Senin, 17 Januari 2011

Pada Suatu Hari

Ayo, jatuh cintalah lagi

pada hasrat yang terbagi kecil-kecil

pada waktu yang berdetik pelan-pelan

pada asa yang perlahan merambati pori-pori

pada angin yang membisik dalam-dalam

….: hidupilah hidupmu sebaik mungkin



Ayo, jatuh sayanglah lagi

pada lunar yang memberkasi semua rencana

pada visi yang mendekam di pikiran

pada ruang hampa antara malam dan siang

pada dingin yang menyergapmu rapat-rapat

....: hadapilah sisa hidup dengan berani



Ayo, merindulah kembali

pada saat-saat sunyi berkontemplasi

pada suci yang belum menstigma apa pun

pada sederhana pra taksonomi

pada hampa tiada menjura

….: bukalah telinga dan hati pada semua



Ayo, bertumpulah kembali

pada diri nan sendiri

pada siapa pun yang dicintai

pada musuh-musuh yang kompeten

pada lawan pendapat yang jadi kawan berpikir

….: tuangilah visi pada jiwa sedalam mungkin

Jumat, 14 Januari 2011

Fakta, Tafsir, dan Pledoinya


Seberapa luas kita masih saling merasakan resah?

Seberapa longgar kesempatan yang terberi untuk berbagi mimpi?

Seberapa terbatas masing-masing ego terunjuk pada relasi?

Seberapa kompeten kita mengintervensi preferensi personal?



Menuju resah masing-masing diri yang serupa

Menuang luka pada impian bersama

Memberi dikotomi pada privat dan publik

Menguji prosedur, kemampuan, dan hasil karya



Bagaimana bila fakta tak pernah eksis di luar diri?

Bagaimana bila perbedaan tafsir selalu membawa stigma mematikan?

Bagaimana bila egosentrisme dan kepublikan itu bukan dualitas?

Bagaimana bila di antara kita tiada yang berhak mencerca sekecil apa pun itu?



Soalnya, hidup ini tetap saja memahami realitas, menafsir dan membelanya

Jawabnya, tak ada

Bagaimana jika berjibaku saja dengan realitas tanpa berargumen lagi?

Cara Memulai Pledoi sekaligus Mengakhirinya


Bagaimana hidup mesti dimulai? kata sinar mentari pada bayangan

Bagaimana langkah mesti diawali? kata jalan setapak pada ujung asa

Bagaimana hidup mesti dimenangkan nanti? kata pikiran rasional pada tabula rasa yang tak mau beringsut

Bagaimana semuanya bisa baik-baik saja? lisan sepi pada keramaian

Sehabis malam yang damai, mengapa mesti beranjak?



Bagaimana hidup sehari mesti ditutup? kata bayangan pada matahari senja

Bagaimana ego mesti disimpulkan? kata pohon cahaya untuk hati yang temaram

Bagaimana mati mesti dirayakan nanti? kata spektrum emosi pada pikiran terklasifikasi

Bagaimana memastikan semuanya tersimpan di konsep strukturalisme? lisan riuh pada dualisme

Sehabis siang yang bergegas, mengapa mesti dicari alibi?



Aku hanya ingin membabaki hari bersama kau yang mendekam di hati

karena Dia menautkannya

Dia juga menamai benda-benda dan merangkaikan tafsirnya buat kita



Aku hanya ingin menjalani hidup dengan berani

karena Dia meniupkan jiwa kita di pagi dan mengambilnya sementara di malam hari

sebelum menyimpannya permanen



Sementara kita akan tetap menuju-Nya

dengan argumen siapa pun

tanpa pembelaan apa pun

Pledoi


Tersunyikan

Mengatup mata pelan-pelan

Membuka hati luas-luas

Sembunyi



Lebih tipis

Lebih bernas

Lebih menyala-nyala



Terlatenkan

Menyesap mimpi dalam-dalam

Menabal asa meruang luas



Kurang dalam

Kurang nyata

Kurang meluap-luap



Tersemburat

Mewarnai hanya pada varian hitam

Menihilkan yang merah semu beserta gradasinya



Lebih biasa

Biasa kurang

Biasa saja itu istimewa

Laskar Pelangi: Ketika Kebaikan Menular

Oleh: Wisnu Martha Adiputra dan Diyah Hayu Rahmitasari



Ketika coba mereview album drama musikal Laskar Pelangi, saya teringat dengan seorang rekan yang minggu depan akan melanjutkan studi ke Australia. Rekan saya ini jauh lebih muda dari saya dan galibnya orang muda, dia begitu antusias belajar banyak hal tentang fenomena komunikasi dan tulisan-tulisannya juga bagus. Walau dia lebih muda, saya pun banyak belajar darinya. Walau kemudian kami tidak lagi sekantor, saya yakin di lain waktu kami akan berkolaborasi lagi dalam menulis dan meneliti. Bagaimana pun aktivitas akademis, meneliti, mempublikasi hasil telaah, dan berbuat atau berkontribusi untuk masyarakat, tidak akan bisa dibatasi oleh tempat. Kerja akademis itu berbasis pada kompetisi yang sehat dan kolaboratif di berbagai kampus dan organisasi masyarakat sipil.



Hal lain yang membuat saya teringat pada dirinya adalah bahwa kami pernah menulis bersama tentang film Laskar Pelangi sekitar dua tahun yang lalu. Hayu, dan juga Zaki, selamat belajar (lagi) dan sukses selalu untuk kalian berdua (eh, bertiga dengan dek Hayya). Teruslah menjadi “anak muda” yang menginspirasi dan menularkan kebaikan. Dan seperti kata Hayu di tulisan di bawah ini, janganlah melupakan mimpi-mimpi besar kita :D



Hayu, selamat mengenang-ngenang. Teman-teman, terutama yang saya taut, selamat membaca....



Rasanya film Laskar Pelangi belum berhenti membuat kejutan demi kejutan bagi kita. Kejutan terakhir adalah jumlah penontonnya yang sudah mencapai hampir tiga juta dalam waktu sebulan masa tayang. Sekitar empat puluh hari sejak film Laskar Pelangi dirilis pada 25 September 2008 di bioskop-bioskop Indonesia, masih ditemui deretan panjang antrian penonton yang disusul dengan terpasangnya kertas putih bertuliskan “maaf, tiket Laskar Pelangi untuk hari ini habis”. Terlepas dari fakta bahwa hanya ada satu bioskop yang menayangkan Laskar Pelangi di Yogyakarta, fenomena ini mempertegas bukti bahwa film besutan Riri Riza ini memang layak diacungi jempol.



Diangkat dari sebuah novel best-seller karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi bercerita tentang anak-anak Belitong dalam memperjuangkan mimpi mereka, terutama impian yang terkait dengan pendidikan, disertai pula dengan bumbu-bumbu diskriminasi, persahabatan, dan juga cinta. Dengan setting alam Pulau Belitong yang indah dan unik, film ini mencoba menawarkan sesuatu yang relatif baru bila dibandingkan dengan urusan mistis dan berbau pornigrafi yang seringkali muncul dalam film Indonesia.



Hal yang paling penting menurut kedua penulis adalah kita dapat belajar dari sesuatu yang positif dari fenomena Laskar Pelangi. Inti dari “pelajaran” tersebut adalah bahwa kebaikan itu menular. Bila kita terus berusaha berbuat baik dengan sekuat tenaga, kebaikan tersebut akan menulari pihak lain, dan juga diri kita di upaya berikutnya. Kebaikan tersebut akan merembes ke mana-mana.



Paling tidak ada tiga hal baik yang ditularkan dan juga diciptakan (kembali) oleh Laskar Pelangi. Pertama, penularan “pesan” media yang baik. Buku (novel) yang bagus “menulari” penciptaan film yang bagus. Film yang bagus menulari penciptaan album soundtrack yang bagus. Bukunya dibeli dan dibaca oleh banyak pembaca dan telah sampai dicetak ulang berkali-kali. Filmnya ditonton oleh jutaan orang. OST (Original Soundtrack)-nya habis di toko-toko kaset dan CD. Fakta larisnya album OST Laskar Pelangi pasti akan lebih bila pembajakan tidak marak di Indonesia. Larisnya Laskar Pelangi dalam variasi produk dan kreasi pesan medianya ini tentu saja bukan melulu karena kualitas tetapi juga karena tim manajemen dan distribusi yang bekerja dengan sangat baik.



Dari sini kami berdua menyimpulkan bahwa proses “adaptasi” pesan pada dasarnya adalah esensi dari kerja media. Sebagai sebuah karya fiksi kreatif, realitas yang ada di dalam film dan buku adalah rekonstruksi dari realitas sosial. Hal ini pula yang berlaku dalam film Laskar Pelangi. Film ini bahkan merupakan hasil dua kali adaptasi. Pertama, adaptasi Andrea Hirata atas hidup personalnya dan kehidupan masyarakat Belitong yang ditafsirnya, dan kedua, hasil adaptasi Riri Riza atas novel Andrea Hirata. Sangat wajar jika kemudian, kisah di dalam film memiliki hiperbola di sana-sini, sebagaimana yang dikeluhkan oleh audiens yang mengakses kedua pesan media, buku dan film. Misalnya, keberadaan Lintang sebagai si jenius hasil didikan alam. Bagi beberapa orang hal ini dianggap sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta, ambisius dan berlebihan. Juga adegan menunggu buaya lewat yang menurut beberapa penonton tidak masuk akal. Walau begitu, secara umum metamorfosis pesan media Laskar Pelangi dari novel ke film merupakan proses yang bagus karena memang berada dalam koridor pesan fiksional.



Kedua, kebaikan tersebut tidak hanya menulari pesan atau teks media yang lain, “penularan” hal-hal baik dan asali tersebut juga mewujud sampai ke dunia nyata. Beberapa kejadian nyata terinspirasi oleh Laskar Pelangi. Berbagai kejadian tersebut paling tidak terdokumentasi dalam media massa akhir-akhir ini. Ada guru yang berusaha menjadi guru yang lebih baik lagi seperti ibu Muslimah, salah satu tokoh di Laskar Pelangi. Ada kepedulian yang meningkat pada pendidikan oleh pemerintah dan berbagai elemen masyarakat, juga perhatian yang lebih besar pada daerah terpencil, seperti sekolah yang hampir roboh, SD Muhammadiyah di pulau Belitong, yang fasilitas pendidikannya minim.



Pertanyaan selanjutnya, mengapa Laskar Pelangi dapat mendorong perubahan walau belum bersifat sistemik? Kita akan sedikit menafsir teks filmnya. Antara lain jawabnya adalah Laskar Pelangi mengajak kita berpikir alternatif. Ada perspektif baru yang ditawarkan. Kita “dipaksa” untuk merombak pemikiran dan mulai mengindahkan fakta bahwa masih ada anak-anak yang bersekolah dengan tidak menggunakan seragam, masih banyak pembelajar yang belajar berhitung dengan batang lidi, bahkan masih banyak anak yang mesti putus sekolah karena keadaan yang memaksa seperti Lintang. Kesediaan untuk melihat sesuatu hal dengan perspektif yang lain merupakan langkah awal untuk bisa memahami (dan menikmati) kehidupan. Laskar Pelangi telah mengajarkan hal tersebut.



Kebaikan dalam level ini diharapkan bisa menular pada hal baik yang lain, yaitu menghargai pendidikan, meskipun ketika adegan para anggota Laskar Pelangi mengusir kambing-kambing dari ruang kelas terpampang di layar, masih banyak penonton yang tertawa ngakak dan bukannya tersenyum miris. Contoh ini menunjukkan bahwa kita masih memerlukan waktu lagi untuk menghargai pendidikan dengan tulus, bukan pada gelar ataupun potensi ekonomi, melainkan pada proses pendidikan yang mencerahkan.



Hal berikutnya yang dapat menggugah kita adalah tentang impian masa kecil. Film yang berdurasi lumayan panjang ini menekankan pentingnya “membebaskan” impian masa kecil, yang mungkin kelak akan berguna ketika kita bertambah dewasa: jangan pernah mematikan impian sendiri. Salah satu merek otomotif terkemuka pernah menggunakan tagline “the Power of Dream” atau kekuatan mimpi. Mimpi memang merupakan kekuatan yang sangat penting, terutama mimpi-mimpi yang kita miliki semasa kecil. Karena gambar menara Eiffel pada kotak yang diberikan Aling-lah, Ikal kecil kemudian bermimpi untuk bisa pergi ke Paris. Mimpi itu akhirnya berhasil diwujudkannya. Siapa yang menyangka jika tanpa sadar, mimpi masa kecil tersebut mengendap di otak dan kemudian merembes pada hati dan tindakan dan pada akhirnya menggiringnya untuk mewujudkan mimpi tersebut. Sepertinya Paulo Coelho benar, ketika ia mengatakan bahwa ketika kita bermimpi, seluruh jagat raya akan bersatu padu untuk membantu kita mewujudkan mimpi tersebut.



Terakhir, kebaikan dari Laskar Pelangi juga semestinya membuat kita kembali berpikir atas efek positif dari media. Selama ini kita lebih sering berfokus pada efek negatif media, misalnya pengaruh media yang dianggap besar pada kekerasan, pornografi, dan panik massa. Kepanikan masyarakat sebagai akibat tayangan Smackdown di layar televisi beberapa tahun yang lalu adalah contohnya. Bila ada kejadian negatif di masyarakat, kita cenderung menyalahkan media. Bila ada efek positif, kita cenderung melupakan media. Kini saatnya kita kembali memperhatikan dan mengoptimalkan cara agar media memfasilitasi kebaikan pada kehidupan bersama masyarakat Indonesia.



Akhir kata, Laskar Pelangi adalah fenomena luar biasa. Tetapi hal yang lebih luar biasa adalah bagaimana kebaikan ditularkan olehnya. Perbuatan baik mungkin sesuatu yang sudah cukup banyak dilakukan oleh insan bangsa ini tetapi kebaikan yang menular dan ditularkan terus menerus pada banyak orang adalah sesuatu yang masih jarang. Belajar dari Laskar Pelangi, marilah kita saling menularkan kebaikan!



*****



#Tulisan dalam versi awal dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, 13 November 2008. Tulisan ini sudah mengalami sedikit perbaikan.

Alibi


Alibi adalah istilah teknis psikologis yang selalu teringat dalam keadaan terdesak. Kita memerlukannya bila kita pikir kita tak mampu meneruskan banyak janji atau komitmen. Sebuah peristiwa bisa tidak kita ketahui akhirnya, namun menyebutkannya berarti ada indikasi kita menyerah. Alibi lebih dari sekadar alasan. Alibi adalah alasan yang tidak lagi terbantahkan namun tabu untuk dilafalkan.



Alibi ialah semacam pisau yang siap terhujam atau senapan yang telah terkokang. Alibi adalah senjata yang siap meluluh-lantakkan asamu sendiri. Siapa yang tak takut mimpinya sendiri hancur? Siapa yang tak takut dengan manusia lain yang memang adalah serigala bagi sesamanya? Ini adalah fakta. Atau manusia itu mungkin seperti semut yang saling membantu? Ini adalah fiksi, atau paling banter faksi (fakta dan fiksi sekaligus). Tetapi alibi selalu ada melampau metafor. Kitalah yang bersalah dan bermasalah, bukan orang-orang lain.



Alibi semestinya bukan seseorang di mana kau akan memberinya label yang selalu beroposisi biner. Alibi tak ada pada seseorang. Mungkin orang yang kita cintai adalah sumber utama alasan kita hidup, tetapi pasti selalu ada hal-hal lain bukan? Orang yang paling kita cintai tentu saja alibi hidup yang terpenting, namun alibi tersebut mesti cukup kuat agar kita tidak menyesal hidup bersama alibi kita karena hidup ini sesungguhnya sebentar saja. Orang yang kau cintai tentu saja penting sehingga dia bisa menjadi alibi bagi banyak hal lain. Walau begitu, sebenarnya masih ada beberapa alibi lain dalam hidup kita sendiri, misalnya saja perdamaian dunia, jihad ilmu pengetahuan, dan hidup yang multi-interkultural.



Atau, alibi seharusnya juga bukan ruang di mana harapan dan hasrat berada dalam pipilan dan serpihan terhirarki. Seperti waktu yang baru saja kau sobek penunjuknya, kalender. Alibi juga melampaui ruang. Bukankah tidak ada alibi sederhana, alibi sedang, juga alibi serius? Alibi hanyalah alibi. Tidak bisa dibagi-bagi lagi. Alibi itu satu sekaligus banyak. Namun, alibi bisa sangat kuat bila dia melampaui semua kemasan waktu. Alibi itu bila berhadapan dengan waktu sekiranya mirip dengan persamaan ini: ax + bx = x(a + b). Persamaan sederhana namun berkelas.



Pada akhirnya, alibi adalah sebentuk pembenar agar kita berani “mencuri” waktu dari Nya. Dia memberikan banyak kesempatan bersama alibi-alibinya. Walau begitu, hanya ada satu alibi utama: hidup yang lebih bermakna, bagi manusia-manusia lain sekaligus bagi diri sendiri. Hidup yang diperjuangkan setiap detiknya sesuai dengan jalan kita.

Menuju-Nya.



#####



Terinspirasi dari:

Alibi oleh Duncan Sheik

(dari album “Humming”, 1998)





Did you come down to give me

or take me away

I had so many things to tell you

But now I don't have much to say



This feeling like we're hiding out, is getting in the way

Let's quit the town just look around

There's nothing here to keep us alive



If they try to run us down

You know I'm on your side





And I want you to be my alibi

So they won't find me

And they won't find you

And we may tell lies

But we may be true





Did you come down to take me

Or give me away

I had so many things to ask you



Now you don't have much to say

And these alcoholic afternoons, are getting in the way

Let's quit the town just look around

There's nothing here to keep us alive

If they try to run us down



You know I'm on your side

And I want you to be my alibi

So they won't find me



And they won't find you

And we may tell lies

But we may be true

I want to be your alibi...

Til the day we die



#####

Alibi Lunar

Pembabakan

Merobek

Bermain jemari

Narsisme

Menelanjangi buku

Harakiri untuk teman-teman

Siapa yang menghamba sahaja?



Pembibitan

Mencacah

Membenci detail

Relativisme

Menyayangi ketiadaan

Bercinta dengan musuh-musuh

Siapa yang menghampa sahaya?



Penautan

Mengkhianati

Menghakimi perbedaan

Banalisme

Mengeksistensi pada kekosongan

Memukuli kerabat sendiri

Siapa yang kini menggunakan kapasitas otak sisa?



Pembubutan

Menjahanami

Meratapi kemarin

Glokalisme

Memberikan etika pada protokol

Masih banyak yang belum dikenal baik-baik

Siapa yang merutuki nasib?



Pembalakan

Membelakangi

Menyumpahi esok

Realisme

Melipat hasrat pada benda-benda

Kesaksian yang dimuntahkan

Siapa yang kemudian membabi-buta pada kuasa?



Perajaman

Mengalungi

Mengorbankan diri untuk amarah

Idealisme

Melontarkan mimpi setinggi langit

Meraih hati yang berbulu

Siapa yang kemudian menuai benci?



Pembuncahan

Mengecambah

Membenci hari ini

Nihilisme

Melembamkan fajar

Menggapai hampa-hampa

Siapa yang kini menari sendirian?



*******



#lunar: berkaitan dengan bulan, sinar bulan

#terinspirasi dari “Numb” oleh U2

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...