Minggu, 22 Mei 2011

Ayam Bercengkerama dengan Hujan

Saat-saat sekarang ini saya merasa aktivitas berliterasi, membaca dan menulis, begitu nikmat dan membahagiakan. Tidak pernah saya merasakan hal seperti ini sebelumnya. Sebelumnya saya seringkali menganggap membaca itu aktivitas “biasa” yang mengalir bersama kesenangan dan tugas. Menulis juga begitu. Menulis hanya sebagai hal-hal yang normal atau paling tidak sebagai suatu “kewajiban” yang mesti dilakukan. Kini bagi saya, membaca dan menulis adalah masalah eksistensial pula. Ada kegamangan tak bertepi bila cukup lama tak membaca dan menulis dengan baik dan benar (kalimat ini sepertinya agak berlebihan ya? :D).

Biasanya saya merayakan kecil-kecilan tulisan saya setiap kelipatan seratus. Semacam apresiasi untuk diri sendiri. Walau mungkin distigma sebagai modus narsistik, tujuan saya sebenarnya sederhana saja: hanya ingin sekadar memberi semangat pada diri sendiri agar terus menulis. Selain merasakan hal baru lewat menulis, dan juga membaca, saya tahu pasti bahwa keberadaan komunitas rekan-rekan yang juga mengambil kebahagiaan dengan menulis, adalah salah satu alasan mengapa merasakan betul indahnya menulis. Salah satu komunitas itu adalah kumpulan pembelajar di jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Mereka membuat kegiatan #31 hari menulis yang menurut saya brilian. Tulisan-tulisan mereka menghibur dan menginspirasi saya. Ada tulisan yang cerdas, unik, lucu, dan juga biasa saja. Walau begitu semua tulisan ini membahagiakan, tidak sangat bagus namun lengkap dan memadai.

Secara tak sengaja pula ketika saya menyumbang tulisan penyemangat untuk mereka, saya teringat salah satu buku dari tahun 2001 yang pernah saya beli, buku yang diterbitkan oleh Indonesia Tera. Buku itu karya Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul “Hujan Menulis Ayam”. Buku kumpulan cerpen itu sebenarnya biasa saja, jauh dengan puisi-puisi SCB. Untuk puisi, memang SCB adalah salah satu “dewa”-nya Indonesia. Walau tidak sangat bagus, judul buku itu memang menyiratkan “pemberontakan”, karakter yang melekat pada SCB. Apa lagi yang bisa kita maknai dari judul “Hujan Menulis Ayam” sebagai sebuah manifestasi keberanian dalam menulis? Kira-kira itulah yang saya dapat dari buku ini walau ternyata sebenarnya judul buku ini berasal dari tiga cerpen yang berbeda, yang berjudul “Hujan”, “Menulis”, dan “Ayam”. Semua cerpen di buku ini unik dan “menggigit” pada akhir ceritanya dan taat dengan konvensi penulisan. Berbeda sekali dengan puisi-puisi SCB.

Inspirasi yang ditawarkan oleh SCB adalah keberanian. Keberanian untuk menulis dengan cara dan gaya sendiri. Bila saya boleh menambahkan, untuk membaca pun tiap individu memiliki cara dan gayanya sendiri. Gaya tiap orang untuk menulis bisa beragam. Ada yang sangat konvensional, menulis dari kalimat pembuka sampai penutup dengan lurus dan langsung selesai. Ada rekan saya, yang menulis bisa pada tiap bagian tulisan dan kemudian “dironce” satu persatu menjadi sebuah tulisan utuh. Kualitas tulisan tidak ada hubungannya dengan cara menulis dan gaya tulisan. Juga dengan membaca. Tiap orang memiliki gaya membacanya masing-masing. Ada yang hanya membaca buku fiksi. Ada yang lebih sering membaca buku non-fiksi atau ilmiah populer. Ada yang keduanya. Ada yang dalam satu waktu hanya membaca satu buku. Ada yang dalam satu kurun waktu membaca lebih dari satu buku. Pilihan terserah pada masing-masing individu asalkan aktivitas membaca personalnya itu berguna bagi dirinya.

Judul yang saya gunakan untuk tulisan ini, “Ayam Bercengkerama dengan Hujan”, jelas berasal dari judul buku SCB ini. Inspirasi yang mengajak kita berbahagia dan menikmati aktivitas membaca dan menulis kita. Menulis bagi saya bukan untuk menulis itu sendiri tetapi untuk tujuan-tujuan lain sekalipun hanya mikro saja. Secara personal menulis dapat membuat kita mensyukuri hidup. Aktivitas kecil tetapi bermakna. Kini saya menemukan langgam dan modus saya sendiri. Saya berusaha tidak membedakan dengan tegas menulis, dan juga membaca, untuk fakta atau pun fiksi. Bila ingin menulis agak “serius”, saya akan menulis saja. Bila berupaya untuk menghasilkan fiksi pendek ataupun puisi, saya akan berproses saja tanpa berusaha mengekangnya terlalu ketat. Teknisnya pun ternyata sangat mudah. Saya mengambil inspirasi dari banyak rekan yang berusaha setiap hari menulis apa pun di blog-nya masing-masing dan ternyata itu sangat membantu. Ini sudah menjadi resep menulis saya setahun terakhir ini. Tulisan utuh bisa didapat dari tulisan-tulisan cepat tadi dengan “polesan’ dan “pahatan” sana-sini. Intinya tulisan jadi utuh terlebih dahulu. Pun dengan aktivitas membaca. Ternyata saya akan lebih cepat menulis bila saya membaca buku fiksi, terutama novel yang sangat panjang. Novel dengan ratusan halaman membantu stamina membaca dan menulis kita terus ada. Suasana hati juga akan terbentuk baik agar kita terus membaca buku lain yang lebih “serius”, misalnya buku teks, dan mendukung kita untuk terus menulis. Tentu saja, modus ini memiliki kelemahan yang begitu jelas terlihat. Kita menjadi terlalu asyik membaca fiksi dan melupakan yang lain. Saya pernah mengalaminya di masa lalu namun saya berusaha betul mengatasinya di masa sekarang. Paling tidak ini sudah terbukti. Minggu kemarin saya menyelesaikan trilogi Millenium, kisah Salander dan Blomvist, dan juga beberapa tulisan. Kini saya membaca kembali Musashi dan Senopati Pamungkas sambil berusaha menyelesaikan tugas besar yang sudah menanti diselesaikan dalam waktu yang lama.

Saya mencoba menjadi “ayam” yang terpukau dengan hujan kata-kata. Ayam yang berbasah-basah namun bahagia dengan membaca dan menulis. Saya berupaya terpikat berkali-kali lagi dengan hidup yang indah dan membahagiakan ini. Ternyata itu bukan upaya yang terlalu berat. Mari sama-sama mencoba menemukan makna eksistensial dari membaca dan menulis masing-masing. Siapa tahu kita menemukan makna baru dari hidup sendiri melalui membaca dan menulis. Kita bisa mengadaptasi aforisme Descartes yang terkenal itu: aku membaca dan menulis dengan baik, maka aku (semakin) ada. Selamat berliterasi teman-teman!

Literasi Media: Pengantar Memahami Konsep dan Praksis

Pengantar

Bila dilihat mendalam dan dibandingkan interaksi antar empat entitas, negara, pasar, media, dan masyarakat, bisa dikatakan perkembangan masyarakat dalam berinteraksi dengan media sedikit lambat. Hal ini berbeda dengan interaksi media dengan entitas yang lain. Interaksi antara media dengan negara berjalan cukup seimbang di mana keduanya saling memanfaatkan untuk masing-masing. Negara dapat menyusun regulasi yang sedikit banyak dapat “mengatur” media, sementara di sisi lain media masih cenderung bebas dan menjadi institusi yang penting bagi demokrasi. Interaksi media dengan pasar juga berjibaku relatif seimbang karena kemudian media bisa memantau pasar agar tidak terlalu besar sementara media sendiri semakin menjadi wahana pertemuan antar elemen dalam motif mencari profit dan memenuhi kebutuhan. Efek negatifnya adalah media semakin tercerap pasar dan semakin bermotif komersial. Pada titik inilah, media berinteraksi secara tidak seimbang dengan masyarakat.

Masyarakat Indonesia saat ini dibombardir oleh sangat banyak informasi dengan relatif sedikit kemampuan untuk mencernanya. Kebanyakan masyarakat Indonesia memasuki lautan informasi tanpa kemampuan memadai untuk berlayar mengarungi samudera tersebut. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju juga memunculkan media baru yang semakin menambah kompleks kehidupan bermedia masyarakat Indonesia. Hal ini semakin diperparah dengan pemerintah yang relatif gagal melindungi warga melalui regulasi yang telah ada. Regulasi yang ada malah cenderung melindungi penguasa dengan terlalu banyak mengebiri masyarakat sipil dan tidak mengatur aparat pemerintah bila abai dalam menjalankan tugasnya dalam mewujudkan salah satu hak dasar warga negara, mendapatkan informasi dan berkomunikasi.

Pada titik inilah literasi media sebagai sebuah konsep akademis dan konsep populer yang semestinya berkembang di masyarakat, menjadi semakin memiliki ugensi. Sayangnya, pemahaman atas literasi media masih sangat beragam. Pada beberapa aspek, pemahaman yang meluas tersebut sangat baik bagi perkembangan sebuah konsep, sayangnya tidak demikian dengan pemahaman atas konsep literasi media. Pemahaman yang muncul di dunia akademis dan masyarakat cenderung memasukkan konsep apa pun di dalam terminologi literasi media, terutama dibaurkan dengan konsep pemantauan media (media watch) dan pendidikan media (media education). Tulisan ini paling tidak mencoba memberikan sedikit sumbangan bagi urun rembug aspek konseptual dan praksis dari literasi media.

Karena pada dasarnya setiap konsep mengenal lokus dan fokus, tulisan ini diawali dengan upaya pendedahan konsep literasi media dari lokus dan fokusnya dan dengan sendirinya membedakan dengan konsep-konsep lain, yaitu dengan konsep pemantauan media dan pendidikan media sehingga didapatkan garis demarkasi yang tegas, walaupun sebenarnya pada ketiga konsep tersebut muncul juga titik singgung. Setelah penjelasan tersebut, akan coba dipaparkan juga ragam jenis literasi atau bisa kita sebut dengan kecakapan bermedia karena pada dasarnya konsep ini melingkupi himpunan sub-konsep lain yang lebih luas dan mendalam. Paling tidak kita mengenal tiga jenis kecakapan bermedia, yaitu pertama, literasi itu sendiri, dalam pengertiannya yang lebih sempit sangat dengan media cetak. Kedua, literasi media, yang walaupun memakai istilah media, sebenarnya sejak kemunculannya sangat lekat dengan media audio-visual. Dan ketiga, literasi media baru atau literasi digital, yang melingkupi kecakapan dalam berinteraksi dengan media internet, handphone, dan game. Pada akhir tulisan akan coba didiskusikan peran berbagai entitas untuk mengembangkan literasi media lebih jauh lagi di masyarakat kita yang semakin erat dengan perkembangan media, terutama media baru.

Diskusi

Lokus adalah tempat atau “wilayah” literasi media terjadi atau bereksistensi. Lokus literasi media ada di wilayah siapa pun yang mengakses media. “Siapa” di dalam studi ilmu komunikasi adalah khalayak yang menggunakan media. Lokus utama ini bisa juga disebut dengan lokus mikro. Lokus mikro adalah semua individu yang menggunakan media dan terutama individu yang rentan terhadap pengaruh media karena berbagai hal. Walau banyak faktor yang dapat menyebabkan individu rentan terhadap media, faktor belum munculnya kecakapan yang memadai dalam menggunakan media adalah faktor yang utama. Anak-anak dan remaja di dalam keluarga dan siswa di sekolah adalah contoh individu yang rentan ketika “berhadapan” dengan media. Mahasiswa atau pembelajar di perguruan tinggi pun dapat pula rentan bila tidak dibekali kecakapan bermedia yang memadai.

Selain lokus mikro, kelompok atau berbagai komunitas di dalam masyarakat juga bisa menjadi lokus literasi media. Beberapa kelompok penggiat literasi media di Yogyakarta misalnya berfokus pada kelompok ibu-ibu rumah tangga di pinggiran kota agar memiliki tingkat literasi media yang lebih baik. Pada level yang makro literasi media juga dapat diamati. Masyarakat Yogyakarta misalnya, relatif memiliki literasi media yang memadai, sementara masyarakat Indonesia secara umum dipahami belum memiliki tingkat literasi media yang memadai.

Seperti halnya berbagai konsep yang lain, literasi media juga memiliki fokus. Paling tidak ada lima fokus atau fungsi aksiologis dalam literasi media. Pertama, peningkatan kecakapan individu dalam menggunakan media. Kedua, pemahaman yang lebih baik atas realitas sesungguhnya melalui realitas media. Hal ini terutama diterapkan pada orang dewasa atau orang tua dalam menemani anak-anaknya dalam berinteraksi dengan media (Orange& O’Flynn, 2007). Ketiga, literasi media sebagai sebuah upaya pembelajaran. Hal ini dekat dengan konsep pendidikan media walau sedikit berbeda fokusnya. Pada literasi media, pembelajaran tersebut merujuk pada cara informasi dikemas dan didistribusikan. Fokus ketiga ini biasanya ditujukan untuk anak-anak yang sekaligus merupakan siswa di sekolah-sekolah (Bus & Neuman (eds.), 2009). Keempat, literasi media berfokus pada pemahaman kritis atas apa yang disampaikan oleh media. Pemahaman kritis ini terutama bertujuan membuat khalayak mengambil manfaat bagi dirinya sendiri dengan merefleksikan pengalaman personal hidupnya. Terakhir, fungsi aksiologis dari literasi media pada level makro adalah untuk pemberdayaan masyarakat. Pada dasarnya literasi media adalah salah satu cara untuk menguatkan masyarakat sipil ketika berhadapan dengan media, terutama korporasi media yang cenderung semakin besar.

Lalu apa definisi dari literasi media? sebenarnya cukup banyak definisi literasi media yang tersebar di berbagai buku dan jurnal akademis, namun penulis memilih definisi literasi media yang disampaikan oleh James Potter, yang menurut penulis paling memadai, yaitu: A set of perspectives that we actively expose ourselves to the media to interpret the meaning of the messages we encounter. We build our perspectives from knowledge structures. To build our knowledge structures, we need tools and raw material. These tools are our skills. The raw material is information from the media and the real world. Active use means that we are aware of the messages and are consciously interacting with them (Potter, 2005: 22).

Melalui definisi tersebut dapat dipahami bahwa literasi media adalah sebentuk “alat”, sementara kumpulan informasi atau pesan adalah “bahan mentahnya”. Dengan demikian, pembicaraan mengenai literasi media tidak mungkin meninggalkan diskusi mengenai isi pesan media secara langsung maupun sebagai titik awal membicarakan media dalam lokus yang lebih luas. Berdasarkan isi pesan media inilah kemudian muncul klasifikasi literasi media berdasarkan pesan, yaitu literasi media untuk berita, hiburan (fiksi), dan iklan. Semuanya berbasis pada tujuh kecakapan yang akan diungkap berikutnya walaupun ditambahi dengan karakter pada masing-masing jenis pesan media.

Definisi tersebut sekaligus juga menjadi pembeda dengan konsep pendidikan media. Literasi media tidaklah sama dengan pendidikan media walau banyak kelompok masyarakat sipil atau penggiat literasi media menggabungkannya. Perbedaan tersebut bisa dilihat pada dua aspek, yaitu fokus dan tingkat kecakapan yang berusaha dimunculkan. Literasi media bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman dan kecakapan pada individu dalam menggunakan media, sementara pendidikan media bertujuan untuk melahirkan pemahaman. Aspek kedua, tingkat kegiatan literasi media bisa sampai pada produksi pesan agar pemahaman dan kecakapan yang dimiliki optimal, sementara pendidikan media lebih berfokus pada konteks dan manfaat dari media bila digunakan dalam proses pembelajaran (Lihat Carlsson,Tayie, Jacquinot-Delaunay and Tornero (Eds.), 2008).
Untuk memahami definisi literasi media lebih mendalam sebaiknya dipahami pula bahwa terdapat tujuh elemen utama di dalamnya. Elemen utama di dalam literasi media adalah sebagai berikut:

1. An awareness of the impact of media
2. An understanding of process of mass communication
3. Strategies for analyzing and discussing media messages
4. An understanding of media content as a text that provides insight into our culture and our lives
5. The ability to enjoy, understand, and appreciate media content
6. An understanding of the ethical and moral obligations of media practitioners
7. Development of appropriate and effective production skills
(Lima elemen pertama oleh Art Silverblatt (1995). Dua tambahan elemen oleh Stanley J. Baran dalam Baran, 1999: 49 – 54)

Berdasarkan definisi dan elemen utama literasi media tersebut kita dapat mengklasifikasikan beragam tipe literasi media. Pertama, berdasarkan media yang dituju, literasi media terdiri dari: literasi, literasi media (dalam arti sempit), dan literasi media baru. Kedua, berdasarkan tingkat kecakapan yang berusaha dimunculkan literasi media dapat dibedakan ke dalam tingkat awal, menengah, dan lanjut. Tingkat awal di dalam literasi media biasanya berupa pengenalan media, terutama efek positif dan negatif yang potensial diberikan oleh media. Literasi media tingkat menengah bertujuan menumbuhkan kecakapan dalam memahami pesan. Sementara tingkat lanjut dalam literasi media melahirkan output kecakapan memahami media yang lengkap sampai produksi pesan, struktur pengetahuan terhadap media yang relatif lengkap, dan pemahaman kritis pada level aksi, misalnya memberi masukan dan kritik pada organisasi dan menggalang aksi untuk mengritik media. Selain itu, literasi media berdasarkan lokasi kegiatan dilakukannya paling tidak muncul di tiga tempat, yaitu: di rumah/tempat tinggal, sekolah, dan di kelompok-kelompok masyarakat.

Bisa dikatakan memahami dan memunculkan kecakapan individu dalam menggunakan media adalah tujuan yang utama dalam kegiatan literasi media. Tujuan ini lebih penting bila dibandingkan dengan tujuan mengenalkan media atau pun menumbuhkan pemahaman kritis pada media. Terdapat tujuh kecakapan atau kemampuan yang diupayakan muncul dari kegiatan literasi media (Potter, 2004: 124), yaitu:

 Analysis: breaking down a message into meaningful elements
 Evaluation: judging the value of an elements; the judgement is made by comparing the element of some criterion
 Grouping: determining which elements are alike in some way; determining which elements are different in some way
 Induction: inferring a pattern across a small set of elements, then generalizing the pattern to all elements in the set
 Deduction: using general principles to explain particulars
 Synthesis: assembling elements into a new structure
 Abstracting: creating a brief, clear, and accurate description capturing the essence of message in a smaller number of words than the message itself

Kecakapan di atas sebaiknya juga diperkuat dengan aspek-aspek yang mesti dipahami dalam kegiatan literasi media (Silverblatt, 1995: 13), yaitu:
 Proses
 Konteks
 Framework
 Produksi nilai

Proses di dalam aktivitas penguatan literasi media sangat dipengaruhi oleh tujuan kegiatan tersebut. Bila tujuan dari kegiatan literasi media adalah mengenalkan efek media, prosesnya tentu saja mendahulukan mengakses isi pesan yang diasumsikan berefek tak baik. Sementara itu, bila tujuan untuk mengenalkan aspek produksi, tentu saja prosesnya melibatkan produksi dan semua aspeknya. Konteks juga sangat berpengaruh pada kegiatan literasi media. Maraknya pembicaraan tentang pornografi membuat kegiatan literasi media sebaiknya juga merujuk pada kasus-kasus pornografi di media. Aspek framework terutama berkaitan dengan aspek produksi. Kerangka pandang konten media mempengaruhi kegiatan literasi media, terutama yang berkaitan dengan motif komersial. Terakhir, kegiatan literasi media seharusnya menjadikan individu khalayak media memiliki nilai tersendiri, mana konten media yang dipandang baik dan dipandang buruk.

Hal yang sedikit berbeda muncul di dalam bidang pendidikan media. Media dalam dunia pendidikan memiliki tiga fungsi (Brunner & Tally, 1999: 4 – 9), yaitu:
 Tools for student research
 Tools for student production
 Tools for public conversations

Kita kembali pada diskusi mengenai tipe literasi media, yaitu literasi, literasi media (dalam arti sempit), dan literasi media baru atau literasi digital. Istilah literasi seringkali disinonimkan dengan “melek huruf” walau sebenarnya padanan dalam bahasa Indonesia tersebut malah menghilangkan maknanya yang utama, keaktifan individu. Hal yang sama juga terjadi untuk istilah “melek media” untuk literasi media. Literasi sebagai sebuah konsep akademis muncul pada era 1960-an dan terutama dikaitkan dengan Komunikasi Pembangunan. Literasi digunakan sebagai indikator pembangunan pada dekade 1960-an sampai 1980-an. Misalnya saja tingkat literasi per seribu penduduk. Literasi sangat dekat dengan media cetak dan berfokus pada kecakapan membaca dan menulis. Aktivitas penguatan literasi di masyarakat masih dijalankan sampai sekarang, antara lain oleh majalah sastra Horizon: program Kaki Langit.

Tipe literasi media yang kedua adalah literasi media dalam artinya yang lebih sempit. Literasi media secara umum adalah kemampuan audiens yang bisa diterapkan pada semua individu. Sementara itu dalam pengertian sempit, literasi media lebih berkaitan dengan televisi. Hal ini masih kita lihat di banyak situs penggiat literasi media di dalam maupun luar negeri yang menunjukkan bahwa literasi media itu terutama ditujukan untuk media televisi. Semestinya kini para penggiat literasi media memiliki pemahaman yang relatif sama bahwa literasi media berlaku untuk semua jenis media, media lama atau pun baru.

Terakhir, literasi media baru atau literasi digital adalah konsepsi yang melingkupi kecakapan dan pemahaman untuk media internet, handphone, dan game. Selain tujuh pemahaman yang sama dengan media lain seperti yang dikenalkan oleh Potter, literasi digital ini sebaiknya juga diperkuat dengan pemahaman bahwa pesan media baru memiliki konsekuensi pada personal dan publik, pesan itu konvergen, dan media baru mampu menjadi penghubung pada partisipan komunikasi dari mana saja.

Catatan Penutup

Pada bagian ini kita bisa mendiskusikan berbagai pihak dalam mengembangkan lietrasi media sebagai konsep atau pun praksis di masyarakat Indonesia. Pertama, peran pemerintah. Pemerintah sebaiknya menyusun implementasi hukum atu regulasi yang baik agar masyarakat bisa berperan aktif dan terfasilitasi ketika “berhadapan” dengan media. Pemerintah, dalam hal ini bagian yang mengurusi pendidikan, juga sebaiknya mengembangkan kurikulum yang berkaitan dengan media dan penggunaannya yang memadai. Kedua, peran untuk masyarakat. Anggota masyrakat, dalam hal ini orang dewasa bisa memilih menjalankan tiga peran (Potter, 2004: 232 – 235), yaitu: mediasi aktif, ko-mediasi/pendampingan, atau pun mediasi restriktif. Begitu juga upaya yang telah dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat sipil. Sayangnya, upaya ini belum merata di seluruh wilayah Tanah Air. Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jakarta bisa dikatakan memiliki banyak elemen masyarakat sipil yang menebarkan “virus” literasi media. Sayangnya, hal ini belum cukup dilakukan oleh daerah lain.

Terakhir, adalah peran industri media. Korporasi media sebaiknya tidak hanya menumpuk kapital melalui konten yang diberikannya pada khalayak. Kasus Smackdown di Lativi pada tahun 2006 sebenarnya pada satu sisi menunjukkan terlambatnya media memberikan literasi media. Ketika Lativi pada waktu itu menyiarkan berbagai program bahwa acara Smackdown itu hiburan dan fiksional, upaya tersebut sudah terlambat karena sudah menimbulkan banyak korban di penonton anak-anak. Upaya lain yang pernah dilakukan oleh industri media di Indonesia adalah WAN (World Association of Newspaper) untuk meningkatkan kemampuan membaca khalayak media cetak Indonesia walau gaung kegiatan ini relatif menghilang belakangan ini. Singkatnya, pengembangan literasi media adalah kewajiban kita bersama karena siapa lagi yang mengurusi Indonesia bila bukan kita?



Referensi

Baran, Stanley J. (1999). Introduction to Mass Communication and Culture. London: Mayfield Publishing Company.
Brunner, Cornelia & William Tally (1999). The New Media Literacy Handbook: An Educator’s Guide to Bringing New Media into the Classroom. New York: Doubleday.
Bus, Adriana G. & Susan B. Neuman (Eds.) (2009). Multimedia and Literacy Development: Improving Achievement for Young Learners. London: Routledge.
Carlsson, Ulla, Sammy Tayie, Genevieve Jacquinot-Delaunay and Jose Manuel Perez Tornero (Eds.) (2008). Empowerment through Media Education: An Intercultural Dialogue. Goteborg: The International Clearinghouse on Children, Youth and Media & UNESCO.
Orange, Teresa & Louise O’Flynn (2007). The Media Diet for Kids. Jakarta: Serambi.
Potter, W. James (2004). Theory of Media Literacy: A Cognitive Approach. London: Sage.
Potter, W. James (2005). Media Literacy. Third Edition. London: Sage.
Silverblatt, Art (1995). Media Literacy: Keys to Interpreting Media Messages. London: Praeger.

Jendela

Ketukan pelan satu dua tak juga menyimpulkan
Apakah dia penyembuh atau pembuat luka
Apakah berkas sinar menembus ruang dalam sembilan tipe atau tak terklasifikasi
Tarian bayangan pohon yang menghempas dan terputus tak juga menyadarkannya terik telah menjelang
Mengapa dia selalu saja membicarakan neraka dan surga
Mengapa terus bersikukuh sentuhan kemanusiaan tak mungkin dijalankan

Kita terus saja membajak energi diri
Menghantamkan hampa pada masing-masing
Lupa melangkah pada kesempatan pertama
Refleksi dari kejauhan tak memberikan informasi apa pun
Tahu-tahu waktu telah melangkahi kita

Vari dan Literasi (Celoteh Vari)

Dalam hidup yang fana ini kita bisa mendapatkan banyak kebahagiaan, salah satu kebahagiaan terbesar adalah dititipi Yang Maha Ada seorang anak. Bagi ayah dan ibunya, Vari adalah anak yang luar biasa. Vari adalah permata yang tiap hari menunjukkan kecemerlangannya. Vari adalah oase yang sangat menyejukkan setelah menghadapi hari kerja yang berat. Bukan karena anak sendiri, namun pastinya setiap anak akan membawa kebahagiaan dan kebanggaan tertentu pada orangtuanya. Kebahagiaan bersama orang yang kita cintai, terutama anak, yang paling utama adalah melihatnya berkembang lebih baik, mengamatinya sang anak belajar kehidupan, mulai dari hal-hal kecil sampai hal-hal “besar” dan abstrak. Karena ayah sedikit tahu mengenai literasi media atau kecakapan bermedia, ayah jadi mengamati proses belajar membaca dan menulis dengan detail.

Literasi adalah kemampuan individu dalam memahami pesan media cetak dan dalam level tertentu juga memproduksi pesannya. Literasi berkaitan erat dengan tujuh kecakapan bermedia yaitu menganalisis, mengevaluasi, mengelompokkan, menginduksi, mendeduksi, menggabungkan, dan mengabstraksi. Ketujuh kecakapan bermedia tersebut disampaikan oleh James Potter. Bila dikaitkan dengan dua kecakapan utama yang lain, membaca dan menulis, Vari sudah cukup bagus memahami bacaan-bacaannya, juga secara umum aspek keberaksaraan, lisan maupun tulisan. Ayah dan ibu sungguh bahagia melihat Vari tumbuh menjadi individu yang baik dalam hal literasi. Untuk kisah Vari “berhadapan” dengan dua jenis literasi yang lain, antara lain literasi digital atau media baru, semoga juga bisa dikisahkan lain waktu.

Berikut ini ada empat pengalaman yang sempat dicatat oleh ayah berkaitan dengan literasi yang semakin dipahami oleh Vari:

Membacakan Cerita untuk Ayah

Pada suatu pagi yang terburu-buru seperti biasa, Vari berkata pada ayah “ayah, sudah baca buku ini belum?” Vari menunjukkan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah.
“ceritanya bagus lho Yah.” Vari membuka buku yang berjudul Hadiah Terbaik.
Sepintas ayah melihat buku itu namun karena terburu-buru ayah tidak bisa membacanya “Nanti ya sayang, ayah buru-buru karena ada kuliah pagi.”
“Kalau begitu Vari bacain untuk ayah ya…”
Ayah mengangguk mengiyakan dan tak lama kemudian Vari membaca. Vari membaca dengan lancar dan itu membuat ayah takjub. Untuk anak seusianya, kelas nol besar, kemampuan membaca Vari sangat baik. Ayah terus mendengarkan cerita yang dibacakan Vari. Benar, ceritanya sungguh bagus.
Sembari memakai sepatu ayah mengucapkan terima kasih, “makasih ya sayang ayah sudah dibacain. Ceritanya bagus sekali, apalagi Vari bacanya pas.” Ayah tersenyum kemudian memeluknya. Hal yang mengagetkan sekaligus membuat hati ayah berbunga-bunga adalah ucapan balasan dari Vari.
“Sama-sama ayah. Vari juga berterima-kasih karena ayah selalu membacakan buku sebelum Vari tidur.”

Sudah Nggak Ada

Tadi malam ayah berbincang dengan ibu. Ibu baru saja mendapat kabar bahwa anak temannya yang masih bayi, sekitar lima setengah bulan usianya, meninggal. Sedihnya, ini adalah anak keempat yang meninggal rata-rata dalam usia yang sama. Sambil mengobrol ayah juga bercerita bahwa ada kisah di suatu daerah di mana sebuah keluarga selalu kehilangan anak lelakinya ketika disunat. Kisah ini sepertinya berasal dari cerpen realis yang ditulis Hamsad Rangkuti yang pernah ayah baca.
“Sedih sekali ya bu. Baru sehari dirayakan, esoknya anaknya sudah nggak ada,” ayah meneruskan cerita ayah. Sungguh kami merasa berempati dengan para orangtua yang kehilangan anaknya dengan cara seperti itu. Tidak kami duga, rupanya Vari mendengarkan percakapan ayah dan ibunya.
“Ayah, kenapa sih ayah mengatakan meninggal itu dengan nggak ada?” protes Vari.
Ayah hanya diam tak tahu mesti menjelaskan apa. Ayah hanya berpikir untuk menghaluskan kata supaya tidak membuat sedih.
“Kan nggak ada itu belum tentu sudah meninggal yah…” Vari menjelaskan bak seorang guru.
Ayah masih diam dan berpikir bagaimana percakapan malam dengan ibu dan Vari bisa memberikan pengalaman luar biasa seperti ini. Ayah mencoba menebak bacaan apa yang Vari akses sehingga bisa berdebat mengenai makna kata seperti itu.

Berkreasi

Vari berpura-pura sedang membaca sebuah pengumuman dalam permainan peran yang dilakukannya sendirian.
“Semua anak negeri Calicoc diperbolehkan menyumbang tarian, lagu, atau boleh berkreasi yang lain” Vari berkata sambil berdiri di kursi seolah-olah ada banyak anak lain yang sedang mendengarkan pengumumannya.
Ayah yang sedang membaca-baca buku agak kaget juga. Dari mana Vari mendapatkan kosa kata “berkreasi” itu? Apakah dia tahu arti kata berkreasi? Ayah penasaran dan bertanya: “Sayang, berkreasi itu apa sih?”
Sambil menunjukkan ketidaksukaannya karena permainannya dijeda, Vari berpendapat, “Ayah ini gimana sih masak gak tahu berkreasi? Kan kata itu ada dalam buku-buku Vari. Vari nggak ada waktu menjelaskannya! Perlu waktu lama menjelaskannya...” Vari agak merengut kemudian meneruskan permainannya kembali.
Ayah hanya tersenyum dan masih berpikir dan takjub dengan cara Pemilik Hidup memberikan ilmu membaca dan memahami kata pada seorang anak kecil.

Vari Menulis Puisi

Kemampuan menulis dalam literasi biasanya merujuk pada kemampuan menulis sesuatu yang berbasis kenyataan, katakanlah melaporkan suatu kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada perkembangannya, kemampuan menulis fiksi di dalam literasi menjadi penting. Salah satu penggiat literasi yang penting dan konsisten di Indonesia adalah majalah sastra Horison yang berupaya mengenalkan kemampuan membaca dan menulis fiksi sastra dengan lebih baik lagi pada anak muda Indonesia, terutama siswa SMA. Uniknya, Vari sudah bisa menulis puisi. Kalau menulis cerita faktual maupun fiksional sih Vari sudah sering melakukannya. Cara menulis puisi Vari juga unik. Vari tidak langsung menuliskannya tetapi hanya mengucapkannya, terutama dengan menguji rima pada akhir larik. Seteleh dilisankan itu barulah Vari meminta ibu atau ayah untuk menuliskannya, entah di handphone maupun di kertas. Sudah ada sekitar tujuh puisi yang ditulis oleh Vari. Berikut ini adalah puisi terbaru yang ditulis Vari tanggal 12 Mei 2011 kemarin:

Puisi Matahari

Matahari, sinarmu panas sekali
Cahayamu menerangi bumi
Bersinar sepanjang hari

Matahari pun tenggelam
Lalu gelap, datanglah malam
Bumi menjadi kelam

Oh Tuhan Maha Kuasa
Pencipta alam semesta dan isinya
Akan kusembah selama-lamanya

######

Kamis, 19 Mei 2011

BBB (Belajar Bermedia Bersama) 18 - 19

Pada minggu ke-19 di tahun 2011 ini cukup banyak peristiwa yang berkaitan secara langsung maupun tak langsung dengan ranah ilmu komunikasi. Maraknya pencucian otak oleh gerakan yang dikenal dengan nama NII masih mengemuka. Dari sudut pandang komunikasi pemerintahan kasus ini jelas menunjukkan kelemahan pemerintah. Hal ini ditunjukkan antara lain dengan terburu-burunya pejabat negara menyatakan bahwa NII bukan masalah padahal jelas ini merupakan masalah besar, malah bisa dikategorikan makar. Aneh juga sebenarnya, pemerintah yang sekarang ini bisa begitu risau dengan gerakan mahasiswa ataupun gerakan masyarakat sipil via internet namun “santai-santai” saja dengan gerakan yang jelas-jelas merongrong kewibawaan negara plural ini, tidak hanya pemerintah. Pemerintah yang terburu-buru juga terlibat pada penentuan cuti bersama yang mendadak tanggal 16 Mei kemarin. Mungkin ada yang menganggap ini masalah kecil namun sebenarnya penentuan terburu-buru tersebut bisa menjadi cermin bagi urusan-urusan yang lebih besar.

Hal lain yang bisa dikomentari adalah ketiadaan film-film Barat kelas A di bioskop sekarang ini. Rupanya Asosiasi Importir Amerika meneruskan ancamannya dan sayangnya media tidak memberitakannya dengan intens sebagaimana rencana awal mereka pada bulan Maret lalu. Padahal saya ingin tahu apa komentar orang-orang yang dulunya menyetujui tindakan tegas pemerintah dan mengaitkan permasalahan ini dengan isu nasionalisme. Kini urusannya kita tidak mendapatkan film-film yang berkualitas. Film-film yang diputar sekarang ini hanyalah film-film Barat kelas B dan C. Film-film Barat yang kurang berkualitas ceritanya. Film-film yang ada cuma film-film Indonesia, yang seperti biasa, kacangan dan hanya mengumbar hantu-hantuan dan menyerempet pornografi. Ada juga satu film Indonesia yang lumayan bagus namun siapa yang mau menonton bila diancam akan di-sweeping?

Pertanyaannya, di mana tanggung-jawab pemerintah untuk menyediakan tontonan berkualitas bagi warga negaranya? Kita sebagai warga bisa saja “bergerilya” mendapatkan film berkualitas, antara lain dengan membeli VCD dan DVD legal, namun apa pun yang dilakukan warga berkaitan dengan konten media tidak akan memadai dibandingkan dengan apa yang mungkin dilakukan oleh pemerintah. Karena itulah, semestinya pemerintah menggunakan kekuasaannya itu secara baik agar hak-hak dasar kami mendapatkan informasi sesuai dengan amanah UUD 1945 dapat terpenuhi. Pemerintah bisa menentukan regulasi yang tidak mendadak atas bea impor film kemarin itu. Pemerintah bisa memfasilitasi komunitas film independen agar bisa berproduksi dan memutar film-film mereka. Pemerintah juga bisa mendorong insan film agar mudah memproduksi dan mendistribusikan film tanpa harus dikenai peraturan ini itu yang mengekang. Sungguh banyak sebenarnya yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk memajukan dunia perfilman Indonesia. Saya belum berhenti berharap pada pemerintah yang “mengurusi” film sebagai alat perjuangan bangsa sekali pun pemerintah yang samalah yang gagal mewujudkan pulau Komodo sebagai bagian dari tujuh keajaiban baru dunia.

Hasil riset sebuah lembaga survei bernama Indobarometer juga patut untuk dicermati dan dikomentari. Riset ini menunjukkan bahwa Soeharto, sang tiran, adalah presiden yang paling disukai oleh rakyat Indonesia. Saya tidak ingin mengomentari prinsip-prinsip riset yang mungkin tidak memadai untuk riset tersebut namun hasil riset tersebut menunjukkan absurditas masyarakat kita: “tiran kok dikangeni”, seperti kata komentar paling menusuk yang saya baca di sebuah status FB berkaitan dengan kasus ini. Pertanyaannya, mengapa Soeharto masih diinginkan padahal jelas-jelas dia adalah pemimpin yang menghabisi sebagian rakyatnya sambil tersenyum sehingga dia dijuluki “smiling general”? salah satu alternatif penjelasnya adalah informasi kejahatan Soeharto, keluarga, dan kroninya, yang tidak tuntas diangkat oleh media selama belasan tahun ini. Bagaimana dia mengarahkan kekuasaan untuk kepentingan dirinya dan keluarganya, terutama dalam hal ekonomi, juga bagaimana dia secara sistematis menumpas lawan-lawan politiknya, seringkali dengan cara yang sangat kejam.
Ketika pada masa sekarang hampir semua media, terutama televisi, tidak ada yang secara kritis mengungkap Soeharto dan Orde Baru, saya hanya tersenyum sedih.

Televisi komersial Indonesia jelas dimiliki dan dikelola oleh pemilik yang diuntungkan oleh rejim Orde Baru. Beberapa stasiun televisi dimiliki oleh penggiat Partai Golkar yang dahulu sampai sekarang melindungi “mbah Harto”. Beberapa stasiun televisi masih dan pernah dimiliki oleh anak-anak Soeharto. Jadi jangan berharap televisi bersikap kritis pada mantan Bapak Pembangunan tersebut.
Media yang masih bisa diharapkan untuk mengungkap kejahatan kemanusiaan pada masa lalu adalah suratkabar. Beberapa suratkabar merasakan benar berjibaku dengan kekuasaan otoriter rejim Orde Baru melalui sistem SIUPP yang mereka berlakukan. Entah mengapa, suratkabar-suratkabar tersebut tidak begitu kritis pada saat sekarang ini. Apakah mereka diombang-ambingkan oleh berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini? Padahal bulan Mei ini adalah moment yang tepat sekali untuk mengangkat kembali agenda Reformasi yang melenceng jauh dari tujuannya, padahal Reformasi tahun 1998 itu memakan korban jiwa yang tak sedikit. Kita memang mudah lupa dengan sejarah padahal belum terlalu lama terjadi. Kita cenderung mudah lupa dan media tidak mengingatkannya dengan baik.

Senin, 09 Mei 2011

Hujan Menulis Ayam (Tulisan [Semoga Jadi] Penyemangat untuk “Gerakan” #31 Hari Menulis)

Sedianya saya menulis semacam pengantar ini enam hari yang lalu ketika bung Ardi Wilda Irawan aka Awe yang “sangar” memintanya. Harapan saya pengantar singkat ini paling tidak bisa mengajak pelakon “gerakan” #31 hari menulis untuk tetap antusias menulis sampai ujung bulan Mei. Sengaja saya menggunakan istilah gerakan untuk memberikan kesan aktivitas komunitas ini gahar dan angker. Kira-kira biar miriplah dengan gerakan 1 juta Facebooker menolak studi banding DPR, apalagi anggota DPR yang hanya bisa memberikan alamat email Komisi8@yahoo.com dan plesiran ke stadion mili Real Madrid, Santiago Barnebeau. Lagipula, motif saya yang lain adalah agar peserta “kompetisi” ini tak didenda Rp. 20.000,- per hari bila tak menulis. Kan sayang uangnya, bila tiga hari tak menulis berarti sudah seharga satu album Indonesia. Pada hari ketujuh ini akhirnya saya bisa menulis semacam tulisan pengantar dan penyemangat pada hari keenam dari kegiatan #31 hari menulis. Walau serasa mirip cheerleader karena berperan menyemangati, pada dasarnya menulis itu memiliki banyak fungsi yang beberapa di antaranya coba saya dedahkan pada bagian berikut.

Entah mengapa ketika berniat menulis tentang menulis sekelebat dan agak tiba-tiba saya ingat dengan judul salah satu buku “Hujan Menulis Ayam” karya Sutardji Calzoum Bachri, seorang empu kata Indonesia, yang pernah melakukan pemisahan bentuk formal kata dengan maknanya. Dahulu ketika membaca puisi-puisi Sutardji saya sungguh terkesima sambil bingung. Ini saya tidak terlalu terkesima lagi walaupun tetap bingung…hehe. Saya kira inti dari menulis, seperti yang termaktub dalam judul “Hujan Menulis Ayam”, adalah keberanian. Keberanian si penulis untuk merangkai kata terlebih dahulu tanpa terlalu peduli dengan kualitas. Asalkan tidak menyerang secara personal dan berlebihan, tulisan sebenarnya wajib ditulis dengan tanpa rasa khawatir. Jadi, fungsi pertama dari menulis adalah berani mengutarakan pendapat dan isi hati. Hal ini pun dijamin dalam konstitusi negeri hebat ini. Namun tetap koridor hukum dan etika perlu selalu diperhatikan. Bila sudah terpenuhi semua, jangan pernah takut menulis.

Fungsi kedua dari menulis tentu saja berinteraksi dengan orang lain. Menulis adalah salah satu cara berkomunikasi dan di dalam berkomunikasi paling tidak melibatkan dua pihak atau lebih. Semakin tinggi kecakapan literasi, membaca dan menulis, seseorang semakin berpotensi berkomunikasi dengan baik. Tentu saja ada syarat lain, si penulis tadi tidak berlebihan mencintai dirinya sendiri atau narsis agar bisa berkomunikasi dengan orang lain dengan baik. Bisa saja kita menulis secara swasembada, menulis yang ditujukan untuk diri sendiri, dibaca sendiri, dikomentari sendiri, dipuji sendiri, tetapi bentuk aktivitas menulis seperti ini bukanlah bentuk komunikasi yang benar dan sehat. Pengalaman bahwa menulis itu lebih mengasyikkan bersama-sama terjadi pada diri saya.

Hal ini ditandai dengan antusiasme saya yang menurun drastis untuk menulis dua bulan ini. Antusiasme tersebut jauh menurun agak tajam bila dibandingkan sekitar setahun lalu ketika saya bisa menyelesaikan minimal satu tulisan per hari, persis seperti yang coba dilakukan oleh teman-teman #31 hari menulis selama bulan Mei 2011 ini. Mungkin memang dasarnya sudah malas atau saya terlalu asyik mengakses konten media sehingga saya malah lupa menulis. Atau kemungkinan lain, saya tetap menulis namun tulisan tersebut berformat lebih resmi demi keperluan profesi. Terus terang saya tak terlalu tahu penyebab utamanya. Namun salah satu penyebab yang saya sadari betul adalah sedikitnya teman-teman untuk berbagi pikiran dan perasaan melalui tulisan saat-saat ini. Beberapa rekan menulis sudah terlalu sibuk sehingga tidak lagi mengagih perasaan dan pemikirannya. Beberapa rekan yang lain senasib dengan saya, mesti banyak membaca dan belum sempat menuliskannya. Bahkan yang lebih mengejutkan setelah saya amati lagi, beberapa rekan saya memang sudah tak menulis di mana pun. Ternyata kemalasan itu memang menular, paling tidak dalam konteks tulis-menulis.

Lain halnya bila kita menulis dengan teman-teman. Keberadaan teman akan membuat kita antusias menulis. Perasaan bahwa tulisan kita ada yang membaca dan syukur syukur dikomentari adalah kebahagiaan tersendiri. Situs penyedia blog dan jejaring sosial turut membantu hal ini. Bagi saya alasan menulis antara lain adalah bisa berbagi dengan banyak teman, bahkan ada rasa bahagia yang tak terpermanai bila ada rekan yang bisa mengambil manfaat dari apa yang kita tulis. Kalimat tfs, thank for sharing, adalah mantera yang sangat kuat bagi kita untuk menulis lagi dan lagi.

Selain itu, menulis adalah aktivitas tidak terelakkan bagi pembelajar. Ketakterelakkan yang menyenangkan tentu saja. Seorang pembelajar pasti harus menulis sesuatu. Terserah hasil tulisannya baik atau buruk, menulis pasti dilakukan oleh pembelajar untuk tugas yang paling kecil sekalipun, katakanlah tugas mingguan 500 kata. Belum lagi tugas-tugas yang lebih “berat”, misalnya tugas kelompok yang bisa sampai 3000 kata. Pada ujung kuliah pun, pembelajar harus menyusun skripsi atau tesis. Pendeknya, pembelajar haruslah bahagai dengan menulis dan berusaha terus meningkatkan kemampuannya menulis. Tak ada pilihan lain: menulis itu tak terelakkan. Ketika bekerja pun demikian adanya. Pembelajar yang nantinya menjadi jurnalis, pasti akan menulis berita. Pembelajar yang nantinya menjadi seorang staf humas, mau tau mau harus bisa menulis rilis media dengan baik dan benar. Juga bagi pembelajar yang ingin terjun dalam dunia periklanan, iklan yang bagus selalu diawali penulisan naskah yang bagus pula.

Dengan begitu, saya sangat senang dan turut bangga dengan hadirnya aktivitas menulis bersama bernama #31 hari menulis ini. Menulis dengan nikmat dan berani itu suatu rahmat yang sulit ditemukan lagi pada fase kehidupan yang lain. Menulis yang berani dan nikmat tersebut bahkan menjadi lebih mengasyikkan karena dilakukan bersama-sama. Seandainya saja saya bisa melakukan aktivitas yang sama dengan teman-teman #31 hari menulis, tentu saja saya berusaha tidak didenda. Walau begitu, menghindari denda janganlah menjadi alasan untuk menulis. Judul bisa tertulis “Hujan Menulis Ayam” atau “Ayam Membaca Cinta” tetapi kitalah yang bebas untuk menulis. Beranilah menulis dan kemudian nikmati saja prosesnya sedalam mungkin. Salam hangat dan sukses selalu untuk siapa pun yang terlibat dengan #31 hari menulis atau siapa pun pembelajar yang ingin menulis dengan berani dan menikmatinya dengan utuh penuh.

#####

BBB (Belajar Bermedia Bersama) 17

Terbunuhnya Osama bin Laden setelah penyergapan di Abbottabad, Pakistan tidak diragukan lagi menjadi topik pembicaraan utama media pada minggu ke-17 di tahun ini. Seperti biasa, peristiwa apa pun yang berkaitan dengan peledakan WTC pada tahun 2001 selalu memunculkan polemik berkepanjangan di media, termasuk peristiwa terbunuhnya Osama bin Laden. Osama terbunuh setelah perburuan sekitar satu dekade oleh pemerintah Amerika Serikat. Perburuan yang diawali kesalahan kata Presiden Bush dengan menyebut-nyebut perang Salib. Obama tidak melakukan kesalahan yang sama. Presiden Obama menyebutkan perang melawan terorisme bukan perang melawan umat muslim karena justru banyak juga muslim yang menjadi korban kekejaman teroris. Obama sekaligus meneguhkan kembali nasionalisme warga Amerika Serikat dengan mengunjungi Ground Zero di New York.



Polemik di dalam pemberitaan tetap terjadi kemudian. Polemik pertama adalah kabar tentang jenazah Osama yang diceburkan ke laut. Namun pemerintah AS kemudian memberikan argumen bahwa pemakaman di laut tetap dilakukan dengan tata cara Islam dan tetap dilakukan karena tidak ada negara yang mau menjadi tempat peristirahatan terakhir Osama, termasuk Arab Saudi, negara di mana Osama pernah menjadi warga negaranya. Selain itu ada pendapat lain yang tidak resmi bahwa pemakaman di laut dimaksudkan agar tidak terjadi pengkultusan nantinya. Polemik kedua adalah tentang penolakan Obama untuk merilis foto berkaitan dengan tewasnya Osama. Penolakan tersebut dikarenakan kekhawatiran pemerintah AS foto-foto tersebut dapat memicu propaganda yang akan memicu kekerasan lebih jauh (Koran Tempo, 6 Mei 2011). Dari sudut pandang jurnalistik, polemik ini bisa digunakan sebagai alat untuk mengulik kembali prinsip utama jurnalisme, faktualitas. Pembuktian yang tidak memadai akan memicu juga terjadinya teori konspirasi, misalnya apakah betul Osama tidak bersenjata? Namun logika keamanan memang berbicara lain, kekhawatiran pemerintah AS sungguh besar akan dampak negatif dari penggerebekan tersebut.



Bagaimana pun juga kita mengetahui penggerebekan oleh tentara elite Angkatan Laut AS tersebut dari media. Tentu saja melalui media dengan beragam bentuknya sekarang ini, terutama media massa dan media interaktif. Kita mengetahui informasi melalui media namun melalui media juga mendapatkan polemik berkepanjangan, yang pada gilirannya membawa kita pada labirin kumpulan informasi. Bagi beberapa orang mungkin saja bukan kejelasan atau pengetahuan yang didapat tetapi kebingungan tanpa ujung. Inilah paradoks media. Media memberikan fungsi mediasi kita dengan kenyataan seperti yang disampaikan oleh Denis McQuail. Metafor mediasi tersebut juga mengambil banyak bentuk. Misalnya saja media tidak hanya menjadi cermin bahkan media dapat menjadi penghalang yang membuat kita tidak mengetahui peristiwa yang terjadi. Karena itulah di dalam fungsinya menyampaikan berita, media mesti berpegang teguh pada prinsip faktualitas (bukan aktualitas, seperti yang pernah disalahmengerti oleh seorang jurnalis dari media ternama ketika berdiskusi dengan saya). Faktualitas adalah prinsip pertama dan utama dalam penyampaian berita. Faktualitas meliputi cara-cara yang sahih dan memadai untuk melaporkan kejadian dan berpengaruh pada kualitas informasi: kepadatan, keluasan, dan kedalaman. Faktualitas sebenarnya mirip dengan prinsip akademis, terutama cara pandang empirisisme. Kovach dan Rosenstiel di dalam buku mereka yang terkenal “Elemen-elemen Jurnalisme” malah menyebut keduanya sama, hanya saja faktualitas dalam jurnalisme bersifat populer di masyarakat umum, sementara prinsip akademis harus hadir dalam dunia pendidikan.



Berdasarkan argumen tersebut, kini saya sudah menghentikan berlangganan sebuah suratkabar lokal terbaru yang menurut saya pemberitaannya tidak berpegang pada prinsip faktualitas dan banyak beritanya yang tidak diedit sehingga pemaparannya kacau. Saya juga sudah agak jarang melihat berita di televisi yang semakin jauh dari harapan. “Jurnalisme narsistik” dan pemandu-pemandu acara diskusi yang sok pintar dan nyinyir dalam berpendapat, adalah dua di antaranya. Saya lebih berpegang pada berita-berita suratkabar dan situs. Masih ada beberapa suratkabar yang relatif bagus untuk menjadi sumber informasi. Situs berita pun demikian adanya, terutama situs berita dari luar negeri. Namun cara terbaik adalah tetap mengakses berita dari banyak media dan menyeleksinya dengan ketat berdasarkan tujuh kecakapan mencandra berita di dalam literasi media seperti yang disampaikan oleh James Potter, menganalisis, mengevaluasi, mengelompokkan, menginduksi, mendeduksi, mensintesis, dan mengabstraksi pesan faktual atau berita.



Melampaui pembicaraan mengenai pemberitaan, jurnalisme tidaklah berdiri sendiri. Jurnalisme mesti dibangun dan dijaga oleh empat entitas besar, yaitu negara, pasar, masyarakat, bahkan media sendiri. Kita sudah memiliki regulasi yang relatif bagus yaitu UU no. 40 tahun 1999 tentang Pers namun pelaksanaan regulasi adalah masalah utamanya. Di dalam UU Pers tersebut sudah jelas disebutkan siapa pun tidak boleh menghalangi tugas wartawan dan juga mesti menegakkan kebebasan pers. Kejadian kemarin menunjukkan hal yang sebaliknya. Penyerbuan sekelompok orang terhadap kantor harian Orbit di Medan adalah contoh terkini. Negeri ini semakin tidak aman bagi jurnalis. Indonesia adalah negara berperingkat kelima di dunia paling berbahaya bagi kerja jurnalis. Indonesia berada di bawah Pakistan, Irak, Honduras, dan Meksiko (editorial Koran Tempo, 6 Mei 2011). Ironis sebenarnya karena negara kita ini mengklaim sebagai negara demokrasi terbesar keempat di dunia. Bukankah salah satu indikator negara demokratis adalah penegakan kebebasan pers yang konsisten? Negara ini terlihat tidak konsisten dalam menegakkan kebebasan pers, juga kebebasan beropini dan kebebasan berekspresi yang sepenuhnya dijamin UUD 1945. Lihat saja pelaksanaan UU yang berkaitan dengan media dan informasi, UU Penyiaran, UU KIP, dan UU ITE, juga RUU Rahasia Negara yang pernah diajukan oleh pemerintah, RUU Intelijen yang berpotensi menggerus kedaulatan masyarakat, dan rencana revisi UU Penyiaran yang sangat “bersahabat” dengan otoriterianisme pasar dan pelemahan pada masyarakat sipil.



Selain tanggung jawab negara untuk menegakkan hukum dan tanggung jawab masyarakat dengan mengedepankan dialog tanpa kekerasan bila merasa dirugikan oleh media, media sendiri mesti memperbaiki diri. Media di Indonesia yang rentan dimanfaatkan oleh kepentingan pihak tertentu mestinya berani menyatakan diri salah dan meminta maaf bila melalukan tindakan atau memberitakan dengan tidak memadai. Hal inilah yang terjadi dalam kesalahan pemasangan foto sutradara Peppi Piona Cheppi yang dianggap Pepi Fernando, tersangka teroris. Kesalahan pemasangan foto tersebut terjadi di Kabarnet (dipasang 22 April 2011), Metro TV (23/4), Sriwijaya Pos (25/4), Jurnal Bogor (27/4), Buletin Info.com (28/4), Fakta Pos (28/4) dan Suara Islam (30/4) (sumber: “Tujuh Media Salah Pasang Foto Teroris”, Kompas, 6 Mei 2011). Kesalahan media seperti ini dapat menghilangkan hak asasi warga negara untuk hidup dengan rasa aman dan dihormati. Jadi, tidak hanya rejim yang otoriter saja yang berpotensi melanggar HAM, media juga mungkin melakukannya bila tidak memiliki perhatian yang memadai pada peristiwa dan konteksnya.



Untungnya, Peppi Piona meminta bantuan Dewan Pers untuk menyelesaikan masalahnya. Dewan Pers, yang bagi saya adalah regulator untuk media terbaik di negeri ini, pun bergerak dengan cepat. Untungnya pula, media dengan tanggap meminta maaf dan meralat berita tersebut, serta berupaya memulihkan nama baik Peppi Piona. Media bisa saja salah bila tak hati-hati. Hal terpenting bila media melakukan kesalahan adalah meminta maaf. Pihak yang merasa menjadi korban media juga menempuh jalur yang sesuai dengan koridor hukum, bukan dengan cara-cara kekerasan. Semua pihak wajib merawat kebebasan pers, kebebasan beropini, dan kebebasan berekspresi dengan sebaik-baiknya. Walau ada indikasi ketiga jenis kebebasan tersebut menurun belakangan ini, kita sebagai warga negara mesti tetap optimis. Bukankah tetap optimis mendapatkan jalan keluar bersama di tengah interaksi berbagai pihak yang mungkin benar dan mungkin juga salah adalah salah satu karakter dari demokrasi?

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...