Kamis, 04 Februari 2010

Berita Belakangan Ini: Antara Kerbau, Nasional Demokrat, dan Serambi Madinah


Pagi hampir selalu indah bagi saya. Pada pagi hari biasanya saya merasa lebih kreatif distributif (kata terakhir abaikan saja, saya lagi senang dengan rima..hehe..). Untuk itulah saya mesti berterima kasih pada-Nya, pencipta dan pemilik pagi. Seperti sekarang ini, rasanya begitu banyak yang bisa ditulis, dikomentari, dibecandai, dan dianalisis (biar kelihatan akademis). Saya antara lain ingin menulis tentang "kerbau", "Nasional Demokrat, dan "serambi Madinah." Ketiga istilah itulah yang sejak Senin kemarin hadir di media kita dan tak bisa lepas dari pikiran saya.

Ketiganya bisa kita tafsir dari beberapa "pisau analisis'. Bisa dari bidang politik yang jelas terlihat ataupun dari komunikasi politik bila dilihat dari simbolisasi atas kata dan kejadiannya. Tapi saya ingin meninjaunya dari sisi jurnalistik, yaitu bagaimana kejadian nyata dilaporkan oleh media. Berita tentang "serambi Madinah" misalnya, tidak saya dapat dengan memadai. Isu ini muncul di Yogya. Isu lokal memang, tetapi menurut saya berita yang ada di media lokal sangat tidak memadai apalagi mendalam. Misalnya, siapa yang mengusulkannya? untuk apa dan mengapa diusulkan? apakah media Yogya "takut' membahasnya dengan mendalam? seperti biasanya, isu yang berkaitan dengan agama adalah sesuatu yang cenderung "berbahaya" untuk didiskusikan dengan bagus di media massa mainstream.

Begitu pun berita tentang "Nasional Demokrat". Fakta yang muncul di dalam berita di berbagai media lumayan banyak. Kali ini perbedaannya dengan kasus pertama adalah fakta itu tidak dianalisis dengan kritis. Misalnya, mengapa orang yang memiliki dana dan media (televisi), sangat "gatal" untuk melakukan pengabaian terhadap kepentingan publik. Apakah mereka tidak tahu bahwa frekuensi siaran itu milik kita bersama dan mereka hanya diberikan mandat oleh negara dan masyarakat untuk mengelolanya? bukan seenaknya sendiri, apalagi untuk kepentingan politik diri dan kelompok, apalagi bila hanya untuk kepentingan narsisme.

Belum lagi bila kita bertanya, mengapa namanya Nasional Demokrat? mengapa berwarna biru? mengapa oh mengapa yang hadir lawan-lawan politik SBY? dan lain sebagainya. Tetapi yang menurut saya penting adalah: mengapa fakta tidak dianalisis dengan ciamik. Jurnalisme belum menjalankan tugasnya bila hanya menjabarkan 5W1H, fakta dalam berita harus memberikan makna pada publik.

Berita yang terakhir yang bisa dicandai, eh dianalisis, adalah berita tentang pemimpin negeri ini yang tidak mau disamakan dengan kerbau. Sebenarnya sih malah kasihan kerbaunya...hehe...Menyampaikan berita tentang komentar seperti ini memang sulit karena seharusnya media juga tidak "terjebak" pada jurnalisme komentar juga, seperti yang terjadi dalam peristiwa ini. Media misalnya bisa mengulik kelompok demonstran mana yang menggunakan kerbau tersebut, apa alasannya?

Dulu juga Gus Dur ketika dimakzulkan disimbolkan dengan hewan (namun Gus Dur "nyanta" saja). Jadi cara seperti itu, menggunakan simbolisasi hewan, sudah pernah dilakukan, bahkan sering bila kita merujuk bahwa yang dituju oleh simbolisasi tersebut bukan pemimpin tertinggi negeri ini. Malah saya kira, seharusnya dilakukan "cover both side", kerbaunya sebaiknya juga diwawancarai dong...hehe...ini murni bercanda. Inti dari pemberitaan tentang kerbau ini adalah 'tindakan tidak etis" dalam berekspresi menyampaikan opini. Inilah yang harusnya didedah oleh media. Seperti apakah tindakan etis dan tidak etis dalam politik itu? dan apakah juga orang-orang sang presiden sudah bertindak etis dalam menyampaikan opininya?

Walau begitu, dari ketiga kasus di atas kita bisa belajar banyak dan lebih baik lagi untuk memahami jurnalistik. Bagi saya pribadi, saya terpengaruh oleh sang kerbau. Saya jadi lebih cinta dengan salah satu hewan "asli" Indonesia ini. Bukankah kerbau di banyak daerah di Indonesia digambarkan sebagai hewan yang rajin membantu, kuat dan tidak cengeng?

(gambar dipinjam dari deptan.go.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...