang musik toh tidak bisa main musik, untuk apa menulis tentang sepakbola, toh tidak pernah berolahraga sepakbola, atau lain-lain komentar yang semestinya tidak berpengaruh, namun terkadang perasaan tak bermakna memang tak bisa dipilih. Dia hadir sendiri bagi racun yang melemahkan diri.

Terakhir, dan saya sadar ini yang terpenting, satu hal yang ingin saya kerja dan selesaikan namun tidak pernah bisa berfokus terlalu lama, menulis sesuatu yang besar dan penting bagi saya. Memikirkannya saja membuat saya merasa bersalah dan tidak bisa menulis hal-hal lain yang lebih kecil dan kurang penting dibandingkan tulisan ini nantinya.


Ah, entahlah, saya hanya ingin menyelesaikan hal besar itu….Untuk sementara, paling tidak, saya tidak membiarkan blog ini kosong selama sebulan. Hal-hal lain yang lebih penting bisa dipikirkan kemudian dan tentu saja diwujudkan dalam tulisan, tulisan, dan tulisan sangat mendalam (disertasi).

Kamis, 10 Januari 2013

Rasa "Lapar" dalam Menulis

Pulang, Murakami dan Secangkir Kopi

Jeda panjang terjadi sekali lagi. Berpuluh hari dia tidak menulis dengan serius. Beratus jam lewat begitu saja tanpa ada tulisan yang berarti. Tidak ada tulisan yang memuaskan dirinya sendiri, baik untuk keperluan akademis maupun fiksi yang dihasilkannya., sekalipun itu tulisan 500 kata. Banyak cara yang bisa dilakukannya agar dirinya bisa menulis lagi. Salah satunya adalah membaca buku-buku bagus. Dia mencoba membaca teks akademis berharap mendapatkan inspirasi agar bisa menulis dengan baik dan teratur. Beberapa buku akademis dan nonfiksi dia baca. Namun setelah berpuluh hari, tiada jua inspirasi yang harapannya menjadi “mata air” kepenulisan yang hadir dan mengalirkan ide-idenya lagi. Kemampuannya untuk menulis dengan baik seperti menguap entah kemana.

Dia juga mencoba membaca teks fiksi, prosa dan puisi, terutama yang berkualitas bagus. Ternyata sama saja hasilnya dengan membaca teks akademis faktual, tidak ada efek yang signifikan padahal banyak teks fiksi bagus yang dia baca. Semua kemampuannya dalam menulis seperti menghablur entah kemana. Hampir tak bersisa. Dia memang mendapatkan sedikit efek berkaitan dengan pemahaman mengenai teknik menulis dan beberapa detail atas realitas. Namun selain itu, tak lebih tak kurang, tidak ada yang bisa mendorongnya untuk terus menulis kembali dengan baik dan teratur seperti yang dia harapkan setiap kali setelah membaca karya-karya bagus.

Rasa-rasanya dia sebenarnya bisa menulis dengan lumayan baik untuk beragam jenis tulisan, akademis faktual, prosa, maupun puisi. Semua ide telah bergayut di pikiran, semua analisis yang dia baca rasanya sudah hadir di dalam benaknya. Namun mengapa tetap tidak ada tulisan yang dia hasilkan? Banyak membaca, banyak menganalisis, banyak berbincang dan berkata-kata, ternyata tidak berpengaruh banyak pada aktivitas menulis yang rutin, runtut dan konsisten. Semuanya mesti dituangkan ke dalam tulisan. Tanpa “penuangan” tersebut, semua ide relatif tak begitu berarti.
Apa yang salah dengan dirinya sehingga tulisan yang memadai sama sekali tak muncul dalam waktu yang terlalu lama? Pertanyaan ini menggema di dalam dirinya dan berhari-hari hadir terus dalam pikirannya. Namun, jawabannya mungkin sederhana, “rasa lapar” tidak muncul dalam dirinya untuk menulis. Tidak ada kekuatan utuh dari dalam diri untuk menulis dan berkomunikasi dengan dunia, berkomunikasi dengan orang lain.

Banyak ide, perasaaan, pendapat, dan analisis yang mencengkeram benak dan hatinya. Mungkin beberapa di antaranya cukup bagus. Cukup bagus karena bahkan komentar yang muncul di media dan yang dia dengar dari orang-orang lain berbeda dengan pendapatnya sendiri. Banyak dan bagusnya ide-ide tersebut ternyata tidak mendorongnya untuk mewujudkan semuanya ke dalam tulisan. Manifestasi dalam tulisan ternyata adalah soal lain. Pada akhirnya dia menyadari bahwa hal yang paling diperlukannya hanyalah upaya yang sangat kuat untuk menulis. Menulis sebagai sebuah tindakan riil, bukan sebagai wacana. Dimulai dari tulisan biasa seperti ini.

Pertanyaannya, bagaimana memunculkan “rasa lapar” untuk menulis? Apakah perlu kita menulis untuk menyampaikan pendapat kita yang tidak unik dan biasa saja? Seperti biasa, suara hatinya yang lain justru berupaya meredam hasrat untuk menulis kembali dengan utuh penuh. Biasanya memang diri selalu seperti ini, ada diri yang mendorong dan ada pula diri yang menyabotase diri sendiri. Selalu seperti ini, tidak ada yang pernah bisa berdiri sendiri. Diri sebenarnya adalah berdualitas di dalam sana.

Problemnya memang “rasa lapar” itu tidak selalu muncul dengan sangat kuat atau rasa lapar itu hilang karena dirinya yang menyabotase muncul dan dengan cepat meredam hasratnya untuk menulis. Solusinya sekali lagi mungkin hanya satu: menulis saja tanpa memikirkannya terlalu mendalam, terutama mengenai kekhawatiran atas kualitas. Tulis saja tanpa memikirkan apa yang terjadi setelahnya. Tulis dengan “rasa lapar” seolah-olah menulis itu adalah hal yang sangat menarik.

Dan yang terpenting: jangan pernah lagi menyabotase diri sendiri dalam menulis! Dia mengingatkan diri sendiri, kali ini dengan lumayan geram karena jeda panjang ini sudah berkali-kali datang. Dia berharap jeda panjang semacam ini tak lagi datang menghampiri sampai kapanpun jua.
Dia tahu tulisan ini adalah langkah awal sekali lagi. Dia sungguh ingin di masa mendatang tiada lagi jeda panjang seperti ini. Tidak lagi menulis sekitar lima ratus kata dengan rajin dan teratur. Tidak ada lagi permakluman karena terlalu lama tidak menulis. Menulis saja sekarang, apa saja asalkan secara normatif tidak salah dan tidak buruk.

Dia mulai menulis lagi apa-apa yang ada di pikiran dan hatinya…

Rabu, 20 Juni 2012

Revivalisme

Sesuatu yang paling saya khawatirkan akhirnya terjadi juga. Bukannya tidak pernah terjadi sebelumnya, namun kali ini terjadi lebih terasa. Saya merasa bahwa yang saya tulis tidak berharga. Tidak ada kemajuan yang berarti dalam kecakapan menulis saya. Tadinya saya kira saya tidak bisa menulis karena kemalasan belaka, namun setelah saya rasakan dan amati, ternyata bukan kemalasan yang utama. Kalau kemalasan mendukung keengganan saya menulis mungkin iya, tetapi penyebab utamanya adalah perasaan bahwa tulisan-tulisan saya tidak cukup berharga atau bagus untuk dibaca.

Tentu saja saya menyadari perasaan yang muncul ini adalah perasaan yang semestinya tak muncul. Perasaan yang salah. Namun perasaan tak pernah salah. Seringkali kita paham sesuatu yang baik dan kurang baik, dalam menulis terutama. Perasaan yang muncul di hati bisa saja berbeda dari pemahaman kita tersebut. Berhari-hari saya membaca dan mengakses teks, semata-mata hanya ingin mendapatkan inspirasi untuk menulis dan tentu saja menuliskannya. Apa daya, tak ada sebentuk tulisanpun yang hadir. Ide-ide yang hadir hanya berkutat di benak. Tak bisa ditelurkan menjadi tulisan utuh walau hanya lima ratus kata sekalipun.

Bahkan perasaan bahwa tulisan-tulisan saya tak begitu berharga tidak hilang juga ketika seorang rekan meminta saya menulis tentang media baru. "Kenapa saya?" saya bertanya kepada rekan yang berbeda jurusan dengan saya itu, hanya untuk meyakinkan alasan dirinya meminta saya untuk menulis. Jawabannya sudah saya duga, "saya lihat tulisan Anda di blog, sepertinya yang tentang media baru cukup banyak", begitu katanya.

Semestinya perasaan itu menghilang dengan cepat karena ternyata paling tidak ada yang membaca tulisan-tulisan saya. Memang perasaan tak berharga itu menghilang sedikit demi sedikit namun tetap ada. Meringkuk di dasar hati. Gelap dan hitam, serta ingin saya enyahkan. Perasaan itu justru menghilang banyak ketika saya membaca tulisan-tulisan para rekan menulis sejak lama. Tulisan-tulisan mereka bertambah bagus mengapa saya tidak? Mungkin jawabannya sederhana, menulis sajalah tanpa memikirkan kualitas. Bagus atau tidak itu relatif asalkan kita berniat menuangkan pikiran, mengekspresikan opini, dan bercerita tentang realitas dengan baik dan tanpa prasangka berlebih, itu sudah cukup. Perasaan tak berharga apalagi jumawa bisa ditekan habis ketika kita terbiasa menulis dengan tanpa prasangka.

Sore ini, ketika hari habis hujan, tak ada yang lebih saya inginkan kecuali bisa menulis lagi dengan ringan tanpa prasangka dan perasaan macam-macam. Menulisa sajalah, seperti saat ini. Saya pernah merasakan saat-saat terbaik dalam menulis, juga saat-saat teruk semacam ini. Bukankah ini esensinya hidup, ada saat jatuh, ada saat bangkit. Kebangkitan kembali adalah siklus bila kita bisa memanfaatkannya. Saya percaya itu: kebangkitan kembali semangat menulis dan bersiap-siap bila suatu saat "jatuh" lagi.

Paling tidak kini saya mulai menulis lagi. Semangat menulis dengan riang tumbuh kembali. Perasaan tak berharga itu juga berharga untuk mengingatkan bahwa hidup mesti diperjuangkan, bahwa passion menulis itu selalu diperjuangkan. Saya akan siap berjibaku setiap-kali.

Rabu, 09 Mei 2012

Karakter Utama Penulis Bagus

Karena keinginan yang lumayan kuat untuk bisa menulis lebih baik, saya banyak membaca buku tentang menulis atau membaca buku-buku dari penulis yang teratur menghasilkan karya yang bagus. Tentu saja di luar kemampuan menulis yang sebagian besar bagus sekali, saya mengamati ada satu karakter yang penting, karakter yang biasanya muncul dari penulis yang karyanya bagus dan menghasilkan tulisan dengan rutin, dan seringkali berjumlah banyak. Karakter tersebut adalah mereka tidak pernah membanggakan dirinya sendiri atas karir kepenulisan yang telah dijalani. Lebih jauh lagi, salah satu penulis favorit saya, Haruki Murakami, tidak pernah berbangga-bangga dengan prestasinya yang cemerlang dalam menulis. Berulang-kali dia bercerita bahwa karirnya menulis bahkan dimulai secara tak sengaja. Pada suatu waktu sehabis menonton pertandingan baseball tiba-tiba saja Murakami merasa bisa menyelesaikan sebuah novel. Perasaan yang kuat itu segera diwujudkan dan pada akhirnya jadilah sebuah novel.

Tentu saja Murakami bersikap rendah hati karena dia tidak bercerita berapa banyak waktu yang dia habiskan untuk membaca buku-buku bagus dan mendengarkan album-album musik kelas satu, yang secara eksplisit muncul di karya-karyanya. Yup, rendah hati. Itulah karakter penulis hebat seperti yang dimiliki oleh Murakami ini. Ada juga seorang penulis muda yang menyampaikan hal yang sama. Penulis itu sudah memiliki banyak karya, yang salah satunya saya baca sekarang ini "Makelar Politik: Kumpulan Bola Liar", walau tidak seeksplisit Murakami, dia pun menyatakan hal yang sama: kehidupan menulis adalah kehidupan yang hanya harus dijalani, tak kurang tak lebih, bukan karena hal-hal lain, semisal ingin dianggap memiliki tulisan yang hebat atau, dalam garis yang sama, ingin dianggap sebagai penulis yang hebat.

Saya camkan benar "pemahaman" ini, bahwa penulis yang baik sangat mungkin bersikap rendah hati dan menulis sahaja, tidak ingin dan tidak  mau mengoar-ngoarkan kepenulisannya. Hal yang seperti ini, orang yang berkoar-koar jago menulis, pada kenyataannya bukanlah penulis yang baik. Saya kenal orang-orang semacam ini dalam kehidupan saya, mereka yang berkoar-koar bisa menulis justru tulisannya biasa-biasa saja, bahkan jarang sekali menulis. Ironisnya, malah mencoba mengajari orang-orang menulis.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang jenis tersebut :)

Selasa, 27 Maret 2012

Manifesto Menulis: Mencoba Sekali Lagi Rutin Menulis dengan utuh Penuh

Sudah lama saya tidak menulis dengan tertib sesuai dengan janji saya sendiri. Suatu ketika saya pernah berjanji pada diri untuk menulis dan mempublikasikannya setiap hari. Suatu kali usaha mewujudkan janji tersebut terlihat berhasil karena dalam jangka waktu tertentu saya berhasil menulis dengan teratur. Suatu kali juga saya tidak berhasil memenuhinya. Berhari-hari saya tidak menulis dengan tertib bahkan tidak menulis sama sekali. Alasan saya tentu saja banyak untuk membenarkan diri sendiri, alasan selalu bisa diajukan untuk “menipu” diri sendiri, mulai dari kesibukan yang menurut saya sangat tidak rasional sampai dengan alasan-alasan lain yang seringkali menurut saya sendiri sangat aneh, semisal sedang asyik mengakses pesan tertentu, antara lain menonton film atau mendengarkan sebuah album musik. Walau begitu semuanya sama saja: tidak ada tulisan yang lahir pada hari-hari itu. Kini saya berprinsip dan memperbarui janji lagi untuk menulis minimal seribu kata sehari terlepas dari sesibuk, seteruk atau sekompleks apapun hidup. Saya mesti menulis lengkap per hari satu tulisan karena tulisan pendek sudah cukup dan tulisan-tulisan panjang terwujud dari tulisan-tulisan pendek.



Saya pernah membaca bahwa menulis adalah salah satu sarana terbaik dalam melunturkan hal-hal negatif dalam pikiran dan hati. Pada prinsipnya, menulis itu sangat dekat dengan pikiran dan hati yang baik. Misalnya saja, sebuah konsep yang sedang dipikirkan dapat tereksplorasi dengan baik bila dituliskan. Dengan menulis secara perlahan dan terencana kompleksitas sebuah konsep dapat terurai pelan-pelan. Seringkali saya sendiri merasakan manfaat dari menulis ketika menulis tentang suatu konsep. Detail dari konsep tersebut malah terjelaskan dengan menulis, padahal sebelumnya saya seperti belum bisa menjelaskannya lebih mendalam. Saya baru menyadari berbagai aspek dari sebuah konsep ketika menuliskannya, bukan sekadar membaca dan memikir-mikirkannya.


Hal yang sama terjadi dengan segala problem di hati, suasana hati yang tak enak ataupun sedang gundah dapat dicairkan pelan-pelan dengan menuliskannya. Emosi bisa pelan-pelan menguap dan akhirnya menghilang ketika dituliskan. Beberapa kali bila ada permasalahan saya menuliskannya dan entah bagaimana perasaan gundah tersebut menguap. Mungkin karena dengan menuliskannya kita berpikir mendalam dan bisa memahami suatu masalah dengan lebih baik. Kedua fungsi tersebut sebenarnya sudah saya pahami betul namun entah mengapa menulis dengan teratur untuk menghasilkan satu tulisan lengkap itu sungguh sulit. Berkali-kali saya mencoba, berkali-kali juga belum begitu berhasil. Namun saya tidak akan pernah menyerah dan mencoba kembali dengan sungguh-sungguh sampai kebiasaan menulis dengan teratur dan selesai satu tulisan per hari benar-benar terinternalisasi dalam diri.


Saya kira ada satu lagi faktor penting yang mesti dijalankan, menguatkan niat untuk menghadap “papan huruf” (keyboard) dan layar monitor, kemudian membuka program pengolah kata, dan kemudian merangkaikan untaian huruf menjadi tulisan. Pemahaman yang sangat kuat sekalipun tentang arti penting menulis tidak akan bermakna jika kita tidak mau membuka program pengolah kata dan mulai mengetik. Memiliki kemampuan yang baik dalam menulis pasti harus berlatih dengan menulis, bukan hanya sekadar membaca dan memahami dengan menulis. Saya masih heran dengan diri sendiri mengapa kesadaran ini tidak bisa muncul setiap waktu sehingga mestinya bisa menulis dengan lebih teratur dan baik.


Untuk memperkuat “tekanan” agar saya menulis kembali dengan rajin adalah meyakinkan bahwa aktivitas terpenting dan terbesar di dalam hidup saya adalah menulis. Menulis bagaimana pun sangat penting bagi saya. Melalui tulisan yang muncul kinerja saya dinilai, minimal oleh diri sendiri, bahkan prestasi diri juga dinilai melalui tulisan. Oleh karena itulah saya sangat “iri” dengan akademisi yang menghasilkan tulisan dengan rutin dan bagus, apalagi bila itu berbentuk buku. Saya sendiri baru sekali menerbitkan buku dengan nama sendiri. Itu pun sudah sangat lama, sekitar lima tahun yang lalu walau saya saya agak sering menulis bersama-sama tiga tahun terakhir ini. Sekali lagi, problem terbesar dari menulis adalah melakukannya, bukan hanya memikirkan atau bahkan menuliskan tentang menulis. Kini saya berjanji di dalam hati (lagi) untuk menulis dengan tertib dan menghasilkan satu tulisan yang selesai per hari.


Hal lain yang juga tidak kalah penting adalah dualitas antara menulis dan membaca. Dengan menulis kita akan perlu membaca untuk memperdalam detail, begitu juga ketika membaca, atau mengakses teks media secara umum, mestinya akan mendorong kita untuk menulis dengan rutin. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak membaca dengan baik dapat menulis dengan baik pula? Saya pernah mendualismekan aktivitas membaca dan menulis dan ternyata itu kenaifan utama saya dalam mengoptimalkan menulis. Dulu saya selalu memisahkan kedua aktivitas tersebut dalam suatu waktu, kalau sedang membaca berarti hanya membaca saja dalam kurun waktu tertentu, juga ketika menulis. Seolah-olah keduanya tidak saling mendukung, padahal jelas, keduanya adalah aktivitas yang berdualitas: satu ada untuk saling melengkapi dan menjalankan fungsi yang lain.


Menulis dengan cepat dan sesuai dengan konteks waktu juga adalah aspek yang penting. Beberapa hari yang lalu saya melewatkan moment penting dalam menulis padahal saya yakin bisa menuliskan topik tersebut dengan relatif baik tetapi saya melewatkannya. Saya juga seringkali mengakses media seperti game, film dan musik rekaman, dan ada hasrat kuat untuk menulis, tetapi saya menundanya. Pada akhirnya hasrat tersebut tinggal berwujud hasrat tanpa menjadi sebuah tulisan. Seseorang yang rajin menulis dan tulisannya sangat bagus memberi nasihat pada saya semestinya begitu sebuah isu menyeruak, kita langsung menuliskannya tanpa menunggu lagi bahkan untuk sehari saja. Momentum yang tepat sangat berharga dan tidak ternilai oleh uang berapapun. Hal ini berlaku secara umum tidak hanya dalam tulis-menulis.


Terakhir, hal yang tak kalah penting adalah “berinteraksi” dengan tulisan dan penulis yang bagus dengan intens. Hal ini berdekatan dengan prinsip dualitas menulis dan membaca (mengakses isi media). Untuk menulis dengan baik semestinya kita juga membaca tulisan-tulisan yang bagus sehingga membuat kita antusias untuk menulis pula. Inspirasi mesti muncul dari hal-hal yang bagus. Selain itu, bila mungkin kita juga berinteraksi dengan penulis yang bagus, yang tulisan-tulisannya diakui banyak orang. Saya sendiri mengenal secara langsung beberapa penulis bagus, bukan hanya sekadar dari karya-karyanya. Secara umum, minimal penulis yang saya kenal langsung, penulis yang bagus biasanya memiliki kepribadian yang bagus pula dan senang berdiskusi dan ini berlaku sebaliknya, penulis yang biasa saja atau jelek biasanya kepribadiannya menyebalkan dan tidak enak diajak berdiskusi. Basis kualitas tulisan-tulisannya juga bukan pada pengakuan banyak orang melainkan klaim oleh diri sendiri.


Walau begitu, problemnya tetap sama, apakah membaca atau berinteraksi dengan tulisan-tulisan bagus dan juga berteman langsung dengan penulis-penulis bagus dengan sendirinya membuat kita dapat menulis dengan baik dan teratur? Jawabannya langsung dan singkat, tentu saja tidak, interaksi tersebut harus memberikan inspirasi pada hasrat menulis, kemudian kita sendiri mesti menulis dan menggerakkan jari dengan sebaik-baiknya. Bukankah selalu sama pada akhirnya, apakah saya mau menulis dengan teratur dan mewujudkannya sampai selesai pada tiap hari? Dengan ini, manifesto menulis saya perbarui kembali. Saya mesti menulis dengan antusias!

--13 Maret 2012--

Senin, 06 Februari 2012

Eksistensialisme dan Menulis

Dia masih menatap kosong monitor di depannya. Sudah sekitar seperempat jam tidak ada tulisan yang bisa diketikkan di keyboard dan muncul di layar monitor. Semua yang dia pikirkan dan rasakan hanya ada di dalam diri dan kelihatannya terlalu kacau dan kompleks untuk menjadi sebuah tulisan bahkan untuk satu kalimat pun tidak muncul juga. Janjinya pada diri sendiri belum jua ditepati. Tahun ini dia berjanji untuk menulis paling tidak dua tulisan per hari setelah tahun-tahun sebelumnya hanya satu tulisan per hari. Ternyata menulis itu seperti ombak, kadang bisa berdebur kencang, kadang kecil saja, kadang juga tidak ada sama sekali bila tak ada angin. Tetapi dia berusaha tidak panik. Keadaan seperti ini datang terus. Menulis juga mengalami pasang surut walau kini surutnya semakin lebih kerap datang.

Menulis baginya kini adalah sebuah kondisi eksistensial. Menulis, bahkan bila tidak menulis, ada rasa perih yang tak lepas dari kondisi "mengada". Bila menulis tetapi dia merasa tak puas dengan tulisannya, ada rasa "perih" di dada. Mengapa aku tak bisa menulis dengan bagus? tanyanya pada diri sendiri. Apalagi bila cukup lama, sekian hari, tak menulis. Ada luka menganga sepertinya. Ada kondisi dan keadaan yang "bolong" di dalam dirinya. Dia mengingat salah satu pengalaman anehnya. Dia dengan antusias menyampaikan pada istrinya bahwa tulisan-tulisannya yang sempat hilang di FB muncul lagi dan itu membuatnya semangat menulis lagi. Sementara istrinya menyampaikan thesis sudah selesai ditulis dan akan ujian pendadaran beberapa hari lagi. Dia ingat sekali lagi betapa rasanya hatinya mencelos. Dia hanya sekadar menyampaikan antusiasmenya yang kembali lagi dalam menulis sementara istrinya menyampaikan pencapaian yang jauh lebih besar: menulis satu karya yang sekaligus merupakan suatu kewajiban. Dia sendiri sampai sekarang belum menyelesaikan kewajiban menulis akademiknya yang telah tertunda tiga tahun. Semestinya sudah mewujud sekarang, begitu sesalnya.

Dia agak menyesali mengetahui konsep eksistensialisme. Sungguh sebuah konsep yang "mewah" untuk dipahami namun ketika dirasakan sendiri, rasanya sungguh tak enak. Ternyata penderitaan batin dan kekosongan dalam diri bisa hadir karena dia belum atau tidak melakukan aktivitas yang dia pikir, dan semestinya, menjadi aktivitas utama hidupnya, selain meneliti dan menyampaikannya di diskusi. Eksistensialisme bukan sekadar mendalami keadaan "mengada" namun menunjukkan dengan jelas bahwa manusia tidak mungkin tidak menderita dalam proses "mengada" itu.

Dia merasa kosong. Namun perlahan optimisme dan antusiasme itu muncul lagi. Muncul sedikit demi sedikit dan perlahan tetapi tetap hadir. Eksistensialisme tidak melulu berbincang tentang "penderitaan". Walau sepintas tak ada jalan keluar dalam kondisi "mengada", manusia adalah makhluk yang cerdas pikiran dan hatinya, dan akan selalu menemukan jalan keluar dari kondisi yang dihadapinya, sesulit apa pun kondisi tersebut. Karena itulah, dia mencoba "mengada" sekali lagi, terutama dalam aktivitas menulis karena menulis adalah kondisi eksistensial dirinya, karena menulis adalah pekerjaan utamanya. Dia harus tetap antusias dan optimis dalam menulis. Dimulai kembali dengan tulisan cepat ini. Dia ingin keadaan mengadanya benar-benar bisa dinikmati dan menghasilkan tulisan demi tulisan.

Tiba-tiba keyboard menjadi sahabat jejarinya lagi....
Pelan-pelan dia menulis lagi....

Jumat, 23 Desember 2011

You Come To My Senses

oleh Chicago




I picture you on the beach
Lying in the sand
Out of reach of my trembling hands
I picture you in the car
Blonde hair in the wind
I picture you in my arms
And the touch of your skin
The smile on your face
The way that you taste

You come to my senses
Every time I close my eyes
I have no defenses
Driving home in the cold
January rain
I've got to find my way out of this pain
I reached for you in the night
I dreamed of your kiss
I woke before it got light
With your name on m lips
Alone in my bed
Your voice in my head

I picture you in my arms
And the touch of your skin
The smile on your face
The way that you taste
You come to my senses
I can't stop this ache inside
Oh, I have no defenses
You come to my senses
Ah...

Kamis, 22 Desember 2011

Mother

oleh John Lennon




Mother, you had me
But I never had you
I wanted you
But you didn't want me
So
I got to tell you
Goodbye
Goodbye

Father, you left me
But I never left you
I needed you
But you didn't need me
So
I just got to tell you
Goodbye
Goodbye

Children, don't do
What I have done
I couldn't walk
And I tried to run
So
I got to tell you
Goodbye
Goodbye

Mama don't go
Daddy come home
Mama don't go
Daddy come home
Mama don't go
Daddy come home
Mama don't go
Daddy come home

Love Song

oleh The Cure




Whenever I'm alone with you
You make me feel like I am home again
Whenever I'm alone with you
You make me feel like I am whole again

Whenever I'm alone with you
You make me feel like I am young again
Whenever I'm alone with you
You make me feel like I am fun again

However far away
I will always love you
However long I stay
I will always love you
Whatever words I say
I will always love you
I will always love you

Whenever I'm alone with you
You make me feel like I am free again
Whenever I'm alone with you
You make me feel like I am clean again

However far away
I will always love you
However long I stay
I will always love you
Whatever words I say
I will always love you
I will always love you

La La (Means I Love You)

oleh Swing Out Sister




LA is a great big freeway

Many girls have come to you
With a line that was untrue
And you just passed them by

And now you're in the center ring
And their lies don't mean a thing
Why don't you let me try

I don't need a diamond ring
Cause you prove your love to me when you
say
Sweet and mellow

La la la la la la la la la means I love
you
La la la la la la la la la means I love
you

Never thought I'd meet a boy
Who could bring me so much joy
You are the one for me

But let me take you in my arms
Surround you with my charms
I'm sure that you will see

The things that I'm saying are true
This is the way that I explain them you
Listen to me

La la la la la la la la la means I love
you
La la la la la la la la la means I love
you
The things that I'm saying are true
Now I'd bet to spend my whole life
through
Loving you
Can't you hear me

La la la la la la la la la means I love
you
La la la la la la la la la means I love
you

La la la la la la la la la means I love
you
La la la la la la la la la means I love
you

Don’t Know What You Got (Till It’s Gone)

oleh Cinderella




I can't tell ya baby what went wrong
I can't make you feel what you felt so long ago
I'll let it show
I can't give you back what's been hurt
Heartaches come and go and all that's left are the words
I can't let go
If we take some time to think it over baby
Take some time, let me know
If you really want to go

Don't know what you got till it's gone
Don't know what it is I did so wrong
Now I know what I got
It's just this song
And it ain't easy to get back
Takes so long

I can't feel the things that cause you pain
I can't clear my heart of your love it falls like rain
Ain't the same
I hear you calling far away
Tearing through my soul I just can't take another day
Who's to blame
If we take some time to think it over baby
Take some time let me know
If you really want to go

Don't know what you got till it's gone
Don't know what it is I did so wrong
Now I know what I got
It's just this song
And it ain't easy to get back
Takes so long

Do you want to see me beggin' baby
Can't you give me just one more day
Can't you see my heart's been draggin' lately
I've been lookin' for the words to say

Don't know what you got till it's gone
Don't know what it is I did so wrong
Now I know what I got
It's just this song
And it ain't easy to get back
Takes so long

Don't know what you got till it's gone no
Don't know what it is I did so wrong
Now I know what I got
It's just this song
And it ain't easy to get back
Takes so long

Selasa, 06 Desember 2011

R.E.M. - Part Lies, Part Heart, Part Truth, Part Garbage 1982-2011 (2011)




Mungkin tidak banyak yang menyangka, termasuk para penggemar fanatiknya, bila R.E.M. membubarkan diri pada tanggal 21 September 2011 kemarin. Siapa yang menyangka karena mereka sempat mengeluarkan album bagus "Collapse into Now" di awal tahun 2011 ini setelah lama tidak mengeluarkan album sangat bagus semacam "Automatic For The People" (1992). Album yang banyak dipuji dan dianggap kebangkitan kembali R.E.M. seperti judul lagu mereka dari era album "Life Rich Pageant" (1986), Begin the Begin.

Album kompilasi dan juga album terakhir ini berisi 37 lagu hit sepanjang karir bermusik mereka sejak tahun 1982 sampai tahun 2011, dan tiga lagu baru. Salah satu lagu baru tersebut berisi semacam pernyataan perpisahan mereka, "We All Go Back to Where We Belong". Lagu, yang entah mengapa, membuat saya begitu sedih mendengarnya. Bukan kesedihan yang coba menyalahkan namun kesedihan yang mengalir begitu saja namun pada akhirnya muncul semacam ucapan terima kasih. Ini mirip dengan persepsi saya atas R.E.M., ada rasa sedih mereka pada akhirnya bubar namun juga hadir rasa terima kasih karena mereka memberikan karya-karya yang begitu menggugah.

Bila mengamati karya-karya R.E.M., kita bisa memetaforkannya dengan mata, sesuai dengan pilihan nama oleh para personelnya Michael Stipe, Peter Buck, Mike Mills dan Bill Berry (yang memutuskan pensiun pada tahun 1997 sebelum album "Up"). R.E.M. adalah singkatan dari Rapid Eye Movement, gerakan cepat mata pada sepertiga waktu tidur. Pada fase inilah mimpi bisa diingat kembali karena kerja otak mirip dengan ketika kita terjaga. Begitulah, mungkin itu sebabnya lirik-lirik lagu R.E.M. agak sulit dipahami atau memiliki makna yang beragam.

Album kompilasi yang hampir pasti menjadi album terakhir R.E.M. ini memilih bermain aman dengan menampilkan susunan lagu yang tidak mengejutkan dan lebih banyak hadir lagu pada era label utama, sejak album "Green" (1988) sampai yang terakhir "Collapse into Now" (2011). Itu pun hanya satu lagu yang hadir dari album "Monster", "Up", dan "Reveal". Walau begitu sepertinya para penggemarnya tidak mempermasalahkan, memang sulit memilih lagu untuk album kumpulan terbaik bila lagu bagus yang dihasilkan jauh melebihi kuota.

Hal yang menarik dari album ini adalah hadirnya liner notes dari keempat personelnya, termasuk Berry yang walaupun sudah lama pensiun seperti tetap ada pada tiap album R.E.M. setelah tahun 1997. Komentar-komentar dan kesan-kesan mereka atas karya sendiri memberi dimensi lain atas karya yang sudah "dimiliki" oleh penggemar atau pendengarnya. Pada titik ini, karya atau pesan media sudah menjadi teks yang ditafsir sendiri namun tetap akan lebih mendalam bila ada informasi atas karya atau tafsir awal dari produsen teksnya.

Jelas, album ini tetap sedap untuk dinikmati dan kita tak bisa mengucapkan lain pada R.E.M. selain terima kasih atas album-album hebat yang berisi lagu-lagu bagus. Kembali pada metafor mata, saya kira R.E.M. tidak menutup mata selamanya, seperti mata yang mesti tidur untuk beristirahat, saya agak optimis suata saat mata itu akan membuka kembali.

Jumat, 02 Desember 2011

Manic Street Preachers - National Treasures: The Complete Singles (2011)

Akhir tahun adalah kurun waktu para produsen isi media musik rekaman banyak mengeluarkan materi "the best" bila mereka tidak memiliki materi baru dalam sebuah album. Bagaimana pun industri musik rekaman, terutama di Barat, memahami konteks bahwa akhir tahun adalah masa di mana konsumsi meningkat drastis. Dari sisi lain, pengakses pesan media musik rekaman bisa saja "diuntungkan" karena mendapatkan album "the best", utamanya pendengar yang baru atau tak fanatik. Hal yang berbeda akan dirasakan oleh pendengar fanatik suatu band atau penyanyi yang memang memiliki koleksi album lengkap dari produsen pesan yang bersangkutan. Bagi pendengar semacam ini, kompilasi "the best" pasti terasa membosankan karena hanya mengulang-ngulang materi yang telah ada.

Bagi saya, album "National Treasures" ini kalah bagus dari album the best sebelumnya yang dirilis pada tahun 2002, "Forever Delayed". Pada album "greatest hits" itu memang sudah ada lagu yang ditunggu untuk masuk dalam album, misalnya lagu "The Masses Against the Classes" dan "There by the Grace of God". Hal yang tidak terjadi untuk album "kompilasi terbaik" kedua ini, tidak ada lagu yang benar-benar ditunggu untuk dikompilasi seperti pada album "Forever Delayed", juga pada album b-side "Lipstick Traces" (2003). Walau begitu, satu-satunya lagu baru dari Manics di album ini, "This is the Day", lumayan enak didengar dan menjadi pengobat rindu bagi para penggemarnya.

Susunan lagu secara kronologis di album juga menunjukkan bagaimana suksesnya perjalanan karir bermusik mereka. Saya sedikit kecewa karena ada beberapa lagu bagus yang tidak masuk ke album the best ini. Tapi okelah, bagi band dengan banyak lagu hits seperti Manics pasti akan sangat sulit memilih lagu hit mereka. Manics juga memilih tidak memasukkan lagu-lagu mereka dari mini album dan tidak satu pun lagu dari album "Journal for the Plague Lovers" (2009) hadir di album ini karena mereka memang tidak mengeluarkan single dari album tersebut.

Kompilasi ini tetap menarik untuk didengarkan walau tidak ada materi dan susunan lagu yang mengejutkan. Seperti lumrahnya industri musik rekaman yang sudah maju, kita tunggu saja Manics merilis "National Treasures" dalam edisi khusus, seperti halnya remix dari "Forever Delayed" yang bagus itu. Kemungkinan besar mereka akan merilis edisi spesial itu, tinggal ditunggu beberapa waktu lagi.

Selasa, 29 November 2011

We All Go Back to Where We Belong




Bukankah ini lagu perpisahan yang manis? tepat sesuai porsi dan tidak berlebihan. Perpisahan bukanlah akhir segalanya. Itulah kira-kira yang diungkapkan Stipe dan kawan-kawan. Kita bisa mengucapkan selamat tinggal dan mencoba tidak menyesali apa-apa kecuali kenangan, yang mungkin juga tidak semuanya indah. Sebagian kenangan bisa saja indah, bisa saja teruk. Sebagian kenangan bisa saja diingat dan sebagiannya lagi dibuang.
R.E.M. telah bubar dan kita hanya bisa berkata: terima kasih untuk semua lagu hebat dan album-album berkelas. Terima kasih R.E.M. untuk lagu terakhir yang bagus!

We All Go Back to Where We Belong
oleh R.E.M.

I dreamed what what you were offering
Imagine lying next to me
You should, and your reputation talks
I will write our story in my mind
Write about our dreams and triumphs
This might be my "Innocence Lost"
I can taste the ocean on your skin
That is where it all began

I dreamed that we were elephants
Out of sight, clouds of dust
And woke up thinking we were free

Oh oh oh
I can taste the ocean on your skin
That is where it all began
We all go back to where we belong
We all go back to where we belong
This really what you want
This really what you want

I can taste the ocean on your skin
That is where it all began
We all go back to where we belong
We all go back to where we belong
This really what you want
This really what you want

Kamis, 17 November 2011

Musik Rekaman sebagai Media

Sampai sekarang masih terdapat perbedaan dalam memandang musik rekaman atau musik populer apakah termasuk dalam bentuk media atau tidak. Pihak yang berpendapat bahwa musik rekaman bukanlah media, berargumen bahwa musik rekaman "hanyalah pendukung" media. Musik populer menjadi isi pesan media untuk radio siaran dalam bentuk lagu dan televisi dalam bentuk video klip, namun bukan media itu sendiri. Tentu saja pihak yang berpendapat bahwa musik populer sebagai pendukung media ini memiliki pijakan argumen. Biasanya posisi ini diambil oleh para pembelajar ilmu komunikasi dan kajian media yang menggunakan referensi lama. Buku-buku pengantar media yang diterbitkan sampai pada pertengahan 1990-an memang tidak menyebut musik rekaman sebagai media melainkan hanya bagian dari radio siaran.

Pendapat kedua, yang menurut saya lebih sesuai, menempatkan musik populer sebagai salah satu bentuk media. Berdasarkan telaah formula Lasswell, who says what in which channel to whom with what effect, jelas sekali menempatkan musik populer sebagai bagian dari media, terutama media massa, walau ketika berformat digital musik rekaman menjadi isi pesan bagi media baru. Buku-buku referensi tentang pengantar media juga menempatkan musik populer sebagai bagian dari media.

Salah satu pemikir media yang memberikan penjelasan paling baik mengenai musik rekaman sebagai salah satu bentuk media adalah Denis McQuail di dalam buku komprehensifnya, Mass Communication Theory. McQuail melihat dua aspek dari musik populer sebagai media, yaitu aspek medium dan aspek institusional. Aspek medium memiliki karakter sebagai berikut: pertama, musik rekaman terutama memberikan pengalaman pada audio. Walau pada akhirnya musik rekaman berbentuk audio-visual menjadi videoklip yang disiarkan di televisi dan internet, "pengalaman audio" adalah hal yang utama bagi pendengar musik rekaman.

Kedua, musik rekaman memberi kepuasan personal dan emosional kepada audiensnya, bukan pada kepuasan kelompok ataupun intelektual walau sebenarnya bisa saja pengalaman kelompok dalam mendengarkan musik sangat mungkin muncul. Pun pengalaman intelektual bisa muncul terutama dari lagu yang diramu dengan lirik yang mengutamakan pemikiran. Namun pengalaman akses yang bertujuan pada kepuasan personal dan emosional memang yang utama.

Ketika, musik rekaman memiliki daya tarik utama pada kaum muda. Walau pendengar secara umum meliputi seluruh usia, sejatinya audiens musik rekaman adalah kaum muda. Kaum mudalah yang menggerakkan industri musik rekaman. Mereka yang menjadi produsen, konsumen, dan distributor dari pesan media musik rekaman.

Pesan musik rekaman mudah didapat dan fleksibel untuk diakses oleh audiens adalah karakter yang terakhir. Audiens bisa mengakses dari perangkat yang sangat sederhana, misalnya mp3 player, atau yang paling kompleks. Intinya pendengar kini dengan sangat mudah mendapatkan bentuk musik rekaman yang mereka inginkan.

Untuk aspek institusional, musik rekaman sebagai media memiliki karakter sebagai berikut: pertama, musik rekaman berada dalam situasi di mana regulasinya tidak terlalu ketat. Regulasi yang paling berkaitan adalah regulasi atas hak cipta yang juga sulit diterapkan dalam realitas.

Kedua, musik rekaman memiliki keterkaitan yang tinggi dengan internasionalisasi. Trend yang terjadi di Barat atau Korea misalnya, dengan sangat mudah menyebar ke seluruh dunia. Musik barat secara umum memang masih menjadi rujukan namun dalam perjalanannya musik yang berasal dari belakan dunia lain, bahkan dari Timur, juga bisa menjadi trend yang melanda dunia.

Ketiga, musik rekaman terdiri dari beragam teknologi dan platform. Dengan demikian, pesan musik rekaman mudah diproduksi, didistribusikan, dan diakses karena beragamnya perangkat dan platform tadi. Internet misalnya, melalui dua situs terkenal Youtube dan Myspace, dengan cepat menyebarkan karya musik rekaman ke mana pun dan dengan cepat.

Secara organisasi, musik rekaman terfragmentasi dan cenderung tidak tersentralisasi seperti halnya media lain. Produsen musik rekaman misalnya, bisa sangat beragam, bukan hanya label dan penyanyi, namun juga penulis lirik, pencipta lagu dan sutradara video klip, walau penyanyi adalah yang paling utama dalam konteks produsen pesan musik rekaman.

Karakter berikutnya adalah musik rekaman biasanya dikaitkan dengan industri media utama dan juga budaya dominan dari kaum muda yang sedang berkembang. Walau begitu, karakter ini bisa jadi tidak terlalu tepat karena dalam kenyataannya masih ada musik rekaman "alternatif" yang bertujuan tidak menjadi bagian dari industri media dominan atau pun tidak menyasar pada budaya dominan kaum muda.

Bila didiskusikan lebih jauh musik rekaman sungguh menarik dan menggugah. Masih banyak wilayah musik rekaman yang bisa dieksplorasi dan diperbincangkan. Saya mengundang rekan-rekan untuk mendiskusikannya lebih detail dan mendalam.

Selasa, 15 November 2011

Sonic Youth - Hits are for Squares (2008): Lirik Lengkap




Bagi siapa saja yang mendengarkan album "Hits are for Squares" dan ingin mencerna lirik lagu:

(1)
Bull in the Heather


10, 20, 30, 40
Tell me that you wanna hold me
Tell me that you wanna bore me
Tell me that you gotta show me
Tell me that you need to slowly
Tell me that you're burning for me
Tell me that you can't afford me
Time to tell your dirty story
Time turning over and over
Time turning four leaf clover

Betting on the bull in the heather

10, 20, 30, 40
Tell me that you wanna scold me
Tell me that you a-dore me
Tell me that you're famous for me
Tell me that you're gonna score me
Tell me that you gotta show me
Tell me that you need to sorely
Time to tell your love story
Time turning over and over
Time turning four leaf clover
Betting on the bull in the heather


(2)
100%


I can never forget you - the way you rock the girls
They move a world and love you - a blast in the underworld
I stick a knife in my head - thinking 'bout your eyes
But now that you been shot dead - I've got a new surprise

I been waitin' for you just to say
He's off to check his mind
But all I know is you got no money
But that's got nothing to do with a good time

Can you forgive the boy who - shot you in the head
Or should you get a gun and - go and get revenge?
A 100% of my love - up to you true star
It's hard to believe you took off - I always thought you'd go far

But I've been around the world a million times
And all you men are slime
It's the gun to my head, goodbye I am dead
Wastewood rockers is time for cryin', hey!


(3)
Sugar Kane


You're perfect in the way, a perfect end today
You're burning out their lights, and burning in their eyes
I love you Sugar Kane, a-comin' from the rain
Oh kiss me like a frog, and turn me into flame
I love you all the time, I need you 8 to 9
And I can stay all night, yr body shining

And I know
There's something down there sugar soul
Back to the cross a twisted lane
There something down there sugar kane

I'm back again in love, I'm back again a dove
Where'd you get your light, your smilin' sugar life
Another lovers day, another cracked up night
Every night I say, the light is coming

And I know
There's something down there sugar cone
Back to the cross a twisted lane
There's something down there sugar kane

Hey angel come and play, and fly me away
A stroll along the beach, until you're out of time
I love you sugar kane, a crack into the dream
I love you sugar kane, I love you sugar kane
I love you sugar kane, I love you sugar kane
I love you sugar kane, I love you sugar


(4)
Kool Thing


Kool Thing sittin' with a kiddie
Now you know you're sure lookin' pretty
Like a lover not a dancer
Superboy take a little chance here
I don't wanna, I don't think so
I don't wanna, I don't think so

Kool Thing let me play it with your radio
Move me, turn me on, baby-o
I'll be your slave
Give you a shave
I don't wanna, I don't think so
I don't wanna, I don't think so

Yeah, tell'em about it,
Hit'em where it hurts
Hey, Kool Thing, come here, sit down beside me.
There's something I go to ask you.
I just wanna know, what are you gonna do for me?
I mean, are you gonna liberate us girls
From male white corporate oppression?
Tell it like it is!
Huh?
Yeah!
Don't be shy
Word up!
Fear of a female planet?
Fear of a female planet?
Fear, baby!
I just want to know that we can still be friends
Come on, come on, come on, come on let everybody know
Kool thing, kool thing

When you're a star, I know you'll fix everything
Now you know you're sure lookin' pretty
Rock the beat just a little faster
Now I know you are the master
I don't wanna, I don't think so
I don't wanna, I don't think so

Kool thing walkin' like a panther
Come on and give me an answer
Kool thing walkin' like a panther
What'd he say?
I don't wanna, I don't think so
I don't wanna, I don't think so

(5)
Disappearer


Here it comes again - out of the rain
Seems to have a new - kind of same
Been it playing on a - simple rhyme
The site comes alive and - speaks the mind
It turns to me and - it turns to gold
It turns to see a - the fast lane slow

It's been a way too long
It's been the way I gone
It's a-coasting on
To the west star

Looking out I thought I - saw it blink
Coming on to me - like a silver eye
Pick it up and - turn it on and
Head on out to a - western starland

It's been a man and gone (?)
Now it's a singing song
Like a western star
It's going my way

Looking out I'm back in - time to stay
Into the eastern - silent way (?)
Comes alive through - through and clearer (?)
Ghost arise to - dirty mirror (?)

You've been away too long
It's been way too long
An eastern star is on
A disappearer


(6)
Superstar


long ago
and oh so far away
I fell in love with you
before the second show
your guitar
it sounds so sweet and clear
but you're not really there
it's just the radio

don't you remember you told me you love me baby
you said you'd be coming back this way again baby
baby baby baby baby oh baby
I love you, I really do

loneliness, is such a sad affair
and I can hardly wait
to be with you again
what to say
to make you come again
come back to me again
and play your sad guitar

don't you remember you told me you love me baby
you said you'd be coming back this way again baby
baby baby baby baby oh baby
I love you, I really do

don't you remember you told me you love me baby
you said you'd be coming back this way again baby
baby baby baby baby oh baby
I love you, I really do


(7)
Stones


Lights on the stones on backed-up drain
What lovers list on languid stain
We've come together to gather star
Shooting up stones a pallored heart

Dead or alive
There's danger
The dead are alright
With me

We're not gonna run away
We're not gonna leave you stranger
We turn the light on your lonely home

Camera on the haunted stones
Blood-shadow gentle painted scorn
Now it's dancin' ink across your skin
Hieroglyphic-lover nature-friend

The dead are alive
There's danger
The dead are alright
With me

We're not gonna run away
We're not gonna leave you stranger
We turn the light on your lonely home


(8)
Tuff Gnarl


He's running on a tuff gnarl in his head
He's got a fatal erection home in bed
He's really smart and he's really fast
He's got a hard tit killer fuck in his past
Saints preserve us in hot young stuff
The saving grace is a sonic pig pile
Amazing grazing strange and raging
Flies are flaring through your brains
Spastic flailing literally raising my roof
An adrenal mental man-tool box explodes in music creates utopia
You gnarl out on my nerves you weird and crush the cranking raunch
Flesh dirt forcefield lost and found let's burn your broken heart
Set our sight on sights not yet set let's scorch your wavo wig
Let's poke your eyes out


(9)
Teen Age Riot


You're it
No, you're it
Hey, you're really it
You're it
No I mean it, you're it

Say it
Don't spray it
Spirit desire (face me)
Spirit desire (don't displace me)
Spirit desire
We will fall

Miss me
Don't dismiss me

Spirit desire

Spirit desire [x3]
We will fall
Spirit desire
We will fall
Spirit desire [x3]
We will fall
Spirit desire
We will fall

Everybody's talking 'bout the stormy weather
And what's a man do to but work out whether it's true?
Looking for a man with a focus and a temper
Who can open up a map and see between one and two

Time to get it
Before you let it
Get to you

Here he comes now
Stick to your guns
And let him through

Everybody's coming from the winter vacation
Taking in the sun in a exaltation to you
You come running in on platform shoes
With Marshall stacks
To at least just give us a clue
Ah, here it comes
I know it's someone I knew

Teenage riot in a public station
Gonna fight and tear it up in a hypernation for you

Now I see it
I think I'll leave it out of the way
Now I come near you
And it's not clear why you fade away

Looking for a ride to your secret location
Where the kids are setting up a free-speed nation, for you
Got a foghorn and a drum and a hammer that's rockin'
And a cord and a pedal and a lock, that'll do me for now

It better work out
I hope it works out my way
'Cause it's getting kind of quiet in my city's head
Takes a teen age riot to get me out of bed right now

You better look it
We're gonna shake it
Up to him

He acts the hero
We paint a zero
On his hand

We know it's down
We know it's bound too loose
Everybody's sound is round it
Everybody wants to be proud to choose
So who's to take the blame for the stormy weather
You're never gonna stop all the teenage leather and booze

It's time to go round
A one man showdown
Teach us how to fail

We're off the streets now
And back on the road
On the riot trail


(10)
Shadow of a Doubt


Met a stranger on a train
He bumped right into me
I swear I didn't mean it
I swear it wasn't meant to be
Must a been a dream
From a thousand years ago
I swear I didn't mean it
I swear it wasn't meant to be
From the bottom of my heart
He was looking all over me
Together everafter
He said
"You take me & I'll be you"
"You kill him & I'll kill her"
Kiss me
I swear it wasn't meant to be
I swear I didn't mean it
Kiss me
Kiss me in the shadow of
Kiss me in the shadow of a doubt
Kiss me
Kiss me in the shadow
Kiss me in the shadow of a doubt
It's just a dream
It's just a dream i had
Nononoooooh
Swear it's just a dream
Just a dream
Dream i've had
No
No
No
No
Take me to it
Take me to her
Maybe
Maybe it's just a dream
It's a dream
It's just a
Just a
No

Met a stranger on a train
Bumped right into me
Swear i didn't mean it
Swear it wasn't meant to be
Must've been a dream
From a thousand years ago
Kiss me
Kiss me in the shadow of a doubt
Kiss me


(11)
Rain on Tin


We all hope
To signal kin
Rays of gold
Now rain on tin
Gather 'round
Gather friends
Gather fear
Gather again


(12)
Tom Violence


My violence is a dream
A 'real dream'
A skinny arm
A crush on living sin
My violence
Is a sleeping head
Nodding out to rising bliss
I left home for experience
Carved 'suk for honesty' on my chest
My violence is the number
Coming out of prayer
Find it in the father
Find it in a girl

There's a thing in my memory
Hoilding on for dear life
With a feeling of secrets
Beating up under my flesh
My tongue is tied
I'm sleeping nights awake
Tom violence is a dream
Coming out of a girl


(13)
Mary-Christ


Talking to a punker priest
Just dogging the breeze
About beein in a tree / he says it's free now!
Along comes Mary Christ
Skating light on ice
And says, 'let's go on high' / later, priestoid!
You gotta go - God I got a date now
Yeh I know - shall not be late now

Possessed by x-ray eyes
Her spirit spy's
Into my lies / let's burn 'em out now!
Wraps my head in skin
Says now I'm in
Dig the candy skin / yeh spit it out now!
Everytime - she sings that low song
Everytime - I know I'm right, wrong

Angel in a devil skirt
Buys me a shirt
Says I hope you like / uh, like what now!?
Hope I hope you like
Like you like yr hope
With the tightest rope / I see, I know now!
Here we go - I've been waitin so long
Yeh I know - for Mary to come along
Aaaooooiii


(14)
The World Looks Red


Push it away
The world looks red
People with fish eyes
The ground sucks
Walk on my fingertips
Displacing the fog
The weight of my body
Is too mush to bear
The memory drained
The life from the dull
An ocean of insects
Worked like a sheet
The immovable fact
Buried my mind
In a horse-hair coat
In a pile
On the floor

Push it away
The world looks red
People with fish eyes
The ground sucks
Walk on my fingertips
Displacing the fog
The weight of my body
Is too much to bear
The memory drained
The life from the doll
The ocean of insects
Moved like a sheet
The immovable fact
Buried my mind
In a horsehair coat
In a pile
On the floor


(15)
Expressway To Yr Skull


We're gonna kill
the California girls
we're gonna fire the exploding load in the milkmaid maiden head
we're gonna find the meaning
of feeling good
and we're gonna stay there as long as we think we should

mystery train
three way plane
expressway
to your skull

mystery train
three way plane
expressway
to your skull

mystery train
three way plane
expressway

to your skull


(16)
Slow Revolution


(unavailable/lirik tak tersedia)

Sonic Youth - Hits are for Squares (2008)


Teks Media untuk "Menyegarkan" Hidup yang Biasa

Kadangkala hidup yang kita jalani sangat teruk. Hari-hari menjadi membosankan dan mekanistis. Tidak ada sesuatu jua yang membuat antusias. Pagi bangun, siang beraktivitas, waktu seakan berjalan lambat sampai menjelang waktu tidur. Begitu terus selama beberapa hari. Tiap hari dalam beberapa waktu itu seperti berlangsung dengan sama. Tak kurang, tak lebih. Namun hal itu bisa berubah ketika kita bertemu dengan orang lain yang memang memberi inspirasi baru. Manusia lain yang menyenangkan, yang berelasi dengan kita, dapat menghadirkan "teks" baru yang menyegarkan. Seperti saya beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman lama. Dengan bersengaja karena saya dan dia hadir di sebuah acara yang sama, saya berelasi kembali dengan dirinya setelah lebih dari sepuluh tahun, padahal kami berada dalam ruang kerja yang sama, hanya fakultasnya saja yang berbeda. Relasi dengan dirinya itu walau sesaat, membuat hari-hari yang agak membosankan dengan rutinitas menjadi menyenangkan.

Cara lain untuk kembali pada situasi yang menyenangkan atau lari dari kejenuhan adalah bertemu dengan teks media yang sebenarnya, bukan segala hal yang kita akses atau temui kemudian kita maknai dengan pikiran, jiwa, dan hati. Teks media yang kita terima dan cerna memang mesti diinterpretasi agar relevan bagi diri personal. Sembarang teks media sebenarnya bisa berpotensi memberikan kesegaran bagi kita. Namun belakangan ini sungguh banyak teks jelek yang datang tanpa permisi meminta dicerna, misalnya lagu-lagu cengeng dan menye-menye, tayangan-tayangan televisi bodoh, dan fiksi yang seragam, berisi motivasi yang jadi banal karena muncul sangat banyak dan bersamaan, juga berita di media internet yang diulang-ulang terus.

Karena itulah, ketika secara tak sengaja saya "menemukan" album "Hits are for Squares" di sebuah toko CD, hati saya senang bukan kepalang. Bukan apa-apa, album ini sudah tiga tahun saya cari. Hari-hari yang agak membosankan kemarin itu tiba-tiba menjadi mengasyikkan lagi dan kembali menantang untuk dijalani dan dieksplorasi. Album ini sebenarnya sudah muncul pada tahun 2008 dan disponsori oleh Departemen Musik di gerai kopi Starbucks, yang kini telah ditutup. Album "the best" Sonic Youth ini kemudian diedarkan secara internasional pada tahun 2010 dan baru sampai di pasaran Indonesia sekira tahun 2011 ini.

Saya sebenarnya sudah mencari album ini sejak tiga tahun lalu. Namun berulang-kali ke toko CD di beberapa kota, album ini tak jua ditemukan. Saya sempat berpikir apa karena album ini bukan album "resmi" Sonic Youth, sehingga tidak didistribusikan secara luas, atau apa karena album ini diprakarsai oleh Starbucks sehingga album ini selamanya akan didistribusikan terbatas dan kemudian dihentikan ketika bagian penjualan CD di gerai kopi itu dilikuidasi.

Mengakses album ini, seperti halnya semua album Sonic Youth, terasa menyenangkan walau pada saat masa awal mengakses atau mendengarkannya perlu upaya lebih keras karena tidak ada lagu Sonic Youth yang mudah dicerna, kecuali "Sugar Kane, lagu dari album "Dirty" yang juga hadir dalam kompilasi ini. Namun di sinilah kelebihan dari Sonic Youth, semua lagu dan semua albumnya tetap menyenangkan untuk didengarkan berulang-kali dan kapan pun. Mungkin ini "bayaran" susahnya mencerna lagu-lagu mereka saat awal didengarkan.

Album Sonic Youth yang saya dengarkan pertama-kali adalah "Murray Street" dan saya ingat sekali, waktu pertama-kali mendengarkan album itu, saya terkejut dan bahagia mendengarkan irama yang unik dan lirik-lirik semi absurd mereka, juga banyaknya sessi "pertempuran" suara ragam instrumen di album itu. Setelah itu semua album mereka saya lahap dari "Murray Street" ke depan, sampai "the Eternal", kemudian "Murray Street" ke belakang. Namun akses album-album sebelum "Murray Street" tetap masih terbatas dan tidak tercerna dengan baik. Karena itulah mengakses album "Hits are for Squares" ini membuat saya lebih mudah mengerti album-album sebelum "Murray Street", terutama album "Goo" yang tiga lagunya muncul di album ini.

Hal lain yang juga memberi inspirasi adalah semua lagu di album ini dipilih oleh penggemar Sonic Youth, entah itu penggemar fanatik atau biasa saja, yang jelas mereka semua adalah pelaku kebudayaan (populer). Beberapa orang atau kelompok yang memilih lagu membuat saya agak terkejut dan senang: mereka semua berkawan. Beberapa yang memilih adalah penyanyi atau band kesukaan saya juga, yaitu Mike D. dari Beastie Boys yang memilih lagu "100%", Beck yang memilih "Sugar Kane", Radiohead yang memilih "Kool Thing", "Teenage Riot" dipilih oleh Eddie Vedder, Flea memilih "Rain on Tin", dan the Flaming Lips memilih "Expressway to Yr Skull". Mereka semua berkawan! dan ini menyenangkan. Para kreator teks media yang brilian biasanya memang saling menghargai walau tidak mesti berkawan erat.

Mendengarkan album ini sama membahagiakannya dengan membaca novel terbaru Haruki Murakami, "1Q84" yang juga hadir belakangan ini, keduanya menyegarkan dan memberi cara pandang baru pada hal-hal rutin yang kita hadapi sehari-hari. Sudah sekitar seminggu album ini saya dengarkan terus sambil membaca "1Q84". Dua teks media yang istimewa. Entah sampai kapan saya mendengarkan album ini, belum ada rasa bosan sampai sekarang. Semua lagu di album ini menjadi pendukung untuk mencari modus-modus tak disadari dalam hidup yang bisa saja teruk, membosankan, namun yang seperti ini memang akan dihadapi sepanjang hidup. Album ini adalah teks yang indah, menarik, dan mengajak kita mengeksplorasi "teks" yang lain. Teks media yang kembali menyegarkan hidup yang mengalir dengan biasa.

Daftar Lagu:
1. Bull in the Heather (Experimental Jet Set, Trash and No Star: 1994)
2. 100% (Dirty, 1992)
3. Sugar Kane (Dirty, 1992)
4. Kool Thing (Goo, 1990)
5. Disappearer (Goo, 1990)
6. Superstar (If I were A Carpenter, 1994)
7. Stones (Sonic Nurse, 2004)
8. Tuff Gnarl (Sister, 1987)
9. Teenage Riot (Daydream Nation, 1988)
10. Shadow of A Doubt (EVOL, 1986)
11. Rain on Tin (Murray Street, 2002)
12. Tom Violence (EVOL, 1986)
13. Mary-Christ (Goo, 1990)
14. World Looks Red (Confusion is Sex, 1983)
15. Expressway to Yr Skull (EVOL, 1986)
16. Slow Revolution (Previously unreleased)

Kamis, 10 November 2011

Padi - The Singles (2011)




Mengamati perjalanan karir Padi berarti kita mengamati pula perjalanan industri musik rekaman di Indonesia selama lima belas tahun terakhir. Mereka pertama-kali terkenal lewat lagu "Sobat" pada tahun 1999, ketika belum terlalu marak mp3 ilegal, pembajakan, album re-package, RBT, dan juga penggunaan lagu sebagai lagu tema sinetron, serta "virus" selebritas yang semakin menggila. Pada waktu itu, band adalah sekumpulan orang yang berpotensi terkenal karena mengeluarkan lagu-lagu bagus, bukan karena tingkah-polah tak jelas atau kedekatan dengan pemain sinetron.

Lima belas tahun bertahan dalam lingkungan eksternal yang tidak kondusif bagi industri musik rekaman adalah prestasi, apalagi Padi terus konsisten menelurkan lagu-lagu bagus, bahkan sampai di album terakhir mereka, "Tak Hanya Diam" (2007), yang tidak menghasilkan banyak hit seperti empat album sebelumnya. Karena itulah ketika mereka merilis album "greatest hits" yang berjudul sederhana "The Singles", kita patut mengapresiasi mereka, walau pun peluncurannya sendiri tanpa gaung yang lumayan.

Apa yang kita harapkan sebagai pendengar dalam mengakses album kompilasi terbaik? jawabannya tergantung pemosisian kita sebagai pendengar jenis apa. Pendengar lama atau penggemar berat biasanya memfungsikan album the best sebagai dokumentasi yang menggabungkan banyak lagu sebagai kenangan, walau saya sendiri percaya bahwa sebuah lagu hanya relevan dalam kesatuan dengan lagu-lagu lainnya dalam satu album. Pendengar baru atau penyuka yang tidak terlalu fanatik biasanya memfungsikan album the best sebagai jalan pintas mengenali karya band secara keseluruhan. Saya yang memposisikan diri sebagai penggemar biasa melihat album ini baik sekali memadukan semua hit pada sejak album pertama, "Lain Dunia" (1999), sampai album kelima, "Tak Hanya Diam" (2007), dalam dua keping CD.

Selain itu, fungsi yang penting dari album the best ini adalah tergabungnya tiga lagu yang tak pernah ada di album-album Padi, yaitu "26 Desember" yang ada dalam album kompilasi untuk membantu korban tsunami di Aceh, "Kita untuk Mereka", lagu "Work of Heaven" dalam album kompilasi untuk Piala Dunia di Asia, "FIFA World Cup", dan "Terbakar Cemburu", yang disebarkan secara gratis di internet dan membuat Padi mendapatkan perhatian kembali dari masyarakat pecinta musik pada tahun 2009.

Singkatnya, album ini menjadi obat rindu yang berpotensi manjur bagi fans Padi dan pintu masuk bagi penggemar baru yang ingin memahami musik Padi secara cepat sebelum memasuki seluruh karyanya. Harga album ini juga termasuk terjangkau untuk dikoleksi sehingga membuat kita mudah mengingat bahwa Padi adalah salah satu band besar Indonesia yang muncul memasuki dekade 2000-an dan terus bertahan sampai sekarang. Semoga Padi masih mengeluarkan album-album baru, album "The Singles" ini adalah pemicu untuk memasuki chapter baru dalam berkarya.

Daftar lagu:

Disc 1:

1. Terbakar Cemburu
2. Tempat Terakhir
3. Sesuatu yang Indah
4. Kasih Tak Sampai
5. Begitu Indah
6. Harmony
7. Semua Tak Sama
8. Mahadewi
9. Ternyata Cinta
10. Belum Terlambat
11. Tak Hanya Diam
12. Patah
13. Sang Penghibur
14. 26 Desember

Disc 2

1. Sobat
2. Seandainya Bisa Memilih
3. Siapa Gerangan Dirinya
4. Hitam
5. Jangan Datang Malam Ini
6. Work of Heaven
7. Bidadari
8. Seperti Kekasihku
9. Bayangkanlah
10. Rencana Besar
11. Sesuatu yang Tertunda
12. Rapuh
13. Menanti Sebuah Jawaban
14. Sudahlah

Selasa, 08 November 2011

Foster the People – Torches



Pada suatu sore di akhir September di sebuah toko CD di Jakarta, saya mendengarkan sebuah lagu yang langsung membetot indera pendengaran. Ketika lagu itu diputar dan membahana di pengeras suara, langsung saja saya suka dengan lagu itu sejak pertama-kali mendengarnya. Bila ada cinta pada pandangan pertama pada seseorang atau sesuatu, saya meyakini ada juga cinta pada “pendengaran” pertama.

Kejadian seperti ini sudah beberapa kali saya alami, namun kejadian terakhir sudah sangat lama: jatuh hati pada pendengaran pertama untuk sebuah lagu yang dinyanyikan band baru. Terakhir kali saya mendengar sebuah lagu dan langsung menyukainya adalah lagu “Closing Time” oleh Semisonic pada tahun 1998. Nama bandnya baru saya dengar pada waktu itu namun lagunya langsung “nampol” dan menempel terus di indera pendengaran. Lagu itu kemudian menjadi semacam lagu favorit kolektif bagi saya dan rekan-rekan menjelang masa akhir kuliah apalagi kemudian lagu ini seringkali muncul di program acara MTV yang pasti disukai kaum muda penikmat musik, “Alternative Nation”.

Sebelumnya lagi, lagu yang langsung menempel dan saya ingat adalah lagu “Unbelieveable” yang dinyanyikan oleh EMF pada tahun 1991. Waktu itu saya mendengar dan melihatnya pertama-kali di sebuah acara TVRI bernama “Music Trax” ketika saya masih duduk di SMA. Dulu itu musik yang disukai pemuda dan pemudi adalah sebangsa slow rock dan lagu “Unbelieveable” terdengar sangat unik di tengah samudera lagu slow rock yang sangat banyak.

Lagu yang saya dengarkan dan langsung membuat saya tertarik tersebut adalah “Pumped Up Kicks” dari band baru bernama “Foster the People”. Tidak perlu telinga terlatih untuk menyukai lagu ini. Telinga pendengar musik biasa seperti saya saja bisa langsung menyukainya. Lagu “Pumped Up Kicks” memang enak didengar dan beat-nya bisa digunakan untuk teman menari pelan. Lagu ini kemudian menjadi semakin akrab ketika tiap setengah jam saya tonton klipnya di kamar hotel tempat saya menginap di Jakarta.

Formula satu lagu bagus dan langsung menarik perhatian memang sudah sering digunakan secara sengaja atau tak sengaja oleh band. Namun, tentu saja, diperlukan konsistensi dalam waktu cukup lama untuk menjadi besar. Dua band yang telah saya sebut sebelumnya adalah contoh yang baik. Kemana EMF dan Semisonic setelah hit pertama mereka itu? EMF masih menghasilkan album-album yang bagus, terutama “Cha Cha Cha” (1995), selain Schubert Dip (1991) yang ada “Unbelieveable”. Semisonic juga masih punya album bagus selain album “Feeling Strangely Fine” (1998) yang memuat “Closing Time”, yaitu “All About Chemistry” (2001), namun keduanya lebih dikenal karena hit pertama mereka.

Semoga hal tersebut tidak terjadi pada “Foster for People”, terkenal sekali setelah itu “mati”. Hal yang menyenangkan adalah indikasi tersebut tidak terpantau di album debut mereka ini. Album “Torches” (2011) ini bagus. Walau tidak sangat bagus, album ini merupakan modal dasar yang bagus sebagai album pertama. Selain “Pumped Up Kicks” yang memang sangat disukai penikmat musik, lagu-lagu lain di album ini enak didengar dan menarik dimaknai teksnya. Semua lagu berkisah tentang kehidupan anak muda usia 20-an dan bukan saja kisah spesial para personelnya, Mark Foster, Cubbie Fink, dan Mark Pontius, narasi yang tertera pada lagu-lagu di album ini adalah pengalaman yang umum bagi kaum muda. Bisa dikatakan topik utama dari album ini adalah menyikapi hidup dengan lebih baik. Pesan itu mudah terlihat di lagu “Helena Beat” dan “Waste”. Bukan pesan motivasi yang eksplisit memang, tetapi tetap memberikan semangat untuk mengarungi hidup yang berat. Tentu saja, seperti halnya konten media untuk anak muda yang lain, ada juga lagu yang berkisah tentang relasi cinta dan kerinduan seperti termaktub di lagu “Miss You”.

Teks media dari album ini memang tidak liat dan relatif mudah ditaklukkan. Inilah lapis aktivitas memaknai yang secara sengaja dibawa oleh produsen kontennya dan sungguh bukan sebuah masalah. Tidak ada pretensi untuk bersulit-sulit dengan musik dan lirik yang ditampilkan di album ini. “Penaklukan” teks yang mudah oleh pendengar mungkin memang merupakan suatu kelebihan, namun di sisi lain merupakan kelemahan jua. Kecuali ada momen berkesan yang diikat oleh album ini, lagu-lagu atau teksnya tidak akan melekat lama di hati dan di pikiran karena tidak ada isu dan “konsep” kuat yang diangkat. Album ini tetap bagus sebagai sebuah kesatuan walau misalnya kita melepaskan single atau hit pertamanya. Nikmati dan dengarkan saja “Torches” dengan utuh penuh untuk menemani hari yang kita jalani.

Daftar lagu:
1. Helena Beat
2. Pumped Up Kicks
3. Call It What You Want
4. Don’t Stop (Color on the Walls)
5. Waste
6. I Would Do Anything for You
7. Houdini
8. Life on the Nickel
9. Miss You
10.Warrant

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...