Senin, 06 Mei 2013

Lana Nitibaskara - Spirit of Jazz (2011)

Lana Nitibaskara - Spirit of Jazz (2011)


Konten media untuk anak-anak sangat banyak belakangan ini, terutama untuk buku. Sayangnya tidak demikian adanya untuk musik populer. Konten media untuk anak pada musik populer tidaklah begitu banyak. Walau sedikit, untungnya, konten musik populer tersebut berkualitas bagus.

Fenomena ini paling tidak terlihat pada tiga album untuk anak yang saya amati, yaitu album Lana Nitibaskara, Spirit of Jazz (2011), Calista Amadea (2012), dan kompilasi luar biasa Di Atas Rata-rata (2013).
Kali ini kita membahas terlebih dahulu album yang pertama saya sebut. Album Lana Nitibaskara ini sebenarnya sudah cukup lama dirilis namun baru bisa saya akses tahun ini. Saya cukup banyak mendapatkan informasi mengenai album ini namun berulang-kali mengunjungi toko CD, album ini tak jua didapatkan.

Informasi yang berkisah tentang Lana cukup banyak dan semuanya memuji kualitas vokal dan album Lana tersebut. Sekilas saya juga melihat Lana tampil di sebuah stasiun televisi dan menyanyikan sebuah lagu secara live dan memang terlihat sangat bagus.

Keinginan untuk mengakses album Lana ini semakin kuat, apalagi ketika mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Lana pada dua OST, Ambilkan Bulan dan Upin & Ipin. Suara Lana memang bagus.
Akhirnya secara tak sengaja saya mendapatkan album ini ketika membeli album-album Indonesia lainnya karena mendengar perbincangan dua penjaga toko yang ingin mengembalikan album ini pada distributornya. 
Setelah mendengar informasi tersebut tanpa berpikir panjang saya beli album ini juga.

Ternyata saya tidak keliru. Kami sekeluarga, saya, anak perempuan saya dan ibunya, langsung sangat menyukai album ini. Kami ingat sekali berminggu-minggu album ini tak pernah lepas dari indera pendengaran kami, di rumah dan ketika berkendara, suara Lana yang ciamik menghiasi pendengaran kami.
Genre jazz yang dibawa di album ini begitu menyenangkan sekaligus mengenalkan anak kami pada genre yang katanya rumit di telinga ini. Anak saya bahkan dengan bahagia berhasil menyanyikan semua lagu di album ini dengan liukan vokal mirip dengan vokal Lana.

Lagu yang diramu dan dipilih di album ini juga sangat bagus walaupun terlalu sedikit. Lagu-lagu baru yang dinyanyikan memuat pesan yang cocok untuk anak-anak. Sementara itu, lagu-lagu lama yang dinyanyikan kembali terasa membawa kualitas bagus dan merupakan tafsir “segar” atas lagu versi aslinya. Lagu-lagu lama yang dinyanyikan adalah Cempaka Wangi, New York New York, dan Route 66, walaupun untuk lagu Cempaka Wangi, dua orang yang terhitung kakek dan nenek anak saya mengkritisi bahwa lagu tersebut penuh makna yang tak sesuai dinyanyikan oleh anak-anak.

Daftar lagu:
1. Anak Manja
2. Lagu untuk Mama
3. Oh Papa
4. Cempaka Wangi
5. Persahabatan
6. Route 66
7. New York, New York

Jumat, 03 Mei 2013

Andra and the Backbone - the Best of (2013)

Andra and the Backbone - the Best of (2013)


Sampul belakang dan distribusi album jenis baru

Album ini saya resensi bukan karena materi yang unik atau sangat bagus. Bagi saya lumayan aneh sebuah band sudah menelurkan album the best of dari tiga album saja karena sebenarnya lagu yang bisa dimasukkan belumlah cukup banyak. U2 misalnya, merilis album the best dalam rentang waktu yang sangat panjang dan melewati lebih dari sepuluh album.

Album ini saya resensi karena distribusinya yang unik dan baru pertama saya temui. Sebelumnya kita mendapatkan album terkini melalui distribusi toko buku, jaringan makanan cepat saji, jaringan mini market, bahkan tempat penjualan bensin. Album ini didistribusikan melalui salah satu maskapai penerbangan.
Saya mendapatkan album ini dalam penerbangan dari Jakarta ke Bandar Lampung sekitar sebulan lalu. Lumayan unik namun kurang spesial karena hanya ada dua album yang dijual seperti yang terlihat di katalog penjualan produk selama penerbangan.

Memang banyak cara ditempuh produsen teks musik rekaman untuk mendistribusikan karya mereka dan fenomena ini membuktikan bahwa musik Indonesia masih berjaya. Sayangnya, para insan yang bergiat dalam bidang musik populer yang mesti menemukan kiat sendiri untuk bertahan tanpa ada visi dan bantuan dari pemerintah yang mestinya berperan sebagai fasilitator dan regulator.

Dari sudut pandang materi album sebenarnya cukup bagus namun tiada sesuatu yang baru. Bagi saya Andra and the Backbone sangat bagus di debut album mereka bahkan waktu itu dianggap mengobati kerinduan akan karya Dewa 19 yang mati suri. Ternyata kualitas itu menurun pada album-album berikutnya. Pilihan mereka untuk menjadi bintang iklan salah satu provider dengan bergaya ala Changcuters membuat audiens bingung karena imaji yang mereka gambarkan sebelum jadi bintang iklan tersebut adalah kegaharan bukan lucu-lucuan ala band Mickey Mouse tersebut.

Daftar lagu:
1. Saat Dunia Masih Milik Kita
2. Main Hati
3. Hitamku
4. Tak Ada yang Bisa
5. Seperti Hidup Kembali
6. Musnah
7. Sempurna
8. Lagi dan Lagi
9. Dan Tidurlah
10. Tunggu Aku
11. Mimpi yang Terbunuh
12. Pujaan Hati

Kamis, 02 Mei 2013

Monkey to Millionaire – Inertia (2012)

Monkey to Millionaire – Inertia (2012)



Lumrah bila kita membandingkan output media dari produsen teks yang sama, apalagi bila produsen teks tersebut baru menghasilkan sedikit output kekaryaan. Itulah yang saya lakukan pada album kedua karya Monkey to Millionaire ini. Secara langsung ketika mendengarkan album ini, saya membandingkan dengan karya mereka sebelumnya pada tahun 2009, Lantai Merah.

Hasil mengakses, menafsirkan, dan membandingkan kedua album ini adalah, menurut saya, masih lebih bagus album sebelumnya. Saya ingat sekali tiga tahun lalu ketika mengakses Lantai Merah, saya merasa album tersebut adalah album yang sangat bagus. Semua lagunya menyampaikan pesan dengan kuat, terutama lagu Fakta dan Citra, Replika, dan Strange is the Song in Our Conversation.
Walau begitu, bukan berarti album Inertia ini tak bagus. Hanya saja ekspektasi saya sewaktu membeli album ini di sebuah toko CD di Jakarta adalah album ini paling tidak menyamai Lantai Merah atau bila mungkin, lebih baik lagi.

Dari sisi musik, album ini masih mirip dengan album sebelumnya, sisipan genre grunge ala album-album Nirvana terasa di album ini walau dalam porsi “manis” yang lebih banyak. Untuk lirik, sedikit ada penurunan dari album sebelumnya yang sangat tajam.

Lirik di album ini masih membicarakan apa yang seharusnya dibicarakan oleh band yang bukan arus utama. Ada sedikit kritik sosial seperti pada lagu Sepi Melaju dan Tanpa Hati. Juga terdapat penafsiran relasi yang tidak cinta menye melulu seperti dalam Senja Membunuh.

Daftar lagu:
1. Humiliation
2. Sepi Melaju
3. Senja Membunuh
4. Parade
5. Summer Rain
6. M. A. N.
7. Anoreksi
8. Ruang Rasa
9. Jail on Fire
10. Tanpa Hati




VA - Frekuensi Perangkap Tikus, Kompilasi Musik Anti Korupsi (2013)

Various Artist - Frekuensi Perangkap Tikus, Kompilasi Musik Anti Korupsi (2013)



Korupsi adalah problem yang sangat akut di Indonesia. Korupsi sudah menggerogoti seluruh kehidupan berbangsa, mulai dari sogokan pengurusan surat-surat keterangan personal sampai masalah lingkungan hidup, bahkan bidang yang mestinya “steril” dari korupsi tak luput dicemari juga, bagian pemerintah yang mengurusi agama. Kita pasti ingat kasus korupsi Al Quran yang kini sedang ditelisik itu.

Bidang lain yang juga mestinya jauh dari korupsi juga mengalami hal yang sama, bidang pendidikan. Menjadi ironis ketika kita memperingati Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei ini, kita dikagetkan dengan maraknya korupsi di kampus-kampus, baik yang sudah berdiri maupun akan didirikan.

Dalam situasi yang sulit semacam ini ragam perlawanan terhadap korupsi memang mesti dilakukan. Selain tindakan-tindakan riil dalam mencegah dan mengadili korupsi, diperlukan pula distribusi pesan ke masyarakat agar mereka mengenal korupsi dan menyadari konsekuensi hukum dari tindakan tersebut.

Tahun lalu Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia telah merilis film anti korupsi berjudul “Kita Vs Korupsi” yang menyasar generasi muda agar memahami tindakan korupsi. Rupanya film saja belum cukup, KPK bekerja sama dengan penyanyi dari beragam genre merilis album kompilasi “Frekuensi Perangkap Tikus”. Media musik populer juga berpotensi memberikan penyadaran betapa membahayakannya korupsi.

Kelebihan dari album ini adalah ragam musik dan tema yang diusung. Musiknya mulai dari alternatif sampai techno, temanya pun begitu, walau ada dalam koridor besar korupsi namun korupsi tersebut ada dalam berbagai bidang, lingkungan hidup, pendidikan, dan politik riil.
Kekurangannya, album ini tidak bisa menjangkau audiens yang luas karena penyanyi dan musik yang diusung bukan dari kalangan arus utama. Target audiens dari album ini betul-betul spesifik, padahal sebenarnya korupsi sudah begitu masif. Atau paling tidak bisa dirilis kompilasi serupa yang diisi para penyanyi arus utama, daripada mereka hanya tampil lipsinc dan joget-joget tak jelas di televisi.

Semua lagu di album ini bagus, namun saya sangat menikmati lagu dari Morfem, Kami Bosan Jadi Negara Dunia Ketiga, yang iramanya enak dan liriknya menohok sekali. Lagu Suap Suap  dari Harlan juga menarik karena memplesetkan kata suap dengan lirik lumrah backing vocal…suap suap. Saya tak bisa berhenti tertawa mendengarkan lagu ini dan lagu dari Iksan Skuter. Tawa lepas untuk lagu pertama dan tawa miris untuk lagu yang kedua. Jangan lupakan pula lagu Partai Anjing dari Iksan Skuter, yang penuh metafor sekaligus jenaka. Lagu kritik terpedas yang saya dengarkan belakangan ini dan setidaknya menunjukkan bahwa lagu kritik belum mati di Indonesia.

Daftar lagu:
1. Adrian - Di Sekolah-Sekolah
2. Morfem - Kami Bosan Jadi Negara Dunia Ketiga
3. Harlan - Suap Suap
4. Iksan Skuter - Partai Anjing
5. Risky Summerbee and the Honey Thief – Subterfuge
6. Eyefeelsix feat. Orgue Vanguard - Mimpi Basah Pembangkang Sipil
7. Navicula - Mafia Hukum
8. Simponi – Vonis
9. Zeke Khaseli - Julius Alpha
10. Sajama Cut - Kings & Barbarians


Rabu, 01 Mei 2013

Maliq & D'Essentials – Sriwedari (2013)

Maliq & D'Essentials – Sriwedari (2013)


Keragaman alemen bila diolah dengan baik dapat menghasilkan kesatuan konten yang bagus. Itulah yang bisa kita dapatkan dari album terkini Maliq & D’Essentials, Sriwedari (2013). Album ini hasil kombinasi dari banyak aliran musik dan dapat digabungkan dengan pas.
Dari kelima album mereka, album inilah yang menurut saya paling menarik perhatian sejak awal lagu dan tidak membosankan didengarkan sampai akhir. Tidak seperti keempat album sebelumnya, yang kita dengarkan intens hanya pada satu dua lagu.

Sejak lagu pertama album ini telah menarik indera pendengaran kita. Lagu ini seolah menjadi manifesto bahwa mereka ingin membuat sesuatu yang ingin dikenang, Sing! Make It Last Forever. Maliq & D’Essentials bahkan lumayan berani dengan menggunakan dangdut dalam lagu Drama Romantika, yang ternyata sungguh asyik dan mengajak berjoget.

Keenam lagu lainnya juga enak didengarkan karena musiknya yang variatif. Bila divisi musiknya bagus, demikian juga dengan divisi lirik dari album ini. Semua lagu berbicara tentang relasi, terutama relasi cinta, yang tidak cengeng walau agak terdengar tipikal, misalnya saja pada lagu Beautiful Disaster, if loving you is wrong, I don’t wanna make it right. Hanya satu lagu yang bicara tentang relasi sosial, Dunia Sekitar. Di atas semua lagu, Setapak Sriwedari  adalah lagu dengan lirik paling puitis di album ini.

Kalaupun ada sedikit kekurangan, album ini mengandung terlalu sedikit lagu. Rasanya kita baru menikmati konten media enak tetapi tahu-tahu sudah berakhir ketika akses, tafsir, dan relasi kita pada teks belumlah lengkap dan utuh.

Daftar lagu:
1. Sing! Make It Last Forever
2. Setapak Sriwedari
3. Drama Romantika
4. Menghilang
5. Dunia Sekitar
6. Beautiful Disaster
7. Janji
8. Inilah Kita

The Upstairs – Katalika (2012)

The Upstairs - Katalika (2012)


Nampaknya  dia diutus oleh Tuhan…petikan lirik dari lagu Sekelebat Menghilang dapat menggambarkan betapa album ini benar-benar “diutus” untuk dirilis dan benar-benar bermakna bagi kita.
Setelah sekian lama tidak mendapatkan album Indonesia bagus di pasaran album Katalika ini benar-benar bermakna, menjadi pelepas dahaga akan konten musik rekaman yang bagus. Album ini agak lama bisa saya akses karena tidak di ada di Yogya, barulah ketika saya ke Jakarta, saya mendapatkan album ini.

Kenyataan ini sebenarnya menunjukkan anomali musik Indonesia, di era distribusi yang semakin canggih, pendengar setia musik Indonesia mesti mencari album fisik dan tak diberi kesempatan untuk mendapatkan via online. Rantai distribusi yang beragam juga tidak membantu, jaringan raksasa toko buku, brand ayam goreng terkenal, dan minimarket yang ada di pelosok negeri, tidak membantu distribusi album-album bagus, yang terbantu mungkin hanya album-album kacangan.

Sementara itu, toko-toko CD yang sejatinya menjadi distributor album semakin sepi dan meranggas. Album-album baru sangat jarang karena diambil oleh jalur distribusi baru. Satu kelebihannya, kita masih bisa mengakses album-album lama yang bagus, itu pun untung-untungan, karena biasanya album bagus juga selalu diburu oleh para pengakses musik Indonesia.

Tidak hanya album terakhir the Upstairs ini sebenarnya yang “diutus oleh Tuhan”, bagi saya, the Upstairs sebagai band dan sebagau produsen teks musik populer, benar-benar tak sengaja saya akses pada album komersial pertamanya, Energy (2007), dan menjadi salah satu konten yang membuat saya menyukai musik Indonesia secara mendalam. Album tersebut menjadi salah satu album Indonesia yang sampai sekarang seringkali saya dengarkan.

Kembali pada materi album Katalika, tiada tafsir buruk pada semua lagunya. Lagu-lagu di album ini sangat bagus, terutama Sekelebat Menghilang dan Berbangga Sejenak. Entah mengapa album ini mengingatkan saya pada album terbaik milik Pet Shop Boys, Behaviour (1991), di mana setiap lagu pada album sangat bagus, memberikan “efek kejut”, dan berbeda karakternya pada tiap lagu, namun dalam satu kesatuan album memberikan impresi yang sangat bagus.

Sedikit kekurangan, hanya ada sembilan lagu yang ada di album ini. Rasanya sayang, mendengarkan album bagus namun sebentar aksesnya karena lagu tak banyak. Itu pun ada dua lagu lama yang dinyanyikan kembali.

Sayangnya, lagu Percakapan dan Matraman yang dinyanyikan ulang kurang berhasil, karena masih kalah bagus dibandingkan versi awalnya. Percakapan misalnya, yang berasal dari album Magnet! Magenet! (2009) terasa sebagai percakapan yang terjadi, bukan sebagai percakapan yang dibicarakan, kata benda.
Melampaui tiap lagu di dalamnya, album ini memberikan kesegaran indera pendengaran setelah sekian lama.

Daftar lagu:
1. Sekelebat Menghilang
2. Layak Dikenang
3. Pergi di Kala Mimpi
4.  Menaralara
5.  Berbangga Sejenak
6.  Rona Merah Tembaga
7.  Selamat Datang di Tubuh Kami
8.  Percakapan
9. Matraman


Selasa, 30 April 2013

Menulis (Mestinya) Sebagai Sebuah Kebutuhan



Dengan malas sama amati blog saya yang sudah sebulan lebih tidak terisi dengan tulisan baru. Tadinya tulisan ini bakal menjadi tulisan penyesalan atau penggalauan atau apalah yang tidak konstruktif bagi diri sendiri, namun langsung saya batalkan karena saya sudah terlalu sering menghasilkan tulisan semacam itu.

Beratus kalimat dan paragraf saya baca untuk mengaktifkan kembali hasrat menulis namun belum jua didapatkan kembali. Salah satu masukan yang bagus adalah “jadikanlah menulis sebagai sebuah kebutuhan”. Tulisan motivasional terbaik dalam sebulan ini pun tidak meletupkan penutup sumbat hasrat menulis saya. Saya tahu pasti bahwa menulis bukan lagi sekadar hobi bagi saya. Menulis mestinya sudah menjadi kebutuhan, atau bahkan sebenarnya bagi profesi saya, menulis adalah alasan untuk bertahan hidup, “survival”. Namun ternyata masukan yang bagus ini pun belum mengena dengan tepat.

Bermacam cara telah saya tempuh untuk melepas sumbat itu, dua di antaranya adalah dengan mendengarkan kembali musik 90-an dan membaca fiksi. Di perangkat pemutar musik sudah tersimpan U2, REM, Manic Street Preachers, Travis, Third Eye Blind, Suide, dan beberapa lagi, namun sama saja, tidak berpengaruh pada hasrat yang kuat untuk menulis lagi. Biasanya bila mendengarkan lagu dari era 90-an antusiasme menulis itu bisa terpantik. Ternyata tidak.

Membaca fiksi biasanya bisa membantu saya menulis. Banyak fiksi yang saya baca, terutama novel-novel detektif, antara lain seri Hannibal yang memang sangat memukau itu, juga The Day of The Jackal yang super keren. Namun saya hanya berhenti pada membaca dan membaca, tidak pada aktivitas menulis. Saya sudah bosan menjadi audiens yang pasif, yang hanya mengakses dan memaknai pesan media tanpa memproduksi teks baru. Namun memang beberapa minggu tidak ada efek yang signifikan.

Sampai pada hari ini, di tanggal terakhir di bulan Mei. Saya hanya kesal dengan diri sendiri, masak bulan ini sama sekali tak ada tulisan apa pun? Saya bertanya dan memarahi diri sendiri.
Bila tulisan saya sampai di baris  ini, berarti saya memang kembali memproduksi tulisan “galau” yang tak jelas dan tak konstruktif. Saya mesti mengkisi apa penyebab dalam waktu selama ini tidak menulis dengan antusias dan rutin, tulisan hanya hadir seukuran mini, status-status Facebook tanpa didedahkan lagi.

Menelisik diri sendiri, paling tidak ada tiga penyebab saya tidak menulis belakangan ini. Pertama, terlalu banyak yang dipikirkan dan tidak bisa memfokuskan pada satu topik yang kemudian mengerucut pelan-pelan menjadi tulisan. Karena itulah saya sangat kagum dengan seorang rekan yang berpikir satu topik dan sangat fokus, dan pada akhirnya muncul sebagai opini di harian ternama nasional.

Kedua, merasa kurang bermakna dengan hal yang ditulis. Perasaan semacam ini tidak sering muncul sebenarnya, namun bila sudah hadir di hati, rasanya berat sekali. Apalagi bila ditambah dengan pelemahan oleh orang-orang yang ada di sekitar saya, untuk apa menulis tentang musik toh tidak bisa main musik, untuk apa menulis tentang sepakbola, toh tidak pernah berolahraga sepakbola, atau lain-lain komentar yang semestinya tidak berpengaruh, namun terkadang perasaan tak bermakna memang tak bisa dipilih. Dia hadir sendiri bagi racun yang melemahkan diri.

Terakhir, dan saya sadar ini yang terpenting, satu hal yang ingin saya kerja dan selesaikan namun tidak pernah bisa berfokus terlalu lama, menulis sesuatu yang besar dan penting bagi saya. Memikirkannya saja membuat saya merasa bersalah dan tidak bisa menulis hal-hal lain yang lebih kecil dan kurang penting dibandingkan tulisan ini nantinya.


Ah, entahlah, saya hanya ingin menyelesaikan hal besar itu….Untuk sementara, paling tidak, saya tidak membiarkan blog ini kosong selama sebulan. Hal-hal lain yang lebih penting bisa dipikirkan kemudian dan tentu saja diwujudkan dalam tulisan, tulisan, dan tulisan sangat mendalam (disertasi).

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...