Senin, 11 Oktober 2010

Amblesnya Jalan dan Potret Jurnalisme Kita



Film Inception, bagi banyak orang yang telah menontonnya, sangatlah menarik. Paling tidak ada dua hal yang menarik dari film yang sangat mungkin menjadi film yang paling banyak ditonton sekaligus paling mendatangkan profit pada tahun 2010 ini. Pertama, film ini bercerita tentang dunia mimpi dengan detail. Fantasi dan realitas bercampur di dalam film ini. Cerita dan efek yang solid membuat film ini sangatlah menarik. Daya tarik dunia mimpi ini menjalar pada daya tarik kedua, yaitu sebagai cara untuk menggambarkan dunia mimpi ini, jalan, jembatan, dan gedung digambarkan runtuh dan ambles. Pada adegan yang berikutnya semua bangunan tersebut dibangun lagi untuk membentuk dunia mimpi yang lain.

Di dalam dunia fiksi seperti film Inception karya Christopher Nolan tersebut, ambles dan runtuhnya bangunan, terutama jalan, adalah bagian yang menarik perhatian kita sebagai penonton, dan pada gilirannya mampu menghibur kita. Namun bagaimana bila amblesnya jalan, atau fasilitas publik lainnya tersebut terjadi di dalam kehidupan nyata? Runtuhnya jalan adalah sebuah peristiwa yang berimplikasi pada kehidupan masyarakat dan media yang memberitakannya seharusnya menunjukkan hal tersebut. Kenyataannya media kita belum meletakkan peristiwa amblesnya jalan tersebut dalam konteks kepentingan publik.

Kita tentunya masih ingat kejadian beberapa waktu yang lalu ketika salah satu ruas jalan di Jakarta Utara, yaitu jalan R.E. Martadinata, ambles. Pemberitaan peristiwa tersebut cenderung tidak memperhatikan kepentingan publik. Menurut penulis, ada tiga hal yang menunjukkan hal tersebut, yaitu menjadikan peristiwa amblesnya jalan hanya sekadar “tontonan”, menjadikan peristiwa tersebut sebagai titik awal sebuah ramalan, dan kejadian itu merujuk pada peristiwa mistis.

Pertama, pemberitaan amblesnya jalan hanya sebagai tontonan yang menghibur. Hal ini terlihat dari pemberitaan media, terutama televisi, yang menunjukkan amblesnya jalan bukan sebagai peristiwa yang diketahui publik secara mendalam. Media memang mewawancarai beberapa narasumber tetapi bukan untuk mendudukkan permasalahan sesungguhnya. Tidak ada liputan mengapa jalan tersebut amblas dan siapa pihak yang bertanggung-jawab, padahal jalan tersebut baru saja selesai diperbaiki. Bila ada kelalaian dalam proses pembangunan jalan tersebut, pihak yang bertanggung-jawab bisa ditelisik lebih jauh. Jika ada indikasi praktek korupsi, pihak yang terindikasi melakukannya mesti bertanggung-jawab. Intinya, publik berhak tahu dan media memberikan informasi yang memperjelas hal tersebut.

Pemberitaan sebuah peristiwa tidak bertujuan untuk “menghibur” audiens, melainkan agar mereka tahu dan memahami sebuah peristiwa dalam konteks kehidupan bersama atau kepentingan publik. Berita bukanlah informasi yang menghibur seperti di dalam “infotainment”. Kelihatannya cara memberita ala infotainment telah “merembes” pada pemberitaan umum karena lebih mengutamakan aspek hiburan dan bersifat permukaan belaka.

Padahal pers telah dibekali dengan UU Pers dan, yang terbaru, UU Keterbukaan Informasi Publik, untuk membuka informasi untuk publik sedetail mungkin untuk kepentingan bersama. Informasi siapa yang bertanggung-jawab atas pembangunan jalan tersebut serta informasi standar kelayakan semestinya bisa didapat oleh media.
Peramalan adalah gejala yang kedua. Peristiwa amblesnya jalan RE Martadinata dianggap oleh media, dengan meminjam opini narasumber, sebagai awal dari amblesnya seluruh Jakarta pada tahun 2030. Permasalahannya, apakah informasi untuk menarik kesimpulan tersebut telah cukup memadai atau hanya sekadar menimbulkan kekhawatiran berlebih di masyarakat?

Diperlukan riset yang lebih mendalam yang memberikan banyak data. Riset tersebut lebih dibutuhkan daripada sebuah kesimpulan yang terburu-buru hanya dari satu ruas jalan yang ambles. Peramalan tersebut justru menjadikan peristiwa sesungguhnya tidak dieksplorasi lebih jauh. Pemberitaan mengenai ramalan itu hanya membuat masyarakat semakin khawatir tanpa memfokuskan lagi pada peristiwa sesungguhnya.

Belakangan, setelah peristiwa cukup lama berlangsung, berbagai data mengenai amblesnya jalan RE Martadinata yang merupakan indikasi amblesnya Jakarta memang telah didapat, antara lain permukaan tanah Jakarta yang menurun setiap tahun dan banjir yang terus-menerus tak tertangani. Walau begitu, data tersebut agak terlambat untuk dibeberkan pada publik. Ini adalah potret lain yang juga menunjukkan kurangnya sinergitas antara riset dan pemberitaan media.

Terakhir, pemberitaan amblesnya jalan diarahkan pada hal mistis. Ada sebuah berita yang dirilis oleh salah satu situs berita bahwa peristiwa amblesnya jalan tersebut disebabkan oleh munculnya buaya buntung, seekor buaya besar tanpa ekor. Peristiwa mistis inilah yang menjadi penarik banyak anggota masyarakat yang berusaha menonton tanpa mengindahkan polisi yang berjaga di tempat kejadian.

Sepintas peliputan mengenai buaya buntung tersebut sudah memenuhi kaidah jurnalistik, yaitu adanya narasumber dan “fakta” masyarakat yang berkumpul di sekitar lokasi peristiwa. Sesungguhnya, peliputan tersebut bukanlah praktek jurnalistik karena ketiadaan fakta dan mengabaikan rasionalitas, padahal kejadian sesungguhnya adalah dasar bagi jurnalisme. Jurnalisme pada gilirannya membangun dan memperkuat rasionalitas di masyarakat. Pada dasarnya, jurnalisme dan ilmu pengetahuan adalah sama, yaitu kehadiran rasionalitas di dalamnya. Perbedaannya hanya pada kadar dan cara pencapaiannya.

Mengarahkan sudut pandang suatu peristiwa mengenai fasilitas publik pada tahyul sebenarnya agak umum di dalam jurnalisme kita. Buaya buntung ini adalah salah satunya. Kasus Ponari beberapa waktu adalah contoh paling kuat bagaimana pemberitaan bisa mengarahkan pada tahyul yang semestinya sangat dihindari oleh jurnalistik. Berita yang dekat dengan tahyul ini mudah ditemui di berbagai media, mulai dari suratkabar sampai situs berita.

Jurnalisme yang dimunculkan media dalam peristiwa amblesnya jalan R.E. Martadinata, juga rusaknya berbagai fasilitas publik yang lain, adalah ujian bagi media kita untuk lebih baik dalam memberitakannya. Hanya menjadikan peristiwa sebagai tontonan, peramalan tanpa bukti yang memadai, dan pengutamaan tahyul atau mistis, tidak memberikan makna pada kehidupan publik. Hal ini ironis karena sebenarnya media telah memiliki koridor yang bagus melalui Undang Undang Keterbukaan Informasi Publik, dan juga dua aturan hukum sebelumnya, UU Pers dan UU Penyiaran. Walau belum sempurna betul, ketiga produk hukum tersebut mampu memandu media mengutamakan publik dalam aktivitasnya.

Demikianlah, semestinya pemberitaan media membawa kita pada pemahaman yang lebih luas atas apa yang terjadi dalam kehidupan bersama. Media yang mengajak kita memikirkan dan berbagi informasi yang berguna publik adalah media yang berkontribusi pada pembentukan kondisi yang lebih baik. Bukankah media eksis demi kebaikan hidup kita bersama?

(Opini ini ditulis bersama dengan Mufti Nurlatifah dan, dalam versi yang sedikit lebih ringkas, muncul di harian Kedaulatan Rakyat, 9 Oktober 2010. Diunggah dengan niat untuk mendapatkan diskusi lebih mendalam)

Memberkas Hati dalam Satu Hari


Pagi ini, menyesap pelan-pelan hidup

Hanya aromanya yang berkumandang di pikiran

Hanya sensasinya yang menggelegar di pintu hati

tetapi kutahu menjalaninya bersamamu, semua yang bersahaja akan ternikmati

seperti alunan yang canggung ini......

"You and me babe, how about it?"



****



Di siang hari kita ingin membawa semuanya berlari



Senja kemudian meluruh perlahan

buatku

Menghablur ke dalammu

Bertamasya dalam pikiran dan anganmu

Sembari terus saling bertanya

"Apa lagi yang bisa kita bagi dan kejar bersama esok?"



(untuk ibu anakku, puisi kesekian dari 1000 puisi)

(gambar dipinjam dari maniactive.com)

Mozaik Hati


Satu keping potongan hati kau titipkan padaku,

untuk mengobati kangen katamu bila suatu waktu kau tidak kembali tepat waktu



Satu atau dua keping hati kau biarkan tertinggal.

Mungkin untuk profesi pikirku, di mana imperatifnya, teman?

Begitu katamu berulang-kali



Lebih dari sepuluh keping hati kau siramkan pada bunga-bunga sedikit di luar ruangan,

kau pernah memperbincangkannya,

untuk menyebarkan semangat katamu waktu itu,

juga untuk menunjukkan batas-batas wilayah kuasamu, itu tafsir padu padanku



Entah berapa keping kau distribusikan mengikuti hasrat kebertubuhan

Siapa yang peduli motif-motifnya bila siang berganti malam begitu cepat?

Bila identitas bisa dipilih dari banyak buliran hujan?



Kau tidak lagi menghitung kepingan sisa untuk melengkapi suatu gambar yang utuh

Kau tahu kalkulasi tiada bermakna di era kebendaan seperti ini

Kalkulasi itu terlalu berguna dibandingkan ideologi dan taksonomi, begitu ujaranmu pernah terdengar



Asal kau tahu, aku paham sepenuhnya bila satu kepingan besar sanubari tidak kau titipkan pada siapa pun

Hanya pada humanisme katamu suatu kali

Dan yang satu ini tak bisa diambil kembali

(maji dipinjam dari jpgfun.com)

Wajah Spesial Pake Telor


Kini si tanpa wajah begitu bahagia. Apa yang kurang dalam sebuah perjalanan, sekalipun perjalanan itu jauh jarak tempuhnya dan tidak jelas apakah tujuan akan tercapai, bila dia ditemani oleh dua orang perempuan? Dua perempuan yang secara epistemologis dan “ekonomi politik” berbeda. Artinya, keduanya begitu berbeda dalam hal pendekatan dan motif-motifnya. Di atas semua itu, keduanya begitu mengerti dirinya.



Sejak bertemu beberapa waktu yang lalu dia mulai akrab dengan kedua perempuan itu. Sebut saja namanya Venus 1 dan Venus 2. Seperti kode polisi bukan? Lebih baik dibedakan seperti itu. Walau pembedaannya adalah pembedaan paling usang, itu masih lebih baik daripada tidak dibedakan sama sekali. Pembedaan berdasarkan angka memang primitif sekali dan bersifat hanya di permukaan. Namun inilah pembedaan terbaik sejauh ini. Dalam keadaan tanpa wajah, apa lagi yang bisa kau harapkan selainkan menerapkan visi dan strategi yang sudah usang.



Venus 1 secara epistemologis lebih jelas. Tanpa harus dipikirkan mendalam, dirinya mudah untuk diverifikasi. Kecuali wajah yang tidak bisa diverifikasi, semua hal lainnya, bagian tubuhnya yang lain, bagus sekali. Bagaimana bisa diverifikasi bila sesuatu itu tidak ada? Keber-ada-an adalah sesuatu yang problematik seperti halnya ketiadaan. Tetapi dia memiliki tubuh yang sempurna bagi seorang perempuan. Kaki dan tangan anggota badannya indah bak kreasi masterpiece dari sang Pencipta. Namun kelemahannya juga luar biasa, semua ujaran dan gerakannya sungguh menyakitkan. Dia sering melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati, pun tindakannya yang seringkali meremehkan. Bahkan dalam keadaan tanpa wajah seseorang perempuan, dan juga semua jenis manusia, bisa menyakitkan bagi orang lain.



Venus 2 secara “ekonomi politik” lebih santun. Visi dan motif-motif hidupnya sungguh membahagiakan dan juga mengenakkan bagi orang lain. Dia berbicara tentang “kehidupan hijau” dan kehidupan setelah mati. Dia menghibur dengan kata-katanya yang mengukir hati dan menggedor sukma. Kaki dan tangan anggota tubuhnya juga memberikan implementasi pikiran atau tindakan dengan asyik. Tidak ada tindakannya yang menyakitkan hati. Kelihatannya, apa pun ujaran dan gerakan tubuhnya, merupakan keindahan hidup yang terjabarkan dengan mudah di kenyataan. Bukankah hal itu salah satu karakter ekonomi politik, bersifat praksis?



Namun Venus 2 tidak memiliki tubuh yang indah walau ujaran dan gerakan tubuhnya indah. Hal inilah yang merupakan secuil kekurangannya. Di tengah semua hal yang baik dari dirinya, dia masih berharap memiliki keindahan tubuh seperti Venus 1.

“Coba yakinkan aku bahwa aku bisa mendapatkan tubuh seindah dirinya”. Kata Venus 2 tiba-tiba saja kepada si tanpa wajah. Hal ini aneh karena mereka sedang berbicara mengenai neo-tribalisme yang kini sedang marak kembali. Apa hubungannya tubuh dengan neo-tribalisme? Kata si tokoh kita dalam hati.



“Buat apa kau memikirkan tubuh yang indah bila dirimu sudah hampir sempurna sejak awal?”. Katanya bingung.

“Sepertinya ada yang kurang bila tubuhku tak indah. Tubuh itu adalah kuil sehingga haruslah lebih indah. Jangan salah berpikir lho, tubuhku yang nantinya indah itu bukannya untuk orang lain, melainkan untuk dirimu sendiri. Aku akan bersuka cita di kuilku sendiri”.

Lain waktu ketika si tanpa wajah berkesempatan hanya berdua saja dengan Venus 1 dan mereka sedang mendiskusikan siapa siapa manusia terindah pada era dengan wajah, tiba-tiba saja dia bertanya, “Apa menurutmu, dia lebih baik dari aku? Dia yang begitu baik padamu sebenarnya tidak menerimamu apa adanya”.



Belum habis kekagetan tokoh kita, Venus 1 meneruskan kalimatnya kembali.

“Walau hatimu sering tersakiti oleh ucapan-ucapanku, aku ini adalah orang yang paling mengerti dirimu”.

“Aku memberikan padamu penglihatan dan perasaan bersyukur atas tubuhku yang indah, itu adalah wujud pengertian paling dalam diriku atas dirimu”. Baru sekali ini dia berbicara langsung ke hati alias telepati dengan mendalam seperti ini.



“Aku tak menyesali apa pun, termasuk keadaanku yang sudah seperti ini. Kau kira tidak sulit hidup dengan tubuh sangat indah seperti ini? Sulit sekali teman...Kau tidak bisa membedakan mana lelaki yang mendekati karena tubuhku atau karena hatiku. Mungkin semua ucapan dan tindakanku yang tidak menyenangkan ini berawal dari kebingunganku atas motif dan tujuan orang-orang yang mendekatiku”.

Makanya kau mesti belajar ekonomi politik juga, tidak hanya epistemologis saja, apalagi yang ada dalam varian empirisisme saja. Begitu kata si tanpa wajah dalam hati dan berusaha agar Venus 1 tak mendengarnya. Kemudian dia tersadar, bila mendengar pun belum tentu Venus 1 mengerti.



Setelah beberapa kali mendengar curahan hati mereka, si tanpa wajah semakin yakin bahwa wajah mereka semua harus ditemukan kembali. Bukan apa-apa, semua bisa dikembalikan seperti semula bila mereka semua memiliki wajah seperti dulu. Inilah paradoksnya, mereka ingin wajah ada kembali setelah lama menghilang karena dulunya mereka menganggap tidak membutuhkan wajah.

Bila pun kami mendapatkan wajah kembali, mereka menginginkan wajah itu “bekerjasama” dengan tubuh, bukan saling menisbikan seperti dulu. Wajah yang secara epistemologis menyatu dengan tubuh dan memiliki visi dan strategi memanusiakan diri mereka sendiri. Lalu si tanpa wajah, tokoh kita, membayangkan ungkapan sewaktu dia masih kecil...spesial pake telor.



Kata spesial pake telor muncul pada dekade 1980-an bila kita makan di warung makan kelas bawah. Kata itu menunjukkan bahwa apa-apa yang berlauk telur adalah mengasyikkan. Dahulu ketika tempat makan cepat saji meraja, makan nasi rames dengan lauk telur adalah luar biasa. Mengapa tidak wajah spesial pake telor yang perlu kita tuju? Kata si tanpa wajah dalam hati.



Makan nasi spesial pake telor juga bermakna kita mesti mengembangkan tubuh sebaik mungkin. Bukankah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula? Walau di dalam hati dirinya cenderung agak tidak setuju juga, toh banyak orang yang sehat secara fisikal, jiwanya tak sehat? Namun istilah spesial pake telor layak digunakan untuk menginteraksikan wajah dan tubuh yang sehat dan memfungsikan satu sama lain dengan positif.



Mengapa kami tidak mengembangkan konsep wajah spesial pake telor?, dia berkata dalam hati. Dia yakin dengan konsepnya ini. Pendekatannya pun mudah, dengan menggunakan faktor kesejarahan yang sangat Indonesia, sebab apa-apa yang dekat itu penting tidak seperti konsep-konsep filsafat ilmu dan perspektif kritis yang jauh itu. Tetapi dia sadar untuk mendekati konsep manusia, wajah dan tubuhnya, tidak ada cara dan posisi yang jauh atau dekat. Humanisme adalah hal yang paling dekat dengan manusia sekaligus jauh karena manusia terbiasa berpikir dan merasakan hal-hal lain di luar dirinya, termasuk terlalu memikirkan manusia lain.



Di dalam perjalanan yang masih jauh ini dia kemudian berencana untuk berdiskusi dengan Venus 1 dan Venus 2 tentang wajah spesial pake telor. Tentang wajah dan tubuh, serta relasinya, yang memanusiakan diri sendiri dan mencerahkan kehidupan. Dia terus berencana walau waktu sepertinya belum berpihak padanya.



Perjalanan ini masih jauh dan masih banyak waktu untuk sekadar berdiskusi dengan enak dan santun....



###



Episode seri Wajah:

1. Wajah: Sebuah Pengantar
2. Para Pencari Wajah
3. Wajah Siapa Ini Wajah Siapa
4. Hasrat Mengepistemologi Wajah
5. Wajah Spesial Pake Telor (sekarang sedang Anda baca)
6. Memajang Wajah
7. Standar Wajah Cinta
8. Wajah Tanpa Isyarat
9. Kelelahan Mengkomodifikasi Wajah
10. Wajah Paripurna: Kesimpulan dan Saran

(gambar dipinjam dari blog.photodelight.ca)

Pelarangan Buku: "Keusangan" yang Diduplikasi


Siapa pun individu warga negara Indonesia yang mengalami dua masa tatanan politik, Orde Baru dan Reformasi, pasti merasakan perbedaan yang sangat kondisi kebebasan bermedia: warga beropini dan berekspresi dan juga mendapatkan informasi. Informasi kini relatif mudah diperoleh bahkan untuk yang dulunya dianggap "membahayakan" negara dan bangsa. Media juga lebih bebas berposisi berbeda dengan penguasa politik. Walau begitu, kondisi sekitar lima tahun ini mulai berbeda. Media massa, terutama televisi, memang masih bebas, tetapi karena dimiliki atau dekat dengan penguasa politik, media menjadi "tumpul" dan tidak berani berposisi tegas dan membela publik. Rupanya kondisi menyatunya penguasa politik dan ekonomi juga berpengaruh banyak pada ketidakbebasan bermedia. Dahulu kita berjuang agar media bebas dari kungkungan penguasa, negara, sekarang kita mestinya berusaha membuat media tidak mudah terkooptasi kepentingan politik yang menyatu dengan kepentingan bisnis.



Setengah waktu dari masa Reformasi yang kita jalani sekarang, mudah kita lihat bagaimana negara masih lemah, bahkan negara tidak hadir kala diperlukan. Anehnya, ketika negara hadir, suasana dan kondisi yang awalnya bagus malah menjurus kacau. Lihat saja kasus hubungan antaragama di negeri ini. Untuk kasus media baru, kita bisa melihat bagaimana negara lebih mengurusi aspek-aspek normatif, bukannya ketersediaan kanal dan wahana untuk distribusi informasi bagi masyarakat. Belum lagi yang ditunjukkan oleh berbagai regulasi untuk media (dan informasi), aturan hukum untuk media cenderung tidak ditegakkan dengan serius, seperti UU Penyiaran, implementasi yang sangat rumit dan berat untuk UU KIP (Keterbukaan Informasi Publik) dan UU Pornografi (sebagian berkaitan dengan publikasi melalui media), atau secara mendasar memang regulasi tersebut tidak demokratis seperti UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) dan UU Perfilman. Kita tahu bagaimana sistem penyiaran berjaringan tidak dilaksanakan sesuai amanat UU Penyiaran, juga pasal-pasal pidana yang lebih ditegakkan untuk UU ITE seperti dalam kasus Prita Mulyasari.



Di atas itu semua, hal yang paling konyol, adalah masih diterapkannya peraturan usang untuk melarang jenis media yang paling awal, buku. Ironis sebenarnya, Indonesia yang mengaku sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan India, ternyata masih menerapkan sebuah peraturan usang dengan dasar hukum yang juga usang. Peraturan tersebut adalah pelarangan buku yang menggunakan aturan usang, kalau tak dibilang primitif, yaitu UU No. 4/PNPS/1963 tentang pengaturan barang cetakan. Peraturan itu masih "ditegakkan" sampai tahun 2009 kemarin, di mana lima buku dilarang peredarannya oleh negara.



Aturan tersebut jelas usang karena di mana pun negara yang mengaku demokratis, tidak ada pelarangan jenis media tertentu, yang ada adalah pemberlakuan aturan main yang sebaik-baiknya. Dasar hulum untuk melakukan tindakan tersebut jelas usang karena menggunakan aturan hukum yang berasal dari tahun 1963, masa di mana kita masih dianggap sedang melakukan revolusi dan berkonfrontasi dengan negara tetangga. Apakah kini kita masih melakukan revolusi dan berkonfrontasi? Ini adalah keusangan pertama. Keusangan itu kemudian mengantarkan kita pada keusangan yang kedua, yaitu keusangan atas pemahaman buku sebagai "barang cetakan".



Aslinya, UU No.4/PNPS/1963 mengatur semua barang cetakan atau apa pun yang dicetak, termasuk surat kabar dan majalah, namun oleh UU Pers tahun 1999, Penetapan Presiden tersebut dinyatakan tidak berlaku dan dinilai tidak demokratis. Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi pada buku. Buku adalah satu-satunya media yang masih mendapatkan "kekerasan" oleh negara dan juga oleh masyarakat. Istilah barang cetakan bisa diterapkan bila satu-satunya cara "memproduksi" buku adalah dengan dicetak, padahal kita tahu bahwa buku bisa berbentuk digital kini. Setelah buku "Dalih Pembunuhan Massal" karya John Roosa dilarang pada tahun 2009 kemarin, pihak penerbit dan penulisnya membebaskan hak cipta dan meletakkan buku tersebut di Internet sehingga bisa diunduh oleh siapa saja. Sudah banyak sekali orang yang mengunduh buku tersebut dan kenyataannya tidak ada gangguan terhadap "ketertiban umum" seperti yang ditakutkan oleh negara atas tersebarnya buku tersebut. Jujur saja, saya sudah membaca buku tersebut, buku "Dalih Pembunuhan Massal" adalah buku yang sangat bagus. Buku kelas satu untuk bidang sejarah sosial di Indonesia.



Tindakan pelarangan buku yang usang itu ternyata diperkuat oleh tindakan usang yang lain, bahkan bisa dikatakan tindakan barbar, yaitu pembakaran buku. Pembakaran buku adalah sebuah tindakan yang hanya dilakukan oleh pemerintahan yang totaliter dan fasis seperti Jepang dan Jerman pada masa lalu. Nazi Jerman pada awalnya membakar buku, kemudian membakar manusia. Pada tahun 2007 secara demonstratif di tiga kota di Indonesia, negara diwakili oleh kejaksaan dan departemen pendidikan membakar ribuan buku yang dianggap tidak sesuai dengan ketentuan. Pemerintah Orde Baru yang ototriter itu pun tidak membakar buku melainkan "hanya" membuatnya menjadi bubur kertas yang akan diproduksi kembali menjadi buku.



Keusangan yang berikutnya adalah duplikasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat. Negara yang melarang dan membakar buku pada akhirnya menjadi "teladan" dan diikuti oleh kelompok tertentu di masyarakat. Bila dilakukan oleh negara, hal itu disebut sebagai pelarangan buku, bila dilakukan oleh kelompok masyarakat, hal itu disebut sebagai pemberangusan. Perilaku negara yang tidak toleran terhadap perbedaan diduplikasi oleh masyarakat terhadap buku. Kelompok-kelompok masyarakat tertentu di beberapa kota di awal dekade 2000 pernah melakukan sweeping dan pembakaran buku-buku yang dianggap mengandung nilai-nilai komunis dan Marxisme. Ada cerita lucu pada waktu sweeping terjadi yaitu banyak buku-buku agama yang juga ikut di-sweeping karena gambar penulisnya yang brewokan seperti gambar Karl Marx.



Setelah diusut lebih jauh, ternyata ada motif ekonomi di balik tindakan tersebut, yaitu persaingan tidak sehat antar penerbit. Lebih jauh hal ini menunjukkan ketiadaan toleransi dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan bukan dilihat sebagai rahmat melainkan sebagai laknat. Melalui pelarangan buku oleh negara dan pemberangusan buku oleh kelompok masyarakat tertentu inilah, kita dapat menyimpulkan bahwa "keusangan" dalam menyikapi perbedaan masih saja terjadi. Tak heran bila perbedaan ideologi politik, agama, etnis, dan kelas sosial, masih menjadi "bubuk mesiu" untuk konflik seperti yang belakangan ini terjadi.



Apa implikasi dari pelarangan buku? implikasinya jelas sangat besar dan semakin terasa akhir-akhir ini. Buku ternyata tidak mengganggu ketertiban umum seperti yang ditakutkan oleh negara. Sekalipun buku dilarang, ternyata masyarakat masih bisa mendapatkannya secara digital dan sembunyi-sembunyi untuk buku yang tetap diedarkan dengan dicetak. Sudah menjadi rahasia umum bahwa buku yang dilarang justru dicari oleh pembaca. Buku semestinya tidak dilarang karena pelarangan merupakan tindakan yang sia-sia. Lalu, bagaimana dengan buku yang mengandung pornografi dan ide-ide menghancurkan kelompok masyarakat lain? tetap, buku seperti ini tidak langsung dilarang melainkan melalui pengadilan. Lewat pengadilanlah kita bisa belajar dan lebih mengetahui substansi seperti apa sesuatu ide bisa dilarang.



Implikasi yang jelas dari pelarangan dan pemberangusan buku adalah tidak munculnya pemikiran kritis dan perbedaan tafsir atas suatu wacana. Pada akhirnya kita terbiasa dengan pemikiran dan sikap yang homogen atas sesuatu yang sempit dan mungkin keliru. Daripada melarang buku, negara sebaiknya mendorong ragam penerbitan yang memperkuat paham ke-Indonesia-an yang plural dan sejak awal mengandung nilai-nilai yang demokratis dan saling menghargai. Tindakan "menciptakan" adalah tindakan yang jauh lebih baik daripada tindakan "menghilangkan" dalam bentuk pelarangan atas buku, apalagi bila tindakan itu berdasarkan pada hal usang yang mebawa pada keusangan-keusangan lain.



(tulisan ini dimaksudkan sebagai tafsir ekstrak personal atas buku "Pelarangan Buku di Indonesia: Sebuah Paradoks Demokrasi dan Kebebasan Berekspresi" yang disusun oleh tim peneliti PR2Media (Pemantau Regulasi dan Regulator Media) dan diterbitkan bekerja sama dengan FES (Friedrich Ebert Stiftung) pada awal Oktober 2010 ini. Buku ini adalah buku pertama PR2Media, semoga buku-buku lain segera menyusul)

Jumat, 01 Oktober 2010

"You and Me Babe, How about It?"


Bagi yang senang mendengarkan musik pasti sudah pernah menemukan lagu-lagu yang "meremukkan" hati. Meremukkan dalam makna yang sesungguhnya, yang negatif, atau "meremukkan" dalam arti yang konstruktif atau positif. Sepanjang mendengarkan musik dan mengerti makna yang termaktub dalam lirik lagunya, saya sendiri sudah menemukan banyak lagu jenis ini. Lagu-lagu cinta favorit saya kebanyakan berkisah tentang cinta yang gagal atau tersendat, namun entah bagaimana, justru lirik-lirik itu memberikan pemahaman bahwa cinta tidak harus dimaknai dengan mengharu-biru. Cinta mestinya dipahami dalam paket yang lengkap, tidak senang semata, atau sedih semati. Cinta adalah manifestasi dualitas hasrat murni manusia. Cinta dua orang mesti dipahami sebagai cinta cermin seluruh manusia secara utuh.



Katakanlah bila dua orang manusia yang pernah saling menyintai dan kemudian berpisah, namun perpisahan itu tidak menjadikan mereka berpisah selamanya atau tidak berteman. Pun dengan hubungan antar dua manusia bukan dalam konteks cinta dan kasih sayang, bila sudah tidak "cucok", mengapa dipaksakan untuk berteman? mungkin derajat pertemanan itu bisa diturunkan dari akrab menjadi biasa saja, atau bahkan menjadi sekadar saling tahu bahwa di dalam kehidupan ini masing-masing bereksistensi dan tidak saling "mengganggu". Teman kemudian berubah menjadi kontak, bila pun suatu kali mesti berinteraksi, keduanya boleh memberikan interaksi minimal untuk sekadar memenuhi fungsi interaksi itu saja.



Untuk "love song" jenis ini saya memilih lima, yaitu: "In to Deep" oleh Genesis, "Separate Live" oleh Phil Collins, "Goodbye Girl" oleh David Gates, "Time after Time" oleh Eva Cassidy, dan lagu ini, "Romeo and Juliet", yang dinyanyikan oleh Dire Straits. Lagu yang menafsirkan sebaliknya dari kisah cinta Romeo and Juliet ini adalah lagu pertama yang menjadi puncak dari lima lagu yang saya pilih ini. Mengapa begitu? sederhana saja, selain tafsir "membalikkan" dari teks Romeo and Juliet yang sebenarnya, lagu ini bagus karena maknanya unik. Lagu ini bercerita tentang dua orang yang saling mencintai namun kemudian berpisah karena waktu yang tidak tepat. Mungkin salah satu atau keduanya sedang mengejar mimpi masing-masing dan belum bisa berfokus pada orang lain. Mungkin karena preferensi hidup masing-masing tidak sama. Atau karena salah satu pihak menganggap pihak mitranya melakukan tindakan yang tidak dapat ditolerir di dalam hubungan itu. Mungkin kenisbian yang lain yang terjadi.



Hal lain yang membuat lagu ini menarik adalah vokal Mark Knopfler yang "berkejaran" dengan musik dan pemaparan melalui kalimat tak biasa. Saya paling suka dengan larik di awal dan akhir yang sama, juga kalimat "You and me babe, how about it?". Kalimat paling tulus dari seorang lelaki pecinta, namun menunjukkan kepercayaan diri "si Romeo" yang pas, tidak lebih dan tidak kurang. Ada rasa percaya diri yang tipis dan tidak sombong. Berbeda sedkitlah dengan kalimat dari lagu si Boy, "baik hati dan tidak sombong, jagoan lagipula pintar"...Rasa percaya diri yang kurang pas nan tanpa cela.



Saya mengenal Dire Straits sejak pertengahan 1990-an karena musiknya yang "aneh". Selain itu juga karena seorang teman pernah membawa kaset rekaman sendiri yang mengompilasi lagu-lagu Dire Straits dan Def Leppard, yang sering diputar ketika kami berkumpul. Album mereka "Brothers in Arms" (1985) adalah salah satu album terfavorit saya yang memberi beberapa pelajaran tentang hidup yang tak sangat indah namun tetap layak dijalani. Namun lagu bagus ini tidak berada di album terbaik mereka tersebut, "Romeo and Juliet" ada di dua album sebelumnya, "Making Movies" (1980). Lagu "Romeo and Juliet" ini kemudian dinyanyikan kembali oleh the Killers, dan uniknya vokal Brandon Flowers yang "canggung" mirip sekali dengan suara Mark Knopfler.




Pagi ini, menyesap pelan-pelan hidup


Hanya aromanya yang berkumandang di pikiran

Hanya sensasinya yang menggelegar di pintu hati

tetapi kutahu menjalaninya bersamamu, semua yang bersahaja akan ternikmati

seperti alunan yang canggung ini...


"You and me babe, how about it?"




#######



Romeo and Juliet

by Dire Straits

from "Making Movies" (1980)



NARRATOR:

A love-struck Romeo sings the streets a serenade

Laying everybody low with a love song that he made.

Finds a streetlight, steps out of the shade

Says something like, "You and me babe, how about it?"



Juliet says, "Hey, it's Romeo, you nearly gave me a heart attack!

"He's underneath the window, she's singing, "Hey la, my boyfriend's back.

You shouldn't come around here singing up to people like that...Anyway, what you gonna do about it?"



ROMEO:

Juliet, the dice was loaded from the start

And I bet when you exploded into my heart

And I forget I forget the movie song.

When you gonna realize it was just that the time was wrong, Juliet?

Come up on different streets, they're both the streets of shame.



Both dirty, both mean, yes, in the dream it was just the same

And I dreamed your dream for you and now your dream is real.

How can you look at me as if I was just another one of your deals?

When you can fall for chains of silver,

You can fall for chains of gold,

You can fall for pretty strangers

And the promises they hold.

You promised me everything, you promised me thick and thin, yeah!



Now you just say, "Oh Romeo?

Yeah, you know I used to have a scene with him".

Juliet, when we made love, you used to cry.

You said, "I love you like the stars above, I'll love you 'til I die".

There's a place for us, you know the movie song.

When you gonna realize it was just that the time was wrong, Juliet?



I can't do the talk, like the talk on TV

And I can't do a love song, like the way it's meant to be.

I can't do everything, but I'll do anything for you.

I can't do anything, 'cept be in love with you!

And all I do is miss you and the way we used to be.

All I do is keep the beat... and bad company.

Now all I do is kiss you through the bars of a rhyme,

Juliet, I'd do the stars with you any time!



Juliet, when we made love you used to cry.

You said, "I love you like the stars above, I'll love you 'til I die".

There's a place for us, you know the movie song.

When you gonna realize it was just that the time was wrong, Juliet?



NARRATOR:

And a love-struck Romeo sings a street-suss serenade

Laying everybody low with a lovesong that he made

Finds a convenient streetlight, steps out of the shade

He says something like, "You and me babe, how about it?"



ROMEO:

You and me babe, how about it?

Maybe Tomorrow


"Ayo mas, once in the lifetime lho...." Kata seorang rekan sekaligus mahasiswa saya, Sondy Garcia, menyarankan saya mesti menyaksikan Smashing Pumpkins dan the Stereophonics yang akan manggung di Jakarta minggu depan, di acara "Java Rockin' Land". Sebelumnya saya bercerita padanya betapa ingin saya menyaksikan kedua band 1990-an itu ketika kami bersama memandu acara "Angkringan Gayam" Senin malam kemarin.

Benar juga sih, pikir saya. Sekali seumur hidup apa salahnya? Awalnya saya ingin tetap nekad menonton. Kemudian setelah "mengusut" lebih dalam lagi jadwal, kondisi keuangan, dan lain-lain, saya membatalkan niat itu. Sudahlah, cukup mendengarkan album-album mereka yang rata-rata bagus itu, menyaksikan videoklip dan aksi panggung mereka dari cakram padat, dan mengakses habis-habisan informasi ttg mereka dari beragam media. Saya rasa itu semua sudah cukup. Di dalam hati saya menenangkan diri sendiri tetapi sudut pendapat hati saya yang lain menyampaikan hal yang berbeda. Bro, tetap saya menonton langsung penampilan mereka itu sangatlah berbeda. Tidak ada bandingannya menyaksikan langsung, sekalipun kau mengakses informasi dalam jumlah sangat besar.



Namun memang saya mesti realistis....



Belakangan ini pun, sebelum saya mengetahui agenda mereka akan datang ke Indonesia, saya cukup sering memutar kembali album-album Stereophonics dan Smashing Pumpkins. Alasannya sederhana saja, tidak ada album baru Indonesia yang cukup "menggigit" untuk didengarkan dengan detail, kecuali Bangkutaman. Untuk album Barat memang ada album Arcade Fire terbaru, namun itu belum cukup. Saya pun kembali mendengarkan album-album lama dari band-band kesukaan saya. Uniknya, album-album yang kita suka itu akan selalu memberikan nuansa yang berbeda. Kita pun akan cenderung menafsirnya secara berbeda, dengan konteks kekinian. Saya pribadi bisa mempelajari dan menelisik kembali masa lalu di mana album-album tersebut menjadi background.



Mendengarkan album lawas Stereophonic yang judulnya "You Gotta Go There to Come Back" dari tahun 2003 misalnya, saya merasakan transisi orang-orang ada di sekitar saya dahulu. Ayah saya meninggal setahun sebelumnya, teman-teman karib semasa kuliah mulai pergi karena menyelesaikan kuliahnya, bekerja, dan pulang ke daerah asalnya, teman-teman baru datang, orang-orang "baru" hadir menjadi berhubungan keluarga karena di tahun inilah saya menikah. Bagi saya tahun 2003 ini adalah transisi penting yang menjadi berbeda didedah dengan soundtrack dari album Stereophonics itu. Hidup sendiri yang direview terus-menerus menjadikannya bermakna, begitu kira-kira kata seorang pemikir terkenal yang saya interpretasi ulang.



Di dalam album "You Gotta Go There to Come Back" tersebut ada satu lagu bagus, yang juga menjadi hit, judulnya "Maybe Tomorrow. Musiknya enak didengar. Liriknya pun sangat kontemplatif. Seperti halnya lagu-lagu bagus milik Stereophonics yang lain, ada semacam rasa "tak selesai" dari lagu "Maybe Tomorrow" ini. Tak selesai walaupun kita mengakses teks ini beribu kali, walau kita menikmatinya luar bisa. Dia tetap hanya lagu. Dia tetap sebuah teks media. Kita mesti "menyelesaikannya" dalam hidup kita sendiri.



Lagu ini juga muncul sebagai salah satu penghias dan pemerkuat film "Wicker Park" (2004), sebuah film bagus dengan gaya bercerita berbeda dari film kaum muda kebanyakan. Ketujuh belas lagu di dalam OST tersebut bagus, terutama lagu Stereophonics ini dan tafsir ulang atas dua lagu, "Against All Odds" oleh Postal Service dan "the Scientist" oleh Danny Lohner & Johnette Napolita. Tafsir ulang yang membuat kedua lagu tersebut lebih bagus dari penyanyi yang sesunggunya, Phil Collins dan Coldplay.



Makna yang lain adalah "janji". Kita berjanji pada diri sendiri akan esok yang lebih baik. Pada titik ini, lagu "Maybe Tomorrow" mirip dengan lagu "Perfect" dari album "Adore" milik Smashing Pumpkins yang semestinya saya takar duluan. Janji bahwa kita akan pulang atau lebih baik/lebih sempurna pada suatu hari adalah tetap sebuah janji. Kita akan menuntaskannya tunai bila janji itu sudah dipenuhi. Namun bila berkaitan dengan janji pada diri sendiri, bagaimana kita yakin kita akan menunaikan janji? esok, tahun depan, belum dipenuhi, atau secara tak sadar sudah dipenuhi?



Ada rekan yang pernah berkata agar tidak terus menerus berjanji pada diri sendiri. Hidup mestinya dijalani dengan sungguh-sungguh dan tidak dipenuhi janji belaka. Tetapi dalam kasus menonton langsung penampilan Stereophonics dan Smashing Pumpkins, saya hanya bisa berjanji, maybe next time, maybe tomorrow....




Ayo menyanyikan lagu keren ini bersama:



"Maybe Tomorrow"

oleh Stereophonics



I'm wondering why

These little black clouds

Keep walking around

With me

With me



It wastes time

And I'd rather be high

Think I'll walk me outside

And buy a rainbow smile

But be free

They're all free



So maybe tomorrow

I'll find my way home

So maybe tomorrow

I'll find my way home



I look around at a beautiful life

Been the upperside of down

Been the inside of out

But we breatheWe breathe



I wanna breeze and an open mind

I wanna swim in the ocean

Wanna take my time for me

All me



So maybe tomorrow

I'll find my way home

So maybe tomorrow

I'll find my way home

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...