Selasa, 15 November 2011
Sonic Youth - Hits are for Squares (2008)
Teks Media untuk "Menyegarkan" Hidup yang Biasa
Kadangkala hidup yang kita jalani sangat teruk. Hari-hari menjadi membosankan dan mekanistis. Tidak ada sesuatu jua yang membuat antusias. Pagi bangun, siang beraktivitas, waktu seakan berjalan lambat sampai menjelang waktu tidur. Begitu terus selama beberapa hari. Tiap hari dalam beberapa waktu itu seperti berlangsung dengan sama. Tak kurang, tak lebih. Namun hal itu bisa berubah ketika kita bertemu dengan orang lain yang memang memberi inspirasi baru. Manusia lain yang menyenangkan, yang berelasi dengan kita, dapat menghadirkan "teks" baru yang menyegarkan. Seperti saya beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman lama. Dengan bersengaja karena saya dan dia hadir di sebuah acara yang sama, saya berelasi kembali dengan dirinya setelah lebih dari sepuluh tahun, padahal kami berada dalam ruang kerja yang sama, hanya fakultasnya saja yang berbeda. Relasi dengan dirinya itu walau sesaat, membuat hari-hari yang agak membosankan dengan rutinitas menjadi menyenangkan.
Cara lain untuk kembali pada situasi yang menyenangkan atau lari dari kejenuhan adalah bertemu dengan teks media yang sebenarnya, bukan segala hal yang kita akses atau temui kemudian kita maknai dengan pikiran, jiwa, dan hati. Teks media yang kita terima dan cerna memang mesti diinterpretasi agar relevan bagi diri personal. Sembarang teks media sebenarnya bisa berpotensi memberikan kesegaran bagi kita. Namun belakangan ini sungguh banyak teks jelek yang datang tanpa permisi meminta dicerna, misalnya lagu-lagu cengeng dan menye-menye, tayangan-tayangan televisi bodoh, dan fiksi yang seragam, berisi motivasi yang jadi banal karena muncul sangat banyak dan bersamaan, juga berita di media internet yang diulang-ulang terus.
Karena itulah, ketika secara tak sengaja saya "menemukan" album "Hits are for Squares" di sebuah toko CD, hati saya senang bukan kepalang. Bukan apa-apa, album ini sudah tiga tahun saya cari. Hari-hari yang agak membosankan kemarin itu tiba-tiba menjadi mengasyikkan lagi dan kembali menantang untuk dijalani dan dieksplorasi. Album ini sebenarnya sudah muncul pada tahun 2008 dan disponsori oleh Departemen Musik di gerai kopi Starbucks, yang kini telah ditutup. Album "the best" Sonic Youth ini kemudian diedarkan secara internasional pada tahun 2010 dan baru sampai di pasaran Indonesia sekira tahun 2011 ini.
Saya sebenarnya sudah mencari album ini sejak tiga tahun lalu. Namun berulang-kali ke toko CD di beberapa kota, album ini tak jua ditemukan. Saya sempat berpikir apa karena album ini bukan album "resmi" Sonic Youth, sehingga tidak didistribusikan secara luas, atau apa karena album ini diprakarsai oleh Starbucks sehingga album ini selamanya akan didistribusikan terbatas dan kemudian dihentikan ketika bagian penjualan CD di gerai kopi itu dilikuidasi.
Mengakses album ini, seperti halnya semua album Sonic Youth, terasa menyenangkan walau pada saat masa awal mengakses atau mendengarkannya perlu upaya lebih keras karena tidak ada lagu Sonic Youth yang mudah dicerna, kecuali "Sugar Kane, lagu dari album "Dirty" yang juga hadir dalam kompilasi ini. Namun di sinilah kelebihan dari Sonic Youth, semua lagu dan semua albumnya tetap menyenangkan untuk didengarkan berulang-kali dan kapan pun. Mungkin ini "bayaran" susahnya mencerna lagu-lagu mereka saat awal didengarkan.
Album Sonic Youth yang saya dengarkan pertama-kali adalah "Murray Street" dan saya ingat sekali, waktu pertama-kali mendengarkan album itu, saya terkejut dan bahagia mendengarkan irama yang unik dan lirik-lirik semi absurd mereka, juga banyaknya sessi "pertempuran" suara ragam instrumen di album itu. Setelah itu semua album mereka saya lahap dari "Murray Street" ke depan, sampai "the Eternal", kemudian "Murray Street" ke belakang. Namun akses album-album sebelum "Murray Street" tetap masih terbatas dan tidak tercerna dengan baik. Karena itulah mengakses album "Hits are for Squares" ini membuat saya lebih mudah mengerti album-album sebelum "Murray Street", terutama album "Goo" yang tiga lagunya muncul di album ini.
Hal lain yang juga memberi inspirasi adalah semua lagu di album ini dipilih oleh penggemar Sonic Youth, entah itu penggemar fanatik atau biasa saja, yang jelas mereka semua adalah pelaku kebudayaan (populer). Beberapa orang atau kelompok yang memilih lagu membuat saya agak terkejut dan senang: mereka semua berkawan. Beberapa yang memilih adalah penyanyi atau band kesukaan saya juga, yaitu Mike D. dari Beastie Boys yang memilih lagu "100%", Beck yang memilih "Sugar Kane", Radiohead yang memilih "Kool Thing", "Teenage Riot" dipilih oleh Eddie Vedder, Flea memilih "Rain on Tin", dan the Flaming Lips memilih "Expressway to Yr Skull". Mereka semua berkawan! dan ini menyenangkan. Para kreator teks media yang brilian biasanya memang saling menghargai walau tidak mesti berkawan erat.
Mendengarkan album ini sama membahagiakannya dengan membaca novel terbaru Haruki Murakami, "1Q84" yang juga hadir belakangan ini, keduanya menyegarkan dan memberi cara pandang baru pada hal-hal rutin yang kita hadapi sehari-hari. Sudah sekitar seminggu album ini saya dengarkan terus sambil membaca "1Q84". Dua teks media yang istimewa. Entah sampai kapan saya mendengarkan album ini, belum ada rasa bosan sampai sekarang. Semua lagu di album ini menjadi pendukung untuk mencari modus-modus tak disadari dalam hidup yang bisa saja teruk, membosankan, namun yang seperti ini memang akan dihadapi sepanjang hidup. Album ini adalah teks yang indah, menarik, dan mengajak kita mengeksplorasi "teks" yang lain. Teks media yang kembali menyegarkan hidup yang mengalir dengan biasa.
Daftar Lagu:
1. Bull in the Heather (Experimental Jet Set, Trash and No Star: 1994)
2. 100% (Dirty, 1992)
3. Sugar Kane (Dirty, 1992)
4. Kool Thing (Goo, 1990)
5. Disappearer (Goo, 1990)
6. Superstar (If I were A Carpenter, 1994)
7. Stones (Sonic Nurse, 2004)
8. Tuff Gnarl (Sister, 1987)
9. Teenage Riot (Daydream Nation, 1988)
10. Shadow of A Doubt (EVOL, 1986)
11. Rain on Tin (Murray Street, 2002)
12. Tom Violence (EVOL, 1986)
13. Mary-Christ (Goo, 1990)
14. World Looks Red (Confusion is Sex, 1983)
15. Expressway to Yr Skull (EVOL, 1986)
16. Slow Revolution (Previously unreleased)
Kamis, 10 November 2011
Padi - The Singles (2011)
Mengamati perjalanan karir Padi berarti kita mengamati pula perjalanan industri musik rekaman di Indonesia selama lima belas tahun terakhir. Mereka pertama-kali terkenal lewat lagu "Sobat" pada tahun 1999, ketika belum terlalu marak mp3 ilegal, pembajakan, album re-package, RBT, dan juga penggunaan lagu sebagai lagu tema sinetron, serta "virus" selebritas yang semakin menggila. Pada waktu itu, band adalah sekumpulan orang yang berpotensi terkenal karena mengeluarkan lagu-lagu bagus, bukan karena tingkah-polah tak jelas atau kedekatan dengan pemain sinetron.
Lima belas tahun bertahan dalam lingkungan eksternal yang tidak kondusif bagi industri musik rekaman adalah prestasi, apalagi Padi terus konsisten menelurkan lagu-lagu bagus, bahkan sampai di album terakhir mereka, "Tak Hanya Diam" (2007), yang tidak menghasilkan banyak hit seperti empat album sebelumnya. Karena itulah ketika mereka merilis album "greatest hits" yang berjudul sederhana "The Singles", kita patut mengapresiasi mereka, walau pun peluncurannya sendiri tanpa gaung yang lumayan.
Apa yang kita harapkan sebagai pendengar dalam mengakses album kompilasi terbaik? jawabannya tergantung pemosisian kita sebagai pendengar jenis apa. Pendengar lama atau penggemar berat biasanya memfungsikan album the best sebagai dokumentasi yang menggabungkan banyak lagu sebagai kenangan, walau saya sendiri percaya bahwa sebuah lagu hanya relevan dalam kesatuan dengan lagu-lagu lainnya dalam satu album. Pendengar baru atau penyuka yang tidak terlalu fanatik biasanya memfungsikan album the best sebagai jalan pintas mengenali karya band secara keseluruhan. Saya yang memposisikan diri sebagai penggemar biasa melihat album ini baik sekali memadukan semua hit pada sejak album pertama, "Lain Dunia" (1999), sampai album kelima, "Tak Hanya Diam" (2007), dalam dua keping CD.
Selain itu, fungsi yang penting dari album the best ini adalah tergabungnya tiga lagu yang tak pernah ada di album-album Padi, yaitu "26 Desember" yang ada dalam album kompilasi untuk membantu korban tsunami di Aceh, "Kita untuk Mereka", lagu "Work of Heaven" dalam album kompilasi untuk Piala Dunia di Asia, "FIFA World Cup", dan "Terbakar Cemburu", yang disebarkan secara gratis di internet dan membuat Padi mendapatkan perhatian kembali dari masyarakat pecinta musik pada tahun 2009.
Singkatnya, album ini menjadi obat rindu yang berpotensi manjur bagi fans Padi dan pintu masuk bagi penggemar baru yang ingin memahami musik Padi secara cepat sebelum memasuki seluruh karyanya. Harga album ini juga termasuk terjangkau untuk dikoleksi sehingga membuat kita mudah mengingat bahwa Padi adalah salah satu band besar Indonesia yang muncul memasuki dekade 2000-an dan terus bertahan sampai sekarang. Semoga Padi masih mengeluarkan album-album baru, album "The Singles" ini adalah pemicu untuk memasuki chapter baru dalam berkarya.
Daftar lagu:
Disc 1:
1. Terbakar Cemburu
2. Tempat Terakhir
3. Sesuatu yang Indah
4. Kasih Tak Sampai
5. Begitu Indah
6. Harmony
7. Semua Tak Sama
8. Mahadewi
9. Ternyata Cinta
10. Belum Terlambat
11. Tak Hanya Diam
12. Patah
13. Sang Penghibur
14. 26 Desember
Disc 2
1. Sobat
2. Seandainya Bisa Memilih
3. Siapa Gerangan Dirinya
4. Hitam
5. Jangan Datang Malam Ini
6. Work of Heaven
7. Bidadari
8. Seperti Kekasihku
9. Bayangkanlah
10. Rencana Besar
11. Sesuatu yang Tertunda
12. Rapuh
13. Menanti Sebuah Jawaban
14. Sudahlah
Selasa, 08 November 2011
Foster the People – Torches
Pada suatu sore di akhir September di sebuah toko CD di Jakarta, saya mendengarkan sebuah lagu yang langsung membetot indera pendengaran. Ketika lagu itu diputar dan membahana di pengeras suara, langsung saja saya suka dengan lagu itu sejak pertama-kali mendengarnya. Bila ada cinta pada pandangan pertama pada seseorang atau sesuatu, saya meyakini ada juga cinta pada “pendengaran” pertama.
Kejadian seperti ini sudah beberapa kali saya alami, namun kejadian terakhir sudah sangat lama: jatuh hati pada pendengaran pertama untuk sebuah lagu yang dinyanyikan band baru. Terakhir kali saya mendengar sebuah lagu dan langsung menyukainya adalah lagu “Closing Time” oleh Semisonic pada tahun 1998. Nama bandnya baru saya dengar pada waktu itu namun lagunya langsung “nampol” dan menempel terus di indera pendengaran. Lagu itu kemudian menjadi semacam lagu favorit kolektif bagi saya dan rekan-rekan menjelang masa akhir kuliah apalagi kemudian lagu ini seringkali muncul di program acara MTV yang pasti disukai kaum muda penikmat musik, “Alternative Nation”.
Sebelumnya lagi, lagu yang langsung menempel dan saya ingat adalah lagu “Unbelieveable” yang dinyanyikan oleh EMF pada tahun 1991. Waktu itu saya mendengar dan melihatnya pertama-kali di sebuah acara TVRI bernama “Music Trax” ketika saya masih duduk di SMA. Dulu itu musik yang disukai pemuda dan pemudi adalah sebangsa slow rock dan lagu “Unbelieveable” terdengar sangat unik di tengah samudera lagu slow rock yang sangat banyak.
Lagu yang saya dengarkan dan langsung membuat saya tertarik tersebut adalah “Pumped Up Kicks” dari band baru bernama “Foster the People”. Tidak perlu telinga terlatih untuk menyukai lagu ini. Telinga pendengar musik biasa seperti saya saja bisa langsung menyukainya. Lagu “Pumped Up Kicks” memang enak didengar dan beat-nya bisa digunakan untuk teman menari pelan. Lagu ini kemudian menjadi semakin akrab ketika tiap setengah jam saya tonton klipnya di kamar hotel tempat saya menginap di Jakarta.
Formula satu lagu bagus dan langsung menarik perhatian memang sudah sering digunakan secara sengaja atau tak sengaja oleh band. Namun, tentu saja, diperlukan konsistensi dalam waktu cukup lama untuk menjadi besar. Dua band yang telah saya sebut sebelumnya adalah contoh yang baik. Kemana EMF dan Semisonic setelah hit pertama mereka itu? EMF masih menghasilkan album-album yang bagus, terutama “Cha Cha Cha” (1995), selain Schubert Dip (1991) yang ada “Unbelieveable”. Semisonic juga masih punya album bagus selain album “Feeling Strangely Fine” (1998) yang memuat “Closing Time”, yaitu “All About Chemistry” (2001), namun keduanya lebih dikenal karena hit pertama mereka.
Semoga hal tersebut tidak terjadi pada “Foster for People”, terkenal sekali setelah itu “mati”. Hal yang menyenangkan adalah indikasi tersebut tidak terpantau di album debut mereka ini. Album “Torches” (2011) ini bagus. Walau tidak sangat bagus, album ini merupakan modal dasar yang bagus sebagai album pertama. Selain “Pumped Up Kicks” yang memang sangat disukai penikmat musik, lagu-lagu lain di album ini enak didengar dan menarik dimaknai teksnya. Semua lagu berkisah tentang kehidupan anak muda usia 20-an dan bukan saja kisah spesial para personelnya, Mark Foster, Cubbie Fink, dan Mark Pontius, narasi yang tertera pada lagu-lagu di album ini adalah pengalaman yang umum bagi kaum muda. Bisa dikatakan topik utama dari album ini adalah menyikapi hidup dengan lebih baik. Pesan itu mudah terlihat di lagu “Helena Beat” dan “Waste”. Bukan pesan motivasi yang eksplisit memang, tetapi tetap memberikan semangat untuk mengarungi hidup yang berat. Tentu saja, seperti halnya konten media untuk anak muda yang lain, ada juga lagu yang berkisah tentang relasi cinta dan kerinduan seperti termaktub di lagu “Miss You”.
Teks media dari album ini memang tidak liat dan relatif mudah ditaklukkan. Inilah lapis aktivitas memaknai yang secara sengaja dibawa oleh produsen kontennya dan sungguh bukan sebuah masalah. Tidak ada pretensi untuk bersulit-sulit dengan musik dan lirik yang ditampilkan di album ini. “Penaklukan” teks yang mudah oleh pendengar mungkin memang merupakan suatu kelebihan, namun di sisi lain merupakan kelemahan jua. Kecuali ada momen berkesan yang diikat oleh album ini, lagu-lagu atau teksnya tidak akan melekat lama di hati dan di pikiran karena tidak ada isu dan “konsep” kuat yang diangkat. Album ini tetap bagus sebagai sebuah kesatuan walau misalnya kita melepaskan single atau hit pertamanya. Nikmati dan dengarkan saja “Torches” dengan utuh penuh untuk menemani hari yang kita jalani.
Daftar lagu:
1. Helena Beat
2. Pumped Up Kicks
3. Call It What You Want
4. Don’t Stop (Color on the Walls)
5. Waste
6. I Would Do Anything for You
7. Houdini
8. Life on the Nickel
9. Miss You
10.Warrant
Senin, 07 November 2011
Umay - Pesta Sekolah (2011)
Teks tentang Relasi Anak
Entah mengapa setiap mendengarkan lagu anak-anak saya selalu teringat dengan lagu "Aku Anak Sehat". Lagu itu mengingatkan bagaimana pesan media apa pun akan selalu rentan terhadap "intervensi" dan kepentingan penguasa, apalagi pesan media musik rekaman. Coba simak petikan lirik ini..."aku anak sehat, tubuhku kuat, karena ibuku rajin dan cermat...semasa aku bayi selalu diberi ASI, makanan bergizi, dan imunisasi. Posyandu menungguku setiap waktu...."
Bagaimana bisa lagu anak-anak berisi "arahan" untuk ibu dan jelas berisi pesan komunikasi pembangunan? namun itulah yang terjadi di era Orde Baru berkuasa di mana media menjadi elemen penting bagi hegemoni penguasa, ideological state aparattus, istilah yang dikenalkan oleh Antonio Gramsci. Tidak hanya kekuasaan pemerintah yanng mungkin hadir dalam pesan media musik populer. Agen yang lain, terutama media dan pasar sangat mungkin hadir di dalamnya.
Hal yang mirip, di mana "arahan" untuk anak hadir, bisa ditangkap di album anak-anak yang bagus ini walau pesannya tidaklah terlalu eksplisit. Arahan tersebut bisa ditemukan di lagu "Menabung". Tidak seeksplisit arahan "Menabung Pangkal Kaya" pada jaman totaliter Orde Baru memang karena unsur negara ataupun penguasa tidak muncul, namun tetaplah modus arahan itu terdengar samar.
Isi pesan lagu yang lain juga menarik. Selain semua lagu di album ini bernuansa ceria dan irama masa kini, pesan di tiap lagu juga unik. Ada kisah superhero lokal di lagu "Gatotkaca". Walau sebenarnya penulis lagu bisa merujuk pada superhero Indonesia yang lebih baru semisal Kapten Indonesia, Darna, Godam, dan Elmaut, daripada Kapten Amerika, Wonder Woman, Superman+Thor, dan Spiderman (walau tidak ada beda superhero Indonesia yang saya sebut dengan superhero Amerika itu :))
Ada juga keceriaan bersekolah di lagu awal "Pesta Sekolah". Hal ini unik karena biasanya bersekolah dikaitkan dengan suasana menjemukan atau kaku semacam piket kelas atau upacara, atau "ketakutan" terhadap otoritas lembaga pendidikan yang berlebihan, semisal ketakutan atas ujian. Namun di lagu ini sekolah adalah pesta. Bersekolah adalah aktivitas yang menyenangkan. Di antara semua lagu, saya paling senang dan agak terkejut dengan lagu "Takkan Nakal Lagi". Lagu ini menunjukkan nuansa baru relasi antara anak dan orang-tua (mama). Lagu ini bercerita tentang kesedihan anak-anak setelah berbuat "kenakalan". Hal yang menarik adalah permintaan si anak agar sang mama juga berhenti marah. Kita sering lupa, relasi orang tua dan anak bukanlah satu arah. Sang anak juga memiliki permintaan dalam relasi tersebut.
Relasi lain sang anak dengan anggota keluarga bisa diamati dalam lagu "Dekat Dekatlah denganku". Lagu yang berkisah kedekatan sang anak dengan adiknya. Sang anak yang menjadi kakak menjadi pelindung bagi sang adik. Relasi yang galib dalam kehidupan namun jarang dimunculkan dalam teks lagu. Biasanya adik di dalam teks media apa pun menjadi obyek kelucuan dan kegemasan orang yang lebih dewasa. Pengaruh media dalam kehidupan anak jelas terlihat dalam lagu "Rocker Kid" dan "Sepakbola". Suasana hidup anak lelaki memang lekat dengan karakter keren dunia dewasa nanti, di mana laki-laki semestinya "nge-rock" dan suka dengan sepakbola.
Album ini secara umum berisi materi yang bagus untuk anak-anak karena mengungkap kehidupan anak-anak terkini. Sayangnya, distribusi tertutup album ini yang hanya melalui satu jaringan makanan cepat saji menjadikan anak-anak sub-urban dan rural memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk mengaksesnya. Karena lagu anak-anak itu barang langka sebaiknya ada upaya bersama untuk memperluas konten musik populer yang bisa diakses anak-anak seluas mungkin. Hal ini lebih baik daripada anak-anak hanya mengenal lagu-lagu orang dewasa yang tidak sesuai dengan perkembangan psikologis anak-anak.
Daftar Lagu
1. Pesta Sekolah
2. Takkan Nakal Lagi
3. Rocker Kid
4. Umay Datang
5. Tamasya
6. Sepakbola
7. Dekat, Dekatlah denganku
8. Menabung
9. Doa Dulu
10. Gatotkaca
Entah mengapa setiap mendengarkan lagu anak-anak saya selalu teringat dengan lagu "Aku Anak Sehat". Lagu itu mengingatkan bagaimana pesan media apa pun akan selalu rentan terhadap "intervensi" dan kepentingan penguasa, apalagi pesan media musik rekaman. Coba simak petikan lirik ini..."aku anak sehat, tubuhku kuat, karena ibuku rajin dan cermat...semasa aku bayi selalu diberi ASI, makanan bergizi, dan imunisasi. Posyandu menungguku setiap waktu...."
Bagaimana bisa lagu anak-anak berisi "arahan" untuk ibu dan jelas berisi pesan komunikasi pembangunan? namun itulah yang terjadi di era Orde Baru berkuasa di mana media menjadi elemen penting bagi hegemoni penguasa, ideological state aparattus, istilah yang dikenalkan oleh Antonio Gramsci. Tidak hanya kekuasaan pemerintah yanng mungkin hadir dalam pesan media musik populer. Agen yang lain, terutama media dan pasar sangat mungkin hadir di dalamnya.
Hal yang mirip, di mana "arahan" untuk anak hadir, bisa ditangkap di album anak-anak yang bagus ini walau pesannya tidaklah terlalu eksplisit. Arahan tersebut bisa ditemukan di lagu "Menabung". Tidak seeksplisit arahan "Menabung Pangkal Kaya" pada jaman totaliter Orde Baru memang karena unsur negara ataupun penguasa tidak muncul, namun tetaplah modus arahan itu terdengar samar.
Isi pesan lagu yang lain juga menarik. Selain semua lagu di album ini bernuansa ceria dan irama masa kini, pesan di tiap lagu juga unik. Ada kisah superhero lokal di lagu "Gatotkaca". Walau sebenarnya penulis lagu bisa merujuk pada superhero Indonesia yang lebih baru semisal Kapten Indonesia, Darna, Godam, dan Elmaut, daripada Kapten Amerika, Wonder Woman, Superman+Thor, dan Spiderman (walau tidak ada beda superhero Indonesia yang saya sebut dengan superhero Amerika itu :))
Ada juga keceriaan bersekolah di lagu awal "Pesta Sekolah". Hal ini unik karena biasanya bersekolah dikaitkan dengan suasana menjemukan atau kaku semacam piket kelas atau upacara, atau "ketakutan" terhadap otoritas lembaga pendidikan yang berlebihan, semisal ketakutan atas ujian. Namun di lagu ini sekolah adalah pesta. Bersekolah adalah aktivitas yang menyenangkan. Di antara semua lagu, saya paling senang dan agak terkejut dengan lagu "Takkan Nakal Lagi". Lagu ini menunjukkan nuansa baru relasi antara anak dan orang-tua (mama). Lagu ini bercerita tentang kesedihan anak-anak setelah berbuat "kenakalan". Hal yang menarik adalah permintaan si anak agar sang mama juga berhenti marah. Kita sering lupa, relasi orang tua dan anak bukanlah satu arah. Sang anak juga memiliki permintaan dalam relasi tersebut.
Relasi lain sang anak dengan anggota keluarga bisa diamati dalam lagu "Dekat Dekatlah denganku". Lagu yang berkisah kedekatan sang anak dengan adiknya. Sang anak yang menjadi kakak menjadi pelindung bagi sang adik. Relasi yang galib dalam kehidupan namun jarang dimunculkan dalam teks lagu. Biasanya adik di dalam teks media apa pun menjadi obyek kelucuan dan kegemasan orang yang lebih dewasa. Pengaruh media dalam kehidupan anak jelas terlihat dalam lagu "Rocker Kid" dan "Sepakbola". Suasana hidup anak lelaki memang lekat dengan karakter keren dunia dewasa nanti, di mana laki-laki semestinya "nge-rock" dan suka dengan sepakbola.
Album ini secara umum berisi materi yang bagus untuk anak-anak karena mengungkap kehidupan anak-anak terkini. Sayangnya, distribusi tertutup album ini yang hanya melalui satu jaringan makanan cepat saji menjadikan anak-anak sub-urban dan rural memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk mengaksesnya. Karena lagu anak-anak itu barang langka sebaiknya ada upaya bersama untuk memperluas konten musik populer yang bisa diakses anak-anak seluas mungkin. Hal ini lebih baik daripada anak-anak hanya mengenal lagu-lagu orang dewasa yang tidak sesuai dengan perkembangan psikologis anak-anak.
Daftar Lagu
1. Pesta Sekolah
2. Takkan Nakal Lagi
3. Rocker Kid
4. Umay Datang
5. Tamasya
6. Sepakbola
7. Dekat, Dekatlah denganku
8. Menabung
9. Doa Dulu
10. Gatotkaca
Jumat, 04 November 2011
Tribute to KLa Project
Interpetasi dan Pengemasan Pesan
Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita di situs berita musik bila the Upstairs mengintepretasi ulang lagu “Lantai Dansa” milik Kla Project. Selanjutnya, berita itu memberikan informasi akan dirilis album “Tribute to Kla”. Lagu yang dinyanyikan ulang oleh the Upstairs itu adalah salah satu yang akan dikompilasi dalam album tersebut. Namun beberapa hari setelahnya saya lupa dengan informasi tersebut, walau hampir bisa dipastikan saya akan mengakses album tersebut bila dirilis.
Hal yang agak mengejutkan saya adalah saya mendapatkan album “Tribute to Kla” ini di sebuah jaringan minimarket ketika secara tak sengaja mengakses beberapa produk di sana. Distribusi dengan menggunakan jalur di luar jalur konvensional adalah pilihan yang jamak bagi pelaku musik populer Indonesia belakangan ini. Contoh terbaik adalah Agnes Monica yang merilis album the best-nya, “Agnes is My Name” (2011) melalui jaringan makanan cepat saji, juga album Umay, “Pesta Sekolah” (2011), sebuah album untuk anak-anak yang bagus. Album musikal Laskar Pelangi yang didistribusikan melalui jaringan toko buku terbesar di Indonesia adalah contoh lainnya. Jaringan toko buku tersebut juga pernah membuat blunder dengan menyebarkan secara ekslusif album OST “Badai Pasti Berlalu” yang ternyata bermasalah dalam hak cipta. Album OST "Badai Pasti Berlalu" yang sudah terpajang kemudian ditarik kembali. Album "Badai Pasti Berlalu" tersebut memang kurang maksimal kualitasnya. Saya tahu karena saya sempat membelinya.
Semestinya kenyataan bahwa album "Tribute to KLa Project" dijual di jaringan mini market tidak mengejutkan karena saya sudah mengetahui fenomena distribusi album melalui jalur non konvensional. Hal yang mengejutkan saya adalah band legendaris sekaliber KLa Project memilih distribusi “tertutup” semacam ini. Kalau band-band bernama "aneh" semacam "Pemuda Idola", "Kuning Telur", atau "Galau Band", bisa dibilang sah melakukannya, masalahnya ini KLa Project. Mungkin ada pertimbangan lain yang belum diketahui publik pendengar. Hal yang kita tahu, walau kepastian penghasilan didapat melalui distribusi semacam ini, kemungkinan akses untuk pendengar yang lebih luas menjadi terbatas. Saya yakin album ini pasti menarik minat banyak orang bila didistribusikan terbuka.
Seperti saya duga, lagu “Lantai Dansa” oleh the Upstairs adalah lagu paling mengasyikkan di album ini. Interpretasi mereka atas lagu “Lantai Dansa” membuat lagu ini tidak terlalu mirip dengan lagu aslinya namun tetap bagus dan menjadi khas the Upstairs. Lagu-lagu lain yang menarik untuk dicermati adalah “Semoga”, yang dinyanyikan ulang oleh Vidi Aldiano, “Terpurukku Disini” oleh Ahmad Dhani, dan “Meski T’lah Jauh” oleh Pongki Barata. Ahmad Dhani seharusnya me-remake lagu-lagunya sendiri seperti me-remake lagu “Terpurukku Disini”. Ketujuh lagu lain "bermain aman" dengan interpretasi yang biasa. Untungnya ketujuh lagu itu adalah memang lagu-lagu yang bagus sehingga hasil daur-ulangnya pun tetap bagus.
Dalam melihat album “tribute to”, saya akan selalu membandingkan dengan album “If I were A Carpenter” (1994) yang menurut saya jenis album “tribute to” yang paling oke dari banyak sisi, pengemasan, interpretasi lagu, dan komposisi pesan. Bila mengkomparasi kualitas sebaiknya kita bandingkan dengan kualitas kelas satu. Sayangnya, album “Tribute to Kla Project” ini belum memenuhi ketiga kriteria tersebut dengan ciamik. Pengemasan pesan misalnya, judul album tidak ada, hanya ada istilah “tribute to” yang normal sekali.
Mestinya manajemen Kla, yang berinisiatif merilis album ini, bisa menyarankan judul utama, baru kemudian diembel-embeli dengan “tribute to”. Interpretasi lagu juga belum maksimal. Toh banyak judul lagu atau petikan lirik yang puitis dan keren dari KLa Project. Idealnya, para penginterperasi tidak “lebur” oleh teks awal (lagu dan penyanyi awalnya). Bila di album “If I were A Carpenter” para penafsir semuanya menyanyikan lagu-lagu lama Carpenter dengan sangat bagus, terutama Sonic Youth, pada album ini, tidak semua berdualitas dengan lagu dan penyanyi aslinya.
Terakhir, aspek komposisi pesan. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Kla dan manajemennya dengan merilis album ini? Apakah ingin menunjukkan pada masyarakat pecinta musik bahwa mereka adalah band legendaris, yang memberi kontribusi lumayan besar pada musik populer Indonesia kontemporer? Atau agar masyarakat pecinta musik ingat dengan eksistensi mereka? Entahlah, tidak ada catatan yang memadai di album ini.
Mestinya memang ada catatan yang bisa disampaikan dari pihak Kla sendiri atau pun dari pakar musik Indonesia agar akses pesan yang didapat audiens bisa maksimal. Tradisi hadirnya catatan bersama album yang dirilis memang belum mentradisi di sini walau sudah seringkali digunakan oleh para penyanyi independen. Walau begitu, secara umum album tribute yang “hanya” berisi sepuluh lagu ini adalah album yang bagus. Mestinya, dengan menghitung banyaknya hits yang ditelurkan oleh Kla, jumlah lagu bisa lebih banyak. Di luar itu semua, tanpa harus menyampaikan pesannya dengan eksplisit, Kla sudah menunjukkan lewat karya bahwa mereka telah menjadi band legendaris dan berkontribusi untuk musik Indonesia.
Daftar Lagu:
1. RAN – Tentang Kita
2. The Upstairs – Lantai Dansa
3. Ungu – Yogyakarta
4. Vidi Aldiano – Semoga
5. Ahmad Dhani – Terpurukku Disini
6. Violet – Bahagia Tanpamu
7. Pongki Barata – Meski T’lah Jauh
8. Babas – Sudi Turun ke Bumi
9. Maliq & D'Essentials – Prasangka
10.Kerispatih – Menjemput Impian
Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita di situs berita musik bila the Upstairs mengintepretasi ulang lagu “Lantai Dansa” milik Kla Project. Selanjutnya, berita itu memberikan informasi akan dirilis album “Tribute to Kla”. Lagu yang dinyanyikan ulang oleh the Upstairs itu adalah salah satu yang akan dikompilasi dalam album tersebut. Namun beberapa hari setelahnya saya lupa dengan informasi tersebut, walau hampir bisa dipastikan saya akan mengakses album tersebut bila dirilis.
Hal yang agak mengejutkan saya adalah saya mendapatkan album “Tribute to Kla” ini di sebuah jaringan minimarket ketika secara tak sengaja mengakses beberapa produk di sana. Distribusi dengan menggunakan jalur di luar jalur konvensional adalah pilihan yang jamak bagi pelaku musik populer Indonesia belakangan ini. Contoh terbaik adalah Agnes Monica yang merilis album the best-nya, “Agnes is My Name” (2011) melalui jaringan makanan cepat saji, juga album Umay, “Pesta Sekolah” (2011), sebuah album untuk anak-anak yang bagus. Album musikal Laskar Pelangi yang didistribusikan melalui jaringan toko buku terbesar di Indonesia adalah contoh lainnya. Jaringan toko buku tersebut juga pernah membuat blunder dengan menyebarkan secara ekslusif album OST “Badai Pasti Berlalu” yang ternyata bermasalah dalam hak cipta. Album OST "Badai Pasti Berlalu" yang sudah terpajang kemudian ditarik kembali. Album "Badai Pasti Berlalu" tersebut memang kurang maksimal kualitasnya. Saya tahu karena saya sempat membelinya.
Semestinya kenyataan bahwa album "Tribute to KLa Project" dijual di jaringan mini market tidak mengejutkan karena saya sudah mengetahui fenomena distribusi album melalui jalur non konvensional. Hal yang mengejutkan saya adalah band legendaris sekaliber KLa Project memilih distribusi “tertutup” semacam ini. Kalau band-band bernama "aneh" semacam "Pemuda Idola", "Kuning Telur", atau "Galau Band", bisa dibilang sah melakukannya, masalahnya ini KLa Project. Mungkin ada pertimbangan lain yang belum diketahui publik pendengar. Hal yang kita tahu, walau kepastian penghasilan didapat melalui distribusi semacam ini, kemungkinan akses untuk pendengar yang lebih luas menjadi terbatas. Saya yakin album ini pasti menarik minat banyak orang bila didistribusikan terbuka.
Seperti saya duga, lagu “Lantai Dansa” oleh the Upstairs adalah lagu paling mengasyikkan di album ini. Interpretasi mereka atas lagu “Lantai Dansa” membuat lagu ini tidak terlalu mirip dengan lagu aslinya namun tetap bagus dan menjadi khas the Upstairs. Lagu-lagu lain yang menarik untuk dicermati adalah “Semoga”, yang dinyanyikan ulang oleh Vidi Aldiano, “Terpurukku Disini” oleh Ahmad Dhani, dan “Meski T’lah Jauh” oleh Pongki Barata. Ahmad Dhani seharusnya me-remake lagu-lagunya sendiri seperti me-remake lagu “Terpurukku Disini”. Ketujuh lagu lain "bermain aman" dengan interpretasi yang biasa. Untungnya ketujuh lagu itu adalah memang lagu-lagu yang bagus sehingga hasil daur-ulangnya pun tetap bagus.
Dalam melihat album “tribute to”, saya akan selalu membandingkan dengan album “If I were A Carpenter” (1994) yang menurut saya jenis album “tribute to” yang paling oke dari banyak sisi, pengemasan, interpretasi lagu, dan komposisi pesan. Bila mengkomparasi kualitas sebaiknya kita bandingkan dengan kualitas kelas satu. Sayangnya, album “Tribute to Kla Project” ini belum memenuhi ketiga kriteria tersebut dengan ciamik. Pengemasan pesan misalnya, judul album tidak ada, hanya ada istilah “tribute to” yang normal sekali.
Mestinya manajemen Kla, yang berinisiatif merilis album ini, bisa menyarankan judul utama, baru kemudian diembel-embeli dengan “tribute to”. Interpretasi lagu juga belum maksimal. Toh banyak judul lagu atau petikan lirik yang puitis dan keren dari KLa Project. Idealnya, para penginterperasi tidak “lebur” oleh teks awal (lagu dan penyanyi awalnya). Bila di album “If I were A Carpenter” para penafsir semuanya menyanyikan lagu-lagu lama Carpenter dengan sangat bagus, terutama Sonic Youth, pada album ini, tidak semua berdualitas dengan lagu dan penyanyi aslinya.
Terakhir, aspek komposisi pesan. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Kla dan manajemennya dengan merilis album ini? Apakah ingin menunjukkan pada masyarakat pecinta musik bahwa mereka adalah band legendaris, yang memberi kontribusi lumayan besar pada musik populer Indonesia kontemporer? Atau agar masyarakat pecinta musik ingat dengan eksistensi mereka? Entahlah, tidak ada catatan yang memadai di album ini.
Mestinya memang ada catatan yang bisa disampaikan dari pihak Kla sendiri atau pun dari pakar musik Indonesia agar akses pesan yang didapat audiens bisa maksimal. Tradisi hadirnya catatan bersama album yang dirilis memang belum mentradisi di sini walau sudah seringkali digunakan oleh para penyanyi independen. Walau begitu, secara umum album tribute yang “hanya” berisi sepuluh lagu ini adalah album yang bagus. Mestinya, dengan menghitung banyaknya hits yang ditelurkan oleh Kla, jumlah lagu bisa lebih banyak. Di luar itu semua, tanpa harus menyampaikan pesannya dengan eksplisit, Kla sudah menunjukkan lewat karya bahwa mereka telah menjadi band legendaris dan berkontribusi untuk musik Indonesia.
Daftar Lagu:
1. RAN – Tentang Kita
2. The Upstairs – Lantai Dansa
3. Ungu – Yogyakarta
4. Vidi Aldiano – Semoga
5. Ahmad Dhani – Terpurukku Disini
6. Violet – Bahagia Tanpamu
7. Pongki Barata – Meski T’lah Jauh
8. Babas – Sudi Turun ke Bumi
9. Maliq & D'Essentials – Prasangka
10.Kerispatih – Menjemput Impian
Rabu, 02 November 2011
There is A Light That Never Goes Out
oleh the Smiths
Take me out tonight
Where there's music and there's people
And they're young and alive
Driving in your car
I never never want to go home
Because I haven't got one
Anymore
Take me out tonight
Because I want to see people and I
Want to see life
Driving in your car
Oh, please don't drop me home
Because it's not my home, it's their
Home, and I'm welcome no more
And if a double-decker bus
Crashes into us
To die by your side
Is such a heavenly way to die
And if a ten-ton truck
Kills the both of us
To die by your side
Well, the pleasure - the privilege is mine
Take me out tonight
Take me anywhere, I don't care
I don't care, I don't care
And in the darkened underpass
I thought Oh God, my chance has come at last
(But then a strange fear gripped me and I Just couldn't ask)
Take me out tonight
Oh, take me anywhere, I don't care
I don't care, I don't care
Driving in your car
I never never want to go home
Because I haven't got one, da ... Oh,
I haven't got one
And if a double-decker bus
Crashes into us
To die by your side
Is such a heavenly way to die
And if a ten-ton truck
Kills the both of us
To die by your side
Well, the pleasure - the privilege is mine
Oh, There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
Take me out tonight
Where there's music and there's people
And they're young and alive
Driving in your car
I never never want to go home
Because I haven't got one
Anymore
Take me out tonight
Because I want to see people and I
Want to see life
Driving in your car
Oh, please don't drop me home
Because it's not my home, it's their
Home, and I'm welcome no more
And if a double-decker bus
Crashes into us
To die by your side
Is such a heavenly way to die
And if a ten-ton truck
Kills the both of us
To die by your side
Well, the pleasure - the privilege is mine
Take me out tonight
Take me anywhere, I don't care
I don't care, I don't care
And in the darkened underpass
I thought Oh God, my chance has come at last
(But then a strange fear gripped me and I Just couldn't ask)
Take me out tonight
Oh, take me anywhere, I don't care
I don't care, I don't care
Driving in your car
I never never want to go home
Because I haven't got one, da ... Oh,
I haven't got one
And if a double-decker bus
Crashes into us
To die by your side
Is such a heavenly way to die
And if a ten-ton truck
Kills the both of us
To die by your side
Well, the pleasure - the privilege is mine
Oh, There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
There Is A Light And It Never Goes Out
Blog dan Aktivitas Menulis
Saya merasa agak bersalah karena cukup lama tidak menulis di blog. Bukan apa-apa, rasanya memang ada yang hilang belakangan ini. Walau ternyata menulis bagi saya bukan lagi sekadar menuangkan pengalaman, pengetahuan, dan harapan, melainkan sudah seperti "ritual" yang menyucikan hati yang mungkin berdebu dalam menjalani hidup, aktivitas menulis memerlukan “upaya” lain untuk diselesaikan. Saya sendiri tidak tahu apa penyebab sebenarnya saya jadi jarang menulis di blog belakangan ini. Seringkali aktivitas menulis sudah saya lakukan tetapi tidak ada hasilnya. Tulisan tersebut tidak selesai dan tidak jadi dipublikasi. Tulisan yang “nyaris” selesai sekalipun belum tetaplah belum selesai dan tak bisa di-share di blog. Seringkali keinginan menulis itu sangat besar, isi sudah terpikirkan namun tidak ada waktu dan kesempatan untuk menuangkannya. Menulis tetap “meminta” waktu utuh penuh yang bisa relatif pada tiap orang. Saya sendiri memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit untuk menghasilkan tulisan selesai sekitar 700 kata. Bila tidak ada waktu utuh penuh, yang tak terjeda oleh perhatian lain, sebanyak itu saya tidak menyelesaikan tulisan.
Kejadian pertama yang membuat saya antusias lagi menulis adalah beberapa hari yang lalu kebetulan teman saya menunjukkan blog-nya pada saya. Blog yang bagus dan semarak. Dia juga menunjukkan situs alexa yang bisa "menilai" blog. Blog miliknya menempati peringkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan blog saya. Kami kemudian berbincang tentang kemungkinan memperluas daya jangkau blog. Saya mendapatkan banyak masukan dari dia dan pada akhirnya hasrat menulis saya muncul lagi. Mendapatkan perhatian yang luas tentu saja dikarenakan seberapa menariknya tulisan kita sebelum kita membenahi blog agar lebih mudah diakses.
Kejadian lain adalah pada hari berikutnya secara tak sengaja saya mengakses blog salah seorang akademisi ilmu komunikasi yang terkemuka. Beliau secara formal sudah pensiun dari dosen UGM, namun tidak ada kata pensiun untuk pemikiran. Melihat-lihat dan mengamati blog-nya saya semakin melihat kualitas pemikiran dan pengetahuan yang dituangkannya di dalam tulisan. Pemikiran yang bernas, tulisan yang bagus, dan hasrat yang kuat untuk berbagi. Kekaguman saya pada dirinya bertambah dan membuat saya semakin ingin menulis. Kali ini bila diberi kesempatan menulis, saya akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghasilkan tulisan dengan sebaik-baiknya.
Blog, seperti telah kita pahami, sangat membantu dalam aktivitas menulis. Simpulan ini berasal dari pengalaman personal saya. Melalui blog hasrat dan kesempatan kita menulis bakal lebih besar lagi. Berikut ini fungsi blog bagi aktivitas menulis:
Pertama, blog memberi keleluasaan kita menulis kapan pun dan seperti apa pun hasilnya. Di blog personal, kita bisa menyimpan terlebih dahulu tulisan yang akan dipublikasi sebagai draft dan kita bisa melanjutkannya lagi lain waktu, seluangnya waktu dan kesempatan yang kita miliki. Atau bila kita ingin mempublikasikan tulisan yang belum selesai itu, kita bisa "mempublikasikannya" untuk diri sendiri terlebih dulu dan kemudian memperbaikinya pelan-pelan. Bila sudah selesai, tulisan tadi baru kita publikasi secara terbuka di blog kita.
Kedua, blog menjadi sarana pencatat apa pun yang kita baca, tonton, dengar, dan pikirkan secara cepat. Seringkali semua itu menghilang dengan cepat bila tak dicatat. Misalnya seperti yang saya alami, banyak informasi yang saya baca dan sesuai dengan bidang ilmu yang saya geluti, namun ketika mengakses informasi tadi saya tidak sempat mencatat sedikit jua. Akibatnya informasi tersebut hilang entah kenapa. Mungkin saya bisa mengingat informasi tersebut lamat-lamat namun akurasi dan rujukan sumbernya tidak tepat. Blog bisa mengatasi itu semua. Saya bisa mencatatnya dengan cepat di blog dan mudah mengaksesnya kembali kapan pun bila dibutuhkan.
Ketiga atau yang terakhir, blog dapat membantu kita berelasi dan berinteraksi dengan pihak lain. Melalui blog, kita bisa mengamati tulisan-tulisan kita yang seperti apa yang dibaca oleh pihak lain. Kita bisa menulis apa pun di blog kita, tetapi kita tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa kita memiliki tulisan yang diminati dan tidak diminati orang lain. Melalui blog pula kita bisa mengetahui dan membaca blog-blog orang lain yang memiliki ketertarikan dan minat yang sama dengan diri kita.
Kita bisa menggali informasi dan pengetahuan dari blog-blog tersebut. Aktivitas menulis dan membaca sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Dengan menjadi pembaca blog-blog yang bagus kita lebih mungkin dapat menulis dengan baik di blog kita sendiri.
Pada sisi yang lain, disinilah arti paling penting dari blog. Blog tidak hanya menjadi pendukung dari aktivitas menulis, lebih luas lagi, blog memperkuat literasi, literasi media, dan literasi digital sekaligus. Blog semakin meningkatkan kemampuan membaca dan menulis personal. Blog semakin menyadarkan kita akan cara memahami sekaligus memproduksi pesan dengan baik. Pada akhirnya, melalui menulis di blog kita semakin menyadari kesaling-keterkaitan kita dengan pihak lain secara langsung, juga dengan budaya partisipatif dan kolaboratif bahwa kita membentuk "semesta" pengetahuan dengan manusia-manusia lain di kehidupan fana ini.
Kejadian pertama yang membuat saya antusias lagi menulis adalah beberapa hari yang lalu kebetulan teman saya menunjukkan blog-nya pada saya. Blog yang bagus dan semarak. Dia juga menunjukkan situs alexa yang bisa "menilai" blog. Blog miliknya menempati peringkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan blog saya. Kami kemudian berbincang tentang kemungkinan memperluas daya jangkau blog. Saya mendapatkan banyak masukan dari dia dan pada akhirnya hasrat menulis saya muncul lagi. Mendapatkan perhatian yang luas tentu saja dikarenakan seberapa menariknya tulisan kita sebelum kita membenahi blog agar lebih mudah diakses.
Kejadian lain adalah pada hari berikutnya secara tak sengaja saya mengakses blog salah seorang akademisi ilmu komunikasi yang terkemuka. Beliau secara formal sudah pensiun dari dosen UGM, namun tidak ada kata pensiun untuk pemikiran. Melihat-lihat dan mengamati blog-nya saya semakin melihat kualitas pemikiran dan pengetahuan yang dituangkannya di dalam tulisan. Pemikiran yang bernas, tulisan yang bagus, dan hasrat yang kuat untuk berbagi. Kekaguman saya pada dirinya bertambah dan membuat saya semakin ingin menulis. Kali ini bila diberi kesempatan menulis, saya akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghasilkan tulisan dengan sebaik-baiknya.
Blog, seperti telah kita pahami, sangat membantu dalam aktivitas menulis. Simpulan ini berasal dari pengalaman personal saya. Melalui blog hasrat dan kesempatan kita menulis bakal lebih besar lagi. Berikut ini fungsi blog bagi aktivitas menulis:
Pertama, blog memberi keleluasaan kita menulis kapan pun dan seperti apa pun hasilnya. Di blog personal, kita bisa menyimpan terlebih dahulu tulisan yang akan dipublikasi sebagai draft dan kita bisa melanjutkannya lagi lain waktu, seluangnya waktu dan kesempatan yang kita miliki. Atau bila kita ingin mempublikasikan tulisan yang belum selesai itu, kita bisa "mempublikasikannya" untuk diri sendiri terlebih dulu dan kemudian memperbaikinya pelan-pelan. Bila sudah selesai, tulisan tadi baru kita publikasi secara terbuka di blog kita.
Kedua, blog menjadi sarana pencatat apa pun yang kita baca, tonton, dengar, dan pikirkan secara cepat. Seringkali semua itu menghilang dengan cepat bila tak dicatat. Misalnya seperti yang saya alami, banyak informasi yang saya baca dan sesuai dengan bidang ilmu yang saya geluti, namun ketika mengakses informasi tadi saya tidak sempat mencatat sedikit jua. Akibatnya informasi tersebut hilang entah kenapa. Mungkin saya bisa mengingat informasi tersebut lamat-lamat namun akurasi dan rujukan sumbernya tidak tepat. Blog bisa mengatasi itu semua. Saya bisa mencatatnya dengan cepat di blog dan mudah mengaksesnya kembali kapan pun bila dibutuhkan.
Ketiga atau yang terakhir, blog dapat membantu kita berelasi dan berinteraksi dengan pihak lain. Melalui blog, kita bisa mengamati tulisan-tulisan kita yang seperti apa yang dibaca oleh pihak lain. Kita bisa menulis apa pun di blog kita, tetapi kita tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa kita memiliki tulisan yang diminati dan tidak diminati orang lain. Melalui blog pula kita bisa mengetahui dan membaca blog-blog orang lain yang memiliki ketertarikan dan minat yang sama dengan diri kita.
Kita bisa menggali informasi dan pengetahuan dari blog-blog tersebut. Aktivitas menulis dan membaca sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Dengan menjadi pembaca blog-blog yang bagus kita lebih mungkin dapat menulis dengan baik di blog kita sendiri.
Pada sisi yang lain, disinilah arti paling penting dari blog. Blog tidak hanya menjadi pendukung dari aktivitas menulis, lebih luas lagi, blog memperkuat literasi, literasi media, dan literasi digital sekaligus. Blog semakin meningkatkan kemampuan membaca dan menulis personal. Blog semakin menyadarkan kita akan cara memahami sekaligus memproduksi pesan dengan baik. Pada akhirnya, melalui menulis di blog kita semakin menyadari kesaling-keterkaitan kita dengan pihak lain secara langsung, juga dengan budaya partisipatif dan kolaboratif bahwa kita membentuk "semesta" pengetahuan dengan manusia-manusia lain di kehidupan fana ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis Lagi, Berjuang Lagi
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...
-
Liburan panjang seperti sekarang ini membuat saya memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplorasi koleksi musik dan buku saya. Senang juga ra...
-
Untuk seorang sahabat lama di hati dan bukan dalam kehidupan nyata.... Entah mengapa aku sangat merindukanmu sekarang. "Urgency of now...
-
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...





