Pagi begitu tenang di pagi pertama di tahun 2013. Perlahan dia membuka gorden dan melihat suasana di luar rumah. Sepi sekali, tak ada orang yang terlihat padahal sudah pukul 08.00. Ironis sebenarnya. Banyak orang menyatakan resolusi untuk memperbaiki hidupnya di tahun yang baru, antara lain menjadi lebih rajin, pada hari pertamanya justru kebanyakan orang tidak bangun pagi. Dia tersenyum sendiri. Dia pun termasuk orang semacam itu. Resolusi memperbaiki hidup biasanya hanya menggebu di akhir tahun sebelumnya, begitu masuk tahun yang baru, hasrat kuat itu seperti menghablur begitu saja, toh di akhir tahun kita dapat membuat resolusi lagi. Keadaan ini adalah salah satu paradoks sederhana dari eksistensi manusia: suatu pernyataan atau resolusi sangat dipengaruhi oleh konteks.
Entah mengapa, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri, dia mengingat suasana ketika gempa tahun 2006 dulu. Sepi yang sama dengan sepi ketika gempa melanda rumahnya, sepi yang seolah memendam daya demikian kuat. Terasa tubuhnya agak dingin, dingin yang tak nyaman. Perlahan dia mengatur napasnya. Tak apa, tak apa...pikirnya. Rupanya masih ada sedikit trauma pada dirinya. Setelah agak lama dia menyadari bahwa rasa khawatir itu hanya ada di dalam dirinya, bukan ada pada suasana. Mungkin hasrat untuk memasuki tahun yang baru yang kelewat besar, batinnya.
Entahlah, perlahan dirinya tenang lagi. Suasana di luar sudah mulai ramai. Orang-orang sudah mulai keluar rumah, anak-anak sudah mulai bermain di lapangan di depan rumahnya. Hari perlahan dimulai lagi. Kali ini di tahun yang baru. Keadaan yang sebenarnya sama persis dengan hari-hari kemarin. Kalender saja yang berjalan dengan linear. Dia mulai menyeruput kopi yang baru saja dibuatnya. Dunia tetap sama, yang tidak sama mestinya adalah cara dia memaknainya hidup. Hidup mungkin tetap sama, namun tak ada yang mengalahkan Sang Waktu. Dia sebenarnya tidak terlalu antusias melihat perayaan tahun baru, namun karena orang-orang yang dicintainya bergembira, dia pun bergembira. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang-orang yang kita cintai berbahagia. Orang-orang tercintanya belum bangun. Selamat tanggal satu di tahun yang baru, katanya dalam hati, mengucapkan doa untuk dirinya sendiri. Jangan pernah terlena lagi, tahun ini mesti hidup sebaik-baiknya, hidup sedalam-dalamnya.
Dia bahagia menjadi penyaksi, suatu akhir adalah awal yang baru.
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Januari 2013
Kamis, 16 Februari 2012
Didn't We Almost Have It All
Tiga hari terakhir dia tidak bisa menghindari suara Whitney Houston, entah di layar televisi di mana hampir semua acara kematian Whitney Houston selalu dikutip dan coba dijelaskan. Dunia hiburan berkabung. Fans Whitney Houston menangis, sampai-sampai acara Grammy Award yang pelaksanaannya hanya berselisih beberapa jam, mesti dimodifikasi untuk menghormatinya.
Dia bukan penggemar Whitney Houston tetapi dia akrab dengan lagu-lagunya terutama yang beredar di telinga pada era 1980-an. Tak mungkin menghindari atau tidak mendengar lagu-lagu Whitney Houston bagi yang mulai mendengar musik pop pada tahun 1980-an ketika pilihan untuk mendengarkan album musik sangat terbatas. Dia ingat sekali lagu-lagu Whitney Houston hadir di banyak album kompilasi "ilegal" berlabel 20 Love Songs. Billboard, perusahaan rekaman yang merilis 20 Love Songs, memasukkan lagu-lagu Whitney Houston pada setiap serinya. Bila dia tak salah mengingat, kompilasi ini hadir sampai jilid 7.
Dia mengingat satu berita sehari sebelum kematian Whitney Houston yang mengabarkan bila Whitney Houston bangkrut dan ditemukan depresi berat di sebuah klub. Pada beberapa wawancara sebelumnya Whitney Houston mengakui bila dia kecanduan obat-obatan. Sepertinya semua berhubungan: ketenaran yang semakin tergerus, kebangkrutan, dan merasa tidak ada manusia lain yang menemani. Walau begitu, kita tidak akan benar-benar memahami apa yang ada di pikirannya sebelum ditemukan meninggal.
Dia juga membaca tulisan dari salah seorang essais favoritnya bahwa salah satu yang menggerakkan dunia adalah hasrat manusia untuk mendapatkan sesuatu. Hasrat untuk memperoleh dan memiliki sesuatu itu akan berubah negatif bila akhirnya menjadi keserakahan. Kembali pada kasus Whitney Houston, walau dia seolah memiliki "segalanya" dia masih seorang manusia juga. Manusia yang rapuh dan mungkin pada satu titik tidak kuat menerima tekanan hidup yang begitu berat. Lagipula, kita sebagai manusia tidak akan memiliki segalanya. Kita juga tidak akan "memiliki" orang lain sepenuhnya. Seserakah apapun manusia, dia tidak akan mendapatkan dan memiliki segalanya.
Dia mencoba memilih satu lagu Whitney Houston yang paling dia sukai. Lagu yang hadir pada masa lalu dan sangat sering dia dengar dengan intens. Pilihannya jatuh pada lagu "Didn't We Almost Have It All" walau banyak lagu Whitney lain yang dia akrabi. Lagu ini hadir dalam album kedua Whitney Houston, "Whitney", yang dirilis pada tahun 1987. Lagu yang indah...dan memang benar, kita tak bisa mendapatkan segalanya....
...Remember when we held on in the rain
The night we almost lost it
Once again we can take the night into tomorrow
Living on feelings
Touching you I feel it all again
Didn't we almost have it all
When love was all we had worth giving?
The ride with you was worth the fall my friend
Loving you makes life worth living
Didn't we almost have it all
The night we held on till the morning
You know you'll never love that way again
Didn't we almost have it all
The way you used to touch me felt so fine
We kept our hearts together down the line
A moment in the soul can last forever
Comfort and keep us
Help me bring the feeling back again
Didn't we have the best of times
When love was young and new?
Couldn't we reach inside and find
The world of me and you?
We'll never lose it again
Cause once you know what love is
You never let it end...
Dia bukan penggemar Whitney Houston tetapi dia akrab dengan lagu-lagunya terutama yang beredar di telinga pada era 1980-an. Tak mungkin menghindari atau tidak mendengar lagu-lagu Whitney Houston bagi yang mulai mendengar musik pop pada tahun 1980-an ketika pilihan untuk mendengarkan album musik sangat terbatas. Dia ingat sekali lagu-lagu Whitney Houston hadir di banyak album kompilasi "ilegal" berlabel 20 Love Songs. Billboard, perusahaan rekaman yang merilis 20 Love Songs, memasukkan lagu-lagu Whitney Houston pada setiap serinya. Bila dia tak salah mengingat, kompilasi ini hadir sampai jilid 7.
Dia mengingat satu berita sehari sebelum kematian Whitney Houston yang mengabarkan bila Whitney Houston bangkrut dan ditemukan depresi berat di sebuah klub. Pada beberapa wawancara sebelumnya Whitney Houston mengakui bila dia kecanduan obat-obatan. Sepertinya semua berhubungan: ketenaran yang semakin tergerus, kebangkrutan, dan merasa tidak ada manusia lain yang menemani. Walau begitu, kita tidak akan benar-benar memahami apa yang ada di pikirannya sebelum ditemukan meninggal.
Dia juga membaca tulisan dari salah seorang essais favoritnya bahwa salah satu yang menggerakkan dunia adalah hasrat manusia untuk mendapatkan sesuatu. Hasrat untuk memperoleh dan memiliki sesuatu itu akan berubah negatif bila akhirnya menjadi keserakahan. Kembali pada kasus Whitney Houston, walau dia seolah memiliki "segalanya" dia masih seorang manusia juga. Manusia yang rapuh dan mungkin pada satu titik tidak kuat menerima tekanan hidup yang begitu berat. Lagipula, kita sebagai manusia tidak akan memiliki segalanya. Kita juga tidak akan "memiliki" orang lain sepenuhnya. Seserakah apapun manusia, dia tidak akan mendapatkan dan memiliki segalanya.
Dia mencoba memilih satu lagu Whitney Houston yang paling dia sukai. Lagu yang hadir pada masa lalu dan sangat sering dia dengar dengan intens. Pilihannya jatuh pada lagu "Didn't We Almost Have It All" walau banyak lagu Whitney lain yang dia akrabi. Lagu ini hadir dalam album kedua Whitney Houston, "Whitney", yang dirilis pada tahun 1987. Lagu yang indah...dan memang benar, kita tak bisa mendapatkan segalanya....
...Remember when we held on in the rain
The night we almost lost it
Once again we can take the night into tomorrow
Living on feelings
Touching you I feel it all again
Didn't we almost have it all
When love was all we had worth giving?
The ride with you was worth the fall my friend
Loving you makes life worth living
Didn't we almost have it all
The night we held on till the morning
You know you'll never love that way again
Didn't we almost have it all
The way you used to touch me felt so fine
We kept our hearts together down the line
A moment in the soul can last forever
Comfort and keep us
Help me bring the feeling back again
Didn't we have the best of times
When love was young and new?
Couldn't we reach inside and find
The world of me and you?
We'll never lose it again
Cause once you know what love is
You never let it end...
Sabtu, 28 Januari 2012
Mengejamu (Strukturasi)
Berjalan beriringan atau mengeja dirimu hampir seperti membaca karya-karya Murakami. Bukan hanya karena novelis itu kau sukai, tetapi mengejamu itu terasa relatif pelan, mendalam, dan sekaligus mengejutkan. Bila bersamamu aku ingin perlahan saja dan tidak ingin cepat-cepat berpisah. Novel Murakami seperti itu, tujuan akhir dari membaca karya-karya Murakami adalah bukan tuntasnya pembacaan melainkan menikmati tiap kata yang diuntai dan merayakan efeknya yang mendalam setelah membaca.
Sangat sering kita berbincang lama, bukan pada hal-hal yang penting semisal konflik sosial yang meruak belakangan ini di Indonesia atau ekonomi zona Euro yang semakin memburuk, kita hanya berbincang tentang buku-buku yang baru terbit, tentang perhatian yang tak berbalas, tentang kemarahan yang salah dimaknai, dan tentang-tentang yang lain yang sungguh merupakan mikro-narasi. Sama seringnya kita bersama tetapi tak berbicara, kita masing-masing membaca atau menulis. Keheningan dalam kebersamaan itu tidak membuatku terganggu, dalam kasus tertentu malah membuatku lebih nyaman. Kau menulis aku membaca, kau membaca aku menulis. Kebersamaan yang hening ini bisa berlangsung dua jam dan bisa jadi hanya satu kali sepatah pertanyaan terlontar. Aku juga merasakan kau pun menikmati kebersamaan yang hening ini.
Bagaimana kita memutuskan cara semacam ini adalah relasi? kita adalah orang yang berusaha berelasi dengan baik dalam konteks cinta. Mengapa kita percaya dan meyakini yang kita jalani ini baik dan membahagiakan? Bagaimana kita menjalaninya? Menurutku, dalam memulai relasi banyak hal yang tak logis, cinta akan datang dengan cepat dan kita tak bisa menghindar dan berpikir mendalam atasnya, love comes quickly...kata Pet Shop Boys. Tindakan dan jawaban yang lebih logis dan rumit muncul dalam menjaga relasi.
Kita menyintai dengan cara yang kita percaya. Relasi adalah apa yang lakukan atasnya....
Bagaimana aku tahu dan percaya caraku mengejamu membahagiakan adanya....
Sangat sering kita berbincang lama, bukan pada hal-hal yang penting semisal konflik sosial yang meruak belakangan ini di Indonesia atau ekonomi zona Euro yang semakin memburuk, kita hanya berbincang tentang buku-buku yang baru terbit, tentang perhatian yang tak berbalas, tentang kemarahan yang salah dimaknai, dan tentang-tentang yang lain yang sungguh merupakan mikro-narasi. Sama seringnya kita bersama tetapi tak berbicara, kita masing-masing membaca atau menulis. Keheningan dalam kebersamaan itu tidak membuatku terganggu, dalam kasus tertentu malah membuatku lebih nyaman. Kau menulis aku membaca, kau membaca aku menulis. Kebersamaan yang hening ini bisa berlangsung dua jam dan bisa jadi hanya satu kali sepatah pertanyaan terlontar. Aku juga merasakan kau pun menikmati kebersamaan yang hening ini.
Bagaimana kita memutuskan cara semacam ini adalah relasi? kita adalah orang yang berusaha berelasi dengan baik dalam konteks cinta. Mengapa kita percaya dan meyakini yang kita jalani ini baik dan membahagiakan? Bagaimana kita menjalaninya? Menurutku, dalam memulai relasi banyak hal yang tak logis, cinta akan datang dengan cepat dan kita tak bisa menghindar dan berpikir mendalam atasnya, love comes quickly...kata Pet Shop Boys. Tindakan dan jawaban yang lebih logis dan rumit muncul dalam menjaga relasi.
Kita menyintai dengan cara yang kita percaya. Relasi adalah apa yang lakukan atasnya....
Bagaimana aku tahu dan percaya caraku mengejamu membahagiakan adanya....
Kamis, 26 Januari 2012
Mengejamu (Dualitas)
Dirimu dan semua tindakanmu adalah teks, sementara kehidupan di mana kau hadir ialah konteks. Keduanya membuatku bahagia. Keduanya menjadikanku sangat ingin mengejanya utuh penuh. Stipe, vokalis REM, pernah bilang begini your action makes you beautiful....Benar sekali, kau jadi semakin cantik dengan tindakan-tindakanmu yang terkesan selalu diperhitungkan, mulai dari membuka buku sampai mengatur jadwal dalam satu hari. Aku tak bisa seperti itu. Lebih banyak mimpinya daripada yang riil, begitu katamu bila aku menulis, puisi ataupun tulisan yang kupikir bakal mendedah pemikiran filosofis kesukaanku.
Dirimu dan diriku adalah dua teks yang berbeda. Aku hanya ingin kita saling mengeja tanpa berusaha menjadikan kita satu entitas. Nempel kayak perangko...begitu kata banyak orang membicarakan dua orang pecinta yang kelewat dekat. Kemana-mana berdua, kesukaan jadi sama; bacaan, film, apa pun. Aku tak ingin itu, dan kau juga demikian. Kita tidak berpretensi menjadikan diri kita sama, aku bukan amplop, kau bukan perangko...Mungkin lain bila amplop yang berisi uang. Semua membutuhkan uang tetapi tidak semua ingin menjalin relasi yang setara dan mencerahkan.
Atau itu bayanganku saja? bahwa relasi yang kubangun dengan dia mencerahkan? jangan-jangan tanpa kusadari aku mengubahnya, dia mengubahku. Ada rasa getir di tenggorokanku bila benar itu terjadi. Hal yang paling kubenci adalah seseorang yang berusaha mengubah orang lain, apalagi orang yang berusaha mengubah itu ternyata kerdil jiwa dan pemikirannya. Entahlah, aku dan dia hanya berusaha saling mengeja tanpa ingin mengubah orang lain.
Aku dan dia berelasi atas nama cinta, apalagi yang lebih penting dari itu? aku dan dia tetap dua entitas yang berbeda dan saling melengkapi. Tetapi saling menghargai dan mengapresiasi tindakan masing-masing bukanlah soal yang gampang. Dalam realitas kita masih merasa kurang diperhatikan dan dimaknai dengan baik. Aku dan dia berusaha saling melengkapi, tetapi lengkap seperti apa? pernahkah dalam hidup yang sementara ini kita merasa benar-benar lengkap?
Segera kuenyahkan kekhawatiran itu. Mungkin ini rasa gugup yang muncul karena rencana pernikahan aku dan dia tahun depan. 12 Desember 2012 adalah tanggal yang bagus. Itu juga kalo kiamat gak jadi tahun depan sayang. Mungkin neraka mesti diperluas agar daya tampungnya cukup...begitu katanya dengan wajah seserius biasanya. Wajah serius orang-orang yang belajar menjadi dokter. Seingatku jarang wajah dokter yang tidak serius di negeri ini. Tetapi aku tetap tersenyum. Dia memang garing bila bercanda.
Kusiapkan kunci motor dan tas ranselku. Sore nanti, sekitar tiga jam lagi, aku akan ke Yogya. Membayangkan dia akan menyambutku dengan ceria walau setelahnya pasti dia mulai tenggelam dalam buku-bukunya yang tak menarik itu. Dia melarangku mati-matian mengendarai motor Bandung - Jakarta. Dia bersikeras agar naik kereta api atau travel, atau kendaraan apapun asalkan bukan motor. Aku menolak karena malas termangu di kereta atau mobil dalam jangka waktu yang lama. Rasakan unsur petualangannya, sayang....kemudian dia berhenti melarang. Mungkin telah lelah berargumen. Sebagai jurnalis aku mesti berani mengambil resiko. Jurnalis dan dokter, hmmm...bayangan yang indah setelah tahun depan sesaat menyergapku. Manusia hidup dan berbahagia karena bayangan-bayangan indah yang dibuatnya sendiri.
Aku segera menulis lagi. Tugas menulis laporan investigasi harus kuselesaikan hari ini. Selain membayangkan dirinya, aku juga mesti punya "ruang" bagi diriku sendiri. Entah ruang itu digunakan untuk keperluan personal atau profesi. Ruang tetap penting dalam relasi. Untuk berjalan bersama seseorang mesti punya ruang untuk memulai langkah. Untuk berdualitas seseorang mesti berjanji tak mengambil semua ruang milik orang lain. Bahkan dalam mengeja pun, entah dengan lembut atau terburu-buru, kita perlu menarik napas....
Sore menjelang....Sesaat lagi aku akan menuju kota indah di mana wanita, tempatku berdualitas, tinggal. Berdualitas, bukan oposisi biner. Semoga besok pagi kami berada dalam ruang yang sama tanpa jeda, tanpa upaya untuk menaklukkannya....
Dirimu dan diriku adalah dua teks yang berbeda. Aku hanya ingin kita saling mengeja tanpa berusaha menjadikan kita satu entitas. Nempel kayak perangko...begitu kata banyak orang membicarakan dua orang pecinta yang kelewat dekat. Kemana-mana berdua, kesukaan jadi sama; bacaan, film, apa pun. Aku tak ingin itu, dan kau juga demikian. Kita tidak berpretensi menjadikan diri kita sama, aku bukan amplop, kau bukan perangko...Mungkin lain bila amplop yang berisi uang. Semua membutuhkan uang tetapi tidak semua ingin menjalin relasi yang setara dan mencerahkan.
Atau itu bayanganku saja? bahwa relasi yang kubangun dengan dia mencerahkan? jangan-jangan tanpa kusadari aku mengubahnya, dia mengubahku. Ada rasa getir di tenggorokanku bila benar itu terjadi. Hal yang paling kubenci adalah seseorang yang berusaha mengubah orang lain, apalagi orang yang berusaha mengubah itu ternyata kerdil jiwa dan pemikirannya. Entahlah, aku dan dia hanya berusaha saling mengeja tanpa ingin mengubah orang lain.
Aku dan dia berelasi atas nama cinta, apalagi yang lebih penting dari itu? aku dan dia tetap dua entitas yang berbeda dan saling melengkapi. Tetapi saling menghargai dan mengapresiasi tindakan masing-masing bukanlah soal yang gampang. Dalam realitas kita masih merasa kurang diperhatikan dan dimaknai dengan baik. Aku dan dia berusaha saling melengkapi, tetapi lengkap seperti apa? pernahkah dalam hidup yang sementara ini kita merasa benar-benar lengkap?
Segera kuenyahkan kekhawatiran itu. Mungkin ini rasa gugup yang muncul karena rencana pernikahan aku dan dia tahun depan. 12 Desember 2012 adalah tanggal yang bagus. Itu juga kalo kiamat gak jadi tahun depan sayang. Mungkin neraka mesti diperluas agar daya tampungnya cukup...begitu katanya dengan wajah seserius biasanya. Wajah serius orang-orang yang belajar menjadi dokter. Seingatku jarang wajah dokter yang tidak serius di negeri ini. Tetapi aku tetap tersenyum. Dia memang garing bila bercanda.
Kusiapkan kunci motor dan tas ranselku. Sore nanti, sekitar tiga jam lagi, aku akan ke Yogya. Membayangkan dia akan menyambutku dengan ceria walau setelahnya pasti dia mulai tenggelam dalam buku-bukunya yang tak menarik itu. Dia melarangku mati-matian mengendarai motor Bandung - Jakarta. Dia bersikeras agar naik kereta api atau travel, atau kendaraan apapun asalkan bukan motor. Aku menolak karena malas termangu di kereta atau mobil dalam jangka waktu yang lama. Rasakan unsur petualangannya, sayang....kemudian dia berhenti melarang. Mungkin telah lelah berargumen. Sebagai jurnalis aku mesti berani mengambil resiko. Jurnalis dan dokter, hmmm...bayangan yang indah setelah tahun depan sesaat menyergapku. Manusia hidup dan berbahagia karena bayangan-bayangan indah yang dibuatnya sendiri.
Aku segera menulis lagi. Tugas menulis laporan investigasi harus kuselesaikan hari ini. Selain membayangkan dirinya, aku juga mesti punya "ruang" bagi diriku sendiri. Entah ruang itu digunakan untuk keperluan personal atau profesi. Ruang tetap penting dalam relasi. Untuk berjalan bersama seseorang mesti punya ruang untuk memulai langkah. Untuk berdualitas seseorang mesti berjanji tak mengambil semua ruang milik orang lain. Bahkan dalam mengeja pun, entah dengan lembut atau terburu-buru, kita perlu menarik napas....
Sore menjelang....Sesaat lagi aku akan menuju kota indah di mana wanita, tempatku berdualitas, tinggal. Berdualitas, bukan oposisi biner. Semoga besok pagi kami berada dalam ruang yang sama tanpa jeda, tanpa upaya untuk menaklukkannya....
Mengejamu (Spasialisasi)
Kau tahu, menurutku bukan hanya teknologi informasi dan komunikasi yang mampu menaklukkan ruang dan waktu. Dalam konteks relasi kita, rindu adalah "piranti" yang dapat menundukkan ruang-waktu yang seolah beku itu. Rindu pada dirimu tak bisa diantisipasi walau aku berusaha sangat keras: aku berusaha melupakanmu. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, aku semakin jua mengingatmu dan menginginkanmu. Tanpa pertahanan, tiada perlawanan, dirimu selaku lekat dalam benak dan hatiku.
Rindu ini membuatmu hadir terus 60 detik dalam semenit, 60 menit dalam sejam, 24 jam dalam sehari. Tidur pun aku bermimpi tentangmu dan tentang kehidupanmu yang indah itu. Tak ada jeda dalam mengingatmu. Aku tak berani bertanya apakah di sana kau merasakan hal yang sama.
Rindu ini menjadikan gambaran dirimu selalu utuh walau jarak sangat jauh memisahkan. Senyummu, caramu membicarakan hal-hal yang kau sukai; filsafat, sepakola, dan film, bahkan cara matamu mendelik bila kau merasa kuganggu bila sedang membaca atau menonton. Seolah-olah kau memang hadir di hadapanku. Seringkali bahkan kupikir aku bisa mencium wangi tubuhmu walau itu jelas manipulasi indera karena sangat merindukanmu.
Rindu itu adalah sebuah permainan di mana aku selalu kalah. Berulang-kali aku merasa bisa melewati hari tanpa memikirkanmu dengan bekerja sekeras mungkin. Nyatanya, baru semenit dua menit, aku sudah kembali mengingatmu. Semua tentangmu, banyak hal tentang yang kau sukai dan tak sukai. Lihat, bahkan aku selalu kalah telak dalam permainan "rindu".
Lalu, pada malam ketika tiada teman yang bisa diajak berbagi hari, berbincang, dan tertawa, saat aku bisa lagi memakai "topeng" tegar, aku kembali merindukanmu. Tangis yang terkadang hadir dengan diam-diam. Sampai warna hari menjadi jingga karena mentari terbit baru sungai kecil di lanskap wajahku mengering dan kemudian aku kenakan topeng yang sama lagi. Begitu terus sampai enam bulan ini. Teman-temanku, juga keluargaku menyangka aku orang yang kuat menerima kepergianmu. Kepergianmu untuk selamanya. Aku tak setegar yang mereka kira.
Lalu, aku meralat bahwa waktu bisa dikalahkan. Ruang atau jarak dalam relasi mungkin bisa ditaklukkan. Kita sudah menjalaninya sekitar tiga tahun. Aku di Yogya dan kau di Jakarta. Dan aku masih ingat berusaha keras melarangmu ke Yogya dengan sepeda motor waktu itu. Rasakan unsur petualangannya, sayang....begitu katamu. Itu kalimat yang terakhir kuingat darimu. Kalimat yang kemudian memisahkan ruang kita: ruang dunia dan ruang yang melampaui hidup.
Waktu, waktu tak bisa dikalahkan. Aku tak bisa memaksakan diri untuk hidup di waktu tiga setengah tahun dikurangi enam bulan dari sekarang. Bila mungkin aku hanya ingin hidup antara 12 Juni 2009 sampai 29 Juni 2011, dan mengulangnya kembali ketika sudah tanggal 29 Juni pukul 24.00, asalkan itu bersamamu. Aku ingin memelukku erat, berdiskusi tentang filsafat apa pun yang kau suka tanpa menunjukkan kebingunganku, kali ini aku tak akan marah bila tak mengerti, tidak memarahimu ketika begadang semalaman karena olahraga konyol di mana satu bola dikejar 24 orang itu, ah...bahkan jumlah pemainnya pun aku tak tahu pasti, aku...hanya ingin bermutasi menjadi ribuan partikel dan memasuki lini waktu lalu. Sayangnya, aku pasti tak bisa.
Rindu, tak pernah menaklukkan waktu. Serindu apa pun waktu bersama itu tak akan kembali. Sekeras apapun kita memeluk kenangan dengan rasa sayang, masa lalu tak akan hadir lagi kecuali dalam kemasannya yang lain. Bila kau itu teks, aku hanya bisa mengeja dirimu melalui tulisan-tulisan yang kau buat; puisi-puisimu di blog (kau baru menuliskan 147 puisi selama tiga tahun dari 1000 yang kau janjikan), tulisan-tulisan absurdmu di Facebook, dan beberapa cerpen yang pernah kau berikan.
Di sini, aku masih mengejamu. Meski kadang terpatah, aku ingin mengejamu dengan lembut. Mesti kadang dadaku sampai sesak karena ingin kehadiranmu, aku bahagia kau pernah hadir dalam hidupku. Aku merindukanmu, maka aku ada...di sini hidup bahagia apa adanya meski ruang dan waktu dalam relasi kita tidak sepenuhnya dapat kutaklukkan.
-- untuk seseorang yang dirinya ingin dieja dengan lembut dan disketsa dengan santun --
Rindu ini membuatmu hadir terus 60 detik dalam semenit, 60 menit dalam sejam, 24 jam dalam sehari. Tidur pun aku bermimpi tentangmu dan tentang kehidupanmu yang indah itu. Tak ada jeda dalam mengingatmu. Aku tak berani bertanya apakah di sana kau merasakan hal yang sama.
Rindu ini menjadikan gambaran dirimu selalu utuh walau jarak sangat jauh memisahkan. Senyummu, caramu membicarakan hal-hal yang kau sukai; filsafat, sepakola, dan film, bahkan cara matamu mendelik bila kau merasa kuganggu bila sedang membaca atau menonton. Seolah-olah kau memang hadir di hadapanku. Seringkali bahkan kupikir aku bisa mencium wangi tubuhmu walau itu jelas manipulasi indera karena sangat merindukanmu.
Rindu itu adalah sebuah permainan di mana aku selalu kalah. Berulang-kali aku merasa bisa melewati hari tanpa memikirkanmu dengan bekerja sekeras mungkin. Nyatanya, baru semenit dua menit, aku sudah kembali mengingatmu. Semua tentangmu, banyak hal tentang yang kau sukai dan tak sukai. Lihat, bahkan aku selalu kalah telak dalam permainan "rindu".
Lalu, pada malam ketika tiada teman yang bisa diajak berbagi hari, berbincang, dan tertawa, saat aku bisa lagi memakai "topeng" tegar, aku kembali merindukanmu. Tangis yang terkadang hadir dengan diam-diam. Sampai warna hari menjadi jingga karena mentari terbit baru sungai kecil di lanskap wajahku mengering dan kemudian aku kenakan topeng yang sama lagi. Begitu terus sampai enam bulan ini. Teman-temanku, juga keluargaku menyangka aku orang yang kuat menerima kepergianmu. Kepergianmu untuk selamanya. Aku tak setegar yang mereka kira.
Lalu, aku meralat bahwa waktu bisa dikalahkan. Ruang atau jarak dalam relasi mungkin bisa ditaklukkan. Kita sudah menjalaninya sekitar tiga tahun. Aku di Yogya dan kau di Jakarta. Dan aku masih ingat berusaha keras melarangmu ke Yogya dengan sepeda motor waktu itu. Rasakan unsur petualangannya, sayang....begitu katamu. Itu kalimat yang terakhir kuingat darimu. Kalimat yang kemudian memisahkan ruang kita: ruang dunia dan ruang yang melampaui hidup.
Waktu, waktu tak bisa dikalahkan. Aku tak bisa memaksakan diri untuk hidup di waktu tiga setengah tahun dikurangi enam bulan dari sekarang. Bila mungkin aku hanya ingin hidup antara 12 Juni 2009 sampai 29 Juni 2011, dan mengulangnya kembali ketika sudah tanggal 29 Juni pukul 24.00, asalkan itu bersamamu. Aku ingin memelukku erat, berdiskusi tentang filsafat apa pun yang kau suka tanpa menunjukkan kebingunganku, kali ini aku tak akan marah bila tak mengerti, tidak memarahimu ketika begadang semalaman karena olahraga konyol di mana satu bola dikejar 24 orang itu, ah...bahkan jumlah pemainnya pun aku tak tahu pasti, aku...hanya ingin bermutasi menjadi ribuan partikel dan memasuki lini waktu lalu. Sayangnya, aku pasti tak bisa.
Rindu, tak pernah menaklukkan waktu. Serindu apa pun waktu bersama itu tak akan kembali. Sekeras apapun kita memeluk kenangan dengan rasa sayang, masa lalu tak akan hadir lagi kecuali dalam kemasannya yang lain. Bila kau itu teks, aku hanya bisa mengeja dirimu melalui tulisan-tulisan yang kau buat; puisi-puisimu di blog (kau baru menuliskan 147 puisi selama tiga tahun dari 1000 yang kau janjikan), tulisan-tulisan absurdmu di Facebook, dan beberapa cerpen yang pernah kau berikan.
Di sini, aku masih mengejamu. Meski kadang terpatah, aku ingin mengejamu dengan lembut. Mesti kadang dadaku sampai sesak karena ingin kehadiranmu, aku bahagia kau pernah hadir dalam hidupku. Aku merindukanmu, maka aku ada...di sini hidup bahagia apa adanya meski ruang dan waktu dalam relasi kita tidak sepenuhnya dapat kutaklukkan.
-- untuk seseorang yang dirinya ingin dieja dengan lembut dan disketsa dengan santun --
Minggu, 19 Juni 2011
Closing Time

Rasanya menyedihkan juga kehilangan sesuatu atau seseorang padahal dia bertahun-tahun berusaha kuat dan terbiasa dengan kehilangan. Namun rasa kehilangan memang tak mudah dihadapi. Sepanjang kita hidup rasa kehilangan pasti hadir, diakui ataupun tidak. Itulah yang terjadi pada dirinya ketika kira-kira dua minggu lalu 408 tulisan yang dipublikasi di FB-nya hilang tak berbekas, bahkan tanggal persis kejadian tersebut tidak dia ingat-ingat sebagai cara melupakan kehilangan itu. Dia telah mengirim email ke administrator situs jejaring sosial itu namun hanya ada satu balasan formal yang sepertinya berasal dari “mesin penjawab” email otomatis. Kesedihannya pun menipis oleh beberapa penghiburan dari rekan-rekannya.
Semua tulisannya sudah di-backup, namun yang menyedihkan adalah kehilangan komentar rekan-rekan yang ada di semua tulisan itu (notes), komentar yang baik atau pun buruk. Detik ini dia tidak begitu sedih lagi. Efek yang masih tersisa adalah keengganannya untuk menulis cepat dan rutin belakangan ini, padahal cukup banyak yang bisa ditulis, dikomentari, diulas, dan “dihampai”. Namun pada akhirnya dia tetap harus menulis juga. Menulis itu harus terus-menerus. Bila pun berhenti, pemberhentian itu sebaiknya sebentar saja agar kemampuan menulis tidak tergerus pelan-pelan. Setiap kecakapan bagaimana pun juga akan berkurang dan pada akhirnya menghilang bila tak digunakan.
Kini baginya menulis bukan hanya berfungsi untuk berpendapat dan berekspresi atas sesuatu yang nyata dan tak nyata, namun juga untuk menghilangkan duka, atau paling tidak mengurangi dampak kesedihan dan luka. Dengan menulis, hati bisa hampa atau netral kembali dan siap kembali menghadapi hidup, untuk yang baik atau pun yang buruk. Dia selalu percaya, suka dan duka itu tidak berurutan, ada yang menjembataninya: kehampaan. Sehabis bahagia atau pun sedih pasti ada fase ini agar kita bersiap lagi pada sesuatu yang lain, kebahagiaan atau kesedihan yang sama atau sebaliknya, sesuatu yang berbeda.
Kini dia sudah siap lagi menulis kembali. Menulis yang walaupun hasilnya masih biasa-biasa saja, tetaplah dia jalani dengan antusias. Tidak ada sesal berlebihan pada sesuatu yang sudah lewat kemarin. Hanya ada antusiasme dan optimisme baru untuk tiap langkah ke depan. Memang apa lagi yang bisa kita lakukan selain menghadapi hidup dengan sebaik-baiknya? Menulis adalah salah satu kemampuan yang dia miliki dan sumber kebahagiaannya, tak mungkin dia tinggalkan begitu saja.
Dia justru menikmati fase “kehampaan” itu. Fase jeda tipis di antara kebahagiaan dan kesedihan. Rasa yang paling mencerahkan bukan pada salah satu rasa yang jelas namun transisi di antaranya. Apa pun yang terjadi nanti dia hanya ingin berbuat dengan sebaik-baiknya yang dia mampu. Kini saatnya menutup kemarin rapat-rapat dan mengambil pelajaran dari semua kesalahan dan inspirasi dari sedikit kesuksesan. Dia tersenyum sambil menulis, kesadaran tipis dia dapati, “every new beginning comes from some other beginning's end” seperti yang dilisankan salah satu band favoritnya di masa lalu, Semisonic dari album mereka tahun 1998, Feeling Strangely Fine. Pemahaman yang sebenarnya biasa namun kali ini dia rasakan begitu bermakna. Dia benar-benar siap untuk menutup masa lalu dan “membuka” berbagai kemungkinan pada tiap jangkauan ruang dan waktu ke depan.
#####
Closing Time
Oleh Semisonic
Closing time
Open all the doors and let you out into the world
Closing time
Turn all of the lights on over every boy and every girl
Closing time
One last call for alcohol so finish your whiskey or beer
Closing time
You don't have to go home but you can't stay here
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
Closing time
Time for you to go out to the places you will be from
Closing time
This room won't be open till your brothers or your sisters come
So gather up your jackets, move it to the exits
I hope you have found a friend
Closing time
Every new beginning comes from some other beginning's end
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
Take me home
Rabu, 15 Juni 2011
Tiny Dancer

Aku mencintaimu, dan itu belum menjelaskan banyak hal. Aku membencinya, dan hal itu telah menjelaskan semuanya. Bila benci adalah oposisi biner-nya cinta, apa oposisi biner-nya hampa? Aku merindukanmu sungguh kini. Kau tak pernah ada dalam semua perjalanan yang kutempuh. Aku tak pernah lagi bisa menemukanmu.
Kau pasti tahu dunia baru yang muncul ketika kita bersama. Dunia baru seutuhnya hanya ada kita berdua. Bukannya manusia lain tak ada, namun sungguh bila kau ada, aku tak peduli apakah mereka semua ada atau tiada. Dunia ketika kasmaran adalah dunia yang dibentuk oleh kekaguman, cinta, dan optimisme berlebih. Kau pasti tahu itu karena dahulu dunia itu kita bangun bersama.
Kau tahu dunia yang terbangun dari dualisme oposisi biner pasti saling menisbikan yang lain. Dunia kita tidak. Dunia kita itu dualitas. Satu dalam dua. Dua dalam satu. Mirip dengan filosofi dua pedangnya Miyamoto Musashi. Dua adalah satu karena sumbernya tunggal. Eksistensi kita melengkapi satu sama lain karena kita berasal dari sumber yang sama. Ketiadaanmu dirimu kini membuat duniaku tak penuh lagi. Pada titik ini dualitas jadi mematikan karena ketiadaan agen lain. Kau adalah agen yang menghidupkan diriku dan duniaku.
Suatu kali dulu itu kita pernah mengobrol atau tepatnya meracau. Kau lelaki aku perempuan. Kau kaya aku papa. Kau pintar aku biasa. Kau negara kaya aku negara berkembang. Kau kapitalis aku imbas imbis. Kau seseorang aku bukan siapa-siapa. Kau tahu aku tak tahu. Kita bisa terus merentengkan oposisi biner sebanyak kata benda dan kata sifat yang ada, sampai pada satu titik, kau mengatakan aku adalah kehampaan dan dirimu pun kau akui adalah kehampaan yang lain. Pada titik ini kita adalah kehampaan yang sama. Menghampar tak bertepi seperti kerinduanku padamu kini.
Kau tahu dunia kini tak sama lagi ketika kau tak ada. Semua sama semua rata. Lagu-lagu indah tak lagi berasa. Kalimat-kalimat puitis muncul tak manis. Hanya satu teks media yang tetap bagus. Film “Almost Famous” kesukaanmu. Semua informasi dan tafsirannya terasa indah dan menghajar sukma, terutama lagu “Tiny Dancer” yang menjadi salah satu lagu OST film yang dirilis tahun 2000 itu. Namun keindahan itu pun semakin memudar seiring dengan waktu. Seiring semakin lamanya kau menghilang.
Kau pastinya tahu dunia tak lagi sama tanpa dirimu. Namun bukankah aku tetap harus menjalani hidup? Hidup sekalipun tak indah dan tak menarik seperti sekarang ini tetaplah layak dijalani. Sekalipun kau protes sangat keras pada Pemberi Hidup, kau tidak dapat melakukan apa pun selain tetap hidup. Memangnya ada kehidupan lain yang bisa kau jalani?
Ketika aku menyintaimu, sangat banyak hal ingin kuceritakan, begitu banyak soal ingin kubagi. Seakan hal-hal indah tak bisa habis kita jalani bersama. Namu ketika aku membenci dirinya, itu telah cukup untuk semuanya. Aku tidak ingin membagi secuil apa pun dari diriku padamu. Malah, aku menyesal pernah berbagi banyak hal pada masa kemarin itu. Dirinya itu adalah dirimu dalam versi yang lain. Dirimu ketika tidak ada cinta untukku di sana. Diri yang tidak bisa didualitaskan pada diriku. Walau begitu, tidak ada yang perlu disesali. Beginilah hidup yang fana, ada lautan manusia yang saling menyinta, ada juga yang saling membenci, dan ada juga yang saling menghampa dengan atau tanpa prahara. Diriku sendiri adalah yang pertama dan utama untuk tempat bergantung. Tiada ada manusia lain yang terlalu penting bila ingin berhadapan dengan hidup yang kita jalani. Dalam hidup dualisme dan dualitas pun selalu ber-oposisi biner.
Selamanya.
#####
Fiksi singkat ini sangat bergantung pada lagu indah ini:
Tiny Dancer
Oleh Elton John
Blue jean baby, L.A. lady, seamstress for the band
Pretty eyed, pirate smile, you'll marry a music man
Ballerina, you must have seen her dancing in the sand
And now she's in me, always with me, tiny dancer in my hand
Jesus freaks out in the street
Handing tickets out for God
Turning back she just laughs
The boulevard is not that bad
Piano man he makes his stand
In the auditorium
Looking on she sings the songs
The words she knows, the tune she hums
But oh how it feels so real
Lying here with no one near
Only you, and you can hear me
When I say softly, slowly
Hold me closer tiny dancer
Count the headlights on the highway
Lay me down in sheets of linen
you had a busy day today
Blue jean baby, L.A. lady, seamstress for the band
Pretty eyed, pirate smile, you'll marry a music man
Ballerina, you must have seen her dancing in the sand
And now she's in me, always with me, tiny dancer in my hand
But oh how it feels so real
Lying here with no one near
Only you, and you can hear me
When I say softly, slowly
Senin, 04 April 2011
Just the Way You are

Menerima kau apa adanya, atau kau adanya apa? Intinya, aku hanya ingin berkata padamu, pada tiap-tiap pernyataan, kita bisa membuatnya romantis atau bercanda, atau bahkan menambahkan nuansa serius. Pernyataan memang hampir selalu bernuansa serius, dan kau bisa menambahkannya menjadi lebih serius lagi bila menjadikan pernyataan tersebut aforisme a la Friedrich Nietcshe. Ujaran kalimat tak lengkap dan tak jelas seperti puisi dan mengandung “nilai” yang tinggi. Namun di luar hal-hal yang “serius”, di dalam kehidupan manusia sehari-hari, menerima manusia lain apa adanya tidaklah mudah. Statemen menerima orang lain apa adanya adalah pernyataan eksistensial, seperti juga kita ingin diterima orang lain apa adanya. Dalam kenyataannya, hal-hal yang eksistensial biasanya justru hal-hal yang paling tidak diterima apa adanya.
Kau tahu sayang, menerima orang lain apa adanya itu juga berbeda penafsirannya sepanjang waktu. Coba kau tengok dua lagu berjudul sama yang kukirimkan kepadamu, “Just the Way You are”. Satu versinya Billy Joel, lagu yang berasal dari tahun 1977. Satunya lagi adalah versi Bruno Mars dari tahun 2010, yang mungkin sangat disukai anak muda sekarang. Kau tahu, bila “Just the Way You are” dari tahun 1977 lebih bicara dalam konteks relasi yang non-fisikal, sementara “Just the Way You are” yang berasal dari tahun kemarin lebih membicarakan tampilan fisik orang yang dicintai.
….
(Sesaat aku menghentikan membaca email darinya. Kudengarkan dua lagu ini dan kucermati liriknya. Dia tidak sepenuhnya benar. Kedua lagu ini sama-sama merujuk pada menerima apa adanya orang yang kita cintai yang fisikal. Memang sih, lagu yang dinyanyikan oleh Billy Joel, apa adanya diri yang fisikal tidaklah dominan. Potongan lirik yang paling aku suka di versi Billy Joel adalah ketidakinginan sang tokoh untuk berbincang “pintar” dengan orang yang disayangi. Cukup mengobrol, berbincang-bincang sederhana namun enak. Hal itu sudah cukup. Sesuatu yang tidak aku dapat darinya, si penulis email. Dulu dia selalu mengajak dengan antusias berdiskusi hal-hal yang tak kumengerti. Membicarakan beragam konsep yang tidak kita inginkan namun dipaksa sungguh tak nyaman. Itulah yang aku alami bersamanya dahulu. Aku tidak merindukannya. Kemudian kulanjutkan membaca…)
….
Aku minta maaf karena tidak melihatmu apa adanya dulu itu. Aku lebih melihatmu dari sudut pandangku dengan berlebihan, melihatmu dari harapan-harapanku yang mungkin tak kuinginkan. Kini aku sadar bagaimana pun juga kita berbeda. Sekali pun kita saling menyayangi, kita tetaplah dua individu yang berbeda. Sekali lagi aku minta maaf berlebihan berharap padamu. Tujuh bulan ini baru aku sadari tidak ada yang bisa mengisi hari-hariku selain dirimu. Kau menemaniku di saat-saat bahagia dan sedih. Tak ada lagi yang aku inginkan. Aku hanya ingin kita bersama lagi.
Aku juga ingin bercerita padamu bila teman-temanku juga mencarimu. Melihat mereka menanyakanmu, aku baru sadar kau juga penting bagi mereka. Menurut mereka, kau bisa mengeluarkan obrolan ringan namun berisi. Tidak seperti kami yang sok pintar memdiskusikan hal-hal berat namun tak merujuk pada kehidupan nyata. Selain itu aku merindukanmu bersenandung pelan lagu-lagu indah. Bahkan kau juga tahu ‘kan? kesukaanku mendengarkan musik saat ini berasal dari dirimu.
Bila kau bertanya mengapa aku baru menghubungimu sekarang, itu karena aku harus menyelesaikan tesisku. Kau tahu ‘kan pada saat kau pergi itu, aku juga sedang memikirkan tesis yang tak kunjung rampung. Kini kewajiban besarku itu sudah selesai. Aku juga ingin kau nanti datang saat aku wisuda seperti masa S1 dulu. Kau pasti ingat dengan masa-masa indah awal kita bersama itu ‘kan? Aku semakin sadar betapa banyak hal memukau yang hilang ketika kau pergi. Oh iya, aku mendapatkan alamat emailmu dari teman sekost lamamu. Dia bilang hanya mempunyai alamat email, tidak punya nomor handphone-mu.
Setelah pertikaian itu, setelah permintaanmu yang tidak bisa aku janjikan. Kau menghilang begitu saja. Berbulan-bulan aku berusaha mencari informasi mengenai dirimu. Kau tahu aku begitu bahagia mendapatkan informasi tentang dirimu. Hanya informasi tentang dirimu sudah membuatku bahagia apalagi bila benar-benar bertemu dengan dirimu. Pertanyaanku, bisakah kita bertemu dekat-dekat ini? Bolehkah aku datang ke kotamu, tempat yang indah dengan pantai dan pegunungannya itu? Kabari aku secepatnya ya….
….
(Aku kemudian menutup email darinya walau masih ada yang bisa dibaca. Dia selalu bercerita tentang apa yang dia baca dan pelajari. Seperti biasanya, tulisannya bagus dan selalu bernuansa positif. Bila bertumpu pada bukti tekstual ini aku mungkin jatuh cinta lagi padanya. Aku bisa melupakan berbagai hal yang membuatku tak nyaman bersamanya dulu itu. Sepertinya dia memang menerapkan taktik a la Stephen King, bahwa kata-kata adalah segalanya. Sekali lagi, dia pandai mempersuasi melalui kata-kata namun tidak pada interaksi yang sesungguhnya, dia bisa jadi dominatif, berusaha menguasai orang lain dengan beragam cara.
Dia terlalu pandai, terlalu baik, terlalu perhatian, namun dia ada bukan untukku. Di sampingnya aku hanya menjadi tambahan atau perpanjangan dirinya. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri bila bersama dengan orang lain, apalagi dengan seseorang yang kucintai. Aku selalu tak nyaman ketika dia berbincang antusias berbagai hal yang dia sukai, filsafat, politik, atau konsep-konsep “besar”, yang tak terjangkau untukku. Awalnya hal-hal itulah yang membuatku kagum tetapi pada akhirnya menyusahkan. Aku berada di dekatnya namun tak memahami banyak hal yang dia sampaikan.
Tiba-tiba ada pesan masuk ke situs jejaring sosialku. Sebuah ajakan makan siang dari lelaki yang kini kucintai. Dia biasa saja. Maksudku, dia bukan tipe orang yang senang membicarakan konsep dengan terlalu dalam. Hal yang paling penting, dia selalu ada untuk diajak berbincang tentang keseharian. Mimpinya juga tidak menjulang, mengubah dunia misalnya, atau menegakkan prinsip-prinsip demokrasi dalam bermasyarakat, yang bagiku absurd. Di atas yang biasa itu, dia ada dalam hidupku.
Dia menerimaku apa adanya. Begitu juga aku, menerima dirinya apa adanya. Walau menerima apa adanya seseorang adalah sesuatu yang tak jelas juga, bagaimana kita yakin bahwa persepsi kita tentang orang lain adalah dirinya sendiri seperti apa adanya? Menerima apa adanya orang lain semestinya sama dengan menerima apa adanya diri kita sendiri.
Email dari lelaki di masa lalu kuhapus. Habis sudah babak hidupku berinteraksi dengan si “filosof” itu. Kini semuanya berbeda. Aku segera mengiyakan ajakan lelaki yang kucintai kini. Obrolan nyaman sehabis makan siang adalah yang kutunggu walau hanya sekadar saling menanyakan apa yang telah kami lewati selama setengah hari. Menerima orang lain apa adanya selalu perlu diagih dan dicobakan dalam interaksi terus-menerus)
#####
Fiksi di atas terinspirasi dari kedua lagu berikut:
Just the Way You are
Oleh Billy Joel dari album “The Stranger” (1977)
Don't go changing, to try and please me,
You never let me down before,
Don't imagine, you're too familiar,
And I don't see you anymore.
I would not leave you, in times of trouble,
We never could have come this far,
I took the good times, I'll take the bad times,
I'll take you just the way you are.
Don't go trying, some new fashion,
Don't change the colour of your hair,
You always have my, unspoken passion,
Although I might not seem to care.
I don't want clever, conversation,
I never want to work that hard,
I just want someone, that I can talk to,
I want you just the way you are.
I need to know that you will always be
The same old someone that I knew,
What will it take till you believe in me,
The way that I believe in you?
I said I love you, and that's forever,
And this I promise from the heart,
I couldn't love you, any better,
I love you just the way you are.
I don't want clever, conversation,
I never want to work that hard,
I just want someone, that I can talk to,
I want you just the way you are.
Just the Way You are
Oleh Bruno Mars, berasal dari album “Doo-Wops & Hooligans” (2010)
Oh her eyes, her eyes
Make the stars look like they're not shining
Her hair, her hair
Falls perfectly without her trying
She's so beautiful
And I tell her every day
Yeah I know, I know
When I compliment her
She wont believe me
And its so, its so
Sad to think she don't see what I see
But every time she asks me do I look okay
I say
When I see your face
There's not a thing that I would change
Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile,
The whole world stops and stares for awhile
Cause girl you're amazing
Just the way you are
Her lips, her lips
I could kiss them all day if she'd let me
Her laugh, her laugh
She hates but I think its so sexy
She's so beautiful
And I tell her every day
Oh you know, you know, you know
Id never ask you to change
If perfect is what you're searching for
Then just stay the same
So don't even bother asking
If you look okay
You know I say
When I see your face
There's not a thing that I would change
Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile,
The whole world stops and stares for awhile
Cause girl you're amazing
Just the way you are
The way you are
The way you are
Girl you're amazing
Just the way you are
When I see your face
There's not a thing that I would change
Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile,
The whole world stops and stares for awhile
Cause girl you're amazing
Just the way you are
Jumat, 21 Januari 2011
Love is Love

Tiga bulan setelah dia menghilang tak berbekas, aku hanya tergugu membisu dan terpaku pada hidup yang statis dan hampa. Aku mencoba melihatnya di semua tempat yang pernah kami datangi. Mengamatinya di langit, di ujung cakrawala. Dia tak ada. Tak pernah ada lagi. Tidak akan pernah sama bayangan diri seseorang dengan dirinya secara nyata. Seindah apa pun bayangan itu. Apalagi di kota dengan manusia-manusia istimewa ini begitu mudah melihat dua manusia, berpasangan-pasangan, memadu kasih, tua-muda, pembelajar-dipelajari. Setiap melihat dua manusia tersenyum bahagia. Bersama. Mereka berdua. Aku sendirian membatu seperti makna yang hadir di lagu Like A Stone oleh Audioslave. Ada luka di hati yang selalu pedih, ada ruam benturan yang kembali terasa ngilu.
Apakah rasa semacam ini disebut cinta? Aku tak yakin. Aku tidak pernah dicintai begitu dalam, namun aku pernah dibenci begitu kuat. Aku beberapa kali dicintai biasa saja namun aku seringkali disakiti. Aku pernah distigma tidak mampu hidup dengan baik, dipandang tidak menghormati orang-orang yang lebih tua karena kesepian yang kususun dengan rapi dan upaya yang coba kubangun sendiri. Mencintai bagi mereka adalah menjadi epigon. Apa intinya semua ini? Aku tidak pernah bisa merasakan cinta yang sekarang yang sebesar ini pada masa lalu. Sulit untuk mendefinisikan cinta. Sesulit kau mendefinisikan dirimu sendiri. Diri adalah identitas yang cair sementara cinta adalah relasi dinamis yang multitafsir.
Cinta adalah cinta. Cinta adalah lara tersendiri yang diulas dengan ramai. Upaya apa pun untuk mendefinisikannya akan selalu gagal dan akan jatuh pada definisi tanpa arti. Definisi cinta hanyalah jebakan karena cinta sangat personal sifatnya. Cinta bisa jadi saling berbagi. Bisa juga cinta berbagi hubungan tak seimbang, di mana salah satu merasa jadi idola sementara yang satunya lagi menjadi “fan” bagi satunya lagi. Cinta bahkan bisa berarti salah satu menjadi obyek kekuasaan tak benar dari yang lain. Cinta hampir tak terdefinisikan namun kita selalu mencobanya dengan maksimal, dengan sangat susah payah, namun tidak berusaha mewujudkan manifestasinya di kehidupan.
Namun, bagaimana pun juga, kita mesti mendefinisikan cinta. Untuk membagi, menjelaskan, dan menjalaninya, mau tak mau, suka tak suka, definisi itu mesti dibuat oleh masing-masing individu yang ingin memanifestasikan cinta. Aku memilih cinta sebagai interaksi eksistesial antara dua orang, terutama cinta pada lawan jenis. Pada cinta jenis ini tidak mungkin tidak melibatkan hasrat paling purba pada manusia, libido atau hasrat pada tubuh. Walau begitu, bukan “menubuh” yang biasa, namun yang transedental mengatasi hidup dan mati.
Cinta pada akhirnya adalah waktu yang kita jalani bersama, setiap detik yang kita “curi” dari-Nya. Namun, tahukah kau, sejak kau pergi tak berbekas, cinta ini lebih terasa. Ketika cinta adalah sebentuk relasi antar dua manusia, cinta adalah “mengada” dan “meniada”. Cinta akan lebih terasa bila kita berada dalam ruang eksistensial yang sama, namun cinta akan lebih menekan bila kau tiada. Ketiadaan dirimu ketika aku harus mengimplementasikan cinta itu, membuatku sangat tertekan dan perih. Eksistensi dirimu hanya ada dalam kenangan. Memiliki kenangan yang indah atas sebuah relasi sementara kita tidak pada ruang eksistensial yang sama, sungguh membuat sukma terbetot tak tentu.
Cinta adalah cinta seperti juga aku hanyalah aku, yang biasa saja. Medioker abadi. Sementara kau adalah kau. Kau selalu kau yang hebat, yang setara dengan Lady Di, dan siapa pun perempuan yang kukagumi. Namun kau bukan cinta. Cinta melampaui dirimu, dan juga aku. Cinta ada di tempat tersendiri, antara hidup, langit, hujan berkepanjangan, dan kejutan-kejutan di setiap paragraf novel Murakami seperti katamu sendiri. Cinta itu menghablur pada kehidupan yang fana menuju pada yang tak bisa dijangkau.
Bagiku kau sehebat itu. Imaji tentang dirimu bertemu dengan dirimu yang nyata; cara kau membaca dengan membolak-balik halaman buku maju dan mundur, wangi rambutmu yang diusapi wangi shampoo bayam, juga ketidaksukaanmu atas narasi dengan plot biasa. Narasi biasa itu menjemukan, katamu dengan serius. Semua detail itu masih terekam jelas di kepalaku. Semua tentang dirimu terekam tak pernah mati. Tanpamu hidup tak akan sama lagi. Hidup dengan kekosongan hampir absolut ini tidak pernah kusadari sebelumnya. Melumat hatiku utuh penuh.
Siapa yang tahu kepedihan ketika seseorang yang kita cintai tak ada? Siapapun akan paham rasanya perih dengan ketiadaan individu yang dicintai sesungguhnya hanya ketika menjalaninya. Perih itu tak akan dipahami oleh orang lain.
Atau kuyakini saja bahwa definisi cinta itu adalah kekosongan tanpa akhir dalam ketiadaan?
Mungkin cinta adalah cinta yang tidak terpermanai dengan definisi apa pun.
#######
Terinspirasi oleh lagu:
Love is Love – Culture Club
You don't have to touch it to know
Love is everywhere that you go
You don't have to touch it to feel
Love is every second we steal
Love is love is nothing without you
Love is love is everything you do
Open up your eyes
And you will see
Love is love is everything to me
You don't have to touch it to be
Wrapped up in emotion like me
Everyone must feel how I do, yeah
Love is just to be close to you
And you know that love is love
It's written in black and blue
And everything you say
Must bring her closer, closer to you
Ba-ba, ba-ba, ba-ba
Love is love is nothing without you
Love is love is everything you do
Jumat, 17 Desember 2010
There is An End

Aku mencoba mengingat percakapan terakhir dengan dirinya sebelum dia menghilang tanpa jejak. Mungkinkah dia sudah merencanakan kepergiannya? Entahlah. Aku mencoba mengangkat kembali memori sekitar dua minggu lalu. Namanya kenangan, terkadang tidak akan teringat dengan seutuhnya, malah kenangan tersebut bisa berpilin dengan perasaan kita ketika merekamnya di otak. Kenangan yang sangat baik ataupun sangat buruk akan lebih mudah teringat.
Sore itu cuaca masih cukup panas dan seperti biasa, ketika cuaca memanas tak menentu, obrolan juga tak menentu arahnya. Dia yang memulai pembicaraan lebih dahulu. Aku seperti biasa lebih banyak mendengarkan. Pembicaraan tidaklah panas dalam pengertian beradu argumen namun lumayan absurd bila kuingat sekarang.
“Aku senang sekali dengan film dengan ending terbuka. Film yang memiliki akhir yang tak jelas. Film Broken Flowers dan No Country for Old Men adalah contohnya. Juga masih ada beberapa film yang lain.”
Dia meneruskan, “film dengan akhir yang tak jelas menunjukkan hidup ini sendiri. Banyak hal yang tak jelas, tak terjawab, dan tak selesai. Tanpa perlu mencari alasannya. Menonton film dengan akhir yang tak jelas membuat diri kita kembali pada posisi awal seperti tidak menonton filmnya. Itulah keindahannya. Kondisi sebelum dan sesudah menonton tak ada bedanya. Kita sama-sama tak mengetahui akhirnya.”
Aku diam saja. Pendapat yang absurd tidaklah bisa dikomentari kecuali pendapat kita juga turut menjadi absurd atau diri kita yang memang absurd dari awalnya. Aku diam saja. Film dengan akhir tertutup jauh lebih baik menurutku. Buat apa menonton film bila tak jelas akhirnya. Bukankah kita selalu ingin mendengar kalimat…dan bahagia selama-lamanya…seperti dongeng masa kanak-kanak? Akhir yang bahagia adalah harapan semua orang. Kita dibuat percaya bahwa relasi mesti bagus, akhir mesti bahagia, sementara kehidupan nyata tak semulus itu. Sebuah akhir bisa sangat teruk walaupun ada kemungkinan bisa indah juga, namun akhir tak indah tetaplah mendominasi.
“Film dengan ending yang terbuka adalah salah satu yang paling mengasyikkan dalam hidup ini selain membaca novel Murakami dan mendengarkan lagu-lagu Sonic Youth. Murakami dan Sonic Youth mengasyikkan karena sampai atau tidak pada akhir, itu tidak akan mempengaruhi kenikmatan dan keindahan mengaksesnya.” Wajah dinginnya begitu pas dengan ujaran lisannya yang absurd. “Akhir film yang terbuka membiarkan angan kita terus mengalir dan tetap tak terjelaskan seperti hidup ini sendiri.”
“Aku ingin akhiran yang tak jelas.” Dia menutup omongannya. Wah, seperti kuliah kajian Film saja pikirku situasi ini. Aku mengerti, pandangan hidup adalah pilihan personal. Untuk orang-orang seperti kami, pandangan yang absurd adalah kewajiban. Pandangan-pandangan yang bernas adalah milik orang-orang pintar dan hebat. Mereka pastinya akan melacak dan menganalisis telaah-telaah ideologis dan ragam kuasa dalam film, sementara kami hanya membicarakan ending yang terbuka. Akhir yang tak jelas walau akhir akan selalu ada.
Orang-orang medioker seperti kami ini adalah orang-orang kebanyakan. Hampir semua orang sibuk menjadi hebat, sibuk bisa mengatasi semua halangan, dan menempuh “jalan emasnya” masing-masing. Tetapi mereka tak tahu atau tak mau tahu, bahwa mereka menjadi besar ataupun hebat karena orang-orang medioker seperti kami. Manusia-manusia medioker adalah mayoritas dalam semua kumpulan manusia.
Dunia penuh dengan orang-orang yang gagal berusaha karena persaingan hidup yang begitu berat, atau juga orang-orang tersebut ingin tetap menjadi medioker selamanya. Menjadi medioker itu enak. Tanpa tekanan dan mengalir sahaja. Apakah memilih menjadi medioker itu salah? Sepertinya dalam kehidupan yang penuh citra dan tipu-tipu seperti kehidupan ini, menjadi medioker itu salah. Ini adalah satu-satunya kebenaran.
Coba saja lihat beribu buku tentang cara menempuh hidup untuk menjadi lebih hebat, bahkan bila perlu dengan “the secret of ngutang”. Banyak manusia ingin menjadi orang hebat walau kenyataannya pecundang. Banyak manusia yang sebenarnya biasa saja, namun dalam koarannya dia selalu menjadi si hebat. Banyak manusia ingin menjadi pemimpin namun tidak ingin bertanggung-jawab atas keputusan yang telah diambil. Di atas semua itu jarang sekali orang ingin menjadi medioker seperti kami. Jarang sekali orang ingin menjadi pengikut seperti kami. Pengikut yang profesional tentu saja yang mesti diciptakan, bukan pemimpin yang sontoloyo. Apalagi pimpinan yang “menghajar” pihak yang tak sejalan dengan diri dan kelompoknya dengan membabi-buta.
Di dalam relasi yang tidak imbang biasanya salah satu pihak ingin memediokerkan pihak lain. Dua caranya adalah dengan menghegemoni dan mendominasi. Mendominasi jelas bentuknya, dengan tindakan. Menghegemoni adalah dengan ujaran yang menusuk dan merendahkan pihak lain, sekaligus berpura-pura menunjukkan kehebatan sendiri. Aku sendiri pernah distigma, modus paling kejam dari hegemoni, sebagai orang yang hanya menggunakan “otak sisa” atau “osis”. Untunglah waktu SMA dulu aku tak begitu banyak ikut kegiatan. Jadi aku hanya membiarkan semuanya berlalu. Stigma tak akan mengemuka di dunia para medioker karena kami tidak merasa hebat. Justru orang yang sibuk menstigma itu adalah si medioker sesungguhnya. Pada akhirnya semua tetap medioker terutama yang memberi stigma.
“Itulah sebabnya aku tak ingin memulai relasi yang mengikat yang pasti terjadi ketika dua orang merasa dekat. Dua orang yang dekat cenderung bisa mengikat yang lain. Akhirnya akan selalu jelas. Aku tak ingin relasi yang berakhir dengan jelas.” Dia berkata lagi. Aku cukup heran juga melihatnya banyak berbicara kali ini. Biasanya kami bisa berpuluh menit tak saling bicara, hanya asyik dengan yang kami baca atau kami dengar.
“Aku ingin pergi dan tak terlacak oleh siapa pun.” Katanya seperti yakin bisa melakukannya.
“Aku ingin lebih hebat dengan membaca banyak self-help book dan acara televisi menjadi manusia super.” Aku menjawab sekenanya untuk menunjukkan bahwa keinginan itu taklah mungkin.
Aku hanya tersenyum memahami bahwa dia memang suka bercanda. Cara bercanda yang kelewat kering sampai kami sendiri seringkali tidak pernah tahu perbedaannya dengan ucapan biasa. Kering, tipis, dan segera menghilang, namun entah mengapa, sangat mengganggu pikiran setelah beberapa hari.
“Salam super!” kataku. Maksudnya untuk bercanda. Seperti biasa si dingin hanya memandangku tanpa ekspresi. Dia sama sekali tak tersenyum apalagi tertawa. Apakah kau terbuat dari es?
Dia sendiri pun sangat aneh lewat ujarannyaa. Tak mungkin seseorang menghilang dan tak terlacak di dunia para medioker yang saling terkait satu sama lain. Tak kuduga sekitar empat belas hari ke depan dia benar-benar menghilang. Bertahun-tahun kemudian pun tak ada secuil pun informasi darinya.
Ironisnya, di akhir semua pembicaaran tersebut aku gamang. Inikah akhir? Mengapa aku sama sekali tidak merasakan efek relasi yang linear itu? Awal, tengahan, dan akhir. Sangat mungkin ini adalah akhir sekaligus awal. Awal baru yang juga sangat mungkin gagal kembali untuk mendapatkan akhir plot yang indah. Siapa peduli akhirnya? Jalani saja, nikmati saja sakit atau indahnya.
Atas nama suka dan duka, aku akhirnya hanya meminta akhir yang terbuka.
Aku sungguh tak suka dengan akhiran seperti ini.
Sementara matahari sore tetap terik seperti biasanya. Panasnya hanya berkurang sedikit dibandingkan dengan siang tadi ketika kami memulai obrolan tak jelas tersebut.
#####
Terinspirasi dari lagu:
There is An End
Oleh The Greenhornes with Holly Golightly
(diambil dari Broken Flowers Original Soundtrack)
Words disappear,
Words weren't so clear,
Only echos passing through the night.
The lines on my face,
Your fingers once traced,
Fading reflection of what was.
Thoughts re-arrange,
Familar now strange,
All my skin is drifting on the wind.
Spring brings the rain,
With winter comes pain,
Every season has an end.
I try to see through the disguise,
But the clouds were there,
Blocking out the sun (the sun).
Thoughts re-arrange,
Familar now strange,
All my skin is drifting on the wind.
Spring brings the rain,
With winter comes pain,
Every season has an end.
There's an end,
There's an end,
There's an end,
There's an end,
There's an end.
Sabtu, 11 Desember 2010
Love in December

Aku memandang langit mendung dan terus bertanya, apakah ini langit yang sama dengan langit yang dia lihat? Kemana dirinya pergi? Pertanyaan-pertanyaan yang sama kuajukan setiap akhir tahun seperti sekarang ini, selama bertahun-tahun. Dia tak hadir jua, bahkan hanya kabar tentang dirinya sedikit saja. Aku sungguh tak habis mengerti bagaimana mungkin di jaman dengan ragam media baru seperti sekarang pun dia tetap tak terlacak. Setelah suatu hari di bulan terakhir itu, beberapa tahun yang lalu, dia menghilang begitu saja tanpa bekas. Juga dengan nomor telepon genggam, email, dan semua jejaknya di internet. Dia telah menghapus semuanya. Mungkin juga dengan memori kami pernah berelasi. Sudah hilang.
Aku tak tahu rasa sesal atau ketidakberdayaan sekarang yang kurasakan ketika mengingat hari itu. Waktu itu permintaannya sederhana saja, “Maulah kau menjagaku?” Permintaan yang sangat mudah sebenarnya. “Aku tak tahu pada siapa lagi aku meminta, aku hanya ingin kau menjagaku dan ada ketika aku terjatuh.” Itu kalimat yang aku ingat benar dari dirinya. Suara yang selalu terekam di kepalaku dengan baik seperti semua lagu yang telah kudengar. Kini aku benar-benar merindukannya. Namun dia tak pernah hadir lagi, hanya angin dingin mencengkeramku. Aku beku oleh kesepian dan kesendirian.
Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Bagaimana bisa aku menjaga orang lain sementara aku tidak bisa menjaga diriku sendiri? Begitu kataku dalam hati tanpa memberikan jawaban lisan. Bagaimana mungkin di dunia seberat ini, aku mesti menjaga orang lain sementara menjaga diri sendiri saja setengah mati seperti ini. Dunia di mana kehidupannya intoleran terhadap perbedaan. Aku akan menjawab pertanyaan itu esok saja walau pada waktu itu sebenarnya aku tetap tak yakin. Namun esoknya dia telah tak ada sampai detik ini. Kemana dirinya? Dia menguap seperti embun pagi ini dan mungkin embun yang sama tidak akan kembali pada pagi lainnya. Aku bertanya pada semua orang yang mengenalnya.
Semua tak tahu kemana dia pergi. Aku mencoba mengikutinya di semua toko buku, perpustakaan, dan warnet. Dia hilang tanpa jejak sama sekali.
Aku masih memandangi pagi yang sunyi melalui jendela. Mengapa hidup memberi kejutan di saat kita tak menginginkannya? Mengapa di saat kita ingin perubahan, perubahan itu tak pernah hadir? Kesempatan untuk berubah lebih baik tak jua datang di kala kita ingin? Mengapa kita bisa dekat dengan manusia lain sementara dengan manusia lainnya justru menjauh? Bagaimana bisa dua orang yang dulunya berteman akrab kemudian bisa saling menghancurkan diri masing-masing?
Bagaimana kita bisa dekat dengan orang lain yang pada awalnya keberadaannya tidak terdeteksi? Inilah yang terjadi dengan aku dan dirinya. Dirinya bukan tipe manusia ideal seperti yang kutemukan di semua buku psikologi populer atau di acara televisi panduan diri. Dia sangat pendiam, cenderung penyendiri, eksistensinya tak terasa di tengah banyak orang karena dia selalu berusaha menghilangkannya. Dia pun ingin selalu dianggap tak ada. Atau bila pun ada, dia ingin diabaikan. Jarang sekali ada manusia yang secara sukarela dan bersemangat penuh untuk diabaikan. Dia sama sekali tak menonjol.
Suatu kali aku pernah bertanya, “puisi-puisimu bagus, juga semua tulisanmu tidak biasa. Mengapa tak kau unggah di blogmu, atau mengapa tidak kau kirimkan ke majalah atau kau bukukan sekalian?” aku sangat yakin dengan pendapatku atas semua karyanya. “Blogmu selalu kosong seperti soto yang kebanyakan kuahnya” walau aku tahu, percuma mencoba melucu dengannya apalagi humor kering seperti yang selalu kulontarkan.
“Tidak. Aku tak mau terluka” Dia menjawab singkat. Dingin terujar.
Waktu itu aku hanya terdiam. Kami kemudian diam dan tak saling bicara selama berpuluh menit berikutnya. Begitulah kebersamaan kami. Lebih sering duduk bersama sekaligus asyik di dunia masing-masing. Kini aku berpikir, mengapa dia takut sekali terluka. Dia menganggap karya yang ditunjukkan pada orang lain akan membuatnya mudah terluka. Bukankah manusia bersama untuk saling melukai? Mungkin dia memang tidak sesuai dengan dunia yang kejam ini.
Karena itulah, dunianya hanya ada di semua buku, kecuali buku akademis tentu saja. Dia menemukan dunianya di semua lagu, mulai dari Club 8 sampai Bjork, dan juga di semua novel, mulai dari Haruki berujung pada Murakami. Dia memang menyukai semua bentuk fiksi, namun khusus novel, hanya satu nama penulis yang dia suka, Haruki Murakami. Dalam sehari mungkin hanya seperdelapan waktu dia tak membaca buku atau mendengarkan lagu. Suatu kali dia pernah berkomentar, “aku tak ingin kemana pun, aku hanya ingin bersama novel ini” Katanya sambil menunjuk novel “Norwegian Wood” karya Haruki Murakami yang entah sudah kali keberapa dia membacanya.
Bertahun setelahnya, aku mengerti, mungkin dia memang ada di dunia “Norwegian Wood” yang sepi, liris, irrasional, dan absurd itu. Bukan sebagai salah satu tokohnya, melainkan sebagai “dunia”-nya. Dunia yang tetap berbeda walau aku mendengarkan lagu the Beatles yang berjudul sama. Aku pernah coba membaca novel itu, namun tak kutemukan apa pun. Aku lebih menyenangi buku semacam “Catatan Seorang Demonstran” atau apa pun yang merujuk langsung pada realitas. Bukankah seburuk apa pun realitas, masih lebih baik dibandingkan dengan mimpi terindah sekali pun?
Aku berniat kembali membaca semua novel Murakami-nya, mendengarkan semua lagu yang dia suka, mengingat dan merasakan kembali semua puisinya. Siapa tahu, barangkali saja aku bisa menemuinya di rangkaian teks-teks itu. Siapa tahu dia bersemayam di sana. Aku beringsut mundur dari jendela karena sinar mentari mulai memberkas. Mataku lebih tahan dengan kegelapan. Dalam kegelapan aku bisa merasakan kesepian. Bila bisa merasakan kesepian absolut, mengapa kita hanya menginginkan sepi yang biasa saja?
Aku menilik lagi semua tanya di pikiranku. Rangkaian pertanyaan yang selalu mengejar: apakah dia berada di bawah langit yang sama denganku? Apakah dia juga merasakan langit kelabu ini? Di manakah dirinya sejak Desember beberapa tahun yang lalu itu? Apakah kau bahagia dan tak terluka di duniamu itu?
Namun di dalam hati kecilku, aku masih meyakini kami masih di bawah langit yang sama.
Terluka dan tetap sendiri dalam apa pun yang kami lakukan….
#####
Terinspirasi dari lagu:
Love in December
oleh Club 8
So this is love in the end of December
Quiet nights
Quiet stars
And I'm here Monday to Sunday 'cause you're fragile and I'm weak
So you fall when the nights grow longer into sleep
You won't wake up and I'm here
I'm sitting beside you and I'll wait until the spring
Don't you worry
I'll be there for you
Don't worry about me
You know me better than that
Don't you worry
I'll be there for you
I'll catch you if you would fall
So you drift when the days grow colder
Away from me and won't look back
Far away
And I can't guide you but I'm here 'til the spring
Don't you worry
I'll be there for you
Don't worry about me
You know me better than that
Don't you worry
I'll be there for you
I'll catch you if you would fall
Don't you worry
I'll be there for you
Don't worry about me
You know me better than that
Don't you worry
I'll be there for you
I'll catch you if you would fall
I'll catch you if you would fall
Senin, 11 Oktober 2010
Wajah Spesial Pake Telor

Kini si tanpa wajah begitu bahagia. Apa yang kurang dalam sebuah perjalanan, sekalipun perjalanan itu jauh jarak tempuhnya dan tidak jelas apakah tujuan akan tercapai, bila dia ditemani oleh dua orang perempuan? Dua perempuan yang secara epistemologis dan “ekonomi politik” berbeda. Artinya, keduanya begitu berbeda dalam hal pendekatan dan motif-motifnya. Di atas semua itu, keduanya begitu mengerti dirinya.
Sejak bertemu beberapa waktu yang lalu dia mulai akrab dengan kedua perempuan itu. Sebut saja namanya Venus 1 dan Venus 2. Seperti kode polisi bukan? Lebih baik dibedakan seperti itu. Walau pembedaannya adalah pembedaan paling usang, itu masih lebih baik daripada tidak dibedakan sama sekali. Pembedaan berdasarkan angka memang primitif sekali dan bersifat hanya di permukaan. Namun inilah pembedaan terbaik sejauh ini. Dalam keadaan tanpa wajah, apa lagi yang bisa kau harapkan selainkan menerapkan visi dan strategi yang sudah usang.
Venus 1 secara epistemologis lebih jelas. Tanpa harus dipikirkan mendalam, dirinya mudah untuk diverifikasi. Kecuali wajah yang tidak bisa diverifikasi, semua hal lainnya, bagian tubuhnya yang lain, bagus sekali. Bagaimana bisa diverifikasi bila sesuatu itu tidak ada? Keber-ada-an adalah sesuatu yang problematik seperti halnya ketiadaan. Tetapi dia memiliki tubuh yang sempurna bagi seorang perempuan. Kaki dan tangan anggota badannya indah bak kreasi masterpiece dari sang Pencipta. Namun kelemahannya juga luar biasa, semua ujaran dan gerakannya sungguh menyakitkan. Dia sering melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati, pun tindakannya yang seringkali meremehkan. Bahkan dalam keadaan tanpa wajah seseorang perempuan, dan juga semua jenis manusia, bisa menyakitkan bagi orang lain.
Venus 2 secara “ekonomi politik” lebih santun. Visi dan motif-motif hidupnya sungguh membahagiakan dan juga mengenakkan bagi orang lain. Dia berbicara tentang “kehidupan hijau” dan kehidupan setelah mati. Dia menghibur dengan kata-katanya yang mengukir hati dan menggedor sukma. Kaki dan tangan anggota tubuhnya juga memberikan implementasi pikiran atau tindakan dengan asyik. Tidak ada tindakannya yang menyakitkan hati. Kelihatannya, apa pun ujaran dan gerakan tubuhnya, merupakan keindahan hidup yang terjabarkan dengan mudah di kenyataan. Bukankah hal itu salah satu karakter ekonomi politik, bersifat praksis?
Namun Venus 2 tidak memiliki tubuh yang indah walau ujaran dan gerakan tubuhnya indah. Hal inilah yang merupakan secuil kekurangannya. Di tengah semua hal yang baik dari dirinya, dia masih berharap memiliki keindahan tubuh seperti Venus 1.
“Coba yakinkan aku bahwa aku bisa mendapatkan tubuh seindah dirinya”. Kata Venus 2 tiba-tiba saja kepada si tanpa wajah. Hal ini aneh karena mereka sedang berbicara mengenai neo-tribalisme yang kini sedang marak kembali. Apa hubungannya tubuh dengan neo-tribalisme? Kata si tokoh kita dalam hati.
“Buat apa kau memikirkan tubuh yang indah bila dirimu sudah hampir sempurna sejak awal?”. Katanya bingung.
“Sepertinya ada yang kurang bila tubuhku tak indah. Tubuh itu adalah kuil sehingga haruslah lebih indah. Jangan salah berpikir lho, tubuhku yang nantinya indah itu bukannya untuk orang lain, melainkan untuk dirimu sendiri. Aku akan bersuka cita di kuilku sendiri”.
Lain waktu ketika si tanpa wajah berkesempatan hanya berdua saja dengan Venus 1 dan mereka sedang mendiskusikan siapa siapa manusia terindah pada era dengan wajah, tiba-tiba saja dia bertanya, “Apa menurutmu, dia lebih baik dari aku? Dia yang begitu baik padamu sebenarnya tidak menerimamu apa adanya”.
Belum habis kekagetan tokoh kita, Venus 1 meneruskan kalimatnya kembali.
“Walau hatimu sering tersakiti oleh ucapan-ucapanku, aku ini adalah orang yang paling mengerti dirimu”.
“Aku memberikan padamu penglihatan dan perasaan bersyukur atas tubuhku yang indah, itu adalah wujud pengertian paling dalam diriku atas dirimu”. Baru sekali ini dia berbicara langsung ke hati alias telepati dengan mendalam seperti ini.
“Aku tak menyesali apa pun, termasuk keadaanku yang sudah seperti ini. Kau kira tidak sulit hidup dengan tubuh sangat indah seperti ini? Sulit sekali teman...Kau tidak bisa membedakan mana lelaki yang mendekati karena tubuhku atau karena hatiku. Mungkin semua ucapan dan tindakanku yang tidak menyenangkan ini berawal dari kebingunganku atas motif dan tujuan orang-orang yang mendekatiku”.
Makanya kau mesti belajar ekonomi politik juga, tidak hanya epistemologis saja, apalagi yang ada dalam varian empirisisme saja. Begitu kata si tanpa wajah dalam hati dan berusaha agar Venus 1 tak mendengarnya. Kemudian dia tersadar, bila mendengar pun belum tentu Venus 1 mengerti.
Setelah beberapa kali mendengar curahan hati mereka, si tanpa wajah semakin yakin bahwa wajah mereka semua harus ditemukan kembali. Bukan apa-apa, semua bisa dikembalikan seperti semula bila mereka semua memiliki wajah seperti dulu. Inilah paradoksnya, mereka ingin wajah ada kembali setelah lama menghilang karena dulunya mereka menganggap tidak membutuhkan wajah.
Bila pun kami mendapatkan wajah kembali, mereka menginginkan wajah itu “bekerjasama” dengan tubuh, bukan saling menisbikan seperti dulu. Wajah yang secara epistemologis menyatu dengan tubuh dan memiliki visi dan strategi memanusiakan diri mereka sendiri. Lalu si tanpa wajah, tokoh kita, membayangkan ungkapan sewaktu dia masih kecil...spesial pake telor.
Kata spesial pake telor muncul pada dekade 1980-an bila kita makan di warung makan kelas bawah. Kata itu menunjukkan bahwa apa-apa yang berlauk telur adalah mengasyikkan. Dahulu ketika tempat makan cepat saji meraja, makan nasi rames dengan lauk telur adalah luar biasa. Mengapa tidak wajah spesial pake telor yang perlu kita tuju? Kata si tanpa wajah dalam hati.
Makan nasi spesial pake telor juga bermakna kita mesti mengembangkan tubuh sebaik mungkin. Bukankah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula? Walau di dalam hati dirinya cenderung agak tidak setuju juga, toh banyak orang yang sehat secara fisikal, jiwanya tak sehat? Namun istilah spesial pake telor layak digunakan untuk menginteraksikan wajah dan tubuh yang sehat dan memfungsikan satu sama lain dengan positif.
Mengapa kami tidak mengembangkan konsep wajah spesial pake telor?, dia berkata dalam hati. Dia yakin dengan konsepnya ini. Pendekatannya pun mudah, dengan menggunakan faktor kesejarahan yang sangat Indonesia, sebab apa-apa yang dekat itu penting tidak seperti konsep-konsep filsafat ilmu dan perspektif kritis yang jauh itu. Tetapi dia sadar untuk mendekati konsep manusia, wajah dan tubuhnya, tidak ada cara dan posisi yang jauh atau dekat. Humanisme adalah hal yang paling dekat dengan manusia sekaligus jauh karena manusia terbiasa berpikir dan merasakan hal-hal lain di luar dirinya, termasuk terlalu memikirkan manusia lain.
Di dalam perjalanan yang masih jauh ini dia kemudian berencana untuk berdiskusi dengan Venus 1 dan Venus 2 tentang wajah spesial pake telor. Tentang wajah dan tubuh, serta relasinya, yang memanusiakan diri sendiri dan mencerahkan kehidupan. Dia terus berencana walau waktu sepertinya belum berpihak padanya.
Perjalanan ini masih jauh dan masih banyak waktu untuk sekadar berdiskusi dengan enak dan santun....
###
Episode seri Wajah:
1. Wajah: Sebuah Pengantar
2. Para Pencari Wajah
3. Wajah Siapa Ini Wajah Siapa
4. Hasrat Mengepistemologi Wajah
5. Wajah Spesial Pake Telor (sekarang sedang Anda baca)
6. Memajang Wajah
7. Standar Wajah Cinta
8. Wajah Tanpa Isyarat
9. Kelelahan Mengkomodifikasi Wajah
10. Wajah Paripurna: Kesimpulan dan Saran
(gambar dipinjam dari blog.photodelight.ca)
Senin, 27 September 2010
Hasrat Mengepistemologi Wajah

Di dalam perjalanannya menuju Barat yang panjang ini berulang-kali dia bermimpi buruk. Dia memiliki wajah tetapi dengan wajah yang selalu berubah dan selalu bukan wajah yang dia inginkan. Suatu kali dia berwajah Bapak Pembangunan. Kali lain dia berwajah Ibu Kemiskinan. Sekali waktu wajahnya adalah wajah-wajah orang yang dia benci. Pada waktu lain wajahnya adalah wajah-wajah orang lain yang tidak ingin dikenalnya atau yang tidak ingin diakrabinya. Kemana wajahku sendiri? Kemana wajah-wajah orang yang kucintai?
Apakah mimpi buruk itu disebabkan dia selalu mengukur, mengklasifikasi, dan menilai wajah orang lain sewaktu dia masih memiliki wajah? Dahulu itu dia mengukur wajah berdasarkan bentuk dan kelengkapannya. Waktu lalu dia juga mengklasifikasi apa saja yang mendukung wajah (dan juga tubuh). Apa yang dia pakai? Rumahnya seperti apa? Apa merk kacamatanya? Apa mobil yang dimilikinya? Pada akhirnya dia tahu bahwa pertanyaan tak esensial itu tak kan pernah selesai. Pada akhirnya dosanya yang terbesar pada waktu dulu adalah menilai wajah orang lain. Melalui wajah dia coba menilai loyalitas seseorang, juga kemampuannya meneliti dan menulis. Dia lupa bahwa tak ada hubungannya kemampuan-kemampuan tersebut dengan wajah. Semuanya berhubungan dengan gerak anggota tubuh.
Kalau boleh menilai, wajahmu diepistemologi seperti apa? Agar semuanya mengasyikkan, agar semuanya baik-baik saja. Dia ingin bisa bertanya pada orang lain bila dirinya benar-benar memiliki wajah. Rasa sebah di tenggorokan itu kembali menyerangnya.
Dia terbangun dari tidur dengan kaget. Kini di sekelilingnya telah hadir manusia-manusia lain. Tanpa wajah atau dengan wajah dia tak pernah tahu. Bagaimana kau bisa mengepistemologi wajah orang lain bila kau tak bisa mengetahui wajahmu sendiri dengan detail, kecuali melalui cermin, kecuali via hati yang bersih?
Tanpa wajah berarti dirinya tanpa perkakas wajah pula. Tak ada mulut untuk berbicara, tak ada mata untuk melihat, dan tak ada hidung untuk membedakan udara segar ataupun udara beracun. Anehnya, dia merasakan pengalaman yang berbeda melalui wajahnya yang tanpa perlengkapan itu. Dia merasakan, berbicara, dan menghidupi diri dengan cara yang berbeda. Ruang kosong di tempat semestinya wajahnya berada, dia dapat memfungsikan panca indera. Lalu dia bisa mengepistemologi semuanya dengan cara yang berbeda.
“Bagaimana kau memahami orang lain?” Tanya seseorang di sebelah kanannya, yang dia tahu seorang perempuan. Pertanyaannya halus dan tidak menusuk seperti Venus.
“Bagaimana caramu mengelompokkan orang lain melalui wajahnya, apakah melalui kelengkapannya, atau melalui apa yang dia pakai?” pertanyaan lain terdengar dari sisi kirinya. Dari jenis pertanyaannya dan dari lembutnya suara, dia juga tahu bahwa yang bertanya ada kaum hawa yang kemungkinan lebih risau dengan apa yang dipakai atau tidak dipakai pada wajah dan tubuh.
Dia tidak bisa menjawab dan juga tak ingin menjawab. Biarkan semuanya mengalir apa adanya. Biarlah mereka menemukan jawabannya sendiri pada akhirnya. Dia tidak ingin mengepistemologi apa-apa lagi? Bagaimana kau mendekati realitas, itu adalah kunci dalam kehidupan ini, dengan wajah atau tanpa wajah. Disadari ataupun tidak kita akan selalu mengepistemologi wajah atau apa-apa yang lain selama kita hidup. Selama kita menempuh perjalanan yang sepertinya tanpa akhir ini.
Episode seri Wajah:
1. Wajah: Sebuah Pengantar
2. Para Pencari Wajah
3. Wajah Siapa Ini Wajah Siapa
4. Hasrat Mengepistemologi Wajah (sekarang sedang Anda baca)
5. Wajah Spesial Pake Telor
6. Memajang Wajah
7. Standar Wajah Cinta
8. Wajah Tanpa Isyarat
9. Kelelahan Mengkomodifikasi Wajah
10.Wajah Paripurna
(gambar dipinjam dari flickr.com)
Wajah Siapa, Ini Wajah Siapa?

Perjalanan mencari wajah ke Barat adalah perjalanan yang berat. Pertanyaannya, mengapa tidak ke Timur? Atau Selatan? Atau Utara? Jawaban umumnya pun sederhana saja: agar perjalanan lebih mudah dan di tengah perjalanan tidak didera konflik berkepanjangan. Tidak ada alasan ideologis memilih perjalanan ke arah Barat. Dia menyaksikan orang-orang lain pun serupa dirinya. Semua tidak terlalu mementingkan “sesuatu” di balik sesuatu. Asalkan perjalanan cukup lancar, hal itu telah cukup.
Tidak ada yang menemaninya berjalan secara fisikal. Teman yang ada hanyalah orang-orang yang ada di ingatannya. Anehnya, semua orang yang ia ingat pun tidak memiliki wajah. Ia hanya mengingat berdasarkan rasa hati yang ditimbulkan kehadiran orang-orang tersebut. Ada yang memberi energi positif ketika berjumpa dan berinteraksi. Ada yang memberi dan menerima energi positif. Berbagi secara positif. Namun ada juga yang kelewatan negatifnya, kehadiran orang tersebut menyerap energi positif dirinya. Sampai habis tak bersisa. Bahkan, orang-orang jenis ini di ingatan pun tetap menyebalkan, masih bisa menyerap energi.
Unik juga, betapa kita bisa lupa dengan suatu kejadian, namun kita masih ingat suasana hati yang diakibatkan kejadian tersebut. Dia terus berjalan sambil mengklasifikasikan orang-orang yang dikenalnya dengan cara “rasa” hati yang ditimbulkannya. Sedikit lebih susah bila dibandingkan dengan mengklasifikasikan benda-benda alam yang lain selain manusia. Untuk manusia lain, kita tidak akan benar-benar bisa mengklasifikasikannya dengan adil dan terbuka.
Aneh sekali, semakin lama berjalan semakin rasa getir yang diakibatkan orang-orang di masa lalu semakin hilang. Ada dua kemungkinannya, waktu yang menyembuhkan semua luka, atau hati manusia cenderung bertambah dewasa ketika merasakan luka, hatinya dan hati orang-orang yang pernah menyakitinya. Semakin lama berjalan, semakin dia merasa, rasa senang dan sedih di hati sebagai akibat tindakan orang lain tidaklah begitu penting. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kita menerima hati kita sendiri. Hati kita mempengaruhi pikiran, dan akhirnya akan mempengaruhi jiwa secara keseluruhan.
Hal lain yang lebih penting daripada rasa sedih suka di hati adalah bagaimana wajahnya “ditemukan” dengan cepat, agar dia berinteraksi dengan orang lain lebih mudah dan lebih mujarab. Wajah adalah elemen penting dalam berinteraksi. Tanpa wajah sebuah tindakan tidak bisa dirasakan dan diperkuat tensinya. Tanpa wajah hidupnya akan hambar. Sehambar jalan yang dia lalui. Kemana perginya orang-orang lain?
Jalan masih sepi dan kelam. Tanpa siapa pun, padahal baru saja kemarin dia menemukan banyak orang yang juga sedang mencari wajah. Tergiang lagu dari seorang penyanyi yang dia kenal pada masa kecil. Penyanyi itu adalah Ebiet G. Ade. Dia lupa judulnya. Informasi yang dia ingat adalah sepenggal lirik dari lagu itu…dosa siapa ini dosa siapa, salah siapa ini salah siapa. Dia mengganti lirik itu sambil bersenandung tipis, wajah siapa ini wajah siapa…
Jawabnya masih akan terus dicarinya sepanjang perjalanan, bukan pada akhirnya.
#######
Episode seri wajah:
1. Wajah: Sebuah Pengantar
2. Para Pencari Wajah
3. Wajah Siapa Ini Wajah Siapa? (sekarang sedang Anda baca)
4. Hasrat Mengepistemologi Wajah
5. Wajah Spesial Pake Telor
6. Memajang Wajah
7. Standar Wajah Cinta
8. Wajah Tanpa Isyarat
9. Kelelahan Mengkomodifikasi Wajah
10. Wajah Paripurna
(gambar dipinjam dari jrakuen.blogspot.com)
Kamis, 16 September 2010
Kisah Cinta Biru Gelap 5 (Kisah Maaf Putih Polos 2)

Dia memandang pantulan wajahnya di kaca jendela mobil. Mobil itu membawanya pergi dari kampung halaman yang dikunjunginya ketika lebaran. Dia memandang sekali lagi wajahnya. Mengamati detailnya namun beberapa kelebat dia tidak mengenal dirinya. Bukankah hal ini bisa terjadi, kita memandang bayangan wajah kita sendiri dan kita tidak yakin siapa yang ada di sana? akukah, bayanganku, manusia lain?
Masih satu setengah jam lagi mobil membawanya ke Bakauhuni untuk menyebarangi Selat Sunda. Namun dia terus bertanya, siapa aku dan bagaimana kehidupan esok hari? selama bertahun-tahun ia hidup dalam "dendam". Kini dendam itu perlahan memudar walau dia belum menyadari perasaan hati tanpa dendam dan rasa sakit lainnya.
Kepulangannya ke kampung halaman adalah mudik pertamanya setelah hampir satu dekade. Selama ini dia tidak ingin mudik ketika berlebaran karena mengingat bagaimana keluarganya tidak diperhatikan oleh keluarga besar ayahnya. Keluarganya yang kurang mampu selalu tidak menerima bantuan ketika membutuhkan, yang ada seringkali ayahnya yang sudah tidak memiliki apa-apa, terpaksa membantu keluarga besarnya karena adat mengharuskan hal itu. Sampai dirinya dan keluarga pindah ke Yogya pun, tidak ada bantuan atau pun perhatian dari keluarga besarnya. Tesis para sosiolog Indonesia yang menyebutkan bahwa keluarga Indonesia adalah keluarga luas, bukan keluarga inti, tidak terbukti karena ternyata antar keluarga di keluarga luas tidak saling membantu, malah cenderung senang bila salah satu kerabatnya susah hidupnya.
Setelah itu hiduplah dia dan keluarganya bertahun-tahun di Yogya dan relatif tanpa kontak dengan keluarga besar ayahnya. Berita yang dia tahu hanyalah sekelumit sekali dan biasanya pun dia ketahui dengan sambil lalu. Rasa perih hatinya terbuka lebih dalam ketika ayahnya meninggal mendadak tiga tahun yang lalu. Karena posisi adat di kampung lumayan tinggi, keluarga besar ingin ayahnya dimakamkan di kampung asal keluarga. Tentu saja dia menolak karena selama hidupnya sang ayah telah cukup berkorban untuk keluarga besarnya seharusnya ketika ayahnya tiada, urusan sekali ini diserahkan pada keluarganya saja, bukan keluarga besar.
Dia masih melihat pantulan wajahnya di cermin. Salahkah aku bertahun ini memelihara dendam? dia merasa dendam itu tidak dia coba pertahankan, namun kata maaf juga bukan menjadi kata kerja di hatinya. Bertahun-tahun dendam itu meringkuk di hati dan menjadi bahan bakar yang bagus untuk menunjukkan keberhasilannya. Namun percayalah, tindakan pembuktian yang didasari dendam atas manusia lain atau karena sesuatu bukanlah pencapaian melainkan memperdalam luka. Kini, setelah dia cukup banyak memperoleh keberhasilan di Yogyakarta; keluarga yang hebat, pekerjaan yang bagus, dan gelar akademik doktoral, dia tetap merasa ada sesuatu yang kurang: memaafkan keluarga besar ayahnya dan berdamai dengan masa lalu. Dia tidak ingin menunggu "kekalahan", hatinya mesti menguapkan segala rasa perih itu.
Wajahnya sendiri masih terpantul dari kaca mobil sementara adiknya masih terus berfokus pada jalanan di depan. Anggota keluarganya tertidur karena deru mobil yang cukup nyaman dan rasa lelah yang sudah mulai menerpa. Dia ingat dan masih merasakan besarnya kekuatan maaf. Dia yang skeptis dengan ritual beragama dan laku sosial masyarakat selama berpuasa dan berlebaran ternyata bisa merasakan makna yang dalam atas kata maaf. Kata ajaib itu memang mudah sekali diucapkan namun sulit sekali dilaksanakan karena kita bisa memakai topeng maaf namun tidak pada hati kita dan pihak lain pun tak tahu.
Namun hal yang berbeda terjadi di lebaran kali ini, maaf itu tiba-tiba muncul di hati dan menghangatkannya. Rasa dendam bertahun-tahun lumer dan memudar perlahan. Rasa hangat melihat ibu, keluarganya, dan keluarga adik-adiknya, mengalahkan upaya terakhir dendam untuk meringkuk di hatinya lebih lama lagi. Kehidupan seharusnya diberikan terutama untuk generasi yang lebih muda, terutama untuk anak dan para keponakannya. Waktu juga berlalu cukup panjang. Berjuang dan berinteraksi dengan banyak manusia lain di kota yang lebih besar dari kota asalnya, dia merasa tak ada gunanya memendam rasa sakit dan dia pun perlahan mulai tahu cara melepaskannya dalam hati.
Betapa kehidupan mengajarkan banyak hal, anak-anak yang tumbuh besar, waktu yang menghapuskan benci, dan rasa perih yang lumer pelan-pelan. Dia sangat bersyukur pada hidup dan Pencipta hidup untuk itu....
Dia masih mengamati wajahnya. Kali ini perspektifnya tidak dipantulkan namun diteruskan melalui kaca jendela. Di luar dia melihat pemudik motor yang kesulitan karena hujan mulai turun. Terkadang dia kesal juga melihat para pemudik motor itu berada di tengah dan tidak memberi ruang bagi kendaraan lain, namun lama-kelamaan yang seringkali muncul adalah rasa takjub bagaimana mereka memiliki semangat berlebaran yang begitu kuat untuk menempuh perjalanan "menyabung" nyawa. Dia kemudian menyadari, untuk sikap dia bisa memilih, menganggap fenomena pemudik motor itu sebagai suatu yang lumrah ketika musim mudik tiba, atau menganggap fenomena itu wujud abainya negara pada fasilitas transportasi yang murah dan nyaman bagi masyarakat. Dia memilih yang kedua dan dia berjanji bila Sang Pencipta memberinya kesempatan menjadi pejabat publik, dan akan memperhatikan mandat publik sebagai alasan utama.
Dia meyakini bahwa dia adalah bagian dari para pemudik motor di luar itu, juga jutaan orang lain yang pada saat bersamaan berada dalam perjalanan "spiritual" selama berlebaran. Semua berusaha mencari suatu makna, entah makna semesta atau makna duniawi yang bisa ditunjukkan di kampung halaman. Dia adalah bagian sangat kecil dari kumpulan sangat besar orang Indonesia yang harus "mengurusi" negara karena ternyata sang pemimpin negeri diminta menyelesaikan sendiri segala macam urusan mereka. Lalu, bila begini, untuk apa membentuk entitas besar bernama negara bila bukan untuk kebaikan bersama?
Tentu saja dia bertambah geram membaca berita di internet yang dia akses dari handphone. Rencana pembakaran kitab suci itu, penusukan itu, semuanya memudarkan kemanusiaan yang telah dibangun bersama. Manusia yang mencintai manusia lain tidak akan menyakiti sesamanya, manusia yang percaya pada Sang Pencipta tidak akan merusak firman-Nya. Bukankah kitab-kitab suci itu adalah karya-karya terindah? Entahlah, dia tidak ingin masuk lebih jauh memikirkan humanisme dan agama. Baginya semestinya agama dan kemanusiaan itu saling menguatkan. Dia memandang bayangan wajahnya sekali lagi. Ada lelah di situ, namun ada semacam kebahagiaan kecil milik manusia, dimulai dari kata maaf.
Bau laut sudah tercium tanda sebentar lagi perjalanan laut akan ditempuh. Dia ingin sekali memandang pantulan dirinya dari laut dan langit luas di atasnya. Laut dan langit yang bisa menjadi cermin kemanusiaan yang lebih luas. Dia yakin bahwa pantulan wajahnya adalah cermin bagi manusia yang memiliki keluarga, etnis, agama tertentu, namun yang mencintai sesama dengan tulus. Dia sangat yakin tanda-tanda kebesaran-Nya bisa dilihat di mana saja dalam hidup ini, tidak hanya di gunung-gunung sepanjang perjalanan darat. Tak hanya di ombak laut dan arakan awan dalam perjalanan laut.
Dia temukan wajahnya kini, tidak hanya di luar, namun di dalam hatinya sendiri. Dia hanya manusia yang berusaha berbuat sebaik mungkin, dia hanya manusia yang mungkin menyakiti dan tersakiti, namun dia juga adalah makhluk-Nya yang selalu berusaha menemukan diri-Nya sekelumit apa pun.
Dia berjanji dalam hati bahwa esok hari adalah hari tanpa dendam dan penuh rasa maaf.
Wajah itu tersenyum dan dia optimis tidak akan "mati" lagi dalam hidup....
#######
Tulisan ini terinspirasi dari lagu:
"Moment of Surrender" oleh U2 (diambil dari album "No Line in the Horizon")
I tied myself with wire
To let the horses roam free
Playing with the fire
Until the fire played with me
The stone was semi-precious
We were barely conscious
Two souls too smart to be
In the realm of certainty
Even on our wedding day
We set ourselves on fire
Oh God, do not deny her
It’s not if I believe in love
If love believes in me
Oh, believe in me
At the moment of surrender
I folded to my knees
I did not notice the passers-by
And they did not notice me
I’ve been in every black hole
At the altar of the dark star
My body’s now a begging bowl
That’s begging to get back, begging to get back
To my heart
To the rhythm of my soul
To the rhythm of my unconsciousness
To the rhythm that yearns
To be released from control
I was punching in the numbers at the ATM machine
I could see in the reflection
A face staring back at me
At the moment of surrender
Of vision over visibility
I did not notice the passers-by
And they did not notice me
I was speeding on the subway
Through the stations of the cross
Every eye looking every other way
Counting down ’til the pain would stop
At the moment of surrender
Of vision over visibility
I did not notice the passers-by
And they did not notice me
Rabu, 15 September 2010
Kisah Cinta Biru Gelap 4
.jpg)
Di dalam berinteraksi dengan manusia lain di dalam hidupmu, kau memilih mana, seseorang yang ada secara langsung, hadir fisikal di hadapanmu, atau bayangan diri seseorang? Biar kutebak. Jawabannya pasti mudah sekali. Kau pasti akan memilih yang pertama: seseorang yang sesungguhnya, bukan bayangan kita atas seseorang. Kau pasti akan memilih seseorang yang riil, yang hadir sehari-hari bersamamu di masa kini dan mungkin masa nanti. Mungkin dia, atau mereka bila kumpulan dari manusia lain, sedikit menyebalkan atau menyakitkan perilakunya. Tetapi biar kutebak, kau tetap akan mentolerirnya karena dia hadir nyata. Hal-hal nyata lebih berharga walaupun menyakitkan diri kita.
Dengan memilih yang pertama ini, kau mesti siap merasa aneh ketika ditanya, "Lho, kau belum punya mobil? kalau ke kantor pakai motor? oleh orang lain yang merasa kebendaan adalah hal terpenting dalam hidup. Atau yang lebih parah pertanyaan model begini: kau 'kan muslim, kenapa tidak cerah ceria di bulan penuh rahmat ini? dan beragam pertanyaan menyebalkan dan menyakitkan yang bisa didapat ketika berinteraksi dengan orang lain yang merasa keutamaan hidup adalah mengatur, mengadili, dan mengarahkan orang lain. Dan ikatan cinta adalah salah satu modus "pengaturan" individu lain yang paling kuat. Biasanya, atas nama cinta, kita merasa perlu mengatur pasangan hidup kita. Kita merasa dapat memberikan yang terbaik bagi belahan jiwa kita. Tapi benarkah demikian? Benarkah kita berkata, bertanya, dan bertindak untuk kebahagiaannya bukan kebahagiaan dan egoisme kita sendiri?
Karena kau memilih yang pertama, aku akan memilih yang kedua. Aku memilih berinteraksi dengan bayangan orang lain. Bayangan itu ada di kepalaku saja. Manusia itu hidup di masa lalu. Ia bisa jadi siapa pun yang kita inginkan. Srikandi, orang suci, Sri Mulyani, Mulan Jameela, siapa pun, tanpa batas. Tiada batas dalam pikiran kita. Karena itulah, orang yang berniat membatasi pikiran orang lain pada dasarnya manusia yang paling daif dan gaib, yang paling bodoh. Lagipula kita tidak mungkin membatasi pikiran orang lain sekalipun misalnya kita menyusun dan merumuskan regulasi atas nama negara dan mungkin atas nama cinta.
Aku memilih membayangkan orang di masa lalu yang hidup dalam benak dan hatiku. Ia mendukungku tanpa mempertanyakan preferensi ketuhananku, apa novel dan film favoritku. Dahulu itu, kami hanya berinteraksi sebagai sesama manusia yang berbeda jenis. Ketentuan perilaku atas panduan gender juga tidak berlaku. Kami hanya sesama manusia yang mencoba berbagi eksistensi. Aku adalah aku. Dia ialah dia. Saling berbagi dan menyenangkan hati satu sama lain. Dia membuatku seperti manusia walau itu hanya beberapa hari saja di masa lalu. Unik memang, bagaimana seseorang yang baru dikenal tidak sampai seminggu memberikan makna yang begitu dalam. Sementara orang yang kita kenal bertahun-tahun selalu membuat kita rikuh, tak nyaman dalam hidup, dan membuat kita ragu-ragu untuk menghidupi hidup kita sendiri. Tetapi janganlah kau khwatir teman, yang begini ini adalah wajar dalam hidup. Hidup selalu memberikan kejutan dan keajaibannya sendiri pada kita.
Aku memilih berinteraksi dengan manusia yang hanya hidup dalam kenanganku. Dia sudah lama pergi. Di dalam kehidupan nyata aku ingin menghindari berjuta pertanyaan konyol, menyebalkan, dan menyakitkan. Aku tidak memilih berinteraksi dengan manusia lain dalam kehidupan sehari-hari ini. Biarlah mereka datang dan pergi silih berganti. Aku tidak peduli. Mereka tidak menyakitiku dan aku tidak menyakiti mereka. Bukankah ini tak salah?
Tetapi, pilihanmu atas jenis interaksi yang pertama ternyata menyakitkan aku, temanku. Sebagai teman, mengapa kau tidak memilih yang sama denganku. Kau tidak kompak, kau tidak loyal terhadap aku. Kau bukan teman melainkan musuh dalam selimut. Ternyata dalam tiap-tiap pertemanan mengandung benih dan potensi permusuhan. Kesadaran yang muncul dalam diriku belakangan. Konflik-damai, pertemanan dan permusuhan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam hidup. Inheren.
Aku hanya ingin membayangkan dia. Sementara kau, silakan pergi dan jangan pernah kembali ke sini sekali pun untuk berdiskusi.
Silakan bertemu dengan manusia lain dan sadari resiko terganggu dan tersakiti olehnya.
Dan aku...
Paling tidak aku bisa menghidupkan dirinya, manusia paling mengerti diriku itu, dalam benakku walaupun kau mungkin menyebutku mati dalam hidup. Siapa yang tidak menunggu mati dalam hidup? toh aku hanya memilihnya lebih cepat untuk menghindari resiko tersebalkan dan tersakiti oleh manusia lain... :)
#####
Fiksi di atas terinspirasi dari lagu ini:
"Dakota" oleh Stereophonics
Thinking about thinking of you
Summertime think it was June
Yeah think it was June
Laying back, head on the grass
Children grown having some laughs
Yeah having some laughs.
Made me feel like the one
Made me feel like the one
The oneMade me feel like the one
Made me feel like the oneThe one
Drinking back, drinking for two
Drinking with you
And drinking was new
Sleeping in the back of my car
We never went farNeeded to go far
Made me feel like the one
Made me feel like the one
The one
Made me feel like the one
Made me feel like the oneThe one
I don't know where we are going now
I don't know where we are going now
Wake up cold coffee and juice
Remembering you
What happened to you?
I wonder if we'll meet again
Talk about us instead
Talk about why did it end
Made me feel like the one
Made me feel like the one
The oneMade me feel like the one
Made me feel like the oneThe one
I don't know where we are going now
I don't know where we are going now
So take a look at me now
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis Lagi, Berjuang Lagi
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...
-
Liburan panjang seperti sekarang ini membuat saya memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplorasi koleksi musik dan buku saya. Senang juga ra...
-
Untuk seorang sahabat lama di hati dan bukan dalam kehidupan nyata.... Entah mengapa aku sangat merindukanmu sekarang. "Urgency of now...
-
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...
