Jumat, 04 Mei 2012

Hardiknas dan Peran Media

Baru saja bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional dua hari yang lalu. Seperti kebiasaan kita sebagai bangsa, kita akan merayakannya satu hari dengan banyak berharap namun setahun penuh kita lupa, sampai tahun depan, pada tanggal yang sama, sekali lagi kita memperingatinya. Tiada perbaikan dan kemajuan yang signifikan. Walau begitu, biarkan sedikit kita masih bisa berharap bahwa peringatan kali ini tidaklah biasa dan tahun depan sudah ada perbaikan pendidikan kita. Bagaimanapun juga kita tak boleh berhenti berharap karena harapanlah yang membuat kita tetap hidup dengan antusias.

Sayangnya, sebagian besar status dan komentar yang saya baca di situs jejaring sosial lebih pada harapan agar kualitas pendidikan diperbaiki, mulai dari perencanaan, proses, sampai pada output maupun outcome. Hal yang cenderung kita lupakan adalah kata "nasional" di dalam akronim hardiknas itu. Peringatan hardiknas bukan semata-mata memperbaiki kualitas pendidikan tetapi juga menempatkannya dalam konteks nasional, bagaimana sebagai "nasion" kita memperkuat ke-Indonesia-an menjadi sekumpulan manusia yang bermartabat. Kenyataannya, belum ada visi besar pendidikan nasional kita yang benar-benar ingin memperkuat multikulturalisme sesuai dengan amanat para pendiri bangsa.

Kenyataan yang saya amati justru sekolah-sekolah yang dijalankan oleh berbagai kelompok masyarakatlah yang lebih maju dan mengemuka bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah negeri. Apalagi bila sekolah-sekolah yang dijalankan oleh berbagai kelompok tersebut hanya mengajarkan nilai-nilai dari kelompoknya sendiri tanpa memperhatikan konteks nasional. Atau yang lebih parah lagi, terjebak dalam asingisasi di mana sekolah-sekolah justru terjebak pada istilah "internasional" dan meninggalkan makna ke-Indonesia-an.

Sebenarnya media mampu berperan sebagai pihak yang memperkuat pendidikan nasional tersebut, tentu saja bukan dengan cara seperti masa Orde Baru di mana TVRI dan RRI menjadi corong penguasa, dan media lain "ditaklukkan" dan tunduk pada penguasa. Media yang kita perlukan adalah media yang memiliki visi kepublikan kuat, entah itu lembaga penyiaran publik atau lembaga penyiaran komunitas, atau bentuk-bentuk media lain yang mengangkat sebanyak mungkin kepentingan warga negara Indonesia. Media yang menjalankan fungsi pendidikan nasional mesti difasilitasi oleh pemerintah, bisa dengan menyusun kerjasama kontinyu dengan kementerian pendidikan ataupun LPP, untuk penyiaran, juga pengadaan buku-buku berkualitas karya penulis-penulis besar Indonesia.

Sayangnya, kini media juga semakin tersegmentasi (dalam pengertian sosiologis dan politik) yang cenderung mementingkan nilai-nilai sendiri tanpa memperhatikan konteks Indonesia. Hal ini diperparah dengan pemerintah yang tidak menyadari dan memahami arti penting hak warga negara memperoleh informasi dan berkomunikasi dengan baik sesuai dengan amanat UUD 1945. Salah satu cara yang bisa dilakukan agar media berperan optimal bagi pendidikan nasional adalah merumuskan peran media, baik media massa maupun media baru, dengan mengupayakan visi kepublikan bukan hanya kepentingan pasar yang saat ini begitu dominan.


Kamis, 03 Mei 2012

Fariz RM - Fenomena (2012)


Fariz RM - Fenomena (Deluxe Edition) (2012)

Fariz RM adalah "pahlawan" masa kecil saya. Waktu itu ketika saya masih bersekolah di tingkat akhir SD dan SMP, saya lebih terbiasa mendengarkan lagu-lagu Barat yang pada saat itu sangat mudah dan murah diakses, sehingga saya jarang sekali mendengarkan lagu Indonesia, kecuali Ebiet G. Ade yang menjadi kesukaan ayah. Tetapi lagu-lagu Fariz berbeda, saya mendengarkannya bukan di rumah sendiri tetapi dari rumah tetangga yang usianya beberapa tahun di atas saya. Mesti diingat pada masa itu masih lumrah menghidupkan musik keras-keras pada pagi dan sore hari melalui tape deck. Lagu-lagu lama Fariz RM pada jaman itu jadi lumayan akrab di telinga, misalnya Barcelona, Iman dan Godaandan Nada Kasih.

Sejak akhir dekade 1980-an itulah saya mulai menyukai lagu-lagu Fariz sampai sekarang. Karena itulah album terbaru dari Fariz RM ini, Fenomena, langsung saya beli begitu saya melihatnya di bagian produk musik di sebuah toko buku. Harganya sungguh mahal untuk ukuran album Indonesia, namun karena karya Fariz RM dan juga karena album ini disatukan sebagai edisi deluxe, saya beli juga album ini. Album yang terdiri dari tiga cakram padat ini, satu audio dan dua DVD, adalah album musik Indonesia termahal yang saya beli. Walau begitu, berdasarkan informasi dari pelayan toko tempat saya membeli album ini, masih banyak calon pembeli yang memesannya, bahkan ada yang bersedia membeli sampai berapapun jumlah album khusus ini di toko tersebut.

Setelah saya dengarkan berbelas kali, dengan yakin saya simpulkan bahwa album ini adalah album yang bagus walau sebenarnya Fariz RM bisa menghasilkan karya lebih baik dari ini. Album ini kurang maksimal karena hanya ada enam lagu baru karena satu lagu berasal dari lagu lama dalam versi live dan satu lagu dinyanyikan dalam dua versi. Cakram padat ketiga yang menurut saya maksimal karena menampilkan aksi panggung Fariz RM dengan bagus ketika tampil di Java Jazz tahun lalu.

Harapan Fariz RM agar karya yang dihasilkan olehnya ditafsir ulang oleh musisi masa kini tercapai untuk penampilan live-nya di festival Java Jazz, pun dengan lagu-lagunya di album Fenomena. Tipikal para penyanyi yang sudah kugiran, biasanya mereka akan mencoba mengaitkan karya dengan konteks yang lebih luas, kondisi bangsa terkini. Hal itu muncul di lagu Fenomena dan Balada Potret Bangsa. Introspeksi diri muncul pada lagu Belenggu Perjalanan dan Hati yang Terang. Topik ketiga yang muncul, seperti biasa, adalah cinta. Hal universal tersebut muncul dalam lagu Terindah dan Terlalu Cinta. Sebenarnya saya sudah agak jenuh dengan lagu-lagu cinta berbahasa Indonesia. Berbeda dengan lagu-lagu cinta yang ada di album ini, walau bukan lagu ciptaannya dan menyampaikan ekspresi cinta biasa, namun karena cara menyampaikannya meyakinkan, kedua lagu cinta yang hadir ini sungguh saya sukai.

Album ini enak untuk didengarkan dan ditonton. Kita sebagai penggemar Fariz RM dan musik Indonesia mengharapkan ada album berikutnya dari Fariz RM dan lebih bagus daripada album Fenomena ini. Selamat terus berkarya bung Fariz RM....

Daftar lagu:
CD 1: album "Fenomena"
1. Belenggu Perjalanan
2. Fenomena (radio edit verse)
3. Terindah
4. Hati yang Terang
5. Balada Potret Bangsa
6. Terlalu Cinta
7. Fenomena
8. Selangkah ke Seberang (live at "Java Jazz Festival - 2011")

CD 2: Bonus DVD
1. Belenggu (Perjalanan) - video
2. Fenomena - video
3. Fenomena - behind the album

CD 3: DVD Live at the Jakarta International Java Jazz Festival 2011
1. Penari
2. Nada Kasih
3. Sungguh
4. Terindah
5. Medley: Sakura & Barcelona
6. Susie Bhelel
7. Fenomena
8. Belenggu (Perjalanan)
9. Selangkah ke Seberang

Record Store Day

Beberapa hari yang lalu seperti biasa saya mengunjungi salah satu toko produk musik populer yang biasa saya kunjungi. Terlihat sekali koleksi toko tersebut turun drastis dari biasanya. Saya bertanya pada salah satu pelayan di toko tersebut penyebab koleksinya jauh sekali menurun. Kemudian dia menjawab bila saat ini sulit sekali mendapatkan album-album terbaru yang bisa dijual. Menurutnya, beberapa label sudah bekerja sama dengan toko tertentu sehingga distribusi sebuah album menjadi eksklusif milik jaringan toko tersebut saja. Belum lagi kini banyak penyanyi Indonesia yang mendistribusikan karyanya melalui jaringan makanan cepat saji dan mini market, serta jaringan toko buku walau yang terakhir ini lebih sedikit persentasenya. Derita toko-toko produk musik tersebut semakin parah dengan masih banyaknya album-album bajakan yang ada di mana-mana, bahkan di pameran pembangunan pemerintah yang katanya mencanangkan industri kreatif sebagai ujung tombak industri.

Lalu kita juga melihat di luar negeri sana ada "Record Store Day" yang jatuh pada tanggal 21 April kemarin. Mungkin esensi yang ingin disampaikan dengan sama dengan hari Kartini yang hari peringatannya sama, yaitu lebih memperhatikan sesuatu yang cenderung diabaikan. Bila Hari Kartini fokus perhatian itu semestinya diberikan pada relasi perempuan dan laki-laki yang semestinya semakin membaik, pada hari "toko (musik) rekaman" kita semestinya memperhatikan industri musik rekaman yang selama ini cenderung diabaikan dibandingkan dengan media-media yang lain.

"Record Store Day" bertujuan mengajak kita kembali mengunjungi toko produk musik populer yang menjual produk fisik, seperti kaset, cakram padat, dan piringan hitam. Dengan begitu, apresiasi kita pada musik bukan hanya pada lagu-lagunya belaka tetapi pada suatu produk media yang berwujud. Permasalahannya, untuk meningkatkan apreasiasi pada produk musik rekaman, kita tak boleh faktor teknologi. Rasanya absurd juga bila kita mengapresiasi kaset (media penyimpan suara melalui pita) yang kini bahkan pemutarnya pun sudah tak diproduksi, atau mengapresiasi piringan hitam yang mahal itu walau kualitas rekamannya juga paling bagus. Hal yang perlu diapresiasi dengan pas dan memadai adalah mengapresiasi cakram padat, yang memang menjadi format produk musik rekaman yang paling galib.

Sayangnya, kemudian memproduksi musik rekaman di cakram padat membuat musik yang tersimpan di dalamnya juga kurang dihargai. Album fisik dalam bentuk cakram padat mudah sekali dibajak sehingga orang lupa bahwa produk album tersebut adalah sebuah karya yang dilindungi oleh hak cipta, yaitu hak dasar yang melekat pada karya seseorang. Pemahaman kita sebagai warga negara dan bahkan juga aparat pemerintah masih minim pada hak cipta ini sehingga merugikan para produsen karya dan pada gilirannya merugikan budaya kita secara umum.

Hal lain yang juga mesti diperhatikan agar orang kembali mengunjungi toko produk musik populer adalah membuat toko tersebut nyaman seperti halnya banyak toko buku sekarang ini yang menyediakan sofa, kafe, dan suasana sejuk, bukan seperti toko kelontong di mana orang datang, melihat-lihat, membeli, dan kemudian pergi. Toko produk musik populer juga mestinya menjadi forum bagi para penggemar musik untuk bertemu dan bertukar pikiran. Dengan cara seperti ini aktivitas mengakses dan mendengarkan musik populer tidak menjadi aktivitas yang soliter, melainkan aktivitas yang dilakukan dan dinikmati bersama-sama. Pada akhirnya bila forum ini terbentuk dengan baik akan ada pendengar-pendengar musik Indonesia yang kritis, yang meninjau produk media musik populer dengan lebih dalam dan lebih mengasyikkan.

Ayo kunjungi lagi toko-toko cakram padat, ayo perbaiki kondisi musik Indonesia!

Suatu Pagi

Kaukah yang memanggilku?
bahkan dengan mendengar suaramu aku semakin merasa sendirian
sehampa-hampanya kisah adalah kita yang tersendirikan pelan-pelan
sedalam-dalamnya kasih adalah saling menemani tanpa argumen apapun

Kaukah yang ada di sana itu?
bahkan dengan melihatmu saja dunia sepertinya melabeli diriku sebagai orang paling tak beruntung
seluka-lukanya masa lalu adalah orang yang bengis menstigma tanpa meminta maaf
sesepi-sepinya keadaan kini adalah tanpa teman-teman yang bisa diajak berdiskusi

Kaukah yang membangunkan aku?
aku tak ingin, tak mau, dan tak tertarik lagi berkaitan dengan hal-hal tentang kalian
mari bersalaman kemudian berpisah di jalan masing-masing
tak perlu mengucapkan selamat tinggal
hanya terjaga dan pergi....

(pagi bukan sebentuk beban tentu saja)

Rabu, 02 Mei 2012

Menulis adalah Sebentuk Kebahagiaan

God reveals himself in everything,
but the word is the one of his favourite ways of taking action,
because the word is thought transformed into vibration.
The word has greater power than many rituals
(Brida, Paulo Coelho)


Sudah sangat lama saya tidak menulis dengan rasa bahagia mendekam di hati. Biasanya memang saya masih menulis dengan lumayan teratur tetapi biasanya menulis tersebut disertai dengan suatu "kewajiban" mesti menghasilkan suatu tulisan, apapun itu. Kini saatnya saya menulis dengan ringan dan penuh rasa bahagia karena satu tahap kewajiban sekolah saya sudah terselesaikan. Masih ada beberapa tahap lagi, tetapi rasa bahagia ini sudah lumayan. Saya membayangkan betapa bahagia dan leganya hidup bila tugas besar tersebut betul-betul diselesaikan.

Salah seorang rekan saya menulis apa kebahagiaan bagi dirinya. Tulisannya menjadi inspirasi saya untuk menulis tentang kebahagiaan dan bagaimana aktivitas menulis merupakan kebahagiaan pula, minimal bagi saya sendiri. Bagi saya kebahagiaan adalah suasana hati personal yang tidak bisa dijelaskan dengan lengkap dan memadai karena tiap orang memiliki definisinya sendiri. Namun kebahagiaan bagi saya adalah menjalani hidup dengan orang-orang, anggota keluarga dan teman-teman, yang menerima kita apa adanya, yang saling memberikan tindakan yang membuat kita hidup dengan nyaman. Ada satu bentuk kebahagiaan lagi bagi saya, yaitu menulis, dan juga membaca.

Menulis membuat saya lebih tersadar akan makna eksistensialisme diri sendiri. Ketika kita bercerita tentang realitas dan makna kita atas realitas itu, ada sesuatu yang sulit tergambarkan. Sebentuk rasa di mana kita sedikit "menggenggam" dunia dan menceritakannya kembali. Bukankah pada dasarnya menulis itu adalah menceritakan kembali dunia atau realitas dengan lebih detail melalui tulisan faktual, dan menciptakan dunia tersendiri, yang dikenal sebagai dunia imajinasi, melalui tulisan fiksional. Itulah sebabnya belakangan ini saya mendapatkan persektif berbeda tentang konsep masyarakat sipil di mana saya sedikit memahami tentang dinamika hidup bersama dalam konteks politik dengan lebih baik, juga betapa indahnya dunia rekaan yang rinci dan solid dalam trilogi  The Hunger Games. Cara pandang agak baru tersebut menjadikan saya semakin mencintai literasi atau kecakapan bermedia berkaitan dengan media cetak dan aksara.

Menulis dan membaca adalah suatu dualitas. Artinya seseorang yang menulis dengan baik biasanya adalah pembaca yang baik. Pembaca yang antusias, bila dikelola dengan benar, biasanya akan menjadikan dirinya penulis yang "benar" pula. Pun dengan menulis dan kebahagiaan, keduanya merupakan dualitas menurut saya. Melalui menulis saya merasakan kebahagiaan yang hangat mengalir di hati pelan-pelan dan mencapai puncaknya ketika tulisan selesai. Kebahagiaan diripun, di mana kita merasa lepas dari beberapa kekangan, kondisi hati yang nyaman, menjadikan kita bisa menulis dengan tenang minimal setengah jam. Sungguh, menulis itu suatu bentuk kebahagiaan, dan saya ingin menjalaninya sepanjang sisa hidup yang saya jalani.

######

Sebuah kapal di Selat Sunda (sekadar ilustrasi)

Selasa, 01 Mei 2012

Fable - Fable (2012)



Fabel adalah dongeng tentang kehidupan manusia yang disampaikan oleh karakter binatang atau makhluk rekaan. Keberhasilan grup ini merilis album kabarnya setelah belasan tahun juga merupakan "dongeng". Walau diproduksi dalam waktu yang panjang, hasilnya oke sekali. Menurut saya ini album yang bagus karena lagu-lagunya tidak beragam dan tidak membosankan. Entah mengapa saya ingat dengan suasana 1990-an kala musik begitu variatif dan belum lahir era musik menye-menye dan boys-girls band modal joget.

Indikasi terkuat bahwa album ini bagus adalah saya belum berhenti mendengarkannya di perkakas pemutar musik, mungkin sudah sekitar dua puluh kali. Bersama album terbaru Fariz RM, Fenomena, album ini sekitar seminggu saya dengarkan terus tanpa ada rasa bosan. Sebagian besar lagu di album ini bicara tentang kegundahan eksistensialis, hal ini juga sepertinya yang membuat mereka lama bisa menghasilkan album. Hal ini tercatat paling tidak hadir di lagu Ta'ada yang Gelap, Duri, dan Rayakan. Eksistensialisme hadir dalam bentuknya yang lumayan konstruktif, misalnya saja petikan lirik berikut ini: terkadang pahit, harus kutelan...harus kuterjang, jernihkan hati, sembuhkan dari segala luka, oh...rayakan hidupmu...hadapi cobaan. Nukilan lirik ini menunjukkan bahwa merayakan hidup itu berarti juga menerima semua konsekuensinya dengan berani. Saya kira potongan lirik ini lebih baik dari kebanyakan pesan motivasional yang banyak muncul di media belakangan ini yang cenderung menepikan hal-hal tak "enak" dalam hidup sehari-hari.

Lagu-lagu yang bertema cinta juga disampaikan dengan cara tak biasa. Hal ini terlihat dari lirik lagu Hollow,... bawalah ke surgamu, janjikan aku...tempat yang indah, ke neraka manapun...ku kan temanimu, asalkan engkau...bersamaku. Setahu saya belum pernah ada lagu berbahasa Indonesia yang merelasikan neraka (kalau surga sih sering) dengan cinta. Melampaui semua pemaknaan ini, saya kira yang terpenting adalah bagaimana kita menemukan "dongeng" kita sendiri dalam hidup. Dongeng yang personal dan indah, dan semoga ada kalimat seperti ini: ....dan bahagia selama-lamanya....

Daftar lagu:
1. Bahagia yang Hilang
2. Hollow
3. Tak Mungkin
4. Duri
5. Percuma
6. Biru Laut
7. Coffee
8. Enyah
9. Ta' Ada yang Gelap (Remastered)
10. Rayakan
11. hidden track

Yovie Widianto, dkk - OST Negeri 5 Menara (2012)



#Belajar Ekonomi Politik Media - Kasus 6#


Album yang merupakan OST dari film berjudul sama ini adalah contoh bagus untuk mengamati ekonomi politik media di Indonesia. Merujuk pada pemikiran Vincent Mosco bahwa ekonomi politik media selalu merujuk pada tiga aktivitas utama yaitu komodifikasi, strukturasi, dan spasialisasi, walaupun komodifikasi adalah aktivitas utamanya. Komodifikasi bisa diartikan sebagai aktivitas kemediaan untuk mengubah nilai fungsi menjadi nilai tukar. Aslinya komodifikasi merujuk pada pesan media walaupun kemudian dapat diterapkan pada pelaku dan konteksnya secara umum.

Komodifikasi mudah diamati dari album ini. Pertama, novel Negeri 5 Menara adalah novel best-seller sehingga konten media dalam format yang lain perlu segera diproduksi agar momen "laris" tersebut tidak keburu hilang. Kedua, karena aktivitas kemediaan yang ditinjau dari ekonomi politik mengamati proses perencanaan, produksi, distribusi, eksebisi, dan juga konsumsi, semua alur tersebut bisa dikelola agar "komoditas" dapat memberikan profit optimal. Album ini sebagai komoditas diatur agar distribusinya terbatas hanya bisa diakses di toko buku gramedia, yang juga menerbitkan novelnya. Gramedia sudah sering melakukan hal yang sama untuk novel-novelnya. Misalnya saja novel the Hunger Games yang dirilis kembali dengan sampul yang sama dengan ilustrasi filmnya, begitu juga Twilight. Untuk produk media musik populer Gramedia juga mendistribusikan secara ekslusif album Musikal Laskar Pelangi dan OST Badai Pasti Berlalu, yang ternyata bermasalah dari sisi hak cipta.

Setelah mendengarkan album ini beberapa kali, menurut saya album ini biasa saja: tidak ada lagu yang "menggedor" sukma. Mungkin bagi siapapun yang menafsir sebuah album OST perlu terlebih dahulu menonton filmnya agar substansi lagu bisa didapat. Namun bila berdasarkan lagu-lagu di dalam album ini saja, isinya agak membosankan karena cenderung seragam. Untuk menonton filmnya dan juga membaca novelnya saya belum terpanggil. Bagi saya isinya mirip dengan banyak kisah-kisah inspirasi yang lain. Kita tahu bahwa banyak sekali konten media dalam berbagai format berusaha menyampaikan inspirasi untuk berusaha, memotivasi untuk maju, dan hal-hal lain yang senada dan "mantra" yang nyaris sama. Masih lumayan substansi Negeri 5 Menara ini yang berusaha menunjukkan bahwa siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan berhasil, nasihat yang sebenarnya sudah kita dengar dari jaman dulu, sampai bujukan yang rada absurd, semisal malas tapi sukses, berhasil dengan utang, dan menjadi kaya dalam semalam.

Walau begitu, OST ini potensial menggapai audiens yang sudah terlanjur suka dengan novel dan filmnya karena biasanya, audiens yang sudah menyukai konten media dalam format media tertentu akan berusaha mengakses konten dalam format media yang lain. Inilah yang menyebabkan komodifikasi mudah terlaksana belakangan ini, era di mana kemajuan teknologi dan daya beli dan kesadaran untuk memproduksi pesan media lebih pada sekadar kuantitas bukan pada kualitas. Era di mana negara semakin abai dengan hak-hak masyarakat atas informasi dan berkomunikasi dengan membebaskan media sepenuh-penuhnya dikendalikan kepentingan ekonomi dan politik, tanpa timbangan sosiokultural.

Daftar lagu:
1. Yovie & Nuno - Man Jadda Wajada
2. Yovie & Nuno - Galau
3. Yunika - Inginku (Bukan Hanya Jadi Temanmu)
4. Basejam - Doamu Ibu
5. Andhika Pratama & Eriska Rein - Menahan Rindu
6. Teza Sumendra & Yunika - Melukis Mimpi
7. Yunika & Ogie Megadalle - Bunga Hatiku
8. Hedi Yunus feat. Titi DJ - Anugerah Cinta
9. Hedi Yunus - Waktu yang Tersisa
10. Alika - Cita Diri
11. Platinoem feat. Ikang Fawzi - The Winner
12. Naara - Cinta

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...