Kamis, 16 Februari 2012

Memahami Media Baru (Bagian 1)

Tidak seperti halnya media massa yang cenderung lebih banyak menyampaikan informasi dan pengetahuan secara satu arah, isi media baru, terutama internet, cenderung lebih menciptakan relasi di antara penyedia dan pengakses informasi dan pengetahuan, serta bersifat dua arah, bahkan bisa dari banyak arah. Fenomena tersebut antara lain dapat dilihat dari situs jejaring sosial dan blog melalui blogosphere yang diciptakannya. Secara inheren, teknologi yang ada pada internet menjadikan relasi antara penyedia dan pengguna informasi sangat mungkin terjadi dalam posisi yang relatif setara. Sayangnya, konten media baru, terutama internet, seringkali masih dianggap sama persis dengan konten media massa yang tidak interaktif dan lebih mementingkan distribusi informasi satu arah. Informasi tersebut juga tidak diperbaharui dan ditambah dalam waktu yang cukup lama. Hal ini antara lain bisa diamati dari banyaknya situs yang belum memberikan fungsi untuk memberikan komentar ataupun berinteraksi atas isinya antar pengakses.

Tulisan ini coba mendiskusikan salah satu cara dalam memahami media baru dan mengamati kualitas konten media baru. Terdapat tiga langkah yang difungsikan untuk itu, yaitu memahami isi media baru, kemudian akan coba diuraikan konsep jaringan komunikasi sosial sebagai varian utama dari fungsi media baru terkini, proses komunikasi publik dari media baru yang sebaiknya dikedepankan, dan tulisan ini akan ditutup oleh saran untuk memahami media baru dengan lebih memadai.

Langkah Awal: Apa Itu Media Baru?

Sekitar satu dekade terakhir ini kita sebagai bagian dari warga negara Indonesia diberikan kesempatan menggunakan media baru secara lengkap. Setelah internet memasyarakat pada pertengahan dekade 1990-an, handphone dan game dalam bentuknya yang mirip dengan yang sekarang, ragam konsol atau perangkat permainan, menyusul tak lama kemudian pada akhir dekade 1990-an. Handphone yang berkembang dengan cepat kemudia "menyapu" teknologi pager pada awal dekade 2000-an yang sebenarnya waktu itu belum lama muncul, apalagi kemudian handphone dilengkapi dengan fungsi SMS (Short Message Service).

Kini kita merasakan ketiga jenis media baru tersebut, internet, handphone, dan game, seolah-olah sebagai jenis media yang dominan, padahal kita mengetahui dan merasakan benar bahwa media konvensional atau media massa masihlah mendominasi dalam kehidupan sehari-hari. Buku, suratkabar, majalah, film, dan terutama televisi, masih menjadi sumber informasi dan rujukan yang mendominasi bila dibandingkan dengan media baru. Untuk internet misalnya, maksimal baru 14 persen penduduk Indonesia yang mengaksesnya walau jumlah tersebut secara kuantitas masih lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah beberapa negara tetangga. Pengakses internet aktif bisa jadi jauh lebih kecil namun karena secara total jumlah penduduk Indonesia sangat besar, persentase tersebut sangat berpengaruh, apalagi pengakses media baru di Indonesia adalah kelas menengah yang memiliki akses politik dan sosial lebih besar dibandingkan masyarakat kebanyakan. Secara ekonomi jumlah yang besar ini juga menarik minat produsen perangkat teknologi informasi dan komunikasi sebagai pasar yang sangat potensial.


Kita juga merasakan seolah-olah kondisi bermedia seperti sekarang ini adalah keadaan yang hadir begitu saja. Kenyataannya, minimal bagi inidividu yang pernah merasakan dua era bermedia, perkembangan media baru tersebut terjadi secara bertahap dan seringkali tidak berjalan dengan linear. Hal ini berimplikasi besar atas pemaknaan individu atas pencarian, pendistribusian, dan pemanfaatan informasi. Isu-isu privasi juga berperan di sini. Kemungkinan individu yang tidak pernah merasakan sulitnya mendapatkan informasi seperti pada rezim penguasa terdahulu, sulit menghargai kepentingan personal atas informasi.


bersambung....


(sitasi sengaja tidak dicantumkan untuk menghindari pemanfaatan tulisan secara tak etis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...