Oleh: Wisnu Martha Adiputra dan Diyah Hayu Rahmitasari
Ketika coba mereview album drama musikal Laskar Pelangi, saya teringat dengan seorang rekan yang minggu depan akan melanjutkan studi ke Australia. Rekan saya ini jauh lebih muda dari saya dan galibnya orang muda, dia begitu antusias belajar banyak hal tentang fenomena komunikasi dan tulisan-tulisannya juga bagus. Walau dia lebih muda, saya pun banyak belajar darinya. Walau kemudian kami tidak lagi sekantor, saya yakin di lain waktu kami akan berkolaborasi lagi dalam menulis dan meneliti. Bagaimana pun aktivitas akademis, meneliti, mempublikasi hasil telaah, dan berbuat atau berkontribusi untuk masyarakat, tidak akan bisa dibatasi oleh tempat. Kerja akademis itu berbasis pada kompetisi yang sehat dan kolaboratif di berbagai kampus dan organisasi masyarakat sipil.
Hal lain yang membuat saya teringat pada dirinya adalah bahwa kami pernah menulis bersama tentang film Laskar Pelangi sekitar dua tahun yang lalu. Hayu, dan juga Zaki, selamat belajar (lagi) dan sukses selalu untuk kalian berdua (eh, bertiga dengan dek Hayya). Teruslah menjadi “anak muda” yang menginspirasi dan menularkan kebaikan. Dan seperti kata Hayu di tulisan di bawah ini, janganlah melupakan mimpi-mimpi besar kita :D
Hayu, selamat mengenang-ngenang. Teman-teman, terutama yang saya taut, selamat membaca....
Rasanya film Laskar Pelangi belum berhenti membuat kejutan demi kejutan bagi kita. Kejutan terakhir adalah jumlah penontonnya yang sudah mencapai hampir tiga juta dalam waktu sebulan masa tayang. Sekitar empat puluh hari sejak film Laskar Pelangi dirilis pada 25 September 2008 di bioskop-bioskop Indonesia, masih ditemui deretan panjang antrian penonton yang disusul dengan terpasangnya kertas putih bertuliskan “maaf, tiket Laskar Pelangi untuk hari ini habis”. Terlepas dari fakta bahwa hanya ada satu bioskop yang menayangkan Laskar Pelangi di Yogyakarta, fenomena ini mempertegas bukti bahwa film besutan Riri Riza ini memang layak diacungi jempol.
Diangkat dari sebuah novel best-seller karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi bercerita tentang anak-anak Belitong dalam memperjuangkan mimpi mereka, terutama impian yang terkait dengan pendidikan, disertai pula dengan bumbu-bumbu diskriminasi, persahabatan, dan juga cinta. Dengan setting alam Pulau Belitong yang indah dan unik, film ini mencoba menawarkan sesuatu yang relatif baru bila dibandingkan dengan urusan mistis dan berbau pornigrafi yang seringkali muncul dalam film Indonesia.
Hal yang paling penting menurut kedua penulis adalah kita dapat belajar dari sesuatu yang positif dari fenomena Laskar Pelangi. Inti dari “pelajaran” tersebut adalah bahwa kebaikan itu menular. Bila kita terus berusaha berbuat baik dengan sekuat tenaga, kebaikan tersebut akan menulari pihak lain, dan juga diri kita di upaya berikutnya. Kebaikan tersebut akan merembes ke mana-mana.
Paling tidak ada tiga hal baik yang ditularkan dan juga diciptakan (kembali) oleh Laskar Pelangi. Pertama, penularan “pesan” media yang baik. Buku (novel) yang bagus “menulari” penciptaan film yang bagus. Film yang bagus menulari penciptaan album soundtrack yang bagus. Bukunya dibeli dan dibaca oleh banyak pembaca dan telah sampai dicetak ulang berkali-kali. Filmnya ditonton oleh jutaan orang. OST (Original Soundtrack)-nya habis di toko-toko kaset dan CD. Fakta larisnya album OST Laskar Pelangi pasti akan lebih bila pembajakan tidak marak di Indonesia. Larisnya Laskar Pelangi dalam variasi produk dan kreasi pesan medianya ini tentu saja bukan melulu karena kualitas tetapi juga karena tim manajemen dan distribusi yang bekerja dengan sangat baik.
Dari sini kami berdua menyimpulkan bahwa proses “adaptasi” pesan pada dasarnya adalah esensi dari kerja media. Sebagai sebuah karya fiksi kreatif, realitas yang ada di dalam film dan buku adalah rekonstruksi dari realitas sosial. Hal ini pula yang berlaku dalam film Laskar Pelangi. Film ini bahkan merupakan hasil dua kali adaptasi. Pertama, adaptasi Andrea Hirata atas hidup personalnya dan kehidupan masyarakat Belitong yang ditafsirnya, dan kedua, hasil adaptasi Riri Riza atas novel Andrea Hirata. Sangat wajar jika kemudian, kisah di dalam film memiliki hiperbola di sana-sini, sebagaimana yang dikeluhkan oleh audiens yang mengakses kedua pesan media, buku dan film. Misalnya, keberadaan Lintang sebagai si jenius hasil didikan alam. Bagi beberapa orang hal ini dianggap sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta, ambisius dan berlebihan. Juga adegan menunggu buaya lewat yang menurut beberapa penonton tidak masuk akal. Walau begitu, secara umum metamorfosis pesan media Laskar Pelangi dari novel ke film merupakan proses yang bagus karena memang berada dalam koridor pesan fiksional.
Kedua, kebaikan tersebut tidak hanya menulari pesan atau teks media yang lain, “penularan” hal-hal baik dan asali tersebut juga mewujud sampai ke dunia nyata. Beberapa kejadian nyata terinspirasi oleh Laskar Pelangi. Berbagai kejadian tersebut paling tidak terdokumentasi dalam media massa akhir-akhir ini. Ada guru yang berusaha menjadi guru yang lebih baik lagi seperti ibu Muslimah, salah satu tokoh di Laskar Pelangi. Ada kepedulian yang meningkat pada pendidikan oleh pemerintah dan berbagai elemen masyarakat, juga perhatian yang lebih besar pada daerah terpencil, seperti sekolah yang hampir roboh, SD Muhammadiyah di pulau Belitong, yang fasilitas pendidikannya minim.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa Laskar Pelangi dapat mendorong perubahan walau belum bersifat sistemik? Kita akan sedikit menafsir teks filmnya. Antara lain jawabnya adalah Laskar Pelangi mengajak kita berpikir alternatif. Ada perspektif baru yang ditawarkan. Kita “dipaksa” untuk merombak pemikiran dan mulai mengindahkan fakta bahwa masih ada anak-anak yang bersekolah dengan tidak menggunakan seragam, masih banyak pembelajar yang belajar berhitung dengan batang lidi, bahkan masih banyak anak yang mesti putus sekolah karena keadaan yang memaksa seperti Lintang. Kesediaan untuk melihat sesuatu hal dengan perspektif yang lain merupakan langkah awal untuk bisa memahami (dan menikmati) kehidupan. Laskar Pelangi telah mengajarkan hal tersebut.
Kebaikan dalam level ini diharapkan bisa menular pada hal baik yang lain, yaitu menghargai pendidikan, meskipun ketika adegan para anggota Laskar Pelangi mengusir kambing-kambing dari ruang kelas terpampang di layar, masih banyak penonton yang tertawa ngakak dan bukannya tersenyum miris. Contoh ini menunjukkan bahwa kita masih memerlukan waktu lagi untuk menghargai pendidikan dengan tulus, bukan pada gelar ataupun potensi ekonomi, melainkan pada proses pendidikan yang mencerahkan.
Hal berikutnya yang dapat menggugah kita adalah tentang impian masa kecil. Film yang berdurasi lumayan panjang ini menekankan pentingnya “membebaskan” impian masa kecil, yang mungkin kelak akan berguna ketika kita bertambah dewasa: jangan pernah mematikan impian sendiri. Salah satu merek otomotif terkemuka pernah menggunakan tagline “the Power of Dream” atau kekuatan mimpi. Mimpi memang merupakan kekuatan yang sangat penting, terutama mimpi-mimpi yang kita miliki semasa kecil. Karena gambar menara Eiffel pada kotak yang diberikan Aling-lah, Ikal kecil kemudian bermimpi untuk bisa pergi ke Paris. Mimpi itu akhirnya berhasil diwujudkannya. Siapa yang menyangka jika tanpa sadar, mimpi masa kecil tersebut mengendap di otak dan kemudian merembes pada hati dan tindakan dan pada akhirnya menggiringnya untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sepertinya Paulo Coelho benar, ketika ia mengatakan bahwa ketika kita bermimpi, seluruh jagat raya akan bersatu padu untuk membantu kita mewujudkan mimpi tersebut.
Terakhir, kebaikan dari Laskar Pelangi juga semestinya membuat kita kembali berpikir atas efek positif dari media. Selama ini kita lebih sering berfokus pada efek negatif media, misalnya pengaruh media yang dianggap besar pada kekerasan, pornografi, dan panik massa. Kepanikan masyarakat sebagai akibat tayangan Smackdown di layar televisi beberapa tahun yang lalu adalah contohnya. Bila ada kejadian negatif di masyarakat, kita cenderung menyalahkan media. Bila ada efek positif, kita cenderung melupakan media. Kini saatnya kita kembali memperhatikan dan mengoptimalkan cara agar media memfasilitasi kebaikan pada kehidupan bersama masyarakat Indonesia.
Akhir kata, Laskar Pelangi adalah fenomena luar biasa. Tetapi hal yang lebih luar biasa adalah bagaimana kebaikan ditularkan olehnya. Perbuatan baik mungkin sesuatu yang sudah cukup banyak dilakukan oleh insan bangsa ini tetapi kebaikan yang menular dan ditularkan terus menerus pada banyak orang adalah sesuatu yang masih jarang. Belajar dari Laskar Pelangi, marilah kita saling menularkan kebaikan!
*****
#Tulisan dalam versi awal dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, 13 November 2008. Tulisan ini sudah mengalami sedikit perbaikan.
Jumat, 14 Januari 2011
Alibi

Alibi adalah istilah teknis psikologis yang selalu teringat dalam keadaan terdesak. Kita memerlukannya bila kita pikir kita tak mampu meneruskan banyak janji atau komitmen. Sebuah peristiwa bisa tidak kita ketahui akhirnya, namun menyebutkannya berarti ada indikasi kita menyerah. Alibi lebih dari sekadar alasan. Alibi adalah alasan yang tidak lagi terbantahkan namun tabu untuk dilafalkan.
Alibi ialah semacam pisau yang siap terhujam atau senapan yang telah terkokang. Alibi adalah senjata yang siap meluluh-lantakkan asamu sendiri. Siapa yang tak takut mimpinya sendiri hancur? Siapa yang tak takut dengan manusia lain yang memang adalah serigala bagi sesamanya? Ini adalah fakta. Atau manusia itu mungkin seperti semut yang saling membantu? Ini adalah fiksi, atau paling banter faksi (fakta dan fiksi sekaligus). Tetapi alibi selalu ada melampau metafor. Kitalah yang bersalah dan bermasalah, bukan orang-orang lain.
Alibi semestinya bukan seseorang di mana kau akan memberinya label yang selalu beroposisi biner. Alibi tak ada pada seseorang. Mungkin orang yang kita cintai adalah sumber utama alasan kita hidup, tetapi pasti selalu ada hal-hal lain bukan? Orang yang paling kita cintai tentu saja alibi hidup yang terpenting, namun alibi tersebut mesti cukup kuat agar kita tidak menyesal hidup bersama alibi kita karena hidup ini sesungguhnya sebentar saja. Orang yang kau cintai tentu saja penting sehingga dia bisa menjadi alibi bagi banyak hal lain. Walau begitu, sebenarnya masih ada beberapa alibi lain dalam hidup kita sendiri, misalnya saja perdamaian dunia, jihad ilmu pengetahuan, dan hidup yang multi-interkultural.
Atau, alibi seharusnya juga bukan ruang di mana harapan dan hasrat berada dalam pipilan dan serpihan terhirarki. Seperti waktu yang baru saja kau sobek penunjuknya, kalender. Alibi juga melampaui ruang. Bukankah tidak ada alibi sederhana, alibi sedang, juga alibi serius? Alibi hanyalah alibi. Tidak bisa dibagi-bagi lagi. Alibi itu satu sekaligus banyak. Namun, alibi bisa sangat kuat bila dia melampaui semua kemasan waktu. Alibi itu bila berhadapan dengan waktu sekiranya mirip dengan persamaan ini: ax + bx = x(a + b). Persamaan sederhana namun berkelas.
Pada akhirnya, alibi adalah sebentuk pembenar agar kita berani “mencuri” waktu dari Nya. Dia memberikan banyak kesempatan bersama alibi-alibinya. Walau begitu, hanya ada satu alibi utama: hidup yang lebih bermakna, bagi manusia-manusia lain sekaligus bagi diri sendiri. Hidup yang diperjuangkan setiap detiknya sesuai dengan jalan kita.
Menuju-Nya.
#####
Terinspirasi dari:
Alibi oleh Duncan Sheik
(dari album “Humming”, 1998)
Did you come down to give me
or take me away
I had so many things to tell you
But now I don't have much to say
This feeling like we're hiding out, is getting in the way
Let's quit the town just look around
There's nothing here to keep us alive
If they try to run us down
You know I'm on your side
And I want you to be my alibi
So they won't find me
And they won't find you
And we may tell lies
But we may be true
Did you come down to take me
Or give me away
I had so many things to ask you
Now you don't have much to say
And these alcoholic afternoons, are getting in the way
Let's quit the town just look around
There's nothing here to keep us alive
If they try to run us down
You know I'm on your side
And I want you to be my alibi
So they won't find me
And they won't find you
And we may tell lies
But we may be true
I want to be your alibi...
Til the day we die
#####
Alibi Lunar
Pembabakan
Merobek
Bermain jemari
Narsisme
Menelanjangi buku
Harakiri untuk teman-teman
Siapa yang menghamba sahaja?
Pembibitan
Mencacah
Membenci detail
Relativisme
Menyayangi ketiadaan
Bercinta dengan musuh-musuh
Siapa yang menghampa sahaya?
Penautan
Mengkhianati
Menghakimi perbedaan
Banalisme
Mengeksistensi pada kekosongan
Memukuli kerabat sendiri
Siapa yang kini menggunakan kapasitas otak sisa?
Pembubutan
Menjahanami
Meratapi kemarin
Glokalisme
Memberikan etika pada protokol
Masih banyak yang belum dikenal baik-baik
Siapa yang merutuki nasib?
Pembalakan
Membelakangi
Menyumpahi esok
Realisme
Melipat hasrat pada benda-benda
Kesaksian yang dimuntahkan
Siapa yang kemudian membabi-buta pada kuasa?
Perajaman
Mengalungi
Mengorbankan diri untuk amarah
Idealisme
Melontarkan mimpi setinggi langit
Meraih hati yang berbulu
Siapa yang kemudian menuai benci?
Pembuncahan
Mengecambah
Membenci hari ini
Nihilisme
Melembamkan fajar
Menggapai hampa-hampa
Siapa yang kini menari sendirian?
*******
#lunar: berkaitan dengan bulan, sinar bulan
#terinspirasi dari “Numb” oleh U2
Merobek
Bermain jemari
Narsisme
Menelanjangi buku
Harakiri untuk teman-teman
Siapa yang menghamba sahaja?
Pembibitan
Mencacah
Membenci detail
Relativisme
Menyayangi ketiadaan
Bercinta dengan musuh-musuh
Siapa yang menghampa sahaya?
Penautan
Mengkhianati
Menghakimi perbedaan
Banalisme
Mengeksistensi pada kekosongan
Memukuli kerabat sendiri
Siapa yang kini menggunakan kapasitas otak sisa?
Pembubutan
Menjahanami
Meratapi kemarin
Glokalisme
Memberikan etika pada protokol
Masih banyak yang belum dikenal baik-baik
Siapa yang merutuki nasib?
Pembalakan
Membelakangi
Menyumpahi esok
Realisme
Melipat hasrat pada benda-benda
Kesaksian yang dimuntahkan
Siapa yang kemudian membabi-buta pada kuasa?
Perajaman
Mengalungi
Mengorbankan diri untuk amarah
Idealisme
Melontarkan mimpi setinggi langit
Meraih hati yang berbulu
Siapa yang kemudian menuai benci?
Pembuncahan
Mengecambah
Membenci hari ini
Nihilisme
Melembamkan fajar
Menggapai hampa-hampa
Siapa yang kini menari sendirian?
*******
#lunar: berkaitan dengan bulan, sinar bulan
#terinspirasi dari “Numb” oleh U2
Kelenjar Alibi

Mengerjap
Bau tanah menelungkup resah
Merona
Wangi tubuhnya terus menyergap khidmat
Untaian hujan yang menghiasi langit
Kalungan warna memoles matahari
dan dia pelan-pelan beranjak tinggalkan luka
Namun luka tak pernah meninggalkannya sedikit saja
Dari mana asalnya daya tahan ini?
Bertahan dari kepedihan yang terus menerus datang
Menjinakkan gundah yang akan selalu terlontar dari tiap sudut hari
Menyesap
Detik-detik terasa purba dan bersahaja
Mengalir terus begitu saja
Alibi Dini

Menggenggam
hari-hari di awal tahun
Menggendam
impian sendiri agar jinak pada rasa mengada
Mendendam
pada kemarin hanya sia-sia
Memendam
kesombongan, narsisme, antuasisme berlebih, dan hampa-hampa
Menajam
visi dalam praksis, ruang kreasi dinamis, dan strukturasi personal
Menggaram
detail dan substansi tiap buliran waktu
Dunia tak lagi miliki alibi
Tergodam!
Jumat, 07 Januari 2011
Album Musikal Laskar Pelangi: Kembali pada yang Asali

Ketika mendengarkan album “Musikal Laskar Pelangi” ini saya teringat dengan tim nasional sepakbola Indonesia yang tampil di piala AFF akhir tahun 2010 kemarin. Apa persamaan dan perbedaan Laskar Pelangi dengan timnas Indonesia? Perbedaan utamanya adalah Laskar Pelangi adalah hasil kreasi fiksi oleh Andrea Hirata yang berwujud novel dan terbit pada tahun 2005. Kisah ini memang sebagian berasal dari masa lalu penulisnya dan bersifat tak nyata, sementara timnas adalah sekumpulan pesepakbola berjumlah dua puluh tiga orang yang tampil mewakili Indonesia memainkan olahraga paling populer di negeri indah ini. Timnas adalah realitas. Fakta empiris yang ada dalam kehidupan. Mudah sekali mencari perbedaan keduanya. Kita akan menengok perbedaan yang lain nanti.
Lalu apa persamaannya? Persamaannya, Laskar Pelangi sebagai sebuah karya dan timnas sepakbola Indonesia adalah keduanya mengembalikan pada hal-hal yang asali. Hal-hal positif yang kita ingin rasakan secara kolektif. Hal asali pertama adalah keindahan berusaha dengan keras dari para tokohnya. Laskar Pelangi yang awalnya merupakan sebuah pesan media cetak, buku, kemudian juga merambah film dan musik rekaman. Kita semua ingat bahwa film dan OST dari film tersebut, media musik rekaman, yang muncul pada tahun 2008, juga sukses mengikuti novelnya. Kita disuguhkan kisah anak-anak yang berusaha dengan keras untuk menempuh pendidikan. Hanya satu anak yang kemudian bersekolah sangat tinggi tetapi kita semua pembaca bahagia dengan usaha yang mereka lakukan. Tak peduli pada akhir kisahnya, kita bahagia menyaksikan para tokoh Laskar Pelangi berusaha keras untuk belajar di tengah keterbatasan.
Hal yang sama terjadi pada timnas sepakbola kita. Kapan terakhir kali kita, masyarakat Indonesia, bergembira dengan sepakbola timnas sendiri? Kita mungkin sudah lupa karena sudah begitu lama. Saya pribadi antusias mengikuti timnas kita ketika jaman Bima Sakti cs bermain. Hal yang kita ingat baru saja di akhir tahun kemarin itu adalah kegembiraan mendukung timnas. Kita bangga dengan Firman Utina dan kawan-kawan tampil di lapangan. Walau kita tidak merengkuh gelar juara, kita bahagia melihat perjuangan berkelas timnas di leg kedua final AFF. Ada usaha yang luar biasa. Melalui sepakbola kemarin itu, rasa bangga kita atas nasionalisme Indonesia menguat kembali. Kita tahu bahwa masalahnya bukan di para pemain. Di tengah ketidakbecusan para pengurus PSSI, penampilan timnas adalah pelangi di hari-hari tak indah bersama PSSI yang mengurus sepakbola kita.
Hal yang asali tersebut juga mengalir dengan lancar dan hangat pada kita semua. Ide cerita yang sebenarnya biasa namun dikemas dengan luar biasa dari Laskar Pelangi mengalir pada pesan media yang lain. Perhatian masyarakat Indonesia juga kemudian membesar pada situasi pendidikan dasar di berbagai wilayah Indonesia, apalagi ketika novel Laskar Pelangi dibicakan dalam Kick Andy di sebuah stasiun televisi, salah satu dari sedikit program bagus di layar televisi kita.
Timnas sepakbola pun demikian juga. Antuasiasme masyarakat Indonesia menonton sepakbola negerinya sendiri meningkat. Keinginan besar untuk menjadi penonton yang baik juga meningkat. Hal ini terlihat dari dukungan yang tetap sangat besar pada timnas kita. Saya kira penyebabnya bukan ketampanan Irfan Bachdim keterampilan Christian Gonzales mengocek bola belaka, yang membuat fans timnas bertambah. Juga bukan hanya karena ekspos media yang besar sekali, namun sekali lagi, antusiasme itu berasal pada yang asali dari sepakbola. Baru kali ini kita begitu optimis memperbaiki kondisi persepakbola Indonesia. Baru kali ini kita sebagai masyarakat merasa terlibat intens karena pada hakekatnya sepakbola adalah punya kita bersama.
Bila kita sudah mengulik persamaan Laskar Pelangi dan timnas, kini saatnya kita melihat perbedaannya. Perbedaan lainnya, selain sifat fakta dan pesan media yang mungkin ditampilkan: faktual dan fiksional, adalah kehadiran di dalam pesan media yang lain. Dunia imajiner yang diciptakan Laskar Pelangi berkembang tidak hanya di novelnya, melainkan juga berkembang menjadi beragam isi pesan media lain sampai pada drama musikal ini. Drama musikal yang kembali meneguhkan bahwa sebagai seperangkat ide, Laskar Pelangi memang luar biasa. Pesan media yang belum muncul dari Laskar Pelangi hanyalah pesan media baru, misalnya Laskar Pelangi belum hadir di dalam game komputer. Padahal, bila kita melihat isinya potensi Laskar Pelangi untuk ditampilkan dalam game sangatlah besar. Laskar Pelangi bisa menjadi game yang bagus dan mendidik. Juga tak ada situs yang terus mengumpulkan informasi terbaru tentang Laskar Pelangi, misalnya tentang sekolah-sekolah dasar dan menengah di seluruh wilayah Indonesia yang bagus namun terkendala dengan fasilitas yang ada.
Hal ini yang berbeda dengan timnas sepakbola Indonesia. Timnas sebagai sebuah konsep dalam pesan media belumlah dikelola dengan baik. Timnas beserta sampirannya, terutama para istri pemainnya, memang muncul dalam infotainment. Tetapi bukan itu intinya dan dalam beberapa hal malah merugikan muncul dalam “berita” infotainment. Hal yang belum diupayakan adalah pesan mengenai timnas yang tertata dengan baik dalam beragam pesan media “formal” dari timnas sendiri. Misalnya saja timnas dibuatkan film dokumenter yang bagus, atau album kompilasi tentang timnas sehingga memiliki lagu sendiri. Bukan lagu dari film “Garuda di Dadaku” walau lagu tersebut bagus. Atau bahkan bekerja sama dengan pengembang game untuk ditampilkan dalam game sepakbola tentang timnas Indonesia. Bukankah anak bangsa kita banyak yang jago membuat game?
Album musik dari drama musikal Laskar Pelangi besutan Riri Riza ini sangat layak diapresiasi. Kesebelas lagu yang dihadirkan enak didengar dan bergenre langka dalam lanskap musik Indonesia. Erwin Gutawa dan Mira Lesmana piawai menghadirkan musik dan lirik yang pas. Mungkin karena Riri Riza dan Mira Lesmana jualah yang menghadirkan film Laskar Pelangi sekitar tiga tahun yang lalu. Penyanyi yang berkontribusi di album ini juga bagus, terutama Dira Sugandi dan Eka Deli. Belum lagi para penyanyi belia yang mengisi drama ini juga bersuara sangat bagus.
Lirik yang hadir di dalam semua lagu album ini juga termasuk kategori indah. Saya terkesan dengan upaya merelasikan konsep Laskar Pelangi dengan jembatan keledai untuk mengetahui ketujuh warna pelangi, mejikuhibiniu. Terobosan makna yang menarik setelah judul Laskar Pelangi di mana sebelumnya kata laskar identik dengan makna yang negatif; kekerasan dan intoleransi. Kini makna laskar berubah menjadi positif, kolaborasi dan keberagaman.
Walau begitu, masih ada sedikit kekurangan, yaitu tiadanya terobosan tafsir baru atas teks awal. Padahal ide awal yang berasal dari novel misalnya, sedikit memunculkan ketimpangan kelas dan relasi cinta antar etnis. Kedua topik “sensitif” itu bisa saja diperlebar tafsirnya. Ketimpangan kelas muncul dalam lagu “Nasib Tak akan Berubah” dengan kata kuli yang disebut berulang-ulang. Istilah ini bisa dieksplorasi lebih mendalam. Jangan-jangan kita semua adalah kuli dan ada di banyak bidang lain selain pendidikan? Pun dengan relasi cinta antar etnis di lagu “Jari-jari Cantik”, yang berkisah bagaimana Ikal jatuh cinta pada Aling. Fenomena jatuh cinta kultural yang hanya melalui jari-jari Aling. Menarik bila problematika hubungan dua anak manusia antar etnis di lagu tersebut, juga di kisah aslinya, dilebarkan lagi. Mungkin dalam kisah yang nantinya muncul dalam pesan media yang lain. Di dalam pesan media yang bukan untuk anak-anak atau semua umur.
Kekurangan yang lain adalah kesempatan audiens untuk mengakses pesan media ini. Sama seperti drama musikalnya yang hanya dimainkan di Jakarta dalam waktu hanya beberapa hari, album ini hanya bisa diakses atau dibeli di toko-toko buku Gramedia sehingga kesempatan masyarakat menikmati karya yang bagus ini terlimitasi. Di luar itu semua, album ini sangat layak didengarkan oleh semua usia dan dalam semua waktu, siang atau pun malam, karena yang asali selalu cocok untuk semua umur dan semua keadaan. Karena yang asali selalu membuat kita bahagia dan tercerahkan.
Judul Album : Musikal Laskar Pelangi
Penyanyi : Various Artist
Komposer : Erwin Gutawa & Mira Lesmana
Produser dan Arranger : Erwin Gutawa
Tahun : 2010
Daftar lagu:
1.Ensemble Theater Company Musikal Laskar Pelangi & Lea Simanjuntak - Nasib Tak Akan Berubah
2.Anak-anak Laskar Pelangi - Anak Pelangi
3.Christoffer Nelwan - Jari-jari Cantik
4.Gabriel B. Harvianto, Lea Simanjuntak & Iyoq Kusdini - Sekolah Miring
5.Eka Deli & Ensemble Anak-anak Laskar Pelangi - Sahabat Alam
6.Teuku Rizki & Ensemble Musikal Laskar Pelangi - Mahar & Alam
7.Ensemble Theater Company Musikal Laskar Pelangi - Blues Nasib Tak Akan Berubah
8.Dira Sugandi - Hilangnya Harapan
9.Hilmi Faturrahman & Ivant Septiawarman - Menanti Ayah, Menanti Lintang
10.Hilmi Faturrahman - Salam Perpisahan
11.Ensemble Theater Company Musikal Laskar Pelangi - Nasib Telah Berubah
Selasa, 04 Januari 2011
The 15 Best Indonesian Albums of 2010















Tahun 2010 musik Indonesia masih disemarakkan dengan album-album bagus walau dipandang dari sisi industri, dominasi yang ada bukanlah dari album-album yang berkelas, minimal dari yang kita dengar dan lihat di televisi. Juga dari media cetak, pembicaraan tentang lebih banyak didominasi oleh mainstream. Pertemuan antar “arus utama” itu galib terjadi di tengah media yang didominasi profit semata. Hanya sedikit media arus utama dan sedikit lebih banyak media alternatif yang mengulas album-album berkelas.
Secara sepintas saya merasakan album yang berkelas menurun jumlahnya dibandingkan dengan tahun lalu. Kalau album tak berkelas sih, masih sangat banyak diproduksi dan dengan mudah didapatkan di toko-toko cakram padat. Dengan begitu, akses saya di tahun ini atas musik Indonesia juga terbatas dari sisi jumlah album yang didengar. Kelangkaaan itu kemudian juga menular pada musisi atau penyanyi baru yang muncul. Tidak ada nama yang benar-benar baru dari kelimabelas nama yang saya pilih ini.
Kebanyakan adalah penyanyi kugiran walau beberapa sudah sangat lama tidak menelurkan album. Ada juga dua penyanyi yang baru pertama-kali mengeluarkan album tetapi “sepak-terjang” karir bermusiknya sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Reputasi yang telah mereka bangun pun sudah lumayan mumpuni.
Hal lain yang unik adalah hanya ada satu album yang merupakan kolaborasi dari banyak penyanyi atau musisi. Sisanya adalah album yang dibawakan satu band atau satu penyanyi. Walau begitu, satu album kolaborasi tersebut mempunyai daya tarik dan daya gedor luar biasa. Album itu adalah kolaborasi “Jogja Istimewa 2010” yang awalnya untuk memperingati ulang tahun kota Yogyakarta, kemudian juga untuk membuat kita ingat dengan erupsi Merapi. Walau kemudian, album ini melenting dalam pusaran gonjang-ganjing keistimewaan Yogyakarta antara masyarakat Yogyakarta dan pemerintah pusat. Album ini segera mendapatkan perhatian lebih.
Ada tiga argumen yang saya gunakan untuk menakar dan menentukan kelimabelas album Indonesia terbaik versi saya. Pertama, saya bukan musisi dan saya pun awam dengan musik. Perangkat pemikiran yang saya pahami adalah kajian media sehingga saya akan menelaah musik populer dari sudut pandang ilmu yang saya pelajari tersebut. Dengan demikian, kohesivitas “pesan” yang dibawa oleh album merupakan alasan utama penentu. Kedua, walau begitu, musik yang enak didengar juga adalah hal yang sangat penting.
Inilah dualitas album, meminjam istilah dari Giddens, bahwa musik dan isi album adalah dua elemen yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, bahkan saling mendukung dan menguatkan. Kira-kira maknanya seperti di film populer, “Music and Lyric” yang diperankan oleh Hugh Grant dan Drew Barrymore, bahwa musik dan lirik saling melengkapi dan menyatukan. Lagu, dan juga kumpulannya, album, terdiri dari dua elemen tersebut.
Terakhir, arti penting album tersebut dalam lanskap atau hamparan musik Indonesia selama ini. Apakah ada unsur kebaruan dan keunikan dari semesta album yang pernah ada adalah isu kuncinya. Walau begitu, saya sangat menyadari bahwa pengamatan saya atas musik populer Indonesia belumlah maksimal. Semua tergantung dari sumber daya saya yang terbatas, waktu, dana, dan pengalaman.
Anggap saja daftar ini sekadar memberikan tambahan catatan kaki atas banyak daftar album Indonesia terbaik tahun ini yang bermunculan di berbagai media, terutama media utama seperti Rollingstone Indonesia. Juga daftar yang dilansir oleh rekan-rekan sesama pecinta musik Indonesia. Bukankah beragam tafsir atas sesuatu diperlukan untuk memperdalam keindahan?
Berikut ini lima belas album Indonesia terbaik tahun 2010 kemarin:
Peringkat kelimabelas, album Exellentia oleh KLa Project. Album comeback yang lumayan bagus bagi sebuah band senior yang sudah lama tidak mengeluarkan album penuh. Album ini juga berperan sebagai pengobat rindu bagi Klanis yang dirilis di akhir tahun. Album ini bagus walau bisa lebih bagus lagi di album berikutnya. Lagu “Hidup adalah Pilihan” adalah lagu yang enak didengar sekaligus mengingatkan kita pada kemampuan Kla membuat lagu yang enak didengar sekaligus dengan lirik puitis nan sederhana.
Keempatbelas, adalah debut album dari Lala Suwages yang berjudul “Langkah Baruku”. Album ini sesuai dengan judulnya adalah langkah yang bagus. Adonan khas album penyanyi baru dengan memberikan beberapa lagu bagu diaduk dengan satu atau dua lagu lama terlihat berhasil. Kita akan mendengar dua lagu legendaris dalam tafsir baru yang baik dan segar. Silakan dengarkan “Nada Kasih” dan “Semua Jadi Satu” versi Lala.
Album miliki Maliq & D'essentials yang berjudul “The Beginning of A Beautiful Life” ada di peringkat ketigabelas. Musik yang enak jadi teman bergoyang yang santun seperti biasa jadi andalan album-album mereka. Selain itu keterampilan Maliq & D'essentials dalam membuat kemasan album patut menjadi inspirasi walau jangan sampai kita melupakan isi atau substansi dengan terlalu berlebihan memperhatian pengemasan pesan.
Keduabelas, adalah album dari Indro Hardjodikoro yang berjudul “Feels Free”. Mendengarkan album ini kita benar-benar merasa “bebas” dan juga takluk pada “kesederhanaan” musisinya yang menghablur dalam semua lagu. Lagu “My Angels” membuat saya benar-benar merasa bersyukur memiliki orang-orang yang dicintai dengan tulus di dalam hidup yang hanya satu kali ini.
Album Sajama Cut yang berjudul “Manimal” hadir di hirarki kesebelas. Ide yang berasal dari sebuah judul film televisi dekade 1980-an bermetamorfosis menjadi “teks” baru yang lumayan ciamik. Walau belum sebagus album “Osaka Journals”, album ini enak diakses dan dihayati terutama lagu yang berjudul “Twice (Rung the Ladder)”.
Kesepuluh, album “Dream, Hope, and Faith” dari Monita Tahalea. Penyanyi jebolan Indonesian Idols ini menunjukkan bahwa di tangan yang tepat, album yang bagus dan sesuai dengan tipe suara penyanyi bisa dihasilkan. Beberapa lagu sangat bagus, terutama interpretasi ulang atas lagu “Over the Rainbow” dan “Di Batas Mimpi”.
Peringkat kesembilan adalah Andien dengan album “Kirana”. Selain tafsir baru dua lagu milik Krakatau, yaitu “Gemilang” dan “Keraguan”, lagu-lagu lain juga enak didengar. Mendengarkan album ini membuat saya benar-benar rindu dengan lagu-lagu yang pernah dipopulerkan oleh Krakatau jaman dulu seperti “Sekitar Kita” dan “Kau Datang”.
Album untuk khalayak pendengar Indonesia oleh Sandhy Sondoro dengan judul yang sama dengan penyanyinya ada di peringkat kedelapan. Album yang menunjukkan kemampuan penyanyinya yang ciamik, yang telah besar sebelumnya di manca negara. Album ini berisi pesan yang sarat dengan kebaikan, sementara lagu cinta yang berjudul “End of the Rainbow” adalah lagu yang paling menggedor sukma bila didengarkan dengan khidmat.
Peringkat ketujuh adalah album kedua dari Endah N Rhesa yang berjudul “Look What We've Found”. Album yang berkonsep bertualang di sebuah pulau tropis yang eksotis ini memang berbeda dengan debut album yang memukau itu, namun album ini juga memiliki keindahannya sendiri, terutama untuk lagu “Midnight Sun”. Lagu yang lebih cepat dari lagu mereka umumnya dan tetap terasa karakter penyanyinya.
Album “Laju” yang dihantarkan oleh Bonita adalah album di peringkat keenam. Album yang padat berisi beragam jenis musik yang enak didengar dan tafsir kehidupan perempuan yang menarik. Keberagaman musik yang indah membuat kita tak bosan mendengarkan penuh album ini berkali-kali. Tidak hanya lagu “Komidi Putar”, yang menjadi lagu terbaik di OST Sang Pemimpi, yang bagus, lagu-lagu lain semisal “Telur” dan “Mellow” juga bagus sekali.
Kelima adalah album milik White Shoes & the Couples Company, yang berjudul “Album Vakansi”. Album penuh kedua milik mereka ini membuat kita terkenang-kenang pada musik Indonesia masa lalu dengan penuh. Nuansa perjalanan yang dimunculkan juga membuat kita merasa lebih dekat dengan Indonesia yang indah. Mendengarkan album ini serasa mengantarkan saya pada masa lalu, mendengarkan lagu-lagu Indonesia lama, membaca komik karya Djair, dan menonton film-film Barry Prima. Hampir semua lagu di album ini bagus, terutama “Selangkah ke Seberang” yang merupakan lagu lama Fariz RM sekaligus memunculkan pencipta dan penyanyi aslinya.
Album kerja bersama yang berjudul “Jogja Istimewa 2010” hadir di peringkat keempat. Album yang kontekstual dengan tiga hal, yaitu pertama, alasan awal kompilasi ini dimunculkan, HUT kota Yogyakarta. Kedua, alasan selanjutnya, yang juga menunda perilisannya, yaitu erupsi Merapi yang melanda kota berkah ini. Terakhir, alasan yang terkuat, keistimewaan masyarakat Yogyakarta, polemik yang muncul tak lama setelah album ini dirilis. Semua lagu yang ada di album ini bagus, terutama lagu dari dua band yang saya suka, yaitu “The Joker” oleh Cranial Incisored dan “The Song Finished” oleh Armada Racun. Musisi Yogyakarta memang banyak yang bagus dan unik walau paling tidak dua nama besar tidak muncul di album ini. Lagu “Jogja Istimewa” oleh Ki Jarot (Jogja Hip Hop Foundation) sampai detik ini masih memenuhi atmosfer Yogyakarta, bukan hanya karena isu keistimewaan kota multikultur ini, namun juga karena lagu ini memang sangat enak didengarkan.
Di peringkat ketiga adalah album “La Peste” dari Armada Racun. Entah mengapa album bagus ini tidak tertangkap radar media arus utama untuk dilaporkan, diresensi, dan ditafsir, padahal isi pesan dan musik di album ini sangat oke. Ada lagu yang bercerita tentang kondisi yang paradoksal dalam kehidupan masyarakat kita, “Sad People Dance”, dan ada pula lagu yang berbincang politik dengan tajam, “Tuan Rumah tanpa Tanah”. Semua lagu itu juga bagus didengarkan dengan tulus.
Album “Starlit Carousel” dari Frau ada di peringkat kedua. Album yang hanya berisi enam lagu, namun gaungnya, daya dobraknya, seperti berasal dari album dengan banyak lagu. Denting piano dan vokal ciamik membuat pendengar terlena dan terpukau. Lagu “Mesin Penenun Hujan” membuat kita terbahagiakan dengan maknanya yang mistis sekaligus membawa kita berani memasuki hidup.
Terakhir, untuk album peringkat pertama saya memilih “Ode Buat Kota” oleh Bangkutaman. Berarti saya memilih empat album terbaik sesuai dengan kota Yogyakarta. Tiga album sebelumnya sangat Jogja, sementara album terbaik Indonesia ini pun “berasal” dari Yogyakarta walau kini semua personelnya sudah meninggalkan kota inspiratif ini. Mereka kemudian menafsir kehidupan kota metropolitan tempat mereka hidup sekarang dengan kritis, detail, sekaligus indah. Semua lagu di album ini bagus layaknya album the best namun dengan kohesivitas sebuah album konvensional. Lagu yang paling bagus tentu saja “Ode Buat Kota” adalah penggambaran kota Jakarta terbaik sejauh ini melalui lagu, bersanding dengan “Matraman” dari the Upstairs.
Bagaimana dengan daftar album terbaik Indonesia tahun 2010 versi teman-teman?
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis Lagi, Berjuang Lagi
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...
-
Liburan panjang seperti sekarang ini membuat saya memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplorasi koleksi musik dan buku saya. Senang juga ra...
-
Untuk seorang sahabat lama di hati dan bukan dalam kehidupan nyata.... Entah mengapa aku sangat merindukanmu sekarang. "Urgency of now...
-
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...