Jumat, 07 Mei 2010

Pulang Sejenak


"menuju tempat di mana semuanya bermula
tempat berangin kencang, pantai yg cerah, bukit yg akrab
setangkup rindu ini kubawa
mengharap segalanya spt apa adanya
energi awal yg memperbarui asa...."

Suasana di kereta malam yang cukup nyaman, gelontoran musik bagus dari Radiohead, Dave Matthews Band, Arcade Fire, dan Sade, juga bacaan-bacaan yang keren, membuat saya dapat menulis puisi. Tidak bagus memang, bukan puisi yang maksimal menurut saya, walau begitu setidaknya puisi itu perasaan otentik saya. Di atas semuanya masalah tentang teks itu, kalimat-kalimat puisi di atas tidak melunturkan rasa sesal saya karena ketidakcermatan.

Seharusnya, pagi ini saya tidak berada di Jakarta tetapi sudah di tanah kelahiran saya yang indah, Bandar Lampung. Permasalahannya, saya tidak cermat. Salah mengira tanggal kepulangan. Semua rencana mudik sesaat ini jadi berantakan.
Saya membayangkan kemarin saya sudah di Jakarta. Sambil menunggu keberangkatan bus ke Lampung malamnya, saya bisa mampir sebentar ke dua tempat favorit saya bila di Jakarta, Sarinah dan jalan Sabang, untuk melihat-lihat koleksi CD. Siapa tahu saya bisa menemukan album keren dan langka seperti yang biasa saya dapatkan di kedua tempat tersebut.

Kemudian, tiga hari ke depan saya masih sempat meriset awal untuk desertasi saya. Riset kecil-kecilan memang, tetapi paling tidak ini cara terbaik mengingatkan diri sendiri bahwa saya punya kewajiban personal dan profesional. Dengan jadwal terdahulu, saya juga dapat bertemu dengan teman lama di daerah favorit saya yang lain bila ada di Jakarta, di daerah Cikini: Bakoel Kofee dan Sea Food Ny Filly. Apa daya semuanya gagal karena saya salah menghitung hari dan melihat tanggal.

Entah bagaimana, hari mudik yang sudah saya tentukan, Sabtu bisa saya anggap hari Minggu. Atau karena banyaknya hal yang dikerjakan? walau memang banyak pekerjaan, seharusnya tetap tidak boleh tidak cermat. Saya ingat jadwal saya hari Sabtu cukup “padat merayap”, jadi pembicara di talk show sebuah radio, bertemu dengan teman-teman untuk seminar bulan depan, menyervis personal computer yang rusak, menyiapkan soal-soal untuk ujian tengah semester beberapa hari sebelumnya.
Karena begitu banyak soal yang harus saya susun, sampai-sampai saya menjuluki diri sendiri sebagai bank soal karena banyaknya soal yang saya buat :), bukan bang Inu (panggilan sayang keluarga saya). Juga merancang jadwal kuliah seminggu ke depan. Ada beberapa mata kuliah yang tetap harus masuk walaupun sedang UTS. Untungnya mitra saya bisa mengisi. Kuliah yang tidak bisa diisi oleh rekan terpaksa dicarikan pengganti.
Bahkan saya tidak ikut seminar mengenai multikulturalisme di TVRI karena terlalu banyak yang dipikirkan dan dikerjakan. Saya sangat menyesal karena sudah berjanji datang pada rekan-rekan MPM, penyelenggara acara, juga pada teman-teman lain, akademisi dan aktivis yang lekat dengan media. Ini adalah bagian yang paling saya sesali. Sudah berangkat pada hari Minggu saya tetap tidak bisa berdiskusi dengan rekan-rekan itu.

Hal yang sama pun terjadi pada istri saya. Dia juga sibuk dengan pekerjaan dan tugas-tugas sekolahnya. Jadi dia pun tidak sempat mengecek kembali tiket saya yang dibeli secara online. Akibatnya, kami tidak mengecek benar tanggal yang tertera di tiket. Sampai saya bertanya, "Bu, ini tanggal 10 kan?" Istri saya kaget dibuatnya. Ternyata hari itu tanggal 11 dan berarti tiket telah hangus. Saya mencoba memesan tiket pengganti via telepon dan mencarinya langsung ke bandara (go show), tidak ada gunanya. Semua tiket ke Jakarta pada hari Minggu fully booked, begitu kata semua petugas maskapai penerbangan.
Untungnya tiket kereta api malamnya masih ada. Saya jadi “pulang” ke Bandar Lampung dengan menggunakan kereta malam pukul 20.00. Tak apalah, menurut pengalaman saya, berpergian dengan menggunakan kereta api adalah perjalanan yang paling kontemplatif karena kita bisa memikirkan banyak hal, juga dapat membaca dan mendengar musik cukup lama, asalkan tidak tertidur sejak awal tentunya.

Kisah selanjutnya, seperti inilah yang berjalan. Kini saya masih berada di Stasiun Gambir sambil menunggu loket pemesanan bus ke Lampung dibuka. Waktu di mana seharusnya saya sudah berada di tanah kelahiran, bersama ibunda tercinta, juga anggota keluarga besar yang lain, dan juga mungkin sudah berkunjung ke salah satu tempat-tempat masa lalu saya; Pasar Tengah, Pasar Bambu Kuning, mie pangsit Awie, bakso Sony, mungkin berkunjung juga ke beberapa rekan di Unila. Entah mengapa saya merasa punya kedekatan dengan Unila. Mungkin karena dulu saya sempat berencana kerja di sini. Mungkin juga karena saya adalah putra daerah Lampung, jadi bagaimana pun juga terasa kedekatan itu. Mungkin juga karena beberapa rekan dosen di sana saya kenal karen satu almamater dan pernah meriset bersama.

Okelah, kondisinya memang seperti ini. Di waktu yang sekarang dalam situasi sekarang, saya sedang duduk menulis di sebuah tempat yang lumayan nyaman. Menyeruput cofee latte tiramisu, memperhatikan mentari mulai bersinar. Transisi dari gelap menjadi terang memang indah sekalipun di stasiun yang riuh. Saya mensyukuri kondisi eksistensial seperti ini. Tidak ada rasa sesal lagi karena ketidakcermatan, yang ada adalah rasa bersyukur saya masih bernafas, berpikir, dan menulis, juga merasakan nikmatnya kopi.

Dengan kondisi nyaman ini, Saya baru bisa membayangkan suasana indah tempat saya lahir dan dibesarkan sampai usia 15 tahun. Tempat saya selalu bisa menyerap energinya untuk aktivitas kehidupan setelahnya. Tempat yang saya kunjungi terakhir kali pada awal tahun 2007 ketika saya bersama teman-teman meriset literasi media untuk remaja. Tempat ibunda saya tinggal.

Mengunjungi ibu adalah tujuan utama saya pulang sesaat kali ini. Walau saya seringkali bertemu ibu, tetapi bukan di Lampung. Saya biasanya bertemu ibu di Jakarta dan Yogya. Berbeda rasanya bertemu ibu bila berada di Bandar Lampung. Hal lain yang bisa saya lakukan adalah berkunjung ke keluarga besar, keluarga besar dari ibu dan ayah yang sudah lama tidak saya kunjungi. Kita adalah anggota keluarga besar dan pasti akan "kembali' ke sana juga pada suatu saat, semarah atau seramah apa pun kita.

Saya masih ingin menulis tetapi masih banyak yang harus dikerjakan.
Masih sekitar tiga jam lagi bus yang akan membawa saya ke Lampung berangkat.
Sementara hidup terus bergegas.
Merayap jelas dan pasti, seringkali tanpa menunggu siapa-siapa….

(Gambir, 12 April 2010 sekitar pukul 07.30)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menulis Lagi, Berjuang Lagi

Di akhir tahun mencoba lagi menulis rutin di blog ini setelah sekitar enam tahun tidak menulis di sini, bahkan juga jarang sekali mengunjung...