Sabtu, 27 Februari 2010

Perempuan Punya Cerita (tentang Hidup yang Terus Melaju)


Pernyataan utama di album ini justru bisa kita dapatkan pada track terakhir, “Jatuh Cinta”, pada kalimat terakhir…”Walau banyak penghalang ku ‘kan terus melaju”….Di dalam lagu ini seolah Bonita ingin berkisah tentang narsisme, tentang cinta diri, tetapi bukan. Isi lagu tersebut tentang perjuangan berkarya. Statement Bonita menjadi sangat kuat karena disampaikan dengan manis. Kita bisa memakluminya karena dia mesti berjuang tujuh tahun untuk merilis album terbarunya ini. Perjuangan berat dan serius akan memberikan karya yang bagus pula.

Mendengarkan album ini kita seperti berbincang dengan seorang perempuan cerdas yang sadar pada apa yang dimau dan mengenal dirinya dengan baik. Perjuangan itu tentunya dimulai dari “dalam”. Hal ini terlihat minimal dari dua lagu, “Rumahku” dan “Telur”. Kita memang semestinya menyelesaikan urusan-urusan di dalam diri terlebih dahulu baru kemudian “menaklukkan” dunia. Di rumahku/sangkar indah yang hangat/tempatku beristirahat… dan di telurku/aku aman/tak ada yang mengganggu/hanya aku dan telurku…menunjukkan bahwa perjuangan di dalam diri itu adalah permasalahan yang lumayan penting.

Lagu “Mellow” bertopik agak mirip dengan kedua lagu di atas. Lagu ini bercerita tentang pengalaman personal dan rasa nyaman dengan diri sendiri. Sepertinya rasa nyaman dengan diri sendiri adalah salah satu isu penting bagi perempuan untuk menghadapi hidup yang bias gender dan serbuan rayuan komoditas.

Setelah mempermasalahkan apa yang ada di “dalam”, barulah ia melangkah ke dunia luar. Dunia yang bagi kebanyakan wanita kemungkinan berat karena lebih “liar”, namun bisa juga menarik. Ini terlihat dalam lagu “Komidi Putar”. Lagu ini adalah metafor yang sempurna dari hidup itu sendiri. Hidup adalah putaran-putaran kisah seperti karnaval…musik karnaval/berkumandang/dan aku seorang putri…dan semua perempuan itu unik serta hebat (kalimat terakhir adalah tambahan dari penakar).

Lagu “Pengulangan” adalah jawaban langsung bahwa kehidupan luar itu berat bagi seorang perempuan. Namun si pelantun kisah tetap optimis….kutahu ini hanya sebuah duka/biasa saja/namun tetap kunyanyikan/kunyanyikan….Hidup adalah permainan dari sakit dan senang, suka dan duka, “pengulangan” yang sudah kita ketahui bersama tetapi tetap sulit dipahamkan di dalam hati.

Persoalan yang sama masih muncul di dalam lagu “Dendangku”. Bagaimana kita menghadapi luka? Begitulah yang coba diobrolkan oleh si penyanyi. Ketika cinta berbalik membunuhmu/maukah mati di tangannya/hidup dengan benci yang mendalam/meraungkan pilu yang menyayat hati. Lagu ini tentang cinta dan benci yang tipis bedanya. Jalan keluarnya memang melaju sajalah dan tidak “menumpuk” benci karena benci itu seperti kolesterol yang tidak boleh ditimbun sebab berbahaya bagi hidup. Nuansa yang hampir sama hadir di lagu “Ari”. Lagu tentang cinta pada lelaki pujaan tetapi lebih dipendam sendiri. Apakah menyatakan perasaan adalah hal terberat bagi perempuan?

Optimisme hidup akan muncul bila kita telah melewati luka. Luka dan hanya luka yang membuat kita lebih kuat. Lagu “Bangun” dan “Hari Ini” adalah statement anggun khas perempuan dalam menghadapi hidup. Lagukanlah/t’usah hirau/inilah suaramu…hiduplah kini/indah pasti/alami hari ini (dalam “Hari Ini”), adalah kalimat indah yang membuat kita tidak akan pernah bosan mengobrol dengan perempuan seperti ini.

Sementara “Pena” adalah lagu yang mirip nuansanya tetapi dengan metafor yang sedikit berbeda. Pena bisa diartikan sebagai aktivitas menulis dan juga bisa diartikan cara kita menulis dan mewarnai dunia. Bangun hai pena/mana bukti yang kau janjikan/tuk temani aku bercerita/tentang lalu kini dan depan…merah biru dan hitam/apa pun warna yang kau punya/aku tak peduli…yang penting tintamu ada/apa pun warna yang kau punya/cetaklah sampai ke nurani.

Lagu-lagu lain bernada optimisme yang sama dan juga disampaikan secara indah. Topik yang “di dalam” dan “di luar” hati seorang perempuan masih terasa dalam semua lagu sisa di album ini. Keuntungan bagi kita para pendengar adalah track yang berjumlah banyak, sampai enam belas, dan musik yang kaya walau lebih didominasi bunyi sitar di sana-sini. Bunyi yang terasa unik bagi kebanyakan lagu Indonesia dengan vokal seorang perempuan.

“Tinggal” dan “Kelana Bersama adalah dua lagu yang menunjukkan dualitas “di dalam” dan “di luar”. Keinginan untuk tinggal bersama sama kuat dan saling berkaitan dengan berkelana menjelajahi dunia bersama. Kebersamaan itu penting untuk melewati kehidupan. Sekalipun berat, dia akan selalu membuat kita tersenyum dan selalu memberi harapan baru. Simak lagu “You Cheer Me Up” dan “It’s Over Now”.
Album ini ditutup dengan lagu yang menjadi benang merahnya, “Jatuh Cinta”. Bukan pada narsisme yang negatif melainkan pada rasa menerima diri sendiri betapa pun keadaannya…ku telah jatuh cinta pada hidupku/semua suka dan cita/juga semua hancurku….

Tak terasa satu jam lebih telah berlalu. Saat “mengobrol” akhirnya selesai juga. Bila seorang lelaki mengobrol dengan perempuan seperti ini. Dia pasti akan berharap untuk mengobrol lagi keesokan harinya. Tidak peduli di kafe dengan coffee latte hangat atau di perpustakaan fakultas dengan setumpuk buku sebagai dekorasinya. Tetapi ini tentu untuk para pembelajar yang lebih muda dari saya.

Kalau saya, saya bisa mengisinya dengan mengobrol, berdiskusi, berdebat dengan perempuan cantik nan cerdas yang hidup bersama saya. Kami bisa mengobrol apa saja sampai kapan saja dan di hampir bagian mana saja dari rumah. Tentu saja bila tidak ada “gangguan” dari perempuan kecil buah cinta kami …. :D

Penyanyi : Bonita
Judul : Laju
Tahun : 2009

Daftar Lagu:
1. Rumahku
2. Komidi Putar
3. Telur
4. Pengulangan
5. Dendangku
6. Bangun
7. Hari Ini
8. Pena
9. Mellow
10. Ari
11. Tinggal
12. Kelana Bersama
13. You Cheer Me Up
14. It’s Over Now
15. Reprise
16. Jatuh Cinta

Orang-orang dan Pengalaman dari Rasa Sakit


Akhirnya saya tergerak untuk menakar-nakar album musik lagi setelah terakhir saya mereview album pak SBY sekitar setengah bulan yang lalu. Hasrat untuk menakar ini muncul lagi setelah saya menyelesaikan cerpen setelah hampir dua dekade tidak menuliskannya sampai selesai. Setelah menonton dua film buruk Al Pacino, 88 Minutes dan Righteous Kill. Juga setelah mencoba mengurai pemikiran Anthony Giddens yang tetap tidak terurai juga :D

Sebelumnya saya mesti mengucapkan terima kasih untuk Arief Nugroho aka Auf yang telah meminjamkan dan menghibahkan album-album untuk didengar dan direview. Yakinlah album-album itu ada di tangan yang tepat…hehe…. Album yang pertama saya review dari tujuh album yang ada dalam radar pendengaran saya sekarang adalah album kedua milik Cranial Incisored, “Lipan’s Kinetic”.

Keenam album yang lain adalah: Syaharani and the Queenfireworks - Buat Kamu (2006) yang saya pinjam dari Summaya aka Cucum, The Flowers - Still Alive & Well (2009), Bonita - Laju (2009), yang bersama album ini merupakan pinjaman dan hibah dari Auf. Tiga sisanya merupakan pembelian saya sendiri, Adhitia Sofyan - Quiet Down (2009), Airportradio - Turun dalam Rupa Cahaya (2009), dan Andra & the Backbone - Love, Faith & Hope (2010). Saya tidak tahu apakah saya menyelesaikan semua takaran album ini dalam waktu yang singkat. Itu sih tidak penting. Hal yang terpenting adalah saya mendapatkan mood saya kembali mengakses musik dan dengan tenang dan sabar melakukan penakaran.

Album “Lipan’s Kinetic” adalah album yang sudah cukup lama dirilis sebenarnya. Album ini dirilis tahun 2009 pada tanggal yang disengaja, tanggal 9 bulan 9. Tanggal rilisnya mirip dengan sebuah partai politik, yang di tahun sebelumnya merilis “perwajahan” baru tanggal 8 bulan 8 di tahun 2008. Tadinya album ini tidak masuk dalam radar saya tetapi karena banyak yang membicarakannya, saya jadi tertarik untuk mendengarnya, dan tentu saja, menakarnya. Menakar album adalah cara tambahan untuk mendapatkan “kenikmatan” dari mengakses pesan media. Selain itu, menakar album bagi saya pribadi sebenarnya adalah “curcol” karena secara sengaja atau pun tidak, saya bisa berbicara tentang apa yang saya ketahui, rasakan, dan alami.

Melihat sekilas, kita bisa tertipu dengan sampul album yang terkesan tertata rapi ini. Ada gambar boneka anak perempuan dan serombongan lipan. Tetapi setelah kita mendengarnya dengan sungguh, kita akan merasakan “kenikmatan” mendengarkan musik yang luar biasa. Hal tersebut baru terasa bila kita mendefinisikan kenikmatan itu sebagai dekonstruksi cara mendengar. Di tangan Cranial Incisored, musik memiliki definisi yang berbeda, begitu pula dengan cara mendengarkannya. Metal dan jazz dicampur dengan semangat “merusak” sebuah tatanan.

“Pengrusakan” itu minimal hadir dalam dua lagu populer yang diinterpretasi ulang, “Friday I’m in Love” dari the Cure, dan “Double Talkin’ Jive” dari Guns n Roses. Kedua lagu tersebut mengalami perubahan habis-habisa dan entah mengapa menjadi tetap indah. Semangat jenis ini bagi saya terasa ketika pertama-kali saya mendengarkan lagu-lagu Sonic Youth. Sonic Youth membawakan musik bergenre alternatif tetapi dengan improvisasi dan gaya “jazz”.

Bagi saya, mendengarkan musik itu mirip dengan mengenal orang-orang. Ada sekelompok orang yang kita kenal betul dan juga dekat karena banyak kesesuaian dengan kita. Ini adalah permisalan musik pop, rock, disco, dan alternatif bagi saya. Terutama semua band atawa penyanyi yang memainkan keempat genre musik tersebut di tahun 1980-an dan 1990-an. Mudah bagi saya mengakses dan terpengaruh oleh kelompok ini.

Di dalam kehidupan kita ada pula sekelompok orang yang berbeda dan tidak begitu dekat karena berbagai hal. Hal terutama adalah mereka ada di dalam bidang yang berbeda dan mereka memiliki kualitas sebagai manusia yang bagus. Bila diandaikan jenis musik, bagi saya, kelompok ini termasuk musik bergender jazz dan klasik. Saya merasakan keindahannya tetapi tidak benar-benar merasuki saya dengan mudah karena saya tidak terbiasa mendengarkan kedua jenis musik ini.

Lapisan ketiga kelompok orang yang kita kenal adalah orang-orang yang sulit kita pahami. Bukan hanya karena mereka berbeda dan ada di wilayah dunia yang lain dengan kita, tetapi ini menyangkut pula cara berekspresinya. Bagi saja, jenis ini terwakili oleh musik bergender hip hop dan metal. Seringkali saya mencoba mengakses dan memahaminya, tetapi karena perbedaan cara berekspresi yang berbeda dan kebiasaan saya, sulit sekali untuk “merasakan” kedua jenis musik ini.

Begitulah, tipologi ketiga adalah hal yang saya rasakan ketika mendengarkan album ini. Saya menyukai lagu yang keras dan penuh improvisasi ini. Saya bisa memahami percampuran antara metal dan jazz, walau saya lebih cocok dengan kombinasi antara alternatif dan jazz. Karena itulah, lagu “ Jazz Ujan (Raincoat)” adalah lagu yang paling saya suka di album ini karena banyak unsur jazz-nya.

Saya susah mendengarkan lumayan banyak musik “keras” di masa lalu, “Sepultura”, “Megadeth”, “Testament”, “Manowar”, dan “Nine Inch Nails”. Hanya nama terakhir yang menjadi favorit saya sampai sekarang. Saya mencoba mengingat alasan utama saya mengakses band-band keras itu. Tak lain dan tak bukan adalah untuk menguatkan rasa sakit dan membuang rasa marah. Entah mengapa dengan mendengarkan musik yang sejenis, rasa sakit dan kemarahan itu bisa melunak. Dahulu saya akrab denganr asa sakit sehingga musik keras sempat pula saya akses agar kemarahan dalam diri mereda.

Jadi, menurut saya metal identik dengan rasa sakit dan amarah, namun amarah yang positif tentu saja, tergantung cara kita memaknainya. Walau demikian, setiap orang termasuk saya menyimpan rasa marah. Namun saya sadari kini bahwa amarah yang saya simpan itu tidak semenggelegak itu. Tidak semenggelegak yang dibawa oleh metal.

Keuntungannya, semua lagu di album ini berdurasi tidak lebih dari empat menit sehingga “siksaaan” bagi saya tidaklah lama…hehe…Bukannya saya tidak menikmatinya. Saya menikmatinya dalam beberapa bagian tetapi pada bagian yang lain saya tidak cukup mampu mendengarkannya. Di luar semua eksplanasi yang telah saya uraikan, album ini adalah album yang bagus. Saya mengutip komentar salah seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UGM bernama Rika Novayanti, tempat saya juga menjadi bagian di dalamnya, bahwa Cranial Incisored telah mencuri masa depan. Kemungkinan masa depannya (Cranial Incisored: They’re Stealing the Future) (dikutip dari tulisan Dozan Alfian di DAB edisi khusus “Yogyakarta Retrospektrum” Februari 2010).

Cranial Incisored bagi Rika adalah “si pencuri masa depan”. Bagi saya, mereka tidak mencuri masa depan saya, tetapi hanya mencuri waktu saya tidak lebih dari satu jam untuk album ini. Waktu yang bagi saya seperti berdiskusi dengan orang cerdas; keras, penuh improvisasi, dan berbeda dengan saya dalam banyak hal. Saya mendapatkan diskusi yang berkelas namun saya tidak ingin mengulanginya terlalu sering.

Judul : Lipan’s Kinetic
Penyanyi : Cranial Incisored
Tahun : 2009

Daftar Lagu:
1. Paradox of Paradoxical Paradigm
2. I'm The Instant
3. Glossosynthesis
4. Accelerating Velocity (A Dromology Chapter)
5. It's~
6. Jazz Ujan (raincoat)
7. A Mind-Expanding Headtrip
8. Friday I'm In Love
9. Double Talkin' Jive
10. D of P Feat Kalimayat (audio_bastard_mix)
11. Raincoat (Remix by Kirdec)
12. Headtrip Feat Kalimayat
13. Accelerating Velocity (Live @Liquid 27 August 07) (Bonus Song)
14. A Mind Expanding Headtrip (Live @Liquid 27 August 07) (Bonus Song)

Kamis, 25 Februari 2010

Ragam Jenis Jurnalisme Musik




Bulan Februari ini adalah masa yang menggairahkan bagi penggemar musik seperti saya. Kami mendapatkan beberapa kreasi media yang bagus mengenai musik. Dunia musik yang dilaporkan tersebut terakses di tiga majalah yang hadir bulan ini. Ketiga majalah tersebut adalah majalah Rolling Stone Indonesia edisi Februari 2010 dengan topik utama “the Decade’s Best Songs and Best Albums”, DAB edisi awal 2010 yang bertopik “Decade of Escapade 2000 – 2009: Yogyakarta Retrospektrum”, serta majalah Trax edisi Februari 2010.

Ketiga majalah itu menunjukkan bahwa jurnalisme musik itu beragam dan berpotensi besar untuk jadi mengasyikkan. Ketiganya menganggat musik sebagai suatu yang dilaporkan secara faktual walau ketiganya memiliki ciri masing-masing. Inilah yang disebut jurnalisme musik. Jurnalisme musik melaporkan peristiwa, tokoh, dan juga “wilayah spasial” yang berkaitan dengan musik.

Rolling Stone Indonesia misalnya menempatkan lagu-lagu dan album-album terbaik dekade ini. Album dan lagu itu adalah yang berasal dari musisi barat. Seperti biasanya, ini adalah “kekuatan” Rolling Stone. Sebagai korporasi yang cukup besar, Rolling Stone tentu saja memiliki sumber daya informasi dan pekerja media yang sangat memadai untuk mengklasifikasikan dan memeringkat kreasi di bidang musik.
Sangat bahagia mengakses Rolling Stone edisi bulan ini dan akan lebih bahagia lagi bila ada topik serupa untuk edisi-edisi mendatang bagi musisi Indonesia. Hal yang telah dilakukan oleh Rolling Stone Indonesia pada edisi-edisi yang lalu. Bagi saya, edisi 500 album musik terbaik sepanjang masa musisi barat dan 150 album terbaik musisi Indonesia, adalah topik terbaik dan menjadi masterpiece bagi pelaporan musik.

Kelebihan yang lain adalah di dalam majalah musik seperti Rolling Stone, terdapat tulisan mengenai politik yang bagus pula. Rata-rata lebih bagus dibandingkan dengan media umum yang speasilisasinya justru politik karena bersifat lebih naratif dan mengenai kesadaran kita secara “halus”. Alasan yang lain adalah informasi faktual topik-topik “keras” seperti politik dapat menjadi lembut bila dicampur dengan topik “populer” seperti musik.

Walau demikian, ada pula yang perlu diperjelas di dalam Rolling Stone Indonesia edisi ini. Beberapa teman memberikan link untuk versi online ketika RSI Februari belum terbit. Mereka me-link artikel “soundwaves” yang ditulis oleh Kartika Jahja aka Tika, judulnya “Jurnalisme Musik Indonesia Butuh Tamparan”. Teman-teman itu dan juga saya berpendapat opini Tika itu bagus. Hanya saja, Tika menyampaikan sisi “lanjut” dari jurnalisme musik, yaitu dedahan fakta, analisis, dan opini tentang fenomena musik.

Jurnalisme musik memang tidaklah berpondasi pada hard news tetapi lebih jauh dari itu. Walau demikian, seperti halnya jurnalistik untuk bidang yang lain, hal terpenting dan utama dari jurnalisme itu sendiri adalah fakta. Bukan analisis atau opini. Dua yang terakhir ini baru bisa terurai dengan baik bila kepingan-kepingan fakta sudah terdedah dengan memadai.

DAB edisi khusus yang dirilis pada bulan Februari ini juga memberikan hal yang menarik bagi penggemar musik, khususnya bagi yang tinggal di Yogyakarta. Kekuatan utama dari majalah free ini adalah hasrat dan motivasi yang kuat mengangkat scene musik indi di Yogyakarta. Topik yang memberikan apresiasi untuk musik Yogya ini terlihat dari tulisan mengenai musisi/band berpengaruh untuk satu dekade ini, juga infrastruktur yang mendukungnya, antara lain medianya, label, dan event yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir.

Bagi saya yang cukup telat memperhatikan musik indi dan musik lokal, zine ini adalah dokumentasi yang sangat bagus. Saya jadi memahami siapa saja pihak yang berpengaruh dan berkontribusi bagi musik Yogyakarta. Walau demikian, tulisan mengenai band yang paling berpengaruh pada dekade ini di Yogyakarta bisa lebih bagus bila ada pula tulisan yang benar-benar berasal dari informasi faktual, bukan hanya tulisan “pengakuan” atau opini dari individu. Kemungkinan penyebabnya adalah waktu dan ruang yang terbatas dari format majalah. Di atas semua itu, edisi DAB ini adalah pencapaian luar biasa bagi jurnalisme musik alternatif. Edisi ini layak menjadi salah satu pesan atau output media alternatif legendaris.

Majalah yang mengangkat musik dan dengan itu berkemungkinan besar untuk menjalankan fungsi produksi pesan faktual, adalah majalah Trax. Majalah ini saya bahas karena mengangkat topik “75 Lagu Rock Tanah Air Paling Gombal”. Pada dasarnya, media juga adalah museum. Media mengangkat informasi yang ada pada masa lalu. Pada titik ini upaya yang dilakukan oleh Trax adalah upaya yang keren. Saya pribadi jadi bisa mengingat lagu-lagu rock jaman dulu.

Kekuatan majalah ini, pada edisi ini, adalah liputan “lapangan” mengenai pentas-pentas band di seluruh dunia. Salah satu kekuatan jurnalisme musik adalah reportase yang mengalir dan bercerita seperti ini. Pemahaman akan tulisan dalam laporan etnografi dan jurnalisme sasrawi akan lebih berpengaruh pada laporan musik seperti yang dilakukan oleh Trax.

Walau begitu, sedikit kekurangan menurut saya, adalah informasi faktual dan juga logika dalam penentuan pemilihan lagu. Selain itu, wawancara dengan Ahmad Dhani perlu disandingkan dengan informasi lain, semisal diskografi untuk semua lagu yang diciptakan dan atau dinyanyikan olehnya, juga kaitan kronologis band dan penyanyi yang dia orbitkan. Dari sisi manajemen media, kekuatan sumber daya, Trax mungkin tidak sekuat Rolling Stone, tetapi output jurnalistik musik bisa diangkat lebih bagus lagi.

Singkatnya sebagai penutup, bulan Februari 2010 ini adalah bulan yang menyenangkan bagi saya sebagai penikmat musik. Bukan karena ini bulan “cinta” versi industri pemburu dan perayu uang, tetapi karena bulan ini terbit beberapa output jurnalisme musik yang membuat saya belajar lebih intens dan mendalam mengenai jurnalisme musik dan ragamnya di media kita.

Standar Wajah Ganda


Kopi yang dalam dan pekat pagi ini
Menunjukkan terkadang bayangan tak tunduk padamu
Ia menyergap orang lain lebih cepat dari dirimu sendiri
Atau bayangan dirinya yang kaurindu
Tidak pernah kau dapat kau pegang

Ini secangkir kopi yang panas, sayang
Ini sekantong idealisme yang ingin kita tuntaskan
Kita memasuki kuil yang sama
Tetapi kita tak pernah sama walau mungkin kita satu

Aku ingin tumpahkan kopi ini ke wajahmu dan teriakkan:
Wajah itu! Standar ganda! Eureka!
Mungkin kita bisa mendominasi segalanya

Standar cinta
Standar kesetiaan
Standar wajah
Standar akademis
Standar hasrat

Hanya ada di angan
Ganda
Gan da
Gan
Gan
G a n

Biarkan kami hanya menggunakan otak sisa ini
Biarkan kami jadi seloyal-loyalnya
Biarkan hamba mengabdi pada tuan
Biarlah kami melayanimu
Gan
Gan
Gan
Juragan


(Dalam kementahan, memaafkan dan mencoba melupakan)

Senin, 22 Februari 2010

Rasa Rindu


Cara kerinduan datang, tidak semua dari kita memahaminya. Seringkali rindu datang menggedor sukma dan mengelondorkan asa yang ada di hati. Bila kau paham, tolong jelaskan padanya dengan bahasa yang gampang. Jangan ditafsirkan lagi berulang-kali terlebih dulu karena dirinya nanti akan menafsirkannya.

Apa itu rasa rindu? Bagaimana dia diklasifikasikan? Bagaimana cara dia datang? Aku ingin kau menjelaskannya suatu saat nanti. Dia tidak ingin dijelaskan sekarang karena ia masih ingin merasakan rasa yang menyakitkan sekaligus menggetarkan itu.

Kerinduan itu menyakitkan sampai menembus dada karena dia tidak yakin sampai kapan sebuah rindu bisa dituntaskan. Rasa sakit itu tidak hanya dalam arti yang psikis tetapi juga fisikal. Dia bahkan mempertanyakan keyakinan apakah rindu itu akan terobati dalam waktu yang singkat.

Dia sangat rindu pada ayahnya yang meninggal tahun 2002 lalu. Kerinduan menyergap pelan-pelan ketika dia menonton siaran langsung Liga Italia. AC Milan menang melawan Bari. AC Milan adalah klub kesukaan ayahnya. Bila ada cara untuk berinteraksi dengan ayahnya, dia ingin meng-sms atau apa pun, asalkan dia bisa mengirimkan pesan ke ayahnya bahwa semuanya berjalan dengan baik.

Rasa rindu juga mencengkeram kuat ketika dia menonton film “Jane Austen Book Club”. Bukan karena cerita filmnya, melainkan karena penulis yang diperbincangkan di dalam film itu. Dia ingat dengan adik perempuannya yang dulu belajar sastra Inggris. Seingatnya Jane Austen dan Thomas Hardy adalah para pengarang favorit adiknya. Dia ingat betapa dulu dia bersama adik-adiknya berjibaku belajar di Yogyakarta.

Kerinduan juga dengan cepat terasa sangat kuat ketika dia mendengar lagu rap dan menonton berita tentang ikan berkepala buaya. Dia teringat dengan kedua adiknya yang lainnya, adik-adik lelakinya. Juga ketika mendengar lagu Iwan Fals “Ibunda”, ia ingat dengan ibundanya yang jauh di sana. Ia ingat dengan anak dan isterinya melalui banyak cara. Memandang gambar-gambar anak kecil, melihat gedung fakultas sebelah, melewati lobi jurusan tetangga, dua tempat istrinya bersekolah. Itu sudah membuatnya rindu.

Dia juga terkadang rindu pada teman-temannya lebih dari yang diakuinya. Dia merasa dirinya mandiri secara emosional dan aktivitas walau kenyataannya tidak. Dia sering merasa kesepian di tempat kerjanya. Dia teringat pada teman-temannya juga dengan banyak cara. Pada banyak lagu, buku dan ketika berada di kafe menyeruput kopi. Juga kala menyantap ikan bakar di rumah makan favorit dia dan teman-temannya. Banyak cara dan banyak jalan membuat rasa rindu itu menghentak-hentak di dadanya.

Walau menyakitkan, rasa rindu juga menggetarkan hati dalam pengertiannya yang paling menyentuh. Karena melalui kerinduanlah rasa terangkai itu ada. Ia tahu entah dengan cara bagaimana ia pun selalu dirindui oleh semua orang yang dicintainya. Rasa terangkai dan saling menyadari bahwa mereka memikirkannya adalah salah satu jenis rasa terindah dalam hidup yang berat ini. Rasa rindu itu mengenyahkan jarak dan waktu, bahkan ruang yang berbeda antara yang hidup dan telah tiada.

Dia mencoba menjaga sekaligus mengobati rasa rindu ini dengan bersikap baik pada orang-orang yang dicintainya. Dia hanya berusaha untuk hidup dengan sebaik-baiknya. Untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang-orang yang dicintainya

Dia baik-baik saja dan berusaha menghidupi hidupnya.

Jumat, 19 Februari 2010

Anthony Giddens - Seri Tokoh


Suatu ketika saya bersama dengan seorang teman bercanda untuk menghilangkan kesumpekan. Kami berusaha menguji konsep narsisme dan kemungkinan seberapa narsis-nya kami. Pertama, kami mencoba bercanda dengan judul tulisan. Coba bayangkan tulisan berjudul seperti ini: “Antara Saya, Anthony Giddens, dan Stuart Hall”. Cukup narsis bukan?

Atau judulnya ini: “Saya di Mata Giddens”…hehe…memangnya siapa saya? Salah satu cara yang biasanya digunakan untuk menunjukkan narsisme adalah dengan menggunakan tokoh untuk “meninggikan” diri sendiri. Tokoh sendiri bisa dipertanyakan levelnya. Asalkan individu yang populer di mata masyarakat dan relatif berkontribusi secara luas, kita bisa menyebutnya tokoh. Dalam hal ini, Giddens adalah tokoh dalam bidang akademis. Tokoh di dalam dunia akademis bias dilihat dari kontribusinya di dunia pengetahuan secara umum. Hal ini bisa dilacak dari tulisan atau buku yang dihasilkan. Giddens sendiria ada di wilayah ilmu sosial dan sekaligus ilmu humaniora.

Pelajaran yang saya dapatkan dari uji-menguji tingkat narsistik itu adalah ternyata narsisme lebih bisa dilihat oleh orang lain. Ini berita bagusnya. Individu biasanya tidak ingin dinilai narsis. Individu cenderung melihat dirinya sendiri dengan tinta emas dan ada kemungkinan berlebihan dalam melihat diri sendiri. Jadi, saya dan mungkin teman saya itu, bisa sedikit lega karena walau kami mengaku agak narsis, belum tentu orang lain melihatnya demikian. Walau sebenarnya bisa juga sebaliknya.

Kembali kepada “tokoh” yang akan didedah ini. Kita menjelaskan tokoh bukan berarti kita mengkultuskannya. Bisa juga kita berusaha melihat tokoh untuk menunjukkan kontribusinya dalam bidang tertentu. Dalam konteks dunia pemikiran, seorang tokoh biasanya dikaji dengan konsep pemikiran yang disampaikannya. Katakanlah, bila kita membicarakan Giddens, berarti sedikit banyak kita akan membicarakan strukturasi juga. Jadi, mendedah seorang tokoh keilmuan, bukan berarti pendedah tersebut berusaha menjadi epigon ataupun fans dari sang tokoh.

Saya baru sekali menakar tokoh, yaitu Stuart Hall. Menurut saya, menakar tokoh jauh lebih sulit dibandingkan dengan menakar buku ataupun album musik. Banyak tokoh yang ingin saya takar dan kisahkan, terutama tokoh ilmu komunikasi. Untuk kali ini saya akan menelaah Giddens yang pemikir “luar” ilmu komunikasi dulu sajalah. Kebetulan saya mendapatkan kesempatan untuk menelaah tokoh ini di dalam riset terkini dan mungkin yang terbesar bagi saya.

Di dalam tulisan singkat ini, saya ingin secara singkat berkisah tentang Anthony Giddens. Kemudian akan dijelaskan kontribusi pemikirannnya secara umum. Pada bagian terakhir akan berusaha ditelaah hubungan konsepsi pemikiran Giddens dengan fenomena ilmu komunikasi, ilmu yang sedikit saya kuasai.
Pertanyaan awalnya adalah: siapa Giddens? Untuk mengenal Giddens secara singkat berikut ini saya ambil biografi singkatnya dari situs LSE (London School of Economy):

Giddens lahir tanggal 18 Januari 1938 di Edmonton, North London. Ia menempuh pendidikan di University of Hull and London School of Economics. Giddens menulis disertasi yang berjudul “Sport and Society in Contemporary Britain”. Ia mengajar di University of Leicester dan juga Cambridge, tempat ia mendapatkan gelar professor Sosiologi. Ia menjabat direktur LSE pada tahun 1997 sampai 2003. Ia mendapatkan gelar kehormatan dari 15 universitas. Buku-bukunya telah diterjemahkan dalam kurang lebih empat puluh bahasa. Giddens adalah orang pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Giddens juga adalah seorang supporter loyal dari klub sepakbola daerahnya, Tottenham Hotspur. Klub London yang lain selain Spurs yang berlaga di divisi Premiership adalah Arsenal, Chelsea, Fulham dan West Ham United.

Kontribusi terbesar Giddens terutama berasal dari buku yang ditulisnya pada tahun 1984, yang berjudul “The Constitution of Society”. Melalui buku inilah pemikiran terpenting Giddens terlacak. Konsepsi yang kita kenal sebagai strukturasi. Ia melihat bahwa kajian ilmu sosial selalu berada pada dua kutub besar. Pandangan klasik melihat bahwa struktur (pandangan makro) adalah yang lebih berperan dibandingkan dengan individu (pandangan mikro), yang ia sebut agen.

Cukup lama kedua kutub pemikiran tersebut meraja dalam ilmu sosial. Giddens mengambil “jalan tengah” dan menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah agen ataupun struktur, melainkan interaksi keduanya. Inilah yang ia sebut dengan nama strukturasi. Melalui konsepsinya ini, Giddens menerabas hutan belantara teori sosial. Pohon-pohondi dalam rimba yang coba “dilampaui” oleh Giddens adalah fungsionalisme, interaksionisme, strukturalisme, post-strukturalisme, dan post-modernisme. (dikutip dari buku “Anthony Giddens: Suatu Pengantar” (2002) oleh B. Herry-Priyono, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia).

Selain itu, melalui strukturasi, Giddens juga menunjukkan makna dualitas. Biasanya di dalam ilmu sosial, dua elemen hadir untuk saling “meniadakan” satu sama lain. Ini dikenal sebagai dualisme. Giddens kemudian membedakannya dengan melansir konsep dualitas, yaitu karakter dari dua elemen yang “menyatu” adalah saling melengkapi. Salah satu ada karena yang lain ada.

Melihat sedikit eksplanasi di atas tentang kontribusi pemikiran Giddens dalam ilmu sosial, kita pun bisa menyimpulkan bahwa kontribusi pemikiran Giddens di dalam ilmu komunikasi cukup besar pula. Paling tidak ini ditunjukkan dalam buku “Political Economy of Communication: Rethinking and Renewal” yang ditulis oleh Vincent Mosco pada tahun 1996. Mosco menggunakan strukturasi sebagai salah satu pintu masuk untuk mendedah fenomena media dari sudut pandang ekonomi politik. Dua pintu masuk yang lain adalah komodifikasi dan spasialisasi. Pada konsep spasialisasi pun, sebenarnya Giddens juga berkontribusi karena ia juga menelaah konsepsi ruang dan waktu.

Buku lain yang cukup bagus yang juga menggunakan pemikiran Giddens adalah buku yang ditulis oleh David Gauntlett pada tahun 2002, yang berjudul “Media, Gender and Identity: An Introduction”. Di dalam buku ini, Gauntlett menggunakan pemikiran Giddens untuk menelaah interaksi identitas dan media melalui telaahnya atas modernisasi. Juga melalui telaah Giddens atas tubuh, keagenan, dan identitas. Giddens di dalam buku ini disandingkan dengan pemikiran Foucault untuk menelaah identitas.

Menurut saya, pemikiran Giddens membuat ia masuk dalam kategori “atap” di dalam rumah ilmu komunikasi. Giddens tidak “mendirikan” rumah, dan ruang-ruang di dalamnya, ia menaungi rumah yang ada. Pemikiran Giddens sangat dekat dengan fenomena industri media dan komunikasi organisasi. Pemikirannya bisa digunakan pada hampir semua fenomena komunikasi media ataupun non-media.

Di dalam kajian media misalnya, kita bisa melihat wartawan sebagai agen, kemudian pola kerja, prosedur, dan yang berkaitan dengan konteks produksi pesan lainnya adalah struktur. Berita yang diproduksi tersebut selalu berkaitan dengan kecakapan wartawan, ketentuan prosedur di dalam profesi pencari berita, dan strategi organisasi media di mana wartawan tersebut bekerja. Proses produksi berita tersebut juga ada di dalam “struktur” lain yang lebih besar, semisal norma yang berlaku di dalam masyarakat, dan juga “sistem” bila struktur tersebut sudah relatif stabil.

Demikianlah, fungsi tokoh dan pemikirannya di dalam telaah memang bukan semata-mata untuk mengenal dan memahaminya, melainkan juga untuk lebih bagus dalam mengamati fenomena yang ada di dalam kehidupan. Jadi tidak penting “Saya di Mata si Tokoh” atau “Tokoh di Mata Saya”. Hal yang terpenting adalah bagaimana kita lebih dekat dan menyelami kehidupan dengan sebaik-baiknya.


(gambar dipinjam dari top-people.starmedia.com)

Kamis, 18 Februari 2010

Diperlukan Segera: Literasi Digital


Baru-baru ini kita dikejutkan dengan dua peristiwa yang berkaitan dengan Facebook. Peristiwa tersebut adalah prostitusi terselubung yang melibatkan perempuan-perempuan di bawah umur dan “penculikan” perempuan muda. Sebagian pihak menyalahkan Facebook sebagai sarana terjadinya tindak kejahatan. Sebagian lagi menyalahkan anak-anak muda yang terlalu naif dalam berinteraksi dengan orang lain yang masih asing. Sementara sebagian yang terakhir menyalahkan pengawasan orang tua yang kurang intens pada anak-anaknya.

Menurut penulis, semua pihak mesti bertanggung-jawab dalam beberapa kejadian yang melibatkan media baru, terutama internet, belakangan ini. Kecenderungan yang terjadi saat ini, terutama terbaca di media televisi, kita menyalahkan Facebook. Pengambinghitaman ini adalah sesuatu yang kurang tepat. Facebook bukanlah akar permasalahan yang sebenarnya. Lebih luas lagi, internet bukanlah permasalahan sebenarnya. Seperti halnya jenis media yang lain, baik itu media “lama” (majalah, suratkabar, radio, dan televisi), ataupun media “baru” (internet, game, dan handphone), semuanya potensial berdampak positif ataupun negatif. Tergantung dari penggunanya dan motif-motif yang melatarbelakanginya.

Penyebab utama dari penyalahgunaan media baru adalah ketidakpahaman dan ketiadaan kecakapan dalam berinteraksi dengannya. Kini kita sebagai masyarakat memerlukan literasi digital agar dapat mengakses media baru dengan lebih baik dan efektif. Apa itu literasi digital? Secara singkat literasi digital dapat didefinisikan sebagai ragam keterampilan atau kecakapan yang diperlukan oleh seorang individu ketika mengakses media baru.

Literasi digital merupakan perkembangan lebih jauh dari dua jenis literasi lain yang telah dikenal sebelumnya, literasi dan literasi media. Literasi adalah kecakapan yang berhubungan dengan media cetak. Pengakses yang memiliki tingkat literasi yang bagus akan lebih mungkin membaca, menulis, dan memahami konvensi dalam media cetak dengan lebih baik. Literasi seringkali disebut sebagai melek huruf. Pada masa lalu literasi dianggap sebagai indikator kemajuan sebuah masyarakat. Kemampuan baca tulis adalah salah satu penanda penting tingkat pembangunan di sebuah negara.

Sementara itu, literasi media yang dikembangkan dari konsepsi literasi, adalah kecakapan individu dalam mengakses media audio-visual, terutama televisi. Literasi media melihat bahwa rangkaian isi pesan media melalui gambar dan suara yang ditata sedemikian rupa tidak dapat menggunakan literasi. Literasi media di dalam bahasa Indonesia seringkali disebut dengan nama melek media. Kini literasi media berkembang dengan pesat di berbagai negara. Di Kanada dan Amerika Serikat, pengetahuan mengenai literasi dan literasi media bahkan masuk di dalam kurikulum sekolah dasar. Kedua negara tersebut sudah menyadari bahwa pemahaman atas media cetak dan media audio-visual mesti diteguhkan secara formal karena begitu pentingnya pemahaman atas media pada masa sekarang ini.

Kini di banyak negara di seluruh dunia, pemahaman mengenai literasi digital berusaha disebarkan dengan cepat karena dampak penggunaan media baru sudah sangat terasa. Literasi digital sendiri tidak memiliki nama yang sama di berbagai kalangan. Literasi digital bisa disebut literasi media baru (new media literacy), dan juga literasi komputer. Hal yang terpenting, apa pun namanya, jenis literasi terbaru ini memiliki prinsip bahwa pesan media baru itu konvergen atau bisa diakses dari banyak jenis media baru, proses komunikasi yang terjadi adalah proses multi arah, dan memperpendek ruang dan waktu.

Literasi digital diperkuat lagi dengan perkembangan teknologi internet yang telah mengarah pada perubahan mendasar yang menyatukan jaringan sosial di dunia nyata dan dunia maya. Karakter penyatuan tersebut hadir dalam web 2.0 (atau lebih). Media baru sekarang semakin menyatukan kehidupan sosial dan kehidupan virtual individu. Pesan media baru kini juga kebanyakan diproduksi oleh individu. Individu saling bertukar berita dan cerita yang berpotensi “mengganggu” kemapanan media arus utama. Kini lahirlah di media baru, varian lain jurnalisme, yang disebut sebagai peer to peer journalism dan citizen journalism.

Anak-anak adalah pengguna media baru yang cenderung belum tinggi tingkat kecakapannya sehingga rentan menerima interaksi yang multi arah tadi. Di dalam media lama atau media konvensional, datangnya pesan bisa diduga walaupun banyak. Sementara di dalam media baru, seperti Facebook di internet, pesan itu bisa hadir dari mana saja dan cenderung tidak terduga, baik jumlah dan arahnya. Bila tidak cakap, tidak hati-hati dan diawasi dengan baik, anak-anak adalah pengakses yang rentan terhadap efek negatif media.

Literasi digital seperti halnya kedua jenis literasi yang lain, perlu pula untuk diperluas menjadi urusan kolektif walaupun awalnya lebih ditujukan untuk individu. Hal ini terutama ditujukan untuk anak-anak yang belum lengkap kemampuannya dalam mengakses media baru. Dalam urusan mengakses internet, anak-anak seharusnya ditemani oleh para orang-tua untuk di sekolah dan para guru di sekolah.
Orang-tua dan guru adalah mitra anak-anak dalam mengakses media bukan pihak yang berbeda. Ironisnya, orang-tua dan guru belum menganggap menemani anak-anak bermedia sebagai aktivitas yang penting dan bermakna.

Ketiga ragam literasi sudah kita perlukan secara mendesak, terutama literasi digital. Literasi digital diperlukan untuk mengarungi samudera pesan media baru. Literasi digital diperlukan bagi anak-anak kita dalam “berenang” di media baru agar mendapatkan manfaat darinya. Anak-anak juga memerlukan orang dewasa sebagai mitra mengakses media. Tetapi, apakah itu mungkin, sementara ada orang-tua yang memiliki anak usia sekolah dasar membiarkan anaknya membuka account Facebook? Sebab individu sebenarnya baru boleh membuka account Facebook ketika berusia tiga belas tahun ke atas sesuai ketentuan pengelola Facebook dan tentunya rekomendasi dari para ahli.


(Opini ini dalam versi yang sedikit lebih singkat muncul di harian Kedaulatan Rakyat, 16 Februari 2010. Semoga literasi, literasi media, dan literasi digital semakin termasyarakatkan dengan lebih baik. Kita semua berusaha))

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...