Selasa, 30 November 2010

Sugar Kane


Pagi ini dia kehilangan orientasi hasrat dirinya sendiri: menjalani saja hidup ataukah berfokus pada orang-orang yang dicintainya. Walau begitu, ada juga kesamaannya. Apa pun orientasi hasratnya, dan juga fokus rasionya, yang dia tahu hari ini dia akan menyusuri hidup dengan berapi-api, taktis dan bebas, seperti Sonic Youth. Sonic Youth adalah salah satu band favoritnya. Seperti keberagaman manusia-manusia lain yang ada di sekitar dirinya, Sonic Youth membawa nuansa unik dan tak bisa diberikan oleh band-band lain. Dia pun masih tidak habis mengerti mengapa Sonic Youth masih terus dibandingkan dengan Nirvana, Pearl Jam, dan Soundgarden, karena pada kenyataannya mereka berbeda. Apa karena berasal dari satu angkatan yang sama, mereka menjadi sama? tidak sama sekali. Semuanya bagus, semuanya unik, namun Sonic Youth-lah yang paling membuatnya kagum.



Semua album Sonic Youth berkelas sangat bagus, namun memang empat album terakhir yang paling diakrabinya. Sonic Youth menjadi teman di kala suntuk walau tak jarang mengundang dan membawa pada kesuntukan baru, dalam pengertian konstruktif. Kesuntukan, kebingungan, dan rasa bebas berekspresi itulah yang kemudian membuka lagi "stabilitas" hidup dan akan membawa lagi pada "teman-teman" baik yang biasanya, U2, Pearl Jam, Manic Street Preachers, juga serombongan band 1980-an. Selalu diperlukan teman-teman unik yang keluar dari kebiasaan kita di dalam hidup. Atau bila semua teman unik, jenis keunikan yang di bawa oleh Sonic Youth, tetaplah diperlukan.



Dia tidak tahu mesti menulis apa lagi. Hidup akan terus memberikan kejutan demi kejutan yang menyenangkan dan juga yang menyusahkan. Mengapa harus berpikir susah-susah, hadapi saja semuanya dengan berapi-api, dengan berani. Sementara ini dia hanya terus mengikuti musik yang dibawakan oleh Sonic Youth di lagu "Sugar Kane". Salah satu lagu yang termaktub di dalam album mereka tahun 1992, "Dirty". Dia tahu dia sangat akrab dengan empat album terakhir Sonic Youth, "Murray Street" (2002) sampai album "the Eternal" (2009), namun dia ingin mengenali lebih mendalam semua album mereka yang lain, terutama album "Dirty" yang secara mengejutkan bagus sekali, dan sesuai dengan situasi dirinya sekarang: jalani saja hidup dengan berapi-api dan bebas berekspresi, jangan terlalu mementingkan manusia-manusia lain, apalagi yang memang nyata-nyata tidak menyukainya. Hidup tak melulu tentang teman, tetapi juga sesekali tentang musuh dan "misuh" :) ... inilah mungkin yang dikamsud dengan "gula-gulanya" hidup.



Bagi yang suka dengan lagu ini dan juga dengan Sonic Youth, silakan menyanyi bersama dan menghayati lagu ini, dan juga album "Dirty"....



Sugar Kane

oleh Sonic Youth



You're perfect in the way, a perfect end today

You're burning out their lights, and burning in their eyes

I love you Sugar Kane, a-comin' from the rain

Oh kiss me like a frog, and turn me into flame

I love you all the time, I need you 8 to 9

And I can stay all night, your body shining



And I knowThere's something down there sugar soul

Back to the cross a twisted lane

There something down there sugar kane



I'm back again in love, I'm back again a dove

Where'd you get your light, your smilin' sugar life

Another lovers day, another cracked up night

Every night I say, the light is coming



And I know

There's something down there sugar cone

Back to the cross a twisted lane

There's something down there sugar kane



Hey angel come and play, and fly me away

A stroll along the beach, until you're out of time

I love you sugar kane, a crack into the dream

I love you sugar kane, I love you sugar kane

I love you sugar kane, I love you sugar kane

I love you sugar kane, I love you sugar

Kamis, 25 November 2010

Jogja Istimewa, Jogja Selalu Ada di Hati


Apa yang membuat Jogja istimewa? Itulah pertanyaan yang bisa kita ajukan sebagai awalan untuk memaknai album kompilasi yang baru saja dirilis ini. Jogja bagi banyak orang tetap istimewa walau di bidang politik formal keistimewaan itu masih ditarik dan diulur. Tetapi di wilayah yang lain, politik secara luas, serta sosiokultural, Jogja akan selalu istimewa. Jogja selalu akan ada di hati banyak orang.

Jogja, dan juga berbagai tempat yang lain, selalu bisa dilihat dari dua elemen, yaitu relasi orang-orangnya dan wilayah fisik. Orang-orang dan relasinya inilah yang membuat Jogja istimewa. Ujaran ini telah diungkapkan oleh lagu pembuka yang bagus, “Jogja Istimewa” oleh Ki Jarot (Jogja Hip Hop Foundation). Lagu pembuka yang menjadi manifesto album kompilasi ini, terutama kalimat... Jogya istimewa, istimewa orangnya...Jogja istimewa untuk Indonesia.

Istimewa untuk Indonesia adalah pernyataan paling penting yang bisa mengantar kita pada eksplanasi lebih jauh. Pertama, Jogja istimewa karena kota ini penting bagi Indonesia secara politis. Bila kita amati media, terutama suratkabar, berita tentang Jogja dan orang-orangnya tidak pernah tak hadir. Malah ada harian terkemuka yang selalu memperbincangkan Jogja. Orang-orang yang berasal dari Jogja pun banyak yang berpengaruh secara nasional, atau paling tidak ucapannya didengar oleh para petinggi negeri indah ini.

Secara kultural pun demikian adanya. Jogja menjadi inspirasi banyak tempat lain, bahkan di level global, dalam hal penghargaan keberagaman budaya. Karena itu kita sempat dikagetkan ketika ada usulan untuk melabeli Jogja dengan serambi dari kota di negara lain. Negara nun jauh di sana di mana beberapa warganya menyiksa tenaga kerja Indonesia. Maaf, Jogja sudah punya nama besar dengan namanya sendiri dan budayanya tanpa harus terlekat dengan kota lain. Untung saja itu hanya usulan dari orang yang tak paham betapa istimewanya Jogja.

Jogja juga dikenal sebagai tempat belajar yang ciamik walau kemungkinan predikat itu menurun beberapa tahun belakangan ini. Nama Jogja tetap harum sebagai “kawah Candradimuka” bagi orang-orang yang ingin berhasil atau “menjadi orang” nantinya. Bukan hanya tempat-tempat pendidikan formal yang membuat Jogja terasa sangat “terdidik”, tetapi juga forum-forum diskusi di banyak sekali lembaga riset dan juga kafe, bahkan angkringan, adalah situs-situs asyik dan mencerahkan untuk mendapatkan pengetahuan.

Karena itulah, upaya untuk menumbuhkan kembali keisrimewaan Jogja perlu diapresiasi. Salah satunya adalah melalui album ini. Album ini terlebih dahulu menjadi pengingat bagi warganya sendiri bahwa kota hebat ini tetap istimewa apa pun kata orang. Keistimewaan itu bahkan lebih terlihat lagi dalam dua “cobaan” yang pernah melanda Jogja, gempa tahun 2006 dan erupsi Merapi tahun 2010 ini, warga Yogya terlihat begitu kompak dan setia kawan dengan saling membantu tanpa pamrih.

Sekarang kita beralih pada teks setelah kita membicarakan konteks medianya. Album kompilasi ini adalah kompilasi ketiga, yang saya tahu, yang mengakumulasi band-band dari sebuah kota. Dua yang pertama adalah “Masaindahbangetsekalipisan” (1996) untuk Bandung, dan “Jkt: Skrg” (2004) untuk kota Jakarta. Ketiganya sangat bagus dan menjadi dokumen karya yang bagus berdasarkan domisili penyanyi. Kompilasi semacam ini menunjukkan kreativitas kolaboratif satu kota dan berimplikasi pada kompetisi yang positif di level yang lebih tinggi.

Pengemasan album ini juga menarik. Nuansa Jogja terlihat di dalam albumnya. Pun dengan visi kesederhanaan telah tercapai di sampul albumnya walau dari sisi informasi yang diberikan untuk para musisi tidak ada yang baru. Hal lain yang menarik adalah apresiasi untuk para sponsor yang diberikan melalui peta. Unik dan tidak mengganggu teks album secara keseluruhan. Upaya yang jauh lebih bagus dibandingkan dengan iklan RBT album-album musisi aras utama yang sangat menganggu keutuhan visual sampul album.

Dari sisi para pelantun lagu, tidak diragukan lagi, kesepuluh nama band pendukung kompilasi ini mempunyai nama besar dengan caranya masing-masing. Selain karena karya-karya mereka yang bagus, ada yang terkenal di manca negara karena merilis album di sana, ada yang suaranya bak dewi turun dari khayangan, ada yang musiknya diapresiasi oleh beragam pihak, dan ada yang baru saja mengeluarkan album yang sangat bagus. Namun entah mengapa, dalam “kesatuan” kerja kolektif menurut saya masih ada sedikit yang kurang. Misalnya saja, masih ada beberapa pemilik nama besar dan dikagumi banyak orang, yang tidak hadir di album ini. Walau sudah diinformasikan dalam pengantar album ini, seperti alasan itu tak begitu pas. Ruang di album kompilasi ini sekiranya masih cukup untuk beberapa penyanyi lain.

Kedua, tidak adanya tulisan oke yang “menemani” teks utama, bahasa kerennya “liner notes”. Kita pasti paham banyak penulis Jogja yang bagus yang bisa membingkai album ini secara berkelas dengan tafsir dan analisis yang menarik. Teks semacam biografi para pendukung album belum cukup bagi album ini. Semestinya ada juga catatan di dalam album yang “setara“ dengan teks utamanya, lagu.

Namun, di atas semua itu, album ini adalah upaya yang luar biasa apalagi album ini sempat tertunda dari jadwal semula ketika kota Jogja berulang-tahun, 27 Oktober 2010, karena erupsi Merapi. Album ini pun juga didedikasikan untuk mbah Maridjan, juru kunci Merapi. Kemudian, kesederhanaan dan didekasi beliau dimanifestasikan dalam sampul album kompilasi ini. Dari sisi hasil kreasi, album ini juga sangat bagus. Sangat terasa bila kita mendengar kesepuluh lagunya. Tak jenuh saya mendengarnya berulang-kali, terutama lagu pertama, ketiga, keenam, dan kedelapan. Lagu pertama, "Jogja Istimewa" oleh Ki Jarot (Jogja Hip Hop Foundation,adalah manifesto album ini plus dengan musiknya yang segar dan sangat terdengar bernuansa Jogya, tepat membuatnya jadi lagu andalan.

Lagu ketiga, "The Song Finished" oleh Armada Racun, malah membuat saya ingin terus mendengarkan tiap lagu di kompilasi ini. lagu keenam adalah lagu milik Risky Summerbee & The Honeythief, judulnya "Mind Game". Seperti biasa mereka bagus sekali, beberapa teman malah memilih lagu ini sebagai lagu terbaik di sini. Lagu kedelapan, "The Joker" oleh Cranial Incisored, semakin menunjukkan gaya "bebas" dalam berekspresi itu adalah keutamaan. Selain itu, keenam lagu yang lain juga bagus dan mengajak kita memikirkan kembali Jogja sebagai spasial dan kumpulan relasi yang keren. Album kompilasi ini semakin menunjukkan bahwa Jogja memang istimewa, terutama akan selalu istimewa di hati kita masing-masing, warga atau bukan warga Jogja.

Judul album : Jogja Istimewa 2010
Penyanyi : Various Artist
Tahun : 2010
Produksi : Kongsi Jahat Syndicate, Anarkisari Rekord, Yes No Wave
Distribusi : Demajors
Harga : Rp. 35.000,-

Daftar lagu:
1. Ki Jarot (Jogja Hip Hop Foundation) - Jogja Istimewa
2. Serigala Malam - For the Unbroken (friend stand alliance edition)
3. Armada Racun - The Song Finished
4. Individual Live - Semoga Engkau Berkenan Mendengarnya Perlahan Hingga Usai
5. Frau – Confidential
6. Risky Summerbee & The Honeythief - Mind Game
7. ZOO feat Wukir - Bambu Runcing
8. Cranial Incisored - The Joker
9. DOM 65 - Klub S.A.
10. Dubyouth - Endless Night

Rabu, 24 November 2010

Dari Jaringan Komunikasi Sosial sampai Komunikasi untuk Publik: Mencoba Menilai Isi Media Internet

Pengantar

Apa yang kita pikirkan bila membaca kalimat dari sebuah film: you don’t get to 500 million friends without making a few enemies? Kalimat ini berasal dari sebuah film yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini, the Social Network. Film yang berkisah tentang pendiri Facebook, Mac Zakerberg, dari sisi yang lain. Teman dan musuh yang tercipta karena berinteraksi melalui media jejaring komunikasi, itulah salah satu makna yang bisa kita dapatkan dari kalimat di atas. Media baru menciptakan (banyak) teman dan (sedikit) musuh, atau sebaliknya, tergantung dari kita yang menggunakan.

Membuat banyak “teman” juga dapat digunakan untuk jenis penggunaan media internet yang lain. Kita bisa menilai isi media situs dari penciptaan relasi dengan pihak lain. Isi media yang kita bicarakan di sini adalah isi media sebagai pesan atau kesatuan rangkaian informasi, ataupun isi media sebagai teks, yang berarti bisa dimaknai dengan bebas oleh pengakses sesuai dengan pengetahuan yang ia miliki.

Tidak seperti halnya media massa yang cenderung lebih banyak berfungsi menyampaikan informasi dan pengetahuan, isi media internet lebih cenderung menciptakan relasi antara penyedia dan pengakses informasi. Secara natural, teknologi yang ada di dalam internet membuat relasi tersebut sangat mungkin terjadi dan dimanfaatkan. Sayangnya, isi media internet seringkali masih dianggap sama persis dengan isi media massa yang tidak interaktif dan lebih mementingkan penyampaian informasi. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya situs yang belum memberikan fungsi memberi komentar atau pun berinteraksi atas isi medianya.

Tulisan ini mencoba mendiskusikan salah satu cara dalam memahami dan menakar kualitas isi media. Terdapat tiga terma yang difungsikan untuk itu, yaitu memahami definisi dari media baru, kemudian akan coba diuraikan jaringan komunikasi sosial sebagai varian utama dari media baru, proses komunikasi publik yang sebaiknya menjadi karakter yang diutamakan, dan tulisan akan ditutup dengan saran untuk menilai isi media internet dengan lebih memadai.

Apa Itu Media Baru?

Banyak cara untuk mendefisikan media baru. Cara tersebut dimulai dengan memberikan nama yang beragam, selain media baru, nama yang diberikan oleh para ahli misalnya media interaktif, media digital, dan media konvergen. Terry Flew, salah seorang penulis media baru yang menyebutnya sebagai media konvergen, menjelaskan bahwa terdapat tiga karakter dari media konvergen. Ketiga karakter itu disebut tiga C, yaitu: Communications networks, Computing/information technology, Content (media) (Flew, 2005: 3). Ide utama untuk menghasilkan isi media internet yang baik adalah dengan memperkuat 3C di dalamnya. Bagaimana menciptakan jaringan komunikasi yang dinamis, bagaimana mengelola teknologi dengan efisien, yang berkonsekuensi langsung agar isi media efektif, dan bagaimana menghasilkan isi media yang baik sekaligus kontinyu, adalah tiga pertanyaan yang menjadi “pintu masuk” untuk menilai sebuah isi media.

Salah satu karakter dari isi media baru adalah jaringan komunikasi sosial yang sebaiknya terbentuk ketika kita mengelola isi media baru, sebuah situs misalnya. Media jejaring sosial atau teknologi jaringan sosial adalah hal yang banyak dibicarakan belakangan ini, namun sebenarnya ilmu komunikasi telah lama membahasnya. Diskusi mengenai jaringan (komunikasi) sosial akan dibicarakan pada bagian berikutnya.

Jaringan Komunikasi Sosial

Proses komunikasi dapat diamati dari berbagai sisi. Dari sisi dinamika prosesnya, komunikasi dapat diklasifikasikan dalam tiga model, yaitu proses komunikasi: satu arah atau linear, dua arah atau timbal-balik, dan banyak arah atau seringkali disebut sebagai proses komunikasi yang dinamis. Proses komunikasi banyak arah inilah yang menjadi pondasi bagi terwujudnya jaringan komunikasi sosial yang kita kenal sekarang.

Jaringan komunikasi sosial yang kita kenal lebih rumit dari terma pendahulunya. Intinya, jaringan komunikasi sosial tercipta karena media. Media menjadikan tiap individu berelasi secara tak langsung melalui media massa, ataupun secara “langsung”, melalui media baru. Jaringan komunikasi sosial dalam kemasannya yang lama didedah pertama kali dalam konsep lain, yaitu difusi inovasi (Everett M. Rogers & D. Lawrence Kincaid, 1980). Jaringan komunikasi sosial terbentuk dari banyak individu yang memerlukan informasi untuk menghasilkan pengetahuan, pemahaman, dan sikap yang “baru”. Awalnya, difusi inovasi dipergunakan untuk memahami lebih jauh sebuah program komunikasi pembangunan di suatu lokasi di mana masyarakatnya dianggap belum maju. Namun pada akhirnya, konsep difusi inovasi digunakan lebih luas dalam bidang komunikasi yang lain, misalnya komunikasi politik dan komunikasi pemasaran.

Jaringan komunikasi sosial fase awal terbentuk karena penggunaan media massa yang menghasilkan relasi tak langsung antar individu. Relasi tersebut menciptakan jenis individu yang berbeda, mulai dari pemuka pendapat (opinion leader), individu yang menjadi rujukan bagi individu lain yang termasuk dalam jaringan, sampai dengan pemencil, individu yang relatif terasing atau mengasingkan diri walau individu juga merupakan bagian dari jaringan komunikasi yang terbentuk.

Ciri relasi pada jaringan komunikasi fase awal ini terbentuk karena individu direlasikan oleh media. Relasi yang juga membuat individu “berjarak” dengan individu yang lain. Media melakukan fungsi mediasi bagi kita. Fungsi mediasi tersebut juga beragam, yang kita kenal sebagai metafor mediasi. Metafor mediasi secara lengkap adalah sebagai berikut: window; mirror; filter or gatekeeper; signpost, guide, interpreter; forum or platform; disseminator; interlucator (McQuail, 2005: 83). Media berperan berbeda bagi individu dalam berelasi dengan individu lain dan juga terhadap realitas yang coba disampaikannya.

Metafor mediasi hanya berlaku bagi media massa. Hal yang berbeda muncul dalam media baru. Media baru memperluas mediasi, bahkan juga mengubahnya secara radikal. Mediasi karena perkembangan media baru diperluas menjadi konsep (re)mediasi. Bila pada media lama, individu menjadi pihak yang berbeda atau berjarak, pada media baru, individu “melebur” menyatu dengan media. Individu ketika mengakses media massa menjadi orang kedua dan ketiga, sementara ketika mengakses media baru menjadi orang pertama.

Remediasi (remediation) sendiri tidaklah monolit pemaknaannya. Remediasi terdiri dari dua jenis, yaitu imediasi (immediacy) dan hyper-mediasi (hypermediacy) (Bolter & Grusin, 1999: 21 – 44). Imediasi secara harafiah bisa diartikan sebagai “tanpa mediasi” walau sebenarnya mediasi tetap terjadi. Imediasi meleburkan diri individu di mana interaksi bisa lebih bebas dilakukan. Sementara hypermediasi memiliki pengertian mediasi yang berlebih. Melalui media baru kita bisa mengakses pesan dengan beragam cara, dan dalam beberapa hal, kita bahkan bisa memilih tipe interaksi yang akan kita lakukan melalui media baru.

Remediasi inilah yang kemudian ikut membentuk jaringan komunikasi sosial seperti yang kita kenal sekarang. Jejaring komunikasi sosial tersebut kemudian berkaitan erat dengan tipe media baru yang kini kita kenal walau kemudian kita lebih terfokus pada tipe yang keempat. Empat tipe dari media baru adalah sebagai berikut: interpersonal communication media, interactive play media, information search media, dan collective participatory media (McQuail, 2005: 142 - 143).

Dengan demikian, ketika kita berusaha menghasilkan isi media internet, jenis remediasi berkaitan dengan tipe media baru tersebut harus kita perhatikan dengan detail. Kita bisa mengklasifikasikan terlebih dahulu tipe informasi seperti apa yang ditawarkan, juga tipe individu yang mungkin mengakses isi media kita. Walau begitu, secara alamiah sebenarnya distribusi informasi di dalam internet sangat mungkin bersifat kepublikan. Artinya, proses komunikasi yang terjadi berpotensi besar untuk mewujudkan komunikasi publik.

Komunikasi Publik

Komunikasi publik memiliki dua definisi. Pertama, komunikasi dalam publik, yaitu proses komunikasi yang berlangsung di dalam institusi masyarakat sipil. Berkomunikasi dalam wilayah masyarakat sipil menjadikan relasi antar individu lebih dekat dalam fungsi relasi untuk integrasi dan saling memahami, bukan untuk mencari profit atau “menguasai” individu lain. Kedua, komunikasi publik dapat bermakna proses komunikasi untuk publik atau bervisi kepublikan, untuk institusi masyarakat sipil. Publik adalah bagian dari masyarakat yang rasional, terbuka, dan bergerak untuk banyak orang, pelibatan dan berguna (lihat Grossberg, Wartella, Whitney & Wise, 2006: 378).

Sebagai penutup, untuk meningkatkan kualitas yang baik pada isi media baru, paling tidak ada dua hal yang mesti diperhatikan. Pertama, produser atau kreator menyadari sepenuhnya makna remediasi yang menjamin dua esensi komunikasi tercapat, keterbukaan dan otonomi individu, sekaligus relasi yang memadai dengan individu lain. Isi media internet jangan sampai hanya “membicarakan” diri sendiri atau lebur dalam kepentingan pihak lain. Relasi yang memberdayakanlah yang berusaha diwujudkan melalui isi media internet.

Kedua, semua jenis media baru, terutama internet, berpotensi untuk memperkuat publik asalkan kita mengetahuinya. Dengan demikian, isi media baru diarahkan pada pelibatan individu untuk saling berkolaborasi satu sama lain sesuai dengan premis awal bahwa internet adalah media terbuka. Bila isi media internet ternyata bermotif politis atau pun ekonomi, fungsi sosiokulturalnya tetaplah dimasukkan. Bila sudah lebih mengutamakan komunikasi publik, maka “teman” yang tercipta akan lebih banyak. Kembali pada kutipan dari film the social network di awal tulisan, apalah artinya mempunyai sedikit musuh bila kita punya begitu banyak teman?

********

# Tulisan ini merupakan pokok-pokok pemikiran yang disampaikan dalam diskusi “Pengembangan Model Community Access Point pada Masyarakat Pengrajin di desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Bantul, D.I. Yogyakarta”.
##Diskusi diselenggarakan oleh Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BPPKI) pada tanggal 21 November 2010. 


Referensi

Bolter, Jay David & Richard Grusin (1999). Remediation: Understanding New Media. Cambridge: the MIT Press.
Flew, Terry (2005). New Media: An Introduction. Second Edition. Oxford: Oxford University Press.
Grossberg, Lawrence, Ellan Wartella, D. Charles Whitney & J. Macgregor Wise (2006). Media Making: Mass Media in A Popular Culture. Second Edition. London: Sage Publications.
McQuail, Denis (2005). McQuail’s Mass Communication Theory. Fifth Edition. London: Sage Publications.
Rogers, Everett M. Rogers & D. Lawrence Kincaid (1980). Communication Networks: Toward A New Paradigm for Research. New York: the Free Press.

Bohemian Like You


Tidak ada kenangan spesifik atas lagu ini. Kenangan umum saja atas suasana dekade akhir 1990-an dan awal 2000-an ketika masih ada program acara "Alternative Nation" di MTV, yang waktu itu pun masih menumpang di dua stasiun televisi Indonesia. Acara itu seringkali memunculkan lagu-lagu "antah berantah" namun bagus. Berbagai lagu yang benar-benar menjadi alternatif pilihan dari lagu top 40 yang diputar di radio siaran, media utama anak muda pada waktu itu. Saya "menemukan" lagu-lagu yang termasuk dalam genre alterantif di acara ini walau sebenarnya label alternatif itu cukup aneh karena memasukkan semua jenis lagu di luar pop dan disco ke genre ini. Jangan heran, pada waktu itu Spin Doctor bisa bertemu dengan Blur, Oasis dikombinasi dengan John Mayer di acara itu. Lagu "Bohemian Like You" saya ketahui secara tak sengaja pada suatu siang ketika tak ada pekerjaan. Atau sebenarnya menonton televisi adalah pekerjaan juga?



Klip yang bebas habis dan saya tetap tak habis pikir mengapa dulu itu bisa disiarkan di televisi nasional pada siang hari. Klipnya tetap disensor (seadanya), namun prinsip kebebasan khas "kaum bohemian" tetap tergambar jelas di lagu ini. Seperti apa sebenarnya bohemian itu? tidak ada yang tahu persis, namun biasanya istilah bohemian dioposisi-binerkan dengan borjuis. Namun mendefinisikan kaum borjuis pun tak mudah. Di dalam oposisi biner biasanya sifat yang satu akan menihilkan sifat yang lain, ada sifat yang keren di bohemian akan membuat sifat jayus di borjuis. Menariknya, hampir tak bisa bila berlaku sebaliknya. Itulah sebabnya kebanyakan orang ingin menjadi bohemian, yang bebas nan inspiratif. Orang tidak ingin menjadi borjuis karena kaku dan serba penuh perhitungan.



Namun saya menganut dualitas, bukan dualisme seperti yang termaktub di opiisis biner. Pada dasarnya kita punya potensi baik dan buruk pada diri, seperti halnya kita punya sifat bohemian dan borjuis sekaligus. Karena itulah saya lebih menyenangi sebutan "kaum bobos" untuk kita sekarang, yang merupakan campuran dari sifat bohemian dan borjuis dalam diri. Mungkin bohemian sepenuhnya hanya ada di lagu dari the Dandy Warhols ini. Lagu ini termasuk satu dari tiga belas lagu bagus di album "Thirteen Tales from Urban Bohemia", album ketiga the Dandy Warhols yang dirilis pada tahun 2000. Untuk apa ingin menjadi bohemian bila diri sendiri sebenarnya berpotensi menjadi bohemian. Tinggal mengeluarkannya saja, tinggal membebaskannya saja... :)



"Bohemian Like You"

oleh the Dandy Warhols



You got a great car.

Yeah, what's wrong with it today?

I used to have one too,

Maybe I'll come and have a look.

I really love your hairdo, yeah.

I'm glad you like mine too,

See we're looking pretty cool.

Getcha!



So what do you do?

Oh yeah, I wait tables too.

No I haven't heard your band

Cause you guys are pretty new.

But if you dig on Vegan food.

Well come over to my work

I'll have them cook you something that you'll really love.



Cause I like you,

Yeah I like you.

And I'm feeling so Bohemian like you,

Yeah I like you, Yeah I like you,

And I feel wahoo, wahoo, wahoo!



Wait. Who's that guy just hanging at your pad?

He's lookin' kinda bummed.

Yeah you broke up that's too bad.

I guess it's fair if he always pays the rent

And he doesn't get all bent

About sleepin' on the couch when I'm there.



Cause I like you,

Yeah I like you.

And I'm feeling so Bohemian like you.

Yeah I like you.

Yeah I like you

And I feel wahoo, wahoo, wahoo!



I'm getting wise

And I feel so bohemian like you.

It's you that I want so please,

Just a casual, casual easy thing.

Is it? It is for me



And I like you

Yeah I like you

And I like you,

I like you,

I like you,

Yeah I like you.

And I feel wahoo, wahoo, wahoo!

Senin, 22 November 2010

Luka


Tahukah kau rasanya mengalami kekerasan fisik, dipukuli? semoga tidak pernah terjadi pada dirimu, seperti yang pernah kualami dahulu sewaktu masih anak-anak. Tidak peduli siapa pun yang melakukan, kekerasan fisik antara lain dipukuli, akan menimbulkan luka di hati yang tak akan bisa hilang. Mungkin luka yang tertera di tubuh bisa sembuh, namun Luka lain akan tetap ada, terekam dalam ingatan, walau mungkin kau telah memaafkannya. Luka itu akan bertahan lebih lama bila pelaku kekerasan pada kita adalah orang-orang yang semestinya melindungi kita. Orang-orang yang kita cintai, yaitu rang-orang yang merupakan bagian dari keluarga kita. Entah apa pun alasannya kekerasan fisik tidak boleh dilakukan sekali pun katanya motifnya adalah cinta dan kasih sayang. Ingatlah teman, pukulan dan tendangan bukanlah sebentuk kasih sayang apa pun pemaknaannya. Pun dengan caci-maki dan cercaan, ini adalah bentuk kekerasan verbal yang tetap tidak dibolehkan dilakukan, apalagi pada anak-anak. Anak-anak akan merekam itu dan di masa dewasa mereka cenderung akan mengulanginya, terutama pada ucapan lisan yang tidak pantas disampaikan pada orang lain.



Tahukah kau rasanya mengalami kekerasan fisik, dipukuli, dan kekerasan verbal, dicaci-maki, dan kau tidak dilindungi oleh orang-orang yang semestinya melindungi? Itulah yang dirasakan para pahlawan devisa kita. Mereka diberi gelar pahlawan namun tidak dilindungi oleh negara. Mirip dengan gelar-gelar pahlawan yang diberikan negara pada profesi lain. Ingatkah kau gelar "pahlawan tanpa tanda jasa"? di dalam kehidupan nyata para pendidik kita itu, terutama yang berada di daerah terpencil, kurang mendapatkan apresiasi dari negara. Mereka, yang katanya wakil rakyat itu, malah ingin memberikan gelar pahlawan pada orang yang telah menghancurkan negeri ini selama tiga dekade.



Pemerintah, yang diwakili presiden "si Raja Menye" memberikan alternatif solusi yang absurd. Berikan mereka handphone, katanya. Dan akhirnya saya tahu, sang doktor tidaklah menyerap ilmu pengetahuan dengan baik karena melupakan yang holistik dan yang spesifik. Seorang yang katanya wakil dari rakyat juga memberikan komentar yang lebih aneh. Katanya para TKW Indonesia, para pahlawan devisa itu, mendapatkan siksaan karena tidak memiliki keterampilan yang memadai. Logika yang ngawur seperti itu kembali menyalahkan korban kekerasan yang semestinya mendapatkan perlindungan. Kita yang menyaksikan tingkah-polah mereka semestinya tahu bahwa yang tidak memiliki kecakapan adalah mereka yang tidak memberikan pelatihan dengan baik, tidak bisa berdiplomasi dengan negara lain dengan bagus, dan abai dalam memberikan rasa dan kondisi aman bagi semua warga negara.



Kemana perginya media yang bertugas mendesakkan pada pejabat publik untuk menjalankan tugasnya: melindungi dan memfasilitasi warga negara? sebagian media memang telah memberitakan berbagai kasus kekerasan yang dialami oleh TKI dengan baik, namun kurang kritis dan belum mendesakkan penanganan yang holistik. Media juga mesti menyampaikan mengapa "tuan-tuan" yang melakukan tindakan kekerasan, bahkan sampai membunuh itu, berasal dari dua negara yang katanya sesama negara mayoritas muslim, Arab Saudi dan Malaysia? untuk Malaysia malah mesti ditambah lagi labelnya, negara yang katanya serumpun namun rajin menyiksa "anggota keluarga"-nya sendiri. Tetapi kemudian aku tersadar, media di Indonesia bukanlah pembuka informasi yang baik, dalam beberapa hal malah menghalangi kita mengetahui beragam kejadian dengan mendalam.



Tahukah kau teman, ada lagu yang mampu menggambarkan terjadinya kekerasan fisik dengan baik? Di lagu ini dideskripsikan tindakan kekerasan domestik yang dialami oleh seorang perempuan. Rasa cinta pada pasangan dan rasa sakit akibat kekerasan fisik membuatnya ambigu bersikap. Si korban kemudian menyalahkan dirinya sendiri yang tidak kompeten, tidak membuat bangga, dan mulai menerima perlakuan si "pemukul". Perasaan bersalah itu kemudian membuatnya tidak menceritakan pada siapa pun karena itu adalah aib bagi dirinya sendiri. Hal ini justru membuat tindakan kekerasan itu berulang dan berulang...tanpa diketahui orang lain, tanpa dipahami oleh orang-orang lain yang semestinya melindungi.



"Luka"

oleh Suzanne Vega



My name is Luka

I live on the second floor

I live upstairs from you

Yes I think you've seen me before



If you hear something late at night

Some kind of trouble. some kind of fight

Just don't ask me what it was

Just don't ask me what it was

Just don't ask me what it was



I think it's because I'm clumsy

I try not to talk too loud

Maybe it's because I'm crazy

I try not to act too proud



They only hit until you cry

After that you don't ask why

You just don't argue anymore

You just don't argue anymore

You just don't argue anymore



Yes I think I'm okay

I walked into the door again

Well, if you ask that's what I'll say

And it's not your business anyway

I guess I'd like to be alone

With nothing broken, nothing thrown



Just don't ask me how I am [X3]



My name is LukaI live on the second floor

I live upstairs from you

Yes I think you've seen me before

If you hear something late at night

Some kind of trouble, some kind of fight

Just don't ask me what it was

Just don't ask me what it was

Just don't ask me what it was



And they only hit until you cry

After that, you don't ask why

You just don't argue anymore

You just don't argue anymore

You just don't argue anymore

Sabtu, 20 November 2010

All Along The Watchtower


Teks, atau bisa didefinisikan apa pun yang kita maknai, selalu berelasi dengan teks yang lain. Kita bersengaja atau pun tidak merelasikannya, kita sukai atau pun tidak, ketika kita memaknai sesuatu relasi atau kesalingterkaitan itu muncul. Keterkaitan ini bisa berasal dari teks itu sendiri atau hanya ada di pikiran kita. Keterkaitan teks bisa logis, bisa pula tidak. Namun yang terpenting keterkaitan itu bisa diterima oleh minimal diri kita sendiri.



Teks yang mudah kita temui adalah isi media. Kita bisa melihatnya semata-mata teks yang bebas dimaknai sesuka kita. Bisa juga kita lihat sebagai satuan informasi yang jumlahnya tertentu dan karakter yang kita lihat dan nilai sama sebagai para pengakses. Sebagai sebuah teks, sebuah isi media bisa mengantarkan kita kemana pun. Tak terbatas. Tak berhingga. Sebagai sebuah satuan informasi, isi media adalah tertentu. Terbatas. Tertakar sama. Kita hanya perlu meyakinkan pihak lain atas karakter dan “jumlah” yang tertentu itu.



Saya kira saya sudah melantur terlalu jauh karena beberapa isi media yang saya maknai. Saya sedikit kagum dengan para kreator isi media film. Mereka bisa dan potensial menghadirkan makna baru pada sesuatu, dan makna baru itu selalu berelasi dengan teks yang lain. Ada teks awal yang direlasikan atau dimaknai ulang menjadi teks lain yang sedikit berbeda, atau bahkan berbeda sama sekali dengan teks awalnya. Format teks bisa jadi berbeda. Teks awal bisa muncul pertama-kali di isi media cetak misalnya, lalu lahir kembali di isi media film.



Film “Daybreakers” (2009) misalnya. Sebagai sebuah teks “baru” yang menafsir vampir, film ini bagus. Ketika beberapa film “merayakan” karakter vampir yang menunjukkan vampir hebat, bisa menikah dengan manusia, perempuan yang cantik, vampir itu jahat dan tak terkalahkan, hidup abadi pula. Film itu bergerak sedikit jauh dengan berkisah tentang kehidupan bila vampir telah menang dari manusia. Ternyata setelah kemenangan itu, vampir mendapatkan kesulitan hidup. Darah sebagai sumber energi utama semakin langka dan akan habis dalam waktu sangat dekat.



Sayangnya, film ini gagal pada akhir teksnya. Penjelasan akan problem hidup eksistensial vampir tidak dijelaskan tuntas. Film “Watchmen” (2008) menurut saya lebih berhasil karena kehidupan eksistensial para superhero ternyata bisa terlihat bermasalah betul. Berbeda dengan teks tentang superhero yang kita pahami dari teks-teks serupa sebelumnya.

Film lain yang teks awalnya juga bagus namun gagal ketika dimaknai dalam teks lain adalah film “the Road” (2009). Film yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Cormac McCarthy ini gagal mendapatkan “jiwa” dari novelnya.



Awalnya film ini bagus menangkap keputusasaan manusia pasca bencana besar atau semacam kiamat, namun pada akhirnya dalam pendedahan alur teks, tidak terasa lagi problem kemanusiaan yang “menyayat” yang bisa kita dapat dari novelnya. Membaca novelnya, saya merinding beberapa hari. Menonton filmnya, bahkan saya hanya bisa menangkap kesedihan sesaat selama beberapa menit dari sedikit adegannya. Film lain, yang juga menggunakan novel Cormac McCarthy sebagai teks awalnya, lebih bagus, yaitu “No Country for Old Men” (2007). Saya memang belum membaca novelnya, namun menonton filmnya, saya merasakan absurditas dalam pengertian yang positif selama berhari-hari. Anjis nih film...begitu kata hati saya sehabis menonton film tersebut untuk menunjukkan kekaguman atas briliannya sebuah teks.



Film lain yang bagus dalam memberikan makna baru pada teks sekaligus merelasikannya adalah film “I'm Not There” (2007). Film ini uniknya menggunakan teks lain yang sangat spesifik, bukan teks “besar” dan lengkap seperti isi media yang lain. Film ini memaknai seorang penyanyi sekaligus penyair besar, Bob Dylan. Dylan dimaknai dalam enam karakter yang berbeda, namun semua tetap merujuk pada rangkaian karakter “asli” Dylan. Bila karakter tersebut muncul sebagai anak berkulit hitam pada abad ke-19, Billy the Kid, penyanyi Inggris, dan seorang pendeta, atau siapa pun, tidak ada masalah. Teks tetap bagus, menggemaskan, sekaligus mencerdaskan. Tidak hanya itu, film ini menggelontorkan puisi-puisi yang bernas dan lagu-lagu yang bagus. Gaya yang khas milik Dylan.



Walau lagu-lagu Dylan berlirik bagus, saya tak pernah bertahan lama mendengarkannya menyanyi. Menurut saya suaranya mengganggu dan tidak enak didengarkan lebih dari setengah lagu. Saya mendengarkan Dylan dari penyanyi lain, atau saya tidak mendengarkan lagu-lagunya, hanya membaca dan menyerap puisi-puisinya yang menghablur dalam lirik semua lagu yang ia tulis.



Selain senang mendengarkan lagu “Knockin' On Heaven's Door” yang dibawakan oleh Gun N Roses, saya juga senang mendengarkan lagu “All Along The Watchtower” yang dinyanyikan oleh U2. Kedua lagu Dylan tersebut adalah contoh bagaimana puisi bisa menjadi lagu yang bagus. Lagu “All Along The Watchtower” adalah metafor yang bagus bagi seorang penyaksi. Penyaksi atas hidup yang ambigu. Mengapa ambiguitas itu lahir? Tak lain dan tak bukan karena kita selalu terjebak dalam adegan demi adegan. Tafsiran ini saya kutip secara bebas dari narasi “Im Not There”.



Selamat menafsir dan salam hangat untuk kita si penyaksi hidup yang menyemburat dalam ketakberhinggaan makna!



All Along The Watchtower

Ditulis dan dinyanyikan oleh Bob Dylan



"There must be some way out of here," said the joker to the thief,

"There's too much confusion, I can't get no relief.

Businessmen, they drink my wine, plowmen dig my earth,

None of them along the line know what any of it is worth."



"No reason to get excited," the thief, he kindly spoke,

"There are many here among us who feel that life is but a joke.

But you and I, we've been through that, and this is not our fate,

So let us not talk falsely now, the hour is getting late."



All along the watchtower, princes kept the view

While all the women came and went, barefoot servants, too.



Outside in the distance a wildcat did growl,

Two riders were approaching, the wind began to howl

Jumat, 19 November 2010

That's What Friends are for


Aktivitas yang paling disukainya di pagi hari adalah memilih dan memutar lagu. Ia memiliki keleluasaan memilih lagu yang disukai, merangkaikannya dalam sebuah "playlist" untuk membantunya memasuki hari. Seringkali pilihan acak atas lagu yang diputar mendatangkan kejutan bagi dirinya sendiri. Kejutan yang dibawa sebuah lagu itu antara lain kenangan-kenangan yang tersimpan atasnya. Seringkali kenangan itu sudah hampir ia lupakan di hati dan ingatannya. Bila diibaratkan sungai, kenangan itu sudah berubah menjadi sungai yang kecil alirannya bersama waktu. Namun dengan mendengarkan sebuah lagu, "sungai kecil" itu bisa deras lagi dan membuat kenangan menjadi lebih jelas. Bukan apa-apa, kenangan itu berfungsi untuk dirayakan bila indah dan jadi sarana belajar bila merupakan sebuah kesalahan di masa lalu.



Memutar sebuah lagu, terutama secara acak, di pagi hari baginya juga sebuah metafor. Lagu-lagu itu seperti orang-orang yang memiliki karakter dan "kepribadian". Ada memang orang-orang lain yang secara bersengaja ditemuinya karena memang orang-orang itu berbagi hidup dengannya. Ini dimetaforkan oleh lagu yang memang sengaja dia pilih. Ada juga orang-orang yang tidak terduga yang nantinya bisa ditemui. Biasanya hal ini bisa dimetaforkan oleh lagu yang muncul secara acak dari koleksi lagu yang dia miliki. Putar software pemutar lagu dengan mode shuffle adalah cara terbaik untuk "menemukan" dan menikmati lagu tak terduga. Dalam kehidupan nyata, baik secara langsung maupun dengan media baru, secara tak terduga kita akan bertemu dengan orang-orang tak terduga, terutama teman-teman lama.



Itulah yang dia rasakan ketika secara tak sengaja dia mendengarkan lagu ini, "That's What Friends are for". Lamat-lamat lagu ini sebenarnya telah dia dengar beberapa hari sebelumnya ketika sebuah program televisi memutarnya berkaitan dengan erupsi Merapi. Lagu lagu ini tiba-tiba muncul dalam ingatannya ketika dia membaca novel Haruki Murakami yang berjudul "Sputnik Sweetheart", yang menyoal relasi antar manusia; relasi sebagai teman atau kekasih atau idola. Dia yakin bahwa media lain dan waktu adalah penginsepsi penting bagi kenangan, sementara lagu adalah yang terutama.



Apa itu teman? konsep ini benar-benar unik. Teman adalah orang lain yang bermakna bagi diri. Begitu pikirnya. Namun segera dia bantah sendiri pendapat itu dari benaknya. Musuh juga bisa bermakna bagi diri, antara lain mengingatkan pada hal-hal negatif. Begitu simpulan dalam pikirannya. Teman adalah orang-orang lain di seputar diri kita dengan tanpa memaksa kita menjadi dirinya. Teman selalu membiarkan kita apa adanya, saling mendukung di kala hati lara dan saling mencerahkan hati di saat bahagia. Namun dia sadar teman lebih luas dari itu. Identitas yang kita beri pada kata "teman" juga selalu berubah. Orang-orang lain bisa menjadi teman baik, teman biasa, sekadar kenal, teman yang tidak baik, bahkan musuh pada waktu yang berbeda. Dia tak ingin menafsir lebih dalam lagi. Dia hanya mendengar lagu yang dahulu pernah lekat dengannya.



Lagu ini mengingatkannya pada masa indah di kampung halamannya. Sore yang tenang, hidup yang sederhana, kaset-kaset berbentuk "kotak" yang tidak pas di tangan namun memberikan lirik lagu lengkap. Kaset-kaset bertuliskan "20 Love Songs" yang banyak memuat lagu bagus. Dia tersenyum dan tetap kaget bagaimana kenangan indah bisa teringat kembali hanya oleh sebuah lagu. Kenangan pada pertengahan dekade 1980-an. Lagu ini dinyanyikan oleh Dionne Warwick and Friends. "Friends" itu pun bukan penyanyi biasa karena mereka adalah tiga penyanyi kugiran, Gladys Knight, Elton John dan Stevie Wonder. Lagu yang merupakan cover version dari lagu berjudul sama yang dinyanyikan oleh Rod Stewart pada tahun 1982. Namun lagu versi Dionne Warwick dan teman-teman inilah yang lebih populer.



Lagu ini juga menunjukkan semangat pada orang-orang dekade 1980-an, yang merasa lebih optimis dengan hidup dibandingkan era sekarang. Optimismes bahwa kita bisa saling membantu sesama tanpa melihat faktor-faktor pembeda identitas; agama, ras, ideologi, kelas, gender, etnis, dan umur. Hal yang sama teramati di lagu "We are the World" yang disuarakan oleh USA for Africa dan "Let It Be" yang dinyanyikan oleh Live Aid. Optimisme itu kemudian meredup jauh pada akhir dekade 1990-an dan awal 2000-an ketika konflik warga dunia semakin mengeras. Tak ada humanisme yang memadai, yang ada hanya perhatian pada faktor-faktor pembeda yang seringkali mematikan.



Dia hanya tersenyum teringat pada kenangan itu, dan juga teringat pada kejadian beberapa hari yang lalu. Sudah lama sekali dia tidak mendengar khutbah yang menyejukkan. Kali ini dia mendengar dan merenunginya dari khutbah Idul Adha yang mencerahkan. Dia juga terinspirasi dari begitu banyak orang yang berkorban untuk sesama pada erupsi Merapi. Sesungguhnya tiap orang berkorban untuk visi hidupnya, untuk orang-orang yg dicintainya, termasuk teman-temannya, dan Sang Pencipta, disadari ataupun tidak, diakui atau pun disembunyikan. Pengorbanan itu pun tak akan sia-sia. Ada ''balasan''-nya, kini atau pun nanti, sedikit atau pun banyak, sepadan atau pun tidak.



Siapa yg tahu satu detik ke depan? Siapa yang tahu apa "balasan" yang akan diberikan teman? dari teman, tanpa balasan tindakan pun pastinya tak apa karena semua didasari oleh hati yang terbuka.



That’s What Friends are for

Dinyanyikan oleh Dionne Warwick and Friends



Verse 1

And I

Never thought I'd feel this way

And as far as I'm concerned I'm glad

I got the chance to say

That I do believe I love you



And if I should ever go away

Well then close your eyes and try to feel the way we do today

And than if you can't remember.....





Chorus

Keep smilin'

Keep shinin'



Knowin' you can always count on me for sure

that's what friends are for



In good times

And bad times

I'll be on your side forever more

That's what friends are for



Verse 2

Well you came and open me

And now there's so much more I see

And so by the way I thank you....





Ohhh and then

For the times when we're apart

Well just close your eyes and know

These words are comming from my heart

And then if you can't remember....Ohhhhh



(Repeat chorus 3x)

Minggu, 14 November 2010

Berkomunikasi pada Saat Bencana

Belum kering airmata kita atas bencana banjir dan tanah longsor di Wasior, sebagai bagian dari warga Indonesia, kita harus bersedih lebih mendalam lagi dengan bencana erupsi Merapi dan tsunami di Mentawai. Kita bersedih karena saudara-saudara kita menjadi korban dari ketiga bencana tersebut. Sebenarnya masih ada satu bencana lagi yang lebih “kecil”, yaitu banjir di seantero Jakarta sekitar seminggu lalu. Jadi dalam waktu kurang dari sebulan, negeri kita tercinta ini telah diterpa oleh empat bencana.

Penanganan pengungsi dan rehabilitasi pasca bencana masih terus dilakukan oleh kita bersama sampai sekarang. Walau masih ada kekurangan di sana-sini, secara umum penanganannya cukup baik, terutama yang dilakukan oleh berbagai kelompok di dalam masyarakat. Demikian juga dengan pemerintah, walau pun kurang cepat pada awalnya, juga telah melakukan penanganan yang signifikan. Selain penanganan langsung, aspek lain yang juga penting di dalam bencana adalah aspek komunikasi.

Berkomunikasi di dalam bencana perlu diperhatikan oleh kita semua sebab penanganan langsung yang baik tidak akan berguna jika proses komunikasi antar pihak tidak ditata dengan baik pula. Proses komunikasi yang baik juga akan membuat penanganan bencana akan lebih mudah. Begitu pula sebaliknya. Proses komunikasi tersebut dilakukan oleh beberapa pihak, yaitu pihak yang berwenang, dalam hal ini pemerintah, media, dan masyarakat.

Di dalam situasi bencana sendiri paling tidak terdapat dua karakter komunikasi. Pertama, di dalam bencana informasi yang benar dan akurat sangatlah diperlukan bagi masyarakat. Pihak yang berwenang mesti memberikan informasi yang benar dan secara periodik karena informasi mengenai bencana memang diperlukan oleh masyarakat, apalagi masyarakat yang terkena imbas dari bencana tersebut. Karena pihak berwenang tidak mungkin menjangkau banyak audiens dalam waktu yang cepat maka diperlukan media untuk membantu distribusi informasi tersebut. Dengan demikian media seharusnya memberikan informasi yang benar dan tepat pula, serta tentunya disertai informasi tambahan yang relevan dan analisis yang memperkaya pemahaman kita.

Hal inilah yang kurang dipenuhi oleh media, terutama televisi, pada masa awal erupsi Merapi. Reporter yang tidak bisa membedakan awan panas dan abu vulkanik membuat masyarakat panik adalah salah satu kelemahan media, padahal informasi tersebut adalah informasi yang sifatnya elementer. Media semestinya membekali wartawannya dengan pengetahuan yang memadai tentang kebencanaan dan kecakapan jurnalistik yang baik.

Karakter kedua dari berkomunikasi di dalam bencana adalah muatan emosi yang tinggi. Berbagai pihak semestinya memberikan informasi atau pesan komunikasi yang menciptakan kondisi yang lebih baik. Bencana telah membuat kita terterpa kesedihan, janganlah kesedihan tersebut ditambahi oleh berbagai pernyataan tidak simpatik.
Salah satu contoh pernyataan tidak simpatik tersebut disampaikan oleh seorang wakil rakyat untuk bencana di Mentawai. Pernyataan bahwa bencana tsunami adalah resiko bagi warga masyarakat yang tinggal di sana sangatlah tidak tepat dan menimbulkan kesedihan baru bagi kita semua. Belum lagi tindakan beberapa wakil rakyat yang tetap pergi untuk studi banding ke luar negeri pada saat bencana terjadi. Pergi untuk studi banding itu adalah pesan yang negatif dalam proses komunikasi di mana seharusya para petinggi negeri ini berempati pada masyarakat yang menderita karena bencana.

Di dalam situasi bencana juga tidak etis mengharap pamrih secara eksplisit alias tidak tulus karena proses komunikasi di dalam bencana bermuatan emosi yang tinggi. Beberapa kasus pemasangan bendera partai politik, korporasi, dan produk di area bencana Merapi jelas merupakan tindakan tak etis. Sampai-sampai ada yang memberi julukan “festival” karena begitu meriahnya suasana di area bencana. Bila mau membantu sebaiknya ya membantu saja tanpa memikirkan “balasan”, apalagi bila pamrih tersebut secara jelas diungkapkan. Di dalam bencana, kepentingan sosial adalah kepentingan yang seharusnya paling dikedepankan, bukan kepentingan politis atau kepentingan mencari profit.

Lalu, bagaimana sebaiknya berkomunikasi pada saat bencana? Pada prinsipnya, semua pihak berkomunikasi dengan bijak pada saat bencana. Media berusaha sebaik mungkin memberikan informasi yang benar dan akurat, para tokoh publik memberikan pernyataan yang konstruktif bukannya malah memperkeruh suasana, dan kita sebagai bagian masyarakat membantu sekuat dan sebisa mungkin, sesuai dengan kemampuan kita dengan saling membagi informasi untuk penanganan bencana.

Semua anggota masyarakat mesti berpikir dan bertindak atas dasar kemanusiaan bahwa bencana yang menimpa saudara-saudara kita setanah air adalah nestapa kita juga. Inilah esensi hidup berbangsa dan bernegara bahwa kita saling membantu dan menguatkan di kala sedang menderita dan saling memberi inspirasi di saat sedang berbahagia. Bukankah tujuan dari kita berkomunikasi adalah menempatkan diri kita pada titik kemanusiaan tertinggi, saling menghargai sesama manusia tanpa sekat-sekat pembeda?

(Tulisan ini dalam versi sedikit lebih singkat dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 13 November 2010)

Sabtu, 13 November 2010

Fungsi Media Baru dalam Bencana

Awalnya saya tidak memperhatikan media sumber informasi ini. Namun ketika terjadi dua kasus pemberitaan media konvensional, media ini langsung menarik perhatian saya ketika banyak teman yang me-link situsnya di Facebook. Walau secara umum, masyarakat kita masih mengandalkan berita di media televisi, dua kesalahan yang dilakukan media terpopuler tersebut membuat sebagian masyarakat, terutama yang memiliki tingkat literasi digital tinggi, beralih pada sumber informasi yang berbasis pada media baru ini.



Dua kesalahan tersebut adalah ketika sebuah stasiun televisi berformat berita, melalui reporternya, kurang berhati-hati dalam memberikan informasi. Istilah awan panas yang seharusnya debu vulkanik disampaikan oleh sang reporter yang sontak menimbulkan kepanikan di masyarakat. Sempat muncul thread di FB untuk menolak stasiun televisi tersebut. Kasus bertambah ruwet ketika salah seorang pekerja di media tersebut lewat akun twitter stasiun televisi yang bersangkutan “menyerang” balik kritik dari masyarakat. Untungnya kisruh tersebut segera dibenahi sehingga tidak menimbulkan masalah lebih jauh bagi media yang bersangkutan.



Kesalahan media kedua, yang juga dilakukan oleh media televisi adalah kasus yang lebih mendapat perhatian kita, kali ini

lewat sebuah program infotainment. Sang pembawa acara di program tersebut memberikan kesimpulan yang terlalu berani dan menimbulkan kepanikan bahwa Yogya kemungkinan “terhapus” dari peradaban, bahwa Yogyakarta adalah kota malapetaka. Kesimpulan tidak berdasar tersebut, lebih bersumber pada klenik dan gosip seperti halnya infotainment pada umumnya, kemudian mendapatkan reaksi keras dari masyarakat.



Si pembawa acara yang dahulu menuai simpati karena menjadi korban dari perekaman ilegal pornografi, kemudian menjadi “pesakitan”. Program televisi dan pembawa acara tersebut akhirnya meminta maaf. Regulator penyiaran, Komisi Penyiaran Indonesia, kemudian juga bertindak dengan menghentikan sementara program infotainment tersebut. Kasus ini memecahkan rekor pengaduan masyarakat kepada KPI untuk tayangan yang dianggap tidak pantas. Kasus ini menjadi pelajaran bagi kita bersama bahwa infotainment itu lebih banyak negatifnya bagi masyarakat bila tidak dibenahi secara “sistemik”. Juga pelajaran bagi kita semua bahwa informasi melalui media mesti dipertimbangkan dengan masak, terutama pada kondisi kebencanaan seperti sekarang. Dari sisi pengaduan masyarakat untuk tayangan televisi yang sangat cepat, dalam tensi emosi tinggi, dan banyak jumlah aduannya, kasus ini mengingatkan kita pada kasus Smackdown beberapa tahun yang lalu.



Dua kesalahan itulah yang antara lain membuat media baru menjadi sumber informasi yang kembali “dilirik” oleh masyarakat. Media baru tersebut menyediakan, menyeleksi, dan mendistribusikan informasi melalui internet dan handphone. Peran media baru dalam erupsi Merapi, dan juga di seluruh tempat di Indonesia yang terkena bencana, menjadi lebih penting lagi. Media baru menjadi sumber informasi yang penting dan sangat membantu masyarakat, terutama korban.



Salah satu sumber informasi yang penting di dalam erupsi Merapi adalah Jalin Merapi yang merupakan singkatan dari Jaringan Informasi Lingkar Merapi. Media ini sepenuhnya berbasis visi kepublikan dan menyediakan, menyeleksi, dan mendistribusikan informasi berkaitan dengan erupsi Merapi. Kini Lintas Merapi menjadi rujukan banyak pihak untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan erupsi Merapi. Jalin Merapi sendiri telah terbentuk sejak 2006 lalu dan menjadi lebih tertata pada tahun 2010 ini ketika erupsi Merapi. Informasi yang didistribusikan oleh Jalin Merapi menggunakan beragam media, yaitu melalui website, situs jejaring sosial, Twitter dan Facebook, SMS GAteway, radio komunikasi, telepon, dan posko informasi di lapangan. Informasi lebih mendalam bisa diperoleh di situsnya, http://merapi.combine.or.id/.



Karena itulah, saya merasa sangat beruntung bisa berdiskusi di acara Angkringan Gayam di mana saya menjadi co-host bersama penyiar utama, Sondy Garcia, dengan rekan-rekan dari Lintas Merapi. Dalam obrolan tanggal 8 November 2010 itu, Lintas Merapi diwakili Elanto Wijoyono dan Adriani Zulivan. Berdasarkan diskusi ringan namun mendalam itu, bisa disimpulkan bahwa media baru memiliki tiga peran dalam erupsi Merapi kali ini, yang juga bisa diperluas menjadi bencana pada umumnya di Indonesia.



Pertama, media baru menyediakan, menyeleksi, dan mendistribusikan informasi tentang erupsi Merapi. Melalui para relawan yang ditempatkan di banyak titik, Lintas Merapi mendapatkan informasi dari tangan pertama. Relawan Lintas Merapi bertugas membantu secara langsung sekaligus mencari informasi di tempatnya bertugas. Karena sebagian partisipan di Lintas Merapi juga merupakan warga setempat, mereka lebih mengenal medan kerja sekaligus dapat memberi informasi yang relevan.



Setelah itu, informasi yang telah masuk diseleksi oleh “gatekeeper”. Seleksi ini juga penting karena mesti mempertimbangkan beberapa aspek. Aspek yang terpenting adalah mengutamakan korban. Berikutnya adalah aspek netralitas dari pesan. Walau netralitas sulit dicapai, namun informasi sebisa mungkin tidak berkaitan dengan kepentingan politik atau kepentingan yang lain. Adriani menyatakan bahwa informasi yang berbau politis, semisal kedatangan Presiden ke pengungsian, bukannya tak penting, namun informasi tersebut telah disampaikan oleh media umum. Iklan pun betul-betul diperhatikan agar tidak memberikan pengaruh pada informasi yang disampaikan. Dari sisi kehati-hatian ini, Lintas Merapi bisa menjadi contoh bagi media penyampai informasi agar berhati-hati dengan informasi yang disampaikannya.



Fungsi media baru yang kedua adalah menjadi fasilitas metamorfosis ide ke tindakan. Fungsi ini tidak hanya dilakukan oleh Lintas Merapi, namun juga oleh banyak pihak yang menggunakan media baru. Mereka melansir ide dan merelasikannya di akun media jejaring sosial dan handphone. Ide tersebut mendapatkan respon dari banyak individu lain. Pada akhirnya ide tersebut meluas menjadi ide yang lebih besar dan implementatif, serta menjadi tindakan. Banyak sekali posko bantuan terhadap pengungsi Merapi lahir dengan cara seperti ini, antara lain yang dilakukan oleh mbak Difla Rahmatika dan rekan-rekannya dari Gaia. Menurutnya, gerakan semacam ini sebenarnya sudah muncul sejak gempa yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006 lalu. Namun dulu media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter belum dipergunakan dengan intens seperti sekarang. Pada tahun 2006 dulu, blog dan handphone yang menjadi bentuk media baru utama yang digunakan untuk menyebarkan informasi.



Penggunaan media baru untuk kemanusiaan ini pada akhirnya juga mengundang kreativitas baru. Solidaritas yang kuat antar warga yang difasilitasi oleh media baru membuat bantuan yang bisa diberikan menjadi lebih beragam. Dari situs jejaring sosial bisa kita lihat bahwa bentuk bantuan tersebut tidak hanya bantuan makan lewat gerakan nasi bungkus di Yogyakarta, dan sumbangan pakaian pantas pakai, tetapi juga berbentuk sumbangan buku dan sarung. Singkatnya, ide membantu tersebut semakin beragam dan detail berkat media baru.



Fungsi kedua inilah yang dinamakan oleh Denis McQuail “teknologi partisipasi kolektif” dari media baru. Media tidak hanya berguna bagi produksi, penyimpanan, dan pendistribusian informasi. Lebih dari itu, media berguna sebagai tindakan partisipatif bersama. Media yang menjadi awal dan memantu tindakan sosial. Di dalam situasi bencana seperti sekarang, “teknologi partisipasi kolektif” ini bermunculan di mana-mana dan mendukung solidaritas kemanusiaan bersama.

Terakhir, adalah fungsi saling mengawasi antar media, terutama antara media baru dan media konvensional. Fungsi tersebut adalah menyeleksi dan mengawasi sumber informasi lain. Dua kasus pemberitaan yang tidak tepat oleh media televisi di atas adalah contohnya. Kedua kasus di atas muncul pertama-kali dan berfrekuensi tinggi di media baru. Media konvensional yang masih menjadi rujukan utama masyarakat kita, mau tidak mau harus lebih berhati-hati. Jangankan organisasi media, tokoh masyarakat pun mesti berhati-hati bertindak dan mengeluarkan pernyataan di mana pun, karena media baru mengawasinya dengan cermat.



Pun sebaliknya, media konvensional bisa mengawasi media baru. Kita pasti ingat bagaimana penggunaan media baru, handphone dan internet, untuk kejahatan, juga diberitakan di media konvensional. Dengan berbagai pemberitaan tersebut kini masyarakat juga berhati-hati dengan media baru dan dibekali dengan informasi dan kecakapan ketika menggunakan media baru. Saling mengawasi dan memberi inspirasi melalui antar media ini penting, tak lain tak bukan agar masyarakat Indonesia lebih baik lagi.



Selain itu, kita juga bisa mengawasi dan memberi masukan kepada negara tentang sistem media yang “dibangun” oleh negara, terutama sejak 1998. Kita bisa mempertanyakan bagaimana negara menyusun, memberlakukan, dan mengimplementasikan regulasi yang berkaitan dengan media dan informasi dari erupsi Merapi secara khusus dan seluruh bencana di Indonesia pada umumnya.Lintas Merapi misalnya, juga didukung dan dibentuk oleh jaringan radio komunitas Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mengingat arti penting radio komunitas terutama dalam penyediaan informasi selama bencana, pemerintah semestinya membangun benar media penyiaran komunitas, dan juga publik. Tidak seperti sekarang di mana pemerintah lebih banyak memperhatikan media penyiaran komersial dan tidak memfasilitasi media penyiaran publik dan komunitas dengan memadai.



Kedua, karena informasi dalam situasi krisis, di dalam bencana seperti sekarang ini, sebagian tersampaikan lewat media baru, pemerintah mesti memperhatikan infrastruktur media baru dengan membuatnya terjangkau oleh semua anggota masyarakat, baik dari sisi biaya maupun kemudahan akses. Selain itu, regulasi yang terlalu membatasi warga pada haknya untuk memperoleh informasi juga dihilangkan. Bukankah hak atas informasi dan berkomunikasi warga dijamin oleh konstitusi kita?



Sungguh, banyak hikmah yang bisa kita ambil, banyak pembelajaran yang bisa kita petik, dari bencana yang melanda kita belakangan ini. Bencana bukanlah azab, melainkan sarana untuk pembelajaran dalam hidup bersama. Indonesia adalah negeri yang indah, bukan negeri malapetaka, karena itu, kita sebagai warga bisa terus berjuang bersama untuk kehidupan bersama yang lebih baik, khususnya kehidupan bermedia.



(Tulisan ini dipersembahkan untuk rekan-rekan Jalin Merapi dan para relawan yang telah bekerja tanpa pamrih berdasarkan prinsip kemanusiaan)

Jumat, 12 November 2010

Hegemoni dan Ketaksejajaran Makna atas Bencana

Situasi belakangan ini turut menjadikan suasana hati saya sedih sekaligus khawatir. Warna abu-abu yang belum sepenuhnya pudar di jalan-jalan kota Yogyakarta memperkuat rasa sedih atas meninggalnya banyak warga dalam erupsi Merapi. Selain itu, rasa khawatir yang muncul di hati minggu kemarin hampir sebesar rasa khawatir pada tahun 2006, ketika gempa menggoyang rumah saya. Kekhawatiran yang sekaligus menguatkan rasa pasrah ketika berhadapan dengan alam dan Penciptanya.



Rasa sedih dan khawatir itu masih ada sampai sekarang dan membuat saya agak malas menulis. Walau begitu, banyak juga pelajaran dan inspirasi yang kita dapatkan, terutama bagi saya pribadi. Pelajaran utama tentu saja solidaritas antar warga yang kembali terlihat dengan jelas. Masyarakat kita tanpa dikomando bahu-membahu membantu sesama tanpa memikirkan pamrih. Solidaritas antar manusia sangat terasa di tengah relasi antar warga Indonesia yang secara umum relatif tersekat-sekat. Untuk Yogyakarta, fenomena ini sudah ditunjukkan pada tahun 2006 lalu dan semakin menguat pada waktu erupsi Merapi sekarang ini.



Dua tulisan dari rekan saya di FB ini tentang erupsi Merapi juga turut mencerahkan dan membantu memunculkan niat saya untuk menulis kembali setelah lama tak menulis di sini. Tulisan pertama berjudul “Terima Kasih Merapi” memukau saya, terutama pada sudut pandang positif yang ditawarkan. Tulisan kedua berjudul “Merapi, Kesejajaran Makna, dan ‘Kematian’ Kita” yang berfokus pada pemaknaan empatik atas erupsi Merapi, pun sama memukaunya. Kedua rekan saya itu memang sering menulis dengan sangat bagus dan memukau. Tidak seperti saya yang tulisannya seringkali biasa saja dan cenderung terlalu personal…hehe….



Bagi saya pemaknaan atas meninggalnya mbah Maridjan sebenarnya merupakan akibat langsung tak langsung dari hegemoni makna yang ada. Mbah Maridjan adalah “korban” dari hegemoni makna oleh penguasa yang membuat ia bertahan menjalankan tugasnya sampai mengorbankan nyawa. Hal yang lebih menyedihkan adalah mbah Maridjan kemudian “ditinggalkan” oleh pemberi mandat. Pemaknaan mbah Maridjan sebagai juru kunci justru menjadikan dia sentrum perhatian sekaligus korban dari posisi yang dijalani. Saya setuju dengan argumen yang menyatakan bahwa tidak akan pernah ada makna yang sejajar persis akan apa pun karena setiap orang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang unik pada masing-masing diri. Namun dalam kasus meninggalnya mbah Maridjan tafsir hegemonik itulah yang terasa.



Hegemoni penguasa tersebut kemudian diperkuat oleh sebagian besar media selama bertahun-tahun. Dedikasi dan kedirian mbah Maridjan yang luar biasa pun kemudian dimaknai dalam koridor juru kunci tersebut. Ironisnya, sedikit media yang kritis memberikan tafsir alternatif. Walau pada akhirnya tafsir hegemonik tersebut diingkari sendiri, makna utama inilah yang terus mengemuka sampai sekarang ini. Media sebagai pemberi tafsir hegemoni utama telah menjelaskan “tugasnya” dengan baik sengaja atau tak sengaja.



Permasalahan lainnya adalah lokus dan waktu makna tersebut ditempatkan. Makna bagi diri sendiri adalah bebas. Derajat kebebasan tafsir atau pemaknaan tersebut setinggi kemungkinan detail makna yang bisa muncul. Namun persoalannya adalah bila makna tersebut ditempatkan dalam kehidupan publik. Bila makna yang tak sejajar dengan visi kepublikan ditempatkan dalam ruang publik tentu akan menimbulkan persoalan.



Lokus publik di sini juga dapat berwujud dua, yaitu pemakna atau individu yang menyampaikan makna tersebut dan isu yang disampaikan. Posisi pemakna di tengah-tengah kita, masyarakat, berperan bagi terperhatikannya komentar dia. Semakin tinggi posisi pemakna di masyarakat, akan semakin tinggi tingkat perhatian masyarakat padanya. Penempatan makna tersebut juga bisa menjadi lebih intens diamati oleh masyarakat bila muncul di media. Dengan demikian, tidak hanya tafsir tokoh masyarakat yang diamati intens, para pewarta dan pembaca berita juga berada dalam lokus pemaknaan yang lebih diamati oleh kita.



Konteks kedua adalah waktu dan situasi pemaknaan atas sesuatu. Komunikasi bencana memiliki karakter yang bermuatan emosi tinggi sehingga para pemakna yang muncul di media semestinya bijak dalam melontarkan komentar. Bila dilacak sejak erupsi awal Merapi sampai sekarang, cukup banyak pemakna yang tidak bijak melontarkan komentar baik yang berasal dari “tokoh” maupun pekerja media yang muncul di teks media.



Komentar-komentar tidak layak tadi sebenarnya bersumber pada ketaksejajaran makna. Mereka tak paham lokus dan waktu pemaknaan tersebut disampaikan. Pemaknaan yang tidak pantas sesuai dengan yang tertangkap di media, baik media lama maupun media baru, diawali dengan pemaknaan bahwa erupsi Merapi, atau bencana apa pun, adalah azab. Pemaknaan seperti ini sesungguhnya membuat para korban lebih menderita lagi setelah menderita secara langsung.

Pemaknaan seperti di atas biasanya disampaikan oleh para tokoh yang berasal dari kalangan agamawan, atau minimal yang coba merepresentasikan komunitas agama. Tafsir seperti ini sebenarnya telah muncul sejak bencana besar pertama kita rasakan, gempa dan tsunami di Aceh pada tahun 2004. Pemaknaan bahwa bencana adalah azab akan menemukan nilainya bila disampaikan untuk komunitas agama bukan dalam ranah yang lebih luas, seluruh publik. Publik yang beragam, rasional, dan cenderung transparan tidak cocok dengan tafsir yang “menyalahkan” tersebut.



Pemaknaan tak pantas kedua atas bencana muncul dari “tokoh” sebagai akibat tak memahami kondisi “mengada” di tengah bencana. Kondisi warga yang menjadi pengungsi tidak akan mungkin dirasakan utuh oleh orang yang tidak merasakan, namun komentar dan pemaknaan semestinya komentar atau pemaknaan itu tetaplah empatik. Komentar salah seorang wakil rakyat yang menyalahkan warga atas bencana di Mentawai, bahwa bencana itu adalah konsekuensi bagi yang tinggal di pulau, adalah tak layak. Juga dengan komentar seorang menteri yang menganggap bahwa kehidupan pengungsi itu sudah enak, padahal keadaan sesungguhnya tidak demikian, siapa yang bisa hidup “enak” bila hidup dalam kondisi serba darurat. Istilah “klentheng-klentheng” kemudian menjadi sindiran bagi pejabat yang tak peka dengan kehidupan pengungsi tersebut. Kritik dari warga atas kedua komentar tokoh tersebut juga banyak muncul di media massa dan media interaktif.



Pemaknaan atas bencana ketiga dan terakhir, serta mungkin yang paling menghebohkan, adalah pemaknaan yang bersumber dari pekerja media, seorang pemandu acara, yang menyampaikan kemungkinan bahwa Yogyakarta, kota indah ini, akan hilang dari peradaban. Pemaknaan inilah yang menjadi topik hangat selama beberapa hari. Komentar atau pemaknaan yang bahkan mengundang regulator media yang biasanya kurang aktif, Komisi Penyiaran Indonesia, untuk bertindak cepat. KPI, sebagai akibat penayangan program infotainment itu, kemudian memanggil seluruh redaksi berita tv dan memberi sanksi pada program infotainment tersebut dalam waktu sehari. Walau si pembawa acara menyanggah pernah berkomentar bahwa Yogyakarta adalah kota malapetaka namun esensi dari ucapannya di program acara infotainment tersebut tetaplah sama: menyebarkan ketakutan luar biasa di masyarakat.



Lalu, bagaimana memunculkan pemaknaan atas bencana yang sesuai dengan lokus dan waktu, sekaligus juga mencerahkan? Pertama, menempatkan tafsir atas bencana sesuai dengan visi kepublikan. Sebelum mengeluarkan komentar, para pemakna yang memiliki konsekuensi publik itu seharusnya memperhatikan terlebih dahulu pada konteks tempat dan waktu. Visi kepublikan, terutama pada implikasi untuk banyak orang, mesti diperhatikan. Jangan sampai komentar malah berimplikasi negatif pada masyarakat. Visi kepublikan tidak menempatkan motif ekonomi dan politik sebagai tujuan utama, melainkan fungsi sosiokultural dari pesan media. Hal ini sulit dilakukan oleh media kita, terutama televisi, yang bertahun-tahun dibangun dengan pondasi kepentingan ekonomi dan politik yang terlalu kuat. Bukan berarti visi kepublikan media di Indonesia tidak bisa dibangun. Hanya saja diperlukan upaya yang lebih keras lagi oleh kita semua untuk mewujudkannya.



Kedua, pemaknaan atas bencana bisa mencerahkan bila pemaknaan tersebut relatif positif atau konstruktif dan mengarahkan pada tindakan kolektif yang bermanfaat bagi kehidupan bersama. Walau apa yang terjadi pada masa depan berkaitan dengan bencana tidak dapat diprediksi karena keterbatasan informasi yang kita miliki, sebaiknya kita tetap memilih pemaknaan yang positif. Apa artinya memilih pemaknaan yang malah menimbulkan “bencana” susulan, karena informasi yang tak akurat dan pemaknaan menakutkan? Hegemoni dan ketaksejajaran makna adalah inheren dalam proses komunikasi, namun semestinya visi kepublikan terus meneruskan diperjuangkan oleh kita semua, terutama media dan masyarakat.

Senin, 01 November 2010

Manic Street Preachers - Postcards from A Young Man (2010): Kekaryaan dan Relasi Kuasa


Kita bisa marah dengan kondisi dan pada apa yang dilakukan ataupun tidak dilakukan oleh orang lain, terutama pada pejabat publik negeri hebat ini. Negeri hebat namun para “pemimpin”-nya bertindak seenak perutnya sendiri dan tidak menjalankan apa yang sudah menjadi tugasnya sehingga negeri ini masih terpuruk dalam ketidakhebatan. Namun berkaitan dengan hidup kita sendiri dan apa-apa yang bisa dilakukan, kita wajib bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kulakukan? Apakah hasil tindakan atau karyaku bermakna bagi diriku sendiri dan orang lain?


Karya diri sendiri pun bisa diklasifikasikan menjadi dua. Karya yang terdokumentasi dan karya yang hilang begitu tindakan personal selesai dilakukan. Karya yang “hilang” atau tindakan personal yang menghablur di udara setelah dilakukan misalnya kata-kata yang terucap secara lisan. Sebagus apa pun kata-kata itu, sebernas apa pun ia dan kemudian mencerahkan hidup, kata-kata itu mudah dilupakan dan menghilang begitu saja bersama waktu.


Sementara, karya atau tindakan personal, terutama tindakan kreatif, yang terdokumentasi, adalah semua hasil olah jiwa dan raga yang mewujud dalam media yang melewati waktu dulu dan kini. Semua kata yang tertulis, lukisan, musik, dan pikiran, yang terekam termasuk dalam karya yang terdokumentasi. Karya itu tidak lekang oleh waktu, minimal sampai media penyimpannya bertahan.


Karya individu, atau kolektif seperti sebuah band misalnya, yang terekam sedikit banyak akan membuat penciptanya “ketagihan”. Bagi seseorang atau sekelompok orang yang sudah pernah merekam suatu karya dengan konsisten kemungkinan besar akan merasa mesti membuat suatu karya susulan. Inilah yang menjadikan karya, pencipta, dan konsistensi seperti memiliki relasi yang siklis, akan selalu ada upaya untuk menelurkan karya selanjutnya, dan bila upaya cukup kuat dan konsisten dilakukan, karya tersebut pada akhirnya akan terwujud.


Karya juga akan selalu merujuk secara internal, dan entah mengapa pada akhirnya akan menemukan daya hidupnya sendiri di luar sana. Seseorang yang mencipta karya sesungguhnya tidak akan bisa dan tidak akan ingin melakukan tindakan tak elok, baik secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan karya. Dengan demikian, seseorang yang berkarya dengan benar tidak akan menyombongkan karyanya sendiri. Misalnya, ada seseorang penulis yang membanggakan diri ia menghasilkan banyak karya kemudian dia menghina orang lain yang belum atau tidak bisa menulis. Dari tindakannya ini kita akan tahu bahwa sesungguhnya dia adalah penulis yang biasa saja dan cenderung sombong. Kebanyakan penulis hebat akan cenderung bersikap rendah hati dengan kekaryaannya.


Karena itulah, sebuah karya, pertama-tama dan utama, adalah wujud dari upaya mengalahkan diri sendiri, baru kemudian menjadikan karya tadi “politis”. Jadi, memang cukup unik bila ada segolongan orang yang dulu sekali menamakan kelompoknya golongan karya, yang jelas-jelas motif kekaryaannya adalah politis.


Pada posisi inilah, kita bisa menempatkan album terakhir dari Manic Street Preachers, “Postcards from A Young Man”, yang baru saja dirilis pada awal November 2010 ini. Album ini menunjukkan bahwa sebagai sebuah kelompok yang berkarya mereka menempatkan karya mereka sebagai alat kontemplasi ke dalam diri dan sebagai “senjata” untuk menyatakan pendapat dan ekspresi pada dunia di luar diri. Mereka menjadikan kemampuan mereka, menulis lirik dan membuat musik, sebagai alat hidup, dan setiap kali membuat daya hidup mereka lebih kuat. Menurut saya, Manics, bersama U2, Sonic Youth, dan Pearl Jam, selalu menghasilkan karya bagus, karena mereka tahu dan paham dengan kemampuan mereka sendiri.


Kemampuan untuk menghasilkan karya berupa lirik dan musik itu juga yang membuat mereka mampu berbicara dengan dunia. Berbicara tentang dunia dari dalam bisa kita sebut sebagai tindakan ekspresi, sementara berbicara tentang dan merujuk pada dunia atau sebuah isu bisalah kita sebut dengan beropini atau berpendapat. Keduanya, selalu bisa direngkuh oleh Manics. Mereka bisa berekspresi tentang keresahan diri mereka atas dunia yang dikuasai oleh kapitalisme dan liberalisme. Inilah yang membuat Manics unik. Bukan semata-mata karena karya mereka bagus, namun karena mereka selalu menyampaikan idealisme tentang kebersamaan, visi sosial, atau hal-hal lain yang berada dalam koridor sosialisme. Latar belakang mereka sebagai kelas pekerja di Wales membuat mereka seperti ini, dan di Amerika Serikat mereka kurang mendapatkan perhatian.


Manics sekali lagi menunjukkan bahwa kata adalah senjata untuk beropini atas relasi kuasa yang tidak seimbang di dunia secara umum. Mulai dari pihak kuasa yang semena-mena di lagu “(It's not War) Just the End of Love”. Pihak penguasa yang ketika berkonflik, atau berperang, bertindak semena-mena, namun ketika terdesak menyebutkan bahwa konflik tersebut sesungguhnya manifestasi dari cinta. Tiada keadilan dalam konflik, pihak yang berkuasa akan selalu diuntungkan, seperti ungkapan mereka berikut ini: it’s not war – just the end of love, you’ve got the looks, but I’ve got scars...


Relasi kuasa dari contoh di atas merujuk pada kuasa fisikal, artinya kekuasaan yang diwujudkan melalui penguasaan sumber daya dan tindakan yang lebih mungkin dilakukan oleh pihak pemilik kuasa. Relasi kuasa tidak hanya merujuk pada kekuatan fisikal tetapi juga merujuk pada kekuatan yang lain, entah itu bernama hegemoni, seperti yang pernah diutarakan oleh Gramsci, ataupun itu pada ”pengetahuan” seperti diselatankan oleh Foucault. Kuasa jenis terakhir ini tidak terlihat melalui tindakan anggota badan, melainkan tindakan lisan dan tertulis (wacana). Kuasa tersebut bisa tidak terasa dan bahkan bisa menyenangkan dan dihargai oleh pihak yang dikuasai. Oleh karena itulah, pemilik kuasa mesti berhati-hati agar kuasa yang dipegangnya tidak disalah-gunakan atau tersalah-gunakan.


Satu contoh dari kuasa yang dimiliki untuk mengubah keadaan adalah pada lagu lain di album ini, “Postcards from A Young Man”. Lagu ini bercerita tentang seorang anak muda fans sebuah band yang mengirimkan kartu pos pada band yang dicintainya. Band itu (mungkin saja Manics sendiri) mengartikan tindakan mengirim tersebut sebagai sebuah tindakan yang bermakna mendalam, they may never be written or posted again...I’ll send you postcards every single day just to prove I still exist, this world will not impose it’s will...Sebagai pihak yang memiliki kuasa berjenis hegemoni pada fans-nya mereka tidak mau menghilangkan semangat “anak-anak muda” tersebut. Lagu ini juga merujuk pengalaman Nicky Wire, pentolan Manics, yang ketika masih muda rutin mengirim kartu pos kepada para idolanya, termasuk Morrissey.


Walau begitu, kuasa fisikal dan kuasa hegemonik, tidak sepenuhnya menguasai diri kita. Kita sebagai individu akan selalu memiliki “ruang” yang tak terkuasai oleh siapa pun sekalipun seringkali pihak lain menyebutnya sebagai kegilaan atau kehampaan. Makna ini termaktub dalam lagu “Some Kind of Nothingness”...remember you – stretched out in the sun, all alone 4 ever conclusions forgone...Lagu ini bagus juga karena kehadiran vokal Ian McCullogh yang merupakan vokalis band kugiran Echo and the Bunnymen. Kombinasi vokal Dean Bradfield dan McCullogh sungguh ciamik walau terkesan tidak optimal karena “tertutup” paduan suara.


Lagu-lagu yang lain juga bicara tentang situasi dikuasai secara hegemonik tersebut, misalnya saja “Golden Platitutes” yang bicara tentang banalitas dari rujukan dan tindakan “penguasa”. Dalam hal ini Partai Buruh, “Hazelton Avenue” yang bicara tentang gaya hidup konsumtif yang membius, dan juga “All We Make is Entertainment”, yang mengritik habis media komersial di Barat. Kritik sana-sini, terutama pada kapitaslisme dan liberalisme a la Amerika Serikat, adalah kesukaan Manics sejak awal.


Manics juga tidak hanya memerahkan telinga berbagai pihak pemilik kuasa politik, ekonomi, dan kultural, mereka juga mengritik diri sendiri, media, dan kaumnya, kaum pesohor nan kaya, pada lagu “A Billion Balconies Facing the Sun”.... A billion faces turned to their screens, the perfect antidote to answer our screams, a billions lies becoming the truth, an ecstasy of the eye, as wide as eternity tonight. Lagu ini juga menghadirkan Duff McKagan, basis era emas Gun N Roses dulu. Cabikan Duff terdengar kentara sekali di lagu ini. Efek lebih lanjut adalah keinginan saya yang sangat kuat untuk mendengarkan album-album lama era Duff muncul kembali. Saya jadi semakin paham alasan saya menyukai G N R era Use Your Illusions adalah karena permainan bas Duff ini. Begitu juga karena McCullogh, keinginan saya untuk mendengarklan album-album Echo and the Bunnymen juga sangatlah mengemuka.


Album ini berkualitas sangat bagus karena menjadi bisa “vitamin” bagi otak dan hati. Lirik lagu yang kembali garang seperti album mereka terdahulu “Know Your Enemy” (2001), kritik sosial liris dan membangun seperti album “This is My Truth Tell Me Yours” (1996), optimisme tindakan sosial kolaboratif “Everything Must Go” (1996), dan lirik yang tidak terlalu “gelap” dan abstrak seperti album sebelumnya, “Journal for Plague Lovers” (2009).


Manics menunjukkan bahwa kekaryaan adalah persoalan eksistensial. Manics sekali lagi juga menunjukkan kemampuan mereka bahwa kata-kata, karya secara umum, adalah senjata. Senjata yang akan terus “menghajar” para pemilik kuasa yang menjalankan kuasanya secara berlebihan dan tak layak.


Penyanyi : Manic Street Preachers

Judul : Postcards from A Young Man

Tahun : 2010

Label : Sony Music


Daftar lagu:

1. (It's not War) Just the End of Love
2. Postcards from A Young Man
3. Some Kind of Nothingness
4. The Descent (Pages 1 & 2)
5. Hazelton Avenue
6. Auto-Intoxication
7. Golden Platitutes
8. I Think I Found It
9. A Billion Balconies Facing the Sun
10. All We Make is Entertainment
11. The Future has been Here 4ever
12. Don't be Evil

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...