Kamis, 18 Februari 2010

Diperlukan Segera: Literasi Digital


Baru-baru ini kita dikejutkan dengan dua peristiwa yang berkaitan dengan Facebook. Peristiwa tersebut adalah prostitusi terselubung yang melibatkan perempuan-perempuan di bawah umur dan “penculikan” perempuan muda. Sebagian pihak menyalahkan Facebook sebagai sarana terjadinya tindak kejahatan. Sebagian lagi menyalahkan anak-anak muda yang terlalu naif dalam berinteraksi dengan orang lain yang masih asing. Sementara sebagian yang terakhir menyalahkan pengawasan orang tua yang kurang intens pada anak-anaknya.

Menurut penulis, semua pihak mesti bertanggung-jawab dalam beberapa kejadian yang melibatkan media baru, terutama internet, belakangan ini. Kecenderungan yang terjadi saat ini, terutama terbaca di media televisi, kita menyalahkan Facebook. Pengambinghitaman ini adalah sesuatu yang kurang tepat. Facebook bukanlah akar permasalahan yang sebenarnya. Lebih luas lagi, internet bukanlah permasalahan sebenarnya. Seperti halnya jenis media yang lain, baik itu media “lama” (majalah, suratkabar, radio, dan televisi), ataupun media “baru” (internet, game, dan handphone), semuanya potensial berdampak positif ataupun negatif. Tergantung dari penggunanya dan motif-motif yang melatarbelakanginya.

Penyebab utama dari penyalahgunaan media baru adalah ketidakpahaman dan ketiadaan kecakapan dalam berinteraksi dengannya. Kini kita sebagai masyarakat memerlukan literasi digital agar dapat mengakses media baru dengan lebih baik dan efektif. Apa itu literasi digital? Secara singkat literasi digital dapat didefinisikan sebagai ragam keterampilan atau kecakapan yang diperlukan oleh seorang individu ketika mengakses media baru.

Literasi digital merupakan perkembangan lebih jauh dari dua jenis literasi lain yang telah dikenal sebelumnya, literasi dan literasi media. Literasi adalah kecakapan yang berhubungan dengan media cetak. Pengakses yang memiliki tingkat literasi yang bagus akan lebih mungkin membaca, menulis, dan memahami konvensi dalam media cetak dengan lebih baik. Literasi seringkali disebut sebagai melek huruf. Pada masa lalu literasi dianggap sebagai indikator kemajuan sebuah masyarakat. Kemampuan baca tulis adalah salah satu penanda penting tingkat pembangunan di sebuah negara.

Sementara itu, literasi media yang dikembangkan dari konsepsi literasi, adalah kecakapan individu dalam mengakses media audio-visual, terutama televisi. Literasi media melihat bahwa rangkaian isi pesan media melalui gambar dan suara yang ditata sedemikian rupa tidak dapat menggunakan literasi. Literasi media di dalam bahasa Indonesia seringkali disebut dengan nama melek media. Kini literasi media berkembang dengan pesat di berbagai negara. Di Kanada dan Amerika Serikat, pengetahuan mengenai literasi dan literasi media bahkan masuk di dalam kurikulum sekolah dasar. Kedua negara tersebut sudah menyadari bahwa pemahaman atas media cetak dan media audio-visual mesti diteguhkan secara formal karena begitu pentingnya pemahaman atas media pada masa sekarang ini.

Kini di banyak negara di seluruh dunia, pemahaman mengenai literasi digital berusaha disebarkan dengan cepat karena dampak penggunaan media baru sudah sangat terasa. Literasi digital sendiri tidak memiliki nama yang sama di berbagai kalangan. Literasi digital bisa disebut literasi media baru (new media literacy), dan juga literasi komputer. Hal yang terpenting, apa pun namanya, jenis literasi terbaru ini memiliki prinsip bahwa pesan media baru itu konvergen atau bisa diakses dari banyak jenis media baru, proses komunikasi yang terjadi adalah proses multi arah, dan memperpendek ruang dan waktu.

Literasi digital diperkuat lagi dengan perkembangan teknologi internet yang telah mengarah pada perubahan mendasar yang menyatukan jaringan sosial di dunia nyata dan dunia maya. Karakter penyatuan tersebut hadir dalam web 2.0 (atau lebih). Media baru sekarang semakin menyatukan kehidupan sosial dan kehidupan virtual individu. Pesan media baru kini juga kebanyakan diproduksi oleh individu. Individu saling bertukar berita dan cerita yang berpotensi “mengganggu” kemapanan media arus utama. Kini lahirlah di media baru, varian lain jurnalisme, yang disebut sebagai peer to peer journalism dan citizen journalism.

Anak-anak adalah pengguna media baru yang cenderung belum tinggi tingkat kecakapannya sehingga rentan menerima interaksi yang multi arah tadi. Di dalam media lama atau media konvensional, datangnya pesan bisa diduga walaupun banyak. Sementara di dalam media baru, seperti Facebook di internet, pesan itu bisa hadir dari mana saja dan cenderung tidak terduga, baik jumlah dan arahnya. Bila tidak cakap, tidak hati-hati dan diawasi dengan baik, anak-anak adalah pengakses yang rentan terhadap efek negatif media.

Literasi digital seperti halnya kedua jenis literasi yang lain, perlu pula untuk diperluas menjadi urusan kolektif walaupun awalnya lebih ditujukan untuk individu. Hal ini terutama ditujukan untuk anak-anak yang belum lengkap kemampuannya dalam mengakses media baru. Dalam urusan mengakses internet, anak-anak seharusnya ditemani oleh para orang-tua untuk di sekolah dan para guru di sekolah.
Orang-tua dan guru adalah mitra anak-anak dalam mengakses media bukan pihak yang berbeda. Ironisnya, orang-tua dan guru belum menganggap menemani anak-anak bermedia sebagai aktivitas yang penting dan bermakna.

Ketiga ragam literasi sudah kita perlukan secara mendesak, terutama literasi digital. Literasi digital diperlukan untuk mengarungi samudera pesan media baru. Literasi digital diperlukan bagi anak-anak kita dalam “berenang” di media baru agar mendapatkan manfaat darinya. Anak-anak juga memerlukan orang dewasa sebagai mitra mengakses media. Tetapi, apakah itu mungkin, sementara ada orang-tua yang memiliki anak usia sekolah dasar membiarkan anaknya membuka account Facebook? Sebab individu sebenarnya baru boleh membuka account Facebook ketika berusia tiga belas tahun ke atas sesuai ketentuan pengelola Facebook dan tentunya rekomendasi dari para ahli.


(Opini ini dalam versi yang sedikit lebih singkat muncul di harian Kedaulatan Rakyat, 16 Februari 2010. Semoga literasi, literasi media, dan literasi digital semakin termasyarakatkan dengan lebih baik. Kita semua berusaha))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...