Kamis, 26 September 2013

Ebiet G. Ade - Camelia I (1979)

Ebiet G. Ade - Camelia I (1979)


Sudah lama tidak menulis di "rumah" saya ini. Rumah tempat saya mestinya berkarya menulis secara rutin.Tak apalah, walau sudah lama tak hadir di sini saya selalu kepikiran bila tak menulis. Tentu saja sebulanan ini banyak teks media bagus dan biasa saja berseliweran, ada yang hanya saya amati sekilas, ada yang saya akses dan maknai biasa saja, ataupun saya akses dengan mendalam. Salah satu yang membuat saya bahagia dalam mengakses teks media, khususnya teks musik populer adalah hadirnya album-album langka di itunes.

Sekitar empat bulan ini saya baru berinteraksi dengan itunes dan bisa mengeksplorasi banyak album di sana. Sebagian kecil sekali  bisa saya akses, terutama album-album langka versi saya sendiri. Satu hal yang sangat membahagiakan saya adalah di itunes hadir album-album lama Ebiet G. Ade! menurut saya empat album Ebiet G. Ade, Camelia I sampai Camelia IV adalah masterpiece (adikarya). Walau hanya ada Camelia I dan Camelia III yang bisa diakses, keduanya sudah cukup menghilangkan kerinduan saya pada keempat album awal ini, dan juga kerinduan pada ayah yang sangat menyintai album-album Ebiet G. Ade.

Sebagai sebuah kesatuan karya, album versi awal tak akan bisa digantikan oleh album-album the best, greatest hit, ataupun album seleksi. Sudah banyak album kompilasi terbaik Ebiet G. Ade yang hadir di pasaran namun album versi asli tak akan terbayar otentisitasnya. Saya sangat berharap ada box set yang menghadirkan seluruh album Ebiet G. Ade dalam versi awal, juga album-album Indonesia lama. Pecinta musik Indonesia yang serius layak diberi apresiasi dengan hadirnya album-album lama Indonesia, terutama yang dirilis pada era 1970-an dan 1980-an, karena album yang muncul 1990-an relatif masih bisa diakses di toko musik.

Album debut Ebiet G. Ade ini saya dengarkan terus-menerus mengalahkan album-album langka lain yang saya peroleh dari itunes dan semakin terasa bagaimana teks bisa berpengaruh begitu besar pada seseorang pengakses dan pemakna. Kesepuluh lagu di album ini semuanya bagus dan menyimpan makna yang mendalam. Lagu yang layak diperhatikan adalah Dia Lelaki Ilham dari Surga, yang kabarnya dipersembahkan untuk Emha Ainun Najib, yang merupakan rekan Ebiet G. Ade di awal karir. Seperti dicatat oleh sejarah keduanya mengawali jejak kekaryaannya di Yogyakarta.

Album ini membawa masa-masa indah jaman lalu sekaligus menginspirasi saya untuk menyusun kembali masa-masa indah kini dan nanti.

Daftar lagu:
1. Lagu untuk Sebuah Nama
2. Camelia I
3. Pesta
4. Nasihat Pengemis untuk Istri dan Doa untuk Hari
5. Dia Lelaki Ilham dari Surga
6. Jakarta 1
7. Hidup 1 (Pernah Kucoba untuk Melupakanmu)
8. Hidup 2 (Obsesi Kp. 1/203)
9. Berjalan di Hutan Cemara
10. Episode Cinta yang Hilang


Jumat, 23 Agustus 2013

Do You Realize?

The Flaming Lips - Do You Realize?


Setiap pengakes konten media biasanya memiliki konten favorit dan yang paling mudah berpengaruh pada dirinya. Seorang penikmat teks media bisa dengan mudah diinspirasi oleh film yang ditontonnya, buku yang dibacanya, games online yang dimainkannya, ataupun album musik yang didengarkan.

Seringkali seseorang yang mudah terinspirasi dengan konten media tertentu tidak memerlukan kuantitas konten yang besar, bisa jadi dia hanya perlu sebagian kecilnya saja. Seseorang yang menyukai film bisa jadi dapat terinspirasi hanya oleh salah satu adegan yang disukainya. Penikmat setia buku bisa jadi terinspirasi hanya oleh beberapa kalimat dari sebuah buku utuh. Atau seperti saya, bisa terinspirasi dari sebuah lagu dalam satu album yang saya sukai.

Entah bagaimana kejadiannya, secara tak sengaja pemutar mp3 saya memutar lagu dengan acak dan sampailah pada lagu dari the Flaming Lips ini. Lagu yang berasal dari salah satu album terbaik mereka yang dirilis pada tahun 2002, Yoshimi Battles the Pink Robots.

Lagu ini mengingatkan kembali pada kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang kita miliki, yang sebenarnya sudah melekat pada diri kita namun terkadang  bisa jadi kita tak menyadarinya lagi karena sudah dianggap lumrah.

Do You Realize?

Do You Realize - that you have the most beautiful face
Do You Realize - we're floating in space –
Do You Realize - that happiness makes you cry
Do You Realize - that everyone you know someday will die

And instead of saying all of your goodbyes - let them know
You realize that life goes fast
It's hard to make the good things last
You realize the sun doesn't go down
It's just an illusion caused by the world spinning round

Do You Realize - Oh - Oh - Oh
Do You Realize - that everyone you know
Someday will die -

And instead of saying all of your goodbyes - let them know
You realize that life goes fast
It's hard to make the good things last
You realize the sun doesn't go down
It's just an illusion caused by the world spinning round

Do You Realize - that you have the most beautiful face
Do You Realize


Jumat, 26 Juli 2013

Manic Street Preachers - Generation Terrorists (Remastered) (2012)

Manic Street Preachers -  Generation Terrorists (Remastered) (2012)

Teks media, bila kita artikan teks sebagai segala isi yang bisa dimaknai, yang bagus seringkali mengikuti dua kriteria sebagai berikut: pertama, ketika mengakses dan memaknainya, seolah-olah tak ada hal lain selain kita sebagai pemakna dan teks. Relasi yang terbangun itu tidak memedulikan hal-hal lain, terutama pendapat orang lain tentang teks tersebut. Misalnya saja ada rekan saya yang bilang album Manic Street Preachers Know Your Enemy  yang dirilis pada tahun 2001 adalah album mereka yang terjelek. Namun bagi saya album tersebut adalah salah satu yang paling bagus karena sangat artikulatif menyampaikan ide-ide sosialisme dan ketika saya mendengarkan album tersebut, komentar rekan saya itu seperti menguap. Tak ada ketika saya mendengarkan album tersebut, yang ada hanya Elian Gonzales dan live mereka yang keren di Kuba.

Kedua, karakter yang menunjukkan sebuah teks media bagus adalah ketika kita mengaksesnya secara bersamaan kita punya keinginan yang kuat untuk mengakses keseluruhan teks dari produsen yang sama. Misalnya saja, kita mendengarkan live terkini dari Blur, Parklive yang baru saja dirilis, tiba-tiba ada keinginan yang kuat untuk mengakses seluruh album Blur yang lain, mulai dari Leisure (1991) sampai Think Tank (2003). Seringkali keinginan tersebut tidak sekadar hasrat namun mewujud dalam tindakan, seluruh album dari produsen teks yang spesifik dimasukkan dan diputar dalam pemutar mp3, diurutkan menurut tahun atau random, kemudian didengar dan dimaknai dalam-dalam.

Itulah yang saya rasakan ketika mendengarkan album debut Manic Street Preachers yang dirilis tahun 1992, Generation Terrorist. Ketika mendengarkan album ini seperti tak ada hal-hal lain yang mengganggu. Rasanya relasi saya sebagai penikmat dan pemakna begitu intens, terutama lagu Motorcycle Emptiness dan Little Baby Nothing yang menjadi “lagu kebangsaan” ketika kuliah. Mendengarkan Motorcycle Emptiness rasanya seperti memutar kembali pengalaman bermotor malam-malam di jalanan Yogya.

Karakter yang kedua juga begitu terasa, ketika mendengarkan album ini, tiba-tiba ada rasa yang sangat kuat untuk mendengarkan seluruh album Manic Street Preachers, bahkan gara-gara album ini, saya tahu bila album terkini MSP, Rewind the Film, sudah bisa dipesan awal via iTunes.
Mendengarkan album ini jadi lebih mengaasyikkan dalam versi edisi ulang tahun yang ke-20, yang dirilis pada tahun 2012 lalu. Album versi remastered ini juga sungguh memuaskan karena memuat banyak sekali lagu, total empat puluh lagu dalam dua cakram. Itulah yang menarik dari negara yang industri musik rekamannya sudah bagus, maksimalisasi pengalaman mendengar audiens.

Judul   : Generation Terrorists (Remastered)
Tahun  : 2012 (edisi asli tahun 1992)
Produsen Teks: Manic Street Preachers

Daftar lagu:

CD 1
1.      Slash ‘n’ Burn
2.      Nat West-Barclays-Midlands-Lloyds
3.      Born to End
4.      Motorcycle Emptiness
5.      You Love Us
6.      Love’s Sweet Exile
7.      Little Baby Nothing
8.      Repeat (Stars and Stripes)
9.      Tennessee
10.  Another Invented Disease
11.  Stay Beautiful
12.  So Dead
13.  Repeat
14.  Spectators of Suicide
15.  Damn Dog
16.  Crucifix Kiss
17.  Methadone Pretty
18.  Condemned to Rock ‘n’ Roll
19.  Theme from M*A*S*H (Suicide is Painless)

CD 2
1.      Slash ‘n’ Burn (Marcus Demo)
2.      Nat West-Barclays-Midlands-Lloyds (Marcus Demo)
3.      Born to End (Marcus Demo)
4.      Motorcycle Emptiness (House in the Woods Demo)
5.      You Love Us (Heavenly Version)
6.      Love’s Sweet Exile (House in the Woods Demo)
7.      Little Baby Nothing (House in the Woods Demo)
8.      Repeat (Marcus Demo)
9.      Tennessee (House in the Woods Demo)
10.  Another Invented Disease (House in the Woods Demo)
11.  Stay Beautiful (Marcus Demo)
12.  So Dead (House in the Woods Demo)
13.  Repeat (House in the Woods Demo)
14.  Spectators of Suicide (House in the Woods Demo)
15.  Damn Dog (Live)
16.  Crucifix Kiss (Marcus Demo)
17.  Methadone Pretty (House in the Woods Demo)
18.  Suicide Alley (South Wales Demo)
19.  New Art Riot (South Wales Demo)
20.  Motown Junk (London Studio Demo)
21. Motown Junk 

Jumat, 28 Juni 2013

Mencari Inspirasi Menulis, Mengulik 1Q84 dan Gentlemen Broncos

Gentleman Broncos (2009)

Sedianya saya diminta untuk menghasilkan sebuah tulisan sebagai pendamping dan juga merayakan suatu aktivitas keren bernama “31 Hari Menulis” sejak kompetisi ini belum dimulai. Karena berbagai hal, barulah janji saya untuk menyumbang tulisan terpenuhi pada hari ke-28, saat “31 Hari Menulis” hampir selesai. Walau begitu, saya tetap antusias untuk merayakan kegiatan tahunan ini dan berharap kegiatan ini diridhoi agar menjadi aktivitas yang berjalan sangat lama, paling tidak selama sir Alex Ferguson menukangi Manchester United.
Terus terang, tidak ada cara untuk menulis bagus dan cepat, bila tak ada hal yang benar-benar mendorong untuk kita menulis. Mau sampai jungkir balik sekalipun, bila kita tidak memiliki ide yang kita ketahui dan membuat kita antusias, kita tetap akan sulit untuk menulis, apalagi menghasilkan tulisan yang bagus dengan relatif cepat. Bisa sih kita menghasilkan tulisan, namun biasanya tulisan yang dihasilkan akan biasa-biasa saja. Saya kira hal inilah yang sering terjadi pada orang-orang yang ingin menulis.
Menulis memang gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang ya?) karena terkadang kita bisa menulis dengan cepat pada suatu kurun waktu namun seringkali kita tidak menulis apa pun dalam waktu yang lama, menulis sesuatu unyu-unyu sekalipun. Karena itu kita bisa jadi sangat kagum dengan beberapa penulis yang bisa terus menulis dengan rutin dan terus menghasilkan tulisan yang bagus, dalam waktu yang cepat pula! Kita kemudian bertanya-tanya, bisakah kita seperti dirinya?
Tiap penulis punya cara agar keadaan tanpa menulis bisa dilewati, ada yang tetap menulis walau jiwanya tidak terlibat sehingga tetap tak ada tulisan yang dihasilkan, ada yang membiarkan saja dirinya sampai hasrat untuk menulis hadir lagi. Antisipasi yang terakhir ini  bisa jadi berbahaya, misalnya saja dalam hal menulis skripsi, bisa berbahaya bila kita membiarkan diri tak menulis dan membiarkan hasrat tersebut hadir bersama waktu karena bisa jadi hasrat menulis tersebut baru muncul setelah tiga tahun dan teman-teman seangkatan sudah pada lulus semua.
Sebagai seorang penulis biasa-biasa saja, saya juga memiliki cara tersendiri agar agar bisa melewati keadaan tanpa menulis yaitu mengakses konten media yang kita sukai. Konten media tersebut tidak harus media cetak, misalnya buku, di mana kita bisa belajar dari penulisnya, tetapi juga seluruh jenis konten media, misalnya saja film, karena isi film yang bagus akan mendorong kita untuk mengomentarinya melalui tulisan.
Biasanya, bila membaca-baca karya Haruki Murakami, penulis yang paling saya sukai, keadaan tak menulis bisa perlahan terlewati. Bagi saya selalu ada yang bisa didapat dengan membaca karya Murakami. Entah itu, salah satu novel atau salah satu cerita pendeknya, bahkan tiap paragraf yang dipilih dari tiap tulisannya bisa memberikan sugesti yang kuat untuk menulis lagi. Kok bisa ya? Begitu yang saya rasakan setelah membaca sedikit saja dari karya Murakami. Karya terkininya, 1Q84 misalnya, membuat saya kagum karena deskripsi kehadiran dua bulan di dalam hidup terasa begitu dekat dan nyata. Lalu bagaimana relasi cinta Tengo dan Aomame digambarkan dengan begitu liris? Dua karakter di dalam 1Q84 tak bertemu sampai akhir novel namun sepanjang kisahnya terpisah satu sama lain. Keterpisahan tersebut justru terasa sangat intens. Bagaimana bisa novel asrama...eh asmara antara dua anak manusia diceritakan dengan cara tak biasa namun tetap romantis? Silakan baca novelnya dengan lengkap karena tulisan ini bukan resensinya. Novel ini mungkin karya tertebal Murakami, terjemahan Indonesia-nya yang baru saja diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia terdiri dari tiga buku.



1Q84 (2012)

Intinya, kita bisa tercerahkan untuk menulis lagi antara lain dengan membaca karya bagus atau penulis keren menurut kita atau menurut dunia kepenulisan secara umum. Kita juga bisa mengakses dan memaknai konten media lain selain buku, misalnya saja film. Salah satu film yang menurut saya bisa menginspirasi untuk menulis atau berpotensi membawa kita melewati masa-masa tak menulis adalah film ”Gentlemen Broncos”. Film yang dirilis tahun 2009 ini oleh banyak penikmat film dikategorikan gagal, namun bagi saya film ini adalah salah satu film terlucu yang saya tonton.
“Gentlemen Broncos” bercerita tentang seorang penulis pemula bernama Benjamin Purvis yang karya fiksi sains-nya dijiblak oleh penulis terkenal yang juga menjadi idolanya. Hal yang menarik adalah Benjamin Purvis tak mundur dari dunia tulis-menulis dan berusaha membuktikan bahwa penulis tersebut, Ronald Chevalier, memplagiasinya. Pada akhirnya Benjamin Purvis bisa membuktikan bahwa karyanya dijiplak oleh penulis terkenal. Selain bicara tentang menulis, film ini memang dipenuhi hal-hal absurd yang menerpa indera penglihatan kita, namun itu hal yang menyenangkan dan unik. Di dalam salah satu adegan, Purvis ditanya oleh rekannya, mengapa tidak menulis di blog daripada menulis di kertas dan tak ada yang bisa membuktikan bahwa karya kita dijiplak? Dengan enteng Purvis menjawab bahwa alasannya tidak menulis di blog adalah karena semua orang melakukannya. Saya sampai tertawa terpingkal-pingkal apalagi adegan tersebut digambarkan dengan aneh dan ekspresi kaku si Purvis.
Tentu saja, orang lain akan memaknai film tersebut dengan berbeda, namun menurut saya film itu memberikan pelajaran bahwa menulis ya menulis saja, jangan pernah putus asa sekalipun tulisan kita dicuri atau dijiplak. Purvis juga bisa saja salah, karena dia tak menulis di blog. Menulis di blog menurut saya adalah cara yang baik untuk melatih kemampuan kita menulis, terutama yang sedang belajar pada tahap awal atau merasa bahwa menulis pada tahap apa pun adalah menyenangkan dan tak berelasi langsung dengan uang. Menulis di blog membuat kita memiliki teman-teman pembaca, itulah sebabnya di dalam dunia blog, tak pernah penting blogger sebagai perseorangan, yang terpenting adalah blogosphere, atau ruang maya di mana kita saling berbagi dan belajar via blog. Saya kira aktivitas “31 Hari Menulis” ada dalam posisi tersebut, yaitu belajar menulis bersama dengan menyenangkan, walau tak menyenangkan juga bila didenda…hehe…Makanya menulis biar tak didenda.

Tunggu apa lagi, ayo menulis dengan bersenang-senang bersama teman-teman….

Literasi Media Baru dan Peran Pemerintah


Pengantar
Negara yang secara umum terdiri dari tiga elemen, yaitu legislatif, eksekutif, dan legislatif, bertanggung-jawab untuk memenuhi hak warga negara informasi dan berkomunikasi sesuai dengan konstitusi. Konstitusi Indonesia sudah cukup baik mengakomodir hak warga negara tersebut. Bagian utama yang mengatur hak warga Indonesia diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 adalah pasal 28F yang berbunyi sebagai berikut: setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Peran eksekutif, pemerintah, bisa dikatakan paling penting dalam memenuhi hak warga tersebut dan sekaligus menjadi kewajiban pemerintah. Pemerintah menjalankan kebijakan negara sebagai amanat rakyat dan juga menyusun regulasi untuk memenuhi hak-hak warga tersebut. Regulasi yang mengatur pemenuhan hak untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi tersebut telah muncul dalam berbagai perundangan dan turunannya. Pemerintah Indonesia memenuhi kewajibannya di bidang informasi dan komunikasi melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Terdapat lima agenda penting yang akan didiskusikan. Kelima agenda tersebut adalah sebagai berikut: pertama, pembangunan teknologi informasi dan komunikasi serta tantangan dan ancaman pembangunan karakter bangsa (character building). Kedua, langkah-langkah yang harus dilakukan untuk me-manage dampak pembangunan ICT terhadap budaya masyarakat. Ketiga, cara meningkatkan produktivitas dan kreativitas untuk meningkatkan konten lokal. Keempat, diskusi mengenai beberapa isu strategis, khususnya tentang Konvergensi Media dan Kemandirian Teknologi. Kelima, diskusi mengenai isu-isu strategis lain yang perlu mendapat prioritas Kemkominfo.
Selanjutnya, diskusi mengenai kelima agenda tersebut tidak dijabarkan secara eksplisit per pertanyaan, melainkan dijelaskan dalam berbagai konsep yang ada.  Berbagai konsep tersebut sepintas berkaitan dengan dunia akademis namun sebenarnya penting dipahami bagi pengambil dan pelaksana kebijakan agar implementasinya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Tanggung Jawab Negara
Hak warga  negara atas terpenuhinya informasi dan berkomunikasi dengan memadai telah dijamin oleh konstitusi, dengan demikian pemenuhan hak tersebut adalah merupakan kewajiban atau tanggung-jawab negara. Informasi penting bagi masyarakat karena menjadi dasar bagi tercapainya kehidupan yang lebih baik. Informasi yang memadai juga penting bagi proses komunikasi yang baik dan bermartabat.
Informasi sendiri dapat didefinisikan sesuatu yang berguna untuk mengurangi ketidakpastian. Namun definisi ini masih terlampau luas, untuk mendefinisikan informasi biasanya dibedakan dengan pengetahuan. Berikut ini perbedaan antara informasi dan pengetahuan. Pertama, keberlipatan (multiplicity), informasi adalah potongan, terpisah, dam khusus, sementara pengetahuan adalah terstruktur, koheren, dan universal. Kedua, aspek waktu (temporal), informasi bersifat sesaat, transisi, dan mudah hilang, sementara pengetahuan dapat bertahan lama dan ekspansif. Ketiga, keruangan (spatial), informasi mengalir memenuhi ruang, sementara pengetahuan tersimpan, lokasinya spesifik, dan “memenuhi” ruang (Sholle dalam Jenkins & Thorburn (Eds), 2003: 347).
Pelaksanaan tanggung-jawab negara ini dijalankan oleh tiga elemen negara, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Ketiga elemen ini saling “mengecek” dan menyeimbangkan kekuasaan dengan menjalankan fungsi yang berbeda (Burns, Peltason, Cronin & Magleby, 2001: 23). Legislatif menyusun kebijakan dan regulasi yang baik agar amanat konstitusi untuk memenuhi hak warga atas informasi dan komunikasi dapat terpenuhi. Legislatif juga memantau pelaksanaan kebijakan dan regulasi oleh eksekutif dan membentuk atau memfasilitasi regulator di bidang informasi dan komunikasi sebagai mitra pemerintah. Yudikatif mengawasi dan menjadi wasit bagi implementasi regulasi. Terakhir, dan kemungkinan yang terpenting karena berkaitan secara langsung dengan kehidupan warga, adalah eksekutif atau pemerintah. Pemerintah menyusun dan menjalankan regulasi demi melindungi kepentingan publik dan memenuhi hak warga negara.

Hak Warga atas Informasi dan Berkomunikasi
Sebelum mendalami hak warga, ada baiknya kita memahami beberapa definisi mengenai sekelompok orang yang diamati untuk tujuan tertentu. Konsep yang berkaitan dengan orang yang berkumpul ini dapat memiliki berbagai nama, misalnya saja publik, konsumen, komunitas dan warga. Publik bisa didefinisikan sebagai sekelompok orang yang berposisi terhadap sebuah isu. Isu adalah permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan orang banyak dan mengundang kontroversi. Posisi terhadap isu sendiri paling tidak terdiri dari tiga, yaitu pro, kontra, dan netral. Sementara itu konsumen didefinisikan sebagai sekelompok orang dengan relasi kepentingan tertentu, terutama berkaitan dengan kepentingan ekonomi. Warga tidak secara langsung dikaitkan dengan kepentingan ekonomi melainkan lebih pada kepentingan politik dan sosial. Terakhir, komunitas, yaitu sekumpulan orang dengan relasi terutama untuk kepentingan sosial dan kultural. Konsumen berkaitan erat dengan aktivitas pasar, komunitas terutama berada pada wilayah masyarakat, sementara warga berkaitan dengan aktivitas negara.
Pertanyaan yang paling penting adalah bagaimana warga negara mendapatkan informasi dan berkomunikasi dengan memadai? Di dalam konstitusi kita juga sudah disebutkan bahwa warga negara berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Tugas negara adalah menyediakan segala jenis saluran yang tersedia agar informasi bisa didapatkan dengan relatif mudah. Saluran yang dimaksud di sini adalah sarana, wahana  dan perangkat di mana informasi diperoleh oleh warga. Perangkat untuk mengolah dan menyampaikan informasi tersebut disebut teknologi informasi dan komunikasi.
Akses pada informasi sendiri terdiri dari dua dimensi utama, yaitu akses teknologi dan akses pada konten. Akses pada teknologi terdiri dari dua aspek, yaitu akses fisikal dan akses sistem, sementara akses pada konten terdiri pula dari dua aspek, yaitu akses sosial dan akses kognitif. Sedangkan level analisis dari akses juga terdiri dari dua, yaitu individual dan agregat (kumpulan) (Bucy & Newhagen (Ed), 2004: 7 - 14).
Kemampuan atas akses dan berbagai informasi yang memadai dapat berkontribusi bagi proses pembangunan dengan meningkatkan efisiensi, efektivitas, jangkauan, dan ekuitas (Hudson dalam Lievrouw & Livingstone (Eds), 2006: 310). Efisiensi adalah rasio dari output terhadap biaya, misalnya saja ketersediaan informasi dapat mendorong pembiayaan bidang pertanian yang lebih murah. Efektivitas adalah kualitas dari produk dan layanan, misalnya saja informasi mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Jangkauan adalah kemampuan informasi untuk menjangkau pengguna baru, misalnya saja pengusaha kecil memperluas jaringan pemasarannya bagi pasar global. Sementara itu ekuitas berarti informasi semakin terdistribusi dengan baik pada seluruh elemen masyarakat, misalnya saja pada daerah terpencil atau kelompok minoritas.

Literasi Media Warga
Teknologi informasi dan komunikasi termanifestasi dalam dua fungsi, yaitu individual dan institusional. Fungsi yang individual adalah wujud dari perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan secara perorangan, misalnya saja mobile phone dan setiap jenis media (jejaring) sosial melalui internet. Sementara itu dalam fungsinya secara institusional, teknologi informasi dan komunikasi mewujud dalam bentuk media.
Literasi media didefinisikan sebagai seperangkat perspektif yang secara aktif kita gunakan ketika diri kita mengakses media utuk mengintepretasi makna dari pesan yang kita terima. Kita membangun perspektif dalam diri melalui struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur pengetahuan, kita memerlukan perangkat dan materi mentah. Perangkat tersebut adalah kemampuan atau kecakapan kita. Materi mentah adalah informasi dari media dan dari dunia sosial di sekitar kita. Penggunaan yang aktif berarti kita mengetahui pesan dan dengan sadar berinteraksi dengan pesan tersebut (Potter, 2005: 22).
Di era informasi sekarang ini, selain informasi menjadi sumber daya terpenting, teknologi informasi dan komunikasi memperkuat kapasitas media lama (cetak, audio, audio-visual, dan penyiaran) dalam hal produksi, penyimpanan, distribusi, dan tampilan pesan (kumpulan informasi yang telah diolah), serta menghasilkan beragam jenis media baru, yaitu mobile phone, internet, dan game.
Game misalnya, menjadi jenis media baru yang penetrasinya paling kuat di anak muda. Secara mudah hal ini bisa kita amati melalui maraknya kehadiran game center. Game sendiri terdiri dari dua macam, game offline yang biasanya dimainkan di komputer personal dan konsol yang tak terkoneksi dengan internet. Jenis kedua dari game adalah game online yang kini sangat cepat perkembangannya, yang sayangnya kurang diperhatikan. Jenis game online yang dimainkan bersamaan oleh sangat banyak orang disebut Massively Multiplayer Online Role-Playing Games (MMORPGs). Salah satunya yang paling populer adalah World of Warcraft yang memiliki pemain sembilan juta orang di seluruh dunia dan sekitar sepuluh ribu orang mungkin bermain pada saat yang bersamaan (Straubhaar, LaRose & Davenport, 2012: 266).
Kemampuan individu warga negara inilah yang disebut sebagai literasi media warga negara, yaitu kemampuan untuk mengolah informasi dari berbagai media dan menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi. Literasi media pada akhirnya berkaitan dengan hak berkomunikasi warga negara yang didorong oleh masyarakat sipil global untuk memberikan hak pada warga memiliki medianya sendiri, yang dikenal dengan nama media komunitas dan media publik. Gerakan ini bahkan sudah dimulai sejak dekade 1970-an dan digagas oleh UNESCO (lihat Howley (ed), 2010: 6 – 7). Pada akhirnya, literasi media yang baik akan menjadikan informasi berguna bagi kehidupan warga negara. Literasi media melekat erat dengan hak warga untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi sehingga Kominfo perlu menjabarkannya lebih mendetail dan implementatif.

Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Karakter Bangsa
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana merelasikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dengan pembangunan karakter bangsa? Teroka untuk pertanyaan ini bisa diamati melalui pengamatan para pengguna media baru, apakah para pengguna Indonesia sudah menunjukkan karakter yang baik dalam menggunakan media baru? Atau pertanyaan ini bisa lebih mendasar lagi, sudahkah bangsa ini memanfaatkan media dengan baik sebagai pembangun karakter bangsa?
Kominfo memiliki dua peran dalam hal ini, yaitu mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi agar informasi lebih mudah diakses, dikumpulkan, diolah kembali, dan didistribusikan sehingga terjadi proses komunikasi negara dengan masyarakat yang lebih baik. Peran Kominfo yang lain adalah mendidik dan meningkatkan pemahaman masyarakat atas informasi melalui literasi media, terutama untuk media baru. Bila warga negara telah cukup baik memahami media baru, proses pertukaran informasi dan komunikasi antar elemen bangsa bisa lebih baik. Pada titik inilah kita bisa menumbuhkan karakter bangsa yang lebih baik lagi, beberapa yang bisa disebut karakter yang baik antara lain, kerjasama, toleransi dan menjunjung kemanusiaan, serta berketuhanan. 

Dampak Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Dampak perkembangan teknologi dan komunikasi selalu ada dua, yaitu dampak yang diinginkan  (positif) dan yang tak diinginkan (negatif). Peran Kominfo dalam hal ini adalah bagaimana memaksimalkan dampak yang diinginkan sekaligus mengeliminir dampak yang tak diinginkan. Dampak yang dinginkan oleh kita berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi antara lain dengan semakin murah dan mudahnya mendapatkan dan mengolah informasi. Informasi juga semakin mudah disimpan, didistribusikan dan ditampilkan kembali.
Dampak yang positif juga berimbas pada institusi media di mana para pekerja informasi bisa memperoleh informasi dari berbagai sumber dan hirarki dalam produksi pesan tidak lagi kaku. Dampak positif lainnya juga berimbas kepada institusi pendidikan di mana sarana dan saluran untuk mendapatkan ilmu pengetahuan semakin berlimpah. Institusi pemerintah juga merasakan dampak positif dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, yaitu saluran untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat semakin beragam.
Seperti halnya mata uang, sisi lain dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga bisa berdampak negatif atau tidak diinginkan. Informasi memang bisa diperoleh dengan lebih mudah dan murah, namun penegakan hak kekayaan intelektual menjadi lebih problematik, bahkan tidak lagi diindahkan sehingga banyak produsen konten yang kehilangan minat untuk memproduksi karena tidak ada imbal balik ekonomi atas karya yang dihasilkannya.
Pada institusi media, kemudahan untuk mendapatkan sumber informasi dan mengolahnya, serta produksi yang tidak lagi terlalu hirarkis membuat seringkali konten yang dihasilkan tidak terjaga kualitasnya, misalnya saja berita yang bersumber dari pergunjingan dunia maya bisa dengan mudah disiarkan oleh televisi. Hal yang sama terjadi pada institusi pemerintahan, kehadiran saluran penyampai informasi yang beragam karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi malah menjadi ajang mengritik berlebihan warga tanpa solusi yang memadai. Keberlimpahan sumber mendapatkan ilmu pengetahuan melalui teknologi informasi dan komunikasi di institusi pendidikan dalam beberapa hal juga tidak memberikan kemajuan yang signifikan karena konten pengetahuan yang sudah terakumulasi dan terdokumentasi tersebut tidak pernah diakses apalagi didiskusikan karena terlalu banyak secara kuantitas.

Produktivitas dan Kreativitas untuk Meningkatkan Konten Lokal
Cara meningkatkan produktivitas dan kreativitas untuk meningkatkan konten lokal sebenarnya mudah dicapai bila tingkat literasi media warga sudah memadai dan infrastruktur sudah terwujud dengan baik. Selama ini karena literasi media yang relatif belum memadai, warga Indonesia yang menggakses konten dengan menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi cenderung bersifat pasif, tidak aktif apalagi proaktif. Para pengguna atau pengakses kita cenderung hanya mengamati dan mengumpulkan informasi melalui teknologi informasi dan komunikasi, bukannya dengan aktif memaknai dan memproduksi informasi baru. Selain itu warga Indonesia tidak juga menjadi pengguna yang proaktif yang mencoba memperbaiki kondisi yang ada selain aktif memproduksi informasi.
Produksi konten melalui media baru, misalnya mobile phone, menjadi lebih murah dan mudah. Fungsi telepon genggang yang utama, berkomunikasi interpersonal, diperluas melalui kemampuan berkirim pesan pendek, pemotret, dan perekam suara, yang berkoneksi dengan media baru yang lebih powerful, internet. Handphone bahkan tidak hanya memudahkan interaksi melainkan juga menegosiasikan kembali seluruh relasi sosial dan ruang publik (lihat Ling & Pedersen (Eds), 2005).
Untuk melahirkan warga sebagai pengguna teknologi informasi dan komunikasi yang aktif dan proaktif, pemerintah mesti mendidik dan melatih warga negara, terutama kaum muda. Selama ini kaum muda Indonesia telah banyak menghasilkan konten lokal yang bagus, antara lain software atau aplikasi, sayangnya kemandirian tersebut belum memadai. Warga Indonesia lebih menyukai konten luar dibandingkan dengan konten lokal. Secara individual kemungkinan kaum muda Indonesia sudah memiliki kemampuan yang luar biasa namun mesti difasilitasi oleh infrastruktur yang lebih bagus dan distribusi yang lebih menjamin hak kekayaan intelektual, terutama paten dan hak cipta.
Di Amerika Serikat misalnya, sejak tahun 1998 telah memiliki Digital Millenium Copyright Act (DMCA) yang mengatur apa yang boleh dan tak boleh pada karya digital (Towers-Romero, 2009: 160). Kita mesti mengingat bahwa kontroversi atas akses informasi tak terbatas, pembajakan konten, dan peer-to-peer file sharing masih menjadi kontorversi sampai sekarang.
Konten yang tersebar di media baru, terutama internet, memang memiliki paradoksnya sendiri. Di satu sisi banyak konten kita dapatkan dengan mudah di internet, di sisi yang lain konten tersebut adalah karya yang dilindungi oleh hak cipta. Musik dibajak dengan rutin melalui internet, desain, foto, majalah, dan buku dipindai, dimanipulasi dan menjadi obyek komersialisasi yang tak menguntungkan penciptanya (Zelezny, 2011: 356).

Kesimpulan: Beberapa Saran
Tugas Kominfo agar hak warga untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi dengan memadai dapat dipilah menjadi tiga fungsi, yaitu: sebagai penyedia infrastruktur, fasilitator dan regulator. Sebagai penyedia, Kominfo menyediakan berbagai saluran informasi yang dibutuhkan oleh warga sesuai dengan amanat konstitusi kita. Fungsi ini terutama berkaitan dengan penyediaan infrastruktur, antara lain frekuensi yang tak semata-mata komersial untuk penyiaran, internet, dan telekomunikasi. Berkaitan dengan media, Kominfo dapat menyusun kebijakan pada empat area sebagai berikut: kebijakan yang berkaitan dengan kepemilikan media, konten media, penyiaran publik, dan digitalisasi (Freedman, 2008).
Digitalisasi adalah area yang bisa dikatakan paling problematik belakangan ini. Digitalisasi menyatukan telekomunikasi, penyiaran dan komputasi yang dirangkai oleh perangkat yang beragam, mobile phone, televisi, dan komputer personal. Digitalisasi kemudian mengarahkan pada konvergensi media. Konvergensi media terjadi pada dua lapisan, yaitu konten dan institusi. Efek positif dari konvergensi terutama muncul dari sudut pandang manajemen media, yaitu sumber daya yang dikelola lebih efisien dan konten yang dihasilkan lebih mungkin efektif. Efek positif konvergensi adalah kolaborasi dan koordinasi antar institusi media (Grant & Wilkinson (Eds), 2009: 9).
Efek negatifnya adalah konvergensi cenderung membawa pada konsentrasi (kepemilikan) media. Dengan demikian diperlukan kebijakan dan regulasi yang lebih terangkai dan komprehensif walau kemungkinan legislatif dan eksekutif belum dapat mewujudkannya dengan memadai (Ostergaard dalam McQuail & Siune, 1998: 95 – 101). Televisi digital di masyarakat Eropa sekalipun diatur dengan intervensi kebijakan negara yang kuat untuk mengurangi kekuatan pasar. Kebijakan televisi digital sama halnya dengan bidang penyiaran secara keseluruhan, selalu berkaitan pada dua area, yaitu konten dan infrastruktur (Di Mauro dalam Cave & Nakamura (Eds), 2006: 224).  
Fungsi sebagai fasilitator antara lain mewujud dalam berbagai pelatihan literasi media bagi warga, terutama kemampuan untuk memproduksi konten. Selama ini berbagai elemen masyarakat telah menjalankan berbagai program literasi media, pemerintah tinggal memfasilitasi pengetahuan dan para pendidiknya. Fasilitasi juga dapat dilakukan pada konten, Kominfo sangat mungkin membuat situs blog bagi warga sehingga lahir komunitas di dunia maya yang besar dan kuat,  semacam Kaskus dan Kompasiana.
Fungsi terakhir dan tak kalah penting adalah peran pemerintah sebagai regulator. Untuk media lama misalnya, pemerintah bersama Komisi Penyiaran Indonesia  adalah regulator untuk bidang penyiaran sesuai dengan regulasi yang masih berlaku, menjadi mitra bagi Komisi Informasi Publik pada bidang Keterbukaan Informasi Publik yang mendorong transparansi dalam penyelenggaraan lembaga publik, bahkan menjadi regulator utama pada bidang telekomunikasi melalui BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia). Peran sebagai regulator yang berpihak kepada kepentingan warga atau publik adalah harapan bersama agar amanat konstitusi dapat terwujud dengan baik.


#######

Rabu, 15 Mei 2013

Memaknai Hari Bersamanya

Sheila on 7 - Berlayar (2011)



Sekitar tiga hari yang lalu seorang pecinta Sheila on 7 meminta saya menulis tentang lagu So7 yang paling berkesan bagi saya. Agar tidak dianggap “pejantan tanggung” saya menerima tantangan tersebut :)

Sebelum memaknai sebuah lagu So7 saya mesti berkisah dulu tentang interaksi saya sebagai pemakna dan lagu-lagu So7 sebagai teks. Ketika awal kemunculan mereka sebenarnya saya tidak memperhatikan sama halnya dengan musik Indonesia sebelum tahun 2007. Saya baru memperhatikan musik Indonesia dengan lumayan mendalam dan menyintainya dengan tulus pada tahun 2007.

Walau tidak memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, siapa yang tidak mengenal So7? Pada tahun 2000 mereka sangat populer. Saya punya pengalaman menarik yang menunjukkan So7 sangat populer. Ketika saya dan dua orang rekan sedang riset di Pontianak pada tahun 2000, anak pemilik rumah di mana kami tinggal yang waktu itu masih duduk di SMP meminta kami menyampaikan salam pada personel So7 karena tahu kami juga berasal dari Yogyakarta. “Kalau sudah pulang ke Yogya, salam sama So7 ya Bang...” kami hanya mengiyakan demi melihat wajahnya yang polos dan begitu antusias.

Begitu saya menyukai musik Indonesia pada tahun 2007, salah satu band yang langsung saya akses seluruh albumnya adalah So7. Namun berbeda dengan album yang kita akses pada konteks waktu yang sama ketika populer, album yang kita akses di luar waktu rilisnya akan memberikan pengalaman memaknai yang berbeda. Saya tahu lagu Sephia begitu populer di tahun 2000 bersama dengan albumnya “Kisah Klasik untuk Masa Depan”, sampai-sampai secara generik Sephia menggantikan istilah gadis gebetan selain pacar pada jaman itu. Saya juga tahu bahwa lagu-lagu dari album tahun 2004 “Pejantan Tangguh”, terutama Itu Aku, seringkali saya dengar pada tiap pentas musik di kampung pada jaman itu. Namun untuk mendalami lagu-lagu sebelum tahun 2007 saya sepertinya kehilangan “moment”.

Barulah pada dua album So7 terakhir saya lumayan mendalami dan mengakses lagu-lagu mereka. Memaknai lagu-lagu mereka secara otentik, langsung berelasi dengan kehidupan yang saya jalani. Dari dua album terakhir mereka awalnya saya bingung memilih lagu “ter-muaach” atau berkesan bagi saya. Ada tiga lagu yang mengena di hati, yaitu Betapa  dan Mudah Saja dari album “Menentukan Arah” tahun 2008. Album yang menjadi semacam manifesto personal mereka untuk terus berada pada jalur yang mereka pilih. Satu lagu lagi adalah Hari Bersamanya dari album terakhir tahun 2011, “Berlayar”. Lagu ini yang kemudian saya pilih karena memang berkesan sekali bagi saya.

Ada sebuah untai kata anonim yang menarik, “jangan pernah menyalahkan hari dalam hidupmu! Hari baik memberikan kebahagiaan. Hari buruk memberikan pengalaman. Hari terburuk memberikan pelajaran. Dan, hari terbaik memberikan kenangan”. Hari-hari terbaik antara lain adalah hari di mana kita bersama dengan orang yang kita cintai dengan mendalam. Hari di mana kita bisa antusias atau gugup ketika bertemu dengan pujaan hati, namun hari-hari itu semestinya ada pada tiap orang yang saling mengiyakan untuk bersama.

Syair lagu ini memang tidak menunjukkan diri yang optimis ketika mencintai orang lain seperti pada lagu Itu Aku atau diri yang sedikit ragu-ragu namun tetap bernuansa yakin dengan diri seperti pada lagu Seberapa Pantas. Atau bahkan sangat meyakinkan namun tetap “gagap” seperti dalam salah satu lagu kesukaan saya sepanjang masa, Romeo and Juliet dari Dire Straits. Petikan liriknya begini: you and me babe, how about it?  Jaman memang berubah, kita bisa berharap pada relasi cinta namun mari kita serahkan pada hari atau konteks waktu di mana relasi itu berada. Lirik lagu Hari Bersamanya terasa pas ketika saya mendengarkannya. Bagi saya ketika mendengarkan lagu Hari Bersamanya adalah pengalaman tekstual dan kontekstual yang bertemu.
  
Hal lain yang menarik di dalam lagu Hari Bersamanya ini adalah bahwa dalam relasi dengan orang yang kita cinta dalam wahana bernama hari. Simak petikan berikut ini: Mohon Tuhan untuk kali ini saja, beri aku kekuatan, tuk menatap matanya. Mohon Tuhan untuk kali ini saja, lancarkan hariku, hari bersamanya. Jarang sekali, atau mungkin tak ada, lagu cinta ciamik yang membawa-bawa Sang Pencipta. Biasanya orang-orang yang berelasi dalam konteks cinta cenderung melupakan Tuhan. Religiusitas yang mendalam memang asyiknya dibawa ke dalam relasi, bukan pada konflik.

Ketika menulis ini saya mendengarkan lagu-lagu So7 dan berharap dapat memaknai ragam teks dengan makna lain. Seperti kita ketahui, dalam kajian teks media harapannya kita memiliki polysemia pada akhirnya, yaitu kualitas keberagaman pemaknaan yang membantu kita dalam hidup. Memahami banyak teks musik populer membantu saya mendalami profesi saya. Untuk itu saya berterima kasih pada So7 sebagai salah satu produsen teks. Terima kasih dan selamat ulang tahun ke-17. Masa sedang mekar-mekarnya untuk berkarya. Teruslah berkarya dan memperkaya khazanah musik Indonesia..
Salam hangat dan sukses selalu untuk S07!



Senin, 06 Mei 2013

Calista Amadea – Calista Amadea (2013)

Calista Amadea – Calista Amadea (2012)


Album musik populer untuk anak-anak yang juga menarik untuk diamati, selain album Lana Nitibaskara, adalah album milik Calista Amadea. Ada dua alasan saya merasa dekat dengan penyanyi cilik yang satu ini. Pertama, ayah Calista adalah teman sekolah saya ketika SMA. Kedua, Calista seumur dengan anak perempuan saya. Apalagi album pertama Calista adalah album bagus yang disukai oleh anak saya dulu. Lagu-lagu di album tersebut menjadi teman anak saya untuk bertumbuh dan belajar.

Album kedua ini jauh lebih bagus dari album pertama, terutama karena album kedua ini juga mengajak Nugie, Purwa Tjaraka, dan Ari Tri Sosianto dari band Padi untuk memperkuat tim produsen konten media. Ditambah pula dengan  semakin bagusnya papanya Calista, Heru Krisna, dalam mencipta lagu. Lagu-lagu baru yang diciptakannya untuk album ini semakin bagus, Nada Indah dari Hati, Selamat Ulang Tahun untukmu, Sayangi Lingkungan, Senangnya Sekolah, dan Kau Mampu.

Ditambah dengan lagu-lagu anak lama, lagu-lagu yang dinyanyikan Calista di album debutnya, dan dua lagu ciptaan Nugie, I Love Mama Papa dan Indonesia Berjaya, plus aransemen Purwa Tjaraka dan juga Nuigie untuk beberapa lagu, album ini menjadi konten media yang sangat direkomendasikan untuk anak-anak.
Tidak hanya dari sisi musik dan kualitas vokal Calista, dari sisi pesan yang dibawa di dalam lagu pun, album ini semestinya didengar oleh anak-anak Indonesia. Di kala kompetisi menyanyi untuk anak-anak masih menyanyikan lagu untuk orang dewasa, di kala anak-anak cenderung dididik untuk cengeng lewat lagu-lagu tak inspiratif, lagu-lagu di album ini berbincang tentang kemandirian anak, cinta lingkungan dan bangsa, dan antusiasme untuk bersekolah.

Selain itu, lagu anak-anak legendaris yang dibawakan di album ini juga memberikan nuansa baru tersendiri, yaitu lagu Bintang Kecil, Desaku dan Kring Kring Kring. Dua lagu yang dinyanyikan kembali oleh Calista yang berasal dari album sebelumnya, Lucunya Adikku dan Cerah Hati, juga enak untuk didengarkan dan lumayan berbeda dari versi asli.

Album ini terdiri dari dua keping CD, satu adalah album kedua Calista, satu CD lain berisi video musik dari enam lagu di album serta tiga lagu untuk menyanyi bersama (karaoke). Indah sekali dunia anak Indonesia bila sebagian besar album musik populer untuk mereka berkualitas bagus seperti album ini.

Daftar lagu:
1. I Love Mama Pap (feat. Nugie)
2. Nada Indah dari Hati
3. Selamat Ulang Tahun untukmu
4. Bintang Kecil
5. Kring Kring Kring
6. Indonesia Berjaya (duet bersama Nugie)
7. Desaku
8. Sayangi Lingkungan
9. Senangnya Sekolah
10. Lucunya Adikku
11. Cerah Hati
12. Kau Mampu



Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...