Selasa, 22 Mei 2012

Senyum 3



Bila senyum kita tempatkan dalam konteks cinta, dan senyum bersimbiosis lengkap dengan seseorang yang kita cintai, senyum itu bisa bermakna sangat mendalam dan hanya kitalah satu-satunya yang memahami arti senyuman itu. Senyum punya rahasianya di sini. Asalkan jangan senyum-senyum sendiri saja….Senyum dalam jenisnya yang berdialektika bisa jadi hanya dimengerti oleh dua insan yang saling mencintai. Bila sampai pada titik ini, senyum bisa berarti banyak hal. Senyum bisa berarti semua kebersamaan dalam hari-hari yang dijalani. Senyum bisa berarti kehidupan lalu, kini, dan nanti kedua insan tadi. Apa yang lebih indah selain memecahkan “rahasia” kehidupan bersama orang yang kita cintai?

Secret Smile
oleh Semisonic

Nobody knows it but you've got a secret smile
And you use it only for me
Nobody knows it but you've got a secret smile
And you use it only for me

So use it and prove it
Remove this whirling sadness
I'm losing I'm bluesing
But you can't save me from madness

Nobody knows it but you've got a secret smile
And you use it only for me
Nobody knows it but you've got a secret smile
And you use it only for me

So save me I'm waiting
I'm needing, hear me pleading
And soothe me, improve me
I'm grieving, I'm barely believing it now, now

When you are flying around and around the world
And I'm lying a lonely
I know there's something sacred and free reserved
And received by me only

Senyum 2

Senyum dalam fungsi eksistensialnya bukanlah suatu yang hanya aktif, melainkan juga berdualitas dengan kehidupan seseorang dalam satu hari. Artinya, senyum tidak hanya mengubah suasana hati seseorang tetapi juga dapat membuat seseorang bisa mengisi satu hari dengan kegembiraan, antuasiasme, dan mungkin juga kontemplasi. Tetapi tentu saja senyum tidak bisa dilepaskan dari seseorang. Senyum itu “menempel” pada seseorang. Senyum itu penanda yang unik dari seseorang. Namun bila kita mencintai seseorang, senyumnya tentu saja bisa sangat bermakna dan menjadi penanda penting dari suatu hari.

Can’t Smile Without You
oleh Barry Manilow

You know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when you're sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile without you

You came along just like a song
And brighten my day
Who would have believed that you where part of a dream
Now it all seems light years away

And now you know I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel sad when your sad
I feel glad when you're glad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile

Now some people say happiness takes so very long to find
Well, I'm finding it hard leaving your love behind me
And you see I can't smile without you
I can't smile without you
I can't laugh and I can't sing
I'm finding it hard to do anything
You see I feel glad when you're glad
I feel sad when you're sad
If you only knew what I'm going through
I just can't smile without you

Senyum 1



Senyum itu sepintas aktivitas yang sederhana, tarikan kedua ujung bibir. Mungkin hanya itu. Namun tarikan dua ujung bibir itu bisa berarti banyak makna bila dibubuhi emosi yang tepat dan mendalam. Bayangkan, hanya sebuah senyum, kita bisa merasakan “tenaga” luar biasa. Sampai-sampai kita merasa bisa menjalani hidup yang berat ini hanya karena senyum orang yang kita sayangi.



Lagu slow rock dekade 1990-an ini sangat baik menggambarkan bagaimana hanya dengan satu senyum seseorang menjadi lebih kuat dalam menjalani hidup. Melalui lagu ini kita tahu bahwa kegunaan senyum tidak hanya dalam konteks cinta tapi juga problem yang lebih pelik lagi, masalah eksistensial, karena: kau tersenyum, maka aku ada :D

When I See You Smile
oleh Bad English


Sometimes I wonder
How I'd ever make it through,
Through this world without having you
I just wouldn't have a clue

'Cause sometimes it seems
Like this world's closing in on me,
And there's no way of breaking free
And then I see you reach for me

Sometimes I wanna give up
I wanna give in,
I wanna quit the fight
And then I see you, baby
And everything's alright,
everything's alright


When I see you smile
I can face the world, oh oh,
you know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light, oh oh,
I see it shining right through the rain


When I see you smile
Oh yeah, baby when I see you smile at me
Baby there's nothing in this world
that could ever do


What a touch of your hand can do
It's like nothing that I ever knew
And when the rain is falling
I don't feel it,
'cause you're here with me now
And one look at you baby
Is all I'll ever need,
you're all I'll ever need

Sometimes I wanna give up
I wanna give in,
I wanna quit the fight
And then I see you baby
And everything's alright,
everything's alright

So right...

Jumat, 11 Mei 2012

Rompal

Pagi bersiasat dan hati sedingin ular
Tindakan dibakukan oleh dendam pada akhirnya
Seorang tiran menyamar dengan gendam
berpura-pura tak ingat kesumatnya
Mengaku demokratis padahal bengis

Kini, duka siapa yang semakin teriris?

Rabu, 09 Mei 2012

Karakter Utama Penulis Bagus

Karena keinginan yang lumayan kuat untuk bisa menulis lebih baik, saya banyak membaca buku tentang menulis atau membaca buku-buku dari penulis yang teratur menghasilkan karya yang bagus. Tentu saja di luar kemampuan menulis yang sebagian besar bagus sekali, saya mengamati ada satu karakter yang penting, karakter yang biasanya muncul dari penulis yang karyanya bagus dan menghasilkan tulisan dengan rutin, dan seringkali berjumlah banyak. Karakter tersebut adalah mereka tidak pernah membanggakan dirinya sendiri atas karir kepenulisan yang telah dijalani. Lebih jauh lagi, salah satu penulis favorit saya, Haruki Murakami, tidak pernah berbangga-bangga dengan prestasinya yang cemerlang dalam menulis. Berulang-kali dia bercerita bahwa karirnya menulis bahkan dimulai secara tak sengaja. Pada suatu waktu sehabis menonton pertandingan baseball tiba-tiba saja Murakami merasa bisa menyelesaikan sebuah novel. Perasaan yang kuat itu segera diwujudkan dan pada akhirnya jadilah sebuah novel.

Tentu saja Murakami bersikap rendah hati karena dia tidak bercerita berapa banyak waktu yang dia habiskan untuk membaca buku-buku bagus dan mendengarkan album-album musik kelas satu, yang secara eksplisit muncul di karya-karyanya. Yup, rendah hati. Itulah karakter penulis hebat seperti yang dimiliki oleh Murakami ini. Ada juga seorang penulis muda yang menyampaikan hal yang sama. Penulis itu sudah memiliki banyak karya, yang salah satunya saya baca sekarang ini "Makelar Politik: Kumpulan Bola Liar", walau tidak seeksplisit Murakami, dia pun menyatakan hal yang sama: kehidupan menulis adalah kehidupan yang hanya harus dijalani, tak kurang tak lebih, bukan karena hal-hal lain, semisal ingin dianggap memiliki tulisan yang hebat atau, dalam garis yang sama, ingin dianggap sebagai penulis yang hebat.

Saya camkan benar "pemahaman" ini, bahwa penulis yang baik sangat mungkin bersikap rendah hati dan menulis sahaja, tidak ingin dan tidak  mau mengoar-ngoarkan kepenulisannya. Hal yang seperti ini, orang yang berkoar-koar jago menulis, pada kenyataannya bukanlah penulis yang baik. Saya kenal orang-orang semacam ini dalam kehidupan saya, mereka yang berkoar-koar bisa menulis justru tulisannya biasa-biasa saja, bahkan jarang sekali menulis. Ironisnya, malah mencoba mengajari orang-orang menulis.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang jenis tersebut :)

Selasa, 08 Mei 2012

Menulis adalah Sebentuk Perjuangan

Seorang teman pernah menasihati janganlah berdalih bila tak pernah menulis. Indikator dari menulis sederhana saja, ada atau tidak tulisannya. Kehadiran tulisan yang utuh dan selesai adalah indikator satu-satunya. Dalih tidak diperlukan di sini. Kenyataannya orang-orang yang tak pernah menghasilkan tulisan biasanya akan beralasan ketiadaan waktu, ketiadaan kesempatan untuk menulis, dan lain-lain ketiadaan. Padahal kita tahu, ada orang yang tak pernah berdalih atau menyombongkan diri, namun tulisan-tulisannya mengalir bagai air, tak hanya secara kuantitas berjumlah banyak, rata-rata tulisannyapun berkualitas baik. Saya mencoba tak berdalih lagi bila tak ada tulisan dalam jangka waktu yang lama. Sederhana saja, tidak ada tulisan berarti tidak menulis. Tidak ada alasan lain, semisal tulisannya hampir selesai, tidak ada inspirasi untuk menulis, dan dalih lainnya.

Saya juga menyadari bahwa menulis secara teratur dan rata-rata berkualitas memadai adalah sebentuk perjuangan. Kita mesti berjuang tiap hari untuk menuliskan pengalaman, pemahaman, dan opini kita atas realitas. Seringkali masalahnya adalah kita tidak bisa menuangkan gagasan tersebut dalam bentuk tulisan yang selesai. Seringkali problemnya adalah terlalu banyaknya hal yang mesti dituangkan. Intinya, agar menjadi kebiasaan, menulis mesti diperjuangkan, minimal dalam waktu sehari tiap ide mesti dituliskan. Karena menulis adalah sebentuk perjuangan, janganlah pernah berhenti karena kita tak tahu sampai kapan menulis menjadi sebuah kebiasaan. Bisa setahun lagi, atau bisa esok hari. Sekali lagi, lakukan saja, jangan pernah memikirkan terlebih dahulu kekurangan, dan mungkin, keutamaan tulisan kita.

Jumat, 04 Mei 2012

Menulis: Licentia Poetica Berpadan dengan Polysemia

Sudah sangat banyak buku tentang menulis diterbitkan. Banyak yang bagus, tak sedikit pula yang kualitasnya buruk. Namun kita seringkali lupa bahwa sebanyak apapun buku tentang menulis, sebanyak apapun buku tentang menulis kita baca, kita tak akan pernah bisa menulis dengan baik bila tidak benar-benar melakukannya dengan sungguh dan kontinyu. Saya tidak berusaha menggurui orang lain melainkan nasihat untuk diri saya sendiri. Saya memiliki banyak buku tentang menulis. Sekitar lima buku sangat bagus dan benar-benar menggugah kita untuk menulis. Saya pernah berada dalam kondisi tidak menulis sama sekali, menulis dengan tidak teratur, dan menulis yang tidak memuaskan diri sendiri. Ada apa ini? begitu yang saya pikirkan ketika berada dalam kondisi tersebut. Di mana salahnya, toh saya sudah membaca buku-buku tentang menulis?

Akhirnya, jawaban untuk pertanyaan tersebut perlahan saya "temukan" melalui pengalaman sendiri. Kita baru bisa menulis bila benar-benar berusaha. Bakat dan pengetahuan menulis tidak akan berguna bila tidak ada kesungguhan dalam mengetikkan jari-jari di keyboard atau menulis dengan tangan di kertas atau bahkan mengetik keyboard handphone yang kecil. Pokoknya menggerakan jari-jari tangan untuk menghasilkan untaian kata menjadi kalimat, menjadi untaian kalimat sampai tulisan selesai.

Pada prinsipnya menulis dan membaca itu berdualitas. Artinya, keduanya hadir untuk saling melengkapi. Aktivitas personal berkaitan dengan menulis bisalah kita sebut juga dengan licentia poetica, sementara membaca pada akhirnya bisa menghasilkan sesuatu yang disebut dengan polysemia. Licentia poetica adalah kemampuan penulis "menguasai" kata dalam menulis. Kemampuan ini spesifik pada tiap orang sehingga, sama seperti kepribadian, tidak ada tulisan yang benar-benar sama. Tiap tulisan merupakan hasil pengalaman dan pengetahuan yang personal. Melalui aktivitas membaca, atau menafsir isi media apapun, akan muncul polysemia, yaitu spektrum makna yang muncul setelah membaca. Seseorang yang telah mampu "menguasai" kecakapan membaca tentu saja memiliki spektrum makna yang lebih luas dibandingkan dengan orang yang membaca dengan tidak mendalam.

Licentia poetica dan polysemia biasanya dipelajari sendirian melalui buku-buku yang dibaca dan dipelajari, atau konten-konten media yang diakses. Belajar itu selalu personal dan aktif. Namun kedua hal tersebut bisa juga muncul karena diasah dan digosok bersama-sama. Saya cukup beruntung karena memiliki rekan-rekan yang saling membantu dalam mengasah kemampuan membaca dan menulis. Bagi para pembelajar yang ingin meningkatkan kemampuan menulis (dan juga membaca) disarankan melakukannya bersama-sama dengan strategi dan cara yang digagas bersama, seperti yang dilakukan oleh para pembelajar Ilmu Komunikasi UGM ini: http://31harimenulis.blogspot.com/.

Sekali lagi, bakat dan pengetahuan bukanlah hal paling penting dalam menulis. Hal terpenting adalah MELAKUKAN dengan sungguh-sungguh dan kontinyu. Dengan begitu licentia poetica dan polysemia pada level personal sudah mulai terbentuk. Menulis dan membaca sebagai bentuk literasi adalah salah satu karakter yang menunjukkan beradabnya suatu masyarakat.


Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...