Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2011

Closing Time


Rasanya menyedihkan juga kehilangan sesuatu atau seseorang padahal dia bertahun-tahun berusaha kuat dan terbiasa dengan kehilangan. Namun rasa kehilangan memang tak mudah dihadapi. Sepanjang kita hidup rasa kehilangan pasti hadir, diakui ataupun tidak. Itulah yang terjadi pada dirinya ketika kira-kira dua minggu lalu 408 tulisan yang dipublikasi di FB-nya hilang tak berbekas, bahkan tanggal persis kejadian tersebut tidak dia ingat-ingat sebagai cara melupakan kehilangan itu. Dia telah mengirim email ke administrator situs jejaring sosial itu namun hanya ada satu balasan formal yang sepertinya berasal dari “mesin penjawab” email otomatis. Kesedihannya pun menipis oleh beberapa penghiburan dari rekan-rekannya.

Semua tulisannya sudah di-backup, namun yang menyedihkan adalah kehilangan komentar rekan-rekan yang ada di semua tulisan itu (notes), komentar yang baik atau pun buruk. Detik ini dia tidak begitu sedih lagi. Efek yang masih tersisa adalah keengganannya untuk menulis cepat dan rutin belakangan ini, padahal cukup banyak yang bisa ditulis, dikomentari, diulas, dan “dihampai”. Namun pada akhirnya dia tetap harus menulis juga. Menulis itu harus terus-menerus. Bila pun berhenti, pemberhentian itu sebaiknya sebentar saja agar kemampuan menulis tidak tergerus pelan-pelan. Setiap kecakapan bagaimana pun juga akan berkurang dan pada akhirnya menghilang bila tak digunakan.

Kini baginya menulis bukan hanya berfungsi untuk berpendapat dan berekspresi atas sesuatu yang nyata dan tak nyata, namun juga untuk menghilangkan duka, atau paling tidak mengurangi dampak kesedihan dan luka. Dengan menulis, hati bisa hampa atau netral kembali dan siap kembali menghadapi hidup, untuk yang baik atau pun yang buruk. Dia selalu percaya, suka dan duka itu tidak berurutan, ada yang menjembataninya: kehampaan. Sehabis bahagia atau pun sedih pasti ada fase ini agar kita bersiap lagi pada sesuatu yang lain, kebahagiaan atau kesedihan yang sama atau sebaliknya, sesuatu yang berbeda.

Kini dia sudah siap lagi menulis kembali. Menulis yang walaupun hasilnya masih biasa-biasa saja, tetaplah dia jalani dengan antusias. Tidak ada sesal berlebihan pada sesuatu yang sudah lewat kemarin. Hanya ada antusiasme dan optimisme baru untuk tiap langkah ke depan. Memang apa lagi yang bisa kita lakukan selain menghadapi hidup dengan sebaik-baiknya? Menulis adalah salah satu kemampuan yang dia miliki dan sumber kebahagiaannya, tak mungkin dia tinggalkan begitu saja.

Dia justru menikmati fase “kehampaan” itu. Fase jeda tipis di antara kebahagiaan dan kesedihan. Rasa yang paling mencerahkan bukan pada salah satu rasa yang jelas namun transisi di antaranya. Apa pun yang terjadi nanti dia hanya ingin berbuat dengan sebaik-baiknya yang dia mampu. Kini saatnya menutup kemarin rapat-rapat dan mengambil pelajaran dari semua kesalahan dan inspirasi dari sedikit kesuksesan. Dia tersenyum sambil menulis, kesadaran tipis dia dapati, “every new beginning comes from some other beginning's end” seperti yang dilisankan salah satu band favoritnya di masa lalu, Semisonic dari album mereka tahun 1998, Feeling Strangely Fine. Pemahaman yang sebenarnya biasa namun kali ini dia rasakan begitu bermakna. Dia benar-benar siap untuk menutup masa lalu dan “membuka” berbagai kemungkinan pada tiap jangkauan ruang dan waktu ke depan.

#####

Closing Time
Oleh Semisonic
Closing time
Open all the doors and let you out into the world
Closing time
Turn all of the lights on over every boy and every girl
Closing time
One last call for alcohol so finish your whiskey or beer
Closing time
You don't have to go home but you can't stay here
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
Closing time
Time for you to go out to the places you will be from
Closing time
This room won't be open till your brothers or your sisters come
So gather up your jackets, move it to the exits
I hope you have found a friend
Closing time
Every new beginning comes from some other beginning's end
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
Take me home

Sabtu, 24 Juli 2010

Cinta Bebas (Bagian 2)


Apa yang kau lihat ketika menatap matanya?
Apakah dirinya, obyek cintamu, atau dirimu sendiri?
Benarkah mencintai orang lain berarti mencintai diri sendiri, atau sebaliknya?
Apakah cinta "mematikan" atau "menghidupkan" sesuatu?
Apakah tidak ada jalan lain selain memilih antara mencintai atau membenci?
Apakah tidak ada cara lain tanpa mencintai diri sendiri atau pihak lain?
Apakah cinta bisa membebaskan dan tidak mengekang?
Apakah benci bisa menjadi alat dominasi dan hegemoni?

---------

Ratusan pertanyaan bisa ditanyakan terus menerus tanpa henti sampai diri kita lelah, sampai diri kita tak berarti, atau bahkan semakin penuh arti. Kita setiap kali mempertanyakan apakah tindakan kita menyakitkan atau membahagiaan orang yang kita cintai, meyakinkan penuh apakah tindakan kita cukup mematikan bagi orang lain. Bila dia merasakan sakit, kita bisa memastikan kita bisa minta maaf dan berpura-pura kita tidak sengaja melakukannya dulu.
Sungguh sial menjadi orang yang tidak dicintai atau dibenci.

Ribuan pertanyaan lebih banyak menggelayut di benak kita. Tentang kematian, tentang hal-hal yang belum selesai, tentang mimpi, atau tentang apa pun, tetapi tentang cinta dan benci kita selalu mencoba menyiapkan penjelasan dan implementasinya. Mudah untuk memberikan tindakan menyakitkan pada orang yang kita benci tetapi sungguh sukar memastikan cinta kita membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

Jutaan pertanyaan mungkin tetap tak tersentuh. Kita tidak akan ingat semua dengan detail tiap tindakan yang kita lakukan tetapi kita akan selalu ingat perasaan kita atas tindakan itu. Begitu yang saya rasakan dengan lagu ini. Saya tidak terlalu ingat berkaitan dengan peristiwa apa lagu ini, mungkin tentang mempertanyakan cinta di pagi hari, mungkin tentang rasa sepi yang menggigit, mungkin juga menyoal implementasi kebencian pada pihak lain, tetapi hal yang saya ingat, rasa bahagia bisa mengkontemplasi apa pun, termasuk hal-hal yang membuat kita sakit namun berpotensi membebaskan.

Lagu ini adalah lagu "elektronik" kontemplatif pertama bagi saya walau saya banyak mendengarkan lagu dalam genre serupa. Tidak hanya lagu ini sebenarnya, semua lagu di album Exciter milik Depeche Mode, di mana lagu ini termaktub, membawa pendengarnya berkontemplasi di balik rasa artifisal dan dinamisasi elektronik. Album "come back" Depeche Mode setelah masa suram karena beberapa personelnya terpuruk dan mereka hampir membubarkan salah satu band elektronik Inggris legendaris selain New Order. Suasana suram namun optimis terasa dari album ini.

Bagi saya secara personal, lagu ini dan lagu-lagu lain di album yang sama mengubah pandangan saya tentang cinta, benci, kebahagiaan, kebencian, dan hal-hal lain yang tak selesai, ketika berinteraksi dengan manusia lain. Manusia-manusia yang saya cintai, kurang cintai, ataupun tidak saya cintai. Rasa cinta itu bisa kontemplatif dan seharusnya membebaskan. Potensinya besar untuk itu: Cinta membebaskan itu ada. Mencintai pihak lain berarti membuat diri sendiri dan pihak lain lebih tercerahkan.


Freelove
performed by Depeche Mode

If you've been hiding from love
If you've been hiding from love
I can understand where you're coming from
I can understand where you're coming from

If you've suffered enough
If you've suffered enough
I can understand what you're thinking of
I can see the pain that you're frightened of

And I'm only here
To bring you free love
Let's make it clear
That this is free love
No hidden catch
No strings attached
Just free love
No hidden catch
No strings attached
Just free love

I've been running like you
I've been running like you
Now you understand why I'm running scared
Now you understand why I'm running scared

I've been searching for truth
I've been searching for truth
And I haven't been getting anywhere
No I haven't been getting anywhere

And I'm only here
To bring you free love

Rabu, 19 Mei 2010

Stay on These Roads


Masa lalu itu selalu ada di belakang kita. Walau begitu, seringkali masa lalu begitu dekat sampai desah napasnya terasa di pundak kita. Masa lalu begitu dekat bila saya mendengarkan album-album musik lama, antara lain album yang saya dengarkan ini. Album ini berjudul "Stay on These Roads", dirilis tahun 1988, sama seperti judul single pertamanya. Modus rilisan semacam ini memang populer di dekade 1980-an, di mana single pertama adalah lagu pertama dari album, bahkan bisa jadi nama album sama dengan judul lagu yang paling diandalkan.

Album ini dinyanyikan oleh A-Ha, salah satu band favorit saya dan menjadi deretan band awal yang saya suka bersama Duran Duran dan Pet Shop Boys. Walau bukan lagi band yang menggedor sukma saya belakangan ini, khusus untuk album ini dan album mereka berjudul, "Minor Earth Major Sky" yang dirilis tahun 2000, saya selalu punya kenangan khusus. Album "Stay on These Roads" mengingatkan saya pada masa SMA.

Mendengarkan album ini sepertinya lampu-lampu di pinggir jalan HOS Cokroaminoto masih bisa saya lihat. Hal yang saya ingat pasti adalah momen menunggu bus kota untuk pulang ke rumah saat menjelang maghrib di halte seberang sekolah saya dulu. Suasana yang magis antara masa depan tak pasti, kelelahan setelah seharian bersekolah, dan keinginan tak terwujud untuk terus bersama teman-teman seharian. Pada suatu waktu bukankah kita mesti pulang?

Secara khusus, album ini mengingatkan saya pada teman-teman SMA, karena salah satu teman yang memiliki album ini. Saya meminjamnya dari dia. Mendengarkan album ini saya semakin yakin bahwa ada perbedaannya, antara berjauhan dan berpisah dengan seorang teman. Berjauhan secara fisikal dengan teman bukan berarti berpisah. Sebaliknya, berdekatan dengan seseorang yang dulunya teman bisa berarti sudah mengalami "perpisahan". Perpisahan tidak pernah terjadi antara saya dengan teman-teman SMA saya. Walau berjauhan, kami masih berinteraksi melalui ragam media dan bila bertemu langsung pun, walau itu jarang sekali, kami merasakan kedekatan yang tulus.

Selalu, bila saya mendengarkan album ini, yang terekam adalah saat menunggu bus dan ketika sendirian atau bersama-sama beberapa teman menelusuri jalan HOS Cokromaninoto kala waktu menjelang gelap dan lampu-lampu jalan mulai menyala. Dahulu di awal 90-an, jalan itu belum kembali seramai sekarang. Kalau sekarang sih, ramai sekali keadaannya, apalagi setelah ada pasar Klithikan di jalan itu. Saya dan teman-teman seringkali menelusuri jalan HOS Cokroaminoto bukan hanya karena lokasi sekolah kami ada di jalan itu, tetapi juga karena kebanyakan tempat tinggal dan kost teman saya berada di sekitarnya.

Secara umum, lagu-lagu di album ini adalah lagu-lagu yang bagus. Walau begitu, secara khusus saya suka dengan empat lagu di antaranya, yaitu: "Stay on These Roads", "Touchy", "The Living Daylight", dan "You're the One". Dari sudut pandang akses media. Mendenagrkan album ini mengingatkan saya pada masa "putar" album. Karena jaman dulu teknologi belum semaju sekarang dan rilisan album tidak begitu banyak, suatu album bisa kita dengarkan selama beberapa tahun. Tidak seperti sekarang, saya memiliki banyak album tetapi kurang mendalami utuh penuh.

Kini kita mencoba mengulik empat lagu tadi. Lagu pertama adalah lagu yang paling jelas membuat saya mengingat masa SMA lalu, bersama teman-teman dan diri sendiri. Masa awal ketika identitas diri dibentuk. Keindahan dan kesenduan mengalir dari album ini walau makna literalnya adalah kisah cinta dua anak manusia.

Lagu "Touchy" adalah lagu A-Ha yang pertama saya kenal. Saya mengenalnya pun dari album cover version yang dulu banyak beredar sebagai akibat diterapkannya hak cipta dan royalti untuk musik rekaman di Indonesia. Lagu "Touchy" dan "You're are the One" mengingatkan saya pada masa A-Ha menjadi rujukan penampilan anak muda pada waktu itu. Sedikit rapi dengan lengan baju dilinting dan rambut berminyak. Kedua lagu ini sepertinya menjadi lagu tema iklan sebuah produk minyak rambut selain Brisk.

Lagu "The Living Daylight" adalah lagu yang mengingatkan saya pada film James Bond berjudul sama. Lagu ini bersama lagunya Duran Duran, "A View to Kill" adalah dua lagu kesukaan saya dari band yang juga favorit. Satu lagu kesukaan saya dari theme song-nya James Bond adalah "Goldeneye" karena diciptakan oleh Bono dan the Edge. Sayang saya tidak suka dengan penyanyinya. Coba bila lagu "Goldeneye" dinyanyikan oleh U2, pasti keren dan mereka akan punya dua lagu hit dari OST dalam waktu yang hampir bersamaan. Lagu U2 yang juga menjadi OST adalah "Hold Me Thrill Me Kiss Me" dari film Batman Forever.

Selain itu, saya ingat persis, pemeran pembantu di film "the Living Daylight" itu Maryam D'Abo. Pemeran James Bond-nya sih kurang bagus menurut saya bahkan Timothy Dalton dianggap oleh banyak pengamat film sebagai pemeran Bond paling tidak pantas. Tetapi tidak begitu untuk Maryam D'Abo, D'Abo menurut saya bermain bagus walau kini tidak terkenal. Maryam D'Abo dan Lady Di adalah dua sosok perempuan yang saya impikan pada waktu itu.

Untuk sekenang kedar-kedaran dengan lagu A-Ha yang bagus ini, berikut ini lirik lengkapnya, dan seperti biasa, lirik semakin asyik dimaknai dan dikenang bila kita mendengarkan lagunya secara bersamaan:

The cold has a voice
It talks to me
Stillborn, by choice
It airs no need
To hold

Old man feels the cold...
Oh baby don't
'cause I've been told:

Stay on these roads
We shall meet, I know
Stay on...my love
We shall meet, I know
I know

Where joy should reign
These skies restrain
‘Shadow your love...'
The voice trails off again

Old man feels the cold
Oh baby don't
'cause I've been told

Stay on these roads
We shall meet, I know
Stay on...my love
You feel so weak, be strong
Stay on, stay on
We shall meet, I know
I know
I know, my love, I know
-----

Masa lalu akan selalu mengikuti kita. berjalan ataupun berlari di dalam hidup, ia kan ada. Teman-teman terdekat kita akan selalu ada, jauh ataupun dekat, sering ataupun jarang bertemu. Walau kita terus menghidupi hidup kita sendiri, suatu saat Dia akan menunggu di ujung jalan. Dia akan selalu menunggu kita dengan sabar.

Sabtu, 09 Januari 2010

Polysemia Itu Bermakna Keindahan (dan Juga Kerja Keras)






Setiap Sabtu pagi, seperti biasa saya ada di sebuah tempat yang selalu membuat saya antuasias untuk berdiskusi. Tempat itu bernama PKMBP, Pusat Kajian Media dan Budaya Populer, yang resmi berdiri tahun 2005 walau embrio-nya sudah ada sejak tiga tahun sebelumnya. Tempat di mana saya menemukan forum diskusi yang sebenarnya. PKMBP saya dirikan bersama lima orang teman lain dan di dalam perjalanannya merupakan tempat bagi rekan-rekan yang ingin menemukan forum diskusi dan riset. Ada beberapa teman yang sudah pergi, juga ada teman-teman yang masih berjibaku untuk mewujudkan demokrasi melalui kemerdekaan bermedia dan literasi media.

Membicarakan PKMBP saya juga teringat dengan sebuah pidato pengukuhan guru besar. Bulan lalu, tepatnya tanggal 21 Desember 2009, saya menghadiri pidato pengukuhan guru besar dekan saya, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. Pengukuhan itu, selain merupakan pengakuan kemampuan akademis beliau, juga menunjukkan betapa dekan saya itu memiliki jaringan sosial yang luas. Satu inspirasi lagi bagi saya adalah rekam jejak aktivitas beliau.

Salah satu yang menarik adalah ia pernah aktif di sebuah organisasi masyarakat sipil terkemuka di Yogyakarta. Ini menunjukkan pada saya bahwa aktivitas sebagai akademisi dan “aktivis” adalah aktivitas yang saling mendukung, dan tidak bertentangan satu sama lain. Pak Tik, begitu kami memanggilnya, telah memberikan inspirasi bagi saya dengan caranya sendiri. Saya menjadi semakin yakin dengan aktivitas yang saya lakukan. Saya juga pernah membaca ada seorang guru besar dari bidang pertanian UGM yang membidani lahirnya sekitar 30 LSM atau OMS (Organisasi Masyarakat Sipil) walau tidak ada informasi apakah ia aktif terlibat dalam semua aktivitas tersebut.

Saat ini kami sedang merumuskan kembali media kami, yang bernama Polysemia. Newsletter kami ini sudah dua tahun lebih tidak terbit dan kini kami berusaha merumuskan media yang semoga lebih mendalam dan bagus. Kami sedang berusaha. Saya jadi tertarik membahas kembali media kami ini.

Apa itu polysemia? Nama ini berarti “the quality of having multiple meanings at the same time”. Teks yang seperti ini disebut “polysemik”. Nama tersebut saya ambil dari buku Jonathan Bignell (2004), yang berjudul “An Introduction to Television Studies”. Nama ini, walaupun agak susah dan sulit dihapalkan, tetaplah nama pilihan terbaik dan menyampaikan makna yang mirip dengan lembaga yang menerbitkannya.

Newsletter adalah salah satu media yang kami susun bersama. Kami juga berusaha secara rutin, minimal setahun sekali, menerbitkan buku. Di sinilah saya benar-benar percaya dengan kecerdasan kolektif, dan bahwa bekerja sendirian, walau bagaimana pun, tidak akan berdampak besar, sebesar bekerja kolaboratif.

Sudah lima buku yang kami tulis dan hal yang paling membahagiakan adalah hasil pemikiran di buku itu membantu pihak lain. Saya sangat senang ketika ada rekan dari Medan yang mengatakan bahwa buku pertama kami sangat membantu dirinya. Juga seseorang yang menyusun tesis berdasarkan buku kami.

Kami memiliki konvensi bahwa secara bergantian kami akan menjadi editor. Itu sudah terwujud di mana empat dari kami sudah pernah menjadi editor. Rekan yang “belum” menjadi editor adalah Iwan Awaluddin. Ia sedang mengedit buku tentang literasi media. Semoga segera terbit tidak terlalu lama lagi.

Inilah buku-buku yang sudah kami terbitkan:

1. Menyingkap Profesionalisme Kinerja Surat Kabar di Indonesia (ISBN 979 – 3333 – 83 – 5) oleh Rahayu (editor) diterbitkan Januari 2006.

2. Riset Audiens dalam Kajian Komunikasi (ISBN 978 – 979 – 16770 – 0 -4) oleh Puji Rianto (editor) diterbitkan April 2008.

3. Metodologi Riset Komunikasi: Panduan untuk Melaksanakan Penelitian Komunikasi (ISBN 978 – 979 – 16770 – 1 -1) oleh Pitra Narendra (editor) diterbitkan Juni 2008.

4. Berkawan dengan Media: Literasi Media untuk Praktisi Humas (ISBN 978 – 979 – 16770 – 2 - 8) oleh Wisnu Martha Adiputra (editor) diterbitkan Februari 2009.

5. Publik untuk Publik: Analisis Siaran Berita RRI Pro3 selama Kampanye Pemilu Legislatif 2009 (ISBN 978 – 979 – 16770 – 3 – 5) oleh Puji Rianto, Iwan Awaluddin, dan Wisnu Martha Adiputra, diterbitkan Agustus 2009.

Sementara itu, buku tentang literasi media dan buku “Publik untuk Publik” part 2, atau berjudul “Publik Menyapa” sedang “digoreng”. Kami berharap akan bisa terbit tidak terlalu lama lagi. Walau demikian, ada satu hal yang mengganjal, naskah untuk Polysemia edisi baru belum ada yang mengumpulkan…saya harap teman-teman yang saya tag mengumpulkannya paling lambat tiga hari ke depan.

Nah, itulah sedikit cerita tentang PKMBP dan juga Polysemia, semoga lembaga ini semakin maju dan terus berkontribusi lebih baik lagi di tengah-tengah masyarakat sesuai visi yang sudah disusun bersama….

Semoga kami semakin konsisten bekerja keras untuk terus “berjuang” atas nama kebebasan bermedia dan kecakapan bermedia untuk demokrasi!

Rabu, 06 Januari 2010

Menulis di Awal Tahun dan Awalnya Menulis


Sungguh menyenangkan mempunyai waktu untuk menulis. Saat menulis adalah waktu yang berkualitas bagi saya sekarang ini. Menulis juga bukan lagi suatu yang memberatkan seperti di masa lalu, bahkan menjadi “ritual” yang saya tunggu-tunggu setiap harinya.. Semoga ini awal yang bagus bagi aktivitas tulis-menulis saya di awal tahun seperti sekarang ini dan selanjutnya terus begini sepanjang tahun.

Saya mencoba mengingat-ingat kapan persisnya saya mulai senang menulis. Kesenangan itu dimulai dari situs blog bernama multiply. Inilah situs blog tempat saya pertama-kali membuka blog. Setelah itu saya memiliki beberapa blog tetapi sampai sekarang hanya dua yang bertahan, plus dengan “catatan” di Facebook. Dua blog itu adalah duniakreatif.multiply.com dan wisnumartha14.blogspot.com
. Isinya sih relatif sama walau saya sudah memikirkan untuk membedakan sedikit pesan yang hadir di kedua blog itu.

Saya mesti berterima-kasih pada istri saya yang mengenalkan, membukakan, serta mengingatkan password blog multiply saya pada tanggal 8 Agustus 2005. Dia juga-lah yang terus-menerus memberikan inspirasi untuk menulis, selain dia sendiri, bersama perempuan cantik yang satu lagi yang lebih kecil, yang menjadi inspirasi saya untuk apa pun. Pada awalnya saya memang tidak langsung rajin menulis. Banyak faktor yang membuatnya demikian. Tetapi karena sebuah peristiwa biasa di tahun 2007 saya jadi agak rajin menulis di blog. Peristiwa itu adalah "jatuh cinta" pada musik Indonesia. Rupanya moment itu tidak hanya membuat saya mencintai musik Indonesia, saya pun jadi lebih ingin memperdalam musik populer sebagai media. Kemudian hal tersebut kemudian menghubungkan dengan banyak hal lain yang saya sukai; bercerita tentang hal-hal tidak penting...hehe...

Multiply adalah awalnya. Hal ini saya pahami betul. Saya jadi senang menulis dan berkomunitas melalui blog ini. Saya jadi terinspirasi oleh tindakan sosial yang dilakukan oleh istri saya dan teman-temannya. Ada kegiatan menulis buku bersama-sama, kegiatan sosial, dan berkumpulnya mereka (bahasa kerennya kopdar) menjadi sarana untuk saling memahami pengalaman pihak lain. Aktivitas yang paling berkesan bagi saya adalah bagaimana istri saya dan teman-temannya turut membantu korban gempa, yang dibantu oleh media baru, termasuk blog di internet.

Ketika mulai menemukan “flow” menulis itulah, saya kemudian “menemukan” para pembelajar di jurusan
saya, Ilmu Komunikasi UGM, di multiply. Pertemuan yang tidak disengaja pada awalnya. Kini beberapa dari mereka sering berkomunikasi melalui tulisan, terutama di area yang paling saya suka, musik populer. Saya juga agak sering membaca tulisan-tulisan teman-teman pembelajar itu. Saya jadi sedikit memahami pengalaman otentik para pembelajar yang menjadi narablog di multiply. Kini menulis juga menjadi aktivitas bersama yang tambah mengasyikkan dan mencerahkan.

Tidak banyak hal lain yang saya harapkan, salah satunya adalah harapan saya untuk menulis dengan lebih baik di blog, di notes FB, atau di manapun wahana untuk menulis. Juga mendapatkan kawan lebih banyak lagi untuk menulis secara kolaboratif, baik di dalam proses maupun output-nya. Semoga semakin mewujud di tahun ini.

Minggu, 03 Januari 2010

Menulis: Sebuah Janji di Awal Tahun

Tahun 2010 sudah memasuki hari ketiga dan saya belum menghasilkan satu pun tulisan. Tidak terlalu penting juga sih...walau demikian saya harus berpegang pada janji personal saya sendiri, yaitu menulis minimal satu tulisan per hari. Kalau pun sampai hari ini belum ada tulisan juga, saya bisa menggenapinya agar di akhir bulan jumlah tulisan saya berjumlah sesuai jumlah hari.

Selain menulis minimal satu tulisan per hari, saya juga harus lebih seksama mencatat berbagai hal mulai sekarang. Terus terang, saya iri dengan rekan-rekan yang di akhir tahun mampu kembali mereview hal-hal yang pernah dituliskannya, misalnya: hal-hal terbaik atau terburuk yang didapatkan selama setahun. Ada yang menulis album terbaik yang didengar selama setahun. Ada yang menulis tentang tempat-tempat terbaik, serta buku-buku terbaik yang dibaca dalam waktu setahun.

Saya juga akan berusaha menulis dengan lebih baik. Saya merasa tulisan-tulisan saya belumlah mendalam. Beberapa tulisan malah logika mendasarnya tidak cukup kuat. Tentu saja dengan latihan habis-habisan dan menyelami dunia penulisan lebih mendalam dan penuh penjiwaan, saya akan dapat lebih baik lagi.

Mulai detik ini saya hanya berjanji pada diri sendiri untuk lebih baik lagi dalam menulis....

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...