Jumat, 10 Desember 2010

Insepsi Tanda

(1)
Hujan coba larungkan sesal abadi
Jadikan debu di hati bersinar nanti
Apakah kau di sana menanti?
Rinai akan luruh sendiri,
atau duka lumat berganti
dan di tengah dingin begini,
kau tetap sembunyi di balik sayap sunyi
Hujan belum lagi henti

(2)
Kau susupkan varian hasrat paling unggul
Pada angan seluruh penyaksi
Hasrat yang berkelir dan stipulatif
Angan yang penuh darah
Sedikit manipulatif
Ada mesiu di semua relasinya
Ada bulan dan bintang dalam interaksi
Walau pada akhirnya kau mengaku hanya pemencil
Memiuhkan seluruh yang maknawi pada ego
Pada pikiran semua pencatat hanya ada satu:
meledakkan birahi!

(3)
tidak mesti mengenali semua detail hidup untuk mengenal-Nya
tidak perlu memahami semua varian hasrat agar esok pagi dan setelahnya memberikan makna
tidak perlu terjaga lagi malam ini bila kita meyakini Dia dekat sekali
Lebih dekat dari teks yang terpermanai ini

(4)
Pegang tanganku, katamu
Kita bebaskan diri dan menyatu
Bersama malam menjani kunang-kunang
Bersama siang menjadi anai-anai

Kuatkan dan jaga diriku, katamu
Siapalah aku? Hanya tergugu membisu
Bersama ucapan-ucapan tak tentu
Bersama janji-janji jadi gerutu
Inikah yang katamu pembebasan itu?

(5)
Bengkarung bertarung dengan hujan kemarin itu
Sementara kau berjibaku dengan siapa untuk masa lampau yang profan?
Benar, perih itu bisa pergi namun sisanya akan berkerak di hati
Menunggu kau ledakkan
Andai saja kau berhasil menginsepsi ide tentang masyarakat terbuka
Pagi dan malam, siapa lagi yang berkelahi?


(Yogya-Jakarta, 1-9 Desember 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...