Selasa, 26 Maret 2013

Dari Smash sampai Iwan Fals: Memahami Musik Populer sebagai Kajian Ilmu Komunikasi


Belakangan ini bila kita ingin mencari album musik Indonesia terbaru, kita tidak lagi hanya mendatangi toko CD tetapi juga salah satu jaringan makanan cepat saji, jaringan toko buku besar, bahkan jaringan minimarket yang menjual album tersebut bersama sembilan bahan kebutuhan pokok; beras, minyak goreng, dan gula pasir. Toko CD sendiri, perlahan namun pasti berkurang satu persatu. Bulletin, salah satu jaringan distribusi terbesar, menutup tokonya satu persatu. Dua tahun lalu masih ada enam toko CD Bulletin di Yogya, kini hanya satu yang tersisa. Sebagai sebuah label, Bulletin juga mati suri dengan tidak merilis album baru kecuali dua album the best yang sejatinya sudah dirilis awal dekade 2000-an, band Netral dan Plastik. Dirilisnya dua album the best tersebut kemungkinan upaya terakhir untuk mendapatkan profit.
Distribusi album adalah salah satu aspek untuk memahami musik populer atau musik rekaman sebagai kajian ilmu komunikasi. Distribusi album yang bisa dilihat sebagai konten atau pesan media tersebut bisa dieksplorasi melalui perspektif manajemen ataupun ekonomi politik media. Tulisan ini coba mendiskusikan musik populer sebagai bagian dari kajian ilmu komunikasi, terutama dalam lokus kajian media. Posisi musik populer dalam kajian media di Indonesia memang unik, walaupun musik populer dibahas di banyak buku pengantar kajian media, setahu saya kajian musik populer sebagai media tidak hadir sebagai kajian khusus, berbeda dengan media cetak, media penyiaran, dan juga media baru.
Sebagai fenomena soial pun musik populer hadir dengan intens dalam kehidupan sehari-hari kita, tetapi musik populer jarang dikaji dengan serius secara akademis sebagai bagian dari jenis media. Walau begitu, kini sudah mulai muncul penyuka dan pengamat musik populer dari sudut pandang kajian media. Kemungkinan lahirnya para pengamat musik populer sebagai media tersebut karena cara pandang yang lebih mendalam, berbeda, dan kritis sudah harus hadir untuk mengkaji musik populer.
Sama seperti halnya bidang kajian media ataupun bidang kajian komunikasi yang lain, untuk mengamati secara komprehensif namun singkat, kita dapat mendedah musik populer dalam rangkaian proses komunikasi yang terjadi. Siapa yang memproduksi pesan musik rekaman, bagaimana pesan diproduksi, dikemas, didistribusikan, dan dimaknai, siapa yang mengakses atau mendengarkan musik populer, dan efek apa yang muncul dari proses terdistribusinya musik populer tersebut.
Pesan musik populer tidak hanya diproduksi dan didistribusikan oleh para penyanyi dan penciptanya, namun meliputi berbagai pihak yang terjalin dalam relasi kompleks, antara lain publisis dan kompetisi musik. Di Indonesia misalnya, kini terdapat lumayan banyak kompetisi musik, terutama yang diselenggarakan oleh stasiun televisi, namun kontribusinya pada produksi pesan yang berkualitas masih belum memadai. Hal ini terlihat dari musik dengan genre arus utama saja yang muncul dan lagu itu itu saja yang dinyanyikan. Secara keseluruhan semesta pesan musik populer kurang banyak secara kuantitas dan kualitas.
Penyanyi, sebagai produsen konten utama, juga masih kurang beragam. Kemunculan penyanyi Indonesia terlalu didominasi oleh kepentingan pasar, sehingga yang hadir pada suatu waktu adalah genre tertentu saja. Katakanlah ketika musik menye-menye yang laris manis, musik jenis itu juga yang diproduksi, penyanyi dengan langgam yang sama juga yang muncul. Pun dengan fenomena boys dan girls band, karena dianggap sedang disukai oleh pendengar, sepertinya banyak sekali band semacam itu yang muncul. Smash misalnya, mendorong banyak boys band serupa hadir. Semua dengan modus yang sama, bergaya Korea dan bernyanyi dengan meriah, bahkan ketika persedian pemuda Indonesia sudah habis, diimpor pemuda Korea untuk menjadi anggota salah satu boys band Indonesia.

Audiens konten musik populer Indonesia juga berkembang dengan cepat belakangan ini. Secara umum industri musik populer Indonesia dianggap belum besar karena maraknya pembajakan yang tak kunjung usai dibenahi, namun dari sisi jumlah audiens atau pendengar musik populer, pasar musik populer Indonesia sangatlah besar. Masyarakat Indonesia adalah konsumen media yang sangat besar dan secara umum relatif royal dalam mengakses, karena untuk konten yang dinilai bagus mereka tidak ragu-ragu mengeluarkan dana untuk mengaksesnya. Lihat saja album-album Cherybelle yang cepat sekali habis dan konser-konser Coboy Junior yang selalu penuh. Sebenarnya bila masyarakat Indonesia tidak hanya diperlukan sebagai konsumen, tetapi juga dipandang sebagai warga oleh negara yang diutamakan hak-haknya dalam mengakses musik populer, musik populer Indonesia bisa lebih besar.

(tulisan ini dimuat di Kepel News Music Edition, dirilis oleh KOMAKO UGM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...