Sabtu, 31 Juli 2010

Salt: “Menggarami” Hidup, Mendalami Teks


Rasanya sebulan terakhir ini ada sesuatu yang cukup akrab saya geluti. Ini sekaligus menguatkan pepatah: apa-apa yang kita pikirkan dan kita rasakan terus-menerus, nantinya apa-apa itu akan datang sendiri pada kita. Itulah yang terjadi dengan teks media film bagi saya. Sebulan ini saya begitu “dekat’ dengan film karena saya pikirkan terus, saya kemudian mulai mendapatkan film-film lumayan bagus berharga murah di sebuah toko buku besar, waktu yang agak senggang sehingga bisa menonton film di rumah, sampai kesempatan menonton di bioskop yang jadi lumayan sering. Padahal beberapa waktu yang lalu sulit sekali mencari waktu agak luang untuk menonton. Ternyata dalam waktu seminggu saya bisa menonton film dua kali, “Inception” dan “Salt”. Frekuensi yang lumayan tinggi, karena sebelumnya saya memerlukan penjadwalan waktu berbulan-bulan untuk menonton di bioskop.

Saya menonton “Salt” dengan seorang teman. Rasanya memang akan garing sekali bila menonton sendirian. Lagipula, teman saya itu berulang tahun, sekalian menghadiahi sesuatu untuknya walau agak terlambat. Dengan menonton film bersama, kami bersimbiosis mutualisme (interaksi yang sama-sama menguntungkan). Saya mendapatkan teman menonton, dia mendapatkan semangat untuk menyelesaikan "tugas" besarnya. Semoga.

Setelah menonton film “Salt”, sampai detik ini, ada satu kata kerja yang terus menerus tercetak di pikiran, “menggarami”. Jelas kata tersebut sangat berkaitan erat dengan judul film yang saya tonton di bioskop terakhir ini. Tetapi memang detailnya selalu tidak bisa diduga bahkan oleh yang memikirkannya. Telaah kita mungkin menyebar dan berkembang tidak terduga. Seperti kita ketahui, teks akan selalu berkait dengan teks lain. Juga ide, ide akan selalu berelasi dengan ide yang lain.

Paling tidak kata “menggarami” itu memiliki tiga makna bagi saya. Pertama, menggarami artinya memperkuat rasa. Apa yang “digarami” di dalam film ini? Bagi saya yang digarami adalah identitas. Identitas selalu cair dan merupakan relasi dari berbagai elemen. Identitas tokoh utama film ini, Evelyn Salt, memang problem utama sejak awal dan terus menerus menjadi pertanyaan pirsawan, bukan pirsawati, sampai akhir film. Hal ini sejalan dengan pertanyaan yang dimunculkan di poster film ini “Who is Salt?”. Identitas yang paling “digarami” adalah identitas sebagai spion (mata-mata).

Kita maklum bahwa penentu identitas seringkali institusi di luar diri; etnis, jenis kelamin, umur, kelas, agama, dan ideologi, adalah hal-hal "besar" itu. Walau begitu, identitas juga berarti apa yang kita upayakan, kita bentuk, kita rasakan, untuk diri sendiri. Identitas juga tidak pernah monolit. Karena itulah, walau Salt selalu digadang-gadang sebagai agen yang hebat, dia tetaplah seorang istri yang sangat menyintai suaminya.

Evelyn Salt (Angelina Jolie) adalah mata-mata yang ditanam Russia di Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Paling tidak identitas sebagai spionase inilah yang dikenalkan pada penonton sejak awal. Salt memiliki identitas sebagai agen ganda, yaitu agen CIA dan Russia. Identitas yang lain adalah sebagai istri seorang arachnologist, ahli laba-laba, berkewarganegaraan Jerman, Mike Krause (August Diehl). Pada akhirnya, identitas sebagai istri ini pula yang membuatnya berbalik membela Amerika Serikat karena suaminya dibunuh oleh KGB. Dia membela Amerika Serikat karena semua yang dimilikinya “dihabisi” oleh pihak Russia.

Bukan hanya identitas Salt yang dipertanyakan mestinya, karena semua karakter mungkin untuk dipertanyakan identitasnya, katakanlah identitas Ted Winter (Liev Schreiber), rekan dan kolega Salt, Peabody (Chiwetel Ejiofor), agen ONCIX yang mengejar Salt, dan Orlov (Daniel Olbrychski), agen Russia yang berpura-pura ingin membelot ke Amerika Serikat dan membuka identitas Salt. Penyampaian cerita yang cepat membuat penonton bertanya-tanya siapa protagonis dan antogis kisah ini, yang terus memberi kejutan sampai akhir.

Karakter Salt ini pada awalnya akan diperankan oleh Tom Cruise dengan nama Edwin A. Salt. Namun karena Tom Cruise sibuk dengan pekerjaan lain dan menganggap karakter Salt terlalu dekat dengan karakter Ethan Hawke di Mission Impossible, karakter ini kemudian diperankan oleh Angelina Jolie dengan mengubahnya menjadi agen perempuan bernama Evelyn Salt. Dari sisi bisnis langkah ini relatif tepat karena karakter agen rahasia perempuan masih jarang di film. Akhir cerita yang terbuka membuka kesempatan pada sekuel demi sekuel layaknya film Hollywood yang sukses. Pilihan pemeran utama pada Angelina Jolie menjadi Evelyn Salt, membuat cerita berubah, pun pada adegan-adegan di dalam film. Adegan Salt “menutup” kamera, tak bisa membayar taksi, dan luka di perut sepertinya memang “dipersiapkan” untuk Jolie.

Pemaknaan “menggarami” kedua adalah membuat lebih atas suatu keadaan, tetapi lebih perih, seperti pada kalimat menggarami luka. Saya pikir mengakses pesan atau teks media itu seperti menggarami luka. Mengakses teks berarti “perih” sekaligus membuat ketagihan. Kita jadi ingin mengobati perih itu dengan mencari informasi sebanyak mungkin dan memaknai sedalam mungkin. Ketika mengakses film ini misalnya, bagi penonton yang rasa ingin tahunya luar biasa akan mencoba menggali konsep spionase dan politik internasional dengan mendalam. Mengapa itu perlu dilakukan? Karena kesempatan penafsir terbuka untuk mendalaminya dan kedalaman dan keluasan pemaknaan itulah penentu posisi bagi penafsir.

“Menggarami” luka untuk mendalami teks lebih baik berpotensi membuat pengakses belajar banyak dan meningkatkan literasi pada individu. Bila “perih” itu terasa, pengakses itu berusaha menghilangkannya dengan membaca lebih mendalam lagi. Ini akan menjadi modus bagi pengakses dan pengkreasi pesan media yang baik.

Pemaknaan terakhir dari kata kerja “menggarami” adalah melakukan pekerjaan yang sia-sia dan tidak berpengaruh pada bagian yang lebih luas. Hal ini dekat dengan kalimat seperti “menggarami lautan”. Topik spionase adalah hampir seperti fiksi. Kita mengetahui aktivitas spionase internasional itu ada dan memainkan peran dalam perubahan politik. Katakanlah peristiwa di Indonesia pada tahun 1965, dan mungkin juga peran spionase dalam berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1989/90. Kita mengetahui keberadaan spionase tetapi tidak memahaminya dengan detail karena aktivitas spionase itu bersifat rahasia, termasuk proyek-proyek menciptakan “super-human” seperti Salt ini.

Satu bagian kecil ataupun bagian yang besar yang menjadi “garam” di dalam lautan fiksi, tidak akan berpengaruh besar karena ketika struktur fiksi sudah ada, elemen-elemen informasi di dalamnya adalah pendukung belaka. Hal ini hampir sama seperti dunia sihir dalam novel-novel Harry Potter, elemen tambahan yang berasal dari legenda di Barat, seperti karakter Medusa dan Banshee, menjadi penguat dan penambah baik keseluruhan kisah.

Begitulah tafsir saya akan film Salt ini. Paling tidak, film ini kembali membuat saya ingin “menggarami” hidup saya lebih baik lagi dengan terus memaknai teks dengan sebaik-baiknya. Di bagian akhir ini, saya cukup jenuh dengan istilah garam yang simbolis, saya hanya ingin menggarami, memberi garam sedikit dan memadai, semangkuk bakso di depan saya ini supaya menjadi lebih sedap untuk dimakan.

Silakan "menggarami" hidup. Selamat menghidupi diri dengan sebaik-baiknya....

Jumat, 30 Juli 2010

Musik Indah untuk Keluarga


Setiap saya mampir ke dua tempat, toko CD dan toko buku, saya selalu berpikir, CD audio, film, atau buku apa yang bisa saya belikan untuk anak saya? Saya tidak ingin terlalu egois dengan mengakses konten media untuk saya sendiri. Saya juga ingin tetap mengingat konten media untuk anak walau pada prakteknya, kunatitas konten media yang saya akses kira-kira tiga kali lebih banyak dari konten media untuk anak saya.

Permasalahannya, untuk konten musik anak bukan hanya kuantitas yang sangat kurang, kualitasnya juga sedikit yang bagus. Beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca betapa musik untuk anak-anak sungguh terbatas. Bila pun ada, kebanyakan mendaur-ulang lagu jaman dulu dengan aransemen yang relatif sama. Ada juga album lagu anak-anak tetapi berasal dari sebuah acara kompetisi menyanyi untuk anak-anak yang menyanyikan lagu orang dewasa. Bagi saya, filosofi acara itu sudah salah sehingga outputnya pun lebih merupakan imitasi untuk anak-anak. Anak-anak di acara itu "dipaksa" menjadi bukan anak-anak bukan hanya karena lagu-lagu yang mereka nyanyikan tetapi sikap dan gaya mereka yang diarahkan seperti orang dewasa atau selebriti tidak bermutu.

Ada juga jenis musik anak-anak yang lain, yaitu lagu anak-anak dari "jaman dulu". Masih ada album-album dari Sherina dan Tasya walau itu akan berpotensi membingungkan anak-anak yang mengaksesnya karena keduanya telah dewasa. Beberapa album bahkan lebih lama lagi. Saya masih mendapatkan album kompilasi Trio Kwek Kwek dan Melisa, yang rupanya masih diproduksi karena musik untuk anak-anak memang langka.

Waktu saya berkunjung ke toko CD dan toko buku beberapa hari yang lalu itu, ada dua konten media yang agak mengagetkan sekaligus menyenangkan saya, yaitu buku komik tentang perjalanan musik Bono dan U2, dan album CD "Jazz for Family". Konten media pertama akhirnya saya coret karena walaupun berkisah tentang Bono dan supergrup U2 dengan menggunakan komik yang dituliskan di judulnya untuk anak-anak, komik ini bukan untuk anak-anak. Informasi yang diberikannnya lebih ditujukan untuk pembaca yang paham informasi lanjutan.

Konten media kedua benar-benar membahagiakan saya. Sebenarnya saya sudah membaca review-nya di sebuah suratkabar ibukota tetapi entah mengapa saya lupa dengan album ini dan baru saya teringat ketika melihatnya di toko CD secara tak sengaja. Walau untuk ukuran album Indonesia album ini agak mahal tetapi materinya sepadan. Album ini berisi interpretasi ulang lagu anak-anak dalam musik jazz yang disajikan dengan indah.

Begitu sampai di rumah, album ini langsung saya putar. Kami bertiga, saya, istri, dan anak, mendengarkannya dengan rasa bahagia atau mungkin juga rasa bahagia itu hadir setelah mendengarkan musiknya yang memang menenangkan. Dan yang paling membahagiakan saya adalah anak saya menikmati lagu-lagu yang telah dikenalnya dalam alunan jazz. Awalnya terlihat dia merasa aneh dengan lagu-lagu yang ada di CD karena dimainkan dengan cara berbeda. Kemudian, dia terlihat senang dengan semua lagu yang diputar. Setelah mendengarkan album ini anak saya menjadi terbiasa dengan improvisasi lagu. Sebelumnya, dia akan protes bila saya menyanyikan lagu dengan gaya berbeda seperti yang dia kenal.

Upaya semacam ini layak diapresiasi. Anthony S. dan kawan-kawan melakukan langkah yang bagus. Walau baru sedikit, menyediakan pilihan yang lebih beragam untuk musik anak-anak adalah upaya luar biasa. Mengenalkan improvisasi yang termaktub dalam musik jazz untuk anak-anak adalah misi berikutnya. Hal ini sejalan dengan beberapa album lagu daerah untuk anak-anak yang saya akses pula. Pelakunya pun sama "Gema Nada Pertiwi". Dari sisi bisnis, ini upaya bagus karena jarang produsen pesan yang "bermain" di wilayah musik anak. Ini juga kasus yang bagus diteliti oleh pembelajar kajian media. Dari sisi sosiokultural, upaya ini juga "mulia" karena mengenalkan keberagaman musik pada anak-anak Indonesia.

Berkat album ini saya juga mendapatkan moment indah mengakses pesan media. Kami sekeluarga mendengarkan album ini dengan bahagia, membagi kebersamaan di suatu sore yang indah.

Album: Jazz for Family, “Children Sngs with Jazz Flavour”
Artis: Anthony S, Imam Pras, Arief Setiadi, Galeri Anak
Produksi : Cakrawala Musik Nusantara/GNP, 2009
Harga: Rp. 50.000,-

Daftar lagu:
1. Burung Kakatua
2. Oe Oe, Oa Oa
3. Aku Anak Pintar
4. Desaku
5. Bermain Layang-Layang
6. Pepaya Mangga Pisang Jambu
7. Burung Ketilang
8. Kupu-Kupu
9. Burung Hantu
10. Kapal Api
11. Kapal Api (instrumental)
12. Aku Anak Pintar (instrumental)

Bandung Medio Juli


di kota ini
mendung awalnya bersenandung
kemudian bergumam pelan menyanjung ketidakpastian
apa yang ditanam di dalam hati selain benih-benih harapan dan ucapan selamat datang kembali?

di kota ini malam merambat pelan
di kotaku itu aku rindukan transaksi pikiran cerdas

di kota ini apa-apa di pagi hari bisa diresapi dan dibenahi

pada akhirnya kota sejuta romansa
memulai lagi banyak hal sejak awalnya

(21 – 24 Juli 2010)

Senin, 26 Juli 2010

Senja di Balik Pelangi (Bagian 2) - Album "Langkah Baruku" oleh Lala Suwages


Seperti yang hampir setiap kali aku lakukan, hari ini pun aku "berkunjung" ke kafe favoritku. Entahlah, rasanya aneh bila langsung ke rumah setelah kuliah. Dengan mampi terlebih dahulu ke kafe sebelum pulang ke rumah, aku menempatkan diriku sendiri ke dalam transisi. Kuliah yang "berat" dan rumah yang santai, perlu ada tempat transisi sebelum sampai pada keadaan yang santai. Siapa bilang kuliah itu tidak berat? mahasiswa ilmu-ilmu sosial cenderung menilai kuliah itu tidak berat dan tidak penting. Hal yang lebih penting adalah "perjuangan" di luar kampus. Sementara bagiku, kuliah itu benar-benar berat, mulai dari banyak hal yang mesti dihapalkan, seri praktikum yang panjang, sampai dengan menghadapi ego dosen dan mahasiswa senior. Biasanya beberapa dosen di tempatku kuliah lebih senang menunjukkan bahwa mereka pintar daripada "mendidik" kami menjadi pintar. Tentu tidaks semuanya. Karena itulah aku anggap kuliah itu berat.

Kafe ini mulai ramai menjelang sore hari. Orang-orang datang dan pergi dengan cepat. Kafe yang maksud awalnya untuk bersantai berubah menjadi restoran cepat saji. Sayang sofa yang empuk ini bila kutinggalkan cepat-cepat. Sambil membuka laptop untuk surfing, aku juga menyiapkan earphone untuk mendengar album terbaru milik Lala Suwages yang berjudul "Langkah Baruku". Penyanyi ini adalah penyanyi baru. Nama yang entah dari mana. Sebelumnya aku tidak pernah mendengar namanya. Walau begitu, nama yang baru ini ternyata menghasilkan album yang matang secara konsep dan musiknya.

Sambil mendengarkan lagu-lagu di album Lala dan surfing situs-situs tak penting, aku membayangkan perasaanku sekitar sebulan lalu. Waktu itu hati terasa teriris karena mesti menjauh dari seseorang. Kini semua itu sudah berlalu walau sesekali aku ingin juga mengetahui kabarnya juga. Aku semakin menyadari betapa ajaibnya hati dan pikiran mengobati lukanya sendiri. Rasanya hampir tak percaya sebulan lalu perasaannya sesakit itu.

"Hey...apa kabarmu/telah lama kita tak bertemu/hey...kumasih di sini/masih sama seperti yang dahulu"....suara Lala yang renyah mengalun dari lagu "Hey". Membuat aku benar-benar bertemu si abang, atau minimal mengetahui kabarnya sedikit saja. Sudah lama aku tidak ke rumah Lani karena kesibukan kami berbeda. Aku ingin bertanya duluan melalui SMS atau email atau pesan di akun FB-nya, tetapi rasanya rikuh bertanya tentang kabar seseorang yang dahulunya sengaja aku "tinggal".

Terus terang kini aku merindukannya. Rindu pada berbagai obrolan dan diskusinya. Dia enak diajak mengobrol untuk banyak hal. Dengannya aku bisa membicarakan tentang perkembangan teknologi terbaru sampai dengan berita artis, juga terkadang hal-hal politik di negeri ini, topik yang kemudian membuatku sedikit pusing. Menurutku, aku lebih senang membicarakan yang "pasti-pasti" saja. Hal-hal yang terlihat. Hal-hal tanpa beragam makna. Berbeda dengannya, keutamaan mengobrol dengannya bukan kejelasan topik melainkan keberagaman sudut pandang yang ada. Membicarakan album ini pun, mungkin dia tak begitu tertarik. Dia lebih senang membicarakan musik indie, yang menurutnya lebih beragam. Bagiku tidak, musik indie seringkali membuatku bingung dengan musik dan liriknya. Siapa yang ingin membicarakan efek rumah kaca atau pengalaman subtil tentang aktivis? bila aku bisa mendengar lagu-lagu yang enak didengar dan digunakan untuk bergoyang seperti ini?

Walau kami berbeda, rasanya dahulu itu kami bisa demikian dekat. Tidak seperti orang-orang lain yang melihat perbedaan itu bukan sebagai rahmat. Aku rasa lagu "Mereka Tak Mengerti" bisa diambil inspirasinya. Biarlah banyak orang yang tidak mengerti dengan diri kita. Asalkan ada satu orang saja yang mengerti. Itu sudah cukup. Kuseruput kopi hangat dengan pelan sekadar ingin merasakan sesuatu yang sudah lama tak kurasakan.

Seakan dia ada semeja denganku seperti beberapa bulan yang lalu sampai sebulan kemarin. Seringkali kami tidak berbicara banyak. Masing-masing hanya menjelajah dunia maya atau membaca. Tetapi itu sudah cukup. Eksistensi fisik seseorang seringkali lebih penting walau dia tidak melakukan apa-apa. "Saat ini kududuk sendiri/coba untuk renungkan rasa ini/kaulah satu sahabat setiaku/yang selalu menemaniku"...lagu "Maafkanku" mengalun dengan indah. Waktu terus beranjak dengan pelan.

Album debut ini bagus juga. Benar-benar mengajakku menggoyangkan kaki. Lagu-lagunya bagus, bukan hanya dua lagu lama yang dia nyanyikan yang bagus, "Semua Jadi Satu" yang dahulu pernah dipopulerkan oleh Dian PP, dan "Nada Kasih" yang pernah sangat terkenal ketika dinyanyikan oleh Fariz RM dan Neno Warisman. Kedua lagu bagus tersebut tetap menjadi bagus dengan ditambahi versi personal Lala, apalagi lagu kedua ditemani penyanyi Joeniar Arief.

Lagu-lagu yang lain juga menyenangkan untuk didengar berulang-ulang. Lagu "Tanpamu", "Langkah Baruku" yang menjadi "manifesto" menyanyi Lala, dan "Maafkanku", adalah lagu-lagu yang indah dan patut diperhatikan oleh penyuka musik Indonesia. Ada kesegaran dari sisi musik yang ditawarkan oleh album ini. Lagu "Terima Kasih" adalah lagu yang paling sesuai dengan kondisi diriku saat ini. Hidup ini indah bagaimana pun juga. Pernah merasa sakit dan disakiti itu biasa asalkan kita bisa melewatinya. Toh, bila mungkin setelahnya kita bisa membalas dendam...hehe, tidaklah, tidak begitu. Sebagai manusia, kita mesti berwelas asih pada sesama. Biarlah yang membalas ketidakbaikan pihak lain itu Sang Pencipta saja. "Terima kasih aku ucapkan atas semua yang telah kau berikan/terima kasih aku ucapkan persembahan dari hati kecilku....

Sore terus merambat. Kali ini tidak lagi dengan lambat tetapi lebih cepat. Mentari meredup dan bayang-bayang malam telah terlihat di luar sana. Mengingat sebulan yang lalu, rasanya seperti keajaiban sekarang. Perasaan nelangsa itu sudah tak ada. Hanya rasa rindu. Rindu yang positif yang pasti bisa mengembalikan semua rasa perih pada kondisi awal. Mungkin pesan itulah yang bisa diambil dari album ini, bagaimana memulai lagi langkah baru. Aku mengambil handphone-ku mencoba berbincang dengan Lani. Menanyakan kabar dirinya, dan tentu saja, kabar abangnya.

"Maafkanku...rindukanmu/Tak dapat kutolak pesona dirimu/...tak kuasa hindari bayang wajahmu...Suara Lani terus menyatu dengan senja yang indah. Bukankah melampaui sedih dan bahagia, kehidupan ini teruse berjalan...aku hanya perlu mencoba membuatnya indah....

Sabtu, 24 Juli 2010

Senja di Balik Pelangi (Bagian 1) - Album "Dream, Hope & Faith" oleh Monita Tahalea


Aku memandang keluar jendela di sore hari pertama tanpanya. Ah, mengapa mentari masih bersinar dan meredup dengan indahnya. Mengapa orang-orang masih tersenyum ceria pulang dari tempat kerja dan tempat belajar mereka. Kuhidupkan salah satu album yang baru saja aku beli.Album berjudul "Dream, Hope & Faith" yang dinyanyikan oleh Monita Tahalea. Mantan peserta kontes menyanyi "Indonesian Idol" pada salah satu musim terketatnya. Aku mencoba mencernanya dalam hati dan pikiran. Lagu pertama dari album ini seperti ironi bagi keadaanku sekarang ini. Seperti matahari semasa menyinari/kelam berlalu/terangi bahagia yang kutunggu... Ingin tersenyum sekaligus masih terasa pedih di hati mendengarkan suara Monita di lagi "Kisah yang Indah" itu. Entahlah, ada rasa sesal sekaligus kesadaran bahwa yang telah terjadi biarlah terjadi.

Mengingat kembali hari-hari kemarin ketika dia masih mencoba meyakinkan bawa dirinya untukku. Padahal menurutku, tidak ada manusia untuk manusia lain. Kehidupan manusia itu hanya untuk Sang Pencipta. Tetapi okelah, sebagai manusia dia boleh berusaha romantis. Berbulan-bulan dia terus saja berusaha ada di sampingku. Apalagi hal itu cukup mudah karena dia adalah kakak lelaki teman baikku. Dia selalu berusaha menemani kami. Awalnya katanya untuk menemani Lani, adik kesayangannya. Lama-kelamaan di menjadi semakin sering hadir menemani kami. Menjemput kami bila ada kegiatan di kampus sampai malam hari. Meminjamkan buku-bukunya yang bagus dan seringkali tidak terjangkau oleh pikiranku. Dia mengenalkan hal-hal yang bagiku asing: sosialisme, efek diskursif, eksistensialisme, juga hal-hal aneh lain yang tidak bisa kuingat dengan jelas.

Tiga bulan pertama tidak ada perasaan apa pun aku padanya. Sama seperti Lani, dia kuanggap kakak sendiri. Tidak lebih dan tak kurang. Walau begitu, karena kegigihannya dan sedikit "kegilaannya", lama-kelamaan perhatian berlebihnya terasa juga. Seringkali dia mengajak berbincang sambil menunggu Lani bila aku menghampiri Lani untuk ke kampus bersama. Seringkali dia mengirim SMS menanyakan keadaanku. Sebagai anak bungsu yang kurang "diperhatikan" oleh kakak-kakak perempuanku, pertanyaan berwujud perhatian walaupun kecil sungguh oase yang menyejukkan. Ah, suara Monita yang mendendangkan lagu "I Love You" membuat benih awal cinta yang tumbuh di hati terasa kembali. Hangat dan menyejukkan. Knowing that you are near/it makes my life feels complete/love will stay and find a way/love will guide you through your day....

Perasaan yang dia curahkan itu benar-benar membahagiakan. Namun tidak bagiku dan Lani. Lani tahu bahwa kakaknya "mendekati" aku. Hubungan kami menjadi agak aneh. Seiring berjalannya waktu rasa rikuh tersebut semakin terasa. Si abang, kami menyebutnya begitu, benar-benar menjadi "milik bersama" tetapi ini adalah awal kesulitan hubunganku dengan Lani. Pilihannya jelas, sahabat dekat atau kemungkinan besar kekasihku. Mengapa kehidupan ini tidak memberikan keduanya?

Lagipula, aku dan si abang jauh berbeda. Bagiku, dia "makhluk dari planet lain". Aku merasa di mirip Rangga, tokoh film "Ada Apa dengan Cinta". Film yang disukai oleh kakak-kakak perempuanku dulu. Lelaki imajiner yang ada di dalam impian dan tidak dalam kehidupan nyata. Dan dia nyata. Bagiku, lelaki itu ya seperti teman-teman di kampusku, mahasiswa kedokteran yang jelas, terarah, dan cerdas. Dia terlalu tak terduga, terlalu tidak jelas, dan kecerdasannya berbeda. Kecerdasannya bermain dalam kata-kata bukan angka-angka dan prosedur penyembuhan. Aku ingin membuat puisi yang "menggedor" sukma, begitu katanya suatu kali. Dia benar-benar menuliskan puisi yang indah dan itu benar-benar mempesonaku sebab namaku Sukma Amoria.

Dia terus mendekatiku. Menyampaikan rasa cintanya. Aku yang tidak ingin kehilangan persahabatanku, aku yang tidak ingin memberinya harapan pasti, dan aku yang merasa dia begitu berbeda, tidak pernah menjawab eksplisit sekadar memberikan jawaban "aku juga". Lelaki di dunia ini menurutku mirip seromantis apa pun mereka. Mereka selalu memerlukan konfirmasi. Mengapa semuanya harus terlihat dan terkatakan jelas bila sebenarnya semuanya bisa dijalani dan dihayati?

Namun, dia tak kenal lelah. Seringkali dia bertanya tentang keadaanku, menulis puisi untukku. Katanya, ada 1000 puisi untukku nanti. Menulis hal-hal yang "menggedor" sukma di blognya. Dan aku, aku terlalu bingung untuk merespon banyak hal itu. Dia buku kumpulan puisi, sementara aku diktat praktikum. Aku seputih jas dokter, sementara dia terlalu berwarna-warni seperti t-shirt yang dia desain sendiri. Dia terlalu abstrak dengan mimpi-mimpinya, sementara aku terlalu jelas seperti prosedur pertolongan pertama pada kecelakaan.

Mungkin dia lelah. Mungkin dia ingin mengejar pelangi yang lebih beragam. Tidak sewarna seperti diriku. Seperti datangnya, tiba-tiba saja dia tak ada lagi. Dia tak berusaha hadir di sekitarku, juga di sekitar kami. Dia tidak lagi mengirimi aku SMS. Tidak lagi menuliskan puisi dan ucapan-ucapan "gombal" lainnya. Dia berubah kembali menjadi hanya abang temanku. Seiring dengan itu, hubunganku dengan Lani membaik kembali. Pelan-pelan kami seakrab dulu lagi.

Sedihnya, setelah dia tak ada lagi. Ada semacam kehilangan di hati. Seperti diduga sebelumnya, dunia tanpanya terasa hambar. Semuanya terlalu jelas, gamblang, dan terprediksi. Tidak ada lagi "kejutan-kejutan" yang memusingkan seperti konsep-konsep tak jelas yang dia diskusikan. Tidak ada lagi "kujutan-kejutan" yang mempesona dan "menggedor" sukma. Tidak seperti namaku yang berarti cinta, aku gagal total dengan cinta kali ini.

Tetapi hidup personal ini masih berjalan bukan? dengan segala pencapaian dan kegagalannya. Lagu "Over the Rainbow" terdengar menyejukkan: sendu sekaligus optimis. Masih ada hal-hal seindah pelangi nun jauh di sana. Jauh itu bisa seminggu ke depan atau entah kapan, tetapi pasti ada menanti di sana. Ah, pagi yang indah. Hatiku tidak lagi terlalu sedih. Kesedihan itu mengalir pelan-pelan seperti udara yang kukeluarkan lewat napasku.

Kulihat daftar lagu di album bagus ini; Kisah yang Indah, Ingatlah, Over the Rainbow, Senja, I Love You, God Bless the Child, Hope, dan Di Batas Mimpi. Album ini adalah mini album dan semua lagunya bagus. Lagu-lagu yang memiliki jiwa sendiri sekaligus menghadirkan keindahan akumulatif dalam keutuhan album. Aku suka dengan semua lagunya. Terasa sendu, pelan, namun ada optimisme di situ. Album ini wajar bila bagus dan indah karena musiknya diarsiteki oleh Indra Lesmana. Aku juga telah melihat blog Monita. Blog sederhana namun liris. Sepertinya dia pandai merangkai kata. Mengingatkanku kembali pada seseorang. Namun kali ini ingatan dengan sedikit pedih dan banyak kenangan bahagia.

Aku memutar kembali lagu "Senja" di album ini. Awan jingga/gelap kurasa di dada/langitku meresah sendu...bayang dirimu menjauh...

Cinta Bebas (Bagian 2)


Apa yang kau lihat ketika menatap matanya?
Apakah dirinya, obyek cintamu, atau dirimu sendiri?
Benarkah mencintai orang lain berarti mencintai diri sendiri, atau sebaliknya?
Apakah cinta "mematikan" atau "menghidupkan" sesuatu?
Apakah tidak ada jalan lain selain memilih antara mencintai atau membenci?
Apakah tidak ada cara lain tanpa mencintai diri sendiri atau pihak lain?
Apakah cinta bisa membebaskan dan tidak mengekang?
Apakah benci bisa menjadi alat dominasi dan hegemoni?

---------

Ratusan pertanyaan bisa ditanyakan terus menerus tanpa henti sampai diri kita lelah, sampai diri kita tak berarti, atau bahkan semakin penuh arti. Kita setiap kali mempertanyakan apakah tindakan kita menyakitkan atau membahagiaan orang yang kita cintai, meyakinkan penuh apakah tindakan kita cukup mematikan bagi orang lain. Bila dia merasakan sakit, kita bisa memastikan kita bisa minta maaf dan berpura-pura kita tidak sengaja melakukannya dulu.
Sungguh sial menjadi orang yang tidak dicintai atau dibenci.

Ribuan pertanyaan lebih banyak menggelayut di benak kita. Tentang kematian, tentang hal-hal yang belum selesai, tentang mimpi, atau tentang apa pun, tetapi tentang cinta dan benci kita selalu mencoba menyiapkan penjelasan dan implementasinya. Mudah untuk memberikan tindakan menyakitkan pada orang yang kita benci tetapi sungguh sukar memastikan cinta kita membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

Jutaan pertanyaan mungkin tetap tak tersentuh. Kita tidak akan ingat semua dengan detail tiap tindakan yang kita lakukan tetapi kita akan selalu ingat perasaan kita atas tindakan itu. Begitu yang saya rasakan dengan lagu ini. Saya tidak terlalu ingat berkaitan dengan peristiwa apa lagu ini, mungkin tentang mempertanyakan cinta di pagi hari, mungkin tentang rasa sepi yang menggigit, mungkin juga menyoal implementasi kebencian pada pihak lain, tetapi hal yang saya ingat, rasa bahagia bisa mengkontemplasi apa pun, termasuk hal-hal yang membuat kita sakit namun berpotensi membebaskan.

Lagu ini adalah lagu "elektronik" kontemplatif pertama bagi saya walau saya banyak mendengarkan lagu dalam genre serupa. Tidak hanya lagu ini sebenarnya, semua lagu di album Exciter milik Depeche Mode, di mana lagu ini termaktub, membawa pendengarnya berkontemplasi di balik rasa artifisal dan dinamisasi elektronik. Album "come back" Depeche Mode setelah masa suram karena beberapa personelnya terpuruk dan mereka hampir membubarkan salah satu band elektronik Inggris legendaris selain New Order. Suasana suram namun optimis terasa dari album ini.

Bagi saya secara personal, lagu ini dan lagu-lagu lain di album yang sama mengubah pandangan saya tentang cinta, benci, kebahagiaan, kebencian, dan hal-hal lain yang tak selesai, ketika berinteraksi dengan manusia lain. Manusia-manusia yang saya cintai, kurang cintai, ataupun tidak saya cintai. Rasa cinta itu bisa kontemplatif dan seharusnya membebaskan. Potensinya besar untuk itu: Cinta membebaskan itu ada. Mencintai pihak lain berarti membuat diri sendiri dan pihak lain lebih tercerahkan.


Freelove
performed by Depeche Mode

If you've been hiding from love
If you've been hiding from love
I can understand where you're coming from
I can understand where you're coming from

If you've suffered enough
If you've suffered enough
I can understand what you're thinking of
I can see the pain that you're frightened of

And I'm only here
To bring you free love
Let's make it clear
That this is free love
No hidden catch
No strings attached
Just free love
No hidden catch
No strings attached
Just free love

I've been running like you
I've been running like you
Now you understand why I'm running scared
Now you understand why I'm running scared

I've been searching for truth
I've been searching for truth
And I haven't been getting anywhere
No I haven't been getting anywhere

And I'm only here
To bring you free love

Inception: Di dalam Mimpi pun Kita Perlu Bekerja Keras


Kalimat judul di ataslah yang saya ingat terus ketika selesai menonton film “Inception”. Biasanya kita mendikotomikan mimpi dengan terjaga dalam klasifikasi yang saling berlawanan. Terjaga dianggap sebagai keutamaan karena identik dengan sadar, rasional, dan mengarah pada aktivitas fisik. Sementara, bermimpi lebih dianggap sebagai aktivitas relatif sia-sia, irrasional, dan membuang-buang waktu saja. Film ini menunjukkan bahwa ketika bermimpi sekali pun kita masih perlu bekerja keras mewujudkan keinginan kita. Mimpi pun terbangun dari elemen yang detail dengan persiapan dan eksekusi yang bagus agar terlihat “nyata”, bahkan di dalam mimpi kita memerlukan kerja-kerja riil agar keinginan kita terwujud. Bila belum terwujud, kita perlu menggalinya lagi pada level mimpi yang lebih rendah.

Beberapa hari sebelumnya, rekan saya yang tinggal di Inggris, Ragil, bertanya apa saya telah menonton film itu. Saya bilang saya belum menontonnya. Kemudian saya bertanya, baguskah film itu. Dia hanya menjawab singkat: kemungkinan besar film “Inception” akan menjadi film terbaik tahun ini. Ketika akhirnya saya mengakses film ini, saya setuju dengan pendapat teman saya itu, bahkan saya memasukkannya ke dalam lima film terbaik yang saya pernah saya tonton sepanjang hidup. Kemarin pun, rekan-rekan sekantor saya yang lebih muda menggoda saya bila mereka berempat akan menonton “Inception”. Saya pura-pura “kena” dengan ledekan tersebut, padahal saya pun sedang berada di lobi bioskop dengan label sama di kota berbeda. Mereka menonton di Yogya, saya menonton film yang sama di Bandung.

Menurut saya, film ini memiliki beberapa hal yang mirip dengan film yang dibintangi DiCaprio sebelumnya, “Shutter Island”. Di kedua film ini, si karakter utama memiliki masalah dengan kesadarannya, dan juga dengan mimpinya. Persamaan yang lain adalah, sang tokoh utama memiliki paradoks hubungan dengan istrinya. Perbedaannya, istri si tokoh utama di “Inception” benar-benar bersemayam di pikiran terdalam dan menjadi penghalang “tugas-tugas” Cobbs, tokoh yang diperankan oleh DiCaprio, di dalam mimpi.

Film seperti ini adalah film yang saya nanti-nantikan agak lama. Film dengan topik dan cara bertutur cerdas sekaligus juga cukup mudah dicerna sehingga sangat potensial menjadi populer. Tak heran bila film ini menjadi film terlaris sekarang ini di Amerika Serikat. Mengenai detail informasi mengenai film bisa dilihat di situs lain. Reviewnya pun sudah cukup banyak. Salah satu “takaran” yang bagus dibuat oleh rekan saya, M. Sulhan. Saya hanya ingin memaknainya secara personal. Bila tafsir itu juga bermakna untuk teman-teman, saya akan senang sekali.

Film ini adalah caper film. Menurut wikipedia, genre film ini adalah film tentang “pencurian” oleh seseorang atau sekelompok orang, mulai dari perencanaan sampai dengan penyelesaiannya. Uniknya, Christopher Nolan, penulis skenariao dan sutradara film ini, awalnya ingin membuat film horor tentang orang-orang yang bisa memasuki mimpi orang lain. Genre itu pada akhirnya berubah karena menurutnya, mustahil berkisah tentang mimpi tanpa melibatkan hati. Itulah sebabnya ia mengembangkan naskah film ini cukup lama, sekitar sepuluh tahun. Selain itu, Nolan cukup lama berkecimpung dengan topik mimpi. Setidaknya sejak film Memento (2000). Selain itu, Nolan dan timnya kemudian juga memutuskan ketika membicarakan mimpi, gambar yang muncul di film bisa sangat “mewah” dan luar biasa. Itulah sebabnya budget film ini sangat besar.

Film ini bercerita tentang Dominic "Dom" Cobb (diperankan oleh Leonardo DiCaprio) dan timnya, yang bertugas mencuri ide dari mimpi-mimpi orang lain. Akhirnya tugas mencuri tersebut diubah menjadi “menanam” ide di dalam mimpi seseorang dan berfungsi di dunia nyata orang tersebut. Inilah yang disebut “insepsi”. Menanamkan ide jauh lebih sulit bila dibandingkan dengan mencuri ide karena menanam ide bisa berarti memasuki mimpi tingkat ketiga, sebelum masuk pada alam bawah sadar yang ada di lapisan keempat.

Cobb yang memiliki spesialisasi memasuki mimpi orang lain tidak bekerja sendirian. Dia dibantu oleh anggota tim yang lain, yaitu: Arthur (diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt), yang bertanggung jawab atas target yang mimpinya ingin dimasuki, Ariadne (diperankan oleh Ellen Page), yang bertugas menjadi arsitek dunia mimpi yang dibangun bersama Cobb, Eames (diperankan oleh Tom Hardy) yang bertugas menjadi orang lain di dalam mimpi, Yusuf si Ahli Kimia (diperankan oleh Dileep Rao) yang bertugas meramu “obat” yang memiliki dosis kuat sehingga mereka bisa memasuki mimpi lapisan terdalam, dan Saito (diperankan oleh Ken Watanabe), seorang pebisnis energi kaya yang pada awalnya menjadi target untuk disabot mimpinya tapi kemudian menjadi klien terakhir Cobb yang membiayai misi sekaligus menjadi anggota tim di dalam mimpi.

Permasalahannya, Cobb masih merasa bersalah dengan kematian istrinya, Mallorie “Mall” Cobb (diperankan oleh Marion Cotillard). Mal selalu berusaha menggagalkan misi Cobb di dalam mimpi karena ingin Cobb tinggal bersamanya di dalam alam mimpi selamanya. Hubungan cinta dan rasa bersalah antara Cobb dan Mal inilah yang menjadi salah satu kekuatan film: paradoks emosi. Inilah yang membuat film ini tidak menjadi film aksi biasa.

Kembali konsep dualitas yang saya pahami sedikit itu berguna untuk mendedah film ini. Daripada mendikotomikan mimpi dan terjaga di dalam film ini, di mana terjaga dan mimpi saling menegasikan, saya melihatnya justru keduanya saling melengkapi. Dualitas, dua elemen, dua level, ada untuk saling melengkapi satu sama lain. Bermimpi dan terjaga ternyata memiliki rasionalitasnya sendiri. Bermimpi ternyata memiliki banyak level dan elemennnya juga banyak. Di dalam mimpi ternyata ada arsitek dan “bangunan”-nya Sementara itu, untuk bermimpi dengan baik dan benar, serta menghasilkan sesuatu yang konstruktif, perlu dilakukan persiapan yang baik ketika sadar. Di sinilah saya kira, kelebihan Nolan dan timnya mengeksplorasi konsep mimpi, antara lain konsep lucid dream, yang artinya mimpi yang disadari. Ketika bermimpi kita sadar sedang bermimpi.

Kemudian saya sadari selama filmya, bagaimana cerita dikemas menarik tetapi tetap dengan menjaga kebenaran dan kedalaman ilmu pengetahuan, terutama ilmu eksakta. Saya mendapati bahwa, kerja-kerja riil bahkan diperlukan di dalam mimpi. Bila kita jeli menghitung waktu di tiap lapisan mimpi, waktu tersebut berkorelasi dengan perpangkatan angka yang lebih banyak di tiap level. Entah mengapa, rasanya pilihan yang agak saya sesali mempelajari ilmu eksakta, terutama fisika, sewaktu SMA, kali ini terasa menguntungkan dan menyejukkan, minimal membantu saya memahami teks media jenis begini dengan lebih baik.

Teks media apa pun, dalam tulisan ini teks film, dapat diamati dari dua sudut pandang. Kita melihat apa yang disampaikan di dalam teks dan bagaimana satuan ide atau informasi digelontorkan sepanjang teks. Dari sisi keduanya, film ini bagus sekali. Salah satu film terjenius yang saya tonton. Mimpi sebagai hal yang diperbincangkan, disampaikan dengan definisi baru dan relatif lebih kompleks. Sementara cara menyampaikan narasi juga relatif baru: dunia nyata, dunia mimpi dalam beberapa level, dan dunia bawah sadar. Ketiga “dunia” tersebut cukup baik dijelaskan dan dirangkai satu sama lain.

Di atas semuanya, cara-cara yang “populer” tetap ditampilkan, misalnya Arthur dan Aemes yang bertolak belakang. Arthur lebih kaku sementara Aemes mengklaim dirinya lebih imajinatif. Ternyata di mimpi pun tetap ada orang yang “kaku” dan “bebas”, tadinya argumen saya, di dalam mimpi itu orangnya bebas semua. Juga adegan Arthur dan Ariadne yang berciuman untuk mengalihkan perhatian, padahal tindakan itu tidak diperlukan. Juga adegan akhir film yang secara cerdas menunjukkan ending yang terbuka untuk membuka pada sekuel yang kedua. Kemungkinan profit yang besar ternyata tidak lepas dari Hollywood, bahkan untuk film “jenius” sekalipun. Untungnya, motif-motif tersebut bisa dipertanggungjawabkan dengan kualitas yang sangat bagus.

Hal ini cukup ironis bila kita lihat yang terjadi dalam film Indonesia sejauh ini. Ketika menonton film ini, saya mengamati film-film Indonesia yang diputar dalam waktu yang bersamaan dan yang akan diputar. Terlihat bagaimana tidak ada perubahan yang cukup signifikan untuk film Indonesia yang masih memperbincangkan hal-hal usang dengan cara lama, mistis dan cenderung porno. Dua film yang saya amati posternya adalah “Pocong Keling” dan “Selimut Berdarah”. Atau mungkin terlalu jauh ya membandingkan film kita dengan film Hollywood. Saya saja yang mungkin lancang membandingkannya

Sebagai penutup, film ini tetap menjaga adagium yang mempertanyakan “apa yang riil, apa yang disebut mimpi?” sekaligus memberikan tafsir terbuka bahwa hidup ini juga mimpi dan mimpi bisa sangat riil. Hal ini terlihat pada akhir film, totem Cobb, yang menjadi penanda keberadaan dirinya di dalam mimpi, tetap berputar. Tetap berputar berarti menunjukkan bahwa Cobb masih bermimpi. Bukankah pertanyaannya sama dengan kita: bagaimana kita mewujudkan mimpi dalam kehidupan nyata dan juga di dalam mimpi itu sendiri?

(Catatan: semua informasi penting di dalam tulisan ini didapatkan dari situs imdb dan wikipedia)

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...