Rabu, 01 Juni 2011

BBB (Belajar Bermedia Bersama) 20


Sepakbola selalu menjadi obyek yang menarik bagi media kita. Di minggu terakhir di bulan Mei 2011 atau minggu ke-20 di tahun ini berita tentang sepakbola sangat mendominasi. Mulai dari berita-berita tentang laga akhir liga-liga Eropa sampai pemberitaan menjelang final Piala Champions. Seminggu penuh berita tentang partai puncak kejuaran antar klub nomor wahid di Eropa itu mendominasi berita. Para penggemar sepakbola sangat antusias menyambut partai final tersebut dan media kemudian memberikan informasi dan berita yang sangat lengkap. Mungkin karena terlalu antusias beberapa media online langsung menasbihkan partai final antara Manchester United versus Barcelona adalah partai final terbaik dekade ini. Hal ini aneh sekali karena penilaian sebuah partai terbaik atau bukan pastinya post-factum, setelah pertandingan terjadi. Terbukti, partai final kemarin yang dimenangkan oleh Barcelona 3 – 1 bukanlah pertandingan yang “bagus” melainkan pertandingan tak seimbang dan didominasi oleh Barcelona.
Berita tentang kisruhnya PSSI juga masih mengemuka namun media sepertinya sudah “lelah” dan posisinya tidak sekuat sewaktu “menurunkan” Nurdin Halid. Satu lagi pemberitaan sepakbola yang relatif luput dari media adalah lolosnya Persiba Bantul ke ISL (Indonesian Super League). Hal ini juga menunjukkan bagaimana media lokal berpotensi menjadi media yang penting untuk kejadian lokal. Ketiadaan berita yang memadai tentang lolosnya Persiba Bantul di media nasional, kecuali sebuah tabloid olahraga, sungguh unik. Ternyata ketersediaan berita yang mirip muncul di media lokal, terutama suratkabar. Saya membaca tiga suratkabar lokal Yogya dan tidak ada berita yang memadai yang memberikan informasi yang lengkap dan disampaikan dengan asyik. Jumlah informasinya memang lebih banyak dari suratkabar nasional, namun berita lolosnya Persiba Bantul tersebut disampaikan dengan “kaku” dan tidak intim.
Ketiadaan informasi yang memadai di media massa berlanjut ketika saya coba mengulik informasi lebih jauh mengenai Persiba Bantul, misalnya saja seperti apa skuadnya, bagaimana dengan hasil pertandingan menuju tangga juara, siara pencetak gol dan pemberi assist terbanyak. Informasi yang ada di internet memang lumayan memadai. Saya mendapatkan situs yang mendokumentasikan perjalanan Persiba Bantul menjadi juara. Sayangnya informasi tersebut hanya berupa skor bukan reportase jalannya pertandingan. Satu situs lagi, paserbumi, yang dirilis oleh pecinta Persiba Bantul memang sangat informatif. Saya kita ini sumber informasi terbaik untuk melihat perjalanan Persiba Bantul musim ini. Namun tetap disayangkan bila Persiba Bantul tidak memiliki situs resminya sendiri. Selain itu secara mengejutkan saya mendapatkan informasi yang cukup banyak di sebuah game komputer bernama Football Manager 2011. Game memang bentuk pesannya “fiksional” namun database game tersebut sangat bagus. Saya mengetahui skuad atau formasi pemain Persiba Bantul di awal tahun dari game ini. Informasi yang bagus karena saya paling tidak tahu sejarah karir seorang pemain (walau perlu diklarifikasi). Aspek historis pemain ini tidak ada di situs paserbumi. Informasi mengenai pemain yang ada adalah informasi yang statis dan kurang kaya. Melalui game tersebut sebagai sumber informasi “terakhir”, paling tidak ada informasi yang bisa saya akses dan memperkuat struktur pengetahuan sendiri mengenai Persiba Bantul. Saya mencoba menggerakkan “mesin” literasi di pikiran, hati, dan laku mengakses pesan.
Satu peristiwa lain yang sayang untuk dilewatkan berkaitan dengan fenomena media baru dan respon atasnya yang benar-benar “aneh”. Kemarin, mungkin baru pertama-kali terjadi di Indonesia, seorang presiden memberikan klarifikasi atas SMS yang tidak jelas kebenarannya dengan emosional. Hal ini semakin memperkuat label bahwa sang presiden adalah presiden “menye-menye”, yang lebih mengutamakan hal-hal tak penting semisal perasaan personal dan citranya namun tak begitu peduli dengan bencana lumpur Lapindo yang sudah berlangsung selama lima tahun. Apa ada konferensi darinya berkaitan dengan bencana yang sudah terjadi selama setengah dekade itu?
Saya sebagai salah satu warga negara jengah dengan isi SMS itu, yaitu pada bagian terakhir yang mengada-ada namun mengenai korupsi dan hal-hal penting lainnya layaklah diungkap oleh polisi. Presiden menjalankan tindakan komunikasi pemerintahan yang buruk karena justru merespon isu, desas-desus, dan gosip, bukannya merespon hal-hal riil dan melakukan tindakan nyata. Pemberitaan di media, terutama istilah “penjemputan” ke Singapura sebenarnya menunjukkan ada sesuatu yang tersembunyi namun terlihat dengan jelas di media bila informasi tersebut dirangkai dengan baik karena pernyataan-pernyataan dari partai sang presiden tidak konsisten pada kejadian. Bila saja presiden tidak emosional dan bertindak komunikasi secara proporsional kita, warga negara, akan belajar bahwa menggunakan media baru itu semestinya berhati-hati. Bahwa penggunaan media baru tidak boleh merugikan pihak lain seperti yang termaktub dalam UU ITE. UU ITE semestinya tidak hanya mengurusi “cara” mengekang warga namun semestinya pada pemenuhan hak warga untuk mendapatkan informasi dan berkomunikasi. Sungguh, kasus ini berharga bila dikaitkan dengan konteks yang lebih luas, bukannya aspek emosional yang sudah cukup dituangkan dalam lagu-lagu.
Kita tunggu saja bagaimana “drama” politik ini terus berjalan. Akting pihak mana yang lebih mempan bagi masyarakat. Hal yang jelas adalah politik “teraniaya” tidak bisa lagi digunakan karena penguasa kok teraniaya. Entahlah, saya menunggu kelanjutannya dengan biasa saja, tak terlalu antusias. Saya malah sangat antusias menunggu beberapa bulan ke depan ketika Persiba Bantul tampil di kompetisi tertinggi di Indonesia, syukur-syukur bisa mentransfer Irfan Bachdim dan atau Boaz Salossa…hehe…saya juga sedang menghitung kemungkinan untuk mengakses tiket terusan untuk pertandingan kandang Persiba Bantul dan musim depan berusaha mendokumentasikan perjalanan Persiba Bantul melalui tulisan. Hari-hari ke depan sungguh mengasyikkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...