Jumat, 01 Oktober 2010

"You and Me Babe, How about It?"


Bagi yang senang mendengarkan musik pasti sudah pernah menemukan lagu-lagu yang "meremukkan" hati. Meremukkan dalam makna yang sesungguhnya, yang negatif, atau "meremukkan" dalam arti yang konstruktif atau positif. Sepanjang mendengarkan musik dan mengerti makna yang termaktub dalam lirik lagunya, saya sendiri sudah menemukan banyak lagu jenis ini. Lagu-lagu cinta favorit saya kebanyakan berkisah tentang cinta yang gagal atau tersendat, namun entah bagaimana, justru lirik-lirik itu memberikan pemahaman bahwa cinta tidak harus dimaknai dengan mengharu-biru. Cinta mestinya dipahami dalam paket yang lengkap, tidak senang semata, atau sedih semati. Cinta adalah manifestasi dualitas hasrat murni manusia. Cinta dua orang mesti dipahami sebagai cinta cermin seluruh manusia secara utuh.



Katakanlah bila dua orang manusia yang pernah saling menyintai dan kemudian berpisah, namun perpisahan itu tidak menjadikan mereka berpisah selamanya atau tidak berteman. Pun dengan hubungan antar dua manusia bukan dalam konteks cinta dan kasih sayang, bila sudah tidak "cucok", mengapa dipaksakan untuk berteman? mungkin derajat pertemanan itu bisa diturunkan dari akrab menjadi biasa saja, atau bahkan menjadi sekadar saling tahu bahwa di dalam kehidupan ini masing-masing bereksistensi dan tidak saling "mengganggu". Teman kemudian berubah menjadi kontak, bila pun suatu kali mesti berinteraksi, keduanya boleh memberikan interaksi minimal untuk sekadar memenuhi fungsi interaksi itu saja.



Untuk "love song" jenis ini saya memilih lima, yaitu: "In to Deep" oleh Genesis, "Separate Live" oleh Phil Collins, "Goodbye Girl" oleh David Gates, "Time after Time" oleh Eva Cassidy, dan lagu ini, "Romeo and Juliet", yang dinyanyikan oleh Dire Straits. Lagu yang menafsirkan sebaliknya dari kisah cinta Romeo and Juliet ini adalah lagu pertama yang menjadi puncak dari lima lagu yang saya pilih ini. Mengapa begitu? sederhana saja, selain tafsir "membalikkan" dari teks Romeo and Juliet yang sebenarnya, lagu ini bagus karena maknanya unik. Lagu ini bercerita tentang dua orang yang saling mencintai namun kemudian berpisah karena waktu yang tidak tepat. Mungkin salah satu atau keduanya sedang mengejar mimpi masing-masing dan belum bisa berfokus pada orang lain. Mungkin karena preferensi hidup masing-masing tidak sama. Atau karena salah satu pihak menganggap pihak mitranya melakukan tindakan yang tidak dapat ditolerir di dalam hubungan itu. Mungkin kenisbian yang lain yang terjadi.



Hal lain yang membuat lagu ini menarik adalah vokal Mark Knopfler yang "berkejaran" dengan musik dan pemaparan melalui kalimat tak biasa. Saya paling suka dengan larik di awal dan akhir yang sama, juga kalimat "You and me babe, how about it?". Kalimat paling tulus dari seorang lelaki pecinta, namun menunjukkan kepercayaan diri "si Romeo" yang pas, tidak lebih dan tidak kurang. Ada rasa percaya diri yang tipis dan tidak sombong. Berbeda sedkitlah dengan kalimat dari lagu si Boy, "baik hati dan tidak sombong, jagoan lagipula pintar"...Rasa percaya diri yang kurang pas nan tanpa cela.



Saya mengenal Dire Straits sejak pertengahan 1990-an karena musiknya yang "aneh". Selain itu juga karena seorang teman pernah membawa kaset rekaman sendiri yang mengompilasi lagu-lagu Dire Straits dan Def Leppard, yang sering diputar ketika kami berkumpul. Album mereka "Brothers in Arms" (1985) adalah salah satu album terfavorit saya yang memberi beberapa pelajaran tentang hidup yang tak sangat indah namun tetap layak dijalani. Namun lagu bagus ini tidak berada di album terbaik mereka tersebut, "Romeo and Juliet" ada di dua album sebelumnya, "Making Movies" (1980). Lagu "Romeo and Juliet" ini kemudian dinyanyikan kembali oleh the Killers, dan uniknya vokal Brandon Flowers yang "canggung" mirip sekali dengan suara Mark Knopfler.




Pagi ini, menyesap pelan-pelan hidup


Hanya aromanya yang berkumandang di pikiran

Hanya sensasinya yang menggelegar di pintu hati

tetapi kutahu menjalaninya bersamamu, semua yang bersahaja akan ternikmati

seperti alunan yang canggung ini...


"You and me babe, how about it?"




#######



Romeo and Juliet

by Dire Straits

from "Making Movies" (1980)



NARRATOR:

A love-struck Romeo sings the streets a serenade

Laying everybody low with a love song that he made.

Finds a streetlight, steps out of the shade

Says something like, "You and me babe, how about it?"



Juliet says, "Hey, it's Romeo, you nearly gave me a heart attack!

"He's underneath the window, she's singing, "Hey la, my boyfriend's back.

You shouldn't come around here singing up to people like that...Anyway, what you gonna do about it?"



ROMEO:

Juliet, the dice was loaded from the start

And I bet when you exploded into my heart

And I forget I forget the movie song.

When you gonna realize it was just that the time was wrong, Juliet?

Come up on different streets, they're both the streets of shame.



Both dirty, both mean, yes, in the dream it was just the same

And I dreamed your dream for you and now your dream is real.

How can you look at me as if I was just another one of your deals?

When you can fall for chains of silver,

You can fall for chains of gold,

You can fall for pretty strangers

And the promises they hold.

You promised me everything, you promised me thick and thin, yeah!



Now you just say, "Oh Romeo?

Yeah, you know I used to have a scene with him".

Juliet, when we made love, you used to cry.

You said, "I love you like the stars above, I'll love you 'til I die".

There's a place for us, you know the movie song.

When you gonna realize it was just that the time was wrong, Juliet?



I can't do the talk, like the talk on TV

And I can't do a love song, like the way it's meant to be.

I can't do everything, but I'll do anything for you.

I can't do anything, 'cept be in love with you!

And all I do is miss you and the way we used to be.

All I do is keep the beat... and bad company.

Now all I do is kiss you through the bars of a rhyme,

Juliet, I'd do the stars with you any time!



Juliet, when we made love you used to cry.

You said, "I love you like the stars above, I'll love you 'til I die".

There's a place for us, you know the movie song.

When you gonna realize it was just that the time was wrong, Juliet?



NARRATOR:

And a love-struck Romeo sings a street-suss serenade

Laying everybody low with a lovesong that he made

Finds a convenient streetlight, steps out of the shade

He says something like, "You and me babe, how about it?"



ROMEO:

You and me babe, how about it?

Maybe Tomorrow


"Ayo mas, once in the lifetime lho...." Kata seorang rekan sekaligus mahasiswa saya, Sondy Garcia, menyarankan saya mesti menyaksikan Smashing Pumpkins dan the Stereophonics yang akan manggung di Jakarta minggu depan, di acara "Java Rockin' Land". Sebelumnya saya bercerita padanya betapa ingin saya menyaksikan kedua band 1990-an itu ketika kami bersama memandu acara "Angkringan Gayam" Senin malam kemarin.

Benar juga sih, pikir saya. Sekali seumur hidup apa salahnya? Awalnya saya ingin tetap nekad menonton. Kemudian setelah "mengusut" lebih dalam lagi jadwal, kondisi keuangan, dan lain-lain, saya membatalkan niat itu. Sudahlah, cukup mendengarkan album-album mereka yang rata-rata bagus itu, menyaksikan videoklip dan aksi panggung mereka dari cakram padat, dan mengakses habis-habisan informasi ttg mereka dari beragam media. Saya rasa itu semua sudah cukup. Di dalam hati saya menenangkan diri sendiri tetapi sudut pendapat hati saya yang lain menyampaikan hal yang berbeda. Bro, tetap saya menonton langsung penampilan mereka itu sangatlah berbeda. Tidak ada bandingannya menyaksikan langsung, sekalipun kau mengakses informasi dalam jumlah sangat besar.



Namun memang saya mesti realistis....



Belakangan ini pun, sebelum saya mengetahui agenda mereka akan datang ke Indonesia, saya cukup sering memutar kembali album-album Stereophonics dan Smashing Pumpkins. Alasannya sederhana saja, tidak ada album baru Indonesia yang cukup "menggigit" untuk didengarkan dengan detail, kecuali Bangkutaman. Untuk album Barat memang ada album Arcade Fire terbaru, namun itu belum cukup. Saya pun kembali mendengarkan album-album lama dari band-band kesukaan saya. Uniknya, album-album yang kita suka itu akan selalu memberikan nuansa yang berbeda. Kita pun akan cenderung menafsirnya secara berbeda, dengan konteks kekinian. Saya pribadi bisa mempelajari dan menelisik kembali masa lalu di mana album-album tersebut menjadi background.



Mendengarkan album lawas Stereophonic yang judulnya "You Gotta Go There to Come Back" dari tahun 2003 misalnya, saya merasakan transisi orang-orang ada di sekitar saya dahulu. Ayah saya meninggal setahun sebelumnya, teman-teman karib semasa kuliah mulai pergi karena menyelesaikan kuliahnya, bekerja, dan pulang ke daerah asalnya, teman-teman baru datang, orang-orang "baru" hadir menjadi berhubungan keluarga karena di tahun inilah saya menikah. Bagi saya tahun 2003 ini adalah transisi penting yang menjadi berbeda didedah dengan soundtrack dari album Stereophonics itu. Hidup sendiri yang direview terus-menerus menjadikannya bermakna, begitu kira-kira kata seorang pemikir terkenal yang saya interpretasi ulang.



Di dalam album "You Gotta Go There to Come Back" tersebut ada satu lagu bagus, yang juga menjadi hit, judulnya "Maybe Tomorrow. Musiknya enak didengar. Liriknya pun sangat kontemplatif. Seperti halnya lagu-lagu bagus milik Stereophonics yang lain, ada semacam rasa "tak selesai" dari lagu "Maybe Tomorrow" ini. Tak selesai walaupun kita mengakses teks ini beribu kali, walau kita menikmatinya luar bisa. Dia tetap hanya lagu. Dia tetap sebuah teks media. Kita mesti "menyelesaikannya" dalam hidup kita sendiri.



Lagu ini juga muncul sebagai salah satu penghias dan pemerkuat film "Wicker Park" (2004), sebuah film bagus dengan gaya bercerita berbeda dari film kaum muda kebanyakan. Ketujuh belas lagu di dalam OST tersebut bagus, terutama lagu Stereophonics ini dan tafsir ulang atas dua lagu, "Against All Odds" oleh Postal Service dan "the Scientist" oleh Danny Lohner & Johnette Napolita. Tafsir ulang yang membuat kedua lagu tersebut lebih bagus dari penyanyi yang sesunggunya, Phil Collins dan Coldplay.



Makna yang lain adalah "janji". Kita berjanji pada diri sendiri akan esok yang lebih baik. Pada titik ini, lagu "Maybe Tomorrow" mirip dengan lagu "Perfect" dari album "Adore" milik Smashing Pumpkins yang semestinya saya takar duluan. Janji bahwa kita akan pulang atau lebih baik/lebih sempurna pada suatu hari adalah tetap sebuah janji. Kita akan menuntaskannya tunai bila janji itu sudah dipenuhi. Namun bila berkaitan dengan janji pada diri sendiri, bagaimana kita yakin kita akan menunaikan janji? esok, tahun depan, belum dipenuhi, atau secara tak sadar sudah dipenuhi?



Ada rekan yang pernah berkata agar tidak terus menerus berjanji pada diri sendiri. Hidup mestinya dijalani dengan sungguh-sungguh dan tidak dipenuhi janji belaka. Tetapi dalam kasus menonton langsung penampilan Stereophonics dan Smashing Pumpkins, saya hanya bisa berjanji, maybe next time, maybe tomorrow....




Ayo menyanyikan lagu keren ini bersama:



"Maybe Tomorrow"

oleh Stereophonics



I'm wondering why

These little black clouds

Keep walking around

With me

With me



It wastes time

And I'd rather be high

Think I'll walk me outside

And buy a rainbow smile

But be free

They're all free



So maybe tomorrow

I'll find my way home

So maybe tomorrow

I'll find my way home



I look around at a beautiful life

Been the upperside of down

Been the inside of out

But we breatheWe breathe



I wanna breeze and an open mind

I wanna swim in the ocean

Wanna take my time for me

All me



So maybe tomorrow

I'll find my way home

So maybe tomorrow

I'll find my way home

Selasa, 28 September 2010

Ketika Sebuah Informasi Kontroversial


Kita tahu bahwa banyak kesempatan yang diberikan oleh internet. Ragam kesempatan yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya walau kini kita menganggapnya sebagai hal yang biasa. Siapa yang bisa memperkirakan peran blog yang besar untuk berbagi informasi dan pada akhirnya mengaktifkan pelakunya secara sosial. Bila pada awalnya blog lebih berfungsi sebagai salah satu saluran untuk berbagi informasi, kini blog berfungsi lebih jauh lagi; membuat para aktivisnya dekat secara personal sekaligus membangkitkan keinginan untuk bertindak secara sosial.



Blog adalah salah satu sarana untuk berbagi informasi pada awalnya. Informasi yang dibagi di sini bisa apa pun, mulai dari informasi yang sifatnya biasa. Artinya informasi tersebut adalah informasi yang bisa dan boleh didapatkan di mana pun sampai informasi yang cenderung kontroversial, bahkan ilegal. Walau begitu, sejak UU Informasi dan Transaksi Elektronik dan UU Pornografi diterapkan, para narablog atau pengguna internet lainnya mesti lebih berhati-hati dan mempertimbangkan aktivitasnya di dunia maya agar tidak dianggap dan terjerumus melanggar hukum.



Informasi yang berkaitan dengan pelanggaran hukum jelas dilarang. Lalu bagaimana dengan informasi yang kontroversial? misalnya informasi tentang aborsi. Tindakan aborsi adalah ilegal, namun pengetahuan dan pemahaman akan aborsi yang benar tetaplah diperlukan. Bukan hanya informasi tentang aborsi tetapi juga informasi mengenai reproduksi dan seksualitas perempuan yang benar sangatlah diperlukan, bukan hanya bagi kaum hawa tetapi juga bagi semua warga masyarakat. Sayangnya, informasi yang benar tidak tersedia dengan baik, bahkan media massa cenderung memberitakannya dengan salah.



Topik inilah yang kami diskusikan di acara "Angkringan Gayam" minggu kemarin, 20 September 2010. Saya sebagai co-host dan host acara, Sondy Garcia, berbincang ringan dengan sebuah komunitas bernama Samsara. Komunitas yang peduli dengan seksualitas dan kesehatan reproduksi perempuan. Komunitas ini kemudian membentuk SSKR (Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi), tempat untuk berbagi informasi dan konseling mengenai permasalahan tersebut. Aktivis komunitas ini, Inna Schakty, berkisah bahwa anggota komunitas mereka sudah tersebar di seluruh Indonesia dan membantu kaum perempuan berdiskusi mengenai permasalahan reproduksi mereka.



Informasi mengenai aborsi sebenarnya tidaklah ilegal, namun karena tindakannya ilegal, informasi mengenai aborsi yang benar tersedia sedikit sekali. Pemerintah tidak menyediakannya dengan baik. Media massa seringkali memberitakannya dengan salah dan cenderung menstigma. Berita tentang aborsi biasanya dikaitkan dengan tindakan kriminal dan tidak mengelaborasi duduk masalahnya dengan tepat dan holistik. Di sisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa aborsi dan kesehatan reproduksi perempuan adalah permasalahan kaum wanita kita terutama kaum mudanya.



Inilah yang disadari oleh Inna dan rekan-rekannya. Sebagai awal agar informasi yang benar mengenai aborsi tersedia dengan baik, mereka me-link berbagai laman web mengenai aborsi dan bila mungkin mereka menerjemahkannya. Pada tahap selanjutnya, mereka membuat blog yang bernama samsara (http://abortus.blogspot.com/). Mengapa samsara? padahal samsara itu identik dengan penderitaan. Dalam obrolan Inna menjelaskan bahwa nama samsara dimaksudkan bukan sebagai penderitaan semata, melainkan penderitaan yang mesti dilewati dan memetamorfosis seseorang menjadi manusia baru.



Di SSKR tersebut, selain berbagi informasi dan konseling, mereka menyelenggarakan berbagai workshop. Untuk konseling tentu saja dilengkapi dengan saluran informasi yang lain, semisal email, chat, dan melalui handphone. Sementara melalui workshop, mereka saling membagi informasi yang mendetail juga implementasinya. Menurut saya, salah satu topik yang menarik dari workshop adalah seksualitas dan media, karena salah satu pembentuk makna terbesar dari seksualitas adalah media. Melalui berbagai aktivitas tersebut dapat diamati betapa pentingnya peran media baru dalam aktivitas mereka. Media baru berperan tidak hanya sebagai tempat berbagi informasi, melainkan juga berbagi "emosi".



Walau begitu, penggunaan media baru saja tidak cukup. Inna dan kawan-kawan juga mengombinasikan kegiatan bermedia dengan tindakan sosial. Caranya beragam, antara lain dengan "berkelana" ke berbagai pelosok Indonesia sambil memberikan informasi yang memadai tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi di tempat-tempat yang minim informasi tentang kesehatan reproduksi. Cara lain adalah dengan "manyandera" teman yang datang ke SSKR untuk memberikan informasi tentang kesehatan secara umum. Pernah ada rekan dari luar negeri yang berpendidikan tinggi di bidang kesehatan publik yang kebetulan berkunjung dan kemudian memberikan informasi kepada komunitas samsara.



Kegiatan rekan-rekan di SSKR adalah salah satu contoh lagi bagaimana ragam gerakan masyarakat yang positif bisa dimunculkan dan dikembangkan melalui media baru. Media baru memang adalah media "terbuka". Terbuka untuk mendiskusikan sesuatu yang tidak terbuka di tempat lain. Terbuka untuk diambil manfaatnya oleh para pesertanya. Terbuka pada kesempatan-kesempatan baru. Dan yang terpenting, terbuka untuk memperbaiki kualitas hidup personal kita dan kehidupan bersama.

(gambar dipinjam dari istockphoto.com)

Senin, 27 September 2010

Hasrat Mengepistemologi Wajah


Di dalam perjalanannya menuju Barat yang panjang ini berulang-kali dia bermimpi buruk. Dia memiliki wajah tetapi dengan wajah yang selalu berubah dan selalu bukan wajah yang dia inginkan. Suatu kali dia berwajah Bapak Pembangunan. Kali lain dia berwajah Ibu Kemiskinan. Sekali waktu wajahnya adalah wajah-wajah orang yang dia benci. Pada waktu lain wajahnya adalah wajah-wajah orang lain yang tidak ingin dikenalnya atau yang tidak ingin diakrabinya. Kemana wajahku sendiri? Kemana wajah-wajah orang yang kucintai?
Apakah mimpi buruk itu disebabkan dia selalu mengukur, mengklasifikasi, dan menilai wajah orang lain sewaktu dia masih memiliki wajah? Dahulu itu dia mengukur wajah berdasarkan bentuk dan kelengkapannya. Waktu lalu dia juga mengklasifikasi apa saja yang mendukung wajah (dan juga tubuh). Apa yang dia pakai? Rumahnya seperti apa? Apa merk kacamatanya? Apa mobil yang dimilikinya? Pada akhirnya dia tahu bahwa pertanyaan tak esensial itu tak kan pernah selesai. Pada akhirnya dosanya yang terbesar pada waktu dulu adalah menilai wajah orang lain. Melalui wajah dia coba menilai loyalitas seseorang, juga kemampuannya meneliti dan menulis. Dia lupa bahwa tak ada hubungannya kemampuan-kemampuan tersebut dengan wajah. Semuanya berhubungan dengan gerak anggota tubuh.
Kalau boleh menilai, wajahmu diepistemologi seperti apa? Agar semuanya mengasyikkan, agar semuanya baik-baik saja. Dia ingin bisa bertanya pada orang lain bila dirinya benar-benar memiliki wajah. Rasa sebah di tenggorokan itu kembali menyerangnya.
Dia terbangun dari tidur dengan kaget. Kini di sekelilingnya telah hadir manusia-manusia lain. Tanpa wajah atau dengan wajah dia tak pernah tahu. Bagaimana kau bisa mengepistemologi wajah orang lain bila kau tak bisa mengetahui wajahmu sendiri dengan detail, kecuali melalui cermin, kecuali via hati yang bersih?
Tanpa wajah berarti dirinya tanpa perkakas wajah pula. Tak ada mulut untuk berbicara, tak ada mata untuk melihat, dan tak ada hidung untuk membedakan udara segar ataupun udara beracun. Anehnya, dia merasakan pengalaman yang berbeda melalui wajahnya yang tanpa perlengkapan itu. Dia merasakan, berbicara, dan menghidupi diri dengan cara yang berbeda. Ruang kosong di tempat semestinya wajahnya berada, dia dapat memfungsikan panca indera. Lalu dia bisa mengepistemologi semuanya dengan cara yang berbeda.
“Bagaimana kau memahami orang lain?” Tanya seseorang di sebelah kanannya, yang dia tahu seorang perempuan. Pertanyaannya halus dan tidak menusuk seperti Venus.
“Bagaimana caramu mengelompokkan orang lain melalui wajahnya, apakah melalui kelengkapannya, atau melalui apa yang dia pakai?” pertanyaan lain terdengar dari sisi kirinya. Dari jenis pertanyaannya dan dari lembutnya suara, dia juga tahu bahwa yang bertanya ada kaum hawa yang kemungkinan lebih risau dengan apa yang dipakai atau tidak dipakai pada wajah dan tubuh.
Dia tidak bisa menjawab dan juga tak ingin menjawab. Biarkan semuanya mengalir apa adanya. Biarlah mereka menemukan jawabannya sendiri pada akhirnya. Dia tidak ingin mengepistemologi apa-apa lagi? Bagaimana kau mendekati realitas, itu adalah kunci dalam kehidupan ini, dengan wajah atau tanpa wajah. Disadari ataupun tidak kita akan selalu mengepistemologi wajah atau apa-apa yang lain selama kita hidup. Selama kita menempuh perjalanan yang sepertinya tanpa akhir ini.

Episode seri Wajah:
1. Wajah: Sebuah Pengantar
2. Para Pencari Wajah
3. Wajah Siapa Ini Wajah Siapa
4. Hasrat Mengepistemologi Wajah (sekarang sedang Anda baca)
5. Wajah Spesial Pake Telor
6. Memajang Wajah
7. Standar Wajah Cinta
8. Wajah Tanpa Isyarat
9. Kelelahan Mengkomodifikasi Wajah
10.Wajah Paripurna

(gambar dipinjam dari flickr.com)

Wajah Siapa, Ini Wajah Siapa?


Perjalanan mencari wajah ke Barat adalah perjalanan yang berat. Pertanyaannya, mengapa tidak ke Timur? Atau Selatan? Atau Utara? Jawaban umumnya pun sederhana saja: agar perjalanan lebih mudah dan di tengah perjalanan tidak didera konflik berkepanjangan. Tidak ada alasan ideologis memilih perjalanan ke arah Barat. Dia menyaksikan orang-orang lain pun serupa dirinya. Semua tidak terlalu mementingkan “sesuatu” di balik sesuatu. Asalkan perjalanan cukup lancar, hal itu telah cukup.



Tidak ada yang menemaninya berjalan secara fisikal. Teman yang ada hanyalah orang-orang yang ada di ingatannya. Anehnya, semua orang yang ia ingat pun tidak memiliki wajah. Ia hanya mengingat berdasarkan rasa hati yang ditimbulkan kehadiran orang-orang tersebut. Ada yang memberi energi positif ketika berjumpa dan berinteraksi. Ada yang memberi dan menerima energi positif. Berbagi secara positif. Namun ada juga yang kelewatan negatifnya, kehadiran orang tersebut menyerap energi positif dirinya. Sampai habis tak bersisa. Bahkan, orang-orang jenis ini di ingatan pun tetap menyebalkan, masih bisa menyerap energi.



Unik juga, betapa kita bisa lupa dengan suatu kejadian, namun kita masih ingat suasana hati yang diakibatkan kejadian tersebut. Dia terus berjalan sambil mengklasifikasikan orang-orang yang dikenalnya dengan cara “rasa” hati yang ditimbulkannya. Sedikit lebih susah bila dibandingkan dengan mengklasifikasikan benda-benda alam yang lain selain manusia. Untuk manusia lain, kita tidak akan benar-benar bisa mengklasifikasikannya dengan adil dan terbuka.



Aneh sekali, semakin lama berjalan semakin rasa getir yang diakibatkan orang-orang di masa lalu semakin hilang. Ada dua kemungkinannya, waktu yang menyembuhkan semua luka, atau hati manusia cenderung bertambah dewasa ketika merasakan luka, hatinya dan hati orang-orang yang pernah menyakitinya. Semakin lama berjalan, semakin dia merasa, rasa senang dan sedih di hati sebagai akibat tindakan orang lain tidaklah begitu penting. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kita menerima hati kita sendiri. Hati kita mempengaruhi pikiran, dan akhirnya akan mempengaruhi jiwa secara keseluruhan.



Hal lain yang lebih penting daripada rasa sedih suka di hati adalah bagaimana wajahnya “ditemukan” dengan cepat, agar dia berinteraksi dengan orang lain lebih mudah dan lebih mujarab. Wajah adalah elemen penting dalam berinteraksi. Tanpa wajah sebuah tindakan tidak bisa dirasakan dan diperkuat tensinya. Tanpa wajah hidupnya akan hambar. Sehambar jalan yang dia lalui. Kemana perginya orang-orang lain?



Jalan masih sepi dan kelam. Tanpa siapa pun, padahal baru saja kemarin dia menemukan banyak orang yang juga sedang mencari wajah. Tergiang lagu dari seorang penyanyi yang dia kenal pada masa kecil. Penyanyi itu adalah Ebiet G. Ade. Dia lupa judulnya. Informasi yang dia ingat adalah sepenggal lirik dari lagu itu…dosa siapa ini dosa siapa, salah siapa ini salah siapa. Dia mengganti lirik itu sambil bersenandung tipis, wajah siapa ini wajah siapa…



Jawabnya masih akan terus dicarinya sepanjang perjalanan, bukan pada akhirnya.



#######



Episode seri wajah:

1. Wajah: Sebuah Pengantar

2. Para Pencari Wajah

3. Wajah Siapa Ini Wajah Siapa? (sekarang sedang Anda baca)

4. Hasrat Mengepistemologi Wajah

5. Wajah Spesial Pake Telor

6. Memajang Wajah

7. Standar Wajah Cinta

8. Wajah Tanpa Isyarat

9. Kelelahan Mengkomodifikasi Wajah

10. Wajah Paripurna

(gambar dipinjam dari jrakuen.blogspot.com)

Kamis, 23 September 2010

Hujan Tak Selalu Membawa Rindu


Rinai ini membawa sesal yang tipis

Kemudian dingin menelusup sampai di hati

Meringkuk disemai sepi



Kasih itu senarai hasrat yg kau beritakan pada parade air yang berderap

Kau mengundang untuk bercengkrama

Sementara, aku hanya mendengar, merasakan, namun tak bisa merengkuhmu



Cinta yang berkongsi dengan hasrat yang membatu atau dibatukan. Jahatkah dia?

Karma yang dirajutkan pada propaganda abu-abu. Pengecutkah dia?

Mimpi yang coba dilarungkan pada praksis. Hidupkah dia?



Rindu yang coba direpresentasikan pada hujan. Hadirkah dia?

Senin, 20 September 2010

Kuantitatif Versus Kualitatif?


Seringkali di dalam riset kita, terutama pembelajar atau peneliti awal, dibingungkan oleh paradigma riset yang berbeda. Walau banyak varian metode, paling tidak paradigma riset tersebut bisa diklasifikasikan dalam dua rumpun besar, yaitu paradigma kuantitatif dan kualitatif. Apa yang membedakan keduanya? Banyak sumber bacaan yang menjelaskan karakter masing-masing paradigma dan posisinya masing-masing dalam dunia riset. Intinya, kedua paradigma tersebut memiliki garis demarkasi dan masing-masing tidak bisa mengklaim dirinya lebih benar dan lebih baik daripada yang lain.



Memang bila kita mengamati dengan jujur di dalam dunia akademis kedua "penganut" paradigma riset tersebut seperti bertempur tanpa akhir dan mungkin pernah mengklaim dirinya lebih baik dibandingkan dengan paradigma yang lain. Hal ini sebenarnya paradoks dalam dunia akademis karena ilmu pengetahuan sebenarnya mengajarkan untuk bersikap rendah hati dan mengeksplorasi fenomena sebaik mungkin dengan baik, dan paradigma riset adalah salah satu instrumen untuk mencapainya. Ilmu pengetahuan, apalagi hanya paradigma risetnya, tidak digunakan untuk mengklaim diri lebih baik daripada yang lain. Pada agama saja kita diajarkan untuk tidak fanatik berlebihan, apalagi "hanya" pada paradigma riset.



Lalu di mana demarkasi di antara keduanya? Sederhana saja, keduanya berakar dari sesuatu yang berbeda. Pertama, pilihan menentukan realitas ada di luar sana dan tertangkap oleh panca indera atau ada di kepala kita yang tidak harus dipancaindrai pihak lain. Kenyataan atau realitas tidak harus merupakan sesuatu yang riil. Perbedaan yang kedua adalah kebenaran yang coba ditentukan dari kenyataan tersebut, kebenaran yang dituju hanya satu atau "kebenaran" tersebut beragam pada tiap-tiap jenis realitas. Untuk memahaminya lebih mendalam terdapat sebuah buku yang merupakan salah satu referensi yang baik yang menjelaskan perbedaan asumsi paradigma kuantitatif dan kualitatif.



Buku tersebut berjudul "Research Design: Qualitative & Quantitative Approaches" karya John W. Creswell yang diterbitkan oleh Sage Publication pada tahun 1994. Buku ini membicarakan sesuatu yang umum tentang penyusunan desain riset, mulai dari asumsi paradigma yang berbeda, yang berpengaruh pada penyusunan rencana riset secara menyeluruh, mulai dari pertanyaan riset sampai dengan penggunaan referensi. Salah satu bagian terpenting yang menjadi acuan tulisan ini terdapat di halaman 5 yang menjelaskan perbedaan asumsi antara paradigma kuantitatif dan kualitatif dalam bentuk tabel.



Creswell menjelaskan bahwa untuk mengamati perbedaan antara paradigma kuantitatif dan kualitatif kita dapat menggunakan perangkat asumsi, yaitu asumsi ontologis, epistemologis, aksiologis, retoris, dan asumsi metodologis. Kelima asumsi tersebut didasari oleh pertanyaan yang sama dan penjelasan yang berbeda. Berikut ini pendedahannya:



Pertama, asumsi ontologis, merujuk pada pertanyaan penting apa itu realitas? paradigma kuantitatif melihat realitas sebagai sesuatu yang obyektif dan "satu", juga terpisah dari peneliti. Sementara paradigma kualitatif melihat realitas sebagai sesuatu yang subyektif dan beragam sesuai dengan yang diamati oleh peneliti. Kedua, asumsi epistemologis, yang memiliki pertanyaan terpenting, apa relasi antara peneliti dan subyek/obyek yang diteliti? paradigma kuantitatif mengharuskan peneliti independen dari yang diteliti, sedangkan paradigma kualitatif justru melihat peneliti akan selalu berinteraksi dengan yang diteliti.



Ketiga, asumsi aksiologis, mempertanyakan apa peran nilai dalam riset? paradigma kuantitatif memutuskan bahwa riset mesti bebas nilai dan kepentingan, dan tidak bias. Sementara, paradigma kualitatif melihat di dalam riset nilai dan kepentingan inheren di dalamnya dan peneliti akan selalu bias. Keempat, asumsi retoris, yang berkaitan dengan cara penyampaian hasil riset pada pihak lain. Pertanyaannya adalah bagaimana "bahasa" di dalam riset? paradigma kuantitatif menggunakan bahasa yang formal, didasarkan pada definisi yang telah disepakati, dan impersonal. Sedangkan paradigma kualitatif, berasumsi bahwa riset dapat menggunakan bahasa yang informal, penggunaan istilah yang spesifik, dan bahasa yang personal.



Terakhir, asumsi metodologis, terkait dengan pertanyaan bagaimana proses riset dijalankan? paradigma kuantitatif berangkat dari proses yang deduktif, sementara yang kualitatif berasal dari proses yang induktif. Kuantitatif berkaitan pada relasi penyebab dan efek, sementara paradigma kualitatif melihat riset merupakan "hasil" dari beberapa faktor yang simultan. Desain atau perencanaan yang statis, artinya berbagai kategori konsep atau "pisau" analisis ditentukan sebelum riset dimulai, adalah karakter dari paradigma kuantitatif, sementara paradigma kualitatif membolehkan desain yang "berevolusi" selama riset berlangsung, kategori konsep dan pisau analisis diidentifikasi di dalam proses riset. Paradigma kuantitatif bertujuan untuk melakukan generalisasi atas berbagai kasus riset. Generalisasi adalah awal untuk melakukan prediksi, eksplanasi, dan pemahaman di dalam riset. Dengan demikian, di dalam kuantitatif, riset dibebaskan dari konteks yang terlalu luas. Sementara paradigma kualitatif berusaha mencari alur yang berkembang dalam proses riset. Alur yang sangat terikat konteks inilah yang menjadi dasar bagi pemahaman. Bagaimana akurasi dan reliabilitas ditentukan dalam kedua paradigma? pada paradigma kuantitatif, akurasi dan reliabilitas riset ditentukan oleh kesahihan dan kehandalan "alat ukur", yaitu konsep dan variabel yang dipilih sejak awal, sedangkan di dalam riset paradigma kualitatif, akurasi dan reliabilitas ditentukan melalui verifikasi selama dan setelah riset berlangsung.



Kesimpulannya, tidak ada paradigma yang lebih baik dibandingkan dengan yang lain. Keduanya juga tidak boleh diversuskan, malah sangat mungkin diapresiasi satu sama lain. Hal yang terpenting bukanlah mana paradigma riset yang lebih baik melainkan apakah pilihan kita untuk memahami sebuah realitas telah tepat? paradigma riset tak lain dan tak bukan hanyalah alat bantu kita dalam melihat realitas dengan lebih baik, dan pada gilirannya menjadikan peneliti rendah hati sekaligus antusias untuk mendedahnya.



Bukankah melalui riset, kita justru menyadari bahwa ilmu itu selalu terbatas dan melalui riset, kita belajar bahwa kehidupan itu begitu menarik dan indah?

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...