Jumat, 07 Mei 2010

Media Terbuka dan Musuh-musuhnya (Bagian 3)


Sebagai orang yang berusia tiga puluhan dan melewati ragam perkembangan media, game bagi saya adalah sesuatu yang unik. Game bagi saya cukup akrab tetapi juga tidak saya kenal betul. Pada tahun 1980-an dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, game yang saya mainkan adalah game & watch, bendanya kecil, mudah dimainkan, dan sederhana sekali permainannya. Selain itu, pada dekade 1980-an pula, kita mengenal konsol game pertama-kali, namanya Atari. Saya ingat persis, game yang ada di (konsol) Atari masihlah sederhana.

Jenis game yang lain adalah game yang beroperasi dengan koin, yang dikenal dengan nama “dingdong”. Dingdong biasanya ada di tempat-tempat keramaian dan supermarket, serta pengakses utamanya adalah anak-anak. Mungkin itulah sebabnya ada pemahaman yang salah bahwa audiens game itu adalah anak-anak.

Game, seperti yang kita ketahui, adalah jenis media baru yang paling disalahkaprahi. Tidak seperti dua jenis media baru yang lain, internet dan handphone. Orang menganggap game hanyalah “permainan”. Pemahaman salah ini mengantarkan pada pemahaman salah yang lain. Karena hanya sekadar permainan, game kemudian dianggap hanya milik anak-anak. Selain itu, karena hanya sekadar permainan, game tidak diawasi dan dieksplorasi dengan serius.

Padahal kini kita memahami bahwa game itu bukanlah permainan belaka. Games bisa dijadikan sarana pembelajaran dan kebersamaan. Banyak game, terutama yang dioperasikan melalui komputer, memiliki fungsi mengenalkan sesuatu yang baru pada kita dengan cara yang mengasyikkan. Game juga bukan hanya untuk anak-anak. Game mungkin dimainkan oleh orang dewasa, terutama untuk game yang lebih kompleks dan mengandung muatan yang hanya cocok untuk orang dewasa.

Dengan demikian, pengawasan masyarakat dan pemerintah terhadap game semestinya juga memadai. Bisa kita lihat, karena masih dianggap hanya ditujukan untuk anak-anak, game yang beredar (terutama yang bajakan) tidak mengindahkan klasifikasi umur dan muatannya seringkali tidak cocok untuk anak-anak karena mengandung kekerasan dan pornografi.

Hal yang unik dari media baru adalah sifat pesannya yang konvergen, satu pesan bisa hadir dalam beragam format. Begitu pula dengan game, kini game bisa dimainkan melalui peralatan tersendiri, konsol game, juga melalui internet, komputer personal, dan handphone. Kini jenis game yang paling ramai dibicarakan adalah game online. Game online melipatgandakan “kenikmatan” bermain karena para pengaksesnya bisa bermain bersama-sama dan berkomunikasi secara langsung.

Itulah yang sedikit banyak kami bicarakan pada program “Angkringan Gayam” tanggal 22 Maret 2010 lalu. Kali ini Angkringan Gayam mengundang Simson Nababan dari iPlay. Simson adalah “pemain” atawa gamer, yang kini juga berperan sebagai programmer atau pencipta game.

Game, menurutnya, banyak memiliki nilai positif bagi kita. Simson bercerita bahwa dia memiliki banyak teman karena game, termasuk melanglang ke berbagai tempat. Dia juga menyarankan agar kita lebih “serius” mengurusi game, antara lain tidak lagi menganggapnya hanay sebagai permainan, melainkan sejenis “olahraga” seperti yang terjadi di berbagai negara lain, antara lain Korea Selatan. Bila bridge dan catur bisa menjadi bagian dari olahraga, mengapa game tidak?

Beberapa pertanyaan yang muncul di dalam diskusi adalah cara ng-game yang baik dan bermanfaat bagi kita. Ini pertanyaan yang gampang-gampang susah karena semua pertanyaan tersebut bisa dikembalikan ke diri kita sebagai pengaksesnya. Bila merasa sudah berlebihan ng-game, baik itu berlebihan dalam hal dana, kondisi fisik, maupun waktu, sebaiknya berhenti dulu bermain game. Jangan lupa bahwa kita mesti kembali pada realitas, sebab sehebat-hebatnya dan sebagus-bagusnya game, ia bukanlah realitas. Ia hanya cerminan dari realitas.

Bila kita sedikit melihat sosok Simson, ia pun mengaku bahwa dulunya dia gamer yang sangat aktif dan mungkin sudah sampai pada level kecanduan. Kini dia tidak hanya seorang gamer, melainkan juga sebagai seorang kreator game, yang berusaha “menularkan” pemahamannya atas game. Pada konteks yang lebih luas, anak muda seperti Simson, yang mahir menggunakan teknologi media, bermunculan sangat banyak. Hal ini bagus untuk perkembangan kehidupan media itu sendiri, terutama media baru.

Seperti yang kita ketahui, kita masih memerlukan banyak pengetahuan baru mengenai game, bahkan pengertian apa itu game, kita masih mencari dan mendiskusikannya, apalagi mengenai efek dan fungsinya. Begitu juga pengetahuan dari sisi produksi pesan, cara “menyusun” pesan dalam game yang kompleks mungkin mirip dengan cara pengambilan gambar dan gerak kamera sewaktu teknologi kamera untuk memproduksi film baru dimulai. Simson misalnya berkisah bahwa untuk membuat satu item, misalnya batu, yang tampil di dalam sebuah game strategi, ternyata berharga cukup mahal. Itu baru satu item, belum lagi karakter dan semua perlengkapannya. Jenis-jenis atau genre game pada akhirnya juga perlu dipelajari dengan baik untuk memahami cara pesan disusun dan disampaikan di dalam game.

Bila sudah begitu, kata siapa game hanya sekedar “permainan”?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...