Kamis, 07 Januari 2010

Puisi Lama 1


Saya suka sekali menulis puisi, terutama jaman dulu. Menurut saya, menulis puisi itu adalah menulis yang paling sulit bila dibandingkan dengan "memproduksi" tulisan yang lain semisal opini dan esai. Menulis puisi memerlukan upaya yang lebih keras dan haru membuka "sungai" atau keran kata-kata yang berbeda dari tulisan akademis misalnya. Sampai sekarang pun saya masih relatif tidak bisa memaksa diri untuk menulis puisi. Ilham menulis puisi biasanya hadir tiba-tiba dan dalam moment waktu yang sangat singkat.

Saya juga pernah berusaha "mengunci" hati saya untuk menulis puisi. Bertahun-tahun sejak 2002 saya berusaha untuk lebih memfokuskan diri pada penulisan akademis. Kenyataannya penguncian itu gagal total karena akhirnya saya tetap menulis puisi secara sporadis (juga tidak banyak), penulisan akademis pun juga tidaklah banyak.

Di tahun lalu, pada acara workshop Semiotika di Taman Budaya Surakarta, saya menyadari bahwa kita tidak boleh membatas-batasi diri untuk menulis. Menulis sajalah, jangan pernah mengkategorikan tulisan seperti apa yang dihasilkan. Sejak itu saya tidak pernah lagi membatasi diri dalam menulis apa pun. Mengalir saja dan tunggu tulisannya jadi seperti apa. Menulis puisi saya masih lumayan bisa melakukannya. Menulis yang saya belum bisa lagi melakukannya adalah menulis prosa fiksi. Semoga dekat-dekat ini bisa diwujudkan walau hanya sebuah cerita pendek.

Saya juga senang sekali karena kemarin, setelah mencari-cari cukup lama, saya menemukan kembali puisi-puisi saya pada kurun waktu 2001 - 2002. Masa di mana saya cukup rajin menulis puisi dan puisinya sendiri, menurut saya, telah bermetamorfosis menjadi bukan lagi puisi cinta. Untuk sekenang kedar-kedaran bagi saya sendiri dan mungkin juga bermanfaat bagi teman-teman, inilah puisi-puisi lama itu:

Perdana
Tuhan telah mati dan bersemayam pada tanda-tanpa
katanya menjejak wajahku
Matahari tidak pernah kembali dan menyediakan apa pun pada pagi hari
katanya tanpa kompromi
Aku kembali hanyalah seorang narsis
yang tidak mungkin memulai sesuatu dengan berani
Aku hanya selalu ingin berkompromi

Tujuan : Solo, Suatu Ketika

I. Berangkat
Melihat layar kaca dan mempertanyakan adakah kesederhanaan
ketika seorang tokoh disembah bagai tuhan dan boneka-boneka bodoh menari dan menyanyi. "Inilah kami, hidup dan mati kalian."
mengoceh pada matahari
dan hanya mempertemukan pantulan-pantulan diriku sendiri
Aku bergerak dalam diam

II. Etnis
Memperbincangkan etnis dengan santun
seperti memakan roti tanpa mengunyah sementara berpura-pura lupa dengan ribuan nyawa yang hilang
Aku juga berbicara dengan santun
sambil mengunyah-ngunyah konflik etnis

III. Solo Balapan, Sore Hari
Pulanglah, biarkan cinta hadir sore ini
Lengas dan lelah
tanpa kesia-siaan
Aku ingin menunggangi jejak-jejakku sendiri
Aku lelah sayang,
hanya berteman bahkan hanya dengan setengah dari bayanganmu

IV. Semua Jalan ke Yogya
Kuyakinkan bahwa aku hanya debu di dunia yang fana ini
Apakah yang menjadi tua hanyalah kesetiaan pada konsep
di kepala menghablur dengan canda, kematian, dan asap
Semua jalan ke Yogya tertutup dengan duri
yang pernah ditaburkan oleh peri-peri berseragam
dan yang kita tuai sendiri
Semua jalan ke Yogya tertutup dengan kehampaan
bila aku tak bersenyawa dengan Prambanan
katanya, dunia seperti akan hancur
tetapi bukan aku
sebab aku telah menjadi debu ketika menuju ke Yogya

V. Esok
adalah percintaan antara roda besi dan rel kereta
yang mula-mula mati kemudian bersendawa
antara gelap-gulita dan terang-benderangnya
asa yang dikekang
dan praksis yang terbukti

(bersambung ke bagian dua)

Rabu, 06 Januari 2010

Menulis di Awal Tahun dan Awalnya Menulis


Sungguh menyenangkan mempunyai waktu untuk menulis. Saat menulis adalah waktu yang berkualitas bagi saya sekarang ini. Menulis juga bukan lagi suatu yang memberatkan seperti di masa lalu, bahkan menjadi “ritual” yang saya tunggu-tunggu setiap harinya.. Semoga ini awal yang bagus bagi aktivitas tulis-menulis saya di awal tahun seperti sekarang ini dan selanjutnya terus begini sepanjang tahun.

Saya mencoba mengingat-ingat kapan persisnya saya mulai senang menulis. Kesenangan itu dimulai dari situs blog bernama multiply. Inilah situs blog tempat saya pertama-kali membuka blog. Setelah itu saya memiliki beberapa blog tetapi sampai sekarang hanya dua yang bertahan, plus dengan “catatan” di Facebook. Dua blog itu adalah duniakreatif.multiply.com dan wisnumartha14.blogspot.com
. Isinya sih relatif sama walau saya sudah memikirkan untuk membedakan sedikit pesan yang hadir di kedua blog itu.

Saya mesti berterima-kasih pada istri saya yang mengenalkan, membukakan, serta mengingatkan password blog multiply saya pada tanggal 8 Agustus 2005. Dia juga-lah yang terus-menerus memberikan inspirasi untuk menulis, selain dia sendiri, bersama perempuan cantik yang satu lagi yang lebih kecil, yang menjadi inspirasi saya untuk apa pun. Pada awalnya saya memang tidak langsung rajin menulis. Banyak faktor yang membuatnya demikian. Tetapi karena sebuah peristiwa biasa di tahun 2007 saya jadi agak rajin menulis di blog. Peristiwa itu adalah "jatuh cinta" pada musik Indonesia. Rupanya moment itu tidak hanya membuat saya mencintai musik Indonesia, saya pun jadi lebih ingin memperdalam musik populer sebagai media. Kemudian hal tersebut kemudian menghubungkan dengan banyak hal lain yang saya sukai; bercerita tentang hal-hal tidak penting...hehe...

Multiply adalah awalnya. Hal ini saya pahami betul. Saya jadi senang menulis dan berkomunitas melalui blog ini. Saya jadi terinspirasi oleh tindakan sosial yang dilakukan oleh istri saya dan teman-temannya. Ada kegiatan menulis buku bersama-sama, kegiatan sosial, dan berkumpulnya mereka (bahasa kerennya kopdar) menjadi sarana untuk saling memahami pengalaman pihak lain. Aktivitas yang paling berkesan bagi saya adalah bagaimana istri saya dan teman-temannya turut membantu korban gempa, yang dibantu oleh media baru, termasuk blog di internet.

Ketika mulai menemukan “flow” menulis itulah, saya kemudian “menemukan” para pembelajar di jurusan
saya, Ilmu Komunikasi UGM, di multiply. Pertemuan yang tidak disengaja pada awalnya. Kini beberapa dari mereka sering berkomunikasi melalui tulisan, terutama di area yang paling saya suka, musik populer. Saya juga agak sering membaca tulisan-tulisan teman-teman pembelajar itu. Saya jadi sedikit memahami pengalaman otentik para pembelajar yang menjadi narablog di multiply. Kini menulis juga menjadi aktivitas bersama yang tambah mengasyikkan dan mencerahkan.

Tidak banyak hal lain yang saya harapkan, salah satunya adalah harapan saya untuk menulis dengan lebih baik di blog, di notes FB, atau di manapun wahana untuk menulis. Juga mendapatkan kawan lebih banyak lagi untuk menulis secara kolaboratif, baik di dalam proses maupun output-nya. Semoga semakin mewujud di tahun ini.

Senin, 04 Januari 2010

Perpisahan Itu Terkadang Indah


Perpisahan tidak selalu dimaknai sebagai sebuah kesedihan atau sesuatu yang membikin nelangsa. Begitulah yang termaknai dari album ini. Album ini adalah album yang indah dan menjadi penutup tahun 2009 yang juga relatif sempurna. Walau sepanjang tahun tidak berjalan mulus, setidaknya kita telah melewatinya. Bukankah begitu, teman?

Belakangan memang banyak muncul album musik yang bercerita. Cerita itu bisa cerita yang intelek semacam album Melacholic Bitch terakhir, atau cerita sehari-hari seperti yang ada di album ini. Intinya, berceritalah, jangan takut dianggap sepele ataupun banal. Toh, setiap cerita punya jiwa, setiap cerita memiliki pesannya sendiri sendiri. Lebih baik mendapatkan pengalaman otentik melalui cerita yang disampaikan seseorang daripada mendapatkan propaganda tentang kelebihan-kelebihan semu orang lainnya.

Cerita perpisahan di album ini sangatlah indah. Cerita dimulai dari putusnya sang tokoh dengan kekasihnya. Ini tercermin di lagu pertama “The Breakup”. Lagu-lagu selanjutnya bercerita tentang perpisahan tersebut, bagaimana sang tokoh berjuang melupakan kekasihnya. Usaha yang tidak mudah karena bahkan bau bantal pun memberikan kenangan ketika bersama…I’m sitting on…not because it’s comfy / it has your smell..

Setelah lima bulan sekali pun, sang tokoh masih merasa kekasihnya adalah segala-galanya. Cerita ini termaknai dari lagu “Everything”. Ia teringat ketika mereka tersenyum bersama. Sebenarnya berapa lama waktu yang diperlukan oleh seseorang untuk menyembuhkan rasa sakit atas kehilangan seseorang yang dicintai?

Walau sedih, sang tokoh ternyata tetap dapat bercanda, ia bercerita tentang kegusarannya atas gitar-gitar mantan kekasih (dalam lagu “ I Wish”). Lagu ini adalah titik balik bagi sang tokoh melupakan kehilangannya. Di lagu “Flood Song” ia sudah mulai menangkap keindahan dari kesendirian…I guess I’m enjoying this moment / write me a song, will ya…

Pada lagu “Uhh..Ahh” yang tanpa lirik, kita justru mendapatkan sang tokoh berbicara banyak. Ia mulai melupakan perpisahan itu. Sang tokoh mulai mendapatkan “pencerahan” dari perpisahannya…everything is just perfect the way it is / my heart sings…

Lalu masuklah kita pada lagu yang menjadi esensi dari album ini. Lagu “Good (for the Soul)” adalah inti dari cerita bahwa perpisahan itu terkadang indah dan berguna bagi jiwa. Bukankah hidup itu selalu dua sisi? Ada perpisahan, ada pertemuan. Belum lagi praksis di tengahnya. Warna mungkin hanya ada beberapa yang pokok, tetapi gradasinya, itu yang penuh dengan nuansa. Pada cerita “bonus” di lagu “Pillow St”, sang tokoh sudah melupakan mantan kekasihnya walau ia masih merindukannya.

Sungguh, perpisahan bisa bermakna indah dan juga membuat seseorang (atau sekelompok orang) menjadi kreatif, seperti halnya Andre Harihandoyo dan kawan-kawan ini. Album ini bukan hanya berguna bagi orang-orang yang sedang nelangsa karena perpisahan, bagi para pemusik atau siapa pun yang menulis teks mungkin juga berguna, yaitu bagaimana permasalahan sehari-hari, sederhana, dan tidak diinginkan, seperti perpisahan, dapat menjadi cerita yang bermakna dan indah.

Penyanyi : Andre Harihandoyo and Sonic People
Album : Good for the Soul
Tahun : 2009
Label : Demajors

Daftar lagu:
1. The Breakup
2. Justify
3. I’ll Wait for ou
4. Everything
5. Room for Everybody
6. I Wish
7. The Flood Song
8. Mr. Time
9. Uhh..Ahh..
10. Good (for my soul)
11. Pillow St.

Politik dalam Musik Populer


Saya mengakses album ini karena terkenang dengan masa lalu saya atas lagu-lagu Iwan Fals. Dalam ingatan samar-samar masa kecil saya, lagu-lagu Iwan Fals adalah salah satu musik Indonesia awal yang saya dengarkan, bersama lagu-lagu Ebiet G. Ade. Lagu-lagu itu adalah lagu “Guru Oemar Bakri” dan “Surat buat Wakil Rakyat”. Moment sore hari sehabis mendengarkan musik yang diputar ayah saya di tape deck, adalah moment yang luar biasa. Sungguh, saya merindukan keadaan itu. Keadaan mendengarkan musik bersama-sama dengan orang lain. Hanya mendengarkan dengan khusuk tanpa berbicara. Aktivitas yang juga saya dapatkan ketika SMA dan kuliah S1.

Keindahan aktivitas ini kira-kira setara ketika saya mendapatkan pencerahan dari membaca atawa diskusi. Keindahan yang sulit disampaikan dalam lisan maupun tulisan, tetapi nyata adanya. Keadaaan di mana kita merasa sangat dekat dan bahkan melebur di dalam teks. Keadaan ketika kita benar-benar ingin ”meneriakkan” hidup.

Hal lain yang juga saya ingat dari lagu-lagu Iwan Fals yang ada di album ini adalah pembelajaran politik. Saya ingat sekali bagaimana lagu “Surat buat Wakil Rakyat” memberitahu saya bahwa wakil rakyat itu seharusnya merakyat. Merakyat di sini tidak cuma membaur dengan rakyat, melainkan juga memperjuangkan kepentingan rakyat. Lagu ini terasa masih relevan sampai sekarang di mana kinerja wakil rakyat kita masih dikeluhkan karena mereka tidak menjalankan tugasnya dengan baik.

Sejak awal memang musik populer Indonesia sangat dengan “politik” seperti yang disampaikan oleh Krishna Sen dan David T. Hill dalam buku Media, Culture, and Politics in Indonesia (2000). Tidak hanya politik dalam arti formal tetapi juga politik dalam arti paling mendasar: menunjukkan eksistensi dan menyampaikan aspirasi (yang berbeda).

Iwan Fals sudah dikenal sebagai penyampai aspirasi yang berbeda itu lewat lagu-lagunya. Ia menyuarakan suara anak muda yang resah dengan keadaan di masa Orde Baru dulu. Coba kita ingat pada jaman Orde Baru, mungkin juga sampai sekarang, bila ada sekumpulan anak muda ”gitaran” di pinggir jalan, hampir dipastikan mereka akan menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals. Tidak heran rejim Soeharto sangat takut dengan “kekuatan” tersebut. Itulah sebabnya pentas panggungnya sempat dilarang pada saat itu. Stasiun-stasiun radio anak muda ”kota” juga ikut-ikutan tidak memutar lagu-lagu Iwan Fals.

Tentang musik populer yang menjadi cara penyampai visi politik bukan hanya milik Iwan Fals. Beberapa pemusik yang lebih muda juga demikian adanya. Slank adalah contohnya. Kita ingat tentunya beberapa tahun yang lalu lagu Slank “Gosip Jalanan” membuat resah pihak berkuasa karena sindiran di dalam lagu tersebut. Slank hampir saja dilaporkan ke polisi oleh pihak-pihak yang merasa disindir. Hal ini justru menunjukkan ada kebenaran di balik sentilan tersebut.

Musik populer juga beberapa kali menjadi obyek kekuasaan negara. Koes Plus misalnya, pernah dianggap melemahkan ideologi penguasa dengan memainkan musik “ngak ngik ngok” pada masa Orde Lama. Lagu-lagu “cengeng” pernah dicekal oleh menteri penerangan, Harmoko, pada masa Orde Baru karena dianggap menyebarkan hal negatif pada masyarakat. Jika tidak salah, pencekalan tersebut dipicu oleh populernya lagu “Hati yang Luka” yang dinyanyikan oleh Betharia Sonata.

Album ini bisa menjadi pembelajaran politik selain juga enak didengarkan. Kekurangannya, album ini sangat “jualan” dengan banyaknya informasi RBT yang mengganggu desain keseluruhan sampul. Informasi mengenai produksi lagu dan sumber album awalnya juga tidak ada. Album ini kurang informatif bagi pengamat dan penggemar musik yang tidak hanya ingin mendengarkan tetapi juga mendapatkan “sesuatu” dari album. Hal yang umum dalam album musik Indonesia. Padahal kita tahu, musik populer dan politik itu tidak bisa dipisahkan.

Penyanyi : Iwan Fals
Album : Tentang Politik
Tahun : 2009
Label : Arie Production
Harga : Rp. 35.000,-

Daftar lagu:
1. Manusia Setengah Dewa
2. Surat buat Wakil Rakyat
3. Politik Uang
4. Sumbang
5. Buktikan
6. Negara
7. Dan Orde Paling Baru
8. Untukmu Negeri
9. Rubah
10. Belalang Tua
11. Siang Seberang Istana
12. Dendam Damai
13. Asyik Nggak Asyik

Minggu, 03 Januari 2010

Dicari: Televisi Peduli Anak


Ada yang ingat atau tahu dengan nama Heri Setyawan? mungkin hanya sedikit dari kita yang tahu. Heri Setyawan, 12 tahun, adalah pelajar kelas I SMP. Namanya tidak seterkenal Prita Mulyasari dan Luna Maya, dua orang yang menjadi korban dan hampir menjadi "martir" dari UU ITE yang “katro” itu. Nama Heri juga tidak sepenting nama presiden kita yang cengeng, yang sedikit sedikit mengeluh dan mengadu pada rakyatnya. Semestinya pemimpinlah yang menjadi tempat mengadu rakyatnya. Bukan sebaliknya. Walau nama Heri Setyawan tidak begitu terkenal bila dibandingkan dengan Prita, Luna Maya, dan nama presiden kita, tetapi nama Heri bisa menjadi penting bila kita menjadikannya sebagai tonggak pembenahan televisi (swasta) kita. Peristiwa yang berkaitan dengan Hery Setyawan adalah salah satu peristiwa media pada bulan Desember lalu yang menarik untuk didedah.

Heri Setyawan adalah korban terkini dari tayangan televisi. Berdasarkan keterangan polisi, Heri tewas karena kecelakaan yang terjadi akibat menirukan aksi Limbad. Limbad adalah bintang acara The Master, acara kompetisi para pesulap profesional di salah satu stasiun televisi, RCTI. Pada berbagai aksinya, Limbad sering melakukan atraksi yang spektakuler dan membahayakan. Walau lebih banyak muncul pada malam hari di atas pukul 22.00 WIB, Limbad juga hadir sebagai bintang tamu pada program acara di waktu yang mudah diakses oleh anak-anak walau pada pukul 22.00 ke atas pun anak-anak masih mungkin menonton bila orang-tua yang seharusnya bertanggung-jawab tidak mengawasi.

Heri Setyawan adalah korban anak-anak kesekian sebagai akibat tayangan televisi yang tidak “sehat” bagi mereka. Belum lekang dalam ingatan kita, bagaimana acara Smackdown pada tahun 2004 dikecam habis-habisan oleh masyarakat karena menimbulkan korban jiwa dan luka-luka anak-anak yang tidak berdosa. Acara tersebut akhirnya dihentikan penayangannya setelah beberapa kali mengabaikan peringatan dari pihak berwenang.

Korban anak-anak ini adalah korban yang “riil”, artinya korban yang terluka ataupun meninggal dunia. Bagaimana dengan korban yang tidak riil? Misalnya anak-anak korban acara ngerjain beberapa tahun
yang lalu, anak yang depresi karena dikerjain membawa narkoba ke sekolah. Atau bagaimana anak-anak yang “dipaksa” menyanyikan lagu-lagu dewasa pada kontes menyanyi lagu anak-anak? Efek negatifnya mungkin tidak terlihat secara langsung tetapi berpengaruh secara psikis dan dalam waktu yang lebih panjang.

Biasanya, bila sudah timbul korban seperti ini, tidak ada pihak yang mau disalahkan atau bila tidak, berbagai pihak yang seharusnya bertanggung-jawab malah saling menyalahkan satu sama lain. Pihak RCTI misalnya, seperti diberitakan oleh Koran Tempo tanggal 17 Desember 2009, tidak ingin disalahkan karena telah mengklasifikasikan acara the Master sebagai tayangan untuk dewasa dan ditayangkan di atas pukul 22.00. seharusnya, pihak stasiun televisi juga mengawasi tayangannya dengan ketat dan jangan sampai tayangan yang tidak sesuai untuk anak-anak “merembes” ke mana-mana.

Pemerintah, seperti biasanya, tidak terdengar di dalam kasus meninggalnya Heri. Padahal untuk kasus yang lain, misalnya pelarangan buku, pemerintah terlampau cepat “bertindak” dan mengklasifikasikan buku yang dilarang sebagai hal yang berpotensi mengganggu ketertiban umum. Seharusnya pihak pemerintah membantu pihak berwenang lain, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), untuk mengawasi siaran televisi yang tidak sesuai untuk anak-anak dengan mensinergikan pengawasan tersebut pada pihak berwenang, semisal bidang pendidikan dan bidang budaya.

Pemerintah dan lembaga negara atau masyarakat sipil yang mewakili kepentingan publik juga mesti memperhatikan “tayangan” pesan media yang lain, tidak hanya televisi. Kasus munculnya korban dari Smackdown dulu sebenarnya juga dipengaruhi oleh game konsol Smackdown yang mudah didapatkan dan dimainkan di rumah atau pun di arena bermain. Demikian juga pesan media yang lain. Perhatian harus terus ada walau hampir tidak mungkin mengawasi keseluruhan pesan media mengingat perkembangan teknologi komunikasi yang demikian canggih dan cepat.

Negara juga bisa merevitalisasi lembaga penyiaran publik yang telah digagas sejak tahun 2002. Bila memang “mendisiplinkan” televisi swasta begitu sulitnya, model penyiaran alternatif bisa dikembangkan, yaitu penyiaran publik dan juga penyiaran komunitas. Negara, atau pemerintah dalam skup lebih kecil, bisa memfasilitasi produksi pesan audio visual seperti pada masa lalu di mana fasilitasi oleh negara menghasilkan program acara bagus seperti Aku Cinta Indonesia,Si Unyil, Losmen, Jendela Rumah Kita dan Rumah Masa Depan.

Pihak yang paling berkaitan dengan anak-anak adalah pihak yang paling penting. Siapa mereka? Mereka adalah orang dewasa yang ada di masyarakat. Tidak hanya orang tua, tetapi juga seluruh warga dewasa dalam sekelompok masyarakat. Di sekolah misalnya, kelompok manusia dewasa itu adalah guru. Guru bisa memberikan pemahaman tentang televisi yang sebenarnya pada peserta didik, sekaligus menggunakannya sebagai media pembelajaran. Di rumah, kelompok dewasa itu antara lain adalah orang-tua. Orang tua harus memperhatikan tayangan televisi untuk anaknya. Seperti halnya konsumsi makanan, “konsumsi” tayangan televisi pun seharusnya diatur dan diawasi oleh orang tua.

Komisi Penyiaran Indonesia juga wajib memberikan peringatan dan pengawasan terus-menerus agar stasiun televisi tidak terlalu lepas tangan terhadap tayangannya sendiri walau hal ini sulit. Ada banyak kejadian yang menunjukkan bagaimana stasiun televisi di Indonesia bisa seenaknya dan tidak mengindahkan aturan yang berlaku. Bukti yang terakhir adalah pihak stasiun televisi yang belum sepenuhnya mau bersinergi dengan pihak lokal padahal sudah diamanatkan oleh UU no 32 tentang Penyiaran sejak tahun 2002 dan seharusnya sudah diterapkan pada tahun 2007.

Orang tua wajib menemani anak-anak yang belum mengerti ketika menonton selain juga membatasi durasi waktu menonton. Bila orang tua tidak dapat melakukannya karena berbagai hal, terutama karena bekerja, orang tua dapat menitipkan anaknya pada orang dewasa lain di rumah untuk menemani anak-anak menonton televisi.

Para orang tua dalam sebuah komunitas juga sebaiknya saling berbagi mengenai tayangan televisi. Hal ini mesti dilakukan karena tingkat literasi media untuk para orang tua pun berbeda-beda, ada orang tua yang paham tetapi juga ada yang tidak. Ada orang tua yang tidak peduli dengan dampak tayangan televisi dan orang tua yang peduli haruslah mengingatkannya.

Bila sudah demikian, berarti kita menempatkan tayangan televisi sebagai kepentingan bersama. Bila banyak kelompok masyarakat sudah sadar akan arti televisi yang sehat bagi anak-anak, mereka akan memiliki keinginan dan “kekuatan” untuk memberi masukan kepada pihak penyelenggara siaran televisi. Setahu saya, sudah banyak elemen masyarakat sipil yang bergerak di bidang literasi media secara umum dan juga secara khusus, gerakan penyadaran media peduli anak. Yogyakarta misalnya, memiliki sekitar sepuluh organisasi masyarakat sipil yang peduli pada peningkatan pemahaman terhadap media.

Kasus ini adalah tonggak kita sebagai bangsa untuk membenahi (lagi) tayangan televisi kita yang cenderung melupakan peran pentingnya bagi masyarakat. Jangan sampai ada Heri yang lain, anak-anak korban tayangan televisi yang tidak sesuai bagi mereka.

Sebab, bagaimana pun juga, televisi Indonesia mungkin memiliki potensi bagi kemajuan bangsa ini…

Sebab, anak-anak pasti adalah elemen terpenting bagi bangsa ini di masa mendatang….

Menulis: Sebuah Janji di Awal Tahun

Tahun 2010 sudah memasuki hari ketiga dan saya belum menghasilkan satu pun tulisan. Tidak terlalu penting juga sih...walau demikian saya harus berpegang pada janji personal saya sendiri, yaitu menulis minimal satu tulisan per hari. Kalau pun sampai hari ini belum ada tulisan juga, saya bisa menggenapinya agar di akhir bulan jumlah tulisan saya berjumlah sesuai jumlah hari.

Selain menulis minimal satu tulisan per hari, saya juga harus lebih seksama mencatat berbagai hal mulai sekarang. Terus terang, saya iri dengan rekan-rekan yang di akhir tahun mampu kembali mereview hal-hal yang pernah dituliskannya, misalnya: hal-hal terbaik atau terburuk yang didapatkan selama setahun. Ada yang menulis album terbaik yang didengar selama setahun. Ada yang menulis tentang tempat-tempat terbaik, serta buku-buku terbaik yang dibaca dalam waktu setahun.

Saya juga akan berusaha menulis dengan lebih baik. Saya merasa tulisan-tulisan saya belumlah mendalam. Beberapa tulisan malah logika mendasarnya tidak cukup kuat. Tentu saja dengan latihan habis-habisan dan menyelami dunia penulisan lebih mendalam dan penuh penjiwaan, saya akan dapat lebih baik lagi.

Mulai detik ini saya hanya berjanji pada diri sendiri untuk lebih baik lagi dalam menulis....

Jumat, 01 Januari 2010

Dicari: Tokoh Pluralis dan Penggemar Sepakbola seperti Gus Dur

Di akhir tahun ini kita dikejutkan dengan meninggalnya salah satu mantan presiden dan seorang tokoh besar bangsa ini pasca Kemerdekaan. Terus terang, perasaan kehilangan itu tidak sangat mendalam ketika pertama kali mengetahui kabar meninggalnya beliau dari berbagai status teman-teman di Facebook, tetapi setelah saya rasakan dan pikir-pikir, perasaan kehilangan itu mulai membesar, menurut saya hampir tidak ada tokoh seperti Gus Dur. Status seorang teman yang berpuisi, kira-kira begini bunyinya:...siapa lagi yang menjadi penyaksi? adalah gambaran yang paling tepat bagaimana Gus Dur menjadi "penyampai" atau penyaksi dari pihak-pihak yang ditindas dan dilemahkan.

Saya bukan pengagum berat Gus Dur. Saya kagum dengan banyak tokoh besar negeri hebat ini. Saya hanya orang yang melihat bahwa posisi Gus Dur itu unik. Di satu sisi, dia itu "wakil" dari salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, yang sebenarnya berpotensi mendominasi dan menghegemoni, namun di sisi yang lain, Gus Dur memilih secara konsisten membela pihak yang dimarjinalkan oleh kekuasaan.
Sudah banyak kisah dirinya berdiri paling depan membela "hak hidup" kelompok lain. Bagi saya, Gus Dur lebih baik dibandingkan dengan tokoh yang berbicara tentang demokrasi dan pluralisme tetapi secara sadar ataupun tidak, tidak mengakui "hak hidup" kelompok lain dan selalu berusaha mendominasi dan menghegemoni kelompok-kelompok lain tersebut.

Tak heran Gus Dur disebut sebagai bapak pluralisme. "Gelar" yang berupa pujian yang semakin mengemuka untuk disematkan setelah beliau meninggal dunia kemarin. Mengenang Gus Dur saya jadi terkenang juga dengan riset yang saya lakukan sekitar tahun 1999-2000 tentang relasi kelompok Tionghoa dengan "pribumi" di Solo dan Pontianak. Salah satu narasumber bercerita bagaimana Gus Dur selalu mendukung pengakuan eksistensi kelompok Tionghoa yang beragama Konghucu walau pemerintah Orde Baru tidak mengakui etnis Tionghoa. Sikap itu terus ditunjukkannya sampai ia menjadi presiden RI.

Pelajarannya adalah sikap yang tidak berubah ketika "berkuasa" sedikit dan berkuasa besar sebagai presiden. Sikapnya yang mendukung etnis Tionghoa tidak berubah ketika ia menjadi presiden. Hal ini berbeda dengan politisi jaman sekarang, yang berusaha mencari simpati masyarakat ketika mencari kekuasaan dan langsung melupakannya justru ketika telah mendapatkan kekuasaan tersebut.

Membicarakan Gus Dur juga berarti kita membicarakan sepakbola. Tahun depan kita tidak lagi mendapatkan komentar bernas dan nyeleneh Gus Dur tentang Piala Dunia. Walau komentar-komentarnya tentang sepakbola sudah tidak sederas dulu, masyarakat Indonesia mengenangnya sebagai pengamat sepakbola yang bagus. Gus Dur merupakan kolumnis sepakbola di tabloid olahraga terkemuka, Bola, pada masa lalu.

Kesukaan Gus Dur atas sepakbola merupakan cerminan dari kesukaan mayoritas lelaki negeri ini yang menyukai pula sepakbola. Bagaimana pun juga hal tersebut merupakan cara yang tepat untuk dekat dengan kebanyakan manusia negeri ini. Kombinasi sebagai penggemar sepakbola yang populis dan pergaulannya yang luas mungkin sekali menjadikan Gus Dur mudah merasakan "kegelisahan" masyarakat.

Saya kira kita memang membutuhkan tokoh lagi (nantinya) yang benar-benar memiliki visi keberagaman sebagai tindakan riil dan juga sebagai penggemar sepakbola, untuk mempermudah dirinya menangkap hal-hal "populis".

Satu lagi yang saya ingat dari Gus Dur adalah ketika beliau mundur sebagai presiden di tengah masa jabatannya, Gus Dur melambaikan tangan dari pintu istana dengan menggunakan piyama bercelana pendek. Dari telaah komunikasi politik apa pun, tindakan itu tidak mungkin dianggap sebagai langkah yang tepat. Dulu saya membayangkannya sebagai hal yang aneh, yang juga dilakukan oleh orang "unik", tetapi kini saya berpikir bahwa bisa saja Gus Dur menganggap posisi presiden ini hal yang biasa saja. Eksistensi Gus Dur memang seringkali bertentangan dengan pola pikir banyak orang. Saya juga kemudian berpikir, dulu Gus Dur "diturunkan" dari posisi sebagai presiden karena masalah yang belum jelas dan penuh rekayasa. Setahu saya, tidak pernah ada "rehabilitasi" nama Gus Dur karena tuduhan itu tidak pernah terbukti.

Suara kembang api dan petasan berbunyi lumayan keras sebagai tanda bergantinya tahun. Bagi saya, pergantian tahun tidak spesial-spesial amat, hanya suasananya memang lebih ramai. Hal yang spesial bagi saya, dan mungkin bagi banyak orang Indonesia, adalah "memiliki" Gus Dur. Gus Dur, selamat jalan dan terima kasih atas visi plural dan populis yang telah kau tunjukkan secara konsisten selama kau hidup...

Sayang, kematian tidak senang bercanda seperti dirimu...
Sayang, cita-cita besarmu tidak seperti kapur barus yang menghablur dan cepat tersebar karena kami sepertinya kembali ke arah otoritarianisme...

Kami akan berusaha optimis...

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...