Puisi itu dituliskan ketika sendirian
Prosa ditasbihkan ketika ada derau di kepala
Opini dibalurkan ketika hasrat berdenting
Wacana dihablurkan ke dunia ketika relasi kuasa antara teks dan konteks dipahami
Tindakan ini: menyesap kopi di pagi yang nyaris hampa
Bermakna ketika niatan tak dikoarkan
Kamis, 03 Januari 2013
Rabu, 02 Januari 2013
Resolusi 2
Pagi begitu tenang di pagi pertama di tahun 2013. Perlahan dia membuka gorden dan melihat suasana di luar rumah. Sepi sekali, tak ada orang yang terlihat padahal sudah pukul 08.00. Ironis sebenarnya. Banyak orang menyatakan resolusi untuk memperbaiki hidupnya di tahun yang baru, antara lain menjadi lebih rajin, pada hari pertamanya justru kebanyakan orang tidak bangun pagi. Dia tersenyum sendiri. Dia pun termasuk orang semacam itu. Resolusi memperbaiki hidup biasanya hanya menggebu di akhir tahun sebelumnya, begitu masuk tahun yang baru, hasrat kuat itu seperti menghablur begitu saja, toh di akhir tahun kita dapat membuat resolusi lagi. Keadaan ini adalah salah satu paradoks sederhana dari eksistensi manusia: suatu pernyataan atau resolusi sangat dipengaruhi oleh konteks.
Entah mengapa, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri, dia mengingat suasana ketika gempa tahun 2006 dulu. Sepi yang sama dengan sepi ketika gempa melanda rumahnya, sepi yang seolah memendam daya demikian kuat. Terasa tubuhnya agak dingin, dingin yang tak nyaman. Perlahan dia mengatur napasnya. Tak apa, tak apa...pikirnya. Rupanya masih ada sedikit trauma pada dirinya. Setelah agak lama dia menyadari bahwa rasa khawatir itu hanya ada di dalam dirinya, bukan ada pada suasana. Mungkin hasrat untuk memasuki tahun yang baru yang kelewat besar, batinnya.
Entahlah, perlahan dirinya tenang lagi. Suasana di luar sudah mulai ramai. Orang-orang sudah mulai keluar rumah, anak-anak sudah mulai bermain di lapangan di depan rumahnya. Hari perlahan dimulai lagi. Kali ini di tahun yang baru. Keadaan yang sebenarnya sama persis dengan hari-hari kemarin. Kalender saja yang berjalan dengan linear. Dia mulai menyeruput kopi yang baru saja dibuatnya. Dunia tetap sama, yang tidak sama mestinya adalah cara dia memaknainya hidup. Hidup mungkin tetap sama, namun tak ada yang mengalahkan Sang Waktu. Dia sebenarnya tidak terlalu antusias melihat perayaan tahun baru, namun karena orang-orang yang dicintainya bergembira, dia pun bergembira. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang-orang yang kita cintai berbahagia. Orang-orang tercintanya belum bangun. Selamat tanggal satu di tahun yang baru, katanya dalam hati, mengucapkan doa untuk dirinya sendiri. Jangan pernah terlena lagi, tahun ini mesti hidup sebaik-baiknya, hidup sedalam-dalamnya.
Dia bahagia menjadi penyaksi, suatu akhir adalah awal yang baru.
Entah mengapa, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri, dia mengingat suasana ketika gempa tahun 2006 dulu. Sepi yang sama dengan sepi ketika gempa melanda rumahnya, sepi yang seolah memendam daya demikian kuat. Terasa tubuhnya agak dingin, dingin yang tak nyaman. Perlahan dia mengatur napasnya. Tak apa, tak apa...pikirnya. Rupanya masih ada sedikit trauma pada dirinya. Setelah agak lama dia menyadari bahwa rasa khawatir itu hanya ada di dalam dirinya, bukan ada pada suasana. Mungkin hasrat untuk memasuki tahun yang baru yang kelewat besar, batinnya.
Entahlah, perlahan dirinya tenang lagi. Suasana di luar sudah mulai ramai. Orang-orang sudah mulai keluar rumah, anak-anak sudah mulai bermain di lapangan di depan rumahnya. Hari perlahan dimulai lagi. Kali ini di tahun yang baru. Keadaan yang sebenarnya sama persis dengan hari-hari kemarin. Kalender saja yang berjalan dengan linear. Dia mulai menyeruput kopi yang baru saja dibuatnya. Dunia tetap sama, yang tidak sama mestinya adalah cara dia memaknainya hidup. Hidup mungkin tetap sama, namun tak ada yang mengalahkan Sang Waktu. Dia sebenarnya tidak terlalu antusias melihat perayaan tahun baru, namun karena orang-orang yang dicintainya bergembira, dia pun bergembira. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang-orang yang kita cintai berbahagia. Orang-orang tercintanya belum bangun. Selamat tanggal satu di tahun yang baru, katanya dalam hati, mengucapkan doa untuk dirinya sendiri. Jangan pernah terlena lagi, tahun ini mesti hidup sebaik-baiknya, hidup sedalam-dalamnya.
Dia bahagia menjadi penyaksi, suatu akhir adalah awal yang baru.
Resolusi 1
Hampir semua peristiwa dan efek dari tindakan bukanlah konklusi
Nikmati saja, jalani saja
Hidup apa adanya
Bagi hidup yang fana ini
Semoga bermakna dan kita tak merana
Nikmati saja, jalani saja
Hidup apa adanya
Bagi hidup yang fana ini
Semoga bermakna dan kita tak merana
Senin, 31 Desember 2012
Sajak Akhir Tahun 3
Menyumbui waktu
Duri-duri membisu
Mengayau ketidakpastian
Esok bukan sekadar penanda
Menyengkramai duka
Siapa yang takut menghadapi pagi?
Harapan telah cukup untuk dirinya sendiri
Kita tetap di sini tanpa pilihan
: menyusuri sungai waktu
Duri-duri membisu
Mengayau ketidakpastian
Esok bukan sekadar penanda
Menyengkramai duka
Siapa yang takut menghadapi pagi?
Harapan telah cukup untuk dirinya sendiri
Kita tetap di sini tanpa pilihan
: menyusuri sungai waktu
Sajak Akhir Tahun 2
Tindakan dan pemaknaan kemarin tak hanya menjadi sejarah tetapi juga bersenyawa dengan filsafat, kopi, album bagus, bau tanah kala hujan, dan mimpi tak selesai
Noktah yang terhubung dari hari ke-1 sampai hari ke-365 hampir terlalui
Kini yang ada tinggal deru waktu tak henti dan janji setahun yang tak ingin dimaklumatkan lagi
(29 Desember 2012)
Noktah yang terhubung dari hari ke-1 sampai hari ke-365 hampir terlalui
Kini yang ada tinggal deru waktu tak henti dan janji setahun yang tak ingin dimaklumatkan lagi
(29 Desember 2012)
Sajak Akhir Tahun 1
Akhir yang bahagia?
Selebihnya hujan tersenyum dan ketidaksabaran mendera
Akhir yang diinginkan?
Melampaui dingin dan asa yang tak tuntas
Sepenuhnya masih misteri
Detik-detik terus diimpi
Toh kita masih di sini
Jadi penyaksi
Akhir adalah awal yang baru
(28 Desember 2012)
Selebihnya hujan tersenyum dan ketidaksabaran mendera
Akhir yang diinginkan?
Melampaui dingin dan asa yang tak tuntas
Sepenuhnya masih misteri
Detik-detik terus diimpi
Toh kita masih di sini
Jadi penyaksi
Akhir adalah awal yang baru
(28 Desember 2012)
Rabu, 19 Desember 2012
Secangkir Kopi untuk Murakami
![]() |
| Salah satu pengalaman membaca karya Murakami paling berkesan, di kapal laut dalam perjalanan pulang sambil menyeruput kopi :) |
Sudah lama dia tidak menulis apapun di blog ini, sekitar sebulan tulisan tidak muncul dan kegiatan tulis-menulis tidak menghasilkan output. Semua menghablur tak tentu. Entah mengapa siang ini tiba-tiba dia terbersit untuk menulis. Bukan tulisan yang panjang tentu saja, hanya tulisan yang membuatnya bisa "bersentuhan" lagi dengan blog ini.
Bila ada seorang penulis yang ingin diajaknya minum kopi dan mengobrol panjang tentang musik dan kepenulisan, tentu saja penulis itu adalah Haruki Murakami. Dia baru saja selesai membaca karya terakhir Murakami, 1Q84, dan dia merasa karya tersebut luar biasa, seperti karya-karya Murakami yang lain. Murakami selalu memberikan sesuatu yang baru sekaligus memiliki beberapa karaktertistik spesifik yang tidak sama dengan penulis lain.
Karakteristik tulisan Murakami selalu mengombinasikan narasi orang-orang "biasa" dengan alur tak linear, dan selalu ada musik dalam tiap karyanya. Di tiap tulisannya, secara eksplisit maupun implisit, juga selalu ada pembicaraan tentang kepenulisan. Dari situ kita memahami bahwa Murakami bukanlah penulis yang angkuh walaupun dia bisa dikatakan salah satu penulis besar terkini. Murakami selalu melihat bahwa kepenulisan merupakan suatu proses pencarian tanpa henti. Kepenulisan juga bukan sesuatu yang spesial, terutama kepenulisan yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Dia santai saja dengan seluruh pencapaiannya dan merasa tidak ada yang terlalu membanggakan dengan kepenulisannya.
Salah satu visinya tentang kepenulisan bisa diamati dari komentar Komatsu, salah satu karakter di 1Q84, ...writers have to keep on writing if they want to mature, like caterpillars endlessly chewing on leaves. Agar lebih berpengalaman mengolah kata, tentu saja seorang penulis harus selalu menulis tanpa henti. "Mature" di sini un memiliki arti yang lain, yaitu seorang penulis mesti rendah hati dan berusaha sebaik-baiknya, tidak berlebihan merasa bangga atas pencapaiannya, apalagi bila capaian itu masih sedikit.
Dia berjanji untuk lebih terlibat dengan menulis, bergulat dan bergelut dengan kata-kata. Dia ingin menyeduh dua cangkir kopi, satu untuk dirinya sendiri, satu untuk Murakami. Penulis yang memberinya banyak inspirasi. Ayo menenguk kopi, ayo menulis seasyik-asyiknya!
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis Lagi, Berjuang Lagi
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...
-
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...
-
Untuk seorang sahabat lama di hati dan bukan dalam kehidupan nyata.... Entah mengapa aku sangat merindukanmu sekarang. "Urgency of now...
-
Liburan panjang seperti sekarang ini membuat saya memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplorasi koleksi musik dan buku saya. Senang juga ra...
