Senin, 31 Desember 2012

Sajak Akhir Tahun 3

Menyumbui waktu
Duri-duri membisu

Mengayau ketidakpastian
Esok bukan sekadar penanda

Menyengkramai duka
Siapa yang takut menghadapi pagi?

Harapan telah cukup untuk dirinya sendiri
Kita tetap di sini tanpa pilihan

: menyusuri sungai waktu

Sajak Akhir Tahun 2

Tindakan dan pemaknaan kemarin tak hanya menjadi sejarah tetapi juga bersenyawa dengan filsafat, kopi, album bagus, bau tanah kala hujan, dan mimpi tak selesai
Noktah yang terhubung dari hari ke-1 sampai hari ke-365 hampir terlalui
Kini yang ada tinggal deru waktu tak henti dan janji setahun yang tak ingin dimaklumatkan lagi

(29 Desember 2012)

Sajak Akhir Tahun 1

Akhir yang bahagia?
Selebihnya hujan tersenyum dan ketidaksabaran mendera
Akhir yang diinginkan?
Melampaui dingin dan asa yang tak tuntas
Sepenuhnya masih misteri
Detik-detik terus diimpi
Toh kita masih di sini
Jadi penyaksi
Akhir adalah awal yang baru

(28 Desember 2012)

Rabu, 19 Desember 2012

Secangkir Kopi untuk Murakami

Salah satu pengalaman membaca karya Murakami paling berkesan,
di kapal laut dalam perjalanan pulang sambil menyeruput kopi :)


Sudah lama dia tidak menulis apapun di blog ini, sekitar sebulan tulisan tidak muncul dan kegiatan tulis-menulis tidak menghasilkan output. Semua menghablur tak tentu. Entah mengapa siang ini tiba-tiba dia terbersit untuk menulis. Bukan tulisan yang panjang tentu saja, hanya tulisan yang membuatnya bisa "bersentuhan" lagi dengan blog ini.

Bila ada seorang penulis yang ingin diajaknya minum kopi dan mengobrol panjang tentang musik dan kepenulisan, tentu saja penulis itu adalah Haruki Murakami. Dia baru saja selesai membaca karya terakhir Murakami, 1Q84, dan dia merasa karya tersebut luar biasa, seperti karya-karya Murakami yang lain. Murakami selalu memberikan sesuatu yang baru sekaligus memiliki beberapa karaktertistik spesifik yang tidak sama dengan penulis lain.

Karakteristik tulisan Murakami selalu mengombinasikan narasi orang-orang "biasa" dengan alur tak linear, dan selalu ada musik dalam tiap karyanya. Di tiap tulisannya, secara eksplisit maupun implisit, juga selalu ada pembicaraan tentang kepenulisan. Dari situ kita memahami bahwa Murakami bukanlah penulis yang angkuh walaupun dia bisa dikatakan salah satu penulis besar terkini. Murakami selalu melihat bahwa kepenulisan merupakan suatu proses pencarian tanpa henti. Kepenulisan juga bukan sesuatu yang spesial, terutama kepenulisan yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Dia santai saja dengan seluruh pencapaiannya dan merasa tidak ada yang terlalu membanggakan dengan kepenulisannya.

Salah satu visinya tentang kepenulisan bisa diamati dari komentar Komatsu, salah satu karakter di 1Q84, ...writers have to keep on writing if they want to mature, like caterpillars endlessly chewing on leaves. Agar lebih berpengalaman mengolah kata, tentu saja seorang penulis harus selalu menulis tanpa henti. "Mature" di sini un memiliki arti yang lain, yaitu seorang penulis mesti rendah hati dan berusaha sebaik-baiknya, tidak berlebihan merasa bangga atas pencapaiannya, apalagi bila capaian itu masih sedikit.

Dia berjanji untuk lebih terlibat dengan menulis, bergulat dan bergelut dengan kata-kata. Dia ingin menyeduh dua cangkir kopi, satu untuk dirinya sendiri, satu untuk Murakami. Penulis yang memberinya banyak inspirasi. Ayo menenguk kopi, ayo menulis seasyik-asyiknya!

Jumat, 02 November 2012

INXS - Kick (25 Anniversary Deluxe Edition) (2012)

INXS - Kick (25 Anniversary Deluxe Edition) (2012)



Teks media musik rekaman memiliki karakter yang berbeda dengan teks media yang lain. Sejak awal teks musik rekaman tidak harus diakses secara keseluruhan dalam bentuk album, melainkan sangat bisa diakses secara “ketengan”, lagu per lagu. Malah sebenarnya, industri musik rekaman digerakkan oleh satuan teks dalam bentuk lagu. Lagu unggulan dan dua atau tiga lagu tambahan kemudian didistribusikan sebagai single. Satuan teks musik rekaman sebagai single memang tidak umum di Indonesia. Biasanya di Indonesia teks musik rekaman langsung hadir dalam bentuk album yang terdiri dari sekitar 14 lagu. Biasanya di Indonesia pendengar mengakses album dari seorang penyanyi atau band atau mendengarkan album kompilasi berisi kumpulan cukup  banyak lagu hit dari banyak penyanyi.

Satu lagi fenomena yang tidak umum dalam industri musik rekaman Indonesia adalah merayakan pencapaian suatu album yang merupakan karya bagus dan mendapatkan posisi yang baik di hati pendengar. Walau tidak lumrah, belakangan ini ada beberapa album lama yang terhitung legendaris dirilis kembali, misalnya saja album-album Koes Plus dan OST Badai Pasti Berlalu, yang kemudian ditarik kembali dari peredaran karena permasalahan hak cipta. Sebagai pengakses musik Indonesia yang mendengarkan album-album Indonesia sejak dekade 1980-an tentu saja banyak album jaman dulu yang ingin saya dengarkan lagi dengan kualitas yang jauh lebih bagus lagi. Misalnya saja saya sangat ingin mendengarkan album-album Ebiet G. Ade yang awal, terutama album Camelia I sampai dengan Camelia IV. Walaupun beberapa lagu dari album awal tersebut sering muncul dalam album kompilasi Ebiet G. Ade, namun mendengarkan lagu dari albumnya yang asli memang berbeda. Lagu dan urutannya di dalam sebuah teks album itu seperti bab dalam buku atau scene dan sekuens dalam album. Semua satuan teks bermakna. Inilah karakter utama paradigma konstruksionis dalam kajian media bahwa teks utuh dibangun dari satuan-satuannya, dan bahwa posisi satuan teks bermakna pula dalam sebuah teks yang utuh.

Di negara-negara yang industri musik rekamannya telah maju dan hak kekayaan intelektual, termasuk hak cipta, dihargai dengan memadai, fenomena merilis kembali album lama yang berkelas seringkali dilakukan. Tahun lalu album Achtung Baby dari U2 dan Nevermind karya Nirvana dirilis versi ulang tahun keduapuluh. Pada tahun ini juga muncul fenomena serupa, misalnya saja Manic Street Preachers yang merilis kembali debut album mereka, Generation Terorrist versi ulang tahun keduapuluh, dan juga INXS yang merilis edisi ulang tahun ke-25 album fenomenal mereka, Kick. Album terakhir inilah yang saya dengarkan sekarang ini.

Album INXS ini memiliki kesan yang mendalam bagi saya karena musik mereka yang unik, new wave, ska, dan pop. Penarik minat yang lain adalah kombinasi petikan gitar cepat dan saksofone, plus suara bagus milik vokalis yang kemudian bunuh diri, Michael Hutchence. Bisa dikatakan album Kick ini adalah album terbaik INXS. Album ini bukan album INXS pertama yang saya dengarkan. Saya mendengarkan album mereka, X (1990) dan Welcome to Wherever You are (1992) secara relatif bersamaan, baru kemudian mendengarkan Kick. Walau begitu, saya langsung memahami mengapa Kick dianggap sebagai pencapaian terbaik INXS. Ketika Kick dirilis, INXS mendapatkan apresiasi yang bagus dan dianggap sebagai penerus Rolling Stones walau kemudian kita tahu bahwa INXS tidak sebesar Rolling Stones namun band dari Asutralia ini cukup fenomenal terutama bagi penyuka musik 1980-an dan 1990-an. Bagi saya INXS sangat berperan membentuk kesukaan saya terhadap musik populer sampai sekarang.

Perilisan kembali album ini menurut saya sungguh menyenangkan. Selain bisa kembali mendengarkan album berkelas dalam konteks kekinian, tambahan satu cakram padat untuk merayakan ultah album pasti merupakan nilai tambah tersendiri. Siapa penggemar yang bisa melupakan Sweet Sensation, Need You Tonight, dan Never Tear Us Apart, ditambah dengan beberapa lagu baru yang belum dirilis dan versi berbeda dari lagu-lagu terdahulu?

Dirilisnya kembali sebuah album berkelas tentu saja bermotif ekonomi. Penggemar lama hampir pasti mengakses album rilis ulang semacam ini. Namun lebih luas dari pada motif ekonomi langsung, dirilisnya kembali sebuah karya bagus juga merupakan wujud apresiasi industri. Karya yang bagus mesti selalu dirayakan. Tetap saja, industri penghasil teks media sesungguhnya dibangun dari karya yang bagus, kurang bagus, dan tak bagus. Namun sebuah industri teks media bisa berkembang bila semua pihak selalu diingatkan bahwa karya-karya terbaik telah lahir dan dirayakan serta disyukuri secara periodik.

Daftar lagu:
CD 1 – Original Album
1.    Guns in the Sky
2.    New Sensation
3.   Devil Inside
4.    Need You Tonight
5.    Mediate
6.    The Loved One
7.   Wild Life
8.    Never Tear Us Apart
9.    Mystify
10. Kick
11.  Calling All Nations
12. Tiny Daggers

CD 2 – Bonus CD
1.    Never Tear Us Apart (Soul Version)
2.    Move on (Guitar Version)
3.   I’m Coming (Home)
4.    On the Rocks
5.    Mystify (Chicago Demo)
6.    Jesus was A Man (Demo Outtakes)
7.    The Trap (Demo)
8.    Never Tear Us Apart (Live from America)
9.    Do What You Do
10.  Guns in the Sky (Kick Ass Remix)
11.  New Sensation (Nicky 7’)
12.  Different World
13. Calling All Nations (Kids on Bridges Remix)



Rabu, 31 Oktober 2012

Jeda Panjang

,,,,,,,,,,
,,,,,,,,,,
,,,,,,,,,,
Aku suka caramu memandangku,
seperti aku ini adalah spesies pertama di muka bumi dari jenisku

?????????
?????????
?????????
Kau berkisah bahwa puisi tidak mungkin membawa kegalauan,
puisi selalu menuntun pada yang eksistensial

;;;;;;;;;
;;;;;;;;;
;;;;;;;;;
Ada ruang kosong di antara kedekatan
Ada kemarahan akut dari keheningan

.........
.........
.........
Ada yang mesti selesai,
Kapan kita menuntaskan janji?


Senin, 15 Oktober 2012

Hall & Oates - Change of Season (1990)

Hall & Oates - Change of Season (1990)


Album ini sangat berkesan bagi saya, bukan karena karena materi album yang bagus namun juga karena album ini adalah kaset pertama yang saya beli untuk memenuhi keinginan saya sendiri. Saya lupa alasan lengkapnya membeli album ini di toko kaset yang sudah almarhum di Yogyakarta, Kotamas. Hal yang masih saya ingat lagu So Close muncul sebagai obyek tebakan di acara televisi populer pada waktu itu, Gita Remaja. Setelah mendengarkan cuplikan lagu tersebut saya berjanji dalam hati untuk mengakses lagu itu, bila bisa beserta albumnya. Pada waktu itu, sekitar 1991, seringkali album jarang bisa didapatkan, yang bisa didapatkan dengan mudah adalah album-album kompilasi, terutama album kompilasi cover version.

Selain lagu So Close yang menjadi hit di mana Jon Bon Jovi hadir bermain gitar, sesungguhnya semua lagu di album ini bagus dan sangat pas pada jamannya, rock balada yang dinyanyikan dengan "gentle". Sampai kini album Change of Season ini tidak pernah membuat saya bosan. Coba saja dengar track Change of Season, Everywhere I Look, dan Heavy Rain.

Daftar lagu:
1. So Close
2. Starting All Over Again
3. Sometimes A Mind Changes
4. Change Of Season
5. I Ain't Gonna Take It This Time
6. Everywhere I Look
7. Give It Up (Old Habits)
8. Don't Hold Back Your Love
9. Halfway There
10. Only Love
11. Heavy Rain
12. So Close (unplugged)

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...