Selasa, 12 Januari 2010

Komunikasi Politik (Seri Belajar)


Sebulan ini ada tugas untuk saya, yaitu menyusun review literatur untuk riset yang akan saya lakukan. Cukup berat karena saya kembali diharuskan menenggelamkan diri ke dalam referensi dengan sangat intens. “ Pekerjaan” yang di tahun-tahun belakangan ini jarang saya lakukan. Bila menekuni konsep pun, saya belum lagi melakukannya dengan intens kecuali untuk keperluan bidang studi saya. Ada beberapa moment saya merasa tekun dalam membahas sebuah konsep tetapi saya tetap merasa belum maksimal. Bila diberi skala satu sampai sepuluh, saya harus mencapai angka minimal sembilan.

Belakangan ini angka saya itu paling banter baru mencapai delapan. Sementara itu, konsep yang saya review kali ini sedikit keluar dari wilayah ilmu komunikasi. Saya belajar ilmu politik dan mesti merumuskan komunikasi politik bukan dari ilmu komunikasi walau dalam ilmu sosial dan humaniora pembatasnya sudah melebur belakangan ini.

Ternyata tugas ini menjadi tugas yang lumayan berat. Review literatur sulit saya selesaikan dengan bagus karena godaan-godaan yang hadir. Ada tiga novel dan satu memoar Haruki Murakami yang baru saya koleksi, ada sekian album Indonesia baru, dan ada beberapa tugas menulis buku dan artikel. Tetapi seharusnya saya bisa menyelesaikan telaah literatur itu dengan baik. Saya tidak boleh tidak serius karena bagaimana pun juga ini adalah kewajiban saya dan biaya sekolah saya ini pun berasal dari dana masyarakat.

Untuk sedikit meredakan perasaan gundah saya, saya akan sedikit mendedah konsep komunikasi politik. Saya akan berusaha mendiskusikannya dengan menggunakan tipologi yang disampaikan oleh Eric Louw. Definisi komunikasi politik yang diklasifikasikan dalam tiga wilayah ini dikutip dari buku Louw yang berjudul “The Media and Political Process” yang diterbitkan pada tahun 2005.

Kita memahami dengan singkat bahwa komunikasi politik adalah “proses komunikasi yang berdampak politik”. Lalu ada di mana level proses komunikasi politik ketika berlangsung? Proses komunikasi yang berdampak politik memiliki pengertian bahwa komunikasi politik selalu berkaitan dengan kepentingan dan kekuasaan antara aktor-aktor politik, media dan masyarakat. Walau proses komunikasi politik bisa terjadi tanpa melibatkan media, di era seperti sekarang ini hampir tidak mungkin memisahkan media dalam realitas politik.

Salah satu pengamat kajian komunikasi politik yang layak diangkat adalah Eric Louw (bukan Eric Lo yang juga cendekia komunikasi tetapi lebih mendalami cultural studies. Saya pernah bermasalah karena pernah dianggap “salah” memilih calon promotor ke Eric Lo bukan Eric Louw). Louw melihat bahwa proses komunikasi yang berdampak politik ini ada di tiga dimensi yaitu policy, process management, dan hype. Ketiga dimensi tersebut dibedakan lagi berdasarkan tiga indikator, yaitu “pihak penggerak”, output, dan lokasi proses. Dimensi “kebijakan” lebih terlihat di wilayah politik “elit” di mana tujuan utamanya untuk menyampaikan pesan politik.

Pihak penggerak komunikasi politik dalam dimensi ini terutama adalah aktor-aktor politik “resmi”, antara lain eksekutif, menteri dan pejabat di bawahnya, staf pengambil kebijakan, dan seterusnya. Output proses komunikasi politik di wilayah ini disebut sebagai output yang “substantif”, misalnya hukum dan informasi politik untuk masyarakat. Sementara proses komunikasi politik dimensi kebijakan ini berlokasi antara lain di parlemen, birokrasi, dan pengadilan.

Dimensi kedua, “manajemen proses”, seperti halnya dimensi pertama, adalah juga politik “elit” yang bertujuan pada distribusi perencanaan dan kinerja (politik). Penggerak proses komunikasi politik dalam dimensi ini adalah para negosiator, perencana komunikasi di dalam partai politik, intelektual yang “bekerja” pada aktor tertentu, dan seterusnya.

Sementara outputnya adalah “ideologi” dan kepercayaan politik tertentu, identitas “politik”, strategi untuk kebijakan dan hype, serta merelasikan keduanya. Komunikasi politik di dalam dimensi ini cenderung sulit dilacak di Indonesia karena biasanya berlokasi di “balik layar” dari politik elit, termasuk “kerjasama” elit dengan media.

Dimensi terakhir adalah hype. Sengaja tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena ada banyak makna di dalam dimensi ini. Dimensi ini lebih memudahkan kita mengamati dan melacak proses komunikasi politik karena terjadi di wilayah politik “massa” yang bertujuan membuat imaji untuk “dikonsumsi” oleh masyarakat, terutama pemilih.

Pihak penggerak di dalam dimensi ini adalah jurnalis, industri budaya, peneliti polling, dan pengamat (politik), serta komentator politik di media. Bisa dikatakan pihak penggerak ini relatif mudah diamati walaupun tetap ada pula yang “tersembunyi”. Output dari komunikasi politik jenis ini adalah politisi sebagai selebriti, identitas untuk disampaikan pada masyarakat, propaganda ideologi dan kepercayaan politik, artikulasi kepentingan, legitimasi, dan pengalih-perhatian (bila diperlukan). Lokasi dari proses komunikasi politik ini berada di dalam industri budaya dan media “massa” yang memang ditujukan pada masyarakat luas untuk mencari dukungan, baik itu imaji positif maupun tindakan secara riil, memilih, dalam pemilihan.

Demikianlah salah satu telaah tentang konsep komunikasi politik dari satu sumber. Tentu saja masih banyak sumber lain yang bisa dipelajari untuk memahami fenomena komunikasi politik, terutama komunikasi politik di Indonesia, yang kini menjadi kajian menarik dan menjadi perhatian banyak orang. Bukankah cara terbaik untuk “terjun” meneliti atau pun bekerja di dalamnya, adalah terlebih dahulu melihat dan mengamati fenomena dengan sebaik-baiknya?

Senin, 11 Januari 2010

Musik yang Merasuki Jiwa - Review Album Rasuk oleh The Trees and The Wild (2009)


Judul album ini sesuai dengan pengaruh musiknya pada diri kita: merasuki jiwa! Musik yang mengalir, menghantui, dan membuat kita bersyukur bisa melewati hari dengan berani. Kalimat pembuka inilah yang layak disematkan pada album bagus ini. Tiada kata lain bila mesti diringkas: hebat!

Saya sendiri sebenarnya hampir luput dalam mengakses album ini. Di akhir tahun kemarin, bulan lalu, saya tidak menemukan album musik Indonesia yang dapat saya akses. Ada satu album yang saya dengarkan dan saya kecewa sekali. Untungnya ada album ini dan album Risky Summerbee & The Honeythief, “The Place I Wanna Go”.

Keduanya segera saya akses dan saya pun teringat bahwa saya membaca di suatu media, entah media apa, yang mereview kedua album tersebut adalah album yang bagus. Ternyata informasi tersebut benar adanya. Kedua album ini bagus dan terutama album “Rasuk” ini. Saya jadi semakin mencintai musik Indonesia. Dan lebih menggembirakan lagi, album bagus seperti ini tidak hanya ada satu.
Album ini mengajak kita memasuki musik yang kaya dan indah. Album dibuka oleh lagu “Verdure” yang misterius dan pendek durasinya. Lagu yang menjadi pengantar bagus untuk keseluruhannya, agar kita “tercebur” dengan elegan ke dalam albumnya. Ini dibuktikan dengan lagu kedua, “Honeymoon on Ice”, yang langsung menghentak dan mengajak kita ikut berteriak.

“Malino” sedikit bernapaskan jazz dan sayang saya tidak bisa menangkap makna liriknya dengan baik. Lagu “Our Roots” sama manisnya. Petikan gitar bersama suara indah vokalisnya, Remedy Waloni, bercampur mengucap kata…merasuk…yang menjadi esensi dari album ini. Pada “Noble Savage” saya teringat lagu-lagu awal John Mayer apalagi suara vokalis band ini memang terdengar mirip.
Lalu sampailah pada lagu favorit saya di album ini, “Derau dan Kesalahan”. Judulnya pun sudah membuat saya tertarik. Dua kata yang tidak umum digunakan bersamaan. Apakah lagu ini tentang penyesalan?

Satu hal yang saya tahu pasti dari lagu ini jika band ini tidak terlalu suka dengan kata. Mungkin itu sebabnya kebanyakan lagu lebih mengutamakan musik dan tidak ada lirik yang disertakan di album ini. “Fight the Future” dan “Kata” adalah dua lagu yang menunjukkan bahwa album ini dipersiapkan dengan sangat baik. Kualitas semua lagu yang terjaga menghasilkan keutuhan album yang solid.

Kejutan lain juga diberikan oleh album ini. Hidden track yang tersembunyi “mengejutkan” kita sebagaimana layaknya hidden track. Lagu tersembunyi ini berbincang tentang keabadian…selamanya / selamanya…begitu yang terus-menerus terdengar. Dan, menurut saya, album ini telah mengayunkan sedikit langkahnya pada keabadian.

Desain album ini juga layak masuk dalam jajaran desain album terbaik tahun 2009 (bila ada). Kita dimanjakan dengan keindahan grafis dan jualan RBT tidak diberi kesempatan untuk merusak keseluruhan desain sampul. Kita dapat menyerap keindahan setiap ilustrasi di sampul album ini. Walau demikian, tetap ada jualan RBT tetapi ada di bagian yang berbeda dari sampul album sehingga tidak mengganggu konsep dan keindahan keseluruhan. Hal yang terbaik memang mencari “adonan” pas untuk kepentingan ekonomi dan kepentingan kualitas. Musik yang “megah” untuk didengar dan sampul album yang indah untuk dipandang-pandang adalah kombinasi yang maut dari album ini. Ciamik nian!

Penyanyi : The Trees & The Wild
Album : Rasuk
Tahun : 2009
Label : Hello Media

Daftar lagu:
1. Verdure
2. Honeymoon on Ice
3. Irish Girl
4. Malino
5. Our Roots
6. Berlin
7. The Noble Savage
8. Derau dan Kesalahan
9. Fight the Future
10. Kata
11. Hidden Track

Sabtu, 09 Januari 2010

Polysemia Itu Bermakna Keindahan (dan Juga Kerja Keras)






Setiap Sabtu pagi, seperti biasa saya ada di sebuah tempat yang selalu membuat saya antuasias untuk berdiskusi. Tempat itu bernama PKMBP, Pusat Kajian Media dan Budaya Populer, yang resmi berdiri tahun 2005 walau embrio-nya sudah ada sejak tiga tahun sebelumnya. Tempat di mana saya menemukan forum diskusi yang sebenarnya. PKMBP saya dirikan bersama lima orang teman lain dan di dalam perjalanannya merupakan tempat bagi rekan-rekan yang ingin menemukan forum diskusi dan riset. Ada beberapa teman yang sudah pergi, juga ada teman-teman yang masih berjibaku untuk mewujudkan demokrasi melalui kemerdekaan bermedia dan literasi media.

Membicarakan PKMBP saya juga teringat dengan sebuah pidato pengukuhan guru besar. Bulan lalu, tepatnya tanggal 21 Desember 2009, saya menghadiri pidato pengukuhan guru besar dekan saya, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc. Pengukuhan itu, selain merupakan pengakuan kemampuan akademis beliau, juga menunjukkan betapa dekan saya itu memiliki jaringan sosial yang luas. Satu inspirasi lagi bagi saya adalah rekam jejak aktivitas beliau.

Salah satu yang menarik adalah ia pernah aktif di sebuah organisasi masyarakat sipil terkemuka di Yogyakarta. Ini menunjukkan pada saya bahwa aktivitas sebagai akademisi dan “aktivis” adalah aktivitas yang saling mendukung, dan tidak bertentangan satu sama lain. Pak Tik, begitu kami memanggilnya, telah memberikan inspirasi bagi saya dengan caranya sendiri. Saya menjadi semakin yakin dengan aktivitas yang saya lakukan. Saya juga pernah membaca ada seorang guru besar dari bidang pertanian UGM yang membidani lahirnya sekitar 30 LSM atau OMS (Organisasi Masyarakat Sipil) walau tidak ada informasi apakah ia aktif terlibat dalam semua aktivitas tersebut.

Saat ini kami sedang merumuskan kembali media kami, yang bernama Polysemia. Newsletter kami ini sudah dua tahun lebih tidak terbit dan kini kami berusaha merumuskan media yang semoga lebih mendalam dan bagus. Kami sedang berusaha. Saya jadi tertarik membahas kembali media kami ini.

Apa itu polysemia? Nama ini berarti “the quality of having multiple meanings at the same time”. Teks yang seperti ini disebut “polysemik”. Nama tersebut saya ambil dari buku Jonathan Bignell (2004), yang berjudul “An Introduction to Television Studies”. Nama ini, walaupun agak susah dan sulit dihapalkan, tetaplah nama pilihan terbaik dan menyampaikan makna yang mirip dengan lembaga yang menerbitkannya.

Newsletter adalah salah satu media yang kami susun bersama. Kami juga berusaha secara rutin, minimal setahun sekali, menerbitkan buku. Di sinilah saya benar-benar percaya dengan kecerdasan kolektif, dan bahwa bekerja sendirian, walau bagaimana pun, tidak akan berdampak besar, sebesar bekerja kolaboratif.

Sudah lima buku yang kami tulis dan hal yang paling membahagiakan adalah hasil pemikiran di buku itu membantu pihak lain. Saya sangat senang ketika ada rekan dari Medan yang mengatakan bahwa buku pertama kami sangat membantu dirinya. Juga seseorang yang menyusun tesis berdasarkan buku kami.

Kami memiliki konvensi bahwa secara bergantian kami akan menjadi editor. Itu sudah terwujud di mana empat dari kami sudah pernah menjadi editor. Rekan yang “belum” menjadi editor adalah Iwan Awaluddin. Ia sedang mengedit buku tentang literasi media. Semoga segera terbit tidak terlalu lama lagi.

Inilah buku-buku yang sudah kami terbitkan:

1. Menyingkap Profesionalisme Kinerja Surat Kabar di Indonesia (ISBN 979 – 3333 – 83 – 5) oleh Rahayu (editor) diterbitkan Januari 2006.

2. Riset Audiens dalam Kajian Komunikasi (ISBN 978 – 979 – 16770 – 0 -4) oleh Puji Rianto (editor) diterbitkan April 2008.

3. Metodologi Riset Komunikasi: Panduan untuk Melaksanakan Penelitian Komunikasi (ISBN 978 – 979 – 16770 – 1 -1) oleh Pitra Narendra (editor) diterbitkan Juni 2008.

4. Berkawan dengan Media: Literasi Media untuk Praktisi Humas (ISBN 978 – 979 – 16770 – 2 - 8) oleh Wisnu Martha Adiputra (editor) diterbitkan Februari 2009.

5. Publik untuk Publik: Analisis Siaran Berita RRI Pro3 selama Kampanye Pemilu Legislatif 2009 (ISBN 978 – 979 – 16770 – 3 – 5) oleh Puji Rianto, Iwan Awaluddin, dan Wisnu Martha Adiputra, diterbitkan Agustus 2009.

Sementara itu, buku tentang literasi media dan buku “Publik untuk Publik” part 2, atau berjudul “Publik Menyapa” sedang “digoreng”. Kami berharap akan bisa terbit tidak terlalu lama lagi. Walau demikian, ada satu hal yang mengganjal, naskah untuk Polysemia edisi baru belum ada yang mengumpulkan…saya harap teman-teman yang saya tag mengumpulkannya paling lambat tiga hari ke depan.

Nah, itulah sedikit cerita tentang PKMBP dan juga Polysemia, semoga lembaga ini semakin maju dan terus berkontribusi lebih baik lagi di tengah-tengah masyarakat sesuai visi yang sudah disusun bersama….

Semoga kami semakin konsisten bekerja keras untuk terus “berjuang” atas nama kebebasan bermedia dan kecakapan bermedia untuk demokrasi!

Keren atau Tidak Keren, Bukan Itu Esensinya (Review atas Album Janji Pasti (2009) oleh The Banery)


Ada bedanya band yang benar-benar keren dengan band yang ingin terlihat keren. Keren itu menyatu dengan musik dan semangat yang mereka bawa. Sementara, ingin atau bertingkah keren adalah beragam cara yang digunakan untuk dianggap keren padahal esensi utamanya belumlah didapatkan.

Itulah yang saya dapatkan ketika mendengarkan album ini. Band ini terlihat sekali ingin dianggap keren tetapi sebenarnya tidak keren-keren amat. Aksi panggungnya memang sepintas terlihat seru. Paling tidak, itulah yang saya lihat pertama-kali lewat iklan kompetisi band indie di layar televisi. Kelihatannya di iklan itu band ini keren sekali. Imaji di televisi memang bisa menipu dan tidak lengkap.

Hadirnya simbol dasi kupu-kupu juga tidak jelas untuk apa. Semua penyanyinya menggunakan dasi kupu-kupu warna-warni, dan tetap tidak tertangkap simbolnya. Bonus stiker dasi kupu-kupu di CD-nya juga tidak jelas maksudnya walau bagi anak saya tetap berguna karena menambah koleksi stikernya. Stiker dasi kupu-kupu itu menjadi pelengkap dari kumpulan stiker lain, antara lain Strawberry Shortcake, Backyardigan, dan Sesame Street. Bila saya bandingkan dengan bonus stiker oleh Monkey the Millionaire, stiker topeng monyetnya lebih bermakna dan “berguna” karena dekat dengan musik dan lirik yang disampaikan.

Musik di album ini juga bukan sesuatu yang baru. Di Indonesia mungkin sedikit baru. Musik yang mirip-mirip Weezer seperti ini sudah cukup banyak hadir dalam musik Indonesia. Bukan nuansa Weezer sepenuhnya sih…ada tampilan musik tiup di situ. Apalagi liriknya, bicara hal-hal yang kelewat umum saya kira.

Di awal album kita disambut oleh lagu tentang Tuhan yang seperti biasa menjadi sumber ilham bagi kebanyakan pemusik Indonesia walau tidak ada hal baru yang disampaikan. Tuhan memang hadir begitu gamblang di dalam kehidupan kita sampai-sampai kita kurang mengapresiasi-Nya.

Lagu “Cemburuisme” agak bernuansa dangdut dan kata-kata di dalam liriknya cenderung kasar. Lagu ketiga di dalam album ini, yang juga berjudul sama dengan albumnya, sedikit lebih bagus dari dua lagu sebelumnya. Harmonisasi vokal yang hadir memang benar-benar mengingatkan saya pada Rivers Cuomo dan kawan-kawan.

Track lain yang bisa dibahas adalah “Romee”. Lagu ini jadi mengingatkan saya dengan sebagian masyarakat kita yang sering menghina orang yang depresi atau stress. Bukannya membantu orang tersebut, sebagian orang cenderung “menghinanya”. Coba amati penggunaan kata autis yang berlebihan dan bernada menghina di masyarakat kita, padahal sudah ada konvensi bahwa kata tersebut tidak boleh digunakan untuk memberi label negatif.

Lagu yang paling menarik menurut saya adalah “So Sad”. Lagu ringan yang enak didengar walau tidak ada hal yang baru di dalam liriknya. Album ini juga diakhiri oleh lagu yang ditujukan pada pihak (orang) ketiga seperti lagu pembukanya. Lagu terakhir ini lumayan enak untuk didengar-dengar sepintas.

Dan bagi saya, yang paling menyebalkan adalah kehadiran lagu bonus atawa hidden track di album ini. Biasanya hidden track itu menyuguhkan “kejutan”. Saya jadi ingat album Manic Street Preachers yang memiliki hidden track, lagu keren bertajuk “We are All Bourgeois Now”. Lagu kejutan yang tetap sejalan dengan topik album secara keseluruhan.

Nah, hiden track di album ini justru aneh sekali. Hidden track-nya semacam jualan RBT. Bukan hanya jualan, tetapi bejualan secara berlebihan, menghamba-hamba agar kita menggunakan lagu-lagu mereka sebagai RBT. Tambah habis deh album ini, musik dan lirik biasa, plus "berjualan habis-habisa".

Esensi untuk sebuah album adalah lagu-lagu yang menggedor sukma, bukan hanya keren atau keinginan terlihat keren.

Penyanyi : The Banery
Album : Janji Pasti
Tahun : 2009
Label : Universal

Daftar lagu:
1. Tanpa-Mu
2. Cemburuisme
3. Janji Pasti
4. Waktu yang Menjawab
5. Romee
6. So Sad
7. Tak Bisa Begini Tak Bisa Begitu
8. What I Said
9. Life
10. Karena Dia (akustik)
11. Hidden Track

Jumat, 08 Januari 2010

Komunikasi Pembangunan (Seri Belajar)


Komunikasi pembangunan sebagai sebuah mata kuliah adalah sesuatu yang berkesan bagi saya. Secara personal kajian ini mengingatkan saya betapa kuatnya negara Orde Baru sewaktu saya mempelajarinya untuk pertama kali dulu. Kata pembanguan itu sendiri adalah kata yang sangat menyatu dengan Orde Baru. Orde Baru adalah pembangunan, begitu pula sebaliknya. Bila ada individu yang dicap sebagai “anti pembangunan”, maka bisa dikatakan orang tersebut telah “habis”.

Cap “anti pembangunan” dilekatkan pada siapa saja yang menentang Orde Baru, ada aktivis gerakan masyarakat yang menentang penggunaan kekerasan oleh Orde Baru dalam melaksanakan program-program pembangunan. Ada juga tukang becak yang menolak becaknya diambil oleh “tibum”. Cap “anti pembangunan” mirip dengan cap komunis, yang juga digunakan oleh rejim Orde Baru untuk memandulkan dan memberangus lawan-lawannya.

Begitu juga yang terjadi pada konsep komunikasi pembangunan. Seolah-olah mata kuliah ini adalah “peninggalan” masa lalu sebagai akibat kata pembangunan yang disandangnya. Istilah komunikasi pembangunan dianggap sebagai bentuk komunikasi sistemik yang top-down, mengutamakan peran Negara, dan sekaligus mengabaikan masyarakat. Padahal tidaklah seperti itu. Konsep ini sebenarnya netral, stigma masa lalu yang menyebabkannya cenderung negatif.

Berbincang secara personal mengenai mata kuliah ini, saya selalu ingat pula dengan dua orang pengajar mata kuliah ini dulu. Kedua pengajar tersebut mengisi perkuliahan secara bergantian. Pengajar pertama adalah Amir Effendi Siregar. Bang Amir, panggilan akrabnya, adalah pengajar yang bagus. Kami mendapatkan ilmu yang berguna sekaligus kuliah yang hangat dan inspiratif. Profesinya sebagai praktisi dan jaringannya yang luas membuat kuliahnya memberikan banyak informasi baru. Sampai sekarang bang Amir menjadi teman diskusi yang hebat dan guru bagi saya.

Pengajar kedua yang juga memberi inspirasi, adalah Kuskridho Ambardi, atau akrab dipanggil mas Dodi. Mas Dodi adalah pengajar yang memberikan informasi detail. Hal yang saya ingat adalah istilah literasi yang dikenalkannya. Dia tidak mengartikan literasi sebagai melek media, yang menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan pada saat itu. Inspirasi itulah yang pada tahun-tahun selanjutnya membuat saya ingin mendalam literasi dan literasi media (media literacy). Saya belum memahami banyak tentang literasi media tetapi mas Dodi-lah yang pertama-kali mengenalkannya pada saya, walau ketika saya bercerita tentang hal ini, dia mengaku lupa.

Begitulah pengalaman personal saya. Selanjutnya telaah profesional, biar saya tidak dianggap hanya memaknai-maknai secara personal saja tetapi juga lebih rasional dari itu. Berikut ini saya akan menelaah komunikasi pembangunan dari satu sumber yang kini digunakan dalam perkuliahan komunikasi pembangunan. Buku itu adalah Handbook of International and Intercultural Communication. Second Edition. William B. Gudykunst dan Bella Mody (ed). 2002. London: Sage.

Ada sembilan artikel yang menjadi bahan pembelajaran bagi kelas, yaitu:
1. The Histories of Intercultural, International, and Development Communication oleh Everett M. Rogers dan William B. Hart
2. Development Communication: Introduction oleh Bella Mody
3. Theories of Development Communication oleh Srinivas R. Melkote
4. State, Development, and Communication oleh Silvio Waisbord
5. Development Communication Campaigns oleh Leslie R. Snyder
6. Communication Technology and Development: Instrumental, Institutional, Participatory, and Strategic Approaches oleh J. P. Singh
7. Participatory Approaches to Communication for Development oleh Robert Huesca
8. Development Communication as Marketing, Collective Resistance, and Spiritual Awakening: A Feminist Critique oleh H. Leslie Steeves
9. International Development Communication: Proposing a Research Agenda for a New Era oleh Karim Gwinn Wilkins

Selanjutnya adalah sedikit telaah atas tiap artikel:

Hal terpenting yang disampaikan oleh Rogers di dalam tulisannya tersebut adalah perbedaan sekaligus persamaan tiga konsep, yaitu: komunikasi pembangunan, komunikasi antar budaya, dan komunikasi internasional. Menurutnya, ada dua kata kunci dalam melihat tiga konsep tersebut. Pertama, ketiganya terbentuk secara kultural. Artinya, proses komunikasi yang terjadi sangat peka dengan konteks kultural. Kedua, prosesnya bersifat heterophilous communication, yaitu proses komunikasi yang terjadi “melampaui” individu walau secara umum komunikasi antar budaya lebih berfokus pada komunikasi antar personal, sementara komunikasi pembangunan dan komunikasi internasional berkembang lebih sebagaio proses komunikasi yang bersifat sistemik (1 - 2).

Rogers juga menjelaskan bahwa, seperti halnya bidang studi yang lain, kajian komunikasi pembangunan berada dalam siklus model evolusi keilmuan. Ia mengutip Thomas Kuhn untuk menjelaskan model evolusi keilmuan, yaitu model yang melihat suatu kajian dalam lima tahap, yaitu: preparadigmatic work, appearance of the paradigm, normal science, dan anomaly and exhaustion.

Hal lain yang penting adalah definisi Rogers atas konsep komunikasi pembangunan. Ia menjelaskan bahwa komunikasi pembangunan adalah: the study of social change brought about by the application of communication research, theory, and technologies to bring about development (9). Pembangunan di sini didefinisikan sebagai partisipasi yang luas dari proses perubahan sosial dalam sebuah masyarakat.

Tulisan kedua oleh Mody adalah pengantar dari tujuh artikel selanjutnya. Esensinya, ia menjelaskan perkembangan kajian komunikasi pembangunan yang terjadi sampai dengan tahun 2002, tahun buku ini diterbitkan. Ia juga menunjukkan arti penting perkembangan teknologi komunikasi dan penggunaan metode “baru” dalam kajian komunikasi pembangunan.

Artikel ketiga oleh Melkote berbicara lebih jauh tentang perkembangan kajian komunikasi pembangunan. Melkote mendikotomikan komunikasi pembangunan dalam dua kerangka berpikir utama, yaitu kerangka pikir modernisasi dan kerangka pikir pemberdayaan. Ada sepuluh “pisau analisis” yang digunakannya untuk membedakan kedua kerangka pikir tersebut. Sepuluh konsep itu adalah: fenemena kepentingan/tujuan, kepercayaan (atas kerangka pikir), bias, konteks, level analisis, peran agen perubahan, model komuniksai, tipe riset, ragam contoh, dan hasil (outcome) yang diharapkan.
Ia juga memasukkan difusi inovasi, pemasaran sosial, dan hiburan-pendidikan sebagai model praksis yang berada dalam kerangka pikir modernisasi. Sementara kerangka pikir pemberdayaan meliputi model riset aksi partisipatoris dan strategi pemberdayaan (430).

Pada tulisan keempat, yang ditulis oleh Silvio Waisbord, dijelaskan peran negara dalam komunikasi pembangunan.Walau ia lebih menjelaskan peran negara secara umum dalam pembangunan, kita masih mendapatkan telaah komunikasi di sini. Pada dasarnya, menurutnya, terdapat tiga peran bila kita mendiskusikan peran negara dalam komunikasi pembangunan, yaitu: kedaulatan, penyusunan kebijakan, dan kewargaan (443-450). Peran negara dalam kewargaan adalah yang paling penting. Negara dilihat sebagai ruang di mana warga menjalankan fungsinya sebagai aktor komunikasi pembangunan. Hal ini sejalan pula dengan perkembangan media yang kini berangkat dari perspektif masyarakat sipil.

Pada artikel selanjutnya, Snyder membahas kampanye dalam komunikasi pembangunan. Ia menunjukkan sejarah beragam pendekatan dalam kampanye pembangunan, yaitu: riset formatif, pemasaran sosial, kampanye partisipatoris, peningkatan organisasional, advokasi, format kreatif untuk pesan kampanye, mutipronged approaches, serta teori persuasi dan desain pesan (460-468).

Selanjutnya Singh mendiskusikan peran teknologi komunikasi dalam pembangunan. Ia melihat bahwa penggunaan teknologi komunikasi dalam pembangunan selama lima puluh tahun terakhir (sampai dengan tahun 2002), berada dalam tiga fase, yaitu: periode akhir 1950-an sampai dengan 1970-an, awal 1970-an sampai dengan awal 1990-an, dan periode 1990-an sampai sekarang ini (481). Walau kita telah berada pada fase ketiga, periode atau fase kedua adalah masa waktu terpenting karena meletakkan pondasi yang kokoh bagi perkembangan selanjutnya.

Pada periode pertama media massa berperan penting dalam komunikasi pembangunan tetapi lebih berada dalam wilayah nasional. Sementara periode kedua, media massa masih tetap berperan dan ditambah dengan sistem satelit yang diterapkan. Sistem satelit menempatkan komunikasi pembangunan sangat dengan ranah komunikasi internasional. Akhirnya, periode ketiga di mana komputer dan internet telah berperan, dianggap sebagai saat di mana proses komunikasi pembangunan berada dalam wilayah antar invidu sekaligus sistemik sebagai akibat perkembangan teknologi komunikasi.

Pada tulisan selanjutnya, Huesca menjelaskan pendekatan partisipatif dalam komunikasi untuk pembangunan. Tulisan ini diawali dengan diskusi mengenai paradigma dominan yang dianggapnya menentukan “jenis” komunikasi pembangunan yang diterapkan di suatu negara. Ia juga mendiskusikan secara epistemologis partisipasi. Pertanyaannya merujuk pada dua kutub, yaitu apakah partisipasi berada dalam technical means atau utopian end (504).

Artikel kedelapan berbicara tentang kritik perspektif feminis terhadap komunikasi pembangunan. Penulisnya, Steeves, melihat bahwa komunikasi sebagai pemasaran cenderung membawa komunikasi pembangunan pada kajian yang lebih merujuk pada cara pandang liberal kapitalis. Sementara komunikasi sebagai “daya tahan kolektif” ada dalam perspektif kritis dari komunikasi pembangunan, walau cara pandang kedua ini dianggap luput memperhatikan kaum perempuan. Terakhir, komunikasi pembangunan sebaiknya dilihat dari aktivitas spiritual. Cara pandang terakhir ini menganggap komunikasi sebagai pembangkitan kembali (awakening) bukan hanya pemberdayaan (empowerment) di mana perempuan berperan penting di dalamnya (529).

Tulisan terakhir mendiskusikan komunikasi pembangunan internasional, terutama dalam merumuskan agenda riset ke depan, di mana terjadi banyak perubahan dari sisi keilmuan. Wilkins merumuskan perubahan tersebut dalam konteks globalisasi, privatisasi, teknologi (komunikasi) baru, gerakan sosial, dan keberlanjutan (538-546).

Nah, demikianlah sedikit telaah dari satu referensi komunikasi pembangunan. Selanjutnya silakan mempelajarinya sendiri-sendiri barulah kemudian kita diskusikan. Saya menunggu diskusi itu, melalui forum ini maupun forum di kelas nantinya.

Selamat menjadi pembelajar yang baik dan antuasias!

(gambar "dipinjam" dari farmradio.org)

Suara Yogya yang Indah


Album ini berdasarkan kesan personal saya, bisa dirangkum dalam dua kata, sesal dan kota. Kata “sesal” bisa disematkan pada saya sendiri yang terlambat mengakses album ini. Saya sudah sering mendengarkan pembicaraan mengenai album ini dan juga penyanyinya. Pun saya seringkali melihat album ini di toko-toko CD yang saya kunjungi. Tetapi saya tak jua mengaksesnya. Barulah pada akhir tahun setelah membaca salah satu majalah musik nasional, saya langsung mengakses (mendengarkan) album ini. Lebih baik terlambat daripada tidak mengaksesnya. Begitulah kata orang bijak.

Majalah itu menilai album ini adalah salah satu album terbaik Indonesia pada tahun 2009. Saya juga menilai album ini sebagai salah satu album terbaik di tahun kemarin. Dari sisi musik dan lirik album ini layak menjadi salah album terbaik tahun kemarin walau untuk memasukkannya ke dalam sepuluh album terbaik versi saya, saya harus mengeceknya lagi dengan semesta album yang lain.

Kata lain yang dekat dengan album ini adalah “kota”. Risky Summerbee & The Honeythief adalah band bagus lain asal Yogyakarta. Yogyakarta sebagai sentra pengrajin memang sudah dikenal, termasuk sebagai “pengrajin” musik. Di dalam menghasilkan band bagus dan “berkelas” Yogya bisa disejajarkan dengan Bandung dan Surabaya (Jakarta tidak direken karena memang sudah galibnya). Kota lain yang mungkin juga menjadi sentra pemusik di masa mendatang adalah Bandar Lampung walau sentra musik di sini memiliki arti yang lain. Musik yang gimana gitu….Ah, saya malu untuk membahas musik di kota saya tumbuh ini…hehe…

Lagu-lagu di album ini juga bisa dilekatkan dengan nuansa spasial. Paling tidak itu yang saya rasakan. Kesebelas lagu di album ini adalah lagu-lagu yang indah dan membawa saya merasakan nuansa Yogya dengan cara yang berbeda. Bagaimana pun juga adalah kota kehidupan saya, sebagaimana Bandar Lampung adalah kota masa kecil saya.

Pertanyaan yang mungkin abadi membuka album ini, Do you know what time it is? Di dalam lagu “She Flies Tomorrow” kita bisa bertanya dengan waktu dan tentang perpisahan.Perpisahan yang tidak disesali terlalu mendalam sekaligus juga indah karena lokasi perpisahan justru bisa dijadikan inspirasi yang mendalam.

Lagu “Love Affair no.9” bercerita tentang “permasalahan” cinta tetapi dari sudut pandang berbeda. Simak penutup lagunya…I was standing and wondering / In her mind, I do this all the time….Lagu-lagu lainnya juga lagu-lagu ciamik sebelum Album ditutup oleh instrumental “The Seagull” yang indah. Di antaranya ada “trilogi” favorit saya, “Fireflies”, “Make A Print of Me”, dan “The Place I Wanna Go”.

Simak petikan lirik “Fireflies” yang indah ini: So let me take you all along the riverbank / And hear me say I love you / Yes I will always be your firefly / Come with me…Juga kalimat puitis tentang identitas di lagu “Make A Print of Me”…It’s just another side of me…”Trilogi” tersebut ditutup oleh lagu bernuansa impian, bahkan bisa dibilang sebuah utopia tentang sebuah tempat yang diharapkan. Ketiga lagu inilah, dan juga seluruh lagu di album ini, yang semakin meyakinkan saya untuk meruang (berada dalam ruang) dan mewaktu (menghabiskan waktu sehari-hari) di kota hebat ini. Banyak tempat yang ingin saya kunjungi tetapi Yogya selalu menjadi tempat tinggal fisikal dan selalu ada di hati saya.

Penyanyi : Risky Summerbee & The Honeythief
Album : The Place I Wanna Go
Tahun : 2008
Label : DeMajors

Daftar lagu:
1. She Flies Tomorrow
2. Love Affair No 9
3. With You
4. Flight to Amsterdam
5. Slap & Kiss
6. On A Bus
7. Fireflies
8. Make A Print of Me
9. The Place I Wanna Go
10. I Walk the Country Mile
11. The Seagull

Kamis, 07 Januari 2010

Puisi Lama 2


Cinta dalam Kemasan

bagaimana mungkin aku menyusun pohon filsafat
bila cinta dirayakan terlalu meriah
gemerlap seperti lampu-lampu neon
memaksaku menikmati permukaannya
cinta hari ini adalah panganan ringan : renyah, lumer seketika, kita lupakan
bagaimana mungkin aku merasakan cinta sebiru biasanya
bila aku sendiri menikmati sungguh cinta dalam kemasan:
cinta romantis, cinta sup ayam, cinta ada apa dengan, cinta tai kucing
cinta dalam kemasan, siapa mau?
(untuk hari kasih sayang)

*****

Garis Langit

pagi, seolah-olah kita lupa memiliki nama
memilih-milih topeng yang akan kita kenakan
onani dan menyenangkan orang lain
sementara ular-ular mengisi kepala kita
siapa lagi yang akan kita lumat dan caci
siang, kita diam dan tak bicara apa pun
walau hidup terlalu menyakitkan
tetapi topeng tetap dikenakan
menganggap tak ada garis langit
malam, kita lihat garis langit bersama bulan
menyadari bahwa hidup mesti dihargai
ada ujung dari perjalanan ini
esoknya, kita tidak menemukan garis langit
topeng yang kita pakai menutupinya!
seolah tak pernah ada, namaMU

*****

Anjing Hitam

beberapa tahun yang telah mati seekor anjing hitam datang membangunkanku menjilati leherku yang kering bercengkerama seolah aku menyukainya
seekor anjing hitam menyemburkan liurnya merayu konsep-konsepku yang tumpul mengajariku seolah dia seorang guru
seorang anjing hitam menggigitku menusukkan gigi hitam busuknya ke kakiku, kemudian bernanah menyatakan bahwa untuk berhasil (mencapai cita-cita) aku harus merasakan sakit terlebih dulu
kini, aku hanyalah seonggok daging yang terinfeksi Aku tak bisa melakukan apa-apa lagi Semua orang menjadi anjing hitam bahkan si anjing hitam datang dua kali sehari, pagi dan malam
anjing hitam selalu menjadi temanku !

(frase anjing hitam saya dapat dari sebuah lagu Manic Street Preachers di album "This is My Truth Tell Me Yours")

*****

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...