Rabu, 19 Mei 2010

Profil Sosial Teknografis di Facebook


Beberapa waktu yang lalu saya berdiskusi dengan beberapa rekan tentang media baru, terutama tentang penggunaan jejaring sosial Facebook. Diskusi secara umum berjalan menarik walau ada beberapa hal yang menurut saya merupakan mispersepsi terhadap penggunaan Facebook. Padahal, rekan-rekan berdiskusi saya ini awalnya saya anggap memahami internet dan web 2.0 (atau lebih) yang relatif lebih baik dibandingkan dengan orang kebanyakan.

Kesalahkaprahan utama adalah menganggap FB hanya berdampak negatif, semisal menyuburkan narsisme dan hubungan semu lewat media baru. Kenyataannya, FB justru memperkuat interaksi sosial yang telah ada dan hubungan yang ada bersifat riil dan merupakan perpanjangan dari relasi di dunia nyata. Bila pun relasi itu baru muncul di FB atau blog, ada kecenderungan besar untuk berelasi secara langsung. Hal ini terutama terjadi dalam komunitas blog. Kopdar (kopi darat) atau gathering adalah aktivitas yang pastinya akan dilakukan beberapa waktu kemudian. Individu yang tidak pernah lama-kelamaan terisolasi. Pun bagi individu yang tidak pernah berkomentar pada status atau notes, apalagi bila sudah ditaut, lama-kelamaan tidak lagi ditaut.

Seperti kita ketahui dari berbagai informasi, FB tidak hanya berdampak negatif. FB memberikan dampak positif pada individu dan masyarakat. Banyak individu yang berinteraksi secara positif dan mendapatkan manfaatnya dalam dunia nyata melalui relasi dengan teman-teman lama dan baru di FB. Saya pun merupakan contohnya. Beberapa pekerjaan saya dapatkan dan kerjakan melalui FB, termasuk mengekspansi beberapa notes di FB ini.

Pada level masyarakat juga bisa kita rasakan dampak positif yang sama. Hal yang paling terlihat adalah konsekuensi politik dan sosial. Kasus satu juta Faceooker untuk Bibit-Chandra adalah contohnya. Masyarakat seakan mendapatkan sarana baru untuk beropini "melawan" saluran politik yang dianggap mampet. FB adalah sarana yang memperkuat semboyan bahwa suara rakyat adalah suara tuhan. Secara sosial pun hal yang sama kita dapatkan. Dua contoh utama tentu saja Coin for Prita dan Coin for Bilqis. Dua aktivitas sosial yang difasilitasi oleh FB itu seakan menimbulkan kesadaran baru bahwa teknologi bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama.

Tetapi, memang ini pilihan kita juga, bila kita ingin semata memfokuskan pada yang negatif, hal-hal negatif-lah yang akan kita rekam. Begitu pula sebaliknya. Tetapi ada yang tidak dapat dibantah, bahwa FB mengubah cara kita berinteraksi dan beraktivitas. Kita juga mestinya optimis bahwa ini adalah langkah awal untuk terus-menerus memperbaiki peradaban kita melalui media baru. Potensi positif dari FB masih banyak yang bisa kita manfaatkan.

Forum diskusi kemarin itu mengingatkan saya pada konsep yang pernah saya baca beberapa waktu yang lalu. Konsep itu bernama "Profil Sosial Teknografis", yaitu kategori individu berelasi dengan internet. Konsep ini dikenalkan oleh Charlene Li dan Josh Bernoff di dalam buku mereka, Groundswell. Konsep ini saya kutip dari buku lain, yaitu buku Hermawan Kartajaya (2008) yang berjudul "New Wave Marketing: The World is Still Round The Market is Already Flat". Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hal. 127 - 129.

Awalnya saya tidak ingin mencari konsepsi tentang media baru. Tadinya saya tertarik dengan kemampuan pak Hermawan menulis sekitar 500 kata setiap hari selama hampir setahun. Ini adalah pekerjaan berat sekaligus mengasyikkan. Saya terinspirasi oleh dia walau sulit sekali melaksanakannya. Ternyata selain cara ia mengkreasi tulisan itu, banyak pula informasi dan pengetahuan yang bisa didapatkan.

Nah, interaksi seseorang dengan FB, dan juga sebenarnya dengan media baru, dapat dikategorikan dalam enam jenis, yaitu: pencipta (creators), kritisi (critics), pengumpul (collectors), penggabung (joiners), pengamat (spectators), dan tidak aktif (inactives). Jenis yang "tidak aktif" adalah individu yang tidak melakukan aktivitas apa pun, terutama berinteraksi dengan individu lain, walaupun ia sedang online dengan akun FB-nya. Pilihan yang lebih ekstrem adalah tidak berinteraksi sama sekali karena tidak memiliki akun FB. Pilihan ini disebabkan oleh beberapa alasan pula. Salah satu alasan yang paling sering diungkap adalah takut kecanduan.

Jenis "pengamat" adalah individu yang terhubung dengan FB sekadar untuk membaca status atau notes, melihat foto, dan menonton video individu lain. "Penggabung" adalah individu yang mempunyai profil di situs sosial networking hanya untuk sekadar menjalin relasi tanpa aktif meng-posting pesan. Sementara "pengumpul" adalah individu yang menyimpan berbagai informasi online pada suatu situs pertemanan atau di blog-nya.

Jenis "kritisi" adalah individu yang memberikan komentar pada unggahan individu lain atau memberi penilaian secara online terhadap suatu unggahan. Terakhir, "kreator" adalah individu yang paling tidak seminggu sekali menulis atau meng-upload video akun FB dan atau situs blog-nya. Frekuensi di sini relatif, ada kreator yang sangat aktif, ada pula yang biasa saja. Hal yang terpenting dari kategori ini adalah misi utama untuk mengunggah sesuatu yang merupakan kreasi dan re-kreasi atas pesan.

Melihat kategori ini, kita, minimal saya pribadi, menjadi semakin memahami bahwa interaksi dengan FB dan internet secara umum, adalah relasi yang lumayan kompleks. Sekali lagi, kategori tersebut adalah pilihan. Saya tidak berpretensi memberikan hierarki ideal dalam berinteraksi di situs jejaring sosial. Kira-kira apa kategori teman-teman dalam berinteraksi di FB?

(gambar dipinjam dari omcareers.org)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...