Di dalam interaksi dengan manusia lain kita tetap akan selalu memiliki dua kemungkinan, saling mencerahkan atau saling menguasai, baik secara langsung melalui dominasi, maupun secara tak langsung atau wacana, melalui hegemoni. Tentu saja ada gradasi di antaranya, namun kita sangat mungkin tidak bisa menghindari interaksi yang "menjemukan" seperti itu. Manusia lain yang awalnya kita kira oke, ternyata teruk adanya: membuat kita tertekan, merasa berguna, bahkan terendahkan sebagai manusia. Semoga kita tidak menjadi orang yang tidak beruntung seperti itu.
Kira-kira dilema interaksi dengan manusia lain yang tidak mengenakkan termaktub dalam lagu ini:
Low
oleh Cracker
Sometimes I wanna take you down
Sometime I wanna get you low
I brush your hair back from your eyes
I take you down let the river flow
Sometimes I go and walk the street
Behind the green sheet of glass
A million miles below their feet
A million miles, a million miles
I'll be with you girl
Like being low
hey hey hey like being stoned
I'll be with you girl
Like being low
hey hey hey like being stoned.
A million poppies gonna make me sleep
But just one rose it knows your name
The fruit is rusting on the vine
The fruit is calling from the trees
Hey don't you wanna go down
Like some junkie cosmonaut
A million miles below their feet
A million miles a million miles
Blue blue is the sun
Brown brown is the sky
Green green are her eyes
A million miles a million miles
Hey don't you wanna go down
Like some disgraced cosmonaut
A million miles below their feet
A million miles a million miles
Rabu, 22 Juni 2011
Selasa, 21 Juni 2011
Manifesto Menulis Terkini

Baru saja antusiasme menulis saya kembali setelah sekitar dua minggu memudar. Hal yang saya takutkan adalah antusiasme tersebut tambah memudar dan lama-kelamaan hilang. Gambaran itu menakutkan sekali bagi saya. Saya sendiri baru mendapatkan antusiasme menulis dengan relatif konsisten dua tahun terakhir. Mempertahankannya saya tahu pasti adalah pekerjaan yang sulit. Saya yang pernah merasakan hal itu sebelumnya tak ingin kembali pada masa "jahiliyah" seperti dulu itu. Hal yang paling saya inginkan adalah kemampuan dan antusiasme menulis itu tidak menghilang, dan pada akhirnya menulis benar-benar menjadikan saya lebih baik lagi, sebagai profesional atau pun sebagai individu. Bila Miyamoto Musashi menjadikan "jalan pedang" sebagai hidupnya, saya ingin menjadikan keyboard jalan hidup. Saya ingin benar-benar bisa menulis dengan baik dan menghasilkan karya-karya yang bagus atau semaksimal yang saya mampu.
Kehilangan 408 tulisan di Facebook menyebabkan saya sangat sedih kemarin, tapi kini tidak lagi. Tidak ada lagi yang membuat saya sedih sejak tahun 2007 sampai sekarang, apalagi hanya "sekadar" hilang tulisan-tulisan biasa. Kemungkinan kehilangan orang-orang yang dicintai, antara lain para sahabat sepanjang membuat saya betul-betul takut. Syukurlah, semua orang yang saya sayangi itu tetap ada di samping saya sampai sekarang dan orang-orang yang "teruk" bagi hidup saya, pelan tapi pasti telah saya singkirkan. Kehilangan tulisan di notes FB tidak akan membuat saya sangat sedih. Lagipula saya memiliki salinan semua tulisan tersebut, namun yang saya sedih adalah kehilangan komentar dari rekan-rekan yang rata-rata positif. Semua komentar dan masukan tersebut memang tak tertera lagi di Facebook namun saya yakin semua saya catat dengan baik di ingatan dan hati saya. Semua komentar itu tanpa terkecuali membuat saya terus optimis dalam menulis. Saya telah belajar banyak melalui menulis. Menulis bersama di mana rekan-rekan yang lain saling membantu dengan kolaboratif.
"Cara" untuk memudarkan kesedihan tersebut juga datang tak sengaja, tak direncanakan. Saya membaca kembali karya dari salah satu penulis favorit saya, Haruki Murakami, "What I Talk about When I Talk about Running"(2008), dan seperti biasa, membaca karya Murakami berarti kita akan mendapatkan pencerahan. Kali kedua saya baca buku ini saya tetap terinspirasi dengan untaian kata-kata di tiap paragraf yang dia tulis. Dia mengatakan dengan langsung bahwa baginya menulis adalah jalan hidup. Jalan hidup yang berurusan dengan diri kita sendiri bukan orang lain. Orang lain ada untuk berinteraksi dengan karya kita, namun dalam hal proses mengkreasinya, kita mesti bergantung dengan diri sendiri.
Ini yang dituliskan oleh Murakami dengan agak panjang di halaman 10 buku tersebut ketika membandingkan berlari dan menulis (novel):... The same can be said about my profession. In the novelist's profession, as far as I'm concerned, there's no such thing as winning or losing. Maybe numbers of copies sold, awards won, and critics' praise serve as outward standars for accomplishment in literature, but none of them really matter. What's crucial is whether your writing attains the standards you've set for yourself. Failure to reach that bar is not something you can easily explain away. When it comes to other people, you can always come up with a reasonable explanation, but you can't fool yourself. In this sense, writing novels and running full marathons are very much alike. Basically a writer has a quiet, inner motivation, and doesn't seek validation in the outwardly visible.
Karena itulah, demi antusiasme menulis yang terus terjaga, demi langkah ke depan yang sekiranya bagus bila diupayakan maksimal, dan demi masa lalu, terutama keburukan-keburukannya yang telah saya lupakan dan maafkan, saya ingin menulis setiap hari tanpa berhenti di blog ini selama minimal setahun. Sampai tanggal 21 Juni 2012 saya akan menulis minimal satu tulisan di sini. Saya tahu bahwa menulis adalah salah satu jalan terbaik bagi saya untuk meningkatkan diri. Saya ingin belajar sekeras mungkin melalui menulis. Saya ingin mencapai banyak hal dengan menulis. Semoga sang Pemberi Hidup menyertai....
Senin, 20 Juni 2011
BBB (Belajar Bermedia Bersama) 20-21
Dalam waktu dua minggu ini paling tidak ada tiga kejadian yang cukup layak dikomentari. Tiga kejadian itu adalah kasus promosi peti mati oleh seorang penulis buku, sebuah stasiun radio yang tidak mau memutar lagu “Indonesia Raya”, dan tertangkapnya ratusan warga asing, Taiwan dan Cina, yang melakukan kejahatan dunia maya di Indonesia. Pertama, kasus promosi sebuah buku melalui pengiriman peti mati ke beberapa pihak, antara lain perusahaan media terkemuka, oleh salah seorang penulis buku yang juga berprofesi sebagai konsultan pemasaran, segera menimbulkan polemik: apakah promosi melalui peti mati itu bentuk kreativitas atau pelanggaran etika, bahkan pelanggaran hukum? Menurut saya promosi itu adalah pelanggaran etika karena bagaimana pun juga yang namanya kreativitas tetaplah berada dalam bingkai etika. Etika yang dilanggar yang utama adalah “etika” sosial, di mana peti mati masih dianggap sebagai barang yang sakral dan menimbulkan efek menakutkan karena merupakan simbol kematian. Perusahaan media yang dikirim peti mati tersebut wajar langsung melaporkannya ke polisi. Mereka pasti kaget, apalagi baru-baru saja terjadi tindakan pengiriman bom buku yang telah dibongkar oleh polisi tersebut. Perusahaan media juga pantas “sedih” karena menganggap peti mati tersebut adalah simbol “kematian” media dalam menjalankan fungsinya sebagai “anjing penjaga” demokrasi.
Kedua, ketidaktegasan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) sebagai regulator media. Sudah jelas ditentukan bahwa setiap institusi media penyiaran mesti mesti membuka dan menutup siarannya dengan lagu “Indonesia Raya” sebagai wujud pengakuan bahwa media penyiaran merupakan bagian dari negara kesatuan Indonesia. Salah satu stasiun radio ternyata tidak mau memutar lagu “Indonesia Raya” karena format stasiun mereka memang tidak memutar lagu. Anehnya, salah seorang komisioner KPI dengan entengnya memaklumi hal tersebut dan menjadi “juru bicara” stasiun radio tadi tanpa memberikan argumentasi yang kuat padahal untuk pelanggaran di bidang yang lain, KPI bisa sangat “galak”. Bagaimana mungkin KPI bisa menjalankan tugas dengan baik dan dihargai oleh pihak lain bila melakukan standar ganda seperti itu?
Terakhir, adalah penangkapan sekitar 300 orang warga negara RRC dan Taiwan di Indonesia karena melakukan kejahatan di dunia maya. Kemungkinan besar mereka yang mengirim sms dan email penipuan yang sangat marak belakangan ini. Penangkapan ini bersamaan dengan beberapa penangkapan lain di negara-negara ASEAN. Pemerintah Cina berkoordinasi dengan negara-negara Asia Tenggara untuk melakukan penangkapan yang serentak agar kejahatan dunia maya tersebut benar-benar terbongkar. Sayangnya, kita sebagai khalayak media tidak mendapatkan informasi berapa kerugian yang diderita warga negara kita dan cara sindikat kejahatan itu bekerja. Hal lain yang juga penting adalah bagaimana cara pihak berwenang meningkatkan pemahaman literasi media baru di masyarakat. Bila masyarakat paham dengan baik, kerugian bisa diminimalisir.
Hal lain yang tidak muncul di media belakangan ini namun sangat penting untuk didiskusikan adalah rencana penyiaran digital yang dilakukan oleh pemerintah. Saya jadi agak tahu urusan ini karena saya membantu rekan-rekan dari pemerintah (Kominfo) mencoba memahami kesiapan stasiun-stasiun televisi lokal dalam digitalisasi penyiaran televisi. Ada dua hal sementara ini yang dapat saya pahami. Pertama, sosialisasi penyiaran digital belum cukup bagus dan implementatif di lapangan sehingga masih ada ketidaksamaan pemahaman atas kebijakan tersebut. Kedua, informasi tentang penyiaran digital tidak menyentuh salah satu hak warga yang paling dasar, hak atas informasi dan berkomunikasi, sesuai amanat konstitusi. Warga yang menjadi “sasaran” dari kebijakan tersebut nyaris tidak mendapatkan informasi yang mudah didapat dan dicerna berkaitan dengan digitalisasi penyiaran, bahkan dengan sistem penyiaran yang sekarang pun tidak semua warga terfasilitasi untuk mendapatkan informasi melalui media penyiaran dengan memadai.
Negara ini memang mesti banyak berbenah. Kita semua mesti berusaha menegakkan hak warga untuk mendapatkan informasi dan berkomunikasi dengan baik.
Kedua, ketidaktegasan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) sebagai regulator media. Sudah jelas ditentukan bahwa setiap institusi media penyiaran mesti mesti membuka dan menutup siarannya dengan lagu “Indonesia Raya” sebagai wujud pengakuan bahwa media penyiaran merupakan bagian dari negara kesatuan Indonesia. Salah satu stasiun radio ternyata tidak mau memutar lagu “Indonesia Raya” karena format stasiun mereka memang tidak memutar lagu. Anehnya, salah seorang komisioner KPI dengan entengnya memaklumi hal tersebut dan menjadi “juru bicara” stasiun radio tadi tanpa memberikan argumentasi yang kuat padahal untuk pelanggaran di bidang yang lain, KPI bisa sangat “galak”. Bagaimana mungkin KPI bisa menjalankan tugas dengan baik dan dihargai oleh pihak lain bila melakukan standar ganda seperti itu?
Terakhir, adalah penangkapan sekitar 300 orang warga negara RRC dan Taiwan di Indonesia karena melakukan kejahatan di dunia maya. Kemungkinan besar mereka yang mengirim sms dan email penipuan yang sangat marak belakangan ini. Penangkapan ini bersamaan dengan beberapa penangkapan lain di negara-negara ASEAN. Pemerintah Cina berkoordinasi dengan negara-negara Asia Tenggara untuk melakukan penangkapan yang serentak agar kejahatan dunia maya tersebut benar-benar terbongkar. Sayangnya, kita sebagai khalayak media tidak mendapatkan informasi berapa kerugian yang diderita warga negara kita dan cara sindikat kejahatan itu bekerja. Hal lain yang juga penting adalah bagaimana cara pihak berwenang meningkatkan pemahaman literasi media baru di masyarakat. Bila masyarakat paham dengan baik, kerugian bisa diminimalisir.
Hal lain yang tidak muncul di media belakangan ini namun sangat penting untuk didiskusikan adalah rencana penyiaran digital yang dilakukan oleh pemerintah. Saya jadi agak tahu urusan ini karena saya membantu rekan-rekan dari pemerintah (Kominfo) mencoba memahami kesiapan stasiun-stasiun televisi lokal dalam digitalisasi penyiaran televisi. Ada dua hal sementara ini yang dapat saya pahami. Pertama, sosialisasi penyiaran digital belum cukup bagus dan implementatif di lapangan sehingga masih ada ketidaksamaan pemahaman atas kebijakan tersebut. Kedua, informasi tentang penyiaran digital tidak menyentuh salah satu hak warga yang paling dasar, hak atas informasi dan berkomunikasi, sesuai amanat konstitusi. Warga yang menjadi “sasaran” dari kebijakan tersebut nyaris tidak mendapatkan informasi yang mudah didapat dan dicerna berkaitan dengan digitalisasi penyiaran, bahkan dengan sistem penyiaran yang sekarang pun tidak semua warga terfasilitasi untuk mendapatkan informasi melalui media penyiaran dengan memadai.
Negara ini memang mesti banyak berbenah. Kita semua mesti berusaha menegakkan hak warga untuk mendapatkan informasi dan berkomunikasi dengan baik.
Minggu, 19 Juni 2011
Closing Time

Rasanya menyedihkan juga kehilangan sesuatu atau seseorang padahal dia bertahun-tahun berusaha kuat dan terbiasa dengan kehilangan. Namun rasa kehilangan memang tak mudah dihadapi. Sepanjang kita hidup rasa kehilangan pasti hadir, diakui ataupun tidak. Itulah yang terjadi pada dirinya ketika kira-kira dua minggu lalu 408 tulisan yang dipublikasi di FB-nya hilang tak berbekas, bahkan tanggal persis kejadian tersebut tidak dia ingat-ingat sebagai cara melupakan kehilangan itu. Dia telah mengirim email ke administrator situs jejaring sosial itu namun hanya ada satu balasan formal yang sepertinya berasal dari “mesin penjawab” email otomatis. Kesedihannya pun menipis oleh beberapa penghiburan dari rekan-rekannya.
Semua tulisannya sudah di-backup, namun yang menyedihkan adalah kehilangan komentar rekan-rekan yang ada di semua tulisan itu (notes), komentar yang baik atau pun buruk. Detik ini dia tidak begitu sedih lagi. Efek yang masih tersisa adalah keengganannya untuk menulis cepat dan rutin belakangan ini, padahal cukup banyak yang bisa ditulis, dikomentari, diulas, dan “dihampai”. Namun pada akhirnya dia tetap harus menulis juga. Menulis itu harus terus-menerus. Bila pun berhenti, pemberhentian itu sebaiknya sebentar saja agar kemampuan menulis tidak tergerus pelan-pelan. Setiap kecakapan bagaimana pun juga akan berkurang dan pada akhirnya menghilang bila tak digunakan.
Kini baginya menulis bukan hanya berfungsi untuk berpendapat dan berekspresi atas sesuatu yang nyata dan tak nyata, namun juga untuk menghilangkan duka, atau paling tidak mengurangi dampak kesedihan dan luka. Dengan menulis, hati bisa hampa atau netral kembali dan siap kembali menghadapi hidup, untuk yang baik atau pun yang buruk. Dia selalu percaya, suka dan duka itu tidak berurutan, ada yang menjembataninya: kehampaan. Sehabis bahagia atau pun sedih pasti ada fase ini agar kita bersiap lagi pada sesuatu yang lain, kebahagiaan atau kesedihan yang sama atau sebaliknya, sesuatu yang berbeda.
Kini dia sudah siap lagi menulis kembali. Menulis yang walaupun hasilnya masih biasa-biasa saja, tetaplah dia jalani dengan antusias. Tidak ada sesal berlebihan pada sesuatu yang sudah lewat kemarin. Hanya ada antusiasme dan optimisme baru untuk tiap langkah ke depan. Memang apa lagi yang bisa kita lakukan selain menghadapi hidup dengan sebaik-baiknya? Menulis adalah salah satu kemampuan yang dia miliki dan sumber kebahagiaannya, tak mungkin dia tinggalkan begitu saja.
Dia justru menikmati fase “kehampaan” itu. Fase jeda tipis di antara kebahagiaan dan kesedihan. Rasa yang paling mencerahkan bukan pada salah satu rasa yang jelas namun transisi di antaranya. Apa pun yang terjadi nanti dia hanya ingin berbuat dengan sebaik-baiknya yang dia mampu. Kini saatnya menutup kemarin rapat-rapat dan mengambil pelajaran dari semua kesalahan dan inspirasi dari sedikit kesuksesan. Dia tersenyum sambil menulis, kesadaran tipis dia dapati, “every new beginning comes from some other beginning's end” seperti yang dilisankan salah satu band favoritnya di masa lalu, Semisonic dari album mereka tahun 1998, Feeling Strangely Fine. Pemahaman yang sebenarnya biasa namun kali ini dia rasakan begitu bermakna. Dia benar-benar siap untuk menutup masa lalu dan “membuka” berbagai kemungkinan pada tiap jangkauan ruang dan waktu ke depan.
#####
Closing Time
Oleh Semisonic
Closing time
Open all the doors and let you out into the world
Closing time
Turn all of the lights on over every boy and every girl
Closing time
One last call for alcohol so finish your whiskey or beer
Closing time
You don't have to go home but you can't stay here
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
Closing time
Time for you to go out to the places you will be from
Closing time
This room won't be open till your brothers or your sisters come
So gather up your jackets, move it to the exits
I hope you have found a friend
Closing time
Every new beginning comes from some other beginning's end
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
I know who I want to take me home
Take me home
Rabu, 15 Juni 2011
Tiny Dancer

Aku mencintaimu, dan itu belum menjelaskan banyak hal. Aku membencinya, dan hal itu telah menjelaskan semuanya. Bila benci adalah oposisi biner-nya cinta, apa oposisi biner-nya hampa? Aku merindukanmu sungguh kini. Kau tak pernah ada dalam semua perjalanan yang kutempuh. Aku tak pernah lagi bisa menemukanmu.
Kau pasti tahu dunia baru yang muncul ketika kita bersama. Dunia baru seutuhnya hanya ada kita berdua. Bukannya manusia lain tak ada, namun sungguh bila kau ada, aku tak peduli apakah mereka semua ada atau tiada. Dunia ketika kasmaran adalah dunia yang dibentuk oleh kekaguman, cinta, dan optimisme berlebih. Kau pasti tahu itu karena dahulu dunia itu kita bangun bersama.
Kau tahu dunia yang terbangun dari dualisme oposisi biner pasti saling menisbikan yang lain. Dunia kita tidak. Dunia kita itu dualitas. Satu dalam dua. Dua dalam satu. Mirip dengan filosofi dua pedangnya Miyamoto Musashi. Dua adalah satu karena sumbernya tunggal. Eksistensi kita melengkapi satu sama lain karena kita berasal dari sumber yang sama. Ketiadaanmu dirimu kini membuat duniaku tak penuh lagi. Pada titik ini dualitas jadi mematikan karena ketiadaan agen lain. Kau adalah agen yang menghidupkan diriku dan duniaku.
Suatu kali dulu itu kita pernah mengobrol atau tepatnya meracau. Kau lelaki aku perempuan. Kau kaya aku papa. Kau pintar aku biasa. Kau negara kaya aku negara berkembang. Kau kapitalis aku imbas imbis. Kau seseorang aku bukan siapa-siapa. Kau tahu aku tak tahu. Kita bisa terus merentengkan oposisi biner sebanyak kata benda dan kata sifat yang ada, sampai pada satu titik, kau mengatakan aku adalah kehampaan dan dirimu pun kau akui adalah kehampaan yang lain. Pada titik ini kita adalah kehampaan yang sama. Menghampar tak bertepi seperti kerinduanku padamu kini.
Kau tahu dunia kini tak sama lagi ketika kau tak ada. Semua sama semua rata. Lagu-lagu indah tak lagi berasa. Kalimat-kalimat puitis muncul tak manis. Hanya satu teks media yang tetap bagus. Film “Almost Famous” kesukaanmu. Semua informasi dan tafsirannya terasa indah dan menghajar sukma, terutama lagu “Tiny Dancer” yang menjadi salah satu lagu OST film yang dirilis tahun 2000 itu. Namun keindahan itu pun semakin memudar seiring dengan waktu. Seiring semakin lamanya kau menghilang.
Kau pastinya tahu dunia tak lagi sama tanpa dirimu. Namun bukankah aku tetap harus menjalani hidup? Hidup sekalipun tak indah dan tak menarik seperti sekarang ini tetaplah layak dijalani. Sekalipun kau protes sangat keras pada Pemberi Hidup, kau tidak dapat melakukan apa pun selain tetap hidup. Memangnya ada kehidupan lain yang bisa kau jalani?
Ketika aku menyintaimu, sangat banyak hal ingin kuceritakan, begitu banyak soal ingin kubagi. Seakan hal-hal indah tak bisa habis kita jalani bersama. Namu ketika aku membenci dirinya, itu telah cukup untuk semuanya. Aku tidak ingin membagi secuil apa pun dari diriku padamu. Malah, aku menyesal pernah berbagi banyak hal pada masa kemarin itu. Dirinya itu adalah dirimu dalam versi yang lain. Dirimu ketika tidak ada cinta untukku di sana. Diri yang tidak bisa didualitaskan pada diriku. Walau begitu, tidak ada yang perlu disesali. Beginilah hidup yang fana, ada lautan manusia yang saling menyinta, ada juga yang saling membenci, dan ada juga yang saling menghampa dengan atau tanpa prahara. Diriku sendiri adalah yang pertama dan utama untuk tempat bergantung. Tiada ada manusia lain yang terlalu penting bila ingin berhadapan dengan hidup yang kita jalani. Dalam hidup dualisme dan dualitas pun selalu ber-oposisi biner.
Selamanya.
#####
Fiksi singkat ini sangat bergantung pada lagu indah ini:
Tiny Dancer
Oleh Elton John
Blue jean baby, L.A. lady, seamstress for the band
Pretty eyed, pirate smile, you'll marry a music man
Ballerina, you must have seen her dancing in the sand
And now she's in me, always with me, tiny dancer in my hand
Jesus freaks out in the street
Handing tickets out for God
Turning back she just laughs
The boulevard is not that bad
Piano man he makes his stand
In the auditorium
Looking on she sings the songs
The words she knows, the tune she hums
But oh how it feels so real
Lying here with no one near
Only you, and you can hear me
When I say softly, slowly
Hold me closer tiny dancer
Count the headlights on the highway
Lay me down in sheets of linen
you had a busy day today
Blue jean baby, L.A. lady, seamstress for the band
Pretty eyed, pirate smile, you'll marry a music man
Ballerina, you must have seen her dancing in the sand
And now she's in me, always with me, tiny dancer in my hand
But oh how it feels so real
Lying here with no one near
Only you, and you can hear me
When I say softly, slowly
Rabu, 01 Juni 2011
Menuju Pintu
Hari baru saja dimulai ketika kita berdebat:
Ruang hampa di antara dua manusia mungkin saja ruam luka
Habitus itu cara kita mensyukuri dan merapalkan interaksi
Dualitas itu semu bila kita selalu berpikir hirarkis antagonistik
Kita ini adalah hati yang bebas
Kita ini berbicara namun sebenarnya tak berdialog
Kita ini di sini berusaha mendaku hidup sendiri-sendiri
Kesimpulan dan saran baru diputuskan kala hari nyaris selesai
Hanya sepi menghujam di dalam tak ada lain ketika sore yang panjang
Apa lagi yang kita punya selain beberapa langkah ke depan, keputusan akhir, dan harapan-harapan tak kosong?
Sebuah jalan keluar
Menuju bukan "kita"
Ruang hampa di antara dua manusia mungkin saja ruam luka
Habitus itu cara kita mensyukuri dan merapalkan interaksi
Dualitas itu semu bila kita selalu berpikir hirarkis antagonistik
Kita ini adalah hati yang bebas
Kita ini berbicara namun sebenarnya tak berdialog
Kita ini di sini berusaha mendaku hidup sendiri-sendiri
Kesimpulan dan saran baru diputuskan kala hari nyaris selesai
Hanya sepi menghujam di dalam tak ada lain ketika sore yang panjang
Apa lagi yang kita punya selain beberapa langkah ke depan, keputusan akhir, dan harapan-harapan tak kosong?
Sebuah jalan keluar
Menuju bukan "kita"
BBB (Belajar Bermedia Bersama) 20

Sepakbola selalu menjadi obyek yang menarik bagi media kita. Di minggu terakhir di bulan Mei 2011 atau minggu ke-20 di tahun ini berita tentang sepakbola sangat mendominasi. Mulai dari berita-berita tentang laga akhir liga-liga Eropa sampai pemberitaan menjelang final Piala Champions. Seminggu penuh berita tentang partai puncak kejuaran antar klub nomor wahid di Eropa itu mendominasi berita. Para penggemar sepakbola sangat antusias menyambut partai final tersebut dan media kemudian memberikan informasi dan berita yang sangat lengkap. Mungkin karena terlalu antusias beberapa media online langsung menasbihkan partai final antara Manchester United versus Barcelona adalah partai final terbaik dekade ini. Hal ini aneh sekali karena penilaian sebuah partai terbaik atau bukan pastinya post-factum, setelah pertandingan terjadi. Terbukti, partai final kemarin yang dimenangkan oleh Barcelona 3 – 1 bukanlah pertandingan yang “bagus” melainkan pertandingan tak seimbang dan didominasi oleh Barcelona.
Berita tentang kisruhnya PSSI juga masih mengemuka namun media sepertinya sudah “lelah” dan posisinya tidak sekuat sewaktu “menurunkan” Nurdin Halid. Satu lagi pemberitaan sepakbola yang relatif luput dari media adalah lolosnya Persiba Bantul ke ISL (Indonesian Super League). Hal ini juga menunjukkan bagaimana media lokal berpotensi menjadi media yang penting untuk kejadian lokal. Ketiadaan berita yang memadai tentang lolosnya Persiba Bantul di media nasional, kecuali sebuah tabloid olahraga, sungguh unik. Ternyata ketersediaan berita yang mirip muncul di media lokal, terutama suratkabar. Saya membaca tiga suratkabar lokal Yogya dan tidak ada berita yang memadai yang memberikan informasi yang lengkap dan disampaikan dengan asyik. Jumlah informasinya memang lebih banyak dari suratkabar nasional, namun berita lolosnya Persiba Bantul tersebut disampaikan dengan “kaku” dan tidak intim.
Ketiadaan informasi yang memadai di media massa berlanjut ketika saya coba mengulik informasi lebih jauh mengenai Persiba Bantul, misalnya saja seperti apa skuadnya, bagaimana dengan hasil pertandingan menuju tangga juara, siara pencetak gol dan pemberi assist terbanyak. Informasi yang ada di internet memang lumayan memadai. Saya mendapatkan situs yang mendokumentasikan perjalanan Persiba Bantul menjadi juara. Sayangnya informasi tersebut hanya berupa skor bukan reportase jalannya pertandingan. Satu situs lagi, paserbumi, yang dirilis oleh pecinta Persiba Bantul memang sangat informatif. Saya kita ini sumber informasi terbaik untuk melihat perjalanan Persiba Bantul musim ini. Namun tetap disayangkan bila Persiba Bantul tidak memiliki situs resminya sendiri. Selain itu secara mengejutkan saya mendapatkan informasi yang cukup banyak di sebuah game komputer bernama Football Manager 2011. Game memang bentuk pesannya “fiksional” namun database game tersebut sangat bagus. Saya mengetahui skuad atau formasi pemain Persiba Bantul di awal tahun dari game ini. Informasi yang bagus karena saya paling tidak tahu sejarah karir seorang pemain (walau perlu diklarifikasi). Aspek historis pemain ini tidak ada di situs paserbumi. Informasi mengenai pemain yang ada adalah informasi yang statis dan kurang kaya. Melalui game tersebut sebagai sumber informasi “terakhir”, paling tidak ada informasi yang bisa saya akses dan memperkuat struktur pengetahuan sendiri mengenai Persiba Bantul. Saya mencoba menggerakkan “mesin” literasi di pikiran, hati, dan laku mengakses pesan.
Satu peristiwa lain yang sayang untuk dilewatkan berkaitan dengan fenomena media baru dan respon atasnya yang benar-benar “aneh”. Kemarin, mungkin baru pertama-kali terjadi di Indonesia, seorang presiden memberikan klarifikasi atas SMS yang tidak jelas kebenarannya dengan emosional. Hal ini semakin memperkuat label bahwa sang presiden adalah presiden “menye-menye”, yang lebih mengutamakan hal-hal tak penting semisal perasaan personal dan citranya namun tak begitu peduli dengan bencana lumpur Lapindo yang sudah berlangsung selama lima tahun. Apa ada konferensi darinya berkaitan dengan bencana yang sudah terjadi selama setengah dekade itu?
Saya sebagai salah satu warga negara jengah dengan isi SMS itu, yaitu pada bagian terakhir yang mengada-ada namun mengenai korupsi dan hal-hal penting lainnya layaklah diungkap oleh polisi. Presiden menjalankan tindakan komunikasi pemerintahan yang buruk karena justru merespon isu, desas-desus, dan gosip, bukannya merespon hal-hal riil dan melakukan tindakan nyata. Pemberitaan di media, terutama istilah “penjemputan” ke Singapura sebenarnya menunjukkan ada sesuatu yang tersembunyi namun terlihat dengan jelas di media bila informasi tersebut dirangkai dengan baik karena pernyataan-pernyataan dari partai sang presiden tidak konsisten pada kejadian. Bila saja presiden tidak emosional dan bertindak komunikasi secara proporsional kita, warga negara, akan belajar bahwa menggunakan media baru itu semestinya berhati-hati. Bahwa penggunaan media baru tidak boleh merugikan pihak lain seperti yang termaktub dalam UU ITE. UU ITE semestinya tidak hanya mengurusi “cara” mengekang warga namun semestinya pada pemenuhan hak warga untuk mendapatkan informasi dan berkomunikasi. Sungguh, kasus ini berharga bila dikaitkan dengan konteks yang lebih luas, bukannya aspek emosional yang sudah cukup dituangkan dalam lagu-lagu.
Kita tunggu saja bagaimana “drama” politik ini terus berjalan. Akting pihak mana yang lebih mempan bagi masyarakat. Hal yang jelas adalah politik “teraniaya” tidak bisa lagi digunakan karena penguasa kok teraniaya. Entahlah, saya menunggu kelanjutannya dengan biasa saja, tak terlalu antusias. Saya malah sangat antusias menunggu beberapa bulan ke depan ketika Persiba Bantul tampil di kompetisi tertinggi di Indonesia, syukur-syukur bisa mentransfer Irfan Bachdim dan atau Boaz Salossa…hehe…saya juga sedang menghitung kemungkinan untuk mengakses tiket terusan untuk pertandingan kandang Persiba Bantul dan musim depan berusaha mendokumentasikan perjalanan Persiba Bantul melalui tulisan. Hari-hari ke depan sungguh mengasyikkan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Menulis Lagi, Berjuang Lagi
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...
-
Liburan panjang seperti sekarang ini membuat saya memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplorasi koleksi musik dan buku saya. Senang juga ra...
-
Untuk seorang sahabat lama di hati dan bukan dalam kehidupan nyata.... Entah mengapa aku sangat merindukanmu sekarang. "Urgency of now...
-
Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...
