Kamis, 19 Januari 2012

Suara Emas Sang Juara


Album musik untuk anak-anak memang barang langka di negeri ini. Sedih juga sebenarnya melihat anak-anak sekarang masih mendengarkan lagu-lagu dari penyanyi lama semisal Tri Kwek Kwek, Sherina, dan Tasya. Sedih karena penyanyinya saja sudah pada beranjak dewasa. Kondisi langkanya album musik untuk anak-anak juga semakin menyedihkan mengingat industri musik populer di tanah air belakangan ini menggeliat pesat karena hausnya masyarakat kita dengan musik. Walau begitu, ada juga hal yang menggembirakan, album musik untuk anak-anak seringkali berkualitas bagus walaupun sangat jarang diproduksi.


Contohnya adalah album "Suara Emas Sang Juara" ini. Terus terang, saya mendapatkan album ini agak terlambat karena album ini dirilis tahun 2010 dan menjadi album anak terbaik pada tahun tersebut versi Akademi Musik Indonesia (AMI). Lagu-lagu yang muncul di album ini sebenarnya sebagian besar adalah lagu-lagu lama yang sudah sering dinyanyikan. Kenyataan ini memunculkan fakta lain bahwa selain jarang diproduksi menjadi album, lagu-lagu anak memang jarang diciptakan sehingga lagu-lagu itu seringkali dinyanyikan kembali. Walau kebanyakan lagu lama, album ini tetaplah album yang sangat menarik karena lagu-lagu tersebut diaransemen oleh Elfa Secioria yang merupakan salah satu empu musik Indonesia. Kemungkinan besar album ini adalah salah satu karya terakhir Elfa karena beliau meninggal pada awal tahun 2011. Tiga lagu baru yang khusus diciptakan untuk album ini pun merupakan lagu yang  bagus, yaitu "Mengantar Rambutan", "Kembali ke Sekolah II", dan "Mama, Aku Ingin Pulang". Lagu "Mengantar Rambutan" misalnya, berkisah tentang pengalaman biasa dua orang anak yang khas dunia anak-anak. "Kembali ke Sekolah II" juga demikian maknanya namun tampil lebih megah dan berbicara hal yang sangat ideal. Lagu "Mama, Aku Ingin Pulang" adalah lagu sedih namun tetap sebuah lagu yang sangat bagus.

Selain itu, para penyanyi di album ini benar-benar bersuara emas. Mungkin karena para penyanyi dihasilkan dari kontes menyanyi bernama festival vocal group Indomaret. Jaringan minimarket ini pula yang menjadi jaringan distributor dari album bagus ini. Pada titik distribusi inilah album ini mendapatkan kelemahannya, kemungkinan banyak pendengar potensial tidak terjangkau karena Indomaret tidak ada di banyak wilayah Indonesia. Cara lebih baik agar album ini bisa lebih banyak didengar oleh anak Indonesia adalah pemerintah membantu biaya produksi ulang dan mendistribusikannya ke kampung-kampung dan sekolah-sekolah dengan gratis. Menurut saya, album ini juga layak masuk ke sekolah, tidak hanya format pesan berbentuk buku, apalagi buku-buku pengayaan pelajaran yang tidak jelas.

Daftar lagu:
1. Joyful Kids - Mengantar Rambutan
2. Joyful Kids - Makan Jangan Bersuara
3. Fortunate Kids - Menanam Jagung
4. Joyful Kids - Burung Hantu
5. Fortunate Kids - Kembali ke Sekolah II
6. Ashira Brothers - Burung Berkicau
7. Fortunate Kids & Joyful Kids - Kapal Api
8. Fortunate Kids & Joyful Kids - Naik Delman
9. Fortunate Kids & Joyful Kids - Hai Beca
10. Fortunate Kids - Aku Anak Gembala
11. Fortunate Kids - Lagu Gembira
12. Fortunate Kids - Ibu Guru Kami
13. The Ladies - Mama, Aku Ingin Pulang
14. Desi Tahmila Elfa - Mama, Aku Ingin Pulang

Tulus - Tulus (2011)

Merdu dan Tulus Bernyanyi



Sudah lama saya antuasias mendengar album Indonesia. Entahlah, rasanya belum ada sesuatu yang baru menggugah saya untuk mendengarkan sebuah album secara mendalam. Tetapi tiga hari yang lalu saya mendapatkan album ini secara tak sengaja. Maklumlah, toko CD tidak bisa kita andalkan untuk mendapatkan album Indonesia secara cepat mengingat toko CD juga berhitung sekali menjual CD yang tidak jelas laku atau tidak. Sore itu dalam kunjungan rutin yang tidak dipenuhi harapan saya mendapatkan album Tulus ini. Sebelumnya saya mendapatkan informasi dari majalah Rollingstone tentang album perdana penyanyi bernama Muhammad Tulus ini. RSI meresensi dan menyimpulkan album ini bagus. Saya juga berkesimpulan sama. Album yang lebih dari bagus.

Tulus bernyanyi dengan tulus. Dikombinasi dengan suaranya yang memang enak didengar kita akan mudah menyukai album ini. Lirik lagu di album ini cukup bagus, berbicara tentang hal-hal umum dalam relasi cinta tetapi tidak terdengar klise apalagi banal. Lagu yang paling menarik untuk disimak menurut saya adalah "Sewindu" dalam dua versinya. Dua lagu yang sama namun liriknya sedikit berbeda. Lirik kedua lagu seperti bernarasi tentang perjalanan kisah cinta dua orang yang pupus pada akhirnya. Mungkin kisah cinta bertepuk sebelah tangan, mungkin juga hidup pada akhirnya mengikis rasa yang mereka miliki.

Lagu-lagu di album ini tidak melulu bicara tentang cinta dalam formatnya yang paling biasa. Ada juga lagu yang bicara relasi sosial yang umum seperti tergambar dalam lagu "Diorama". Hal yang mirip dengan lagu "Tuan Nona Kesepian" yang bicara tentang manusia kota lelaki dan perempuan yang bingung untuk berelasi secara biasa karena kehidupan urban yang penuh dengan pencitraan personal. Lagu-lagu lain enak pula untuk didengar walau liriknya tidak memberikan pencerahan terutama karena suara Tulus memang merdu dan Tulus bernyanyi dengan tulus, tanpa beban, berusaha merdu untuk semua pendengarnya.

Daftar lagu:
1. Merdu Untukmu (Intro)
2. Teman Pesta
3. Kisah Sebentar
4. Sewindu
5. Diorama (Studio Live)
6. Tuan Nona Kesepian
7. Jatuh Cinta
8. Teman Hidup
9. Sewindu (Rhodes Version)
10. Merdu Untukmu (Outro)

Senin, 16 Januari 2012

Menulis Itu Mudah (Sekaligus Sulit)



Sebenarnya saya agak tidak menduga bisa lama tidak bisa menulis apa-apa. Saya lupa kapan terakhir menulis dengan intens dan menghasilkan tulisan yang memuaskan diri saya sendiri. Banyak ide berseliweran di kepala (pikiran) dan hati (perasaan). Sepertinya banyak untaian kata bisa ditulis. Namun tidak ada apa-apa yang muncul dengan utuh. Saya juga berjanji dalam hati untuk lebih produktif dan kreatif dalam menulis pada awal tahun kemarin. Kenyataannya, sampai saat ini rencana tinggal rencana, sangat sulit merealisasikan rencana untuk menulis minimal sekian jam per hari dan sekian tulisan per bulan.



Saya agak tidak menduga kini mengalami kesulitan dalam menulis, bahkan untuk menghasilkan tulisan pendek. Kondisi ini sebenarnya tidak terbayangkan sebelumnya tahun kemarin di mana saya merasa cukup produktif dalam menulis, dan cukup kreatif menghasilkan ragam jenis tulisan. Harapan personal untuk memiliki kecakapan literasi yang komplet sepertinya bakal terwujud. Namun, Dia akan selalu mengingatkan, bila kita merasa sudah baik atau sudah cukup memadai dalam hal apa pun, tidak hanya menulis, kita ternyata belumlah apa-apa. Ini adalah kondisi eksistensial di mana kita mesti merasakan kemandekan beberapa kali dalam hidup.



Dia juga "mengirimkan" orang-orang yang ada di sekitar saya untuk selalu mengingatkan. Pertama, orang yang paling saya cintai, istri saya mengingatkan situs personal saya ini yang belum juga terisi tulisan. "Masak sudah punya situs tapi belum ada tulisannya. Katanya pengamat media baru, kok situsnya belum ada isinya". Begitu kata ibu malaikat kecil saya. Saya hanya tersenyum kecut. Di dalam hati saya hanya bisa membenarkan pendapatnya.


Kedua, seorang rekan yang lebih muda yang pemikiran dan tulisannya saya kagumi, mengatakan saya secara tak langsung sewaktu kami mengobrol bebas tentang tulis-menulis. "Menurut saya mas, kita mesti menyelesaikan satu tulisan sebelum mengerjakan tulisan yang lain. Kalau tidak, tidak akan ada tulisan yang hadir". Mungkin dia tidak sengaja menyampaikan perkataan itu namun betul-betul "menusuk" hati saya karena saya selalu menunda satu tulisan dan merasa bisa mengerjakan beberapa tulisan dalam satu waktu.


Orang terakhir yang dikirimkan Dia untuk mengingatkan tentang tulis-menulis adalah seorang rekan di Facebook. Rekan ini tidak saya kenal secara personal namun dia adalah kakak kelas saya sewaktu kuliah. Dia saya kenal dari dua rekan di kantor yang sangat dekat dengannya. Saya lebih mengenalnya melalui status dan komentarnya di FB yang positif tentang menulis. Dia ini adalah seorang penulis yang sangat produktif dan bagus jua tulisan-tulisannya, terutama untuk cerpen-cerpen yang dia hasilkan. Lewat wall FB-nya dia mengatakan bila kita menyediakan waktu lima menit saja per hari pasti dalam waktu setahun kita bisa menyelesaikan sebuah buku. Nasihat yang bagus dan mengena dari pakarnya saya kira dan benar-benar menggugah saya untuk berusaha dengan antusias menulis lagi.

Yup, inilah pembaruan janji saya. Berjanji kembali pada diri untuk menulis antara lain di situs personal saya ini. Blog lama saya ini akan saya tinggalkan. Selanjutnya saya juga akan menulis di blog atau situs personal saya di alamat http://www.wisnumartha.com/ selain di sini. Setelah ini saya akan berusaha menulis lebih baik lagi. Mudah dan sulit itu dualitas dan bersifat eksistensial, hal yang paling penting adalah MENULISLAH! selagi kita dikaruniai waktu, perasaan, dan pikiran.


(gambar dipinjam dari theportableblender.info)

Rabu, 04 Januari 2012

Kenangan Dua Sisi

Berperspektif berapa sebuah memori?
Ada benci dilingkupi sayang,
Seperti halnya kesadaran dilapisi posisi


Berlevel berapa sebuah realitas?
di benak dan hatiku
Kemasan kecil-kecil lumayan memaksa ego


Berlapis berapa frame-nya?
Perangkat rasionalitas dan emosionalisme
Moralitas sebuah pilihan....

Pergi

Aku memandangi tas perjalanan yang ada di sampingku. Di bandara yang sibuk dan riuh bernama Cengkareng. Rasanya belum terlalu lama tas ini kubawa ke Nganjuk untuk menengok pakdhe yang waktu itu sakit. Tas ini pada akhirnya ikut "melayat" pakdhe karena sehari setelah aku datang menengok pakdhe pergi untuk selamanya. Duka di dalam hati belum selesai. Kini tas yang kubeli di Chennai, India, ini kubawa untuk perjalanan duka lagi. Kali ini ia kubawa ke Bandar Lampung lagi untuk melayat nyai yang tadi pagi pukul 09.00 tanggal 3 Januari 2012 pergi meninggalkan dunia ini selamanya. Nyai adalah nama lain untuk nenek, ibunya ayah. Aku tak tahu pasti seperti apa menuliskannya. Aku tidak begitu paham bahasa Lampung, terutama sub etnis Lampung keluargaku.

Benar, kedukaan membuat aku tak kritis. Biasanya aku mudah menemukan "ketidaksesuaian" di sekitarku dengan hanya melihat keadaan. Bila ada yang tak pas, hatiku akan gundah dan mencoba mencari penyebab ketidaksesuaian itu. Misalnya, maskapai penerbangan yang pesawatnya membawaku ke bandara Raden Intan masih menyebut Tanjung Karang dengan Bandar Lampung atau sebaliknya Tanjung Karang atau Bandar Lampung. Mungkin mereka yang tidak berasal dari Bandar Lampung tak tahu bahwa Bandar Lampung itu terdiri dari dua kota di masa lalu: Tanjung Karang dan Teluk Betung. Rasa gundah bisa kulewatkan juga ketika masih banyak penumpang yang mengaktifkan handphone bahkan beberapa menit sebelum pesawat lepas landas. Biasanya aku akan marah walau hanya di dalam hati.

Ini perjalanan pulang tersedih kedua setelah pulang tahun 2003 di mana ayah pada tahun itu ayahku meninggal. Ayah meninggal kurang dari dua bulan sebelum aku menikah. Rasanya, waktu itu bumi berhenti berputar. Sedih karena aku belum banyak membahagiakan ayah setelah bertahun-tahun berjuang keras menyekolahkan kami, aku dan ketiga adikku. Waktu itu perjalanan serasa begitu panjang dari Yogya ke Bandar Lampung. Hal yang sama terjadi pada perjalanan kali ini. Masih teringat sebuah kenangan delapan tahun itu wajah nyai yang sedih karena anak lelaki pertamanya meninggal. Waktu itu nyai masih segar bugar untuk seusianya.

Perjalanan dari bandara yang berasal dari nama pahlawan nasional ini juga terasa lama sekali menuju rumah duka. Aku tak tahu pasti yang kurasakan. Bukan rasa sedih yang mendalam karena mungkin ini jalan-Nya yang terbaik mengingat usia nyai yang 87 tahun. Mungkin rasa kehilangan, mungkin penyesalan karena pada pertemuan terakhir tak bisa bercakap-cakap dengan nyai karena waktu itu beliau sedang tidur. Rasa kehilangan dalam hati yang lumayan dalam karena pada usia 5 - 14 tahun nyai ikut membesarkanku selain kedua orang tuaku tentunya. Aku dan adik perempuanku tinggal di rumah nyai sampai menjelang kepindahan kami ke Yogyakarta. Aku dengar dari adik-adikku kedatanganku ditunggu sebelum nyai dimakamkan padahal waktu sudah menunjukkan pukul 21.20. Waktu yang larut untuk memakamkan.

Di rumah duka banyak keluarga yang memelukku. Kesedihan merebak. Dalam kesedihan dan kehilangan manusia memiliki mekanisme untuk menguranginya bersama-sama, begitu juga untuk memperkuatnya. Suasana begitu  mengharukan apalagi banyak anggota keluarga yang kemudian menangis lebih keras karena kata mereka aku begitu mirip ayah. Mungkin kepergian ayah yang mendadak delapan tahun itu belum mereka terima sepenuhnya. Mungkin juga semua orang yang kucintai ini memang merindukan ayah. Ayah tak pernah pergi dari hati dan pikiran mereka. Konsep "pergi" kemudian melayang-layang di benakku. Siapa yang pergi? kita memang bisa pergi kemana selain hidup dan meninggal? tidak ada individu yang benar-benar pergi bila bekasnya sudah ada di hati dan sosoknya tercetak dalam perjalanan hidup kita.

Selamat jalan nyai....nyai tak pernah pergi sepenuhnya dariku....

Senin, 02 Januari 2012

Perasaan dan Pengetahuan yang Dikemas “Kecil-Kecil”

Ada untungnya juga keadaan di mana program acara di televisi yang cukup bagus dan layak tonton jarang ada. Ketika suatu malam di akhir tahun kemarin tak ada acara televisi yang lumayan, saya bisa menonton film-film dalam format VCD dan DVD yang sebenarnya sudah cukup lama ada di koleksi saya. Koleksi film yang belum saya tonton lumayan banyak dan akhirnya pilihan jatuh pada film Paris, je t'aime (2006). Sungguh pilihan yang tepat karena film ini  bagus sekali. Seorang rekan saya yang memang merupakan penggila film sepintas pernah menyebut-nyebut film ini bagus sekali bertahun-tahun yang lalu sebelum dia menempuh pendidikan doktoral di Australia sana. Namun karena saya pada dasarnya lebih memilih musik rekaman sebagai teks media utama yang saya akses, saran sepintas rekan saya itu menghilang begitu saja.

Tentu saja review atas film ini sudah banyak sekali dan saya tidak ingin menambahkan review lagi. Saya hanya ingin mengomentari bagaimana kisah-kisah menarik bisa dikemas dalam pesan media yang sangat pendek, dalam film ini, film-film pendek tersebut berdurasi sekitar lima menit. Ada dua puluh fragmen 5 menitan yang hadir di film ini. Semua film sangat pendek tersebut rata-rata menarik dan “berbicara” secara spesifik. Fragmen karya Coen bersaudara merupakan salah satu bagian favorit saya, juga karya Gus van Sant. Intinya, semua sutradara mampu menyampaikan sisi romantis dari kota Paris dengan baik, terbagi dalam dua puluh “wilayah” kota (mungkin kecamatan dalam kota-kota di Indonesia).

Sebagai akibat dari menonton film ini saya jadi tertarik (kembali) dengan pesan-pesan yang dikemas singat dan pendek. Entah itu, cerita pendek untuk fiksi, puisi yang padat, film-film pendek, fiksi maupun dokumenter, juga tulisan pendedahan ide yang pendek sekitar 500 – 700 kata. Mengapa pesan yang dikemas “kecil-kecil” itu menarik? Saya sendiri tidak punya jawaban pasti, tetapi bagi saya pesan yang dikemas pendek tersebut lebih “menantang” pengaksesnya untuk lebih berusaha serius pada teks. Selain itu, teks yang dikemas “kecil-kecil” tadi mampu memicu pemaknaan intens untuk mendorong kita menghasilkan teks baru.
     
Mungkin itulah sebabnya saya lebih menyukai pesan media musik populer karena bila kita mengakses album misalnya, kita bisa memaknainya dari dua sisi, teks keseluruhan dalam satu kesatuan album, atau pada pesan yang dikemas “kecil-kecil” dalam bentuk lagu, yang rata-rata berjumlah dua belas lagu untuk satu album. Pesan yang dikemas “kecil-kecil” tersebut mampu menjadi pintu masuk untuk membahas teks yang lebih besar, luas, dan mendalam.

Semua contoh yang coba saya tampilkan di atas lebih merupakan perasaan yang dikemas “kecil-kecil” dalam bentuk pesan media, yang kemudian dimaknai oleh audiens atau pengakses menjadi teks, namun bukan berarti pengetahuan tidak bisa dikemas “kecil-kecil” di dalam pesan media. Opini di suratkabar adalah contoh yang bagus untuk menunjukkan pesan media yang dikemas “kecil-kecil”. Saya sungguh kagum dengan beberapa rekan yang mampu menulis pemikiran dan pengetahuan dalam format yang ringkas namun mengena. Dibutuhkan upaya lebih untuk memformulasi pemikiran dalam maksimal 700 kata tanpa kehilangan fokus dan tekanan. Diam-diam saya telaah tulisan rekan-rekan saya itu, terutama yang muncul di media massa, dan coba saya resapi benar karena kecakapan mereka memang layak dipelajari, apalagi mereka selalu berpendapat bahwa kami belajar bersama dalam menulis singkat dan padat.

Belajar Bermedia Bersama: Catatan untuk Awal yang Baru

Sedianya saya menulis sesuatu kemarin. Harapannya tulisan tersebut menjadi pembuka untuk awal yang baru di tahun 2012 ini, sekaligus untuk pertama-kali mempublikasi tulisan perdana di alamat blog saya yang baru. Namun apa daya, di hari pertama tahun ini kemarin, saya harus bekerja bersama teman-teman seperjuangan untuk membantu mewujudkan dunia penyiaran Indonesia yang lebih baik. Setidaknya kami ingin berkontribusi pada sistem dan pada sesama walau mungkin setitik :D

Saya tidak ingin menyebut apa pun yang ditulis di dalam tulisan ini sebagai resolusi apalagi klaim. Saya hanya ingin memperbarui janji setahun ke depan. Sebuah janji yang tentu saja personal. Tidak ada maksud untuk menyombongkan diri sedikit pun karena saya belumlah apa-apa, terutama dalam dunia tulis menulis. Saya hanya ingin di tahun ini bersikap dan berposisi lebih serius pada teks. Teks di sini ada dalam dua aspek, yaitu aspek produksi atau kreasi teks dan aspek memaknai teks yang ada. Keduanya sirkular dan saling melengkapi satu sama lain. Di tahun ini saya mesti menghasilkan 50 tulisan yang selesai dalam waktu sebulan. Walau tiga tahun ini saya berjanji mem-posting satu tulisan setiap hari saja tidak terpenuhi, saya tetap optimis rencana itu akan terwujud. Kini saya mesti menaikkan output agar kecakapan saya pada literasi semakin meningkat. 50 tulisan per bulan itu berarti hampir dua kali lebih banyak dari janji sebelumnya, namun kali ini saya hampir yakin saya akan memenuhi janji tersebut. Kita akan lihat sebulan pertama ini.

Semoga berhasil...

Saya sendiri merasa di tahun 2011 yang baru saja berlalu, saya justru mengalami penurunan dalam mengkreasi teks. Saya mencoba melihat semua tulisan saya di tahun 2011 yang muncul di blog ini. Ternyata lebih banyak lirik lagu yang saya publikasi kembali dari laman situs lain daripada pemaknaan saya sendiri pada lirik lagu tersebut. Juga takaran atau review saya atas album musik. Di tahun ini tidak sampai sepuluh album Indonesia yang saya takar. Akibatnya, di awal tahun ini saya tidak bisa membuat daftar album terbaik, bahkan untuk daftar 5 album terbaik sekalipun. Satu topik tulisan lain yang tidak saya selesaikan adalah "Belajar Bermedia Bersama", tagline yang saya ambil dari newsletter saya dan teman-teman, "Polysemia", yang rencananya berusaha menelaah ragam fenomena kemediaan dan komunikasi dalam kurun waktu seminggu. Nyatanya, tulisan tersebut tidak lengkap mengisi tiap minggu dalam setahun. Namun adakalanya sedikit kegagalan semacam ini mestinya jadi penyemangat untuk menulis kembali dengan sebaik-baiknya. Sederhana saja: saya mesti bersikap dan berposisi lebih serius dan sungguh-sungguh pada teks! tak ada cara lain untuk rajin menulis selain rajin pula membaca, mengkreasi teks dengan rutin mesti memaknai teks dengan rutin pula. Menulis dengan rutin dan baik artinya kita mencerna dan memaknai teks dengan baik pula. Sirkularisme ini berjalan terus-menerus.

Kebetulan pula, fenomena media dan komunikasi sungguh banyak terjadi tiap hari. Sungguh banyak yang bisa dikomentari, ditelaah, dan dihadirkan teks atas fenomena tersebut. Kebetulan lagi, di sekitar saya banyak teman-teman yang jago menulis dan menelaah realitas (kemediaan). Ada yang lebih senior dari saya, ada pula yang lebih muda. Mereka semua menghasilkan tulisan-tulisan yang sungguh-sungguh bagus. Kebetulan yang terakhir, atau bukan kebetulan melainkan keadaan yang riil, adalah saya memang bereksistensi di dunia profesi yang menuntut kemampuan menulis dan membaca, serta meneliti, dengan baik. Dengan demikian, kebetulan-kebetulan tersebut semestinya menjadikan saya lebih antusias dan optimis memasuki tahun 2012 ini.

Semoga berhasil, lima puluh tulisan bermakna setiap bulan :)

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...