Ayo, jatuh cintalah lagi
pada hasrat yang terbagi kecil-kecil
pada waktu yang berdetik pelan-pelan
pada asa yang perlahan merambati pori-pori
pada angin yang membisik dalam-dalam
….: hidupilah hidupmu sebaik mungkin
Ayo, jatuh sayanglah lagi
pada lunar yang memberkasi semua rencana
pada visi yang mendekam di pikiran
pada ruang hampa antara malam dan siang
pada dingin yang menyergapmu rapat-rapat
....: hadapilah sisa hidup dengan berani
Ayo, merindulah kembali
pada saat-saat sunyi berkontemplasi
pada suci yang belum menstigma apa pun
pada sederhana pra taksonomi
pada hampa tiada menjura
….: bukalah telinga dan hati pada semua
Ayo, bertumpulah kembali
pada diri nan sendiri
pada siapa pun yang dicintai
pada musuh-musuh yang kompeten
pada lawan pendapat yang jadi kawan berpikir
….: tuangilah visi pada jiwa sedalam mungkin
Senin, 17 Januari 2011
Jumat, 14 Januari 2011
Fakta, Tafsir, dan Pledoinya

Seberapa luas kita masih saling merasakan resah?
Seberapa longgar kesempatan yang terberi untuk berbagi mimpi?
Seberapa terbatas masing-masing ego terunjuk pada relasi?
Seberapa kompeten kita mengintervensi preferensi personal?
Menuju resah masing-masing diri yang serupa
Menuang luka pada impian bersama
Memberi dikotomi pada privat dan publik
Menguji prosedur, kemampuan, dan hasil karya
Bagaimana bila fakta tak pernah eksis di luar diri?
Bagaimana bila perbedaan tafsir selalu membawa stigma mematikan?
Bagaimana bila egosentrisme dan kepublikan itu bukan dualitas?
Bagaimana bila di antara kita tiada yang berhak mencerca sekecil apa pun itu?
Soalnya, hidup ini tetap saja memahami realitas, menafsir dan membelanya
Jawabnya, tak ada
Bagaimana jika berjibaku saja dengan realitas tanpa berargumen lagi?
Cara Memulai Pledoi sekaligus Mengakhirinya

Bagaimana hidup mesti dimulai? kata sinar mentari pada bayangan
Bagaimana langkah mesti diawali? kata jalan setapak pada ujung asa
Bagaimana hidup mesti dimenangkan nanti? kata pikiran rasional pada tabula rasa yang tak mau beringsut
Bagaimana semuanya bisa baik-baik saja? lisan sepi pada keramaian
Sehabis malam yang damai, mengapa mesti beranjak?
Bagaimana hidup sehari mesti ditutup? kata bayangan pada matahari senja
Bagaimana ego mesti disimpulkan? kata pohon cahaya untuk hati yang temaram
Bagaimana mati mesti dirayakan nanti? kata spektrum emosi pada pikiran terklasifikasi
Bagaimana memastikan semuanya tersimpan di konsep strukturalisme? lisan riuh pada dualisme
Sehabis siang yang bergegas, mengapa mesti dicari alibi?
Aku hanya ingin membabaki hari bersama kau yang mendekam di hati
karena Dia menautkannya
Dia juga menamai benda-benda dan merangkaikan tafsirnya buat kita
Aku hanya ingin menjalani hidup dengan berani
karena Dia meniupkan jiwa kita di pagi dan mengambilnya sementara di malam hari
sebelum menyimpannya permanen
Sementara kita akan tetap menuju-Nya
dengan argumen siapa pun
tanpa pembelaan apa pun
Pledoi

Tersunyikan
Mengatup mata pelan-pelan
Membuka hati luas-luas
Sembunyi
Lebih tipis
Lebih bernas
Lebih menyala-nyala
Terlatenkan
Menyesap mimpi dalam-dalam
Menabal asa meruang luas
Kurang dalam
Kurang nyata
Kurang meluap-luap
Tersemburat
Mewarnai hanya pada varian hitam
Menihilkan yang merah semu beserta gradasinya
Lebih biasa
Biasa kurang
Biasa saja itu istimewa
Laskar Pelangi: Ketika Kebaikan Menular
Oleh: Wisnu Martha Adiputra dan Diyah Hayu Rahmitasari
Ketika coba mereview album drama musikal Laskar Pelangi, saya teringat dengan seorang rekan yang minggu depan akan melanjutkan studi ke Australia. Rekan saya ini jauh lebih muda dari saya dan galibnya orang muda, dia begitu antusias belajar banyak hal tentang fenomena komunikasi dan tulisan-tulisannya juga bagus. Walau dia lebih muda, saya pun banyak belajar darinya. Walau kemudian kami tidak lagi sekantor, saya yakin di lain waktu kami akan berkolaborasi lagi dalam menulis dan meneliti. Bagaimana pun aktivitas akademis, meneliti, mempublikasi hasil telaah, dan berbuat atau berkontribusi untuk masyarakat, tidak akan bisa dibatasi oleh tempat. Kerja akademis itu berbasis pada kompetisi yang sehat dan kolaboratif di berbagai kampus dan organisasi masyarakat sipil.
Hal lain yang membuat saya teringat pada dirinya adalah bahwa kami pernah menulis bersama tentang film Laskar Pelangi sekitar dua tahun yang lalu. Hayu, dan juga Zaki, selamat belajar (lagi) dan sukses selalu untuk kalian berdua (eh, bertiga dengan dek Hayya). Teruslah menjadi “anak muda” yang menginspirasi dan menularkan kebaikan. Dan seperti kata Hayu di tulisan di bawah ini, janganlah melupakan mimpi-mimpi besar kita :D
Hayu, selamat mengenang-ngenang. Teman-teman, terutama yang saya taut, selamat membaca....
Rasanya film Laskar Pelangi belum berhenti membuat kejutan demi kejutan bagi kita. Kejutan terakhir adalah jumlah penontonnya yang sudah mencapai hampir tiga juta dalam waktu sebulan masa tayang. Sekitar empat puluh hari sejak film Laskar Pelangi dirilis pada 25 September 2008 di bioskop-bioskop Indonesia, masih ditemui deretan panjang antrian penonton yang disusul dengan terpasangnya kertas putih bertuliskan “maaf, tiket Laskar Pelangi untuk hari ini habis”. Terlepas dari fakta bahwa hanya ada satu bioskop yang menayangkan Laskar Pelangi di Yogyakarta, fenomena ini mempertegas bukti bahwa film besutan Riri Riza ini memang layak diacungi jempol.
Diangkat dari sebuah novel best-seller karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi bercerita tentang anak-anak Belitong dalam memperjuangkan mimpi mereka, terutama impian yang terkait dengan pendidikan, disertai pula dengan bumbu-bumbu diskriminasi, persahabatan, dan juga cinta. Dengan setting alam Pulau Belitong yang indah dan unik, film ini mencoba menawarkan sesuatu yang relatif baru bila dibandingkan dengan urusan mistis dan berbau pornigrafi yang seringkali muncul dalam film Indonesia.
Hal yang paling penting menurut kedua penulis adalah kita dapat belajar dari sesuatu yang positif dari fenomena Laskar Pelangi. Inti dari “pelajaran” tersebut adalah bahwa kebaikan itu menular. Bila kita terus berusaha berbuat baik dengan sekuat tenaga, kebaikan tersebut akan menulari pihak lain, dan juga diri kita di upaya berikutnya. Kebaikan tersebut akan merembes ke mana-mana.
Paling tidak ada tiga hal baik yang ditularkan dan juga diciptakan (kembali) oleh Laskar Pelangi. Pertama, penularan “pesan” media yang baik. Buku (novel) yang bagus “menulari” penciptaan film yang bagus. Film yang bagus menulari penciptaan album soundtrack yang bagus. Bukunya dibeli dan dibaca oleh banyak pembaca dan telah sampai dicetak ulang berkali-kali. Filmnya ditonton oleh jutaan orang. OST (Original Soundtrack)-nya habis di toko-toko kaset dan CD. Fakta larisnya album OST Laskar Pelangi pasti akan lebih bila pembajakan tidak marak di Indonesia. Larisnya Laskar Pelangi dalam variasi produk dan kreasi pesan medianya ini tentu saja bukan melulu karena kualitas tetapi juga karena tim manajemen dan distribusi yang bekerja dengan sangat baik.
Dari sini kami berdua menyimpulkan bahwa proses “adaptasi” pesan pada dasarnya adalah esensi dari kerja media. Sebagai sebuah karya fiksi kreatif, realitas yang ada di dalam film dan buku adalah rekonstruksi dari realitas sosial. Hal ini pula yang berlaku dalam film Laskar Pelangi. Film ini bahkan merupakan hasil dua kali adaptasi. Pertama, adaptasi Andrea Hirata atas hidup personalnya dan kehidupan masyarakat Belitong yang ditafsirnya, dan kedua, hasil adaptasi Riri Riza atas novel Andrea Hirata. Sangat wajar jika kemudian, kisah di dalam film memiliki hiperbola di sana-sini, sebagaimana yang dikeluhkan oleh audiens yang mengakses kedua pesan media, buku dan film. Misalnya, keberadaan Lintang sebagai si jenius hasil didikan alam. Bagi beberapa orang hal ini dianggap sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta, ambisius dan berlebihan. Juga adegan menunggu buaya lewat yang menurut beberapa penonton tidak masuk akal. Walau begitu, secara umum metamorfosis pesan media Laskar Pelangi dari novel ke film merupakan proses yang bagus karena memang berada dalam koridor pesan fiksional.
Kedua, kebaikan tersebut tidak hanya menulari pesan atau teks media yang lain, “penularan” hal-hal baik dan asali tersebut juga mewujud sampai ke dunia nyata. Beberapa kejadian nyata terinspirasi oleh Laskar Pelangi. Berbagai kejadian tersebut paling tidak terdokumentasi dalam media massa akhir-akhir ini. Ada guru yang berusaha menjadi guru yang lebih baik lagi seperti ibu Muslimah, salah satu tokoh di Laskar Pelangi. Ada kepedulian yang meningkat pada pendidikan oleh pemerintah dan berbagai elemen masyarakat, juga perhatian yang lebih besar pada daerah terpencil, seperti sekolah yang hampir roboh, SD Muhammadiyah di pulau Belitong, yang fasilitas pendidikannya minim.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa Laskar Pelangi dapat mendorong perubahan walau belum bersifat sistemik? Kita akan sedikit menafsir teks filmnya. Antara lain jawabnya adalah Laskar Pelangi mengajak kita berpikir alternatif. Ada perspektif baru yang ditawarkan. Kita “dipaksa” untuk merombak pemikiran dan mulai mengindahkan fakta bahwa masih ada anak-anak yang bersekolah dengan tidak menggunakan seragam, masih banyak pembelajar yang belajar berhitung dengan batang lidi, bahkan masih banyak anak yang mesti putus sekolah karena keadaan yang memaksa seperti Lintang. Kesediaan untuk melihat sesuatu hal dengan perspektif yang lain merupakan langkah awal untuk bisa memahami (dan menikmati) kehidupan. Laskar Pelangi telah mengajarkan hal tersebut.
Kebaikan dalam level ini diharapkan bisa menular pada hal baik yang lain, yaitu menghargai pendidikan, meskipun ketika adegan para anggota Laskar Pelangi mengusir kambing-kambing dari ruang kelas terpampang di layar, masih banyak penonton yang tertawa ngakak dan bukannya tersenyum miris. Contoh ini menunjukkan bahwa kita masih memerlukan waktu lagi untuk menghargai pendidikan dengan tulus, bukan pada gelar ataupun potensi ekonomi, melainkan pada proses pendidikan yang mencerahkan.
Hal berikutnya yang dapat menggugah kita adalah tentang impian masa kecil. Film yang berdurasi lumayan panjang ini menekankan pentingnya “membebaskan” impian masa kecil, yang mungkin kelak akan berguna ketika kita bertambah dewasa: jangan pernah mematikan impian sendiri. Salah satu merek otomotif terkemuka pernah menggunakan tagline “the Power of Dream” atau kekuatan mimpi. Mimpi memang merupakan kekuatan yang sangat penting, terutama mimpi-mimpi yang kita miliki semasa kecil. Karena gambar menara Eiffel pada kotak yang diberikan Aling-lah, Ikal kecil kemudian bermimpi untuk bisa pergi ke Paris. Mimpi itu akhirnya berhasil diwujudkannya. Siapa yang menyangka jika tanpa sadar, mimpi masa kecil tersebut mengendap di otak dan kemudian merembes pada hati dan tindakan dan pada akhirnya menggiringnya untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sepertinya Paulo Coelho benar, ketika ia mengatakan bahwa ketika kita bermimpi, seluruh jagat raya akan bersatu padu untuk membantu kita mewujudkan mimpi tersebut.
Terakhir, kebaikan dari Laskar Pelangi juga semestinya membuat kita kembali berpikir atas efek positif dari media. Selama ini kita lebih sering berfokus pada efek negatif media, misalnya pengaruh media yang dianggap besar pada kekerasan, pornografi, dan panik massa. Kepanikan masyarakat sebagai akibat tayangan Smackdown di layar televisi beberapa tahun yang lalu adalah contohnya. Bila ada kejadian negatif di masyarakat, kita cenderung menyalahkan media. Bila ada efek positif, kita cenderung melupakan media. Kini saatnya kita kembali memperhatikan dan mengoptimalkan cara agar media memfasilitasi kebaikan pada kehidupan bersama masyarakat Indonesia.
Akhir kata, Laskar Pelangi adalah fenomena luar biasa. Tetapi hal yang lebih luar biasa adalah bagaimana kebaikan ditularkan olehnya. Perbuatan baik mungkin sesuatu yang sudah cukup banyak dilakukan oleh insan bangsa ini tetapi kebaikan yang menular dan ditularkan terus menerus pada banyak orang adalah sesuatu yang masih jarang. Belajar dari Laskar Pelangi, marilah kita saling menularkan kebaikan!
*****
#Tulisan dalam versi awal dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, 13 November 2008. Tulisan ini sudah mengalami sedikit perbaikan.
Ketika coba mereview album drama musikal Laskar Pelangi, saya teringat dengan seorang rekan yang minggu depan akan melanjutkan studi ke Australia. Rekan saya ini jauh lebih muda dari saya dan galibnya orang muda, dia begitu antusias belajar banyak hal tentang fenomena komunikasi dan tulisan-tulisannya juga bagus. Walau dia lebih muda, saya pun banyak belajar darinya. Walau kemudian kami tidak lagi sekantor, saya yakin di lain waktu kami akan berkolaborasi lagi dalam menulis dan meneliti. Bagaimana pun aktivitas akademis, meneliti, mempublikasi hasil telaah, dan berbuat atau berkontribusi untuk masyarakat, tidak akan bisa dibatasi oleh tempat. Kerja akademis itu berbasis pada kompetisi yang sehat dan kolaboratif di berbagai kampus dan organisasi masyarakat sipil.
Hal lain yang membuat saya teringat pada dirinya adalah bahwa kami pernah menulis bersama tentang film Laskar Pelangi sekitar dua tahun yang lalu. Hayu, dan juga Zaki, selamat belajar (lagi) dan sukses selalu untuk kalian berdua (eh, bertiga dengan dek Hayya). Teruslah menjadi “anak muda” yang menginspirasi dan menularkan kebaikan. Dan seperti kata Hayu di tulisan di bawah ini, janganlah melupakan mimpi-mimpi besar kita :D
Hayu, selamat mengenang-ngenang. Teman-teman, terutama yang saya taut, selamat membaca....
Rasanya film Laskar Pelangi belum berhenti membuat kejutan demi kejutan bagi kita. Kejutan terakhir adalah jumlah penontonnya yang sudah mencapai hampir tiga juta dalam waktu sebulan masa tayang. Sekitar empat puluh hari sejak film Laskar Pelangi dirilis pada 25 September 2008 di bioskop-bioskop Indonesia, masih ditemui deretan panjang antrian penonton yang disusul dengan terpasangnya kertas putih bertuliskan “maaf, tiket Laskar Pelangi untuk hari ini habis”. Terlepas dari fakta bahwa hanya ada satu bioskop yang menayangkan Laskar Pelangi di Yogyakarta, fenomena ini mempertegas bukti bahwa film besutan Riri Riza ini memang layak diacungi jempol.
Diangkat dari sebuah novel best-seller karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi bercerita tentang anak-anak Belitong dalam memperjuangkan mimpi mereka, terutama impian yang terkait dengan pendidikan, disertai pula dengan bumbu-bumbu diskriminasi, persahabatan, dan juga cinta. Dengan setting alam Pulau Belitong yang indah dan unik, film ini mencoba menawarkan sesuatu yang relatif baru bila dibandingkan dengan urusan mistis dan berbau pornigrafi yang seringkali muncul dalam film Indonesia.
Hal yang paling penting menurut kedua penulis adalah kita dapat belajar dari sesuatu yang positif dari fenomena Laskar Pelangi. Inti dari “pelajaran” tersebut adalah bahwa kebaikan itu menular. Bila kita terus berusaha berbuat baik dengan sekuat tenaga, kebaikan tersebut akan menulari pihak lain, dan juga diri kita di upaya berikutnya. Kebaikan tersebut akan merembes ke mana-mana.
Paling tidak ada tiga hal baik yang ditularkan dan juga diciptakan (kembali) oleh Laskar Pelangi. Pertama, penularan “pesan” media yang baik. Buku (novel) yang bagus “menulari” penciptaan film yang bagus. Film yang bagus menulari penciptaan album soundtrack yang bagus. Bukunya dibeli dan dibaca oleh banyak pembaca dan telah sampai dicetak ulang berkali-kali. Filmnya ditonton oleh jutaan orang. OST (Original Soundtrack)-nya habis di toko-toko kaset dan CD. Fakta larisnya album OST Laskar Pelangi pasti akan lebih bila pembajakan tidak marak di Indonesia. Larisnya Laskar Pelangi dalam variasi produk dan kreasi pesan medianya ini tentu saja bukan melulu karena kualitas tetapi juga karena tim manajemen dan distribusi yang bekerja dengan sangat baik.
Dari sini kami berdua menyimpulkan bahwa proses “adaptasi” pesan pada dasarnya adalah esensi dari kerja media. Sebagai sebuah karya fiksi kreatif, realitas yang ada di dalam film dan buku adalah rekonstruksi dari realitas sosial. Hal ini pula yang berlaku dalam film Laskar Pelangi. Film ini bahkan merupakan hasil dua kali adaptasi. Pertama, adaptasi Andrea Hirata atas hidup personalnya dan kehidupan masyarakat Belitong yang ditafsirnya, dan kedua, hasil adaptasi Riri Riza atas novel Andrea Hirata. Sangat wajar jika kemudian, kisah di dalam film memiliki hiperbola di sana-sini, sebagaimana yang dikeluhkan oleh audiens yang mengakses kedua pesan media, buku dan film. Misalnya, keberadaan Lintang sebagai si jenius hasil didikan alam. Bagi beberapa orang hal ini dianggap sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta, ambisius dan berlebihan. Juga adegan menunggu buaya lewat yang menurut beberapa penonton tidak masuk akal. Walau begitu, secara umum metamorfosis pesan media Laskar Pelangi dari novel ke film merupakan proses yang bagus karena memang berada dalam koridor pesan fiksional.
Kedua, kebaikan tersebut tidak hanya menulari pesan atau teks media yang lain, “penularan” hal-hal baik dan asali tersebut juga mewujud sampai ke dunia nyata. Beberapa kejadian nyata terinspirasi oleh Laskar Pelangi. Berbagai kejadian tersebut paling tidak terdokumentasi dalam media massa akhir-akhir ini. Ada guru yang berusaha menjadi guru yang lebih baik lagi seperti ibu Muslimah, salah satu tokoh di Laskar Pelangi. Ada kepedulian yang meningkat pada pendidikan oleh pemerintah dan berbagai elemen masyarakat, juga perhatian yang lebih besar pada daerah terpencil, seperti sekolah yang hampir roboh, SD Muhammadiyah di pulau Belitong, yang fasilitas pendidikannya minim.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa Laskar Pelangi dapat mendorong perubahan walau belum bersifat sistemik? Kita akan sedikit menafsir teks filmnya. Antara lain jawabnya adalah Laskar Pelangi mengajak kita berpikir alternatif. Ada perspektif baru yang ditawarkan. Kita “dipaksa” untuk merombak pemikiran dan mulai mengindahkan fakta bahwa masih ada anak-anak yang bersekolah dengan tidak menggunakan seragam, masih banyak pembelajar yang belajar berhitung dengan batang lidi, bahkan masih banyak anak yang mesti putus sekolah karena keadaan yang memaksa seperti Lintang. Kesediaan untuk melihat sesuatu hal dengan perspektif yang lain merupakan langkah awal untuk bisa memahami (dan menikmati) kehidupan. Laskar Pelangi telah mengajarkan hal tersebut.
Kebaikan dalam level ini diharapkan bisa menular pada hal baik yang lain, yaitu menghargai pendidikan, meskipun ketika adegan para anggota Laskar Pelangi mengusir kambing-kambing dari ruang kelas terpampang di layar, masih banyak penonton yang tertawa ngakak dan bukannya tersenyum miris. Contoh ini menunjukkan bahwa kita masih memerlukan waktu lagi untuk menghargai pendidikan dengan tulus, bukan pada gelar ataupun potensi ekonomi, melainkan pada proses pendidikan yang mencerahkan.
Hal berikutnya yang dapat menggugah kita adalah tentang impian masa kecil. Film yang berdurasi lumayan panjang ini menekankan pentingnya “membebaskan” impian masa kecil, yang mungkin kelak akan berguna ketika kita bertambah dewasa: jangan pernah mematikan impian sendiri. Salah satu merek otomotif terkemuka pernah menggunakan tagline “the Power of Dream” atau kekuatan mimpi. Mimpi memang merupakan kekuatan yang sangat penting, terutama mimpi-mimpi yang kita miliki semasa kecil. Karena gambar menara Eiffel pada kotak yang diberikan Aling-lah, Ikal kecil kemudian bermimpi untuk bisa pergi ke Paris. Mimpi itu akhirnya berhasil diwujudkannya. Siapa yang menyangka jika tanpa sadar, mimpi masa kecil tersebut mengendap di otak dan kemudian merembes pada hati dan tindakan dan pada akhirnya menggiringnya untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sepertinya Paulo Coelho benar, ketika ia mengatakan bahwa ketika kita bermimpi, seluruh jagat raya akan bersatu padu untuk membantu kita mewujudkan mimpi tersebut.
Terakhir, kebaikan dari Laskar Pelangi juga semestinya membuat kita kembali berpikir atas efek positif dari media. Selama ini kita lebih sering berfokus pada efek negatif media, misalnya pengaruh media yang dianggap besar pada kekerasan, pornografi, dan panik massa. Kepanikan masyarakat sebagai akibat tayangan Smackdown di layar televisi beberapa tahun yang lalu adalah contohnya. Bila ada kejadian negatif di masyarakat, kita cenderung menyalahkan media. Bila ada efek positif, kita cenderung melupakan media. Kini saatnya kita kembali memperhatikan dan mengoptimalkan cara agar media memfasilitasi kebaikan pada kehidupan bersama masyarakat Indonesia.
Akhir kata, Laskar Pelangi adalah fenomena luar biasa. Tetapi hal yang lebih luar biasa adalah bagaimana kebaikan ditularkan olehnya. Perbuatan baik mungkin sesuatu yang sudah cukup banyak dilakukan oleh insan bangsa ini tetapi kebaikan yang menular dan ditularkan terus menerus pada banyak orang adalah sesuatu yang masih jarang. Belajar dari Laskar Pelangi, marilah kita saling menularkan kebaikan!
*****
#Tulisan dalam versi awal dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, 13 November 2008. Tulisan ini sudah mengalami sedikit perbaikan.
Alibi

Alibi adalah istilah teknis psikologis yang selalu teringat dalam keadaan terdesak. Kita memerlukannya bila kita pikir kita tak mampu meneruskan banyak janji atau komitmen. Sebuah peristiwa bisa tidak kita ketahui akhirnya, namun menyebutkannya berarti ada indikasi kita menyerah. Alibi lebih dari sekadar alasan. Alibi adalah alasan yang tidak lagi terbantahkan namun tabu untuk dilafalkan.
Alibi ialah semacam pisau yang siap terhujam atau senapan yang telah terkokang. Alibi adalah senjata yang siap meluluh-lantakkan asamu sendiri. Siapa yang tak takut mimpinya sendiri hancur? Siapa yang tak takut dengan manusia lain yang memang adalah serigala bagi sesamanya? Ini adalah fakta. Atau manusia itu mungkin seperti semut yang saling membantu? Ini adalah fiksi, atau paling banter faksi (fakta dan fiksi sekaligus). Tetapi alibi selalu ada melampau metafor. Kitalah yang bersalah dan bermasalah, bukan orang-orang lain.
Alibi semestinya bukan seseorang di mana kau akan memberinya label yang selalu beroposisi biner. Alibi tak ada pada seseorang. Mungkin orang yang kita cintai adalah sumber utama alasan kita hidup, tetapi pasti selalu ada hal-hal lain bukan? Orang yang paling kita cintai tentu saja alibi hidup yang terpenting, namun alibi tersebut mesti cukup kuat agar kita tidak menyesal hidup bersama alibi kita karena hidup ini sesungguhnya sebentar saja. Orang yang kau cintai tentu saja penting sehingga dia bisa menjadi alibi bagi banyak hal lain. Walau begitu, sebenarnya masih ada beberapa alibi lain dalam hidup kita sendiri, misalnya saja perdamaian dunia, jihad ilmu pengetahuan, dan hidup yang multi-interkultural.
Atau, alibi seharusnya juga bukan ruang di mana harapan dan hasrat berada dalam pipilan dan serpihan terhirarki. Seperti waktu yang baru saja kau sobek penunjuknya, kalender. Alibi juga melampaui ruang. Bukankah tidak ada alibi sederhana, alibi sedang, juga alibi serius? Alibi hanyalah alibi. Tidak bisa dibagi-bagi lagi. Alibi itu satu sekaligus banyak. Namun, alibi bisa sangat kuat bila dia melampaui semua kemasan waktu. Alibi itu bila berhadapan dengan waktu sekiranya mirip dengan persamaan ini: ax + bx = x(a + b). Persamaan sederhana namun berkelas.
Pada akhirnya, alibi adalah sebentuk pembenar agar kita berani “mencuri” waktu dari Nya. Dia memberikan banyak kesempatan bersama alibi-alibinya. Walau begitu, hanya ada satu alibi utama: hidup yang lebih bermakna, bagi manusia-manusia lain sekaligus bagi diri sendiri. Hidup yang diperjuangkan setiap detiknya sesuai dengan jalan kita.
Menuju-Nya.
#####
Terinspirasi dari:
Alibi oleh Duncan Sheik
(dari album “Humming”, 1998)
Did you come down to give me
or take me away
I had so many things to tell you
But now I don't have much to say
This feeling like we're hiding out, is getting in the way
Let's quit the town just look around
There's nothing here to keep us alive
If they try to run us down
You know I'm on your side
And I want you to be my alibi
So they won't find me
And they won't find you
And we may tell lies
But we may be true
Did you come down to take me
Or give me away
I had so many things to ask you
Now you don't have much to say
And these alcoholic afternoons, are getting in the way
Let's quit the town just look around
There's nothing here to keep us alive
If they try to run us down
You know I'm on your side
And I want you to be my alibi
So they won't find me
And they won't find you
And we may tell lies
But we may be true
I want to be your alibi...
Til the day we die
#####
Alibi Lunar
Pembabakan
Merobek
Bermain jemari
Narsisme
Menelanjangi buku
Harakiri untuk teman-teman
Siapa yang menghamba sahaja?
Pembibitan
Mencacah
Membenci detail
Relativisme
Menyayangi ketiadaan
Bercinta dengan musuh-musuh
Siapa yang menghampa sahaya?
Penautan
Mengkhianati
Menghakimi perbedaan
Banalisme
Mengeksistensi pada kekosongan
Memukuli kerabat sendiri
Siapa yang kini menggunakan kapasitas otak sisa?
Pembubutan
Menjahanami
Meratapi kemarin
Glokalisme
Memberikan etika pada protokol
Masih banyak yang belum dikenal baik-baik
Siapa yang merutuki nasib?
Pembalakan
Membelakangi
Menyumpahi esok
Realisme
Melipat hasrat pada benda-benda
Kesaksian yang dimuntahkan
Siapa yang kemudian membabi-buta pada kuasa?
Perajaman
Mengalungi
Mengorbankan diri untuk amarah
Idealisme
Melontarkan mimpi setinggi langit
Meraih hati yang berbulu
Siapa yang kemudian menuai benci?
Pembuncahan
Mengecambah
Membenci hari ini
Nihilisme
Melembamkan fajar
Menggapai hampa-hampa
Siapa yang kini menari sendirian?
*******
#lunar: berkaitan dengan bulan, sinar bulan
#terinspirasi dari “Numb” oleh U2
Merobek
Bermain jemari
Narsisme
Menelanjangi buku
Harakiri untuk teman-teman
Siapa yang menghamba sahaja?
Pembibitan
Mencacah
Membenci detail
Relativisme
Menyayangi ketiadaan
Bercinta dengan musuh-musuh
Siapa yang menghampa sahaya?
Penautan
Mengkhianati
Menghakimi perbedaan
Banalisme
Mengeksistensi pada kekosongan
Memukuli kerabat sendiri
Siapa yang kini menggunakan kapasitas otak sisa?
Pembubutan
Menjahanami
Meratapi kemarin
Glokalisme
Memberikan etika pada protokol
Masih banyak yang belum dikenal baik-baik
Siapa yang merutuki nasib?
Pembalakan
Membelakangi
Menyumpahi esok
Realisme
Melipat hasrat pada benda-benda
Kesaksian yang dimuntahkan
Siapa yang kemudian membabi-buta pada kuasa?
Perajaman
Mengalungi
Mengorbankan diri untuk amarah
Idealisme
Melontarkan mimpi setinggi langit
Meraih hati yang berbulu
Siapa yang kemudian menuai benci?
Pembuncahan
Mengecambah
Membenci hari ini
Nihilisme
Melembamkan fajar
Menggapai hampa-hampa
Siapa yang kini menari sendirian?
*******
#lunar: berkaitan dengan bulan, sinar bulan
#terinspirasi dari “Numb” oleh U2
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis Lagi, Berjuang Lagi
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...
-
Liburan panjang seperti sekarang ini membuat saya memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplorasi koleksi musik dan buku saya. Senang juga ra...
-
Untuk seorang sahabat lama di hati dan bukan dalam kehidupan nyata.... Entah mengapa aku sangat merindukanmu sekarang. "Urgency of now...
-
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...