Rabu, 15 September 2010

Kisah Cinta Biru Gelap 4


Di dalam berinteraksi dengan manusia lain di dalam hidupmu, kau memilih mana, seseorang yang ada secara langsung, hadir fisikal di hadapanmu, atau bayangan diri seseorang? Biar kutebak. Jawabannya pasti mudah sekali. Kau pasti akan memilih yang pertama: seseorang yang sesungguhnya, bukan bayangan kita atas seseorang. Kau pasti akan memilih seseorang yang riil, yang hadir sehari-hari bersamamu di masa kini dan mungkin masa nanti. Mungkin dia, atau mereka bila kumpulan dari manusia lain, sedikit menyebalkan atau menyakitkan perilakunya. Tetapi biar kutebak, kau tetap akan mentolerirnya karena dia hadir nyata. Hal-hal nyata lebih berharga walaupun menyakitkan diri kita.



Dengan memilih yang pertama ini, kau mesti siap merasa aneh ketika ditanya, "Lho, kau belum punya mobil? kalau ke kantor pakai motor? oleh orang lain yang merasa kebendaan adalah hal terpenting dalam hidup. Atau yang lebih parah pertanyaan model begini: kau 'kan muslim, kenapa tidak cerah ceria di bulan penuh rahmat ini? dan beragam pertanyaan menyebalkan dan menyakitkan yang bisa didapat ketika berinteraksi dengan orang lain yang merasa keutamaan hidup adalah mengatur, mengadili, dan mengarahkan orang lain. Dan ikatan cinta adalah salah satu modus "pengaturan" individu lain yang paling kuat. Biasanya, atas nama cinta, kita merasa perlu mengatur pasangan hidup kita. Kita merasa dapat memberikan yang terbaik bagi belahan jiwa kita. Tapi benarkah demikian? Benarkah kita berkata, bertanya, dan bertindak untuk kebahagiaannya bukan kebahagiaan dan egoisme kita sendiri?



Karena kau memilih yang pertama, aku akan memilih yang kedua. Aku memilih berinteraksi dengan bayangan orang lain. Bayangan itu ada di kepalaku saja. Manusia itu hidup di masa lalu. Ia bisa jadi siapa pun yang kita inginkan. Srikandi, orang suci, Sri Mulyani, Mulan Jameela, siapa pun, tanpa batas. Tiada batas dalam pikiran kita. Karena itulah, orang yang berniat membatasi pikiran orang lain pada dasarnya manusia yang paling daif dan gaib, yang paling bodoh. Lagipula kita tidak mungkin membatasi pikiran orang lain sekalipun misalnya kita menyusun dan merumuskan regulasi atas nama negara dan mungkin atas nama cinta.



Aku memilih membayangkan orang di masa lalu yang hidup dalam benak dan hatiku. Ia mendukungku tanpa mempertanyakan preferensi ketuhananku, apa novel dan film favoritku. Dahulu itu, kami hanya berinteraksi sebagai sesama manusia yang berbeda jenis. Ketentuan perilaku atas panduan gender juga tidak berlaku. Kami hanya sesama manusia yang mencoba berbagi eksistensi. Aku adalah aku. Dia ialah dia. Saling berbagi dan menyenangkan hati satu sama lain. Dia membuatku seperti manusia walau itu hanya beberapa hari saja di masa lalu. Unik memang, bagaimana seseorang yang baru dikenal tidak sampai seminggu memberikan makna yang begitu dalam. Sementara orang yang kita kenal bertahun-tahun selalu membuat kita rikuh, tak nyaman dalam hidup, dan membuat kita ragu-ragu untuk menghidupi hidup kita sendiri. Tetapi janganlah kau khwatir teman, yang begini ini adalah wajar dalam hidup. Hidup selalu memberikan kejutan dan keajaibannya sendiri pada kita.



Aku memilih berinteraksi dengan manusia yang hanya hidup dalam kenanganku. Dia sudah lama pergi. Di dalam kehidupan nyata aku ingin menghindari berjuta pertanyaan konyol, menyebalkan, dan menyakitkan. Aku tidak memilih berinteraksi dengan manusia lain dalam kehidupan sehari-hari ini. Biarlah mereka datang dan pergi silih berganti. Aku tidak peduli. Mereka tidak menyakitiku dan aku tidak menyakiti mereka. Bukankah ini tak salah?



Tetapi, pilihanmu atas jenis interaksi yang pertama ternyata menyakitkan aku, temanku. Sebagai teman, mengapa kau tidak memilih yang sama denganku. Kau tidak kompak, kau tidak loyal terhadap aku. Kau bukan teman melainkan musuh dalam selimut. Ternyata dalam tiap-tiap pertemanan mengandung benih dan potensi permusuhan. Kesadaran yang muncul dalam diriku belakangan. Konflik-damai, pertemanan dan permusuhan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam hidup. Inheren.



Aku hanya ingin membayangkan dia. Sementara kau, silakan pergi dan jangan pernah kembali ke sini sekali pun untuk berdiskusi.

Silakan bertemu dengan manusia lain dan sadari resiko terganggu dan tersakiti olehnya.

Dan aku...

Paling tidak aku bisa menghidupkan dirinya, manusia paling mengerti diriku itu, dalam benakku walaupun kau mungkin menyebutku mati dalam hidup. Siapa yang tidak menunggu mati dalam hidup? toh aku hanya memilihnya lebih cepat untuk menghindari resiko tersebalkan dan tersakiti oleh manusia lain... :)



#####



Fiksi di atas terinspirasi dari lagu ini:



"Dakota" oleh Stereophonics



Thinking about thinking of you

Summertime think it was June

Yeah think it was June

Laying back, head on the grass

Children grown having some laughs

Yeah having some laughs.



Made me feel like the one

Made me feel like the one

The oneMade me feel like the one

Made me feel like the oneThe one



Drinking back, drinking for two

Drinking with you

And drinking was new

Sleeping in the back of my car

We never went farNeeded to go far



Made me feel like the one

Made me feel like the one

The one

Made me feel like the one

Made me feel like the oneThe one



I don't know where we are going now

I don't know where we are going now



Wake up cold coffee and juice

Remembering you

What happened to you?

I wonder if we'll meet again

Talk about us instead

Talk about why did it end



Made me feel like the one

Made me feel like the one

The oneMade me feel like the one

Made me feel like the oneThe one



I don't know where we are going now

I don't know where we are going now



So take a look at me now

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...