Jumat, 25 April 2014

Duran Duran - Big Thing (1988)

Duran Duran - Big Thing (1988)


Album ini adalah album terakhir Duran Duran di dekade 1980-an, dekade paling gemilang mereka, di mana Duran Duran menjadi salah satu motor bagi gerakan musik pop yang disebut new wave. Masa tersebut saya ingat sebagai masa awal mendengarkan musik asyik di mana dalam satu dekade muncul banyak band yang menghasilkan album-album bagus seperti A-Ha!, Culture Club, dan Spandau Ballet. Masa segerombolan cowok "cantik" bermain musik dan membuat lagu bagus. Masa akhir sebelum cowok-cowok "cantik" hanya berjoget tanpa memainkan musik dan lipsinc di panggung Saya sendiri tak begitu peduli dengan tampilan mereka atau siapapun pada masa itu, yang saya tunggu adalah lagu-lagu bagus. Keinginan tersebut relatif terbayar. Duran Duran pada masa 1980-an tersebut menghasilkan lima album bagus sebelum album "Big Thing" ini.

Ironisnya, album ini dianggap oleh banyak pengamat sebagai album paling mengecewakan dari Duran Duran, bukan hanya pada era 1980-an tetapi pada semua era. Menurut saya, album ini memang tidak sebagus album-album lain, terutama Seven And The Ragged Tiger (1983), the Wedding Album (1993), dan Astronaut (2006), namun album ini tidaklah jelek. Lagu semacam "I don't Want Your Love" benar-benar enak dinikmati dan menjadi teroboson baru bagi Duran Duran untuk memasuki dekade 1990-an dan sampai sekarang. "Drug" dan "the Edge of America" malah terasa megah sampai sekarang.

Album ini adalah satu dari sedikit album dari era kaset yang paling saya sayangi. Entah karena dahulu itu saya masih mendengarkan relatif sedikit album musik pop atau karena pengorbanan mendapatkan album ini lumayan besar. Membeli album ini memerlukan perjuangan karena mesti menabung beberapa lama dan membelinya pun ketika kasetnya didiskon 50%. Album ini saya beli di sebuah toko elektronik yang Malioboro yang kini mati, yang kini demikian juga dengan sembilan toko kaset lainnya di Yogya. Karena itu ketika membaca liputan tentang "Record Store Day" di harian Tempo entah mengapa secara spesifik saya langsung mengingat album ini.



Daftar lagu:

1. Big Thing

2. I Don't Want Your Love

3. All She Wants Is

4. Too Late Marlene

5. Drug (It's Just a State of Mind)

6. Do You Believe in Shame?

7. Palomino

8. Interlude One

9. Land

10. Flute Interlude

11.The Edge of America

12.  Lake Shore Driving 
13. Drug (It's Just a State of Mind) (Daniel Abraham Mix)  

Kamis, 17 April 2014

Kevin Carter


Manic Street Preachers - Everything Must Go (1996)



Seringkali sebuah lagu memberikan informasi lebih banyak dan mendalam dibandingkan informasi faktual yang kita akses, apalagi dengan pers yang hanya memberitakan selebritas, takhyul, dan konflik tak jelas seperti kebanyakan media Indonesia saat ini. Beberapa waktu yang lalu saya berdiskusi mengenai etika media dengan beberapa pembelajar. Kami berdiskusi mengenai tanggung jawab institusi media dan jurnalis dalam pemberitaan. Sebagai bagian dari suatu sistem masyarakat pasti seorang jurnalis menganut etika tertentu, dan sebagai bagian dari kelas menengah dan terdidik biasanya jurnalis menganut dan memahami humanisme.

Kemungkinan karena tekanan komodifikasi dari pasar media, jurnalis menyampaikan fakta yang tak sepenuhnya sesuai dengan norma sosial atau bahkan bertentangan dengan etika yang berlaku di masyarakat. Mungkin keadaan ini dianggap sebagai fenomena lumrah namun sebenarnya tidak. Jurnalis adalah juga manusia yang memiliki batasan ketika mereka terus menerus berhadapan dengan kondisi kemasyarakatan yang tak menyenangkan, seperti perang, bencana, dan konflik sosial. Jurnalis yang terus menerus bertemu dengan hal-hal tersebut akan merasa tertekan dan kemudian merasa bersalah.

Pada saat berdiskusi itulah saya teringat dengan Kevin Carter, seorang jurnalis foto yang dijadikan inspirasi lagu oleh Manic Street Preachers. Foto Carter yang terkenal dan memenangkan penghargaan Pulitzer pada bulan Maret 1993. Foto tersebut mengabadikan seorang anak perempuan yang sekarat karena kelaparan dan telah “ditunggu” oleh seekor burung bangkai. Tiga bulan setelah menerima penghargaan tersebut Carter bunuh diri. Ada yang mengatakan bahwa Carter bunuh diri karena tidak dapat menahan rasa bersalahnya karena tak menolong anak yang diabadikan di dalam foto tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa sang jurnalis tidak siap secara mental karena terus menerus meliput konflik. Bagaimanapun juga institusi media mesti menjaga jurnalisnya ketiga meliput konflik, termasuk menjaganya dengan perlindungan psikologis.

Foto Karya Kevin Carter yang memenangkan Pulitzer pada tahun 1993
 
  
Pada titik ini sebenarnya institusi media yang menugaskan jurnalisnya terus menerus tanpa memberikan perlindungan apalagi bila juga tidak memperhatikan pemberitaan secara etis, sebenarnya juga merugikan medianya sendiri tidak hanya jurnalisnya.

Di luar substansi isi lagu, lirik lagu ini ditulis oleh Richey Edwards, personel Manic Street Preachers yang dinyatakan hilang pada era yang sama dengan meninggalnya Kevin Carter. Selain lagu ini, Edwards juga menulis lagu lain yang bagus dan kelam berjudul Small Black Flowers that Grow in the Sky. Kedua lagu ini termaktub dalam album Manic Street Preachers yang dirilis tahun 1996, Everything Must Go.

Kevin Carter

Hi Time magazine hi Pulitzer Prize
Tribal scars in Technicolor
Bang bang club AK 47 hour

Kevin Carter

Hi Time magazine hi Pulitzer Prize
Vulture stalked white piped lie forever
Wasted your life in black and white

Kevin Carter
Kevin Carter
Kevin Carter

Kevin Carter
Kevin Carter
Kevin Carter
Kevin Carter

The elephant is so ugly he sleeps his head
Machetes his bed Kevin Carter kaffir lover forever
Click click click click click
Click himself under

Kevin Carter
Kevin Carter
Kevin Carter

Rabu, 02 April 2014

OST - The Hunger Games: Catching Fire (2013)

Various Artist - OST Catching Fire (2013)


Filmnya sudah agak lama dirilis, namun saya baru mencermatinya lagi ketika mendengarkan original soundtrack dari film ini. Biasanya bila saya menonton film, pertama-tama bukan filmya yang langsung menarik perhatian. Saya akan mendengarkan musik dan OST-nya. Film ini jelas memiliki OST yang bagus. OST yang bagus tak hanya mendukung dan memperkuat filmnya, melainkan menjadi entitas tersendiri. 

Lagu yang terutama terekam setelah menonton film "Catching Fire" adalah lagu "Atlas" oleh Coldplay. Saya coba mengingat-ingat informasi yang pernah terekam di benak. Apa atau siapa Atlas itu? mungkinkah dewa yang menggendong bumi yang sarat dan tua? saya belum mengecek validitas informasi tersebut. Memang sepertinya pas. Lagu ini diputar di akhir film menyertai credit title dan terekam jelas adegan-adegan di filmnya, terutama adegan saling membunuh dan berstrategi di permainannya.

Lagu lain yang langsung teringat adalah lagu yang dinyanyikan remaja yang sedang naik daun sekarang ini, Lorde. Lagunya saya sudah langsung tahu, lagu ini adalah lagu lama milik Tears for Fears, "Everybody wants to Rule the World". Saya lebih menyukai versi aslinya karena versi yang dinyanyikan Lorde ini terasa kurang efek paradoksnya karena dinyanyikan terlalu suram.

Lagu-lagu lainnya lumayan menggugah karena mengundang kita untuk mengingat-ingat filmnya sekaligus mengajak mengeksplorasi semesta teks yang lebih luas berkonteks totaliterianisme dan kehidupan yang paradoksal: berjuang dan bermain-main, mengasihi sekaligus membenci, dan keseriusan bertarung didampingi fashion yang chic.

Daftar lagu:
1. Coldplay - Atlas
2. Of Monsters and Men - Silhouettes
3. Sia (Ft. The Weeknd & Diplo) - Elastic Heart
4. The National - Lean
5. Christina Aguilera - We Remain
6. The Weeknd - Devil May Cry
7. Imagine Dragons - Who We Are
8. Lorde - Everybody Wants To Rule The World
9. The Lumineers - Gale Song
10. Ellie Goulding - Mirror
11. Patti Smith - Capital Letter
12. Santigold - Shooting Arrows at The Sky
13. Mikky Ekko - Place for Us
14. Phantogram - Lights
15. Antony and the Johnsons - Angel on Fire

Kamis, 27 Maret 2014

Arcade Fire - OST Her (2013)


Arcade Fire - OST Her (2014)
Walau secara umum konten media seringkali tidak dibedakan, sesungguhnya terdapat paling tidak dua jenis konten dan keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Dua jenis konten tersebut adalah konten faktual atau lebih populer dengan nama berita dan konten fiksional, yang juga bisa disebut sebagai konten hiburan. Bila berita berpijak pada fakta atau kejadian nyata, konten fiksional terutama berpijak pada imajinasi. Walau begitu, seringkali juga muncul kombinasi antara konten fiksional dan konten faktual yang tak dapat dipisahkan dengan tegas.

Konten faktual, bagi audiens, berfungsi sebagai sarana untuk memahami realitas kehidupan bersama. Dengan demikian, seperti adagium yang disampaikan oleh Bill Kovach, jurnalisme selalu ada dalam bingkai kepentingan publik. Konten fiksional memiliki fungsi yang relatif berbeda. Konten fiksional, selain berfungsi untuk menghibur, sesuai dengan nama aliasnya, juga memberikan kita pengalaman dan konteks atas kehidupan personal. Konten fiksional yang bagus akan membawa kita pada refleksi pengetahuan dan pengalaman pribadi agar kehidupan kita lebih baik. 

Kira-kira begitulah yang saya rasakan setelah menonton film ini. Sebagai audiens, saya tak hanya terhibur dengan konten fiksional yang satu ini, tetapi juga tercerahkan. Sebagai pemakna suatu teks, saya kemudian mensyukuri relasi interpersonal saya dalam kehidupan nyata. Betapa berharganya relasi tersebut dan betapa seharusnya kita memperjuangkan relasi cinta dan sayang tersebut mati-matian karena bagaimanapun juga, relasi dengan manusia lain adalah hal yang terhindarkan.

Di dalam film ini saya coba ajukan pertanyaan: benarkah ada relasi cinta sayang antar individu yang tak nyata? karena relasi antara Theodore Twombly dan Samantha (sebuah OS) seperti sungguh-sungguh nyata, mereka berbagi informasi personal, memaknainya bersama, saling membahagiakan karena bertukar informasi dan pesan, dan saling menguatkan berbasis proses komunikasi interpersonal yang intens, tanpa kehadiran fisikal sama sekali. Relasi dalam fiksi "Her" ini mirip dengan relasi dalam teks lain, buku yang berjudul "1Q84" karya Haruki Murakami. Di dalam 1Q84 juga terjadi relasi non-fisikal dalam bentuk kenangan, harapan, dan mistis antara dua karakter utamanya, Aomame dan Tengo Kawana. Hanya satu bab di akhir kisah yang mempertemukan mereka berdua dan hampir sepanjang cerita mereka berbasis pada relasi non-fisikal tersebut. 

Film bagus biasanya juga mengandung OST yang bagus. Pun dengan film ini. Soundtrack-nya ternyata diisi oleh salah satu band favorit saya, Arcade Fire. Teks bagus selalu mengundang dan menginspirasi teks bagus lainnya diproduksi. Album ini berisi lagu-lagu instrumental namun sungguh memperkuat rangkaian gambar dan suara yang muncul. OST ini tak hanya memperkuat kisah di dalam film ketika kita menontonnya, namun juga memberikan nuansa pemaknaan yang kuat setelah kita menonton filmnya. Apalagi, kemudian hadir dua bonus lagu yang dinyanyikan oleh dua karakternya di dalam film. Lagu "The Moon Song" menjadi tambahan bagus sekaligus kekuatan mengejutkan dari OST ini.

Daftar lagu

1. Sleepwalker

2. Milk & Honey

3. Loneliness #3 (Night Talking)

4. Divorce Papers

5. Morning Talk Supersymmetry

6. Some Other Place

7. Song On The Beach

8. Loneliness #4 (Other People's Letters)

9. Owl

10. Photograph

11. Milk & Honey (Alan Watts & 641)

12. We're All Leaving

13. Dimensions


Bonus Disc

1. Karen O - The Moon Song 
2. Scarlett Johansson & Joaquin Phoenix - The Moon Song

Sabtu, 22 Februari 2014

Richard Ashcroft - Alone With Everybody (2000)



Richard Ashcroft - Alone With Everybody (2000)


Beberapa waktu yang lalu, ketika sedang asyik menikmati beberapa album bagus di koleksi saya, secara tak sengaja saya mendengarkan album ini. Sudah lama sekali tidak mendengarkan album ini karena itulah rasanya seperti mendengarkan album ini pertama kali.

Konten musik rekaman adalah konten yang paling lekat dengan konteks waktu, karena itulah ketika mendengarkan album ini saya ingat kembali dengan masa lalu. Masa di awal dekade 2000-an adalah masa yang mengasyikkan di mana hidup masih sederhana dan konten media juga belum terlalu beragam seperti sekarang.

Ashcroft bisa melepaskan diri dari karakter musik di the Verve di mana dia menjadi vokalisnya. Hampir semua lagu menarik untuk didengarkan, terutama single andalannya, "A Song for the Lovers". Dua lagu lain yang juga menarik untuk disimak adalah "You on My Mind in My Sleep" dan "Slow was My Heart".

Daftar lagu:

1. A Song for the Lovers – 5:26
2. Get My Beat – 6:02
3. Brave New World – 5:59
4. New York – 5:30
5. You on My Mind in My Sleep – 5:06
6. Crazy World – 4:57
7. On a Beach – 5:09
8. Money to Burn – 6:15
9. Slow Was My Heart – 3:44
10. C'mon People (We're Making It Now) – 5:02 
11. Everybody – 6:34

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...